Anda di halaman 1dari 19

PEGADAIAN SYARIAH

MAKALAH
DISUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATA KULIAH
LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

Oleh:

Siti Fatma Rosita 181002082

Adella Nahriyatul H. 181002098

M. Fauzi Abdullah 181002110

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SILIWANGI
2019 M/ 1441 H

1
LEMBAR PENGESAHAN

Makalah yang berjudul “Pegadaian Syariah” telah di terima pada :

Hari :

Tanggal :

Oleh

dosen Mata Kuliah Lembaga Keuangan Syariah

Biki Zulfikri Rahmat., S.Sos.I., M.E.Sy


NIDN. 0008058503

2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberikan rahmat dan
hidayah juga kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul “Pegadaian Syariah” dengan bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Pengantar Bisnis Syariah. Salawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita
pendekar agama Islam sang rahmatan lil’alamin Nabi Muhammad SAW, penutup para nabi
dan nabi yang telah membawa umat manusia dari jaman kegelapan ke jaman yang terang
benderang seperti sekarang.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini mendapatkan banyak bantuan
dari berbagai pihak, oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Biki Zulfikri.,S.Sos.I.,M.E.Sy selaku dosen mata kuliah Lembaga Keuangan


Syari’ah.
2. Seluruh pihak yang telah banyak memberikan saran dan masukan kepada penulis, dan
juga pihak-pihak lainnya yang telah memberikan bantuan sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik.
Makalah ini bukanlah sebuah karya yang sempurna dikarenakan masih banyak
kekurangan. Baik dalam hal isi ataupun dalam hal sistematika penulisannya. Oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan karya
ilmiah ini. Dan juga penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi
penulis dan para pembaca pada umumnya. Aamiin.

Tasikmalaya, 26 Oktober 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................................... 2

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. iii

BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

1. Latar Belakang ................................................................................................................ 1

2. Rumusan masalah ........................................................................................................... 2

3. Tujuan ............................................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 3

1. Pengertian dan latar belakang pegadaian syariah ........................................................... 3

2. Mekanisme Pegadaian Syariah ....................................................................................... 4

3. Prinsip Operasional Pegadaian Syariah .......................................................................... 8

4. Barang Gadai dan Resiko Pegadaian Syariah ................................................................. 9

5. Peranan Pegadaian Syariah dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat .............................. 12

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 13

1. Kesimpulan ................................................................................................................... 13

2. Saran ............................................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 15

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam realitas sosial ekonomi masyarakat kerapkali ditemukan kondisi


masyarakat yang memiliki harta dalam bentuk selain uang tunai dan pada saat yang
sama yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan likuditas hingga membutuhkan
dana dalam bentuk tunai. Pilihan transaksi yang sering digunakan oleh masyarakat
yang menghadapi masalah seperti di atas lazimnya menggadaikan barang-barang yang
berharga. Istilah gadai barang nampaknya sudah sangat akrab di masyarakat kita
terutama kalangan masyarakat yang membutuhkan dana tunai saat kondisi
likuiditasnya kurang baik. Karena masyarakat yang membutuhkan dana tunai dengan
model gadai permintaannya cenderung besar, maka pegadaian sebagai lembaga yang
merespon kebutuhan masyarakat pun akhirnya dapat eksis dan berkembang pesat.
Pegadaian lahir dari interaksi permintaan dan penawaran terhadap dana tunai dalam
waktu yang cepat dengan barang berharga sebagai jaminannya. Selama ini bisnis
pegadaian relatif tumbuh dan berkembang baik yang dilaksanakan oleh swasta
ataupun pemerintah. Tingginya permintaan terhadap praktik gadai bahkan
menyebabkan munculnya pelaku bisnis gadai dalam berbagai skala dengan beragam
model dan bentuk transaksi. Tak jarang karena masyarakat membutuhkan dana tunai
dengan cepat, gadai barang menjadi salah satu modus rentenir dalam menjalankan
operasinya.

Gadai merupakan suatu hak, yang diperoleh kreditur atas suatu barang
bergerak yang dijadikan sebagai jaminan pelunasan atas hutang. Dan Pegadaian
merupakan “trademark” dari lembaga Keuangan milik pemerintah yang menjalankan
kegiatan usaha dengan prinsip gadai. Bisnis gadai melembaga pertama kali di
Indonesia sejak Gubernur jenderal VOC Van Imhoff mendirikan Bank Van Leening.
Meskipun demikian, diyakini bahwa praktik gadai telah mengakar dalam keseharian
masyarakat Indonesia. Pemerintah sendiri baru mendirikan lembaga gadai pertama
kali di Sukabumi Jawa Barat, dengan nama Pegadaian, pada tanggal 1 April 1901
dengan Wolf von Westerode sebagai Kepala Pegadaian Negeri pertama, dengan misi
membantu masyarakat dari jeratan para lintah darat melalui pemberian uang pinjaman
dengan hukum gadai. Seiring dengan perkembangan zaman, Pegadaian telah beberapa

1
kali berubah status mulai sebagai Perusahaan Jawatan (1901), Perusahaan di bawah
IBW (1928), Perusahaan Negara (1960), dan kembali ke Perjan di tahun 1969. Baru di
tahun 1990 dengan lahirnya PP No. 10/tahun 1990 tanggal 10 April 1990, sampai
dengan terbitnya PP No. 103 tahun 2000, Pegadaian berstatus sebagai Perusahaan
Umum (PERUM) dan merupakan salah satu BUMN dalam lingkungan Departemen
Keuangan RI hingga sekarang.

2. Rumusan masalah

a. Apa pengertian dan bagaimana latar belakang pegadaian syariah


b. Bagaimana mekanisme pegadaian syariah
c. Apa prinsip operasional pegadaian syariah
d. Apa saja barang Gadai dan Resiko Pegadaian Syariah
e. Apa peranan Pegadaian Syariah dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat
3. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian dan bagaimana latar belakang pegadaian syariah
b. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pegadaian syariah
c. Untuk mengetahui apa prinsip operasional pegadaian syariah
d. Untuk mengetahui apa saja barang Gadai dan Resiko Pegadaian Syariah
e. Untuk mengetahui apa peranan Pegadaian Syariah dalam Pemberdayaan
Ekonomi Umat

2
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian dan latar belakang pegadaian syariah
1
Secara terminologi gadai adalah pinjam-meminjam uang dengan
menyerahkan barang dan batas waktu (bila telah sampai waktunya tidak ditebus,
barang itu menjadi hak orang yang memberi pinjaman). Dalam bahasa arab disebut
Ar-Rahn, secara etimologi Rahn adalah tetap, kekal, dan jaminan. Begitu pula gadai
dinamai al-hasbu yang artinya “penahan”. Seperti dikatakan Ni’matun Rahinah,
artinya “karunia yang tetap dan lestari. Untuk al-hasbu sebagaimana tercantum
dalamfirman Allah SWT”

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-
Mudatsir,74:v38)

Adapun pengertian Rahn msecara terminologi didefinisikan beberapa ulama fiqih


sebagai berikut:

a Ulama Malikiyah
”Harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang yang bersifat
mengikat”
b Ulama Hanafiyah
”Menjadikan sesuatu (barang) jaminan terhadap hak (piutang) yang mungkin
dijadikan sebagai pembayar hak (piutang) itu, baik seluruhnya maupun
sebagainnya”.
c Ulama Syafiiyah
”Menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan
pembayar utang apabila orang yang berutang tidak bisa membayar
utangnnya itu.”
d Ulama Hanabilah
”Harta yang dijadikan jaminan hutang dan dapat dijadikan sebagai
pembayar hutang jika penghutang gagal membayar hutangnya kepada
pemiutang”. Sedangkan menurut Sayyid Sabiq, rahn adalah menjadikan
barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai
1
Juhaya S Pradja, Lembaga keuangan syariah, Bandung, CV Pustaka Setia, 2012. Hal:156

3
jaminan utang, hingga yang bersangkutan boleh mengambil atau bisa
mengambil sebagai (manfaat) barang Itu”.

Latar belakang pegadaian syariah

 Terbitnya PP/10 tanggal 1 April 1990 dikaitkan menjadi tanggal awal kebangkitan
Pegadaian
 PP10 menegaskan misi yang harus diemban oleh Pegadaian untuk mencegah praktik
riba
 Misi ini tidak berubah hingga terbitnya pp103/2000 yang dijadikan sebagai landasan
kegiatan usaha Perum Pegadaian sampai sekarang
 Akhirnya disusunlah suatu konsep pendirian unit Layanan Gadai Syariah sebagai
langkah awal pembentukan divisi khusus yang menangani kegiatan usaha syariah.
 Pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS)
Cabang Dewi Santika di bulan Januari tahun 2003
 Menyusul kemudian pendirian ULGS di Surabaya, Makasar, Surabaya dan
Yogyakarta ditahun yang sama hingga September 2003.
 Masih di tahun yang sama, 4 Kantor Cabang Pegadaian di Aceh dikonversi menjadi
Pegadaian Syariah.
 Baru kemudian, pada tanggal 10 November 2003 Kantor Unit Layanan Gadai Syariah
mulai melakukan uji coba operasi di Sungai Panas, Jl Laksana Bintan, Kompleks
Bumi Riau makmur Blok C 8, dan melayani permintaan masyarakat yang ingin
menggdadaikan barang bergeraknya.
Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan ULGS telah dapat diterima di tengah
masyarakat.

2. Mekanisme Pegadaian Syariah


2
Dari landasan islam tersebut, maka mekanisme operasional pegadaian islam
dapat digambarkan sebagai berikut: melalui akad rahn, nasabah menyerahkan barang
bergerak dan kemudian pegadaian menyimpan dan merawatnya ditempat yang telah
disediakan oleh pegadaian. Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah
timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai investasi tempat penyimpanan, biaya
perawatan, dan keseluruhan proses kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi
2
Nurul Huda, Lembaga Keuangan Islam, Jakrta, Prenada media grouf, 2013, Hal:280

4
pegadaian mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati
oleh kedua pihak.

Pegadaian islam akan memperoleh keuntungan hanya dari bea sewa tempat
yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan
dari uang pinjaman. Sehingga disini dapat dikatakan proses pinjam meminjam uang
hanya sebagai “lipstick” untuk menarik minat konsumen untuk menyimpan barangnya
dipegadaian.

Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad tersebut meliputi:

a Akad. Akad tidak mengandung syarat fasik/batil seperti murtahin


menysaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas.
b Marhum bih (pinjaman). Pinjaman merupakan hak yang wajib dikembalikan
kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang diRahn-kan tersebut.
Serta pinjaman itu jelas dan tertentu.
c Marhum (barang yang dirahnkan). Marhum bisa dijual dan nilainya seimbang
dengan pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya, milik sah penuh dari rahin,
tidak terkait dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan baik materi maupun
manfaatnya.
d Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta
jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur.
e Rahn dibebani jasa manajemen atas barang berupa: biaya asuransi
penyimpanan, keamanan dan pengelolaanserta administrasi.

5
untuk dapat memperoleh layanan dari pegadaian islam, masyarakat hanya
perlu menyerahkan harta geraknya (emas, berlian,kendaraan,dan lain-lain) untuk
dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal. Kemudian staf penaksir akan
menentukan nilai taksiran barang bergerak tersebut yang akan dijadikan sebagai
patokan perhitungan pengenaan sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon uang
pinjaman yang dapat diberikan. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai intrinsik
dan harga pasar yang telah ditentukan oleh perum pegadaian. Maksimum uang
pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90%persen dari nilai taksiran barang.
Setelah melalui tahapan ini, pegadaian islam dan nasabah melakukan akad
dengan kesepakatan:
a Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama
maksimum 4 bulan
b Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 90., (sembilan puluh
rupiah) dari kelipatan taksiran Rp 10.000., per sepuluh hari yang dibayar
bersamaan pada saat melunasi pinjaman.
c Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh pegadaian pada
saat pencairan uang pinjaman.

Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggara untuk:

a Melakukan penebusan barang/pelunasan pinjaman kapan pun sebelum jangka


waktu empat bulan.
b Mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dulu jasa simpan yang
sudah berjalan ditambah bea administrasi.

6
c Atau hanya membayar jasa simpannya saja terlebih dulu jika pada saat jatuh
tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman uangnya.

Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi utang atau hanya membayar jasa
simpan, maka pegadaian syariah melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara
dijual, selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman, jasa simpan, dan pajak
merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. Nasabah diberik kesempatan
selama satu tahun untuk mengambil uang kelebihan, dan jika dalam satu tahun
ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut, pegadaian syariah akan
menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakad sebagai Zis.

Aspek islam tidak hanya menyentuh aspek operasionalnya saja, pembiayaan


kegiatan dan pendanaan bagi nasabah, harus diperoleh dari sumber yang benar-benar
terbebas dari unsur riba. Dalam hal ini, seluruh kegiatan pegadaian syariah termasuk
dana yang kemudian disalurkan kepada nasabah, murni dari modal sendiri ditambah
dana pihak ketiga dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pegadaian telah
melakukan kerja sama dengan bank muamalat sebagai fundernya., kedepannya
pegadaian juga akan melalkukan kerja sama dengan lembaga keuangan islam lain
untuk memback-up modal kerja.

Dari uiraian ini dapat dicermati perbedaan yang cukup mendasar dari teknik
transaksi pegadaian islam dibandingkan dengan pegadaian konvensional adalah:

a Dipegadaian konvensional, tambahan yang harus dibayar oleh nasabah yang


disebut sebagai sewa modal, dihitung dari nilai pinjaman.
b Pegadaian konvensional hanya melakukan hanya satu akad perjanjian utang
piutang dengan jaminan barang bergerak yang jika ditinjau dari aspek hukum
konvensional, keberadaan barang jaminan dalam gadai bersifat accesoir,
sehingga pegadaian konvensional bisa tidak melakukan penahanan barang
jaminan atau dengan kata lain melakukan praktik fidusia. Berbeda dengan
pegadaian islam yang mensyaratkan secara mutlak keberadaan jaminan untuk
membenarkan penarikan bea jasa simpan.

7
3. Prinsip Operasional Pegadaian Syariah
a Aspek transaksi
pada dasarnya pegadaian syariah berjalan di atas dua jalan transaksi syariah
yaitu:
1) Akad Rahn, Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si
peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang dipinjamkannya, pihak
yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh
atau sebagian piutangnya. Dengan hak ini pegadaian menahan benda
atas utang nasabah.b
2) Akad Ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna atasbarang dan atau jasa
melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan atas barangnya sendiri.
b Aspek pendanaan
Aspek islam tidak hanya menyentuh aspek operasionalnya saja,
pembiayaan kegian dan pendanaan bagi nasabah, harus diperoleh dari sumber
yang benar benar terbebas dari unsur riba.

Operasi pegadaian syariah menggambarkan hubungan diantara nasabah dan


pegadaian. Adapun teknis pegadaian syariah adalah sebagai berikut:
a Nasabah menjaminkan barang kepada pegadaian syariah untuk mendapatkan
pembiayaan. Kemudian pegadaian menaksir barang jaminan untuk dijadikan
dasar dalam pemberian besaran pembiayaan yang dapat diberikan oleh
pegadaian syariah kepada nasabah
b Pegadaian syariah dan nasabah menyetujui akad gadai; akad ini mengenai
berbagai hal, seperti kesepakatan biaya administrasi, tarif jasa simpan,
pelunasan, dan sebagainya.
c Pegadaian syariah menerima biaya-biaya administrasi dibayar di awal,
sedangkan untuk jasa simpan di saat pelunasan utang
d Nasabah melunasi barang yang digadaikan menurut akad; pelunasan penuh,
ulang gadai, angsuran, atau tebus sebagian.

Prinsip utama barang yang digunakan untuk menjamin adalah barang yang
dihasilkan dari sumber yang sesuai dengan syariah, atau keberadaan barang tersebut

8
di tangan nasabah bukan karena hasil praktik riba, maysir, dan gharar. Barang-barang
tersebut antara lain seperti:

a Barang perhiasan, seperti perhiasan yang terbuat dari intan, mutiara, emas,
perak, platina, dan sebagainya
b Barang rumah tangga seperti perlengkapan dapur, perlengkapan makan atau
minum, perlengkapan kesehatan, perlengkapan bertaman dan sebagainya
Barang elektronik seperti radio, tape recorder, video player, televise, komputer
dan sebagainya
c Kendaraan, seperti sepeda ontel, sepeda motor, mobil dan sebagainya
d Barang-barang lain yang dianggap bernilai, seperti kain batik tulis

4. Barang Gadai dan Resiko Pegadaian Syariah


Hidup ini dinamis, baik dari sisi material maupun spiritual. Sebagai manusia
biasa, kita tentu berharap bisa diberi kecukupan harta yang manfaat dan barakah.
Allah telah berjanji akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari jalan yang tidak
disangka-sangka bagi hamba-Nya yang bertakwa.

Hal ini sesuai firman Allah, “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu,” (QS. Ath Thalaaq: 3).

Kadangkala kita memiliki kebutuhan yang tidak terduga. Kadang pula kita
memiliki kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi segera. Jika Anda mengalami
kondisi seperti ini, bukan berarti otomatis Anda tidak sedang bertakwa kepada Allah,
karena takwa merupakan salah satu cara untuk memperoleh rezeki dan jalan keluar.
Betapa banyak orang yang tidak beriman dan diberikan rezeki yang banyak. Namun,
tentu saja nikmat iman adalah rezeki yang tak ternilai.

Dalam kondisi memiliki kebutuhan yang mendesak, kita harus terus bertakwa
dan berikhtiar. Salah satu sarana ikhtiar yang disediakan oleh Pegadaian Syariah
adalah solusi gadai sesuai syariah dengan objek atau barang yang bisa digadaikan bisa

9
berupa perhiasan, barang elektronik dan kendaraan bermotor. Dan adapun barang
gadai yang dapat digadaikan di Pegadaian Syariah ialah:

a Kendaraan

Rasanya sudah jarang ditemukan di sebuah keluarga yang tidak


memiliki kendaraan bermotor. Apalagi bisa kita lihat kondisi jalanan di
berbagai kota besar yang sudah macet. Hal ini membuktikan bahwa banyak
sekali masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor, meskipun sebagian ada
yang memilikinya dengan cara tidak tunai. Atas kondisi dan potensi tersebut,
Pegadaian Syariah juga memberikan solusi praktis atas kebutuhan dana
mendesak, yakni dengan gadai kendaraan bermotor.

Namun, Anda harus memperhatikan syarat dan ketentuan gadai


kendaraan bermotor. Tidak semua jenis kendaraan bermotor bisa digadaikan.
Ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan penentuan jenis dan
spesifikasi kendaraan bermotor yang bisa digadaikan.

Untuk kendaraan berupa motor, masa produksi motornya maksimal 5


tahun terakhir. Merek motor yang bisa digadaikan merupakan semua merek
yang telah beredar di pasaran, kecuali motor dengan pabrikan Tiongkok.
Sedangkan untuk kendaraan mobil, yang bisa Anda gadaikan adalah mobil
dengan masa produksi maksimal 10 tahun terakhir.

Ketika hendak menggadaikan kendaraan Anda, baik itu berupa mobil


atau motor ke Pegadaian Syariah, Anda bisa menyertakan surat-surat
kendaraan seperti faktur pembelian, BPKB dan STNK.

b Barang Elektronik

Barang elektronik yang bisa digadaikan Pegadaian Syariah adalah


televisi (LCD), kulkas, gadget, laptop, dan berbagai alat elektronik lainnya
yang berharga dan banyak digunakan oleh masyarakat. Semakin bagus kondisi
barang elektronik Anda, maka Anda akan berpeluang mendapatkan pinjaman
yang lebih tinggi.

10
Anda harus memastikan bahwa barang elektronik yang anda gadaikan
adalah masih dalam kondisi bagus, disukai yang masih baru (belum mencapai
1 tahun penggunaan), belum pernah rusak, ada faktur pembelian, ada garansi,
masih utuh dan merupakan barang yang populer di kalangan masyarakat
sehingga mudah dijual kembali

c Emas

Perhiasan paling utama yang bisa digadaikan adalah emas. Emas


adalah barang berharga yang sifatnya universal. Emas diakui sebagai barang
berharga di semua negara di dunia. Tanpa surat atau dokumen kepemilikan,
emas akan menjadi sah dimiliki dan diperjualbelikan oleh pembawanya. Emas
cetakan dan/atau buatan manapun, akan bisa laku untuk diperjualbelikan di
negara manapun, karena yang paling berharga dari emas adalah zatnya.

Adapun perhiasan yang bisa digadaikan di Pegadaian Syariah adalah


emas batangan, emas koin, emas dinar, emas perhiasan (emas warna emas
maupun emas warna putih), serta barang berharga lain seperti berlian. Emas
yang beratnya tidak mencapai 1 gram pun bisa digadaikan. Emas yang
beratnya mencapai 1 kilogram pun tentu bisa digadaikan. Sedangkan jenis
perhiasan yang bisa digadaikan adalah kalung, cincin, gelang, giwang, dan
perhiasan lain yang lazim berada di masyarakat.

d Alat-alat pertanian dan nelayan

Alat-alat pertanian dan nelayan seperti traktor tangan, mesin pompa


air, senshou (gergaji mesin), dan mesin tempel diesel kapal. Tentunya alat-alat
tersebut digadaikan di Pegadaian Syariah pada saat alat-alat tersebut tidak
dipergunakan dan masyarakat (petani/nelayan) membutuhkan modahl
tambahan

RISIKO PEGADAIAN SYARIAH

Berdasarkan SK Direksi No 10950/sdm.200322/ 2004 tanggal 28 April 2004


tentang Struktur Organisasi perum pegadaian telah dibentuk unit kerja setingkat
divisi, yaitu Satuan Manajemen Risiko. Perum pegadaian sebagai perusahaan yang

11
bergerak di bidang penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai melalui divisi
tersebut telah melakukan identifikasi, pengukuran, penilaian dan pengelolaan risiko
sebagai berikut :

a Risiko Pendanaan
b Risiko Permodalan
c Risiko Barang Jaminan
d Risiko Persaingan
e Risiko Operasional
f Risiko Peraturan Pemerintah
g Risiko Teknologi
h Risiko keamanan
i Risiko hokum

5. Peranan Pegadaian Syariah dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat

a Pegadaian merupakan sahabat terdekat bagi masyarakat menengah kebawah


untuk mendapatkan kredit jangka pendek guna memenuhi kebutuhan sehari-
hari ataupun untuk modal usaha mikro kecil dan menengah.
b Prosedurnya yang mudah memungkinkan siapa saja untuk mendapatkan kredit
sesuai dengan yang diinginkan.
c Dimana dengan adanya pegadaian memberikan kesempatan untuk masyarakat
kecil dan menengah kebawah untuk memulai dan mengembangkan usahanya,
yang pada akhirnya juga akan mengangkat perekonomian rumah tangga dan
meminimalisir angka kemiskinan diindonesia.
d Pegadaian sebagai sebuah akses untuk mewujudkan kesejahteraan bagi usaha
mikro kecil dan menengah serta pemberdayaan perekonomian bagi masyarakat
kecil di tuntut untuk menjalankan misi utamanya sebagai satu-satunya Badan
Usaha Milik Negara yang dapat menyalurkan kredit atas hukum gadai.

12
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pegadaian syariah merupakan lembaga yang didirikan untuk melayani
kebutuhan masyarakat dalam pendanaan dan selalu menjadi pilihan transaksi yang
sering digunakan oleh masyarakat yang menghadapi masalah dalam kebutuhkan dana
yang cepat sehingga menggadaikan barang-barang yang bergerak atau berharga
sebagai bentuk jaminan. Selain itu dengan adanya pegadaian syariah membantu
masyarakat untuk tidak terkena jerat para rentenir karena ada pegadaian syariah yang
akan membantu pendanaan bagi nasabah. Dalam pegadaian syariah tidak hanya
bentuk akad dan transaksinya yang terhindar dari riba tetapi didalam pembiayaan dan
yang lainnya terhindar dari unsur riba.

2. Saran
Penulis banyak berharap kepada para pembaca dapat memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan untuk
penulisan makalah dikesempatan berikutnya singga penulis bisa menjadi lebih baik
dipenulisan makalah selanjutnya.
.

13
14
DAFTAR PUSTAKA
Huda Nurul (2013). Lembaga Keungan Syariah. Jakarta: Prenadamedia Grouf

Praja Juhaya(2012). Lembaga Keuangan Syariah. Bandung: CV Pustaka Setia

Syafe’i Rahmat (2001). Fiqih Muamalah. Bandung: CV Pustaka Setia

15