Anda di halaman 1dari 40

KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV

PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)


( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

AGENDA ACARA
KONFERENSI CABANG KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR

Jum’at, November 2019


PUKUL AGENDA
Cek In Peserta
Opening Ceremony
a. Pembukaan
b. Pembacaan Ayat Suci Alquran
c. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya & Mars PMII
............................. d. Sambutan – Sambutan
 Sambutan Ketua Pelaksana
 Sambutan Ketua Umum PC. PMII Kabupaten OKI
 Sambutan Majelis Pembina Cabang Sekaligus Membuka KONFERCAB
Ke-IV PC. PMII OKI
e. Penutup/Do’a
Sidang Pleno I
. . . . . . . . . . . . . .. .
Pengesahan agenda acara KONFERCAB Ke-IV PC. PMII OKI
Sidang Pleno II
. . . . . . . . . . . . . .. . Pengesahan tata tertib KONFERCAB Ke-IV PC. PMII OKI dan Penetapan
Presedium Sidang Tetap.
Sidang Pleno III
. . . . . . . . . . . . . .. . Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Cabang Masa Khidmat 2018-2019

Sidang Pleno IV
. . . . . . . . . . . . . .. .
Pendemisioneran Pengurus Cabang Masa Khidmat 2018-2019
Sidang Pleno V
Pembentutkan Personalia Komisi-komisi dan penetapan sidang Komisi-komisi
a. Komisi A: membahas tentang Tata Kerja dan Jobdiscribtion (GBHO)
. . . . . . . . . . . . . .. . b. Komisi B: membahas tentang Garis Besar Haluan Kerja (GBHK),
c. Komisi C: membahas tentang pokok- pokok pikiran dan rekomendasi.
d. Komisi D: membahas tentang Strategi Pengembangan Kelembagaan Kopri
Dan Pemberdayaan Kader Perempuan
Sidang Pleno VI
......... ...... Pengesahan Tata Tertib Pemilihan Ketua dan Tim Formatur Pengurus Pengurus
Cabang Masa Khidmat Ibadah 2019-2020
Agenda Pemilihan Ketua & Formatur
a. Pencalonan Kandidat Ketua Umum PC. PMII OKI
b. Sesi Pemaparan Visi Misi dan Tanya Jawab
. . . . . . . . . . . . . .. .
c. Pemilihan Ketua Umum PC PMII OKI Masa Ibadah 2019-2020
d. Sekapur Sirih dari Ketua Terpilih.
e. Pengesahan Ketua Terpilih dan Team Formatur
Wallahul Muwafieq Ilaa Aqwamith Tharieq
Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Pada Tanggal : ............................................2019
Pukul :...............WIB

Pimpinan Sidang Sementara Pleno I


KONFERCAB KE-IV
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Kabupaten Ogan Komering Ilir

................................................. .......................................................
Ketua Sekretaris
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 001.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
KETETAPAN MANUAL ACARA KONFERCAB KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI

Bismillahirohmaanirrohim

Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi mewujudkan ketertiban dan kelancaran dalam


Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI , maka di pandang
perlu adanya penetapan manual acara Konfercab Ke-IV
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu
untuk menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IV PMII
Cabang Kabupaten OKI tentang manual acara Konfercab PMII
Cabang Kabupaten OKI .

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Manual acara Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI ,


sebagaimana terlampir
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat
kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG SEMENTARA KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
TATA TERTIB
PEMILIHAN PRESEDIUM SIDANG TETAP KONFERENSI CABANG KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA KABUPATEN OKI

1. Ketentuan Presedium Sidang Tetap


a. Presidium sidang bukan Pegurus Cabang PMII Kabupaten OKI periode 2018-2019
b. Presidium sidang adalah anggota PMII Kabupaten OKI
c. Presidium sidang terdiri dari presidium sidang I ( ketua presidium), II ( sekretaris
presidium), III ( anggota presidium)
d. Setiap peserta sidang yang direkomendasi oleh komisariat pada KONFERCAB KE-IV
PC. MII Kabupaten OKI berhak dipilih menjadi presidium siding
e. Setiap komisariat berhak untuk mengajukan 1 nama untuk presidium sidang.
2. Mekanisme Pemilihan Presidium Sidang
a. Presedium sidang dipilih oleh peserta KONFERCAB KE-IV
b. Bakal calon presidium sidang hadir dalam forum
c. Tiga suara teratas sah menjadi presidium I,II,dan III
d. Pemilihan dilakukan dangan asas LUBER dan menggunakan kertas pemilihan yang
disediakan panitia KONFERCAB KE-IV PC. PMII OKI

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG SEMENTARA KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 002.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
KETETAPAN TATA TERTIB PEMILIHAN PRESIDIUM KONFERCAB KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI

Bismillahirohmaanirrohim

Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi mewujudkan ketertiban dan kelancaran Konfercab Ke-IV


PMII Cabang Kabupaten OKI, maka di pandang perlu adanya
penetapan pimpinan sidang tetap Konfercab Ke-IV Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu
untuk menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang
Kabupaten OKI tentang tata tertib pemilihan presidium sidang
Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI .

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Tata Tertib Pemilihan Presidium KONFERCAB KE-IV PMII Cabang


Kabupaten OKI .
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq
Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG SEMENTARA KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 003.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
HASIL PEMILIHAN PRESEDIUM KONFERCAB KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi mewujudkan ketertiban dan kelancaran Konfercab Ke-IV PMII
Cabang Kabupaten OKI , maka di pandang perlu adanya penetapan
pimpinan sidang tetap Konfercab Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia Cabang Kabupaten OKI .
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten
OKI tentang Presidium tetap Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI
.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN
Menetapkan : 1. Hasil Pemilihan Presidium Sidang KONFERCAB KE-IV PMII Cabang
Kabupaten OKI
a. Ketua presidium : …………………………..
b. Sekretaris : …………………………..
c. Anggota : …………………………..
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq
Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG SEMENTARA KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
TATA TERTIB SIDANG KONFERENSI CABANG KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA KABUPATEN OKI

BAB I KETENTUAN UMUM


Pasal 1
1. Konferensi Cabang Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten OKI yang selanjutnya disebut
KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI adalah permusyawaratan tertinggi dalam organisasi PMII di
Kabupaten OKI .
2. KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI diselenggarakan oleh PC PMII Kabupaten OKI .
3. KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI diikuti oleh Pengurus Komisariat dan Pengurus Rayon PMII di wilayah
koordinasi PC PMII Kabupaten OKI .
4. KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI dianggap sah apabila dihadiri sekurang- kurangnya separuh lebih satu
dari jumlah komisariat yang berada di Kabupaten OKI .

BAB II WAKTU DAN TEMPAT


Pasal 2
KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI diselenggarakan pada tanggal .......... sampai .......... Bulan
................................... Tahun 2019 di ............................................................................................ Kabupaten OKI .

BAB III
PIMPINAN, TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 3
Pimpinan dan Kepanitian KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI :
1. Pimpinan KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI adalah Pengurus Cabang Ogan Komering Ilir Masa Khidmat
2018-2019
2. Pimpinan KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI bertanggung jawab penuh atas terselenggaranya
KONFERCAB KE-IV Kabupaten OKI
3. Penanggung jawab KONFERCAB KE-IV membentuk panitia yang terdiri dari panitia SC dan panitia OC

Pasal 4
KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI mempunyai tugas dan wewenang untuk :
1. Mengevaluasi, melaporkan dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban PC PMII Kabupaten OKI Masa
Khidmat 2018-2019.
2. Membahas dan menetapkan Strategi Pengembangan Kaderisasi dan Kebijakan Organisasi.
3. Membahas dan menetapkan Strategi gerakan dan hubungan eksternal
4. Membahas dan menetapkan Strategi dakwah dan pengembangan Kajian Islam.
5. Membahas dan menetapkan strategi Pengembangan Kelembangan KOPRI dan Pemberdayaan Kader
Perempuan.
6. Membahas dan menetapkan Pokok-pokok rekomendasi dan kebijakan strategi organisasi.
7. Memilih, menetapkan, dan mengesahkan Ketua Umum PC PMII Kabupaten OKI Masa Khidmat 2018-2019 dan
tim formatur.

BAB IV
PESERTA KONFERCAB
Pasal 4
Peserta KONFERCAB KE-IV terdiri dari:
1. Pengurus Cabang PMII Kabupaten OKI masa khidmat 2018-2019 yang terdiri dari Pengurus Harian dan seluruh
jajaran pengurus.
2. Utusan-utasan Komisariat yang masing-masing berjumlah maksimal 5 orang.
3. Utusan-utusan yang dimaksud pada ayat (3) diatas terdiri dari ;
a. Peserta penuh ; adalah satu orang dari utusan komisariat yang devinitif (dibuktikan Dengan SK)
b. Peserta penijau ; adalah empat orang dari utusan komisariat yang persiapan (dibuktikan Dengan SK)
4. Undangan yang terdiri dari Pengurus Rayon yang berjumlah maksimal 3 orang, Pengurus Koordinator Cabang,
Mabincab, Alumni dan Media massa

Pasal 5
1. Setiap peserta diberikan tanda pengenal KONFERCAB KE-IV dan wajib dipakai selama sidang-sidang
KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI
2. Panitia dan atau petugas keamanan yang ditunjuk oleh panitia berhak mencegah kehadiran peserta dan atau
orang perorang yang masuk dalam persidangan manakala tidak menggunakan tanda pengenal KONFERCAB
KE-IV.
3. Panitia wajib memakai ID card.

Pasal 6
Hak Dan Kewajiban Peserta
Hak dab Kewajiban Peserta adalah sebagai berikut :
1. Berkewajiban menaati tata tertib KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI .
2. Berkewajiban menjaga ketertiban, kelancaran dan kualitas sidang-sidang selama berjalanya KONFERCAB KE-IV
PMII Kabupaten OKI .
3. Setiap peserta penuh memiliki hak bicara, hak dipilih dan hak suara
4. Setiap peserta peninjau memiliki hak bicara dan hak dipilih.
5. Peserta penuh dan peninjau berbicara lewat pimpinan sidang.
6. Apabila ada peserta yang melanggar isi ketentuan pasal ini, maka pimpinan berhak menenangkan dan menegur
peserta yang bersangkutan.
7. Apabila ada peserta yang melanggar isi ketentuan pasal ini sebanyak 3 kali maka pimpinan berhak mengeluarkan
peserta sidang.

BAB V

MUSYAWARAH DAN RAPAT-RAPAT

Pasal 7

Musyawarah dan rapat-rapat KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI terdiri dari :
1. Sidang pleno merupakan persidangan yang dihadiri oleh seluruh peserta KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten
OKI yang tediri dari:
a. Sidang Pleno I membahas manual acara dan tata tertib Pemilihan Presidium sidang, serta pemilihan dan
penetapan presidium sidang.
b. Sidang Pleno II membahas dan menetapkan tata tertib KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI .
c. Sidang Pleno III penyampaian Laporan pertanggung jawaban PC PMII Kabupaten OKI dan pandangan
umum Komisariat.
d. Sidang Pleno IV pembagian Rapat Sidang Komisi.
e. Sidang Pleno V ( pleno Komisi) membahas dan mengesahkan hasil-hasil sidang komisi serta pokok-pokok
rekomendasi yang termuat dalam masing-masing komisi.
f. Sidang Pleno VI Pendemisioneran PC PMII Kabupaten OKI periode 2018-2019.
g. Sidang Pleno VII membahas tata tertib pemilihan ketua umum dan formatur.
h. Sidang pleno VIII Pemilihan dan menetapkan Tim Formatur PC PMII Kabupaten OKI periode 2019-2020

2. Sidang komisi
a. Komisi A : Strategi Pengembangan Kaderisasi dan Kebijakan Organisasi
b. Komisi B : Strategi Gerakan Dan Hubungan Eksternal
c. Komisi C : Strategi Dakwah Dan Lembaga Kajian Islam
d. Komisi D : Pengembangan Kelembangan KOPRI dan Pemberdayaan Kader Perempuan

BAB VI
PIMPINAN SIDANG
Pasal 8
1. Pimpinan sidang pleno I terdiri dari 1 (satu) orang Ketua, 1 (satu) orang Sekretaris dan 1 (satu) orang anggota
yang ditentukan oleh pimpinan KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI
2. Pimpinan sidang pleno II,III,IV,V terdiri dari 1 (satu) orang ketua, 1 (satu) orang sekretaris dan 1 (satu) orang
anggota yang dipilih oleh peserta KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI
3. Pimpinan sidang Komisi terdiri dari seorang ketua dan seorang sekretaris yang dipilih oleh komisi bersangkutan
4. Pimpinan sidang VI, VII dan VIII dipimpin oleh MABINCAB dan PKC PMII Sumatera Selatan yang hadir dalam
KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI
5. Sidang dianggap sah sekurang-kurangnya dihadiri 2 pimpinan sidang dan qourum
6. Pimpinan sidang dapat menggunakan tanda ketuk dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Satu ketukan digunakan untuk mengesahkan kesepakatan forum
b. Dua kali ketukan digunakan untuk memending sidang
c. Tiga kali ketukan digunakan untuk memulai dan mengakhiri forum
d. Ketukan berkali-kali digunakan untuk mengkondisikan peserta atau forum sidang

Pasal 9
Tugas, Hak dan Kewajiban
1. Tugas Pimpinan Sidang
a. Memimpin jalannya persidangan sampai selesai dan tetap dalm kebersamaan yang dipimpin dalam
khidmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan untuk mencapai mufakat
b. Mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda, menyimpulkan pembicaraan, meminta persetujuan
forum dan meluruskan jalannya sidang.

2. Hak dan Kewajiban Pimpinan Sidang


a. Mengesahkan tata tertib sidang
b. Menetapkan dan mengesahkan keputusan sidang
c. Menetapkan dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban
d. Mencatat dan mengumumkan setiap keputusan yang diambil
e. Memperingatkan dan atau mengeluarkan peserta sidang apabila mengganggu jalannya persidangan
dengan kesepakatan peserta
f. Mengatur jalannya persidangan

Pasal 10
Oleh karena satu dan lain hal ketua sidang memandang perlu adanya untuk membicarakan masalah-masalah yang pelu
untuk dirundingkan atau dilobby atau harus berkonsultasi dengan penanggung jawab KONFERCAB KE-IV dan atau
panitia pengarah KONFERCAB KE-IV, maka sementara dapat meninggalka tempat pimpinan sidang diserahkan kepada
wakil atau sekertaris.

BAB VII
QUORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 11
Quorum
1. Setiap sidang pleno dianggap sah apabila dihadiri oleh 1/2 dari jumlah peserta penuhyang ada.
2. Sidang komisi dianggap sah apabila dihadiri oleh ½ lebih satu dari anggota komisi
3. Apabila point (1) dan (2) tidak tercapai, maka sidang ditunda selama 3 X 5 menit menunggu peserta hadir.
4. Apabila dalam waktu 3 X 5 menit belum memenuhi quorum maka sidang dapat dimulai tanpa memperhatikan
quorum
Pasal 12
Pengambilan Keputusan
1. Semua keputusan diusahakan melalui musyawarah mufakat.
2. Apabila musyawarah mufakat tidak tercapai, maka diadakan lobi selama 2 X 5 menit.
3. Jika musyawarah mufakat tidak tercapai pada saat lobby maka keputusanya dilakukan dengan pemugutan suara
4. Keputusan yang berdasarkan pada pemungutan suara ini dianggap sah apabila disetujui suara terbanyak.
5. Apabila hasil pemungutan suara berimbang maka dilakukan lobby 1X15 menit dan apabila hasilnya berimbang
maka diambil secara qur’ah (undi)
6. Pemungutan suara dilakukan secara bebas dan terbuka

Pasal 13
1. Seluruh pelaksanaan sidang dicatat dalam berita acara persidangan yang berisi :
a. Waktu, tempat dan tanggal persidangan
b. Jenis persidangan (Pleno, komisi)
c. Pimpinan sidang, sekretaris siding dan anggota
d. Jumlah peserta yang menandatangini daftar hadir
e. Notulensi jalanya persidangan
f. Kesimpulan keputusan sidang
2. Semua keputusan dan ketetapan KONFERCAB KE-IV ditandatangani oleh pimpinan sidang KONFERCAB KE-IV

BAB VIII
LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN
Pasal 14
1. Laporan Pertanggung Jawaban Langsung Dilporkan Oleh Ketua Umum, Sekretaris dan Bendahara tanpa
diwakilkan.
2. Laporan pertanggung jawaban meliputi :
a. Kegiatan / Kaderisasi yang pernah diikuti dan dilaksanakan (dibuktikan dengan arsip surat)
b. Laporan keuangan (dibuktikan dengan LPJ Kegiatan / Rincian Keuangan).
c. Inventaris Pengarsipan Surat masuk dan keluar.
3. Apabila point 1 dan 2 tidak terpenuhi, secara otomatis LPJ Kepengurusan 2018-2019 dinyatakan ditolak.

BAB IX
KETENTUAN TAMBAHAN
Pasal 15
1. Tata tertib pemilihan Ketua Umum dan tim formatur KONFERCAB KE-IV diatur dalam tata tertib tersendiri.
2. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini, akan diatur kemudian sesuai kesepakatan forum.
3. Tata tertib ini berlaku sejak waktu dan tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 004.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
KETETAPAN TATA TERTIB KONFERCAB KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi mewujudkan ketertiban dan kelancaran Konfercab Ke-IV PMII
Cabang Kabupaten OKI , maka di pandang perlu adanya penetapan pimpinan
sidang tetap Konfercab Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
Cabang Kabupaten OKI .
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten
OKI tentang tata tertib Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI .

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Tata Tertib KONFERCAB KE-IV PMII Cabang Kabupaten OKI ,


2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 005.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa untuk mengevaluasi, mempertanggungjawabkan dan menilai kinerja


Pengurus Cabang PMII Kabupaten OKI 2018-2019, maka di pandang perlu
adanya laporan pertanggungjawaban pengurus PMII Kabupaten OKI
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan laporan pertanggungjawaban Pengurus Cabang PMII Kabupaten
OKI 2018-2019.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. MENERIMA / MENOLAK Laporan pertanggungjawaban PC PMII


Kabupaten OKI periode 2018-2019
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KOMISI A
STRATEGI PENGEMBANGAN KADERISASI DAN KEBIJAKAN ORGANISASI
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI 2019-2020

A. PENDAHULUAN
Dari dahulu hingga sekarang, bagi PMII, tema kaderisasi senantiasa menjadi bahan kajian actual tak ada
habis-habisnya. Kaderisasi memang penting karena PMII mempunyai tanggung jawab besar. Tantangan ke
depan sangat berat mengingat kita sekarang sudah menjalani globalisasi dimana dunia menjadi medan
pertarungan sumberdaya, maka bagaimana PMII menyiapkan kader-kadernya dengan baik akan menentukan
arah masa depan bangsa ini. Harapan masa depan layak disematkan di pundak mahasiswa yang dalam
sejarahnya mampu memposisikan diri sebagai agen perubahan sosial (agent of social change) dan agen kontrol
sosial (agent of social control), baik di era 1908, 1928, 1945, 1966, 1974 maupun 1998. Karenanya, mahasiswa
sering dijadikan tolok ukur wajah kepemimpinan bangsa ke depan. Potret mahasiswa sekarang adalah potret
kepemimpinan negeri ini di masa mendatang.
Sayangnya, banyak pihak yang kini mempertanyakan gerakan mahasiswa yang dinilai tidak jelas arah.
Ada empat tanda gerakan mahasiswa sejak 1998 sampai sekarang dipandang gagap, yaitu: Satu, ketidakjelasan
ideologi (carut-marut tata nilai) sehingga melahirkan ketidakjelasan program kerja yang bisa disepakati bersama
bahkan program kerja gerakan mahasiswa menjadi sangat pragmatis seperti ingin cepat lulus dan dapat
penghidupan layak; Dua, tidak adanya ideologi yang jelas sebagai dampak dari menguatnya ideologi pasar
bebas sehingga segala sesuatu mulai ditransaksikan; Tiga, kalaupun ada program kerja bersifat fluktuatif atau
naik turun mengikuti momentumnya saja dan lebih lagi sekadar mediatik untuk tampil di permukaan semata; dan
Empat, tidak radikal membumi alias terlalu elitis, sehingga kesadaran yang muncul berbasis wacana dan jarang
membumi dalam kenyataan yang sebenarnya.
Dalam situasi demikian, mahasiswa dituntut kembali menata dirinya untuk menjadi generasi yang bisa
dibanggakan dalam menjawab tantangan zaman (Kun Ibna Zamanika). Pemuda harus bisa berfikir dan bertindak
secara realistis sesuai zamannya dan bergerak untuk mencapai cita-cita bersama-sama.

B. PENGKADERAN DI KABUPATEN OKI


Dalam sistem kaderisasi PMII, dikenal tiga tahapan proses, yaitu produksi (merekrut- mendidik), distribusi
(menyebar-membagi pangkalan gerakan) dan kontestasi (bersaing untuk memenangkan pertarungan).

1. Produksi Kader
Sebagai organisasi kader, PMII senantiasa melakukan produksi kader. Walau kita terkadang tidak
tahu setelah dari PMII mau jadi apa atau kerja apa. Maka yang paling elementer bagi PMII adalah
produksi sumberdaya, menciptakan kader PMII yang bermutu dan siap bersaing dalam merebut basis
modal, basis pengetahuan dan basis kekuasaan negara. Kader PMII harus mampu memiliki standar
performance, sehingga mampu melahirkan kader yang lebih bagus dari yang sebelumnya. Di situlah
pentingnya pengembangan basis potensi kader sebagai bekal agar kader percaya diri dalam berkompetisi
di lapangan.
Produksi kader PMII selama ini ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu kaderisasi formal, non-
formal dan informal. Kaderisasi sudah dimulai sejak rekruitmen anggota.
Kaderisasi formal berupa Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), Pelatihan Kader Dasar
(PKD) dan Pelatihan Kader Lanjut (PKL). Dari sini yang terlihat kaderisasi yang paling sering dilakukan
adalah kaderisasi formal. Namun follow-upnya sering tidak jelas atau kalaupun ada terlihat kurang serius
pelaksanaannya. Maka perlu ada proses yang bisa lebih dimaksimalkan.
Dalam kaderisasi formal biasanya kita penuhi dengan materi yang bersifat nilai atau
menginternalisasikan hal-hal yang bersifat normatif. MAPABA, misalnya, sebagai pintu awal masuk ke
dalam PMII bertujuan untuk mewujudkan Anggota Mu’takid yang meyakini PMII sebagai wadah
Pergerakan yang tepat untuk memperjuangkan kebenaran sesuai akidah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah
dan menegakkan martabat bangsa sesuai cita-cita kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sedangkan PKD diarahkan penguatan nilai, pengembangan watak pribadi, penguatan
pengetahuan dan potensi kader. PKD bertujuan untuk mewujudkan Kader Mujahid yang mampu
mengembangkan watak kepribadian, pengetahuan dan potensinya masing-masing untuk meraih cita-cita
pergerakan.
Adapun PKL merupakan proses kaderisasi lanjutan yang lebih bersifat refleksi dan
pengembangan. PKL bertujuan untuk mewujudkan Kader Mujtahid yang siap menjadi pemain/aktor
utama dalam ketahanan, pertahanan dan pembangunan bangsa di segala bidang guna menegakkan
Islam Ahlussunnal wal Jama’ah dan memperteguh kemerdekaan Indonesia di era kompetisi global, yaitu
terwujudnya bangsa yang jaya, Islam yang benar, bangun tersentak dari bumiku subur.
Kaderisasi informal juga lebih sering kita lakukan secara sadar maupun tidak sadar, seperti
bimbingan, diskusi kecil-kecilan, bahkan main poker yang bisa menjadi wahana melatih mental dengan
saling menggasak satu sama lain. Sedangkan kaderisasi non-formal adalah kursus-kursus atau pelatihan-
pelatihan pasca-kaderisasi formal, sesuai dengan tingkatannya, seperti diskusi agama, sekolah filsafat,
sosiologi, pelatihan proposal, kursus bahasa asing, diklat kepemimpinan, diklat produksi ekonomi
perdagangan (kewirausahaan), diklat riset ilmu pengetahuan dan teknologi, diklat media komunikasi dan
informasi (jurnalistik), diklat dakwah, diklat kebudayaan, diklat kesehatan, diklat peradilan hukum dan
HAM, diklat politik anggaran dan kebijakan, diklat bela negara, kepanduan dan kepecintaalaman, dan lain-
lain. Sebagai contoh, kalau tidak menguasai bahasa, terutama bahasa Inggris, PMII akan banyak gagal
menjadi pemain global, karena kita tidak mampu membaca kenyataan global yang menggunakan bahasa
asing. Atau di bidang jurnalistik, PMII perlu membekali kader dengan skill kejurnalistikan dan membangun
jejaring dengan media massa. Di bidang advokasi, PMII perlu membuat pelatihan advokasi seperti
advokasi buruh, advokasi anggaran dan kebijakan bahkan kepengacaraan dan peradilan supaya
menguasai advokasi litigasi maupun non-litigasi.
Di bidang kewirausahaan, PMII harus mengadakan pelatihan produksi ekonomi dan perdagangan
dan membangun jaringan dengan kelompok wirausaha sehingga perdagangan kader PMII bisa maju.
Begitu juga yang ingin di akademisi, partai politik maupun LSM. Itu semuanya mencita-citakan kader-
kader PMII ke depan bisa survive. Khusus kaderisasi non- formal ini sekarang agak susut (berkurang)
atau jarang diadakan karenanya perlu ditingkatkan lagi. Selama ini kita lebih banyak mengadakan
seminar, workshop, lokakarya, simposium, pemantauan pemilu, dan lain-lain, yang seharusnya juga perlu
diseimbangkan dengan pelatihan lobi, anggaran, manajemen, merekrut kader, dll.
Perlu disadari bahwa hasil dari proses produksi kader semacam ini tidaklah seragam. PMII tidak
seperti pabrik odol atau pabrik sabun yang mampu menghasilkan produk yang seragam. Di PMII itu hasil
produk kadernya macam-macam walau pendekatan kaderisasi formalnya sama. Dulu kader PMII itu biasa
kucel, tapi pintar dan cerdas. Ada juga yang rapi, juga pintar dan cerdas. Ada pula yang kucel tapi kurang
pintar dan cerdas. Semua harus dirawat dan dididik sebagai bagian dari kader PMII. Ini tentu agak
berbeda dengan kenyataan PMII sepuluh atau dua puluh tahun silam. Pada tahun 1990-an, PMII
mengalami masa-masa yang khas memproduksi orang-orang yang berani melawan secara frontal
terhadap pemerintah yang ditandai banyaknya gerakan advokasi, demontrasi dan perlawanan terhadap
negara. Tentu sekarang agak beda karena situasinya juga sudah berbeda.

2. Distribusi Kader
Distribusi kader sering disamakan dengan diaspora atau penyebaran kader di berbagai bidang.
Padahal makna “ Diaspora ” bukan menyebarnya orang ke mana-mana, tetapi menyebarnya sistem.
Seperti Yahudi menyebar sistem di mana-mana. Sistem pengetahuan, sistem kekuasaan ataupun sistem
modal. Diaspora juga diartikan penyebaran struktural tetapi tidak kelihatan.
Terkait diaspora gerakan ini kita disuruh apa? Menjawabnya agak susah. Distribusi ini akan
berjalan strategis kalau melalui pola intruksi dari pimpinan PMII. Pertanyaannya, apakah kalau diinstruksi,
sahabat-sahabat bersedia menjalankannya? Ini persoalan karena kebiasaan kita minta diinstruksi tetapi
kalau diinstruksi selalu mengajak diskusi, selalu mengelak. Sesungguhnya kita disuruh ngapain itu muncul
dari dalam diri sendiri, bukan dari luar kita. Maka munculkan energi dari dalam yang lebih kuat. Kami
sendiri tidak bisa jawab kalau ditanya: “Kita harus ngapain?”.
Secara umum, mengamati situasi saat ini, penyebaran kader (tepatnya: Alumni) PMII bisa
diklasifikasikan dalam lima bidang, yaitu: pengetahuan, kekuasaan, modal, advokasi yang lebih dekat
dengan arah kebijakan atau relasi kekuasaan, dan pofesional yang benar- benar murni skill seperti
wartawan. Yang paling dominan adalah pengetahuan (wacana) dan politik. Sedangkan yang lain masih
sedikit. Itu karena dalam 20 tahun terakhir ini, lebih banyak alumni PMII yang lulusan diklat politik dan
ansos.
Kita memang jarang melakukan pelatihan professional. Maka tidak heran yang lahir dari PMII lebih
banyak jadi politisi, pemikir, advokat (advokasi melalui LSM) dan jarang yang menjadi pengusaha (walau
ada beberapa tapi butuh pendekatan khusus untuk digerakkan demi kepentingan kolektif). Sekarang ini
mencari uang untuk organisasi saja lebih banyak dari alumni politisi. Jarang kita mendekat ke alumni yang
pengusaha. Padahal minta uang pada pengusaha itu susah. Maka ketika kita berbicara membangun basis
modal (produksi ekonomi dan perdagangan) sama saja dengan membabat alas. Sehingga harus ada
proses kaderisasi yang lebih bermutu supaya semuanya bisa berjalan dengan baik. Bagaimana cara
memperkuat hubungan dengan kekuasaan dan bagaimana setelah dari PMII. Di situlah perlu untuk
memperbanyak atau sesering mungkin menyelenggarakan kaderisasi non-formal.
Terkait diaspora ini kita perlu disiplin. Sebab sulitnya mengatur diaspora kader PMII juga terkait
erat dengan rendahnya kedisiplinan kita. Kalau direfleksikan, penyebaran kader PMII itu bukan diaspora,
tetapi penyebaran yang merupakan kecelakan. Benar-benar menyebar yang susah dikontrol. Ini menjadi
tugas kita bersama. Kader yang sudah didistribusikan harus bisa memahami alur sistem diaspora yang
dijalankan. Di ruang manapun, di bidang apapun dan di pangkalan gerakan manapun diberi mandat,
harus patuh dan melaksanakan dengan baik dan optimal, bukan semata-mata untuk individu tetapi untuk
kebersamaan. Soal sistem inilah yang harus dirumuskan bersama-sama sehingga akan menjadi kultur
(budaya) atau habitus di PMII.
3. Kontestasi Kader
Kontestasi bisa diartikan sebagai proses kompetisi atau persaingan kader dalam rangka
memenangkan pertarungan/perebutan untuk menguasai berbagai pangkalan gerakan. Dalam hal ini
mental atau nyali kader menjadi salah satu faktor penentu, di luar faktor keberuntungan takdir.
Kontestasi kader meniscayakan adanya penataan yang rapi mulai dari proses produksi dan
distribusi, termasuk adanya pembagian peran dalam berbagai pangkalan gerakan supaya tidak
bertubrukan sesama kader. Standar keberhasilan kader akan dilihat dari kemampuan dia survive dalam
persaingan hidup. Apakah dia mempunyai kepercayaan diri yang kuat bahwa dia siap untuk bersaing
dengan siapapun dan di tempat manapun?
Seorang kader yang sudah melalui fase produksi dan sudah didistribusikan dituntut harus siap
survive di pangkalan tersebut dan di situlah dia akan bersaing dengan banyak orang (berkontestasi):
akankah dia bertahan dan semakin mampu berkarir dengan bagus, ataukah malah terpental dan terbuang
dari pangkalan gerakan tersebut?

C. BEKAL KADERISASI
Bagaimana PMII menghadapi “perang terbuka” kompetisi global tersebut? Apa yang sudah disiapkan PMII
agar kader-kadernya mampu berbuat banyak di era pasar bebas?

1. Bekal Iman, Ilmu dan Ketrampilan


Dalam menghadapi “pertempuran”, yang perlu disiapkan adalah bekal yang cukup sehingga
percaya diri memasuki gelanggang “pertempuran”. Sebaliknya, kalau bekal kurang tentu akan susah
untuk bisa menang, kecuali ada keajaiban. Bekal di sini mencakup banyak hal, seperti keimanan dan
ketakwaan, ilmu pengetahuan, keterampilan (skill), jaringan, dll. Bekal tersebut diakumulasi untuk gerakan
dengan membangun basis di pangkalan gerakan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

2. Bekal Disiplin dalam Menjalankan Mandat


Untuk bisa punya bekal yang cukup dan mampu membangun basis pangkalan gerakan yang
memadai, maka niscaya adanya kedisiplinan diri bagi tiap kader dalam segala hal, dari disiplin dalam
penguasaan ilmu maupun perilakunya, seperti dalam hal yang sederhana terkait mengatur waktu, studi,
menjalankan tugas organisasi maupun pengembangan kapasitas diri sesuai dengan bakat-minatnya.
Ketika semua kader PMII sudah mampu membangun disiplin diri maka tinggal diatur bagaimana
formasi gerakannya agar bermanfaat untuk kepentingan bersaa. Dengan demikian, bukan mustahil PMII
akan memenangkan “pertempuran” (pelajaran berharga dari perang Badar, perang Uhud dan perang-
perang lainnya).

3. Bekal Percaya Diri dalam Segala Keadaan


Kaderisasi PMII diharapkan bisa membuat kader percaya diri menghadapi tantangan zaman dalam
segala keadaan. Percaya diri membuat kader PMII berani menghadapi globalisasi yang meniscayakan
persaingan sumberdaya. Siapa yang bagus kualitasnya akan survive, siapa yang kurang bagus
kualitasnya akan tergilas. Orang yang tidak punya kemampuan akan tidak percaya diri dan itu tanda-tanda
akan tergilas.
Secara sederhana, standar keberhasilan kader PMII adalah mana kala dia percaya diri dengan
kemampuan yang dimilikinya. Al-I’timad ala an-Nafs Asasun Najah; Percaya Diri adalah Kunci
Kesuksesan/Keberhasilan/Kemenangan). Demikian bunyi maqolah Arab yang popular di kalangan
pesantren. Keberhasilan, kesuksesan dan kemenangan akan diraih selama kita masih percaya diri.
Percaya diri dalam apa saja, baik atas akidah kita, amaliah kita, ilmu kita, jati diri kita, SDM kita, identitas
kultural kita, keterampilan kita, skill kita, kemampuan manajerial kita, kemampuan lobi atau komunikasi
kita, kemandirian kita, dan lain seterusnya. Pertanyaannya, dengan mengikuti organisasi PMII bisa
membuat kita semakin percaya diri atau tidak? Semakin terampil atau tidak? Semakin berani dalam
bersaing dengan orang lain atau tidak? Kalau ternyata kecenderungannya lebih banyak negatif, banyak
kader yang keluar dari PMII karena tidak bertambah ilmu, mental atau keterampilannya, maka berarti
kaderisasi perlu ditingkatkan.

4. Bekal Kolektivitas (Berjama’ah)


Menghadapi situasi demikian, kita harus membangun gerakan kolektif (berjama’ah) agar bisa
survive bersama-sama (survival collective). Ini bahasa lama yang sudah 10 tahun kita dengar dan kita
gagas tetapi masih perlu diwujudkan dengan gerak nyata.
Dengan bekal yang cukup, disiplin, percaya diri dan kolektivitas akan membuat kita bias survive.
Maka meniscayakan pembagian peran dan kerja sama dalam mewujudkan cita- cita.
D. REKOMENDASI STRATEGI KADERISASI DAN KEBIJAKAN ORGANISASI
Membicarakan PMII dalam konteks strategi maupun taktik gerakan, khususnya terkait dengan penataan
pangkalan kaderisasi, maka mau tidak mau juga harus berbicara Nahdlatul Ulama (NU), karena secara historis,
ideologis dan kultural PMII tidak bisa lepas (dependensi) dengan NU (1960), walau PMII pernah independensi
(1972) dan interdependensi (1991) dengan ormas terbesar di dunia tersebut.
Mengkaji akar kesejarahan pendirian NU tidak lepas dari tiga basis kekuatan gerakan strategis yang
sudah ada sebelumnya, yaitu
(1) Nahdlatul Wathon yang bergerak di bidang politik kebangsaan dan kenegaraan (gerakan melawan
penjajah Belanda demi meraih kemerdekaan yang melahirkan banyak aktivis politik yang terlibat
dalam mengelola negara);
(2) Nahdlatut Tujjar yang bergerak di bidang basis produksi dan perdagangan;
(3) Tashwirul Afkar yang bergerak di bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga
kekuatan tersebut kemudian menyatu dalam wadah organisasi bernama Nahdlatul Ulama
(NU).
Dalam perjalanannya, ketika NU berubah menjadi Partai Politik tahun 1954 (dimulai sejak NU keluar dari
Masyumi tahun 1952), praktis gerakan NU yang lebih menonjol adalah politik-kekuasaan, yang di kemudian hari
dipaksa rezim Orde Baru berfusi dalam PPP tahun 1973 (tekanan dari Ali Murtopo, sang arsitek Orde Baru
terhadap Sahabat Zamroni selaku Ketua Umum PB PMII dan rencana fusi partai-partai islam ke dalam PPP inilah
yang menyebabkan PMII kemudian menyatakan independen dari NU pada tahun 1972 dalam pertemuan di Balai
Desa Murnajati, Malang bagian utara. Deklarasi ini disebut Deklarasi Murnajati). Setelah Khittah NU tahun 1984
yang menyatakan NU tidak terikat dengan gerakan politik manapun, maka dalam sebuah pertemuan di Kaliurang
pada tahun 1991 PMII meredefinisi relasinya dengan NU menjadi interdependensi, deklarasi ini dikenal sebagai
Deklarasai Kaliurang.
Ketiga kekuatan kuasa strategis tersebut, yaitu Politik Kenegaraan (Nahdlatul Wathon), Modal (Nahdlatut
Tujjar) dan Pengetahuan (Tashwirul Afkar) sebagai kekuatan inti NU harus dikembalikan lagi kejayaannya. Ketika
NU atau PMII ingin jaya maka harus menggerakkan ketiga-tiganya sekaligus sebagai kekuatan strategis.
Andaikata NU atau PMII mampu menata ketiga basis inti tersebut dengan baik maka kemungkinan besar akan
tampil sebagai pemimpin peradaban.
Yahudi adalah contoh nyata ketika mampu mengendalikan modal, pengetahuan dan negara sekaligus
mampu tampil sebagai pemimpin peradaban dunia (bahkan negara sebesar AS pun mampu dikendalikan oleh
Yahudi). Dalam bidang politik, Yahudi membuat konsep negara-bangsa (nation-state) melalui tokohnya bernama
Ernas Renan, untuk mendukung pendirian negara etnis Yahudi, Israil. Dalam bidang ekonomi, Yahudi membuat
konsep Kapitalisme dan Sosialisme. Dalam bidang pengetahuan mereka men-design dan menguasai
perkembangan filsafat, sosiologi, ilmu politik dan teknologi. Maka bisa dipahami jika dunia sekarang ini benar-
benar hasil design bangsa Yahudi.

1. Kaderisasi di Pangkalan Politik Kebangsaan


Pertama-tama adalah hubungan PMII dengan Negara (Hablu minal daulah). Membicarakan relasi
PMII dengan negara sama artinya dengan menggerakkan semangat gerakan Nahdlatul Wathan
(Kebangkitan Tanah Air/Kaum Pribumi) yang menjadi salah satu cikal-bakal berdirinya NU. Ini adalah
embrio gerakan politik dalam tradisi NU. Semangat untuk mengelola negara ini sampai kini masih kuat di
kalangan warga NU dan PMII (bisa dilihat dari para seniornya).
Di era kemerdekaan, orang-orang tua NU sudah terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajah,
misalnya, dengan menjadi anggota laskar Hizbullah yang kemudian bergabung dalam Tentara Nasional
Indonsia (TNI), walau tidak lama, karena harus keluar ketika tidak lulus dalam program Restrukturisasi
dan Rasionalisasi (Rera) TNI dan Birokrasi (era Perdana Menteri Moh. Hatta tahun 1948). Mereka tidak
lulus karena banyak yang tidak punya ijazah sekolah resmi (kebanyakan yang lulus adalah alumni PETA
dan KNIL). Inilah kenapa sampai sekarang kita susah mencari jendral kader NU karena sejak itu kader NU
yang di kelompok tentara sudah dihabisi.
Dalam sejarah Indonesia, para tokoh NU, mulai KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH.
Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH. Saefudin Zuhri, Subhan ZE, KH. Idham Chalis, hingga KH.
Abdurrahman Wahid, pernah menorehkan tinta emas sebagai pemimpin perjuangan bangsa. Walau
sejarah menunjukkan betapa banyak pihak yang ingin menggerus NU dari panggung politik, tetapi sejarah
mencatat bahwa dari NU pernah lahir seorang guru bangsa dan menjadi presiden bernama KH.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dalam usianya yang ke-50 (1960-2010), PMII tergolong elastis dan fleksibel dalam berhubungan
dengan kekuasaan. PMII yang berdiri pada tahun 1960 menjadi bagian dari Partai NU. Menjelang orde
lama runtuh (1965-1966), gerakan PMII (era kepemimpinan Sahabat Zamroni) dekat dengan TNI dan ikut
mempelopori aksi pembubaran PKI tahun 1965. Namun seiring terkonsolidasinya kekuatan orde baru,
PMII dikucilkan, sehingga PMII terlibat dalam aksi perlawanan orde baru pada akhir 1980-an dan tahun
1990-an hingga orde baru tumbang tahun 1998. Di era reformasi PMII tidak jelas dalam berhubungan
dengan kekuasaan, misalnya, mendukung Gus Dur atau melawan.
Di era reformasi pula terasa kentara tarikan politik kekuasaan oleh relasi personal kader-kadernya.
Hal itu bisa dilihat dalam setiap momentum kongres, konkorcab maupun konferensi cabang, pertarungan
rebutan Ketua Umum lebih didasarkan pada pertarungan politik jangka pendek. Hal yang sama juga
terjadi di OKP lainnya termasuk ormas NU dan banom-banomnya. Pragmatisme politik yang hari ini terjadi
di Indonesia sungguh berbeda degan era-era sebelumnya. Dan PMII sebagaimana OKP-OKP yang lain
termasuk yang terlihat gagap bahkan tidak siap menghadapi kenyataan tersebut. Inilah pergeseran yang
berbeda dengan masa-masa dahulu.
Hari ini kalau kita bertanya pada kader PMII: mau jadi apa? Rata-rata banyak menjawab jadi PNS,
Politisi, KPU, Panwas, bahkan PPK dan PPS. Ini memang menandakan hamper semua ingin jadi pejabat,
ingin hidup instan, bermartabat dan cepat kaya. Sebetulnya hal demikian itu tidak masalah manakala tidak
hanya sekadar untuk pertaruhan individu, melainkan untuk pertaruhan kolektif. Maka di sinilah kita harus
bisa memiliki standar performance, sehingga mampu melahirkan kader yang lebih bagus dari kader yang
sebelumnya.
Secara normatif, berhubungan dengan kekuasaan sah-sah saja. Berhubungan bisa mesra atau
melawan. Maka kita harus tahu kapan mesti bermesraan dan kapan mesti melawan. Mengelola
kekuasaan memang penting karena di situlah politik anggaran dan kebijakan diputuskan dan
dilaksanakan. Maka PMII harus bisa memaknai gerakan kekuasaan sebagai basis strategi jangka
panjang. Ketika masih aktif di PMII, politik yang diterapkan adalah politik kebangsaan dan politik
kerakyatan. Ketika sudah menjadi alumni, dipersilahkan bertarung di kekuasaan (baik di eksekutif,
legislative, yudikatif, TNI, Polri, BUMN, BUMD, dan lembaga negara lainnya).
Satu hal yang harus dipahami di sini adalah pengelolaan negara merupakan sebagai bagian dari
kehidupan kita. Kunci utama dalam hal ini adalah kepintaran kita bermain dalam pusaran kekuasaan dan
mampu memaknai independensi PMII secara tepat, tentunya tidak menyimpang dari visi dan misi PMII.
Hal itu penting karena dalam situasi pertarungan global ini ketika semua ideology agama, politik dan
ekonomi bertarung, salah satu strategi untuk mempertahankan dan mensyiarkan ideology adalah melalui
jalur kekuasaan.
Namun, distribusi kader di ruang kekuasaan harus selektif, tidak sembarang orang, supaya tidak
mengecewakan bagi kepentingan kolektif di kemudian hari mengingat sekarang ini kita berada pada
sebuah zaman yang beda dengan masa lalu sebagaimana kalau kita pahami ketika mengkaji materi
geopolitik internasional. Artinya, kita benar-benar berpacu dengan gerakan perubahan zaman global yang
semakin cepat dimana arus kuat neoliberalisme ingin mengurangi peran negara. Negara akan
dilumpuhkan untuk kepentingan pasar bebas. Maka bagi kita bangsa Indonesia yang masih menata diri,
sangat penting untuk menjaga negara. Negara harus kita jaga, kita kelola, dan kita pimpin untuk
kepentingan kolektif bangsa, bukan untuk individu atau untuk bangsa asing, karena pertaruhan kita adalah
survival bangsa kita di tengah arus globalisasi. Anak muda PMII dan NU harus percaya diri mampu
memimpin negara. Gus Dur memberikan kepercayaan pada anak muda NU, bahwa kita mampu menjadi
presiden. Di sinilah, kita harus siap menjalankan tugas, baik tugas NU maupun tugas negara.

2. Kaderisasi di Pangkalan Modal


Membicarakan relasi PMII dengan modal sama dengan menggerakkan semangat Nahdlatut Tujjar
(Kebangkitan Kaum Pedagang) yang menjadi salah satu cikal-bakal berdirinya NU. Dalam kurun waktu
perjalanan 50 tahun (1960-2010), menunjukkan relasi PMII dengan modal sangat lemah. Hampir semua
memahami kalau rata-rata kader PMII berasal pada komunitas nahdliyin yang secara umum sudah hancur
basis kekuatan modalnya.
Sejak Nahdlatul Ulama berubah menjadi Partai Politik (1954), kekuatan ekonomi NU hampir tidak
tertata. Apalagi kebijakan orde baru sangat memarginalkan NU. Maka segenap generasi muda bangsa
hendaklah mampu membangun mental dan tradisi produksi dan persiapkan diri untuk bersaing dengan
bangsa lain. Baik kita merasa di-gembleng atau tidak di PMII dengan belajar geo politik, geo ekonomi, geo
strategi, sejarah masyarakat, Aswaja, dan materi kaderisasi lainnya, maka kita harus memahami bahwa
ruang pertarungan kita ada di situ. Bukan semata mengkritisi pemerintah atau pemodal, tapi harus realistis
dengan kenyataan di lapangan.
Maksud kaderisasi dengan pengembangan basis produksi kader ini adalah membekali kader
dengan semangat produksi dengan mengolah segala sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang
kita miliki untuk bekal hidup di tengah arus globalisasi, agar kita ini tidak selalu mengandalkan proposal
atau mental ongkang-ongkang yang hanya menunggu modal datang karena mental yang demikian ini
akan layak punah dalam situasi pertarungan global. PMII harus membekali kadernya dengan mental dan
skill kemandirian ekonomi yang kuat dengan mendidik kadernya menjadi pekerja keras, terampil, disiplin
dan profesional. Bukan kader ongkang-ongkang yang maunya instan, cepat dapat uang melalui jalur
pintas, dan inginnya segera jadi orang besar dan suskes tanpa tahan proses.
Untuk memperkuat basis produksi, maka kaderisasi PMII harus dikembalikan pada kompetensi
individunya. Apa yang bisa diunggulkan dari kader itulah yang harus digali. Bukankah kita masih
mempunyai kader yang suka mencangkul (berkebun atau bertani), bertambak, berdagang, beternak, dan
seterusnya sampai ada yang menjadi calo politisi? Dan lain seterusnya. Itu semua potensi kader yang
bisa dikembangkan. Caranya adalah dengan membangun basis produksi di berbagai sektor (pertanian,
perkebunan, pertambakan, kelautan, koperasi, perdagangan, perbankan, produksi barang yang bernilai
ekonomis seperti baju, kerajinan, makanan dan lain-lain. Hal ini penting sebagai upaya untuk membentuk
watak dan pribadi kader PMII yang mandiri dan siap untuk survive di tempat manapun dalam ikatan gerak
kolektif PMII.

3. Kaderisasi di Pangkalan Pengetahuan


Membicarakan relasi PMII dengan pengetahuan sama artinya dengan menggerakkan semangat
Tashwirul Afkar (Konseptualisasi Pemikiran) yang dulu dididikah oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah yang
kemudian menjadi salah satu cikal-bakal berdirinya NU. Pengetahuan adalah cakrawala kita memandang
dunia, termasuk basis nilai kita dalam menyikapi persoalan. Pengetahuan akan menjadi standar berfikir,
bersikap dan bertindak. Dengan standar pengetahuan yang jelas, kita akan mampu mengenali arah dan
pola gerakan PMII. Relasi PMII dengan ilmu pengetahuan pada umumnya lebih banyak di bidang ilmu
agama. Ini bisa dipahami karena mayoritas kader PMII alumni pesantren dan basisnya juga di kampus
agama, walau pertumbuhan PMII di kampus umum mulai membaik.
Dalam perkembangan 20 tahun terakhir, pengetahuan kritis bersemai kuat di PMII sehingga
membuat PMII sedemikian liberal. Kajian-kajian teori kritis baik filsafat maupun sosiologi merambah pada
pemikiran keagamaan sampai mengantarkan PMII memilih Paradigma Kritis Transformatif dan Kritik
Wacana Agama. Tentu saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya, perkembangan ini cukup
member warna bagi sejarah PMII.
Tugas utama PMII adalah merumuskan system pengetahuan yang berbasiskan kenyataan ke-
Indonesiaan sehingga pengetahuan ini bisa dijadikan basis nilai, basis strategi dan basis taktik bangsa
dalam mengarungi “pertempuran” global. Di saat yang sama, para pemikir PMII juga masih banyak yang
sekadar menyadur pemikir orang lain alias belum orisinil. Baik pemikiran sosiologi, politik maupun
keislaman (dari yang liberal kanan sampai yang kiri mentok), semuanya masih sebatas mendaur ulang
pemikiran orang lain. Pemikir PMII belum ada yang sekelas Tan Malaka, Bung Karno dan yang lain yang
orisinil dan bisa menjadi basis gerakan.
Sayangnya pengetahuan yang selama ini kita konsumsi sudah banyak produk asing, baik teori
filafat, sosiologi, politik, ekonomi, kritik wacana agama, dan yang lainnya. Pengetahuan ala sekolahan
yang kita pelajari sejak TK sampai Perguruan Tinggi sangat positivistik (rasionalis dan empiris/inderawi)
dan sering dangkal dalam memandang sebuah persoalan. Pengetahuan ala positifisme ini sering
menafikan kebenaran pengetahuan irfani (bathin).
Di situlah, proses berpengetahuan kita harus ditata kembali. Jangan sampai diskusi- diskusi hanya
berhenti dalam tataran forum. Paling banter hanya sekadar menjadi “kula’an” kata-kata, yang kemudian
dapat disampaikan dalam forum pelatihan di cabang masing- masing. Ini tentu sebuah keadaan yang
sangat tidak kita harapkan. Padahal kita sebagai orang Indonesia mempunyai banyak basis pengetahuan
lokal yang sangat arif dan tidak kalah dengan pengetahuan barat. Dulu, sejak kecil kita selalu dikenalkan
dengan takhayyul, dukun, kesaktian, dan selalu percaya pada kiai. Namun sekarang semuanya sudah
tidak ada lagi kepercayaan tentang hal semacam itu. Maka jangan heran kalau ini semua berdampak
pada hilangnya nasionalisme kebangsaan yang sekerang ini sudah sampai pada level yang mendasar.
Seharusnya, kita yang mempunyai kekayaan peradaban yang adiluhung ini, bisa menerima baik
pengetahuan positifistik (burhani) maupun pengetahuan kebathinan atau keruhanian (irfani) juga
pengetahuan tekstual (bayani). Hubungan ketiga basis pengetahuan tersebut tidak saling menghancurkan
satu sama lain tetapi saling menopang (sirkulatif), saling melengkapi satu sama lainnya. Semua basis ilmu
pengetahuan tersebut kita gunakan untuk membangun alam raya ini dengan baik sebagaimana ajaran
Alloh SWT. Pengetahuan berasal dari Alloh dan diberikan kepada manusia untuk bekal menjalankan
mandat sebagai Khalifatullah fil-ardh.
E. STRUKTUR ORGANISASI
1. Badan Pengurus Harian (BPH)
Terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris, Bendahara Umum, Wakil Ketua I, Wakil Ketua II, Wakil Ketua
III , Ketua KOPRI, Wakil Sekretaris, dan Wakil Bendahara.

a. Ketua Umum
Kedudukan:
Ketua umum adalah mandataris KONFERCAB sekaligus sebagai pemimpin tertinggi organisasi
ditingkatan PC PMII Kabupaten OKI .

Tugas:
1. Memimpin, mengatur dan mengkoordinir pelaksanaan kebijaksanaan
organisasi PC PMIII Kabupaten OKI .
2. Melaksanakan kebijaksanaan organisasi, baik internal maupun eksternal
3. Melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap koordinasi dan mengupayakan terobosan
strategis dalam rangka pengembangan organisasi, baik di dalam maupun keluar.
4. Memimpin, mengkordinir serta menjaga kelancaran pelaksanaan kebijakan- kebijakan
organisasi.
5. Menentukan arah kebijakan umum organisasi untuk kemudian dimusyawarahkan dengan
pengurus lain.
6. Mengontrol dan mengevaluasi tugas-tugas sekretaris dan ketua.

Wewenang;
1. Bersikap dan bertindak untuk atas nama menjaga kelancaran pelaksanaan kebijakan-
kebijakan organisasi secara penuh.
2. Melakukan resuffle pengurus dengan persetujuan Rapat Badan Pengurus Harian.
3. Aktif membuka dan atau menjalin kerjasama dengan pihak luar yang mendukung bagi
pengembangan organisasi.
4. Memberikan pengarahan serta pencarian solusi yang tepat dalam setiap kegiatan maupun
pengambilan keputusan.
5. Bersama Sekretaris Umum dan atau wakil sekretaris untuk menandatangani surat-surat
organisasi.
6. Mendelegasikan tugas dan kewenangan kepada salah satu Ketua bila berhalangan sesuai
dengan bidangnya.

b. Sekretaris Umum
Kedudukan:
Sekretaris adalah pimpinan organisasi tertinggi kedua setelah Ketua Umum

Tugas:
1. Membantu Ketua Umum menjalankan organisasi baik internal maupun eksternal.
2. Mendinamisasikan kondisi kepengurusan PC.
3. Mengupayakan kelengkapan kesekretariatan guna mendukung gerak dan langkah
organisasi.
4. Mengkoordinasikan kegiatan–kegiatan kesekretariatan
5. Mempersiapkan rapat-rapat organisasi dan mendokumentasikannya.
6. Mewujudkan sistem dokumentasi organisasi yang rapi, sempurna dan terpelihara.

Wewenang:
1. Mengatur dan mengkoordinir pembagian kerja dan tugas antara Sekretaris dan wakil
sekretaris.
2. Melakukan penerapan sistem administrasi dan manajemen organisasi secara efektif dan
efisien.
3. Mensistematiskan rancangan program kerja, peraturan, surat-surat keputusan dalam
lingkungan organisasi.
4. Bersama Ketua Umum dan atau Ketua menandatangani surat-surat organisasi.
5. Mengontrol pengalokasian dan pengelolaan dana di masing-
masing departemen/lembaga.
c. Bendahara
Kedudukan:
Bendahara adalah pelaksana kebijakan PC di bidang pencarian dana dan pengaturan keuangan
organisasi.

Tugas :
1. Mengatur, menyimpan dan mencatat penerimaan maupun pengeluaran keuangan
2. Membuat petunjuk teknis tentang tata cara permintaan, pembayaran dan pengeluaran
keuangan serta pendayagunaan inventaris organisasi
3. Melaporkan situasi keuangan secara berkala
4. Membantu Ketua dalam menggali sumber-sumber pendanaan untuk
pembiayaan organisasi.

Wewenang:
1. Memimpin kegiatan sehari-hari kebendaharaan
2. Merumuskan rancangan tentang pengaturan penerimaan dan pengeluaran secara periodik
dan berkala
3. Menginventarisir dan melakukan pendataan terhadap donatur yang ada
4. Aktif mencari sumber dana dari data donatur yang ada
5. Bersama Ketua Umum dan Sekretaris menyusun pengalokasian dana bagi kegiatan-
kegiatan organisasi.

d. Wakil Ketua I ( Internal )


Kedudukan:
Sebagai pelaksana kebijakan PC yang bertugas dalam menangani koordinasi dan dinamisasi
organisasi yang ada dibawah PC dalam hal ini Pengurus Komisariat.

Tugas:
1. Membantu tugas Ketua Umum sesuai dengan bidang kerjanya
2. Melakukan koordinasi intensif dan dinamisasi organisasi Cabang.
3. Melakukan monitoring atas kondisi obyektif tiap Komisariat

Wewenang:
1. Mewakili Ketua Umum sesaui dengan penanganan yang dimaksud ketika Ketua umum
berhalangan.
2. Mengkoordinir dan menjalankan bidang secara terarah, terpadu dan
terorganisisr.
3. Secara aktif melakukan koordinasi dengan Ketua Umum dalam melakukan kerja-kerja
internal organisasi.
4. Bersama Sekretaris dan Wakil Sekretaris untuk menandatangani surat-surat organisasi.
5. Dalam menjalankan tugas ketua I di bantu oleh :
- Departemen pendidikan dan kaderisasi
- Departemen pengembangan pers dan wacana

e. Wakil Ketua II ( Eksternal )


Kedudukan:
Sebagai pelaksana kebijakan PC sesuai dengan bidang penjaringan kerja strategis
kemasyarakatan.

Tugas :
1. Membantu pelaksanaan Ketua Umum sesuai dengan bidang kerjanya
2. Melakukan kerja jaringan, hubungan organisasi dan hubungan
kemasyarakatan.
3. Menyerap dan mensosialisasaikan informasi dari hasil penjaringan kepada pengurus PC.

Wewenang:
1. Mewakili Ketua Umum sesaui dengan penanganan yang dimaksud ketika Ketua umum
berhalangan.
2. Mengkoordinir dan menjalankan bidang secara terarah, terpadu dan
terorganisisr
3. Secara aktif melakukan koordinasi dengan Ketua Umum dalam melakukan kerja-kerja
eksternal organisasi.
4. Bersama Sekretaris dan Wakil Sekretaris untuk menandatangani surat-surat organisasi.
5. Dalam menjalankan tugas ketua II di bantu oleh :
- Departemen pengembangan organisasi
- Departemen sosial dan politik

f. Ketua III ( Keagamaan )


Kedudukan :
Sebagai pelaksana kebijakan PC secara khusus dalam bidang kajian agama dan dakwah Islam
serta hubungan dengan pesantren dan masyarakat.

Tugas:
1. Membantu pelaksanaan Ketua Umum sesuai dengan bidang kerjanya.
2. Melakukan koordinasi dan dinamisasi kader-kader Komisariat dan Rayon dalam hal kajian
keagamaan dan dakwah Islam.

Wewenang:
1. Mewakili Ketua Umum sesuai dengan penanganan yang dimaksud ketika Ketua Umum
berhalangan.
2. Mengkoordinir dan menjalankan bidang secara terarah, terpadu dan
terorganisir
3. Secara aktif melakukan koordinasi dengan Ketua Umum dalam melakukan kerja-kerja yang
berkaitan dengan bidang keagamaan.
4. Bersama Sekretaris dan Wakil Sekretaris untuk menandatangani surat-surat organisasi.
5. Dalam pelaksanaan tugasnnya ketua III dibantu oleh
- Departemen Kajian Keagamaan

g. Ketua KOPRI
Kedudukan :
Sebagai pelaksana kebijakan PC secara khusus dalam bidang gender dan emansipasii perempuan
dan bertanggungjawab kepada ketua umum PC sebagaimana dalam peraturan dan kewenangan
Kopri dalam Ad/Art PMII.

Tugas:
1. Membuat program kerja dan membantu tugas ketua umum sesuai dengan bidang kerjanya.
2. Melakukan koordinasi dan dinamisasi gerak kader – kader perempuan.
3. Melakukan monitoring atas kondisi obyektif kader perempuan di tiap Komisariat.

Wewenang :
1. Mewakili ketua umum sesuai dengan penanganan yang dimaksud ketika ketua umum
berhalangan.
2. Mengkoordinir dan menjalankan bidang secara terarah, terpadu dan
terorganisasi
3. Secara aktif melakukan koordinasi dengan ketua dalam melakukan kerja-kerja yang terkait
dengan isu-isu jender dan perempuan.
4. Bersama sekretaris umum dan atau sekretaris untuk menandatangai surat-surat organisasi
5. Dalam pelaksanaan tugasnya ketua KOPRI dibantu oleh :
- Lembaga pemberdayaan perempuan ( LPP )

h. Wakil Sekretaris
Kedudukan:
1. Wakil Sekretaris berkedudukan di bawah Sekretaris Umum.
2. Wakil Sekretaris adalah pelaksana kerja kesekretariatan bersama Sekretaris dan ketua-
ketua

Tugas:
1. Membantu pelaksanaan tugas-tugas Sekretaris dalam menjalankan tugas organisasi.
2. Membantu mengatur mekanisme kesekretariatan, mencatat, dan mengarsipkan data-data.
3. Melaksanakan penertiban urusan-urusan rutin organisasi.
4. Mengaktifkan sistem mekanisme kontrol persuratan organisasi.
5. Melakukan koordinasi dengan bidang-bidang terkait dibawahnya untuk menyusun
rancangan program kerja yang berkaitan dengan kesekretariatan.

Wewenang:
1. Mewakili Sekretaris sesuai dengan penanganan yang dimaksud ketika Sekretaris
berhalangan.
2. Bersama Ketua Umum dan atau ketua menandatangani surat-surat organisasi sesuai
bidang kerjanyanya
3. Bersama Sekretaris melakukan inventarisasi barang - barang yang dimiliki oleh
organisasi

i. Wakil Bendahara
Kedudukan:
1. Wakil Bendara berkedudukan di bawah Bendahara .
2. Wakil Bendahara adalah pelaksana dan membantu atas kerja-kerja Bendahara

Tugas:
1. Membantu Bendahara mengatur, menyimpan dan mencatat penerimaan maupun
pengeluaran keuangan organisasi.
2. Membantu Bendahara membuat petunjuk teknis tentang tata cara permintaan, pembayaran
dan pengeluaran keuangan serta pendayagunaan inventaris organisasi.
3. Melakukan koordinasi dengan ketua-ketua dalam menyusun anggaran kerja departemen.

Wewenang:
1. Membantu Bendahara merumuskan rancangan tentang pengaturan penerimaan dan
pengeluaran secara periodik atau berkala.
2. Membantu Bendahara menginventaris donatur yang ada dan menjadikannya sabagai
sumber resmi pembiayaan organisasi.
3. Membantu Bendahara membuka peluang-peluang sumber pendanaan.

2. Badan-Badan Struktural (Departemen)


a. Departemen Pendidikan dan Kaderisasi (DEPDIKA)
- DEPDIKA bertugas untuk merumuskan konsepsi pendidikan dan melaksanakan
pelatihan dalam rangka proses pengkaderan.
- DEPDIKA bertugas melaksanakan pengkaderan baik secara formal, non formal
maupun informal.
- DEPDIKA bertugas merancang sistem evaluasi pengkaderan dalam lingkup Cabang
Kabupaten OKI yang digunakan sebagai acuan pada tingkat Komisariat
- DEPDIKA berwenang untuk mengambil kebijakan taktis dan strategis berkaitan
dengan segala program yang telah dicanangkan dalam RAKER.
- DEPDIKA bertanggung jawab kepada Ketua 1 terhadap program yang dicanangkan.

b. Departemen Pers dan Pengembangan Wacana (DPPW)


- DPPW bertugas melaksanakan program yang berkaitan dengan pengembangan
wacana dan pemberdayaan kader dalam bidang intelektual.
- DPPW bertugas melaksanakan program yang berkaitan dengan pengembangan
studi jurnalistik, penerbitan dan dokumentasi serta respon isu-isu aktual baik lokal
sampai global.
- DPPW berwenang untuk mengambil kebijakan taktis dan strategis berkaitan dengan
segala program yang telah dicanangkan dalam RAKER.
- DPPW melakukan kajian-kajian berkaitan dengan wacana aktual baik lokal, regional,
nasional maupun internasional sebagai wacana kader.
- DPPW bertanggungjawab kepada Ketua 1 terhadap program yang dicanangkan.
c. Departemen Pengembangan Organisasi (DPO)
- DPO bertugas melaksanakan porgram yang berkaitan dengan pendampingan dan
pengembangan Komisariat dan Rayon di lingkungan Kabupaten OKI .
- DPO berwenang untuk mengambil kebijakan strategis dan taktis berkaitan dengan
segala program yang telah dicanangkan dalam RAKER.
- DPO bertugas melakukan monitoring, pendampingan dan pengembangan
Komisariat dan Rayon.
- DPO bertanggungjawab kepada Ketua II terhadap program yang telah dicanangkan
- DPO melakukan investigasi terhadap Komisariat / Rayon sebagai acuan putusan
Pengurus Cabang yang memiliki kekuatan hukum tetap.

d. Departemen Sosial dan Politik (DEPSOSPOL)


- DEPSOSPOL bertugas melakukan pembahasan secara mendalam terhadap isu-isu
sosial dan politik.
- DEPSOSPOL bertugas untuk memberikan rekomendasi keputusan pada Pengurus
Cabang terhadap isu-isu aktual.
- DEPSOSPOL berwenang untuk mengambil kebijakan strategis dan taktis berkaitan
dengan segala program yang telah dicanangkan dalam RAKER.
- DEPSOSPOL bertanggung jawab kepada Ketua II terhadap program yang telah
dicanangkan.

e. Departemen Kajian Keagamaan dan Dakwah Islam (DKKDI)


- DKKDI melakukan kajian keagamaan untuk pewujudan Islam rahmatan lil ‘alamin
- DKKDI melakukan kampanye maupun pendampingan untuk Islam rahmatan lil
‘alamin
- DKKDI melakukan pemetaan dan pengembangan dakwah
untuk masyarakat, kampus, dan internal organisasi.
- DKKDI menjalin komunikasi dan kerja sama intern serta antar umat beragama
- DKKDI berwenang untuk mengambil kebijakan strategis dan taktis berkaitan denga
segala program yang telah dicanangkan dalam RAKER.
- DKKDI bertanggungjawab kepada Ketua III

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 006.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
STRATEGI PENGEMBANGAN KADERISASI DAN KEBIJAKAN ORGANISASI
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi memberikan arah kebijakan organisasi, maka di pandang perlu
adanya peraturan Strategi Pengembangan Kaderisasi dan Kebijakan
organisasi PMII cabang Kabupaten OKI 2019-2020.
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten OKI
tentang Strategi Pengembangan Kaderisasi dan Kebijakan organisasi PMII
cabang Kabupaten OKI 2019- 2020.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 2. Strategi Pengembangan Kaderisasi dan Kebijakan organisasi PMII cabang


Kabupaten OKI 2018-2019
3. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
4. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/.................................2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota

KOMISI B
STRATEGI GERAKAN PMII DAN HUBUNGAN EKSTERNAL
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI 2019-2020

A. REALITAS KABUPATEN OKI

Kabupaten OKI merupakan Kabupaten yang Kedudukannya sangat strategis sebagai simpul transportasi regional,
menjadikan Kabupaten OKI mempunyai kelengkapan sarana dan prasarana fisik yang dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Pesatnya laju pembangunan kota ini telah menyebabkan perubahan pada kondisi fisik dan sosial
kota.

Semakin besar suatu kota, maka semakin besar / komplekslah permasalahan yang dihadapinya. Kabupaten OKI dalam
beberapa tahun terakhir ini menghadapi permasalahan yang cukup sulit diatasi, yaitu banjir dan merambah pada
persoalan baru yaitu kemacetan jalan. Bencana banjir merupakan permasalahan yang umum, terutama di daerah padat
penduduk, kawasan perkotaan, daerah tepi pantai / pesisir, dan daerah cekungan. Merebaknya transportasi mulai dari
motor dan mobil tidak di imbangi dengan pengurangan kendaraan yang sudah tua, sehingga menjadikan penyempitan
jalan.

B. REALITAS KEMAHASISWAAN (PMII)

Mahasiswa menyadari bahwa mereka adalah ” Lapisan Paling Maju ” dan dengan demikian menentukan watak
kepemimpinan bangsa di masa depan yang bertanggungjawab terhadap transformasi sosial dalam skala besar.
Kesadaran yang sudah menyatu dengan aliran darah setiap generasi muda bangsa, kian lama akan mengkristal menjadi
perlawanan tak kenal lelah. Dialektika sejarahpun mendorong terbentuknya pemahaman untuk gerak bersama,
menentukan langkah dalam menghadapi tantangan global dan nasional.

Sampai saat ini, kita sering menyaksikan meningkatnya intensitas gerakan mahasiswa dalam melancarkan aksi protes
terhadap kebijakan pemerintah maupun sekedar aksi solidaritas yang di tujukan untuk membangkitkan semangat
melawan bentuk-bentuk kekerasan, baik dalam maupun luar negeri. Bukan hanya itu, arus besar hiruk pikuk
perselingkuhan sebagian aktifis mahasiswa dengan kepentingan politik praktis, yang ternyata justru menyurutkan
moralitas sebagian mahasiswa Indonesia, termasuk aktivis PMII dalam ” Menaklukkan Monster Kampus” maupun
penjahat yang membungkus idealisme dengan Pragmatisme.

Dalam konteks inilah PMII di tuntut untuk melakukan pengamatan dan pembacan global serta melancarkan aksi-aksi
strategis guna mengkontrol jalanya roda pemerintahan dan menggiring pada terwujudnya cita-cita reformasi.

Berbarengan dengan proses pematangan kesadaran politis dan militansi melakukan aksi- aksi langsung ini, PMII
menghadapi beberapa soal sehubungan dengan kelanjutan gerakan dan militansi perjuangan. Dimana beberapa
kelompok melihat mutlaknya kebutuhan untuk bergabung dengan sektor-sektor lain di masyarakat seperti buruh, tani dll,
karena menyadari predikat PMII yang disini adalah mahasiswa bukanlah sebagai kelas yang tersendiri dari masyarakat.

Masalah lain seperti; pematangan diri secara organisasional, kaderisasi, hubungan antar kelompok mahasiswa, prioritas
issue yang mau di angkat juga menuntut untuk segera di selesaikan. Belum lagi menyikapi kelompok-kelompok politis
tertentu yang kadang menggunakan tawar-menawaran ( wani piro ??? ) yang ”menggoda” yang justru menghancurkan
independensi gerakan dan atau moral yang tentu saja ada di tiap mahasiswa; tentang kehadiran di ruang kuliah, ujian
semester, SKS minimal yang harus di penuhi, tugas- tugas kuliah, dan masalah akademis lain, adalah hal esensial yang
tidak bisa di hindari dengan alasan-alasan politis seperti diatas, yang mana hal tersebut merupakan persoalan yang
membelit gerakan saat ini.

Dari sebuah kenyataan diatas muncul hal yang menggelisahkan dalam perkembangan gerakan dalam konteks
eksternal, gerakan sosial politik mengkondisikan gerakan mahasiswa dalam posisi yang nyaris mengalami disorientasi.
Tidak tahu lagi apa yang mau di lakukan, kesulitan melakukan kontekstualisasi dalam konstelasi politik nasional yang
begitu cepat mengalami pergeseran. Banyak issue-issue kritis yang di respon dan pada akhirnya terjebak pada issue-
issue mikrokospis. Dalam konteks internal di hadapkan oleh fenomena dekonsolidasi organisasi yang membuat kita
begitu sulit mematerialkan aganda-agenda gerakan, cairnya organisasi, problem kaderisasi, dan lemahnya konsolidasi
gerakan yang membuat ketidaksinergisan gerak, kondisi ini mengalami proses percepatan hingga ”terkapar” kehilangan
basis moralitas karena berselingkuh dengan politik kekuasaan. Sehingga membatasi secara stuktural dinamika gerakan.
Di sinilah peran PMII, dimana sebagai satu organ gerakan mahasiswa yang memiliki legitimasi moral memimiliki
tanggung jawab untuk mentransformasikan ke tengah publik dimana dalam lingkar hiruk pikuk politik nasional yang
serba membodohkan dan gemparan kekuatan modal global yang menggerogoti moral resources kita. Maka PMII harus
menyiapkan kader yang militant dan bermoral yang di bekali kekuatan kepemimpinanmemadai dan sesekali
melancarkan serangan sporadik terhadap kebijakan yang tidak populis dan menjadikannya sebagai program minimalis
gerakan.

Ada beberapa point yang perlu menjadi catatan PMII Kabupaten OKI dalam mengembangkan gerakan yang akan
datang yaitu;

 Bangunan jaringan yang ada selama ini kebanyakan hanya masih berkutat pada ”kelompok” internal atau dalam
lingkungan NU baik dari partai politik, LSM ataupun stakeholder person yang masih dekat dengan NU. PMII
belum secara luas membangun jejaring luar yang sebenarnya juga banyak berpengaruh dalam perubahan di
masyarakat.
 Memahami positioning PMII diluar juga harus dimaknai sebagai warring position (arena pertarungan). Dalam
arena ini PMII maupun kadernya secara langsung ataupun tidak pasti bertarung dengan entitas lain baik dalam
eksistensi organ, wacana berpengetahuan maupun dalam proses perubahan yang dicita-citakan. Disinilah kader
PMII harus mulai memahami rule of the game yang harus dilakukan agar sesuatu tujuan dapat tercapai dengan
maksimal.
 Relasi yang seharusnya dibangun oleh PMII juga harus melihat kapasitas internal yang dimiliki PMII, sehingga
jejaring yang dibangun akan mempunyai struktur pondasi yang kuat dan strategis.
 Dalam proses “ada” dan ”hadir” bagi masyarakat, PMII harus menemukan wilayah mana yang akan menjadi
orientasi gerakan dengan melihat kemampuan wilayah garapan. Apakah wilayah advokasi kebijakan publik
(dalam kasus-kasus tertentu, seperti advokasi Pedagang Kaki Lima, advokasi Penggusuran, buruh dan lainnya)
ataukah organisir massa yang berkutat dalam wacana intelektual tanpa ada gerakan yang nyata.
 Media massa yang selama ini menjadi salah satu stakeholder kuat dalam proses perubahan dalam masyarakat,
karena dapat mempengaruhi publik dengan dasyat, ternyata belum menjadi garapan yang serius dari PMII.
Realitas ini terbaca dari lemahnya jejaring yang dipunyai PMII dari kalangan media massa, sehingga ”pesan”
yang ingin disampaikan kepada masyarakat tidak terjangkau secara luas.

PMII sebagai salah satu stakeholder pergerakan harus dapat maksimal membangun jejaring sesama stakeholder lain
yang juga berperan penting dalam proses perubahan bangsa ini, seperti partai politik, NGO, birokrasi, pengusaha,
media (pers) dan lainnya, dan bukan hanya berkutat pada lingkungan NU saja.

Dalam bidang eksternal ada beberapa hal yang mendesak dilakukan oleh PMII dalam rangka sebagai sebuah wujud
gerak yang ada dengan penuh kesadaran dalam memandang kenyataan.

C. PMII DAN BEBERAPA PERSOALAN DI MASYARAKAT

1. Pendidikan
Pendidikan merupakan pilar penting untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang cerdas dan bernartabat. Baik
itu pendidikan formal maupun informal. Secara umum, pendidikan di indonesia dan Ogan Komering Ilir pada khususnya
ada perbaikan, baik secara infrastruktur maupun suprastruktur, yaitu dengan pemberian dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) dan usaha mewujudkan pendidikan yang terjangkau. Akan tetapi dalam proses perbaikan ini, masih ada
penyimpangan baik dalam penyaluran anggaran dan menjadikan lembaga pendidikan sebagai industri.

2. Politik
Mengenai bentuk kepedulian dan tanggung jawab PMII terhadap proses politik yang demokratis sebagaimana amanat
ini tercantum dalam UUD 45 dan bentuk partisipatif terhadap masyarakat dalam memberikan pendidikan politik di
Kabupaten OKI , maka kiranya PMII Kabupaten OKI harus memiliki andil terhadap proses politik yang ada dengan
memberikan pendidikan politik untuk pemula dan pentingnya politik untuk mewujudkan kesejahteraan. Secara
organisatoris PMII belum mewujudkan hal itu, jejaring yang sudah terbangun dari periode sebelumnya dan saat ini akan
terpatahkan dengan masa periodisasi kepengurusan. Periode kepengurusan seharusnya diimbangi dengan SDM yang
cukup sebagai proses kaderisasi masa periode selanjutnya. Sehingga konteks keberlanjutan komunikasi dalam konteks
berpolitik di Kabupaten OKI tidak terpatahkan dan akan terbangun secara keberlanjutan.
3. Sosial Budaya
Beragamnya budaya di Kabupaten OKI bisa menjadikan Kabupaten OKI rawan akan konflik etnis dan kelompok, hal ini
perlu adanya pengelolaan komunikasi yang baik agar perbedaan yang ada menjadi kekuatan untuk menambah daya
saing Kabupaten OKI dengan daerah lainnya. Di sini peran PMII Kabupaten OKI yang mengusung semangat
pluralisme dan keterbukaan menjadi penting bagi keberlangsungan kehidupan yang harmonis antar kelompok dan etnis.

D. SINERGITAS GERAKAN ATAS ISSUE DAN POLA GERAKAN EKSTERNAL

PMII Kabupaten OKI yang terdiri dari 2 komisariat dengan karakter yang beragam merupakan sebuah modal bagi PMII
Kabupaten OKI untuk menjalin relasi yang sinergis dan saling melengkapi. Dengan beragamnya potensi kader di
Kabupaten OKI , PMII dimungkinkan bisa untuk melakukan gerakan pendampingan kepada masyarakat Ogan Komering
Ilir dan kaum mustadh’afin dengan beragam cara atau metode, tidak hanya secara turun ke jalan tetapi bisa melakukan
gerak nyata sebagai cerminan dari visi misi PMII. Sehingga dalam geraknya, PMII Kabupaten OKI lebih dinamis,
memberikan solusi dan potensi kader terakomodir. Tidak hanya pada satu model gerakan yang cenderung vis a vis
terhadap pemerintah tetapi bisa menjadi partner bagi semua kalangan.

Rekomendasi Komisi

1. PMII Kabupaten OKI perlu memperluas jaringan di basis pengusaha untuk memperkuat skills kadernya di bidang
kewirausahaan.

2. PMII Kabupaten OKI perlu untuk memperkuat jaringan dengan media massa dengan program-program magang
sebagai bentuk untuk memfasilitasi kader pelatihan jurnalistik di tingkatan komisariat.

3. PMII Kabupaten OKI perlu membuat forum-forum komunikasi antar iman dan etnis, sebagai bentuk komitmen
menjaga keharmonisan dan memperkuat iman.

4. PMII Kabupaten OKI perlu membuat komunitas-komunitas profesional yang mengakomodir beragamnya studi
fakultatif yang ditempuh kader.

5. PMII Kabupaten OKI perlu mengadakan pelatihan advokasi anggaran untuk mengawal proses penganggaran di
Kabupaten OKI .

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 007.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
STRATEGI GERAKAN PMII DAN HUBUNGAN EKSTERNAL
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi memberikan arah kebijakan organisasi, maka di pandang perlu
adanya peraturan tentang Strategi Gerakan PMII dan Hubungan Eksternal
PMII Cabang Kabupaten OKI 2019-2020.
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten OKI
tentang Strategi Gerakan PMII dan Hubungan Eksternal PMII Cabang
Kabupaten OKI 2019-2020.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Strategi Gerakan PMII dan Hubungan Eksternal PMII Cabang Kabupaten OKI
2019-2020
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/.................................2019
Pukul :.........................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KOMISI C
STRATEGI DAKWAH DAN PENGEMBANGAN KAJIAN ISLAM
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI
A. PEMIKIRAN DAKWAH ISLAM
Bangsa Indonesia dihadapkan dengan persoalan yang sangat komplek, persoalan yang menjadi target
penyelesaian adalah kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan bencana alam. Dengan keadaan bangsa yang
memprihatinkan tersebut, bukan hanya pihak-pihak tertentu yang memikirkan dan mempertanggungjawabkannya, tetapi
kita semua perlu untuk mencari jalan keluar (problem solving) untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, mencari
jalan keluar dari keterpurukan dan memberikan masukan/petunjuk kepada segenap elemen bangsa merupakan bagian
dari terminologi dan hakikat dakwah dan ibadah menurut agama Islam. Jadi, kalimat dan kata dakwah sesungguhnya
tidak hanya sebatas mengajak orang untuk melakukan ibadah ritualistik (Normatif, Mahdhoh) maupun Amar Ma’ruf Nahy
Munkar tetapi melakukan kerja-kerja sosial juga merupakan bagian dari pekerjaan dakwah dalam Islam.
Maraknya aksi kekerasan dan terorisme yang dilakukan oleh segelintir orang dengan mengatasnamakan agama
yang 8 tahun terakhir ini sering terjadi membuat kita semua patut kecewa, sedih dan prihatin. Kecewa karena aksi
tersebut telah mengakibatkan munculnya banyak korban, baik hilangnya nyawa orang, hancurnya bangunan maupun
citra baik Indonesia di mata internasional. Sedih karena di saat bangsa kita masih menghadapi tantangan globalisasi,
tetapi ada segelintir anak bangsanya yang justru merusak pembangunan. Sedihnya lagi mereka melakukan itu semua
demi atas nama jihad di jalan Allah, menjadi ‘pengantin’ yang akan masuk surga, walau dengan cara mati bunuh diri.
Sungguh ini doktrin pemahaman agama yang salah. Prihatin karena mereka yang menjadi pelaku terorisme itu juga
sudah masuk ke generasi anak muda.
Apabila kita memperhatikan gerakan dakwah yang dilakukan umat Islam Indonesia belum terlalu banyak
kelompok-kelompok Islam yang memaknai dakwah secara transendental-transformatif, yaitu peristilahan untuk
menyebut gerakan dakwah yang berimplikasi pada perubahan sosial, menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan
bermartabat. Kebanyakan dakwah Islam hari ini masih belum menjawab persoalan yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat, baik persoalan keagamaan, sosial sampai persoalan kebangsaan.

Di Indonesia, terdapat berbagai bentuk dan paham keislaman. Secara general, dapat dipetakan ada kelompok
tekstualis yang berdakwah sesuai dengan bunyi teks Al-Qur’an- Hadits dalam menjalankan agama (sebut saja kaum
tekstualis) dan yang paling getol dan membahayakan ádalah gerakan PKS & KAMMI, maupun kelompok Islam liberal-
modernis yang lebih pada gerakan pemikiran. Namun kalau diteliti, sebetulnya kedua gerakan dakwah tersebut masih
jauh dari harapan masyarakat karena kedunya belum bisa menjawab problem yang dihadapi masyarakat yang berkultur
Nahdiyyin. Umumnya, mereka hanya mengedepankan egoisme dan fanatisme, sehingga muncul berbagai kekerasan
dan pemaksaan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dakwah yang tidak
menukik pada persoalan yang dihadapi umat yang paling mendasar, yaitu persoalan kemiskinan, kebodohan,
keterbelakangan, dan penjajahan ekonomi-politik. Kaum tekstualis terjebak pada dakwah yang hanya bicara soal
romantisme masa lalu dan dakwah yang hanya menyerukan ruju’ ila Al-Qur’an, sementara kaum liberal terjebak pada
wacana modernisme Barat. Tidak ada konsep dakwah, apalagi sampai pada tataran gerakan, yang mengarah kepada
gerakan memperbaiki kondisi masyarakat Indonesia yang masih terpuruk. Gerakan anti korupsi, misalnya, masih
sebatas seruan moral dan belum menyentuh pada laku umat. Demikian juga dalam menangani masalah ekonomi dan
pemberdayaan rakyat kecil.
Melihat kondisi sebagaimana tergambar tersebut, sebagai umat Islam, kita mempunyai tanggung jawab
bagaimana bisa menemukan formula gerakan dakwah yang bisa mengatasi persoalan umat dengan berdakwah sesuai
dengan realitas masyarakat Kabupaten OKI .

B. REFLEKSI PENGEMBANGAN PEMIKIRAN DAN DAKWAH PMII


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang berideologi
Islam Ahlussunnah waljamah senantiasa mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat besar untuk melakukan
gerakan dakwah islamiyah, yaitu mewujudkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin yang bias diterima semua elemen
masyarakat islam sesuai dengan konteks kultural masyarakat Indonesia.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai salah satu komponen yang menjunjung nilai – nilai
pluralisme dan humanisme, seyogyanya mempunyai peran dalam upaya memperbaiki bangsa dari keterpurukan dengan
sebuah konsep dakwah dan sosok da’i
yang bisa mendobrak kebekuan cara berpikir umat, membuka fanatisme kelompok, dan bisa membebaskan
bangsa dari penjajahan, kemiskinan dan kebodohan.
Hari ini ketika membicarakan tentang PMII yang berideologi Islam yang diwujudkan dalam kerangka berfikir
Ahlussunnah waljama’ah (Manhajul Fikr) ternyata banyak kader PMII yang belum betul-betul memahami dan mampu
mengaplikasikanya dalam kehidupan seharí–hari. Namun, apabila kita perhatikan hari ini, terutama di kota besar seperti
Ogan Komering Ilir, Surakarta dan Purwokerto, yang mengambil peran dakwah islamiyah, umumnya, kelompok Islam
fundamentalis dan Islam modernis. Sementara Islam Aswaja (PMII dan NU) belum maksimal. Masjid yang menjadi pusat
kegiatan umat, sudah banyak yang diambil-alih kaum fundamentalis dan modernis. Sementara aktivis PMII yang nota
bene berasal dari pesantren agak ogah memeriahkan masjid.
Masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam dan gerakan pemberdayaan dan pengembangan umat Islam,
sebagaimana dipraktikkan oleh Rosulullah SAW. dilakukan melalui masjid. Padahal situasi masyarakat yang sedang
dihimpit berbagai persoalan kehidupan krisis, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan bencana alama yang silih
berganti ini butuh solusi konkret untuk mengatasinya. Namun kader PMII sengaja tidak menyadari dan melupakannya. Di
situlah PMII harus melakukan koreksi terhadap pola gerakan dakwahnya selama ini yang cenderung kurang membumi
dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

C. ISU STRATEGIS DAKWAH DAN PENGEMBANGAN KAJIAN ISLAM DI PMII

Dari paparan di atas, setidaknya ada isu strategis gerakan pemikiran dan dakwah PMII adalah:
 Secara eksternal, gerakan dakwah keislaman di kota besar masih didominasi oleh kaum Islam
fundamentalis dan Islam liberal-modernis dimana kaum islam itupun bukan lahir dari perut Negara
Indonesia melainkan hasil impor Negara barat, sementara Islam Aswaja yang asli lahir dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kurang maksimal. Adapun tantangan dakwah di kota kecil, walau
gesekannya belum sekeras di kota besar, namun akhir-akhir ini juga sudah mulai terasa menghadapi
tantangan yang hampir serupa dengan yang di kota besar.Karena strategi-strategi yang dipakai sudah
merambah sampai kepelosok-pelosok desa.
 Secara internal, belum kuatnya etos berdakwah pada diri kader PMII, sehingga mengakibatkan belum
maksimalnya strategi gerakan pemikiran dan dakwah PMII dalam menjawab kebutuhan masyarakat sekitar

D. STRATEGI DAKWAH DAN PENGEMBANGAN KAJIAN ISLAM DI PMII


Dari isu strategis tersebut, program strategis yang merupakan cara atau taktik gerakan pemikiran dan dakwah
PMII ke depan adalah:
1. Penggemblengan secara optimal nilai-nilai keislaman (Ahlussunah Waljama’ah) PMII di semua tingkatan
(Rayon, Komisariat, PC, dan Masyarakat)
2. Mengaktifkan majelis taklim di kampus-kampus terutama kampus umum serta ikut berperan aktif dalam
majelis-majelis taklim di masyarakat sekitar.
3. Optimalisasi kajian keagamaan untuk mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin yang kontekstual sesuai
dengan kultur keIndonesiaan.
4. Melakukan pemetaan dan strategi pengembangan dakwah PMII untuk masyarakat, kampus dan internal
organisasi.
5. Menjalin komunikasi dan kerja sama intern umat Islam maupun antar umat beragama yang sesuai dengan
visi, misi dan tujuan PMII dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB
PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 008.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
STRATEGI DAKWAH DAN PENGEMBANGAN KAJIAN ISLAM
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi memberikan arah kebijakan organisasi, maka di pandang perlu
adanya peraturan tentang Strategi Dakwah dan Pengembangan Kajian Islam
PMII cabang Kabupaten OKI 2018-2019
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten OKI
tentang Strategi Dakwah dan Pengembangan Kajian Islam PMII cabang
Kabupaten OKI 2019-2020.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Strategi Dakwah dan Pengembangan Kajian Islam PMII cabang Kabupaten
OKI 2019- 2020.
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/.................................2019
Pukul :...........................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KOMISI D
STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN KOPRI DAN PEMBERDAYAAN KADER PEREMPUAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

I. GERAKAN PEREMPUAN
Akar historis wacana dan gerakan pemberdayaan perempuan di PMII menjadi sebuah kesadaran di dalam
organisasi sejak lama. Fakta nyata dapat di jumpai bermunculnya wadah dan forum kajian kesetaraan gender di struktur
PMII meski sangat dirasa setengah hati di tengah situasi kentalnya budaya patriarki. Di mana sebuah wadah yang massif
mengawal pemberdayaan kaderisasi perempuan. Pewacanaan kesetaraan peran laki-laki dan perempuan ini muncul
tahun 1980-an. Dalam konteks PMII, kehadiran wacana gender tidak hanya dipahami sebuah paket pengetahuan yang
bersifat tunggal dan bebas nilai. Namun, tetap pada posisi awas dengan tetap beradaptasi dan disesuaikan dengan nilai
kearifan lokal.
Pemiskinan sistemik memang masih dirasakan perempuan hingga kini, dalam bidang ekonomi termarjinalkan,
aras politik perempuan dinomorduakan, penikmat pembangunan terdiskriminasi, pendidikan mahal, sembako semakin
tidak terjangkau, kesehatan tak pernah mendapat pelayanan maksimal. Itulah sebabnya kembalinya ruh gerakan
pemberdayaan kaderisasi putri seperti halnya di lingkungan PMII sejatinya merupakan bagian integral upaya
mewujudkan cita-cita bangsa untuk ikut menyejahterakan dari pelaku hingga penikmat atas pembangunan untuk
masyarakat Indonesia seutuhnya. Langkah pemberdayaan kaderisasi putri dengan optimalisasi kemampuan potensi
kader menjadi titik focus arah kaderisasi dengan multi interdisipliner.
Memandang jauh awal mula gerakan gender masih menunjukkan lemahnya kemampuan gerakan perempuan
saat itu untuk membangun satu konsep perjuangan perempuan yang menyeluruh dan utuh. Belajar dari sejarah inilah
bagaimana warga pergerakan di lingkungan PMII sudah saatnya bergeser dari ritme rutinitas organisasi yang
“gambyang” dan segera merubah arah perlintasan jauh dari zaman terdahulunya. Posisi KOPRI dalam ranah gerakan
perempuan, tidak hanya terfokus pada persoalan perempuan di PMII. Akan tetapi bagaimana secara utuh warga
pergerakan dalam konteks kaderisasi ataupun dalam, bermasyarakat secara utuh mampu mengawal dan menjadi garda
depan menciptakan tatanan penguatan kaderisasi perempuan yang memiliki karakter pribadi yang kuat, cerdas,
berkepribadian tinggi, dan awas.
Besar harapan pengawalan kader yang menjadi tugas bersama secara utuh untuk tingkatan cabang, komisariat
dan rayon ini mampu menciptakan kepemimpinan perempuan yang progresif, dan mempunyai tanggung jawab besar
dalam mengawal setiap proses yang ada dalam bangsa ini dengan memegang teguh Ahlussunnah Waljamaa’ah dan
nilai-nilai dasar pergerakan yang tetap menjadi ruh gerakan dalam perjalanan KOPRI.

II. STRATEGI KADERISASI KOPRI


KOPRI dalam perjalananya mengalami banyak pasang surut. Dari setiap pertemuan Nasional dari berbagai event
dari Konsulnas dijakarta sampai dengan Kongres Di Banjar Baru. Sahabat – sahabat PMII masih mempermasalahkan
tentang status yang ada di tubuh PMII. Padahal tuntutan dari kader perempuan di PMII harus siap bersaing dengan era
globalisasi. Dimana dibutuhkan skill yang mendukung seorang kader dan kemapanan psikologi pada diri kader.
Alhasil pada Kongres Di Banjar Baru posisi KOPRI ditubuh PMII adalah Badan semi otonom yang secara hukum
susah untuk diterjemahkan. Posisi KOPRI hari ini sejajar dengan unsure pimpinan di setiap level kepegurusan, dan
disetiap level kepengurusan nama lembaga perempuan harus bernama KOPRI. Dan ini sangat berseberangan sekali
dengan sahabat- sahabat di Jateng. Dimana tidak semua lembaga bernama KOPRI. Hal ini yang mengakibatkan kita hari
ini agak susah untuk menemukan formulasi yang mapan tentang kaderisasi perempuan sampai pada level terbawah.

Berikut berbagai persoalan mendasar penguatan kaderisasi putri di Kabupaten OKI ;


1. Pengembangan Internal
Pengembangan organisasi internal merupakan upaya peningkatan kapasitas sumber daya kader
perempuan PMII dalam rangka mendorong penguatan kelembagaan organisasi. Meliputi :
a. Penguatan Institusi KOPRI dan wadah perempuan di struktur PMII
b. Penguatan Ideologi Ahlusunnah Waljama’ah dan paradigma sebagai sumber anatomi gerakan.
c. Pembenahan peraturan organisasi, managemen organisasi dan administrasi organisasi.
d. Penguatan intelektualitas kader, menggiatkan kembali ngangsu kawruh sebagai upaya memperkuat
institusi dan pribadi untuk mencapai tujuan organisasi. Seperti road show, diskusi mendalam,
diskusi terbatas dan olah mata dengan membaca literature yang di sepakati bersama tentang tokoh
ulama, tokoh intelektual, sejarawan, dsb.
e. Penguatan resources dengan pembinaan, pendidikan, dan pelatihan penguatan SDM kader putrid.
Misal; Workshop Konselor, Pelatihan Gender Budgeting, Pendidikan Monitoring dan Problem
Solver, Diklat Instruktur Kaderisasi Putri, Enterpreneurship Bisnis Women dengan bidikan
pengembangan kapasitas diri kader.
f. Memunculkan Srikandi (kelompok perempuan) sebagai simpul konsolidasi gerak dan penyampai
maksud dan penyepaham gerakan secara kolektif.

2. Pengembangan Eksternal KOPRI


Pengembangan Organisasi Eksternal adalah upaya Aksi dan konsolidasi gerakan KOPRI dalam rangka
menuju masyarakat yang berkeadilan gender, Meliputi :
1. Advokasi Undang-Undang / kebijakan yang sensitif Gender.
2. Konsolidasi gerakan perempuan secara massif di semua level dalam gerakan isu bersama.
3. Menagawal tentang kesehatan reproduksi pada remaja
4. Distribusi kader perempuan PMII pada ruang-ruang strategis.
5. Penguatan jejaring alumni, gerakan perempuan dan media sebagai upaya publikasi penguatan
gerakan perempuan.
6. Ajak serta dinas – dinas terkait dengar pendapat dan menfasilitasi kegiatan yang langsung
bersentuhan dengan masyarakat tingkat bawah.
7. Komunikasi aktif dengan ORMAS pemberdayaan perempuan (IPNU/IPNNU, Fatayat, Muslimat,
Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah), LSM yang fokus pada korban dan pemberdayaan perempuan
(LRC-KJHAM, PERISAI, SERUNI, LBH Ogan Komering Ilir, KPI, PATTIRO, SETARA, dll),
Akademisi (PSG - Pusat Study Gender).
8. Pelibatan aktif kader untuk meneliti, mengamati proses peran perempuan pada kunci aspirasi
politik.

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 009.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN KOPRI
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi memberikan arah kebijakan organisasi, maka di pandang perlu
adanya peraturan tentang penetapan Strategi Pengembangan Kelembagaan
KOPRI PMII Cabang Kabupaten OKI 2019-2020
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten OKI
tentang Strategi Pengembangan Kelembagaan KOPRI PMII Cabang
Kabupaten OKI 2019-2020.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Strategi Pengembangan Kelembagaan KOPRI PMII Cabang Kabupaten OKI


2019-2020
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/.................................2019
Pukul :...........................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
TATA TERTIB
PEMILIHAN MANDATARIS/KETUA UMUM DAN TIM FORMATUR
KONFERENSI CABANG KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI MASA KHIDMAT 2019-2020

BAB I KETENTUAN UMUM


Pasal 1
KONFERCAB KE-IV PMII Kabupaten OKI adalah memilih dan menetapkan seorang Ketua Umum sekaligus Tim
Formatur PC PMII Kabupaten OKI masa khidmad 2019-2020.

Pasal 2
Ketua Umum terpilih akan menjadi pimpinan PC PMII Kabupaten OKI untuk Masa Khidmat 2018-2019

BAB II KETETAPAN SUARA


Pasal 3
Setiap Komisariat Devenitif mempunyai hak 1 (satu) suara.
(Dibuktikan Dengan SK Dari Pengurus Cabang)

BAB III MEKANISME PEMILIHAN


Pasal 4

Pemilihan dilakukan dengan melalui 2 (dua) tahap yaitu ;


1. Tahap pencalonan.
a. Dilakukan secara voting tertutup.
b. Setiap Komisariat berhak mengajukan 1 (Satu) nama calon kandidat dari anggota dan kader Komisariat
PMII Cabang Kabupaten OKI dengan disertai surat rekomendasi yang bisa dan dapat
dipertanggungjawabkan dengan dibuktikan Ketua Komisariat.
c. Calon kandidat yang direkomendasikan berhak maju ke tahap pemilihan jika didukung minimal 2 suara
atau lebih.
d. Pemilihan dilakukan menggunakan kertas pemilihan yang disediakan panitia (dibubuhi stampel) dengan
sistem Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia
2. Tahap Pemilihan.
a. Dilakukan secara voting tertutup.
b. Setiap Komisariat berhak memilih 1 (satu) nama calon kandidat dari hasil tahap pencalonan.
c. Jika dalam pemungutan suara terdapat suara terbanyak yang sama, maka , Tahapan pemilihan akan
diulang dengan ketentuan calon yang memiliki suara yang sama yang berhak dipilih kembali.
d. Calon yang mendapatkan suara terbanyak ditetapkan menjadi Ketua Umum PMII Cabang Kabupaten OKI
e. Pemilihan dilakukan dengan menggunakan kertas pemilihan yang disediakan panitia (dibubuhi stempel)
dengan sistem Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia.

BAB IV
SYARAT-SYARAT KETUA UMUM
Pasal 6

Syarat-syarat Ketua Umum PC PMII Kabupaten OKI , yakni :


1. Beriman dan bertaqwa kepada ALLAH SWT
2. Memilki integritas dan loyalitas terhadap PMII.
3. Dapat menyanyikan lagu Mars dan Hymne PMII.
4. Telah mengikuti jenjang pengkaderan formal MAPABA, PKD, PKL.
5. Menunjukkan bukti keikutsertaan pengkaderan formal ( Sertifikat/Saksi Hidup )
6. Mendapatkan rekomendasi dari komisariat asal atau yang bersangkutan.
7. Menguraikan secara singkat arah dan strategi gerakan dan visi-misi PC PMII Kabupaten OKI di depan peserta.
8. Pernah aktif di kepengurusan PC PMII Kabupaten OKI .
9. Bersedia berdialog dengan peserta maksimal 10 (sepuluh) menit tiap kandidat.
BAB V
TIM FORMATUR
Pasal 7
Tim formatur adalah perwakilan peserta KONFERCAB dalam rangka membentuk susunan kepengurusan PC PMII
Kabupaten OKI Masa Khidmat 2019-2020

Pasal 8
Tim formatur dipilih oleh peserta KONFERCAB sebanyak 6 orang

Pasal 10
Ketua umum memilih sekertaris umum dan menyusun Struktur PC selengkap-lengkapnya dibantu 6 orang formatur yang
dipilih peserta KONFERCAB KE-IV dalam waktu selambat- lambatnya 7X24 Jam .

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 010.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
TATA TERTIB PEMILIHAN KETUA UMUM & TIM FORMATUR
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI MASA KHIDMAT 2018-2019
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa demi mewujudkan ketertiban dan kelancaran, maka di pandang perlu
adanya peraturan tentang Tata Tertib pemilihan mandataris/ ketua umum dan
tim formatur PC PMII Kabupaten OKI masa Khidmat 2019-2020.
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konferensi Cabang Ke-IVPMII Cabang Kabupaten OKI
tentang Tata tertib Pemilihan Mandataris/Ketua Umum dan Tim Formatur PMII
Cabang Kabupaten OKI 2019-2020.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN

Menetapkan : 1. Tata tertib Pemilihan Mandataris/Ketua Umum dan Tim Formatur PMII Cabang
Kabupaten OKI Masa Khidmat 2019-2020.
2. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
3. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq
Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/.................................2019
Pukul :...........................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
TAHAPAN PENJARINGAN BAKAL CALON

NO NAMA SUARA

1
2
3
4

TAHAP PENCALONAN

NO NAMA SUARA

1
2
3
4

TIM FORMATUR
1. ............................................................................. (Katua Terpilih sebagai Ketua Formatur)
2. .............................................................................. (Anggota)
3. .............................................................................. (Anggota)
4. .............................................................................. (Anggota )
5. .............................................................................. (Anggota )
6. .............................................................................. (Anggota )
KONFERENSI CABANG (KONFERCAB) KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
( Branch Board of Indonesian Moslem Student Movement )
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR
U-03
Sekretariat : JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI 30657

KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 011.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
PEMILIHAN KETUA UMUM DAN TIM FORMATUR
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI MASA KHIDMAT 2018-2019
Bismillahirohmaanirrohim
Pimpinan Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten OKI ,
setelah:

Menimbang : 1. Bahwa untuk efektivitas menjalankan program kerja organisasi, memimpin dan
membentuk kepengurusan organisasi PMII Cabang Kabupaten OKI , maka
dipandang perlu adanya pemilihan ketua umum dan tim formatur PMII Cabang
Kabupaten OKI .
2. Bahwa untuk memberikan kepastian hukum maka di pandang perlu untuk
menetapkan keputusan Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI tentang
pemilihan ketua umum dan tim formatur untuk menyusun kepengurusan PMII
Cabang Kabupaten OKI Periode 2019-2020.

Mengingat : 1. Anggaran Dasar PMII


2. Anggaran Rumah Tangga PMII
3. Nilai Dasar Pergerakan PMII

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Konfercab Ke-IV PMII Cabang Kabupaten OKI

MEMUTUSKAN
Menetapkan : 1. Konferensi Cabang XXXVI PMII Cabang Kota Ogan Komering Ilir, memilih
dan menetapkan Sahabat …………………………… .… sebagai Ketua Umum
PMII Cabang Kabupaten OKI Masa Khidmat 2019-2020.
2. Menetapkan tim Formatur sebagaimana dalam lampiran untuk membahas dan
melengkapi susunan kepengurusan PC PMII Kabupaten OKI masa khidmad
2019-2020.
3. Keputusan ini akan di tinjau kembali jika kemudian terdapat kekeliruan
4. Keputusan ini berlaku sejak di tetapkan

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamithoriq


Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir
Hari / Tanggal : ………………/.................................2019
Pukul :...........................WIB
PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota
LAMPIRAN
KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG KE-IV
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
Nomor: 11.KONFERCAB-IV.PC-III.U-03.01.01.A-I.12.2019
Tentang:
PEMILIHAN KETUA UMUM DAN TIM FORMATUR
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
CABANG KABUPATEN OKI MASA KHIDMAT 2019-2020

Tim formatur PC PMII Kabupaten OKI masa khidmad 2019-2020 yang berjumlah 6 orang, terdiri dari :

1. ............................................................................. (Katua Terpilih sebagai Ketua Formatur)


2. .............................................................................. (Ketua Demisioner)
3. .............................................................................. (Anggota )
4. .............................................................................. (Anggota )
5. .............................................................................. (Anggota )
6. .............................................................................. (Anggota )

Ditetapkan di : Ogan Komering Ilir


Hari / Tanggal : ………………/..............2019
Pukul :.................WIB

PIMPINAN SIDANG KONFERCAB KE-IV


PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KABUPATEN OKI

(……………………................…) (……................………………….) (………………...............................…….)


Ketua Sekretaris Anggota