Anda di halaman 1dari 10

Nama : I Putu Andika Prasetyo

NIM : 1707531072
Mata Kuliah/Kelas : Metodologi Penelitian Akuntansi/A2

Topik Riset : Pajak Lingkungan sebagai Instrumen Perlindungan Lingkungan Hidup di


Sektor Transportasi di Kota Denpasar
Artikel Nasional
1. Estimasi Nilai Pajak Kendaraan Solar Terkait Kerugian Pencemaran Udara (Studi
Kasus : Metro Mini di DKI Jakarta)
Oleh Laura Reviani Bestari, Aceng Hidayat dan Mohammad Yani pada tahun 2014.
Isu Penelitian Sektor transportasi di DKI Jakarta menggunakan
2.953.744 KL bensin dan 1.329.138 KL solar pada
tahun 2012 (BPLHD DKI 2013). Sebanyak 41%
(1.211.035 KL) dari bahan bakar bensin dan 92%
(1.222.807 KL) dari bahan bakar solar digunakan
oleh kendaraan umum. Dengan demikian, kendaraan
umum terutama yang menggunakan bahan bakar
solar mendominasi konsumsi BBM di DKI Jakarta,
yaitu bus besar (2.967 unit), bus sedang (4.944 unit),
bus AKAP (3.279 unit) dan bus pariwisata (4.416
unit). Cole dan Grossman (2002) menyatakan
perlunya pendekatan biaya total sebagai instrumen
ekonomi dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 5 UU
Nomor 28/2009, maka diperlukan kajian mengenai
PKB khususnya kendaraan umum berbahan bakar
solar di DKI Jakarta yang menginternalisasikan
kerugian akibat pencemaran udara. Hal ini
merupakan mekanisme insentif dan/atau disinsentif
untuk mengendalikan pencemaran udara dari
kendaraan bermotor serta menstimulasi perilaku
yang lebih ramah lingkungan.
Tujuan Penelitian 1. Mengestimasi nilai kerugian pencemaran
udara dari emisi gas buang kendaraan umum
berbahan bakar solar terhadap lingkungan
dan masyarakat DKI Jakarta.
2. Mengestimasi nilai pajak kendaraan umum
berbahan bakar solar di DKI Jakarta dengan
menginternalisasikan kerugian pencemaran
udara.
3. Menganalisis peran dan pengaruh
stakeholders serta peraturan perundangan
tekait proses perumusan dan implementasi
kebijakan pajak kendaraan umum berbahan
bakar solar yang menginternalisasikan nilai
kerugian pencemaran udara di DKI Jakarta.

1
Teori yang Digunakan Teori Induktif
Metode Penelitian dengan memuat :
a. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di DKI Jakarta khususnya
wilayah sekitar terminal Senen (Jakarta Pusat),
Tanjung Priuk (Jakarta Utara), Kampung Melayu
(Jakarta Timur), Blok M (Jakarta Selatan) dan
Kalideres (Jakarta Barat).
b. Variabel dan pengukuran D : Kerugian Pencemaran Udara (Y)
variabel Estimasi Nilai Kerugian = Jumlah Unit
Pencemaran x Biaya per Unit Pencemaran
I : Nilai Pajak Kendaraan (X1)
P1 = 0,5% x NJKB x (1 + O1) atau P2 = 0,5% x
NJKB x (1 + O2)
c. Populasi dan sampel Sampel dari penelitian ini berjumlah 30 orang
masyarakat di setiap kecamatan lokasi penelitian
dengan menggunakan teknik pengambilan sampel
yaitu Purposive Sampling
d. Jenis dan sumber data Penelitian ini menggunakan data primer dan
sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan
wawancara kepada para stakeholders yaitu
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, DPRD DKI
Jakarta, akademisi dari PPSML UI, DPC
ORGANDA Jakarta, manajemen PT. Metro Mini
dan masyarakat. Data sekunder diperoleh dari
erbagai peraturan perundangan dan data terkait
PKB, pengendalian pencemaran udara dan
kesehatan masyarakat dari BPS, KLH, Kementerian
Perhubungan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan
instansi lainnya; 2) Berbagai data dan informasi dari
buku teks, jurnal, internet, perpustakaan dan hasil
studi terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.
e. Metode pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka,
observasi lapangan, wawancara dan penyebaran
kuesioner
f. Teknik analisis data yang Analisis Valuasi Ekonomi, Pendekatan Biaya per
digunakan Unit Pencemaran (PermenLH 13/2011), Pendekatan
Biaya Kesehatan Masyarakat (Medical Cost/Cost Of
Illness), Internalisasi Nilai Kerugian Ekonomi dan
Analisis Stakeholders dan Content Analysis
Hasil penelitian Estimasi nilai kerugian ekonomi pencemaran udara
dari emisi Metro Mini berdasarkan pendekatan biaya
per unit pencemaran mencapai Rp 2,17
milyar/tahun, dengan rincian biaya pencemaran per
parameter yaitu Rp 1,33 milyar/tahun dari emisi
NO2, Rp 613,91 juta/tahun dari emisi CO, Rp
124,76 juta/tahun dari emisi PM10 dan Rp 103,81

2
juta/tahun dari emisi SO2. Adapun estimasi nilai
kerugian ekonomi pencemaran udara dari emisi
Metro Mini berdasarkan pendekatan biaya kesehatan
masyarakat mencapai Rp 12,45 milyar/tahun,
dengan rincian biaya pengobatan ISPA Rp 8,94
milyar/tahun, pneumonia Rp 1,4 milyar/tahun, paru
obstruksi kronis Rp 619,7 juta/tahun, asma Rp
290,14 juta/tahun dan nilai kehilangan pendapatan
akibat tidak bekerja karena sakit Rp 1,2
milyar/tahun.
Keterbatasan penelitian Kesungguhan masyarakat dalam mengisi kuisioner
saat penelitian dilakukan berada di luar jangkauan
peneliti untuk mengontrolnya
2. Estimasi Nilai Pajak Emisi dan Kebijakan Kendaraan Umum Berbahan Bakar
Bensin di Kota Bogor
Oleh Aceng Hidayat, Nuva, Sylviana Dewi Syafitri pada tahun 2016
Isu Penelitian Peningkatan jumlah sarana transportasi di Kota
Bogor menyebabkan padatnya lalu lintas di Kota
Bogor. Kendaraan yang dominan dipakai adalah
sepeda motor dan mobil penumpang, kendaraan
bermotor jenis mobil barang dan bus. Meningkatnya
jumlah kendaraan tersebut menyebabkan
peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM)
dan berdampak pada lingkungan. Pencemaran udara
yang terjadi di kota besar termasuk di Kota Bogor
pada umumnya berasal dari sumber bergerak, yaitu
sebesar 70 persen. Konsumsi bahan bakar bensin di
Kota Bogor sebanyak 90 persen dari total konsumsi
semua bahan bakar di Kota Bogor. Kendaraan
umum yang berbahan bakar bensin di Kota Bogor
mengkonsumsi bahan bakar bensin sebesar tiga
persen. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini
bertujuan untuk: 1) Mengestimasi nilai kerugian
ekonomi akibat emisi kendaraan umum berbahan
bakar bensin di Kota Bogor; 2) Mengestimasi nilai
pajak emisi per zat pencemar yang dihasilkan oleh
kendaraan umum berbahan bakar bensin di Kota
Bogor; 3) Menganalisis persepsi masyarakat dan key
person terhadap pencemaran udara dan pajak emisi
kendaraan umum. Hasil estimasi nilai kerugian
ekonomi akibat emisi kendaraan umum berbahan
bakar bensin mencapai Rp 608.689.391 per tahun.
Hasil estimasi nilai pajak emisi per zat pencemar
yang dihasilkan oleh kendaraan umum berbahan
bakar bensin adalah HC sebesar Rp 1,339/gram atau

3
Rp 1.339/kg dan CO sebesar Rp 0,209/gram atau Rp
209/kg. Analisis pada persepsi pencemaran udara
dan pajak emisi kendaraan umum adalah terdapat
perbedaan persepsi di antara pengemudi angkutan
kota, pengguna angkutan kota, dan pemerintah.
Tujuan Penelitian Untuk menganalisis estimasi nilai pajak yang
dikenakan untuk setiap kendaraan berdasarkan uji
emisi sesuai dengan zat pencemaran yang
dikeluarkan
Teori yang Digunakan Teori Induktif
Metode Penelitian dengan memuat :
a. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di jalan raya pada enam
kecamatan di Kota Bogor meliputi Jalan Raya
Kedung Halang dan Jalan Raya Pajajaran di
Kecamatan Bogor Utara, Jalan Pahlawan dan Jalan
Batu Tulis di Kecamatan Bogor Selatan, Jalan
Kapten Muslihat dan Jalan Otto Iskandardinata di
Kecamatan Bogor Tengah, Terminal Bubulak dan
Jalan Raya Dramaga di Kecamatan Bogor Barat,
Jalan Raya Pajajaran dan Jalan Siliwangi di
Kecamatan Bogor Timur, dan Jalan KH Soleh
Iskandar dan Jalan Ahmad Yani di Kecamatan
Tanah Sareal.
b. Variabel dan pengukuran D : Kebijakan Kendaraan Umum Berbahan Bakar
variabel Bensin (Y)
I : Estimasi Nilai Pajak Emisi (X1)
Nilai Pajak Emisi = Total Beban Pencemaran
x Nilai Pajak per Zat Pencemaran
c. Populasi dan sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini bersifat
Purposive Sampling namun masih berada dalam
cakupan wilayah penelitian
d. Jenis dan sumber data Jenis data yang digunakan adalah data primer dan
data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun
kuantitatif. Data primer diperoleh melalui metode
survei, yaitu melakukan wawancara langsung
kepada responden menggunakan kuesioner atau
panduan daftar pertanyaan. Data primer yang
digunakan adalah data mengenai persepsi
masyarakat dan key person terhadap kerusakan
lingkungan yang terjadi berupa pencemaran udara
akibat emisi gas buang kendaraan berbahan bakar
bensin, penetapan pajak emisi kendaraan umum,
data mengenai besarnya biaya kesehatan masyarakat
akibat pencemaran udara emisi gas buang kendaraan
umum berbahan bakar bensin dan biaya
pengurangan emisi gas buang kendaraan umum

4
berbahan bakar bensin. Data sekunder merupakan
data yang diperoleh dari lembagalembaga dan
instansi-instansi terkait. Data sekunder berupa data
jumlah penduduk dari Badan Pusat Statistik (BPS)
Kota Bogor, data jumlah kendaraan dari Dinas Lalu
Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor, tingkat
emisi dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(BPLH) Kota Bogor, dan data penderita ISPA,
bronkhitis, pneumonia, dan iritasi mata dari Dinas
Kesehatan Kota Bogor.
e. Metode pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka,
observasi lapangan, wawancara serta penyebaran
kuesioner
f. Teknik analisis data yang Analisis Kualitatif
digunakan
Hasil penelitian Nilai pajak emisi per angkot per tahun yaitu sebesar
Rp 178.397 per angkot per tahun. Masingmasing zat
pencemar memiliki nilai yaitu HC sebesar Rp
76.711 per tahun dan CO sebesar Rp 101.686 per
tahun.
Keterbatasan penelitian Kesungguhan masyarakat dalam mengisi kuisioner
saat penelitian dilakukan berada di luar jangkauan
peneliti untuk mengontrolnya

3. Pengaturan Pajak Lingkungan Sebagai Upaya Perlindungan Lingkungan Hidup di


Kabupaten Mesuji
Oleh Ahmad Nur Hidayat pada tahun 2017
Isu Penelitian Keterkaitan antara kegiatan ekonomi dengan sumber
daya alam dan lingkungan menjadi penting. Hal ini
dikarenakan proses produksi dan konsumsi tidak
hanya membutuhkan sumber daya alam sebagai
salah satu faktor input, tetapi juga akan
menghasilkan output sisa (limbah) yang akan
mempengaruhi kondisi maupun kelangsungan
lingkungan. Persoalan yang berdampak kepada
lingkungan mengharuskan pengelolaan atas dampak
negatif yang muncul akibat dampak negatif atas
manfaat yang diperoleh dari sumber daya alam yang
dikelola tidak sebanding dengan biaya yang
dikeluarkan sehingga biaya yang membengkak
harus ditanggung. Permasalahan yang timbul karena
karakteristik dari beberapa sumber daya alam dan
lingkungan dikategorikan sebagai barang publik

5
yang berimbas kepada tindakan konsumsi maupun
eksploitasi yang berlebihan.
Tujuan Penelitian 1. Mengetahui pengaturan pajak lingkungan
sebagai upaya perlindungan lingkungan di
Kabuptaten Mesuji.
2. Mengetahui implementasi pajak lingkungan,
sebagai upaya perlindungan lingkungan
hidup di Kabupaten Mesuji.
Teori yang Digunakan Pajak Lingkungan Hidup berdasarkan Peraturan
Daerah Kabupaten Mesuji No 2 Tahun 2012 tentang
Pajak Daerah
Metode Penelitian dengan memuat :
a. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Mesuji
b. Variabel dan pengukuran
D : Perlindungan Lingkungan Hidup
variabel I : Pengaturan Pajak Lingkungan
c. Populasi dan sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
hanya Kepala Dinas Pendapatan Daerah, dan Kepala
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kabupten
Mesuji
d. Jenis dan sumber data Sumber data yang digunakan adalah data primer dan
data sekunder. Data Primer yaitu data yang
diperoleh langsung dari sumber pertama.
Pengumupalan data primer dilakukan dengan
menggunakan tehnik wawancara kepada Kepala
Dinas Pendapatan Daerah, dan Kepala Badan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Kabupten Mesuji.
Lalu Data Sekunder yaitu data yang diperoleh
dengan mempelajari peraturan perundang-
undangan, buku-buku hukum, dan dokumen yang
berhubungan dengan permasalahan yang dibahas.
e. Metode pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka,
observasi lapangan dan wawancara
f. Teknik analisis data yang Analisis Deskriptif Kualitatif
digunakan
Hasil penelitian Pajak lingkungan hidup secara pengaturan belum
diatur secara eksplisit namun dibeberapa undang-
undang secara tidak langsung sebenarnya mengatur
pajak lingkungan yang berorientasi pembangunan
berkelanjutan, pengaturan pajak lingkungan hidup di
Kabupaten Mesuji, secara tidak langsung diatur
dalam Peraturan Daerah Kabupaten Mesuji No 2
Tahun 2012 tentang Pajak Daerah, dimana jenis-
jenis pajak yang berorintasi terhadap lingkungan
hidup ialah Pajak Air Tanah dan Pajak Mineral
Bukan Logam dan Batuan. Pemerintah Kabupaten

6
Mesuji masih menekankan kebijakannya melalui
Peraturan Daerah tersebut masih dalam rangka
peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Keterbatasan penelitian Penelitian hanya terbatas pada wawancara pada
Kepala Dinas Pendapatan Daerah, dan Kepala
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kabupten
Mesuji.

Artikel Internasional
1. The Impact and Determinants of Environmental Taxation on Economic Growth
Communities in Romania
By Jean Andrei, Mihai Mieila, Gheorghe H. Popescu, Elvira Nica and Manole Cristina in
2016
Research Issue In modern economies, the energy represents a key
factor in ensuring of the sustainable development for
the whole society. As there has been proven over
time, modern economies are largely dependent on
energy, which significantly contributes to the
development of the current life standard,
revolutionizing the transportation, communications,
and industry, creating premises for raised
productivity levels. For the countries in the
European Union, the energy taxation and fiscal
policy for energy represent key components in
reducing pollution and in applying of the Kyoto
Protocol requirements
Research Purposes To know about the impact and determinants of
environmental taxation on economic growth
communities in Romania
Theory Used Inductive theory
Research Methods by Determining :
a. Research sites This research carried out at Romania
b. Variabel and measurements D : Economic Growth Communities in Romania (Y)
variable I : Impact and Determinants of Environmental
Taxation (X1)
c. Population and sample In this research, just use purposive sampling
d. Data types and sources Data are imported from the Eurostat database,
consisting of the environmental taxes as a
percentage of total GDP and as total tax revenue
e. Method of collecting data Method of collecting data is from observation and
literature
f. Data analysis techniques used Quantitative analysis

7
Research result The policy implications of this study are transversely
connected. Environmental taxation is just a lever for
assuring environmental protection and sustainable
development. Environmental taxation has a quite
decisive influence on the economy by influencing
the consumption patterns, despite the fact that there
is no direct connection between living standard,
environmental protection, and degree of green
freedom. For emergent economies, environmental
taxation may represent a path to achieving
sustainable development and a high degree of green
revenues by taxing pollutants and promoting
environmental friendly practices and technologies.
Research limitations The researcher can add variables to produce more
convincing conclusions about this research
2. Pollution Emissions, Environmental Policy, and Marginal Abatement Costs
By Ling-Yun He and Jia-Jia Ou in 2017
Research Issue Pollution emissions impose serious social negative
externalities, especially in terms of public health. To
reduce pollution emissions cost-effectively, the marginal
abatement costs (MACs) of pollution emissions must be
determined. Since the industrial sectors are the essential
pillars of China’s economic growth, as well as leading
energy consumers and sulfur dioxide (SO2) emitters,
estimating MACs of SO2 emissions at the industrial level
can provide valuable information for all abatement efforts.
Research Purposes To know about estimation of SO2 emission in China at
different industrial
Theory Used Inductive theory
Research Methods by Determining
:
a. Research sites This research carried out at China
b. Variabel and measurements D : Pollution Emissions (X1)
variable D : Environment Policy (X2)
I : Marginal Abatement Costs (Y)
c. Population and sample In this research, just use purposive sampling to get some
data to researched
d. Data types and sources Data sources are “China Statistical Yearbook” (2012) and
“Statistical Yearbook” of different provinces (2012), from
which we select the total industrial output value and the
total profits of various industries; “Input-Output Tables of
China” (2012) and “China Energy Statistical Yearbook”
(2012), from which we select the main energy
consumption amount of the various industries.

8
e. Method of collecting data Method of collecting data is from some statistical
yearbook that related to research
f. Data analysis techniques Uses Equation to estimate the sulfur dioxide emissions
used from different types of energy consumption. Energy
categories include Coals, Gas and Refined Petroleum
products. The method of calculating energy consumption,
based on the energy balance sheet, can avoid the omission
or double counting of the secondary energy consumption
due to its direct reflection on the input and output of
energy production
Research result It is suggested that these sectors (MWC, MRPCPPNF,
MCCP, MNMP, MPM, and PESE) should be covered in
the first stage of pollution ETS. According to the
estimation of SO2 emissions in different industries at the
national level and provincial level, MWC, MRPCPPNF,
MCCP, MNMP, MPM and PESE are major emitters. In
addition, the PESE sector has the highest share of the
whole emissions of SO2 at the national level and most
provinces (e.g., Jiangsu, Zhejiang, and Henan). Similar to
our findings, the SO2 ETS in U.S. began in 1995 and
covered coal-burning electric utility plants at Phase I.
Secondly, the shadow prices of SO2 emissions differ at
sectoral level. The variation in the estimation of shadow
prices shows the necessity of utilizing market power to
achieve a cost-effective SO2 emission abatement. If an
industry has a high shadow price, it will become a buyer
in the emission trading market for the gains outweigh the
costs of the use of an additional allowance
Research limitations the statistical data used doesn”t use the latest statistics
based on energy consumption
3. Carbon Taxation in the European Countries
By Jarmila Zimmermannová, Miroslav Hájek and Ladislav Rozenský in 2017
Research Issue Another interesting scientific paper studies CO2
taxation in its dual role as a climate and a fiscal policy
instrument in Portugal (more in Pereira and Pereira,
2014). It develops marginal abatement cost curves for
CO2 emissions associated with the CO2 taxation using
a dynamic general equilibrium model of the Portuguese
economy. Simulation results show that a tax of 17.00
Euros per tCO2 has the technical capacity to limit the
growth of emissions to 62.6 Mt CO2 in 2020, consistent
with the existing climate policy target for Portugal. The
paper highlights the importance of public spending
behaviour when projecting the net impact of CO2 taxes

9
on the public revenue and public account and in the
designing of policies to promote fiscal consolidation.
Research Purposes To find out the impact of applying environmental
tax/carbon tax in Europe Countries
Theory Used Inductive theory
Research Methods by Determining :
a. Research sites This research carried out at European Countries
b. Variabel and measurements D : European Countries (X1)
variable I : Carbon Taxation (Y)
c. Population and sample In this research, use purposive sampling in European
Countries
d. Data types and sources Basic data were collected about carbon taxation in the
selected countries, especially the year of adoption,
characterization and tax rate
e. Method of collecting data Data collected is done through observation
f. Data analysis techniques used Current research is focused on a general-equilibrium
model with both tax-versus-trading under uncertainty,
and revenue-recycling, which would fill an important
gap in the theoretical literature
Research result carbon taxes is currently not uniform and individual
countries differ both in the subjects of taxation and in
the tax rates. Comparing with the development of actual
emission allowance price within the EU ETS illustrated
in Figure 3 we can see that nearest to this EUA market
price are the carbon tax rates in Norway and Island
where the carbon taxes are also systematically linked
with the EU ETS. In spite of the fact that Norway and
Island are not the EU member countries, they joined the
EU ETS system together with Liechtenstein as early as
in 2007.
Research limitations The focus of research is limited to only a few countries
in Europe, not exhaustive for all countries in Europe

10