Anda di halaman 1dari 22

Hakikat Evaluasi

(Peniaian, Pengukuran, dan Tes)

Oleh:
Putu Gede Widhy Adnyana
1823011023

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. I Made Ardana, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2019
ABSTRAK
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan
suasana agar para siswa belajar. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana
siswa mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Pembelajaran matematika tidak
seharusnya dijejalkan secara paksa kepada siswa. Matematika dapat
dikembangkan sebagai pengembangan budaya. Pendidikan matematika harus
disusun sebagai bentuk dari alkulturasi, di mana generasi muda harus dapat
menyesuaikan dengan warisan budaya. Siswa dan guru bekerja sama membuat
suatu pengertian matematika dalam berbagai praktik dan manfaat untuk dunia
sekitar siswa dan guru. Hal ini sesuai dengan Vygotsky yang menyatakan
interaksi sosial dapat menumbuh kembangankan sisi intelektual siswa. Selain itu,
Vygotsky memperkenalkan ide zone of proximal development, di mana Vygotsky
menekankan adanya perbedaan antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat
perkembangan intelektual. Tahap orientasi dalam pembelajaran juga penting,
mengingat tindakan orientasi sering menggunakan instrumen budaya yang
tersedia untuk memperkirakan situasi dan merencanakan tindakan agar mencapai
hasil yang optimal.

A. PENDAHULUAN

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang Sistem


Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik adalah tenaga professional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan
tinggi. Dengan demikian, salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang
pendidik adalah kemampuan mengadakan evaluasi, baik dalam proses
pembelajaran maupun penilaian hasil belajar.
Kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran merupakan kemampuan
dasar yang mesti dikuasai oleh seorang pendidik maupun calon pendidik sebagai
salah satu kompetensi professionalnya. Evaluasi pembelajaran merupakan satu
kompetensi professional seorang pendidik. Kompetensi tersebut sejalan dengan
instrumen penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah
melakukan evaluasi pembelajaran.
Istilah evaluasi pembelajaran sering disamaartikan dengan ujian. Meskipun
saling berkaitan, akan tetapi tidak mencakup keseluruhan makna yang
sebenarnya.Ujian ulangan harian yang dilakukan guru di kelas atau bahkan ujian

1
akhir sekolah sekalipun, belum dapat menggambarkan esensi evaluasi
pembelajaran, terutama bila dikaitkan dengan penerapan kurikulum 2013. Sebab,
evaluasi pembelajaran pada dasarnya bukan hanya menilai hasil belajar, tetapi
juga proses-proses yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam keseluruhan
proses pembelajaran.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah pengukuran
(measurement), penilaian (assessment) dan evaluasi (evaluation), terlebih lagi
bagi orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan. Namun, pada praktiknya
sering kali terjadi kerancauan atau tumpang tindih (overlap) dalam menggunakan
ketiga istilah tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai
“ Hakikat evaluasi (Penilaian, Pengukuran, dan Tes)”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan yaitu sebagai berikut.
1. Pengertian tes, penilaian, pengukuran dan evaluasi.
2. Hubungan antara pengukuran, penilaian dan evaluasi.
3. Proses evaluasi dalam pendidikan.
4. Ciri-ciri evaluasi dalam pendidikan.
5. Tujuan dan fungsi dari evaluasi pembelajaran.

C. PEMBAHASAN
1. Pengertian Tes, Penilaian, Pengukuran dan Evaluasi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tes (test),
pengukuran (meaasurement), penilaian (assessment) dan evaluasi (evaluation),
terlebih lagi bagi orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan. Namun, pada
praktiknya sering kali terjadi kerancauan atau tumpang tindih (overlap) dalam
menggunakan ketiga istilah tersebut. Hal tersebut mungkin dapat dipahami
mengingat ketiga istilah tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain.
1.1 Pengertian tes
Philips (1979: 1-2) menyatakan bahwa “a test is commonly defined as a
tool or instrument of measurement that is used to obtain data about a specific trait

2
or characteristic of an individual or a group” yang dapat diartikan bahwa suatu
tes biasanya didefinisikan sebagai alat atau instrumen pengukuran yang digunakan
untuk memperoleh data tentang sifat atau karakteristik tertentu dari individu atau
kelompok, selain itu menurut Johnson & Roger T. Johnson (2002: 62)
menyatakan “tests are given to assess student learning, to increase student
learning, and to guide instruction” dan Mardapi (2008: 67) menyatakan bahwa tes
adalah sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, atau sejumlah
pernyataan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat
kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang di kenai
tes. Berdasarkan atas ketiga pengertian di atas dapat dikatakan bahwa tes
merupakan sebagai alat atau metode yang berisi serangkaian butir pertanyaan
dan/atau pernyataan untuk mengungkap karakteristik atau kemampuan seseorang.
Hasil tes biasanya digunakan untuk mengetahui kemampuan belajar,
meningkatkan aktivitas belajar, dan meningkatkan kegiatan pembelajaran.
Beberapa istilah yang terkait dengan bidang kajian tes, yaitu testing, testee, dan
tester. Testing adalah waktu di mana tes dilaksanakan, atau waktu pelaksanaan
tes. Testee adalah orang yang dikenai tes, atau orang yang mengerjakan tes. Tester
adalah orang melakukan tes, atau pelaksana tes. Adapun beberapa kajian tentang
tes dibedakan menjadi 2 yaitu dari jenis tes dan bentuk tes:
a. Jenis tes
Sebagai pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu
sebagai berikut.
1. Tes Seleksi
Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan siswa baru, dimana hasil tes
digunakan untuk memilih peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian
banyak calon peserta didik yang mengikuti tes. Materi tes pada tes seleksi
merupakan materi prasyarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan
diikuti calon peserta didik. Materi yang diujikan terdiri atas butir-butir yang
cukup sulit, sehingga calon-calon yang tergolong memiliki kemampuan yang
tinggi yang dimungkinkan dapat menjawab butir-butir yang diujikan.
2. Tes Awal

3
Tes awal sering dikenal dengan pre tes, tes jenis ini dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang
akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Tes ini dilaksanakan
sebelum materi atau bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik.
3. Tes Akhir
Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir ini dilaksanakan
dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran sudah
dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik. Materi tes akhir
bahan-bahan pelajaran yang telah diajarkan kepada peserta didik, dan soal
yang dibuat sama dengan soal tes awal. Dengan demikian jika hasil post-test
lebih baik dari pre tes maka pada umumnya dapat diartikan bahwa program
pengajaran telah berjalan dan berhasil dengan sebaik-baiknya.
4. Tes Diagnostik
Tes ini dilaksanakan untuk menentukan secara tepat jenis kesukaran yang
dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan
diketahui jenis-jenis kesukaran yang dihadapi peserta didik, maka dapat
dicarikan upaya berupa therapy yang tepat. Tes diagnostik juga bertujuan
untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “apakah peserta didik sudah dapat
mengusai pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat
menerima pengetahuan selanjutnya?” Materi yang ditanyakan dalam tes
diagnostik ditekankan pada bahan-bahan yang sulit dipahami peserta didik.
Tes ini dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis serta tes perbuatan.
5. Tes Formatif
Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
manakah peserta didik telah memahami dan menguasai materi ajar di dalam
proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Tes
formatif dilaksanakan setelah suatu pokok bahasan selesai diberikan. Materi
tes formatif ditekankan pada bahan-bahan pelajaran yang diajarkan, butir-butir
soal terdiri atas butir-butir soal yang tergolong mudah maupun yang termasuk
kategori sukar.
6. Tes Sumatif

4
Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan
satuan program pembelajaran selesai diberikan. Tes sumatif disusun atas dasar
materi pelajaran diberikan selama satu catur wulan atau satu semester, dengan
demikian materi tes sumatif jauh lebih banyak dari pada tes formatif.
Umumnya tes sumatif dilaksanakan secara tertulis dengan tujuan agar semua
peserta didik memperoleh soal yang sama. Butir-butir soal yang diujikan
dalam tes sumatif pada umumnya lebih sulit daripada butir-butir tes formatif.
Tujuan utama tes sumatif adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan
keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran
dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat ditentukan: (a) kedudukan dari
masing- masing peserta didik ditengah-tengah kelompoknya, (b) dapat
tidaknya peserta didik untuk mengikuti program pengajaran berikutnya, (c)
kemajuan peserta didik untuk diinformasikan kepada pihak orang tua yang
tertuang dalam bentuk Rapor atau Surat Tanda Tamat Belajar.
7. Jenis tes menurut individu yang dites
Tes ini dibedakan menjadi; (1) tes individual yakni tes dimana saat
pelaksanaan kegiatan tes guru hanya menghadapi seorang peserta didik dan
(2) tes kelompok yakni tes dimana guru menghadapi sejumlah peserta didik.
8. Jenis tes menurut jawaban
Berdasarkan jawaban yang dikehendaki tes dibedakan menjadi; (1) tes verbal
yakni tes yang menghendaki jawaban yang tertuang dalam bentuk ungkapan
kata-kata atau kalimat baik secara lisan ataupun secara tertulis dan (2) tes yang
menghendaki jawaban peserta didik bukan berupa ungkapan atau kalimat
melainkan berupa tindakan atau tingkah laku yang melibatkan gerakan otot.
Tes ini dimaksudkan untuk mengukur tujuan-tujuan yang berkaitan dengan
aspek psikomotor.

b. Bentuk tes
Bentuk tes secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
Tes subyektif (esai) dan tes objektif.
1. Tes Subyektif (esai)

5
Tes esai adalah suatu bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban siswa dalam
bentuk uraian dengan mempergunakan bahasa sendiri. Dalam tes bentuk esai
peserta didik dituntut untuk berpikir dan menggunakan apa yang diketahui
yang berkenaan dengan pertanyaan yang harus dijawab. Tes bentuk esai
memberi kebebasan kepada peserta didik untuk menyusun dan
mengemukakan jawabannya sendiri sehingga memungkinkan peserta didik
dapat menunjukkan kemampuannya dalam menerapkan pengetahuan untuk
menganalisis, menghubungkan dan mengevaluasi soal yang dihadapi.
2. Tes Objektif
Tes objektif adalah tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang
dapat dijawab oleh peserta didik dengan jalan memilih salah satu di antara
beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan atau dengan
menuliskan jawabannya dengan memilih kode-kode tertentu yang mewakili
alternatif-alternatif jawaban yang telah disediakan. Jawaban terhadap tes
objektif bersifat “pasti” yakni hanya ada satu kemungkinan jawaban yang
benar. Jika peserta didik tidak menjawab “seperti itu” maka dinyatakan salah.
Oleh karena jawabannya bersifat pasti, jawaban peserta didik yang betul
terhadap suatu butir soal, akan dinyatakan benar oleh korektor. Karena hasil
pekerjaan peserta didik jika diperiksa oleh siapa pun akan menghasilkan skor
yang sama, maka disebut tes objektif. Tes objektif dapat digolongkan menjadi:
 tes objektif bentuk benar salah (true-false test);
 tes objektif bentuk menjodohkan (matching test);
 tes objektif bentuk melengkapi (completion test);
 tes objektif bentuk isian singkat (fill-in test);
 tes objektif bentuk pilihan ganda (multiple choice test).

Dari berbagai macam tes objektif tersebut di atas, tes bentuk benar salah, isian
singkat, menjodohkan merupakan alat penilaian yang hanya menilai
kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes
objektif pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat
dan memahami dengan cakupan materi yang luas.
Tes objektif memiliki kelemahan-kelemahan antara lain: (1) tes objektif pada
umumnya kurang dapat mengukur atau mengungkapkan proses berpikir yang

6
tinggi. Lebih banyak mengungkap daya ingat atau hafalan dibandingkan
mengungkapkan tingkat ke dalam berpikir peserta didik terhadap materi yang
diujikan, (2) terbuka kemungkinan bagi peserta didik untuk bermain spekulasi,
tebak terka atau untung-untungan dalam memberikan jawaban soal.
1.2 Pengertian Penilaian
Menurut beberapa ahli tentang pengertian dari penilaian yaitu :
a. Griffin dan Nix (1991: 53) menyatakan “assessment is the process of
gathering information to make informed decisions” yang dapat diartikan
sebagai “penilaian merupakan proses mengumpulkan informasi untuk
membuat keputusan yang tepat”.
b. Menurut Ashcroft dan David Palacio (1996) “Penilaian merupakan suatu
informasi yang menuntut siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui,
pahami, dan sudah bisa lakukan.
c. Menurut Craig (2012) mengatakan “assessment is the process of making a
judgment or measurement of worth of an entity” yang dapat diartikan sebagai
“penilaian merupakan proses membuat penilaian atau pengukuran nilai suatu
entitas”.

Berdasarkan atas ketiga pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa penilaian


merupakan serangkaian kegiatan atau proses pengumpulan data/informasi tentang
kinerja seseorang untuk kepentingan pembuatan keputusan jika perlu. Kegiatan
penilaian membutuhkan informasi dari setiap individu dan atau kelompok peserta
didik serta guru. Guru dapat melakukan penilaian dengan cara mengumpulkan
catatan yang diperoleh melalui ujian, produk, observasi, portofolio, unjuk kerja
serta data hasil wawancara.

1.3 Pengukuran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, pengukuran
adalah proses, cara, perbuatan mengukur. Adapun pengertian pengukuran menurut
beberapa ahli, yaitu:
a. Menurut Cangelosi (1991), pengukuran adalah proses pengumpulan data
melalui pengamatan empiris (Djaali dan Muljono, 2008).

7
b. Ebel (1972) menyatakan bahwa pengukuran merupakan kegiatan pemberian
angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang melekat pada objek
atau kegiatan atas dasar ketentuan yang berlaku.
c. Menurut Wiersma dan Jurs (1990), pengukuran adalah penilaian numerik
terhadap fakta-fakta dari objek yang hendak diukur menurut kriteria atau
satuan-satuan tertentu (Djaali dan Muljono, 2008).
Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan atau atas
dasar ukuran tertentu. Misalnya, mengukur waktu dengan jam, mengukur suhu
dengan termometer, mengukur massa dengan timbangan, mengukur kecepatan
dengan spidometer, mengukur kuat arus listrik dengan ampere meter, mengukur
kemampuan siswa dengan tes, dan lain sebagainya.
Pengukuran dari segi caranya dibedakan menjadi dua macam, yaitu
pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung
merupakan proses pemberian angka atas suatu hal atau benda tertentu dilakukan
secara langsung dengan membandingkan sesuatu yang kita ukur tersebut dengan
kriteria atau pembanding tertentu. Contohnya, dalam mengukur tinggi seseorang,
caranya adalah dengan membandingkan tinggi seseorang tersebut dengan alat
pembanding yang berupa meteran. Contoh lainnya adalah untuk mengukur berat
seseorang, dilakukan dengan cara membandingkan berat badan seseorang tersebut
dengan alat pembanding yang berupa timbangan. Hasil pengukuran secara
langsung ini bersifat lebih valid dalam arti bisa mendekati kondisi yang
sesungguhnya. Sedangkan pengukuran tidak langsung adalah pengukuran yang
dilakukan dengan jalan mengukur lewat indikator-indikator atau gejala gejala
yang menggambarkan sesuatu yang diukur. Misalnya, kita ingin mengukur tingkat
kepandaian seseorang, maka kita tidak dapat secara langsung mengukur
kepandaian itu sendiri, tetapi hanya lewat gejala-gejala atau indikator-indikator
yang menunjukkan bahwa seseorang itu pandai, seperti dapat menjawab secara
tepat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hasil pengukuran tidak
langsung ini umumnya tidak akan sevalid pengukuran langsung.
Selanjutnya dari segi tujuannya, pengukuran dibedakan menjadi dua
macam (Sukiman, 2012) yaitu:
a. pengukuran bukan untuk menguji

8
Pengukuran bukan untuk menguji adalah pengukuran biasa seperti
pengukuran yang dilakukan oleh seorang penjahit pakaian ketika mengukur
ukuran badan kliennya yang akan menjahitkan baju kepadanya. Pengukuran
ini tujuannya hanya sekadar agar baju yang dibuatnya pas dengan ukuran
badan kliennva tersebut dan tidak diarahkan untuk melihat seberapa kekuatan
tenaga baju yang akan.
b. Pengukuran untuk menguii
Pengukuran untuk menguji adalah pengukuran yang diarahkan untuk
melihat potensi atau kemampuan yang dimiliki oleh sesuatu. Misalnya pabrik
bola lampu ketika memproduksı produk baru melakukan uji coba dengan
menyalakan produk bola lampu barunya tersebut secara terus menerus
kegiatan ini merupakan bentuk pengukuranyang bertujuan untuk menguji
seberapa baik kualitas produk bola lampu yang baru tersebut.

1.4 Evaluasi
Evaluasi mencakup pengukuran dan penilaian. Evaluasi memiliki
pengertian yang berbeda-menurut para ahli, yaitu :
a. Menurut Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977) dalam Sudijono
(2011) “evaluation refer to the act or process to determining the value of
something”. Dari definisi tersebut, maka istilah evaluasi ini menunjuk
kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses
untuk menentukan nilai dari sesuatu.
b. Menurut Daryanto (2008) evaluasi merupakan proses menggambarkan,
memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk memperoleh
keputusan.
c. Menurut Suharsimi Arikunto (2015), evaluasi adalah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya
informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat
dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah
menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker
untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang
telah dilakukan.

9
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi
merupakan pengumpulan informasi yang dilakukan oleh seseorang (evaluator)
untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.

2. Hubungan antara pengukuran, penilaian dan evaluasi


Berdasarkan beberapa pengertian dari pengukuran, penilaian, dan evaluasi
di atas, dapat diketahui bahwa antara ketiga istilah tersebut memiliki hubungan
satu sama lainnya yaitu berupa suatu hierarki. Penilaian mencakup pengukuran,
sedangkan evaluasi mencakup pengukuran dan penilaian.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering terjebak dalam memahami istilah
antara penilaian dan evaluasi. Penilaian dan evaluasi memiliki persamaan dan
perbedaan, persamaannya adalah kedua istilah tersebut sama-sama memiliki
pengertian menilai atau menentukan nilai sesuatu yang bersifat kualitatif.
Sedangkan, perbedaan kedua istilah tersebut tergantung pada otoritas atau kamus
yang digunakan acuan, assessment / penilaian dan evaluasi mungkin diperlakukan
sebagai sinonim atau bisa sebagai konsep yang jelas perbedaannya. Seperti
disebutkan di atas, jika terdapat perbedaan, sangat tergantung pada apa yang
diukur dan mengapa diukur serta bagaimana pengukuran tersebut dibuat. Dalam
hal tertentu, sering dikatakan bahwa kita menilai siswa dan kami mengevaluasi
pembelajaran.
Perbedaan ini berasal dari penggunaan metode penelitian dalam evaluasi
untuk membuat keputusan tentang nilai kegiatan pendidikan. Selain itu,
menekankan pada penilaian individu, yaitu, menggunakan informasi untuk
membantu mengidentifikasi kebutuhan pelajar dan mendokumentasikan kemajuan
yang diperoleh untuk menuju mencapai tujuan yang diharapkan.
Dalam hal mengapa dan bagaimana pengukuran dilakukan, tabel berikut
(Apple & Krumsieg, 1998) membandingkan dan membedakan penilaian dan
evaluasi pada beberapa dimensi penting, yaitu sebagai berikut.

10
Secara umum, pengukuran lebih membatasi pada gambaran yang bersifat
kuantitatif, sedangkan penilaian dan evaluasi lebih bersifat kualitatif. Ketiga
istilah tersebut dapat dilihat perbedaannya dari tabel nilai hasil ujian mata kuliah
tes dan pengukuran berikut:

Peserta Skor Nilai Keputusan


Pata Bundu 85 B (plus) Lulus amat baik
Sunandar 87 A (min) Lulus paling baik
Arifin Ahmad 75 B Lulus baik
Surono 90 A Lulus sangat baik
Ramly 80 B Lulus baik
Sumber: Djaali dan Muljono (2008: 3)
Keterangan:
a. Skor merupakan kegiatan hasil pengukuran
b. Kategori A, A-, B+, dan B adalah hasil kegiatan penilaian
c. Klasifikasi Lulus baik, Lulus amat baik, dan Lulus sangat baik adalah
hasil evaluasi.

3. Proses Evaluasi dalam Pendidikan


Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat untuk proses produksi, dan

11
calon peserta didik diumpamakan sebagai bahan mentah, maka lulusan dari
sekolah itu hampir sama dengan pruduk hasil olahan yang sudah siap digunakan.
Dalam istilah inovasi yang menggunakan teknologi maka tempat pengolah ini
disebut juga dengan ungkapan transformasi.
Jika digambarkan dalam bentuk diagram akan terlihat sebagai berikut :

Input Transformasi Output

Umpan Balik

 Input
Input adalah bahan mentah yang dimasukkan kedalam transformasi.
Dalam dunia sekolah maka yang dimaksud dengan bahan mentah adalah calon
peserta didik yang baru akan memasuki sekolah. Sebelum memasuki sesuatu
tingkat sekolah (institusi) calon peserta didik itu dinilai dahulu kemampuannya.
Dengan penelitian itu diketahui apakah kelak akan mampu mengikuti pelajaran
dan melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya.
 Output
Ouput adalah bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi. Yang
dimaksud dalam pembicaraan ini adalah peserta didik lulusan sekolah yang
bersangkutan untuk dapat menentukan apakah peserta didik berhak lulus atau
tidak, perlu diadakan kegiatan penilian.
 Transformasi
Transformasi adalah mesin yang bertugas mengubah bahan mentah
menjadi bahan jadi. Dalam dunia sekolah, sekolah itulah yang dimaksud dengan
transformasi. Sekolah itu sendiri terdiri dari beberapa mesin yang menyebabkan
berhasil atau gagalnya sebagai tranformasi. Bahan jadi yang diharapkan dalam hal
ini peserta didik lulusan sekolah ditentukan oleh beberapa faktor sebagai akibat
pekerjaannya unsur-unsur yang ada.
Unsur-unsur transformasi sekolah tersebut antara lain:
a. Guru dan personal lainya.

12
b. Metode mengajar dan sistem evaluasi.
c. Sarana penunjang.
d. Sistem administrasi.
 Umpan Balik
Umpan Balik (feed back) adalah segala informasi baik yang menyangkut
output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan sekali untuk
memperbaiki input maupun transformasi. Lulusan yang kurang bermutu atau yang
tidak siap pakai yang belum memenuhi harapan, akan menggugah semua pihak
untuk mengambil tindakan yang berhubungan dengan penyebab kurang
bermutunya lulusan.
Penyebab-penyebab tersebut antara lain:
a. Input yang kurang baik kualitasnya.
b. Guru dan personal yang kurang tepat (kualitas).
c. Materi yang tidak atau kurang cocok.
d. Metode mengajar dan system evaluasi yang kurang memadai standarnya.
e. Kurang sarana penunjang.
f. Sistem administrasi yang kurang tepat.
Dari itu maka jelas penilaian bahwa di sekolah meliputi banyak segi: calon peserta
didik, guru, metode, lulusan dan proses pendidikan secara menyeluruh turut
menentukan peranan.

4. Ciri-ciri evaluasi dalam pendidikan.


Ada lima ciri evaluasi dalam pendidikan sebagaimana diungkapkan
Suharsimi (20015:20), yaitu:
Ciri pertama, penilaian dilakukan secara tidak langsung. Sebagai contoh
mengetahui tingkat inteligen seorang anak, akan mengukur kepandaian melalui
ukuran kemampuan menyelesaikan soal-soal. Dengan acuan bahwa tanda-tanda
anak yang inteligen adalah anak yang mempunyai:
1. Kemampuan untuk bekerja dengan bilangan.
2. Kemampuan untuk menggunakan bahasa yang baik.
3. Kemampuan untuk menanggap sesuatu yang baru (cepat mengikuti
pembicaraan orang lain).

13
4. Kemampuan untuk mengingat-ingat.
5. Kemampuan untuk memahami hubungan (termasuk menangkap kelucuan).
6. Kemampuan untuk berfantasi.
Namun ada penemuan yang lebih muktahir yang dikemukakan oleh David
Lazear dalam bukunya Seven Ways of Theacing tentang aspek-aspek yang
menunjukkan tingkat kecerdasaan seseorang (Lazear, 1991), yaitu :
1. Kemampuan verbal
2. Kemampuan mengamati
3. Kemampuan gerak kinestis-fisik
4. Kemampuan logika matematika
5. Kemampuan dalam hubungan intra-personal
6. Kemampuan dalam hubungan inter-personal
7. Kemampuan dalam musik/irama.
Selanjutnya, tingkat inteligensi dibandingkan dengan jumlah umat manusia
digambarkan sebagai berikut:
- 1 % luar biasa, mempunyai IQ antara 30 sampai 70.
- 5 % dungu, mempunyai IQ antara 70 sampai 80.
- 14 % bodoh, mempunyai IQ antara 80 sampai 90.
- 60 % normal, mempunyai IQ antara 90 sampai 110.
- 14 % pandai, mempunyai IQ antara 110 sampai 120.
- 5 % sangat pandai, mempunyai IQ antara 120 sampai 130.
- 1 % genius, mempunyai IQ lebih dari 130.

Ciri kedua dari penilaian pendidikan yaitu penggunaan ukuran kuantitatif.


Penilaian pendidikan bersifat kuantitatif artinya menggunakan symbol bilangan
sebagai hasil pertama pengukuran. Setelah itu lalu diinterpretasikan ke bentuk
kualitatif.
Contoh : Dari hasil pengukuran, Tika mempunyai IQ 125, sedangkan IQ Tini 105.
Dengan demikian maka Tika dapat digolongkan sebagai anak yang pandai,
sedangkan Tini anak yang normal.

Ciri ketiga dari penilaian pendidikan, yaitu bahwa penilaian pendidikan

14
menggunakan, unit-unit untuk satuan-satuan yang tetap karena IQ 105 termasuk
anak normal. Anak lain hasil pengukuran IQ-nya 80, menurut unit ukurannya
termasuk anak dungu.
Ciri kempat dari penilaian pendidikan adalah bersifat relatif artinya tidak sama
atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain.
Contoh: hasil ulangan yang diperoleh Mianti hari Senin adalah 80. Hasil hari
Selasa 90. Tetapi hasil ulangan dari Sabtu hanya 50. Ketidak tetapan hasil
penilaian ini disebabkan karena banyak faktor. Mungkin pada hari Sabtu Mianti
sedang risau hatinya menghadapi malam Minggu sore harinya.
Ciri kelima dalam penilaian pendidikan adalah bahwa dalam penilaian pendidikan
itu sering terjadi kesalahan-kesalahan. Adapun sumber kesalahan dapat ditinjau
dari berbagai faktor yaitu :
a. Terletak pada alat ukurnya.
Alat yang digunakan untuk mengukur haruslah baik. Sebagai misal,
kita akan mengukur panjang meja tetapi menggunakan pita ukuran yang
terbuat dari bahan elastis, dan cara mengukurnya ditarik-tarik. Tentu saja pita
ukuran itu tidak dapat kita golongkan sebagai alat ukur yang baik karena
gambaran tentang panjangnya meja tidak dapat diketahui dengan pasti.
b. Terletak pada orang yang melakukan penilaian. Hal ini dapat berupa:
1. Kesalahan pada waktu melakukan penilaian, karena faktor subyektif
penilai telah berpengaruh pada hasil pengukuran. Tulisan jelek dan tidak
jelas, mau tidak mau sering mempengaruhi subyektifitas penilai, jika pada
waktu mengerjakan koreksi, penilai itu sendiri sedang risau. Itulah
sebabnya pendidik harus sejauh mungkin dari hal itu.
2. Kecenderungan dari penilai untuk memberikan nilai secara “murah” atau
“mahal”. Ada guru yang memberi nilai 2 (dua) untuk peserta didik yang
menjawab salah dengan alasan untuk upah menulis. Tetapi ada yang
memberikan (nol) untuk jawaban yang serupa.
3. Adanya “hallo-effect”, yakni adanya kesan menilai terhadap peserta didik.
Kesan-kesan itu dapat berasal dari guru yang lain maupun dari guru itu
sendiri pada kesempatan memegang mata pelajaran itu.
4. Adanya pengaruh hasil yang telah diperoleh terdahulu. Seorang peserta

15
didik pada ulangan pertama mendapat angka 10 sebanyak 12 kali. Untuk
ulangan yang ketiga belas dan seterusnya, guru sudah terpengaruh ingin
memberi angka lebih banyak dari sebenarnya pada waktu ulangan tersebut,
ia sedang mengalami nasib sial, yakni salah mengerjakan.
5. Kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka- angka hasil
penilaian.
c. Terletak pada anak yang dinilai.
1. Siswa adalah manusia yang berperasaan dan bersuasana hati. Suasana hati
seseorang akan berpengaruh terhadap hasil penilain. Misalnya suasana hati
yang kalut, sedih atau tertekan memberikan hasil kurang memuaskan.
Sedang suasana hati gembira dan cerah, akan memberi hasil yang baik.
2. Keadaan fisik ketika peserta didik sedang dinilai. Kepala pusing, perut
mulas dan pipi sedang bengkak karena sakit gigi, tentu saja akan
mempengaruhi cara peserta didik memecahkan persoalan. Pikiran sangat
sukar untuk konsentrasi.
3. Nasib peserta didik kadang-kadang mempunyai peranan terhadap hasil
penilaian. Tanpa adanya sesuatu sebab fisik maupun psikis, adakalanya
seperti ada “gangguan” terhadap kelancaran mengerjakan soal-soal.
d. Terletak pada situasi dimana penilaian berlangsung.
1. Suasana yang gaduh, baik di dalam maupun di luar ruangan, akan
mengganggu konsentrasi peserta didik. Demikian pula tingkah laku
kawan-kawannya yang sedang mengerjakan soal, apakah mereka bekerja
dengan cukup serius atau nampak seperti main- main, akan mempengaruhi
diri peserta didik dalam mengerjakan soal.
2. Pengawasan terhadap penilaian, tidak menjadi rahasia lagi bahwa
pengawasan yang terlalu ketat tidak akan disenangi oleh peserta didik
yang suka melihat ke kanan dan ke kiri. Namun adakalanya, ke-adaan
sebaliknya, yaitu pengawasan yang longgar justru membuat kesal bagi
peserta didik yang mau disiplin dan percaya diri sendiri.

5. Tujuan dan fungsi dari evaluasi pembelajaran.


Secara umum tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui

16
keefektifan dan efisiensi sistem pembelajaran secara luas. Sistem pembelajaran
dimaksud meliputi: tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, lingkungan
maupun sistem penilaian itu sendiri. Selain itu, evaluasi pembelajaran juga
ditujukan untuk menilai efektifitas strategi pembelajaran, menilai dan
meningkatkan efektifitas program kurikulum, menilai dan meningkatkan
efektifitas pembelajaran, membantu belajar peserta didik, mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan peserta didik, serta untuk menyediakan data yang
membantu dalam membuat keputusan.
Chittenden (1994) secara simpel mengklasifikasikan tujuan penilaian
adalah untuk (1). keeping track, (2). checking- up, (3). finding-out, and (4).
summing-up. Keempat tujuan tersebut oleh Arifin (2013:15) diuraikan sebagai
bertikut:
1. Keeping track, yaitu untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta
didik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Untuk itu, guru harus mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu
tertentu melalui berbagai jenis dan teknik penilaian untuk memperoleh
gambaran tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.
2. Checking-up, yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik
dalam proses pembelajaran dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama
mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, guru perlu melakukan
penilaian untuk mengetahui bagian mana dari materi yang sudah dikuasai
peserta didik dan bagian mana dari materi yang belum dikuasai.
3. Finding-out, yaitu untuk mencari, menemukan dan mendeteksi kekurangan
kesalahan atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga
guru dapat dengan cepat mencari alternatif solusinya.
4. Summing-up, yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik
terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil penyimpulan ini dapat
digunakan guru untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak
yang berkepentingan.
Dengan mengetahui makna penilaian ditinjau dari berbagai segi dalam
sistem pendidikan, maka dari itu terdapat beberapa tujuan atau fungsi penilaian,
yaitu:

17
1. Penilaian berfungsi selektif.
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk
mengadakan seleksi atau penilaian terhadap peserta didiknya. Penilaian itu sendiri
mempunyai beberapa tujuan, antar lain :
a. Untuk memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu.
b. Untuk memilih peserta didik yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
c. Untuk memilih peserta didik yang seharusnya mendapat beapeserta didik.
d. Untuk memilih peserta didik yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan
sebagainya.
2. Penilaian berfungsi diagnotik.
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi
persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan
peserta didik. Disamping itu diketahui pula sebab-sebab kelemahan itu. Jadi
dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosa kepada
peserta didik tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahui sebab-sebab
kelemahan ini, maka akan lebih mudah dicari untuk cara mengatasinya.
3. Penilaian berfungsi sebagai penempatan.
Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara Barat, adalah sistem
belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah
paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai
alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap
kemampuan individual. Setiap peserta didik sejak lahirnya telah membawa bakat
sendiri sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan
pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan
tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali
dilaksanakan. Pendidikan yang bersifat malayani perbedaan kemampuan, adalah
pengajaran secara kelompok.
4. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.
Fungsi dari penilaian dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu
program berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini,
keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: guru, metode/strategi
pembelajaran, media pembelajaran, kurikulum, sarana dan sistem administrasi.

18
D. PENUTUP
1. Simpulan
Adapun simpulan yang dapat diberikan penulis dari penulisan artikel ini
yaitu sebagai berikut.
Pembelajaran matematika berkembang menjadi aktivitas budaya melalui
adanya interaksi sosial. Keberadaan lingkungan menjadi suatu kesetaraan dalam
memenuhi kebutuhan matematis seorang anak. Kondisi individual seorang anak
tidak cukup dalam pemenuhan kebutuhan matematisnya. Orang tua, teman
sebaya, maupun guru di sekolah merupakan fasilitator yang mendukung
perkembangan kemampuan matematis anak.
Pembelajaran dalam zone of proximal development merupakan suatu
strategi kebermaknaan dalam belajar, karena kebutuhan untuk pembelajaran ini
muncul dari kegiatan anak yang ingin terlibat langsung, sehingga memberikan
kontribusi untuk kemampuannya dalam berpatisipasi. Sebagai kegiatan belajar
diskursif, matematika menyediakan lingkungan bagi siswa untuk melakukan
aktivitas matematika, refleksi, berdebat dan berdiskusi mengenai aktivitas
matematika yang dilakukan.
Ada beberapa cara untuk menilai relevansi dari teori pendidikan
matematika. Yang pertama adalah menguji bagian dari teori psikologi umum atau
elaborasi untuk pembelajaran matematika dengan metode empiris. Cara kedua
adalah menguji kekuatannya di ranah pendidikan guru, dengan asumsi bahwa
teori ini didukung oleh bukti empiris.

2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan makalah ini adalah
tenaga pendidik harus mengetahui bahwa suatu proses pembelajaran akan berjalan
dengan lancar dan mencapai tujuan apabila terdapat interaksi dua arah, artinya
harus terdapat komunikasi antara siswa dan pendidik sehingga siswa akan mampu
untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki dan memacu ide-ide yang
tertanam dalam diri siswa. Selain itu, pendidik juga harus mengetahui ZPD dari

19
siswa sehingga perlakuan yang diberikan pendidik selama proses pembelajaran
akan sesuai dan pembelajaran yang diberikan pun akan lebih bermakna.

20
E. DAFTAR PUSTAKA

Apple, D.K, & Krumsieg K. 1998. Process education teaching institute handbook.
Corvalis, OR: Pacific Crest Software.
Ardana, I Made. 2019. Test, Assessment, Evaluation and Measurementin
Education (powerpoint slide). Diakses dari : Perkuliahan Umum Undiksha.
Arifin, Zainal. 2013. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik dan Prosedur.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Arikunto. Suharsimi. 2015. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi . Jakarta:
Bumi Aksara.
Ashcroft, Kate & David Palacio. 1996. Researching into assessment and
evaluating in colleges and universities. London: Kogan Pagge Limited.
Asrul, dkk. 2015. Evaluasi Pembelajaran. Bandung:Citapustaka Media.
Craig L. Scanlan. 2012. Assessment, Evaluation, Testing and Grading. Tersedia:
https://www.scribd.com/document/89761181/Assessment-Evaluation-
Testing-and-Grading (diakses pada 1 Maret 2019).
Djaali & Pudji Muljono. 2008. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta:
PT. Grasindo.
Ebel, R. L. 1979. Essential of educational measurement. New Jerseey: Prentice-
Hall, Inc.
Griffin, Patrix., & Nix, Peter. 1991. Educational assesment and reporting.
Sydney: Harcout Brace javanovich, Publisher.
Johnson, David W. & Johnson, Roger T. 2002. Meaningful assessment: a
manageable and cooperative process. Boston: Allyn and Bacon.
Lazear, David. 1991. Seven Ways of Teaching, The Artistry of Teaching with
Multiple Intelligences. Australia: Hawker Brownlow Edcation.
Mardapi, D. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta:
Mitra Cendikia.
Phillips, Allen D. 1979. Measurement and Evaluation in physical Education.
Canada: John Whiley & Sons, Inc.
Sudijono, A. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Sukiman. 2012. Pengembangan Sistem Evaluasi. Yogyakarta: Insan Madani.