Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

OTONOMI DAERAH
(Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pancasila)

DOSEN PEMBIMBING :
IDA WAHYUNI, Amd, Perkes, SKm

DISUSUN OLEH :
Alif Nur Hakim Fadhillah
Dinesty Oktavia Pangesti
Nindi Silvia
Resti Pangestu

POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA


JURUSAN RMIK TINGKAT SATU
2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai
pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan
memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas
dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat
mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya
yang lebih baik lagi.

Tasikmalaya, September 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2


BAB I .................................................................................................................................. 5
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 5
A. Latar Belakang .................................................................................................................... 5
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 6
C. Tujuan ................................................................................................................................. 6
BAB 2 ................................................................................................................................. 7
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 7
A. Hakikat Otonomi Daerah .................................................................................................... 7
B. Sejarah Otonomi di Indonesia ............................................................................................. 7
C. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia ...................................................................... 14
D. Hubungan Otonomi Daerah dengan Pembangunan Daerah ............................................. 14
E. Dampak dari diterapkannya Otonomi Daerah .................................................................. 18
BAB III ............................................................................................................................. 22
PENUTUP......................................................................................................................... 22
A. Kesimpulan ....................................................................................................................... 22
B. Saran ................................................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 23

3
4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Dari pengertian tersebut di atas maka akan tampak bahwa daerah diberi hak
otonom oleh pemerintah pusat untuk mengatur dan mengurus kepentingan sendiri.

Implementasi otonomi daerah telah memasuki era baru setelah pemerintah dan DPR
sepakat untuk mengesahkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah. Kedua UU otonomi daerah ini merupakan revisi terhadap UU Nomor 22 dan
Nomor 25 Tahun 1999 sehingga kedua UU tersebut kini tidak berlaku lagi.

Sejalan dengan diberlakukannya undang-undang otonomi tersebut memberikan


kewenangan penyelenggaraan pemerintah daerah yang lebih luas, nyata dan bertanggung
jawab. Adanya perimbangan tugas fungsi dan peran antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah tersebut menyebabkan masing-masing daerah harus memiliki
penghasilan yang cukup, daerah harus memiliki sumber pembiayaan yang memadai untuk
memikul tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dengan demikian
diharapkan masing-masing daerah akan dapat lebih maju, mandiri, sejahtera dan kompetitif
di dalam pelaksanaan pemerintahan maupun pembangunan daerahnya masing-masing.

Memang harapan dan kenyataan tidak lah akan selalu sejalan. Tujuan atau harapan tentu
akan berakhir baik bila pelaksanaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan juga berjalan
baik. Namun ketidaktercapaian harapan itu nampak nya mulai terlihat dalam otonomi
daerah yang ada di Indonesia. Masih banyak permasalahan yang mengiringi berjalannya
otonomi daerah di Indonesia. Permasalahan-permasalahan itu tentu harus dicari
penyelesaiannya agar tujuan awal dari otonomi daerah dapat tercapai.

5
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana hakikat otonomi daerah?


2. Bagaimana sejarah otonomi daerah di Indonesia?
3. Bagaimana pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia?
4. Bagaimana hubungan otonomi daerah dengan pembangunan daerah?
5. Bagaimana dampak dari diterapkannya otonomi daerah?

C. Tujuan

Untuk mengetahui :

1. Hakikat otonomi daerah


2. Sejarah otonomi daerah di Indonesia
3. Pelaksaan otonomi daerah di Indonesia
4. Hubungan otonomi daerah dengan pembangunan daerah
5. Dampak dari diterapkannya otonomi daerah

6
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Hakikat Otonomi Daerah

Pelaksanaan otonomi daerah pada hakikatnya merupakan upaya dalam rangka


meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara melaksanakan pembangunan sesuai
kehendak dan kepentingan masyarakat. Sehubungan dengan hakikat otonomi daerah
tersebut yang berkaitan dengan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kebijakan,
pengelolaan dana publik dan pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan
pelayanan masyarakat maka peranan data keuangan daerah sangat diperlukan untuk
mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan daerah dan juga jenis dan besar belanja yang
harus dikeluarkan agar perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan
efisien. Data keuangan daerah yang menunjukkan gambaran statistik perkembangan
anggaran dan realisasi, baik penerimaan maupun pengeluaran dan analisis terhadapnya
merupakan informasi yang penting terutama untuk membuat kebijakan dalam pengelolaan
keuangan daerah untuk melihat kemampuan/kemandirian daerah.

B. Sejarah Otonomi di Indonesia

Pelaksanaan otonomi daerah telah berjalan 23 tahun. Selama itu banyak bermunculan
Daerah Otonom Baru (DOB). Hingga kini terdapat 542 daerah otonom yang terdiri dari 34
provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota.
Kelahiran DOB memicu daerah-daerah lain untuk menuntut pemekaran. Hingga tahun
2019, Kementerian Dalam Negeri menerima 314 usulan pemekaran daerah setingkat
provinsi dan kabupaten/kota. Namun, pemerintah belum mengabulkan karena masih
moratorium. Moratorium bertujuan agar daerah tidak asal dimekarkan. Tetapi harus
melalui kajian dan telaah mendalam.
Sejarah otonomi daerah sendiri, kendati baru berusia dua dasawarsa, tetapi jejaknya dapat
ditelusuri sejak zaman kolonial Belanda.

7
1. Desentralisasi Zaman Kompeni
Pada akhir abad ke-19, tuntutan desentralisasi pemerintahan di Hindia Belanda
mencuat dalam persidangan parlemen Belanda (Tweede Kamer). Anggota
parlemen L.W.C. Keuchenius membuka perdebatan itu pada 1880.
Dia mengusulkan pembentukan gewestelijk raad, yaitu dewan tempat warga Eropa
dapat menyuarakan isi hatinya, di daerah-daerah di Hindia.
Di Hindia, muncul penentangan dari kalangan konservatif. Pada 1880, Gubernur
Jenderal J.W. van Lansberge berkirim surat kepada Menteri Tanah Jajahan W.
Baron van Goldstein van Oldenaller agar perdebatan soal desentralisasi dihentikan
saja. Alasannya, selain penduduk bumiputra belum terpelajar, orang Eropa
terpelajar umumnya sibuk mencari harta kekayaan dan tak punya waktu mengurus
kepentingan lain.
Namun suara di parlemen mengeras. W.K. Baron van Dedem, anggota parlemen
lain, mendukung usulan Keuchenius. Dalam persidangan tahun 1881, dia
menyuarakan perlunya perubahan tata pemerintahan kolonial di Hindia. Dia bahkan
mengusulkan pemisahan urusan keuangan dan anggaran belanja antara negeri
induk dan koloni.
Suara pendukung otonomi daerah tersendat ketika terjadi pembaruan pemerintah
kolonial melalui Regerings Reglement 1854. UU itu antara lain mengatur
penunjukan bupati oleh gubernur jenderal. Ditambah lagi dengan
pemberlakuan Reglement op het Beleid der Regering van Nederlandsch-Indie,
dimuat dalam Staatsblad No. 2 tahun 1885, yang menyebut Hindia Belanda
adalah gecentraliseerd geregeerd land atau suatu wilayah yang diperintah secara
sentralistik.

Menteri Koloni A.W.F. Idenburg yang mengusulkan UU Desentralisasi 1903.


(geheugenvannederland.nl).
Sempat tenggelam, perdebatan soal otonomi daerah mencuat kembali. Kali ini,
tahun 1887, yang menyuarakannya adalah anggota parlemen yang juga pengusaha
perkebunan tembakau sukses di Deli, Sumatra Utara, J. Th. Cremer. Menurut
Cramer, unsur swasta sebagai pemberi saran dan pemantau haruslah dipandang
penting dalam desentralisasi. Dia meyakini, apa yang baik bagi kehidupan usaha di
Hindia Belanda akan baik pula bagi kehidupan seluruh penduduk di negeri itu.

8
“Dengan demikian (Cremer, red.) boleh dipandang sebagai representasi
kepentingan elemen-elemen partikelir tanah Hindia,” tulis Soetandyo
Wignjosoebroto dalam Desentralisasi dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia
Belanda.
Para penyokong desentralisasi juga melihat pelaksanaan sistem liberal
menyebabkan urusan pemerintahan di daerah meningkat, yang memerlukan
keputusan dan penanganan cepat. Misalnya, bagaimana menangani kepentingan
Belanda di kota-kota, pertumbuhan pabrik, hingga kebutuhan sarana dan prasarana
di daerah seperti kereta api dan pelabuhan. Birokrasi, misalnya residen harus
melapor setiap urusan ke gubernur jenderal, bisa menghambat pembangunan
daerah.
Upaya para pendukung desentralisasi mendapat angin ketika mereka menduduki
posisi-posisi strategis. Ketika menjabat menteri koloni, Van Dedem mengajukan
rancangan undang-undang (RUU) desentralisasi ke parlemen pada 1893. Upayanya
gagal. Pada 1901, Cremer menempuh langkah serupa ketika menjabat menteri
koloni namun kandas pada tahun itu juga. Begitu pula penggantinya, T.A.J. van
Asch van Wijck, setahun kemudian.
“Tetapi ketika A.W.F. Idenburg menjadi menteri koloni, rancangan dimaksud
diajukan lagi disertai beberapa perubahan,” tulis Bayu Surianingrat dalam Sejarah
Pemerintahan di Indonesia. Akhirnya, pada 23 Juli 1903, pemerintah Kerajaan
Belanda menetapkan Decentralisatie Wet 1903 atau UU Desentralisasi 1903.

2. Desentralisasi Keuangan
UU Desentralisasi 1903 hanya merupakan amandeman (tambahan) parsial
terhadap Regerings Reglement 1854. Penambahan itu adalah pasal 68a, 68b, dan
68c, yang menjadi pijakan bagi setiap residensi (gewest) dan bagian
dari gewest untuk memiliki dan mengatur keuangan sendiri serta pembentukan
dewan-dewan (raad) di daerah yang berwenang membuat peraturan-peraturan
daerah.
“Mengingat konten pasal-pasal tersebut, tidak keliru bila yang tengah terjadi ini
adalah desentralisasi anggaran, bukan desentralisasi teritorial semata,” tulis
Soetandyo.
Untuk itu perlu dibentuk perangkat pelaksananya, berupa dewan lokal. Untuk
merealisasikannya, pada 1905 pemerintah Kerajaan Belanda
mengeluarkan Decentralisatie Besluit dan gubernur jenderal mengeluarkan Locale
Radenordonnantie. Berdasarkan kedua peraturan ini, daerah yang diberi keuangan
sendiri disebut locale ressort, dan dewannya disebut locale raad. Locale
raad dibedakan menjadi gewestelijke raad (dewan keresidenan) dan plaatselijke
raad (dewan yang dibentuk untuk bagian dari gewest/keresidenan). Dewan untuk
bagian dari gewest yang berbentuk kota dinamakan Gemeenteraad.
Mulailah dibentuk berbagai daerah dengan keuangan dan aparatur pemerintahan
daerah sendiri. Hak otonomi diberikan kepada keresidenan dan beberapa kota besar
yang memiliki cukup banyak penduduk Eropa dan berdekatan dengan daerah

9
perkebunan. Hingga akhir 1908 telah terbentuk 15 gemeente (kotapraja), yaitu
Batavia, Messter Cornelis (Jatinegara), Buitenzorg (Bogor), Bandung, Cirebon,
Pekalongan, Tegal, Semarang, Surabaya, Magelang, Kediri, Blitar, Padang,
Palembang, dan Makassar; dan enam gewest (keresidenan), yaitu Banten,
Rembang, Madura, Besuki, Banyumas, dan Madiun.
UU Desentralisasi 1903 memang masih sempit. Alih-alih membentuk
pemerintahan daerah yang otonom, ia hanya membentuk dewan-dewan daerah
yang bertanggungjawab atas pengelolaan dan penggunaan anggaran dari
pemerintah pusat. Keanggotaan dewan-dewan itu pun timpang. Hingga 1918,
jumlah orang Eropa yang menduduki kursi anggota dewan di kotapraja dan
keresidenan di Jawa amat dominan. Dari 388 anggota, 283 anggota di antaranya
orang Eropa.
Menurut Soetandyo, dari 338 anggota dewan itu, 223 anggota adalah orang-orang
pemerintahan (143 orang Eropa dan 80 pribumi). Penyebabnya, tak mudah
mengundang orang nonpemerintahan, apalagi yang layak dan punya kecakapan.
“Banyak tugas yang didesentralisasikan berupa pelaksanaan pekerjaan yang
sifatnya tak cuma finansial akan tetapi juga teknis,” tulis Soetandyo.
Rendahnya keterwakilan bumiputera terhalang peraturan dan persyaratan yang
ketat. Bagi bumiputera, hak pilih hanya diberikan kepada orang yang
berpenghasilan minimum f.600, dapat berbahasa Belanda, dan memenuhi
persyaratan-persyaratan lainnya. Kesempatan bumiputera untuk memiliki wakil di
dewan jadi kecil. Kritikan pun datang.
Dalam Sinar Hindia, 24 Juli 1918, Marco Kartodikromo, seorang jurnalis ternama,
mengkritik ketimpangan anggota bumiputera di gemeenteraad (dewan kota)
Semarang dalam bentuk syair: Tiada seorang wakil rakjat / Bisa menjadi lid
gemeenteraad / Bila raad-raad itoe main soelap / Soepaja kita selaloe gelap / Kita
sekarang tak poenja wakil / Di dalam raad jang banjak begedjil / Setan ini selalu
mengoesil / Memerasi kita orang ketjil.
Syarif Hidayat, peneliti desentralisasi dan otonomi daerah pada Pusat Penelitian
Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, desentralisasi
yang diatasnamakan untuk kepentingan bumiputra itu hanya menguntungkan
orang-orang Eropa. “Mereka memanfaatkan desentralisasi agar pemerintah
membuka akses infrastruktur, terutama jalan, rel kereta, listrik, dan air, sehingga
menguntungkan usaha perkebunan mereka,” ujarnya.

3. Pembaruan Pemerintahan
Dominasi orang Eropa dan pejabat pemerintahan dalam dewan lokal membuat
Simon de Graaf, direktur pemerintahan dalam negeri di Batavia, cemas. “Kini
pembaruan dalam pemerintah semakin mendesak disebabkan kekhawatiran akan
timbulnya oligarki, mengingat keikutsertaan penduduk dalam urusan pemerintahan
terbatas pada segelintir orang pemimpin di tingkat politik tertinggi,” tulis Elsbeth
Locher-Scholten dalam Etika yang Berkeping-keping.

10
De Graaff berpendapat bahwa desentralisasi tak mungkin direalisasikan dalam
satuan daerah setingkat keresidenan. Desentralisasi haruslah dilaksanakan
keresidenan yang berformat lebih diperbesar dengan kemandirian yang lebih
diperbesar pula, yang dia sebut de nieuwe gouvernement.Sementara bagian
dari gewest hendaknya dijadikan keresidenan yang lebih kecil, dengan asisten
residen diangkat menjadi residen. De nieuwe gouvernement atau pemerintahan
baru tersebut berupa provinsi dan kabupaten.
UU Desentralisasi 1903 kemudian diamandemen dan melahirkan UU Pembaruan
Pemerintahan 1922 (Bestuurshervormings wet 1922). “Amandemen kali ini
dimaksudkan untuk merintis jalan bagi golongan pribumi memperoleh tempat yang
lebih besar dalam tata pemerintahan,” tulis Soetandyo

Presiden Sukarno mengeluarkan UU No. 18/1965 tentang Pokok-


pokok Pemerintahan Daerah. UU ini merumuskan bahwa prinsip
dasar otonomi daerah adalah otonomi riil dan seluas-luasnya.
(Sekretariat Negara/ANRI).

UU tersebut ditindaklanjuti dengan Ordonansi Provinsi No. 78/1924, Ordonansi


Kabupaten No. 79/1924, dan Ordonansi Kotapraja No. 365/1926.
Pada 1 Januari 1926, diresmikan Provinsi Jawa Barat yang melebur empat
keresidenan: Banten, Batavia, Bandung, dan Cirebon. Pada 1 Januari 1929
diresmikan Provinsi Jawa Timur, dan setahun kemudian Provinsi Jawa Tengah. Di
setiap provinsi akan dibentuk dewan provinsi. Di tiga provinsi tersebut kemudian
dibentuk kabupaten (regentschaps) dengan dewan kabupaten. Di daerah-daerah
otonom luar Jawa-Madura masih berlaku UU Desentralisasi 1903, dan baru
berubah tahun 1937 dan 1938.
Tujuan De Graaf ialah desentralisasi kepegawaian dan pengalihan wewenang dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah. “Dewan-dewan provinsi hanya akan
memberikan saran,” tulis Elsbeth Locher-Scholten. “Hanya pada tingkat
kabupaten, dewan-dewan kabupaten di bawah pimpinan residen akan mengatur
urusan setempat.”
Menurut Soetandyo, dewan kabupaten terbentuk dengan jaminan mayoritas
anggotanya berasal dari wakil-wakil golongan bumiputra, dengan ketua dijabat
residen (bupati) setempat. Pada 1932, 76 kabupaten di Jawa-Madura telah

11
dilengkapi dengan dewan, berjumlah 1.583 anggota, 837 anggota di antaranya
adalah bumiputra.
Desentralisasi yang diupayakan susah payah sepanjang setengah abad pupus ketika
Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942. Tatanan pemerintahan amat
sentralistis, hierarkis, dan mengikuti garis komando dari pusat sampai daerah

4. Menuju Otonomi Daerah


Setelah kemerdekaan, jalan menuju desentralisasi menghadapi jalan terjal. Konsep
desentralisasi diterapkan melalui sejumlah UU, yang sayangnya tak bisa diterapkan
karena faktor politik. Di masa Orde Lama, misalnya, UU No. 1/1957 tentang
Pokok-pokok Pemerintahan Daerah menerapkan konsep desentralisasi dengan
“sistem residu”, yaitu wewenang pemerintah daerah adalah sisa dari wewenang
yang tidak menjadi urusan pemerintah pusat
Sayangnya ide pembaruan itu tidak sempat diaplikasikan, karena pada waktu
bersamaan Indonesia disibukkan oleh munculnya sejumlah gerakan di daerah,” ujar
Syarif.
UU itu tak sempat diberlakukan karena Presiden Sukarno mengumumkan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959. Untuk mengisi kekosongan, Sukarno mengeluarkan
Penetapan Presiden (Penpres) No. 6/1959 dan No. 5/1960, yang menyebabkan
kepala daerah berkedudukan sebagai penguasa tunggal di daerah seperti halnya
presiden yang menjadi penguasa tunggal di pusat.
“Hal tersebut mirip riwayat pra-Decentralisatie Wet 1903 tatkala residen bertakhta
sebagai penguasa tunggal di daerah masing-masing dan gubernur jenderal sebagai
penguasa tunggal di pusat,” tulis Soetandyo.
Perubahan juga terjadi pada struktur pemerintahan daerah. Melalui Peraturan
Presiden No. 22/1963, keresidenan dan kewedanan dihapus. Kekuasaan dan
kewenangan residen dan wedana diserahkan kepada pemerintah daerah/kepala
daerah tingkat I dan II.
Di akhir masa kekuasaannya, Sukarno memaklumatkan UU No. 18/1965 tentang
Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Menurut Syarif, UU ini cukup menarik karena
rumusan tentang tujuan akhir desentralisasi mengindikasikan bahwa prinsip dasar
otonomi daerah adalah “otonomi riil dan seluas-luasnya.” Sayangnya, hanya
beberapa minggu setelah disahkan, Sukarno dipaksa mengakhiri kekuasaannya.
Pemerintahan Orde Baru melalui Ketetapan MPRS No. XXI/MPRS/1966
menegaskan bahwa UU No. 18/1965 harus ditinjau kembali karena dianggap
memberi kekuasaan dan otonomi terlampau besar kepada daerah. Sebagai gantinya,
terbit UU No. 5/1974, yang mengedepankan mantra khas Orde Baru: persatuan dan
stabilitas politik demi “otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab”.
Praktis, selama Orde Baru, tak ada desentralisasi dan otonomi daerah yang
signifikan. “Hal yang sesungguhnya terjadi, bila tidak mau dikatakan
(re)sentralisasi yang berkeras hati, adalah proses desentralisasi semu atau bentuk

12
‘otonomi elite pemerintah daerah’ yang dikontrol elite pemerintah pusat,” tulis
Soetandyo.
Baru pada 1995 terbit Peraturan Pemerintah No. 8/1995 di mana pemerintah pusat
menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada 26 Daerah Tingkat II
Percontohan. Kebijakan ini dijadikan tonggak dalam pelaksanaan otonomi daerah.
Sehingga pada Februari 1996, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan
Presiden No. 11/1996 yang menetapkan tanggal 25 April sebagai Hari Otonomi
Daerah.
Tamatnya pemerintahan Orde Baru pada 1998 menjanjikan harapan bagi perbaikan
penyelenggaraan pemerintahan. Lahirlah UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan
Daerah yang membenahi hubungan pusat dan daerah. Daerah memiliki
kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali politik luar negeri,
pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan
bidang lain.
Seiring dengan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung pada 2004,
UU No. 22/1999 diganti dengan UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Salah satu perubahan penting dalam undang-undang itu adalah ditetapkannya
pemilihan daerah (pilkada) secara langsung. Pilkada langsung berjalan beriringan
dengan pemekaran daerah.UU No. 32/2004 kemudian diganti dengan UU No.
23/2014 tentang Pemerintahan Daerah. UU ini menegaskan bahwa dalam
penyelenggaraan otonomi daerah, tanggung jawab tertinggi dari penyelenggaraan
pemerintahan tetap berada di tangan pemerintah pusat. Oleh karena itu, pemerintah
pusat akan selalu melakukan supervisi, monitoring, kontrol, dan pemberdayaan
agar daerah dapat menjalankan otonominya secara optimal.

13
C. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia

1. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru


Sejak tahun 1966, pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan
nasional yang kuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk
mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia.

2. Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Masa Orde Baru


Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi
dimulai di tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses
pergantian rezim (dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis).

3. Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Reformasi


DPR RI menggelar sidang paripurna untuk mengesahkan Rancangan Undang-
Undang (RUU) tentang pembentukan Daerah Otonom Baru menjadi Undan-
Undang yang sah di Ruang Sidang Paripurna Nusantara 2 pada selasa 24 Juni 2014.
Jumlah daerah otonomi di Indonesia menjadi 542, terdiri atas 34 Provinsi, 415
Kabupaten dan 93 Kota

D. Hubungan Otonomi Daerah dengan Pembangunan Daerah

Otonomi daerah yang dicanangkan sekarang seperti sekarang ini diharapkan akan
mempercepat pertumbuhan dan pembangunan daerah, disamping menciptakan
keseimbangan pembangunan antar daerah di Indonesia. Kebijaksanaan pembangunan yang
sentralistik dampaknya sudah kita ketahui, yaitu ketimpangan antar daerah, terutama antara
Jawa dan luar Jawa dan antara Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur. Ahli
pembangunan ekonomi regional sudah melakukan kajian yang intensif akan hal itu.
Akan tetapi, pembangunan daerah tidak akan datang dan terjadi dengan begitu saja.
Pembangunan di daerah baru akan berjalan jika sejumlah prasyarat dapat dipenuhi,
terutama oleh para penyelenggara pemerintahan di daerah, yaitu pihak legislatif dan
eksekutif di daerah (Gubernur, Bupati, dan Walikota serta DPRD Provinsi, Kabupaten, dan
Kota).
Otonomi daerah memiliki sejumlah kewenangan, terutama sebelas (11) kewenangan wajib
sebagaimana ditentukan oleh UU No. 22 tahun 1999. Kesebelas kewenangan wajib itu
merupakan modal dasar yang sangat penting untuk pembangunan daerah. Yang diharapkan
dari pemerintah daerah sebagai faktor prakondisi pelaksanaan otonomi daerah dalam
mewujudkan pembangunan daerah itu ada sejumlah hal, antara lain sebagai berikut :

14
1) Fasilitas.
Disamping fungsi yang lainnya, fungsi pemerintahan daerah yang sangat esensial
adalah memfasilitasi segala bentuk kegiatan di daerah, terutama dalam bidang
perekonomian. Segala bentuk perizinan hendaknya dipermudah, bukan sebaliknya,
yaitu dengan menciptakan segala bentuk birokrasi yang akan menyulitkan kalangan
pengusaha dan investor untuk menanamkan modalnya di daerah tersebut. Logika
yang hendaknya digunakan oleh pemerintah daerah adalah silakan menggunakan
sarana dan prasarana serta sumber daya daerah (tanah, hutan, tambang, dll) untuk
kegiatan ekonomi daerah. Yang paling utama adalah bagaimana menciptakan
lapangan kerja secara maksimal bagi warga masyarakat, sehingga disamping warga
masyarakat akan memiliki harga diri, pengangguran juga dapat dikurangi.
Pemerintah daerah juga dapat menawarkan fasilitas perpajakan yang merangsang
penanaman modal. Jadi, bukan sebaliknya dengan melihat kegiatan ekonomi
semata-mata sebagai subyek pemungutan untuk memperoleh peningkatan PAD.
Jika pemerintah daerah mempunyai kecenderungan untuk memungut, maka tidak
mustahil kalangan pengusaha mencari tempat lain untuk menanamkan modalnya
yang memberikan rangsangan berusaha dengan lebih baik.

2) Pemerintah daerah harus kreatif.


Pembangunan daerah berkaitan pula dengan inisiatif lokal, dan untuk berinisiatif
diperlukan kreatifitas dari para penyelenggara pemerintahan. Karena itu, pejabat
pemerintah daerah sekarang ini benar-benar dituntut untuk kreatif, jika tidak
demikian, masyarakat akan mempertanyakan kapasitasnya. Dan jika hal itu sampai
terjadi biasanya umur pemerintahan tidak akan terlalu lama. Seorang
Gubernur/Bupati/ Walikota tidak mungkin menghendaki untuk memperlama masa
jabatannya jika tidak mampu merangsang kreatifitas dalam pemerintahannya yang
mendorong pada percepatan dan peningkatan pembangunan. Kreatifitas tersebut
menyangkut bagaimana mengalokasikan dana, apakah yang bersumber dari Dana
Alokasi Umum (DAU) ataukah dari dari PAD, secara tepat dan adil serta
proporsional. Berapa untuk gaji/honor, biaya operasional, sarana sosial, sarana dan
prasarana fisik, dan lain-lainnya. Kreatifitas juga menyangkut kapasitas untuk
menciptakan keunggulan komperatif bagi daerahnya, sehingga kalangan pemilik
modal akan beramai-ramai menanamkan modal di daerah tersebut. Kreatifitas juga
menyangkut kemampuan untuk menarik Dana Alokasi Khusus dari pemerintah
sehingga banyak yang ditarik ke daerahnya. Untuk itu, pemerintah daerah harus
mampu menyiapkan program-program sosial, ekonomi yang menarik sehingga
pemerintah tidak ragu memberikan dukungannya.

3) Politik lokal yang stabil.


Masyarakat dan pemerintah di daerah harus menciptakan suasana politik lokal yang
kondusif bagi dunia usaha dan pembangunan ekonomi. Orang tidak akan mungkin

15
mau menanamkan modalnya di suatu daerah dengan situasi politik lokal yang tidak
stabil. Karena pemerintah tidak transparan dalam pembuatan kebijaksanaan public
maka hal itu kemudian mendorong terjadinya gerakan protes, dan tentu saja akan
mengganggu jalannya pemerintahan. Selain itu, pejabat eksekutif harus bekerja
dengan dengan suasana yang tenang sehingga merangsang kreatifitas. Banyak
diketahui, dimana Gubernur/Bupati/Walikota sering merasa terganggu dengan
sikap anggota DPRD yang arogan dan selalu mengancam untuk setiap waktu
meminta pertanggungjawaban, atau pertanggungjawaban tahunan akan ditolak.
Orang tidak akan mungkin mau menanamkan modal pada daerah jika
Gubernur/Bupati/Walikota selalu terancam dan bahkan kemudian akan
dinonaktifkan oleh DPRD, karena kalangan pengusaha menghendaki adanya
kepastian kepada siapa mereka berurusan. Hal itu tidak akan terjadi jika Kepala
Daerah diganti setiap tahun karena alasan-alasan yang sulit untuk
dipertanggungjawabkan.

4) Pemerintah daerah harus menjamin kesinambungan berusaha.


Ada kecenderungan yang mengkhawatirkan berbagai pihak bahwa pemerintah
daerah seringkali merusak tatanan yang sudah ada. Apa yang sudah disepakati
sebelumnya, baik melalui “kontrak” dalam negeri atau dengan pihak asing,
seringkali diancam untuk ditinjau kembali, bahkan hendak dinafikan oleh
pemerintah daerah yang baru dengan alasan otonomi daerah. Kalangan pengusaha
asing dan domestik seringkali merasa terganggu dengan sikap kalangan politisi dan
birokrasi lokal yang mencoba mengutak-atik apa yang sudah disepakati
sebelumnya. Bagi kalangan pengusaha asing, satu kali sebuah kontrak disepakati
dan ditanda tangani maka hal itu mempunyai ikatan hukum yang harus dihormati.
Jika sampai sebuah kontrak itu dibatalkan, maka implikasi hukumnya akan besar
sekali, terutama dalam dunia bisnis internasional. Karena itu, pemerintah daerah
harus meningkatkan kapasitas aparatnya, khususnya jika berhubungan dengan
bisnis internasional. Harus ada yang ahli dalam hal kontrak dan dalam
bidang Corporate and Business Law supaya jangan sampai terkecoh di kemudian
hari. Disamping itu, dunia usaha juga akan merasa terlindungi dalam
kesinambungan usaha.

5) Pemerintah daerah harus komunikatif dengan LSM/ NGO, terutama dalam bidang
perburuhan dan lingkungan hidup.
Pemerintah daerah sekarang dituntut untuk memahami dengan intensif aspirasi
yang berkembang di kalangan perburuhan, baik yang menyangkut upah minimum
dan jaminan lainnya, hak-hak buruh pada umumnya, perlindungan kepada buruh
wanita, ataupun menyangkut keselamatan kerja dan kesehatan kerja. Dengan
demikian, pemerintah daerah hendaknya menjadi jembatan antara kepentingan
dunia usaha dengan dengan aspirasi kalangan pekerja/buruh. Pemerintah daerah
juga harus lebih sensitif dengan masalah atau isu lingkungan hidup serta gender.
Dengan demikian, sikap-sikap radikal dari kalangan buruh yang didukung oleh

16
LSM/NGO akan dapat diakomodasi, dan pada akhirnya dua kepentingan akan
dapat terjembatani. Tentu saja, sikap-sikap yang seperti diperlihatkan oleh para
pejabat masa lampau, yang selalu memihak kepentingan pengusaha, harus
ditinggalkan.

Kelima elemen yang tersebut diatas merupakan prakondisi bagi terselenggaranya


pembangunan daerah. Dengan kebijaksanaan otonomi yang luas maka peluang bagi daerah
menjadi sangat luas pula, dan semuanya sangat bergantung pada daerah itu sendiri.
Yang paling penting bagi daerah adalah peciptaan lapangan kerja. Ukuran yang paling
fundamental bagi keberhasilan sebuah pemerintahan dalam sebuah negara modern adalah
seberapa jauhkah pemerintahan tersebut berhasil menciptakan lapangan kerja bagi
kalangan warga masyarakat, dan kemudian disusul dengan kemampuan untuk menghadapi
laju inflasi, serta keseimbangan neraca perdagangan internasional. Hal-hal itu
merupakan isu utama yang selalu dimunculkan bagi setiap pergantian pemerintahan
melalui pemilihan umum. Seperti di Amerika Serikat dan Inggris, selalu yang ditonjolkan
adalah seberapa jauh pemerintahan yang sedang berkuasa (the incumbent government)
memerangi kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja, menahan laju inflasi, serta
kemampuan untuk menangani masalah-masalah sosial pada umumnya, serta pelayanan
kesehatan.
Penciptaan lapangan kerja merupakan masalah esensial karena “multiplier effect” nya yang
tinggi sekali. Lapangan kerja berkaitan erat dengan harga diri dan martabat. Orang yang
memiliki sebuah pekerjaan tetap akan memiliki martabat yang lebih tinggi disbandingkan
orang yang pengangguran. Lapangan kerja atau kesempatan kerja berkaitan erat pula
dengan dua dimensi ekonomi yang sangat esensial, yaitu kecenderungan untuk menabung
dan peningkatan daya beli. Dengan penciptaan lapangan kerja yang tinggi, maka daya beli
akan meningkat pula, dan bagimanapun juga akan mempengaruhi kecenderungan untuk
menabung, yang pada akhirnya, akan mempengaruhi pula basis perpajakan dalam sebuah
negara. Daya beli meningkat artinya pajak penjualan atas barang dan jasa juga meningkat,
dan itu berarti pendapatan negara dan daerah juga akan meningkat, yang semuanya akan
dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk proyek dan sejumlah intensif lainnya.
Roda pembangunan juga akan berputar dengan sendirinya, sehingga pada akhirnya
kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Tentu saja keadaan seperti itu baru akan terjadi
dalam keadaan suasana politik negara yang stabil, baik di tingkat nasional, maupun tingkat
di tingkat lokal. Stabilitas akan menentukan semangat dan kepercayaan, karena tidak akan
mungkin seseorang akan menanamkan modal jika di daerah itu misalnya terjadi huru hara
politik, demonstrasi setiap hari terjadi, serta keamanan dan ketertiban terganggu.

17
E. Dampak dari diterapkannya Otonomi Daerah

Tentu saja sebuah sistem tidak ada yang sempurna. Ada dampak positif dan negatifnya. Dampak
positif dan negatif otonomi daerah akan diuraikan di bawah ini.:
Dampak Positif Otonomi Daerah
Otonomi daerah, sesuai dengan tujuan dibentuknya diharapkan mempunyai dampak yang baik bagi
daerah. Beberapa daerah berhasil membuktikannya. Artinya, otonomi daerah mempunyai dampak
positif. Dampak positif otonomi derah, antara lain :
1) Sosial Budaya Lebih Berkembang
Dengan adanya otonomi daerah setiap aspek daerah dapat dikembangkan. Sesuai
dengan prinsip-prinsip otonomi daerahyang mengijinkan pengembangan daerah selama
tidak melanggar undang-undang yang berlaku dan tidak melangkahi tugas dan wewenang
pemerintah pusat. Oleh karena itu, daerah dapat mengembangkan semua aspek kehidupan
sosial budayanya untuk kesejahteraan. Misalnya pengembangan kesenian daerah menjadi
lebih maju dan dikenal di manca negara. Atau pengembangan produk makanan khas
daerah. Sampai pengenalan suatu wilayahnya menjadi daerah wisata unggulan.

2) Pertahanan dan Keamanan


Daerah, khususnya yang berbatasan dengan wilayah negara lain merupakan ujung tombak
Indonesia. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah melalui pemerintah daerah akan
lebih memperhatikan aspirasi masyarakat yang ada. Dengan demikian, keinginan untuk
memisahkan diri atau menjadi bagian dari wilayah negara lain yang terlihat lebih maju
dapat diredam. Pimpinan daerah dapat dengan mudah mengatur pertahanan dan keamanan
wilayahnya karena cakupan yang lebih kecil.

3) Potensi Daerah Berkembang


Dengan otonomi daerah, semua potensi daerah juga dapat berkembang. Selain sosial
budaya yang sudah disebutkan di atas, juga potensi lain. Misalnya pendidikan yang
berkaitan dengan sumber daya manusia, sumber daya alam yang berkaitan dengan mata
pencaharian penduduknya, sumber daya alam yang berkaitan dengan ekspor dan impor,
dan sebagainya. Potensi daerah diharapkan dapat meningkatkan anggaran pendapatan
daerah dan meningkatkan kesejahteraan.

4) Kewenangan Daerah Atas Kebijakan Tertentu


Setiap wilayah Indonesia mempunyai ciri khas. Apalagi jika suatu daerah mempunyai
sejarah dan latar belakang yang tidak sama. Adanya otonomi daerah membuat pemerintah
daerah mempunyai kebijakan atas kebijakan tertentu yang sesuai degan kondisi
wilayahnya. Sebut saja,daerah Istimewa Yogyakarta yang mempunyai sistem pemerintah
daerah khas keraton dan berbeda dengan semua wilayah di Indonesia. Nangroe Aceh
Darusalam adalah contoh lain daerah yang menerapkan kebijakan atau hukum Islam di
wilayahnya. Kewenangan tersebut membuat pemerintah daerah dan masyarakatnya lebih
berkembang sesuai ciri dan potensi yang dimiliki.

18
5) Daerah Dapat Lebih Maju
Setelah suatu daerah mempunyai kewenangan sendiri, dapat megembangkan potensi
daerah masing-masing, dan sosial budayanya lebih maju maka diharapkan daerah menjadi
lebih maju.
Daerah yang lebih maju tentunya akan mendukung negara menjadi lebih maju pula.
Dengan meningkatnya pendapatan daerah, sumbangannya terhadap pendapatan nasional
juga meningkat. Bayangkan jika semua daerah di Indonesia dapat mengembangkan diri.
Indonesia akan menjadi lebih baik.

6) Mudah Mengelola Sumber Daya


Sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada di daerah lebih mudah dikelola.
Pemerintah daerah sebagai lembaga terdekat akan lebih mudah mendeteksi. Setelah
dideteksi, pengembangannya akan lebih mudah. Misalnya, jika suatu daerah mempunyai
sumber daya laut yang beragam. maka pemerintah daerah akan mengelola wisatanya,
mengelola perikanan, mengelola perbatasan wilayah lautnya, dan sebagainya. Jika semua
diatur oleh pemerintah pusat belum tentu semua akan tertangani dengan baik. Karena tugas
pemerintah pusat menjadi lebih banyak.

7) Efisisiensi Waktu
Otonomi daerah membuat waktu pembangunan negara menjadi lebih efisien. Segala
sesuatu yang bisa dilakukan sendiri oleh daerah langsung diputuskan dan dijalankan. Jika
semua harus ke pemerintah pusat, maka akan ada perjalanan untuk birokrasi mulai dari
bawah sampai instansi terkait. Waktu yang dibutuhkan lebih lama. Padahal mungkin saja
suatu kejadian butuh pemecahan masalah segera. Oleh karena itu, di setiap wilayah
propinsi sampai kecamatan ada dinas-dinas yang mengenai bidang tertentu, ada pengadilan
tingkat kecamatan, dan ada kepolisian tingkat kecamatan.

8) Efisiensi Biaya
Selain efisiensi waktu, dampak positif dari otonomi daerah adalah efisiensi atau
mempersingkat waktu. Misalnya, jika seseorang ingin membuat akta kelahiran harus
langsung sampai ke pemerintah daerah. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk hal
tersebut.
Apalagi jika orang tersebut tinggal jauh dari pemerintah pusat negara. Dia membutuhkan
biaya mulai dari mengurus di tingkat paling rendah hingga perjalanan ke pusat.

9) Desentralisasi Kekuasaan
Otonomi daerah memberi kesempatan pada contoh penerapan asas
desentralisasi kekuasaan. Di mana kekuasan tidak hanya ada pada pemerintah pusat. Ada
pembagian wewenang dan fungsi. Dengan demikian, pemerintah dapat menyerap semua
aspirasi masyarakat dari bawah. Pemerintah pusat juga tidak menjadi pemerintah otoriter
dengan kekuasaan tidak terbatas.

10) Meningkatkan Kualitas Layanan Publik


Otonomi daerah meningkatkan kualitas layanan publik. Seperti contoh yang telah
disebutkan, semua kebutuhan masyarakat secara administratif dapat dipersingkat waktu
dan biayanya. Kualitas layanan publik dapat meningkat karena berhadapan langsung
dengan masyarakat tanpa perwakilan

19
11) Meningkatkan Kesejahteraan
Sesuai tujuan adanya otonomi daerah, diharapkan dengan otonomi tercapainya
peningkatan kesejahteraan. Setiap daerah akan berlomba-lomba secara kreatif menggali
semua potensi yang dimilikinya untuk menjadi lebih baik. Semua potensi di segala bidang
akan digali untuk meningkatkan kesejahteraan. Kesejahteraan ini dilihat dari berbagai
aspek, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Pemerintah akan dapat lebih mudah
mengatur hal tersebut.

12) Pemerataan Pembangunan


Jika semua diatur oleh pusat, ada kemungkinan beberapa daerah yang jauh dari jangkauan
akan tertinggal. Ada kemungkinan daerah yang mempunyai sumber daya baik tertinggal
karena semua yang daerah hasilkan dibagi rata dengan tidak adil. Atau yang paling buruk
adalah perlakuan tidak adil terhadap pembangunan suatu daerah karena sebab kelompok
atau golongan yang berbeda. Oleh karena itu, dengan adanya otonomi daerah
kemungkinan-kemungkinan yang telah disebutkan diminimalisir. Pemerataan
pembangunan dapat lebih diwujudkan melalui peran serta pemerintah daerah dan
masyarakatnya masing-masing.

Dampak Negatif Otonomi Daerah

Setiap sistem mempunyai kekerangan. Setiap kebijakan mempunyai dampak negatif.


Meskipun dampak negatif ini dapat diminimalisir oleh sumber daya manusia yang ada.
Namun, ada tetap ada beberapa hal yang nampak jelas. Beberapa dampak negatif otonomi
daerah, adalah ;

1) Daerah Miskin Lambat Berkembang


Daerah miskin atau yang mempunyai potensi dan sumber daya kurang menjadi
lambat berkembang. Ini dikarenakan, setiap daerah berlomba mengembangkan
wilayahnya masing-masing tanpa memepdulikan wilayah lain. Untuk hal seperti
ini, sebaiknya pengaturan dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah
daerahnya berusaha menggali kreativitas dari sumber daya manusianya.

2) Menyulut Konflik Antar Daerah


Pengembangan wilayah masing-masing dapat menyebabkan konflik antar daerah.
Apalagi jika daerah berbatasan wilayah dan sumber daya alam adalah di
perbatasan. Upaya menjaga keutuhanNKRI harus sering ditanamkan. Kearifan
kepala daerah untuk membuat kebijakan dan kesepakatan bersama sangat
dibutuhkan dalam hal ini.

20
3) Tidak Ada Koordinasi Antar Daerah
Sama dengan dampak negatif yang pertama, bahwa karena masing-masing daerah
punya wewenang maka tidak ada koordinasi antar daerah. Kerjasama atau
koordinasi hanya dilakukan sesuai kebijakan dan kesepakatan kepala daerah atau
pemerintahan daerahnya.

4) Kesenjangan Sosial
Kesenjangan sosial dapat terjadi khususnya pada wilayah yang berdekatan, tapi
berbeda pemerintahan. Misalnya antara wilayah Jakarta dengan daerah
penyangganya. Kesenjangan sosial ini dapat mengakibatkan konflik sosial jika
dibiarkan.

5) Pengawasan Berkurang
Pemerintah pusat yang menyerahkan semua kebijakan kepada daerah membuat
pengawasan berkurang. Dampak positif bagi pemerintah daerah yang baik maka
mereka akan berkembang dengan positif karena meningkatkan kreativitas. Bagi
pemerintahan daerah yang buruk, pengawasan yang sedikit menyebabkan banyak
praktek yang dapat menyimpang

6) Pejabat Daerah Sewenang-Wenang


Pejabat daerah yang sewenang=wenang dan melupakan aspirasi rakyatnya dapat
terjadi jika pengawasan terhadap daerah kurang. Meskipun hal ini sekarang bisa
lebih diminimalisir karena masyarakat sudah cukup cerdas dan melek teknologi.
Segala sesuatu yang salah dapat dishare dan dengan cepat diketahui pemerntah
pusat.

7) Sibuk Dengan Wilayahnya Sendiri


Setiap pemerintah daerah akan cenderung degan wilayahnya sendiri dan
memungkinkan sikap kurang empati terhadap wilayah lain. padahal seharusnya
sebagai negara kesatuan, semua kejadian di wilayah mana saja menjadi tanggung
jawab bersama untuk diatasi.

Masih banyak kemungkinan dampak positif dan negatif daerah otonom. Hal ini kembali kepada
pribadi masing-masing yang menjabat atau pemerintah di tingkat daerah dan pusat. Sebagai
masyarakat tentunya hanya dapat berharap bahwa otonomi daerah berjalan lancar dan tujuan
pembangunan nasional yang terdapat pada pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945 dapat
tercapai.

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari berbagai uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa otonomi daerah dibentuk
sebagai jalan pintas pemerintah pusat untuk melaksanakan pengontrolan dan pelaksanaan
pemerintahan secara langsung di daerah yang sesuai dengan karakteristik masing – masing
daerah dan kemudian semua kebijakan atau hukum yang akan dibentuk di daerah tersebut
adalah merupakan bentuk aplikasi langsung terhadap sistem demokratisasi yang
mengikutsertakan rakyat melalui lembaga atau partai politik di daerah. Tujuan daripada
pengadaan kebijakan otonomi daerah adalah untuk pengembangan daerah dan masyarakat
daerah menuju kesejahteraa dengan cara dan jalannya masing – masing.

B. Saran

Pada saat pembuatan makalah Penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan jauh
dari kesempurnaan. dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan dari
banyaknya sumber Penulis akan memperbaiki makalah tersebut . Oleh sebab itu penulis
harapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

22
DAFTAR PUSTAKA

Isnaeni. Hendri (2019, 21 april), sejarah otonomi daerah di Indonesia. Dikutip 5 September
2019 dari Historia.Id;
https://historia.id/politik/articles/menelaah-sejarah-otonomi-daerah-Dwg2Z

Tebar Ilmu (2010, 28 oktober), hakikat otonomi daerah. Dikutip 5 september 2019 dari Tebar
Ilmu;
http://tebar-ilmu.blogspot.com/2010/10/hakikat-otonomi-daerah.html
Gunardi, Leony 2018, pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Dikutip 5 september 2019 dari
slideplayer.info;
https://slideplayer.info/slide/11987828/

Gudang Ilmu Administrasi (2017, 10 mei), otonomi daerah dan pembangunan daerah. Dikutip 5
september 2019 dari Gudang Ilmu Administrasi;
https://newilmuadministrasi.blogspot.com/2017/05/otonomi-daerah-dan-pembangunan-
daerah.html
Hani (2018, 10 maret), dampak penerapan otonomi daerah. Dikutip 5 september 2019 dari
guruppkn.com;
https://guruppkn.com/dampak-positif-dan-negatif-otonomi-daerah

23