Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TUGAS ANALISIS JURNAL

BLOK KDP 1

MOBILISASI DINI DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA

PADA PASIEN LAPAROTOMI

KELOMPOK 1

1. NADYA ROHMATUL LAILIA


2. ANIS KHOIRIYAH
3. HERI FIRMANSYAH
4. MOHAMAD ROMLI
5. IFFAH HUMAIDAH

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEPERAWATAN

PURWOKERTO

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembedahan atau operasi adalah segala tindakan pengobatan yang
menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang
akan ditangani, umumnya dilakukan dengan membuat sayatan yang diakhiri dengan
penutupan dan penjahitan luka. Pembedahan biasanya diberikan anestesi untuk
pengelolaan nyeri, tanda vital, juga dalam pengelolaan perioperatif untuk mendukung
keberhasilan pembedahan (Sjamsuhidajat dan Wim De Jong, 2010). Pembedahan
dilakukan karena beberapa alasan, seperti diagnostik (biopsi, laparatomi eksplorasi),
kuratif (eksisi massa tumor, pengangkatan apendiks yang mengalami inflamasi),
reparatif (memperbaiki luka multipel), rekonstruksi dan paliatif (Smeltzer SC, 2001).
Laparotomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor dengan cara
melakukan penyayatan pada lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan organ
dalam abdomen yang mengalami masalah, misalnya kanker, pendarahan, obstruksi,
dan perforasi (Sjamsuhidajat, et al, 2010). Laparotomi merupakan salah satu tindakan
bedah abdomen yang berisiko 4,46 kali terjadinya komplikasi infeksi pasca operasi
dibanding tindakan bedah lainnya (Haryanti, et al, 2013). Tindakan bedah laparotomi
diperkirakan mencapai 32% dari seluruh tindakan bedah yang ada di Indonesia
berdasarkan data tabulasi nasional Depkes RI tahun 2009 (Fahmi, 2012). Tindakan
laparatomi dapat dilakukan dengan beberapa arah sayatan: Pertama median untuk
operasi perut luas, kedua paramedian (kanan) umpamanya untuk massa appendiks,
ketiga pararektal, keempat McBurney untuk appendektomi, kelima Pfannenstiel
untuk operasi kandung kemih atau uterus, keenam transversal, ketujuh subkostal
kanan umpamanya untuk kolesistektomi (Burger JWA 2002).
Data World Health Organization (WHO) yang dikutip oleh Haynes et al
(2009) menunjukkan bahwa selama lebih dari satu abad, perawatan bedah telah
menjadi komponen penting dari perawatan kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan
setiap tahunnya terdapat 234 juta tindakan pembedahan yang dilakukan di seluruh
dunia (Haynes AB 2009). Kiik (2013) menyebutkan adanya pengaruh mobilisasi dini
terhadap waktu pemulihan peristaltik usus pada pasien pasca operasi obdomen. 5
Berdasarkan Data Tabulasi Nasional Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Tahun 2009, tindakan pembedahan menempati urutan ke-11 dari 50 pertama pola
penyakit di rumah sakit se- Indonesia dengan 12,8%, diperkirakan 32% diantaranya
merupakan tindakan laparatomi (Departemen Kesehatan RI, 2012). Tindakan
pembedahan yang dilakukan mengakibatkan timbulnya luka pada bagian tubuh pasien
sehingga menimbulkan rasa nyeri. Nyeri dapat memperpanjang masa penyembuhan
karena akan mengganggu kembalinya aktivitas pasien dan menjadi salah satu alasan
pasien untuk tidak ingin bergerak atau melakukan mobilisasi dini (Noer NA, 2014).
Pasien pasca operasi diharapkan dapat melakukan mobilisasi sesegera mungkin untuk
mengurangi rasa nyeri yang dirasakan dan menurunkan insiden komplikasi pasca
operasi. Mobilisasi dini dimaksudkan sebagai upaya untuk mempercepat
penyembuhan dari suatu cedera atau penyakit tertentu yang telah merubah cara hidup
yang normal (Smeltzer 2001).
Menurut Kasdu seperti yang dikutip oleh Rustianawati et al (2013),
mobilisasi dini pasca laparatomi dapat dilakukan secara bertahap setelah operasi.
Beberapa tujuan dari mobilisasi antara lain: mempertahankan fungsi tubuh,
memperlancar peredaran darah, membantu pernafasan menjadi lebih baik,
mempertahankan tonus otot, memperlancar eliminasi alvi dan urin, mengembalikan
aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal atau dapat memenuhi
kebutuhan gerak harian. 10 Keberhasilan mobilisasi dini dalam mempercepat
pemulihan pasca pembedahan telah dibuktikan dalam suatu penelitian terhadap
pemulihan peristaltik usus pada pasien pasca pembedahan.11 Mobilisasi diperlukan
bagi pasien pasca pembedahan untuk membantu mempercepat pemulihan usus dan
mempercepat penyembuhan pasien.

B. Tujuan
Mengetahui analisis kesenjangan mobilisasi dini dengan proses penyembuhan
luka pada pasien laparotomi di Ruang Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
BAB II
REVIEW JURNAL

A. Identitas Jurnal
1. Judul Jurnal : Hubungan Mobilisasi Dini dengan Proses
Penyembuhan Luka pada Pasien Pasca Laparatomi
di Bangsal Bedah Pria dan Wanita RSUP Dr. M.
Djamil Padang
2. Nama Jurnal : Jurnal Kesehatan Andalas
3. Volume : Volume 3 Nomer 1
4. Penulis : Wira Ditya, Asril Zahari, Afriwardi

B. Metodologi Penelitian
1. Populasi
Semua pasien yang dilakukan tindakan laparatomi di RSUP Dr. M. Djamil
Padang.
2. Sampel
Subjek yang dipilih adalah pasien pasca laparatomi di bangsal bedah pria
dan wanita RSUP Dr. M. Djamil Padang yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi yaitu sebanyak 31 responden.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Subjek diambil dengan menggunakan metode consecutive sampling, dimana
semua populasi yang memenuhi kriteria dijadikan subjek penelitian sampai
jumlahnya mencukupi, yaitu sebanyak 31 responden.
4. Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Kriteria inklusi adalah pasien laparatomi yang di rawat di bangsal bedah
pria dan wanita RSUP Dr. M. Djamil Padang; pasien dengan anestesi
umum; pasien dengan hemodinamik yang stabil; bersedia menjadi
responden. Kriteria eksklusi adalah pasien laparatomi dengan komplikasi;
pasien dengan status gizi yang buruk; pasien dengan penyakit diabetes
mellitus; pasien yang pernah atau sedang mendapatkan terapi sitostatika.
5. Instrumen Penelitian
Data dikumpulkan dengan kuesioner mobilisasi dini dengan 5 pertanyaan
dan lembar observasi proses penyembuhan luka dengan 5 kategori. Analisis
data secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan
derajat kepercayaan 95%.

6. Hasil Penelitian
Hasil menunjukan responden kelompok responden terbanyak pasca
laparatomi adalah kelompok responden berjenis kelamin laki-laki yaitu
sebanyak 18 orang (58,1%), berdasarkan usia kelompok responden
terbanyak adalah usia 20 – 40 tahun, yaitu berjumlah 14 orang (45,1%) dan
berdasarkan tingkat pendidikan, frekuensi responden terbanyak adalah
kelompok berpendidikan SMP, yaitu sebanyak 10 orang (32,3%).
Responden yang melaksanakan mobilisasi dini lebih banyak dibandingkan
dengan responden yang tidak melaksanakan mobilisasi dini, yaitu sebanyak
18 orang (58,1%) serta proses yang baik pada penyembuhan luka responden
lebih banyak dibandingkan dengan proses yang tidak baik pada
penyembuhan luka responden, yaitu sebanyak 17 orang (54,8%).
Pada hasil pengolahan data didapat bahwa p = 0,003 artinya terdapat
hubungan yang bermakna antara mobilisasi dini dengan proses
penyembuhan luka pasca laparatomi. Pasien post operasi yang
melaksanakan mobilisasi dini menunjukan proses penyembuhan lukanya
akan lebih baik dibandingkan orang yang tidak melaksanakan mobilisasi
dini.
BAB III

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara mobilisasi dini


dengan proses penyembuhan luka pada pasien pasca laparotomi di bangsal bedah pria
dan wanita RSUP Dr. M. Djamil Padang. Berdasarkan data yang diperoleh
menunjukan bahwa sebagian pasien pasca laparatomi mengalami proses
penyembuhan luka yang baik. Salah satu hal yang mempengaruhinya adalah karena
pasien melaksanakan mobilisasi dini. Mobilisasi dini adalah perawatan khusus yang
diberikan pasca tindakan medis seperti tindakan bedah. Tindakan ini dilakukan
dengan memberi latihan ringan seperti latihan pernapasan hingga menggerakan
tungkai kaki yang dilakukan di tempat tidur pasien. Akhir dari proses latihan ini
mengajak pasien untuk mau berjalan dan bergerak secara mandiri untuk sekedar ke
kamar mandi (Anggraeni, 2018).
Mobilisasi dini memiliki manfaat untuk melancarkan peredaran darah, statis
vena, mencegah kontraktur, dan meningkatkan fungsi pernapasan (Kiik, 2013). Selain
itu fungsi lain dari mobilisasi dini adalah untuk mengurangi aktivitas mediator
kimiawi dan mengurangi transmisi saraf nyeri menuju ke pusat (Nugroho, 2010).
Nainggolan (2013) mengemukakan bahwa mobilisasi dini adalah salah satu aspek
penting yang dapat mempengaruhi percepatan penyembuhan pasien pasca bedah.
Selain itu, kegiatan ini juga sangat berguna untuk memperpendek masa rawat dan
menghindarkan pasien dari resiko komplikasi seperti kekakuan otot hingga dekubitus.
Mobilisasi dini setelah laparatomi dapat dilakukan secara bertahap. Pada 6
jam pertama harus tirah baring terlebih dahulu, akan tetapi pasien dapat melakukan
mobilisasi dini dengan menggerakkan lengan atau tangan, memutar pergelangan kaki,
mengangkat tumit, menegangkan otot betis, dan menekuk serta menggeser kaki.
Setelah 6 sampai 10 jam, pasien diharuskan dapat miring kekiri dan kekanan, untuk
mencegah trombosis dan tromboemboli. Setelah 24 jam pasien dianjurkan untuk
belajar duduk. Setelah pasien dapat duduk, dianjurkan untuk mulai belajar berjalan
(Kasdu dalam Rustianawati et al 2013).
Terdapat beberapa pasien yang dilakukan mobilisasi dini proses penyembuhan
lukanya tidak baik. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu usia, jenis kelamin
dan tingkat pendidikan. Semakin tua umur seseorang, maka proses penyembuhannya
akan semakin lama. Hal ini dipengaruhi oleh adanya penurunan elastin dalam kulit,
perbedaan penggantian kolagen yang mempengaruhi penyembuhan luka, sehingga
akan mempengaruhi lama perawatan pada pasien. Jenis kelamin laki-laki lebih dapat
menahan rasa nyeri dibandingkan dengan perempuan. Kemudian seseorang dengan
tingkat pendidikan yang tinggi mempunyai daya serap yang lebih tinggi dibandingkan
dengan yang berpendidikan rendah, sehingga penyampaian informasinya lebih mudah
(Noer, 2010).
Namun pelaksanaan mobilisasi dini kurang diterapkan dengan baik di lahan
praktik. Hal itu dikarenakan tingkat pendidikan dan ketidaktahuan pasien akan
manfaat dan dampak yang ditimbulkan mobilisasi dini bagi dirinya. Adanya
anggapan pasien bahwa tidak boleh banyak bergerak jika dalam masa penyembuhan
menyebabkan pengaruh yang buruk untuk mobilisasi dini (Kiik, 2013). Padahal, jika
pasien melakukan mobilisasi dini, apa yang menjadi keluhan pasien seperti nyeri dan
penurunan fungsi tubuh akan sedikit terhindarkan. Hasil analisis bivariat
menunjukkan bahwa responden yang berjumlah 31 orang, sebagian besar responden
mengalami proses penyembuhan luka yang baik dengan mobilisasi dini terlaksana,
yaitu sebanyak 14 orang (82,4%) dan sebagian kecilnya adalah responden dengan
mobilisasi dini tidak terlaksana yang mengalami proses peyembuhan luka yang baik,
yaitu sebanyak 3 responden (17,6%). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Nainggolan (2013) bahwa dari 15 responden yang terlibat 13 (86,6%)
diantaranya tidak melakukan mobilisasi dini dan mengalami masa penyembuhan yang
lambat, sedangkan 2 (13,4%) pasien lain melakukan mobilisasi dini dengan lebih
teratur. Hasilnya, 2 pasien tersebut mengalami masa penyembuhan yang lebih cepat
dibanding mereka yang tidak melakukan.
Artinya, proses penyembuhan luka akan semakin cepat apabila seorang pasien
melakukan mobilisasi dini. Adanya anggapan bahwa pasien tidak diperkenankan
bergerak selama masa penyembuhan adalah opini yang tidak terbukti secara klinis
dan tidak benar-benar terbukti dalam penelitian.
Peran perawat dalam mobilisasi dini antara lain sebagai edukator, motivator
dan care giver. Sebagai edukator perawat melakukan pendidikan kesehatan kepada
pasien dan keluarga tentang pentingnya mobilisasi dini dengan tujuan meningkatkan
pengetahuan pasien dan keluarga. Sebagai motivator, perawat harus memberikan
dorongan yang positif kepada pasien dan keluarga untuk melakukan mobilisasi dini.
Terakhir sebagai care giver, perawat langsung membantu pasien dalam melakukan
mobilisasi dini jika pasien atau keluarga tidak mampu untuk melakukan mobilisasi
dini secara mandiri.
Mobilisasi dini pasien setelah operasi laparatomi dapat dilakukan di ruangan
teratai RS Margono. Akan tetapi mungkin akan ditemukan beberapa faktor yang
dapat menghambat hal tersebut, diantaranya adalah keterbatasan tenaga perawat.
Ruangan teratai merupakan ruangan rawat inap bedah wanita yang terdiri dari kelas 1,
2 dan 3 dengan jumlah pasien yang cukup banyak, sedangkan tenaga perawat terlihat
sangat terbatas
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mobilisasi dini adalah perawatan khusus yang diberikan pasca
tindakan medis seperti tindakan bedah. Tindakan ini dilakukan dengan
memberi latihan ringan seperti latihan pernapasan hingga menggerakan
tungkai kaki yang dilakukan di tempat tidur pasien. Proses penyembuhan
luka akan semakin cepat apabila seorang pasien melakukan mobilisasi dini.
Peran perawat dalam mobilisasi dini antara lain sebagai edukator, motivator
dan care giver.
B. Saran
Mobilisasi dini setelah operasi laparatomi bisa lebih ditingkatkan di
Ruang Teratai RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo, yaitu dengan melibatkan
keluarga dalam mobilisasi dini, peran perawat ditekankan sebagai edukator
dan motivator, dikarenakan keterbatasan jumlah tenaga dan tingginya
mobilisasi perawat di Ruang Teratai.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, R. (2018). Pengaruh penyuluhan manfaat mobilisasi dini terhadap


pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien pasca pembedahan laparatomi.
Jurnal Ilmiah Indonesia, 3 (2), 107-121.

Puruhito, Bisono. Pembedahan. Dalam: Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, editor


(penyunting). Buku ajar ilmu bedah. Jakarta: EGC; 2004. hlm 265-88.

Smeltzer SC, Brenda GB. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi ke-8.
Jakarta: EGC; 2001.

Burger JWA, Riet M, Jeekel J. Abdominal incisions: techniques and postoperative


complications. Scandinavian Journal of Surgery.2002;(91):315-21.

Haryanti L, Hegar B, Pudjiadi AH, Irfan EKB, Thayeb A, Idham A (2013).


Prevalens dan faktor risiko infeksi luka pasien pasca bedah. Sari Pediatri; 15:
207-212.

Haynes AB, Thomas GW, William RB, Stuart RL, Abdel-Hadi SB, Dellinger EP, et
al. A Surgical safety checklist to reduce morbidity and mortality in a global
population. N Engl J Med. 2009;(360): 491-9.

Kiik SM. Pengaruh mobilisasi dini terhadap waktu pemulihan peristaltik usus pada
pasien pasca operasi obdomen di ruang ICU RSUD Labuang Baji Makassar.
Jurnal Kesehatan. 2013;1(1):13-20.

Departemen Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan;


2010.

Fahmi F. Pengaruh terapi musik terhadap tingkat gangguan tidur pada pasien paska
operasi laparatomi di IRNA B (Teratai) dan IRNA Ambun Pagi RSUP Dr.
M. Djamil Padang (skripsi). Padang: Fakultas Keperawatan Universitas
Andalas; 2012.
Nainggolan, E. (2013). Hubungan Mobilisasi Dini Dengan Llamanya Penyembuhan
Luka Pascaoperasi Apendiktomi. Jurnal Keperawatan HKBP Belige, 1. (2).
98.105.

Noer NA. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat pada pasien
pasca operasi laparatomi di rumah sakit umum daerah Labuang Baji
Makassar. 2010 (diunduh 26 September 2014). Tersedia dari: URL:
HYPERLINK https://app.box.com/s/83103e737c60e4bb29c9

Nugroho, T. (2010). Buku Ajar Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta:


Nuha Medika

Rustianawati Y, Sri K, Rizka H. Efektivitas ambulasi dini terhadap penurunan


intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi di RSUD Kudus. JIKK.
2013;4(2):1-8.