Anda di halaman 1dari 9

SUBKELAS APTERYGOTA

LAPORAN PRAKTIKUM

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Entomologi


Yang Dibimbing oleh Sofia Ery Rahayu, S.Pd

Oleh:
Kelompok 3

Aufa Zatin Nirwana (170342615538)


Hanif Amirusdi Puteno (170342615586)
Riski Berliana (170342615501)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2019
A. TOPIK
Topik pada praktikum ini adalah:
Subkelas Apterygota
B. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi serangga anggota subkelas Apterygota
C. DASAR TEORI

Serangga atau Insekta termasuk dalam filum Arthropoda. Arthropoda terbagi


menjadi 3 sub filum yaitu Trilobita, Mandibulata, dan Chelicerata. Sub filum
Mandibulata terbagi menjadi 6 kelas, salah satu diantaranya adalah kelas Insecta
(Hexapoda). Kelas Hexapoda atau Insecta terbagi menjadi sub kelas Apterygota dan
Pterygota (Aditama, 2013). Sub kelas Apterygota terbagi menjadi 4 ordo, yakni ordo
protura, diplura, colembolla, thysanura dan sub kelas Pterygota masih terbagi menjadi
2 golongan yaitu golongan Exopterygota (golongan Pterygota yang metamorfosisnya
sederhana) yang terdiri dari 15 ordo, dan golongan Endopterygota (golongan Pterygota
yang metamorfosisnya sempurna) terdiri dari 3 ordo. Serangga juga dapat dibedakan
berdasarkan ada tidaknya sayap, serangga yang tidak bersayap digolongkan ke dalam
subkelas Apterygota, sedangkan serangga yang memiliki sayap digolongkan kedalam
subkelas Pterygota (Jumar, 2000).

Berdasarkan ada atau tidak ada nya sayap insekta, terbagi dalam beberapa subkelas
antara lain yaitu Apterygota dan Ptergota. Apterygota yaitu kelompok serangga yang
tidak mempunyai sayap, sedikit atau tidak mengalami proses metamorphosis,
mempunyai appendage pada bagian ventral abdomen, serta pada umumnya mempunyai
ukuran kurang dari 5 mm. Appendage yaitu bagian tubuh yang menonjol, bisa
digerakkan dan berfungsi sebagai alat gerak, untuk makan, alat indra. Apterygota
hidupnya di tempat lembab dimana mengandung humus atau sampah organik, dan ada
juga yang memakan buku atau pakaian. Serangga yang termasuk ke dalam apterygota
yaitu ordo Thysanura (Lepisma saccharina-kutubuku) dan Archaeognatha (Petrobius
martimus) (Hadi, 2009).
Menurut Suheriyanto (2008) Sayap merupakan tonjolan integumen dari
bagian mesotoraks dan metatoraks. Tiap sayap tersusun atas permukaan atas dan bawah
yang terbuat dari bahan khitin tipis. Bagian-bagian tertentu dari sayap yang tampak
sebagai garis tebal disebut pembuluh sayap atau rangka sayap. Pembuluh atau rangka
sayap memanjang disebut rangka sayap membujur dan yang melintang disebut rangka
sayap melintang. Sedangkan, bagian atau daerah yang dikelilingi pembuluh atau rangka
disebut sel. Menurut Sugiyarto (2002), adapun ciri-ciri subkelas Apterygota
diantaranya adalah sebagai berikut:
- Tidak mempunyai sayap
-Tidak mengalami metamorphosis (ametabola)
- Contoh dari spesiesnya yaitu kutu buku(Lepisma sachariana)
- Tipe mulutnya mengigit
- Batas dari kepala, dada, dan juga perutnya tidak jelas.

D. ALAT DAN BAHAN

Alat: Bahan:
1. Kloroform
1. Mikroskop stereo
2. Kantong plastik
2. Loupe 3. Kapas
4. Serangga Colembola,
3. Papan bedah
5. Kutu buku
4. Jarum pentul 6. Kapas

5. Kaca benda

E. PROSEDUR

Ditangkap hewan Collembola dan kutu buku kemudian dimasukkan ke dalam kantong
plastik selanjutnya dimasukkan kapas yang telah diberi kloroform.

Diamati secara umum bentuk morfologi serangga tersebut


Diamati pada kutu buku:

a. Antena: tipe antena, posisi perlekatannya b. Mata: mata majemuk, mata tunggal (jika
ada) c. Mulut: tipe mulut d. Thorax: jumlah segmen e. Kaki: bagian-bagiannya, jumlah
segmen tarsus f. Abdomen: jumlah segmen, styli, cercus, filamen caudal median

Diamati pada Collembola:

a. Antena: tipe antena, posisi perlekatannya b. Mata: mata tunggal c. Mulut: tipe mulut d.
Thorax: jumlah segmen e. Kaki: bagian-bagiannya, cakar f. Abdomen: jumlah segmen,
tenaculum, furcula

F. DATA PENGAMATAN

No. Gambar Keterangan

1.

1. Kepala
4
2. Thorax
3. Abdomen
4. Antena
5 5. Kaki

Tipe Kaki : Ambulatorial


Tipe Antena : Capitate
2 1 Tipe Mulut : Penggigit
3
Thorax : 3 Segmen
Kaki : 3 Pasang
Abdomen : 5 Segmen
(Sumber: Dokumen Pribadi)
(Sumber: Elviana, 2015)

G. ANALISIS DATA

Berdasarkan hasil pengamatan morfologi serangga menggunakan mikroskop stereo


di Laboratorium Ekologi, Jurusan Biologi, Universitas Negeri Malang, didapatkan
struktur morfologi yang jelas dari hewan Collembola terdapat bagian kepala, thorax,
abdomen, antena, dan kaki. Tipe kakinya adalah ambulatorial, tipe antena Capitate,
mulutnya bertipe penggigit, thoraxnya memiliki 3 segmen, memiliki 3 pasang kaki dan
abdomen 5 segmen.

H. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan pada ordo Colembolla.


Colembolla umumnya dikenal sebagai organisme yang hidup di tanah dan memiliki
peran penting sebagai perombak bahan organik tanah. Peranan Collembola di dalam
ekosistem tanah tidak dapat diabaikan mengingat jumlahnya yang sangat besar.
Collembola berperan secara tidak langsung dalam perombakan bahan organik dan
sebagai indikator perubahan keadaan tanah (Suhardjono, dkk., 2012). Keberadaan
Collembola dalam tanah sangat bergantung pada ketersediaan energi dan sumber
makanan untuk melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa yang
semuanya berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah, collembola juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti cuaca, tanah, dan vegetasi yang hidup di
atasnya (Suhardjono, dkk.,. 2012).
Collembola memberi kontribusi dalam menjaga keberlangsungan hidup predator
yang menjadi musuh alami berbagai jenis hama. Peran ini sangat penting terutama
pada saat kepadatan kelimpahan serangga hama rendah, misalnya pada masa setelah
panen atau masa berat (Ponge, dkk., 2003). Di Indonesia Collembola yang baru
diidentifikasi sekitar 250 spesies dari 124 genus dari 17 famili. Pada Collembola
terdapat bagian kepala, thorax, abdomen, antena, dan kaki. Tipe kakinya adalah
ambulatorial, tipe antena Capitate, mulutnya bertipe penggigit, thoraxnya memiliki 3
segmen, memiliki 3 pasang kaki dan abdomen 5 segmen (Kanal, 2004).

. Berdasarkan bentuk morfologi dari hasil pengamatan pada famili Onychiuridae,


pada umumnya famili ini memiliki habitat di lapisan bawah serasah dan tanah. Pada
morfologi spesies famili Onychiuridae yang ditemukan, terdapat kaki dengan tipe
ambulatorial umumnya dimiliki oleh serangga atau insekta yang digunakan untuk
berjalan ataupun berlari di tanah. Selain itu, berdasarkan bentuk morfologi tipe mulut,
memiliki tipe penggigit yang merupakan salah satu contoh juga dalam adaptasi
terhadap tempat hidupnya di tanah dengan memakan contohnya pada daun-daun yang
telah membusuk (Aditama, 2013).

I. KESIMPULAN
Sub kelas Apterygota adalah sub kelas serangga yang tidak memiliki sayap, yang
diantaranya adalah ordo Colembolla yang hidup dibawah tanah. Hewan Collembola
terdapat bagian kepala, thorax, abdomen, antena, dan kaki. Tipe kakinya adalah
ambulatorial, tipe antena Capitate, mulutnya bertipe penggigit, thoraxnya memiliki 3
segmen, memiliki 3 pasang kaki dan abdomen 5 segmen.
DISKUSI

1. Dimanakah habitat serangga-serangga tersebut?


2. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk morfologi. Tunjukkan ciri yang
menunjukkan adaptasi terhadap tempat hidupnya!

JAWAB:

1. Pada subkelas Apterygota, terdapat beberapa ordo yang memiliki habitat yang
bervariasi. Ordo Protura memiliki habitan di bahan-bahan organik (tumbuhan
yang membusuk) dan memakan cendawan mikoriza. Ordo Collembola umumya
berada pada habitat di tanah, daun tanaman yang membusuk (serasah), dibawah
kulit kayu. Habitat ordo Thysanura umumnya berada di tempat lembab, di bawah
tanah, kulit kayu, goa, lubang-lubang mamalia, beberapa yang jinak berada di
gedung-gedung. Ordo Archeognata, habitat umumnya berada di daerah rumput
atau hutan, di bawah daun-daunan, di bawah kulit kayu, batu-batuan, karang, dan
tempat serupa. Sedangkan pada ordo Diptera, habitat umumnya berada di tempat
lembab, kayu yang busuk, batu-batuan, dan tempat lembab lainnya (Aditama,
2013).

2. Berdasarkan bentuk morfologi dari hasil pengamatan pada famili Onychiuridae,


pada umumnya famili ini memiliki habitat di lapisan bawah serasah dan tanah.
Pada morfologi spesies famili Onychiuridae yang ditemukan, terdapat kaki
dengan tipe ambulatorial umumnya dimiliki oleh serangga atau insekta yang
digunakan untuk berjalan ataupun berlari di tanah. Selain itu, berdasarkan bentuk
morfologi tipe mulut, memiliki tipe penggigit yang merupakan salah satu contoh
juga dalam adaptasi terhadap tempat hidupnya di tanah dengan memakan
contohnya pada daun-daun yang telah membusuk (Aditama, 2013).
DAFTAR RUJUKAN:

Aditama CR, dan Kurniawan N. 2013. Struktur komunitas serangga nokturnal areal
pertanian padi organik pada musim penghujan di Kecamatan Lawang, Kabupaten
Malang. Jurnal Biotropika. 1(4) : 186-190.
Elviana, Vivin. 2015. Identifikasi Morfologi Hewan Filum Arthropoda. Jember: IAIN
Jember

Hadi M, Tarwotjo. U., Rahadyan. R. 2009. Biologi Insekta (Entomologi). Yogyakarta:


Graha Ilmu.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta
Kanal A. 2004. Effects of fertilisation and edhapic properties on soil-assosiated
Collembola in crop rotation. Agronomy Research 2:153–168.
Ponge JF, Gillet, Dubs F, Fedoroff E, Haese L, Sousa JP, Lavelle P. 2003. Collembola
communities as bioidicators of landuse intensification. Soil Biology and
Biochemistry 35:813–826. doi: https://doi.org/10.1016/S0038-0717(03)00108-1.
Sugiyarto, Wijayah D, dan Rahayu SY. 2002. Biodiversitas. Hewan permukaan tanah
pada berbagai tegakan hutan di sekitar Goa Jepang. Karanganyar: BKPH
Nglerak, Lawu Utara.
Suhardjono YR, Deharveng L, Bedos A. 2012. Biologi Ekologi Klasifikasi Collembola
(Ekor Pegas). Bogor: Vegamedia.

Suheriyanto, Dwi. 2008. Ekologi Serangga. Malang : Universitas Islam Negeri Malang
LAMPIRAN

Gambar 1. Famili Onychiuridae