Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KUIS APL RESUME TENTANG MATERI UJI T

DAN CONTOH SOALNYA

DI SUSUN OLEH :

ROMAULI MARPAUNG (NPM 08170100124)

DOSEN PENGAJAR :

MARISCA ISHIRO

FAKULTAS KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Statistik memegang peranan yang penting dalam penelitian, baik dalam

penyusunan model, perumusan hipotesa, dalam pengembangan alat dan instrumen

pengumpulan data, dalam penyusunan desain penelitian, dalam penentuan sampel dan

dalam analisa data. Dalam banyak hal, pengolahan dan analisa data tidak luput dari

penerapan teknik dan metode statistik tertentu, yang mana kehadirannya dapat

memberikan dasar bertolak dalam menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi.

Statistik dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui apakah hubungan kausalitas

antara dua atau lebih variabel benar-benar terkait secara benar dalam suatu kausalitas

empiris ataukah hubungan tersebut hanya bersifat random atau kebetulan saja.

Statistik dapat menolong peneliti untuk menyimpulkan apakah suatu perbedaan

yang diperoleh benar-benar berbeda secara signifikan. Apakah kesimpulan yang

diambil cukup refresentatif untuk memberikan infrensi terhadap populasi tertentu.

Banyak sekali penelitian yang dilakukan oleh berbagai kalangan akademisi.

Banyaknya penelitian menunjukkan bahwa semakin banyaknya minat kepada penelitian

itu sendiri. Kebutuhan penelitian pun menjadi sesuatu yang harus demi kemajuan ilmu

pengetahuan. Dalam melakukan proses penelitian, para peneliti memerlukan banyak hal

agar penelitiannya dapat diyakini hasilnya.

Untuk menguji kebenaran suatu hipotesis yang ada di dalam penelitian itu,

berbagai uji dilakukan. Salah satu uji yang telah dikenal dalam dunia statistika, yaitu uji

T. Uji T atau T test adalah salah satu tes statistik yang dipergunakan untuk menguji

kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyetakan bahwa di antara dua buah
mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama, tidak terdapat

perbedaan signifikan (dalam Sudijono, 2009: 278).

Makalah ini akan membahas tentang pengujian rerata (uji T) dua sampel

berpasangan dan bebas.

1.2. Tujuan

1.2.1. Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah

1.2.2. Untuk mengetahui konsep dasar teori tentang uji T test

1.3. Manfaat

1.3.1. Manfaat Bagi Mahasiswa

a. Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang ada serta mengerti

dan memahami mengenai konsep dasar teori tentang uji T test

b. Dapat bertukar pikiran dengan para mahasiswa atau mahasiswi lainnya

c. Selain mendapat banyak pengetahuan juga mendapat banyak teman untuk

dapat belajar bekerjasama dengan tim atau kelompok

1.3.2. Manfaat Bagi Pendidikan

a. Dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia atau mahasiswa maupun

mahasiswi STIKes Yarsi Mataram

b. Meningkatkan pengalaman didalam pembelajaran keperawatan atau

kesehatan yang lebih luas dan lebih baik


BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Definisi

Uji T atau T test adalah salah satu tes statistik yang dipergunakan untuk menguji

kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyetakan bahwa di antara dua buah

mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama, tidak terdapat

perbedaan signifikan (dalam Sudijono, 2009: 278).

Uji T adalah Suatu pengujian untuk melihat apakah nilai tengah (misalnya nilai

rata-rata) data suatu variabel dari satu sampel kelompok berbeda secara nyata

(significant) dari nilai tengah data sampel sub-sampel kelompok lain dalam variabel

yang sama.

Sebagai salah satu tes statistik parametrik, test T pertama kali dikembangkan oleh

William Seely Gosset 1915. Pada waktu itu dia menggunakan nama samara Student dan

huruf ‗T‘ yang terdapat dalam istilah tes t itu diambil dari huruf terakhir nama samara

itu.

2.2.Klasifikasi

2.2.1. Uji T 1 sampel

One sample T test merupakan teknik analisis untuk membandingkan

satu variabel bebas. Teknik ini digunakan untuk menguji apakah nilai tertentu

berbeda secara signifikan atau tidak dengan rata-rata sebuah sampel. Uji T

sebagai teknik pengujian hipotesis deskriptif memiliki tiga criteria yaitu uji

pihak kanan, kiri dan dua pihak.


a. Uji Pihak Kiri : dikatakan sebagai uji pihak kiri karena t tabel ditempatkan di

bagian kiri Kurva

b. Uji Pihak Kanan : Dikatakan sebagai uji pihak kanan karena t tabel

ditempatkan di bagian kanan kurva.

c. Uji dua pihak : dikatakan sebagai uji dua pihak karena t tabel dibagi dua dan

diletakkan di bagian kanan dan kiri

2.2.2. Uji T berpasangan

Uji T berpasangan (paired T-test) biasanya menguji perbedaan antara

dua pengamatan. Uji T berpasangan biasa dilakukan pada Subjek yang diuji

pada situasi sebelum dan sesudah proses, atau subjek yang berpasangan ataupun

serupa. Misalnya jika kita ingin menguji banyaknya gigitan nyamuk sebelum

diberi lotion anti nyamuk merk tertentu maupun sesudahnya. Lanjutan dari uji T

berpasangan adalah uji ANOVA berulang.

Uji T berpasangan (paired T-test) adalah salah satu metode pengujian

hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas (berpasangan). Ciri-ciri yang

paling sering ditemui pada kasus yang berpasangan adalah satu individu (objek

penelitian) dikenai 2 buah perlakuan yang berbeda. Walaupun menggunakan

individu yang sama, peneliti tetap memperoleh 2 macam data sampel, yaitu data

dari perlakuan pertama dan data dari perlakuan kedua. Perlakuan pertama

mungkin saja berupa kontrol, yaitu tidak memberikan perlakuan sama sekali

terhadap objek penelitian. Misal pada penelitian mengenai efektivitas suatu obat

tertentu, perlakuan pertama, peneliti menerapkan kontrol, sedangkan pada

perlakuan kedua, barulah objek penelitian dikenai suatu tindakan tertentu, misal

pemberian obat.
Dengan demikian, performance obat dapat diketahui dengan cara

membandingkan kondisi objek penelitian sebelum dan sesudah diberikan obat.

Rumus yang digunakan untuk mencari nilai t dalam uji-t berpasangan adalah:

Uji T berpasangan menggunakan derajat bebas n-1, dimana n adalah

jumlah sampel.

Kapan Uji-t Berpasangan digunakan :

Dalam melakukan pemilihan uji, seorang peneliti harus

memeperhatikan beberapa aspek yang menjadi syarat sebuah uji itu digunakan.

Peneliti tidak boleh sembarangan dalam meilih uji, sehingga sesuai dengan

tujuan penelitian yang diinginkan. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi

untuk menggunakan Uji-t Berpasangan. Dalam hal ini untuk Uji Komparasi

antar dua nilai pengamatan berpasangan, (paired) misalnya sebelum dan sesudah

(Pretest & postest) di gunakan pada : satu sampel (setiap elemen ada 2

pengamatan)

Data kuantitatif (interval – rasio)

Berasal dari populasi yang berdistribusi normal (di populasi terdapat

distribusi deference = d yang berdistribusi normal dengan mean md = 0 dan

variance sd2 = 1). (Purnomo, 2006)

Setelah data yang dimiliki memenuhi syarat diatas, maka pemilihan uji

statistik harus memperhatikan pertanyaan dari penelitian. Setelah melihat

pertanyaan peneltian seorang peneliti kemudian melakukan pemilihan uji yang


tepat untuk menganalisis data yang dimiliki untuk menjawab pertanyaan

penelitian yang disusun. Beberapa contoh pertanyaan penelitian yang

menggunakan analisis / Uji t Berpasangan :

- Apakah ada perbedaan berat badan sebelum dan sebelum melakukan latihan

senam aerobic high impact ?

- Apakah ada perubahan tingkat kesegaran jasmani atlet hockey Jawa Timur

setelah melakukan latihan interval training selama tiga bulan ?

- Apakah ada perbedaan kadar kolesterol dalam darah (mg %) yang di periksa

oleh dua alat yang berbeda ?

Rumus

Observasi 1 Observasi 2 Di Di2


No elemen
Xi x‘i (xi – x‘i) (xi – x‘i) 2

1 X1 X‘1 (x1 – x‘1) (x1 – x‘1) 2


2 X2 X‘ 2 (x2 – x‘2) (x2 – x‘2) 2
. . . . .
. . . . .
N xn X‘ n (xn– x‘ n) (xn– x‘ n) 2
åd = åd 2=

å (xi – x’i) å (xi – x’i) 2

Re rata d = ∑d n

Simpangan baku d = sd = Ö ∑ (d-di)2 n-1

Atau sd = Ö ∑d2 – (∑d)2/n n-1

Uji Hipotesis :

Statistik hitung ( t hitung)

t = d

Sd / Ön
(Purnomo,2006)

Titik kritis statistik t (t tabel) ; Lihat di tabel distribusi sampling t, untuk a yang telah
ditetapkan , dan df = n-1

Hipotetsis nihil di tolak :

|t hitung| > t tabel

Hipotesis nihil di terima

|t hitung| £ t tabel

Contoh kasus:

Berikut ini adalah contoh kasus penelitian yang menggunakan uji-t berpasangan yang
sering kita temui di lingkungan olahraga. Yaitu peneliti bermaksud meneliti perbedaan
frekuensi denyut nadi sebelum melakukan latihan interval (interval training) dengan denyut
nadi setelah melakukan latihan interval. dengan sampel acak (random) terdiri dari 5 atlet
diukur frekuensi nadi permenit sebelum dan sesudah melakukan latihan interval.

ATLET

1 2 3 4 5

Denyut Nadi pre 60 65 60 65 65


(frek/menit )

Denyut Nadi post 70 75 75 65 60


(frek/menit)

Setelah dilakukan uji normalitas, ternyata populasi asal sampel mempunyai


distribusi simetris dan normo (meso)-kurtosis.

Pertanyaan penelitian

Dalam penelitian ini pertanyaan penelitiannya adalah ―Apakah terdapat perbedaan


frekuensi nadi antara sebelum dan sesudah latihan interval (dengan α=0,05)?‖. Dengan
demikian penelitian di atas menggunakan uji-t berpasangan karena setelah dilihat syarat-
syaratnya telah dipenuhi untuk dilakukan uji-t berpasangan. Kemudian untuk melakukan uji
tersebut ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan. Berikut langkah-langkah untuk
melakukan pengujian hipotesis:

1. Rumuskan hipotesis:
Sebelum lebih lanjut melakukan pengujian hipotesis, seorang peneliti harus menentukan
terlebih dahulu hipotesisnya. Adapun hipotesis dalam contoh kasus penelitian di atas
adalah :
H0 : Tidak terdapat perbedaan frekuensi nadi antara sebelum dan sesudah latihan interval
H1 : Terdapat perbedaan frekuensi nadi antara sebelum dan sesudah latihan interval

2. Tabel Data dan Hitung Statistik t


Langkah selanjutnya adalah membuat tabel data untuk mempermudah melakukan
penghitungan, adapun tabelnya adalah sebagai berikut :

No. Frekuensi nadi/menit Di di2


atlet
Sebelum Sesudah

1 60 70 10 100
2 65 75 10 100
3 60 75 15 225
4 65 65 0 0
5 65 60 -5 25

Jumlah 30 450

Rerata d = 30 = 6
5
Simpangan baku d = sd = Ö 450-(30)2 / 5 = 8,22
5 -1
t hitung : 6 = 1,63
8,22 Ö 5
3. Lihat tabel t untuk menetapkan nilai kritis t (t tabel):
Langkah selanjutnya adalah dengan melihat tabel kritis t untuk kemudian di bandingkan
dengan hasil perhitungan yang dilakukan (t hitung).
Titik kritis t:
Pada tingkat kemaknaan (α) = 5% (0,05), dengan df=n-1 = 5-1 =4
Critical values of Student‘s t distribution*
TABLE

Df Level of significance for one-tailed test

.10 .05 .025 .01 .005 .0005

Level of significance for two-tailed test

.20 .10 .05 .02 .01 .005

1 –.– –.– 12.706 –.– –.– –.–


2 –.— –.— 4.303 –.— –.— –.—
3 –.— –.— 3.182 –.— –.— –.—
4 –.— –.— 2.776 –.— –.— –.—
5 –.— –.— 2.571 –.— –.— –.—
6 –.— –.– 2.447 –.– –.– –.–
7 –.– –.– 2.365 –.– –.– –.–
8 –.— –.— 2.306 –.— –.— –.—
9 –.— –.— 2.262 –.— –.— –.—
10 –.— –.— 2.228 –.— –.— –.—
11 –.— –.— 2.201 –.— –.— –.—
12 –.– –.– 2.179 –.– –.– –.–

Setelah melihat tabel t ditemukan t tabelnya adalah 2,776 Karena thitung (1,63) <
ttabel (2,776),maka hipotesis nihil diterima. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa
―Tidak terdapat perbedaan frekuensi nadi antara sebelum dan sesudah latihan interval‖

Perhitungan dengan menggunakan software (SPSS)

SPSS merupakan program untuk memperoleh data statistik yang paling populer dan
paling banyak pemakaiannya di seluruh dunia (Priyatno, 2009). SPSS juga banyak
digunakan oleh para peneliti untuk berbagai keperluan riset, misalkan untuk menyelesaikan
tugas peneltian skripsi, tesis, disertasi dan sebagainya. Berikut langkah-langkah analisis Uji-t
berpasangan dengan menggunakan SPSS :

Bukalah program SPSS

Klik Variable View pada SPSS data editor


Pada kolom Name baris pertama ketik sebelum atau Pretest, pada Label ketik sebelum
latihan, pada kolom Measure pilih Scale. Pada kolom Name baris kedua ketik setelah atau
post test, pada Label ketik Setelah latihan, pada kolom Measure pilih Scale, untuk kolom
lainnya bisa diabaikan (isian default)

Masuklah ke halaman Data View dengan klik Data View.

Isikan data sebelum (pretest) dan setelah (post test)

Selanjutnya kliklah Analyze > Compare Means > Paired Sample T Test.

Masukkan variable ―sebelum latihan‖ dan ―setelah latihan‖ ke kotak Paired Variable (Variable
1 dan Variable 2)

Klik OK, maka outputnya sebagai berikut :

- Mean

- Standar deviasi

- Standar Error

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error


Mean

Pair 1 PRE INTERVAL 63.00 5 2.739 1.225

POST 69.00 5 6.519 2.915


INTERVAL

Korelasi sampel berpasangan :

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 PRE INTERVAL & POST 5 -.490 .402


INTERVAL

Paired Samples Test

Statistics

Pairs Paired Differences T df


Sig. (2-
95% Confidence tailed)
Interval of the
Std. Difference
Std. Error
Mean Deviation Mean Lower Upper

Pair 1 PRE
INTERVAL
-6.000 8.216 3.674 -16.201 4.201 -1.633 4 .178
– POST
INTERVAL

Dari hasil perhitungan melalui software statistik (SPSS) nilai P Uji t berpasangan di

atas adalah 0.178 jika di bandingan dengan a = 0.05 maka P > a, sehingga kesimpulan

statistika yang diambil adalah Ho diterima. Dengan demikian bisa disimpulkan setelah

dilakukan perhitungan menggunakan software (SPSS) maka kesimpulannya adalah sebagai

berikut :―Tidak terdapat perbedaan frekuensi nadi antara sebelum dan sesudah latihan

interval‖
BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Uji T atau T test adalah salah satu tes statistik yang dipergunakan untuk menguji

kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyetakan bahwa di antara dua buah

mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama, tidak terdapat

perbedaan signifikan (dalam Sudijono, 2009: 278).

Sampel berpasangan ialah dua kelompok sampel yang karena dua kelompok itu

memiliki sifat-sifat serupa, dalam penelitian, kedua kelompok itu dipasangkan.

Pemasangan itu dilakukan mungkin karena usianya sama, kecerdasannya sama,

keturunan sama, dan lain-lain.

Dengan uji T ini, kita dapat menguji rerata dua sampel bebas dan variasi

populasinya kedua-duanya diketahui, pengujian rerata dua sampel bebas dan kedua

variasi populasinya tidak diketahui, tetapi diasumsikan sama, dan pengujian dua sampel

bebas dan kedua variasi populasinya tidak diketahui.

3.2.Saran

3.3.1 Saran Bagi Mahasiswa

Diharapkan agar mahasiswa dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

yang ada, serta mampu memahami mengenai konsep dasar teori tentang uji T test

3.3.2 Saran Bagi Pendidikan

a. Diharapkan agar pendidikan atau institusi dapat meningkatkan mutu sumber

daya manusia atau mahasiswa maupun mahasiswi STIKIM


b. Diharapkan agar pendidikan atau institusi dapat meningkatkan pengalaman

didalam pembelajaran keperawatan atau kesehatan yang lebih luas dan lebih

baik