Anda di halaman 1dari 7

9.

6 Metode Wawancara/Wawancara Mendalam

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin

melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang akan diteliti.

Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau

self-report. Adapun metode wawancara yang dapat digunakan antara lain :

1. Wawancara Personal

Wawancara personal diartikan sebagai wawancara antar orang, yaitu antara

peneliti dengan responden, yang diarahkan oleh pewawancara untuk tujuan

memperoleh informasi yang relevan. Pewawancara biasanya telah menyiapkan

rencana wawancara, sering tertulis, yang berisi pertanyaan – pertanyaan yang

difokuskan untuk menjawab masalah penelitian. Ada beberapa kesalahan yang

sering dijumpai dalam wawancara personal, yang secara garis besar

dikategorikan menjadi 2, yaitu :

a. Kesalahan tidak merespons adalah kesalahan karena responden yang

dimasukkan dalam desain studi tidak dapat dicapai/ditemui. Misalnya, bila

kita akan mewawancarai 50 bos konglomerat terbesar di Indonesia untuk

mendapatkan data mengenai gaya manajerialnya, kita mungkin menghadapi

masalah bahwa bos – bos tersebut menolak menjawab pertanyaan kita

karena agenda kegiatannya amat sibuk, masalah kerahasiaan perusahaan,

atau karena kita tidak dapat mengalokasikan mereka dalam periode

pengumpulan data

b. Kesalahan merespons muncul bila terdapat perbedaan antara data yang

dilaporkan dengan nilai variabel yang sebenarnya. Kesalahan semacam ini

dapat digolongkan setidaknya dalam empat macam, yaitu :


a. Keanekaragaman Wawancara. Kesalahan ini terutama berkaiitan

dengan perbedaan dalam situasi wawancara dan karakter si

pewawancara. Umumnya, kualitas wawancara tergantung pada

kemampuan dan standarisasi situasi wawancara

b. Struktur dan Urutan Pertanyaan. Kesalahan ini timbul karena

format dan urutan pertanyaan – pertanyaan dapat menimbulkan bias

pada hasil studi. Ini bermuara pada masalah control dan minimalisasi

bentuk kesalahan semacam ini

c. Metode Administrasi. Kesalahan ini muncul karena si pewawancara

menstimulasi jawaban sehingga secara umum jawaban tersebut bisa

diterima

d. Kesalahan Responden. Kesalahan ini diakibatkan oleh ketidaktepatan,

baik disengaja atau tidak oleh responden

2. Wawancara Telepon

Wawancara telepon merupakan komunikasi antara pewawancara dan

responden dengan menggunakan telepon sebagai alat untuk mencapai tujuan

penelitian. Adapun keuntungan dari metode wawancara ini adalah efisiensi

biaya dan kecepatan pengumpulan data. Di lain pihak, kesulitan utama

menggunakan cara ini adalah kenyataan bahwa tidak semua orang/perusahaan

memiliki telepon. Pada gilirannya, hal ini sering menimbulkan kesalahan tidak

merespons karena tidak mencukupinya spesifikasi kerangka pengambilan

sampel

3. Wawancara Lewat Pos

Wawancara lewat pos adalah wawancara dengan menggunakan

kuisioner tertulis yang dikirim lewat pos untuk mencapai tujuan penelitian
tertentu. Metode ini paling sering digunakan oleh peneliti bisnis untuk

memperoleh data mengenai berbagai macam hal

4. Wawancara Lewat Komputer

Wawancara lewat komputer adalah metode yang menggunakan proses

secara elektronik atau komputer. Metode ini amat popular digunakan karena

fleksibilitas, akses terhadap hasil penelitian segera dapat diketahui dan

administrasinya amat mudah

9.7 Metode Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri spesifik bila

dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuisioner. Kalau

wawancara dan kuisioner selalu berkomunikasi dengan orang, maak observasi tidak

terbatas pada orang, tetapi juga obyek – obyek alam yang lain. Teknik pengumpulan

data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia,

proses kerja, gejala – gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

Dari segi proses pelaksanaan pengumulan data, observasi dapat dibedakan menjadi

participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation.

1. Observasi Berperan Serta (Participant Observation). Dalam observasi ini,

peneliti terlibat dengan kegiatan sehari – hari orang yang sedang diamati atau

yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan

pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan

ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang

diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna

dari setiap perilaku yang Nampak

2. Observasi Non Partisipan. Kalau dalam observasi partisipan, peneliti terlibat

langsung dengan aktivitas orang - orang yang sedang diamati, maka dalam
observasi non partisipan, peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat

independent.

Selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat

dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.

1. Observasi Terstruktur. Observasi ini merupakan observasi yang sudah

dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana

tempatnya. Jadi, observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu

dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan

pengamatan, peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji

validitas dan reliabilitasnya

2. Observasi Tidak Terstruktur. Observasi ini merupakan observasi yang tidak

dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini

dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati.

Dalam melakukan pengamatan, peneliti tidak menggunakan instrumen yang

telah baku, tetapi hanya berupa rambu – rambu pengamatan

9.8 Metode Angket/Kuisioner

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi

seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti

variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.

Uma Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai

teknik pengumpulan data yaitu prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.

1. Prinsip Penulisan Angket


Prinsip ini menyangkut beberapa aspek yaitu: isi dan tujuan pertanyaan, bahasa

yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka, negatif positif, pertanyaan tidak

mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan,

panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.

a. Isi dan Tujuan Pertanyaan. Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan

tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran,

maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus

menggunakan skala yang tepat dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur

variabel yang diteliti.

b. Bahasa yang Digunakan. Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner

(angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden. Kalau

sekiranya responden tidak dapat berbahasa Indonesia, maka angket jangan disusun

dengan bahasa lndonesia. Jadi bahasa yang digunakan dalam angket harus

memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan sosial budaya, dan “frame

of reference” dari responden.

c. Tipe dan Bentuk Pertanyaan. Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau

tertutup, (kalau dalam wawancara: terstruktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya

dapat menggunakan kalimat positif atau negatif. Pertanyaan terbuka, adalah

pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya

berbentuk uraian tentang sesuatu hal. Contoh: bagaimanakah tanggapan anda

terhadap iklan-iklan di TV saat ini? Sebaliknya pertanyaan tertutup, adalah

pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden

untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah

tersedia. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan jawaban berbentuk data

nominal, ordinal, interval, dan ratio, adalah bentuk pertanyaan tertutup


d. Pertanyaan Tidak Mendua. Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua

(double-barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.

Contoh:

Bagaimana pendapat anda tentang kualitas dan kecepatan pelayanan KTP? Ini

adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan tentang dua hal sekaligus,

yaitu kualitas dan harga. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua

yaitu.” bagaimanakah kualitas pelayanan KTP? Bagaimanakah kecepatan

pelayanan?

e. Tidak Menanyakan yang Sudah Lupa. Setiap pertanyaan dalam instrumen

angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah

lupa, atau pertanyaan yang memerlukanjawaban dengan berfikir berat.

Contoh:

Bagaimanakah kinerfa para penguasa Indonesia 30 tahun yang lalu? Menurut Anda,

bagaimanakah cara mengatasi krisis ekonomi saat ini? (kecuali penelitian yang

mengharapkan pendapat para ahli). Kalau misalnya umur responden baru 25 tahun,

dan pendidikannya rendah, maka akan sulit memberikan jawaban.

f. Pertanyaan Tidak Menggiring. Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak

menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja. Misalnya:

bagaimanakah kalau bonus atas jasa pelayanan di tingkatkan? Jawaban responden

tentu cenderung akan setuju. Bagaimanakah prestasi kerja Anda selama setahun

terakhir? Jawabannya akan cenderung baik.

g. Panjang Pertanyaan. Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang,

sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variabel

banyak. sehingga memerlukan instrumen yang banyak, maka instrumen tersebut

dibuat bervariasi dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan
cara mengisinya. Disarankan empirik jumlah pertanyaan yang memadai adalah

antara 20 s/d 30 pertanyaan.

h. Urutan Pertanyaan. Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum

menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau

diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi

semangat responden untuk menjawab. Kalau pada awalnya sudah diberi pertanyaan

yang sulit, atau yang spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi

angket yang telah mereka terima. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat bila

tingkat kematangan responden terhadap masalah yang ditanyakan sudah tinggi.

2. Prinsip Pengukuran

Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrumen

penelitian. yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu

instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid

dan reliabel tentang variabel yang diukur. Supaya diperoleh data penelitian yang valid

dan reliabel, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan pada responden, maka

perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dulu. Instrumen yang tidak valid dan

reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data, akan menghasilkan data yang tidak

valid dan reliabel pula.

3. Penampilan Fisik Angket

Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi

respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat di kertas

buram, akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila dibandingkan

angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak

di kertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal.