Anda di halaman 1dari 22

MATERI KULIAH ANATOMI VETERINER II

AESTESIOLOGI
(MATA, TELINGA, KULIT)
RESEPTOR

OLEH
I NENGAH WANDIA

DEPARTEMEN ILMU VETERINER DASAR


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

1
ESTHESIOLOGY
Ilmu yang mempelajari organ sensorik yang meliputi:
Organ pelihat, organ pendengar, organ perasa, organ
pengecap, dan organ pencium.

ORGAN PELIHAT (MATA)


Organ pelihat (mata) tersusun atas:
-orbita
-organ accesorius mata:
 Fascia orbita
 Otot orbita
 Kelopak mata (palpebrae)
 Konjungtiva
 Aparatus lacrimalis
-Bulbus oculi (bola mata)
-nervus opticus
-jaringan pengisi orbita

ORBITA
Orbita dibentuk oleh beberapa tulang, seperti pada kuda:
 Os frontalis
 Os zygomaticus
 Os lacrimalis
 Maxillaris
 Sphenoid
 Palatine
 temporale
Pada orbita ditemukan beberapa foramina untuk tempat
keluar atau masuknya syaraf dan pembuluh darah. Foramina
berbeda-beda pada berbagai hewan. Foramina tersebut
meliputi:
 fissura orbitalis (pada kuda membentuk foramen
orbitalis)
 foramen alare rostralis dan caudalis
 foramen ovale
 foramen supraorbitalis
 foramen ethmoidalis
 foramen opticus
 foramen maxillaris
 foramen sphenopalatine
 foramen rotundum (roundalis)
 foramen palatine.
Pada sapi foramen orbitalis bergabung dengan foramen
rotundum menjadi foramen orbitorotundum.
Bentuk dan kedalaman orbita menentukan penampakan
mata, luas lapangan pandang, dan kemampuan perlidungan

2
terhadap mata dan jaringan sekitarnya. Selain itu, orbita
berfungsi untuk perlekatan otot di luar bola mata.

ORGAN ACCESSORIUS MATA


Organ accessorius mata meliputi:
 Palpebrae dan konjungtiva
 Fascia orbita
 Otot bulbus oculi
 Aparatus lacrimalis

Palpebrae (kelopak mata) dan Konjungtiva


Kelopak mata dan konjungtiva berfungsi mengontrol
pintu orbita (melalui pengaturan rima palpebrae),
melindungi mata, mencegah kekeringan kornea, melubrikasi
(melicinkan) kornea, dan mengarahkan air mata ke sudut
mata medial (canthi medial).
Palpebrae terdiri dari 3 buah yaitu
 palpebra superior (kelopak mata atas)
 palpebra inferior (kelopak mata bawah)
 palpebra tertia (kelopak mata ketiga)

Palpebrae Superior dan Inferior


Pada permukaan luar kelopak mata ini terdapat
rambut. Jumlah kelenjar sebaceous (kelenjar minyak) dan
kelenjar sudoriferous (kelenjar keringat) sedikit pada
sebagian besar hewan domestika, kecuali babi yang
memiliki kelenjar tersebut dalam jumlah yang berlimpah.
Di sekitar pertengahan kelopak mata terdapat serabut
otot orbicularis oculi. Otot ini adalah otot serat
lintang berbentuk bendel-bendel yang diselingi oleh
jaringan ikat. Otot ini berfungsi menutup kelopak mata.
Pada kelopak mata atas juga ditemukan otot levator
palpebra superioris yang berfungsi mengangkat kelopak
mata atas.
Apertura palpebra tidak membentuk celah yang
sirkuler karena ada ligamentum yang menarik. Ligamentum
ini membentang dari sudut mata ke lateral dan medial
orbita.
Pada kelopak mata bawah ditemukan otot malaris yang
berfungsi menarik kelopak mata bawah ke bawah. Pergerakan
kelopak mata atas dan bawah tidak sama pada hewan. Pada
beberapa mammalia kelopak mata atas lebih bergerak saat
ditutup, sedangkan pada unggas kelopak mata bawah lebih
bergerak saat matanya ditutup.
Hewan tidak dapat menggerakkan alis mata (pili
supraorbitalis) seperti layaknya pada manusia. Kontraksi
otot orbicularis oculi akan menekan alis mata. Satu otot
yang dapat menggerakkan alis mata adalah otot frontalis
yang berkembang baik pada hewan sapi, babi, dan anjing.

3
Adanya otot levator anguli oculi medialis yang
berada di bawah kulit akan menimbulkan pengkerutan kulit
di sudut medial mata.
Pada kelopak mata, di antara otot orbicularis oculi
dan konjungtiva ditemukan jaringan kolagen yang memadat
dan cendrung mengelilingi jaringan kelenjarnya. Jaringan
kolagen yang memadat tersebut disebut tarsus dan kelenjar
yang dikelilinginya adalah kelenjar tarsal yang
menumpahkan sekresinya ke tepi kelopak mata.
Penebalan tarsus pada kelopak mata atas dan bawah
sangat bervariasi pada hewan. Tarsus pada hewan tidak
berkembang sebaik pada manusia, kecuali pada babi.
Pada tepi (margo) kelopak mata ditemukan rambut
khusus yang disebut cilia. Jumlah cilia bervariasi pada
berbagai species. Diameter dan panjang cilia pada kelopak
mata bawan lebih kecil. Cilia juga tidak ada pada
karnivora dan babi. Bendel otot arrectores ciliorum yang
membentang dari tarsus sampai ke folikel cilia ditemukan
pada ruminansia. Rambut taktil yang lebih panjang juga
ditemukan pada permukaan kelopak mata atas dan bawah pada
sejumlah hewan domestika.
Sejumlah kelompok kelenjar ditemukan pada kelopak
mata atas dan bawah. Selain kelenjar tarsal, terdapat
kelenjar sebaceous (glandula Zeis), kelenjar sudoriferous
(glandulae ciliares/glandula Moll), dan glandulae
conjunctivales (glandula Krause) yang terletak pada dasar
cilia. Kelenjar sebaceous dan sudoriferous juga ditemukan
di bawah epitel pada permukaan anterior kelopak mata.
Ruang antara kelopak mata atas dan bawah adalah rima
palpebrarum (fissura palpebra). Ujung atau sudut fissura
palpebra disebut canthi (canthi lateral dan medial).
Sudut mata lateral menjadi lebih bundar saat mata dibuka,
sedangkan sudut mata medial tetap lebih sempit.
Sudut mata medial berbentuk huruf “U” dan terdapat
lekukan ke daerah nasal yang disebut “danau lakrimalis”
(lacrimal lake). Terdapat penonjolan yang berpigmen di
sudut mata medial yang disebut caruncula lacrimalis.
Beberapa cilia kadang-kadang ditemukan pada caruncula,
dan mukosa caruncula mungkin berwarna merah atau coklat
gelap tergantung species dan warna tubuhnya.
Titik pertemuan kelopak mata atas dan bawah disebut
commisurae (kommisura lateral dan medial). Tepi posterior
kelopak mata disebut limbus palpebralis posterioris. Tepi
posterior merupakan tepian tempat duktus kelenjar tarsal
menumpahkan sekresinya. Tepi anterior, disebut limbus
palpebralis anterioris, menopang cilia.

Kelopak Mata Ketiga (Palpebra Tertia)


Kelopak mata ketiga terletak di sudut mata medial.
Kelopak mata ini berbentuk “T” dari kartilago hialin atau
elastis yang dibungkus oleh konjungtiva (plica
4
semilunaris conjunctivae atau membrana nictitans).
Permukaan kartilago yang menghadap kelopak mata bentuknya
cembung, sementara, permukaan yang menghadap bulbus
(cornea) berbentuk cekung.
Kelopak mata ketiga mengandung jaringan kelenjar
superficialis (disebut juga glandula nictitans) dan
kelenjar profundus antara kartilago dan kornea (disebut
juga glandula Harderian). Kelenjar tersebut sangat baik
berkembang pada babi dan ruminansia liar. Sekresi
kelenjar profundus bervariasi pada berbagai hewan seperti
lipoid, mukus, seromukus, atau campuran, sedangkan
sekresi kelenjar superficialis adalah serus (kuda dan
kucing), campuran (sapi, domba, dan anjing), dan mukus
(babi).
Kelopak mata ketiga tidak terlihat pada beberapa
species. Namun demikian, jika bola mata ditekan maka
kelopak mata ketiga akan terdorong ke depan oleh lemak
orbita. Pada burung pergerakan kelopak mata ketiga
disebabkan oleh otot yang berkembang baik. Kucing adalah
Satu-satunya hewan sampai saat ini yang dinyatakan
memiliki serabut otot pada kelopak mata ketiganya.

Konjungtiva
Konjungtiva menutupi kelopak mata ketiga dan
mengandung sel limfoid yang menyebar dan membentuk banyak
nodulus. Tepi bebas kelopak mata ketiga mungkin
terpigmentasi dan vaskularisasinya berkembang baik.
Konjungtiva melekat dari kelopak mata atas atau
bawah dan bulbus oculi dekat limbus bola mata (tempat
sambungan kornea dan sclera). Konjungtiva membentang dari
permukaan dalam kelopak mata (disebut konjunctivae
palpebralis) kemudian berbalik membentuk lipatan (disebut
forniks konjungtiva). Selanjutnya, dari forniks ke bola
mata disebut conjunctivae bulbi.
Konjungtiva berwarna pink atau merah muda karena
adanya vaskularisasi jaringan. Konjungtiva mengandung
jaringan lacrimalis tambahan untuk membantu membasahi
kornea. Selain itu, pada konjungtiva juga terdapat
kelenjar tubuloalveolaris dan jaringan limfoid pada
beberapa hewan. Vaskularisasi terbanyak terdapat pada
konjungtiva palpebralis dan forniks, sedangkan pada
konjungtiva bulbi kapiler darah tidak banyak ditemukan.

Aparatus Lacrimalis
Aparatus lacrimalis meliputi glandula dan tubulus.
Glandula utama pada mata adalah glandula lakrimalis,
glandula superficialis dan profundus kelopak mata ketiga,
dan glandula lakrimalis accessorius.

5
Glandula
Glandula lacrimalis terletak di daerah dorsolateral
orbita. Glandula ditutupi oleh lemak, berbentuk cekung
pada sisi bola mata dan cembung pada sisi orbita.
Glandula ini berlobus dan berwarna pink. Glandula dapat
dibagi atas dua bagian yaitu bagian yang berhubungan
dengan kelopak mata dan bagian lain yang terletak di
ventral processus zygomaticus atau ligamentum orbitalis.
Glandula lacrimalis bervariasi pada berbagai hewan.
Glandula memiliki duktus ekskretorius 10-15 buah dan
bervariasi pada berbagai species. Duktus ekskretorius
bermuara pada konjungtiva bulbi dekat forniks superior.
Pada babi sekresinya berkonsistensi mukus.
Glandula superficialis dan profundus sudah
dijelaskan di atas.
Glandula lacrimalis accessorius merupakan kelenjar
tambahan pada beberapa hewan. Kelenjar ini menyebar di
sekitar forniks konjungtiva.

Tubulus
Sekresi lacrimalis (air mata) setelah sampai lubang
mata harus dialirkan ke cavum nasi. Saluran yang
dilaluinya meliputi puncta lacrimalis, duktus lacrimalis
(canaliculi lacrimalis), sacus lacrimalis, dan duktus
nasolacrimalis.
Puncta lacrimalis merupakan lubang tempat masuknya
air mata ke canaliculi lacrimalis. Puncta lacrimalis
ditemukan pada tepi bebas kelopak mata di canthus medial.
Dari canaliculi lacrimalis, air mata dibawa ke sacus
lacrimalis, dan melalui duktus nasolacrimalis, air mata
dari sacus dibawa ke cavum nasi. Duktus nasolacrimalis
melintas melewati permukaan orbita os lacrimalis dan
maxilla sebelum masuk cavum nasi (nares).

PERIORBITA DAN FASCIA ORBITALIS

Fascia mata membungkus semua isi orbita. Fascia


orbita terdiri dari 3 lapis yaitu fascia superficialis,
fascia profundus, dan vagina bulbi (kapsul Tenon).
Fascia superficialis merupakan fascia terluar (di
bawah periorbita), tipis, berbentuk konus, dan membungkus
isi orbita. Fascia terluar ini adalah fasciae musculares,
berasal dari daerah perifer foramen opticus dan
membentang ke depan (ke kelopak mata). Fascia pertama ini
memberi septa antar otot bola mata.
Fascia profunda atau fascia intermedius adalah
fasciae musculares, berasal dari daerah sedikit di bawah
foramen opticus dan fissura orbitalis. Fascia kedua ini
terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan luar dan lapisan
dalam.

6
Lapisan luar fascia kedua membungkus rapat otot bola
mata dan bergabung dengan fascia superficialis. Lapisan
dalam fascia profunda membungkus dan melekat pada
permukaan dalam otot bola mata. Lapisan ini memberikan
juluran-juluran antar otot dan bergabung dengan lapisan
luarnya. Kedua lapisan ini membentuk lapisan sinovialis
otot. Lapisan dalam melintasi sclera dan berakhir pada
batas cornea.
Fascia terdalam (vagina bulbi) disebut juga kapsul
Tenon atau fascia ketiga. Lapisan ini melekat pada limbus
bulbi dan membungkus rapat otot retractor bulbi oculi
sampai foramen opticus. Fascia okuler ini memberikan
septum nasalis dan temporalis pada fasciculus opticus.
Septa ini bergabung membentuk vagina externa nervus
optici. Antara lapisan dalam dengan bola mata terdapat
celah, spatium episclera, yang mengizinkan bola mata
bebas bergerak.
Terdapat timbunan lemak masif antara periorbita dan
dinding orbita (corpus adiposum orbitale). Lemak ini
mungkin ditemukan melebihi batas tulang orbita dan juga
ditemukan di dekat tuber maxillae. Lemak demikian disebut
corpus adiposum extraorbitalis. Lemak juga dideposit
diantara otot dan antara fascia. Lemak ini disebut corpus
adiposum intraorbitalis.

OTOT BOLA MATA


Bola mata digerakkan oleh 4 otot recti, 2 otot
obliquus, dan 1 otot retractor. Otot-otot tersebut
adalah:
1. M. rectus bulbi oculi lateralis, disyarafi oleh
nervus cranialis VI.
2. M. rectus bulbi oculi medialis, disyarafi oleh n.
cranialis III.
3. M. rectus bulbi oculi dorsalis, disyarafi oleh n.
cranialis III.
4. M. rectus bulbi oculi ventralis, disyarafi oleh n.
carnialis III.
5. M. obliquus bulbi oculi dorsalis, disyarafi oleh n.
cranialis IV.
6. M. obliquus bulbi oculi ventralis, disyarafi oleh
n. cranialis III.
7. M. retractor bulbi oculi, disyarafi oleh n.
cranialis III.

BOLA MATA (BULBI OCULI)


Bagian yang paling rumpil dari mata adalah bola mata
(bulbi oculi). Organ ini menerima sinar, mentransfernya
ke dalam impuls syaraf dan membawanya ke pusat yang
tinggi di otak. Bola mata tersusun atas 3 lapisan:
1. Lapisan fibrosa atau tunica fibrosa bulbi atau
lapisan luar, terdiri dari sclera dan cornea.
7
2. Lapisan vasculer atau tunica vasculosa bulbi atau
lapisan tengah atau uvea, termasuk di dalamnya
adalah iris, corpus ciliaris, dan choroid.
3. Lapisan nervosa atau tunica interna bulbi atau
lapisan dalam, meliputi retina. Bagian lapisan dalam
yang tidak peka yaitu pars iridica retinae dan pars
ciliaris retinae, sedangkan yang peka adalah pars
optica retinae.
Sinar yang masuk akan difokuskan atau dibelokkan oleh
cairan bola mata (humor aqueous) pada camera anterior dan
posterior, lensa, dan humor vitreus. Kornea juga berperan
dalam refraksi sinar.

TUNICA FIBROSA BULBI


Sclera
Sclera tersusun atas terutama oleh serabut kolagen
dan beberapa jaringan elastis. Terdapat beberapa sel
pigmen yang menyebar di antara fibroblast. Sclera
dilekatkan pada kapsul Tenon melalui selapis jaringan
ikat longgar dan bervaskuler yang dikenal sebagai
episclera (lamina episcleralis).
Area cribrosa sclera lebih tipis dari bagian sclera
lainnya. Area ini terletak di posterior bola mata dimana
serabut kolagen membentuk lapisan seperti jala-jala dan
dipenetrasi oleh serabut syaraf opticus. Selain itu,
pembuluh darah keluar dan masuk juga melalui lapisan ini.
Sclera juga merupakan tempat perlekatan otot bulbi
oculi. Mendekati sambungan dengan kornea (limbus), sclera
mengalami penebalan jaringan ikat di sisi dalamnya yang
disebut anulus sclera (berkembang baik pada karnivora).
Di anterior anulus sclera terdapat penebalan juga yang
dibentuk oleh jaringan elastis dan serabut kolagen. Di
antara ke dua penebalan pada sclera tersebut ditemukan
flexus venosus sclerae (untuk mengalirkan humor aqueous).

Kornea
Kornea adalah kelanjutan dari sclera ke depan.
Kornea adalah transparan, tetapi sclera berwarna putih.
Kornea tidak memiliki pembuluh darah, kecuali pada daerah
tepiannya (perifer). Tetapi kornea memiliki flexus
norvosus yang berkembang baik.
Tempat sambungan kornea dengan sclera disebut
limbus. Pada limbus terjadi jalinan tenunan serabut dari
sclera dengan serabut transparan kornea. Pada tempat ini
epitel kornea melintas di atas konjungtiva sebagai akibat
dari konjungtiva bulbi yang melekat dekat limbus.
Kurvatura atau lengkung kornea dan kebulatan bola
mata dipertahankan oleh humor aqueous di camera posterior
dan anterior bulbi dan humor vitreus di camera vitreus
bulbi. Tekanan cairan bola mata dikontrol oleh pengaliran
cairan tersebut dari bola mata melalui ligamentum
8
pectinati. Ligamentum ini terletak dekat sudut antara
kornea dan iris. Ligamentum ini merupaka struktur fibrosa
longgar yang membentuk anyaman trabekula. Ruang dari
anyaman trabekula (ruang Fontana) terisi cairan dan
dialirkan, selanjutnya, melalui saluran ke flexus venosus
sclera (sinus venosus sclera pada primata karena tersusun
oleh satu pembuluh darah).

TUNICA VASCULOSA BULBI (UVEA)


Choroid
Choroid tersusun atas serabut elastis, pembuluh
darah yang diatur secara berlapis-lapis, dan jaringan
ikat yang terpigmentasi. Choroid tersusun atas 4 lapisan
yaitu:
1. Lapisan suprachoroideus. Lapisan ini menghubungkan
choroid dengan sclera, dan merupakan membran gelap
dari serabut elastis dan jaringan ikat yang
terpigmentasi.
2. Lapisan vaskuler. Lapisan yang berada lebih di
bawah. Lapisan ini mengandung pembuluh darah besar
sehingga merupakan lapisan tertebal dari choroid.
3. Tapetum (Tapetum lucidum)(tapetum choroideae).
Lapisan ini terletak antara lapisan vaskuler dan
lapisan kapiler. Tapetum dapat merefleksi sinar.
Tapetum dapat berpenampakan hijau metalik, oranye,
kuning emas, atau coklat.
4. Lapisan kapiler (lamina choroidocapillaris).
Merupakan lapisan terdalam dari choroid yang
terbuat dari kapiler yang ada di dalam matriks
homogen dan terpigmentasi.

Corpus ciliaris
Corpus ciliaris menghubungkan choroid dengan iris.
Permukaan dalamnya membentuk processus ciliaris,
sedangkan pada lapisan terluarnya terdapat otot-otot
ciliaris. Bagian posterior corpus ciliaris adalah
orbiculus ciliaris yang merupakan kelanjutan dari choroid
tetapi tanpa lapisan kapiler.
Processus ciliaris adalah penonjolan dari permukaan
dalam corpus ciliaris . Penonjolan ini merupakan rigi
fibroelastis yang rigi tertingginya terletak di dekat
tepin lensa mata. Penonjolan ini mengandung banyak
pembuluh darah terutama vena yang berlanjut dengan
lapisan vaskuler choroid. Processus ciliaris memproduksi
humor aqueous. Corpus ciliaris dan processus ciliaris
dilapisi oleh retina yang tidak sensitif (pars ciliaris
retinae).
Pada processus ciliaris melekat serabut zonula.
Serabut zonula selanjutnya mengikat bagian perifer lensa
mata. Pergerakan corpus ciliaris akan dilanjutkan oleh
serabut zonula ke lensa mata sehingga lensa berubah
9
bentuknya (akomodasi). Serabut zonula tidak memiliki
kemampuan untuk berkontraksi tetapi keberadaannya dalam
keadaan tegang sepanjang waktu.
Otot ciliaris terletak dipermukaan luar corpus
ciliaris dan di dalam sclera. Tidak adanya otot ini,
sebagian menimbulkan ketidakmampun berakomodasi untuk
melihat dekat dan jauh.
Saat melihat jauh, otot ciliaris relaksasi dan
dinding bola mata akan meregang ke luar sehingga serabut
zonula menegang dan akhirnya lensa mata menjadi lebih
pipih. Tetapi jika melihat dekat, otot ciliaris
berkontraksi sehingga serabut zonula lebih kendur dan
lensa mata lebih cembung. Apabila lensa mata mengeras
atau tidak dapat cembung maka lensa tidak dapat
berakomodasi untuk melihat dekat.

IRIS
Iris merupakan bagian uvea yang paling anterior.
Iris adalah sebuah diafragma yang membentang dari corpus
ciliaris dan berada di depan lensa.
Iris memiliki tepi bebas di tengah-tengah (margo
pupilaris) dan membentuk sebuah lubang (pupilla). Ruang
antara kornea dengan iris adalah camera anterior bulbi,
dan ruang antara iris dengan lensa mata adalah camera
posterior bulbi. Ruang ini diisi oleh humor aqueous dan
berhubungan melalui pupil.
Iris tersusun dari bagian uvea dan bagian retinae.
Bagian uvea merupakan lapisan anterior iris yang
mengandung membran mesenkim dan lapisan stroma. Pada
bagian uvea iris terdapat sel terpigmentasi, pembuluh
darah, dan otot polos (M. sphincter pupillae) di dekat
tepi pupil. Kontraksi otot ini menyebabkan pengecilan
pupil.
Bagian retinae iris merupakan lapisan posterior
iris. Bagian ini mengandung otot polos (M. dilatator
pupilae) dan sel retina tidak peka (pars iridica
retinae).

TUNICA NERVOSA
Retina
Retina merupakan lapisan terdalam bola mata. Retina
membentang dari tempat masuknya nervus opticus sampai ke
tepi pupil. Bagian belakang retina yang mengandung syaraf
adalah pars optica retinae. Bagian ini membentang ke
depan sampai ora ciliaris retinae (ora serrata pada
manusia) yaitu garis perlekatan retina ke choroid yang
berbentuk gerigi. Retina tidak peka yang menutupi corpus
ciliaris adalah pars ciliaris retinae, dan retina tidak
peka yang menutupi iris adalah pars iridica retinae.
Tempat masuknya nervus opticus di posterior bola
mata disebut papila opticus (discus nervi optici). Daerah
10
pusat papila ini agak sedikit melegok. Papila opticus
tidak peka (blind spot).
Daerah lain yang sangat peka adalah macula. Macula
umumnya terletak di lateral papila opticus dan warnanya
kekuningan pada beberapa species sehingga disebut macula
lutea.

CAMERA MATA
Camera mata terdapat 3 buah yaitu
- Camera anterior bulbi, yang diisi oleh humor
aqueous
- Camera posterior bulbi, yang diisi oleh homor
aqueous
- Camera vitrea bulbi, yaitu ruang antara lensa mata
dengan retina dan diisi oleh corpus vitreus (badan
kaca).

MEDIA REFRAKSI MATA


Media untuk merefraksi sinar yang masuk pada mata
meliputi:
- Kornea
- humor aqueous, mengisi camera anterior dan posterior,
dihasilkan oleh processus ciliaris, dialirkan melalui
ligamentum pectinati ke flexus venosus sclera.
- Lensa mata, bentuknya bikonveks, transparan, dan
terletak di depan corpus vitreus.
- Corpus vitreus, mengisi camera vitrea bulbi.

ORGAN MATA

11
TELINGA

Telinga (organum vestibulocochleare/auris) merupakan organ pendengaran


dan keseimbangan. Organ auris terbagi atas 3 bagain yaitu telinga luar, telinga
tengah, dan telinga dalam.

PERKEMBANGAN
Telinga Dalam
Indikasi awal telinga dalam terlihat segera setelah pemunculan mata sebagai
penebalan ektoderm (otic placode), di atas daerah otak bagian belakang. Otic
placode melipat ke dalam (invaginasi) dan membentuk otic pit (saluran yang berkitan
dengan organ telinga). Perkembangan selanjutnya, mulut saluran menutup dan
vesikel auditori (ruang auditori/otosit) terbentuk. Komponen ventral vesikel
membentuk saccule dan duktus cochlearis, dan komponen dorsalnya membentuk
labirinth membranousa (utricle, kanal semicircularis, dan duktus endolimfaticus).
Awalnya, labirinth membranousa berada di dalam mesenkim yang kemudian diubah
menjadi lapisan kartilago dan mengalami penulangan menjadi labirinth osseosa.
Seluruh labirinth osseosa membungkus labirinth membranousa. Antara pembungkus
kartilago dan struktur epithel adalah strata jaringan mesodermis yang berdiferensiasi
menjadi 3 lapisan yaitu:
 Lapisan luar membentuk periosteum yang melapisi labirinth osseosa.
 Lapisan dalam yang berkontakan langsung dengan struktur epithel.
 Lapisan intermedier berada di tengah-tengah tersusun atas jaringan
gelatinosa. Jaringan gelatinosa ini selanjutnya akan diabsorpsi sehingga
terbentuk ruang perilimfatika.

Modiolus dan lamina spiral osseosa cochlea tidak diasalkan dari kartilago, tetapi
hasil penulangan langung dari jaringan ikat.

Telinga Tengah
Telinga tengah berkembang dari kantong faringeus pertama. Entoderm yang
melapisi ujung dorsal kantong faringeus ini berkontakan dengan ektoderm sulkus
faringeus (posisi yang sama). Membran timpanika dibentuk dari perpanjangan
lapisan mesoderm di atara entoderm dan ektoderm tersebut. Proliferasi ujung
dorsal archus faringeus pertama dan kedua membentuk kondensasi (pemadatan)
yang merupakan cikal bakal kartilago tulang telinga.

Telinga Luar
Telinga luar berkembang dari sulkus branchialis pertama. Bagian bawah
sulkus meluas ke dalam seperti terowongan yang kemudian berkembang menjadi
bagian kartilago dan penyumbang kecil sebagai atap pada bagian tulang daripada
meatus (lubang telinga luar). Lamina epithel memanjang ke arah bawah dan dalam
sepanjang dinding dalam cavum timpani primitif. Melalui pemisahan lamina ini
terbentuklah bagian dalam meatus dan lapisan kutaneus membran timpanika.
Auricula/pinna/daun telinga berkembang melalui diferensiasi perlahan daripada
bungkul kecil yang berada di sekitar sulkus branchialis pertama.

TELINGA LUAR
Telinga luar tersusun atas auricula/pinna/daun telinga dan meatus acousticus
externus (lubang telinga luar). Telinga luar ditemukan hanya pada mammalia.
Telinga luar berfungsi mengarahkan suara ke telinga tengah dan melindungi struktur
telinga tengah dan telinga dalam.

12
Auricula menonjol keluar dari kepala. Auricula akan mengumpukkan getaran
suara. Pada hewan domestik, tidak seperti manusia, auricula dapat digerakkan tanpa
membelokkan kepala oleh kerja otot-otot telinga luar.
Meatus acousticus externus adalah saluran menuju ke dalam dari dasar
auricula, dan berfungsi mengantarkan getaran ke membrana timpanika.

TELINGA TENGAH
Telinga tengah/auris media/cavum tympani adalah ruang tidak teratur dalam
tulang temporale yang terisi oleh udara naso-faring melalui tuba auditiva/Eustachius.
Cavum timpanika dilapisi oleh membrana mukosa tipis.
Dinding lateral cavum timpanika berhubungan dengan membran timpanika.
Dinding medial cavum timpanika dibentuk oleh tulang petrosa. Pada dinding medial
ditemukan dua pintu (penestrae) tempat penjalaran gelombang suara ke telinga
dalam. Pintu yang lebih dorsal adalah pintu vestibulum (vestibular window) yang
menghubungkan cavum timpanika dengan ventibulum (bagian dari telinga dalam).
Pintu ini ditempati oleh stapes. Pintu lainnya adalah pintu cochlearis (cochlear
window) yang menghubunngkan cavum timpanika dengan cochlea (bagian telinga
dalam). Pintu cochlearis ditutupi oleh membran timpanika sekunder.
Cavum timpanika dapat dibagi atas 3 bagian yaitu bagian dosal, medius, dan
ventral. Bagian dorsal terletak di dorsal membran timpanika. Bagian ini mengandung
rantai tulang telinga tengah dan dua ototnya. Bagian medius meliputi membran
timpanika (pemisah telinga luar dari telinga tengah) pada dinding lateral dan lubang
dengan arah ke rostral menuju nasofaring melalui tuba auditiva. Bagian ventral
meluas membentuk bulbus pada tulang petrosa disebut bulla tympanica. Ukuran
bulla bervariasi pada berbagai hewan.
Telinga tengah mengandung tulang-tulang telinga kecil (malleus, incus,
stapes). Tulang-tulang ini menyusun rantai tulang yang dapat bergerak yang
berperan sebagai jembatan untuk menghantarkan getaran/vibrasi dari telinga luar
yang diterima oleh membran timpanika kemudian menyebrangi cavum timpani
menuju telinga dalam.
Malleus (menyerupai palu/martil) melekat pada membran timpanika. Malleus
terbagi atas bagian: sebuah kepala (caput), sebah leher (cervic), dan 3
penjuluran/processus (manubrium, processus lateralis, dan processus rostralis).
Incus (seperti landasan) terletak antara dan berhubungan dengan malleus
dan stapes melalui persendian yang halus. Incus terbagi atas corpus dan 2 crura
(panjang dan pendek).
Stapes (menyerupai sangurdi) tersusun atas kepala, leher, 2 crura, dan basis.
Stapes melekat ke pintu vestibularis.
Tulang-tulang telinga dilekatkan ke cavum timpanika melalui ligamenum.
Otot-otot pada cavum timpanika adalah tensor timpanika dan stapedius. Tensor
timpanika menarik membran timpanika ke arah medial dan karenanya meningkatkan
tegangannya. Stapedius menarik kepala stapes ke belakang, memiringkan basisnya,
dan mungkin meningkatkan tegangan cairan di dalam telinga dalam. Kedua otot
mengurangi getaran tulang-tulang telinga tengah sehingga melindungi telinga dalam
dari kerusakan akibat getaran yang keras.
Membrana mukosa cavum timapanika berlanjut ke faring melalui tuba
auditiva/Eustachius. Mukosa dilapisi oleh epithel kuboid dan menjadi pseudostratified
columnar bersilia pada bagian kartilago tuba auditiva. Membrana mukosa
membentuk lapisan medial membrana timpanika, lapisan lateral membrana
timpanika sekunder, dan dilekukkan ke dalam antrum timpanika serta melapisi
seluruhnya. Membrana mukosa membentuk beberapa lipatan yang memanjang dari
dinding cavum timpanilka menuju tulang-tulang telinga tengah. Lipantan ini memberi
penampakan pada interor timpani seperti sarang tawon.
Tuba auditiva sering disebut tuba Eustachius, menghubungkan cavum
timpanika dengan cavum nasofaring. Tuba dikelilingi oleh kartilago kecuali sepanjang
13
permukaan ventralnya. Pada kuda, dinding membran tuba mengalami evaginasi
(melorot keluar) melalui begian ventral tuba yang tidak tertutup oleh kartilago.
Pelebaran ini membentuk kantong tipis dan lebar yang disebut saccus gutturalis,
terletak di dorsolateral nasofaring.

TELINGA DALAM
Telinga dalam/auris interna menerima sebaran akhir saraf acousticus. Telinga
dalam sering disebut labirinth karena bentuknya yang sangat kompleks. Telinga
dalam tersusun atas 2 bagian yaitu labirinth osseosa (sederetan cavitas di dalam
tulang petrosa) dan labirinth membranosa (sederetan saccus dan ductus
membranosa yang saling berkomunikasi di dalam cavitas tulang).
Labirinth osseosa tersusun atas 3 bagian yaitu:
 Vestibulum
 Canalis semicircular
 Cochlea
Ketiga cavitas merupakan ruangan dalam tulang dan dilapisi oleh periosteum.
Cavitas berisi cairan jernih (perilimfe). Di dalam cavitas terdapat labirinth
membranosa yang diselimuti oleh cairan perilimfenya.
Labirinth membranosa menempati labirinth osseosa, dan keduanya
dipisahkan oleh cairan perilimfe. Pada tempat tertentu, dinding labirinth membranosa
melekat pada dinding cavitas tulang. Labirinth membranosa mengandung cairan
endolimfe. Cabang-cabang halus saraf acuosticus tersebar pada dindingnya.
Di dalam vestibulum (labirinth osseosa), labirinth membranosa tidak
menyerupai bentuk cavitas tulang (vestibulum), tetapi tersusun atas 2 saccus
membranosa yaitu utriculus dan sacculus.

Canalis semicircular

vestibulum
m
Telinga dalam pina

Telinga luar

Meatus ocousticus externus


Tuba eustachius

cochlea Telinga tengah

Telinga

14
KULIT UMUM
Kulit mewakili kulit dan rambut yang menutupi tubuh, serta berbagai kelenjar
kulit, dan bagian yang lebih spesial seperti kuku, bantalan kaki, dan tanduk. Kulit
menutupi seluruh tubuh secara komplit dan beberapa membaur dengan membrana
mukosa di beberapa lobang tubuh.
Dalam bentuk yang umum, kulit berfungsi untuk:
 melindungi permukaan tubuh dari perlukaan dan invasi mikroba
 termoregulator,
 mencegah kehilangan air, mineral dan substasi lain,
 mencegah kelebihan kemasukan air pada hewan aquatik.
Lipid tertentu dapat menembus kulit, sehingga sering digunakan sebagai
pembawa bahan obat pada suatu pengobatan.
Warna kulit dan rambut sebagian bergantung pada kandungan granul pigmen
(melanin) pada sel tertentu. Warna kulit dan rambut melindungi terhadap radiasi
ultraviolet, dan karenanya menjelaskan kenapa warna kulit dan rambut
mempengaruhi kemampuan adaptasi hewan untuk hidup di dunia beriklim tropis atau
panas.
Warna kulit yang tidak berpigmen dan terbuka (sedikit/tidak berambut)
dipengaruhi oleh darah yang memperfusi (merembesi) bagain di bawah permukaan
kulit. Peningkatan darah pada lokasi tertentu menimbulkan warna kemerahan pada
kulit; syok atau anemia menimbulkan warna kepucatan; kekurangan oksigen
menimbulkan kebiruan; dan joundice menimbulkan warna kekuningan (icterus).
Beberapa perubahan warna kulit yang sangat spektakuler seperti yang terjadi pada
bangsa reptil (mimikri) tidak terjadi pada mammalia, meskipun perubahan warna
yang menyolok terjadi pada kulit mulut dan daerah perineum Mandrillus jantan dan
beberapa satwa primata lainnya.

STRUKTUR KULIT
Kulit disusun atas 2 bagian yaitu epidermis dan dermis.

Epidermis
Epidermis yaitu lapian epitel, merupakan lapis paling luar. Sel epitel selalu
diperbaharui. Sel permukaan mengalami penghancuran menjadi dandruff atau
pertikel yang lebih kecil seperti debu. Kehilangan ini memberi kesempatan sel yang
berada lebih dalam membelah dan sel anakannya bermigrasi ke permukaan.
Sebagaimana sel epidermis yang hanyut menuju permukaan, sel-sel epidermis
mengalami serangkaian perubahan internal dan secara perlahan membawanya ke
arah kematian, dan saat disuguhkan pada suatu lingkungan sel-sel tersebut
kehilangan kemampuan untuk merespon berbagai pengaruh yang mengenainya.
Serangaian perubahan inetrnal menimbulkan stratifikasi yang jelas pada epidermis,
sebagai berikut:
 stratum basale (lapisan terdalam) tumbuh subur di atas lekukan-lekukan
dermis dan memilki permukaan yang jauh lebih luas dari permukaan tubuh.
 Stratum spinosum. Sel pada stratum basale bergerak ke atas (ke stratum
spinosum), dan sel tersebut mengalami pengkerutan dan terpisah meskipun
masih diikatkan oleh jembatan interseluler (desmosom).
 Stratum granulosum. Saat sel berada pada stratum spinosum, sel-sel mulai
mengalami proses keratinisasi (kornifikasi). Dan memasuki stratum
granulosum, sel-sel telah mengadung granul keratohialin yang tersebar.
 Stratum lusidum. Lapisan ini tipis. Sel-selnya gepeng dan telah mulai
kehilangan nukei dan memberikan gambaran yang berbeda yaitu
penampakan yang homogen karena penyebaran merata daripada granul.
 Stratum korneum. Lapisan ini paling luar. Lapisan ini mengandung paket-
paket protein fibrosa (keratin) pipih dan memadat. Pada lapisan ini,

15
keratohialin telah diubah menjadi keratin (bahan pembuat tanduk). Keratin
memberi sifat keras dan kuat pada epidermis tertentu seperti tanduk, rambut,
dan kuku).
Kulit yang mengalami paparan/tekanan keras seperti bantalan kaki anjing,
lapisan epidermisnya tertebal dan mengalami diferensiasi. Pada lokasi dimana abrasi
kurang keras, seperti pada bagian yang berambut, lapisan epidermis lebih tipis, dan
stratum granulosum dan stratum lusidum tidak terlihat. Ketebalan kulitnya
bergantung pada laju mitosis sel yang ada pada stratum basale. Meskipun produksi
dan kehilangan sel biasanya sama untuk mempertahankan ketebalan epidermis
yang merata, terkadang keseimbangn ini terganggu pada kondisi-kondisi tertentu.
Tidak ada darah dan pembuluh limfe dalam epidermis. Epidermis diberi makan
melalui difusi dari dermis di bawahnya.

Dermis
Dermis sebagian besar tersusun atas bendel-bendel kolagen. Juga
ditemukan serabut elastin yang membuat dermis dapat diplintir (lentur) dan kembali
ke posisi semula setelah dilipat. Serabut elastin juga yang menarik ujung-ujung luka
ke arah berlawanan sehingga menimbulkan gap (luka menganga). Tekanan kronis
merusak struktur dermis, dan memecah bendel-bendel jaringan ikat. Perbaikan
selanjutnya adalah oleh jaringan parut berwarna putih.
Dermis divaskularisasi dan diinervasi secara melimpah. Dermis juga diinvasi
oleh folikel rambut, kelenjar sebaceus (kelenjar palit), kelenjar sudoriferous (kelenjar
keringat), dan kelenjar lain yang tumbuh dari epidermis.
Penyebrangan antarmuka tempat nutrisi dan produk buangan berdifusi antara
epidermis dan dermis diperluas melalui pelekukan kedua komponen. Penonjolan-
penonjolan seperti rigi (papillae) dermis sama bentuknya dengan lekukan resiprokal
epidermis. Pada kondisi normal, adesi kedua struktur susah dilepaskan. Trauma
seperti gesekan terkadang dapat memisahkan secara paksa kedua struktur tersebut
(dermis dan epidermis), menyebabkan cairan interstitiel berkumpul di dalamnya
membentuk blister (vesikel). Apabial blister pecah, permukaan dermis akan terlihat,
dan pada kondisi normal, epidermis akan segera menutupinya kembai (tumbuh dari
tepi koyakan).
Papillae dan rigi dermal lebih luas, secara umum, berkembang pada epitel
yang menutupinya paling tebal dan direfleksikan oleh adanya kontur epidermis.
Gambaran tersebut bersifat permanen dan berbeda secara individu. Karenanya
dapat digunakan untuk identifikasi individu, secara luas digunakan pada diri kita
(fingerprinting), kurang umum pada spesies lain (nose-printing pada anjing dan sapi).
Subkutan tersusun atas jaringan ikat longgar yang disusupi oleh lemak. Tebal
subkutan sangat bervariasi bergantung pada situasi dan terkadang tipis atau bahkan
tidak ada pada lokasi yang pergerakannya tidak diinginkan seperti bibir, kelopak
mata dan puting susu. Subkutan melimpah pada anjing dan kucing shingga kulitnya
dengan mudah dapat dicengkram. Pada Babi dan manusia, subkutan mengandung
lemak lebih banyak.
Pembuluh darah kulit datang dari percabangan arteri yang menuju fascia dan
otot superficialis. Arteri tersebut membentuk jaringan kerja di dalam dermis. Jaringan
pembuluh darah yang paling superficial terletak pada papillae dermis dan
melepaskan kapiler yang mensuplai sel stratum basale. Pleksus kapiler lainnya
berlokasi mengelilingi folikel rambut dan kelenjar yang berhubungan.
Variasi aliran darah menuju kulit berberan penting pada pengaturan suhu
tubuh. Saat suhu tubuh naik, vasodilatasi menimbulkan kehilangam panas.
Kehilangan panas dapat secara langsung oleh radiasi pada permukaan tubuh atau
secara tidak langsung melalui pengatifan kelenjar keringan memproduksi keringat
dan kemudian diuapkan. Sebaliknya, kondisi dingin (suhu tubuh turun)
mengkonstriksi pembuluh darah perifer.

16
Pengaturan aliran darah sebagian dilakukan melalui penutupan atau
pembukaan anastomosa arteriovenosus (hubunga arteri dengan vena). Pembuluh
darah kulit umumnya mengandung darah cukup banyak, tetapi sebagian besar dapat
ditarik ke otot atau organ internal setelah perdarahan atau shock.
Kulit juga kaya akan saraf sensoris. Saraf berjalan mengikui pembuluh darah
melalui fascia, membentuk jaringan/anyaman saraf dalam dermis. Dari anyaman ini,
serabut-serabut saraf menyebar ke berbagai reseptor, bahkan beberapa menembus
menuju epidermis. Saraf lainnya adalah saraf otonom yang mengatur lumen
pembuluh darah kecil, mengatur aktivitas kelenjar kulit, dan merangsang otot arrector
pili yang melekat pada folikel rambut.
Epidermis berkembang dari lapisan embrionik ektoderm. Pada awalnya
merupakan lapisan tunggal yang berada di atas bantalan mesenkim (yang akan
menjadi dermis). Jauh sebelum kelahiran, sel ektoderm berproliferasi, mendorong sel
baru ke atas menuju permukaan dan menghasilkan sel epitel yang berlapis-lapis,
sementara, kondensasi lokal yang tumbuh ke arah mesenkim membentuk tunas
epitel. Darinya dihasilkan rambut dan kelenjar. Saat lahir, kulit mammlia domestik,
secara prinsip, sudah mencapai karakter dewasa, tidak seperti pada beberapa
rodensia dan mammlia kecil lain yang terlahir telanjang/tanpa rambut.

RAMBUT
Rambut merupakan ciri mammalia. Sebagian besar spesies, rambut tumbuh
lebat di seluruh permukaan tubuh, kecuali di sekitar mulut dan lobang lainnya, serta
pada permukaan telapak kaki. Namun pada beberapa spesies termasuk babi rambut
agak jarang. Rambut memiliki berbagai bentuk.

Rambut Pelindung
Sebagian besar berada dekat kulit dan membungkus tubuh, memberi lapisan
penampakan halus yang sekali-kali diganggu hanya oleh adanya pusaran, jambul,
dan bagian yang terbentuk oleh pertemuan atau pemisahan aliran rambut yang
berbeda. Rambut pelindung memberikan lapisan rambut terluar. Susunan rambut ini
menjadi penting untuk dapat menghindarkan kulit terbasah saat kehujanan.
Terkadang hewan yang terlahir memiliki pola yang rusak sehingga hewan tersebut
tidak memiliki kemampuan untuk bertahan pada cuaca yang buruk.
Masing-masing rambut tumbuh dari folikel. Folikel berkembang dari lapisan
ektodermis yang tumbuh ke arah mesodermis pada masa embrional. Selain
menghasilkan rambut, cabang-cabang tunas akan memunculkan kelenjar kulit. Ujung
distal tunas membentuk bulbus yang kemudian ditakik (melekuk ke dalam) oleh
papilla dermis (mesenkim) untuk membentuk folikel rambut primitif. Sel epitel dekat
papilla memperbanyak diri membentuk matrik rambut dan muncul ke permukaan di
atas epidermis. Saat melintas, rambut menerima minyak dari kelenjar sebaceus yang
tumbuh di sisi folikel.
Ujung proksimal folikel bergabung dengan otot arrector pili yang melekat di
sekitar papillae dermis. Kontraki otot ini bersifat di luar kehendak, dan juga
distimulasi oleh kondisi yang dingin. Kontraksi otot ini menimbulkan berdirinya
rambut pelidung. Berdirinya rambut pelindung berfungsi untuk memperbaiki insulasi
tubuh. Kontraksi otot arrector pili dipengaruhi oleh saraf simpatik seperti pada kondisi
takut atau galak, atau cemas/merinding pada manusia.
Dalam perkembangan, terdapat variasi bentuk dan perkembangan rambut
pelindung. Bentuk kaku dan jarang tumbuhnya pada babi; kasar pada daerah kapala,
leher dan ekor kuda; panjang pada ekor sapi; tebal dan panjang di belakang kaki
dekat kuku pada kuda; menyerupai rambut pada ekor dan kaki pada breed anjing
tertentu. Variasi lokal banyak terjadi pada manusia sebagai akibat hormonal dan
seksual dimorfisme.
Rambut memiliki waktu hidup terbatas. Pelepasan rambut bersifat menerus
atau intermiten. Pelepasan menerus terlihat pada manusia yang ditandai pelepasan
17
beberapa rambut tiap hari. Pelepasan intermiten bersifat musiman yang ditandai oleh
kehilangan rambut banyak dan bersamaan. Kehilangan musiman jelas terlihat pada
hewan liar.
Penggantian rambut musiman berawal dari perlambatan pertumbuhan rambut
yang telah ada, yang utamanya dikondisikan oleh suhu lingkungan yang semakin
meningkat. Meskipun demikian, proses ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi
dan panjangnya siang hari. Siklus rambut meliputi fase anagen (folikel rambut masih
berfungsi maksimal); fase katagen awal (folikel mulai beratrofi); fase katagen lanjut
(atrofi folikel rambut melanjut); fase telogen (folikel rambut atrofi, ujung distal rambut
lepas, dan matriks rambut baru mulai dibentuk); fase anagen awal (matrik rambut
sudah terbentuk dan rambut baru mulai tumbuh).

Rambut wool
Rambut wool menyediakan lapisan bawah yang empuk. Rambu ini tipis
bergelombang, dan pada beberapa spesies rambut ini lebih pendek dan lebih banyak
daripada rambut pelindung. Jumlah rambut wool juga berfluktuasi terutama
terbanyak saat winter (musim dingin). Pada domba, rambut woolnya berbeda dengan
rambut wool yang telah dibahas, dan rambut pelindungnya dominan hanya pada
wajah dan kaki. Beberap breed kambing dan kelinci juga mengalami adaptasi yang
sama seperti pada domba, tetapi rambut wool dan rambut pelindung terkadang sulit
dibedakan.
Pada beberapa spesies termasuk anjng dan kucing, beberapa rambut dapat
muncul dari satu folikel. Rambut tengah (central) biasanya terpanjang dan termasuk
rambut pelindung, dan rambut-rambut lainnya (sekunder) lebih pendek dan halus
dan karenanya termasuk rambut wool.

Rambut taktil
Rambut taktil biasanya lebih tebal dan memanjang melebihi rambut pelindung
sekitarnya. Sebagian besar rambut taktil ditemukan pada wajah, terutama pada bibir
atas dan mata. Terkadang rambut taktil juga ditemukan pada bibir bawah, dagu , dan
tempat lain pada kepala (tergantung spesies). Folikel rambut taktil dapat mencapai
subkutan atau bahkan otot-otot superficialis. Masing-masing rambut taktil dikelilingi
oleh sinus venosus yang pada dindingnya ditemukan ujung saraf bebas yang
bertanggung jawab terhadap stumulasi mekanik.
Kulit anjing dan kucing menyediakan torus-torus taktil halus yang biasanya
dihubungkan dengan rambut pelindung khusus (tylotrich). Akar rambut pelindung ini
juga dikelilingi oleh sinus venosus seperti pada rabut taktil. Peninggian (torus) ini
peka terhadap sentuhan.

BANTALAN KAKI/TORI
Tori/bantalan kaki dilapisi oleh lapisan epidermis yang mengalami cornifikasi
padat dan telanjang (tanpa rambut). Lapisan dermisnya tidak jelas, dan substansi
utama pembentuk badannya adalah jaringn subkutan yang tebal (pencampuran
serabut kolagen dan elastis yang disusupi oleh jaringan lemak).
Bantalan kaki sangat baik berkemban pada hewan plantigradi (berjalan
dengan telapak kaki, contoh beruang). Pada hewan ini ditemukan torus metacarpal-
metatarsal, carpal-tarsal, dan digital. Pada anjing dan kucing (hewan digitigradi:
berjalan dengan jari-jari) hanya torus digital dan metacarpal-metatarsal yang
menyentuh tanah. Ditemukan juga torus carpal tetapi tidak terlihat fungsinya,
sedangkan pada kaki belakang tidak ditemukan torus tarsal.
Pada hewan ungulata (kuda, sapi, babi, kambing) hanya torus digital yang
menyentuh tanah.
Jarigan subkutan bantalan digital pada anjing, babi, dan kuda mengandung
kelenjar keringat (suderiferus). Fungsi sekretnya sebagai penanda tertitorial atau
penanda jalur perjalanan.
18
KUKU, CAKAR, DAN TERACAK
Kuku, cakar, dan teracak secara pandangan berbeda tetapi, secara prinsip,
organ tersebut sama. Alasannya adalah modifikasi lokal dari kulit yang dicirikan oleh
adaya lapisan epidermis, dermis dan subkutan. Kuku, cakar, dan teracak melindungi
jaringan yang ada di bawahnya, dan pada spesies tertentu memiliki fungsi tambahan
seperti mencakar atau menggaruk.

Kuku berkembang baik pada primata, tumbuh dari epidermis yang menutupi lipatan
dermis pada laipsan basalnya. Cakar berkembang baik pada kanivora. Ujung cakar
lancip. Teracak berkembang pada kuda, babi, dan ruminansia.

TANDUK/CORNUA
Tanduk pada ruminansia domestik memiliki tulang yang disedakan oleh
tulang frontal (processus cornuale). Dalam perkembangan, tanduk dikelompokkan
atas 2 yaitu tanduk permanen dan tidak permanen (sementara).
Tanduk sementara ditemukan pada keluarga rusa (Cervidae) jantan. Tanduk
ini dilepas dan digantikan setiap tahun. Tanduk ini tumbuh keluar dari cranium yang
pada awalnya dilapisi oleh kulit (velvet). Tanduk baru akan terlihat saat kulit
mengalami kematian. Kulit (velvet) mati dibuang dengan cara menggosokannya
pada pohon atau objek lainnya. Processus tulang akan kehilangan suplai darah saat
velvetnya hilang, selanjutnya mati, dan lepas dari kepala. Tanduk baru akan tumbuh
pada sesi selanjutnya.
Tanduk permanen ditemukan pada ruminansia domestik baik jantan maupun
betina. Tanduk permanen tumbuh menerus mulai dari awal pemunculannya setelah
kelahiran. Bentuk dan ukuran bervariasi pada berbagai hewan. Pada sapi, processus
cornuale diinvasi oleh sinus frontalis.

GLANDULA KULIT
Glandula kulit berrkembang sebagai tunas epidemis yang masuk ke lapisan
mesoderm. Glandula secara umum, berkembang dari folikel rambu primitif dan
hubungannya masih tetap. Sekretnya ditumpahkan ke foliel dewasa dan dari sini ikut
keluar permukaan kulit bersama pemanjangan rambut. Ada dua tipe kelenjar kulit
yaitu glandula sebaceous dan glandula sudoriferus.

GALNDULA SEBACEOUS
Sekresinya mengandug lemak (sebum). Sekresinya berfungi untuk lubrikasi dan
kedap air pada kulit dan rambut. Selain itu, sebum juga befungsi untuk membantu
penyebaran keringat, menghambat pertumbuhan bakteri, dan pada spesies tertentu,
untuk penanda teritorial yang dapat dikenali oleh anggota kelompoknya. Bau yang
muncul pada anjing yang basah juga karena sebum. Zat tertetu (feromone) yang
terkandung dalam sebum dikenal sebagai penarik seksual. Laju produksinya
dikontrol oleh hormon steroid, androgen biasanya merangsang produksi sementara
estrogen menghambatnya.
Sebum pada wool domba dikoleksi dan diproses secara komersial untuk
dijadikan lanolin (sebagai dasar salep, untuk kosmetik, dan sebaga agen pembersih
pada sabun). Sekresi kelenjar khusus (seperti glandula preputium pada rusa dan
glandula anal pada musang) telah dikoleksi sejak dulu kala sebagai bahan parfum.
Berikut adalah glandula sebaceus yang ditemukan pada hewan:
 Glandula circumoral. Ditemukan pada bibir atas kucing yang berfungsi untuk
menandai teritorial (wilayah).
 Glandula cornualis. Kelenjar bau ini ditemukan pada kambing baik jantan
maupun betina. Terletak di caudomedial basis tanduk (cornua). Lebih aktif
pada masa musim kawin.

19
 Glandula kantong infraorbitalis. Glandula ini ditemukan dalam kantong kulit di
depan mata dan lubangnya mengarah ventrolateral di permukaan wajah
domba. Sekresinya berfungsi untuk menandai teritorial (wilayah).
 Glandula carpalis. Ditemukan pada babi dan kucing. Pada babi (jantan dan
betina) ditemukan pada permukaan mediopalmar carpus. Berfungsi untuk
menandai teritorial. Pada kucing ditemukan di proksimal torus carpal.
Lokasinya dtandai oleh adanya kumpulan beberapa rambut taktil.
 Glandula katong interdigitalis. Sacus/kantong interdigitalis ditemukan pada
kaki depan dan belakang domba jantan dan betina. Dinding kantong
mengandung kelenjar sebaceus dan kelenjar serosa (keringat). Glandula ini
terletak di atas teracak dan berfungsi untuk penanda lintasan. Beberapa
hewan liar yang hidup berkelompok juga memiliki glandula yang sama.
 Glandula kantong inguinalis. Kantung inguinal terletak pada basis ambing
atau skrotum domba. Dinding kantong mengandung glandula sebaceus dan
glandula sudoriferus (keringat). Sekresinya berwarna coklat dan berlemak
dan baunya berfungsi menuntun anak domba untuk mendapatkan ambing.
 Glandula preputium. Dinding reputium mengandung glandula sebaceus dan
suderiferus apokrin. Sekret tersebut bergabung dengan deskuamasi epitel
membentuk smegma. Pada babi, memberikan bau yang khas.
 Glandula pada ekor. Ditemukan glandula sebaceus dan serosa pada
permukaan dorsal ekor karnivora tertentu. Kulit di atas kelenjar tersebut
sering ditandai oleh rambut yang jarang dan berwarna kekuningan. Glandula
akan ebih aktif pada musim kawin. Pada kucing, lokasi glandula tersebut
lebih di depan mendekati basis ekor, dibandingkan dengan yang ditemukan
pada anjing.
 Glandula circumanal. Kelenjar sebaceus ini terletak pada kulit perianal
karnivora tertentu termasuk anjing. Sekresinya mendorong perhatian ke arah
anal saat anjing bercengkrama. Beberapa glandula tersebut juga diduga
memilik fungsi endokrin.
 Glandula sacus anal. Kelenjar sebaceus dan serosa ditemukan pada dinding
kantong anal yang terletak di sisi anus karnivora. Sekresinya yang berbau
tidak enak dikeluarkan saat defekasi dan berfungsi untuk penanda atau untuk
pertahanan.

GLANDULA SUDERIFERUS/KELENJAR KERINGAT

Kelenjar keringat tersebar di seluruh permukaan tubuh, tetapi sangat jarang pada
anjing dan babi. Kelenja keringat ada 2 tipe yaitu kelenjar keringan apokrin dan
kelenjar ekrin.
Kelenjar apokrin menghasilkan keringat albuminosa dan menumpahkan ke
dalam folikel rambut di sebagian besar permukaan tubuh. Sedangkan ekrin
menghasilkan keringan yang lebih encer dan ditemukan pada dearah-daerah yang
terbuka (tanpa rambut) seperti planum nasolabialis sapi dan bantalan kaki anjing.
Kelenjar apokrin sangat beranekaragam. Sekresi dan penguapan selanjutnya adalah
sangat penting dalam metabolisme garam dan pengaturan suhu tubuh. Sekretnya
dirusak oleh kuman sehingga menghasilkan bau badan yang khas. Kelenjar ekrin
berperan kurang penting dalam pengaturan suhu badan.
Kuda memiliki kelenjar keringat melimpah dan juga memproduksi keringat
albuminosa saat bekerja dengan menggerakkan kulit dan rambut. Pada beberapa
trah/breed sapi, kelenjar keringat ditemukan pada daerah leher dan flank. Sangat
mengejutkan, kerbau Asia memiliki kelenjar keringat lebih sedikit daripada sapi dan
karenanya lebih senang merendam diri ke dalam air sebagai kompensasi.
Di antara spesies domestik, anjing dan kucing memiliki kelenjar keringat
paling sedikit, meskipun kulit dengan rambut pendek terkadang terasa lembab.

20
GLANDULA MAMMAE/KELENJAR AMBING

Kelenjar mammae adalah kelenjar keringat yang meluas dan mengalami modifikasi
yang sekresinya untuk makanan bayi. Kelenjar ambing berkembang sebagai tunas
epitel yang tumbuh ke jaringan mesenkim dari penebalan ektoderm (rigi
mammarius). Rigi tersebut dapat meluas dari aksila sampai abdomen (groin) seperti
pada anjing dan babi; atau lebih terbatas hanya pada thoraks seperti pada manusia
atau hanya pada abdomen seperti ruminansa dan kuda.
Proliferasi mesenkim di sekitar tunas menghasilkan puting susu (papilla).
Satu atau dua tunas epidermis tumbuh dari tunas mammae ke dalam jaringan ikat
puting susu dan mulai mengalami kanalisasi saat kelahiran. Setiap tunas epitel akan
menghasilkan sistem duktus yang terpisah, masing-masing berhubungan dengan
jaringan kelenjarnya. Jika hanya ada satu tunas, kelenjar ini akan memiliki satu
saluran pengeluaran pada putingnya.
Pertumbuhan duktus dan jaringan kelenjar melanjut setelah pubertas dan
saat kebuntingan awal, membentuk pembengkakan yang mendorong puting susu
menojol keluar. Proses ini dikontrol dan saling pengaruhi oleh beberapa hormon dari
hipofise, ovarium, dan kelenjar endokrin lainnya.
Tunas mammae juga dibentuk pada embrio jantan dan menghasilkan puting
susu tetapi mengecil. Puting susu terlihat pada anjing dan babi (ventral badan), dan
rumiansia (depan skrotum). Kurang umum terlihat pada kuda, tetapi teradang terlihat
di sisi preputium. Pada spesies tertentu seperti tikus besar, glandula jantan regresi
secara komplit.

Rambut dan kelenjar kulit

Kulit

Teracak
Tanduk

21
RESEPTOR
Secara sederhana, reseptor dapat dikelompokkan atas 3 yaitu eksteroseptor,
proprioseptor, dan interoseptor (enteroseptor).

Eksteroseptor
Menerima rangsangan dari dunia luar. Reseptor ini tersebar pada mata
(retina), telinga (alat korti/pendengaran), hidung (olfaktori), dan kulit. Reseptor pada
kulit dapat berupa ujung saraf bebas dan corpuscular.
 Ujung saraf bebas ditemukan pada epidermis, merupakan reseptor rasa nyeri
(nociseptor)
 Bentuk corpuscular terdapat 3 jenis :
 Bulbus, ditemukan pada dermis untuk rasa panas (corpus Ruffini) atau
dingin (corpus Krause)
 Lamella, lebar (2-3 mm), ditemukan di subkutan, merupakan reseptor
tekanan.
 Meniskus, ditemukan di dermis dan epidermis untuk reseptor sentuhan
(corpus Merkel dan Meissner).

Rasa/sentuhan pada kulit juga ada yang diperantarai oleh alat khusus yaitu
rambut taktil. Semua hewan domestik memilikinya. Dinding sinus yang mengelilingi
akar rambut ini mengandung banyak ujung saraf.

Proprioseptor
Reseptor ini ditemukan pada otot rangka, tendo, kapsul sendi, dan
ligamentum. Proprioseptor bertanggung jawab atas rangsangan peregangan atau
tekanan untuk koordinasi gerakan otot, dan keseimbangan posisi hewan (diam atau
bergerak). Reseptor nyeri (nociseptor) terutama pada persendian bergabung dengan
proprioseptor dan menggunakan saraf yang sama untuk penghantarannya ke
medulla spinalis dan otak.

Enteroseptor
Reseptor ini ditemukan pada organ dalam berongga yang bertanggung jawab
atas dilatasi (pelebaran), konstraksi/konstriksi/spasmus/penyempitan, dan iritasi
bahan kimia. Sensasi ini diterjemahkan sebagai rasa sakit/nyeri, dan jika organ di
dalam cavum abdomen terkena sering diikuti konstraksi otot perut dan penghentian
sementara pernafasan perut.
Rasa nyeri yang dimaksud. Impuls nyeri pada viscera menggunakan
lintasan yang sama dengan impuls sensori dari daerah kulit yang tidak mesti berada
di atas organ tersebut, tetapi berkembang pada fase embrional yang sama. Karena
lintasan itu lebih sering digunakan oleh impuls dari kulit, tidaklah mengherankan
bahwa otak sesekali salah mengiterpretasikan asal rasa nyeri dari viscera/organ
dalam. Contoh yang baik yaitu rasa nyeri pada lengan atau siku atau pergelangan
tangan kiri pada orang yang mengalami angina pectoris (hipoksia jaringan jantung).

Referensi
1. Robert Getty. 1975. Sisson and Grossman’s The Anatomy of the Domestic
Animals. Vol. 1. Ed. Ke 5. W.B. Saunders Company. Philadelphia.
2. Peter Popesko. 1975. Atlas of Topographical Anatomy of The Domestic
Animals. 1975. Vol 1. Ed ke 2. W.B. Saunders Company. Philadelphia.
3. Dyce K.M., Sack W.O., and Wensing C.J.G. (1996). Textbook of Veterinary
Anatomy. 2nd ed. W.B. Saunders Company. Phiadelphia.

22