Anda di halaman 1dari 7

PENINGKATAN NILAI TAMBAH BAUKSIT

1. Pendahuluan
Bauksit merupakan bahan tambang yang tersusun dari berbagai jenis
mineral alumunium oksida yang mengandung mineral pengotor yang bermacam-
macam. Bauksit berasal dari nama lokasi yang bernama Les Baux di Province,
Perancis, yang ditemukan pada tahun 1821.
Bauksit terbagi menjadi tiga macam yaitu Gibsite (Al203 H20) atau Al(OH)3,
bohmit (Al203 H2O) atau AlOOH, dan Diaspore( Al2O3 H2O), dari ketiga jenis
tersebut memiliki perbedaan dari segi bentuk fisik maupun sifat kimianya.
Kandungan alumina dari Gibsite, bohmit dan Diaspore adalah 65,4%, 85% dan
85%. Mineral pengotor dalam bauksit yaitu oksida dari kalsium (Ca), Magnesium
(Mg), Galium (Ga), Kromium (Cr), Mangan (Mn), dan Fospor (F).
Bauksit yang memiliki kandungan alumunium tinggi biasanya diolah
dengan menggunakan metode bayer. Warna bauksit bervariasi mulai dari merah
tua, coklat, pink dan putih tergantung jumlah pengotor besi yang ada. Bila
berwarna putih menunjukan bahwa kandungan alumina hidroksida tinggi, dan
jika coklat tua berarti kandungan besi tinggi.
Bauksit digunakan sebagai bahan bahan baku pembuatan bata tahan api,
castables, monoliths, mulith tiruan dan semen. Selain itu dapat digunakan juga
sebagai campuran bahan kimia dikarenakan memiliki kandungan alumina yang
tinggi misalnya koagulan berupa produk tawas, fero sulfat, besi klorida, poli
alumunium klorida (PAC) dan poli aluminium silikat sulfat (PASS) yang banyak
dimanfaatkan sebagai penjernih air.

2. Kondisi Sekarang
2.1. Sumberdaya Bijih Bauksit
Endapan bauksit di Indonesia tersebar di wilayah Kepulauan Riau (Bukit
Galang dan Pari), Bangka dan Kalimantan Barat (Tayan dan Toba) dengan total
cadangan terukur sebesar 907.843.757 ton (Kepulauan Riau dan Kalimantan
Barat), cadangan tereka sebesar 3.100.000 ton (Bangka) dan cadangan hipotetik
sebesar 13.500.000 ton (Bangka).
Tabel 1. Jumlah Sumberdaya dan cadangan Bauksit
Bauksit
No Provinsi Sumberdaya (ton) Cadangan (ton)
Bijih Logam Bijih Logam
1 Kep. Riau 130281113 63960985 15700000 8119500
2 Bangka Belitung 0 0 3100000 852500
3 Kalimantan Barat 496336397 185706422 142803546 56193471
TOTAL 626617510 249667407 161603546 65165471

2.2. Pasokan dan Kebutuhan (Supply Demand Bauksit Nasional dan


Internasional)
2.2.1 Produksi, Penjualan dan Ekspor
Pada mulanya eksploitasi bauksit dilakukan di Kepulauan Riau, terutama
di Pulau Bintan, Kecamatan Kijang. Sejalan dengan penyerahan perijinan
kegiatan pertambangan di daerah, kegiatan pertambangan bauksit meluas ke
wilayah Kalimantan Barat.
Bauksit dari Pulau Kijang, Kep. Rau sudah dieksploitasi oleh PT. Antam
sejak tahun 1935. Sedangkan endapan bauksit yang terdapat di Kalimantan
Barat baru sampai tahap eksplorasi. Metode penambangan yang dilakukan
adalah dengan cara tambang terbuka, cara pengolahannya hanya dengan
pencucian yang menghasilkan.

Tabel. 2 Produksi Nasional Bauksit


Comodity Unit 2004 2005 2006 2007 2008
Bauksit mton 1330827 1441899 1500339 15406045 13005502

2.2.2 Penjualan Domestik dan Eksplor Tabel. 3 Penjualan Domestik Bauksit

Tabel. 3 Penjualan Domestik Bauksit


Comodity Unit 2004 2005 2006 2007 2008
Bauksit wton - - - 25762 102326
Tabel. 4 Penjualan Domestik Bauksit
Comodity Unit 2004 2005 2006 2007 2008
Bauksit mton 1326559 1617566 1536542 17031809 12480312

2.3. Pengolahan Bijih Bauksit


Bijih bauksit diolah dengan menggunakan crushing dan washing. Bijih
bauksit yang telah di tambang kemudian di hancurkan hingga ukurannya menjadi
lebih kecil sekitar ukuran batu split atau 5 x 7cm. Kemudian dilakukan pencucian
pada alat washing plant dengan tujuan agar terpisah dari mineral pengotor yang
berupa lempung.
Kemudian dilakukan proses bayer dengan tujuan untuk menghasilkan
alumina yang memiliki nilai tambah sekitar 8x dari bahan nbakunya. Setelah
alumina terpisah kemudian dilakukan proses peleburan dengan tujuan untuk
meningkatkan nilai tambah kadar hingga 30x dari bauksitnya.

3. Teknologi dan Keekonomian Pengolahan Bijih Bauksit


3.1. Teknologi
Al(OH)3 dibuat dari bauksit dengan metode bayer, bauksit hasil
penggerusan dilarutkan dengan soda kostik berkonsentrasi 100-300 g/dm3,
dalam keadaan bertekanan dengan rentang suhu 140-2800C. Soda kostik hanya
melarutkan alumina, sehingga pengotor dapat terpisah dengan proses filtrasi
untuk mendapatkan aluminium hidroksida, bila perlu larutan diencerkan dengan
soda kostik, kemudian larutan di dinginkan hingga suhu 50-700C. Larutan
tersebut dicampurkan dengan larutan seed partikel gibsite yang di-recycle
sampai 4x berat alumina yang terlarut dan diaduk dalam crystalizer selama 3
hari. Produk sluri kemudian melalui tahap klasifikasi sehingga fraksi kasar dapat
terpisah dan dilanjutkan keproses berikutnya, sedangkan fraksi halus di-recycle
untuk melewati proses kristalisasi berikutnya.
Berikut ini merupakan tahapan proses:
 Bauksit digerus sampai berukuran -100 mesh. Menurut Peter, 1984
bauksit sebagai bahan baku untuk memproduksi aluminium harus
memiliki komposisi kimia sebagai berikut alumina 50-55%, silika 0-15%,
besi oksida 5-30% dan titan oksida 0-6%. Sedangkan bauksit untuk
chemical grade alumina memiliki kualitas yang lebih tinggi yaitu Al2O3
minimum 55%, silika 5-18%, besi oksida max 2% dan titan oksida 0-6%.
 Bauksit halus dilarutkan pada kondisi bertekanan, suhu 140-2800C
dengan larutan soda kostik hasil yang di-recycle setelah dipekatkan dan
lime serta soda ash secukupnya (larutan mengandung 100-300 h/l soda).
 Sodium aluminat yang dihasilkan dan silika terlarut terpresipitasi sebagai
sodium aluminium silikat.
 Residu tidak larut (red mud) dipisahkan atau di-filtrasi dari larutan alumina
dan dicuci, kemudian dikirim untuk di-recover. Thickener dan filter yang
dipakai jenisnya drum filter/kelly.
 Larutan sodium aluminat hasil filtrasi di hidrolisa dan ditambah seed dari
gibbsite untuk mempresipitasi Al(OH)3 dengan cara pendinginan pada
suhu antara 50-700C.
 Presipitasi disaring dari larutan, kemudian dicuci.
 Al(OH)3 dikalsinasi pada suhu 9800C dalam rotary kiln.
 Alumina didinginkan dan diangkut ke reduction plan.
 Soda kostik encer yang sudah dipisahkan dari A(OH)3 dipekatkan untuk
dipergunakan kembali.
 Red mud dapat diolah kembali untuk diambil kandungan aluminanya.
Proses kontrol pada rentetan tahapan tersebut sangat penting, sebab
dalam setiap tahapannya dapat menentuikan kualitas dari sifat fisik serta sifat
kimia yang didaptkan.

4. Dampak Industri Pengolahan Bauksit Pada Perekonomian


Nasional.
Pengolahan bijih alumina menjadi bijih logam aluminium akan
menghasilkan bebebrapa manfaat, diantaranya:
 Kebutuhan akan bahan baku dalam pembuatan bahan baku yang
memerlukan bahan aluminium akan terpenuhi dengan baik, dengan
pemanfaatan bijih bauksit lokal sehingga menghasilkan pemnghematan
devisa.
 Dihasilkan devisa dari aktivitas ekspor produk kimia berbasis alumina
maupun logam alumunium.
 Diperkirakan 1600 pekerja akan dilibatkan dari aktivitas pendirian
pengolahan bijih bauksi.
 Pemerintah mendapatkan penerimaan baik dari pajak ataupun royalti.
4.1. Strategi dalam Konservasi SDA
Konservasi bahan galian merupakan suatu bagian kebijakan dalam
pengolahan bahan galianyang difokuskan pada optimalisasi manfaat dan
meminimaliris dampat negatif dari suatu usaha pertambanagan sehingga nilai
tambah dapat meningkat dan nilai ekonomi akan bertambah pula. Didalam
kerangka optimalisasi manfaat bahan galian terdapat upaya, pemeliharaan,
proteksi dan pengolahan serta peningkatan nilai tambah terhadap bahan galian
tersebut.
 Endapan bauksit terdapat pada area pelamparan yang sangat luas,
sebagai akibatnya akan mimiliki beragam kadar yang ebrbeda-beda
sehingga memerlukan perlakuan khusu dalam proses penentuan kadar
dari bahan galian tersebut.
 Sistem penambangan bauksit adalah dengan cara tambang terbuka,
karena itu setelah kegiatan penambangan selesai maka diperlukan
kegiatan reklamasi serta revegetasi karena akibat penambangan akan
mengubah kondisi dan bentuk tanah dari keadaan semula.
 Penggunaan metoda penambangan dan pengolahan yang tidak sesuai
dengan pencapaian tujuan ekonomis sering meninggalkan cadangan
yang masih memungkinkan untuk ditambang dengan metoda lainnya.
 Dalam pengolahannya terdapat berbagai mineral ikatan lainnya seperti
rutil, zirkon dan lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai nilai tambah
untuk dipergunakan dalam keperluan teknologi tinggi sehingga perlu
diperhitungkan atau dikaji pemanfaatannya.

5. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan


 Saat ini sudah ada industri yang memproduksi logam aluminium (PT.
Inalum) yang masih menggunkan bahan baku alumina impor. Sebaliknya
Indonesia saat ini mengekspor bauksit dan belum memiliki industri
alumina.
 Mata rantai terputus ini dapat dijadikan peluang untuk mendirikan pabrik
alumina di Indonesia.
 Indonesia juga belum memiliki pabrik Al- alloy sehingga aluminium dari
PT. Inalum sebagian besar diekspor dan dibuat alloy di luar negeri yang
produknya masuk kembali ke Indonesia sebagai bahan baku pembuatan
berbagai produk berbasis aluminium.
 Pendirian pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina dan pendirian
pabrik Al-alloy memerlukan dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan
yang kondusif, finansial yang memadai, kondisi fiskal yang stabil,
meminimalisasi head cost, kepstian hukum, kestabilan politik dan
ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007a, Alumina Process, http://www.gal.com.au//, diakses 30 April 2007


Anonim, 2007b, Bauxite-wikipedia, the free encyclopedia,htmm diakses 30 April
2007
Anonim, 2009, Aluminium,
http://www.mtm.kuleuven.ac.be/education/nonMatlrCourses/Mat/5C%20
Aluminium.doc, diakses 17 Juni 2009
Anonim, 2009c, bauxitemineral, bauxite information, uses of bauxite, bauxite
supplier, htm, diakses 17 Juni 2009.