Anda di halaman 1dari 8

How Informatiton Gives You Competitive Advantage

Michael E. Porter dan Victor E Millar, 2001

1.1. Persaingan dan Keunggulan Kompetitif


Inti dari keberhasilan atau kegagalan suatu unit bisnis adalah persaingan.
Sehingga, setiap unis bisnis harus mengembangkan keunggulan kompetitifnya
untuk dapat melaksanakan misinya. Sedangkan keunggulan kompetitif adalah
jantung dari kinerja perusahaan dalam pasar yang kompetitif (Porter and Millar
2001). Keunggulan kompetitif adalah tentang bagaimana sebuah perusahaan
benar-benar menempatkan strategi-strategi generik ke dalam praktik. Persaingan
dibedakan menjadi empat macam, daintaranya adalah:
1. Persaingan Industri
Persaingan jenis ini terjadi ketika sebuah perusahaan membuat produk
atau kelas produk yang sama, contohnya persaingan antar pabrikan
minuman dalam kemasan. Industri yang membuat produk dalam minuman
kemasan akan bersaing antara satu dan lainnya.
2. Persaingan Merk atau Brand
Persaingan merek ini terjadi apabila sebuah perusahaan bersaing
dengan perusahaan lain dengan produk yang serupa dan juga memiliki harga
yang relatif sama. Contohnya handphone merk apple dengan samsung.
3. Persaingan Bentuk
Persaingan bentuk ini terjadi karena sebuah perusahaan memproduksi
suatu produk yang memiliki fungsi yang sama namun jenis produknya
berbeda, sehingga terjadi persaingan antar kedua produk. Contohnya seperti
produk teh kotak dengan produk susu ultra.
4. Persaingan Generik
Persaingan generik atau lebih dikenal dengan persaingan target pasar.
Persaingan ini terjadi akibat dari target pasar yang sama atau
menyasar konsumen yang sama. Dikarenakan sebagai jantung perusahaan
maka wajib dimiliki dan dilakukan oleh semua perusahaan. Pada perusahaan
besar istilah ini dikenal sebagai keunggulan kompetitif, sedangkan pada
UKM kecil dikenal dengan melakukan inovasi agar unggul di pasaran.

1.2. Analisis Industri

Menurut Porter, struktur industri harus dianalisis terkait dengan kekuatan


kolektif dari Porter five forces. Porter Five Forces adalah alat ukur yang
dikenalkan untuk melihat daya tarik persaingan dalam suatu industri. Ada lima hal
yang harus dianalisa untuk melihat daya tarik persaingan, yaitu:

1. Tingkat Persaingan dengan Kompetitor (The Intensity of Rivalry Among


Exsinting Competitors)
Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan secara langsung adalah
pertumbuhan industri, diferensiabilitas produk, jumlah dan keanekaragaman
pesaing, tingkat biaya tetap, hambatan untuk keluar dari industry,
dan intermittent overcapacity.
2. Daya Tawar Pelanggan (The Bargaining Power of Customers)
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tawar pelanggan adalah
jumlah pembeli, biaya peralihan pembeli, kemampuan pembeli
untuk integrate backward, dampak produk dari unit bisnis pada total cost
pembeli, dampak produk unit bisnis pada kualitas atau kinerja produk
pembeli, dan signifikansi volume unit bisnis bagi pembeli.
3. Daya Tawar Pemasok (The Bargaining Power of Suppliers)
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tawar pemasok adalah jumlah
pemasok, kemampuan pemasok untuk integrate forward, kehadiran input
substitusi dan pentingnya volume unit bisnis bagi pemasok.
4. Ancaman Produk Pengganti (Threat from Substitute)
Faktor utama yang mempengaruhi barang pengganti adalah
kecenderungan pembeli untuk menggunakan barang pengganti. Ancaman
terjadi apabila konsumen mendapatkan produk pengganti yang lebih murah
atau produk pengganti yang memiliki kualitas lebih baik dengan harga lebih
rendah. Semakin sedikit produk pengganti yang tersedia maka akan
menguntungkan untuk perusahaan.
5. Ancaman Pendatang Baru (The Threat of New Entry)
Kekuatan ini menentukan seberapa sulit untuk masuk ke industri
tertentu. Jika industri tersebut bisa mendapatkan profit yang tinggi dengan
sedikit hambatan maka pesaing akan segera bermunculan. Semakin banyak
perusahaan kompetitor maka profit perusahaan akan menurun ataupun
sebaliknya. Beberapa hambatan bagi para pendatang baru diantaranya
seperti memerlukan dana atau modal yang tinggi, teknologi yang tinggi,
Hak Paten, Merek dagang, skala ekonomi, loyalitas pelanggan, dan
peraturan pemerintah.

1.3. Strategi Bersaing

Dalam strategi bersaing, Michael Porter membagi menjadi 3 strategi umum


yaitu:
1) Cost Leadership
Cost Leadership Strategy adalah separangkat tindakan yang diambil
untuk menghasilkan barang dan jasa dengan fitur yang dapat diterima oleh
pelanggan pada biaya terendah dibandingkan dengan para pesaing. Menjadi
produsen dengan biaya rendah dalam menghasilkan barang dan jasa atau
membantu menurunkan biaya bagi pemasok dan pelanggan, sehingga
pesaing memiliki biaya produksi lebih tinggi.
2) Diferensiasi
Strategi differensiasi mengisyaratkan perusahaan mempunyai jasa atau
produk yang mempunyai kualitas ataupun fungsi yang bisa membedakan
dirinya dengan pesaing.
3) Fokus
Fokus adalah strategi yang menggarap satu target market khusus.
Strategi fokus biasanya dilakukan untuk produk ataupun jasa yang memang
mempunyai karakteristik khusus.

1.4. Analisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis)


Analisis rantai nilai adalah rangkaian kegiatan untuk operasi perusahaan
dalam industri yang spesifik (Anthony and Govindarajan, 2007). Analisis rantai
nilai digunakan untuk menentukan operasi perusahaan mulai dari desain sampai
distribusi – nilai pelanggan dapat ditambah atau dikurangi. Dengan menganalisis
biaya, pendapatan dan aktiva secara sistematis, unit bisnis dapat mencapai
keunggulan diferensiasi dengan pengurangan biaya (cost-cum-differentiation).
Kerangka rantai nilai adalah metode untuk membagi rantai dari bahan baku
dasar sampai pelanggan pemakai akhir ke dalam kegiatan spesifik untuk dapat
memahami perilaku biaya dan sumber diferensiasi. Terdapat sedikit perusahaan
yang melaksanakan seluruh rantai nilai dari sebuah produk dengan sumber daya
sendiri.
Rantai nilai membantu perusahaan untuk memahami sistem penyaluran
nilai, tidak hanya bagian dari rantai nilai di tempat perusahaan beroperasi.
Pemasok tidak hanya menghasilkan dan memberikan input yang digunakan dalam
kegiatan nilai perusahaan, tetapi secara signifikan juga mempengaruhi posisi
biaya atau diferensiasi perusahaan. Demikian juga, tindakan pelanggan dapat
memiliki dampak yang signifikan pada keunggulan biaya atau diferensiasi
perusahaan. Pendekan value chain terbagi atas dua aktivitas bisnis, yaitu:

1. Primary activities adalah aktivitas untuk memenuhi perannya dalam rantai


nilai industri dalam memuaskan pelanggan. Kegiatan-kegiatan tersebut
adalah:
 Inbound logistics: aktivitas yang berhubungan dengan perolehan,
penanganan material yang tepat sebelum digunakan.
 Operations: aktivitas yang berhubungan dengan pengolahan input
menjadi produk atau jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan.
 Outbound logistics: aktivitas yang dilakukan untuk menyampaikan
produk ke konsumen.
 Marketing and sales: aktivitas yang berhubungan dengan cara
pengarahan konsumen agar tertarik untuk membeli produk.
 Service: aktivitas yang mempertahankan atau meningkatkan nilai dari
produk.
2. Supported activities adalah aktivitas yang diperlukan untuk mengontrol dan
mengembangkan bisnis dari waktu ke waktu dan secara tidak langsung
menambah nilai-nilai yang diwujudkan melalui primary activities.
Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya:
 Procurement berkaitan dengan proses perolehan input atau sumber
daya, pendanaan, subcontracting dan spesification.
 Human Resources Management berkaitan dengan pengaturan SDM
mulai dari perekrutan, kompensasi, sampai pemberhentian.
 Technological Development yaitu pengembangan peralatan, software,
hardware, prosedur, didalam transformasi produk dari input menjadi
output.
 Infrastructure terdiri dari departemen-departemen (akuntansi,
keuangan, perencanaan, GM, dsb) yang melayani kebutuhan
organisasi dan mengikat bagian-bagiannya menjadi sebuah kesatuan.

1.5. Kesimpulan
Keunggulan kompetitif adalah cara sebuah perusahaan benar-benar
menempatkan strategi-strategi generik ke dalam praktik. Untuk mengembangkan
keunggulan kompetitif Michael Porter mendeskripsikan dua pendekatan analitis,
yaitu analisis industri (industry analysis) dan analisis rantai nilai (value chain
analysis). Kedua pendekatan tersebut berguna untuk melakukan persaingan antar
bisnis usaha. Pendekatan untuk melakukan analisis industri yaitu dengan
menggunakan Porter Five Forces. Porter Five Forces adalah alat ukur yang
dikenalkan untuk melihat daya tarik persaingan dalam suatu industri.
DAFTAR PUSTAKA

Porter, Michael E, and Victor E Millar. 2001. How Information Gives You Competitive
Advantage. Harvard Business Review.
Anthony, Robert N., and Vijay Govindarajan. 2007. Management Control System. 12th
ed. McGraw Hill.