Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

PENENTUAN PARAMETER FSRMSKOKINETIK MENGGUNAKAN


DATA KONSENTRASI OBAT DALAM DARAH (SIMULASI).

DISUSUN OLEH:
RENIP RUWINDHA SARY 1804019014

DOSEN PENGAMPU

FITH KHAIRA NURSAL

PROGRAM STUDI FARMASI DAN SAINS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah dan
karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan judul Penentuan Parameter
Fsrmskokinetik Menggunakan Data Konsentrasi Obat Dalam Darah (Simulasi). Laporan ini diajukan
untuk memenuhi salah satu syarat dalam melakukan praktikum selanjutnya . Penulis menyadari bahwa
penyusunan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, hal ini
dikarenakan keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Atas segala kekurangan dan ketidak
sempurnaan laporan ini, penulis sangat mengharapkan masukan, kritik dan saran yang bersifat
membangun kearah perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Cukup banyak kesulitan yang penulis
temui dalam penulisan ini, tetapi Alhamdullilah dapat penulis atasi dan selesaikan dengan baik. Akhir
kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan semoga amal baik yang
telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT.

Jakarta , oktober 2019

Penulis,
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Farmakokinetik dianggap sebagai aspek farmakologi yang mencakup nasib obat
dalam tubuh, yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.
Efektivitas suatu senyawa obat pada pemakaian klinik berhubungan dengan
farmakokinetikanya, dan farmakokinetik suatu senyawa dari suatu bentuk sediaan
ditentukan oleh ketersediaan hayatinya (biovailabilitasnya). Biovailabilitas adalah
persentaszat aktif dalam suatu produk obat yang tersedia dalam siskulasi sistemikdalam
bentuk utuh setelah pemberian obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap
waktu atau dari ekskresinya dalam urin.
Rute pemberian obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat,
karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada
daerah kontak aobat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang
berbeda, tergantung dari rute pemberian obat.

B. Tujuan Percobaan
1. Menentukan kadar obat yang terdapat dalam sampel darah sukarelawan
2. Menentukan orede eliminasi obat yang diberikan
3. Menentukan model kompartemen
C. Manfaat
Mahasiswa mampu mentukan parameter farmakokinetika dari oat yang diberikan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori umum
Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh
terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4 proses, yaitu absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi.
Adapun parameter farmakokinetik yang digunakan untuk mengetahui
bioavabilitas suatu obat adalah
1. Daerah Kurva (Area Under Curve) adalah integritasi batas obat di dalam darah
dari waktu t = 0 hingga t, dimana besar AUC berbanding lurus dengan jumlah
total obat yang diabsorbsi. AUC merupakan salah satu parameter untuk
menentukan biovailabilitas. Cara yang paling sederhana untuk menghitung AUC
adalah dengan metode trapezoid.
2. Volume distribusi adalah parameter farmakokinetik yang menggambarkan luas
dan intensitas distribusi obat dalam tubuh. Volume distribusi bukan merupakan
volume yang sesungguhnya dari ruang yang ditempati obat dalam tubuh, tetapi
hanya volume tubuh. Besarnya volume distribusi dapat digunakan sebabgai
gambaran tingkat distribusi obat dalam darah.
3. Konsentarsi Tingkat Puncak (Cp max) adalah konsentasi obat maksimun yang
diamati dalam plasma dan serum pemberian dosis obat jumlah obat biasanya
dinyatkan dalam batasan konsentasinya sehubungan dengan volume spesifik dari
darh, serum dan plasma.
4. Waktu puncak (t max) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai level obat
maksimum dalam darah (t max). Serta parameter ini menunjukkan laju absorbsi
obat dari formulasi. Laju absorbsi obat, menentukan waktu diperlukan untuk
dicapai konsentrasi efek minimum dan dengan demikian untuk awal dari efek
farmakologis yang dikehendaki.
5. Waktu paruh obat (t½) adalah gambaran waktu yang dibutuhkan untuk suatu
level aktivitas obat dan menjadi separuh dari level asli atau level yang
dikehendaki.
6. Tetapan absorbsi (Ka) adalah parameter yang menggambarkan laju absorbsi
suaru obat, dimana agar suatu obat diabsorbsi mula-mula obat harus larut dalam
cairan.
7. Tetapan eliminasi (K) adalah parameter yang gambarkan laju eliminasi suatu obat
di dalam tubuh. Dengan ekskresinya obat dan metabolit obat, aktivitas dan
keberadaan obat dalam tubuh dapat dikatakan berakhir.
Farmakologi medis adalah ilmu mengenai zat-zat kimia (obat) yang
berinteraksi dengan tubuh manusia. Interaksi-interaksi ini dibagi menjadi dua jenis :
1. Farmakodinamik, yaitu efek obat terhadap tubuh.
2. Farmakokinetik, yaitu bagaimana tubuh mempengaruhi obat dengan
berlalunya waktu (yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi).
Ada banyak cara “pengiriman” obat atau memasukkannya kedalam tubuh. Ada
beragam “rute” mulai mnenelan melalui mulut (oral), ke kulit melalui permukaan
tubuh (topical), disuntikkan kebawah kulit (subkutan), disuntikkan langsung ke
pembuluh darah (intravena), atau disuntikkan langsung ke pembuluh darah
(intravena), atau disuntikkan pada otot (intramuskular).
Obat dapat diberikan secara oral atau parenteral (yakni melalui jalur
nongastrointestinal).
Parenteral, bukan melalui saluran pencernaan tatpi dengan penyntikkan lewat
jakur lain, seperti subkutan, intramuscular dan lain-lain.
Obat – obat parenteral diberikan melalui injeksi yang meliputi rute pemberian
secara intravena, intramuscular, subkutan, intratecal, dan intrarteri. Oleh karena itu,
obat - obat ini diinjeksikan secara kedalam jaringan atau aliran darah, setiap
kesalahan perhitungan dapat menyebabkan efek samping yang serius.
Bentuk sediaan parenteral (di usus) dapat berupa larutan, suspense, emulsi, dan
serbuk steril dalam air atau minyak.
Jika obat diberikan secara suntikkan intravena, maka obat masuk ke dalam darah
dan secara cepat terdistribusi kejaringan. Penurunan konsentasi obat dalam plasma
dari waktu ke waktu (yaitu kecepatan eliminasi obat) dapat diukur (kanan atas)
dengan mengambil sampel darah secara berulang. Pada awalnya seringkali konsentasi
menurun dengan cepat, namun kemudian kecepatan penurunan berkurang secara
progresif. kurva tersebut disebut eksponensial, dan hal ini berarti pada waktu tertentu
terjadi eliminasi fraksi konstan pada obat dalam satu satuan waktu. Banyak obat
menunjukkan suatu penurunan eksponensial dalam konsentarsi plasma karena
kecepatan kerja proses eliminasi obat biasanya proposional terhadap konsentasi obat
dalam plasma.
Proses yang terlibat adalah:
1. Eliminasi urin oleh filtrasi glomerulus
2. Metabolisme, biasanya oleh hati
3. Ambilah oleh hati dan selanjutnya eliminasi melalui empedu.
Suntikkan intravena obat langsung masuk kedalam sirkulasi dan tidak melewati
sawar absorbsi.
Segera sesudah infus dari pemberian bahan intravena, konsentasi obat dalam
darah maksimum, yang diindikasikan sebagai Cᵐᵃᵡ . untuk pemberian obat oral yang
di absorbsi kedalam darah lebih lambat dari pada dengan pemberian obat intraven,
hal ini memudahkan untuk mengumpulkan sampel darah pada variasi waktu setelah
pemberian dan mengamati kenaikkan konsentasi dari obat, atau hasil
biotransformasinya dan mencatat waktu yang dilewati, Tᵐᵃᵡ, untuk daerah
konsentrasi maksimum, Cᵐᵃᵡ, penggambaran konsentasi obat dengan waktu dan
mencocokkan point percobaan untuk memberikan garis lengkung tunggal pada
kecepatana yang konstan, k, dan waktu paruh, t½, pada hilangnya garis lengkung,
dengan pemberian AUC oleh Cᵐᵃᵡ. Yang mana tiap unit dari berat (mol) per unit
volume dikalikan oleh waktu.

1. Proses Obat Dalam Tubuh


a. Absorbsi
Absorbsi suatu obat dapat didefinisikan sebagai proses perpindahan obat dari
tempat pemberiannya, melewati sawar biologis ke dalam aliran darah maupun ke
dalam sistem limfatik. Absorbsi obat dapat terjadi dan dapat ditentukan dengan
beberapa cara yaitu metode in vitro, metode in situ, dan metode in vivo. Absorbsi in
situ melalui usus halus didasarkan atas penentuan kecepatan hilangnya obat dari usus
halus. Metode ini digunakan untuk mempelajari berbagai faktor yang berpengaruh
terhadap permeabilitas dinding usus (Zulkarnian dkk., 2008).
Absorbsi adalah transfer suatu obat dari tempat pemberian ke dalam aliran darah.
Kecepatan dan efisiensi absorbsi tergantung pada cara pemberian. Untuk intra vena,
absorbsi sempurna yaitu dosis total obat seluruhnya mencapai sirkulasi sistemik.
Pemberian obat dengan sirkulasi lain hanya bisa menghasilkan absorbsi yang parsial
dan karena itu merendahkan ketersediaan hayati. Tergantung pada sifat-sifat
kimianya, obat-obat bisa diabsorbsi dari saluran cerna secara difusi pasif atau transpor
aktif (Harvey, 2013).

b. Distribusi
Saat obat didistribusikan dalam tubuh, obat mengadakan kontak dengan sejumlah
membran. Obat-obatan melalui beberapa membran tetapi membran lainnya tidak. Ada
dua faktor yaitu (Olson, 2004) :
1. Faktor-faktor terkait obat
Faktor ini yang mempengaruhi absorbsi meliputi keadaan ionisasi, berat molekul,
kelarutan dan formulasi. Obat-obat yang kecil, tak terionisasi, larut dalam lemak
menembus membran plasma paling mudah.
2. Faktor-faktor terkait pasien
Faktor ini yang mempengaruhi absorbsi obat tergantung pada cara pemberiannya.
Sebagai contoh, adanya makanan dalam saluran pencernaan, keasaman lambung,
dan aliran darah ke saluran pencernaan mempengaruhi absorbsi obat-obatan oral.
c. Metabolisme
Selama obat mencapai sirkulasi umum (sistemik), konsentrasi obat dalam plasma
akan naik sampai maksimum. Pada umumnya absorbsi suatu obat terjadi lebih cepat
daripada eliminasi. Selama obat diabsorbsi ke dalam sirkulasi sistrmik, obat
didistribusikan kesemua jaringan dalam tubuh dan juga secara serentak dieliminasi.
Eliminasi sutu obat dapat terjadi melalui ekskresi atau biotransformasi atau kombinasi
dari keduanya (Shargel, 2012).
d. Eliminasi
Eliminasi adalah pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh terutama
dilakukan oleh ginjal melalui air seni. Selain itu adapula beberapa cara lain yaitu
melalui kulit, paru-paru, empedu, dan juga usus (Tjay, 2002).
3. Pengertian Oral
Oral, pemberian obat melalui mulut member banyak keuntungan bagi pasien. Beberapa
obat yang diabsorbsi mulai dari lambung, usus duodenum. Sebagian besar obat diabsorbsi dari
daluran mengalami metabolism lintasan pertama di dalam hati, sebelum memasuki sirkulasi
sistemik melalui proses ADME (Harvey, 2013).
4. Kurva Rute pemberian Oral (Shargel, 2012).

5. Tabel Parameter dan Rumus Pemberian Oral (Shargel,2012).


Parameter Orde 0 Orde 1
Konstanta eliminasi k=-b k = -b (2,3)
1 1
Waktu paruh 𝑡2 =
0,5×𝑎
𝑡2 =
0,693
𝑘 𝑘

Volume distribusi 𝐹×𝐷𝑜 𝐹×𝐷𝑜×


𝑉𝑑 = 𝑉𝑑 = 𝑎𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 𝑎
𝑎

Kontanta absorpsi k=-b k = -b (2,3)


𝑡𝑚𝑎𝑥 𝐾𝑎/𝐾 2,3 log 𝐾𝑎/𝐾
𝑡𝑚𝑎𝑥 = 𝑡𝑚𝑎𝑥 =
𝐾𝑎 − 𝐾 𝐾𝑎 − 𝐾
𝐶𝑝𝑚𝑎𝑥 𝐶𝑝𝑚𝑎𝑥 𝐶𝑝𝑚𝑎𝑥
= [ 𝐴. 𝑒 −𝐾𝑒.𝑡𝑚𝑎𝑥 ] = [ 𝐴𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 𝐴. 𝑒 −𝐾𝑒.𝑡𝑚𝑎𝑥 ]
− [𝐵. 𝑒 −𝐾𝑒.𝑡𝑚𝑎𝑥 ] − [𝐴𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 𝐵. 𝑒 −𝐾𝑒.𝑡𝑚𝑎𝑥 ]
𝑡𝑛 +𝑡𝑛−1
AUC 1) [AUC]𝑡tn-1
𝑛
= (tn - tn-1 )
2
𝐶𝑝𝑛
2) [AUC]t~
tn
= k
F x Do
3) [AUC]t~ =
t0 Vd X k

[AUC]t~
t n
4) % AUC Ekstrapolasi = x 100 %
∑AUC

B. Uraian Obat
1. Sifat fisika dan kimia Asam Mefenamat
a. Rumus bangun :

b. Rumus moleku : C₁₅H₁₅NO₂


c. berat molekul : 241, 29
d. Nama Resmi : MEFENAMIC ACID
e. Nama Lain : Asam mefenamat
f. Golongan obat : Non Steroid Anti Inflamatory Drugs (NSAIDS)
g. Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, sakit gigi,
dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri otot, dan nyeri pasca
operasi
h. Kontra Indikasi : Pengobatan nyeri peri operatif pada operasi CABG,
peradangan usus besar.
i. sifat fisika
pemerian : serbuk hablur, putih atau hampir putih; melebur pada suhu
lebih kurang 230 disertai peruraian.
kelarutan : larut dalam larutan alkali hidroksida; agak sukar larut
dalam
kloroform; sukar larut dalam etanol dan dalam metanol;
praktis tidak larut dalam air (Ditjen POM,1995).
pKa : 4,2
j. farmakologi
kegunaan : digunakan pada sakit yang ringan dan sedang termasuk
sakit
kepala, sakit gigi, sakit setelah operasi dan melahirkan dan
dysmenorrhoea, osteoarthritis, dan rheumatoid arthiritis.
Efek samping : terjadi Asteatorrhea, haemolitik anemia, leukopenia,
neutropenia,
arganulositosis, gagal ginjal non-oligurik dan iritasi
lambung.
k. Farmakokinetik :asam mefenamat di absorbsi dengan cepat dari saluran
gastrointestinal apabila diberikan secara oral. Kadar plasma
puncak dapat dicapai 1 smapai 2jam setelah pemberian 2 x
259 mg kapsul asam mefenamat. Pemberian dosis tunggal
secara oral sebesar 100 mg memberikan kadar plasma
puncak selama 2 smapi 4 jam dengan t½ dalam plasma
sekitar 2 jam.
l. Farmakodinamik : karena Asam Mefenamat termasuk kedalam
golongan(NSAID),
maka kerja utama kebanyakan non steroid anti-inflamatory
drugs (NSAID) adalah sebagai penghambat sintesis
prostaglandin.
Sedangkan kerja utama obat anti radang glukortikoid
menghambat pembebasan asam arakidonat
m. Dosis : digunakan melalui mulut (per oral), sebaiknya sewaktu
makan.
Dewasa dan anak di atas 14 tahun : dosis awal yang
dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Tanggal dan Waktu Praktikum


1. Tempat Praktikum
Praktikum dilakukan di Labolatorium Biofarmasetika fakultas dan Sains Universitas
Muhammadiyah Prof. DR.HAMKA Jakarta.
2. Waktu Praktikum
Waktu praktikum dilakukan pada hari selasa tanggal 07 Oktober 2019
B. Percobaan dan Evaluasi
- Berdasarkan contoh data yang diberikan, tentukan apakah eliminasi obat mengikuti orde 0
atau orde 1.
- Hitung parameter farmakokinetika dar data yang diberikan meliputi K, t½, Vd,
Cl,Cmaks,tmaks, dan AUC.
- Buat kurva hubungan antara logarime konsentasi obat yang diperoleh (hitung kompartemen
tunggal atau multi kompartemen α dan β .

BAB IV

PEMBAHASAN

Hasil
Data Asam Mefenamat

Seorang wanita dengan BB 50 kg diberikan Asam Mefenamat dengan dosis tunggal 250
mg. Cuplikkan darah diambil pada berbagai jarak waktu dan diperoleh data konsentrasi (Cp)
dalam fraksi plasma sebagai berikut :

T ( Jam ) Cp (µg/ml)

1 15,2

1,25 17,8

1,5 19,1

2 20,0

2,5 18,0

3 16,2

3,5 14,6

4 13,1

4,5 11,8

5 10,6

5,5 9,6

6 8,6

Orde 0 Orde 1

a = 24,9177 a = 3,4171
b = -2,8266 b = -0,2107

r = 0,9929 r = -0,9999

Data tersebut mengikuti orde 1

Dari data di atas dapat memperoleh hasil berikut ini


0,693
t 1/2 = 𝑘

0,693
= 0,2107 = 3,2890 𝑗𝑎𝑚

K= -0,2107/jam

D0= 250 mg

𝜀𝑎𝑢𝑐 80,2125
𝑓= + = 0,8021
100 100

In cpt = incpo-k.t

In20 = in cp0 – 0,2107 x 2

2,9957 = In cp0 - 0,4 214

In cp0= 2, 9957 + 0,4214

Incp0 = 3,4171

Cp0 = 30,4808 mg/L

𝐷0𝑥𝑓 250 𝑋 0,8021


vd = + = 6,5787 𝐿
𝐶0 30,4808

Cmax = 20 mg/L

Tmax = 2 jam

Cl = k. vd

Cl = 0,2107 x 6,5787 =1,3861 L/jam


Rute pemberian oral merupakan rute pemberian yang paling umm digunakan oleh
kebanyakan pasien. Pemberian obat melalui oral obat akan mengalami absorpsi,
distribusi, metabolism kemudian di eleminai. Pada rute pemberian oral oobat di
asumsikan 80% sedangkan untuk rute pemberian iv kosntrasi obat diasusikan 100%
ini dikarenakan pada rute pemberian oral ada proses ADME.
Pada paktikum kali ini dilakukan pemeriksaan data parameter farmakokinetik
berdasarka hasil perhunga dari data obat asam mefenamat yang di berikn diperole
hasil data yaitu k = 0,2107/jam, t1/2 = 3,2890 jam, vd =6,5787 L, cl = 1,3861 L/jam
cpo = 30,4808 mg/L, c max = 20 mg/L tmax 2 jam, AUC 80,2125 mg.jam/L dan BA
absolut 1,0052% . jika dibndingka dengan literature waktu paruh asam mefenamat
adalah 2 jam sementara hasil praktikum memperoleh waktu paruh yaitu lebih dari 3
jam ini menunjukkan bahwa tidak sesuai dengan literature. Factor yang
memengaruhi perbedaan waktu paruh obat ini dengan lteratur yaitu keadaan
fisiologi tubuh orang tersbut yang mempengaruhi proses ADME Sedangkan untuk
tmax literature asam mefenamat adalah 2-4 jam ini berarti masuk rentang dari hasil
praktikum atau data tersebut . untuk BA absolut yang baik yaitu <20% sedangkan
hasil perhitunan dari aa tersebut yaitu 1,0052 yang berarti data tersebut data yang
valid yang bermakna konsentrasi obat bebas yang tidak berikatan dengan resepor
dan dieksresikan dari tubuh lebih sedikit daripada jumlah obat yang berikatan lebih
sedikit daripada jumlah obat yang berikatan dengan reseptor, menunjukkan obat
tersebut efektif.
BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakuka dapat disimpulkan bahwa:
1. Kadar obat dalam daah sukarelawan adalah 20mg/L dengan waktu paruh 3, 289 jam dan
BA absolu1-0052 %
2. Ode eleminasi obat tersebut adalah mengikt orde 1

B. Saran
Diharapkan pada setiap praktikan untuk berani atau tidak takut menyentuh hewan coba
DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM, 1979, “Farmakope Indonesia Edisi Ketiga”, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

Harvey, Richard A, dan Champe Pamela C, 2013, Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 4, EGC
: Jakarta.

Malole, MBM., dan Pramono, CS., 1989, “Penggunaan Hewan – hewan Percobaan
Laboratorium”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Olson James. 2004. Belajar Mudah Farmakologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Hal 5

PIO Depkes, 2013.

Shargel, Leon. 2012. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan. Air Langga


University. Jakarta.

Tan., H., Tjay dan Kirana Rahardja. 2002. Obat –Obat


Penting. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Zulkarnain, A.K., Arundita, K., dan Triani, K., 2008, Pengaruh Penambahan Tween 80 dan Poli
Etilenglikol 400 terhadap Absorbsi Piroksikam Melalui Lumen Usus Insitu, Majalah
Farmasi Indonesia, Vol 19 (1).