Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Menurut Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental
emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia
15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk
Indonesia. Sedangkan prevalensi depresi (berdasarkan wawancara dengan Mini
International Neuropsychiatric Interview) pada penduduk umur ≥15 tahun menurut
provinsi, 2018 mencapai 6,1% dari jumlah penduduk Indonesia.
Usia 15 tahun termasuk kategori usia remaja. Berdasarkan data WHO, batasan
usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Usia 12 sampai 24 tahun merupakan usia
masa sekolah. Rentang masa sekolah ini meliputi masa sekolah menengah atas dan
mahasiswa. Masa ini sangat rentan terhadap depresi. Banyak mahasiswa yang
mengalami tanda-tanda depresi seperti banyaknya kasus mahasiswa yang bunuh diri
di Indonesia. Beberapa penyebab depresi tersebut antara lain tugas mahasiswa yang
menumpuk, keadaan ekonomi, perpeloncoan, bullying dan dibeberapa kasus
penyebabnya adalah putus cinta.
Hal tersebut menjadi dasar bagi kami untuk melakukan kegiatan promosi
kesehatan terhadap mahasiswa dengan mengusung tema depresi dan mengangkat
judul Berpikir Positif terhadap Kegagalan.

1.2. TUJUAN
Adapun promosi kesehatan yang akan kami laksanakan memiliki dua tujuan
yaitu, tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
Jangka pendek : memberikan pengetahuan tentang depresi dan bagaimana cara
mengatasi depresi bagi mahasiswa.
Jangka panjang :
1. Mahasiswa mampu mengingat bagaimana cara mengatasi depresi.
2. Mahasiswa dapat melakukan kegiatan yang dapat mengatasi depresi.
3. Mahasiswa dapat dan mampu memberikan informasi tentang depresi
kepada orang lain.
4. Mahasiswa dapat dan mampu memberikan informasi tentang cara
mengatasi depresi kepada orang lain.

1.3. METODE PELAKSANAAN


Metode pelaksanaan yang dilakukan pada promosi kesehatan ini, yaitu:
1. Pemberian materi
2. Tanya Jawab

1.4. MEDIA PELAKSANAAN


Media pelaksanaan yang digunakan pada promosi kesehatan ini, yaitu:
1. Leaflet
2. Power Point
3. LCD (Proyektor) dan laptop

1.5. PENGORGANISASIAN
Ketua :
Wakil Ketua :
Bendahara : 1.
Sekretaris : 1.
Sie Acara :
Sie Humas : 1.
Sie Dokumentasi :
Fasilitator : 1.

1.6. WAKTU DAN TEMPAT


Pelaksanaan promosi kesehatan ini akan dilaksanakan pada Hari ... dan
tanggal ... di .....
1.7. SASARAN
Sasaran pada promosi kesehatan ini adalah siswa SMA
1.8. EVALUASI
Diharapkan dengan diadakannya kegiatan ini mahasiswa dapat mengetahui
gejala stres menuju depresi. Selain itu diharapkan mahasiswa dapat mengatasi gejala
depresi yang mungkin akan terjadi pada diri sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Stres
Dalam pengertian umum, stress adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa
menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang dinginkan oleh individu, baik
keinginan yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah.

2.2. Indikasi Gejala Stres


Individu yang mengalami stress akan berperilaku lain dibandingkan dengan
tujuannya yang tidak mengalami stress. Oleh karena itu, kondisi individu yang
mengalami stress gejala-gejalanya dapat dilihat baik secara fisik maupun secara
psikologis. Gejala secara fisik individu yang mengalami stress, antara lain ditandai
oleh gangguan jantung, tekanan darah tinggi, ketegangan pada otot, sakit kepala,
telapak tangan dan atau kaki terasa dingin, pernapasan tersengal-sengal, kepala terasa
pusing, perut terasa mual-mual, gangguan pada pencernaan, susah tidur, bagi wanita
akan mengalami gangguan menstruasi, dan gangguan seksual (impotensi) (Waitz,
Stromme, Rallo, 1983:52-71)1.

2.3. Penyebab Stres


Stresor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan
terjadinya respon stress. Stress dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi
fisik, psikologis, maupun sosial, dan juga muncul pada situasi kerja, di rumah, dalam
kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya.

Taylor merinci beberapa karakteristik kejadian yang berpotensi untuk dinilai


menciptakan stress, antara lain :
a. Kejadian negative agaknya lebih banyak menimbulkan stress daripada kejadian
positif.
b. Kejadian yang tidak terkontrol dan tidak terprediksi lebih membuat stress
daripada kejadian yang terkontrol dan terprediksi.

1
Aditomo A, Retnowati S. Perfeksionisme, Harga Diri, Dan Kecenderungan
Depresi Pada Remaja Akhir. J Psikol. thn. 2004
c. Kejadian “ambigu” sering kali dipandang lebih mengakibatkan stress daripada
kejadian yang jelas.
d. Manusia yang tugasnya melebihi kapasitas (overload) lebih mudah mengalami
stress daripada individu yang memiliki tugas sedikit2.

2.4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stres


Ada beberapa faktor yang memengaruhi stres, yaitu:
1. Faktor Lingkungan
Stres muncul karena suatu stimulus menjadi semakin berat dan
berkepanjangan sehingga individu tidak lagi bisa menghadapinya. Ada tiga tipe
konflik yaitu mendekat-mendekat (approach-approach), menghindar-menghindar
(avoidance-avoidance) dan mendekat-menghindar (approachavoidance).
2. Faktor Kognitif
Lazarus percaya bahwa stress pada individu tergantung pada bagaimana
mereka membuat penilaian secara kognitif dan menginterpretasi suatu
kejadian.Penilaian kognitif adalah istilah yang digunakan Lazarus untuk
menggambarkan interpretasi individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka
sebagai suatu yang berbahaya, mengancam, atau menantang (penilaian primer) dan
keyakinan mereka apakah mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi suatu
kejadian dengan efektif (penilaian skunder). Strategi “pendekatan” biasanya lebih
baik daripada strategi “menghindar”.
3. Faktor Kepribadian
Pemilihan strategi mengatasi masalah yang digunakan individu dipengaruhi
oleh karakteristik kepribadian seperti kepribadian optimis dan pesimis. Menurut
Carver dkk (1989) individu yang memiliki kepribadian optimis lebih cenderung
menggunakan strategi mengatasi masalah yang berorientasi pada masalah yang
dihadapi.
4. Faktor Sosial-Budaya
Akulturasi mengacun pada perubahan kebudayaan yang merupakan akibat
kontak yang sifanya terus menerus antara dua kelompok kebudayaan yang berbeda.
2
Zannah M. Gangguan stres pasca trauma gagal untuk menikah: Studi
fenomenologi terhadap seorang perempuan yang mengalami stres pasca
trauma gagal untuk menikah. Univ Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. thn.
2013
Stress akulturasi adalah konsekuensi negative dari akulturasi. Anggota kelompok
etnis minoritas sepanjang sejarah telah mengalami sikap permusuhan, prasangka, dan
ketiadaan dukungan yang efektif selama krisis, yang menyebabkan penguncilan,
isolasi sosial, dan meningkatnya stres.

2.5. Pengertian Depresi


Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan
dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus
asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010).3 Depresi merupakan gangguan
yang terutama ditandai oleh kondisi emosi sedih dan muram serta terkait dengan
gejala-gejala kognitif, fisik, dan interpersonal (APA, 1994).4

2.6. Penyebab Terjadi Depresi


Beberapa penyakit mempunyai penyebab yang jelas dan spesifik sehingga
pengobatannya juga bisa khusus atau spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut. Ada
beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab/faktor resiko terkena depresi, yaitu:
1. Kesepian/keterasingan,
2. Pengalaman hidup yang menekan (Stresful),
3. Kurangnya dukungan sosial,
4. Riwayat penyakit depresi pada keluarga,
5. Perbedaan biologis (neutrotransmitter/hormonal),
6. Adanya masalah keluarga/masalah perkawinan,
7. Masalah keuangan,
8. Adanya trauma/pelecehan pada masa kanak-kanak,
9. Menganggur dan tidak punya pekerjaan,
10. Penyalahgunaan obat/narkotika,
11. Pola pikir yang negatif.

2.7. Faktor Risiko Depresi


Menurut teori stress-vulnerability model, ada beberapa resiko atau faktor
penyebab depresi, yaitu :
1. Genetika dan riwayat keluarga

3
Wahyuningsih HD, Nandiroh S. Pada Anak-Anak Dan Remaja. J Ilm Tek Ind. thn.
2015
4
Jiwo T. Depresi: Panduan Bagi Pasien, Keluarga dan Teman Dekat. Indonesia. thn.
2012
2. Kerentanan psikologis (psychological vulnerability)
3. Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live events)
4. Faktor biologis.
Bila dibiarkan tidak diobati, penyakit depresi bisa menimbulkan berbagai
komplikasi seperti :
 Kecanduan alkohol
 Kecanduan narkoba
 Anxiety (kecemasan)
 Masalah di kantor atau di sekolah
 Konflik keluarga
 Kesulitan bergaul
 Isolasi sosial
 Bunuh diri
 Menganiaya diri sendiri
 Mati muda karena penyakit lain

2.8. Gejala-Gejala pada Penderita Depresi


Gejala gejala dari depresi antara lain :
 Merasa sedih dan tidak bahagia,
 Hal-hal kecil sudah membuat dirinya frustasi atau sangat mengganggu,
 Kehilangan minat atau kesenangan terhadap kegiatan sehari-hari yang
dahulu disukainya,
 Tidak bisa tidur atau kebanyakan tidur (tidur terus),
 Kehilangan dorongan seksual,
 Perubahan nafsu makan, bisa berupa kehilangan nafsu makan dan menjadi
kurus atau bisa menjadi bertambah nafsu makan dan mengalami kegemukan,
 Tidak tenang, sulit duduk diam ditempat,
 Mudah meledak marah atau sangat mudah tersinggung,
 Berpikir pelan, berbicara pelan dan lemah, begitu pula ketika bergerak atau
menggerakkan bagian tubuhnya,
 Sulit mengambil keputusan, kurang konsentrasi, gampang terganggu
konsentrasinya, sulit mengingat,
 Selalu merasa capai, lemah dan kehilangan tenaga, bahkan sebuah kegiatan
kecil terasa berat dan menghabiskan banyak tenaga,
 Merasa tidak berharga, merasa bersalah, dan selalu memikirkan kegagalan
atau kesalahan masa lalu,
 Sering berpikir tentang kematian atau bunuh diri,
 Tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas,
 Gangguan fisik yang tidak jelas penyebabnya, seperti sakit kepala atau sakit
punggung.

Pada sebagian orang lain, gejala depresi hanya berupa perasaan tidak bahagia
atau merasa bahwa hidupnya sangat sengsara tanpa tahu penyebabnya. Gejala depresi
bisa berbeda-beda tergantung sifat dasar seseorang, umur, jenis kelamin, dan latar
belakang budayanya. Pada anak-anak atau remaja belasan tahun, gejala depresi dapat
berupa :
 Pada anak-anak, gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak
mempunyai harapan, ketakutan dan kecemasan.
 Gejala pada remaja bisa berupa kecemasan, kemarahan, dan menghindari
kontak social.
 Hasil belajar disekolah biasanya terganggu,
 Depresi pada anak jarang yang muncul berupa gangguan tidur atau gangguan
berpikir.
 Pada anak dan remaja, depresi sering terjadi bersamaan dengan gangguan
perilaku atau gangguan mental lainnya, seperti attention deficit/hyperactive
disorder (ADHD).5

2.9. Cara Pencegahan Stres


Merencanakan kegiatan harian secara rutin. Hidup adalah serangkaian
rutinitas, namun manusia selalu melupakan rutinitas tersebut. Bahkan dalam
menjalani hidup ini individu sering lupa dalam merencanakan kegiatan yang akan
dijalani dalam satu hari ini. Sebagai contoh hari ini ada rapat atau seminar, tetapi
individu tersebut jika lupa jadwal kegiatannya maka akan menimbulkan stress.
Sebaliknya jika individu mengetahui secara pasti jadwal kegiatan dari hari ke hari
maka akan mengurangi resiko terkena stress. Memelihara tanaman dan binatang dapat
sebagai sarana untuk mengurangi beban stress pada individu. Dengan menanam dan
merawat tanaman dapat sebagai hiburan dan pengalihan perhatian atau konsentrasi
pada suatu permasalahan.
Dengan merawat tanaman konsentrasi sesaat akan tercurahkan pada tanaman
tersebut, sehingga beban stress dapat berkurang. Selain itu, memelihara binatang

5
Sukadiyanto S. Stress Dan Cara Menguranginya. J Cakrawala Pendidik. thn 2010
piaraan antara lain seperti kucing, anjing, burung, ikan dan sejenisnya merupakan
hiburan yang mampu mengalihkan konsentrasi dari suatu permasalahan ke objek
yang dirawat. Meluangkan waktu untuk diri sendiri (keluarga). Seperti telah
dijelaskan di atas dalam rekreasi atau meluangkan waktu bagi diri sendiri dan
keluarga sangat diperlukan agar individu terhindar dari stress. Selain itu, kegiatan
seperti memancing ikan dapat sebagai sarana mengurangi ketegangan pada individu
yang mengalami stress.

DAFTAR PUSTAKA

Aditomo A, Retnowati S. Perfeksionisme, Harga Diri, Dan Kecenderungan Depresi


Pada Remaja Akhir. J Psikol. 2004;1(1):1-14.
Jiwo T. Depresi: Panduan Bagi Pasien, Keluarga dan Teman Dekat. Indonesia.
2012;1:5-7.
Sukadiyanto S. Stress Dan Cara Menguranginya. J Cakrawala Pendidik.
2010;1(1):55-66. doi:10.21831/cp.v1i1.218.
Wahyuningsih HD, Nandiroh S. Pada Anak-Anak Dan Remaja. J Ilm Tek Ind.
2015;14:142-152.
Zannah M. Gangguan stres pasca trauma gagal untuk menikah: Studi fenomenologi
terhadap seorang perempuan yang mengalami stres pasca trauma gagal untuk
menikah. Univ Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. 2013:69-78, 87-97,.
http://etheses.uin-malang.ac.id/1829/.