Anda di halaman 1dari 40

Do’a Sebelum Belajar

‫ و‬،‫ب ِّزدْنِّي ِّع ْل ًما‬


ِّ ‫ار ُز ْقنِّ ْي فَ ْه ًما و ََ َر‬ َّ ‫اجْ عَ ْلنِّ ْي ِّمنَ ال‬
ْ ََ َ‫صا ِّل ِّحيْن‬

Robbii Zidnii ‘Ilmaa, Warzuqnii Fahmaa, Waj’alnii Minash-Shoolihiin Amiin Ya Robbal


‘Aalamiin

Artinya : Ya Alloh Tambahkanlah aku ilmu, Dan berilah aku karunia untuk dapat
memahaminya, Dan jadikanlah aku termasuk golongannya orang-orang yang shoolih. Ya Alloh
kabulkanlah do’aku ini.

Do’a Sesudah Belajar


‫ار ُز ْقنَا ِّاتـ َبا َعه و اَللَّ ُه َّم أَ ِّرنَا ْال َح َّق‬
ْ ‫ار ُز ْقنَا ََ َحقًّا َو‬
ْ ‫اطلً َو‬ ِّ ‫اجْ ِّتنَا َبهُ أَ ِّرنَا ْال َب‬
ِّ ‫اط َل َب‬

Aallohumma Arinal Haqqo Haqqon Warzuqnattibaa’ahu. Wa Arinalbaathila Baa-Thilan


Warzuqnajtinaabahu

Artinya : Ya Alloh, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehinggga kami dapat mengikutinya.
Dan tunjukkanlah kepada kami kejelekan sehingga kami dapat menjauhinya

 Pengertian Wakaf • Menurut bahasa : menahan • Menurut istilah : memindahkan hak


milik pribadi menjadi hak milik suatu badan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,
dengan tujuan untuk mendapatkan kebaikan dan rida Allah swt.
 Dasar Hukum Wakaf Wakaf hukumnya sunah. Barang yang sudah diwakafkan harus
dimanfaatkan sesuai dengan akad wakafnya. Sedang pahala wakaf akan selalu mengalir
karena termasuk amal jariah
 Rukun dan Syaratsyarat Wakaf orang yang memberikan wakaf (waqif) orang yang
menerima wakaf (mauquf lahu) barang yang diwakafkan (mauquf) ikrar penyerahan
wakaf (sigah waqaf)
 Barang yang Diwakafkan dan Menggantikannya Adapun sebab-sebab penggantian yang
diperbolehkan : a. Penggantian karena telah rusak, sehingga telah berkurang atau malah
telah hilang manfaatnya. b. Penggantian karena ada kepentiangan yang lebih besar. c.
Penggantian karena kebutuhan.
 Pedoman Melaksanakan Wakaf di Indonesia A. Ladasan dasar 1. PP No.28 th. 1997
tentang Perwakafan Tanah Milik 2. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 th. 1997
tentang Tata Pendaftaran Tanah Mengenai Perwakafan Tanah Milik 3. Peraturan Menteri
Agama No. 1 th.1978 tentang Peraturan Pelaksanaan PP No. 28/1997 tentang Perwakafan
Tanah Milik 4. Instruksi bersama Menteri Agama dan Departement Dalam Negeri No.1
th. 1978 tentang pelaksanaan PP No. 28/1997 5. Instruksi Bersama menteri Agama dan
Kepala Badan Pertahanan Nasional No.4 th.1990/ 25 th.1990, tentang Sertifikat Tanah
Milik 6. SK Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No. 15/ 1990 tentang Penyempurnaan
Formulir dan Pedoman Pelaksanaan Pelaksanaan PP tentang Perwakafan Tanah 7. Fatwa
MUI tentang Wakaf Uang

1
 Pedoman Melaksanakan Wakaf di Indonesia B. tata cara perwakafan tanah milik 1.
pemilik tanah harus datang di PPAIW untuk melaksanakan ikrar wakaf. untuk
mewakafkan tanahnya, pemilik tanah harus mengikrarkan secara lisan, jelas, dan tegas
kepada nadir yang telah disahkan dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf dan
dihadiri saksi-saksi dan menuangkan dalam bentuk tertulis atau dengan syarat. 2. apabila
pemilik tanah tidak dapat datang maka ia wajb membuat ikrar secara tertulis dengan
persetujuan Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten/Kota madya yang mewilayahi
tanah wakaf dan dibacakan kepada nazir dihadapan PPAIW dan saksi. 3. tanah yang
diwakafkan merupakan tanah milik dan bebas dari ikatan jaminan, sitaan, dan sengketa.
4. sanksi ikrar wakaf sekurang-kurangnya dua orang yang telah dewasa dan sehat
akalnya.
 Tata Cara Pewakafan Tanah Milik 1. pemilik tanah harus datang di PPAIW untuk
melaksanakan ikrar wakaf. 2. untuk mewakafkan tanahnya, pemilik tanah harus
mengikrarkan secara lisan, jelas, dan tegas kepada nadir yang telah disahkan dihadapan
PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf dan dihadiri saksisaksi dan menuangkan dalam
bentuk tertulis atau dengan syarat. 3. apabila pemilik tanah tidak dapat datang maka ia
wajb membuat ikrar secara tertulis dengan persetujuan Kepala Kantor Kementrian
Agama Kabupaten/Kota madya yang mewilayahi tanah wakaf dan dibacakan kepada
nazir dihadapan PPAIW dan saksi. 4. tanah yang diwakafkan merupakan tanah milik dan
bebas dari ikatan jaminan, sitaan, dan sengketa. 5. sanksi ikrar wakaf sekurang-
kurangnya dua orang yang telah dewasa dan sehat akalnya.
 • 6. Setelah ikrar maka langkah selanjutnya adalah membuat Akta Ikrar Wakaf tanah.
Surah-surah yang harus dibawa dan diserahkan kepada PPAIW adalah : a. b. c. d.
Sertifikat hak milik / sertifikat sementara pemilikan tanah Surah Ket kepala desa yang
diperkuat oleh camat setempat Surah Ket pendaftaran tanah Izin dari Bupati atau walikota
 C. Hak dan Kewajiban Nadir Nadir adalah kelompok orang / badan hukum Indonesia
yang diserahi tugas pemeliharaan dan pengurusan benda wakaf. • Hak nadir : 1.
menerima penghasilan dari tanah wakaf yang biasanya ditentukan oleh kepala Kantor
Kementrian Agama Kab/ Kota Madya dengan ketentuan tidak melebihi 10% dari hasil
tanah wakaf. 2. menggunakan fasilitas yang jenis dan jumlahnya telah ditentukan dalam
menunaikan tugasnya.
 • Kewajiban nadir : 1. Mengurus dan mengawasi harta kekayaan wakaf dan hasilnya.
Antara lain 1. menyimpan dengan baik lembar kedua salinan Akte Ikrar Wakaf 2.
memelihara dan memanfaatkan tanah wakaf serta berusaha meningkatkan hasilnya 3.
menggunakan hasil wakaf sesuai ikrar wakaf
 Hikmah Wakaf  untuk menghimpun dana bagi pengembangan dan kelangsungan agama
Islam di suatu daerah.  memberi kesempatan kepada umat Islam untuk berlomba-lomba
menanamkan investasi akhirat.  mendidik umat Islam agar selalu memperhatikan
kepentingan umum.  meringankan beban masyarakat. • dll.
 Praktik Hibah dan Sedekah Hibah bersal dari bahasa arab yang berarti pemberian suatu
barang oleh seeorang kepada orang lain, untuk dijadikan hak miliknya tanpa pembayaran,
tanpa sesuatu sebab, dan tanpa maksud tertentu. contoh:pemberian hibah seorang ayah
kepada anaknya untuk mengembangkan usaha guna menopang kehidupannya sehari-hari.
Sedekah berasal dari bahasa arab “sadaqah” yang berarti pemberian seorang muslim
kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa terikat oleh waktu dan jumlah
tertentu, semata- mata hanya untuk mengharap pahala dan rida dari Allah swt. Didalam

2
Al-qur’an kata sadaqah sering dinamakan dengan infak sehingga sadaqah dapat
diwujudkan dalam berbagai bentuk.
 Hukum Hibah, Sedekah , dan Tata Caranya Hukum hibah adalah mubah(jaiz),yakni boleh
memeberi boleh juga tidak memberi. Dari hukum asal mubah tersebut, hukum hibah
dapat menjadi haram,wajib,dan makhruh. Tata caranya:harta yang diberikan lewat hibah
langsung beralih kepemilikan dari pemberi hibah kepada pihak kedua yang
menerimanya.Namun dalam hibah masih ada peluang untuk menarik kembali, yakni
hibah yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya. Hukum sedekah adalah sunah
atau sangat dianjurkan. Tata caranya:bersedekah dapat diwujudkan dalam berbagai
bentuk, bahkan menahan diri tidak berbuat keburukan kepada orang lain pun termasuk
sedekah ataupun hanya dengan menyambut kedatangan temanmu dengan wajah (senyum)
 yang manis termasuk sedekah.
 Rukun dan Syaratsyarat Hibah a. Orang yang memberikan hibah (wahib) . Syaratnya
yaitu sudah baligh, berakal, tidak terlarang menggunakan hartanya, sebagai pemilik
barang itu dan atas kemauannya sendiri. b. Orang yang diberi hibah (mauhub lahu) .
Orang yang menerima hibah dengan syarat berhak memiliki sesuatu yang dihibahkan. c.
Barang yang dihibahkan . Barang yang dihibahkan doleh diperjualbelikan atau
mempunyai nilai dan benar-benar menjadi milik orang yang menghibahkan. d. Akad
(ijab-kabul) . Memberikan pemahaman sebagai serah terima pemberian
 Hibah Marãdil Maut Orang yang sakit dan diperkirakan mendekati kematiannya, maka
pemberiannya diperlakukan seperti wasiat, yakni tidak boleh melebihi sepertiga dari
jumlah hartanya, dan yang diberi bukanlah ahli warisnya.
 Pencabutan Hibah o Kebanyakan ulama berpendapat bahwa menarik kembali pemberian
itu hukumnya haram , kecuali pemberian yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya .
o Pencabutan hibah tersebut dapat dibenarkan bila berdasarkan pertimbangan : 
Dirasakan ada unsur ketidakadilan di antara anak-anak mereka yang telah menerima
hibah.  Apabila telah menimbulkan iri hati dan fitnah .
 Pengertian dan Dasar Hukum Hadiah o Pengertian dan Dasar Hukum Hadiah • Hadiah
adalah pemberian sesuatu barang oleh seseorang kepada orang lain sebagai penghormatan
atau penghargaan bagi orang yang diberinya. o Hukum memberikan hadian ialah: 
“sunnah” . Dalam ajaran Islam kita disuruh untuk slaing memebrikan hadiah,bahkan
memberi hadiah kepada orang yang tidak beragama islam diperbolehkan . Sebab dengan
saling memberi hadiah akan memupuk tumbuh suburnya kasih sayang .
 Hukum Hadiah  Ada hadiah yang berupa “risywah” (suap) , dilarang oleh agama Islam.
Dalam hal ini , khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menolak hadiah dari bawahannya.
Kemudian bawahannya itu berkata, “Rasulullah saw.pernah menerima hadiah.”lalu
Khalifah Umar menjawab ,”Apa yang diterima nasbi itu benar-benar hadiah , tetapi yang
kamu berikan ini adalah suap.”
 Rukun dan Syaratsyarat Hadiah a. Pemberi . Syaratnya, berakal sehat dan tidak dalam
perwalian orang lain. b. Penerima, Dia bukan orang yang memintanya, sebab apabila
orang itu meminta bukan lagi disebut hadiah. c. Barang atau sesuatu yang diberikan.
Syaratnya, barang itu bermanfaat atau bernilai bagi penerimanya. d. Ijab kabul (serah
terima)
 Hikmah Hibah, Sedekah & Hadiah dapat mempererat jalinan persaudaraan dan kasih
sayang. Dapat mencegah terjadinya malaprtaka, baik bagi orang yang memberi maupun
bagi orang yang diberi, bagi pemberi akan selamu mendapat pertolongan orang lain,

3
sedangkan bagi yang diberi misalnya, dapat terhindar dari kelaparan, tindakan mencuri,
dan lain sebagainya. Mendidik jiwa menyayangi orang lain, ataupun menghargai orang
lain. Dapat memacu prestasi, baik bekerja, belajar, atau berkarya, dan lain sebagainya.
 Sesi Pertanyaan I   1) Ria : bagaimana hukum penarikan hibah bila anak bukan anak
kandung orangtuanya. 2) Lailatul : nadir sama nazir, bedanya apa? 3) Jamila: maridil
maut, harta yang di hibahkan tidak boleh melebihi sepertiga, kenapa? 4) Zahra: Penyebab
hukum-hukum hibah . 5) Suhendra : perbedaan hadiah, waqaf, hibah dalam segi apa?
 Sesi Pertanyaan II   1) Fasya ; warisan kpda anak yang digunakan untuk
maksiat,hukumnya bagaimana?boleh di cabut atau tidak? 2) Belinda : hasil riswah yang
diberikan kepada orang lain,bagaimana hkum nya? 3) MARTAK : apakah kuburan dapat
diwaqafkan?
 Wakaf dan Dalilnya dalam Al-Qur’an dan Al- Hadits BY : Moh. Hari Rusli
 Dalil Tentang Wakaf A. Menurut Al-Quran Secara umum tidak terdapat ayat al-Quran
yang menerangkan konsep wakaf secara jelas. Oleh karena wakaf termasuk infaq fi
sabilillah, maka dasar yang digunakan para ulama dalam menerangkan konsep wakaf ini
didasarkan pada keumuman ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang infaq fi
sabilillah. Di antara ayat-ayat tersebut antara lain: 1. Q.S. al-Baqarah (2): 267 “Hai
orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal
kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata
terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
 2. Q.S. al-Baqarah (2): 261 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir menghasilkan seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-
Nya) lagi Maha Mengetahui.” 3. Q.S. Ali-Imron (3): 92 “Kamu sekali-kali tidak sampai
kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang
kamu cintai. Maka sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang kamu nafkahkan.”

Sejarah Singkat Yayasan Wakaf UMI


Yayasan Wakaf UMI (YWUMI) adalah suatu badan yang menghimpun berbagai kegiatan seperti
pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat, usaha, kesehatan dan sosial yang
berlandaskan pada prinsip Islam. Tujuan utamanya adalah untuk syiar Islam yang membawa
nilai-nilai kemaslahatan bagi manusia dan alam sekitarnya.

Sesuai dengan akta Yayasan Wakaf UMI nomor 43, tertanggal 07 Nopember 1994 Pasal 3
disebutkan bahwa : Yayasan wakaf ini bertujuan mulia dan suci murni mempertinggi derajat dan
syiar Agama Islam, mempertinggi dan memperdalam ilmu pengetahuan dunia dan akhirat dan
menyempurnakan pendidikan budi pekerti yang luhur, yang dikaruniakan Allah SWT kepada
umat, guna kepentingan kebutuhan masyarakat dan tanah air, ditujukan kepada kemuliaan
Agama Allah SWT.

4
Semua usaha tersebut dititik beratkan kepada perkembangan syariat dan kebudayaan Islam.
Segala hasil yang diperoleh yayasan, baik hasil usaha sendiri atau pemberian pihak ketiga
merupakan wakaf untuk kemajuan dan perkembangan Islam. Wakaf itu sendiri bermakna segala
sesuatu yang menjadi milik wakaf merupakan hak Allah dan Rasul-Nya, sehingga semua orang
yang berpartisipasi baik secara moril, material, waktu dan pikiran, pada hakekatnya
memperhadapkan diri kepada Allah sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah dan
Rasul-Nya. Di dalam wakaf, tidak ada hak milik pribadi, golongan, atau kelompok.

Yayasan ini didirikan oleh tokoh masyarakat, alim ulama dan para raja (pemerintah) di Sulawesi
pada tanggal 08 Februari 1953, dan diberi nama “Yayasan Wakaf Pembangunan Universitas
Muslim Indonesia” dengan prioritas utama aktifitas yayasan ini adalah mempersiapkan lahirnya
sebuah perguruan tinggi Islam. Alhamdulillah niat suci dan tulus tersebut membuahkan hasil
dengan ditandatanganinya Piagam Pendirian Universitas Muslim Indonesia, pada tanggal 23 Juni
1954.

Untuk memberi kepastian hukum dengan keberadaan yayasan tersebut, maka komposisi
pengurus yayasan disahkan di hadapan notaris Rjchard Claproth dengan nomor 28 tertanggal 09
Maret 1955 dengan nama “Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia”.

Dalam perkembangan dan perjalanan yayasan ini, terjadi pasang surut kepengurusan dan
aktifitasnya, dan namanyapun telah mengalami beberapa kali perunahan. Pada awal berdirinya
bernama “Yayasan Wakaf Pembangunan Universitas Muslim Indonesia”, kemudian menjadi
“Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia”, berubah lagi menjadi “Yayasan Badan Wakaf
Universitas Muslim Indonesia”, kemudian berubah lagi menjadi “Yayasan Wakaf UMI”
berdasarkan akta Notaris Abdul Muis, SH, MH. Nomor 43 tanggal 6 Juni 2005.

Walaupun sudah beberapa kali mengalami perubahan nama, tapi nama wakaf senantiasa tetap
dipertahankan sampai saat ini. Ini dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat,
bahwa yayasan ini bukan milik perorangan atau golongan, tetapi milik masyarakat, sehingga
masyarakat (Islam) punya kewajiban untuk memelihara dan mengembangkan yayasan ini
sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendirinya.

Adapun nama-nama yang menjadi penerima amanah sebagai ketua Yayasan Wakaf UMI adalah :

1. Sutan Muhammad Yusuf Samah 1953 – 1959


2. A. Pangerang Pettarani 1959 – 1972
3. Letkol Muh. Patompo 1972 – 1980
4. H. Fadeli Luran 1980 – 1992
5. Drs. H. M. Jusuf Kalla 1992 – 1994
6. Prof. Dr. H. Abdurahman A. Basalamah, SE, MSi 1994 – 2004
7. Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE, MSi 2004 – 2005
8. H. M. Mokhtar Noer Jaya, SE, Msi 2005 – sekarang

Pada awal berdirinya, YWUMI hanya berkonsentrasi dibidang pendidikan dan dakwah. Tetapi
sejak dekade 1990-an, YWUMI mulai membina pilar baru, yaitu usaha dan dakwah. Dan Juni

5
2003, YWUMI melengkapi pilar amaliyahnya melalui pengelolaan pilar kesehatan dan dakwah,
yaitu Rumah Sakit Ibnu Sina.

Saat ini Yayasan Wakaf UMI membina tiga pilar amal usaha yaitu Pendidikan dan Dakwah,
Usaha dan Dakwah dan Kesehatan dan Dakwah.

Struktur Organisasi Yayasan Wakaf UMI


Yayasan Wakaf UMI telah memasuki babak baru, dengan penyempurnaan organisasi yayasan
yang dituangkan dalam Perubahan Akte Yayasan Wakaf UMI pada tanggal 6 Juni 2005 Nomor
43 oleh Notaris Abdul Muis, SH, MH yang telah disesuaikan dengan Undang-Undang No. 16
Tahun 2001 dan Undang-Undang No. 28 tahun 2004, dengan komposisi pengurus yang terdiri
dari :

1. Pembina

 Ketua : Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE, MS


 Sekretaris : H. Muhammad Serang, SE, M.Si
 Anggota : Prof. Dr. H. Umar Syihab

2. Pengurus

 Ketua : H. Muh. Mokhtar Noer Jaya, SE, M.Si


 Ketua Harian : Prof. H. Muhammad Jobhaar Bima, SE, Msi, Ph.D
 Sekretaris : Ir. H. Lambang Basri Said, MSc, Ph.D

3. Pengawas

 Ketua : Prof. H. Murdifing Haming, SE, MSi, Ph. D.


 Sekretaris : Prof. Dr. H. Abdul Latief, SH, MH.
 Anggota : Prof. Dr. Ir. H. M. Natsir Nessa, MSc

Visi Misi Yayasan Wakaf UMI


A. Visi
1. Visi Pendidikan dan Dakwah :
Menjadikan lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah dilingkungan YWUMI sebagai lembaga
yang melahirkan generasi bangsa dan umat Islam yang memiliki akhlaq mulia, profesional, dan
berwawasan Islam dalam disiplin-disiplin ilmu yang seluas-luasnya.

2. Visi Usaha dan Dakwah :


Menjadikan lembaga usaha dan dakwah dalam lingkup YWUMI sebagai unit bisnis terkemuka,
yang dikelola berdasarkan prinsip syariah, untuk melayani kebutuhan masyarakat pada

6
umumnya, dan umat Islam pada khususnya secara efektif, efisien, halal dan menguntungkan
kedua belah pihak.

3. Visi Kesehatan dan Dakwah :


Menjadikan Rumah Sakit yang unggul dan terdepan dalam penyelenggaraan kesehatan dan
pendidikan untuk menghasilkan pelayanan kesehatan masyarakat dan lulusan dokter yang
bermoral, berwawasan dan berkemampuan IPTEKS dan IMTAQ, memiliki semangat sosial dan
kemandirian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung
pembangunan nasional dan daerah.

B. Misi
1. Misi Pendidikan dan Dakwah :

1. Melahirkan keluaran yang berilmu amaliah, beramal ilmiah, berakhlaqul karimah, kreatif,
inovatif, transformatif, dan memiliki kecerdasan qur’aniah.
2. Melahirkan keluaran yang memiliki kapasitas dan kualitas yang relevan dengan tuntutan
pasar kerja.
3. Menjadikan civitas akademika menjadi insan pengembang ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni, dan budaya islami yang berbasiskan iman dan taqwa serta mengharapkan
ridho Allah SWT.
4. Memperjuangkan kepentingan umat Islam, baik nasional maupun global, terutama dalam
menghadapi transisi tata-nilai dan budaya, agar umat Islam dan cendekiawannya terposisi
sebagai khaerah ummah.

2. Misi Usaha dan Dakwah :

1. Menciptakan pola pengelolaan unit bisnis yang ada secara efektif, efisien, produktif,
mampu memberi profit dan berbasis syariah.
2. Menciptakan sistem administrasi dan pencatatan kegiatan usaha bisnis yang memenuhi
prinsip akuntabilitas, penuh rasa amanah, berkehormatan, berkebajikan dan islami.
3. Menciptakan jaringan sistem informasi bisnis yang terpadu diantara unit-unit organisasi
dilingkungan YWUMI dan jaringan bisnis yang ada dan relevan.
4. Menciptakan SDM pengelola usaha bisnis yang profesional dan berakhlakulqarimah
dalam mengemban amanah yang dipercayakan.

3. Misi Kesehatan dan Dakwah :

1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan dakwah yang mendukung pembangunan


nasional dan daerah.
2. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di bidang kesehatan yang selaras dengan
falsafah pendidikan YWUMI.
3. Membina kehidupan yang sehat, serta mengembangkan dan melestarikan temuan ilmu
pengetahuan, teknologi dan humaniora, dengan mengoptimalkan pendayagunaan
sumberdaya yang ada.

4.Profil dan Sejarah


7
5. TERAKREDITASI INSTUTUSI dari pemerintah Nomor : 036/BAN-PT/Ak-
I/Ins/III/2008, dan UMI satu-satunya universitas swasta di Indonesia Timur yang diberi
kepercayaan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan Pendidikan Doktor (S-3).
6. Kelahiran UMI berawal dari keprihatinan dan kegelisahan para tokoh masyarakat, alim
ulama dan para raja di Sulawesi, khususnya di Makassar, karena belum adanya perguruan
tinggi Islam ketika itu, sedang penduduknya mayoritas muslim.
7. Akhirnya pada pertengahan tahun 1952, ide untuk mendirikan perguruan tinggi Islam
sudah mulai bergulir, beberapa tokoh masyarakat menghubungi para raja di daerah ini,
seperti H. Andi Mappanyukki (Raja Bone), H. Andi Jemma (Raja Luwu) Andi Ijo
Karaeng Lalolang (Raja Gowa) dan Pajonga Karaeng Polongbangkeng (orang terkemuka
di daerah Polongbangkeng), Disamping itu rencana tersebut juga disampaikan kepada
Gubernur Sulawesi dan Walikota Makassar,.
8. Sebagai tindak lanjut rencana membuka perguruan tinggi Islam di Makassar, maka
dibentuklah sebuah badan yang bernama “Wakaf Pembangunan Universitas Muslim
Indonesia” pada tanggal 18 Februari 1953, kini bernama Yayasan Wakaf UMI.
Peresmian pendirian UMI dilakukan di Gubernuran Makassar pada tanggal 23 Juni 1954
bertepatan dengan 22 Syawal 1373 H, yang ditandai dengan penandatangan Azas Piagam
Pendirian UMI

9.
10. K.H.Muhammad Ramly saat menandatangani Piagam UMI Tampak K.H. Muhammad
Ramly sedang membubuhkan tanda tangan.
11. Nama Universitas Muslim Indonesia bermakna universitas yang membina umat Islam,
dalam bahasa arab disebut Jamiatul Muslimina Indonesiyah yang bermakna gerakan yang
menghimpun umat Islam sedangkan dalam bahasa Inggris Moslem University Of
Indonesia yang bermakna universitas milik umat Islam Indonesia.
12. UMI yang dibina oleh Yayasan Wakaf UMI dengan ciri khasnya sebagai lembaga
pendidikan dan dakwah mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih luas dan lebih
berat dari sekedar menghasilkan sarjana, karena proses pendidikan di UMI memberi
pengetahuan dan keterampilan sesuai disiplin ilmu yang digeluti, serta memberikan nilai
plus kepada anak didiknya, melalui pengembangan aqidah, etika Islam dan pencerahan
qalbu, sebagai pondasi dalam mengarungi masa depan. Kegaiatan akademik di UMI telah
menerapkan standar jaminan mutu, sesuai standar yang telah ditetapkan oleh Pemerintah,

8
Insya Allah UMI akan melahirkan sumberdaya manusia yang “UMI” (Unggul, Mutu dan
Islami).
13. Rektor Universitas Muslim Indonesia dari masa ke masa adalah :

No. Nama Masa Amanah


1. Prof. Mukhtar Lintang (Presidium) 1954 – 1958
2. Prof. Abd. Rahman Syihab 1959 – 1965
3. Latunrung 1965 – 1967
4. Ahmad Dara Syahruddin 1967 – 1970
5. H. Ridwan Saleh Mattayang, SH 1971 – 1976
6. H. M. Hijaz Yunus, SH 1976 – 1984
7. Prof. Dr. H. Abdurahman A. Basalamah, SE, MSi 1984 – 1994
8. H. M. Mokhtar Noer Jaya, SE, MSi 1994 – 1998
9. Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE, MSi 1998 – 2003
10. Prof. Dr. H. M. Nasir Hamzah, SE, MSi 2003 – 2010
11. Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA 2010 – sekarang

Perbankan syariah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perbankan syariah atau perbankan Islam (Arab: ‫ المصرفية اإلسلمية‬al-Mashrafiyah al-


Islamiyah) adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam
(syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk
meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta
larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan
konvensional tidak dapat menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya
dalam usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau
hiburan yang tidak Islami, dan lain-lain.

Meskipun prinsip-prinsip tersebut mungkin saja telah diterapkan dalam sejarah perekonomian
Islam, namun baru pada akhir abad ke-20 mulai berdiri bank-bank Islam yang menerapkannya
bagi lembaga-lembaga komersial swasta atau semi-swasta dalam komunitas muslim di dunia.[1][2]

Daftar isi
 1 Sejarah
 2 Prinsip perbankan syariah
 3 Produk perbankan syariah
o 3.1 Titipan atau simpanan
o 3.2 Bagi hasil
o 3.3 Jual beli
o 3.4 Sewa
o 3.5 Jasa

9
 4 Tantangan Pengelolaan Dana
 5 Referensi

Prinsip perbankan syariah


Perbankan syariah memiliki tujuan yang sama seperti perbankan konvensional, yaitu agar
lembaga perbankan dapat menghasilkan keuntungan dengan cara meminjamkan modal,
menyimpan dana, membiayai kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai. Prinsip hukum
Islam melarang unsur-unsur di bawah ini dalam transaksi-transaksi perbankan tersebut:[4]

1. Perniagaan atas barang-barang yang haram,


2. Bunga (‫ ربا‬riba),
3. Perjudian dan spekulasi yang disengaja (‫ ميسر‬maisir), serta
4. Ketidakjelasan dan manipulatif (‫ غرر‬gharar).

Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional adalah sebagai berikut:[4]

Bank Islam Bank Konvensional

 Melakukan hanya investasi yang halal  Melakukan investasi baik yang halal atau
menurut hukum Islam haram menurut hukum Islam
 Memakai prinsip bagi hasil, jual-beli, dan  Memakai perangkat suku bunga
sewa  Berorientasi keuntungan
 Berorientasi keuntungan dan falah  Hubungan dengan nasabah dalam bentuk
(kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai kreditur-debitur
ajaran Islam)  Penghimpunan dan penyaluran dana tidak
 Hubungan dengan nasabah dalam bentuk diatur oleh dewan sejenis
kemitraan
 Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai
fatwa Dewan Pengawas Syariah

Afzalur Rahman dalam bukunya Islamic Doctrine on Banking and Insurance (1980) berpendapat
bahwa prinsip perbankan syariah bertujuan membawa kemaslahatan bagi nasabah, karena
menjanjikan keadilan yang sesuai dengan syariah dalam sistem ekonominya.[10]

Harakat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Harakat (Arab: ‫حركات‬, harakaat) atau tasykil adalah tanda baca atau diakritik yang ditempatkan
pada huruf Arab untuk memperjelas gerakan dan pengucapan huruf tersebut.

10
Harakat dipakai untuk mempermudah cara membaca huruf Arab bagi orang awam, pemula atau
pelajar dan biasanya dituliskan pada buku-buku pendidikan, buku anak-anak, kitab suci al-Quran
dan Injil berbahasa Arab, walaupun dalam penulisan sehari-hari tidak menggunakan harakat,
karena pada umumnya orang Arab sudah paham dan mengerti akan tulisan yang mereka baca,
namun kadang juga digunakan sebagai penekanan dari suatu kata terutama pada kata-kata yang
kurang umum digunakan agar menghindari kesalahaan pembacaan.

 Contoh tulisan arab tanpa harakat:

‫قل اعوذ برب الناس‬


qul a'uudzu birabbin naasi

 Contoh tulisan Arab berharakat:

‫اس‬
ِّ ّٰ ‫ب ٱلنـ‬ ُ ‫قـ ُ ْل ٲ‬
ِّ ‫ع ْوذ ُبـِّ َر‬
qul a'uudzu birabbin naasi

Daftar isi
 1 Macam harakat
o 1.1 Fathah
 1.1.1 Alif Khanjariah
o 1.2 Kasrah
o 1.3 Dammah
o 1.4 Sukun
o 1.5 Tasydid
o 1.6 Tanwin
 2 Wasal
 3 Waqaf
o 3.1 Tanda-tanda waqaf
 4 Lihat pula
 5 Referensi

Macam harakat
Fathah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Fathah

Fathah (‫ )فتحة‬adalah harakat yang berbentuk layaknya garis horizontal kecil ( َ ) yang berada
di atas suatu huruf Arab yang melambangkan fonem /a/. Secara harfiah, fathah itu sendiri berarti
membuka, layaknya membuka mulut saat mengucapkan fonem /a/. Ketika suatu huruf diberi

11
harakat fathah, maka huruf tersebut akan berbunyi /-a/, contonya huruf lam (‫ )ل‬diberi harakat
fathah menjadi /la/ (‫ل‬
َ ).
Alif Khanjariah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Alif khanjariah

Fathah juga ditulis layaknya garis vertikal seperti huruf alif kecil ( ٰ ) yang disebut dengan mad
fathah atau alif khanjariah yang melambangkan fonem /a/ yang dibaca agak panjang. Sebuah

huruf berharakat fathah jika diikuti oleh Alif (‫ )ا‬juga melambangkan fonem /-a/ yang dibaca
panjang. Contohnya pada kata /laa/ (َ‫)ل‬
Kasrah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kasrah

Kasrah (‫ )كسرة‬adalah harakat yang berbentuk layaknya garis horizontal kecil ( ِّ ) yang
diletakkan di bawah suatu huruf arab, harakat kasrah melambangkan fonem /i/. Secara harfiah,
kasrah bermakna melanggar. Ketika suatu huruf diberi harakat kasrah, maka huruf tersebut akan
berbunyi /-i/, contonya huruf lam (‫ )ل‬diberi harakat kasrah menjadi /li/ (‫ل‬
ِّ ).
Sebuah huruf yang berharakat kasrah jika bertemu dengan huruf ya (‫ي‬ ) maka akan
melambangkan fonem /-i/ yang dibaca panjang. Contohnya pada kata /lii/ ( ‫)لي‬

Dammah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dammah

Dammah (‫ )ضمة‬adalah harakat yang berbentuk layaknya huruf waw (‫ )و‬kecil yang diletakkan
ُ ), harakat dammah melambangkan fonem /u/. Ketika suatu huruf
di atas suatu huruf arab (
diberi harakat dammah, maka huruf tersebut akan berbunyi /-u/, contonya huruf lam (‫ )ل‬diberi
harakat dammah menjadi /lu/ (‫ل‬ ُ ).
Sebuah huruf yang berharakat dammah jika bertemu dengan huruf waw (‫و‬ ) maka akan
melambangkan fonem /-u/ yang dibaca panjang. Contohnya pada kata /luu/ (‫)لـُو‬.

Sukun
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sukun (harakat)

12
Sukun (‫ )سکون‬adalah harakat yang berbentuk bulat layaknya huruf ha (‫ )ه‬yang ditulis di atas
suatu huruf Arab. Harakat sukun melambangkan fonem konsonan atau huruf mati dari suatu
huruf, misalkan pada kata mad (‫ )مـ َ ْد‬yang terdiri dari huruf mim yang berharakat fathah (‫)م‬
َ
sehingga menghasilkan bunyi /ma/, dan diikuti dengan huruf dal yang berharakat sukun (‫) ْد‬
yang menghasilkan konsonan /d/ sehingga menjadi /mad/.

Harakat sukun juga misa menghasilkan bunyi diftong, seperti /au/ dan /ai/, cotohnya pada kata
(‫ )نـ َ ْو ُم‬yang berbunyi /naum(u)/ yang berarti tidur, dan juga pada kata (‫ )لَـيْن‬yang berbunyi
/lain/ yang berati lain atau berbeda.

Tasydid
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tasydid

Tasydid ( ‫ )تشديد‬atau syaddah ( ‫ )شدة‬adalah harakat yang berbentuk layaknya huruf w atau
seperti kepala dari huruf sin (‫ )س‬yang diletakkan di atas huruf arab () . Harakat tasydid
melambangkan penekanan pada suatu konsonan yang dituliskan dengan simbol konsonan ganda,
sebagai contoh pada kata ( ‫ )شـَـدَّة‬yang berbunyi /syaddah/ yang terdiri dari huruf syin yang
berharakat fathah ( ‫ )ش‬sehingga menghasilkan bunyi /sya/, diikuti dengan huruf dal yang
berharakat tasydid fathah ( َّ ‫ )د‬yang menghasilhan bunyi /dda/, diikuti pula dengan ta marbuta (
‫ )ة‬di akhir kata yang menghasilkan bunyi /h/, sehingga menjadi /syaddah/.

Tanwin
Artikel utama untuk bagian ini adalah: tanwin

Tanwin (bahasa Arab: ‫التنوين‬, "at tanwiin") adalah tanda baca/diakritik/harakat pada tulisan
Arab untuk menyatakan bahwa huruf pada akhir kata tersebut diucapkan layaknya bertemu
dengan huruf nun mati. [1]

Wasal

Gambar Alif wasal

13
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Wasal

Wasal (bahasa Arab: ‫وصلة‬, washlat) adalah tanda baca atau diakritik yang dituliskan pada huruf
Arab yang biasa dituliskan di atas huruf alif atau yang disebut juga dengan Alif wasal. Secara
ilmu tajwid, wasal bermakna meneruskan tanpa mewaqafkan atau menghentikan bacaan.

Harakat wasal selalu berada di permulaan kata dan tidak dilafazkan manakala berada di tengah-
tengah kalimat, namun akan berbunyi layaknya huruf hamzah manakala dibaca di mula kalimat.

Contoh alif wasal:

‫ٱلصرط ٱهدنا‬
"ihdinas shiraat"

Bacaan tersebut memiliki dua alif wasal, yang pertama pada lafaz ihdinaa dan as shiraat yang
manakala kedua lafaz tersebut diwasalkan atau dirangkaikan dalam pembacaannya maka akan
dibaca ihdinas shiraat dengan menghilangkan pembacaan alif wasal pada kata as shiraat.

Lihat pula contoh berikut:

‫ٱلصرط ٱهدنا نستعين‬


"nasta'iinuh dinas shiraat"

Bacaan di atas terdiri dari kata nasta'iin, ihdinaa dan as shiraat, dengan mewasalkan lafaz ihdina
dengan lafaz sebelumnya, sehingga menghasilkan lafaz nasta'iinuh dinaa, dengan mewasalkan
lafaz as shiraat dengan lafaz sebelumnya, maka akan menghasilkan lafaz "nasta'iinuh dinas
shiraat".

Alif wasal lebih sering dijumpai bersamaan dengan huruf lam atau yang disebut juga dengan alif
lam makrifah pada lafaz dalam bahasa Arab yang mengacu kepada kata yang bersifat isim atau
nama.

Contoh alif wasal dalam alif lam makrifah:

‫ٱلصرط‬
"as shiraat"

14
‫ٱلبقرة‬
"al baqarah"

‫ٱإلنسان‬
"al insaan"

Waqaf
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Waqaf (tajwid)

Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah
menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas
dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf yaitu:

 ‫( ّﻡﺗﺂ‬taamm) - waqaf sempurna - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan
yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak
memengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat
yang sebelumnya maupun yang sesudahnya;
 ‫( ﻛﺎﻒ‬kaaf) - waqaf memadai - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan
secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut
masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya;
 ‫( ﺣﺴﻦ‬Hasan) - waqaf baik - yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa memengaruhi makna
atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya;
 ‫( ﻗﺒﻴﺢ‬Qabiih) - waqaf buruk - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak
sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena
bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Tanda-tanda waqaf

1. Tanda mim ( ‫ ) مـ‬disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna.
Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat
sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( ‫) ﻡ‬, memiliki
kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan
maksudnya;
2. tanda tho ( ‫ ) ﻁ‬adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.
3. tanda jim ( ‫ ) ﺝ‬adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan
juga untuk tidak berhenti.
4. tanda zha ( ‫ ) ﻇ‬bermaksud lebih baik tidak berhenti;
5. tanda sad ( ‫ ) ﺹ‬disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk
tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa mengubah makna. Perbedaan

15
antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan
berhenti pada waqaf sad;
6. tanda sad-lam-ya' ( ‫ ) ﺻﻠﮯ‬merupakan singkatan dari "Al-wasl Awlaa" yang bermakna "wasal atau
meneruskan bacaan adalah lebih baik", maka dari itu meneruskan bacaan tanpa
mewaqafkannya adalah lebih baik;
7. tanda qaf ( ‫ ) ﻕ‬merupakan singkatan dari "Qeela alayhil waqf" yang bermakna "telah dinyatakan
boleh berhenti pada wakaf sebelumnya", maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan
walaupun boleh diwaqafkan;
8. tanda sad-lam ( ‫ ) ﺼﻞ‬merupakan singkatan dari "Qad yoosalu" yang bermakna "kadang kala
boleh diwasalkan", maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan;
9. tanda Qif ( ‫ ) ﻗﻴﻒ‬bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut
biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti;
10. tanda sin ( ‫ ) س‬atau tanda Saktah ( ‫ ) ﺳﮑﺘﻪ‬menandakan berhenti seketika tanpa mengambil
napas. Dengan kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru
untuk meneruskan bacaan;
11. tanda Waqfah ( ‫ ) ﻭﻗﻔﻪ‬bermaksud sama seperti waqaf saktah ( ‫) ﺳﮑﺘﻪ‬, namun harus berhenti lebih
lama tanpa mengambil napas;
12. tanda Laa ( ‫ ) ﻻ‬bermaksud "Jangan berhenti!". Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung
mahupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk
berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak;
13. tanda kaf ( ‫ ) ﻙ‬merupakan singkatan dari "Kathaalik" yang bermakna "serupa". Dengan kata lain,
makna dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul;
14. tanda bertitik tiga ( ... ...) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta'anuq (Terikat).
Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah
harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak
perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.
15. Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya
mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran" (QS. Al-Ashr: 1-
3)
16.

17.

Beberapa Hadits-hadits Dho’if yang Terkenal (Masyur) di


Masyarakat Kita
Posted by Admin pada 11/05/2009

16
Hadits-hadits lemah (Dho’if) yang tersebar di kalangan kaum muslimin banyak sekali, namun mereka tak
sadar bahwa hadits-hadits Dho’if bukanlah berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, oleh
karena itu kita tidak boleh berhujjah dan beramal dengan hadits dhoif tersebut.

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina

Hadits dho’if (lemah), apalagi palsu, tidak boleh dijadikan dalil, dan hujjah dalam menetapkan suatu
aqidah, dan hukum syar’i di dalam Islam. Demikian pula, tidak boleh diyakini hadits tersebut sebagai
sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-

Diantara hadits-hadits dho’if ‘lemah’, hadits yang masyhur digunakan oleh para khatib, dan da’ii dalam
mendorong manusia untuk menuntut ilmu dimana pun tempatnya, sekalipun jauhnya sampai ke negeri
Tirai Bambu, Cina.

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,
beliau bersabda,

‫اﻁﻠبﻭا العﻠﻡ ﻭلﻭ بﺎلﺻين‬

“Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri Cina”. [HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam
Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol
(241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur Al-Hasan bin ‘Athiyah,
ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah menceritakan kami dari Anas secara marfu’]

Ini adalah hadits dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadits menghukuminya sebagai hadits
batil, tidak ada asalnya. Ibnul Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu
Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’. Oleh karena ini, Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah-
menilai hadits ini sebagai hadits batil dan lemah dalam Adh-Dhaifah (416).

As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini, barangkali
bisa menguatkan hadits di atas. Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadits di atas,
bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-
Asqalaniy. Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy.
Ringkasnya, hadits ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai sabda Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Tuntutlah Duniamu

َ ُ‫ َﻭا ْع َم ْل ِِلخِ َرﺗِﻙَ ﻛَأَنَّﻙَ ﺗ َ ُم ْﻭت‬,‫ْش أَبَدًا‬


‫غدًا‬ ُ ‫اِ ْع َم ْل ِل ُد ْنيَﺎﻙَ ﻛَأَنَّﻙَ ﺗ َ ِعي‬

“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup akan selamanya dan beramallah untuk akhiratmu
seakan-akan engkau akan mati besok”.

Ini bukanlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, walaupun masyhur di lisan
kebanyakan muballigh di zaman ini. Mereka menyangka bahwa ini adalah sabda beliau -Shollallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Sangkaan seperti ini tidaklah muncul dari mereka, kecuali karena
kebodohan mereka tentang hadits. Di samping itu, mereka hanya “mencuri dengar” dari kebanyakan
manusia, tanpa melihat sisi keabsahannya.

Hadits ini diriwayatkan dua sahabat. Namun kedua hadits tersebut lemah, karena di dalamnya terdapat
inqitho’ (keterputusan) antara rawi dari sahabat dengan sahabat Abdullah bin Amer. Satunya lagi, Cuma
disebutkan oleh Al-Qurthubiy, tanpa sanad. Oleh karena itu, Syaikh Al-Albaniy men-dho’if-kan
(melemahkan) hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (no. 8).

17
Surat Yasin Hatinya Al-Qur’an

Banyak hadits-hadits yang tersebar di kalangan masyarakat menjelaskan keutamaan-keutamaan


sebagian surat-surat Al-Qur’an. Namun sayangnya, banyak di antara hadits itu yang lemah, bahkan
palsu. Maka cobalah perhatikan hadits berikut:

‫ من ﻗرأهﺎ فﻛأنمﺎ ﻗرأ القرآن عشر مرات‬, )‫ ﻭإن ﻗﻠب القرآن (يس‬,‫إن لﻛل شيء ﻗﻠبﺎ‬

“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, sedang hatinya Al-Qur’an adalah Surat Yasin. Barang
siapa yang membacanya, maka seakan-akan ia telah membaca Al-Qua’an sebanyak 10 kali“. [HR. At-
Tirmidziy dalam As-Sunan (4/46), dan Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (2/456)]

Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat dua rawi hadits yang tertuduh
dusta, yaitu: Harun Abu Muhammad, dan Muqotil bin Sulaiman. Karenanya, Ahli Hadits zaman ini, yaitu
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- menggolongkannya sebagai hadits palsu
dalam kitabnya As-Silsilah Adh-Dho’ifah (no.169).

Perselisihan Umatku adalah Rahmat

Sudah menjadi takdir Allah -Azza wa Jalla-, adanya perpecahan di dalam Islam dan memang hal tersebut
telah disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Di negara kita sendiri, sekte-sekte dan
aliran sesat yang menyandarkan diri kepada Islam sudah terlalu banyak. Apabila kita memperingatkan
dan membantah kesesatan aliran-aliran tersebut, maka sebagian kaum muslimin membela aliran-aliran
tersebut. Mereka berdalil dengan hadits berikut,

‫ف أ ُ َّمﺗِ ْي َرﺣْ َمة‬


ُ ‫إِ ْخﺗ ََِل‬

Padahal hadits ini dho’if (palsu), bahkan tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits. Syaikh Al-Albaniy -
rahimahullah- berkata, “Hadits ini tak ada asalnya. Para ahli hadits telah mengerahkan tenaga untuk
mendapatkan sanadnya, namun tak mampu”.

Dari segi makna, haditsjugabatil. Ibnu Hazm -rahimahullah- dalam Al-Ihkam (5/64) berkata, “Ini
merupakan ucapan yang paling batil, karena andaikan ikhtilaf (perselisihan)itu rahmat, maka
kesepakatan adalah kemurkaan. Karena, disana tak ada sesuatu, kecuali kesepakatan, dan perselihan;
tak ada, kecuali rahmat atau kemurkaan“.

Barangsiapa Mengenal Dirinya, Dia Akan Mengenal Rabb-Nya

Di sani ada sebuah hadits yang palsu, dan tidak ada asalnya, namun sering digunakan oleh sebagian
orang sufi untuk menguatkan kesesatan mereka. Hadits itu berbunyi,

َ ‫ﺳﻪُ فَقَ ْد ع ََر‬


ُ‫ف َربّـَﻪ‬ َ ‫ف نَ ْﻔ‬
َ ‫َم ْن ع ََر‬

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Rabb (Tuhan)-Nya”.

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Adh-Dha’ifah (1/165) berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya” [Adh-
Dha’ifah (1/165)]. An-Nawawiy berkata, “Hadits ini tidak tsabit (tidak shahih)” [Al-Maqashid (198) oleh As-
Sakhowiy].

As-Suyuthiy berkata, “Hadits ini tidak shahih” [Lihat Al-Qoul Asybah (2/351 Al-Hawi)].

18
Ringkasnya, hadits ini merupakan hadits palsu yang tidak ada asalnya. Oleh karena itu, seorang muslim
tidak boleh mengamalkannya, dan meyakininya sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Keutamaan Menamatkan Al-Quran

Membaca Al-Qur’an, apalagi menamatkannya merupakan keutamaan besar bagi seorang hamba, karena
setiap hurufnya diberi pahala oleh Allah -Ta’ala- . keutamaan tersebut telah dijelaskan dalam beberapa
hadits, tapi bukan hadits berikut, karena haditsnya palsu. Bunyi hadits palsu ini:

َ ‫ﺳﺗ ُّْﻭنَ أ َ ْل‬


‫ف َمﻠَﻙ‬ ِ ‫عﻠَ ْي ِﻪ ِع ْن َد َخﺗْمِ ِﻪ‬ َ َ‫إِذَا َخﺗ َ َﻡ ا ْلعَ ْب ُد ا ْلقُ ْرآن‬
َ ‫ﺻﻠَّى‬

” Jika seorang hamba telah menamatkan Al Qur’an, maka akan bershalawat kepadanya 60.000 malaikat
ketika ia menamatkannya” . [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/1/112)].

Hadits ini palsu disebabkan oleh rawi yang bernama Al-Hasan bin Ali bin Zakariyya, dan Abdullah bin
Sam’an. Kedua orang ini adalah pendusta, biasa memalsukan hadits. Syaikh Al-Albaniy menyatakan
kepalsuan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (2550).

Macam-macam Wanita

Di dunia ini wanita ini bermacam-macam jenisnya. Ada yang seperti kantong plastik, setelah
dimamfaatkan dibuang. Ada juga yang sama sekali tidak ada mamfaatnya, bahkan merusak yang lain.
Namun yang terbaik adalah wanita yang banyak memberi mamfaat bagi dirinya, dan orang lain, terutama
suami. Dia membantu diri dan suaminya di atas ketaatan. Konon kabarnya nabi -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- bersabda,

‫ي َخيْر‬ َ ‫ع َﻠى إِ ْي َمﺎ ِن ِﻪ فَ ِه‬


َ ‫ب َﻭ ِﺻ ْنف َﻭد ُْﻭد َﻭلُ ْﻭد ﺗ ُ ِع ْينُ َز ْﻭ َجهَﺎ‬
ُ ‫ض ُع َﻭ ِﺻ ْنف ﻛَﺎ ْلعَ ِ ّر َﻭه َُﻭ ا ْلج ََر‬ ْ َ ‫عﻠَى َثََ ََ ََ ََ َﻻث َ ِة أ‬
َ َ ‫ﺻنَﺎف ِﺻ ْنف ﻛﺎ َ ْل ِﻭعَﺎءِ ﺗَﺣْ مِ ُل َﻭﺗ‬ َ ّ‫ال ِن‬
َ ‫ﺳﺎ ُء‬
‫لَﻪُ مِ نَ ا ْل َﻛ ْن ِز‬

“Wanita-wanita itu ada tiga macam: kelompok wanita seperti bejana, ia hamil dan melahirkan; kelompok
wanita seperti koreng – yaitu kudis- ; kelompok wanita yang amat penyayang, dan banyak melahirkan,
serta membantu suaminya di atas keimanannya. Wanita ini lebih baik bagi suaminya dibandingkan harta
simpanan“. [HR.Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawa’id (206/2)].

Namun sayangnya hadits ini adalah hadits dho’if mungkar, karena ada seorang rawi yang bernama
Abdullah bin Dinar. Dia adalah seorang rawi yang mungkar haditsnya sebagaimana yang dikatakan oleh
Ibnu abi Hatim dalam Al-Ilal (2/310). Jadi, hadits ini tidak boleh dianggap sebagai sabda nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- . karenanya, Syaikh Al-Albaniy memasukkan hadits ini dalam silsilah hadits dhoi’f dalam
Adh-Dho’ifah (714).

Memandang Wanita Cantik

Dan mungkin juga ada di antara kaum muslimin yang sering sekali memandang setiap wanita yang cantik
dengan tujuan mempertajam penglihatannya, beramal dengan hadits berikut;

ْ ‫لى َﻭجْ ِﻪ ال َم ْرأَ ِة ال َﺣ‬


ِ ‫ﺳنَﺎءِ َﻭال ُخض َْر ِة ي َِز ْيد‬
‫َان فِ ْي البَﺻ َِر‬ َ ‫النَّ ََ َظ ُر ِإ‬

“Memandang wajah wanita cantik dan yang hijau-hijau menambah ketajaman penglihatan” .[HR. Abu
Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (3/201-202), dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (4/106)]

Memiliki pandangan yang tajam dan penglihatan yang jernih merupakan nikmat yang besar dari Allah
subhanahu wa ta’ala. Sehingga terkadang seseorang menempuh berbagai cara untuk memperoleh

19
penglihatan yang tajam. Dan mungkin juga ada di antara kaum muslimin yang sering sekali memandang
setiap wanita yang cantik dengan tujuan mempertajam penglihatannya, beramal dengan hadits berikut;

ْ ‫لى َﻭجْ ِﻪ ال َم ْرأَ ِة ال َﺣ‬


ِ ‫ﺳنَﺎءِ َﻭال ُخض َْر ِة ي َِز ْيد‬
‫َان فِ ْي البَﺻ َِر‬ َ ‫النَّ ََ َظ ُر ِإ‬

“Memandang wajah wanita cantik dan yang hijau-hijau menambah ketajaman penglihatan” .[HR. Abu
Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (3/201-202), dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (4/106)]

Hadits ini maudhu’ (palsu), karena dalamnya ada rawi yang dho’if, dan tidak ditemukan ada seorang ahli
hadits yang menyebutkan biografinya. Rawi itu ialah Ibrahim bin Habib bin Sallam Al-Makkiy. Karenanya,
Adz-Dzahabiy berkata, “Hadits batil”. Ibnul Qoyyim dalam Al-Manar Al-Munif berkata, “Hadits ini dan
semisalnya adalah buatan orang-orang zindiq (munafiq)” [Lihat Adh-Dho’ifah (133)]

Menjaga Mata ketika Jima’ )Bersetubuh(

Melihat kemaluan istri ketika berhubungan adalah boleh berdasarkan hadits-hadits shahih. Adapun hadits
yang berbunyi:

ُ ‫ِإذَا َجﺎ َم َع أَ َﺣ ُد ُﻛ ْﻡ َز ْﻭ َجﺗَﻪُ أَ ْﻭ َجﺎِريَﺗَﻪُ فَ ََل يَ ْن‬


ُ ‫ظ ْر ِإلَى فَ ْر ِجهَﺎ َف ِإنَّ َذ ِلﻙَ يُ ْﻭ ِر‬
‫ث ا ْل َع َمى‬

“Apabila seorang diantara kalian berhubungan dengan istrinya atau budaknya, maka janganlah ia melihat
kepada kemaluannya, karena hal itu akan mewariskan kebutaan“. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/75)].

Maka hadits ini adalah palsu karena dalam sanadnya terdapat Baqiyah ibnul Walid. Dia adalah seorang
mudallis yang biasa meriwayatkan dari orang-orang pendusta sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu
Hibban. Lihat Adh-Dho’ifah (195)

Merayu Istri

Bercumbu dan merayu istri adalah perkara yang dianjurkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Namun jangan kalian tertipu dengan hadits palsu berikut ini:

‫زينﻭا مجﺎلس نﺳﺎئﻛﻡ بﺎلمغزل‬

“Hiasilah majelis istri-istri kalian dengan rayuan“. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’ (6/130),
dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (5/280)]

Hadits ini palsu, karena dalam rawi hadits ini terdapat Muhammad bin Ziyad Al-Yasykuriy. Dia seorang
pendusta lagi suka memalsukan hadits. Lihat Adh-Dho’ifah (1/72/no.19) karya Al-Albaniy -rahimahullah-.

Perbanyak Dzikir Sampai Dianggap Gila

Di antara kebiasaan orang-orang sufi, mereka berdzikir dengan cara melampaui batas syariat Islam, yaitu
berdzikir dengan bilangan yang memberatkan diri seperti berdzikir sebanyak 70 ribu kali, 100 ribu kali.
Padahal, maksimal dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 100 kali dalam dzikir-dzikir tertentu,
bukan pada semua jenis dzikir.

Mereka membebani diri seperti ini, karena mendengar hadits berikut:

‫أ َ ْكث ُِر ْوا مِ ْن ِذ ْك ِرهللاِ َحتى َيقُ ْولُ ْوا َمجْ نُ ْون‬

20
“Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, engkau gila”. [HR. Ahmad (3/68), Al-Hakim (1/499),
dan Ibnu Asakir (6/29/2)]

Hadits ini lemah karena diriwayatkan oleh Darraj Abu Samhi. Dia lemah riwayatnya yang berasal dari
Abul Haitsam. Di-dho’if-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (no. 517) (2/9).

Barang Siapa Dunia adalah Cita-Citanya

Banyak hadits lemah dan palsu yang tersebar di masyarakat melalui lisan para khatib yang memiliki ilmu
agama (khususnya ilmu hadits) sehingga banyak di antara masyarakat tertipu dan menyangkanya
sebagai sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

Dia ntara hadits tersebut :

‫هللا‬
َ ‫َّق‬ َ ‫هللا فَ ْي‬
ِ ‫ش ْيء َﻭ َم ْن لَ ْﻡ يَﺗ‬ َ ‫ﺻبَ َﺢ َﻭال ُّد ْن ِيﺎ أ َ ْﻛث َ ُر َه ِّم ِﻪ فَﻠَي‬
ِ َ‫ْس مِ ن‬ َ ‫ﺳﻠِمِ ْينَ عَﺎ َّمةً فَﻠَي‬
ْ َ ‫ْس مِ ْن ُه ْﻡ َم ْن أ‬ ْ ‫ش ْيء َﻭ َم ْن لَ ْﻡ يَ ْهﺗ َ َّﻡ ِل ْﻠ ُم‬ َ ‫فَﻠَي‬
ِ َ‫ْس مِ ن‬
َ ‫هللا فِ ْي‬

“Barang siapa yang berada di waktu pagi, sedang dunia adalah cita-citanya yang terbesar, maka ia tidak
akan berada dalam suatu (jaminan) dari Allah sedikit pun. Barang siapa yang tidak bertaqwa kepada
Allah, maka ia tidak akan berada dalam suatu (jaminan) dari Allah sedikit pun. Barang siapa yang tidak
memperhatikan urusan kaum muslimin seluruhnya, maka ia bukan termasuk di antara mereka“. [HR. Al-
Hakim dalam Al-Mustadrak (4/317) Al-Khatib dengan penggalan pertama dari hadits ini dalam Tarikh
Bagdad (9/373)].

Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh dusta, yaitu Ishaq bin Bisya.
Hadits ini memiliki jalur periwayatan lain, namun ia tidak bisa menguatkan hadits di atas, karena
kelemahannya tidak jauh beda dengannya. Oleh karenanya, Al-Albany menyatakan hadits ini palsu
dalam Adh-Dha’ifah (309)

Sebab Kacaunya Bacaan Imam

Seorang imam terkadang salah dalam bacaannya. Jika ia salah, maka muncullah beberapa persangkaan
yang buruk. Ada diantara mereka berpendapat bahwa kacaunya bacaan imam disebabkan adanya
diantara jama’ah yang tak beres melaksanakan wudhu’ atau mandi junub. Ini didasari oleh hadits palsu
yang bukan hujjah,seperti hadits yang berbunyi:

ِ ْ‫ف أَئِ َّمﺗِ ُﻛ ْﻡ َفأَﺣ‬


‫ﺳنُ ْﻭا‬ َ ‫إِذَا‬
َ ‫ﺻﻠَّ ْيﺗ ُ ْﻡ َخ ْﻠ‬

َ ‫ﻁه ُْﻭ َر ُﻛ ْﻡ َف ِإنَّ َمﺎ ي َْرﺗ َ ُّج‬


ُ‫عﻠَى ا ْلقَ ِﺎرىءِ ﻗ َِرا َءﺗُﻪ‬ ُ

ُ‫ﺻﻠِّي َخ ْﻠ َﻔﻪ‬ ُ ِ‫ﺳ ْﻭء‬


َ ‫ﻁه ِْر ا ْل ُم‬ ُ ‫ِب‬

“Jika kalian sholat di belakang imam kalian, perbaikilah wudhu’ kalian, karena kacaunya bacaan imam
bagi imam disebabkan oleh jeleknya wudhu’ orang yang ada di belakang imam“. [HR. Ad-Dailamiy dalam
Musnad Al-Firdaus (1/1/63)]

Hadits ini palsu, sebab di dalamnya terdapat rowi yang majhul, seperti Abdullah bin Aun bin Mihroz,
Abdullah bin Maimun. Rowi lain, Muhammad bin Al-Furrukhon, ia seorang yang tak tsiqoh. Dari sisi lain,
sudah dimaklumi bahwa jika Ad-Dailamiy bersendirian dalam meriwayatkan hadits dalam kitabnya
Musnad Al-Firdaus, maka hadits itu palsu. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy menyatakan palsunya hadits ini
dalam Adh-Dho’ifah (2629).

Mengusap Kedua Kelopak Mata dengan Kedua Ibu Jari

21
Ada di antara kaum muslimin, biasa melakukan amalan yang terkadang tidak diketahui dasarnya. Setelah
mengadakan pemeriksaan terhadap kitab-kitab hadits, ternyata berdasarkan hadits lemah, palsu, bahkan
terkadang tidak ada dalilnya!!

Di antara amalan mereka ini yang tidak berdasar, yaitu mengusap kedua kelopak mata dengan kedua ibu
jari. Mereka hanya berdasarkan hadits palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Khidir.

Konon kabarnya Nabi Khidir -‘alaihis salam- berkata, “Barangsiapa yang mengucapkan selamat datang
kekasihku dan penyejuk mataku, Muhammad bin Abdullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, kemudia ia
mencium kedua ibu jarinya, dan meletakkannya pada kedua matanya, ketika ia mendengar muadzdzin
berkata,

‫هللا‬ ُ ‫ش َه ُد أَنَّ ُم َﺣ َّم ًد َر‬


ِ ‫ﺳ ْﻭ ُل‬ ْ َ‫أ‬

Maka ia tidak sakit mata selamanya” [HR. Abul Abbas Ahmad bin Abu Bakr Ar-Raddad Al-Yamaniy dalam
Mujibat Ar-Rahmah wa ‘Aza’im Al-Maghfirah dengan sanad yang terdapat di dalamnya beberapa orang
majhul (tidak dikenal), disamping terputus sanadnya. Karenanya Syaikh Al-Albaniy melemahkan hadits ini
dalam Adh-Dha’ifah (1/173) dari riwayat Ad-Dailamy dan Syaikh Masyhur Alu Salman dalam Al-Qoul Al-
Mubin (hal.182)]

Keutamaan Memakai Sorban Ketika Sholat

Memakai sorban adalah sunnah dan ciri khas kaum muslimin, baik dalam sholat maupun di luar sholat,
sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Namun, tak ada satu hadits pun yang menjelaskan
keutamaan tertentu memakai sorban saat sholat, kecuali haditsnya lemah atau palsu, seperti hadits
berikut:

‫ﺳ ْب ِع ْينَ َر ْﻛعَ ًة ب َََل ِع َمﺎ َمة‬


َ ‫ﺎن َِ بِ ِع َمﺎ َمة َخيْر مِ ْن‬
ِ َ ‫َر ْﻛعَﺗ‬

“Sholat dua raka’at dengan memakai sorban lebih baik dibandingkan sholat 70 raka’at, tanpa sorban“.
[HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus sebagaimana yang disebutkan oleh As-Suyuthiy dalam Al-
Jami’ Ash-Shoghir ()]

Hadits ini maudhu’ (palsu), sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah
(128), “Hadits ini palsu”. Selanjutnya, beliau juga komentari ulang hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (5699).

Sujud Menyentuh Tanah

Seorang ketika sujud dalam sholat, boleh ia memakai alas. Menyentuhkan telapak tangan, dahi, dan
anggota sujud lainnya ke tanah, ini tak ada keutamaan tertentu baginya. Adapun hadits berikut:

َ َّ‫ﺳى هللاُ أ َ ْن يَﻔُﻙ‬


‫ع ْنﻪُ ا ْلغُ َّل ي‬ َ ‫ع‬ َ ‫ﺳ َج َد أَ َﺣ ُد ُﻛ ْﻡ فَ ْﻠيُبَﺎش ِْر ِب َﻛﻔَّ ْي ِﻪ ْاْل َ ْر‬
َ ‫ض‬ َ ‫ْﻭ َﻡ ا ْل ِقيَﺎ َم ِة ََ ِإذَا‬

“Jika seorang diantara kalian bersujud, maka hendaknya ia menyentuhkan kedua telapak tangannya ke
tanah, semoga Allah melepaskan belenggu darinya pada hari kiamat“. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-
Ausath (6/58), cet. Dar Al-Haromain]

Hadits ini adalah dho’if (lemah), tak bisa dijadikan hujjah, karena di dalamnya ada rowi bermasalah:
Ubaid bin Muhammad, seorang rowi yang memiliki hadits-hadits munkar [Lihat Al-Majma’
(2/311/no.2764)].Sebab inilah, Syaikh Al-Albaniy menggolongkan hadits ini lemah dalam Adh-Dho’ifah
(2624)

Jangan Shalat, Jangan Bicara

22
Jika khatib telah berada di atas mimbar dan muadzin berkumandang, maka seorang yang melaksanakan
shalat tahiyyatul masjid atau shalat sunat muthlaq, ia terus dalam shalatnya, tanpa harus membatalkan
shalatnya berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Bahkan ia boleh berbicara dengan temannya dalam
kondisi itu, jika ada hajat mendesak. Adapun hadits di bawah ini yang menjelaskan tentang tidak
bolehnya shalat dan bicara dalam kondisi tersebut maka hadits ini batil. Berikut perinciannya:

‫ْب ا ْلمِ ْنب ََر ؛ َفَلَ ﺻ َََلةَ َﻭ َﻻ َﻛَلَ َﻡ‬ َ ‫إِذَا‬


ُ ‫ﺻ ِع َد ا ْل َخﻁِ ي‬

“Apabila khatib sudah naik mimbar, maka tidak ada lagi shalat dan tidak ada lagi ucapan.”

Hadits ini batil karena tidak ada asalnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-
Dho’ifah (87). Namun perlu diketahui bahwa jika adzan sudah selesai ketika khatib berada di atas mimbar
siap untuk berkhutbah, maka seorang tidak boleh lagi berbicara dan melakukan aktifitas apapun selain
shalat tahiyatul masjid agar seluruh jama’ah memfokuskan diri untuk mendengarkan khutbah.

Berdzikir dengan Tasbih

“Sebaik-baik pengingat adalah alat tasbih. Sesungguhnya sesuatu yang paling afdhol untuk ditempati
bersujud adalah tanah dan sesuatu yang ditumbuhkan oleh tanah“. [HR.Ad-Dailamiy (4/98- sebagaimana
dalam Mukhtashar-nya)]

Berdzikir adalah ibadah yang harus didasari dengan keikhlasan dan mutaba’ah (keteladanan) kepada
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . karenanya seorang tidak dianjurkan menggunakan alat tasbih ketika
ia berdzikir sebab tidak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berdzikir dengannya, tapi
beliau hanya berdzikir dengan jari-jemarinya. Adapun hadits berikut, maka ia adalah hadits palsu, tidak
boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sunnahnya berdzikir dengan alat tasbih

َّ‫ﺳ ْبﺣَةُ َﻭإِن‬


ُّ ‫نِ ْع َﻡ ا ْل ُمذَ ّﻛ ُِر ال‬

ُ‫عﻠَ ْي ِﻪ ْاْل َ ْرضُ َﻭ َمﺎ أ َ ْنبَﺗَﺗْﻪُ ْاْل َ ْرض‬


َ ‫ﺳ َج ُد‬ َ ‫أ َ ْف‬
ْ ُ‫ض َل َمﺎ ي‬

“Sebaik-baik pengingat adalah alat tasbih. Sesungguhnya sesuatu yang paling afdhol untuk ditempati
bersujud adalah tanah dan sesuatu yang ditumbuhkan oleh tanah“. [HR.Ad-Dailamiy (4/98- sebagaimana
dalam Mukhtashar-nya)]

Hadits ini adalah hadits yang palsu sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-
Dho’ifah (83), karena adanya rawi-rawi yang majhul. Selain itu hadits ini secara makna adalah batil,
sebab tasbih tidak ada di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Menuntut Ilmu di Masa Muda

Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak disebutkan dalam ayat-ayat maupun hadits-hadits shahih.
Bahkan sampai di dalam hadits yang dho’if dan palsu, seperti berikut,

َ ‫عﻠَى َذ ِلﻙَ أ َ ْع َﻁﺎ ُه هللاُ ي َْﻭ َﻡ ا ْل ِقيَﺎ َم ِة ث َ َﻭ‬


َ ‫اب اثْنَي ِْن َﻭ‬
‫ﺳ ْب ِع ْينَ ِﺻ ِ ّد ْيقًﺎ‬ ِ َ‫أ َ ُّي َمﺎ نَﺎشِئ نَشَأ َ ِف ْي َﻁﻠ‬
َ ‫ب ا ْل ِع ْﻠ ِﻡ َﻭا ْل ِعبَﺎ َد ِة َﺣﺗ َّى َي ْﻛبُ َر َﻭه َُﻭ‬

“Anak muda mana pun yang tumbuh dalam menuntut ilmu, dan ibadah sampai ia menjadi tua, sedangkan
dia masih tetap di atas hal itu, maka Allah akan memberikannya pada hari kiamat pahala 72 orang
shiddiqin“. [HR.Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawaid (2428), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Al-Ilm (1/82)].

Namun hadits ini derajatnya adalah dho’if jiddan (lemah sekali), bahkan boleh jadi hadits ini palsu, karena
di dalamnya ada rawi yang bernama Yusuf bin Athiyyah. Dia adalah seorang yang mungkarul hadits.

23
Bahkan An-Nasa’iy menilainya matruk (ditinggalkan karena biasa berdusta atas nama manusia).
Karenanya Syaikh Al-Albaniy menghukumi hadits ini dho’if jiddan dalam Adh-Dho’ifah (700).

Bersedihlah Ketika Membaca Al-Qur’an!

Ketika membaca Al-Qur’an memang kita dianjurkan untuk bersedih sebagai hasil renungan dan tadabbur
makna-makna ayat sebagaimana yang dijelaskan dalam sunnah. Adapun hadits di bawah ini, sekalipun
sebagian maknanya benar, namun ia bukan hujjah dalam hal ini, karena kelemahan hadits ini. Nash
haditsnya:

‫اِ ْﻗ َرؤ ُْﻭا ا ْلقُ ْرآنَ ِبﺣ ُْزن فَ ِإنَّﻪُ نَ َز َل ِبﺎ ْلﺣ ُْز ِن‬

“Bacalah Al-Qur’an dengan perasaan sedih, karena dia turun dengan kesedihan“. [HR. Al-Khollal dalam
Al-Amr Bil Ma’ruf (20/2) dan Abu Sa’id Al-A’robiy dalam Mu’jam-nya (124/1)].

Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Uwain bin Amr Al-Qoisiy, dia adalah seorang yang
mungkarul hadits lagi majhul menurut Al-Bukhariy. Selain itu juga ada rawi yang bernama Ismail bin Saif,
dia adalah seorang yang biasa mencuri hadits, dan meriwatkan hadits yang lemah dari orang-orang yang
tsiqoh. Tak heran jika Al-Albaniy menyatakan hadits ini dho’if jiddan (lemah sekali) dalam kitabnya Adh-
Dho’ifah (2523).

Kekasih Allah

Orang yang bertaubat dari dosa-dosanya adalah orang yang terpuji di sisi Allah berdasarkan dalil-dalil
dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun hadits berikut ini, maka dia adalah hadits yang palsu, tidak ada
asalnya:

‫هللا‬
ِ ‫ْب‬ ُ ‫ِب َﺣ ِبي‬
ُ ‫الﺗ َّﺎئ‬

“Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah.”

Hadits ini adalah hadits yang bukan berasal dari nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . tak ada seorang
imam ahlul hadits yang meriwayatkan hadits ini dalam kitab-kitab mereka. Hadits ini hanyalah disebutkan
oleh Al-Ghazaliy dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin (4/434) dengan menyandarkannya kepada Nabi -
Shollallahu ‘alaihi wasallam- , padahal hadits ini adalah hadits palsu, tidak ada asalnya! Lihat penjelasan
palsunya hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (95) karya Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy

Ikhlas 40 Hari

Ikhlash adalah sifat orang mukmin. Keutamaan ikhlash telah dimaklumi baik dalam hadits yang shohih,
maupun hadits yang lemah. Namun kita tak butuh kepada hadits dho’if seperti di bawah ini, karena itu
bukan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Konon kabarnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda,

‫من أخﻠﺹ هلل أريعين يﻭمﺎ ظهرت ينﺎبيع الﺣﻛمة عﻠى لﺳﺎنﻪ‬

“Barang siapa yang ikhlash karena Allah selama 40 hari, niscaya akan muncul mata air hikmah pada
lisannya“. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (5/189)]

Hadits ini dho’if (lemah), karena terdapat inqitho’ (keterputusan) antara Makhul dengan Abu Ayyub Al-
Anshoriy. Selain itu, Hajjaj bin Arthoh, rawi dari Makhul adalah seorang mudallis, dan ia meriwayatkannya
secara mu’an’anah. Sedang seorang mudallis jika meriwayatkan hadits secara mu’an’anah (dengan

24
memakai kata “dari”), maka haditsnya dho’if (lemah). Tak heran jika Syaikh Al-Albaniy melemahkannya
dalam Adh-Dho’ifah (38)

Dunia dan Hakikatnya

Banyak sekali hadits-hadits palsu yang beredar di masyarakat. Ada yang keliru maknanya, dan ada yang
bagus maknanya, seperti hadits ini:

ِ‫اخدِمِ ْي َم ْن َخ َد َمنِ ْي َﻭأَﺗْ ِعبِ ْي َم ْن َخ َدمَﻙ‬


ْ ‫أَََ ََ ََ ْﻭﺣَى هللاُ ِإلَى ال ُّد ْنيَﺎ أَ ِن‬

“Allah wahyukan kepada dunia, “Layanilah orang yang melayani-Ku, dan capekkanlah orang yang
melayanimu“. [HR. Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (8/44), dan Al-Hakim dalam Ma’rifah Ulum Al-Hadits
(hal.101)]

Hadits ini palsu, karena Al-Husain bin DawudAl-Balkhiy yang banyak meriwayatkan naskah hadits palsu
dari Yazid bin Harun. Karena itu, Al-Albaniy menyebutkan hadits ini dalam deretan hadits-hadits palsu
dalam Adh-Dho’ifah

Hak Anak atas Orang Tua

Seyogyanya orang tua memilihkan nama yang baik untuk anaknya, dan mendidik akhlaknya
sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi -Shollallahu‘alaihi wasallam- danpara sahabatnya. Adapun
hadits yang berbunyi :

ُ‫ﺳنَ أ َ َد َبﻪ‬
ّ ِ ‫ﺳ َمﻪَ َﻭيُ َﺣ‬ ّ ِ ‫عﻠَى ا ْل َﻭا ِل ِد أ َ ْن يُ َﺣ‬
ْ ‫ﺳنَ ا‬ َ ‫ﺣَقُّ ا ْل َﻭلَ ِد‬

“Hak seorang anak atas orang tuanya, orang tua memperbaiki nama anaknya, dan akhlaknya“. [HR. Abu
Muhammad As-Siroj Al-Qoriy dalam Al-Fawaid (5/32/1-kumpulan 98), dan lainnya].

Maka hadits ini palsu, karena ada dua orang rawi : Muhammad Al-Fadhl adalah seorang pendusta, dan
Muhammad bin Isa adalah orangnya matruk (ditinggalkan). Karenanya Al-Albaniy mencantumkan hadits
ini dalam Adh-Dho’ifah (199)

Jum’at Hajinya Orang Fakir

Ibadah haji adalah ibadah yang dicita-citakan oleh setiap orang sehingga setiap orang berusaha
mengumpulkan harta demi ibadah itu. Namun sebagian diantara manusia ada yang tidak sempat
melaksanakannya sehingga ia bersedih. Tapi kesedihan itu hilang karena ia mendengarkan sebuah
hadits berikut :

‫غنَ ُﻡ فقَ َراءِ أ ُ َّمﺗِ ْي َﻭاْل ُج ُم َعةُ َﺣ ُّج فُقَ َرائِهَﺎ‬


َ ‫ال َّدجَﺎ ُﺝ‬

“Ayam adalah kambingnya orang fakir dari kalangan umatku, dan shalat jum’at hajinya orang fakir
mereka” .[HR. Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (3/90)]

Tapi ternyata sayangnya hadits ini palsu sehingga seorang muslim tidak boleh meyakini dan
mengamalkannya. Dia palsu karena ada seorang rawi yang bernama Abdullah bin Zaid An-Naisaburiy.
Dia adalah seorang pendusta yang suka memalsukan hadits. Lihat Adh-Dho’ifah (192)

Nabi Ilyas dan Khidir Bersaudara Kandung

25
Ketika seseorang membaca kisah para nabi di luar Al-Qur’an, maka seorang harus berhati-hati, karena di
sana banyak hadits-hadits yang lemah, bahkan palsu yang berbicara tentang kehidupan para nabi. Oleh
karena itu seorang harus yakin betul bahwa hadits ini shahih berdasarkan keterangan para ulama, baru
setelah itu dia yakini. Diantara hadits lemah yang menyebutkan kisah para nabi, hadits berikut ini:

ُّ َ‫ان أَبُ ْﻭ ُه َمﺎ مِ نَ الﻔُ ْر ِس َﻭأ ُ ُّم ُه َمﺎ مِ ن‬


‫الر ْﻭ َﻡ‬ ِ ‫َﺎس َﻭال َخ ِض ُر أَ َخ َﻭ‬
ُ ‫إِ ْلي‬

“Nabi Ilyas dan Khidir adalah dua orang bersaudara. Bapak mereka dari Persia, dan ibunya dari
Romawi“. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/2/124)]

Hadits ini palsu, karena ada dua orang rawi bermasalah dalam memalsukan hadits, yaitu Ahmad bin
Ghalib, dan Abdur Rahman bin Muhammad Al-Yahmadiy. Oleh karena itu, Syaikh Al-Albaniy menyatakan
hadits ini palsu dalam Adh-Dho’ifah (2257).

Penduduk Surga

Banyak sekali hadits-hadits palsu yang beredar di masyarakat. Terkadang maknanya lurus, namun
terkadang juga menggelitik orang seperti hadits palsu berikut:

ُ ‫ﺳى ْبنَ ع ِْم َرانَ َف ِإنَّ لَﻪُ لِﺣْ يَةً ِإلَى‬


‫ﺳ َّرﺗِ ِﻪ‬ َ ‫أ َ ْه ُل ا ْل َجنَّ ِة ج ََرد ِإ َّﻻ ُم ْﻭ‬

“Penduduk surga adalah belalang, kecuali Musa bin Imron, karena dia memiliki jenggot sampai ke
pusarnya“.[HR.Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (185), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (4/48), dan Ar-Raziy dalam
Al-Fawa’id (6/111/1)].

Hadits ini adalah hadits batil yang palsu. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang suka memalsukan
hadits, yaitu Syaikhnya Ibnu Abi Kholid Al-Bashriy. Maka tak heran apabila syaikh Al-Albaniy
mencantumkan hadits ini dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (704).

Amalan Sedikit, tapi Bermanfaat

Bermalas malasan dalam beribadah sudah menjadi kebiasaan sebagian kaum muslimin. Ada beberapa
faktor yang menyebabkan hal tersebut diantaranya rasa takutnya kepada Allah masih kurang, keimanan
terhadap Hari Pembalasan masih minim, dan ada juga yang malas karena mungkin beramal dengan
hadits di bawah ini.

‫ َوكَثي ِ ْْ ُر ال َع َم ِل ََليَ ْن َف ُع َم َع ال َج ْه ِل‬،‫قَ ِل ْي ُل ال َع َم ِل ينَ ْْفَ ُع َم َع الع ِْل ِم‬

“Amalan yang sedikit akan bermanfaat, jika disertai oleh ilmu; dan amalan yang banyak tidak akan
bermanfaat, jika disertai kejahilan“. [HR. Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-’Ilm wa Fadhlih (1/145)]

Hadits ini dhoif, bahkan palsu, disebabkan adanya 3 rawi: [1] Muhammad bin Rauh bin ‘Imran Al-Qutairiy
(orangnya lemah), [2] Mu’ammal bin Abdur Rahman Ats-Tsaqofiy (orang dho’if). Ibnu Adi
berkata,”Dominan haditsnya tidak terpelihara”; [3] Abbad bin Abdush Shomad. Ibnu Hibban berkata,
“…Abbad bin Abdush Shomad menceritakan kami dari Anas tentang suatu naskah hadits, seluruhnya
maudhu’ (palsu)”.Al-Albaniy berkata, “Hadits ini Palsu” [lihat Adh-Dho’ifah (369)]

Kencing di Lubang

Kencing di lubang adalah perkara yang boleh, kecuali jika di dalamnya ada makhluk seperti semut, maka
hendaknya kita jangan kencing di tempat itu demi menyayangi makhluk Allah yang kecil ini. Adapun
hadits yang berikut, maka haditsnya dho’if:

26
Abdullah bin Sarjis -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

‫سلَّ َم نَ َهى أ َ ْن يُ َبا َل فِ ْي ْالجُحْ ِر‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬


َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ِ‫أ َ َّن النَّب‬
َ ‫ي‬

“Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang kencing di lubang“. [HR. Abu Dawud (29), dan An-Nasa’iy
(34)].

Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena adanya keterputusan antara Qotadah dan Abdullah bin Sarjis
-radhiyallahu ‘anhu- . selain itu, Qotadah juga adalah seorang yang mudallis. Tak heran jika Syaikh Al-
Albaniy men-dho’ifkan hadits ini dalam Al-Irwa’ (55)

Solusi Terakhir ….

Talaq adalah solusi terakhir ketika terjadi cekcok yang parah antara suami-istri setelah melalui proses
yang panjang berupa nasihat, dan usaha perbaikan lainnya. Jadi talaq adalah perkara yang halal yang
tidak dibenci oleh Allah, jika dilakukan pada tempatnya. Adapun hadits yang menjelaskan bahwa talaq
adalah perkara yang dibenci dalam segala hal, maka haditsnya dho’if sebagaimana perinciannya berikut
ini:

ِ ‫أ َ ْبغَضُ ا ْلﺣ َََل ِل ِإلَى‬


ُ‫هللا عَزَّ َﻭ َج َّل ال َّﻁ ََلﻕ‬

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah -Azza wa Jalla- adalah talaq“. [HR. Abu Dawud (2178) dan
Ibnu Majah (2018)]

Hadits ini adalah hadits yang mudhtharib (goncang) sanadnya sebagaimana yang anda bisa lihat
penjelasannya dalam Al-Irwa’ (2040) karya Syaikh Al-Albaniy.

Do’a Keluar WC

Ada sebuah hadits yang menyebutkan do’a keluar WC. Do’a ini banyak disebarkan dan dimasyurkan di
TPA dan TQA. Ternyata haditsnya lemah sebagaimana dalam penjelasan berikut ini:

‫ي ْاْلَذَى َﻭعَﺎفَﺎنِ ْي‬


َ ّ‫ع ِن‬ َ ‫ِي أَ ْذ َه‬
َ ‫ب‬ ِ َّ ِ ‫ا ْلﺣ َْم ُد‬
ْ ‫لِل الَّذ‬

” Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku gangguan (kotoran) ini, dan telah menyehatkan
aku”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (301)]

Hadits ini adalah hadits yang dho’if, karena dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ismail bin
Muslim Al-Makkiy. Dia adalah seorang yang lemah haditsnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-
Hafizh dalam At-Taqrib. Hadits ini memiliki syahid dari riwayat Ibnu Sunniy dalam Amal Al-Yaum wal
Lailah (29). Namun hadits ini juga lemah, karena ada seorang yang majhul dalam sanadnya, yaitu Al-
Faidh. Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (53).

Ketentuan dan Taqdir Allah

Ketentuan dan taqdir Allah adalah perkara ghaib yang tidak boleh ditetapkan dengan hadits lemah,
apalagi palsu, seperti hadits ini:

‫عقُ ْﻭ َل ُه ْﻡ َﺣﺗ َّى يُ ْن ِﻔذَ فِي ِْه ْﻡ َﻗضَﺎ َء ُه َﻭﻗَد ََر ُه‬
ُ ‫ب ذَ َﻭ ْي ا ْلعُقُ ْﻭ ِل‬ َ ‫إِذَا أ َ َرا َد هللاُ إِ ْنﻔَﺎذَ َﻗضَﺎئِ ِﻪ َﻭ َﻗد َِر ِه ؛‬
َ َ‫ﺳﻠ‬

“Apabila Allah ingin melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya, maka Allah akan menarik (menghilangkan)
akalnya orang-orang yang memiliki pikiran sehingga Allah melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya pada

27
mereka“. [HR. Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (14/99), Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus
(1/1/100), dari jalur Abu Nu’aim dalam Tarikh Ashbihan (2/332)]

Hadits ini lemah, bahkan boleh jadi palsu , karena rowi yang bernama Lahiq bin Al-Husain. Sebagian
ahlul hadits menuduhnya pendusta, dan suka memalsukan hadits. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy
memasukkannya dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (2215)

Taubat yang Benar

Seorang ketika telah bertaubat dari suatu dosa, hendaknya ia berusaha dengan sekuat tenaga
meninggalkan dosa itu sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama’ kita. Adapun hadits berikut, maka
ia adalah hadits dho’if (lemah):

ِ ‫الﺗ َّْﻭبَةُ مِ نَ الذَّ ْن‬


‫ب أ َ ْن َﻻ ﺗَعُ ْﻭ َد ِإلَ ْي ِﻪ أَبَدًا‬

“Taubat dari dosa, engkau tidak kembali kepadanya selama-lamanya“. [HR. Abul Qosim Al-Hurfiy dalam
Asyr Majalis min Al-Amali (230), dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (7036)]

Hadits ini lemah , karena dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Ibrahim bin Muslim Al-Hijriy; dia
adalah seorang yang layyinul hadits (lembek haditsnya). Selain itu, juga ada Bakr bin Khunais, seorang
yang shoduq (jujur), tapi memiliki beberapa kesalahan. Karenanya Syaikh Al-Albaniy melemahkannya
dalam Adh-Dho’ifah (2233)

Adam Turun di India

Dalam kisah-kisah para naib dan rasul, disebutkan kisah masyhur bahwa Adam turun di negeri India,
berdasarkan hadits yang lemah berikut ini,

ُ‫ان هللاُ أ َ ْﻛب َُر هللا‬


ِ َ‫ش فَنَ َز َل ِجب ِْر ْي ُل فَنَﺎدَى بِ ْﺎْلَذ‬ ْ ‫ش َه ُد أَنَّ ﻡ نَ َز َل آ َد ُﻡ بِﺎ ْل ِه ْن ِد َﻭا‬
َ ‫ﺳﺗ َ ْﻭ َﺣ‬ ْ َ ‫ش َه ُد أَ ْن َﻻ إِ َل َﻪ إِ َّﻻ هللاُ َم َّرﺗَي ِْن أ‬
ْ َ ‫هللا َم َّرﺗَي ِْن ﻗَﺎ َل آ َد ُﻡ َمن َُأ َ ْﻛب َُر أ‬ ُ ‫َْ َﺣ َّمدًا َر‬
ِ ‫ﺳ ْﻭ ُل‬
َ َ
ِ‫ُم َﺣ َّمد ﻗﺎ َل آخِ ُر َﻭ َلدِﻙَ مِ نَ ْاْل ْنبِيَﺎء‬

“Nabi Adam turun di India, dan beliau merasa asing. Maka turunlah Jibril seraya mengumandangkan
adzan, “Allahu Akbar, Asyhadu Alla Ilaha illallah (dua kali), asyhadu anna Muhammdan rasulullah (dua
kali). Adam bertanya, “Siapakah Muhammad itu?” Jibril menjawab, “Cucumu yang paling terakhir dari
kalangan nabi“.”. [HR.Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (2/323/2)]

Hadits ini dho’if (lemah), atau palsu, karena ada seorang rawi dalam sanadnya yang bernama
Muhammad bin Abdillah bin Sulaiman. Orang yang bernama seperti ini ada dua; yang pertama dipanggil
Al-Kufiy, orangnya majhul (tidak dikenal), sedang orang yang seperti ini haditsnya lemah. Yang satunya
lagi, dikenal dengan Al-Khurasaniy. Orang ini tertuduh dusta. Jika dia yang terdapat dalam sanad ini,
maka hadits ini palsu. Hadits ini di-dho’if-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (403).

Bagi-bagi Kejelekan

Mengangkat dan merendahkan derajat suatu bangsa harus didasari oleh dalil dari Al-Qur’an dan sunnah.
Adapun hadits di bawah, maka tidak boleh dijadikan dalil dalam merendahkan suku Barbar, karena
kelemahan hadits ini:

‫ﺳﺗ ُّْﻭنَ فِ ْي ا ْلب َْربَر‬ ِ ْ ‫ﺳ ْبعُ ْﻭنَ ج ُْز ًءا فَج ُْز ُءَ فِ ْي ا ْل ِج ِنّ َﻭ‬
ِ ‫اْل ْن ِس َﻭﺗِﺳْع َﻭ‬ ُ ‫َِا ْل ُخب‬
َ ‫ْث‬

“Kejelekan ada 70 bagian; satu bagian pada jin dan manusia, dan 69 bagian pada orang-orang Barbar” .
[HR. Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/489), Ath-Thobraniy dalam Al-
Ausath (8672), dan Ibnu Qoni’ dalam Mu’jam Ash-Shahabah].

28
Mengangkat dan merendahkan derajat suatu bangsa harus didasari oleh dalil dari Al-Qur’an dan

Hadits ini adalah hadits yang lemah menurut penilaian Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam As-SilsilahAdh-
Dho’ifah (2535), karena dalam hadits ini terdapat dua penyakit: Inqitho’ (keterputusan) antara Yazid bin
Abi Habib dengan Abu Qois, dan terjadinya idhthirob (kesimpangsiuran) dari sisi sanad akibat kelemahan
seorang rawi yang bernama Abu Sholih (dikenal dengan Katib Al-Laits).

Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut

Disana ada sebuah kisah palsu yang dinisbahkan secara dusta kepada Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- . Saking masyhurnya kisah ini, banyak penulis, dan majalah yang menukilnya, seperti kami
pernah temukan dalam Majalah “Anak Shaleh”. Bunyi hadits itu:

,ِ‫عﻠَ ْيﻪ‬ َ ‫ع مِ ْنهَﺎ َﻭﻛَﺎ َد يُ ْغشَى‬ َ ‫ﺎر فَﻔَ ِز‬ َ َّ‫ْس فَأ َ َراهُ الن‬ ُ ‫ﺻعَ َد إِد ِْري‬ َ ‫ َف‬,‫ﺎر‬ َ َّ‫ﺳأ َ َلﻪُ أَن يُ ِريَﻪُ ا ْل َجنَّةَ َﻭ الن‬ َ َ‫ ف‬.ِ‫ﺻ ِد ْيقًﺎ ِل َمﻠَﻙِ ا ْل َم ْﻭت‬ َ َ‫ﺳﻠَّ َﻡ ﻛَﺎن‬ َ ‫عﻠَ ْي ِﻪ َﻭ‬ َ ُ‫ﺻﻠَّى هللا‬ َ ‫ْس‬ َ ‫إِنَّ إِد ِْري‬
َُ‫ فَ َقﺎ َل َمﻠﻙ‬,‫ َف َد َخ َﻠهَﺎ‬,َ‫ ث ُ َّﻡ ا ْن َﻁﻠَقَ بِ ِﻪ َﺣﺗ َّى أ َ َراهُ ا ْل َجنَّة‬.‫ َﻭلَ ْﻡ أ َ َر ﻛَﺎ ْلي َْﻭ ِﻡ َﻗ ُّﻁ‬,‫َﻠى‬ َ َ
َ ‫ ب‬:َ‫ْس ﻗ ْد َرأ ْيﺗهَﺎ؟ ﻗﺎل‬ َ َ َ َ ْ َ َ
َ ‫ ألي‬:ِ‫ فقﺎ َل َمﻠﻙُ ال َم ْﻭت‬,ِ‫ت بِ َجنﺎﺣِ ﻪ‬َ َ ِ ‫عﻠَ ْي ِﻪ َمﻠَﻙُ ا ْل َم ْﻭ‬َ ‫ف‬ َّ َ ‫فَﺎ ْلﺗ‬
‫ْس‬
َ ‫ي‬ َ ‫ل‬َ ‫أ‬ :ِ
‫ت‬ ‫ﻭ‬ ‫م‬‫ل‬ْ ‫ا‬ َ ‫ﻠ‬‫م‬
ْ َ ِ‫ِ ْ َ ِ َ ﻙ‬ ‫ل‬ ‫ل‬‫ي‬ ‫ق‬ َ ‫ف‬ .‫َﺎ‬‫ه‬ ُ ‫ﺗ‬ ْ
‫ﻠ‬ ‫خ‬َ ‫د‬
َ ‫ن‬ْ َ ‫أ‬ ‫د‬
َ ‫ع‬
َْ ‫ب‬ ‫َﺎ‬ ‫ه‬ ْ
‫ن‬ ِ‫ُ م‬ ‫ﺝ‬
ُ ‫ر‬ ْ
‫خ‬ َ ‫أ‬ ‫ﻻ‬ َ ! ‫هللا‬
ِ ‫ﻭ‬
َ ‫ﻻ‬ َ : ‫ْس‬ ‫ي‬
ُ ِ ِ َ‫ْر‬‫د‬‫إ‬ ‫ل‬ ‫ﺎ‬ َ ‫ﻗ‬ . َ‫ت‬ ‫ن‬ ْ ُ
‫ﻛ‬ ُ
‫ْث‬ ‫ي‬ ‫ﺣ‬ َ :ِ
‫ت‬ ‫ﻭ‬ َْ‫م‬ ْ
‫ل‬ ‫ا‬ ُ‫ﻙ‬ َ ‫ﻠ‬‫م‬َ َ‫ل‬‫ﺎ‬ َ ‫ﻗ‬ ‫؟‬ َ‫ن‬ ‫ي‬
ْ َ ‫أ‬ ‫ى‬ َ
‫ل‬ ‫إ‬
ِ َ‫ل‬ ‫ﺎ‬ َ ‫ﻗ‬ .‫َﺎ‬‫ه‬ َ ‫ﺗ‬ ‫ي‬َ
ْ َ‫أ‬‫ر‬ ْ
‫د‬ َ ‫ﻗ‬ ‫ﻠ‬
ْ‫ِق‬ َ
‫ﻁ‬ ْ
‫ن‬ ‫ا‬ :ِ
‫ت‬ ‫ا ْل َم ْﻭ‬
‫ْس ِْلَﺣَد َد َخ َﻠهَﺎ أ َ ْن ي َْخ ُر َﺝ مِ ْنهَﺎ‬ َ ‫ي‬ َ ‫ل‬ ُ ‫ﻪ‬َّ ‫ن‬ ‫إ‬
َِ‫ﻭ‬ ‫ﺎ؟‬‫ه‬َ ‫ﺎ‬ ‫ي‬
َّ ‫إ‬
ِ ُ ‫ﻪ‬ َ ‫ﺗ‬ ْ
‫ﻠ‬ َ
‫خ‬ ْ
‫د‬ َ ‫أ‬ ْ
‫د‬ َ ‫ﻗ‬ َ‫ت‬ ْ
‫ن‬ َ ‫أ‬

“Sesungguhnya Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu berteman dengan Malaikat Maut. Lalu ia
pun meminta kepadanya agar diperlihatkan surga dan neraka. Maka idris pun naik (ke langit), lalu
Malaikat Maut memperlihatkan neraka kepadanya. Lalu Idris kaget sehingga hampir pinsang. Maka
Malaikat Maut mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya berkata, “Bukankah engkau telah melihatnya?”
Idris berkata, “Ya, sama sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari ini”. Kemudian, Malaikat Maut
membawanya sampai ia memperlihatkan surga kepada Nabi Idris seraya masuk ke dalamnya. Malaikat
Maut berkata, “Pergilah, sesungguhnya engkau telah melihatnya”. “Kemana?”, tanya Idris. “Ke tempatmu
semula”, jawab Malaikat Maut. “Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah aku memasukinya”, tukas
Idris. Lalu dikatakanlah kepada Malaikat Maut, “Bukankah engkau yang telah memasukkannya?
Sesungguhnya seorang yang telah memasukinya tidak boleh keluar darinya“. [HR. Ath-Thobroniy dalam
Al-Mu’jam Al-Ausath (2/177/1/7406)]

Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh dusta,
yaitu Ibrahim bin Abdullah bin Khalid Al-Mishshishiy. Sebab itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-
Albaniy dalam kumpulan hadits-hadits palsu di dalam kitabnyaAdh-Dho’ifah (339).

Empat Berkah dari Langit

Diantara hadits palsu yang beredar di masyarakat adalah berikut ini. Konon kabarnya Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda,

‫ار َو ْالم‬
َ َّ‫ض َفأ َ ْنزَ َل ْال َح ِد ْي َد َوالن‬
ِ ‫س َماءِ إِلَى اْأل َ ْر‬ ٍ ‫ا َء َو ْالمِ ْل َح َْإِ َّن هللاَ أ َ ْنزَ َل أ َ ْر َب َع بَ َركَا‬
َ ‫ت مِ نَ ال‬

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan empat berkah dari langit ke bumi; maka Allah menurunkan besi,
api, air, dan garam“. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/2/221)]

Hadits ini palsu , tak benar datangnya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dalam sanadnya terdapat
Saif bin Muhammad, seorang pendusta !! Karenanya, Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy -rahimahullah-
menyatakan hadits ini palsu dalam Adh-Dho’ifah (3053).

Fadhilah Mendatangi Sholat Jama’ah

Fadhilah sholat berjama’ah banyak disebutkan dalam hadits-hadits shohih. Adapun hadits berikut adalah
hadits lemah, tak boleh diamalkan, dan diyakini sebagai sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-:

29
ِ ‫ﺎج ِد فِي ال ُّظﻠَ ِﻡ أ ُ ْﻭلَ ِئﻙَ ا ْل َخ َّﻭاض ُْﻭنَ فِ ْي َرﺣْ َم ِة‬
ّ‫هللا عَز‬ ِ ‫ﺳ‬َ ‫َﻭ َج َّل ََا َ ْل َمشَّﺎؤ ُْﻭنَ إِ َلى ا ْل َم‬

“Orang yang sering berjalan menuju masjid dalam kondisi gelap, mereka itu adalah orang yang berada
dalam rahmat Allah –Azza wa Jalla-“. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (779), Ibnu Adi dalam Al-Kamil
(1/281), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (17/456) & (52/18)]

Hadits ini adalah dho’if (lemah), karena ada dua rowi yang bermasalah dalam sanadnya: Muhammad bin
Rofi’, dan Isma’il bin Iyasy. Walau Isma’il tsiqoh, namun jika ia meriwayatkan hadits dari selain orang-
orang Syam, maka haditsnya lemah!! Hadits ini ia riwayatkan dari Muhammad bin Rofi’, seorang
penduduk Madinah. Ke-dho’if-an hadits ini telah ditegaskan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Adh-
Dho’ifah (3059)

Padamkan Neraka dengan Sholat

Jika kita mau mengoleksi hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan sholat, maka terlalu banyak.
Namun disini kami mau ingatkan bahwa ada hadits lemah dalam hal ini, yaitu hadits yang berbunyi:

‫ يَﺎ بَنِ ْي آ َد َﻡ ﻗُ ْﻭ ُم ْﻭا إِ َلى نِيْر‬: ‫ﺻَلَة‬


َ ‫ِي ِع ْن َد ُﻛ ِّل‬
ْ ‫لِل ﺗَعَﺎلَى َمﻠَﻛًﺎ يُنَﺎد‬ َّ ‫ﺳ ُﻛ ْﻡ َفأ َ ْﻁ ِﻔئ ُْﻭ َهﺎ بِﺎل‬
ِ ّ ِ َّ‫ﺻَلَ ِة ََإِن‬ ِ ُ‫عﻠَى أ َ ْنﻔ‬
َ ‫انِ ُﻛ ْﻡ الَّﺗِ ْي أَ ْﻭ َﻗ ْدﺗ ُ ُم ْﻭ َهﺎ‬

“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- memiliki seorang malaikat yang memanggil setiap kali sholat, “Wahai anak
Adam, bangkitlah menuju api (neraka) kalian yang telah kalian nyalakan bagi diri kalian, maka
padamkanlah api itu dengan sholat“. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (9452) dan Ash-Shoghir
(1135), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (3/42-43), dan lainnya]

Hadits ini lemah , karena ada seorang rawi bernama Yahya bin Zuhair Al-Qurosyiy. Dia adalah seorang
majhul (tak dikenal). Olehnya, Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- melemahkan hadits ini dalam Adh-
Dho’ifah (3057)

Orang Baik dibutuhkan Orang

Di antara hadits palsu yang biasa diucapkan oleh sebagian da’i-da’i adalah hadits berikut:

‫ﺎس إِلَ ْي ِﻪ‬ َ ‫إِذَا أ َ َرا َد هللاُ بِعَبْد َخي ًْرا ؛‬


ِ َّ‫ﺻيَّ َر ﺣ ََﻭائِ َج الن‬

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah akan menjadikan kebutuhan-
kebutuhan manusia kepadanya“. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/1/95)]

Hadits ini palsu disebabkan oleh adanya rowi dalam sanadnya yang bernama Yahya bin Syabib; dia
seorang pemalsu hadits. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy meletakkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (2224)

Manusia yang Terburuk Kedudukannya

Banyak sekali hadits-hadits lemah yang tersebar di kalangan kaum muslimin, namun mereka tak sadar
bahwa itu bukanlah sabda Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti hadits:

َ ‫ﺎس َم ْن ِز َلةً َم ْن أَ ْذ َه‬


َ ‫ب آخِ َرﺗَﻪُ بِ ُد ْنيَﺎ‬
‫غي ِْر ِه‬ ِ َّ‫إِنَّ مِ ْن أَﺳ َْﻭأِ الن‬

“Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya, orang yang menghilangkan (menghancurkan)
akhiratnya dengan dunia orang lain“. [HR. Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2398), dan Al-Baihaqiy
dalam Syu'abul Iman (6938)]

30
Hadits ini adalah hadits dho’if (lemah), karena rowi yang bernama Syahr bin Hausyab, seorang jelek
hafalannya dan banyak me-mursal-kan hadits, dan Al-Hakam bin Dzakwan, seorang yang maqbul.
Intinya, hadits ini lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (2229)

Ketentuan dan Taqdir Allah

Ketentuan dan taqdir Allah adalah perkara ghaib yang tidak boleh ditetapkan dengan hadits lemah,
apalagi palsu, seperti hadits ini:

‫عقُ ْﻭ َل ُه ْﻡ َﺣﺗ َّى يُ ْن ِﻔذَ فِي ِْه ْﻡ َﻗضَﺎ َء ُه َﻭﻗَد ََر ُه‬
ُ ‫ب ذَ َﻭ ْي ا ْلعُقُ ْﻭ ِل‬ َ ‫إِذَا أ َ َرا َد هللاُ إِ ْنﻔَﺎذَ َﻗضَﺎئِ ِﻪ َﻭ َﻗد َِر ِه ؛‬
َ َ‫ﺳﻠ‬

“Apabila Allah ingin melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya, maka Allah akan menarik (menghilangkan)
akalnya orang-orang yang memiliki pikiran sehingga Allah melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya pada
mereka“. [HR. Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (14/99), Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus
(1/1/100), dari jalur Abu Nu'aim dalam Tarikh Ashbihan (2/332)]

Hadits ini lemah, bahkan boleh jadi palsu , karena rowi yang bernama Lahiq bin Al-Husain. Sebagian
ahlul hadits menuduhnya pendusta, dan suka memalsukan hadits. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy
memasukkannya dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (2215)

Bertaqwa di Masa Tua

Bertaqwa kepada Allah bukan hanya di masa tua, bahkan juga harus di masa muda. Namun tentunya
ketaqwaan lebih ditingkatkan lagi di masa tua berdasarkan hadits-hadits shohih !! Bukan berdasarkan
hadits palsu ini:

َ ‫عﻠَ ْي ِﻪ أ َ ْن يَ َخ‬
‫ﺎف هللاَ ﺗ َ َعﺎلَى َﻭيَﺣْ ذَر‬ ُ ‫ﺳنَ ًة ي َِج‬
َ ‫ب‬ َ َ‫عﻠَى ا ْلعَ ْب ِد أ َ ْربَعُ ْﻭن‬
َ ‫ُه ََإِذَا أَﺗَى‬

“Jika telah datang (lewat) 40 tahun pada diri seorang hamba, maka wajib baginya untuk takut dan
khawatir kepada Allah -Ta’ala- “. [HR. Ad-Dailamiy dalam Al-Firdaus (1/89)]

Hadits ini palsu, karena ada rowi dalam sanadnya yang bernama Ahmad bin Nashr bin Abdillah yang
dikenal dengan Adz-Dari’. Dia adalah seorang pemalsu hadits, pendusta, dan dajjal. Karenanya, Al-
Albaniy Al-Atsariy menyatakannya palsu dalam Adh-Dho’ifah (2200)

Memulai dengan Hamdalah

Ada sebuah hadits yang masyhur dalam kitab-kitab dan lisan manusia yang menjelaskan harusnya
seseorang memulai segala urusan yang penting dengan membaca Alhamdulillah. Tapi hadits ini lemah
sebagaimana berikut ini perinciannya:

‫ِي بَﺎل ﻻَ يُ ْب َدأ ُ فِ ْي ِﻪ ِبﺎ ْلﺣ َْم ِد فَه َُﻭ أ َ ْﻗ َﻁ ُع‬


ْ ‫ُﻛ ُّل أ َ ْمر ذ‬

“Segala urusan penting yang tidak dimulai di dalamnya dengan alhamdulillah, maka urusan itu akan
terputus“. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1894)]

Hadits ini lemah, karena ke-mursal-an yang terjadi pada sanadnya sebagaimana yang dijelaskan oleh
Abu Dawud dalam Sunan-nya (2/677), dan Syaikh Al-Albaniy. Karenanya, Al-Albaniy melemahkan hadits
ini dalam Al-Irwa’ (2).

Tanda Tawadhu’

31
Tawadhu’ adalah perkara yang dianjurkan karena dia adalah akhlak yang mulia. Saking mulianya sampai
dalam hadits yang palsu pun disebutkan kemuliannya, seperti hadits berikut:

ً‫ﺳ ْبعُ ْﻭنَ َخﻁِ ْيئ َة‬


َ ُ‫ع ْنﻪ‬َ ْ‫ﺳ ْبعُ ْﻭنَ د ََرج ًَة َﻭ ُمﺣِ يَت‬ ِ ‫ﺳؤْ ِر أَخِ ْي ِﻪ ا ْبﺗِ َغﺎ َء َﻭجْ ِﻪ‬
َ ُ‫هللا ﺗَعَﺎلَى ُرفِعَتْ َلﻪ‬ ُ ‫ﺳؤْ ِر أَخِ ْي ِﻪ َﻭ َم ْن ش َِر َب مِ ْن‬
ُ ‫الر ُج ُل مِ ْن‬ َ ‫ُع أ َ ْن يَش َْر‬
َّ ‫ب‬ ِ ‫مِ نَ الﺗ ََّﻭاض‬
ً‫ﺳ ْبعُ ْﻭنَ د ََر َجة‬
َ ُ‫ِب َلﻪ‬
َ ‫َﻭ ُﻛﺗ‬

“Di antara bentuk ketawadhu’an, seorang mau meminum sisa minuman saudaranya. Barangsiapa yang
meminum sisa minum saudaranya, karena mencari wajah Allah -Ta’ala-, maka akan diangkat derajatnya
sebanyak 70 derajat, dan akan dihapuskan 70 kesalahan darinya, serta dituliskan baginya 70 derajat.”
[HR.Ad-Dauqutniy sebagaimana dalam Al-Maudhu'at (3/40) karya Ibnul Juaziy]

hadits ini adalah hadits yang palsu karena ada seorang rawi yang bernama Nuh bin Abi Maryam, dia
adalah seorang yang tertuduh dusta. Selain itu hadits ini semakin lemah karena Ibnu Juraij (seorang rawi
dalam hadits ini) adalah seorang yang mudallis, sedangkan ia meriwayatkannya secara mu’an’anah
(menggunakan lafadz dari). Demikia penjelasan Syaikh Al-Albaniy secara ringkas dalam kitabnya Adh-
Dho’ifah (79).

Orang-Orang yang Beruntung

Orang-orang yang beruntung banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan sunnah yang shahihah. Bahkan
dalam hadits yang dho’if pun, seperti hadits berikut:

‫َﺎرا أ َ ْفﻠَ َﺢ َم ْن َﻭ َج َد فِ ْي ﺻَﺣِ ْيﻔَت‬ ُ َ‫ﺎرا َﻛثِي ًْراَِأ َ ْف َﻠ َﺢ َم ْن ﻛَﺎن‬


ً ‫ﺳﻛ ُْﻭﺗُﻪُ ﺗَﻔَﻛ ًُّرا َﻭنَ َظ ُر ُه اِ ْعﺗِب‬ ً َ‫ﺳﺗِ ْغﻔ‬
ْ ِ‫ِه ا‬

“Beruntunglah orang yang diamnya adalah tafakkur, pandangannya adalah ibroh, beruntunglah orang
yang mendapatkan istighfar yang banyak dalam catatan amalannya” . [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad
Al-Firdaus (1/1/123)].

Hadits ini adalah dho’if, karena dalam sanadnya terdapat dua orang yang majhul (tidak dikenal), yaitu
Abul Khushaib Ziyad bin Abdurrahman, dan Husain bin Mansur Al-Asadiy Al-Kufiy dan juga seorang yang
lemah (Hibban ibnu Ali Al-Anaziy). Syaikh Al-Albaniy menghukumi hadits ini dho’if (lemah) dalam Adh-
Dho’ifah (2519).

Makanan Dunia dan Akhirat

Banyak sekali hadits dho’if yang tersebar di masyarakat. Utamanya hadits-hadits yang berkaitan dengan
janji-janji dan keutamaan, seperti hadits ini:

َ ‫أ َ ْف‬
‫ض ُل َﻁ َع ِﺎﻡ ال ُّد ْنيَﺎ َﻭ ْاِلخِ َر ِة ال َّﻠﺣْ ُﻡ‬

“Seutama-utamanya makanan dunia dan akhirat adalah daging” . [HR. Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu'afa'
(1264)].

Hadits ini dihukumi dho’if jiddan oleh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy dalam
Adh-Dho’ifah (2518), karena ada seorang rawi yang bernama Amr bin Bakr As-Saksakiy. Hadits-
haditsnya menyerupai hadits palsu. Sebab itu Al-Hafizh menggelarinya dengan matruk (ditinggalkan
karena biasa berdusta atas nama manusia). Selain itu, anaknya (Ibrahim bin Amr As-Saksakiy) yang
meriwayatkan darinya senasib dengan ayahnya.

Berdzikir Setiap Saat

Berdzikir setiap saat merupakan perkara yang dianjurkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam
hadits-hadits shohih, bahkan dalam hadits-hadits dho’if , seperti hadits ini:

32
‫ﺎلى َﻭ َﻻ أ‬ ُّ ‫ع َمل أَﺣ‬
ِ ‫َب ِإلَى‬
َ ‫هللا ﺗ َ َع‬ َ ‫عﻠَى ُﻛ ِّل ﺣَﺎل فَ ِإنَّﻪُ لَي‬
َ ‫ْس‬ ِ ‫هللا ﺗَعَﺎلَى ََأ َ ْﻛث ُِر ْﻭا ِذﻛ َْر‬
َ ‫هللا‬ ِ ‫ﺳيِّئ َة فِي ال ُّد ْنيَﺎ َﻭ ْاِلخِ َر ِة مِ ْن ِذ ْﻛ ِر‬
َ ‫ْنجَى ِلعَبْد مِ ْن ُﻛ ِّل‬

“Perbanyaklah dzikir kepada Allah dalam segala kondisi, karena tak ada suatu amalan yang lebih dicintai
oleh Allah -Ta’ala- , dan lebih menyelamatkan seorang hamba dari segala kejelekan di dunia, dan akhirat
dibandingkan dzikir kepada Allah“. [HR. Adh-Dhiya' Al-Maqdisiy dalam Al-Mukhtaroh (7/112/1)]

Hadits ini palsu, karena Abu Abdir Rahman Asy-Syamiy. Dia adalah seorang pendusta seperti yang
dinyatakan oleh Al-Azdiy -rahimahullah-. Ada penguat bagi hadits ini dari riwayat Al-Baihaqiy , oh sayang
hadits ini juga palsu, karena ada rowinya bernama Marwan bin Salim Al-Ghifariy Al-Jazariy; dia adalah
pendusta. Lihat rincian palsunya hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (2617)

Hati-hati dengan Dunia

Seorang manusia di dunia ibaratnya seorang musafir; ia singgah mengambil bekal menuju akhirat berupa
amal sholih. Namun dunia terkadang memperdaya kebanyakan manusia :

‫إﺣذرﻭا الدنيﺎ فإنهﺎ أﺳﺣر من هﺎرﻭت ﻭمﺎرﻭت‬

“Waspadalah terhadap dunia, karena ia lebih memperdaya dibandingkan Harut dan Marut“.

Namun sayang hadits ini adalah palsu, tak ada asalnya. Hadits ini disebutkan oleh Al-Ghozaliy dalam
Ihya’ Ulumuddin, padahal ia palsu !! Al-Iroqiy dalam Takhrij Al-Ihya’ (3/177) menukil dari Adz-Dzahabiy
bahwa hadits ini mungkar, tak ada asalnya. Sebab itu, Al-Albaniy menempatkannya dalam Adh-Dho’ifah
(34) sebagai tempat bagi hadits palsu dan dho’if.

Siapa yang Adzan, itu yang Iqamat

“Barangsiapa yang adzan, maka dialah yang iqamat”. [HR. Abud Dawud (514), At-Tirmidziy (199), dan
lainnya]

Hadits ini lemah karena berasal dari Abdurrahman bin Ziyad Al-Afriqiy. Dia lemah hafalannya. Sebab itu
Al-Albaniy melemahkannya dalam Adh-Dha’ifah (no. 35) dan Al-Irwa’ (237).

Syaikh Al-Albaniy berkata dalam Adh-Dha’ifah (1/110), “Di antara dampak negatif hadits ini, dia
merupakan sebab timbul perselisihan di antara orang-orang yang mau shalat, sebagaimana hal itu sering
terjadi. Yaitu ketika tukang adzan terlambat masuk mesjid karena ada udzur, sebagian orang yang hadir
ingin meng-iqamati shalat, maka tak ada seorang pun di antara mereka kecuali ia menghalanginya
seraya berhujjah dengan hadits ini. Orang miskin ini tidaklah tahu kalau haditsnya lemah, tidak boleh
mengasalkannya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, terlebih lagi melarang orang bersegera
menuju ketaatan kepada Allah, yaitu meng-iqamati shalat”.

Barang Siapa yang tidak Mengenal Imamnya…

Ketaatan kepada penguasa merupakan perkara asasi di kalangan Ahlus Sunnah. Sebaliknya,
mendurhakai mereka merupakan perkara yang diharamkan, apalagi jika sampai menghina, merendahkan
mereka, dan mencabut tangan darinya, karena hal ini akan menimbulkan kerusakan di kalangan hamba-
hamba Allah.

Banyak sekali dalil-dalil baik dalam Al-Kitab, maupun sunnah yang memerintahkan kita untuk taat kepada
pemerintah muslim, dan mengharamkan durhaka kepada mereka.

Namun ada satu hal yang kami perlu ingatkan disini bahwa disana ada sebuah hadits yang dho’if dalam
masalah ini,

33
ً‫ف إِ َمﺎ َﻡ َز َمﺎنِـ ِﻪ َمﺎتَ مِ يـْﺗَةً جَﺎ ِه ِﻠيَّة‬
ْ ‫ َم ْن َمﺎتَ َﻭلَ ْﻡ يَع ِْر‬.

“Barangsiapa yang tidak mengenal imam (penguasa) di zamannya, maka ia mati seperti matinya orang-
orang jahiliyah”.

Ahmad bin Abdul Halim Al-Harraniy berkata, “Demi Allah, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
tidaklah pernah mengatakan demikian . . .”. [Lihat Adh-Dho’ifah (1/525)]

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata setelah menyatakan bahwa hadits ini tidak ada asal-muasalnya,
“Hadits ini pernah aku lihat dalam sebagian kitab-kitab orang-orang Syi’ah dan sebagian kitab orang-
orang Qodiyaniyyah (Ahmadiyyah). Mereka menjadikannya sebagai dalil tentang wajibnya berimam
kepada si Pendusta mereka yang Mirza Ghulam Ahmad, si Nabi gadungan. Andaikan hadits ini shahih,
niscaya tidak ada isyarat sedikit pun tentang sesuatu yang mereka sangka, paling tidak intinya kaum
muslimin wajib mengangkat seorang pemerintah yang akan dibai’at”. [Lihat As-Silsilah Adh-Dho’ifah (no.
350).

Agama Adalah Akal

Dalam ensiklopedia ini kami petikkan sebuah hadits yang biasa digunakan orang dan masyhur
menunjukkan keutamaan akal dan pikiran. Namun, kebanyakan orang tidak mengenal kepalsuan hadits
tersebut.

Adapun hadits yang dimaksud, lafazhnya sebagai berikut:

ُ‫ع ْق َل لَﻪ‬
َ َ‫ َﻭ َم ْن ﻻَ ِد ْينَ َلﻪُ ﻻ‬,ُ‫اَل ِ ّد ْينُ ه َُﻭ ا ْل َع ْقل‬

“Agama adalah akal pikiran, Barangsiapa yang tidak ada agamanya, maka tidak ada akal pikirannya”.
[HR. An-Nasa`iy dalam Al-Kuna dari jalurnya Ad-Daulabiy dalam Al-Kuna wa Al-Asma’ (2/104) dari Abu
Malik Bisyr bin Ghalib dan Az-Zuhri dari Majma’ bin Jariyah dari pamannya]

Hadits ini adalah hadits lemah yang batil karena ada rawinya yang majhul, yaitu Bisyr bin Gholib. Bahkan
Ibnu Qayyim -rahimahullah- berkata dalam Al-Manar Al-Munif (hal. 25), “Hadits yang berbicara tentang
akal seluruhnya palsu”.

Oleh karena itu Syaikh Al-Albaniy berkata, “Diantara hal yang perlu diingatkan bahwa semua hadits yang
datang menyebutkan keutamaan akal adalah tidak shahih sedikit pun. Hadits-hadits tersebut berkisar
antara lemah dan palsu. Sungguh aku telah memeriksa, diantaranya hadits yang dibawakan oleh Abu
Bakr Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya Al-Aql wa Fadhluh, maka aku menemukannya sebagaimana yang
telah aku utarakan, tidak ada yang shahih sama sekali”. [Lihat Adh-Dhi’ifah (1/54)]

Mengusap Tengkuk Ketika Wudhu’

Sebagian kaum muslimin, ketika dia berwudhu’, maka ia mengusap tengkuknya. Benarkah hal ini ada
haditsnya yang bisa dijadikan hujjah?

Jawabannya: hadits ada namun ia merupakan hadits palsu.

‫الرﻗَ َبََ ِة أَ َمﺎن مِ نَ ا ْل ِغ ِّل‬


َ ‫ﺳ ُﺢ‬
ْ ‫َم‬

“Mengusap tengkuk merupakan pelindung dari penyakit dengki”.

34
An-Nawawiy berkata dalam Al-Majmu’ (1/45), “Ini adalah hadits palsu, bukan sabda Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam-”.

Syaikh Al-Albaniy berkata, “Hadits ini palsu”. [Lihat Adh-Dho’ifah (1/167)]

Dari sini, kita mengetahui tentang tidak disyari’atkannya mengusap tengkuk ketika berwudhu’, karena
tidak ada hadits yang shahih menetapkannya. Adapun hadits ini – sebagaimana yang anda lihat-
merupakan hadits palsu. Jadi, tidak boleh diamalkan dan dijadikan hujjah dalam menetapkan suatu
hukum.

<<<<<<< “Nasihat bagi Para Da’I” >>>>>>>>>

Jika kalian memberikan nasihat dan wejangan kepada para jama’ah, maka janganlah kalian menghiasi
ceramah kalian dengan hadits-hadits dho’if, dan palsu. Sayangilah diri kalian sebelum kalian terkena
sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

‫ي ُمﺗَعَ ِّمدًا َف ْﻠيَﺗَب ََّﻭأ َ َم ْق َع َدهُ مِ نَ ال َّن ِﺎر‬


َّ َ‫عﻠ‬ َ َ‫َﻭ َم ْن َﻛذ‬
َ ‫ب‬

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat
duduknya di neraka“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]

Periksalah hadits-hadits yang kalian sampaikan dalam ceramah-ceramah kalian. Jika tidak tahu, maka
belajarlah, dan tanya kepada orang-orang yang berilmu. Janganlah perasaan malu dan sombong
membuat dirimu malu bertanya dan belajar sehingga engkau sendiri yang menggelincirkan dirimu dalam
neraka, wal’iyadzu billah !!

Salat sunah
Salat sunah atau salat nawafil (jamak: nafilah) adalah salat yang dianjurkan untuk dilaksanakan
namun tidak diwajibkan sehingga tidak berdosa bila ditinggalkan dengan kata lain apabila
dilakukan dengan baik dan benar serta penuh ke ikhlasan akan tampak hikmah dan rahmat dari
Allah SWT yang begitu indah. Salat sunah menurut hukumnya terdiri atas dua golongan yakni:

 Muakad, adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir
mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunah witr dan salat sunah thawaf.
 Ghairu Muakad, adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti
salat sunah Rawatib dan salat sunah yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan
keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).

Pembagian Menurut Pelaksanaan


 Salat sunah ada yang dilakukan secara sendiri-sendiri (munfarid) diantaranya:
o Salat Rawatib
o Salat Tahiyatul Wudhu
o Salat Istikharah
o Salat Mutlaq
o Salat Dhuha
o Salat Tahiyatul Masjid

35
o Salat Tahajud
o Salat Hajat
o Salat Awwabin
o Salat Tasbih
o Salat Taubat
 Sedangkan yang dapat dilakukan secara berjamaah antara lain:
o Salat Tarawih
o Salat Ied
o Salat Gerhana
o Salat Istisqa'

Waktu terlarang untuk salat sunah


Beberapa salat sunah dilakukan terkait dengan waktu tertentu namun bagi salat yang dapat
dilakukan pada waktu yang bebas (misal:salat mutlaq) maka harus memperhatikan bahwa
terdapat beberapa waktu yang padanya haram dilakukan salat:

 Matahari terbit hingga ia naik setinggi lembing


 Matahari tepat dipuncaknya (zenith), hingga ia mulai condong
 Sesudah ashar sampai matahari terbenam
 Sesudah subuh
 Ketika matahari terbenam hingga sempurna terbenamnya

Shalat Sunah Rawatib


Pada artikel islami kali ini akan membahas mengenai shalat sunah rawatib, niat sholat qobliyah
dan niat sholat ba’diyah. Shalat Sunah Rawatib merupakan shalat sunah yang dikerjakan
sebelum atau sesudah shalat fardlu. Jika dikerjakan sebelum sholat fardlu maka disebut shalat
sunah qobliyah, sedangkan jika dikerjakan setelah shalat fardlu maka disebut dengan shalat
sunah ba’diyah.

Menurut Hadis Riwayat Muslim Nomor 728, Sabda rasulullah SAW mengenai sholat sunah
rawatib ini sebagai berikut : dari Ummu Babibah isteri nabi Muhammad shallallahu alaihi
wasalah, beliau berkata : Aku mendegar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda :
“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunah ikhlas karena ALlah sebanyak dua belas
rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya rumah di Surga”

Macam shalat sunah rawatib

Shalat sunah rawatib ada beberapa macam, di bawah ini akan disebutkan macam sholat sunah
rawatib lengkap dengan bacaan niatnya. :

1. Shalat sunah dua rakaat sebelum shalat shalat subuh (qobliyah)

36
Niat shalat qobliyah subuh : Ushalli sunnatash subhi rak’ataini qabliyyatan lillahi Ta’aalaa
Artinya : Aku shalat sunnah sebelum subuh dua rakaat karena Allah

2. Shalat sunah dua rakaah sebelum shalat shalat dhuhur (qobliyah)

Niat shalat qobliyah dhuhur : ushalli sunnata dzhuri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’aalaa
Artinya : Aku niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakataa karena Allah.

3. Shalat sunah dua atau empat rakaat setelah shalat dhuhur (ba’diyah)

Niat shalat dhuhur ba’diyah untuk dua rakaat : ushalli sunnata dzuhri rak’ataini ba’diyyatal
lillaahi ta’aala
aku niat shalat sunnah sesudah dzuhur dua rakaat karena Allah
Niat shalat dhuhur ba’diyah untuk empat rakaat : ushalli sunnata dzuhri arba’a roka’atin
ba’diyyatal lillaahi ta’aala
artinya aku niat shalat sunnah sesudah dzuhur empat rakaat karena Allah

4. Shalat sunah dua atau empat rakaat sebelum shalat ashar (qobliyah)

Niat shalat ashar qobliyah untuk dua rakaat : ushalli sunnatal ‘ashri rak’ataini qabliyyatan lillahi
ta’aalaa
aku niat shalat sunnah sebelum ashar dua rakaat karena Allah
Niat shalat ashar qobliyah untuk yang empat rakaat : ushalli sunnatal ‘ashri arba’a roka’atin
qabliyyatan lillaahi ta’aala
aku niat shalat sunnah sebelum ashar empat rakaat karena Allah

5. Shalat sunah dua rakaat setelah shalat magrib (ba’diyah)

Niat shalat magrib ba’diyah : Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatal lillahi ta’aalaa
artinya : Aku niat shalat sunnah sesudah magrib dua raka’at karena Allah

6. Shalat sunah dua rakaat sebelum shalat isya’ (Qobliyah)

Niat shalat isyah qobliyah : ushalli sunnatal ‘isyaa’i rak’ataini qobliyyah lillahi ta’aalaa
artinya : aku niat shalat sunah sebelum isya’ dua rakaat karena Allah

7. Shalat sunah dua rakaat setelah shalat isya’ (ba’diyah)

Niat shalat isya’ ba’diyah : Ushalli sunnatal ‘isyaa’i rak’ataini ba’diyyah lillahi ta’aalaa
artinya : aku niat shalat sunah sesudah isyah dua rakaat karena Allah

Itulah artikel islami yang mengulas mengenai sholat sunah rawatib, niat shalat sunah qobliyah
dan niat shalat sunah ba’diyah. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat bagi kamu yang
membutuhkan. dan semoga Allah senantiasa memberi kita ilmu yang bermanfaat dan
menjauhkan kita dari ilmu ilmu yang tidak bermanfaat.

37
Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

RUKUN ISLAM

1.Mengucap dua kalimat syahadat.

2.Menunaikan sholat lima waktu dalam sehari semalam.

3.Mengeluarkan zakat.

4.Berpuasa pada bulan Ramadhan.

5.Melaksanakan haji bagi mereka yang mampu.

RUKUN IMAN

1. Iman kepada ALLAH

2. Iman kepada Malaikat-malikat ALLAH

3. Iman Kepada Kitab-kitab ALLAH

4. Iman Kepada Rasul-rasul ALLAH

5. Iman kepada hari Kiamat

6. Iman kepada Qada dan Qadar

Ihsan
Ihsan (bahasa Arab: ‫ )احسان‬adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau
"terbaik". Dalam istilah agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-
olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut
membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan
dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-
hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya[1].

Ruang Lingkup
Ihsan terbagi menjadi dua macam:

1. Ihsan di dalam beribadah kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq)

38
2. Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

Ihsan di dalam beribadah kepada Allah

Ihsan di dalam beribadah kepada Al-khaliq memiliki dua tingkatan[2]:

1. Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ini adalah ibadah dari
seseorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Dan keadaan ini merupakan
tingkatan ihsan yang paling tinggi, karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan dan
kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya.
2. Jika kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu, dan ini ibadah dari seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan hal ini lebih
rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama, karena sikap ihsannya didorong dari rasa
diawasi, takut akan hukuman.

Maka suatu ibadah dibangun atas dua hal ini, puncak kecintaan dan kerendahan, maka pelakunya
akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah. Dengan ibadah yang seperti itu seseorang tidak
akan bermaksud supaya di lihat orang (riya'), di dengar orang (sum'ah) maupun menginginkan
pujian dari orang atas ibadahnya tersebut. Tidak peduli ibadahnya itu nampak oleh orang
maupun tidak diketahui orang, sama saja kualitas kebagusan ibadahnya. Muhsinin (seseorang
yang berbuat ihsan) akan selalu membaguskan ibadahnya disetiap keadaan.

Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

Berbuat ihsan kepada makhluk ciptaan Allah dalam empat hal, yaitu[3]:

 Harta

Yaitu dengan cara berinfak, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Jenis perbuatan ihsan dengan
harta yang paling mulia adalah mengeluarkan zakat karena dia termasuk di dalam Rukun Islam.
Kemudian juga nafkah yang wajib diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung
jawabnya seperti istri, anak, orang-tua, dll. Kemudian sedekah bagi orang miskin dan orang yang
membutuhkan lainnya.

 Kedudukan

Manusia itu bertingkat-tingkat jabatannya. Sehingga apabila dia memiliki kedudukan yang
berwenang maka digunakannya untuk membantu orang lain dalam hal menolak bahaya ataupun
memberikan manfaat kepada orang lain dengan kekusaannya tersebut.

 Ilmu

Yakni memberikan ilmu bermanfaat yang diketahuinya kepada orang lain, dengan cara
mengajarkannya.

 Badan

39
Yakni menolong seseorang dengan tenaganya. membawakan barang-barang orang yang
keberatan, mengantarkan orang untuk menunjukan jalan, dan ini termasuk bentuk sedekah dan
bentuk ihsan kepada makhluk Tuhan.

 ihsan /ih·san/ Ar 1 a baik; 2 n derma dsb yg tidak diwajibkan.


 ihsanat /ih·sa·nat/ n kebaikan; kebajikan
 istihsan /is·tih·san/ n Isl pendapat yg berpegang pd kebaikan sesuatu bagi umat manusia
sehingga apa yg dipandang baik boleh dikerjakan atau dipedomani

Tugas-tugas dari para 10 malaikat tersebut yaitu:

 Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul.
Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
 Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia
 Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
 Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa
 Malaikat Munkar dan Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia
di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup
 Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia
 Malaikat Atib bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
 Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka
 Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

40