Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

DI RSJ MADANI SULTENG

DI SUSUN OLEH:
DEWI MARDATILLA JAMUN PK II5 017 009

CI LAHAN CI INSTITUSI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA JAYA
PALU
2019 / 2020

LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI

A. Konsep Dasar Teori


1. Pengertian
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan
dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Hawari, Dadang.
2001).
Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca
indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar / terbangun, dasarnya
fungsional psikotik maupun histerik (Maramis, 2004).
Halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami suatu
perubahan dalam jumlah atau pola rangsang yang mendekati (baik yang dimulai
secara eksternal maupun internal) disertai dengan respon yang berkurang dibesar-
besarkan, distorsi atau kerusakan rangsangan tertentu (Toesend, 1998).
Halusinasi adalah persepsi yang timbul tanpa stimulus eksternal serta
tanpa melibatkan sumber dari luar meliputi semua sistem panca indera.

2. Tanda dan Gejala


Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah
sebagai berikut :
a. Berbicara, senyum dan tertawa sendiri
b. Mengatakan mendengar suara, melihat, menghirup, mengecap dan merasa
sesuatu yang tidak nyata.
c. Menggerakan bibir tanpa suara
d. Pergerakan mata cepat
e. Respon vebal lambat
f. Menarik diri dari orang lain
g. Berusaaha untuk menghindari orang lain dan sulit berhubungan dengan
orang lain
h. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan
i. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata
j. Tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri seperti mandi, sikat
gigi, memakai pakaian dan berias dengan rapi
k. Sikap curiga, bermusuhan, menarik diri sulit membuat keputusan ketakutan,
mudah tersinggung, jengkel, mudah marah, ekspresi wajah tegang,
pembicaraan kacau dan tidak masuk akal dan banyak keringat
l. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik
m. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat
n. Biasa terdapat orientasi waktu, tempat dan orang
Sedangkan menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution
(2003), seseorang yang, mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-
gejala yang khas yaitu :
a. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai
b. Menggerakan bibir tanpa menimbulkan suara
c. Gerakan mata abnormal
d. Resp[on verbal yang lambat
e. Diam
f. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang menyakitkan
g. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukan ansietas misalnya,
peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah
h. Penyempitan kemampuan konsentrasi
i. Dipenuhi dengan pengalaman sensori
j. Mengkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halisinasi
dengan realitas
k. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari
pada menolaknya.
l. Menarik diri atau katatonik
m. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik
n. Tremor
o. Perilaku menyerang teror atau panik
p. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain
q. Kegiatan fisik yang mereflesikan isi halusinasi seperti amuk atau agitasi
r. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks
s. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang

3. Jenis-Jenis Halusinasi
Menurut Stuart 2007 jenis halusinasi terdiri dari:
a. Halusinasi pendengaran
Yaitu klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungannya dengan
stimulus yang nyata / lingkungan dengan kata lain orang yang berada
disekitar klien tidak mendengar suara / bunyi yang didengar klien.
b. Halusinasi penglihatan
Yaitu klien melihat gambaran yang jelas atau samar tanpa adanya stimulus
yang nyata dari lingkungan, stimulus dalam bentuk kilatan cahaya, gambar
geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks.
c. Halusinasi penciuman
Yaitu klien mencium sesuatu yang bau yang muncul dari sumber tertentu
tanpa stimulus yang nyata.
d. Halusinasi pengecapan
Yaitu klien merasa merasakan sesuatu yang tidak nyata, biasanya merasakan
rasa yang tidak enak.
e. Halusinasi perabaan
Yaitu klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.
f. Cenestetik
Merasakan funisi tubuh seperti aliran darah dari vena dan arteri, pencernaan
makan atau pembentukan urine.
g. Kinistetik
Merasakan gerakan sementara berdiri tegak.
h. Halusinasi seksual, ini termasuk halusinasi raba
Penderita merasa diraba dan diperkosa, sering pada skizoprenia dengan
waham kebesaran terutama menjadi organ-organ.
i. Halusinasi viseral
Timbulnya perasaan tertentu pada tubuhnya.
4. Tahapan Halusinasi
Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart Lardia (2001) dan
setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda yaitu :
a. Fase I
Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa
bersalah serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan
untuk meredakan ansietas. Disini kliuen tyersenyum atau tertawa yang tidak
sesuai, menggerakan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam
dan asyik sendiri. Jika kecemasan datang klien dapat mengontrol kesadaran
dan mengenal pikirannya namun intensitas persepsi meningkat.
b. Fase II
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan klien mulai lepas
kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan
sumber yang dipersepsi. Disini terjadi penin gkatan tanda-tanda sistem saraf
otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital. Asyik dengan
pengalaman sensori danb kehilangan kemampuan untuk membedakan
halusinasi dengan realita. Ansietas meningkat dan berhubungan dengan
pengalaman internal dan eksternal, individu berada pada tingkat listening
pada halusinasinya. Pikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan
sensori dan halusionasinya dapat berupa bisikan yang jelas, klien membuat
jarak antara dirinya dan halusinasinya dengan memproyeksikan seolah-olah
halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.
c. Fase III
Klien menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada
halusinasi tersebut. Disini klien sukar berhubungan dengan orang lain dan
berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan
berhubungan dengan orang lain.
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol. Klien menjadi
lebih terbiasa dan tidak berdaya dengan halusinasinya. Kadang halusinasi
tersebut memberi kesenangan dan rasa aman sementara.

d. Fase IV
Pengalaman sensori menjadi mengancamjika klien mengikuti perintah
halusinasi. Disini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak
mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu
berespon lebih dari satu orang. Kondisi klien sangat membahayakan. Klien
tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan
halusinasinya. Klien hidup dalam dunia yang menakutkan yang berlangsung
secara singkat atau bahkan selamanya.

5. Level Of Intensity Of Halusinations (Stuart & Sundeen, 1998)


Level Characteristic Observable Patien behaviora
I : comporting Non psikotik Tersenyum / tertawa sendiri,
Cemas sedang Merasa cemas, kesepian,
bicara tanpa suara, pergerakan
Halusinasi
bersedih, sehingga
mata cepat, bicara pelan, diam dan
merupakan
mencoba berfikir hal-hal
asyik sendiri.
kesenangan
yang menyenangkan
Halusinasi masih dapat
dikontrol
II : comdemning Non psikotik Peningkatan aktivitas saraf
Cemas berat Pengalaman sensori
otonom : peningkatan TTV
Halusinasi menjadi
menjadi menakutkan, Perhatian terhadap lingkungan
repulsif
klien merasa hilang menyempit dan tidak dapat
kontrol dan merasa membedakan halusinasi dengan
dilecehkan oleh realita
pengalaman sensori
tersebut serta menarik diri
dari orang lain.
III : controlling Psikotik Mengikuti perintah halusinasinya
Cemas berat Klien menyerah terhadap Sulit berhubungan dengan orang
Halusinasi tidak
halusinasinya lain
dapat ditolak Halusinasi menjadi lebih Perhatian terhadap lingkungan
mengancam dan klien hanya beberapa detik / menit
Gejala fisik cemas berat seperti
merasa kehilangan jika
berkeringat, tremor, tidak dapat
halusinasinya berakhir
mengikuti perintah.
IV : conquering Psikotik Perilaku panik
Panik Pengalaman sensori Resti mencederai diri sendiri /
Klien dikuasai oleh
menjadi menakutkan dan orang lain
halusinasi Aktivitas menggambarkan isi
mengancam jika klien
halusinasi seperti perilaku
tidak mengikuti
kekerasan, gelisah, isolasi sosial,
perintahnya
Halusinasi dapat bertahan atau katatonia
berjam-jam / berhari-hari
jika tidak segera di
intervensi

B. Rentang Respon (Stuart dan Lardia, 2001)

Respon Respon
Adaptif Maladaptif

 Pikiran Logis  Pikiran kadang  Kelainan pikiran /


 Persepsi akurat menyimpang delusi
 Emosi konsisten  Ilusi  Halusinasi
dengan pengalaman  Reaksi emosional  Ketidakmampuan
 Perilaku sesuai berlenihan atau kurang untuk mengalami
 Hubungan sosial  Perilaku ganjil atau tak emosi
lazim  Ketidakteraturan
 Menarik diri  Isolasi sosial
 Pikiran logis yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren
 Persepsi akurat yaitu proses diterimanya rangsangan melalui panca indera yang
didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang
ada didalam maupun diluar dirinya
 Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu manifestasi perasaan yang konsisten
atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung
tidak lama.
 Perilaku sesuai : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian
masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang
berlaku
 Hubungan sosial harmonis : hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar
individu dalam bentuk kerjasama
 Proses pikir kadang terganggu (ilusi) : manifestasi dari persepsi impuls eksternal
melalui alat panca indera yang memproduksi gambaran sensorik pada area
tertentu di otak, kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah
dialami sebelumnya.
 Emosi belebihan atau kurang : manifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan
atau kurang
 Perilaku tidak sesuai atau biasa : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya
umum yang berlaku
 Perilaku aneh atau tidak biasa : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya
umum yang berlaku
 Menarik diri : percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain
Halusinasi merupakan respon persepsi yang paling maladaptif. Jika klien
sehat, persepsinya akurat mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan
stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera, sedangkan
klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun
sebenarnya stimulus tidak ada.

C. Faktor Predisposisi
1. Biologis
Abnormalitas otak dapat menyebabkan respon neuro biologik yang
maladptif, misal adanya lesi pada area frontal, temporal dan limbik yang paling
berhubungan dengan munculnya perilaku psikotik. Perubahan-perubahan kimia
di otak juga dapat dikaitkan dengan skizoprenia seperti kelebihan neurotransmiter
dopamin, ketidakseimbangan dopamin dengan neurotransmiter lain dan masalah
pada reseptor.
2. Psikologis
Selama lebih dari 20 tahun skizoprenia diyakini sebagai penyakit yang dapat
disebabkan oleh keluarga dan sebagian oleh karakter individu itu sendiri. Ibu
yang selalu cemas, over protektif, dingin dan tidak berperasaan ayah yang tidak
dekat dengan anaknya atau terlalu memanjakan, konflik pernikahan juga dapat
menyebabkan gangguan ini.
Skizoprenia juga dipandang sebagai kaegagalan membangun tahap awal
perkembangan psikososial. Skizoprenia dipandang sebagsi contoh paling berat
dari ketidakmampuan mengatasi stress. Gangguan identitas, ketidakmampuan
untuk mengontrol insting-insting dasar diduga sebagai teori kunci dari
skizoprenia.
3. Sosial budaya
Beberapa ahli menyimpulkan bahwa kemiskinan, ketidakmampuan sosial
budaya dapat menyebabkan skizoprenia. Ilmuan lain menyatakan bahwa
skizoprenia di sebabkan terisolasi dikota atau segera tempat tinggalnya.
Walaupun stress yang terakumulasi berhubungan dengan faktor lingungan
berkontribusi untuk munculnya skizoprenia dan untuk kekambuhannya,
penemuan neurobiologis mengembangkan proses terjadinya gangguan psikotik
ini.

D. Faktor Presipitasi
Faktor sosial budaya : teori ini mengatakan bahwa stress lingkungan dapat
menyebabkan terjadinya respon neurobiologis yang maladaptif misalnya lingkungan
yang penuh kritik (rasa bermusuhan), kehilangan kemandirian dalam kehidupan atau
kehilangan harga diri, kerusakan dalam hubungan interpersonal, kesepian, tekanan
dalam pekerjaan dan kemiskinan. Teori ini mengatakan bahwa stress yang
menumpuk dapat menunjang terhadapa terjadinya gangguan psikotik tetapi tidak
diyakini sebagai penyebab utama gangguan.

E. Mekanisme koping (Stuart dan Sundeen, 1998)


1. Regresi : merupakan upaya klien untuk menanggulangi ansietas
2. Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi mengalihkan
tangguang jawab
3. Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal

F. Proses terjadinya masalah


Klien yang mengalkami halusinasi dapoat kehilangan kontrol dirinya sehingga
bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal ini terjadi jika
halusinasi sudah sampai pada fase keempat, dimana klien mengalami panik dan
perilakunya dikendalikan oleh halusinasinya. Masalah yang mnenyebabkan
halusinasi adalah harga diri rendah dan isolasi sosial akibat rendah diri dan
kurangnya berhubungan sosial maka klien menjadi menarik diri dari lingkungan
(Keliat, 2006).

G. Masalah keperawatan dan data fokus pengkajian


1. Perilaku kekerasan : resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
2. Halusinasi
3. Isolasi sosial : menarik diri
Data Fokus Pengkajian

No Masalah Data mayor Data minor


keperawatan
1 Resiko perilaku Ds: Ds :
Klien mengatakan marah dan  Mengatakan ada yang
kekerasan
jengkel kepada orang lain, mengejek
 Mendengar suara yang
ingin membunuh, ingin
menjengkelkan
membakar tau mengacak-
 Merasa orang lain
ngacak lingkungannya,
mengancam dirinya
mengancam, mengumpat dan Do :
 Menjauh dari orang lain
berbicara keras dan kasar
 Katatonia
Do:
 Mendengar suara-suara
 Agitasi
 Merasa orang lain
 Meninju
 Membanting mengancam
 Melempar
 Ada tanda / jejas
 Perilaku kekerasan pada
anggota tubuh
2 Halusinasi Ds: Ds:
Klien mengatakan mendengar Klien mengatakan kesal dan
suara bisikan / melihat klien juga mengatakan senang
bayangan mendengar suara-suara
Do: Do:
 Bicara sendiri  Menyendiri
 Tertawa sendiri  Melamun
 Marah tanpa sebab
3 Isolasi sosial : Ds: Ds:
Klien mengatakan malas Curiga dengan orang lain,
menarik diri
berinteraksi dengan orang lain, mendengar suara / melihat
juga mengatakan orang lain bayangan, merasa tidak
tidak mau menerima dirinya, berguna
Do:
merasa orang lain tidak selevel
 Mematung
Do:
 Mondar-mandir tanpa arah
 Menyendiri
 Tidak berinisiatif
 Mengurung diri
 Tidak mau bercakap-cakap berhubungan dengan orang
dengan orang lain lain
Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa Perencanaan
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
Halusinasi Pasien mampu : Setelah ....x pertemuan,Sp 1 Pasien tidak mengetahui apa yang
 Mengenali pasien dapat menyebutkan  Bantu pasien mengenal halusinasi didalamnya saat ini, jadi perawat
halusinasi yang : (isi, waktu, frekuensi, situasi membantu pasien mengenalkan
dialaminya  Isi, waktu frekuensi, pencetus, perasaan saat terjadi tentang apa yang sedang ia alami
 Mengontrol situasi pencetus, halusinasi) sehingga pasien mengerti dengan
halusinasinya  Latih mengontrol halusinasi
perasaan
 Mengikuti program  keadaannya. Cara yang diajarkan
Mampu dengan cara menghardik :
pengobatan  Jelaskan cara menghardik perawat ialah dengan menghardik
memperagakan cara
halusinasi suara-suara itu cepat hilang.
dalam mengontrol
 Peragakan cara menghardik
halusinasi  Minta pasien memperagakan
ulang
 Pantau cara penerapan cara ini,
beri pengetahuan perilaku
pasien
 Masukan dalam jadwal kegiatan
pasien
Setelah ...x pertemuan, Sp 2 Klien mampu memperlihatkan
 Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp1)
pasien mampu : perkembangannya dengan cara latih
 Latih berbicara / bercakap dengan
 Menyebutkan kegiatan berbicara dengan orang lain sehingga
orang lain saat halusinasi muncul
yang sudah dilakukan menghilangkan halusinasinya dan
 Memperagakan cara  Masukan dalam jadwal kegiatan
pasien untuk pendokumentasian
bercakap-cakap
dengan orang lain
Setelah ...x pertemuan, Sp 3 Kegiatan yang lalu dapat
 Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp1
pasien mampu : memperlihatkan perkembangan
 Menyebutkan kegiatan dan Sp 2) pasien, memaksimalkan aktivitas
 Latih kegiatan agar halusinasi tidak
yang sudah dilakukan dapat meringankan gejala halusinasi
 Membuat jadwal muncul
dan membantu pasien agar tidak
sehari-hari  Tahapannya :
kegiatan
 Jelaskan aktivitas yang teratur terjadi halusinasi yang berkelanjutan
dan mampu
untuk mengatasi halusinasi
memperagakannya  Diskusikan aktivitas yang biasa
dilakukan oleh pasien
 Latih pasien menentukan
aktivitas
 Susun jadwal aktivitas sehari-
hari sesuai dengan aktivitas
yang telah dilatih (dari bangun
sampai tisur malam)
 Pantau pelaksanaan jadal
kegiatan, berikan penguat
terhadap perilaku pasien yang
positif
Setelah ...x pertemuan, Sp 4 Kegiatan yang lalu dapat
 Evaluasi kegiatan yang lalu (Sp1
pasien mampu : memperlihatkan perkembangan
 Menyebutkan kegiatan dan Sp 2 dan Sp 3) pasien. Mengkaji tingkat kesadaran
yang sudah dilakukan  Tanyakan program pengobatan
Jelaskan pentingnya penggunaan pasien , mendorong agar pasien mau
 Menyebutkan manfaat 
obat pada gangguan jiwa minum obat yang telah diresepkan
dari program
 Jelaskan akibat bila tidak dan menjelaskan sesuatu akan
pengobatan
digunakan sebagai program membuat pasien lebih percaya
 Jelaskan akibat bila putus obat
 Jelaskan cara mendapatkan obat / tebuka, mendorong paisen mampu

berobat meminum obat dan menjalankan


 Latih pasien minum obat peratawan sehari-hari, pasien mampu
 Masukan dlam jadwal harian
meminum obat sendiri tanpa ditemani
pasien
perawat dan untuk pendokumentasian
Implementasi dan Evaluasi

1. Impelementasi Keperawatan
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang sudah dirumuskan.

2. Evaluasi
Selanjutnya, setelah dilakukan tindakan keperawatan, evaluasi dilakukan terhadap kemampuan pasien risiko bunuh diri
serta kemampuan perawat dalam merawat pasien dengan risiko bunuh diri.
Daftar Pustaka

Maramis, W.E. 2004. Ilmu Keperawatan Jiwa. Surabaya : Airlangga


Stuart dan Sundeen, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Keliat, Budi Anna, 1999. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Towsend, M.C, 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada
Keperawatan Psikiatri Edisi 3, Jakarta : EGC
Hawari, Dadang, 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Skizoprenia,
Jakarta : FKUI
Stuart dan Landia. 2001. Principle and Practicew Of Psychiatric Nursing
Edisi 6. St. Louis Mosby Year Book
Hamid, Achir Yani, 2000. Buku Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa 1.
Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta :
Depkes RI