Anda di halaman 1dari 30

REFERAT

TUMOR TULANG

Pembimbing :

dr. Wahyu Rosharjanto , Sp.BO

Penyusun :

Annisa Noor Amalina (030.13.022)

Diana Yusfiandriani Dewi (030.13.054)

Ahmad Meidiansyah (030.14.0)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.SOESELO SLAWI KABUPATEN TEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

PERIODE 25 MARET – 1 JUNI 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “
TUMOR TULANG” tepat pada waktunya. Penyusunan referat ini ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh kepaniteraan
klinik di bagian Ilmu Bedah. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar besarnya
kepada dr. Wahyu Rosharjanto, Sp.BO

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, hal tersebut
tidak lepas dari segala keterbatasan kemampuan yang peneliti miliki. Oleh karena
itu bimbingan dan kritik yang membangun dari semua pihak sangatlah
diharapkan

Slawi, 17 Mei 2019

Penulis

2
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT DENGAN JUDUL

“TUMOR TULANG”

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk


menyelesaikan KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR SOESELO SLAWI KABUPATEN


TEGAL

Slawi, 17 Mei 2019

3
DAFTAR ISI

BAB I .......................................................................................................................6
PENDAHULUAN ...................................................................................................6
1.1 Latarbelakang ..............................................................................................6
BAB II ......................................................................................................................8
TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................................8
2.1 Anatomi dan Fisiologi Muskuloskeletal ........................................................8
2.1.1 Tulang .........................................................................................................8
2.1.2 Sendi............................................................................................................9
2.2 Definisi .........................................................................................................10
2.3 Etiologi .........................................................................................................11
2.4 Klasifikasi Tumor Tulang ............................................................................11
2.5 Diagnosa.......................................................................................................12
2.5.1 Osteoma ................................................................................................12
2.5.2 Osteoid Osteoma ...................................................................................13
2.5.3 Osteoblastoma .......................................................................................15
2.5.4 Kondroma ..............................................................................................16
2.5.5 Osteokondroma .....................................................................................17
2.5.6 Kondroblastoma Jinak ...........................................................................18
2.5.7 Kondromiksoid Fibroma .......................................................................19
2.5.8 Giant Cell Tumor ..................................................................................20
2.5.9 Osteosarkoma ........................................................................................21
2.5.10 Sarkoma Ewing ...................................................................................22
2.5.11 Simple Bone Cyst ................................................................................24
2.5.12 Aneurysmal Bone Cyst .......................................................................25
2.6 Pemeriksaan Penunjang ...............................................................................26
2.6.1 X-Ray ....................................................................................................26
2.6.2 Radionucleic Scanning ..........................................................................27
2.6.3 CT-Scan ................................................................................................27
2.6.4 MRI .......................................................................................................27

4
2.7 Komplikasi ...................................................................................................28
BAB III ..................................................................................................................29
KESIMPULAN ......................................................................................................29
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................30

5
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumor tulang merupakan pertumbuhan sel abnormal yang terjadi pada tulang.
Tumor ini dapat terjadi pada bagian tulang manapun yang bermula pada sel normal
yang berubah dan tumbuh tidak terkontrol sehingga membentuk massa. Tumor
tulang dapat bersifat jinak maupun ganas. Menurut American Society of Clinical
Oncology, di perkirakan terdapat 3.020 orang dari berbagai usia dengan jumlah
1.680 laki-laki 1.340 perempuan di Amerika Serikat terdiagnosis menderita tumor
tulang. Diperkirakan 1.460 diantara nya yang terdiri dari 830 laki-laki dan 630
perempuan meninggal karena kasus ini. Tumor tulang primer lebih jarang dijumpai
daripada lesi metastatik, menurut data ststistik yang ada hanya 0,2% dari semua
kasus neoplasma yang merupakan tumor tulang primer. Pada orang dewasa lebih
dari 40 % tumor tulang primer adalah chondrosarcoma, diikuti osteosarcoma 28%,
chondroma 10%, Ewing‘s tumor 8%, dan fibrosarcoma 4%, dan sisanya adalah
kasus tumor tulang yang jarang di temukan. Pada anak-anak dan remaja yang
umurnya kurang dari 20 tahun di dapati osteosarcoma 56% dan Ewing’s tumor 34%
lebih banyak dari chondrosarcoma 6%. Chondrosarcoma lebih sering dijumpai pada
orang dewasa dengan umur pada saat didiagnosis rata-rata 51 tahun, kurang dari
5% kasus muncul pada pasien dengan usia kurang dari 20 tahun.9

Di Indonesia belum diketahui secara pasti berapa statistik kasus kanker tulang
yang terjadi. Belum ada pusat data mengenai kanker tulang secara menyeluruh.
Yang ada dijumpai sekarang, ada rumah sakit yang baru Universitas Sumatera
Utara 2 mengumpulkan jumlah penderitanya, tetapi mereka berdiri sendiri-sendiri,
sehingga jumlah keseluruhan di Indonesia tidak diketahui pasti. Menurut Errol
Untung Hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas
Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor
tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor
tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor

6
ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari
seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus
datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker tulang
mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita
bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya
penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga
penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat
menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena
terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemoterapi.2

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan fisiologi muskuloskeletal


Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan
bertanggung jawab terhadap pergerakan. Komponen utama
sistemmuskuloskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi,
otot, tendon, ligament, bursae, dan jaringan-jaringankhusus yang
menghubungkan struktur-struktur ini.1,2

2.1.1 Tulang
a. Bagian-bagian utama tulang rangka
Tulang rangka orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah
jaringan hidup yangakan menyuplai darah. Tulang banyak
mengandung bahan kristalin anorganik (terutama garam-garam
kalsium) yang membuat tulang keras dan kaku, tetapi sepertigadari
bahan tersebut adalah jaringan fibrosa yang membuatnya kuat dan
elastis.1

b. Fungsi utama tulang rangka1


1) Sebagai kerangka tubuh, yang menyokong dan memberi
bentuk tubuh.
2) Untuk memberikan suatu sistem pengungkit yang digerakan
oleh kerja otot-ototyang melekat pada tulang tersebut.
3) Sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium, dan elemen-
elemen lain.
4) Untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan putih serta
trombosit dalam sumsummerah tulang tertentu.

8
c. Struktur tulang
Dilihat dari bentuknya tulang dapat dibagi menjadi :1,2
1) Tulang panjang ditemukan di ekstremitas.
2) Tulang pendek terdapat di pergelangan kaki dan tangan.
3) Tulang pipih pada tengkorak dan iga.
4) Tulang ireguler (bentuk yang tidak beraturan) pada vertebra,
tulang-tulang wajahdan rahang.
Lapisan terluar dari tulang (cortex) tersusundari jaringan tulang
yang padat, sementara pada bagian dalam di dalam medulla berupa
jaringan sponge. Bagian tulang paling ujung dari tulang panjang
dikenal sebagaiepiphyseyang berbatasan denganmetaphysis.
Metaphysis merupakan bagian dimana tulangtumbuh memanjang
secara longitudinal. Bagian tengah tulang dikenal sebagai
diaphysis yang berbentuk silindris.1

2.1.2 Sendi
Artikulasi atau sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang.
Tulang-tulang inidipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan
kapsul sendi, pita fibrosa, ligament,tendon, fasia, atau otot. Sendi
diklasifikasikan sesuai dengan strukturnya.1,2
a. Sendi fibrosa (sinartrodial)
Merupakan sendi yang tidak dapat bergerak. Tulang-tulang
dihubungkan oleh serat-seratkolagen yang kuat. Sendi ini biasanya
terikat misalnya sutura tulang tengkorak.1,2

b. Sendi kartilaginosa (amfiartrodial)


Permukaan tulang ditutupi oleh lapisan kartilago dan dihubungkan
oleh jaringan fibrosakuat yang tertanam kedalam kartilago
misalnya antara korpus vertebra dan simfisis pubis.Sendi ini
biasanya memungkinkan gerakan sedikit bebas.1,2

9
c. Sendi synovial (diartrodial)
Sendi ini adalah jenis sendi yang paling umum. Sendi ini biasanya
memungkinkangerakan yang bebas (misalnya, lutut, bahu, siku,
pergelangan tangan, dll.) tetapi beberapasendi sinovial secara
relatif tidak bergerak (mis., sendi sakroiliaka). Sendi ini
dibungkusdalam kapsul fibrosa dibatasi dengan membran sinovial
tipis. Membran ini mensekresicairan sinovial ke dalam ruang sendi
untuk melumasi sendi. Cairan sinovial normalnya bening, tidak
membeku, dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan. Jumlah
yangditemukan pada tiap-tiap sendi normal relatif kecil (1 sampai
3 ml). hitung sel darah putih pada cairan ini normalnya kurang dari
200 sel/ml dan terutama adalah sel-selmononuklear. Cairan
synovial juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi rawan sendi.1,2

2. Tumor tulang
2.2 Definisi
Tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif dimana
sel-selnya tidak pernah menjadi dewasa. Tumor tulang primer merupakan
tumor tulang dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk
jaringan tulang, sedangkan tumor tulang sekunder adalah anak sebar tumor
ganas organ non tulang yang bermetastasis ke tulang.2,3
Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif,
dimana sel-sel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. Dengan istilah lain
yang sering digunakan “Tumor Tulang”, yaitu pertumbuhan abnormal
pada tulang yang bisa jinak atau ganas.2,5
Tumor tulang merupakan kelainan pada sistem muskuloskeletal
yang bersifat neoplastik.Tumor dalam arti yang sempit berarti benjolan.
Sedangkan setiap pertumbuhan yang barudan abnormal disebut
neoplasma.2

10
2.3 Etiologi
Tulang merupakan organ ketiga yang paling sering diserang oleh
penyakit metastatik (penyakit dari suatu organ yang menyebar ke bagian
tubuh lainnya).2
Kanker yang paling sering menyebar ke tulang adalah kanker
payudara, paru-paru, prostat, tiroid dan ginjal. Bila dibandingkan antara
karsinoma dan sarkoma, maka jenis kanker yang lebih sering menyebar ke
tulang adalah karsinoma. Tulang pertama yang biasanya terkena adalah
tulang rusuk, tulang panggul dan tulang belakang; tulang-tulang distal
(ujung tubuh) jarang terkena.2,5
Penyebaran terjadi jika suatu tumor tunggal atau sekumpulan sel
tumor masuk ke dalam aliran darah dan melalui pembuluh darah di kanalis
Harves sampai ke sumsum tulang, dimana mereka berkembangbiak dan
membentuk pembuluh darah yang baru.Pleksus vena Batson di tulang
belakang memungkinkan sel-sel kanker masuk ke dalam sirkulasi tulang
belakang tanpa harus melalui paru-paru terlebih dahulu. Aliran darah di
dalam pleksus ini sangat lambat sehingga sel-sel kanker bisa bertahan
hidup dan mempertinggi angka kejadian metastase kanker prostat ke
tulang belakang.2
Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-
akhir ini, penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam
tubuh yaitu C-Fos dapat meningkatkan kejadian tumor tulang.4,7
a. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi.
b. Keturunan.
c. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit
Paget (akibat pajanan radiasi).

2.4 Klasifikasi Tumor Tulang


Klasifikasi menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas kriteria
histologis, jenis diferensiasi sel sel tumor yang diperlihatkan dan jenis
intraseluler matriks yang diproduksi. Dalam hal ini dipertimbangkan sifat

11
sifat tumor asal usul sel serta pemeriksaan histologis menetapkan jenis
tumor bersifat jinak atau ganas.
Sel sel dari muskuloskeletal berasal dari mesoderm tapi kemudian
berdeferensiasi memjadi beberapa sel osteoklas, kondroblas, fibroblas dan
mieloblas. Oleh karena itu sebaiknya klasifikasi tumor tulang berdasarkan
atas sel, yaitu bersifat osteogenik, kondrogenik atau mielogenik, meskipun
demikian terdapat kelompok yang tidak termasuk dalam kelompk tumor
yaitu kelainan reaktif (reaktif bone) atau harmatoma yang sebenarnya
berpotensi menjadi ganas.
Tabel 1. Klasifikasi Tumor tulang berdasarkan histologi10

2.5 Diagnosa 6
2.5.1 Osteoma
Merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan (39,3%)
dari seluruh tumor jinak tulang terutama terjadi pad usia 20 – 40
tahun. Bentuknya kecil tapi dapat menjadi besar tanpa menimbulkan
gejala gejala yang spesifik.
Lokasi Kelainan ini ditemukan pada tulang tengkorak seperti
maksila, mandibula, palatum, sinus paranasalis dan dapat pula pada
tulang tulang panjang seperti tibia dan femur.

12
Pemeriksaan radiologis pada foto rontgen osteoma berbentuk bulat
dengan batas tegas tanpa adanya destruksi tulang. Pada pandangan
tangensial osteoma terlihat seperti kubah.
Patologi Dapat ditemukan lesi pada tulang kompak (compact
osteoma) dengan sistem Harvers atau trabekula tulang dengan
sumsumnya disebut spongiosteoma. Strukturnya terdiri atas jaringan
tulang dewasa yang didominasi oleh struktur struktur lamelar dengan
pertumbuhan yang sangat lambat. Osteoma yang berlokasi pada
tulang panjang biasanya bersifat multipel dan merupakan bagian dari
sindroma Gardner.
Diagnosa banding Osteokondroma, Parosteal osteosarkoma dan
Parostistis osifikans.

Gambar 1. Osteoma10

2.5.2 OSTEOID OSTEOMA


Definisi Osteoid osteoma, tumor jinak kecil yang terbentuk dari
osteoid dan tulang anyaman dikelilingi oleh lingkaran cahaya dari tulang
reaktif. Lesi ini paling umum pada pasien muda tetapi jarang di bawah 5
tahun dan sama-sama jarang di atas 30.

13
Gambaran klinis Osteoid osteoma adalah tumor jinak, jarang
ditemukan (1,8%), terutama pada umur 10 – 25 tahun. Tumor ini lebih
sering pada laki laki daripada wanita dengan perbandingan 2:1.
Gejala yang paling menonjol adalah nyeri pada suatu daerah tertentu
dan menghilang dengan pemberian salisilat.
Lokasi osteoid osteoma pada femur (25%), tibia (25%), dan
sisanya pada daerah daerah lain, seperti pada tulang belakang.
Pemeriksaan radiologis Pada foto rontgen ditemukan adanya
daerah yang bersifat radiolusen yang disebut nidus didaerah diafisis di
kelilingi oleh suatu daerah skerosis yang padat, serta penebalan kortikal
yang merupakan reaksi pebentukan tulang, kadang kadang pemeriksaan
tomogram diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa.
Patologi Kelainan terdiri atas jaringan seluler dengan tingkat
vaskularisasi yang tinggi dan jaringan tulang yang belum matang serta
jaringan osteoid.
Diagnosa banding Asbes brodie, Sarkoma erwing dan Periotitis
kronis.

Gambar 2. Osteoma Osteoid10

14
2.5.3 OSTEOBLASTOMA (OSTEOID OSTEOMA RAKSASA)
Definisi Tumor jinak dari osteoblas yang menghasilkan osteoid dan
tulang anyaman. Mirip dalam penampilan untuk osteoma osteoid,
osteoblastoma secara karakteristik lebih besar dari osteoma osteoid. Ini
jarang terjadi lesi paling sering terlihat pada anak-anak dan remaja,
jarang terlihat di bawah usia 8 atau lebih dari 40 tahun. Osteoblastoma
memiliki kecenderungan untuk tulang belakang, lagi di lengkungan
posterior, tetapi dapat terjadi di mana saja di kerangka
Gambaran klinis Tumor ini seperti osteoid osteoma ditemukan
pada dewasa muda dan lebih sering pada laki laki daripada wanita.
Gejala nyeri yang ditemukan lebih ringan dibanding osteoid osteoma
dan lebih jarang terjadi. Kelainan ini hanya merupakan 2,5% dari
seluruh tumor jinak.
Lokasi Osteoblatoma terutama ditemukan pada os vertebra dan
tulang tulang pendek lainnya seperti os ilium, costa, os phalanx dan os
tarsal.
Pemeriksaan radiologis terlihat adanya daerah osteolitik dengan
batas - batas yang jelas serta adanya bintik bintik kalsifikasi. Diameter
lesi bervariasi bisa sampai beberapa cm. Gambaran patologisnya mirip
osteoid osteoma tetapi gambaran sel dan vaskularisasinya lebih
menyolok.
Diagnosis banding Osteoid osteoma.

15
Gambar 3. Osteoblastoma10

2.5.4 KONDROMA
Disebut juga enkondroma, merupakan tumor jinak tulang dengan
frekuensi 9,8% dari seluruh tumor jinak tulang, biasanya ditemukan
pada usia dewasa muda tetapi dapat pula pada setiap umur. Gejalanya
biasanya berupa benjolan yang tidak nyeri.
Lokasi Terutama pada os phalanxs, os tarsal, costa dan tulang
tulang panjang yang bersifat soliter tapi dapat juga multiple sebagai
enkondromatosis yang bersifat kongenital (penyakit Ollier).
Pemeriksaan radiologis memperlihatkan adanya daerah
radiolusen yang bersifat sentral (enkondroma) antara metafisis dan
diafisis. Mungkin dapat ditemukan sedikit ekspansi dari tulang. Pada
tulang yang matur dapat ditemukan adanya bintik bintik kalsifikasi
pada daerah lusen.
Patologi Terdapat pembentukan tulang rawan yang matur
tanpa tanda tanda pleimof, mitosis, atau gejala gejala keganasan lainnya.
Sering ditemukan adanya perubahan miksoid pada jaringan lunak, maka
kelainan ini disebut sindroma Maffuci. Perubahan kearah keganasan
pada enkondromatosis (enkondroma multiple) lebih sering dari pada
enkondroma soliter. Tanda tanda keganasan biasanya terjadi setelah
umur 30 tahun dengan gejala gejala berupa nyeri, pembesaran tumor
yang tiba tiba dan erosi korteks tulang.

16
Gambar 4. Kondroma10

2.5.5 OSTEOCHONDROMA
Merupakan tumor jinak tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor
jinak tulang dan terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya
aktif dan pada dewasa muda. Gejala nyeri terjadi bila terdapat
penekanan pada bursa atau jaringan lunak sekitarnya. Benjolan yang
keras dapat ditemukan pada daerah sekitar lesi.
Lokasi osteokondroma biasanya pada daerah metafisis tulang
panjang khususnya femur distal, tibia proksimal dan humerus
proksimal. Osteokondroma juga dapat ditemukan pada tulang
scapula dan ilium. Tumor bersifat soliter dengan dasar lebar atau kecil
seperti tangkai dan bila multipel dikenal sebagai diafisis aklasia
(eksosotosis herediter multiple), yang bersifat herediter dan diturunkan
secara dominan gen mutan.
Pemeriksaan radiologis Ditemukan adanya penonjolan tulang yang
berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis tetapi yang
terlihat lebih kecil dibandingkan dengan yang ditemukan pada
pemeriksaan fisik oleh karena sebagian besar tumor ini diliputi oleh
tulang rawan. Tumor dapat bersifat tunggal atau multiple tergantung
jenisnya.
Patologi Ditemukan adanya tulang rawan hialin didaerah sekitar
tumor dan terdapat eksostosis yang berbentuk tiang didalamnya.
Lesi yang besar dapat berbentuk gambaran bunga kol dengan
degenerasi dan kalsifikasi di tengahnya.

17
Gambar 5. Osteochondroma10

2.5.6 KONDROBLASTOMA JINAK


Definisi merupakan tumor jinak yang jarang ditemukan dan
terjadi pada umur 10 – 25 tahun, sering ditermukan pada laki –
laki daripada wanita. Pertumbuhan tumor sangat lambat, gejala nyeri
sendi merupakan gejala utamanya.
Lokasi Kondroblatoma jinak berasal dari daerah epifisis dan
berkembang kearah metafisis. Tumor terutama ditemukan pada
epifisis tibia proksimal, femur distal dan humerus proksimal.
Pemeriksaan radiologis Pada foto roentgen terlihat refraksi yang
jelas pada tulang kanselosa yang dapat melebar di luar daru daerah garis
epifisis. Bentuknya eksentrik dengan korteks yang tipis tetapi penetrasi
keluar jarang terjadi. Batas batas tumor terlihat reguler, tidak disertai
dengan bintik bintik kasifikasi dengan adanya gambaran deposisi
kalsium.
Patologi Gambaran patologis ditandai dengan gejala - gejala
karasteristik dari banyaknya sel sel yang tidak berdiferensiasi dengan

18
sel sel yang bulat atau poligonal dari sel sel yang menyerupai
kondroblas dengan sel sel raksasa inti banyak dari sel osteoklas yang
diatur secara sendiri sendiri atau berkelompok. Hanya ditemukan sedikit
jaringan seluler dari matriks jaringan tulang rawan yang disertai
kalsifikasi fokal dan jaringan retikulin.

Gambar 6. Chondroblastoma10

2.5.7 KONDROMIKSOID FIBROMA


Tumor ini biasanya didapatkan pada anak-anak dan dewasa
muda.Pada tulang panjang paling banyak di daerah metafisis dan
lokasinya eksentrik, paling sering pada tulang sekitar lutut.
Gambaran radiologik : tumor ini tampak sebagai daerah yang
radiolusen di daerah metafisis tulang panjang, letaknya eksentris,
berbatas tegas, kadang-kadang dengan pinggiran sklerotik. Korteks
menipis karena ekspansi tumor.Tidak ada reaksi periosteal.Kalsifikasi
jarang. Kadang-kadang terdapat gambaran menyerupai busa sabun
(soap-buble appearance).8,9
Diagnosis banding :8
Giant cell tumor& kista tulang aneurisma (aneurysmal bone cyst).

19
Gambar 7. Kondromiksoid Fibroma8

2.5.8 GIANT CELL TUMOR


Tumor ini biasanya dijumpai pada usia dewasa, setelah terjadi fusi
tulang. Kebanyakan dijumpai pada usia 30-40 tahun. Pada tulang
panjang, tumor ini lokasinya pada ujung tulang (subartikuler), paling
sering sekitar sendi lutut.8
Gambaran radiologik : tampak daerah radiolusen pada ujung tulang
panjang dengan batas yang tidak tegas. Ada zona transisi antara tulang
normal dan patologik, biasanya kurang dari 1 cm.
Lesi biasanya eksentrik, bersifat ekspansif sehingga korteks menjadi
tipis. Tidak ada reaksi periosteal. Tumor yang sudah besar dapat
mengenai seluruh lebar tulang dan sering terjadi fraktur patologik.8

20
Gambar 8. Giant Cell Tumor8

2.5.9 OSTEOSARKOMA
Merupakan tumor ganas primer tulang yang paling sering dengan
prognosis yang buruk. Kebanyakan penderita berumur antara 10-25
tahun. Jumlah kasus meningkat lagi setelah umur 50 tahun yang
disebabkan oleh adanya degenerasi maligna, terutama penyakit
Paget.8
Paling sering ditemukan sekitar lutut, yaitu lebih dari 50 %. Tulang-
tulang yang sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal,
humerus proksimal, dan pelvis.Pada tulang panjang, tumor biasanya
mengenai metafisis.Garis epifiser merupakan barrier dan tumor jarang
menembusnya. Metastasis cepat terjadi secara hematogen, biasanya ke
dalam paru.8
Gambaran radiologik : tampak tanda-tanda destruksi tulang yang
berawal pada medula dan terlihat sebagai daerah yang radio lusen
dengan batas yang tidak tegas. Pada stadium yang masih dini terlihat
reaksi periosteal yang gambarannya dapat lamelar atau seperti garis-
garis tegak lurus pada tulang (sunray appearance). Dengan
membesarnya tumor, selain korteks juga tulang subperiosteal akan

21
dirusak oleh tumor yang meluas ke luar tulang. Dari reaksi periosteal
itu hanya sisanya yaitu pada tepi yang masih dapat dilihat, berbentuk
segi tiga dan dikenal sebagai segi tiga Codman.Pada kebanyakan
tumor ini terjadi penulangan (ossifikasi) dalam jaringan tumor
sehingga gambaran radiologiknya variabel bergantung pada banyak
sedikitnya penulangan yang terjadi. Pada stadium dini gambaran
tumor ini sukar dibedakan dengan osteomielitis.8

Gambar 9. Osteosarkoma8

2.5.10 SARKOMA EWING


Tumor ganas primer ini paling sering mengenai tulang panjang,
kebanyakan pada diafisis.Tulang yang juga sering terkena adalah
pelvis dan tulang iga. Kira-kira 75 % dari penderita dibawah umur 20
tahun, paling sering umur 5-15 tahun.8
Metastasis terjadi cepat secara hematogen ke paru-paru atau tulang-
tulang lainnya di mana gambaran metastasisnya mirip dengan tumor
primernya.8
Tumor ini sensitif terhadap terapi penyinaran, tetapi tidak kurabel.
Sifat radio sensitif ini penting untuk diagnostik.8
Gambaran radiologik : tampak lesi destruktif yang bersifat infiltratif
yang berawal di medula; pada foto terlihat sebagai daerah daerah
radiolusen. Tumor cepat merusak korteks dan tampak reaksi

22
periosteal. Kadang-kadang reaksi periostealnya tampak sebagai garis-
garis yang berlapis-lapis menyerupai kulit bawang dan dikenal sebagai
onion peel appearance. Gambaran ini pernah dianggap patognomonis
untuk tumor ini, tetapi ternyata bisa dijumpai pada lesi tulang lain.8
Tumor membesar dengan cepat, biasanya dalam beberapa minggu
tampak destruksi tulang yang luas dan pembengkakan jaringan lunak
yang besar karena infiltrasi tumor ke jaringan sekitar tulang.Kadang-
kadang tumor ini pada metafisis tulang panjang sehingga sukar
dibedakan dengan osteosarkoma. Juga tumor ini kadang-kadang
memberikan gambaran radiologik yang sukar dibedakan dengan
osteomielitis.8

23
Gambar 10. Sarkoma Ewing8

2.5.11 SIMPLE BONE CYST


Kista tulang ini bukan neoplasma tetapi gambaran radiologiknya mirip
dengan tumor jinak tulang.Selalu soliter dan biasanya ditemukan pada
metafisis proksimal humerus, femur, atau tibia. Etiologinya tidak
diketahui.8
Gambaran radiologik: tampak bayangan radiolusen pada tulang
dengan batas tegas dan tepi sklerotik. Korteks menipis dan kadang-
kadang mengembung keluar. Lesi dapat unilokuler atau multilokuler.8

24
Gambar 11. Simple Bone Cyst8

2.5.12 ANEURYSMAL BONE CYST


Kelainan ini bukan neoplasma.Etiologinya tidak diketahi, diduga
kelainan vaskular yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah.
Kira-kira 70 % lesi ini dijumpai pada usia 5-20 tahun. Kelainan ini
dapat ditemukan pada tiap bagian dari skelet. Pada tulang panjang
biasanya di daerah metafisis.8
Gambaran radiologik : tampak daerah radiolusen pada tulang yang
memberi kesan adanya destruksi tulang. Lesi bersifat ekspansif,
korteks menjadi sangat tipis dan mengembung keluar.Gambaran
sangat mirip dengan giant cell tumor. Batas lesi tegas dan seringkali
disertai tepi sklerotik; sifat-sifat ini penting untuk membedakannya
dari giant cell tumor yang mempunyai batas tidak tegas.8

25
Gambar 12. Aneurysmal Bone Cyst8

2.6 Pemeriksaan penunjang


2.6.1 Xray / sinar-X polos
Semua pasien dengan kecurigaan lesi tulang harus diselidiki dengan sinar-
X polos. Disana mungkin menjadi kelainan yang jelas pada tulang, seperti
penebalan kortikal, 'kista', atau kerusakan yang tidak jelas. Lokasi di dalam
tulang dan apakah lesi itu soliter atau multipel harus dicatat. Pinggiran lesi,
apakah itu terdefinisi dengan baik atau tidak jelas, juga harus diperhatikan.
Saat menilai lesi yang mencurigakan pada rontgen, ada adalah sejumlah
pertanyaan yang harus ditanyakan. Dalam sebagian besar kasus, stimulus
untuk lebih lanjut investigasi dan penilaian awal sifatnya lesi dapat dibuat
dari sinar-X polos. Pada lesi tulang tertentu, rontgen mungkin
menggambarkan gambaran patognomonik dari diagnosis (mis.
osteochondroma, fibroma yang tidak mengeras, osteoma osteoid).10

26
2.6.2 Radionuclide scanning / Pemindaian radionuklida
Pemindaian dengan 99mTc-methyl diphosphonate (99mTcMDP)
menunjukkan perubahan reaktif yang tidak spesifik pada tulang yang dapat
membantu dalam mengungkapkan situs kecil tumor (mis. osteoma
osteoid). Skintigrafi kerangka juga berguna untuk mendeteksi lesi lewati
dan bukti penyakit metastasis sebagai bagian dari proses pementasan
awal.10
2.6.3 CT Scan / Tomografi terkomputasi
CT memperluas jangkauan diagnosis sinar-X; itu menunjukkan lebih
akurat baik perpanjangan tumor intraosseous dan ekstraosseous dan
hubungannya dengan struktur sekitarnya. CT sangat penting untuk
diselesaikan pementasan sistemik dan pementasan ulang dalam sarkoma
tulang dan softtissue dan penyakit metastasis untuk mengidentifikasi
metastasis paru.10
2.6.4 Magnetic resonance imaging
MRI memungkinkan karakterisasi lebih lanjut dari lesi dan mendefinisikan
luasnya lesi. Nilai terbesarnya berada dalam penilaian penyebaran tumor:
(a) di dalam tulang, (b) ke dalam sendi terdekat, dan (c) ke dalam jaringan
lunak. Pembuluh darah dan hubungan tumor ke ruang perivaskular
didefinisikan dengan baik, yang membantu sangat dalam penilaian pra
operasi dan prediksi margin reseksi untuk operasi penyelamatan
ekstremitas. MRI adalah juga berguna dalam menilai tumor jaringan lunak
dan lesi kartilaginosa. Ini mungkin menunjukkan fitur yang konsisten
dalam lesi tertentu (mis. Tingkat cairan-cairan dalam kista tulang
aneurysmal (ABC) atau osteosarkoma telangiectatic).10

27
2.7 Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :4,7
a. Gangguan produksi antibodi.
b. Infeksi akibat kerusakan sumsum tulang.
c. Fraktur patologik.
d. Gangguan hematologik.

28
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif dimana sel-
selnya tidak pernah menjadi dewasa. Tumor tulang primer merupakan tumor
tulang dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk jaringan
tulang, sedangkan tumor tulang sekunder adalah anak sebar tumor ganas organ
non tulang yang bermetastasis ke tulang.
Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif,
dimana sel-sel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. Dengan istilah lain yang
sering digunakan “Tumor Tulang”, yaitu pertumbuhan abnormal pada tulang
yang bisa jinak atau ganas.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
Jakarta : EGC
2. Rasjad, Choiruddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar :
Bintang Lamimpatue
3. Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
4. Gole, Danielle & Jane Chorette. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan
Onkologi. Jakarta : EGC
5. Otto, Shirley E. 2003. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC
6. Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
7. Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta : EGC
8. Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik. Jakarta : Badan Penerbit FK
UI.
9. Gereige, R. and Kumar, M. 2010. Bone Lesions: Benign and Malignant.
Article musculoskeletal. Pediatrics in Review, 31: 355–362.
10. Appley, A.G & Solomon. 2010. Orthopedi dan Fraktur Sistem Appley.
Jakarta: Widya Medika

30