Anda di halaman 1dari 20

Critical Jurnal Review

Disusun oleh:

M Fajri Siahaan (5183530012)

Mata Kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia


Dosen Pengampu : Trisnawati Hutagalung, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK ELEKTRO


UNIVERSITAS NEGRI MEDAN Oktober 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya
dengan rahmat-Nyalah saya akhirnya bisa menyelesaikan critical jurnal review yang berjudul
ini dengan baik tepat pada waktunya

Tidak lupa saya menyampaikan rasa terimakasih kepada dosen mata kuliah ini yang
telah memberikan banyak bimbngan serta masukan yang bermanfaat dalam proses
penyusunan critical jurnal review ini. Rasa terima kasih juga hendak saya ucapkan kepada
rekan rekan mahasiswa ysng juga memberikan masukan baik secara langsung maupun tidak
langsung sehinhgga critical jurnal review ini dapat selesai pada waktu yang telah ditentukan.

Meskipun saya sudah menumpulkan banyak referensi untuk menunjang penyusunan


Cjr ini, namun saya menyadari juga bahwa dala Cjr yang saya susun ini masih terdapat
banyak kesalahan dan kekurangan. Sehingga saya mengharapkan saran serta masukkan dari
pembaca demi tersusunnya cjr yang kebih baik lagi. Akhir kata, saya berharap agar cjr ini
bisa memberikan banyak manfaat bagi para pembaca untuk menambah wawasan bagi para
pembaca

Medan, Oktober 2019

2
Daftar isi

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………4


1.1 Rumusan Masalah ……………………………………………4
1.2 Tujuan Penulisan ……………………………………………4
1.3 Manfaat Penulisan ……………………………………………4
1.4 Identitas Jurnal ……………………………………………4

BAB II RINGKASAN MATERI ……………………………………………5


2.1 Ringkasan Jurnal 1 ……………………………………………5
2.1 Ringkasan Jurnal 2 ……………………………………………11

BAB III ANALISIS ……………………………………………17


3.1 Pembahasan ……………………………………………17

BAB IV PENUTUP ……………………………………………19


4.1 Kesimpulan ……………………………………………19
4.2 Saran ……………………………………………19

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………20

3
BAB I PENDAHULUAN
Critical Jurnal Review ini berisi tentang ringkasan, kritik, saran, dan juga sedikit juga
pembahasan dari jurnal jurnal ini. CJR ini membahas tentang “Kata Serapan Bahasa
Sansekerta Dalam bahasa indonesia” dan “Kata serapan bahasa sansekrta dalam bahasa
indonesia dan bahasa thai sebagai pengajaran bahasa”. Kami juga akan menyertakan
ringkasan dari jurnal. Dalam Critical Jurnal Review kami akan memaparkan masalah tersebut
lewat pembahasan berikut semoga CJR dapat memberikan pemahaman kepada pembaca dan
penulis.

1.1 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dapat dijabarkan dalam penulisan critical jurnal review ini
adalah sebagai berikut.
Bagaimana review atau ringkasan tentang jurnal ini?
Apa saja kelebihan dan kekurangan dari jurnal-jurnal?

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan Dibuat CJR ini untuk menjadi salah satu referensi ilmu yang bermanfaat untuk
menambah wawasan ilmu bagi pembaca dan penulis dala mengetahui kekurangan dan
kelebihan dalam suatu jurnal dan juga untuk menambah sedikit wawasan tentang Penggunaan
bahasa sansekerta dan bahasa thai.

1.3 Manfaat Penulisan


Untuk membantu para pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari sebuah
jurnal atau hasil karya tulis ilmiah lainnya secara ringkas.
Mengetahui kelebihan dan kekurangan jurnal yang diringkas
Mengetahui latar belakang dan alas an jurnal tersbut dibuat
Mengetahui kualitas jurnal dengan membandingkan terhadap karya jurnal penulis lainnya

1.4 Identitas Jurnal


Jurnal 1
Judul jurnal : Kata Serapan Bahasa Sansekerta Dalam bahasa indonesia
Jumlah halaman : 10
Tahun terbit : 2015
Penulis : Arif Budi Wurianto
E-mail : wuri_san@yahoo.com

Jurnal 2
Judul jurnal : Kata serapan bahasa sansekrta dalam bahasa indonesia dan bahasa
thai sebagai pengajaran bahasa
Jumlah halaman : 10
Tahun terbit :-
Penulis : Siriporn Maneechukate
E-mail : siripornm259@yahoo.com

4
BAB II RINGKASAN MATERI
2.1 Ringkasan jurnal 1

Abstrak

Penelitian ini mendeskripsikan tentang linguistis (1) kosakata bahasa Melayu yang
diperoleh dari bahasa Sansekerta dan (2) perubahan bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu
dan bahasa Indonesia. Penelitian ini bercorak kualitatif dengan metode deskriptif.Sumber
data penelitian berasal dari dokumen tertulis berupa kamus, yaitu “Dictionaire Malais-
Français Par L’abbé P. Favre, Vienne Imprimerie Impériale Et Royale, Tahun
MDCCCLXXV Paris, buku 1 (917 halaman) dan Buku 2 (879 halaman)”. Hasil penelitian
ini, dari 413 kosakata bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Sanskerta menunjukkan (1)
kosakata bahasa Sanskerta ada yang mengalami perubahan bentuk dan ada pula yang tetap
sebagaimana bahasa asliSanskerta,
(2) perubahan makna terjadi bilamana (a) kata Sanskerta sama dengan bahasa Melayu dan
berubah dalam bahasa Indonesia, (b) kata Sanskerta sama dengan bahasa Indonesia dan
berubah dalam bahasa Melayu, (c) kosakata Sanskerta ditemukan dalam bahasa Melayu dan
tidak menjadi bahasa Indonesia, dan (d) serapan Sanskerta dalam bahasa Melayu ditemukan
juga dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno), bahasa Jawa, dan bahasa Sunda, tetapi tidak/belum
menjadi kosakata bahasa Indonesia.

Pendahuluan

Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang memiliki ciri nonfleksi, peranan kosakata
sangat penting. Kosakata menunjukkan fungsi dalam kategori gramatikal. Kosakata bahasa
Indonesia umumnya berasal dari bahasa Melayu, karena bahasa Indonesia merupakan
pengembangan dari bahasa di nusantara,yaitubahasaMelayu(Kridalaksana,1986: 76).
Dalamperkembangannya pun bahasa Indonesia mengalami perubahan kosakata, baik dari
bahasa serumpun, bahasa daerah maupun bahasa asing melalui perdagangan, penjajahan,
maupun situasi perubahan sosial politik. Salah satu bahasa asing yang banyak memberikan
pengaruh terhadap kosakata bahasa Melayu, Kawi, Jawa, maupun Indonesia adalah bahasa
Sanskerta (Soebadio, 1985: 35). Pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa- bahasa
dinusantara disebabkan oleh perdagangan dan penyebaran agama Hindu dan Budha kurang
lebih pada abad ke-7 Masehi.
Bahasa Sanskerta adalah salah satu rumpun dalam keluarga bahasa Proto Indo Eropa
yang banyak melahirkan bahasa-bahasa di Eropa. Sejalan dengan perdagangan dan
persebaran agama Hindu dan Budha di Asia Tenggara, termasuk nusantara, bahasa Sanskerta
yang digunakan untuk menulis Weda menjadi lebih dominan berpengaruh terhadap bahasa
Jawa, Bali, dan Melayu Kuno. Bahasa Sanskerta digunakan sebagai bahasa kesusasteraan
India yang hanya dikuasai oleh para cerdik pandai dan para pendeta. Mengingat bahasa
Sanskerta memiliki keterkaitan sejarah dengan bahasa Jawa dan Melayu, maka perlu diteliti
untuk diperoleh deskripsi linguistis yang relatif lengkap. Penelitian ini akan memberikan
informasi data tentang masalah asal usul bahasa Indonesia, perubahan bentuk kata dari
bahasa Sanskerta menjadi Melayu Kuno dan bahasa Indonesia, (3) pendokumentasian kata
serapan dari bahasa Sanskerta (Sudaryanto, 2000: 59). Ditilik dari relevansinya dengan
bahasa Indonesia, hasil penelitian ini akan sangatbermanfaat bagi pembinaan, pengembangan,
dan pembakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

5
Berkenaan dengan pembelajaran bahasa Indonesia, hasil penelitian ini dapat
dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif. Pembelajaran bahasa
Indonesia pada dasarnya memerlukan dasar-dasar kebahasaan yang sahih, lengkap, dan
mendalam dari semua bahasa di Indonesia, khususnya kata serapan yang salah satunya
berasal dari bahasa Melayu dan Sanskerta. Ditinjau dari pengembangan teori linguistik
nusantara, kajian terhadap kosakata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta dapat
dikembangkan linguistik nusantara melalui kajian leksikon dan kamus lama yang berbahasa
Melayu, sehingga akan diperoleh gambaran objektif pertumbuhan dan perkembangan bahasa
Melayu yang akhirnya menjadi bahasa Indonesia yang sahih, lengkap dan mendalam
(Shidarta, 1995:75). Data kebahasaan hasilpenelitianinisangatpentingkarenamerupakan
sumber informasi bagi pemahaman sifat universalisme bahasa. Semakin banyak data
kebahasaan diperoleh dari berbagai sumber dan lapangan kajian, makin tampak pula
keragamangejala kebahasaan yang dapat dipahami. Meskipun pembicaraan dan analisis
terhadap bahasa Sanskerta telah banyak ditulis dan ditelaah, namun kajian terhadap kamus
lama (kodikologi) yang memuat asal mula kosakata yang digunakan bahasa Melayu sebagai
asal bahasa Indonesia perlu juga dilakukan sebagai perspektif dan variasi kajian terhadap asal
usul dan sumber kosakata suatu bahasa. Masalah yang dilaporkan dalam penelitian ini pada
pokoknya berupa penjelasan mengenai kosakata bahasa Melayu yang diperoleh dari
bahasaSanskerta, jenis kata yang diserapdari bahasa Sanskerta, makna kata serapan bahasa
Sanskerta,dan perubahan yang terjadi dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Melayu dan
bahasa Indonesia (Collins, 2009: 76). Penelitian ini bertujuan menghimpun kosakata bahasa
Sanskerta yang diserap bahasa Melayu sebagai induk bahasa Indonesia. Hal ini dimaksudkan
mampu melengkapi perian pemakaian kosakata bahasa Indonesia dalam upaya penyelamatan,
pembinaan, pelestarian bahasa Indonesia

METODE

Penelitian ini bercorak kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian
berasal dari dokumen tertulis berupa kamus, yaitu “Dictionaire Malais-Français Par L’abbé
P. Favre, Vienne Imprimerie Impériale Et Royale, Tahun MDCCCLXXV Paris, buku 1 (917
halaman) dan Buku 2 (879 halaman)”. Buku ini dipilih karena memuat kosakata yang sudah
berbahasa Melayu serta berhuruf Latin dan Arab Melayu dengan penjelasan bahasa Sanskerta
dengan huruf Devanagari. Dokumen penunjang lain yaitu buku kamus: ”Practical Sanskrit
Dictionary (Sir Arthur Anthony McDonell), Oxford University Press.1958. Sesuai dengan
sifat, tujuan dan ruang lingkup masalah, penelitian ini menggunakanpendekatan historis. Data
berupa korpus kata-kata berbahasa Melayu yangberasal daribahasa Sanskerta, baik yang telah
mengalami perubahan bentuk, makna, penulisan, dan gejala kebahasaan tertentu.
Teknik pengumpulan data adalah mencermati dan mencatat. Data berupa korpus tulis
dalam kamus yang dicatat setelah melalui pencermatan, penafsiran, dan penerjemahan.
Setelah data terkumpul dilakukan proses filling dan klasifikasi data selanjutnya dilakukan
analisis. Dalam praktiknya dilakukan secara bersamaan, seluruh korpusdikelompokkan
menurut persamaan bentuk, jenis dan makna. Filling dan klasifikasi dilakukan dengan
bantuan instrumen tabulasi data dandaftar.
Dalam persiapan penelitian, kegiatan yang dilakukan adalah menentukan kata beserta
arti kata yangdiperolehdaripencermatankamus.Selanjutnya dilakukan seleksi melalui
pencermatan kesamaan kata dalam bahasa Melayu dengan kata dalam bahasa Indonesia.
Dilanjutkan dengan pemeriksaan transkripsi huruf Arab Melayu dan asal kata dalam bahasa
Sanskerta baru kemudian analisis yaitu mengklasifikasikan bentuk-bentuk, pengelompokan
berbagai bentuk kata, arti kata, perubahan makna kata, tabulasi bentuk-bentuk kelompok
kata, sehingga diketahui perubahan dan perkembangan kata yang diteliti.Pada tahap

6
perumusan dilakukan generalisasi bentuk kata, pola perubahan secara fungsional, sehingga
diperoleh deskripsi linguistis secara menyeluruh tentang kata serapan bahasa Sanskerta dalam
bahasaMelayu/Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bahasa Sanskerta sebagai Bahasa Asing


Bahasa Sanskertayang berkembangdi Indonesia adalah bahasa Sanskerta yang digunakan
untuk menuliskan sastra Hindu, seperti Ramayana, Mahabarata, dan Weda. Bahasa dan sastra
Sanskerta di Indonesia memegang peranan penting dan berpengaruh besar terhadap bahasa
dan sastra di Indo- nesia, terutama Jawa Kuno dan Bali. Melalui bahasa dan sastra Jawa Kuno
berpengaruh pula terhadap tumbuhnya bahasa Melayu dan IndonesiaModern.
Bahasa Sanskerta merupakan bahasa arketipe yang sudah diteliti dan dipelajari secara
mendalam sejak permulaan abad masehi, sedangkan untuk pelajaran di luar kawasan budaya
India atau Hindu- Budha sejak abad ke-17. Pengaruh bahasaSanskerta terhadap bahasa di
nusantara dimulai sejak abad pertama sampai lebih kurang abad ke-14 yaitu ketika orang-
orang Hindu dari India selatan melakukan perdagangan ke nusantara. Pusat-pusat agama
Hindu yang banyak tersebar di Jawa menyebabkan bahasa Sanskerta tumbuh bubur di
wilayah nusantara secara dominan. Masuknya kosakata bahasa Sanskerta dalam bahasa Jawa
Kuno maupun Melayu pada umumnya masih dalam keadaan utuh dan murni, baik bunyi
maupun arti meskipun dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan gejala bahasa.
Hal ini disebabkan masuknya bahasa Sanskerta melalui bahasa pustaka atau bahasa tertulis.
Bahasa Sanskerta ditulis dengan huruf Devanagari, sedangkan di Indonesia banyak
digunakan huruf Pallawa yaitu huruf yang biasa dipakai oleh orang- orang Hindu di
IndiaSelatan.
Bahasa Sanskerta mempunyai pengaruh yang
kuat untuk dijadikan sumber utama bagi pembentukan istilah baru, karena sifat kesastraannya
yang memungkinkan kosakata inimenjadi istilah,
sebagaimanapenggunaanbahasaLatinuntukbahasa ilmu pengetahuan. Pada mulanya bahasa
JawaKuno menyesuaikandiridenganbahasaSanskertasewaktu memasukkan struktur
kompositum dalam sistem bahasa. Masuknya kata-kata Sanskerta tidak terjadi tanpa
perubahan, tetapi perubahan itu seringkali menjadikan salah pengertian atau salah dengar,
sehingga banyak kosakata Sanskerta telah berubah hingga sulit ditentukan kataasalnya.
Bahasa Indonesia berdasarkan sejarahnya berasal dari bahasa Melayu Kuno yang berbentuk
kesusasteraan dan tulisan. Prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya di Palembang, Jambi,
Bangka pada abad ke-7 masehi atau tahun çaka 604, 605, dan 608 ditulis dengan huruf
Pallawa dan menggunakan bahasa Sanskerta (Kridaklasana, 1986: 60). Bahasa Melayu Kuno
pada masa Sriwijaya tersebar ke daerah kekuasaan lain seperti Minangkabau di Sumatera
Barat, Bangka, Malaka. Selanjutnya, perkembangan bahasa Sanskerta di Jawa karena
pengaruh agama Hindu Budha yang dianut para raja dan menjadi agama rakyat. Melihat
adanya keterkaitan sejarah antara bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, dan Melayu, maka pengaruh
bahasa Sanskerta banyak berupa pemakaian kosakata yang bermakna agama, budaya, dan
sebutan untuk kata benda.
Dalam penelitian ini inventarisasi kata merupakan tugas utama untuk memperoleh korpus
data yang diinginkan. Berdasarkan prinsip kerja teori linguistik historis, yaitu studi tentang
bagaimana suatu bahasa bekerja pada suatu waktu tertentu dilakukan dengan mengupas
“basic vocabulary”, sehingga diketahui masalah difusi kebudayaanasing ke Indonesia.
Prinsip-prinsip eklektif digunakan dalam penelitian dengan pijak. Kajan linguitstik historis,
prinsip lain yang relevan dan berguna bagi analisis adalah pentingnya data tulis sebuah

7
bahasa arketipe. Oleh sebab itu, kamus dipandang cukup relevan karena ketersediaan
korpustulis.
Dalam perkembangan bahasa Indonesia, serapan sebagai unsur pemerkaya kosakata telah
dilakukan, salah satunya dari bahasa Sanskerta. Penyerapan istilah asing digunakan untuk
mengembangkan kosakata bahasa Indonesia dengan pertimbangan istilah serapan yang
dipilih lebih cocok konotasinya, istilah serapan yang dipilih lebih singkat jika dibandingkan
dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, dan istilah serapan yang dipilih dapat
mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyaksinonim.
Bahasa Sanskerta sebagai bahasa asing yang diserap bahasa Indonesia baik dalam bentuk
istilah maupun bentuk kata yang diambil dari bahasa Melayu berbentuk dasar dan turunan.
Pada prinsipnya yang dipilih adalah bentuk tunggal. Faktor kepraktisan, situasi atau konteks
pemakaian, kemudahan mempelajari dan faktor transliterasi sebagai prinsip pemilihan.
Kosakata bahasa Sanskerta yang digunakan dalam bahasa Melayu dan diambil sebagai
bahasa Indonesia merupakan pengambilan bentuk kosakata karena faktor kesejarahannya

Kosakata
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 412kata yang berasal dari bahasa Sanskerta, baikyang
digunakan dalam bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia dengan berbagai perubahan
bentuk dan makna.

Tabel 1 Korpus Kata Serapan Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia
No. Bahasa Bahasa Bahasa
Melayu Indonesia Sanskerta
1 Ayah ayah vayas
2 Upati upeti utpati
3 Aksara aksara acara
4 Ugama agama agama
5 Angkara angkara shangkara
6 Angkasa angkasa akasa
7 Angga anggota angga
8 Angka angka angka
9 Anggara racun (?) anggara
10 Angsana angsana asana
11 Angsoka asoka acoka
12 Acara acara acara
13 Aji aji aji
14 Ajujah umpat jarj
15 Ajar ajar acarya
16 Utama utama uttama
17 Ataw atau utawa
18 Adi adi adi
19 Adipati adipati adipati
20 Udara udara adara
21 Aniyaya aniaya anyaya
22 Aneka udara aneka
23 Anugera anugerah anugraha
h
24 Anta ? anta
25 Antara antara antara

8
26 Anduwa rentetan andu
n
27 indera indera Indra
28 upaya upaya Upáya
29 upama umpama Upama
30 apiun opium Apéna
31 upacara upacara Upacara
32 ama hama Ama
33 usaha usaha Utsaha
34 asu Jw:asu Çwan
35 istanggi setanggi Astangga
36 isteri isteri Stri
37 asmara asmara Smarga

Berdasarkan data tersebut, dapat dijelaskan bahwa dari keseluruhan data (412 kata), kosakata
bahasa Indonesia yang diserap dari bahasaSanskerta dengan mengalami (a) perubahan bunyi
sejumlah 188 kata (47%) (b) perubahan bentuk sejumlah 234 kata (58,5%), (c) perubahan
makna sejumlah 40 kata (10%), (d) kosakata Sanskerta yang terdapat dalam bahasa Melayu
dan tidak ada dalam bahasa Indonesia sejumlah 31 kata (7,8%), (e) kosakata Sanskerta yang
terdapat dalam bahasa Melayu, Jawa, Kawi, Sunda, tetapi tidak terdapat dalam bahasa
Indonesia sejumlah 24 kata (6%),dan
(f) kosakata Sanskerta yang terdapat dalam bahasa Melayu danbahasa Indonesia dengan tidak
mengalami perubahan bentuk, bunyi, dan makna sejumlah 86 kata (21,5%)

Meskipundemikianterdapatpulakosakatayang dalam bahasa Sanskerta, Melayu maupun Jawa


memiliki bentuk dan arti yang sama. Secara distribusi korpus sampel variasi iniadalah.

angka Acara ka Ji
adi Antara upaya
Adipati
upacara Hantu kasta Ata
Kusuma Guna guru Gand
a
garuda Jaya jagat Ala
putra Pa(e)ndi bara Beda
ta
puri Sutra
Temuan dalam penelitian ini adalah informasi kebahasaan yang berkaitan dengan kata
serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta melaluikosakata bahasa Melayu. Ditemukan data
kebahasaan dengan penjelasan sebagaiberikut.
1. Bahasa Melayu sebagai sumber bahasa Indonesia banyak menyerap kosakata bahasa
Sanskerta. Kategorisasi untuk iniadalah
(1) kata yang berasal dari bahasa Melayu yang mengambil bahasa Sanskerta berupa
kosakata yangdigunakandalampenamaandansebutan
(2) kata yang bersifat asli langsung dari bahasa
Sanskertadanbahkanmendapattambahanunsur dari bahasa Kawi atauJawa.
2. Berdasarkan kosakata yang sudah ada,kosakata bahasa Sanskerta dalam bahasa
Indonesia tidak berasal dari bahasa Jawa tetapi dari bahasa Melayu. Hal ini dapat
dibuktikan adanya kesamaan antara kosakata Melayu dengan Kawi, Jawa, danSunda.

9
(b) Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak412 kosakata bahasa Melayu yang berasal dari
bahasa Sanskerta dengan kategorisasi (a) ada kata yang berasal dari bahasa Sanskerta
yang mengalami perubahan bentuk, sehingga kronologi
perolehannyadariSanskertakeMelayumenjadi Indonesia, (b) ditemukan kata yang
mengalami perubahan bentuk, baik dari bahasa Sanskerta
kebahasaMelayudanmenjadibahasaIndoesia ditemukan kata yang mengalami perubahan
makna dengan kategori (1) kata dalam bahasa Sanskerta dengan Melayu sama tetapi
mengalami perubahan dalam bahasa Indonesia, (2) kata dalam bahasa Sanskerta dengan
Indonesiasama tetapi dalam bahasa Melayu mengalami perubahan, (3) kata dalam
bahasa Sanskerta ada dalam bahasa Melayu, tetapi tidak ditemukan dalam bahasa
Indonesia, (4) kata dalam bahasa Melayu ada dalam bahasa Kawi, Jawa, Sunda,
tetapitidakterdapatdalambahasaIndonesia.
3. Pada umumnya kata dalam bahasa Sanskerta telah mengalami perubahan makna.
Perubahan bentuk dan makna terjadi karena perbedaan rumpunbahasa yang memiliki
ciri bahasa yangberbeda.
4. Beberapa kata yang berasal dari bahasa Sanskerta setelah menjadi bahasa Indonesia
mengalami perubahan pemakaian. Kata semacam ini dalam bahasa Indonesia menjadi
ragam khusus, misalnya untuk sastra atau penamaan sesuatu. Contoh kata /kala/ dalam
bahasa Indonesia memiliki variasi :/tatkala/, /kala/, /senjakala/, banyak dimanfaatkan
untuk sastra. Dalam kosakata sehari-hari, lebih banyak digunakan kata /waktu/ yang
diambil daribahasa Arab.
5. Beberapa bentukan kata yang memiliki makna asosiatif antara lain: (a) kata ‘puasa’
lebih banyak digunakan untuk kosakata keagamaan, misalnya puasa ramadhan, puasa
senin dan kamis, Kata puasa identik dengan ranah kosakata Islam. Kata puasa dalam
bahasa Arab adalah ‘shaum’, ‘shiyam’ yang juga ditemukan dalam bahasa Jawa ragam
halus tinggi ‘siyam’. Dalam bahasa Sanskerta, berasal dari kata/ upavasa/. Kata /upa/
banyak terkait dengan nilai keagamaan, misalnya /upacara/. (b) kata / lontar/ dalam
bahasa Sanskerta /tâla/. Dalam bahasa Melayu /lontar/ demikian juga bahasa Indonesia.
Bunyi [l] merupakan perubahan dari bunyi [r] seperti hokum Van der Tuuk “R-D- L”.
Jadi dari semula kata /ron- tala/ yang berarti ‘daun-tala’ menjadi /lon-tala/ ke/lontar.
ditemukan kata /dura/ yang terdapat dalam bahasaMelayudanSanskerta,sedangkandalam
bahasa Indonesia tidak ditemukan. Kata /dura/ bermakna‘yangjauh’,‘terisolir’,‘jarak’.Secara
etimologi kata ini terkait dengan nama pulau Madura di Jawa Timur. Penduduk Madura
berbahasa Madura yang berbeda dengan bahasa Jawa dan lebih dekat dengan bahasa Melayu
dan bahasa Indonesia. Awalan /ma-/ dalam bahasa Jawa Kuno bermakna ‘menuju ke atau
‘ke-‘, sehingga Madura dimaknai ‘menuju ke yang terpencil, terpisah, seberang’ yaitu sebuah
pulau yang letaknya terjarak oleh laut yaitu selat Madura.
Paparan penelitian ini bersifat informasi data linguistis tentang kosakata bahasa Indonesia
yang diserap dari bahasa Sanskerta, sehingga terbatas pada kajian kosakata tetapi dapat
dijadikan data awal untuk penelitian lebih lanjut. Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa
Indonesia di sekolah, asal usulsebuahkataperludiberikanagarsiswamemiliki pengetahuan yang
luas tentang perkembangan bahasa Indonesia dan sejarahbangsa.

KESIMPULAN
Berdasarkan paparan hasil penelitian dapat disimpulkan kosakata bahasa Indonesia menyerap
kosakata Sanskerta melalui bahasa Melayu atau
daribahasaJawa.Halinidiperolehdaridarikategori kesamaan kata. Serapan kosakata bahasa
Sanskerta dalam bahasa Indonesa lebih banyak berubah fungsi sebagai istilah, sebutan, dan
penamaan. Dari data sejumlah 412 korpus dikategorikan kata serapan dari bahasa Sanskerta
(1) ada yang mengalami perubahan bentuk, (2) tidak mengalami perubahan bentuk, (3)

10
mengalami perubahan makna. Pada umumnya kata serapan dari bahasa Sanskerta telah
mengalami perubahan makna. Hal ini disebabkan adanya perbedaan rumpun bahasa yang
memiliki ciri bahasa yangberbeda

2.2 Ringkasan jurnal 2

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bentuk, makna, dan penggunaan kata
Sanskerta dalam bahasa Indonesia dan Thai. Cakupan data yang ditemukan hanya 261 kata
dasar bahasa Sanskerta yang sama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Thai. Metode yang
digunakanadalahkualitatifdeskriptif.Datadiperolehdaridokumen,wawancara,danangket.
Teknik analisis data dengan melakukan perbandingan, mengelompokkan, menafsirkan, dan
menyimpulkan. Hasil penelitain sebagai berikut. Pertama, 35 kata Sanskerta dalam dua
bahasa mempunyai bentuk yang berbeda. Kedua, kata-kata Sanskerta yang terdapat dalam
dua bahasa itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yakni bagian yang maknanya
sama, bagian yang maknanya hampir sama, dan bagian yang maknanya berbeda. Ketiga,
penggunaan kata-kata Sanskerta dalam dua bahasa, Indonesia dan Thai, ada yang sama dan
ada yang berbeda.

Pendahuluan

Setiap bahasa di dunia dapat mencip- takan kata-kata yang baru denganbeberapa
tujuan. Salah satu tujuan pokoknya adalah untuk mencukupi kata dan melengkapi
kegunaannya. Proses untuk mencukupi kata, diantaranya,denganmelakukanpeminjam- an
kata. Peminjaman kata dapat berasal dari beberapa faktor, misalnya pengaruh perdagangan,
agama, keterpengaruhan budaya, dan perkembangan teknologi. Ma- sing-masing bahasa
suatu negara memin- jam kata-kata dari negara lain dengan cara yang berbeda-beda
bergantung pada keber- pengaruhan atau keberkaitan antara negara asal dan negara asing.
Berdasarkan pengalaman mempelajari dan mengajar mata kuliah bahasa Indone- sia,
banyak ditemukan bahwa di dalam ba- hasa Indonesia terdapat banyak kata sera-pan, seperti
halnya dengan bahasa Thai. Perbedaannyaterletakpadabanyaknyakata serapan dari bahasa
Belanda dalam bahasa Indonesia yang tidak ditemukan dalam ba- hasaThai.
Menjadi hal yang menarik (walaupun tidak asing), saya sebagai orang Thai yang
berbahasaThaimemilikikesempatanuntuk mengajar dan mempelajari bahasa Indone- sia.
Selama dalam proses mengajar dan mempelajari itu, saya menemukan bahwa bahasa
Indonesia dan Thai mendapat pe- ngaruhbahasaSanskerta.BahasaSanskerta mempengaruhi
Indonesia sekitar abad ke-1s.d. abad ke-14 (Sarujin, 2010:12) karena Indonesia zaman dahulu
yang merupakan jajahan Belanda mempunyai kepercayaan, agama, dan sosial-
budayaHindu-Budha
Sarujin (2010:13) mengemukakan bah- waadaduacaramasuknyabahasaSansker- ta ke
dalam bahasa Indonesia, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung.Secara tidak
langsung bahasa Sanskerta masuk dahulu ke dalam bahasa Jawa Kuno. Kata- kata itu lama
digunakan dalam era bahasa Jawa Kuno barulah kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia.
Bagi negara Thai, bahasa Sanskerta masuk bersamaandengan kedatangan agama Budha pada
saat Thai masih menjadi kerajaan Suvarnabhumi

11
Jika dibandingkan dalam jumlah kata Sanskerta dalam bahasa Thai danbahasa
Indonesia akan terlihat bahwa dalam ba- hasa Thai, seperti yang dapat ditemukan dalam
kamus besar bahasaThai tahun 1999 terdapat 6513 entri
Sementara itu, dalam bahasa Indonesia di- perkirakan ada 800 entri. Namun demiki-
an, dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2008 (Departemen Pen- didikan
Nasional, 2008) ada kata yang di- simbolkan dengan Skt (Sanskerta) hanya delapan kata.
Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2012 (Dik- nas, 2012) kata yang
disimbolkan dengan Skt hanya empat kata dari jumlah keselu- ruhan kata Sanskerta yang saya
temukan 261 kata. Saya langsung bertanya tentang inikepadaBapakTeguhDewabratasebagai
salah satu redaksi pembantu KBBIedisi ketiga.Beliaumenjelaskanalasanmengapa
katabahasaSanskertatidakbanyakdilabeli menjadi kata Sanskerta di dalam KBBI. Menurut
beliau karena sebagian besar kata itu sudah melalui jalan panjang sejak pro- ses penjawaan
atau pelokalan kata bahasa Sanskerta pada masa lampau ke dalam ba- hasa Jawa Kuno.
Kemudian, dari bahasa Jawa Kuno bertransformasi menjadi baha- sa Jawa (Baru). Ketika
bahasa Jawa (Baru) menyumbangkan banyak kosa katanya ke dalam bahasa Indonesia, maka
serta merta bekas kata Sanskerta pun menjadi warga bahasa Indonesia. Jadi, bahasa Indonesia
tidak langsung menyerapnya dari bahasa Sanskerta sesuai dengan yang dikatakan oleh
Sarujin(2010:13).
Yang menarik perhatian adalah kata Sanskerta yang ditemukan dalam bahasa sehari-
hari dalam bahasa Indonesia ber- beda dengan bahasa Thai yang justru ka- ta-katanya tidak
digunakan dalam bahasa sehari-hari. Misalnya, warna dalam baha- sa Indonesia sama dengan
kata wan dalam bahasa Thai, sedangkan kata wan di dalam bahasa Thai hanya ditemukan
dalamnama orang. Contoh: (a) Sepatu saya berwarna hitam. (Bahasa Indonesia); (b) Dia
berna- ma Suwan. (Bahasa Thai)
Pada kasus lain, kata beda dalam ba- hasa Indonesia sama dengan phê:t dalam bahasa
Thai, sedangkan kata phê:t ditemu- kan dalam nama judul sebuah cerita sastra. Contoh: (a)
Apa perbedaan antara cinta dan suka? (Bahasa Indonesia); (b) Sǎ:mák- khi:phê:tkhamchǎn
adalah nama judul se- buah cerita sastra (BahasaThai).
Hal tersebut membuat saya selalu ber- pikir mempertimbangkan kata-kata yang telah
diajarkan. Misalnya, asrama dalam bahasa Indonesia yang artinya bangunan tempat tinggal
sama dengan kata a:som dalam bahasa Thai yang artinya tempat tinggal pendeta. Kata antara
dalam bahasa Indonesia sama dengan kata antara dalam bahasa Thai yang artinya sama,
tetapi ja- rang digunakan dalam bahasa Thai.
Berdasarkan peta masalah tersebut, fokus penelitian ini meliputi persamaan atau
perbedaan antara bentuk kataSansker- tadalambahasaIndonesiadanbahasaThai; persamaan
dan perbedaan makna kata San- skerta yang memiliki dasar kata yang sama (serupa) dalam
bahasa Indonesia dan ba- hasa Thai; persamaan dan perbedaan peng- gunaan kata Sanskerta
dalam bahasa Indo- nesia dan bahasaThai.

METODE

Ada beberapa metode yang saya laku- kan sebagai berikut. Pertama, mempelajari
studi dokumentasi yang berkaitan dengan kata Sanskerta. Kedua, mengumpulkan kata
Sanskerta dalam bahasa Indonesia dan bahasa Thai yang memiliki kata dasar yang serupa.
Dalam kaitan ini, saya men- emukan 261 kata Sanskerta berdasarkan data dalam Kamus
Besar Bahasa Indone- sia (KBBI) Edisi Keempat (Departemen PendidikanNasional,2012)
dan buku Kosa Kata Bahasa Indonesia (Notasudirjo, S., 1990) serta Kamus Besar Bahasa
Thai tahun 1999.Ketiga, melakukan wawancara dan memberikan angket kepada penutur asli
Indonesia dan Thai yang memiliki bidang kajian baha- sa, masing-masing dua orang.

12
Keempat, menganalisis dan membandingkan bentuk, makna, dan penggunaan kata melalui
teori morfologi dan semantik.

HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN


PenelitianTerdahulu
Sarujin (2010) dalam studi Sumba- ngan Bahasa Sanskerta Terhadap Etimolo- gi
Bahasa Indonesia menganalisis bahasa Sanskerta berdasarkan akar katanya. Con- toh, kata
anugrah (Skt) berasal dari anu = menurut; grah = memegang, mengambil. Selanjutnya,
anugraha berarti pemberian menurut apa yang dipegang atau diambil oleh Raja (Sarujin,
2012:14). Contoh lain, kata bahaya (Skt) berasal dari kata bhaya= ketakutan; hal takut, dari
akar kata “bhi”= takut, misalnya ada. Selanjutnya, kata ba- haya berarti ketakutan atau
sesuatu yang menakutkan (Sarujin, 2012:15). Hasilanal- isis Surajin membuktikan bahwa
bahasa Sanskerta memberikan sumbangan terha- dap bahasa Indonesia.
Hardiyanto & Widayat (2006:1-21) melakukan penelitian terhadap sumbangan kosa
kata bahasa Sanskerta yang terdapat dalam perkembangan bahasa Indonesiadan Jawa Baru.
Mereka meneliti perubahan kata Sanskerta sebagai kata serapan dalam bahasa Indonesia dan
dalam bahasa Jawa Baru. Mereka membagi perubahan kata itu menjadi delapan proses
penyerapan kosa kata dari bahasa Sanskerta ke bahasa Indo- nesia dan ke bahasa JawaBaru.
Akan tetapi, saya hanya menginfor- masikan proses penyerapan kosa kata dari bahasa
Sanskerta ke bahasa Indonesiayang terjadi itu sebagai berikut. Pertama, pe- nyerapan tanpa
mengalami perubahan bu- nyi, bentuk kata, dan arti. Contoh: mitra = teman; aneka = banyak;
berbagai macam;berjenis-jenis; dan nara = orang. Kedua, penyerapan yang mengalami
perubahan bunyi, tetapi tanpa mengalami perubahan bentuk kata dan perubahan arti. Contoh:
graha = rumah; berasal dari kata benda grha = rumah. Ketiga, penyerapan yang mengalami
perubahan bunyi dan perge- seran arti, tanpa mengalami perubahan bentuk kata. Contoh:
negara = organisasi disuatu wilayah yang mempunyai kekua- saan tertinggi yang sah ditaaati
olehrakyat; kelompok sosial yang menduduki wilayah atau wilayah tertentu yang
diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai politik
berdaulat sehingga berhak menentukan nasionalnya. (negara berasal dari kata benda
nagara
= kota). Keempat, penyerapan yang me- ngalami pergerseran bunyi ke konsonan lain
yang homorgan, tanpa perubahan ben- tuk kata dan arti. Contoh: bayu = angin, berasal dari
kata benda vayu = angin. Ke- lima, penyerapan dengan perubahan bunyi dari vokal panjang
menjadi vokal pendek, tanpa perubahan bentuk kata dan arti. Con-
toh:karya=pekerjaan,berasaldarika:rya
= pekerjaan. Keenam, penyerapan dengan perubahan bunyi dari konsonan rangkap
menjadi konsonan tunggal, tanpa peruba- han bentuk kata dan arti. Contoh: wisuda=
peresmian, pelantikan berasal dari prefik vi- dan kata sifat cuddha = bersih. Ketujuh,
penyerapan dengan penambahan bunyidari kata dasar bahasa Sanskerta, tanpamengal- ami
perubahan bentuk kata, dan tanpa me- ngalami perubahan arti. Contoh: gajah ber- asal dari
kata gaja. Kedelapan, penyerapan dengan penghilangan bunyi dari kata dasar bahasa
Sanskerta, tanpa mengalami pe- rubahan bentuk kata dan tanpa mengalami perubahan arti.
Contoh: karma = buah per- buatan, berasal dari kata benda karman = karma. Bagaimanapun,
Hardiyanto & Wi- dayat mengatakan ada kemungkinan lebih banyak proses selain 8 proses
tersebut.
Supriyadi (2012: 280-289) melakukan penelitian perbandingan makna kata sera-pan
dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Thai dan bahasa Jawa.Hasilnya menunjukkan bahwa ada
empat belas kategori makna kata Sanskerta di dalam bahasa Thai dan bahasa Jawa sebagai
berikut. Contoh disusun dari bahasa Sanskerta, bahasaThai, dan bahasa Jawa.

13
 Pertama, makna menyempit, misalnya kata panddita = orang yang arif dan bijaksana;
bandìt= sarjana pendheta= pendeta.
 Kedua, makna tetap, misalnya katasatru=seteru;sàttru:=seteru;
 satru= seteru.
 Ketiga, makna berubah, misal- nya kata agama = pedoman, jalan, tuntunan hidup;
a:khom = magis, sihir; agama = agama.
 Keempat, makna meluas, misalnya kata vicara = pertimbangan; wítqa:n = kritik;
wicara = diskusi, percakapan.
 Kelima, makna menyempit dalam bahasa Thai, tetapi tetap dalam bahasa
Jawa.Misalnya, katarasa=rasa,perasaan;rót=rasa;rasa = rasa, perasaan.
 Keenam, makna menyempit dalam bahasa Thai, tetapi berubah dalam bahasa Jawa.
Misalnya, kata ksatri- ya = kesatria, raja; kasàt = raja; satriya = bangsawan.
 Ketujuh, makna meluas dalam bahasaThai,tetapimenyempitdalambaha- sa Jawa.
Misalnya, kata sastra = suruhan, aturan, ajaran agama, kitab; sà:t = ilmu; dan sastra =
sastra. Kedelapan, makname- luas dalam bahasa Thai, tetapi tetap dalam bahasa Jawa.
Misalnya, kata phala = buah- buahan; phon = buah; pala = buah-buahan.
 Kesembilan, makna meluas dalam bahasa Thai, tetapi berubah dalam bahasa Jawa.
Misalnya, kata gambhira = pendalaman; khamphi: = kitab sakti; gembira = gembi- ra.
 Kesepuluh, makna tetap dalam bahasa Thai, tetapi menyempit dalam bahasa Jawa.
Misalnya, katajati = lahir, suku, keturunan; tqhâ:t=lahir,suku,keturunan;jati=asli,
murni.
 Kesebelas, makna tetap dalam bahasa Thai,tetapi menyempit dalam bahasa
Jawa.Misalnya, kataasrama=pertapaan; a:som=pertapaan;asrama=asrama.
 Keduabelas, makna tetap dalam bahasa Thai, tetapi berubah dalam bahasa Jawa.
Misal nya,katajanak=bapak;tqhanók=bapak; janaka=mertualaki-lakiRajaRama;nama
Arjuna.
 Ketigabelas, makna berubahdalam bahasa Thai, tetapi meluas dalam bahasa Jawa.
Misalnya, kata bhava = kejadian, alam, sifat; phâ:p= gambar; bawa= ke- adaan, sifat.
 Keempatbelas, maknaberubah dalam bahasa Thai, tetapi tetap dalam ba- hasa Jawa.
Misalnya, kata upavasa = me- nahan lapar; bùat = cara menjadi biksu, pendeta; pasa
= menahanlapar.

Tiga penelitian tersebut dikhususkan pada latar belakang kata dan perbandingan makna kata.
Penelitian itu meyakinkan ketetapan sumbangan kata Sanskerta dalam bahasa Indonesia,
walaupun ada perubahan bunyi bentuk atau makna.

Penggunaan Kata Sanskerta


Satu hal yang menarik, yaitu di antara 261 kata serapan yang ada di dalam kedua bahasa itu,
ada sejumlah kata yang peng- gunaannya berbeda. Perbedaan tersebut di- karenakan hal-hal
sebagai berikut. Pertama, penggunaan yang berbeda karena dua bahasa mempunyai bentuk
dan makna kata berbeda.Itumenjadihalyangbiasa,apabila bentuk dan makna berbeda tentu
sajapeng- gunaan berbeda. Kedua, penggunaan yang berbeda karena penutur di masing-
masing negara menggunakan kata secara berbeda. Hal itu berarti bahwa frekuensi penggu-
naan kata yang berbeda mengakibatkan ke- biasaan pertemuan berbeda, walaupun ada kata-
kata yang sama di dalam duabahasa Pertama, kata Sanskerta yang dikenal atau digunakan
secara umum di dalam ba- hasa Indonesia, tetapi tidak dikenal atau tidak digunakan secara
umum di dalam ba- hasa Thai. Contoh berikut menjelaskan hal tersebut.

acara angka Antara

14
antariksa harga Bahtera
beda Begawan Bencana
benda bendahara Dadih
gajah jagat Karya
kepala madu Mangsa
raksasa sangka Suara
upacara

Kedua, kata Sanskerta yang dikenal atau digunakan secara umum di dalam ba- hasa Thai,
tetapi tidak dikenal atau tidak digunakan secara umum di dalam bahasa Indonesia. Contoh
berikut menjelaskan hal tersebut.

adikara amerta Atma


buta candala Daksina
duli garba Kama
loka makara Mala
mara matra Mina
mintuna paksa Pandit
segara aswa Upadut
a
wahana wakimana Wana
wanara waranggana Wangsa
wiwaha yojana

Bahasa Indonesia dan bahasa Thai masing-masing memiliki kata serapan dari bahasa
Sanskerta. Namun, di dalam persa- maanitujugaadaperbedaansepertibentuk, makna, dan
penggunaan kata. Bentuk kata Sanskerta di dalam dua bahasa ada yang sama, kebanyakan
nomina. Hal itu meng- ingat nomina merupakan bentuk dasar dan mudah digunakan dengan
luas di dalam setiap bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing bahasa
membentuk kata yang berbeda, maksudnya dari 261 kata ada 35 kata yang berbeda
bentuknya. Pembentukan kata Sanskerta dalam bahasa Indonesia lebih banyak dan jelas
daripada di dalam bahasa Thai. Makna kata-kata Sanskertadalamduabahasadapatdikelom-
pokkan ke dalam 3 bagian, yaitumaknanya yang sama, hampir sama, dan berbeda di dalam
dua bahasa. Penggunaan kata-kata Sanskertadalamduabahasaadayangsama dan ada yang
berbeda. Perbedaan tentang bentuk dan makna kata tersebut mengaki- batkan penggunaannya
yang berbeda pula.

Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Thai memili- ki kata-kata
serapan dari bahasa Sanskerta. Namun, jika kata-kata itu masuk ke dalam masing-masing
bahasa, maka akan diikuti oleh sistem dan penggunaan masing-mas- ing bahasa tersebut.
Selanjutnya, walau- pun sebagian kecil kata Sanskerta di dalam bahasa Indonesia
disimbolkan dengan Skt, kata-katanya masih berbau Sanskerta sama dengan kata Sanskerta di
dalam bahasa Thai. Perbedaan dalam persamaan itu han- ya suatu fenomena yang bisa terjadi
di da- lam setiap bahasa. Yang terpenting adalah pengetahuan tentang adanya kata Sansker- ta
dalam kebangsaan Indonesia dan Thai membuat pembelajaran terhadap bahasa Indonesia dan
Thai menjadi akrab dan mu- dah. Untuk pembelajaran bahasa Indonesia, bagaimanapun

15
ternyata selain persamaan kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Indonesia dan
bahasa Thai yang memudahkan pembelajaran bahasa Indo nesia bagi orang Thai, masih ada
juga be-berapa kemudahan. Kemudahan yang di- maksud sebagai berikut.
 Pertama, bahasa Indonesia tidak mem- punyai nada.Walaupun bagi orang Thai, nada
sudah menjadi kebiasaan, tetapi nada masih menyusahkan bila belajar bahasa asing
misalnya bahasa Mandarin, bahasa Vietnam, dan bahasa Burma. Maka bahasa yang
tidak mempunyai nada seperti Baha- sa Indonesia dapat mengurangi kesulitan
pembelajaran Bahasa Indonesia.
 Kedua, beberapa kata majemuk dalam Bahasa Indonesia memiliki kemiripan de- ngan
kata majemuk dalam bahasaThai.
 Ketiga,beberapaungkapandanperi-ba- hasa Indonesia mirip peribahasa Thai.
 Keempat, bahasa Indonesia dan bahasa Thai tidak mempunyai sistem kala, gender,
dan penanda bentuk jamak. Kemudahan tersebut menjadi alasan mengapa orang Thai
sebaiknya belajar bahasa Indonesia daripada bahasa asing lain

16
BAB III ANALISIS
3.1 Pembahasan

Bagian (s) Pertanyaan / pernyataan Jawaban


Pengenalan 1.1 apa isu ata masalah yang dibahas Jurnal diatas membahas tentang
pada materi diatas? penyerapan bahasa sansekerta dan
bahasa thai ke bahasa Indonesia
1.2 Mengapa masalah umum itu Dikarenakan sedikit banyak ada
penting? penyerapan bahasa sansekerta dan
bahasa thai ke bahsa Indonesia
1.3 Mengapa masalah umum itu perlu Penelitian juga berguna untuk
dilakukan penelitian? melakukan pengembangan mater
tentang bahasa bahasa yang ada
1.4 Apa tujuan utama dari arikel ini? Tujuan utama dari artikel diatas untuk
memberikan pengetahuan
pengguanaan bahasa sansekerta dan
bahasa thai
1.7 Bagaimana materi anda dapat Mata kuliah pendidikan bahasa
membantu anda memahami topic Indonesia ini juga membantu kita
diatas? mengetahui sejarah sejarah dari mana
bahasa indosia itu berasal,tentang Eyd,
dan lain lain
1.8 Apa yang menjadi focus dalam Focus dalam artikel diatas membahas
artikel diatas? tentang penyerapan bahasa sansekerta
dan bahasa thai ke bahasa Indonesia
1.9 Apakah ada studi sebelumnya yang Saya tidak mengetahui jawaban pasti
relevan? dari pertanyaaan ini
Metode 2.1 Apa metode penelitian yang Metode penelitan yang digunakan
digunakan? yaitu metode observasi atau
pengamatan
2.2 Apa metode penelitian yang Dalam artikel diatas metode penelitian
digunakan dalam artikel diatas? yang digunakan adalah metode
deskriptif, yaitu seluruh datanya
tertulis dalam kamus
2.3 Apa saja manfaat yang dapat Dengan menggunkan metode
diambil delam menggunakan observasi, kita dapat mengetahui apa
metode penelitian saja pokok bahasan yang terdapat
dalam artikel diatas
2.4 Apa saja data yang kamu dapatkan Dari data diatas, saya dapat
dari artikel diatas? mengetahui sedikit banyak tentang apa
itu bahasa sansekerta, bahasathai, dan
juga bagaimana penyerapannya ke
dalam bahasa Indonesia
2.5 Mengapa data sangat penting? Karena dengan data sebagai
komponen utama dala system
informasi, karena merupakan dasar
dalam menyediakan informasi
2.6 Bagaimana kualitas dari data tetapi kulitas dari data di atas sudah

17
diatas? cukup baik untuk pemahaman bagi
pembaca
2.7 Bagaimana pengumpulan datanya? Dari artikel diatas, teknik
pengumpulan data yang digunakan
yaitu mencermati dan mencatat
2.8 Apakah data diatas sudah cukup Menurut dari yang sya baca, data
memadai? diatas sudah cukup memadai untuk
dijadikan sebagai panduan dalam
belajar
2.9 Dimanakah penelitian dilakukan? Penelitian ini dilakukan dipantai lepas
di Malaysia
2.1 Berapa lama durasi penelitian? Dalam artikel diatas, tidak dijelaskan
0 berapa lama durasi penelitian tersebut
2.11 Apa manfaat yang anda dapatkan Manfaat yang saya dapatkan dari
dari menggunakan materi diatas? materi diatas yaitu saya dapat
mengetahui sekilas apa saja fakor
faktor yang diperlukan dalam
pemanfaatn ladang angin lepas di
pantai
Hasil 3.1 Apa tema atau hasil yang Menurut saya, tema yang saya
dihasilkan sari analisis data? dapatkan dari analisi data diatas yaitu,
ladang angin lepas di pantai masih
harus dilakukan pengembangan lebih
lanjut dibidang pemanfaatan energinya
3.2 Apa hasil dari analisis data diatas? Hasil dari analisi data, saya jad dapat
mengetahui sedikit banyak apa itu
ladang angin lepas, dan juga apa saja
faktor-faktor yang mempengaruhi
pengguanaanya ladang angin lepas
tersebut
Diskusi 4.1 Apa yang ditunjukkan oleh data Data diatas menunjukkan penggunaan
diatas? bahsa sansekerta dan bahasa thai
4.2 Secara umum, apa arti dari hasil Data tersebut sangat penting bagi
data tersebut? kelstarian bahasa bahasa yang ada di
indonesia
Kesimpulan 5.1 Apa rekomendasi yang anda Saya juga mengusulkan supaya materi
usulkan? materi jurnal seperti ini dapat lebih
banyak dikembangkan lagi untuk
menambah wawasan pikiran untuk
para pembaca

Jurnal memiliki materi untuk dibaca sehingga akan lebih menambah wawasan pembaca
terhadap ilmu yang disampaikan. Tata letak penulisan huruf capital juga sudah baik. Dan juga
referensi yang juga digunakan oleh penulis cukup banyak nuntuk menjadi pertimbangan
materi didalam jurnal ini

Di dalam jurnal mencakup seluruh materi tentang keterkaitan penyerapan bahsa sansekerta,
bahasa thai ke bahasa indonesia, materi yang disajikan didalam jurnal ini pun sudah cukup
baik untuk menambah wawasab pikiran para pembaca.

18
BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis tarik yaitu penggunaan bahasa sansekerta mungkin
masih menjadi bahasa di beberapa daerah di Indonesia. Bahasa bahasa tersebut harus kita
lestarikan juga supaya bahasa tersebut tidak hilang dari kebudayaan diindonesia. Dan juga
kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga memiliki bermacam macam bahasa daerah dan
juga terus melstarkan penggunaan bahasa bahasa tersebut..

4.2 Saran
Saya sadar sebagai penulis, masih banyak kekurangan yang saya buat dalam mereview
jurnal. Oleh karena itu, saya memohon maaf jika ada kata kata yang salah di dalam CJR ini.
Dan juga saya berharap semoga semakin banyak yang mempublikasikan jurnal jurnal seperti
ini agar dapat menambah wawasan ilmu kita lebih dalam lagi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Maneechukate, Siriporn, “Kata serapan bahasa sansekerta dalam bahasa Indonesia dan
bahasa Thai sebagai bahan pengajaran bahasa”, Maejo university, Thailand

Wurianto, Arif Budi, 2015, “Kata serapan bahasa sansekerta dalam bahasa Indonesia”,
Universitas Muhammadiyah Malang

20

Anda mungkin juga menyukai