Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH PEMBERIAN TERAPI TENS, FISIOTAPPING, DAN LATIHAN OTOT

QUADRICEPS TERHADAP NYERI LUTUT PADA LANSIA DENGAN


OSTEOARTHRITIS DI UPT PSTW BLITAR

Program Studi Profesi Ners Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya.

ABSTRAK

Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degenerasi yang menyebabkan nyeri dan


kekakuan sendi (CDC, 2014). Penatalaksanaan OA bertujuan untuk mengurangi tanda dan
gejala OA, meningkatkan kualitas hidup, kebebasan dalam pergerakan sendi, serta
memperlambat progresi OA. Fisioterapi sebagai salah satu penatalaksanaan yang digunakan
dalam keperawatan untuk mengatasi nyeri OA. Metode fisioterapi yang digabungkan sebagai
tatalaksana nyeri OA adalah kinesio tapping, terapi latihan otot quadriceps dan TENS.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi kinesio tapping, terapi latihan otot
quadriceps dan TENS terhadap tingkat nyeri OA lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna
Werdha Blitar. Desain penelitian ini adalah pra-eksperimental dengan pendekatan one-group
pre-post test. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling dengan 14
responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil analisa Wilcoxon pada skor
pre-post test WOMAC dengan hasil nilai Z yang didapat sebesar -2,946 dengan p value
(Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,003 yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara
kelompok pre dan post-test. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh kinesio
tapping, terapi latihan otot quadriceps, TENS terhadap penurunan tingkat nyeri osteoarthritis
lutut pada lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Blitar.

Kata Kunci: Osteoarthritis, Nyeri lutut, WOMAC, Lanjut Usia


PENDAHULUAN (linu-linu). Nyeri sendi pada lutut yang
Menua (menjadi tua atau aging) dirasakan oleh lansia tersebut merupakan
merupakan suatu proses menghilangnya salah satu gejala dari adanya
kemampuan jaringan untuk memperbaiki osteoarthritis. Osteoarthritis yang tidak
dan mempertahankan struktur dan fungsi ditangani secara tepat dapat
normalnya sehingga tidak dapat bertahan mengakibatkan kelanjutan dari berbagai
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan gangguan aktifitas fungsional seperti
memperbaiki kerusakan yang terjadi. kesulitan berjalan jarak jauh, sulit berdiri,
Proses menjadi tua disebabkan oleh faktor naik turun tangga dll. Salah satu pelayanan
biologi, berlangsung secara alamiah, terus- kesehatan yang ikut berperan dalam
menerus dan berkelanjutan yang dapat rehabilitasi dalam penyakit ini adalah
menyebabkan perubahan anatomis, fisioterapi. Fisioterapi adalah salah
fisiologis, biokemis pada jaringan tubuh layanan kesehatan yang ditujukan kepada
sehingga memengaruhi fungsi, individu atau kelompok untuk
kemampuan badan dan jiwa mengembangkan, memelihara, dan
(Constantinides, 1994 dalam Darmojo, memulihkan gerak dan fungsi tubuh
1999). Proses ini terjadi secara perlahan- sepanjang rentang kehidupan dengan
lahan seiring dengan bertambahnya usia menggunakan penanganan secara
seseoarng. Sehingga secara signifikan manual, peningkatan gerak, peralatan
akan menyebabkan kehilangan daya tahan (fisik, lelektro terapeutis dan mekanis),
terhadap infeksi dan akan makin banyak pelatihan fungsi, serta komunikasi
terjadi distorsi metabolik dan struktural (KEPMENKES, 2013). Berdasarkan hal
yang disebut sebagai penyakit degeneratif. tersebut dalam penilitian ini akan
Salah satu penyakit degeneratif yang menggunakan modalitas fisioterapi antara
terjadi pada salah satu lansia di UPT lain TENS (Transcutaneus Electrical
PSTW Blitar adalah penyakit Nerves Stimulation), terapi latihan
musculoskeletal adalah osteoarthritis (OA). quadriceps, dan fisiotapping.
Osteoarthritis (OA) merupakan Berdasarkan uraian di atas, penulis
penyakit degenerasi pada sendi yang tertarik untuk melakukan asuhan
melibatkan kartilago, lapisan sendi, keperawatan gerontik dengan berfokus
ligament, dan tulang sehinga pada lansia dengan osteoarthritis untuk
menyebabkan kekakuan dan nyeri (Center mengurangi nyeri lutut dan meningkatkan
for Disease Control and Prevention (CDC), derajat kesehatan lansia di UPT PSTW
2014). Berdasarkan data JPNN (2017) Blitar.
menyebutkan bahwa sebanyak 27% lansia
di Indonesia mengalami osteoarthritis yang METODE PENELITIAN
didominasi oleh lansia laki-laki. Penyebab 1.1 Rancangan Penelitian
terjadinya osteoarthritis belum diketahui Metode atau desain yang digunakan
secara pasti. Namun, terjadinya adalah pre-experimental dengan one
osteroarthritis dipengaruhi oleh beberapa group pretest-posttest design. Penilaian
faktor resiko yaitu usia, kegemukan, faktor pretest dilakukan dengan metode
genetic, trauma, pola hidup, dan wawancara menggunakan skala WOMAC
sebagainya. (The Western Ontario and Mcmaster
Berdasarkan hasil temuan yang Universities Osteoarthritis Index),
didapat melalui skrining yang dilaksanakan kemudian dilakukan intervensi latihan otot
pada tanggal 24 September 2019 bahwa Quadriceps, TENS, dan Fisiotapping dan
dari 54 lansia PSTW, 25 lansia diantaranya diakhiri dengan penilaian posttest
memilki keluhan berupa nyeri sendi lutut menggunakan skala WOMAC.
1.2 Populasi dan Sample secara rutin setiap hari selama 4 hari.
Populasi yang digunakan pada Setelah hari keempat, data posttest akan
penelitian adalah lansia berusia 60-90 dinilai menggunakan skala WOMAC
tahun, mengalami nyeri pada lutut, pretest dikumpulkan, peneliti memberikan.
Pengambilan sampel menggunakan teknik
total sampling. 1.6 Analisa Data
Pengaruh latihan otot quadriceps,
1.3 Waktu dan Lokasi TENS dan fisiotapping dalam menurunkan
Penelitian dilaksanakan dari tanggal nyeri pada lansia dengan osteoarthritis
19 September hingga 23 September 2019 lutut diuji menggunakan SPSS 23.0
di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial dengan uji Wilcoxon serta membandingkan
Tresna Werdha Blitar (UPT PSTW hasil pre-test dan post-test. Sebelum
BLITAR). dilakukan uji statistik, dilakukan terlebih
dahulu uji normalitas menggunakan
1.4 Instrument Penelitian
Saphiro-Wilk Test. Hasil uji normalitas
Penelitian ini menggunakan
menunjukkan bahwa salah satu kelompok
kuesioner yang disusun oleh peneliti
data tidak berdistribusi normal dengan
berdasarkan skala WOMAC, meliputi 24
tingkat signifikan sebelum perlakuan
item aktivitas yang dibagi menjadi 3 sub-
sebesar 0,073 (>0,05) dan tingkat
item yaitu Nyeri, Kekakuan, dan Fungsi
signifikan setelah perlakuan adalah
Fisik. Masing-masing item dijawab dengan
sebesar 0,042 (<0,05).
pilihan jawaban Ya/Tidak.

1.5 Tahapan Pelaksanaan HASIL PENELITIAN


Penelitian diawali dengan 2.1 Data Karakteristik
permintaan ijin kepada pihak UPT PSTW Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan
Blitar untuk mengambil data. Peneliti Persentase Karakteristik Responden
menemui responden yang telah Penelitian pada Kelompok Data Penelitian.
dinyatakan lulus sebagai responden
Data
penelitian dan telah memenuhi kriteria Karakteristik
subjek penelitian, kemudian peneliti N (%)
menjelaskan prosedur penelitian dan Jenis Kelamin
meminta persetujuan / informed concent, Laki-Laki 5 36
Lansia yang telah ditetapkan sebagai Perempuan 9 64
responden akan dilakukan penilaian Usia
WOMAC sebagai data pretest. Penelitian 60-74 th 7 50
75-90 th 7 50
dilanjutkan dengan pemberian intervensi
>90 th 0 0
Fisiotaping dengan memasang plester
Kinesio Tapping dengan pola lingkaran Wisma
mengelilingi persendian lutut, tapping Bougenville 2 14
tersebut dipertahankan selama 4x24 jam. Aglonema 3 21
Flamboyan 1 7
Intervensi berikutnya yaitu memberikan
Nusa Indah 3 21
Latihan Otot Quadriceps sebanyak 5
Anggrek 1 7
gerakan dengan durasi 10 menit dan Kamboja 4 29
dilanjutkan dengan terapi TENS selama 5
menit dengan menempelkan elektroda Berdasarkan hasil tabel 1. dapat
pada lutut yang dirasa nyeri. Latihan otot diketahui bahwa sebagaian sebagian
Quadriceps dan terapi TENS dilakukan besar jenis kelamin responden berjenis
kelamin Perempuan yaitu sebanyak 9 Berdasarkan tabel 1.1 terkait data
orang (64%). Usia responden terbanyak umum karakteristik responden di UPT.
adalah bahwa kelompok umur elderly (60- PSTW Blitar menunjukkan responden
74 tahun) dan old (75-90 tahun) memiliki terbanyak adalah perempuan
jumlah responden yang sama yakni 7
sebanyak 9 orang lansia dari 14
orang (50%), dan tidak ada lansia yang
responden. Persebaran usia lansia
termasuk kelompok umur very old (> 90
tahun).
yang menjadi responden antara 60-90
Responden tersebar pada semua tahun. Usia elderly (60-74 tahun)
asrama. Dari 14 lansia sebagian besar sebanyak 7 lansia dan usia old (75-90
responden berada pada ruang perawatan tahun) sebanyak 7 dan terbagi menjadi
khusus atau Ruang Kamboja yakni 4 orang beberapa wisma.
(29%), dan terdapat dua ruangan yang Berdasarkan tabel 1.2
hanya memilki 1 responden (7%) yaitu perbandingan skor WOMAC pre test
Ruang Flamboyan dan Ruang Anggrek. dan post test menunjukkan terdapat
penurunan yang signifikan pada hasil
2.2 Perbandingan Data Pre-test
responden. Dengan hasil pre test skor
WOMAC dan Post-test WOMAC
total sebesar 255 (mean=18,21) dan
pada Lansia
Tabel 2. Distribusi Responden di Setiap
hasil post test setelah dilakukan
Item Aktivitas pada Kategori Nyeri intervensi menunjukkan hasil 197
(mean=14,07) yang di lakukan pada 14
responden.

2.3 Analisa Perbandingan Pre-test


dan Postest WOMAC
Tabel 6. Hasil Analisa Perbandingan Skor
WOMAC Sebelum dan Setelah Intervensi

Data N alpha p-value

Pre-test 14
0,05 0,003
Post-test 14

Berdasarkan tabel 6, dapat


diketahui bahwa hasil analisa
menggunakan uji Wilcoxon tersebut
menunjukkan bahwa nilai signifikansi yaitu
0,003 (p<0,05), hal ini menunjukkan skor
WOMAC mengalami penurunan yang
signifikan artinya H0 ditolak yaitu terdapat
pengaruh Latihan otot quadriceps, TENS,
dan Fisotapping pada nyeri lutut pada
Lansia dengan Osteorthritis Lutut.

PEMBAHASAN
3.1 Karakteristik Responden
Rata-rata usia responden adalah
74,3 tahun dan usia termuda adalah 63
tahun dan usia tertua adalah 83 tahun. sendi terlalu lama diistirahatkan (Soeroso,
Sebagian besar responden berjenis J., dkk, 2010).
kelamin perempuan yakni 9 orang (64%) Berdasarkan penilaian WOMAC
dan hanya 5 orang (36%) berjenis kelamin pada bagian Fungsi Fisik didapatkan, 14
laki-laki. Sebagian besar responden orang mengalami kesulitan saat menaiki
memiliki IMT (indeks Massa Tubuh) normal tangga, 13 orang mengalami kesulitan saat
sebanyak 6 lansia (43%), IMT tertinggi berdiri dari duduk, bangkit dari tempat tidur,
obesitas II sebanyak 1 orang (7%), dan dan mengalami kesulitan dalam
underweight sebanyak 4 orang (29%). melakukan tugas rumah tangga berat.
Obesitas merupakan salah satu Proses penuaan pada lansia terjadi akibat
factor resiko terjadinya osteoarthritis lutut. mengalami suatu keadaan yang terjadi
Sendi lutut merupakan tumpuan dari pada kehidupan manusia yang dimana
setengah berat badan seseorang selama menghilangnya kemampuan jaringan
berjalan. Berat badan yang meningkat tubuh untuk memperbaiki diri dan
akan memperberat tumpuan pada sendi mempertahan struktur serta fungsi
lutut. Pembebanan lutut dapat noormalnya sehingga perlahan-lahan
menyebabkan kerusakan kartilago, dapat menyebabkan penurunan daya
kegagalan ligament, dan struktur lain. tahan tubuh dalam menghadapi
Penambahan berat badan membuat sendi rangsangan dari dalam dan luar tubuh
lutut bekerja lebih keras dalam menopang (Nugroho, 2009).
berat tubuh. sendi yang bekerja lebih keras
akan menyebabkan tulang rawan sendi 3.3 Nyeri Osteoarthritis Lutut Setelah
rusak dan menyebabkan sendi kehilangan Intervensi
sifat kompresibilatasnya sehingga terjadi Setelah dilakukan intervensi berupa
perubahan biofisika berupa fraktur jaringan pemberian Latihan otot Quadriceps, TENS,
kolagen dan degradasi proteoglikan dan Fisiotaping jumlah lansia yang
(Felson, 2012) mengalami nyeri saat berjalan berkurang
dari 14 lansia menjadi 8 lansia, nyeri saat
3.2 Nyeri Osteoarthritis Lutut menaiki tangga dari 13 lansia menjadi 10
Sebelum Intervensi lansia, nyeri pada malam hari dari 7 lansia
Berdasarkan penilaian WOMAC menjadi 3 lansia, nyeri saat istirahat dari 7
pada bagian Nyeri didapatkan 14 orang lansia menjadi 3 lansia, dan nyeri saat
mengeluh nyeri saat berjalan. Ketika nyeri membawa beban berat tetap sebanyak 14
terjadi, terdapat osteofit yang menekan lansia.
periosteum dan radix saraf yang berasal Hasil penelitian ini sejalan dengan
dari medulla spinalis serta kenaikan penelitian Warden (2008) dan Hinman dkk
tekanan vena intramedular akibat stasis (2003) yang menjelaskan bahwa taping
vena pada proses remodeling trabecula secara signifikan dapat mengurangi
dan subcondrial (Sudoyo et.al, 2007) keluhan nyeri lutut akibat osteoarthritis.
Berdasarkan penilaian WOMAC Fisiotaping sistem otot bermanfaat dapat
pada bagian Kekakuan didapatkan 11 mengaktivasi atau memfasilitasi kontraksi
orang mengeluh kaku sendi di pagi hari, 10 serabut otot sehingga kontraksi otot dapat
orang mengeluh kaku sendi selain pada dilakukan secara optimal. Pada instabilitas
waktu pagi hari. Nyeri atau kekakuan sendi sendi lutut akibat kelemahan otot
osteoarthritis biasanya muncul di pagi hari, fisiotaping dengan teknik fasilitasi dan
setelah imobilitas seperti duduk di kursi stabilisasi sangat bermanfaat diberikan. Di
atau mobil dalam waktu yang cukup lama sisi lain fisiotaping dapat diberikan dengan
atau bahkan setelah bangun tidur karena metode inhibisi, sehingga pada kondisi
nyeri otot (myalgia) otot tetap dalam tersebut membuktikan bahwa terdapat
kemampuan optimal untuk dapat penurunan skor nyeri setelah intervensi.
berkontraksi. Berdasarkan hasil olah data statistic
TENS merupakan pengabungan menggunakan uji statistic Wilcoxon Test
perangkat kecil untuk mengarahkan pulsa terdapat perbedaan yang signifikan antara
listrik ringan ke saraf di area yang sakit. Skor Pretest WOMAC dan Posttest
Selama penanganan stimulasi dengan WOMAC sebesar 0,03 dimana nilai
TENS, elektroda diletakkan atau tersebut lebih kecil dari kooefisien alpha
ditempelkan pada kulit didaerah yang yaitu 0,05. Hal tersebut membuktikan
mengalami keluhan nyeri (triggerpoint). bahwa intervensi latihan otot quadriceps,
Elektroda dihubungkan dengan kabel ke TENS, dan Fisiotaping dapat menurunkan
stimulator bertenaga listrik. Beberapa unit skor WOMAC osteoarthritis.
TENS bekerja dengan cara memblokir Hasil penelitian tersebut sesuai
impuls nyeri melalui stimulasi serabur saraf dengan teori yang menyatakan terapi
besar. Jenis lain TENS bekerja dengan latihan stimulasi otot adalah salah satu
menyebabkan tubuh melepaskan modalitas yang direkomendasikan untuk
endorphin (zat kimia saraf yang terjadi meningkatkan kekuatan otot kuadrisep.
secara alami dalam otak yang memiliki sifat Tujuan dari terapi latihan adalah
menghilangkan rasa sakit). meningkatkan kekuatan otot lokal,
TENS dapat mengurangi nyeri lutut memperbaiki lingkup gerak sendi,
dimana aktifitas sel nosiseptor di kornu meningkatkan ketahanan sehingga fungsi
dorsalis saat TENS diaplikasikan pada dan kinerja menjadi lebih baik. Terapi otot
area somatic dalam bentuk inhibisi pre dan kuadrisep meningkatkan kekuatan otot
post sinapsis, hal ini sesuai penelitian yang kuadrisep dengan latihan gerak
dilakukan Garrison dan Foreman (1994). menggunakan tahanan tanpa ada
TENS dengan segmental simpatis dapat penumpuan pada sendi lutut. Latihan untuk
mengurangi nyeri kronis pada OA lutut menguatkan otot quadriceps diperlukan
melalui antidromik yang bermanfaat untuk untuk pasien OA lutut dapat menjaga
memperbaiki dan meningkatkan proses berbagai macam gerakan pada lutut,
recovery jaringan lunak melalui respon meningkatkan kekuatan dan melestarikan
vasodilatasi kapiler, dan efek prodomik fungsi sendi.
yang bermanfaat terhadap aktivasi beta TENS juga merupakan salah satu
endorphin, serotonin untuk membantu intervensi yang bisa dilakukan oleh
menurunkan keluhan nyeri pada kondisi perawat dimana terapi menggunakan
musculoskeletal termasuk OA lutut. voltase listrik yang rendah untuk
Penelitian ini sejalan dengan penelitian mengurangi nyeri. TENS mengubah
Jametvedt dan Law (2004) yang mekanisme nyeri dan melepaskan hormon
menunjukkan TENS yang dikombinasikan endorphin untuk mengurangi nyeri. Corwin
dengan latihan dapat mengurangi nyeri (2007) menyatakan nyeri kulit adalah nyeri
pada osteoarthritis lutut. yang dirasakan di kulit atau jaringan
subkutis, akibat adanya saraf perifer yang
3.4 Pengaruh Latihan Otot cedera menyebabkan rangsang nosiseptif
Quadriceps, TENS, dan dan terjadinya respon inflamasi. Peneliti
Fisiotaping terhadap Nyeri meletakkan elektroda diatas atau di sekitar
Hasil penelitian menunjukkan rata- area yang sangat nyeri dengan jarak 5 cm
rata skor pretest WOMAC yaitu sebesar dan pada area dermatom yang
18,21 mengalami penurunan pada skor mempersarafi, terapi TENS 2 kali dalam
postes WOMAC yaitu menjadi 14,07. Hasil sehari selama 3 hari dalam waktu 15 menit.
Dalam sehari diberikan di pagi hari dan melakukan tindak lanjut terkait anamnesa
sore hari. Hal ini didukung oleh penelitian dan pemeriksaan rutin terkait keluhan
Bjordal (2013) menyatakan bahwa lansia, menyusun intervensi yang sesuai
pemberian TENS dapat dilakukan 2-3 kali dan dapat menerapkan kinesiologi tapping,
dalam sehari selama 3 hari dalam waktu latihan otot quadriceps dan TENS sebagai
15-30 menit, elektroda diletakkan di sekitar penatalaksanaan dalam mengatasi nyeri
area nyeri atau titik nyeri OA dengan prosedur yang sesuai.
Fisiotaping/ Kinesio Taping
merupakan suatu terapi yang digunakan
untuk membantu kinerja otot, sendi dan DAFTAR PUSTAKA
jaringan ikat. Kinesio taping juga Felson D.T., 2012. Osteoartritis, in
membantu membatasi gerak sendi (ROM), Harrison’s Principles of Internal
mengurangi waktu pemulihan cedera, Medicine, Longo Dan L., Kasper
serta mengurangi rasa nyeri dan Dennis L., Jameson J Larry., Fauci
peradangan. Taping ini bisa digunakan 3-5 Anthony S., Hauser Stephen L.,
hari dan tahan air (Mehran Mostafavifar, Loscalzo Joshep.18th ed. New York :
2012) The McGrawl – Hill Companies,
Inc.17 : 2828 – 36
KESIMPULAN DAN SARAN Nugroho (2008). Keperawatan Gerontik.
1. Hasil pengukuran WOMAC pada Buku Kedokteran EGC: Jakarta
seluruh responden sebelum intervensi Hinman, MR. 2003. Interrater Reability of
sebesar 18.21 (Osteoarthritis Berat), Flexicurve Postural Measures
setelah dilakukan intervensi sebesar Among Novice Users. No.17, Journal
14.07 (Osteoarthritis Berat). Hal ini of Back and Muskuloskeletal
membuktikan terdapat penurunan skor Rehabilitation.
rata-rata dari pre-test ke post test, Sudoyo A. W., Setiyohadi B., Alwi I.,
namun tetap dalam kategori Simadibrata M., Setiati S., 2007.
Osteoartritis berat. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2.
2. Hasil uji statistik didapatkan nilai p- Edisi 5. Jakatra: Departemen Ilmu
value sebesar 0,03 dimana nilai Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
tersebut kurang dari koefisien alpha Universitas Indonesia
yaitu 0,05, hal ini membuktikan bahwa Soeroso S, Isbagio H, Kalim H, Broto R,
terdapat perbedaan yang signifikan Pramudiyo R. Osteoartritis. In:
antara skor pre-test dan post-test Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
3. Hasil penelitian ini menunjukkan Simadibrata M, Setiati S, editors.
bahwa terdapat pengaruh terapi Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid II
fisiotaping, latihan otot quadriceps dan Edisi IV. Jakarta: Fakultas
TENS terhadap penurunan nyeri Kedokteran Universitas
osteoarthritis lutut pada lansia di UPT Indonesia;2006.p1195-1201.
Pelayanan Sosial Tresna Werdha Bjordal, JM, Johnson, MI & Ljunggreen,
Blitar AN, 2013. ‘Transcutaneous electrical
nerve stimulation (TENS) can reduce
Hasil penelitian ini menunjukkan postoperative analgesic
bahwa kinesio tapping, latihan otot consumption. A meta-analysis with
quadriceps dan TENS berpengaruh assessment of optimal treatment
terhadap penurunan tingkat nyeri OA pada parameters for postoperative pain’,
lansia. Dengan demikian diharapkan dapat European Journal Pain , vol 7, no. 8,
hal. 182-187