Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KIMIA ZAT WARNA

ZAT WARNA AZO ( DISPERS DAN BASA)

Di susun oleh :
Kelompok 10
Aneistasia Meithree A (16020067)
Nabila Maulidiyah (16020068)
Nur Azizah Nasution (16020088)
Jumaira (16020092)
Reski Alya Pradifta (16020106)
M. Ridho Baskoro (16020126)

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zat warna sintetik merupakan salah satu zat warna yang banyak digunakan dalam
industri tekstil. Hal ini disebabkan karena zat warna sintetik lebih murah, penggunaannya
lebih praktis, tidak mudah luntur, dan warnanya lebih bervariasi daripada zat warna alam.
Molekul zat warna tekstil terdiri dari kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom
sebagai pengikat warna dengan serat (Manurung dkk, 2004). Beberapa kromofor yang
umum diantaranya gugus nitroso, nitro, azo, etilen, dan karbonil, sedangkan auksokrom
diantaranya gugus amina, karboksil, metoksil, sulfonat, dan hidroksil.
Sekitar 60%70% zat warna yang digunakan dalam pencelupan tekstil adalah zat
warna sintetik golongan azo dan turunannya. Zat warna azo banyak digunakan dalam
pencelupan kain terutama kain dari serat selulosa, rayon, dan wool. Hal ini karena zat warna
azo dapat terikat kuat pada kain, sehingga tidak mudah luntur dan memberikan warna yang
baik (Blackburn dan Burkinshaw, 2002). Zat warna azo tidak mudah rusak oleh perlakuan
kimia, sehingga jika terbuang ke lingkungan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup
lama serta dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Senyawa golongan azo memiliki paling sedikit satu ikatan N=N. Zat warna azo
dikelompokkan menjadi monoazo, diazo, triazo, dan poliazo. Zat warna monoazo hanya
memiliki satu ikatan N=N, sementara diazo, triazo, dan poliazo, masing-masing memiliki
dua, tiga atau lebih ikatan N=N. Gugus azo umumnya berikatan dengan benzena atau
naftalena.
Keberadaan zat warna dalam perairan dapat menghambat masuknya sinar matahari ke
dalam air, sehingga mengganggu aktivitas fotosintesis mikroalga. Dampak lanjutannya
adalah pasokan oksigen dalam air menjadi berkurang serta memicu aktivitas mikroorganisme
anaerob yang menghasilkan produk berbau tak sedap. Selain itu, perombakan zat warna azo
secara anaerob pada dasar perairan menghasilkan senyawa amina aromatik yang lebih toksik
dibandingkan dengan zat warna azo (Van der Zee, 2002).
Salah satu zat warna azo yang banyak digunakan dalam industri pencelupan tekstil
adalah zat warna remazol black B. Zat warna ini dikenal juga dengan nama C.I. reactive
black 5 memiliki massa molekul relatif sebesar 991 dan panjang gelombang maksimumnya
597 nm. Zat warna ini digunakan sebagai pewarna biru pada industri tekstil. Selain itu, zat
warna ini biasanya dicampur dengan zat warna lain untuk membuat jenis warna yang baru.
Zat warna remazol black B termasuk zat warna diazo karena memiliki dua ikatan N=N.
BAB II
ISI

2.1 Pengertian zat warna

Zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi warna
ke suatu objek atau suatu kain. Sejarah zat warna bermula pada zaman
prasejarah. Indigo merupakan zat warna tertua, zat ini digunakan oleh orang Mesir kuno
untuk mewarnai pakaian mumi. Ungu Tirus yang diperoleh dari siput Murex dijumpai di
dekat kota Tirus, digunakan oleh orang Romawi untuk mewarnai jubah
maharaja.Alizarin disebut juga merah Turki, diperoleh dari akar pohon madder dan dalam
abad 18 dan 19 digunakan untuk mewarnai baju merah prajurit Inggris.
Terdapat banyak sekali senyawa organik berwarna, namun hanya beberapa yang
sesuai untuk zat warna. Agar dapat digunakan sebagai pewarna, senyawa itu harus tidak
luntur (tetap pada kain selama pencucian), untuk zat tersebut harus terikat pada kain dengan
satu atau lain cara. Suatu kain yang terbuat dari serat polipropilena atau hidrokarbon yang
serupa, sukar untuk diwarnai karena tidak memiliki gugus fungsional untuk menarik molekul-
molekul zat warna. Namun kain ini dapat diwarnai dengan berhasil dengan memasukkan
suatu kompleks logam zat warna kedalam polimer itu. Mewarnai kapas (selulosa) lebih
mudah karena ikatan hidrogen antara gugus hidroksil satuan glukosa dan gugus molekul zat
warna akan mengikat zat warna itu pada pakaian. Serat polipeptida, seperti wol atau sutera,
merupakan tekstil yang paling gampang untukvdiwarnai karena mereka mengandung
banyak gugus polar yang dapat berinteraksi dengan molekul zat warna.
Suatu zat warna langsung ialah zat warna yang diaplikasikan lansung ke kain dari
dalam suatu larutan (air) panas. Jika tekstil yang akan diwarnai itu mempunyai gugus polar,
seperti dalam serat peptide, maka dengan memasukkan suati zat warna, baik dengan suatu
gugus amino maupun dengan suatu gugus asam kuat akan menyebabkan zat warna itu tidak
luntur. Kuning Martius adalah suatu zat warna langsung yang lazim. Gugus fenol yang asam
dalam kuning Martius bereasi dengan rantai samping yang basa dalam wol ataupun sutera.
Suatu zat warna tong (vat dye) adalah suatu zat warna yang diaplikasikan pada
tekstil dalam bentuk terlarut. Baju biru yang dikirim oleh orang-orang Perancis kepada orang
Amerika dalam Revolusi Amerika diwarnai dengan indigo, suatu zat warna tong yang lazim.
Indigo diperoleh dari fermentasi suatu tumbuhan woad (Isatis tincoria) di Eropa barat atau
tumbuhan spesi indigofera, yang tumbuh di Negara-negara tropis. Kedua tanaman ini
mengandung glukosida indikan, yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa dan indoksil, suatu
prekursor (zat pendahulu) yang tak berwarna dari indigo. Tekstil direndam dalam campuran
fermentasi yang mengandung indoksil, kemudian dibiarkan kering di udara. Oksida indoksil
oleh udara menghasilkan indigo yang tidak larut dan berwarna biru. Indigo mengendap dalam
bentuk cis, yang mengalami isomerisasi sertamerta menjadi isomer-trans.
Suatu zat warna mordan (mordant) adalah zat warna yang dibuat tak larut pada suatu
tekstil dengan mengkomplekskan atau menyepit (chelation) dengan suatu ion logan , yang
disebut mordan (mordant: Latin : mordere, “menggigit”). Mula-mula tekstil itu di olah
dengan suatu garam logam (seperti Al, Cu, Co, atau Cr), kemuian diolah dengan suatu bentuk
larut dari zat warna itu. Reaksi penyepitan pada permukaan tekstil akan menghasilkan zat
warna permanen. Salah satu zat warna mordan tertua ialah alizarin, yang membentuk warna
berlainan bergantung ion logam yang digunakan. Misalnya, alizarin memberikan suatu warna
merah-mawar dengan Al3+ dan warna biru dengan Ba2+.
Zat warna azo merupakan kelas zat yang terbesar dan terpenting, jumlahnya
mencapai ribuan. Dalam pewarnaan azo, mula-mula tekstil itu dibasahi dengan senyawa
aromatik yang terakaktifkan terhadap subtitusi elektrofilik, kemudian diolah dengan suatu
garam diazonium untuk membentuk zat warna.

2.2 Zat Warna Azo

Disebut zat warna azo karena dalam strukturnya terdapat kromofor jenis azo (-N=N-)
yang berikatan dengan sistem aromatik.

Zat warna jenis azo dapat berupa monoazo, diazo, triazo, dan poliazo. Adanya satu
atau lebih gugus azo pada zat warna azo tersebut biasanya berkait erat dengan karakter zat
warnanya. Sebagai contoh makin besar struktur zat warnanya maka substansifitasnya dan
tahan lunturnya umumnya makin besar. selain itu, corak warnanya makin bergeser ke warna
dengan ʎ maksimum yang makin besar, tetapi kecerahannya makin rendah. Sifat dan warna
zat warna azo juga bergantung pada jenis auksokrom yang ada pada struktur zat warna
tersebut. Oleh karena itu sebelum membuat zat warna azo perlu ditetapkan struktur zat warna
azo yang akan dibuat agar zat warna yang dihasilkan mempunyai sifat dan warna yang dapat
diprediksi sesuai yang diinginkan.
Zat warna azo sering digunakan pada hampir seluruh jenis zat warna terutama
zat warna asam, reaktif, direk, dispersi, dan basa. Tetapi tidak digunakan untuk membuat zat
warna bejana, bejana larut/belerang, karena kelemahan dari zat warna azo adalah gugus
azonya mudah rusak oleh reduktor. Variasi corak warnanya sangat lengkap mulai dari warna
kuning hingga biru, dan intensitas warnanya kuat. Kecerahan warnanya tinggi, terutama
untuk zat warna monoazo dan diazo.

Proses pembuatan zat warna azo relatif sederhana yaitu melalui proses diazotasi dan
kopling. Sehingga harganya relatif murah.

2.3 Mekanisme Proses Diazotasi dan Proses kopling

Tahapan utama proses pembuatan zat warna azo adalah proses diazotasi dan proses
kopling. Proses diazotasi adalah proses pembentukan garam diazonium yang dibuat dari
senyawa amina aromatik primer (komponen diazotasi). Setelah terbentuk garam diazonium
selanjutnya dilakukan proses kopling antara garam diazonium dan komponen kopling
sehingga terbentuk zat warna azo.

Guna mendapatkan struktur zat warna azo yang diinginkan, terhadap komponen
diazotasi dan komponen kopling (sebelum proses diazotasi dan proses kopling) dapat
dilakukan proses tambahan seperti proses aselasi, asetilasi, sulfonasi, nitrasi, dan proses
lainnya.

Setelah proses kopling selesai, kemudian dilakukan proses akhir yang meliputi proses
pembuatan zat warna bubuk berupa proses salting out, pengeringan, proses penambahan
aditif (blending), proses standarisasi intensitas, dan corak warna, dan proses evaluasi hasil.

2.3.1 Proses Diazotasi

Reaksi diazotasi secara sederhana dapat ditulis sebagai berikut:

HX adalah asam seperti HCl yang berguna untuk melutkan senyawa arilamin dan bersama
natrium nitrit berguna untuk membentuk zat warna penitrosasi, oleh karna itu jumlah
pemakaiannya harus disesuaikan dengan jenis komponen diazo (senyawa arilamin) yang
dipakai dan harus sedikit berlebih.

Mekaninsme Proses Diazotasi

X-NO adalah penitrosasi seperti asam nitrit (HO-NO), nitorsil klorida (Cl-NO),
dinitrogen trioksida (O2N-NO), dan ion nitrosonium (NO+) atau ion asidium nitrit
(H2NO2) yang mungkin ada dalam suatu larutan yang mengandung asam nitrit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses diazotasi

 Konsentrasi komponen diazo (senyawa aril-amin) dan konsentrasi zat


penitrosasi
Tahap pembentukan zat penitrosasi dan masuknya zat tersebut menyerang
gugus amin merupakan tahapan yang paling lambat sehingga tahap tersebut
yang menentukan laju reaksi diazotasi. Oleh karena itu konsentrasi kmonen
diazo (senyawa arilamin) dan knsentrasi zat penitrosasi sangat mempengaruhi
laju reaksi.
 Katalis dan konsentrasi ion klorida
Konsentrasi berbagai zat penitrosasi yang dapat terbentuk dalam larutan yang
mengandung asam nitrit sangat dipengaruhi oleh konsetrasi ion lain seperti ion
klorida atau senyawa lain yang ada dalam larutan yang bersifat mengkatalisa
reaksi seperti tiourea.
 Jenis komponen diazo (senyawa arilamina primer)
Gugus-gugus yang ada pada komponen diazo (senyawa arilamina primer) juga
mempengaruhi laju reaksi. Gugus pemberi elekton seperti gugus –OH -NH2
yang ada pada senyawa arilamin akan mempercepat dan memudahkan proses
diazotasi. Selain itu garam diazonium (Ar-N+ = NX’) yang dihasilkannya
relatif lebih stabil. Sebaliknya, adanya gugus penarik elektron seperti –SO3H
dan –NO2 pada senyawa arilamina akan memperlambat proses diazotasi dan
garam diazoniumnya kurang stabil.
 Suhu
Kestabilan garam diazonium yang dihasilkan akan menentukan suhu proses
diazotasi, secara umum proses diazotasi dilakukan pada suhu 0-5˚C. Karena
garam diazonium umumnya relatif tidak stabil dan mudah rusak terhidrolisis.
Hal tersebut terjadi karena N2 merupakan gugus lepas yang baik.

Ar-N+ = NCl- + H2O  Ar-Cl + N2 + HCl

 pH larutan diazotasi
pH larutan diazotasi dan metoda proses diazotasi sangat bergantung pada
komponen diazo yang digunakan ketidakcocokan pH dapat menghambat
proses, dan menimbulkan ketidakmurnian hasil.

Metoda Proses Diazotasi

Diazotasi terhadap komponen diazo dapat dikerjakan dengan metode langsung


inversi(kebalikan) atau penambahan asam sulfat pekat. Metoda bergantung pada sifat
komponen diazo.

 Metoda langsung
Untuk diazotasi terhadap komponen yang mudah larut dalam asam
mineral lemah (anilin dan turunannya) mempunyai gugus sederhana (alkil,
alkoksi, kloro) dapat digunakan metoda langsung metoda ini dapat digunakan
untuk diazotasi naftilamin sederhana dan turunan bensidin.
Urutan prosesnya, komponen diazo ditambah 2,25 ekuivalen asam
mineral (HCl) dan es hingga suhunya 0-5˚C lalu ditambah NaNO2 yang
dengan HCl segera terbentuk asam nitrit sebagai zat penitrosasi sehingga
seluruh komponen diazo terdiazotasi menjadi garam diazonium.
Penambahan NaNO2 harus tepat, jika kekurangan menyebabkan
adanya arilamin yang tidak terdiazotasi yang menjadi produk samping karena
dapat terjadi mopling dengan garam diazonium yang membentuk senyawa
diazoamina. Jika berlebih akan mengganggu proses kopling terutama jika
suasananya asam karena dapat mendiazotasi sebagai komponen koling yang
ditambahkan. Oleh karena itu pada akhir proses perlu pemeriksaan dengan
kertas kanji yang akan berwarna biru cerah bila masih ada asam nitrit.
Untuk komponen diazo yang sukar larut dalam suasana asam proses
diazotasinya dibalik yaitu dilarutkan dengan alkali encer ditambah natrium
nitrit ditambah HCl dan es sampai membentuk garam diazonium.

 Metoda asam sulfat pekat


Komponen diazo yang kebasaannya lemah dilarutkan pada pH rendah dan
penmabhan asam sulfat pekat. Urutan prosesnya natrium nitrit dilarutkan pada
asam sulfat pekat dipanaskan sampai 70˚c sehingga terbentuk asam
nitrosilsulfat, didinginkan dan ditambah komponen diazo dan es.

H2SO4 + NaNO2  NaHSO4 + HNO2


H2SO4 + HNO2  HO-SO2-O-NO + H2O

Garam diazonium yang terbentuk kebasaannya sangat lemah jadi kurang stabil
sehingga harus segera dilakukan proses kopling.

2.3.2 Proses kopling

Proses kopling adalah proses penggandaan antara komponen Kopling dengan garam
diazonium. Komponen kopling yang dapat digunakan dalam pembuatan zat warna azo
bermacam macam seperti asetoasetarilamida, piridon, pirazolon, fenol, aminofenol, naftol
dan naftilamin.

Mekanisme Proses Kopling

Garam diazonium yang terbentuk dari hasil proses diazotasi komponen dalam
(senyawa arilamina primer) meruypakan pereaksi yang bersifat elektrolit (E’); dalam reaksi
kopling dengan komponen kopling akan masuk ke pusat reaksi yang bermuatan negative.
Ar – N=NCl → Ar – N+=N + Cr

Ar – N+=N ←→ Ar – N = N+

Reaksi kopling antara garam diazonium dengan komponen kopling terjadi melalui
mekanisme subtitusi elektrofilik. Berikut ini contoh mekanisme reaksi kopling antara fenol
sebagian komponen kopling dengan satu garam diazonium.

Ar- N = N

OH + Ar – N = N+ → OH

Keadaan kompleks teraktifkan

→Ar – N = NN OH = H+

Tahap pembentukan keadaan kompleks teraktifkan merupakan tahapan yang paling


lambat, sehingga tahap ini menjadi tahap penentu laju proses kopling secara keseluruhan.
Muatan parsial negative pada fenol ada pada posisi orto dan fara sehingga garam
diazonium yang bersifat elektrofil akan masuk pada posisi tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Kopling

 Struktur komponen kopling

Karena mekanisme reaksi kopling termasuk reaksi substitusi elektrofilik, maka


efek gugus pemberi elektron seperti –CH3 , -C5H6 , -OCH3, -OH, -NH2, -NHR dan –
NR2 yang ada pada komponen kopling akan mengaktiasi reaksi kopling dan juga akan
berperan sebagai pengarah orto fara, sehingga garam diazonium sebagai elektrofl akan
masuk pada posisi orto atau fara dari gugus pemberi elektron tersebut.

Sebagai contoh kopling garam diazonium pada 2-naftol akan masuk pada
posisi 1 dan reaksi kopling pada naftol akan lebih cepat dari reaksi kopling pada fenol,
hal tersebut karena gugus penarik elektron pada naftol lebih banyak, dalam hal ini
gugus hidroksil dan lingkar bensenoid kedua pada 2-naftol akn berperan sebagai
guguspemberi elektron.

Dilain pihak bila garam diazonium dikoplingkan dengan komponen kopling


yang mengandung gugus penarik elektron seperti –CN, NO2, -COOH dan –SO3H,
maka gugus-gugus penarik elektron tersebut akan bersifat sebagai mendeaktifasi
reaksi dan pengaruh meta. Sebagai sebagai contoh bila nitrobensena dikoplingkan
dengan garam diazonium, maka kolping akan terjadi pada posisi meta dari reaksi
koplingnya jadi relatif lambat.

 Gugus-gugus yang ada di garam diazonium

Gugus penarik elektron seperti gugus –NO2, -SO3H, -COOH yang ada pada
garam diazonium akan menambah kereaktifan garam diazonium sehingga reaksi
koplingnya akan lebih cepat. Sedangkan adanya gugus pemberi elektron seperti
gugus –CH2, -OH, 0-NH2 pada garam diazonium akan mengurangi kereaktifan
garam diazonium sehingga reaksi koplingnya dengan komponen kopling akan lebih
lambat.

 pH

pH proses kopling ditentukan oleh pH larutan garam diazonium yang


umumnya asam ditambah dengan pH larutan komponen kopling yang bisa alkalis
maupun asam. Contoh komponen kopling nafol hanya larut dalam suasana alkali
sedangkan anilinlarut dalam suasana asam, ketika komponen kopling tersebut
dicampur dengan larutan garam diazonium dari anilin maka pH larutan kopling akan
bervariasi dari agak asam hingga agak alkalis. Jadi pH proses kopling tergantung pada
jenis komponen kopling dan jenis komponen diazo atau garam diazoniumnya.

Nilai pH larutan kopling juga akan menentukan kecepatan reaksi kopling,


rendemen nytaa serta arah/posisi penggandengan garam diazonium pada komponen
kopling

Komponen kopling

Komponen kopling yang berguna dalam proses pembuatan zat warna azo mencakup
sebagai jenis zat kimia, umumnya mengandung sistem keto enol, suatu gugus hidroksi atau
gugus amina. Berikut ini akan disajikan bahasan singkat beberapa zat yang dapat digunakan
sebagai komponen kopling.
 Aseloaselarilamida

Komponen kopling aseloaselarilamida mempunyai sturktur umum sebagai berikut

Ar –NH –CO CH3-CO-CH3

Gambar 3.5 Aseloaselarilamida

Ar adalah senyawa aromatik, biasanya senyawa bensenoid yang juga dapat


mengandung berbagai substituen, dan tanda panah menunjukkan tempat terjadinya proses
kopling dengan garam diazonium.

Zat tersebut pada awalnya dibuat dari hasil reaksi suatu anil amin (Ar-NH2) dengan
etil aseto asetat (EtOOC-CH2 – COCH2), namun saat ini banyak dibuat dan hasil reaksi suatu
anil amln dengan senyawa diketen sebagai berikut.

Gugus metilen yang diapit dua gugus karbonil yang bersifat sebagai penarik elektron
menyebabkan mudah keluarnya proton dari gugus metilen. Sehingga aseloaselarilamida akan
terdelokalisasi sebagi berikut.

Sehingga atom karbon pada gugus metilen yang diapit dua gugus karbonil tersebut
menjadi kaya elktron, akibatnya pada proses kopling dengan suatu garam diazonium garam
tersebut akan masuk pada karbon tersebut.

Hasil proses kopling senyawa anil amin sederhan yang sudah diazotasi dengan
aseloaselarilamida akan menghasilkan pigmen warna kuning kehijauan komponen kopling
tersebut khususnya dipakai untuk zat warn direk dan naftol

Stuktur komponen kopling lain yang mirip dengn aseloaselarilamida adalah asam
barbitural.
Proses kopling akan terjadipada atom karbon gugus metilen yang dapat oleh dua
gugus karbonil (ditandai anak panah).

piridon
Komponen kopling piridon dibuat dari hasil konensasi eter-malonat dengan suatub
alkilamin dan etil-sianoasetat sebagai berikut

(reaksi pembuatan piridon)


Tanda anak panah menunjukan tempat terjadinya kopling pada piridon. Komponen
kopling ini relative murah untuk pembuatan zat warna disperse dan reaktif dengan warna
kuning kehijauan.

 Pirazolon
Pirazolon merupakan komponen kopling yang paling umum digunakan untuk membuat
zat warna azo dengan warna kuning kehijauan. Pirazolon dibuat dari hasil kondensasi etil-
asetroasetat dan aril hidrazin sebagai berikut.

Karbon pada posisi 4 (ditandai anak panah) yang diapit oleh dua aton karbon tidak jenuh
menunjukan tempat terjaninya kopling pada pirazolon.

 Aminopirazol
Struktur 5-aminopirazol mirip mirip dengan pirazolon, tempat terjadinya kopling ada
pada atom karbon posisi 4 Dn hasil proses kopling dengan aminopirazol biasanya
memberikan zat warna azo kuning kehijauan, tetapi disbanding pirazolon komponen kopling
amino pirazol kurang banyak dipakai.
Amino pirazol biasanya diperoleh dari hasil kondensasi suatu aril hidrazin dengan
diasetonitril, dimana diasetonitrilnya diperoleh dari dimerisasi asetonitril dengan bantuan
katalis nikel, sebagai berikut.

 Fenol

Jika fenol dikoplingkan dengan garam diazonium pH 7-8 maka proses koplin terjadi
pada posisi 4 dari lingkar benzena membentuk turunan 4-azo dan pada posisi 2 membentuk
turunan 2-azo serta posisi 2 dan 4 membentuk turunan 2,4-disazo. Tetapi bila fenol
dikoplingkan berlebih garam diazonium pH netral maka menghasilkan turunan 2,4-disazo.

Fenol dikoplingkan dengan garam diazonium pada kondisi dangat alkali terbentuk 2-
arilazofenol, 4-arilazofenol, 2,4-disazo,2,4,6-trisazo. Oleh karena itu fenol tidak sering
digunakan sebagai komponen kopling karena hasilnya tidak murni.

 Turunan anilin

Anilin tidak efisien sebagai komponen kopling karena sebagai anilin yang sudah
kopling dapat kopling lagi membentuk komponen disazo sehingga hasilnya kurang murni.
Namun, dengan penambahan gugus pemberi elektron proses kopling lebih mudah

 Aminofenol

3-aminofenol merupakan zat warna azo yang berguna karena dapat dikoplingkan baik
pada posisi 2 atau 4. Zat ini sering digunakan sebagai kompnen kopling untuk zat warna yang
mengandung lebih dari 1 gugus azo.

 Naftol

Sifat naftol tidak lepas dari resonansinya dari sifat naftalen yang struktur resonansinya
sebagai berikut:
dari tiga struktur resonansi naftalen hanya struktur b yang kedua lingkarnya
benzenoid sedangkan struktur a c mempunyai satu lingkar bensenoid dan kuinoid sehingga
struktur a c kurang penting karena energi resonansinya kurang mendukung penstabilan energi
naftalen. Oleh karena itu, struktur naftalen yang lebih stabil adalah struktur b dengan karbon
posisi satu dan dua lebih bersifat ikatan ganda.

 Naftilamin

Dibanding anilin, aminonaftalen lebih mudah kopling dengan garam diazonium, hal tersebut
menyebabkan tidak perlunya penambahan gugus pemberi elektron lain untuk memperkuat
efek aktivasi dari gugus amina pada komponen kopling aminonaftalein.

Arah warna dan efek hasil kopling hampir sama dengan hasil kopling naftol, jadi pada proses
kopling 1 ekuivalen garam diazonium dengan 1-naftilamin maka garam diazonium akan
masuk pada posisi empat menghasilkan zat warna monoazo berupa 4-arilazonaftilamin,
apabila dengan 2 ekuivalen kopling akan erjadi pada posisi 2 dan 4 menghasilkan zat warna
2,4-disazo.

 Aminonaftol

Aminonaftol yang paling penting untuk komponen kopling adalah aminonaftol yang
tersulfonasi seperti asam J dan asam H yang posisi masuknya garam diazonium akan
tergantung pada kondisi pH proses kopling (tempat kopling ditunjukkan dengan tanda panah).

Skema Diagram Proses Kopling

Guna menghindari terjadinya kesalahan proses pembuatan suatu zat warma azo
terutama untuk membuat suatu zat warna azo yang kompleks (yang proses diazotasi
dikplongnya lebih dari satu kali) maka urutan proses pembuatan zat warna azo digambarkan
dalam bentuk diagram alir proses. Untuk hal tersebut biasanya digunakan simbol Winther
sebagai berikut:

 A adalah senyawa arilamina primer yang tahap awalnya telah diazotasi menjadi
garam diazonium
 E adalah zat azo hasil akhir dari proses kopling antara garam diazonium dengan
komponen kopling
 D adalah senyawa aril-diamina primer yang kedua gugus aminanya dengan diazotasi
sehingga dapat dikoplingkan dua kali dengan dua komponen kopling
 M adalah senyawa arilamina primer pada tahap awal yang telah dikopling terlebih
dulu dengan suatu garam diazonium lalu pada tahap kedua proses diazotasi pada
gugus aminanya menjadi garam diazonium `
Sebagai contoh, untuk pembuatan zat warna mono azo yang sederhana
biasanya digambarkan dengan A E.

Skema pembuatan zat warna disazo dapat digambarkan dengann contoh berikut :

E1 D E2 artinya komponen diazo berupa senyawa aril-diamina yang pada


tahap awalnya dilakukan proses diazotasi pada kedua gugus aminanya. Selanjutnya
dikoplingkan dengan komponen kopling pertama sehingga menjadi E1 dan kemudian pada
tahap akhir dengan komponen kopling kedua menjadi E2

Contoh Skema lain untuk membuat zat warna diazo adalah

A2 Z A2 dan A M E

2.3 Zat warna azo yang tidak tersulfonasi (tidak larut)


Zat warna jenis azo yang tidak larut meliputi zat warna disperse, basa dan naftol.

2.3.1 Zat warna disperse jenis azo


Seiring dengan ditemukanya serat selulosa asetat pada awal tahun 1920. Pada tahun
1923 ditemukan zat warna ionamine yang dapat digunakan untuk mencelup serat tersebut.
Zat warna ionamine merupakan hasil kopling garam diazonium dengan komponen
kopling arilamin-metasulfonat (ArNHCH2SO2Na), sehingga hasilnya berupa zat warna
monoazo yang mengandung gugus pelararut sementara metasulfonat.
Pada proses pencelupan pasa suasana asam gugus pelarut semantara tersebut akan
terhidrolisis menjadi gugus amina sehingga zat warna berubah menjadi tidak larut dan akan
terdispersi dalam larutan celup dan selanjutnya dapat terserap serat selulosa asetat.
Dengan bantuan zat pendispersi zat warna disperse akan terdisapersi dalam larutan
celup sehingga dapat diguynakan untuk mencelup serat hidrofob seperti serat asetat,
poliamida, poiliester dsb.
CI disperse Yellow 2 adalah struktur zat warna dispersi monoazo yang dibuat dari
komponen kopling turunan fenol.
Komponen kopling jenis heterosiklik sangat luas digunakan untuk membuat zat warna
disperse warna kuning, contohnya CI disperse yellow 8
Untuk mendapatkan efek batokromatik yang lebih besar pada struktur zat warna yang
kecil dapat digunakan komponen Kopling NN-dialkilanuilin yang tersubstitusi, dan
menempatkan letak auksokrom NN-dialkil sebagai gugus pemberi electron kuat tersebut
bersebrangan dengan gugus penrik electron. Seperti gugus nitro pada ujung komponen diazo,
sehingga resonansi electron pada struktur zat warnanya makin luas dan makin polar.
Komponen kopling CI, Dispersi Red 90 adalah senyawa amina tersier kompleks yang
membawa gugus sianh dan karbotoksi pada rantai alkilnya. Komponen kopling tersebut
dibuat dari hasil reaki senyawa aril amina primer dengan akrilonitrit (H2 = CHCN ) dan
metilakrilat (H2C=CHOOCH3)

Pemasukan gugus slanoetil pada amina tersier dari komponen kopling tersebut
dimasudkan agar zat warnanya mempunyai ketahan luntur warna terhadap cahaya dan
sublimasi yang lebih baik.

Penggunaan komponen diazo berupa senyawa amina heterosiklik seperti bensotiazo


juga akan memberikan afek batokromik yang besar sehingga menjadi penting untuk
pembuatan zat warna dispersi warna merah atau biru.

Sebagai contoh, garam diazonium daari komponen diazo bensotiazo biru


dikoplingkan.. dengan komponen kopling sederhana saja akan menghasilkan zat warna
dispersi warna merah sebagai berikut.

Untuk mendapatkan warna biru pada komponen diazo heterosilik seperti bensotiazo
dimasukkan gugus penarik elektron yang kuat pada tingkat bensenanya sehingga dapat
diperoleh efek batekromik yang besar, namun dilain pihak hal tersebut akan menyulitkan
dalam proses diazotasinya, maka sebagai alternatifnya dapat digunakan komponen diazo
heterosilik basa asam seperti 2-amino-5nitrotiazol.

Pemakaian 2-amino-5-nitrotiazol sebagai komponen diazo selain memberikan efek


batokromik yang besar juga menghasilkan zat warna dispersi yang struktur molekulnya kecil,
berikut ini struktur zat warna dispersi biru hasil koplingnya.

Zat Warna tersebut berwarna biru cerah, mempunyai koefisien absortfitas molari (c)
yang tingggi, daya perwarnaan (build up property) tinggi dan ketahan luntur warna terhadap
gas panasnya (burnl gas fuma) tinggi.

Guna mendapatkan zat warna dispersi yang lebih tahan suhu dibuat pula zat warna
dispersi jenis diazo yang sedehana, yang juga ekonomis murah, contoh CI Dispersi Orange
29.

Untuk proses pencapan rusak (discharge printing) dan pencelupan kain campuran
poliester katun, dibuat pula zat warna dispersi dari komponen kopling amina tersier yang
mengandung gugus ester, contoh

Gugus ester tersbut pada proses pencucian, dalam suasana alkali akan terhidrolisa
menjadi karboksilat sehinggga zzat warna berubah menjadi larut, akibatnyaa proses
penghilangan zat warna dispersi yang menodai serat kalium akan menjadi lebih mudah.
2.3.2 Zat warna Basa Jenis Azo

Termasuk dalam jenis zat warna basa jenis azo adalah produk lama yan sudah mantap seperti
chysoldine (CI.basic orange 2) yang sangat penting karena kecerahan dan intensitas warnanya
tinggi serta murah.

Saat ini pemakaian utama zat warna basa adalah mewarnai serat akrilat, dari dalam
pengembangannya muatan positif zat warna basa yang dibuat saat ini tidak lagi seperti
produk lama yang berupa gugus amina yang terprotonasi namun berupa gugus amonium
kuartener.

Ditinjau dari strukturnya, saat ini terbagi dalam dua kelas utama yaitu grup siklamonium
yang muatan positifnya ada dalam kromogen zat warna serta grup amonium kuarterner yang
muatan postitifnya terpisah dari sistem kromogen zat warna dan biasanya terhubung ke
kromogen via gugus alkil yang pendek.

Kedua struktur zat watna basa ini mirip dengan struktur zat warna dispersi yang
intermedietnya sama kecuali bahwa atom nitrogen yang ada pada intermediet zat warna basa
telah terkuartener.
BAB III
Kesimpulan
zat warna azo adalah kromofor jenis azo (-N=N-) yang berikatan dengan sistem

aromatik. Zat warna jenis azo dapat berupa monoazo, diazo, triazo, dan poliazo. Adanya satu
atau lebih gugus azo pada zat warna azo tersebut biasanya berkait erat dengan karakter zat
warnanya.

Zat warna azo sering digunakan pada hampir seluruh jenis zat warna terutama zat
warna asam, reaktif, direk, dispersi, dan basa. Tetapi tidak digunakan untuk membuat zat
warna bejana, bejana larut/belerang, karena kelemahan dari zat warna azo adalah gugus
azonya mudah rusak oleh reduktor. Variasi corak warnanya sangat lengkap mulai dari warna
kuning hingga biru, dan intensitas warnanya kuat. Kecerahan warnanya tinggi, terutama
untuk zat warna monoazo dan diazo.

Guna mendapatkan struktur zat warna azo yang diinginkan, terhadap komponen
diazotasi dan komponen kopling (sebelum proses diazotasi dan proses kopling) dapat
dilakukan proses tambahan seperti proses aselasi, asetilasi, sulfonasi, nitrasi, dan proses
lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses diazotasi

 Konsentrasi komponen diazo (senyawa aril-amin) dan konsentrasi zat


penitrosasi
Tahap pembentukan zat penitrosasi dan masuknya zat tersebut menyerang
gugus amin merupakan tahapan yang paling lambat sehingga tahap tersebut
yang menentukan laju reaksi diazotasi. Oleh karena itu konsentrasi kmonen
diazo (senyawa arilamin) dan knsentrasi zat penitrosasi sangat mempengaruhi
laju reaksi.
 Katalis dan konsentrasi ion klorida
Konsentrasi berbagai zat penitrosasi yang dapat terbentuk dalam larutan yang
mengandung asam nitrit sangat dipengaruhi oleh konsetrasi ion lain seperti ion
klorida atau senyawa lain yang ada dalam larutan yang bersifat mengkatalisa
reaksi seperti tiourea.
 Jenis komponen diazo (senyawa arilamina primer)
Gugus-gugus yang ada pada komponen diazo (senyawa arilamina primer) juga
mempengaruhi laju reaksi. Gugus pemberi elekton seperti gugus –OH -NH2
yang ada pada senyawa arilamin akan mempercepat dan memudahkan proses
diazotasi. Selain itu garam diazonium (Ar-N+ = NX’) yang dihasilkannya
relatif lebih stabil. Sebaliknya, adanya gugus penarik elektron seperti –SO3H
dan –NO2 pada senyawa arilamina akan memperlambat proses diazotasi dan
garam diazoniumnya kurang stabil.
 Suhu
Kestabilan garam diazonium yang dihasilkan akan menentukan suhu proses
diazotasi, secara umum proses diazotasi dilakukan pada suhu 0-5˚C. Karena
garam diazonium umumnya relatif tidak stabil dan mudah rusak terhidrolisis.
Hal tersebut terjadi karena N2 merupakan gugus lepas yang baik.

Ar-N+ = NCl- + H2O  Ar-Cl + N2 + HCl

 pH larutan diazotasi
pH larutan diazotasi dan metoda proses diazotasi sangat bergantung pada
komponen diazo yang digunakan ketidakcocokan pH dapat menghambat
proses, dan menimbulkan ketidakmurnian hasil.
Daftar Pustaka

- Shore,John.2002.Colorants and auxiliaries volume 1.Manchester UK

Anda mungkin juga menyukai