Anda di halaman 1dari 5

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT GRAHA MANDIRI

NOMOR : 0150/SK-DIR/AKR/I/2019

TENTANG
PELAYANAN ANESTESI DAN BEDAH

DIREKTUR RUMAH SAKIT GRAHA MANDIRI

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit


Ibu Dan Anak Az-zahra, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan anestesi, sedasi dan intervensi bedah yang merupakan
proses umum dan merupakan prosedur yang kompleks di Rumah
Sakit;
b. Bahwa pada pelayanan klinis dalam assesment pasien
dibutuhkan pelayanan anestesi dan bedah
c. Bahwa pelayanan anestesi dan bedah membawa resiko tinggi,
sehingga pemberiannya harus dilaksanakan secara seksama dan
hati-hati;
d. Bahwa untuk mengurangi resiko akibat tindakan anestesi dan
bedah diperlukan suatu kebijakan pelayanan anestesi dan bedah
yang berada dalam keputusan Rumah Sakit Ibu Dan Anak Az-
zahra.
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, b, c dan d, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Rumah Sakit Ibu Dan Anak Az-zahra.

Mengingat : 1. Undang - undang Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan.


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 112,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4132).
2. Undang - undang Nomor 36 Tahun 2009. Tentang Kesehatan.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
3. Undang - undang Nomor 44 Tahun 2009. Tentang Rumah Sakit.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072).
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996. Tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3637).
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197
Tahun 2004. Tentang Standar Pelayanan Kamar operasi di Rumah
Sakit
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1045
Tahun 2007. Tentang Struktur Organisasi Rumah Sakit.
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129
Tahun 2008. Tentang Berlakunya Standar Pelayanan Minimal

1
Rumah Sakit.

8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340


Tahun 2010. Tentang Klasifikasi Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT IBU DAN


ANAK AZ-ZAHRA TENTANG PELAYANAN ANESTESI DAN
BEDAH

KESATU : Diberlakukannya Kebijakan Pelayanan Anestesi dan Bedah Rumah


Sakit Ibu Dan Anak Az-zahra. sebagaimana tercantum dalam
Lampiran keputusan.

KEDUA : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan Anestesi dan


Bedah Rumah Sakit Ibu Dan Anak Az-zahra. dilaksanakan oleh
Kepala Bidang Penunjang Medik.

KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku sejak saat ditetapkan dan akan dilakukan
perbaikan apabila terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam
penetapan surat keputusan ini.

Ditetapkan di : Palembang
Pada tanggal : 08 Januari 2019
Direktur

dr. Rosmala Dewi

Tembusan :
1. Ketua Yayasan
2. Arsip

2
Lampiran
Keputusan Direktur RSIA Az-zahra
Nomor : 0150/SK-DIR/AKR/I/2019
Tanggal : 08 Januari 2019

KEBIJAKAN PELAYANAN ANESTESI DAN BEDAH


RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK AZ-ZAHRA

A. PELAYANAN ANESTESI
1. Pelayanan Anestesi, sedasi moderat dan dalam untuk melayanı kebutuhan pasien harus
memenuhi peraturan perundang-undangan dan standar profesi.
2. Rumah sakit harus menyediakan pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan
dalam), yang dibutuhkan pasien selama 24 jam dalam sehari selama setahun keadaan
darurat cule
3. Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam), dilakukan secara seragam
diseluruh area rumah sakit meliputi :
a. Kualifikası staf yang memberikan sedasi.
b. Peralatan medis yang digunakan
c. Bahan yang dipakai
d. Cara pemantauan selama proses anestesi berlangsung
4. Pelayanan anestesi,sedasi moderat dan dalam, berada dibawah penanggungjawab
Pelayanan anestesi (kepala pelayanan anestesi) yang memenuhi peraturan perundang
undangan
5. Kepala pelayanan anestesi bertanggung jawab untuk pelayanan anestesı di rumah sakit,
yang meliputi :
a. Bertangagung jawab terhadap pengembangan, implementası dan memelihara
kebijakan dan prosedur.
b. Bertanggungjawab terhadap pengawasan administratif
c. Bertanggungjawab dalam memelihara dan menjalankan program pengendalian mutu
yang penting.
d. Bertanggungjawab dalam memantau dan menelaah seluruh pelayanan anestesi
(termasuk sedası moderat dan dalam) di rumah sakit
6. Pemantauan mutu pelayanan anestesi meliputi pelaksanaan asesmen pra sedasi dan pra
anestesi yang lengkap, pelaksanaan pemantauan status fisiologis selama anestesi,
pelaksanaan pemantauan pasca anestesi, pemantauan perubahan anestesi dari lokal /
regional ke general.
7. Staf yang bertanggungjawab memberikan sedasi harus kompeten dan berwenang dalam
hal teknik dan berbagai macam cara sedasi, farmakologi obat sedasi dan penggunaaan zat
reversal (antidote-nya), pemantauan selama anestesi berlangsung, dan mampu bertindak
jika ada komplikasi.
8. Staf yg bertanggungjawab melakukan pemantauan selama proses anestesi, harus
kompeten dalam hal:
a. Hal-hal yang harus dipantau selama proses anestesi berlangsung

3
b. Tindakan yang harus dilakukan jika muncul komplikasi,
c. Penggunaaan zat reversal (anti-dot)
d. Kriteria pemulihan
9. Rencana pelayanan anestesi dilakukan dengan mempertimbangkan informası dari hasil
asesmen lainnya, dan didokumentasikan dalam rekam medis pasien.
10. Dokter spesialis anestesi melakukan edukasi terhadap pasien, keluarga, dan atau pembuat
keputusan atas risiko, manfaat dan alternatif yang berhubungan dengan perencanaan
anestesi dan mendokumentasikannya dalam rekam medis pasien.
11. Pemantauan status fisiologis pasien selama proses anestesi bergantung pada status pasien
pada saat pra anestesi, jenis anestesi yang digunakan dan kompleksitas tindakan yang
dilakukan selama anestesi.
12. Pasien dapat dipindahkan dari ruang pemulihan pasca anestesı dengan mengacu pada
salah satu dari :
a. Pasien dipindahkan oleh dokter anestesi
b. Pasien dipindahkan oleh penata anestesi sesusi kriteria baku yang sudah ditetapkan
oleh rumah sakit
c. Pasien dipindahkan ke unit yang mampu memberikan asuhan pasca anestesi seperti
ICU

B. PELAYANAN BEDAH
1. Asuhan setiap pasien bedah direncanakan berdasar informasi dari hasil asesmen pra
bedah yang berbasis IAR, dan dicatat dalam rekam medis pasien
2. Laporan operasi harus tersedia anestesi sebelum pasien meninggalkan lokasi pemulihan
paska anestesi yang memuat dia diagnosa prosedur paskaoperası, nama dokter bedah dan
asisten, prosedur operasi yang dilakukan dan rincian temuan selama tindakan berlangsung
specimen bedah untuk pemeriksaan, catatan spesifik komplikasi atau tidak adanya
komplikasi, termasuk jumlah kehilangan darah dan jumlah darah yang masuk lewat
transfusi, nomor pendaftaran dari alat yang dipasang (implan), serta tanggal, waktu dan
tandatangan dokter yang bertanggungjawab.
3. Perencanaan asuhan paska operasi, dibuat oleh DPJP, perawat, dan PPA lainnya untuk
memenuhi kebutuhan segera pasien pasca operasi, dan dicatat dalam rekam medis pasien.
4. Tindakan bedah dengan menggunakan implan prostetik, harus mempertimbangkan faktor-
faktor khusus seperti pemilihan jenis implant, ketersediaan implan di kamar operasi,
penandaan lokasi operasi, kualifikasi dan pelatihan setiap staf dan luar yg dibutuhkan
untuk pemasangan implant, proses pelaporan jika ada kejadian yang tidak diharapkan
terkait implant, kemampuan penelusuran alat dengan menempelkan barcode alat di rekam
medis, instruksi khusus kepada pasien setelah operasi
5. Pemantauan mutu pelayanan bedah meliputi:
a. Pelaksanaan asesmen pra bedah
b. Kepatuhan pelaksanaan penandaan lokasi operasi
c. Kepatuhan pelaksanaan surgical safety checklis
d. Pemantauan perbedaan diagnosis pre dan post operast

4
Ditetapkan di : Palembang
Pada tanggal : 08 Januari 2019
Direktur

dr. Rosmala Dewi