Anda di halaman 1dari 194

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENGARUH DAYA HAMBAT ANTIMIKROBIA ISOLAT


ALKALOID UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia)
TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli, Staphylococcus
epidermidis DAN Candida albicans ATCC 10231
SECARA IN-VITRO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Biologi

Oleh:

Maresti Mei Yuniasih

NIM: 141434060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2018
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENGARUH DAYA HAMBAT ANTIMIKROBIA ISOLAT


ALKALOID UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia)
TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli, Staphylococcus
epidermidis DAN Candida albicans ATCC 10231
SECARA IN-VITRO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Biologi

Oleh:

Maresti Mei Yuniasih

NIM: 141434060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2018

i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSEMBAHAN

Rasa syukur akan karya penelitian ini, kupersembahkan untuk:

Tuhan Yang Maha Esa yang selalu menjadi penguat dan pembimbing ketika
mengalami kegagalan

Orang tua dan saudara yang selalu mendoakan dan memberikan kasih sayangnya

Bhante Nitya Eka yang selalu memberikan wejangan dan motivasi yang luar
biasa

Bapak Kristio sebagai dosen yang senantiasa membimbing dalam penelitian

Sahabat dan teman yang selalu membantu dan memberikan semangat

Almamaterku Universitas Sanata Dharma

iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta,
Penulis, 12 Mei 2018

Maresti Mei Yuniasih

v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH


UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Maresti Mei Yuniasih
NIM : 141434060

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan


Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

PENGARUH DAYA HAMBAT ANTIMIKROBIA ISOLAT ALKALOID


UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia) TERHADAP
PERTUMBUHAN Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis DAN Candida
albicans ATCC 10231
SECARA IN-VITRO

Demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma


untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam
bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di
internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari
saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama
saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang telah saya buat dengan sebenarnya:

Dibuat di : Yogyakarta

Pada tanggal : 12 Mei 2018

Yang menyatakan,

Maresti Mei Yuniasih

vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa melalui
kuasa, rahmat, hidayah, dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi ini dengan judul “Pengaruh Daya Hambat Antimikrobia Isolat
Alkaloid Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) Terhadap
Pertumbuhan Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis dan Candida
albicans ATCC 10231 Secara In-Vitro”. Naskah skripsi ini disusun untuk
memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada
Program Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini tidak terlepas dari
bantuan, doa dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Bapak Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku rektor Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S. Pd, M.Si selaku dekan Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan.
3. Bapak Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd selaku kepala Jurusan Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
4. Bapak Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Biologi.
5. Bapak Ignatius Yulius Kristio Budiasmoro, S.Si., M.Si. selaku dosen
pembimbing yang sangat tidak pernah bosan memberikan dorongan,
dukungan, arahan, bimbingan, serta waktu dalam penelitian dan penulisan
skripsi.
6. Ibu Yoanni Maria Lauda Feroniasanti, M.Si selaku kepala laboratorium
Pendidikan Biologi yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian di
laboratorium.
7. Seluruh dosen Pendidikan Biologi yang telah memberikan ilmu, pelajaran dan
pengalaman sebagai bekal penelitian dan penulisan skripsi.

vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

8. Bapak Agus Handoyo dan Bapak Marsono selaku laboran yang telah
membantu penulis menyiapkan segala alat dan bahan yang dibutuhkan dalam
penelitian.
9. Teman-teman di Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta yang telah membantu membuat enkas, dan memberikan waktu
dan tempat untuk penelitian dan berkonsultasi mengenai skripsi.
10. Orang tua tercinta dan saudara yang telah memberikan doa, kasih sayang
semangat, dukungan secara moral maupun moril selama penulisan skripsi.
11. Bhante Nitya Eka yang telah memberikan motivasi, wejangan, dharma dan
kebajikan sehingga terselesainya naskah skripsi ini.
12. Yudha Sastrosugito yang telah membantu menerjemahkan kalimat sulit dalam
abstrak.
13. Angguntia Dwi Saputra dan Astiti Wulandari sebagai sahabat yang membantu
kinerja dalam penelitian dan teman kerja di laboratorium setiap hari yang
sama-sama saling memberikan semangat dan bantuan.
14. Angkatan PBIO 2014 yang saling menyemangati dan saling membantu.
15. Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari masih banyak keterbatasan dalam menyusun


naskah skripsi ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan dari berbagai pihak. Penulis berharap, skripsi ini dapat
bermanfaat bagi sesama dan kemajuan ilmu pengetahuan khususnya di
bidang ilmiah dan pendidikan.

Penulis

Maresti Mei Yuniasih

viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENGARUH DAYA HAMBAT ANTIMIKROBIA ISOLAT ALKALOID


UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia) TERHADAP
PERTUMBUHAN Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis DAN
Candida albicans ATCC 10231 SECARA IN-VITRO

Maresti Mei Yuniasih


Universitas Sanata Dharma
2018

ABSTRAK
Prevalensi tingkat penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting di Indonesia. Salah satu penyebab penyakit infeksi yaitu
mikrobia E. coli, S. epidemidis dan C. albicans. Resistensi merupakan
permasalahan yang sering terjadi di dalam pengobatan penyakit infeksi.
Peningkatan resistensi mikrobia terhadap antimikrobia mendorong pembuatan
antibiotik secara eksploratif menggunakan bahan herbal. Umbi bawang dayak
(Eleutherine palmifolia) diduga mengandung senyawa bioaktif alkaloid yang
diketahui aktif sebagai agen antimikrobia.
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental murni yang bertujuan
mengetahui aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak sebagai
antimikrobia berspektrum luas (broad spectrum) atau berspektrum sempit (narrow
spectrum), dilanjutkan dengan pengujian Kadar Hambat Minimum (KHM)
terhadap mikrobia E. coli, S. epidermidis dan C. albicans. Pengujian aktivitas
antimikrobia dilakukan dengan metode Kirby-Bauer (disc diffusion) dengan
variasi konsentrasi isolat alkaloid 5,0 x 10-3 gr/ml, 2,5 x 10-3 gr/ml, dan 1,7 x 10-3
gr/ml, kontrol positif menggunakan Amoxicillin Tryhidrat dan Nystatin, kontrol
negatif menggunakan akuades steril. Pengujian KHM dilakukan dengan metode
dilusi padat. Hasil uji aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak
dan KHM dianalisis menggunakan statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat alkaloid umbi bawang dayak
memiliki aktivitas antimikrobia berspektrum luas (broad spectrum). Nilai KHM
isolat alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang masih mampu
menghambat bakteri gram negatif (E. coli) yaitu konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml,
bakteri gram positif (S. epidermidis) yaitu konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml dan fungi
(C. albicans) yaitu konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml.

Kata Kunci: Eleutherine palmifolia, alkaloid, E. coli, S. epidermidis, C. albicans,


antimikrobia

ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

THE INFLUENCE OF ANTIMICROBIAL INHIBITION OF ISOLATED


ALKALOIDS OF DAYAK ONION BULB (Eleutherine palmifolia) ON THE
GROWTH OF Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis AND
Candida albicans ATCC 10231 ON IN-VITRO

Maresti Mei Yuniasih


Sanata Dharma University
2018

ABSTRACT

The prevalence of infectious disease rates is an important public health


problem in Indonesia. Some of the causes of infectious disease are Escherichia
coli, Staphylococcus epidermidis and Candida albicans microbial. Resistance is a
frequent problem in the treatment of infectious diseases. Increased microbial
resistance to antimicrobial encourages the manufacture of antibiotics
exploratively using herbal ingredients. Dayak onion bulbs (Eleutherine
palmifolia) are thought to contain alkaloids bioactive compounds that are known
to be active as antimicrobial agents.
This study is a pure experimental research aimed at finding out the
antimicrobial isolated alkaloids activity of Dayak Onion bulb as a broad
spectrum antimicrobial or narrow spectrum antimicrobial followed by testing of
Minimum Inhibitory Concentration (MIC) to E. coli, S. epidermidis and C.
albicans microbial. The antimicrobial activity test was performed by Kirby-Bauer
method (disc diffusion) with variation of 5,0 10-3 gr/ml alkaloid isolation, 2,5
10-3 gr/ml, and 1,7 10-3 gr/ml, positive control using Amoxicillin Tryhidrat and
Nystatin, negative control using sterile akuades. MIC testing is done by solid
dilution method. The results of the antimicrobial activity of alkaloids isolated
from bulbs of Dayak Onion and MIC were analyzed using descriptive statistics.
The results show that the alkaloids isolated from bulb of Dayak Onion has
broad-spectrum antimicrobial activity. The value of MIC of isolated alkaloids of
Dayak Onion bulb (Eleutherine palmifolia) which still able to inhibit gram-
negative bacteria (E. coli) is at the concentration of 1,7 10-3 gr/ml, gram-
positive bacteria (S. epidermidis) is at the concentration of 5,0 10-3 gr/ml and
fungi (C. albicans) is at the concentration of 1,7 10-3 gr/ml.

Keyword : Eleutherine palmifolia, alkaloids, E. coli, S. epidermidis, C. albicans,


antimicrobial

x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA

HALAMAM JUDUL ................................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJAN PEMBIMBING .......................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASIKARYA ILMIAH


UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................................................................. vi

KATA PENGANTAR ............................................................................................... vii

ABSTRAK .................................................................................................................. ix

ABSTRACT .................................................................................................................. x

DAFTAR ISI ............................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL .................................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ xvi

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1


A. Latar Belakang............................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian ........................................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ......................................................................................................... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 7


A. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) ....................................................................... 7
B. Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans ........................ 11
C. Antibiotika ................................................................................................................... 17
D. Mekanisme Kerja Antimikrobia .................................................................................. 20

xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

E. Penggolongan Antimikrobia ........................................................................................ 22


F. Pengukuran Aktivitas Antimikrobia ............................................................................ 23
G. Alkaloid ....................................................................................................................... 26
H. Simplisia ...................................................................................................................... 32
I. Ekstraksi ...................................................................................................................... 33
J. Penelitian yang Relevan .............................................................................................. 35
K. Kerangka Berpikir ....................................................................................................... 36
L. Hipotesis ...................................................................................................................... 38

BAB III. METODE PENELITIAN ......................................................................... 39


A. Jenis Rancangan Penelitian dan Variabel Penelitian ................................................... 39
B. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................................................... 40
C. Populasi dan Sampel Penelitian................................................................................... 41
D. Batasan Penelitian ....................................................................................................... 41
E. Alat dan Bahan Penelitian ........................................................................................... 42
F. Prosedur Kerja ............................................................................................................. 43
G. Metode Analisis Data .................................................................................................. 61
H. Rancangan Pemanfaatan Hasil Penelitian dalam Pembelajaran .................................. 62

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 63


A. Identifikasi Tanaman Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) ........................ 63
B. Serbuk Simplisia Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) .............................. 66
C. Ekstraksi Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) ........................................... 68
D. Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) .................................. 70
E. Identifikasi Kandungan Alkaloid Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) ..... 72
F. Uji Aktivitas Antimikrobia Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak (Eleutherine
palmifolia) ................................................................................................................... 75
G. Hambatan dan Keterbatasan Penelitian ..................................................................... 100

xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V. IMPLEMENTASI PENELITIAN DALAM PEMBELAJARAN ........ 102


DI SEKOLAH ......................................................................................................... 102
A. Implementasi Penelitian ............................................................................................ 102
B. Bentuk Kegiatan ........................................................................................................ 103
C. Rancangan Perencanaan Proses Pembelajaran .......................................................... 104

BAB VI. PENUTUP ................................................................................................ 106


A. Kesimpulan ................................................................................................................ 106
B. Saran .......................................................................................................................... 107

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 108

LAMPIRAN ............................................................................................................. 113

xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Umbi Bawang Sabrang .......... 10
Tabel 2.2 Kategori Penghambatan Antimikrobia berdasarkan Zona Hambat ............ 24
Tabel 4.1 Hasil Ekstrak Umbi Bawang Dayak dengan Maserasi ................................ 70
Tabel 4.2 Hasil Identifikasi Kandungan Alkaloid Ekstrak Umbi Bawang Dayak ...... 72
Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Makroskopik Mikrobia Uji E. coli, S. epidermidis
dan C. albicans ATCC 10321 ...................................................................... 79
Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Mikroskopik Mikrobia Uji E. coli, S. epidermidis dan
C. albicans ATCC 10321 ............................................................................. 79
Tabel 4.5 Kriteria Sensitivitas Daya Antimikrobia Isolat Alkaloid Umbi Bawang
Dayak Terhadap E. coli dan S. epidermidis dan C. albicans ....................... 85

xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tanaman Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)................................... 8


Gambar 2.2 Staphylococcus epidermidis .................................................................... 11
Gambar 2.3 Escherichia coli ....................................................................................... 13
Gambar 2.4 Candida albicans..................................................................................... 15
Gambar 2.5 Bagan Kerangka Berpikir ........................................................................ 38
Gambar 3.1 Desain Letak Paper Disc pada Cawan Petri ............................................ 58
Gambar 4.4 Pembuatan Serbuk Simplisia Umbi Bawang Dayak ............................... 68
Gambar 4.5 Ekstraksi Umbi Bawang Dayak .............................................................. 69
Gambar 4.6 Proses Isolasi Alkaloid Umbi Bawang Dayak ........................................ 71
Gambar 4.7 Hasil Identifikasi Kandunga Alkaloid Ekstrak Umbi Bawang Dayak .... 73
Gambar 4.8 Reaksi antara Alkaloid dengan Pereaksi Dragendorff ............................ 74
Gambar 4.9 Reaksi antara Alkaloid dengan Pereaksi Mayer ...................................... 74
Gambar 4.10 Variasi Konsentrasi Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak ................... 76
Gambar 4. 11 Hasil Mikroskopik Pengecatan Mikrobia Uji E. coli, S. epidermidis,
dan C. albicans ...................................................................................... 80
Gambar 4.12 Perbandingan Zona Hambat dari Tiap Variasi Konsentrasi pada E.
coli, S. epidermidis dan C. albicans ..................................................... 87
Gambar 4.13 Hasil Uji % Kejernihan Media E. coli terhadap Konfirmasi Nilai
KHM yang Didapat .............................................................................. 95
Gambar 4.14 Hasil Uji % Kejernihan Media S. epidermidis terhadap Konfirmasi
Nilai KHM yang Didapat ..................................................................... 97
Gambar 4.15 Hasil Uji % Kejernihan Media C. albicans terhadap Konfirmasi
Nilai KHM yang Didapat ..................................................................... 99

xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Perhitungan Mengenai Pembuatan Variasi Konsentrasi Isolat Umbi


Bawang Dayak ..................................................................................... 113
Lampiran 2 Sertifikat Strain Mikrobia Kultur Murni E. coli ATCC 25922, S.
epidermidis ATCC 12228 dan C. albicans ATCC 10321 ................... 116
Lampiran 3 Hasil pengukuran zona hambat isolat alkaloid umbi bawang dayak
terhadap mikrobia E. coli, S. epidermidis dan C. albicans .................. 119
Lampiran 4 Hasil dokumentasi uji aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi
bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap E. coli, S.
epidermidis dan C. albicans ................................................................. 121
Lampiran 5 Dokumentasi hasil uji KHM antimikrobia isolat alkaloid terhadap E.
coli, S. epidermidis dan C. albicans ..................................................... 122
Lampiran 6 Silabus Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam Mata Pelajaran
Biologi SMA ........................................................................................ 125
Lampiran 7 RPP Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam Mata Pelajaran
Biologi SMA ........................................................................................ 129

xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat yang penting, khususnya di Indonesia. Salah satu obat andalan

untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikrobia, antara lain antibakteri

atau antibiotik, anti jamur, antivirus, dan anti protozoa. Penanggulangan

infeksi oleh mikroorganisme tersebut memerlukan obat-obat yang mempunyai

daya kerja optimal dan efek samping yang kecil. Saat ini, penggunaan

antimikrobia sangat banyak terutama dalam pengobatan yang berhubungan

dengan infeksi. Menurut Permenkes (2011), berbagai studi menemukan bahwa

sekitar 40-62 % antimikrobia digunakan secara tidak tepat, antara lain untuk

penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antimikrobia. Penelitian

kualitas penggunaan antimikrobia di berbagai bagian rumah sakit ditemukan

30 % sampai dengan 80 % tidak didasarkan pada indikasi (Permenkes, 2011).

Intensitas penggunaan antimikrobia yang relatif tinggi, menimbulkan berbagai

permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan, terutama

masalah resistensi terhadap mikrobia. Perlu kiranya usaha pengembangan obat

tradisional untuk menunjang peningkatan taraf kesehatan masyarakat untuk

menanggulangi masalah resistensi mikrobia.

1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga

merupakan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sering disertai

dengan kematian. Penyebab utama diare di Indonesia adalah Shigella,

Salmonela, Campylobacter jejuni, Escherichia coli dan Entamoeba hisyolyca.

Menurut Riskesdas (2017), pada tahun 2016 terjadi 3 kali Kejadian Luar Biasa

(KLB) diare yang tersebar di 3 provinsi, 3 kabupaten dengan jumlah penderita

198 orang dan kematian 6 orang dengan angka kematian (CFR) 3,04 %.

Peradangan yang terjadi pada jerawat dapat diakibatkan oleh bakteri

Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus

aureus (Jappe U., 2003). Penelitian Tjekyan (2009), dengan judul penelitian

Kejadian dan Faktor Risiko Acne Vulgaris didapatkan prevalensi jerawat

(Acne vulgaris) adalah 58,4 % pada wanita dan 78,9 % pada laki-laki dengan

umur terbanyak berusia 15-16 tahun. Staphylococcus epidermidis bersifat

mikrobia normal pada kulit dan tidak bersifat patogen. Menurut Brooks et al.

(2010), jika terjadi perubahan kondisi kulit mengakibatkan terjadi

penyumbatan oleh minyak maka bakteri tersebut akan menjadi invasif dan

akan menyebabkan peradangan. Selain jerawat, Staphylococcus epidermidis

juga dapat menyebabkan infeksi kulit, infeksi saluran kemih dan infeksi ginjal

(Radji, 2011).

Candida albicans merupakan salah satu organisme penyebab masalah

kesehatan reproduksi wanita yaitu keputihan (fluor albus). Candida albicans

merupakan salah satu penyebab penyakit kandidiasis invasif (KI). Di

Indonesia sebanyak 75% wanita pernah mengalami keputihan minimal satu


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kali dalam hidupnya dan 45 % di antaranya mengalami keputihan sebanyak

dua kali atau lebih (Sari, 2012). Penelitian Kalista et al. (2017), dengan judul

penelitian Karakteristik Klinis dan Prevalensi Pasien Kandidiasis Invasif di

RSCM, telah didapatkan prevalensi KI di RSCM adalah 12,3 %, dari 91

pasien diantaranya 35 pasien termasuk kategori proven, 31 pasien probable

dan 25 pasien possible.

Obat tradisional merupakan salah satu bagian penting dalam upaya

pemeliharaan kesehatan masyarakat Indonesia. Penggunaan obat tradisional

pada masyarakat Indonesia saat ini semakin berkembang, banyak masyarakat

tertarik untuk mengobati segala macam penyakit yang dideritanya dengan

pengobatan tradisional seperti penggunaan obat herbal (herba medicine) dari

berbagai ragam tanaman Indonesia. Obat herbal digunakan secara terus

menerus sebagai upaya untuk menemukan senyawa baru untuk melawan

patogen. Salah satunya yaitu tanaman bawang dayak (Eleutherine palmifolia)

yang dipercaya sebagai tanaman obat multifungsi untuk berbagai penyakit.

Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) memiliki ciri warna umbi

merah dengan daun hijau sejajar dan bunganya berwarna putih. Bawang dayak

sudah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai obat penurun darah tinggi

(hipertensi), penyakit kencing manis (diabetes mellitus), menurunkan

kolesterol, obat bisul, diuretik, dan mencegah stroke (Galingging, 2009),

pengobatan sembelit, diare, disentri, luka, bisul, peluruh muntah, penyakit

kuning (Ogata, 1995), antimelanogenesis, antioksidan dan antimikrobia

(Arung, 2009). Umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) mengandung


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

senyawa bioaktif antara lain alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, steroid dan

tanin yang diduga memiliki efek antimikrobia (Galingging, 2009).

Senyawa alkaloid banyak mempunyai kegiatan fisiologi yang

menonjol sehingga digunakan secara luas dalam bidang pengobatan (Harbone,

1987). Senyawa aktif ini dapat berperan sebagai analgesik, sedatif, bio

insektisida, stimulan pada syaraf otonom, obat malaria, obat kanker anti

inflamasi, antimikrobia, anti diabetes dan diuretik (Purba, 2010).

Hingga saat ini belum ada penelitian yang tertuju pada bagaimana

efektivitas dari senyawa alkaloid bulbus bawang dayak (Eleutherine

palmifolia) yang mampu menghambat pertumbuhan mikrobia. Penelitian ini

merujuk pada penentuan sifat aktivitas antimikrobia alkaloid umbi bawang

dayak yaitu berspektrum luas (broad spectrum) atau berspektrum sempit

(narrow spectrum). Tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan

menjadi tanaman pokok obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

senyawa alkaloid bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang mampu

menghambat mikrobia pada aktivitas antimikrobia spektrum luas (broad

spectrum) atau spektrum sempit (narrow spectrum) dan konsentrasi hambat

minimum (KHM) isolat alkaloid umbi bawang dayak yang masih mampu

menghambat pertumbuhan mikrobia.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah:

1. Bagaimana aktivitas isolat alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine

palmifolia) terhadap pertumbuhan Escherichia coli, Staphylococcus

epidermidis dan Candida albicans ATCC 10231 secara in-vitro?

2. Berapa konsentrasi hambat minimum (KHM) isolat alkaloid umbi bawang

dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap pertumbuhan Escherichia coli,

Staphylococcus epidermidis dan Candida albicans ATCC 10231 secara in-

vitro?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah

dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui aktivitas isolat alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine

palmifolia) terhadap pertumbuhan Escherichia coli, Staphylococcus

epidermidis dan Candida albicans ATCC 10231 secara in-vitro.

2. Mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) isolat alkaloid umbi

bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap pertumbuhan Escherichia

coli, Staphylococcus epidermidis dan Candida albicans ATCC 10231

secara in-vitro.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

D. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagi Peneliti

Melatih pengembangan potensi dan keterampilan dalam berfikir ilmiah

secara logis dan empiris. Penelitian ini juga bermanfaat dalam menambah

pengetahuan dan wawasan bagi peneliti untuk mengetahui manfaat

alkaloid umbi bawang dayak dalam menghambat E. coli, S. epidermidis

dan C. albicans.

2. Bagi Dunia Pendidikan

Menambah wawasan dan informasi ilmiah terkait dunia pendidikan dan

dapat diimplementasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di kelas

mengenai penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli dan S. epidermidis

pada materi Monera kelas X SMA semester 1 kurikulum 2013.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

1. Persebaran Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Persebaran bawang dayak (Eleutherine palmifolia) meliputi

kawasan Asia tropis Indonesia (Pulau Jawa dan Kalimantan) dan Filipina

(Leyte, Luzon, Mindanao dan Negros), Afrika tropis, serta Amerika tropis.

Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) sendiri berasal dari Amerika

tropis, yang kemudian dibudidayakan dan dilestarikan di Afrika tropis dan

cakupan zona floristik Malesia yaitu Indonesia (Jawa dan Kalimantan)

serta Filipina (Leyte, Luzon, Negros dan Mindanao) (Nooteboom, 2017).

Tanaman bawang dayak (Eleutherine palmifolia) tumbuh dengan

baik pada daerah tropis dengan ketinggian sekitar 600-1500 mdpl.

Tumbuhan ini biasanya ditemukan di pinggir jalan yang berumput, di

kebun teh, kina dan kebun karet. Beragam nama daerah dari tanaman

Eleutherine palmifolia seperti, bawang kapal (Melayu), bawang sabrang

(Sunda, Jawa), bawang dayak (Kalimantan), dan bawang hantu (Tanah

Karo). Masyarakat tanah Karo biasa menggunakan tanaman ini sebagai

obat asma dan obat luka. Tetapi masyarakat tersebut masih menganggap

tanaman tersebut sebagai gulma (Firdaus, 2014).

7
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Klasifikasi dan Morfologi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

a. Klasifikasi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Gambar 2. 1
Tanaman Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)
(Sumber: http://www.stuartxchange.com/Mala-bawang)
Menurut Amanda (2014), berikut ini klasifikasi dari tumbuhan

bawang dayak (Eleutherine palmifolia):

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Liliales

Famili : Iridaceae

Genus : Eleutherine

Spesies : Eleutherine palmifolia (L.) Merr

b. Morfologi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) merupakan tumbuhan

semak, berumpun, tumbuhan semusim dengan tinggi ± 50 cm.

Menurut Backer dan Brink (1965) dalam buku Flora of Java,

morfologi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terdiri atas:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

a. Daun

Bentuk daun tanaman bawang dayak adalah lonjong, berujung

runcing dengan pangkal yang tumpul, pertulangan menyirip, warna

daun hijau (bentuk daun seperti tanaman anggrek tanah).

b. Bunga

Tipe bunga tanaman bawang dayak yaitu majemuk berkas

(fascicled) yang tumbuh di ujung batang, berwarna putih dengan

tipe simetri bunga yaitu bersimetri banyak (actinomorphus)

berkelopak 6, dan mekar pada waktu sore hari dalam beberapa jam.

c. Batang

Batang bawang dayak memiliki struktur yang tumbuh tegak atau

merunduk, basah dan berumbi. Cocok pada tempat terbuka dan

tanah yang kaya humus dan lembap.

d. Umbi

Umbi bawang dayak umumnya berbentuk lonjong, bulat telur,

berwarna merah dan sedikit garis putih seperti bawang merah

(Allium cepa) dan tidak berbau. Umbi bawang dayak mampu

dikonsumsi dan diproduksi setelah usia 6 bulan dengan tinggi

tanaman ± 20-50 cm.

3. Etnobotani Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) merupakan tanaman yang

sudah secara turun temurun dipergunakan masyarakat sebagai tanaman

obat. Secara empiris bawang dayak sudah dipergunakan masyarakat lokal


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

sebagai obat berbagai jenis penyakit seperti kanker payudara, obat penurun

darah tinggi (hipertensi), penyakit kencing manis (diabetes mellitus),

menurunkan kolesterol, kanker usus dan mencegah stroke (Galingging,

2009).

Penggunaan bawang dayak dapat dipergunakan dalam bentuk

segar, simplisia, manisan dan dalam bentuk bubuk (powder). Potensi

bawang dayak sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga

perlu ditingkatkan penggunaannya sebagai bahan obat modern

(Galingging, 2009).

4. Kandungan Senyawa Bioaktif Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Umbi bawang dayak mengandung senyawa bioaktif seperti

alkaloid, steroid, glikosida, flavonoid, fenolik, saponin, triterpenoid, tanin

dan kuinon yang diduga memiliki efek antimikrobia (Galingging, 2009).

Penelitian Purba (2010), dengan judul penelitian Isolasi dan Karakterisasi

Senyawa Alkaloid dari Umbi Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia)

menunjukkan hasil skrining fitokimia serbuk simplisia umbi bawang

sabrang, yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2. 1
Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Umbi Bawang Sabrang
Jenis Fitokimia Hasil Uji
Alkaloid +
Flavonoid +
Steroid/Triterpenoid +
Glikosida +
Glikosida Sianogenik -
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

Jenis Fitokimia Hasil Uji


Glikosida Antrakinon +
Saponin +
Tanin +
Keterangan:
+ = mengandung golongan senyawa
- = tidak mengandung golongan senyawa

Hasil spektrofotometri ultraviolet isolat A diperoleh panjang

gelombang maksimum (λ) 270 nm dan B 271 nm. Hasil pemeriksaan

spektrofotometri ultraviolet baik pada isolat A dan B tidak ditemukannya

adanya puncak N-H pada bilangan gelombang sekitar 3500 cm-1 sehingga

diduga bahwa alkaloid pada kedua isolat tersebut merupakan senyawa

alkaloid amina tersier (Purba, 2010).

B. Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans

1. Staphylococcus epidermidis

Gambar 2. 2
Staphylococcus epidermidis
(Sumber: https://www.gettyimages.com)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

Berikut ini klasifikasi Staphylococcus epidermidis menurut

Vasanthakumari (2007), sebagai berikut:

Kingdom : Eubacteria

Filum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Bangsa : Bacillales

Suku : Staphylococcaceae

Genus : Staphylococcus

Species : Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram-positif

berbentuk kokus dan berdiameter ± 1 µm, biasanya tersusun dalam

rangkaian tidak beraturan seperti anggur. Bakteri ini mudah tumbuh pada

berbagai perbenihan, mempunyai metabolisme aktif dan menghasilkan

pigmen yang bervariasi dari putih hingga kuning tua. Koloni pada media

padat berbentuk bulat, halus, mencembung dan berkilau serta bersifat

anaerob fakultatif. Biakan yang masih muda sel kokus akan terlihat

memberikan pewarnaan gram positif yang kuat (berwarna keunguan)

tetapi pada biakan yang sudah tua sel kokus akan berubah menjadi bakteri

gram negatif (berwarna kemerahan). Staphylococcus epidermidis mudah

berkembang pada suhu 37oC tetapi suhu terbaik untuk menghasilkan

pigmen pada suhu ruangan (20-25oC). S. epidermidis tidak mempunyai

lapisan protein A pada dinding sel, tidak bergerak, tidak membentuk spora

dan bersifat koagulase negatif (Brooks et al., 2010).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

S. epidermidis merupakan flora normal pada kulit manusia,

saluran pernapasan dan saluran pencernaan. S. epidermidis dapat

menyebabkan infeksi kulit ringan disertai dengan pembentukan abses.

S. epidermidis biotipe-1 dapat menyebabkan infeksi kronis pada manusia

(Radji, 2011). S. epidermidis merupakan bakteri non patogen, tidak invasif

dan cenderung bersifat koagulase negatif dan tidak hemolitik.

S. epidermidis lebih sering resisten terhadap obat antimikrobia dari pada

S. aureus, sekitar 60 % strain S. epidermidis resisten terhadap nafsilin

(Brooks et al., 2010).

2. Escherichia coli

Gambar 2. 3
Escherichia coli
(Sumber: https://www.britannica.com/science/E-coli)
Berikut ini klasifikasi E. coli menurut Moder (2008) :

Kingdom : Bacteria

Filum : Proteobacteria

Kelas : Gamma Proteobacteria

Bangsa : Enterobacteriales

Suku : Enterobacteriaceae

Genus : Escherichia

Species : Escherichia coli


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

Escherichia coli merupakan bakteri Gram-negatif, bakteri ini

sering ditemukan pada feses dan bagian tubuh yang terinfeksi. E. coli

termasuk dalam famili Enterobacteriaceae, berbentuk batang pendek

(kokobasil), berukuran 0,4 µm x 1,4 µm, mempunyai simpai dan hidup

soliter. E. coli membentuk koloni bulat, cembung, halus, dengan tepi yang

nyata. Dinding sel terdiri dari lipopolisakarida serta membran luar

berikatan dengan periplasma. Umumnya bersifat motil dengan flagella,

tidak membentuk spora, merupakan jenis bakteri aerob atau fakultatif

anaerob. Metabolisme yang dijalankan yaitu oksidasi dan fermentasi

(Moder, 2008).

Bakteri E. coli ditemukan pertama kali oleh Theodor Escherich

pada abad ke-19 sebagai bakteri flora usus normal. Bakteri ini menjadi

bersifat patogen hanya bila, bakteri ini berada di luar usus yaitu lokasi

normal tempatnya berada, atau di lokasi lain dimana flora normal jarang

didapat (Brooks et al., 2010). Beberapa galur E. coli menjadi penyebab

infeksi pada manusia seperti infeksi saluran kemih, infeksi meningitis pada

neonatus, dan penyakit diare. Infeksi E. coli sering kali berupa diare yang

disertai darah, kejang perut, demam dan terkadang dapat menyebabkan

gangguan pada ginjal (Radji, 2011).

Resistensi mikrobia merupakan masalah yang serius dihadapi oleh

ahli-ahli mikrobiologi kesehatan. Hasil penelitian Sasongko (2014)

menunjukkan bahwa isolat bakteri E. coli dari air sungai dan air rumah

tangga sepanjang sungai Code wilayah Sleman telah resisten terhadap


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

antibiotik, khususnya Amoxicillin dan Streptomisin. Hasil uji sesnsitivitas

antibiotik terhadap isolat E. coli memperlihatkan presentase resistensi

antibiotik untuk Amoxicillin: 80% di lokasi sampel air sungai Code dan

66.7% di lokasi air rumah tangga; Kloramfenikol: 20% di lokasi sampel

air sungai Code dan 6.7% di lokasi air rumah tangga; Sulfametoxasol:

33.3% di lokasi sampel air sungai Code dan 46.7% di lokasi air rumah

tangga, serta Streptomisin: 73.3% di lokasi sampel air sungai Code dan

86.7% di lokasi air rumah tangga.

3. Candida albicans

Gambar 2. 4
Candida albicans
(Sumber: http://labmed.ucsf.edu)

Berikut ini klasifikasi Candida albicans menurut Vasanthakumari

(2007), sebagai berikut:

Kingdom : Fungi

Divisi : Ascomycota

Kelas : Saccharomyces

Bangsa : Saccharomycetales

Suku : Saccharomycetaceae
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

Genus : Candida

Species : Candida albicans

Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena

kemampuannya untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu

sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastospora dan

membentuk hifa semu. Perbedaan bentuk ini tergantung pada faktor

eksternal yang mempengaruhinya. Candida albicans dan patogenitasnya

dipengaruhi oleh genetik, lingkungan dan fenotipik dimana faktor-faktor

seperti pH, suhu, kondisi anaerob dan faktor gizi dalam jaringan

pencernaan berperan dalam meningkatkan penetrasi Candida albicans

melalui sel mukosa (Kalista et al., 2017).

Candida albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas

yang akan terus memanjang membentuk hifa semu. Hifa semu terbentuk

dengan banyak kelompok blastospora berbentuk bulat atau lonjong di

sekitar septum. Dinding sel Candida albicans berfungsi sebagai pelindung

dan juga sebagai target dari beberapa antimikotik (Kalista et al., 2017).

Dinding sel berperan pula dalam proses penempelan dan kolonisasi

serta bersifat antigenik. Candida albicans mempunyai struktur dinding sel

yang kompleks, tebalnya 100 sampai 400 nm. Dinding sel C. albicans

seperti sel eukariotik lainnya terdiri dari lapisan fosfolipid ganda.

Membran protein ini memiliki aktivitas enzim seperti manan sintase, kitin

sintase, glukan sintase, ATPase dan protein yang mentransport fosfat.

Terdapatnya membran sterol pada dinding sel memegang peranan penting


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

sebagai target antimikotik dan kemungkinan merupakan tempat

bekerjanya enzim-enzim yang berperan dalam sintesis dinding sel

(Toenjes et al., 2005).

Resistensi antifungal merupakan salah satu penyebab terjadinya

kegagalan pengobatan klinis infeksi fungi penyebab lain seperti imunitas

pasien yang lemah, bioavailabilitas obat yang rendah dan metabolisme

obat yang cepat. Penelitian Candrasari (2014) menunjukkan bahwa C.

albicans resisten terhadap antifungal azole, polyene, dan echinocandin.

Sebagian besar mekanisme molekuler resistensi C. albicans pada agen anti

fungi disebabkan oleh adanya mutasi gen. Mutasi ini akan mempengaruhi

ikatan obat dengan target enzim, biosintesis komponen dari struktur fungi,

dan konfirmasi senyawa dalam sel fungi.

C. Antibiotika

Antibiotik adalah senyawa pembasmi mikrobia, khususnya mikrobia

yang merugikan manusia (Ganiswarna, 1995). Suatu zat antimikrobia yang

ideal memiliki toksisitas selektif. Artinya obat tersebut haruslah bersifat

sangat toksik untuk mikrobia (parasit), tetapi relatif tidak toksik untuk inang.

Seringkali, toksisitas selektif lebih bersifat relatif dan bukan absolut, ini

berarti bahwa suatu obat dapat ditoleransi oleh inang, dapat merusak parasit.

Toksisitas selektif dapat berupa fungsi dari suatu reseptor khusus yang

dibutuhkan untuk pelekatan obat, atau dapat bergantung pada penghambatan

proses biokimia yang penting untuk parasit tetapi tidak untuk inang (Jawetz et

al., 1996). Beberapa contoh macam Antibiotik dalam bidang medis yaitu:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

1. Nystatin

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai antibiotik Nystatin

menurut Ganiswara et al. (1995), yaitu:

a. Asal dan Kimia

Nystatin merupakan suatu antibiotik poliena yang dihasilkan oleh

Streptomyces noursei. Obat berupa bubuk warna kuning kemerahan ini

bersifat higroskopis, berbau khas, sukar larut dalam kloroform dan

eter. Larutannya mudah terurai dalam air atau plasma. Nystatin tidak

diserap melalui saluran cerna, kulit ataupun vagina.

b. Aktivitas Anti jamur

Nystatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi, tetapi

tidak aktif terhadap bakteri, protozoa dan virus, jadi tidak

menimbulkan masalah superinfeksi.

c. Mekanisme Kerja

Nystatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. Aktivitas

anti jamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membran

sel jamur atau ragi terutama ergosterol. Akibatnya terbentuk ikatan

antara sterol dengan antibiotik ini akan terjadi perubahan permeabilitas

membran sel sehingga sel akan kehilangan berbagai molekul kecil.

d. Resistensi

Pengulangan subkultur dari C. albicans pada kenaikan konsentrasi

Nystatin mengakibatkan sedikit atau tidak ada perkembangan

resistensi. Tetapi spesies Candida yang lain (C. tropicalis, C.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

guillermondi, C. krusei dan C. stellatoides) menjadi agak resisten dan

juga tidak peka terhadap Amfoterisin pada waktu yang sama.

Resistensi terhadap Nystatin tidak terjadi secara in-vivo.

2. Amoxicillin

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai antimikrobia

Amoxicillin menurut Wattimena et al. (1991) yaitu:

a. Sifat Fisokimia

Amoxicillin diperoleh dengan cara mengasilasi asam 6-

aminopenisilinat dengan D-(-)-2-(p-hidroksifenil) glisin. Amoxicillin

berupa bubuk, hablur putih, berasa pahit, tidak stabil pada kelembaban

tinggi dan suhu di atas 37oC. Kelarutannya dalam air 1 g/370 ml,

dalam alkohol 1 g/2000 ml.

b. Spektrum dan Cara Kerja

Amoxicillin mempunyai spektrum antimikrobia yang identik dengan

ampisilin kecuali bahwa amoxicillin kurang aktif terhadap jenis

Shigella. Amoxicillin peka terhadap penisilinase.

c. Resistensi

Mikrobia yang resisten terhadap amoxicillin adalah bakteri yang

memproduksi penisilinase, Enterobacter, Pseudomonas, Clostridium.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

D. Mekanisme Kerja Antimikrobia

Menurut Jawetz et al. (1996) berdasarkan mekanisme kerja

antimikrobia dibagi menjadi lima, yaitu:

1. Mengganggu Metabolisme Mikrobia

Mikrobia membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Asam

folat yang dibutuhkan mikrobia didapatkan dari hasil sintesis asam amino

benzoat (PABA). Sulfonamida adalah contoh obat yang bekerja

menghambat metabolisme akan bersaing dengan PABA menghasilkan

analog asam folat nonfungsional, sehingga pertumbuhan sel mikrobia akan

terganggu.

2. Penghambatan Sintesis Dinding Sel

Dinding sel mikrobia terdiri dari peptidoglikan yaitu suatu kompleks

polimer mukopeptida (glikopeptida). Peptidoglikan ini mempertahankan

bentuk mikroorganisme dan menahan sel mikrobia, yang memiliki tekanan

osmotik yang tinggi di dalam selnya. Kerusakan pada dinding sel

(misalnya lisozim) atau hambatan pembentukannya dapat mengakibatkan

lisis pada sel. Lingkungan hipertonik menyebabkan kerusakan

pembentukan dinding sel, sehingga akan memunculkan terbentuknya

protoplas mikrobia yang bulat pada organisme bakteri gram-positif atau

sferoplas pada organisme bakteri gram-negatif. Jika protoplas atau

sferoplas ditempatkan pada lingkungan dengan tonisitas biasa, protoplas

atau sferoplas dapat menghisap cairan secara cepat, membengkak dan

pecah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

3. Penghambatan Fungsi Selaput Membran Sel

Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh selaput sitoplasma, yang bekerja

sebagai penghalang dengan permeabilitas selektif, melakukan fungsi

pengangkutan aktif, dan dengan demikian mengendalikan susunan dalam

dari sel. Jika integritas fungsi sel selaput sitoplasma terganggu,

makromolekul dan ion akan lolos dari sel, dan terjadilah kerusakan atau

kematian sel.

4. Penghambatan Sintesis Protein (Hambatan Translasi dan Transkripsi

Bahan Genetik)

Kelangsungan hidup sel mikrobia dibutuhkan adanya sintesis protein.

Sintesis protein berlangsung di ribosom, dengan bantuan mRNA dan

tRNA. Setiap ribosom memiliki dua subunit yaitu ribosom 30S dan

ribosom 50S. Ribosom 30S dan ribosom 50S nantinya bersatu menjadi

ribosom 70S untuk dapat menyintesis protein. Contoh obat yang berikatan

dengan komponen ribosom 30S adalah streptomisin yang menyebabkan

kode pada mRNA salah dibaca oleh tRNA saat sintesis protein sehingga

terjadi pembentukan protein yang abnormal dan nonfungsional bagi sel

mikrobia. Sedangkan golongan eritromisin, linkomisin, dan kloramfenikol

berikatan dengan ribosom 50S.

5. Penghambatan Sintesis Asam Nukleat

Antimikrobia yang berkerja menghambat sintesis asam nukleat sel

mikrobia adalah rifampisin dan quinolon. Rimfapisin berikatan dengan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

enzim polimerase RNA sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA sel

mikrobia.

Alkaloid umbi bawang dayak memiliki kemampuan

antimikrobia dengan cara penghambatan sintesis dinding sel mikrobia,

sehingga dinding sel mikrobia terbentuk tidak utuh dan menyebabkan sel

mikrobia lisis (Robinson, 1995). Selain itu, alkaloid berperan sebagai

antimikrobia dengan cara berinteraksi dengan dinding sel bakteri yang

kemudian menyebabkan kerusakan pada dinding sel dan juga dapat

berikatan dengan DNA bakteri yang menyebabkan kegagalan dalam

sintesis protein atau terjadinya penghambatan sintesis protein (Cowan,

1999).

E. Penggolongan Antimikrobia

Agen antimikrobia adalah bahan kimia sintetis atau alami yang

dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Aktivitas

antimikrobia adalah kadar terkecil yang dibutuhkan oleh agen antimikrobia

untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Penggolongan

antimikrobia dapat berdasarkan luas aktivitasnya, artinya aktif terhadap

banyak atau sedikit jenis kuman. Berdasarkan Akib (2010) penggolongan

antimikrobia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Antimikrobia Beraktivitas Sempit (Narrow-Spectrum)

Obat-obat ini terutama aktif terhadap beberapa jenis kuman saja, misalnya

penisilin-G dan penisilin-V, eritromisin, klindamisin yang hanya bekerja

terhadap kuman Gram-postif. Streptomisin, gentamisin, polimiksi-B dan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

asam nalidiksat khusus aktif terhadap kuman Gram-negatif. Nystatin,

griseofulvin dan amfoterisin B khusus aktif terhadap kuman fungi.

2. Antimikrobia Beraktivitas Luas (Broad-Spectrum)

Bekerja terhadap lebih banyak, baik jenis kuman Gram positif, Gram

negatif ataupun fungi baik yang bersifat aerob maupun anaerob antara lain

seperti kloramfenikol, tetrasiklin dan rifampisin.

Prinsip penggunaan antimikrobia yang bijak (prudent) yaitu

penggunaan antimikrobia dengan spektrum sempit, pada indikasi yang ketat

dengan dosis yang adekuat interval dan lama pemberian yang tepat. Spektrum

sempit ini perlu digunakan untuk mengurangi risiko terjadinya resistensi

mikrobia (Permenkes, 2011).

F. Pengukuran Aktivitas Antimikrobia

Aktivitas antimikrobia diukur secara in-vitro untuk menentukan

potensi zat antimikrobia dalam larutan, konsentrasinya dalam cairan tubuh dan

jaringan, dan kepekaan terhadap obat pada konsentrasi tertentu. Penentuan

nilai-nilai tersebut dapat dilakukan dengan dua metode utama yaitu metode

difusi dan metode dilusi. Metode difusi merupakan teknik secara kualitatif

karena metode ini hanya akan menunjukkan ada atau tidaknya senyawa

dengan aktivitas antimikrobia. Metode dilusi digunakan untuk penentuan

kuantitatif yang akan menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)

(Jawetz et al., 1996). Menurut Jawetz et al. (1996) berikut ini penjelasan

mengenai metode difusi dan dilusi:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

1. Metode Difusi

a. Metode Disc Diffusion (Tes Kirby-Bauer)

Metode yang paling sering dan standar digunakan adalah

metode difusi cakram. Cakram kertas filter yang mengandung

sejumlah obat tertentu ditempatkan di atas media padat yang telah

diinokulasi pada permukaan dengan organisme uji. Diameter zona

jernih inhibisi di sekitar cakram diukur setelah di inkubasi, sebagai

ukuran kekuatan inhibisi obat melawan organisme uji tertentu.

Metode difusi dipengaruhi banyak faktor fisik dan kimia selain

interaksi sederhana antara obat dan organisme (misalnya sifat media

dan kemampuan difusi, ukuran molekuler, dan stabilitas obat).

Menurut Pan et al. (2009), kemampuan suatu zat dalam


menghambat pertumbuhan mikrobia memiliki beberapa kriteria seperti
berikut:

Tabel 2. 2
Kategori Penghambatan Antimikrobia berdasarkan Zona Hambat
Diameter (mm) Respons Hambat Pertumbuhan
0-3 mm Lemah
3-6 mm Sedang
>6 mm Kuat

Bakteri Gram-positif dan Gram-negatif memiliki perbedaan


dalam hal kerentanan terhadap antibiotik. Umumnya bakteri Gram-
positif dapat dipengaruhi, sedangkan bakteri Gram-negatif mudah
resisten (Madigan et al., 2009).
b. Metode Cup-plate (Cetak Lubang)

Metode lubang yaitu membuat lubang pada agar padat yang

telah diinokulasi dengan mikrobia. Jumlah dan letak lubang


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian lubang diisi dengan

larutan yang akan diuji. Setelah diinkubasi, pertumbuhan mikrobia

diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling

lubang.

2. Metode Dilusi

Sejumlah zat antimikrobia dimasukkan ke dalam media padat atau

cair. Biasanya digunakan pengenceran dua kali lipat zat antimikrobia.

Media akhirnya diinokulasi dengan mikrobia yang diuji dan diinkubasi.

Tujuan akhir dari metode dilusi adalah untuk mengetahui seberapa banyak

jumlah zat antimikrobia yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan

atau membunuh mikrobia yang diuji. Uji kerentanan dilusi membutuhkan

waktu yang banyak, dan kegunaannya terbatas pada keadaan-keadaan

tertentu. Keuntungan uji dilusi adalah bahwa uji tersebut memungkinkan

adalah adanya hasil kuantitatif, yang menunjukkan jumlah obat tertentu

yang diperlukan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme

yang diuji (Jawetz et al., 1996).

Terdapat dua cara untuk melakukan metode ini, metode dilusi cair

(broth dilution test) dan metode dilusi padat (solid dilution test). Metode

dilusi digunakan untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM)

atau konsentrasi bunuh minimum (KBM) dari antimikrobia terhadap

mikrobia yang diujikan. Cara yang dilakukan adalah dengan membuat seri

pengenceran agen antimikrobia pada media cair yang ditambahkan dengan

mikrobia uji. Larutan uji agen antimikrobia pada kadar terkecil yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikrobia uji ditetapkan sebagai

kadar hambat minimum. Ukuran utama aktivitas antibiotik adalah Kadar

Hambat Minimum (KHM). KHM adalah kadar terendah antibiotik yang

secara sempurna menghambat pertumbuhan suatu mikroorganisme secara

in-vitro (Permenkes, 2011).

G. Alkaloid

Alkaloid merupakan senyawa kimia alami dengan kandungan dasar

atom nitrogen. Alkaloid berasal dari kata alkali yang menunjukkan kandungan

nitrogen. Alkaloid ditemukan dalam berbagai macam organisme seperti

bakteri, jamur, tumbuhan dan hewan yang merupakan kelompok dari

metabolit sekunder. Banyak alkaloid yang dapat dimurnikan dari ekstrak kasar

dengan ekstraksi asam basa (Kakhia, 2010). Unsur-unsur penyusun alkaloid

adalah karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen. (Sumardjo, 2009).

Kebanyakan alkaloid berupa padatan, pada temperatur kamar.

Beberapa diantara berupa cairan, namun tidak banyak jumlahnya. Alkaloid

yang pada umumnya berwarna putih atau tidak berwarna, tetapi ada pula yang

berwarna kuning, misalnya berberina. Alkaloid padat sukar larut dalam air,

tetapi larut dalam pelarut organik yang umum, seperti kloroform, alkohol,

benzena, dan eter. Sebaliknya, garam-garam alkaloid mudah larut dalam air,

tetapi hanya sedikit larut dalam alkohol (Sumardjo, 2009).

Kebanyakan alkaloid adalah amina tersier dan memiliki satu atau

lebih atom karbon asimetris. Alkaloid atau garam-garamnya banyak

digunakan sebagai obat. Alkaloid biasanya diturunkan dari asam amino, ada
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

yang rasanya pahit dan banyak alkaloid yang bersifat toksik terhadap tubuh.

Alkaloid yang sampai saat ini telah dikenal digolongkan atau diklasifikasikan

atas beberapa cara. Cara-cara yang umumnya dipakai ialah membagi alkaloid

berdasarkan struktur kimia, sumber-sumber tumbuhan yang diperoleh, atau

aktivitas farmakologis (Sumardjo, 2009).

1. Sifat Fisika Kimia

Alkaloid yang mengandung atom oksigen pada umumnya

berbentuk padat dan dapat dikristalkan kecuali pilolarpin, arekolin, nikotin

dan koniin cair dalam suhu biasa. Banyak diantaranya berasa pahit,

kadang-kadang berwarna misalnya berberin, sanguinarin, dan kheleritrin.

Kebanyakan alkaloid dapat memutar bidang polarisasi, tetapan ini

digunakan untuk penentuan kemurnian. Alkaloid yang tidak mengandung

atom oksigen pada umumnya berupa cairan, mudah menguap, dapat

diuapkan dengan air, misalnya koniin, nikotin, spartein dan mempunyai

bau yang kuat (Endarini, 2016).

Umumnya, alkaloid basa kurang larut dalam air dan larut dalam

pelarut organik meskipun beberapa pseudoalkaloid dan protoalkaloid

mudah larut dalam air. Senyawa ini bersifat alkali atau basa dan

tergantung dari adanya pasangan elektron bebas pada nitrogen (Endarini,

2016). Senyawa dalam suasana asam membentuk garam (sulfat, klorida,

dan lain-lain), terkristal baik, umumnya larut dalam air, tidak larut dalam

pelarut organik (Endarini, 2016).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

2. Penggolongan Alkaloid

Menurut Endarini (2016), alkaloid memiliki struktur yang

kompleks, sehingga ada beberapa penggolongan antara lain sebagai

berikut:

a. Penggolongan Alkaloida berdasarkan Biosintesis Asam Amino

1) True Alkaloid (Alkaloida Sejati)

Alkaloida sejati bersifat toksik, yaitu menunjukkan aktivitas

biologi secara luas, hampir bersifat basa, umumnya mengandung

nitrogen dalam cincin heterosiklik, berasal dari asam amino,

terdistribusi secara taksonomi terbatas, biasanya dalam tumbuhan

sebagai garam dari suatu asam organik. Beberapa perkecualian

dari kaidah ini adalah kolkisin dan asam aristolokat, yang tidak

basa dan tidak mempunyai cincin heterosiklik dan alkaloid

kuartener yang bersifat asam bukan basa.

2) Pseudo Alkaloid

Pseudo alkaloid tidak berasal dari asam amino. Biasanya

bersifat basa. Terdapat dua jenis alkaloid dari golongan ini, yaitu

alkaloid steroid dan alkaloid purin, misalnya alkaloid steroid

konesin, alkaloid purin kafein, teobromin, teofilin.

3) Proto Alkaloid

Proto alkaloid merupakan amina sederhana dengan nitrogen

asam aminonya tidak dalam cincin heterosiklik. Dibiosintesis dari


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

asam amino dan bersifat basa. Golongan senyawa ini sering

digunakan istilah amina biologi. Sebagai contoh: meskalin, efedrin,

dan N, N-dimetiltriptamin.

b. Penggolongan Alkaloida berdasarkan Ikatan Nitrogen

1) Ikatan primer (RNH2)

2) Ikatan sekunder (R2NH)

3) Ikatan tersier (R3N)

4) Ikatan kuartener (R4N+X-): seperti tubokurarina klorida dan

beberina klorida.

Berdasarkan penelitian Purba (2010), mengenai “Isolasi dan

Karakterisasi Senyawa Alkaloid dari Umbi Bawang Sabrang

(Eleutherine palmifolia)”, menunjukkan hasil isolat alkaloid umbi

bawang sabrang berupa senyawa golongan ikatan tersier.

c. Penggolongan Alkaloida berdasarkan Struktur Kimia Inti

Alkaloida

1) Alkaloida dengan struktur piridina dan piperidina.

Contoh: arekolina, lobelina dan nikotina.

2) Alkaloida dengan struktur inti tropan (hasil kondensasi pirolidina

dan piperidina).

Contoh atropina, hiosiamina, hiosina dll.

3) Alkaloida dengan struktur inti kuionolina.

Contoh: kinina, kuinidina, kinkonina, kinkonidina.

4) Alkaloida dengan struktur inti isokuinolina.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

Contoh: hidrastina, tubokurarina, emetina dan alkaloida opium.

5) Alkaloida dengan struktur inti indol.

Contoh: ergonovina, reserpenina, striknina.

6) Alkaloida dengan struktur inti imidazol.

Contoh: imidazol.

7) Alkaloida dengan struktur inti purina.

Contoh: kafeina dan teofilina.

8) Alkaloida dengan struktur inti steroida.

Contoh: protoveratrina.

3. Ekstraksi dan Pemurnian Alkaloid

Menurut Endarini (2016) ekstraksi didasarkan atas sifat umum sebagai

berikut:

a. Tumbuhan alkaloid umumnya terdapat dalam bentuk garam dengan

asam hidroklorida atau asam organik, kadang-kadang dalam bentuk

kombinasi terutama dengan tanin. Bahan harus diserbuk untuk

memudahkan pelarut mengekstrak menembus ke dalam sel dan untuk

mengubah alkaloid dari garamnya dengan memberikan larutan alkali.

b. Alkaloid basa pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam

pelarut organik kurang polar seperti kloroform, eter dan sejenisnya.

c. Garam alkaloid sebaliknya, pada umumnya larut dalam air, alkohol-

alkohol dan tidak larut dalam pelarut kurang polar.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

4. Alkaloid pada Umbi Bawang Dayak


a. Alkaloid dari Amarillidaceae

Berdasarkan tingkatan taksonomi kimia dari alkaloid Bawang

Dayak, memiliki alkaloid dari Amarillidaceae. Contoh alkaloid ini

yaitu norpluviine, yang merupakan ciri dari alkaloid Amarillidaceae

yaitu kelompok monokotil. Alkaloid ini berasal dari prekursor yang

sama melalui reaksi biosintesis yang sama seperti alkaloid 1-

benzylisoquinolines, yang menunjukkan bahwa dua kelompok berasal

dari asal yang sama. Hal tersebut dibuktikan dengan kelompok

Angiospermae yang merupakan monokotil dari nenek moyang

Policarpiacae. Selanjutnya, individu dari dua kelompok monokotil

yaitu Liliaceae dan Araceae memiliki kandungan

1-benzylisoquinolines aporphine alkaloid. Hal tersebut membuktikan

bahwa kelompok alkaloid dapat berevolusi secara terpisah, namun

bukti lain menunjukkan bahwa nenek moyang Policarpiacae

merupakan nenek moyang dari monokotil, distribusi metabolit tersebut

memberikan kontribusi untuk hal tersebut (Roberts dan Wink, 1998).

b. Alkaloid Aktif Antimikrobia

Tanaman menghasilkan banyak jenis produk alami. Bank data

NAPRALERT memiliki daftar 88.000 tanaman produk alami di tahun

1988, dengan sekitar 16.000 tanaman memiliki kandungan alkaloid.

Metabolit sekunder tersebut memerankan peran penting dalam

interaksi tanaman dengan lingkungan, contohnya yaitu

mempertahankan tanaman melawan mikroorganisme atau jenis


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

predator. Metabolit sekunder pada tanaman berperan dalam aktivitas

antimikrobia. Studi tentang peran tanaman sebagai antimikrobia

menunjukkan adanya aktivitas dari alkaloid (Roberts dan Wink, 1998).

Berdasarkan kelompok monokotil Liliaceae, bawang dayak

memiliki kecenderungan yang lebih terhadap golongan steroidal

alkaloid. Antibiotik mempunyai kerangka steroidal. Di beberapa

tanaman monokotil pada steroidal alkaloid ini ditemukan memiliki

aktivitas antimikrobia. Alkaloid jenis ini memiliki aktivitas yang sama

dengan beberapa antifungal komersial yang biasa. Alkaloid dengan

ikatan rangkap menunjukkan spektrum aktivitas antimikrobia spektrum

luas. Cara kerja antimikrobia dari steroidal alkaloid memiliki cara

kerja yang sama dengan antibiotik polyene (Roberts dan Wink, 1998).

H. Simplisia

Simplisia atau herbal merupakan bahan alamiah yang dipergunakan

sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali

dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan dengan suhu pengeringan

simplisia tidak lebih dari 60oC. Menurut Harborne (1987) alkaloid memiliki

sifat fisik kurang tahan panas, sehingga suhu pengeringan simplisia tidak lebih

dari 60oC, karena akan mengakibatkan beberapa komponen bioaktif

mengalami kerusakan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia

hewani dan simplisia pelikan (mineral). Simplisia segar adalah bahan alam

segar yang belum dikeringkan. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan

ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau isi sel yang dengan

cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau senyawa nabati lainnya yang dengan

cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia

murni. Serbuk simplisia nabati adalah bentuk serbuk dari simplisia nabati,

dengan ukuran derajat kehalusan tertentu. Sesuai dengan derajat

kehalusannya, dapat berupa serbuk sangat kasar, kasar, agak kasar, halus dan

sangat halus (Depkes, 2000).

Serbuk simplisia nabati tidak boleh mengandung fragmen jaringan dan

benda asing yang bukan merupakan komponen asli dari simplisia yang

bersangkutan antara lain telur nematoda, bagian dari serangga dan hama serta

sisa tanah. Simplisia disimpan di tempat terlindung dari sinar matahari dan

pada suhu ruang (Depkes, 2000).

I. Ekstraksi

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi

senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan

pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan

dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga

memenuhi baku yang telah ditetapkan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan

mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya

dipekatkan secara destilasi dengan pengurangan tekanan, agar bahan sesedikit

mungkin terkena panas (Depkes, 2000).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

Ekstrak cair adalah sediaan dari simplisia nabati yang mengandung

etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet. Jika tidak dinyatakan lain pada

masing-masing monografi tiap ml ekstrak mengandung senyawa aktif dari 1

gram simplisia yang memenuhi syarat. Ekstrak cair yang cenderung

membentuk endapan dapat didiamkan dan disaring atau bagian yang bening di

enap tuangkan (dekantasi). Ekstrak cair dapat dibuat dari ekstrak yang

sesuai (Depkes, 2000).

Tujuan ekstraksi adalah menarik atau memisahkan senyawa dari

campurannya atau simplisia. Menurut Endarini (2016) tujuan dari suatu proses

ekstraksi adalah untuk memperoleh suatu bahan aktif yang tidak diketahui,

memperoleh suatu bahan aktif yang sudah diketahui, memperoleh sekelompok

senyawa yang struktur sejenis, memperoleh semua metabolit sekunder dari

suatu bagian tanaman dengan spesies tertentu, mengidentifikasi semua

metabolit sekunder yang terdapat dalam suatu mahluk hidup sebagai penanda

kimia atau kajian metabolisme.

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam ekstraksi simplisia

yaitu metode maserasi. Maserasi dilakukan dengan melakukan perendaman

bagian tanaman secara utuh atau yang sudah digiling kasar dengan pelarut

dalam bejana tertutup pada suhu kamar (25 oC) selama sekurang-kurangnya 3

hari dengan pengadukan berkali-kali sampai semua bagian tanaman yang

dapat larut melarut dalam cairan pelarut. Pelarut yang digunakan adalah

alkohol atau kadang-kadang juga air. Campuran ini kemudian disaring dan

ampas yang diperoleh diperas untuk memperoleh bagian filtratnya saja. Cairan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

yang diperoleh kemudian dijernihkan dengan penyaringan atau dekantasi

setelah dibiarkan selama waktu tertentu. Keuntungan proses maserasi

diantaranya adalah bahwa bagian tanaman yang akan diekstraksi tidak harus

dalam wujud serbuk yang halus, tidak diperlukan keahlian khusus dan lebih

sedikit kehilangan alkohol sebagai pelarut seperti pada proses perkolasi atau

sokletasi. Sedangkan kerugian proses maserasi adalah perlunya dilakukan

pengadukan, pengepresan dan penyaringan, terjadinya residu pelarut di dalam

ampas, serta mutu produk akhir yang tidak konsisten (Endarini, 2016).

J. Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian terkait ekstrak bawang dayak (Eleutherine

palmifolia) sebagai antimikrobia yang relevan dengan penelitian ini, antara

lain:

1. Penelitian Purba (2010) mengenai “Isolasi dan Karakterisasi Senyawa

Alkaloid dari Umbi Bawang Sabrang (Eleutherine bulbus)”. Menunjukkan

hasil yaitu hasil isolasi dari ekstrak alkaloid kasar diperoleh dua isolat

murni yaitu isolat A (Rf 0,51) dan isolat B (Rf 0,57). Isolat A memberikan

absorbansi maksimum pada panjang gelombang 270 nm, dan isolat B 271

nm. Hasil spektrofotometri inframerah menunjukkan adanya gugus C-H

alifatis, CH2, C=O, C=C, C-N, C-O (isolat A) dan gugus C-H alifatis,

CH2, CH3, C=C, C-N dan C-O (isolat B). Sehingga kedua isolat alkaloid

tersebut merupakan senyawa amina tersier. Penelitian tersebut belum

dilakukannya uji farmakologi secara in-vitro.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

2. Penelitian Suhartini (2017) mengenai “Keefektifan Ekstrak Eleutherine

palmifolia L. terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Bakteri S. aureus dan

E. coli” menunjukkan hasil yaitu adanya zona hambat terhadap

pertumbuhan pertumbuhan bakteri S. aureus. Rata-rata pertumbuhannya

pada konsentrasi 25 % = 15,3 mm, 50 % = 18,6 mm, 75 % = 17,3 mm dan

100 % = 23,3 %. Bakteri E. coli memiliki rata rata-rata pertumbuhan tidak

begitu luas. Pada 3 konsentrasi zona hambat 6,6 mm sedangkan pada

konsentrasi 100% meningkat yaitu sebesar 9 mm. Analisis ANOVA

menunjukkan signifikansi 0,04 yaitu < 0,05 yang berarti bahwa ekstrak

bawang dayak mampu menghambat pertumbuhan S. aureus dan E. coli.

Penelitian tersebut belum dilakukan isolasi senyawa metabolit sekunder

terhadap mikrobia yang di uji.

K. Kerangka Berpikir

Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan

berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan

terutama masalah resistensi terhadap mikrobria. Perlu kiranya usaha

pengembangan obat tradisional untuk menunjang peningkatan taraf kesehatan

masyarakat. Bawang dayak sudah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai

pengobatan tradisional. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Purba

(2010), menunjukkan bahwa bawang dayak memiliki kandungan alkaloid

dengan senyawa amina tersier. Kemudian penelitian Suhartini (2017),

menunjukkan bahwa bawang dayak mampu menghambat pertumbuhan S.

aureus dan E. coli.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

Senyawa alkaloid banyak mempunyai kegiatan fisiologi yang

menonjol sehingga digunakan secara luas dalam bidang pengobatan terutama

antimikrobia. Banyaknya resistensi antibiotik, menjadikan salah satu

penggunaan obat herbal sebagai alternatif pengurangan munculnya resistensi

antibiotik terhadap mikrobia. Sehingga dalam penelitian ini, dilakukan

pengujian pengaruh daya hambat antimikrobia isolat alkaloid ekstrak umbi

bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap pertumbuhan

Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans ATCC

10231 secara in-vitro. Merujuk pada penggolongan aktivitas antimikrobia

sebagai aktivitas luas (broad spectrum) atau aktivitas sempit (narrow

spectrum). Berdasarkan latar belakang dan penelitian yang relevan maka

dapat disusun suatu kerangka pemikiran yang ditampilkan dalam bentuk

bagan sebagai berikut:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

Infeksi mikrobia patogen Bawang Dayak


(Eleutherine palmifolia)

Metabolit sekunder
(Alkaloid)
 Staphylococcus epidermidis
(bakteri Gram-positif) Aktivitas Antimikrobia
 Escherichia coli
(bakteri Gram-negatif)
Isolat alkaloid ekstrak bawang
 Candida albicans ATCC 10231
dayak (Eleutherine palmifolia)
(Fungi)

Uji daya hambat pertumbuhan mikrobia dengan metode disc


diffusion (Tes Kirby-Bauer) Konsentrasi 5,056 x 10-3 gr/ml,
2,528 x 10-3 gr/ml, dan 1,685 x 10-3 gr/ml

Zona hambat

KHM dengan metode dilusi padat

Gambar 2. 5
Bagan Kerangka Berpikir

L. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini yaitu:

1. Isolat alkaloid ekstrak umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia)

memiliki potensi daya hambat pertumbuhan mikrobia Staphylococcus

epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans ATCC 10231 serta

termasuk aktivitas golongan antimikrobia aktivitas luas (broad spectrum).

2. Terdapat konsentrasi terkecil isolat alkaloid ekstrak umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) yang masih mampu menghambat mikrobia secara

in-vitro.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Rancangan Penelitian dan Variabel Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni atau penelitian

ilmiah dalam skala penelitian laboratorium, dalam penelitian ini

mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui

prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah.

Penelitian ini merupakan uji eksperimental secara in-vitro dengan teknik

cakram kertas (Kirby-Bauer), untuk melihat daya hambat efek isolat

alkaloid bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap mikrobia

Escherichia coli, Staphylococcus epidermidis, dan Candida albicans

ATCC 10231.

Rancangan penelitian uji aktivitas antimikrobia ini menggunakan

metode isolasi senyawa alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine

palmifolia), dengan 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol

negatif dan perlakuan uji yang dilakukan dengan 3 kali pengulangan

(replikasi) pada tiap sampel.

2. Variabel Penelitian

Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Variabel bebas : Variasi konsentrasi isolat alkaloid bawang dayak

39
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

(Eleutherine palmifolia) yaitu konsentrasi 5,0x10-3

gr/ml, 2,5x10-3 gr/ml, dan 1,7x10-3 gr/ml.

b. Variabel terikat : Diameter zona hambat pertumbuhan mikrobia

Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan

Candida albicans ATCC 10231 dalam satuan

milimeter (mm) dan Konsentrasi Hambat

Minimum (KHM) dalam satuan gram per mili liter

(gr/ml).

c. Variabel kontrol : Asal tanaman, pelarut antimikrobia, suhu inkubasi,

waktu inkubasi, volume isolat alkaloid yang

diinokulasikan, teknik kultur mikrobia, kepadatan

suspensi mikrobia (30-300 koloni) dan media

kultur mikrobia.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2018 - 26 Maret

2018, di Laboratorium Pasteur, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan

Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Paingan

Universitas Sanata Dharma.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) yang telah berumur 3-4 bulan pasca tanam yang

diperoleh dari kebun peneliti daerah Desa Bedono, Kecamatan Jambu,

Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

2. Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah isolat alkaloid umbi bawang

dayak (Eleutherine palmifolia) dengan pelarut alkohol 96 % yang diuji

pada biakan mikrobia Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan

Candida albicans ATCC 10231.

D. Batasan Penelitian

1. Penelitian ini berfokus pada daya hambat penggunaan isolat alkaloid umbi

bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap pertumbuhan mikrobia

Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans

ATCC 10231 secara in-vitro untuk menentukan aktivitas antimikrobia.

2. Isolat alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) dibuat dalam

3 variasi konsentrasi yaitu variasi konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml sebagai

perlakuan pertama (T1), 2,5 x 10-3 gr/ml sebagai perlakuan kedua (T2) dan

1,7 x 10-3 gr/ml sebagai perlakuan ketiga (T3).

3. Bagian tanaman umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang

digunakan yaitu umbinya (bulbus bawang dayak).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

4. Umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang digunakan adalah umbi

bawang dayak berusia 3 bulan setelah penanaman yang dipanen secara

acak.

5. Mikrobia yang digunakan yaitu Staphylococcus epidermidis, Escherichia

coli dan Candida albicans ATCC 10231.

6. Parameter yang diukur adalah zona hambat yang terbentuk di sekitar

cakram kertas (paper-disc) dengan satuan milimeter (mm), dan konsentrasi

hambat Minimum (KHM) dengan parameter persen (%) kejernihan media

mikrobia terhadap konfirmasi nilai KHM yang didapat.

7. Media sebagai media pertumbuhan mikrobia digunakan media Nutrient

Agar (NA) untuk bakteri E. coli dan S. epidermidis serta media Potato

Dextrose Agar (PDA) untuk fungi C. albicans.

8. Metode yang digunakan dalam pengujian aktivitas antimikrobia isolat

alkaloid umbi bawang dayak adalah metode difusi Kirby-Bauer (difusi

cakram kertas). Sedangkan metode KHM yang digunakan merupakan

metode dilusi padat.

E. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu inkubator,

water bath, magnetic stirer, autoklaf, vortex mixer, hot plate, timbangan

analitik, timbangan digital, tabung reaksi, labu ukur, mikro pipet yellow

tip, jarum ose, keranjang, jangka sorong, batang pengaduk, spatula,

loyang, talenan, pisau, rak tabung reaksi, erlenmeyer, pipet tetes, pinset,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

pipet ukur 10 ml, pipet ukur 1 ml, corong gelas, gelas beaker 500 ml, gelas

beaker 100 ml, gelas beaker 1000 ml, gelas ukur 10 ml, gelas ukur 100 ml,

termometer raksa, colony counter, termometer ruang, cawan petri diameter

100 mm, gelas benda, gelas penutup, pemantik api, spreader, jangka

sorong, mikroskop binokuler, laminar air flow (LAF), enkas, dan kulkas.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi umbi

bawang dayak (Eleutherine palmifolia), kultur murni Staphylococcus

epidermidis, Escherichia coli dan Candida albicans ATCC 10231, media

Nutrient Agar (NA), media Potato Dextrose Agar (PDA), media Nutrient

Broth (NB), media Potato Dextrose Broth (PDB), akuades, alkohol 70 %,

alkohol 96 %, Amoxicillyn Tryhidrat 125 mg/5 ml, Nystatin 100.000 IU,

pH indikator, kertas saring, alumunium foil, kain kasa, kapas, plastik wrap,

kertas payung, plastik, karet gelang, NH4OH, HCL 2 N, natrium

hipoklorit, dietil eter, kristal violet, methylen blue, tinta cina, safranin,

minyak emersi, tusuk gigi, larutan iodine.

F. Prosedur Kerja
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang dimulai dari

tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap perlakuan, tahap pengamatan dan

pengumpulan data dan tahap analisis data. Tahap persiapan dilakukan

penyiapan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian. Tahap

pelaksanaan terdiri atas pembuatan simplisia, ekstrak dan isolasi alkaloid dari

umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia), pembuatan media uji NA, PDA,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

NB, dan PDB, sterilisasi alat dan media, rekultur mikrobia uji dan kultur

mikrobia ke dalam media NB dan PDB.

Tahap perlakuan terdiri dari pengenceran bertingkat dan pengujian

daya hambat antimikrobia isolat alkaloid bawang dayak (Eleutherine

palmifolia). Tahap pengamatan dan pengumpulan data, dilakukan pengamatan

terhadap hasil uji aktivitas antimikrobia dan pengumpulan data pengukuran

terhadap zona hambat yang terbentuk pada setiap variasi konsentrasi isolat

alkaloid bawang dayak (Eleutherine palmifolia) dan KHM. Tahap terakhir

yakni tahap analisis data yakni dilakukan analisis deskriptif statistik. Berikut

ini merupakan tiap rincian dari kegiatan, yaitu:

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan penelitian ini yaitu:

a. Pendataan alat dan bahan yang digunakan selama penelitian

dilaksanakan.

b. Penyediaan sampel umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) segar

dari kebun peneliti di daerah Desa Bedono, Kecamatan Jambu,

Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

c. Penyediaan mikroorganisme uji Staphylococcus epidermidis,

Escherichia coli dan Candida albicans ATCC 10231 dari Balai

Laboratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta, yang dikultur ulang

terlebih dahulu untuk meremajakan serta memperbanyak populasi

mikroorganisme tersebut. Langkah kerja yang dilakukan adalah:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

45

1) Media miring Nutrient Agar (NA) dan Potato Dextrose Agar

(PDA) disiapkan terlebih dahulu.

2) Biakan murni Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan

Candida albicans ATCC 10231 diambil satu ose, lalu dibuat isolasi

secara streak plate pada media Nutrient Agar (NA) dan Potato

Dextrose Agar (PDA) pada agar miring di tabung reaksi.

3) Hasil perbanyakan mikroorganisme dapat diamati setelah masa

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Sterilisasi Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian

disterilkan untuk menghindari terjadinya kontaminasi dalam

penelitian. Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian didetoks

terlebih dahulu menggunakan sabun antiseptik kemudian dicuci lalu

dikeringkan. Selanjutnya alat disterilkan dalam autoklaf dengan

tekanan 1 atm, suhu 121oC selama 20-25 menit, sedangkan bahan

disterilkan dengan tekanan 1 atm, suhu 121oC selama 15 menit. Alat-

alat yang disterilkan dengan menggunakan autoklaf ialah alat yang

biasanya terbuat dari kaca dan tahan terhadap panas seperti tabung

reaksi, cawan petri dan erlenmeyer. Alat lainnya seperti jarum

inokulum cukup dengan dipijarkan di atas api bunsen.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

46

b. Pembuatan Isolasi Alkaloid Ekstrak Bawang Dayak

1) Pembuatan Simplisia Bawang Dayak

Umbi bawang dayak yang telah dipanen (berusia 3-4 bulan

pasca tanam) terlebih dahulu dicuci dengan air untuk

menghilangkan gumpalan tanah yang melekat pada umbi

(Pupspadewi, 2013). Selanjutnya dijemur di bawah terik matahari

untuk menghilangkan kadar air akibat pencucian, kemudian

dikupas bagian kulitnya lalu dicuci bersih di bawah air mengalir

hingga benar-benar bersih. Kriteria umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) yang baik yaitu terlihat umbi bawang

yang segar, berwarna merah mengkilap, kompak atau tidak

terpisah-pisah lapisannya dan tidak tersayat oleh benda tajam.

Selanjutnya bawang dayak tersebut ditimbang sebanyak 1 kg.

Bawang dayak yang telah ditimbang selanjutnya disterilkan secara

kimia. Sterilisasi dilakukan dengan melarutkan 10 ml natrium

hipoklorit dalam 3 liter akuades (Benigna, 2105). Bawang dayak

tersebut direndam selama 15 menit lalu dibilas dengan

menggunakan akuades.

Pembuatan simplisia bawang dayak dilakukan dengan

bawang dayak diiris tipis dengan ketebalan 1-2 mm, kemudian

dikeringkan dengan cara dikering anginkan di luar ruangan tetapi

tidak terpapar sinar matahari secara langsung hingga diperoleh

simplisia yang bisa dipatahkan (Nur, 2011). Kemudian simplisia,


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

47

dimasukkan dalam blender hingga didapatkan serbuk bawang

dayak (Nur, 2011). Selanjutnya serbuk bawang dayak dapat

disimpan di dalam wadah tertutup pada suhu kamar dan di tempat

kering serta terlindung dari sinar matahari (Menkes, 1994).

2) Pembuatan Ekstrak Umbi Bawang Dayak

Kemudian dari serbuk simplisia tersebut, ditimbang tiap

100 gram serta ditambahkan 300 ml alkohol 96 %, sehingga

sampel terendam seluruhnya lalu ditutup dengan alumunium foil,

kemudian dihomogenkan menggunakan shaker dengan kecepatan

120 rpm selama 24 jam pada suhu ruang (Nur, 2011). Selanjutnya,

disaring dan didapatkan maserat. Tahap selanjutnya, ampas

masing-masing sampel dimaserasi kembali dengan alkohol 96 %

selama 24 jam di dalam shaker pada suhu 37oC dan diulangi

hingga hampir tidak berwarna (Nur, 2011). Hasil filtrat masing-

masing sampel dikumpulkan dan dipekatkan dengan water bath

pada suhu 40 oC untuk mendapatkan ekstrak kental bebas dari

pelarut (Nur, 2011). Ekstrak disimpan dalam kulkas bersuhu 4 oC

hingga digunakan. Menurut Depkes (2000), hasil rendemen

ekstrak yang diperoleh dihitung menggunakan rumus:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

48

3) Isolasi Alkaloid Ekstrak Umbi Bawang Dayak dengan Metode

Pengocokan Asam Basa

Ekstrak kental hasil maserasi ditambahkan HCL 2 N

sampai pH larutan menjadi 2-3, dan dilakukan pengadukan

dengan magnetic stirer selama 3 jam, kemudian disaring (Purba,

2010). Filtrat dibasakan dengan NH4OH sampai terbentuk

endapan hingga pH antara 9-10, kemudian dipartisi menggunakan

corong pisah dengan penambahan 20 ml dietil eter, sampai

terbentuk 2 lapisan yang tidak homogen, kemudian lapisan air dan

lapisan dietil eter dipisahkan (Purba, 2010). Lalu pada lapisan

bawah (garam alkaloid) ditambahkan HCL 2 N sampai pH larutan

menjadi 2-3, kemudian dibasakan kembali menggunakan NH4OH

sampai terbentuk endapan hingga pH antara 9-10, kemudian

dipartisi menggunakan corong pisah dengan penambahan 20 ml

dietil eter, sampai terbentuk lapisan. Perlakuan ini diulangi

sebanyak tiga kali (Purba, 2010). Garam alkaloid diambil dan

dikumpulkan menjadi satu dan diuapkan menggunakan water

bath, agar pelarut sisa dietil eter dapat terpisah.

4) Identifikasi Kandungan Alklaoid Umbi Bawang Dayak

(Eleutherine palmifolia)

Sebanyak 2 ml larutan uji diuapkan menggunakan cawan

porselin diatas water bath ± 5 menit (Bintang, 2010). Larutan uji

yang telah diuapkan, kemudian dilarutkan dengan 5 ml HCL 2 N


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

49

(Bintang, 2010). Menurut Endarini, (2011), larutan yang diperoleh

kemudian dibagi ke dalam 2 tabung reaksi, yaitu:

a) Tabung 1: Larutan HCL dengan penambahan 3 tetes pereaksi

Dragendorff

b) Tabung 2: Larutan HCL dengan penambahan 3 tetes pereaksi

Mayer

Hasil positif alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan

merah sampai jingga untuk penambahan pereaksi Dragendorff,

dan hasil positif alkaloid dengan pereaksi Mayer akan dihasilkan

endapan putih kekuningan (Bintang, 2010).

c. Pembuatan Media Uji

1) Pembuatan Media Uji Nutrient Agar (NA)

Pembuatan media uji Nutrient Agar (NA) dilakukan sesuai

dengan takaran pada kemasan yaitu dengan mencampurkan 2

gram NA dalam 100 ml akuades ke dalam beker gelas, kemudian

dipanaskan dengan hot plate dan diaduk pelan-pelan

menggunakan batang pengaduk. Media NA yang jadi akan

berwarna jernih dan tidak ada gumpalan-gumpalan agar.

Selanjutnya media dituang ke dalam erlenmeyer dan disterilkan

dengan autoklaf pada suhu 121oC tekanan 1 ATM selama 15

(Vadhani, 2011) menit. Media NA yang dituang pada cawan petri

diameter 100 mm sebanyak masing-masing 25 ml (Himedia,

2011). Pembuatan media Nutrient Agar (NA) digunakan untuk


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

50

media pertumbuhan mikrobia uji E. coli dan S. epidermidis dalam

kultur bakteri.

2) Pembuatan Media Uji Potato Dextrose Agar (PDA)

Pembuatan media uji Potato Dextrose Agar (PDA)

dilakukan sesuai dengan takaran pada kemasan yaitu dengan

mencampurkan 39 gram serbuk Potato Dextrose Agar (PDA)

kemudian ditambahkan 1000 ml akuades. Media dipanaskan

kembali sampai semua terlarut secara homogen menggunakan hot

plate dan magnetic stirer. Kemudian dituangkan ke dalam

erlenmeyer dan disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121oC

tekanan 1 ATM selama 15 menit (Vadhani, 2011). Media PDA

pada cawan petri yang digunakan untuk menguji aktivitas

antimikrobia berisi masing-masing 25 ml (Himedia, 2011.

Pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA) digunakan untuk

media pertumbuhan mikrobia uji C. albicans dalam kultur fungi.

3) Pembuatan Media Kultur Nutrient Broth (NB)

Pembuatan media uji Nutrient Broth (NB) dilakukan

sesuai dengan takaran pada kemasan yaitu dengan mencampurkan

15 gram serbuk Nutrient Broth (NB) kemudian ditambahkan 1000

ml akuades. Media dipanaskan kembali sampai semua terlarut

secara homogen menggunakan hot plate dan magnetic stirer.

Kemudian dituangkan ke dalam erlenmeyer dan disterilkan

dengan autoklaf pada suhu 121oC tekanan 1 ATM selama 15


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

51

menit (Vadhani, 2011). Pembuatan media Nutrient Broth (NB)

digunakan untuk media pertumbuhan mikrobia uji E. coli dan S.

epidermidis dalam penyiapan inokulum.

4) Pembuatan Media Kultur Potato Dextrose Broth (PDB)

Pembuatan media uji Potato Dextrose Broth (PDB)

dilakukan dengan mencampurkan 4 gram ekstrak kentang

kemudian ditambahkan 20 gram dextrose dan ditambahkan 1000

ml akuades (Vadhani, 2011). Media dipanaskan kembali sampai

semua terlarut secara homogen menggunakan hot plate dan

magnetic stirer. Kemudian dituangkan ke dalam erlenmeyer dan

disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121oC tekanan 1 ATM

selama 15 menit. Pembuatan media Potato Dextrose Broth (PDB)

digunakan untuk media pertumbuhan mikrobia uji C. albicans

dalam penyiapan inokulum.

d. Penyiapan Inokulum

1) Pembuatan Stok Mikrobia

Pembuatan stok (rekultur) mikrobia dengan cara

menginokulasikan 1 ose biakan murni mikrobia Staphylococcus

epidermidis dan Escherichia coli ke dalam media Nutrient Agar

(NA) miring pada tabung reaksi dan mikrobia Candida albicans

ATCC 10231 ke dalam media Potato Dextrose Agar (PDA)

miring pada tabung reaksi, kemudian diinkubasi pada suhu 37 oC

selama 24 jam.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

52

2) Pembuatan Inokulum Mikrobia Uji

Pembuatan suspensi inokulum mikrobia uji dilakukan

dengan cara diambil sebanyak 2 ose kultur E. coli dan

S. epidermidis kemudian dimasukkan ke dalam 50 ml Nutrient

Broth (NB) steril, sedangkan untuk C. albicans dimasukkan ke

dalam 50 ml Potato Dextrose Broth (PDB), kemudian diinkubasi

selama 24 jam dan dihomogenkan menggunakan shaker dengan

kecepatan 120 ppm dalam suhu ruang. Setelah dilakukan

pembuatan suspensi, kemudian dilakukan pengenceran bertingkat

pada masing-masing mikrobia uji hingga pengenceran 10-5.

e. Pembuatan Kontrol Media

Kontrol media dibuat sebagai kontrol kerja, dengan

menggunakan media NA untuk bakteri E. coli dan S. epidermidis,

serta media PDA untuk fungi C. albicans. Kontrol media tersebut

dibuat dengan media NA dan PDA yang diletakkan ke dalam cawan

petri diameter 100 mm, dalam artian membuat media NA dan PDA

kosong tanpa diinokulasi mikrobia uji. Kontrol media tersebut

kemudian diinkubasi bersama dengan sampel uji aktivitas

antimikrobia pada tempat dan suhu yang sama.

f. Identifikasi Mikrobia Uji


Identifikasi mikrobia uji dilakukan dengan cara mengamati

secara makroskopik dan mikroskopik. Pengamatan makroskopik

dilakukan dengan cara mengamati koloni mikrobia uji setelah

dilakukan kultur mikrobia dengan cara streak plate dan diinkubasi


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

53

selama 24 jam, kemudian koloni dapat diamati secara makroskopik.

Pengamatan makroskopik meliputi warna koloni, tepi koloni,

permukaan, dan bentuk koloni. Pengamatan mikroskopik meliputi

bentuk sel, hasil pewarnaan, dan ada tidaknya miselium.

Identifikasi mikrobia uji secara mikroskopik dilakukan dengan

uji pengecatan diferensial meliputi pengecatan Gram, pengecatan

Negatif dan pengecatan Endospora, kemudian diamati dengan

mikroskop. Pengecatan Gram, dan pengecatan Negatif digunakan

untuk mengidentifikasi bakteri E. coli, dan S. epidermidis, sedangkan

pengecatan Endospora digunakan untuk mengidentifikasi yeast C.

albicans ATCC 10321.

Berikut ini menurut Tarigan (1988) merupakan langkah-

langkah mengenai pengecatan Gram, pengecatan Negatif dan

pengecatan Endospora, yaitu sebagai berikut:

1. Pengecatan Gram

a. Kaca benda dibersihkan menggunakan alkohol dan dikering

anginkan.

b. Jarum ose disterilkan dengan cara dipijarkan di atas lampu

bunsen sebanyak 3 kali.

c. Diambil koloni bakteri sebanyak 1 ose dan diratakan pada

kaca benda seluas kira-kira 1 cm2.

d. Tunggu sampai kering dan difiksasi dengan dilewatkan pada

api bunsen.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

54

e. Objek yang telah difiksasi, ditetesi crystal violet 1 tetes dan

dibiarkan selama 1 menit.

f. Cuci crystal violet dengan air mengalir setelah sedikit kering

dengan pelan-pelan.

g. Diberikan larutan iodin sebanyak1 tetes, kemudian ditunggu

selama 1 menit. Cuci dengan air mengalir dan gunakan kertas

isap untuk mengambil air yang berlebihan tetapi harus dijaga

jangan sampai kering betul.

h. Decolorisasi dengan alkohol 96 % untuk menghilangkan

warna. Setelah kira-kira 15 detik, cuci kaca objek dengan air

mengalir kemudian dikeringkan.

i. Diberikan larutan safranin sebanyak 1 tetes, kemudian

ditunggu selama 1 menit.

j. Preparat segera dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan

k. Periksa dibawah mikroskop pada perbesaran 100x10 kali

dengan menggunakan minyak emersi. Jika sel-sel bakteri

berwarna merah, maka bakteri tersebut adalah Gram negatif,

sedangkan bakteri yang berwarna “blue purple” termasuk

golongan bakteri Gram positif.

2. Pengecatan Negatif

a. Kaca benda dibersihkan menggunakan alkohol dan dikering

anginkan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

55

b. Jarum ose disterilkan dengan cara dipijarkan di atas lampu

bunsen sebanyak 3 kali.

c. Diambil koloni bakteri sebanyak 1 ose dan diratakan pada

kaca benda seluas kira-kira 1 cm2.

d. Teteskan tinta cina pada kaca benda yang berisi bakteri,

kemudian dihomogenkan menggunakan tusuk gigi.

e. Preparat diratakan (dibuat apusan) menggunakan kaca benda

lain. Preparat dikering anginkan.

f. Periksa dibawah mikroskop pada perbesaran 100x10 kali

dengan menggunakan minyak emersi.

3. Pengecatan Endospora

a. Persiapkan preparat dari kedua kultur mikrobia yang akan

diwarnai

b. Kaca benda dibersihkan menggunakan alkohol dan dikering

anginkan.

c. Diambil koloni mikrobia sebanyak 1 ose dan diratakan pada

kaca benda seluas kira-kira 1 cm2.

d. Tetesi preparat dengan methylen blue kemudian

dihomogenkan menggunakan tusuk gigi.

e. Periksa dibawah mikroskop pada perbesaran 100x10 kali

dengan menggunakan minyak emersi.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

56

g. Uji Anti Mikrobia


1) Pembuatan Stok Variabel Konsentrasi

Variabel yang digunakan pada penelitian ini sejumlah 5

variabel yaitu kontrol negatif menggunakan akuades steril, kontrol

positif menggunakan Amoxicillin Tryhidrat 125 mg/5 ml untuk

bakteri E. coli dan S. epidermidis serta Nystatin 100.000 IU untuk

fungi C. albicans, variasi konsentrasi isolat bawang dayak yaitu

5,0 x 10-3 gr/ml sebagai perlakuan pertama (T1), 2,5 x 10-3 gr/ml

sebagai perlakuan kedua (T2) dan 1,7 x 10-3 gr/ml sebagai

perlakuan ketiga (T3) dengan pelarut alkohol 96 %. Pembuatan

variasi konsentrasi antimikrobia ini, dibuat menurut rumus seri

faktor pengenceran bertingkat dan deret logaritmik (Tyas 2016).

Perhitungan mengenai pembuatan variasi konsentrasi isolat umbi

bawang dayak terdapat pada lampiran 1.

2) Uji Daya Antimikrobia secara Difusi Sumuran

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode Kirby-Bauer (cakram kertas). Menurut Thronsberry

(1983) metode ini menggunakan paper disc atau cakram kertas

yang disterilkan. Paper disc yang digunakan yaitu paper disc

oxoid dengan diameter 6 mm. Paper disc yang telah steril

kemudian diambil menggunakan pinset dan ditetesi dengan

perlakuan uji berupa kontrol positif, kontrol negatif, dan variasi

konsentrasi isolat alkaloid umbi bawang dayak hingga pekat,

kemudian ditiriskan di atas kertas saring steril. Selanjutnya, paper


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

57

disc yang telah tiris diletakkan di atas permukaan media yang

telah diinokulasi mikrobia uji. Kemudian media tersebut

diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator pada suhu 37 oC,

setelah itu dapat diamati perubahan yang terjadi dan aktivitas zona

hambat yang terbentuk diukur menggunakan jangka sorong

dengan satuan milimeter (mm).

Metode difusi spread plate secara aseptik digunakan

untuk mengetahui aktivitas antimikrobia. Teknik spread plate

yang digunakan yaitu menggunakan teknik swab menggunakan

cotton swab. Mikrobia yang dipakai adalah suspensi mikrobia

pada pengenceran 10-5. Mikrobia diambil menggunakan cotton

swab kemudian diratakan dan disebarkan pada seluruh permukaan

media. Sebelumnya seluruh cawan petri dibagi menjadi 4 kuadran

untuk digunakan sebagai perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol

negatif dan konsentrasi isolat alkaloid umbi bawang dayak 5,0 x

10-3 gr/ml, 2,5 x 10-3 gr/ml, dan 1,7 x 10-3 gr/ml. Bila

diilustrasikan, peletakan paper disc tersebut tampak seperti pada

Gambar 3.1.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

58

Gambar 3. 1
Desain Letak Paper Disc pada Cawan Petri
Keterangan: (1) Paper disc dengan konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml
(T1); (2) Paper disc dengan konsentrasi 2,5 x 10-3
gr/ml (T2); (3) Paper disc dengan konsentrasi 1,7 x
10-3 gr/ml (T3); (4) Kontrol positif; (5) Kontrol negatif

Zona hambat yang terbentuk, ditandai dengan adanya

zona bening di sekitar paper disc. Pengukuran zona hambat

dilakukan secara vertikal dan horizontal. Menurut Kristanti (2014)

pengukuran diameter zona hambat yang terbentuk secara

matematis diukur menggunakan rumus sebagai berikut:

R=

Keterangan:

R: diameter zona hambat (mm)

a: zona hambat vertikal (mm)

b: zona hambat horizontal (mm)

Hasil pengukuran diameter zona hambat tersebut kemudian

dikurangi dengan diameter paper disc yang ada yaitu 6 mm, untuk

mendapatkan diameter zona hambat bersih yang dihasilkan dari


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

59

aktivitas antimikrobia isolat alkaloid yang terbentuk. Hasil

pengukuran tiga pengulangan tersebut kemudian di rata-rata.

3) Penentuan KHM dengan Metode Dilusi Padat

Kadar Hambat Minimum (KHM) diambil dari konsentrasi

terendah isolat bawang dayak, yang masih mampu menghambat

pertumbuhan mikrobia. Pengujian dilakukan dengan metode dilusi

padat. Pada metode ini, cara penanaman mikrobia uji dilakukan

dengan teknik pour plate, sebagai berikut:

a) Dinginkan terlebih dahulu media yang sudah disterilkan

sampai dengan suhu ± 45 oC.

b) Media dituang ke dalam cawan petri diameter 100 mm yang

telah diletakkan mikrobia uji serta sampel ekstrak dengan

konsentrasi terendah dengan perbandingan 1:1. Jumlah media

kultur yang digunakan sama seperti jumlah media yang

digunakan dalam pengujian aktivitas antimikrobia yaitu

sebanyak 10 ml. Sedangkan suspensi mikrobia uji dengan

pengenceran 10-5.

c) Sebelum dituang ke dalam cawan petri, mikrobia uji

dihomogenkan dengan menggunakan vortex terlebih dahulu

agar mikrobia tidak mengendap di dasar tabung reaksi.

d) Sampel isolasi alkaloid ekstrak bawang dayak dituang ke

dalam cawan petri diameter 100 mm sebanyak 0,1 ml.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

60

e) Hasil pour plate kemudian ditunggu hingga memadat

kemudian dibungkus menggunakan kertas payung

f) Pengamatan KHM dapat dilakukan.

Konsentrasi minimal yang diperoleh dari pengujian daya

hambat antimikrobia digunakan sebagai acuan dalam menentukan

konsentrasi sampel pada pengujian nilai KHM. Pembuatan

konsentrasi uji KHM ini, dilakukan dengan cara yang sama ketika

membuat variasi konsentrasi pada uji aktivitas antimikrobia, yaitu

menggunakan deret logaritmik dan faktor pengenceran.

Lamanya periode dalam pengujian KHM ini berdasarkan

dengan durasi kerja obat. Lamanya periode dalam pengujian

KHM ini berdasarkan dengan durasi kerja obat. Berdasarkan

Malseed (2005), durasi kerja obat Amoxicillin Tryhidrate yaitu 8

jam, sedangkan pada Nystatin yaitu 48 jam. Penetapan KHM pada

pengujian antimikrobia dengan metode dilusi padat, parameter

yang digunakan adalah persen (%) kejernihan pertumbuhan

mikrobia uji dalam media. Pengukuran parameter tersebut

menggunakan light meter, sebagai alat untuk mengukur persen

kejernihan pertumbuhan mikrobia uji dalam media. Pengukuran

light meter tersebut dilakukan dengan cara meletakkan posisi light

meter – media KHM yang diukur – lampu LED. Jarak antara light

meter dengan media KHM yang akan diukur yaitu 3 cm,

kemudian jarak antara media KHM yang akan diukur dengan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

61

lampu LED yaitu 5 cm. Pengukuran intensitas persen kejernihan

lampu LED perlu dilakukan terlebih dahulu menggunakan light

meter, hal tersebut digunakan sebagai cara untuk mengetahui

selisih persen (%) kejernihan lampu LED dengan persen (%)

kejernihan dari media KHM yang terukur. Hasil selisih tersebut

digunakan sebagai hasil uji persen (%) kejernihan media mikrobia

uji terhadap konfirmasi nilai KHM yang didapat.

G. Metode Analisis Data

Data dari hasil penelitian ini berupa data aktivitas zona hambat

antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak dan data nilai KHM. Metode

analisis data yang digunakan yaitu statistik deskriptif. Statistik deskriptif ini

digunakan untuk mendeskripsikan data sampel uji aktivitas daya hambat

antimikrobia isolat alkaloid terhadap mikrobia uji dan hasil KHM. Ukuran

statistik yang digunakan dalam deskripsi pada penelitian ini yaitu berupa

selisih, rata-rata, nilai tertinggi dan nilai terendah dari hasil pengukuran.

Penyajian data dari hasil pengukuran statistik, disajikan dalam bentuk tabel,

grafik dan gambar sebagai penyajian data yang komunikatif dan efisien yang

kemudian dianalisis secara deskriptif.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

62

H. Rancangan Pemanfaatan Hasil Penelitian dalam Pembelajaran

Penelitian yang diperoleh diharapkan bermanfaat dalam pembelajaran

Biologi khususnya pada materi Archaebacteria dan Eubacteria kelas X

semester 1 kurikulum 2013. Adanya penelitian ini siswa dapat mengetahui

pengaruh faktor luar yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Identifikasi Tanaman Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Terdapat banyak jenis umbi lapis, ada yang dimanfaatkan sebagai

obat ataupun digunakan sebagai bumbu dapur. Salah satu umbi lapis yang

berkhasiat obat yaitu umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia).

Masyarakat seringkali menyebut tanaman ini dengan bawang dayak, bawang

sabrang, bawang berlian, bawang hantu atau bawang hutan.

Gambar 4. 1
Tanaman Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Tanaman umbi bawang dayak yang digunakan pada penelitian ini

adalah Eleutherine palmifolia. Penelitian ini perlu adanya determinasi umbi

63
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

64

bawang dayak agar sesuai dengan sampel penelitian yang dimaksud.

Tanaman bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang digunakan berasal dari

lokasi kebun peneliti di desa Bedono Krajan, Kecamatan Jambu, Kabupaten

Semarang, Jawa Tengah. Sampel penelitian dibawa ke Laboratorium

Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma untuk dicocokkan dengan

kunci determinasi.

Identifikasi dilakukan untuk mendapatkan suatu spesies yang

spesifik dan tepat sasaran, karena tumbuhan ini memiliki banyak spesies.

Pada penelitian ini dilakukan determinasi umbi bawang dayak dengan cara

mengamati ciri morfologi tanaman kemudian mencocokkan dengan literatur

buku kunci determinasi Flora of Java Jilid 3 yang ditulis oleh Backer dan

Brink (1965). Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) memiliki ciri

tumbuhan berbiji (spermatophyta) dan termasuk tumbuhan biji tunggal

(monocotyledoneae).

Gambar 4. 2
Morfologi Daun dan Batang Bawang Dayak
(a) Daun Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia);
(b) Batang Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Hasil pengamatan morfologi tanaman bawang dayak di dapatkan ciri

daun tunggal berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing, tipe pertulangan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

65

daun sejajar dengan tepi daun licin dan bentuk daun berbentuk pita, bagian

atas permukaan daun berwarna hijau tua sedangkan di bagian permukaan

bawah daun berwarna hijau muda. Pengamatan morfologi pada batang

didapatkan ciri-ciri yaitu batang tumbuh tegak atau merunduk dengan tipe

batang rumput (calmus), dan permukaan batang licin (laevis).

a b
) )

Gambar 4. 3
Morfologi Umbi dan Bunga Bawang Dayak
(a) Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia);
(b) Bunga Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Pengamatan morfologi umbi bawang dayak, diperoleh ciri-ciri yaitu

umbi berlapis berwarna merah menyala dengan permukaan umbi mengkilap,

berbentuk lonjong atau bulat telur. Pengamatan morfologi bunga bawang

dayak didapatkan ciri bunga berwarna putih, simetri bunganya bersifat

aktinomorf dan tunggal dengan jumlah kelopak bunga yaitu 6.

Pengamatan ciri-ciri morfologi tanaman bawang dayak berupa daun,

batang, umbi dan bunga, menunjukkan ciri yang sama sesuai dengan buku

kunci determinasi Backer dan Brink (1965). Sehingga dari hasil tersebut,

sampel tanaman yang digunakan untuk penelitian benar dari spesies

Eleutherine palmifolia.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

66

B. Serbuk Simplisia Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Tanaman bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang digunakan

untuk penelitian berasal dari lokasi yang sama yaitu di kebun peneliti di desa

Bedono Krajan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) yang dipakai adalah umbi

bawang dayak yang berusia 3-4 bulan dengan kriteria bawang dayak yang

baik (Puspadewi, 2013). Pemilihan bawang dayak pada usia tersebut karena

produksi metabolit sekunder diharapkan sudah maksimal. Apabila

pemanenan dilakukan terlalu awal akan berakibat pada produksi metabolit

sekunder yang rendah. Jika pemanenan dilakukan terlalu lambat, maka dapat

mengakibatkan mutu yang rendah, karena pemanenan akan berpengaruh pada

kualitas dan kuantitas suatu tanaman. Kriteria umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) yang baik yaitu terlihat umbi bawang yang segar,

berwarna merah mengkilap, kompak atau tidak terpisah-pisah lapisannya dan

tidak tersayat oleh benda tajam. Tahap yang dilakukan sebelum pengeringan

yaitu dengan memotong umbi bawang dayak ketebalan 1-2 mm, supaya

proses pengeringan yang dilakukan cepat dan sempurna (Nur, 2011).

Pengeringan dilakukan dengan cara dikering anginkan diluar ruangan tetapi

tidak terpapar sinar matahari secara langsung (Nur, 2011).

Tujuan pengeringan yaitu untuk mempermudah proses pembuatan

serbuk simplisia dan mengurangi kadar air, sehingga simplisia tidak mudah

ditumbuhi kapang dan bakteri. Jika kadar air masih tinggi maka aktivitas

enzim juga tinggi untuk mengubah kandungan kimia dalam simplisia menjadi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

67

produk lain, yang kemungkinan memiliki efek yang berbeda dengan senyawa

induknya. Beberapa enzim perusak kandungan kimia antara lain hidrolase,

oksidase, dan polymerase (Pramono, 2005). Proses pengeringan harus

terhindar dari sinar matahari langsung, hal ini disebabkan karena cahaya

matahari dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia pada sampel, selain

itu senyawa-senyawa yang terdapat pada sampel akan mengalami kerusakan

akibat panas dan sinar yang bersumber dari sinar matahari langsung. Menurut

Evans (2009), penyebab kerusakan senyawa metabolit sekunder termasuk

alkaloid yaitu bisa disebabkan oleh radiasi sinar gamma, sinar UV-B dan

sinar UV-C. Pengeringan akan lebih cepat dilakukan pada suhu tinggi, tetapi

hal tersebut dapat mengakibatkan beberapa komponen mengalami kerusakan

(Harborne, 1987). Menurut Robinson (1995) alkaloid memiliki sifat fisik

kurang tahan panas.

Pengeringan dilakukan sampai umbi bawang dayak (Eleutherine

palmifolia) kering ditunjukkan dengan perubahan warna umbi bawang dayak

yang lebih gelap dan terlihat cokelat kemerahan dibandingkan sebelum

dikeringkan, dan mudah dipatahkan sehingga mudah untuk dibuat serbuk

simplisia. Pembuatan serbuk simplisia kering (penyerbukan) bertujuan untuk

memperkecil partikel dan memperbesar permukaan serbuk, sehingga akan

meningkatkan daya efektif dan efisien ketika dilakukan proses selanjutnya

yaitu ekstraksi, dalam kata lain pelarut mudah masuk ke dalam sel sehingga

proses penyarian optimal. Serbuk simplisia yang telah didapat, disimpan

untuk proses ekstraksi lebih lanjut. Syarat penyimpanan serbuk simplisia


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

menurut Menkes (1994), yaitu serbuk yang telah dibuat disimpan dalam

wadah tertutup, pada suhu kamar, di tempat kering dan terlindung dari sinar

matahari.

a b c
)

Gambar 4. 4
Pembuatan Serbuk Simplisia Umbi Bawang Dayak
(a) Pengumpulan Umbi Bawang Dayak; (b) Proses Pengeringan Bawang
Dayak; (c) Pembuatan Serbuk Simplisia Bawang Dayak
(Sumber: dokumentasi pribadi)

C. Ekstraksi Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Proses ekstraksi bawang dayak dilakukan dengan metode maserasi

kinetik. Prinsip dari proses ekstraksi agar senyawa fitokimia yang memiliki

sifat yang sama dengan pelarut akan tertarik dan terlarut ke dalam pelarutnya

sehingga senyawa kimia tertentu dapat dipisahkan. Alasan pemilihan metode

maserasi karena metode ini tidak menggunakan pemanasan sehingga senyawa

fitokimia yang bersifat termolabil yang akan diambil tidak terurai atau rusak.

Pelarut yang digunakan dalam penelitian berupa alkohol 96 %.

Alkohol digunakan sebagai pelarut karena alkohol merupakan pelarut yang

bersifat semi polar, sehingga dapat digunakan untuk menarik keluar senyawa

yang memiliki tingkat kepolaran dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

69

dalam sel (Wijesekera, 1991). Menurut Depkes (2000), berlaku aturan bahwa

pelarut yang diperbolehkan adalah air dan alkohol (etanol) serta campurannya.

Menurut Puspadewi (2013), alkohol dan air digunakan sebagai pelarut karena

bersifat polar dan universal yang dapat melarutkan hampir semua metabolit

sekunder yang terkandung dalam simplisia, alkohol memiliki nilai toksisitas

yang lebih rendah jika dibandingkan pelarut organik lainnya dan tahan lama

serta mudah diperoleh. Alkohol yang digunakan yaitu alkohol 96 %, yang

memiliki kandungan air sedikit, sehingga memiliki aktivitas antimikrobia.

Senyawa polar merupakan senyawa yang larut di dalam air. Senyawa alkaloid

yang diambil pada umbi bawang dayak bersifat polar sehingga proses

ekstraksi menggunakan pelarut polar.

a b c
) ) )

Gambar 4. 5
Ekstraksi Umbi Bawang Dayak
(a) Maserasi umbi bawang dayak dengan alkohol 96 %; (b) Hasil
maserasi umbi bawang dayak; (c) Ekstrak kental umbi
bawang dayak
(Sumber: dokumentasi pribadi)
Maserasi dilakukan selama 24 jam dengan pengadukan menggunakan

shaker pada kecepatan 120 rpm. Pengadukan bertujuan untuk mempercepat

kontak antara sampel dengan pelarut. Kemudian larutan disaring

menggunakan kertas saring dan diperoleh filtrat dengan warna merah


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

70

kehitaman. Kemudian filtrat dipekatkan dengan menggunakan water bath

suhu 40 oC sehingga diperoleh ekstrak kental. Proses pemekatan ini dilakukan

untuk menghilangkan pelarut dan meningkatkan konsentrasi larutan agar lebih

tinggi (Voight, 1995). Hasil akhir ekstraksi yang diperoleh berupa ekstrak

kental alkoholik umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) sebanyak 8,090

gram berwarna cokelat kehitaman. Hasil rendemen ekstrak yang diperoleh

dihitung menggunakan rumus:

Penggunaan rumus tersebut diperoleh % rendemen ekstrak kental yaitu

sebesar 4,045 %. Hasil perolehan ekstrak umbi bawang dayak dapat dilihat

pada Tabel 4.1.

Tabel 4. 1
Hasil Ekstrak Umbi Bawang Dayak dengan Maserasi
Wujud Kental
Warna Cokelat kehitaman
Bau Menyengat
% rendemen 4,045 %

D. Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

Penelitian ini dilakukan isolasi alkaloid dengan metode pengocokan

asam-basa yang bertujuan untuk memisahkan senyawa polar dan senyawa non

polar. Ekstrak kental hasil maserasi diambil sebanyak 8,090 gram dan

dilakukan penambahan HCL 2 N sampai pH larutan menjadi 2-3. Penambahan

HCL bertujuan untuk memberikan suasana asam, sehingga alkaloid menjadi

garam alkaloid dan kelarutannya dalam air semakin besar (Robinson, 1995).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

71

a b
) )

Gambar 4. 6
Proses Isolasi Alkaloid Umbi Bawang Dayak
(a) Proses Isolasi Alkaloid Umbi Bawang Dayak dengan Dietil Eter;
(b) Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Lapisan asam yang terkumpul menjadi satu selanjutnya dilakukan

proses pembasaan dengan menggunakan NH4OH 25 % sampai terbentuk

endapan dan pH larutan berkisar 9-10. Setelah dilakukan penambahan basa,

dilakukan pemisahan ekstrak yang tidak larut, dengan menggunakan kertas

saring. Garam alkaloid yang dihasilkan, dipartisi menggunakan corong pisah

dengan menggunakan dietil eter sebanyak 20 ml. Setelah penambahan dietil

eter, dilakukan pengocokan searah agar dietil eter dan larutan basa mengalami

kontak yang sempurna. Larutan di dalam corong pisah didiamkan sampai

terbentuk dua lapisan yang tidak saling bercampur, lapisan atas merupakan

lapisan dietil eter berwarna kekuningan dan lapisan bawah adalah garam

alkaloid berwarna merah kehitaman. Ekstraksi dengan dietil eter ini dilakukan

agar senyawa yang sifatnya mirip dengan dietil eter terambil secara sempurna.

Lapisan bawah yang berupa garam alkaloid diambil dan dikumpulkan menjadi

satu dan diuapkan menggunakan water bath, agar pelarut sisa dietil eter dapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

72

terpisah. Hasil akhir isolasi alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine

palmifolia) yang diperoleh sebesar 80 ml.

E. Identifikasi Kandungan Alkaloid Umbi Bawang Dayak (Eleutherine

palmifolia)

Uji tabung yang dilakukan merupakan uji alkoloid. Uji tabung

merupakan metode analisis kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui

kandungan kimia yang terdapat dalam umbi bawang dayak. Uji tabung

digunakan sebagai metode untuk identifikasi kandungan kimia yang diduga

terdapat dalam umbi bawang dayak. Metode ini dipilih dikarenakan metode ini

sederhana dan cepat.

Pengujian uji alkaloid ini, digunakan pereaksi Mayer dan Dragendorff.

Menurut Bintang (2010), hasil positif terhadap alkaloid dengan pereaksi

Dragendorff akan dihasilkan endapan merah sampai jingga, sedangkan hasil

positif terhadap alkaloid dengan pereaksi Mayer akan dihasilkan endapan

putih kekuningan. Apabila paling sedikit dua dari reaksi menghasilkan nilai

positif maka menunjukkan adanya senyawa alkaloid (Depkes, 1986). Hasil

identifikasi kandungan alkaloid ekstrak umbi bawang dayak dapat dilihat pada

Tabel 4.2.

Tabel 4. 2
Hasil Identifikasi Kandungan Alkaloid Ekstrak Umbi Bawang Dayak
Jenis Pereaksi Pengamatan Hasil
Dragendorff Endapan merah kehitaman +
Mayer Endapan putih kekuningan +
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

73

Alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan berupa garam organik.

Pengujian alkaloid terdapat penambahan asam klorida (HCL) 2 N. Tujuan

penambahan HCL adalah karena alkaloid bersifat basa sehingga biasanya

diekstrak dengan pelarut yang mengandung asam agar terbentuk garam

alkaloid yang larut air (Harborne, 1987). Larutan umbi bawang dayak

kemudian dilakukan pengujian dengan memberikan 3 tetes pereaksi

Dragendorff pada tabung 1 dan pereaksi Mayer pada tabung 2. Berdasarkan

hasil skrining fitokimia didapatkan larutan uji dengan terbentuk endapan

berwarna merah kehitaman setelah penambahan pereaksi Dragendorff dan

terbentuk endapan putih kekuningan setelah penambahan pereaksi Mayer,

yang artinya umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) benar mengandung

senyawa alkaloid.

Gambar 4. 7
Hasil Identifikasi Kandunga Alkaloid Ekstrak Umbi Bawang Dayak
(a) Hasil uji dengan Alkaloid dengan pereaksi Mayer
(b) Hasil uji Alkaloid dengan pereaksi Dragendorff
Prinsip uji alkaloid terjadi reaksi pengendapan karena adanya

penggantian ligan. Atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas

alkaloid akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan ion logam K+ yang

berasal dari pereaksi Dragendorff, reaksi tersebut dapat dilihat pada Gambar
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

74

4.1 (Miroslav, 1971). Penambahan pereaksi Mayer terbentuk endapan putih,

hal tersebut disebabkan karena atom nitrogen pada alkaloid akan bereaksi

dengan ion logam K+ yang berasal dari pereaksi Mayer, reaksi tersebut dapat

dilihat pada Gambar 4.2 (Miroslav, 1971). Penambahan pereaksi alkaloid

tersebut (Mayer dan Dragendorff) akan membentuk kompleks kalium-alkaloid

yang akan mengendap (Sangi et al., 2008).

Gambar 4. 8
Reaksi antara Alkaloid dengan Pereaksi Dragendorff
(Sumber: Miroslav, 1971)

Gambar 4. 9
Reaksi antara Alkaloid dengan Pereaksi Mayer
(Sumber: Miroslav, 1971)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

75

F. Uji Aktivitas Antimikrobia Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak

(Eleutherine palmifolia)

Uji ini merupakan tahap awal yang bertujuan untuk memastikan

adanya aktivitas antimikrobia dari isolat alkaloid umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) terhadap bakteri gram positif berupa S. epidermidis,

bakteri gram negatif berupa E. coli dan fungi berupa C. albicans.

1. Sterilisasi Alat dan Bahan

Alat-alat yang akan digunakan dalam pengujian aktivitas

antimikrobia disterilisasi terlebih dahulu. Media kultur berupa NA, PDA,

PDB, dan NB juga disterilisasi terlebih dahulu menggunakan autoklaf.

Tujuan sterilisasi ini yaitu membebaskan benda atau substansi yang akan

digunakan dari semua kehidupan mikroorganisme. Proses untuk

mendapatkan keadaan steril dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan metode fisik yaitu menggunakan autoklaf dan metode kimia

dengan antiseptik.

2. Pelarut Isolat Alkaloid dan Variasi Konsentrasi Larutan Uji

Penentuan variasi konsentrasi aktivitas antimikrobia pada

penelitian ini, dinyatakan dalam “unit” atau “mg” per ml berdasarkan

pustaka Baku Pembanding Farmakope Indonesia (BPFI). Variasi

konsentrasi tersebut juga berdasarkan studi yang dilakukan Meyer (1982),

yang menerangkan bahwa senyawa kimia dikatakan berpotensi aktif

memiliki tingkat toksisitas bila mempunyai nilai <1000 mg/ml. Oleh

karena itu pembuatan konsentrasi dalam penelitian ini dilakukan dengan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

76

membuat nilai variasi konsentrasi <1000 mg/ml, dengan anggapan isolat

alkaloid berpotensi toksik dan mengandung senyawa bioaktif

antimikrobia. Pembuatan variasi konsentrasi antimikrobia ini, dibuat

menurut rumus seri faktor pengenceran bertingkat dan deret logaritmik

(Tyas, 1971).

T1 T2 T3

Gambar 4. 10
Variasi Konsentrasi Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Penelitian ini, isolat alkaloid umbi bawang dayak dibuat dalam

variasi konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml sebagai perlakuan pertama (T1),

2,5 x 10-3 gr/ml sebagai perlakuan kedua (T2) dan 1,7 x 10-3 gr/ml sebagai

perlakuan ketiga (T3). Pembuatan variasi konsentrasi merupakan tahap

awal untuk mengetahui konsentrasi minimum dari isolat alkaloid umbi

bawang dayak. Pelarut yang digunakan untuk melarutkan isolat alkaloid

untuk pengujian aktivitas antimikrobia yaitu akuades steril. Penggunaan

akuades steril sebagai pelarut yaitu karena sifatnya sebagai pelarut

universal dan bersifat polar, sehingga dapat bereaksi dengan baik terhadap

isolat garam alkaloid, dalam artian akuades yang bersifat polar diharapkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

77

mampu menarik senyawa metabolit sekunder. Menurut Kakhia (2010)

alkaloid merupakan senyawa yang bersifat polar. Selain itu, penggunaan

akuades membantu memudahkan reaksi antara isolat alkaloid sebagai agen

antimikrobia dengan media kultur.

3. Identifikasi Mikrobia Uji

Tujuan identifikasi mikrobia yaitu untuk memastikan bahwa kultur

mikrobia uji yang digunakan benar merupakan kultur E. coli,

S. epidermidis, dan C. albicans ATCC 10321. Sertifikat pernyataan

mengenai kultur murni E. coli, S. epidermidis, dan C. albicans ATCC

10321 yang diperoleh dari BLK Yogyakarta terdapat dalam lampiran 2.

Identifikasi mikrobia yang dilakukan yaitu dengan uji pengecatan

diferensial meliputi pengecatan Gram, pengecatan Negatif dan pengecatan

Endospora. Tujuan pengecatan ini yaitu selain untuk melihat bentuk

mikrobia, pengecatan ini juga bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat

mikrobia terhadap cat dan untuk mengetahui bagian-bagian sel mikrobia

yang tidak dapat diamati dengan pengecatan sederhana.

Uji identifikasi mikrobia E. coli, S. epidermidis, dan C. albicans

ATCC 10321 dilakukan dengan pengecatan Gram, pengecatan Negatif dan

pengecatan Endospora, kemudian diamati dengan mikroskop. Pengecatan

Gram, dan pengecatan Negatif digunakan untuk mengidentifikasi bakteri

E. coli, dan S. epidermidis, sedangkan pengecatan Endospora digunakan

untuk mengidentifikasi yeast C. albicans ATCC 10321.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

78

Menurut Brooks et al. (2010), S. epidermidis pada pemeriksaan

makroskopik membentuk koloni berwarna putih atau kuning, bulat dengan

tepi yang jelas, sedangkan pada mikroskopik memiliki sel berbentuk

stafilokokus tunggal, berpasangan atau bergabung dan akan terlihat

memberikan pewarnaan gram positif yang kuat (berwarna keunguan)

tetapi pada biakan yang sudah tua sel kokus akan berubah menjadi bakteri

gram negatif (berwarna kemerahan). Menurut Moder (2008), E. coli pada

pemeriksaan makroskopik membentuk koloni yang bundar, cembung,

halus dengan tepi yang nyata sedangkan pada pengamatan makroskopik

memiliki sel yang berbentuk batang pendek pada pemeriksaan

mikroskopik dan akan terlihat memberikan pewarnaan gram negatif yang

kuat (berwarna merah). Menurut Brooks et al. (2010), pada pemeriksaan

makroskopik pada media Sabouraud’s agar, koloni C. albicans berwarna

putih atau kuning krim, halus, lunak dan berbentuk seperti ragi, sedangkan

ciri-ciri mikroskopis C. albicans yaitu Candida tampak sebagai ragi

(yeast) lonjong atau sferis atau blastokonidia, budding, C. albicans dapat

membentuk sel-sel tunas yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa).

Hasil dari pengamatan secara makroskopik dan mikroskopik pada

mikrobia uji E. coli, S. epidermidis, dan C. albicans ATCC 10321 dapat

dilihat pada Tabel 4.3 dan 4.4, yaitu sebagai berikut:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

79

Tabel 4. 3
Hasil Pengamatan Makroskopik Mikrobia Uji E. coli, S. epidermidis
dan C. albicans ATCC 10321
Candida
Staphylococcus
Kriteria Uji Escherichia coli albicans ATCC
epidermidis
10321
Warna koloni Putih kekuningan Putih kekuningan Putih susu
Tepi Koloni Jelas Jelas Jelas

Permukaan Halus buram mengkilap halus mengkilap halus

Bulat
Bentuk koloni Bulat Bulat
mencembung

Tabel 4. 4
Hasil Pengamatan Mikroskopik Mikrobia Uji E. coli, S. epidermidis
dan C. albicans ATCC 10321
Candida
Staphylococcus albicans
Kriteria Uji Escherichia coli
epidermidis ATCC
10321

Bentuk sel Batang pendek Stafilokokus Lonjong

Merah Ungu
Pewarnaan Gram -
(gram negatif) (gram positif)
Pewarnaan Khamir
-
endospora - (yeast)

Miselium - - -
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

80

a b d

c d

Gambar 4. 11
Hasil Mikroskopik Pengecatan Mikrobia Uji E. coli, S. epidermidis,
dan C. albicans
Keterangan: (a) Pengecatan Negatif Bakteri E. coli; (b) Pengecatan
Negatif Bakteri S. epidermidis; (c) Pengecatan Gram
Bakteri E. coli; (d) Pengecatan Gram Bakteri S.
epidermidis; (e) Pengecatan Endospora Yeast C. albicans

Hasil penelitian yang diperoleh yaitu S. epidermidis berbentuk

stafilokokus dan menghasilkan warna ungu pada pengecatan Gram.

Sedangkan pada E. coli berbentuk batang pendek dan berwarna merah

pada pengecatan Gram. Kemudian pada C. albicans ATCC 10321 memilki

bentuk sel lonjong dan termasuk khamir. Hasil yang diperoleh dalam

penelitian ini menunjukkan hasil yang sesuai dengan pustaka Brooks et al.

(2010), untuk E. coli dan C. albicans, sedangkan identifikasi bakteri uji

S. epidermidis sesuai dengan pustaka Moder (2008). Berdasarkan hasil uji

identifikasi yang diperoleh menunjukkan bahwa mikrobia uji yang

digunakan benar merupakan E. coli, S. epidermidis, dan C. albicans

ATCC 10321.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

81

4. Stok Mikrobia Uji dan Suspensi Mikrobia Uji

Stok mikrobia yang dibuat berasal dari kultur murni yang

didapatkan dari Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta.

Pembuatan stok (peremajaan) mikrobia uji dilakukan untuk memenuhi

suplai nutrisi untuk mikrobia dari media, sehingga mikrobia tidak mati dan

tumbuh subur serta digunakan untuk membuat atau menambah cadangan

stok dari mikrobia kultur murni. Tahap selanjutnya yaitu pembuatan

suspensi mikrobia uji, pembuatan suspensi mikrobia uji ini bertujuan

untuk memperoleh jumlah mikrobia yang dapat diukur dan disesuaikan

dengan standar yang telah ditetapkan yang selanjutnya dapat digunakan

sebagai mikrobia uji.

Pembuatan suspensi inokulum mikrobia uji dibuat dengan cara

mengambil 2 ose dari stok mikrobia yang kemudian mencampurkannya ke

dalam media broth (media cair) berupa Nutrient Broth (NB) untuk E. coli

dan S. epidermidis dan Potato Dextrose Broth (PDB) untuk C. albicans.

Tahap selanjutnya yaitu mikrobia yang telah tersuspensi dalam media

dapat dihomogenkan dengan menggunakan shaker dan diinkubasi selama

24 jam dalam suhu ruang. Setelah dilakukan pembuatan suspensi, dapat

dilakukan pengenceran bertingkat. Menurut Wasteson dan Hornes (2009)

tujuan dari pengenceran bertingkat yaitu untuk memperkecil atau

mengurangi jumlah mikrobia yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan

besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

82

jumlah mikrobia dalam sampel. Penelitian ini dilakukan pengenceran

bertingkat hingga 10-5.

Setelah dilakukannya pengenceran bertingkat untuk ketiga

mikrobia, kemudian dilakukan perhitungan jumlah koloni mikrobia dalam

satu petri. Perhitungan dilakukan dengan cara suspensi mikrobia dari

pengenceran 10-5 kemudian dikulturkan ke media agar dengan cara spread

plate dalam cawan petri. Kemudian menginkubasinya pada suhu 37 oC

selama 24 jam. Setelah itu, jumlah koloni dalam cawan petri dapat

dihitung menggunakan colony counter. Menurut Sukandar et al. (2010),

bahwa sebaiknya jumlah koloni mikrobia yang tumbuh dan dapat dihitung

berkisar antara 30-300 koloni. Pada penelitian ini, hasil dari pengenceran

10-4 jumlah koloni E. coli, S. epidermidis dan C. albicans lebih dari 300

koloni sehingga tidak dapat dihitung, hal tersebut dikarenakan

pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Sedangkan, pengenceran 10-5

sesuai dengan pustaka Sukandar et al. (2010) rentang koloni 30-300

koloni. Setelah setara maka suspensi tersebut dapat digunakan sebagai

mikrobia uji.

5. Kontrol Media

Kontrol media dibuat sebagai kontrol kerja dan digunakan untuk

memastikan bahwa pembuatan media (NA dan PDA) ketika pengujian

aktivitas antimikrobia dibuat secara aseptik dan tidak terkontaminasi.

Kontrol media ini dibuat sama dengan media uji yang nantinya digunakan

untuk pengujian aktivitas antimikrobia. Kontrol media ini dibuat dua


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

83

kategori yaitu kategori untuk kontrol kerja pada bakteri dan fungi.

Inkubasi kontrol media ini juga dilakukan pada tempat yang sama pada

media uji. Hasil dari penelitian ini baik dari kontrol media bakteri dan

fungi setelah berhentinya masa inkubasi dan tahap pengamatan, pada

kontrol media ini tidak ditemukannya koloni mikrobia yang tumbuh pada

kedua media tersebut. Sehingga hal tersebut dapat dipastikan bahwa

kontrol media uji dilakukan secara aseptis dan tidak menimbulkan

kontaminan.

6. Uji Aktivitas Antimikrobia Isolat Alkaloid Umbi Bawang Dayak

(Eleutherine palmifolia) dengan Metode Kirby-Bauer

Bahan aktif yang digunakan pada formulasi antimikrobia tanaman

bawang dayak pada penelitian ini adalah isolat alkaloid yang berasal dari

umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia). Penelitian Suhartini (2017),

mengenai “Keefektifan Ekstrak Eleutherine palmifolia L. terhadap Daya

Hambat Pertumbuhan Bakteri S. aureus, E. coli”, ekstrak bawang dayak

mampu menghambat pertumbuhan S. aureus dan E. coli.

Adanya beberapa kandungan metabolit sekunder pada umbi

bawang dayak yang digunakan, diprediksi memengaruhi daya antibakteri

terhadap S. aureus dan E. coli, sehingga perlu dilakukan pengujian lebih

lanjut mengenai salah satu metabolit sekunder yang terkandung dalam

umbi bawang dayak yaitu senyawa bioaktif alkaloid, yang akan diujikan

sebagai penggolongan aktivitas antimikrobia spektrum luas atau spektrum

sempit, dengan menggunakan perwakilan mikrobia patogen dari bakteri


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

84

gram positif yaitu S. epidermidis, bakteri gram negatif yaitu E. coli dan

fungi yaitu C. albicans

Uji aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) terhadap E. coli, S. epidermidis dan C. albicans

dilakukan dengan menggunakan metode Kirby-Bauer. Prinsip metode

Kirby-Bauer atau cakram paper-disc yaitu isolat alkaloid umbi bawang

dayak yang telah terserap ke dalam paper-disc akan berdifusi ke dalam

media yang telah diinokulasikan mikrobia uji. Isolat alkaloid yang terserap

dalam paper-disc akan menghambat pertumbuhan mikrobia atau

membunuh mikrobia yang ditunjukkan dengan parameter zona hambat di

sekitar paper-disc setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang.

Pengujian ini, dibuat kontrol positif (Amoxicillin dan Nystatin) dan

kontrol negatif (akuades steril). Kontrol media bertujuan untuk melihat

keaseptikan selama proses kerja, sehingga dapat diketahui ada atau tidak

adanya kontaminasi pertumbuhan mikroorganisme lain selama proses

pengujian. Kontrol positif berupa Amoxicillin untuk bakteri uji dan

Nystatin untuk fungi yang digunakan sebagai kontrol metode yang

bertujuan untuk memastikan metode yang dilakukan sudah benar atau

belum yang ditunjukkan dengan adanya diameter zona hambat. Kontrol

positif juga membantu melihat wujud adanya aktivitas penghambatan

mikrobia. Sedangkan kontrol negatif atau kontrol pelarut bertujuan untuk

melihat pelarut mempunyai aktivitas sebagai antimikrobia atau tidak yang

nantinya dapat menyebabkan bias hasil penelitian.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

85

Penelitian ini dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali pada tiap

perlakuan sampel penelitian yaitu perlakukan pertama (T1) dengan

konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml, perlakukan kedua (T2) dengan konsentrasi

2,5 x 10-3 gr/ml dan perlakukan ketiga (T3) dengan konsentrasi 1,7 x 10-3

gr/ml. Hasil pengamatan tersebut, didapatkan zona hambat yang diukur

menggunakan jangka sorong dengan satuan milimeter (mm). Pengukuran

zona hambat dilakukan secara vertikal dan horizontal, kemudian hasilnya

dijumlahkan dan dibagi dua. Hasil pengukuran tiga replikasi tersebut

kemudian dirata-rata. Hasil pengukuran zona hambat isolat alkaloid umbi

bawang dayak terhadap mikrobia E. coli, S. epidermidis dan C. albicans

disajikan secara lengkap dalam lampiran 3.

Kriteria sensitivitas hasil pengukuran diameter zona hambat isolat

alkaloid umbi bawang dayak terhadap mikrobia E. coli, S. epidermidis dan

C. albicans dapat diamati pada Tabel 4.5.

Tabel 4. 5
Kriteria Sensitivitas Daya Antimikrobia Isolat Alkaloid Umbi Bawang
Dayak Terhadap E. coli dan S. epidermidis dan C. albicans
Kriteria Pan
et al (2009) Perlaku- Diameter
Diameter Kriteria Mikrobia an zona Kriteria
Zona Sensiti- Konsen- hambat Hambat
Hambat vitas trasi (mm)
(mm)
T1 10.4 Kuat
T2 4.2 Sedang
0-3 Lemah E. coli T3 2.2 Lemah
K+ 35.1 Kuat
K- 0.0 Lemah
T1 1.0 Lemah
3-6 Sedang S. T2 0.0 Lemah
Epidermidis T3 10.3 Kuat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

86

Kriteria Pan
et al (2009) Perlaku- Diameter
Diameter Kriteria an zona Kriteria
Mikrobia
Zona Sensiti- Konsen- hambat Hambat
Hambat vitas trasi (mm)
(mm)
K+ 37.0 Kuat
K- 0.0 Lemah
T1 4.4 Sedang
T2 6.2 Kuat
>6 Kuat C. albicans T3 4.0 Sedang
K+ 10.6 Kuat
K- 0.0 Lemah
Keterangan: T1= Konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml; T2= Konsentrasi 2,5 x 10-
3
gr/ml, T3 = Konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml, K+ = Kontrol
positif (Amoxicillin), dan K- = Kontrol negatif (Akuades
steril)

Diameter zona hambat terbesar pada mikrobia E. coli terdapat pada

perlakuan pertama (T1) dengan konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml, dan zona

hambat terkecil pada perlakuan ketiga (T3) dengan konsentrasi 1,7 x 10-3

gr/ml. Diameter zona hambat terbesar pada mikrobia S. epidermidis

terdapat pada perlakuan ketiga (T3) dengan konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml,

dan zona hambat terkecil pada perlakuan kedua (T1) dengan konsentrasi

5,0 x 10-3 gr/ml. Diameter zona hambat terbesar pada mikrobia C. albicans

terdapat pada perlakuan pertama (T2) dengan konsentrasi 2,5 x 10-3 gr/ml,

dan zona hambat terkecil pada perlakuan ketiga (T3) dengan konsentrasi

1,7 x 10-3 gr/ml. Perbandingan zona hambat yang dihasilkan oleh masing-

masing variasi perlakuan (konsentrasi) pada tiap sampel mikrobia E. coli,

S. epidermidis dan C. albicans dapat diamati pada Gambar 4.10.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

87

Gambar 4. 12
Perbandingan Zona Hambat dari Tiap Variasi Konsentrasi pada E.
coli, S. epidermidis dan C. albicans

Besarnya diameter zona hambat dari tiap variasi konsentrasi pada

tiap masing-masing mikrobia berbeda-beda, hal tersebut dipengaruhi oleh

dua hal yaitu kemampuan isolat alkaloid untuk dapat berdifusi ke seluruh

bagian media agar untuk mengganggu pertumbuhan mikrobia uji dan

kepekaan atau daya sensitivitas mikrobia uji terhadap antimikrobia.

Potensi zat antimikrobia menunjukkan sifat toksisitas dari suatu zat

antimikrobia. Kriteria sensitivitas daya antimikrobia isolat alkaloid umbi

bawang dayak terhadap E. coli, S. epidermidis dan C. albicans dapat

dilihat pada Tabel 4.5. Berdasarkan kriteria tersebut, diketahui bahwa

perlakuan pertama (T1) konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml merupakan

konsentrasi efektif untuk menghambat E. coli, perlakuan ketiga (T3)

konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml merupakan konsentrasi efektif untuk


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

88

menghambat S. epidermidis, dan perlakuan kedua (T2) konsentrasi

2,5 x 10-3 gr/ml merupakan konsentrasi efektif untuk menghambat

C. albicans, karena pada konsentrasi tersebut daya antimikrobia

dikategorikan kuat yang ditunjukkan dengan parameter zona hambat yang

dihasilkan. Penggolongan sensitivitas daya antimikrobia tersebut

didasarkan pada pustaka Pan et al., (2009), yaitu kategori penghambatan

antimikrobia berdasarkan zona hambat diameter 0-3 mm respon hambat

pertumbuhan lemah, diameter 3-6 mm respon hambat pertumbuhan sedang

dan diameter lebih dari 6 mm respon hambat pertumbuhan kuat. Hasil

dokumentasi uji aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) dapat dilihat dalam lampiran 4.

Mekanisme daya hambat menurut Hugo dan Rusell (2000), ada

lima target yang menjadi target suatu zat antimikrobia yakni, dinding sel,

ribosom, kromosom, metabolisme folat dan membran sel. Dinding sel

suatu zat antimikrobia akan menghambat terbentuknya lapisan

peptidoglikan yang merupakan perlindungan utama mikrobia. Senyawa

seperti saponin, flavonoid, tanin dan alkaloid yang terdapat pada ekstrak,

pada umumnya mampu menghambat terbentuknya lapisan peptidoglikan.

Metabolit sekunder umbi bawang dayak yang digunakan sebagai

antimikrobia merupakan metabolit sekunder isolat alkaloid. Alkaloid

merupakan suatu senyawa yang bersifat basa yang mengandung gugus

atom nitrogen (N). Rahayu dan Rahayu (2009), menambahkan bahwa

alkaloid memiliki sifat basa dengan pH > 7 dan terasa pahit. Sedangkan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

89

menurut Robinson (1995) C. albicans, merupakan jamur yang tumbuh

pada pH 4,5-6,5. Sifat basa inilah yang kemungkinan akan menekan

pertumbuhan C. albicans, karena yeast tersebut tumbuh pada pH 4,5-6,5.

Senyawa alkaloid tersebut bekerja dengan cara memanfaatkan sifat reaksi

gugus basa untuk bereaksi dengan gugus asam amino pada sel yeast.

Alkaloid mempunyai aktivitas anti jamur dengan cara mengganggu

komponen penyusun peptidoglikan pada sel jamur sehingga lapisan

dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel

tersebut (Robinson, 1995). Berdasarkan gambar 4.1, yeast C. albicans

memilki zona hambat tertinggi pada perlakuan kedua (T2) dengan

konsentrasi 2,5 x 10-3 gr/ml, sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi

tersebut merupakan konsentrasi yang paling optimal untuk menghambat

yeast C. albicans dibanding konsentrasi yang lainnya. Zona hambat yang

terbentuk tersebut tentu terjadi karena adanya senyawa aktif alkaloid umbi

bawang dayak yang berperan sebagai inhibitor ke dinding sel yeast

C. albicans. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Chuang et al.

(2007), senyawa bioaktif yang terkandung akan menyebabkan pecahnya

membran sitoplasma sel jamur sehingga komponen intra seluler

mengalami kerusakan, senyawa bioaktif akan berinteraksi dengan dua

lapisan lipid di dalam membran, selanjutnya senyawa terebut akan masuk

ke dalam sel yang menyebabkan sel menjadi mengembang dan mengarah

pada kematian sel jamur.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

90

Efek antimikrobia isolat alkaloid yang mampu menghambat secara

optimal pada bakteri E.coli yaitu pada perlakuan pertama (T1) dengan

konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml, sedangkan pada bakteri S. epidermidis yaitu

pada perlakuan ketiga (T3) dengan konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml. Perbedaan

zona hambat optimal yang terbentuk pada E. coli dan S. epidermidis ini,

disebabkan salah satu faktornya yaitu karena adanya perbedaan daya

sensitivitas mikrobia uji terhadap antimikrobia. Menurut Radji (2011), hal

tersebut disebabkan adanya perbedaan struktur dinding sel kedua jenis

bakteri tersebut. Dinding sel bakteri Gram positif terdiri atas beberapa

lapisan peptidoglikan yang membentuk struktur yang tebal dan kaku serta

mengandung substansi dinding sel yang disebut asam teikoat, sedangkan

dinding sel bakteri Gram negatif terdiri atas satu atau lebih lapisan

peptidoglikan yang tipis dan membran di bagian luar lapisan

peptidoglikan. Kandungan sedikit lapisan peptidoglikan dan tidak

mengandung asam teikoat, maka dinding sel bakteri Gram negatif lebih

rentan terhadap guncangan fisik, seperti pemberian antimikrobia atau

bahan antimikrobia lainnya. Selain itu, alkaloid berperan sebagai

antibakteri dengan cara berinteraksi dengan dinding sel bakteri yang

kemudian menyebabkan kerusakan pada dinding sel dan juga dapat

berikatan dengan DNA bakteri yang menyebabkan kegagalan dalam

sintesis protein (Cowan, 1999).

Kontrol positif pada penelitian ini menggunakan Amoxicillin

Trihydrate 125mg/5ml untuk bakteri E. coli dan S. epidermidis.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

91

Amoxicillin adalah salah satu senyawa ß-laktam dan memiliki nama kimia

alfa-amino-hidroksilbenzil-penisilin. Amoxicillin dipilih karena sering

digunakan dalam pengobatan kasus infeksi. Menurut Permenkes (2011),

Amoxicillin memiliki aktivitas antibiotik berspektrum luas yang mampu

menghambat bakteri gram positif maupun gram negatif yang akan merusak

lapisan peptidoglikan. Menurut Pratiwi (2008), mekanisme kerja dari

Amoxicillin yaitu dengan mencegah ikatan silang peptidoglikan pada

tahap akhir sintesis dinding sel. Sehingga pada penelitian ini tampak uji

kontrol positif pada bakteri E. coli dan S. epidermidis menunjukkan zona

bening, yang merupakan zona penghambatan dari antibiotik Amoxicillin.

Kontrol positif pada penelitian ini menggunakan Nystatin 100.000

IU//ml untuk yeast C. albicans. Menurut Malseed (2005), Nystatin

merupakan antifungal polyene macrolide, obat ini dapat bermanfaat untuk

mengobati infeksi kandida lokal pada mulut, vagina, dan infeksi usus yang

disebabkan oleh C. albicans dan Candida sp. lainnya, Nystatin bersifat

fungistatik maupun fungisida, aktivitasnya tergantung pada ikatan Nystatin

dengan bagian sterol yang spesifik, khususnya ergasterol yang terdapat

pada membran fungi. Sehingga pada penelitian ini tampak uji kontrol

positif pada yeast. C. albicans menunjukkan zona bening, yang merupakan

zona penghambatan dari antifungal Nystatin.

Pengujian daya hambat antimikrobia E. coli, S. epidermidis dan

C. albicans menggunakan kontrol negatif berupa akuades steril. Jenis

kontrol negatif ini disesuaikan dengan jenis pelarut pada perlakuan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

92

konsentrasi isolat alkaloid yaitu akuades steril, sehingga memiliki tingkat

kepolaran yang sama. Hasil uji antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang

dayak pada tiap sampel uji, menunjukkan bahwa akuades sebagai pelarut

tidak memberikan pengaruh antimikrobia terhadap terbentuknya zona

hambat, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai diameter zona hambat nol

atau tidak dapat diukur.

Zona bening pada sampel uji mengindikasikan bahwa isolat

alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) mengandung

senyawa aktif yang dimungkinkan memiliki kandungan aktivitas

antimikrobia. Berdasarkan hasil skrining uji fitokimia isolat alkaloid umbi

bawang dayak, yang diujikan menggunakan pelarut Dragendorff dan

Meyer menunjukkan hasil positif senyawa metabolit sekunder yang

terkandung dalam isolat alkaloid berupa garam alkaloid. Hal ini sesuai

dengan Pelczar dan Chan (2005), bahwa komponen yang memiliki

aktivitas antimikrobia adalah komponen senyawa alkaloid, fenolik,

tarpenoid dan glikosida.

Berdasarkan hasil analisis kekuatan menghambat mikrobia dan

berbagai perlakuan konsentrasi isolat alkaloid umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) terhadap mikrobia E. coli, S. epidermidis dan

C. albicans maka dapat diketahui bahwa isolat alkaloid memiliki aktivitas

daya hambat antimikrobia berspektrum luas (broad spectrum) yang

ditunjukkan dengan adanya zona bening pada perlakuan pemberian isolat

alkaloid tiap sampel mikrobia yang mana dapat menghambat pertumbuhan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

93

bakteri Gram positif, bakteri Gram negatif dan fungi, yang memiliki

tingkat sensitivitas yang berbeda-beda pada tiap konsentrasi sampel

mikrobia.

7. KHM Mikrobia Uji dengan Metode Dilusi Padat


Penelitian penentuan KHM dilakukan menggunakan metode dilusi

padat dan dilakukan untuk mengetahui konsentrasi terkecil isolat alkaloid

umbi bawang dayak yang mampu menghambat mikrobia uji. Penentuan

KHM berdasarkan hasil dari uji aktivitas antimikrobia dengan perlakuan

(konsentrasi antimikrobia) terkecil yang masih mampu menghambat

pertumbuhan mikrobia uji. Berdasarkan hasil uji aktivitas antimikrobia,

didapatkan konsentrasi terkecil dari bakteri E. coli yaitu pada perlakuan

ketiga (T3) dengan konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml, bakteri S. epidermidis

yaitu pada perlakuan pertama (T1) dengan konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml,

dan pada yeast C. albicans yaitu pada perlakuan ketiga (T3) dengan

konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml. Konsentrasi yang didapat tersebut merupakan

konsentrasi terkecil yang masih memiliki zona hambat.

Pembuatan konsentrasi untuk pengujian KHM tersebut, didasarkan

dari konsentrasi terkecil hasil uji aktivitas antimikrobia pada masing-

masing mikrobia uji yang masih menghambat. Pembuatan konsentrasi uji

KHM ini, dilakukan dengan cara yang sama ketika membuat variasi

konsentrasi pada uji aktivitas antimikrobia, yaitu menggunakan deret

logaritmik dan faktor pengenceran. Sehingga didapatkan konsentrasi

1,7 x10-3 gr/ml untuk bakteri E. coli, konsentrasi 4,8 x 10-3 gr/ml untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

94

bakteri S. epidermidis dan konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml untuk yeast

C. albicans.

Lamanya periode dalam pengujian KHM ini berdasarkan dengan

durasi kerja obat. Menurut Noviani dan Nurilawati (2017), durasi kerja

obat merupakan lama waktu obat menghasilkan suatu efek terapi atau efek

farmakologis. Sehingga lama periode pengujian KHM ini didasarkan

dengan kontrol positif yang dipakai saat pengujian aktivitas antimikrobia

yaitu Amoxicillin Tryhidrate dan Nystatin. Berdasarkan Malseed (2005),

durasi kerja obat Amoxicillin Tryhidrate yaitu 8 jam, sedangkan pada

Nystatin yaitu 48 jam.

Penetapan KHM pada pengujian antimikrobia dengan metode

dilusi padat, parameter yang digunakan adalah persen kejernihan

pertumbuhan mikrobia uji dalam media. Dokumentasi hasil uji KHM

antimikrobia isolat alkaloid terhadap mikrobia uji dapat dilihat pada

lampiran 5. Hasil uji penentuan KHM isolat alkaloid umbi bawang dayak

dengan metode dilusi padat terhadap bakteri E. coli, dapat dilihat pada

Gambar 4.11.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

95

Gambar 4. 13
Hasil Uji % Kejernihan Media E. coli terhadap Konfirmasi
Nilai KHM yang Didapat

Hasil uji KHM dengan mengamati tingkat persen (%) kejernihan

media E. coli terhadap konfirmasi nilai KHM yang didapat, diperoleh hasil

bahwa terdapat kenaikan dan penurunan persen (%) kejernihan media

E.coli pada rentang waktu jam ke-2 sampai jam ke-10. Interval kenaikan

persen (%) kejernihan media E. coli terjadi pada jam ke-2 sampai ke-8,

sedangkan pada jam ke-8 sampai ke-10 terjadi penurunan persen (%)

kejernihan media E. coli. Skala tertinggi persen (%) kejernihan media

E. coli. yaitu pada jam ke delapan dengan nilai persen (%) kejernihannya

yaitu 0,411 %.

Kenaikan dan penurunan persen (%) kejernihan media E. coli ini,

disebabkan karena adanya interaksi antara pertumbuhan bakteri E. coli

dengan aktivitas antimikrobia isolat alkaloid yang diujikan. Aktivitas

antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak ini dapat terlihat pada jam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

96

ke-2 sampai ke-8 dengan menunjukkan peningkatan atau kenaikan persen

(%) kejernihan media E. coli dari 0,226 % menjadi 0,411 %, sehingga

dapat diartikan bahwa pada jam ke-2 sampai ke-8 pertumbuhan bakteri

E. coli mengalami penghambatan akibat aktivitas antimikrobia isolat

alkaloid umbi bawang dayak. Kemudian pada jam ke-8 sampai ke-10

aktivitas antimikrobia isolat alkaloid mulai menurun, hal tersebut ditandai

dengan adanya penurunan persen (%) kejernihan media E. coli dari 0,411

% menjadi 0,395 %, penurunan persen (%) kejernihan tersebut

diakibatkan karena pertumbuhan bakteri E. coli menunjukkan peningkatan.

Konsentrasi minimal isolat alkaloid umbi bawang dayak yang masih

menghambat bakteri E. coli adalah 1,7 x 10-3 gr/ml (perlakuan T3). Setelah

diketahui besar konsentrasi penghambatan bakteri E. coli, didapatkan pula

waktu durasi kerja maksimum antimikrobia isolat alkaloid yaitu dengan

durasi waktu 8 jam.

Hasil uji penentuan KHM isolat alkaloid umbi bawang dayak

dengan metode dilusi padat terhadap bakteri S. epidermidis, dapat dilihat

pada gambar 4.12.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

97

Gambar 4. 14
Hasil Uji % Kejernihan Media S. epidermidis terhadap Konfirmasi
Nilai KHM yang Didapat

Hasil uji KHM dengan mengamati tingkat persen (%) kejernihan media

S. epidermidis terhadap konfirmasi nilai KHM yang didapat, diperoleh

hasil bahwa terdapat kenaikan dan penurunan persen (%) kejernihan

media S. epidermidis pada rentang waktu jam ke-2 sampai jam ke-10.

Interval kenaikan persen (%) kejernihan media S. epidermidis terjadi pada

jam ke-2 sampai ke-8, sedangkan pada jam ke-8 sampai ke-10 terjadi

penurunan persen (%) kejernihan media S. epidermidis. Skala tertinggi

persen (%) kejernihan media S. epidermidis. yaitu pada jam ke-8 dengan

nilai persen (%) kejernihannya yaitu 0,401 %.

Kenaikan dan penurunan persen (%) kejernihan media

S. epidermidis ini, disebabkan karena adanya interaksi antara

pertumbuhan bakteri S. epidermidis dengan aktivitas antimikrobia isolat

alkaloid yang diujikan. Aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

98

bawang dayak ini dapat terlihat pada jam ke-2 sampai ke-8 dengan

menunjukkan peningkatan atau kenaikan persen (%) kejernihan media

S. epidermidis dari 0,263 % menjadi 0,401 %, sehingga dapat diartikan

bahwa pada jam ke-2 sampai ke-8 pertumbuhan bakteri S. epidermidis

mengalami penghambatan akibat aktivitas antimikrobia isolat alkaloid

umbi bawang dayak. Kemudian pada jam ke-8 sampai ke-10 aktivitas

antimikrobia isolat alkaloid mulai menurun, hal tersebut ditandai dengan

adanya penurunan persen (%) kejernihan media S. epidermidis dari 0,401

% menjadi 0,364 %, penurunan persen (%) kejernihan tersebut

diakibatkan karena pertumbuhan bakteri S. epidermidis menunjukkan

peningkatan. Konsentrasi minimal isolat alkaloid umbi bawang dayak

yang masih menghambat bakteri S. epidermidis adalah 5,0 x 10-3 gr/ml

(perlakuan T1). Setelah diketahui besar konsentrasi penghambatan bakteri

S. epidermidis, didapatkan pula waktu durasi kerja maksimum

antimikrobia isolat alkaloid yaitu dengan durasi waktu 8 jam.

Hasil uji penentuan KHM isolat alkaloid umbi bawang dayak

dengan metode dilusi padat terhadap bakteri S. epidermidis, dapat dilihat

pada gambar 4.13.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

99

Gambar 4. 15
Hasil Uji % Kejernihan Media C. albicans terhadap Konfirmasi
Nilai KHM yang Didapat

Hasil uji KHM dengan mengamati tingkat persen (%) kejernihan media

C. albicans terhadap konfirmasi nilai KHM yang didapat, diperoleh hasil

bahwa terdapat kenaikan dan penurunan persen (%) kejernihan media

C. albicans pada rentang waktu jam ke-2sampai jam ke-48. Interval

kenaikan persen (%) kejernihan media C. albicans terjadi pada jam ke-2

sampai ke-8, sedangkan pada jam ke-8 sampai ke-48 terjadi penurunan

persen (%) kejernihan media C. albicans. Skala tertinggi persen (%)

kejernihan media C. albicans yaitu pada jam ke delapan dengan nilai

persen (%) kejernihannya yaitu 0,418 %.

Kenaikan dan penurunan persen (%) kejernihan media C. albicans

ini, disebabkan karena adanya interaksi antara pertumbuhan yeast C.

albicans dengan aktivitas antimikrobia isolat alkaloid yang diujikan.

Aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak ini dapat


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

100

terlihat pada jam ke-2 sampai ke-8 dengan menunjukkan peningkatan

atau kenaikan persen (%) kejernihan media C. albicans dari 0,253 %

menjadi 0,418 %, sehingga dapat diartikan bahwa pada jam ke-2 sampai

ke-8 pertumbuhan yeast C. albicans mengalami penghambatan akibat

aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang dayak. Kemudian

pada jam ke-8 sampai ke-48 aktivitas antimikrobia isolat alkaloid mulai

menurun, hal tersebut ditandai dengan adanya penurunan persen (%)

kejernihan media C. albicans dari 0,418 % menjadi 0,266 %, penurunan

persen (%) kejernihan tersebut diakibatkan karena pertumbuhan yeast

C. albicans menunjukkan peningkatan. Konsentrasi minimal isolat

alkaloid umbi bawang dayak yang masih menghambat bakteri C. albicans

adalah 1,7 x 10-3 gr/ml (perlakuan T3). Setelah diketahui besar

konsentrasi penghambatan yeast C. albicans, didapatkan pula waktu

durasi kerja maksimum antimikrobia isolat alkaloid yaitu dengan durasi

waktu 8 jam.

G. Hambatan dan Keterbatasan Penelitian

1. Hambatan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat hambatan yang telah

ditemukan seperti mikrobia yang susah tumbuh pada media agar setelah

dilakukannya kultur mikrobia, oleh karena itu ketika membuat suspensi

mikrobia perlu dilakukan penggojokan menggunakan shaker selama 24

jam. Kemudian penggunaan kontrol positif pada C. albicans, tidak

mengindikasi adanya zona hambat ketikan menggunakan kontrol positif


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

101

ketoconazole, oleh karena itu penggantian kontrol positif pada C. albicans

diganti menggunakan Nystatin.

2. Keterbatasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat keterbatasan yang

telah ditemukan yaitu:

a. Belum adanya penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai

aplikasi obat herbal bawang dayak sebagai bahan antimikrobia.

b. Kesulitan dalam mendapatkan bahan paper disc dan media selektif

pada mikrobia E. coli, S. epidermidis, dan C. albicans.

c. Belum dilakukan uji KBM E. coli, S. epidermidis dan C. albicans

untuk memastikan konsentrasi mana yang mampu membunuh

mikrobia secara optimal.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V

IMPLEMENTASI PENELITIAN DALAM PEMBELAJARAN

DI SEKOLAH

A. Implementasi Penelitian

Penelitian mengenai pengujian pengaruh daya hambat antimikrobia

isolat alkaloid ekstrak umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap

pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Candida

albicans ATCC 10231 secara in-vitro dilakukan untuk mengetahui bahwa

isolat alkaloid yang terkandung dalam umbi bawang dayak mempunyai

kandungan senyawa antimikrobia. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa

isolat alkaloid umbi bawang dayak mempunyai kandungan senyawa

antimikrobia berspektrum luas (broad spectrum) yang mampu menghambat

bakteri gram positif (Staphylococcus epidermidis), bakteri gram negatif

(Escherichia coli) dan fungi (Candida albicans ATCC 10231).

Hasil penelitian mengenai mikrobiologi tersebut yang telah dilakukan

ini, dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Biologi di kelas pada

jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas X semester I, pada BAB

Monera. Kurikulum yang digunakan sebagai proses dasar pembelajaran terkait

yaitu kurikulum 2013 atau Kurikulum Nasional. Berdasarkan Permendikbud

Nomor 24 Tahun 2016 mengenai kompetensi inti dan kompetensi dasar

Biologi SMA/MA, materi terkait Monera terdapat dalam Kompetensi Dasar

(KD) sebagai berikut:

102
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

103

KD 3.5 : Mengidentifikasi struktur, cara hidup, reproduksi dan peran bakteri

dalam kehidupan.

KD 4.5 : Menyajikan data tentang ciri-ciri dan peran bakteri dalam kehidupan.

Berdasarkan Kemendikbud (2017), cakupan materi pokok dari BAB Monera

tersebut yaitu:

1. Karakteristik dan perkembangbiakan bakteri

2. Dasar pengelompokan bakteri

3. Menginokulasi bakteri secara pour plate atau streak plate

4. Pengecatan Gram

5. Peran bakteri dalam kehidupan

B. Bentuk Kegiatan

Pembelajaran materi Monera ini merujuk pada proses pembelajaran

langsung (direct teaching) dan proses pembelajaran tidak langsung (indirect

teaching). Pembelajaran langsung (direct teaching) tersebut, siswa

melakukan kegiatan belajar meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan

informasi, mengasosiasikan atau menganalisis serta mengomunikasikan apa

yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis. Sedangkan kompetensi

sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial dicapai melaui pembelajaran tidak

langsung (indirect teaching). Bentuk kegiatan pembelajaran yang dilakukan

yaitu Discovery Based Learning (Pembelajaran Berbasis Penemuan).

Pembelajaran DBL (Discovery Based Learning) tersebut, dilakukan melalui


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

104

pengamatan, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan merumuskan

kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan.

Penerapan pembelajaran tersebut, tidak terlepas dari trend masa depan

dalam lingkup Biologi, terutama kehidupan dari penerapan Biologi dalam

kehidupan sehari-hari. Hasil yang diharapkan berdasarkan kompetensi dasar

(KD) tersebut, siswa diharapkan mampu bersikap positif dengan daya pikir

kritis, kreatif, inovatif dan kolaboratif, disertai kejujuran dan keterbukaan

berdasarkan potensi proses dan produk biologi. Siswa juga diharapkan

memahami dampak dari perkembangan biologi terhadap perkembangan

teknologi dan kehidupan manusia di masa lalu maupun di ptotensi

dampaknya di masa depan bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya.

C. Rancangan Perencanaan Proses Pembelajaran

Perencanaan proses pembelajaran secara lengkap dan sistematis dapat

dilihat dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada lampiran 7

dan silabus pembelajaran pada lampiran 6. RPP Monera kelas X dalam

kurikulum 2013 atau Kurikulum Nasional ini, disusun berdasarkan silabus

yang terdapat dalam lampiran Permendikbud Nomor 24 tahun 2016 tentang

kompetensi inti dan kompetensi dasar pelajaran pada kurikulum 2013 pada

pendidikan dasar dan pendidikan menengah.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

105

Materi terkait Monera terdapat dalam Kompetensi Dasar (KD) dan

indikator pencapaian kompetensi sebagai berikut:

Kompetensi Dasar Indikator


3.5 Mengidentifikasi struktur, cara 3.5.1 Mengidentifikasi ciri-ciri Eubacteria
hidup, reproduksi dan peran dengan Archaebateria
bakteri dalam kehidupan 3.5.2 Mengelompokkan bakteri berdasarkan
jenis-jenis bakteri
3.5.3 Mengidentifikasi struktur bakteri
3.5.4 Menjelaskan cara reproduksi bakteri
3.5.5 Menentukan peranan bakteri bagi
kehidupan
4.5 Menyajikan data tentang ciri- 4.5.1 Menyajikan data tentang ciri-ciri
ciri dan peran bakteri dalam bakteri
kehidupan 4.5.2 Menyajikan data mengenai jenis-jenis
bakteri
4.5.3 Menyimulasikan metode kultur bakteri
4.5.4 Membuat replika model reproduksi
bakteri
4.5.3 Menyajikan data tentang peran bakteri
dalam kehidupan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

106

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Daya Hambat Antimikrobia

Isolat Alkaloid Ekstrak Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)

terhadap Pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan

Candida albicans ATCC 10231 secara In-Vitro, maka dapat disimpulkan:

1. Isolat alkaloid umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) dapat

menghambat pertumbuhan mikrobia secara in-vitro termasuk aktivitas

antimikrobia berspektrum luas (broad spectrum).

2. Konsentrasi hambat minimum (KHM) isolat alkaloid umbi bawang dayak

(Eleutherine palmifolia) terhadap pertumbuhan bakteri gram negatif

(E. coli) adalah konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml, pertumbuhan bakteri gram

positif (S. epidermidis) adalah konsentrasi 5,0 x 10-3 gr/ml dan

pertumbuhan fungi (C. albicans) adalah konsentrasi 1,7 x 10-3 gr/ml.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

107

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dapat

memberikan saran untuk penelitian ke depan tentang penggunaan umbi

Bawang Dayak sebagai antimikrobia, yaitu sebagai berikut:

1. Perlu adanya penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai

aplikasi obat herbal bawang dayak sebagai bahan antimikrobia.

2. Perlu adanya metode lain uji daya hambat selain menggunakan bahan

paper disc atau mencoba membuat paper disc sendiri, sehingga tidak

mengandalkan paper disc yang bisa dibeli. Penelitian bakteri E. coli

sebaiknya menggunakan media selektif seperti Sorbitol Mac Conkey Agar

(SMAC), untuk bakteri S. epidermidis menggunakan media selektif Brain

Heart Infusion Agar (BHIA), dan C. albicans dengan media selektif

Sabouraud GC Agar.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji Konsentrasi Bunuh

Minimum (KBM) terhadap E. coli, S. epidermidis dan C. albicans untuk

memastikan konsentrasi mana yang mampu membunuh mikrobia secara

optimal
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA

Akib, H.R.T. 2010. Obat-obat Penting Khasiat Penggunaan dan Efek-efek


Sampingnya: Edisi keenam. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Kelompok Kompas-Gramedia.

Amanda, F.R. 2014. Efektivitas Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia


(L.) Merr.) dalam Mengahambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli.
Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Arung, E.T. 2009. Evaluation of Medicinal Plants from Central Kalimantan for
Antimalanogenesis. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 63(4). 473-480.

Backer, C.A. dan Brink, R.C.B.V. D. 1965. Flora of Java (Spermatophytes only):
Vol III. Netherlands: N.V.P. Noordhoff-Groningen.

Benigna, Maria. 2010. Uji Daya hambat ekstrak Daun Biji Beling (Srobilanthes
crispa BI.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi secara In
Vitro. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Bintang, Maria. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga.

Brooks, G.F., Janet. S. B., dan Nicholas O. 2010. Mikrobiologi Kedokteran.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Candrasari, Damiana Sapta. 2014. Kajian Molekuler Resistensi Candida Albicans


Terhadap Antifungi. Jurnal Farmasi SAINS dan Komunitas. 11(1). 43-47.

Chuang, P.H., C.W. Lee, J.Y.Chou, M. Murugan, B.J. Shieh, H.M. Chen. 2007.
Antifungal activity of crude extracts and essential oil of Moringa oleifera
Lam. Jurnal Bioresource Technology. 98. 232–236.

Cowan, M.. 1999. Plant Product as Antimicrobial Agent. American Society for
Microbiology Journal. 12(4). 564–582.

Depkes. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Depkes. 2000. Parameter Standar Ketentuan Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.


Jakarta: Depkes RI.

Endarini, Lully Hanni. 2016. Farmakognisi dan Fitokimia. Jakarta: Pusdik SDM
Kesehatan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

109

Evans, C.W. 2009. Pharmacognosy Trease and Evans, 16th Edition. China:
Saunders Elsevier.

Firdaus, T. 2014. Efektivitas Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia)


dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. Skripsi.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Galingging, R.Y. 2009. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) sebagai Tanaman


Obat Multifungsi. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri. 15(3). 16-18.

Ganiswara, S.G, Rianto S., Frans D.S, Purwantyastuti, dan Nafrialdi. 1995.
Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran UI.

Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : Penerbit ITB.

Himedia. 2011. Antibiotik HiVegTM Assay Media. Himedia laboratories.

Hugo, W.B dan A.D. Rusell. 2000. Pharmaceutical Microbiology. Oxford:


Blackwell Science.

Jawetz, E., Melnick, J.L., dan Adelberg, A. 1995. Mikrobiologi Kedokteran Edisi
20. Jakarta: Kedokteran EGC.

Kakhia, Tarek Ismail. 2010. Alkaloids & Alkaloids Plants. Turkey: Adana
University.

Kalista, K.F., Lie K.C., Retno W., dan Cleopas M.R. 2017. Karakteristik Klinis
dan Prevalensi Pasien Kandidiasis Invasif di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 4(2). 56-61.

Kristanti, MI Karennia Ully. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak


Tanaman Suruhan (Paperomia pellucida L.) terhadap Pertumbuhan
Escherichia coli dan Bacillus cereus secara In-vitro serta Kaitannya
dengan Pembelajaran Biologi SMA Kelas X. Skripsi. Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta.

Madigan, M.T., Martinko, J.M., dan Parker,J. 2009. Brock Biology of


Microorganism. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings.

Malseed, Roger T. 2005. Springhouse Nurse’s Drug Guide 2005. United States:
Lippincott Williams & Wilkins.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

110

Menkes RI.1994. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


651/Menkes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional. Jakarta:
Menkes RI.

Meyer B.N, Ferrigni N.R, Putnam J.E, Jacobsen L.B., Nichols D.E., dan Laughlin
J.L.Mc. 1982. Brine Shrimp: A Convenient General Bioassay for Active
Plant Constituents. Journal of Medicinal Plant Research. 45. 31-34.
Miroslav, V. 1971. Detection and Identification of Organic Compound. New
York: Planum Publishing Corporation and SNTC Publishers of Technical
Literatur.

Moder, J. 2008. Classification Escherichia coli. Diakses oleh: http:bioweb.uwlax.


edu/bio203/s2008 /moder_just/classification.html. Diunduh pada tanggal
20 November 2017.

Nooteboom. 2017. Eleutherine palmifolia. Diunduh dari: http://portal.cybertaxono


my.org/flora-malesiana/node/4486. Diakses pada tanggal 28 November
2017.

Noviani, N. dan Nurilawati V. 2017. Bahan Ajar Keperawatan Gigi:


Farmakologi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Nur, A.M. 2011. Kapasitas Antioksidan Bawang Dayak (Eleutherine Palmifolia)


dalam Bentuk Segar, Simplisia dan Keripik, pada Pelarut Nonpolar,
Semipolar dan Polar. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Ogata, Y. 1995. Indeks Tumbuh Tumbuhan Obat Di Indonesia: Edisi 2. Jakarta:


PT. Eisei Indonesia.

Pan, X., Chen F., Wu Y., Tang H., dan Zhao Z. 2009. The Acid Tolerance and
Antimicrobial Property of Lactobacillus Acidophilus NIT. Food Control
Journal. 20. 598-602.

Pelczar, M. dan Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.

Permenkes. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2406/MENKES/PER/XII/


2011 Tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.

Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.

Purba, D.M. 2010. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid dari Umbi Bawang
Sebrang (Eleutherine bulbus). Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Medan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

111

Puspadewi, R., Putranti A., dan Rizka M. 2013. Khasiat Umbi Bawang Dayak
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai Herbal Antimikrobia Kulit.
Universitas Jenderal Achmad Yani. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi. 1(1).
31-37.

Radji, M. 2011. Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dna


Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Rahayu, T., dan Rahayu. 2009. Uji Antijamur Kombucha Coffee Terhadap
Candida albicans dan Tricophyton mentagrophytes. Jurnal Penelitian
Sains & Teknologi. 10(1). 10-17.

Riskesdas. 2017. Profil kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta: Kementerian


Kesehatan RI.

Roberts, M. F., dan Wink. 1998. Alkaloids: Biochemistry, Ecology, and Medicinal
Application. New York: Plenum Press.

Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: Penerbit:


ITB.

Sangi, M., M.R.J. Runtuwene., H.E.I. Simbala., dan Makang. 2008. Analisis
Fitokimia Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Chem.
Prog, 1(1):47-53.

Sari, R.P. 2012. Hubungan Pengetahuan dan Prilaku Remaja Putri dengan
Kejadian Keputihan di Kelas XII SMA Negeri I Seunuddon Kabupaten
Aceh Utara Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Sasongko, Hadi. 2014. Uji Resistensi Bakteri Escherichia Coli dari Sungai
Boyong Kabupaten Sleman terhadap Antibiotik Amoxicillin,
Kloramfenikol, Sulfametoxasol, dan Streptomisin. Jurnal Bioedukatika.
2(1). 25-29.

Suhartini. 2017. Keefektifan Ekstrak Eleutherine palmifolia L. terhadap Daya


Hambat Pertumbuhan Bakteri S.aureus dan E. coli. Mahakam Medical
Laboratory Technology Journal. 2(1). 10-17.

Sukandar, Radiastuti N., Jayanegara I., dan Hudaya A. 2010. Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi. Jakarta: BPPT.

Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa


Kedokteran dan Program Strata I. Jakarta: EGC.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

112

Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pengambangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Thronsberry, Clyde. 1983. NCCLS Standards for Antimicrobial Susceptibility


Tests. Laboratory Medicine Journal. 14(9). 549-553.
Tjekyan, S.R.M. 2009. Kejadian dan Faktor resiko Akne Vulgaris. Jurnal Media
Medika Indonesia Fakultas Kedokteran UNDIP. 43(1). 37-43.

Toenjes, K.A., Munsee S.M., Ibrahim A.S., Jeffrey R., Edwards, J.E., Jr, dan
Johnson D.I. 2005. Small-Molecule Inhibitors of the Budded-To-Hyphal-
Form Transition in the Pathogenic Yeast Candida albicans. Antimicrobial
Agents and Chemotherapy Journal. 49(3). 963-972.

Tyas, N.M., Batu D.T.F.L, dan Affandi R. 2016. Uji Toksisitas Letal Cr6+
terhadap Ikan Nila (Oreochromis niloticus) (The Lethal Toxicity Test of
Cr6+ on (Oreochromis niloticus)). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 21(2).
128-132.

Vadhani, V. 2011. Technical Data. Himedia laboratories.

Vasanthakumari, R. 2007. Texbook Of Microbiology. New Delhi: BI Publications


Pvt Ltd.

Voight, R.1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soendari


Noerono. Yogyakarta: UGM Press.

Wasteson, Y, dan Hornes, E. 2009. Pathogenic Escherichia Coli Found in Food.


International Journal Of Food Microbiology. 12. 103-114.

Wattimena, J.R, Nelly C.S., Mathilda B.W., Elin Y.S., Andreanus A.S., dan Anna
R.S. 1991. Farmakodinamika dan Terapi Antibiotik. Yogyakarta: UGM
Press.

Wijesekera, ROB. 1991. The Medicina Plant Industry. Washington DC: CRC
Press.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LAMPIRAN

Lampiran 1
Perhitungan Mengenai Pembuatan Variasi Konsentrasi Isolat Umbi Bawang
Dayak

A. Acuan Dasar Perlakuan


[isolat] =

= 0,101125 gram/ml

B. Variasi Konsentrasi (perlakuan)


1. Konsentrasi 1 (T1) =

= 5,056 x 10-3 gr/ml

2. Konsentrasi 2 (T2) =

= 2,528 x 10-3 gr/ml

3. Konsentrasi 3 (T3) =

= 1,685 x 10-3 gr/ml


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

114

C. Perhitungan Pembuatan Konsentrasi Isolat Alkaloid Umbi Bawang


Dayak
Pembuatan konsentrasi isolat alkaloid umbi bawang dayak menggunakan
rumus sebagai berikut:

V1 x M1 = V2 xM2
Keterangan:

V1 = Volume larutan isolat alkaloid yang diambil (ml)

M1 = Konsentrasi isolat alkaloid yang diambil (gr/ml)

V2 = Volume larutan yang akan dibuat (ml)

M2 = Konsentrasi larutan yang akan dibuat (gr/ml)

Perhitungan Konsentrasi:

Stok isolat:

V1 = 25 ml

M1 = log ( )

= log (

1. Konsentrasi 1 (T1)
 M2 = log (

-3
 5,056 x 10 gr/ml : V1 x M1 = V2 x M2

: =

: V2 =

: V2 = 10, 834 ml
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

115

2. Konsentrasi 2 (T2)

 M3 = log (

 2,528 x 10-3 gr/ml : V1 x M1 = V3 x M3

: =

: V3 =

: V3 = 9,578 ml
3. Konsentrasi 3 (T3)

 M4 = log (

 1,685 x 10-3 gr/ml : V1 x M1 = V4 x M4

: =

: V4 =

: V4 = 8,970 ml
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

116

Lampiran 2
Sertifikat Strain Mikrobia Kultur Murni E. coli ATCC 25922, S. epidermidis
ATCC 12228 dan C. albicans ATCC 10321

1. Strain Mikrobia Kultur Murni E. coli ATCC 25922


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

117

2. Strain Mikrobia Kultur Murni S. epidermidis ATCC 12228


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

118

3. Strain Mikrobia Kultur Murni C. albicans ATCC 10231


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

119

Lampiran 3
Hasil pengukuran zona hambat isolat alkaloid umbi bawang dayak terhadap
mikrobia E. coli, S. epidermidis dan C. albicans

Diameter
Zona Hambat
b
a Diameter zona Diameter (Diameter
Pengulangan Perla- (Verti-
(Horizon- ((a+b)/2) paper zona –
Mikrobia Uji kuan kal)
tal) (mm) (mm) disc (mm) diameter
(mm)
paper disc)
(mm)
E. coli 1 T1 0 0 0 6 0
T2 7.3 6.7 7.0 6.0 1.0
T3 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
K+ 40.7 38.1 39.4 6.0 33.4
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
E. coli 2 T1 26.5 23.2 24.9 6.0 18.9
T2 18.1 17.1 17.6 6.0 11.6
T3 14.3 11.1 12.7 6.0 6.7
K+ 41.4 42.1 41.8 6.0 35.8
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
E. coli 3 T1 19.0 17.4 18.2 6.0 12.2
T2 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
T3 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
K+ 41.1 43.0 42.1 6.0 36.1
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
S. epidermidis
T1 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
1
T2 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
T3 23.1 21.2 22.2 6.0 16.2
K+ 43.7 42.1 42.9 6.0 36.9
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
S. epidermidis
T1 9.1 8.7 8.9 6.0 2.9
2
T2 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
T3 23.5 18.1 20.8 6.0 14.8
K+ 48.6 44.1 46.4 6.0 40.4
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
S. epidermidis
T1 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
3
T2 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
T3 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
K+ 41.1 38.1 39.6 6.0 33.6
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

120

Diameter
Zona Hambat
b
a Diameter zona Diameter (Diameter
Pengulangan Perla- (Verti-
(Horizon- ((a+b)/2) paper zona –
Mikrobia Uji kuan kal)
tal) (mm) (mm) disc (mm) diameter
(mm)
paper disc)
(mm)
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
C.albicans 1 T1 8.0 7.4 7.7 6.0 1.7
T2 7.8 6.1 7.0 6.0 0.9
T3 8.0 6.1 7.1 6.0 1.1
K+ 24.0 18.1 21.1 6.0 15.1
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
C.albicans 2 T1 14.0 12.2 13.1 6.0 7.1
T2 18.0 16.7 17.4 6.0 11.4
T3 17.4 16.4 16.9 6.0 10.9
K+ 22.1 2.0 12.1 6.0 6.1
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
C.albicans 3 T1 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
T2 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
T3 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
K+ 19.7 17.0 18.4 6.0 12.4
K- 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

121

Lampiran 4
Hasil dokumentasi uji aktivitas antimikrobia isolat alkaloid umbi bawang
dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap E. coli, S. epidermidis dan C. albicans

E. coli pengulangan 1 E. coli pengulangan 2 E. coli pengulangan 3

S. epidermidis pengulangan S. epidermidis pengulangan S. epidermidis pengulangan


1 2 3

C. albicans pengulangan 1 C. albicans pengulangan 2 C. albicans pengulangan 3


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

122

Lampiran 5
Dokumentasi hasil uji KHM antimikrobia isolat alkaloid terhadap E. coli, S.
epidermidis dan C. albicans

E. coli Jam ke-2 E. coli Jam ke-6


E. coli Jam ke-4

E. coli Jam ke-8 E. coli Jam ke-10 S. epidermidis Jam ke-2


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

123

S. epidermidis Jam ke-4 S. epidermidis Jam ke-6 S. epidermidis Jam ke-8

S. epidermidis Jam ke-10 C. albicans Jam ke-2 C. albicans Jam ke-4

C. albicans Jam ke-6 C. albicans Jam ke-8 C. albicans Jam ke-16


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

124

C. albicans Jam ke-24 C. albicans Jam ke-32 C. albicans Jam ke-40

C. albicans Jam ke-48


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6
Silabus Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam Mata Pelajaran Biologi SMA

SILABUS

Satuan Pendidikan : SMA

Mata Pelajaran : Biologi

Kelas, Semester : X/1

Program : MIPA

Program Layanan : Reguler

Alokasi Waktu : 18 Jam Pelajaran

Kompetensi Inti (KI)

KI-1 & KI-2 : Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Kompetensi

Sikap Sosial yaitu, “Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerja

sama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan proaktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan

125
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara,

kawasan regional, dan kawasan internasional”.

KI-3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya

tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,

kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural

pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI-4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang

dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

126
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ALOKASI
KOMPETENSI MATERI KEGIATAN SUMBER
INDIKATOR WAKTU PENILAIAN
DASAR PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN BELAJAR
(JP)
3.5 Mengidentifikasi Mengidentifikasi 3.5.1 Mengidentifikasi 1. Melakukan pengamatan 18 JP Teknik:  Endah S.,
struktur, cara struktur, cara hidup, ciri-ciri Eubacteria koloni bakteri dan sel - Tes tertulis Wigati
hidup, reproduksi dan peran dengan bakteri - Penugasan H.O.,
reproduksi dan bakteri dalam Archaebateria 2. Mendiskusikan hal-hal - Observasi M.Lutfi.
peran bakteri kehidupan Kingdom 3.5.2 Mengelompokkan yang berkaitan dengan 2010.
dalam Monera: jenis-jenis bakteri prosedur penanaman, Bentuk Biologi
kehidupan 3.5.3 Mengidentifikasi pengecatan bakteri, dan instrument: untuk
1. Karakteristik dan struktur bakteri koloni bakteri serta - Tes uraian SMA/MA
perkembangbiaka 3.5.4 Menjelaskan cara kosakata ilmiah baru, dan pilihan kelas X.
n-an bakteri reproduksi bakteri misalnya pengecatan ganda Klaten: PT.
2. Dasar 3.5.5 Menentukan Gram, inokulum, - Tugas rumah Intan
pengelompokan peranan bakteri bagi inokulasi dll. - Uji petik Pariwara.
bakteri kehidupan. 3. Mendiskusikan jenis- kerja
4.5 Menyajikan data 3. Menginokulasi 4.5.1 Menyajikan data jenis penyakit yang prosedur  Pratiwi,
tentang ciri-ciri bakteri secara tentang ciri-ciri disebabkan oleh bakteri dkk. 2017.
dan peran pour plate atau bakteri dan cara Biologi
bakteri dalam streak plate 4.5.2 Menyajikan data penanggulangannya. Untuk
kehidupan 4. Pengecatan Gram mengenai jenis-jenis 4. Menerapkan keselamatan SMA/MA
5. Peran bakteri bakteri kerja dan biosafety Kelas X.
dalam kehidupan 4.5.3 Menyimulasikan dalam pengamatan Jakarta:
metode kultur bakteri. Erlangga.
bakteri 5. Mendiskusikan hasil
4.5.4 Membuat replika pengamatan dan
model reproduksi berbagi perspektif
bakteri tentang berbagai
4.5.2 Menyajikan data Archaebacteria dan
tentang peran Eubacteria dan

127
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ALOKASI
KOMPETENSI MATERI KEGIATAN SUMBER
INDIKATOR WAKTU PENILAIAN
DASAR PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN BELAJAR
(JP)
bakteri dalam peranannya dalam
kehidupan kehidupan.
6. Menyimpulkan ciri,
karakteristik, dan peran
bakteri dalam
kehidupan.
7. Melaporkan hasil
pengamatan secara
tertulis menggunakan
format laporan sesuai
kaidah

Yogyakarta, 12 Mei 2018

Mengetahui, Mengetahui,

Kepala Sekolah SMA Guru Mata Pelajaran

(.......................................) Maresti Mei Yuniasih

128
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

129

Lampiran 7
RPP Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam Mata Pelajaran Biologi
SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Sekolah : SMA
Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat
Kelas/Semester : X MIPA/ 1 (ganjil)
Materi pokok : Monera
Alokasi Waktu : 18 JP x 45 menit (6 Pertemuan)

A. Kompetensi Inti

KI 1 dan 2

Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama


yang dianutnya”. Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menghayati dan mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai),
bertanggung jawab, responsif, dan proaktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai
dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan
lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan
internasional”.

KI 3 KI 4
Memahami, menerapkan, menganalisis, Menunjukkan keterampilan menalar,
dan mengevaluasi pengetahuan faktual, mengolah, dan menyaji secara:
konseptual, prosedural, dan meta a. efektif,
kognitif pada tingkat teknis, spesifik, b. kreatif,
detil, dan kompleks dalam ilmu c. produktif,
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, d. kritis,
dan humaniora dengan wawasan e. mandiri,
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, f. kolaboratif,
dan peradaban terkait penyebab g. komunikatif, dan
fenomena dan kejadian pada bidang h. solutif,
kerja yang spesifik untuk memecahkan Dalam ranah konkret dan abstrak terkait
masalah. dengan pengembangan dari yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

130

dipelajarinya di sekolah, serta mampu


melaksanakan tugas spesifik di bawah
pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator
3.5 Mengidentifikasi struktur, cara 3.5.1 Mengidentifikasi ciri-ciri Eubacteria
hidup, reproduksi dan peran dengan Archaebateria
bakteri dalam kehidupan 3.5.2 Mengelompokkan bakteri berdasarkan
jenis-jenis bakteri
3.5.3 Mengidentifikasi struktur bakteri
3.5.4 Menjelaskan cara reproduksi bakteri
3.5.5 Menentukan peranan bakteri bagi
kehidupan
4.5 Menyajikan data tentang ciri- 4.5.1 Menyajikan data tentang ciri-ciri
ciri dan peran bakteri dalam bakteri
kehidupan 4.5.2 Menyajikan data mengenai jenis-jenis
bakteri
4.5.3 Menyimulasikan metode kultur bakteri
4.5.4 Membuat replika model reproduksi
bakteri
4.5.3 Menyajikan data tentang peran bakteri
dalam kehidupan

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui pendekatan saintifik dengan menggunakan model pembelajaran
Discovery Based Learning, peserta didik dapat menghayati dan mengamalkan
ajaran agama yang dianutnya dalam mempelajari Monera, sehingga mampu :
 Menjelaskan peranan bakteri bagi kehidupan.
Melalui pengamatan gambar dan video Monera, peserta didik mampu:
 Mengidentifikasi ciri-ciri Eubacteria dengan Archaebateria
 Menjelaskan cara reproduksi bakteri
Melalui pengamatan bersumber dari power point yang dibuat guru dan buku
pegangan Biologi, peserta didik mampu:
 Mengelompokkan jenis-jenis bakteri
 Mengidentifikasi struktur bakteri
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

131

Melalui praktikum Monera, peserta didik mampu:


 Menyajikan data tentang ciri-ciri bakteri
 Membuat replikasi model reproduksi bakteri
 Menyajikan data tentang peran bakteri dalam kehidupan
D. Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran mengenai Monera yaitu:
1. Ciri-ciri Eubacteria dengan Archaebateria
2. Klasifikasi Eubacteria dengan Archaebateria
3. Ukuran dan bentuk bakteri
4. Jenis-jenis bakteri dan metode kultur bakteri
5. Cara reproduksi bakteri
6. Peranan bakteri bagi kehidupan dalam kehidupan

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan Pembelajaran : Saintifik (Scientific Approach)
2. Metode Pembelajaran : Diskusi, presentasi, penugasan, praktikum,
simulasi
3. Model Pembelajaran : Discovery Based Learning

Konseptual :
Ciri-ciri, struktur, reproduksi bakteri dan replikasi Eubacteria dengan
Archaebateria
Faktual :
Peranan bakteri bagi kehidupan dalam kehidupan.
Prosedural :
Melakukan percobaan peranan bakteri dalam kehidupan
Melakukan virtual lab metode kultur bakteri
Meta kognitif :
Merencanakan dan melakukan percobaan serta melaporkan hasilnya, baik lisan
maupun tulisan mengenai bakteri
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

132

F. Media Pembelajaran
1. Media
a. Lembar Kerja Siswa (LKS)
b. Power point
c. Video/foto-foto/gambar-gambar Monera
2. Alat dan Bahan
a. Alat tulis
b. Whiteboard
c. Laptop
d. Laboratorium biologi dan sarananya
e. LCD
G. Sumber Belajar
1. Buku Biologi kelas X
- Endah S., Wigati H.O., M.Lutfi. 2010. Biologi untuk SMA/MA kelas X.
Klaten: PT. Intan Pariwara.
- Pratiwi, dkk. 2017. Biologi Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta:
Erlangga.
2. Buku-buku biologi penunjang yang relevan
Campbel, Neil, dkk. 2012. BIOLOGI. Jakarta: Erlangga.
3. Media cetak/elektronik
4. LKS
5. Lingkungan sekolah
6. Internet
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

133

H. Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan Ke-1
Indikator Pencapaian Kompetensi:
3.5.1 Mengidentifikasi ciri-ciri Eubacteria dan Archaebateria
4.5.1 Menyajikan data tentang ciri-ciri bakteri
Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
Orientasi:
Pendahu-  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan 10 menit
luan berdoa untuk memulai pembelajaran
 Memeriksa kehadiran siswa sebagai sikap disiplin PPK
 Menyiapkan fisik dan psikis siswa dalam mengawali (Religius)
kegiatan pembelajaran

Apersepsi
 Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang
akan dilakukan dengan pengalaman siswa dengan
materi/tema/kegiatan sebelumnya, tentang materi virus
 Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya
“Masih ingatkah kalian mengenai penyakit yang
disebabkan oleh virus?”

Motivasi
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari
pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-
hari
 Apabila materi/tema/proyek ini kerjakan dengan baik dan
sungguh-sungguh dan dikuasai dengan baik, maka siswa
diharapkan dapat menjelaskan tentang materi Monera.
 Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan
yang berlangsung
 Mengajukan pertanyaan:
 “Siapakah yang di sini pernah sariawan atau
berjerawat?”
 “Kira-kira apa penyebabnya?”

Pemberian Acuan
 Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada
pertemuan saat itu
 Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung.
 Pembagian kelompok belajar (3-4 siswa)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

134

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
 Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar
sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.

Discovery Learning
1. Stimulation (memberi stimulus); 70 menit
Inti  Guru menampilkan gambar struktur sel Archaebacteria
dan Eubacteria.
Literasi

Gambar 1. Struktur Sel Archaebacteria dan Eubacteria


a. Siswa mengamati gambar struktur sel
Archaebacteria dan Eubacteria
b. Siswa menganalisis perbedaan struktur sel
Archaebacteria dan Eubacteria

 Peserta didik didorong untuk menanggapi gambar yang


disajikan yang berhubungan dengan struktur sel
Archaebacteria dan Eubacteria

2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah) HOTS +


Peserta didik didorong oleh guru untuk mengidentifikasi Berfikir
permasalahan dengan mengajukan pertanyaan atau masalah kritis
yang ingin peserta didik ketahui berdasarkan hasil
pengamatan gambar pada power point dan LKS 1 dan
mengidentifikasi permasalahan pada lembar jurnal ilmiah
yang dibagikan dalam tiap kelompok (sumber:
http://ejournalanalis.poltekkes-kaltim.ac.id/ojs/index.php
Analis/article/view/22/19), yang telah dibagikan sesuai
dengan tujuan pembelajaran. 4C +
mengenai: PPK
a. Bakteri apa yang mampu dihambat oleh ekstrak
Eleutherine palmifolia?
b. Bagaimana mekanisme kerja antibakteri Eleutherine
palmifolia dalam menghambat bakteri infeksi?
c. Apa yang menyebabkan perbedaan persen zona hambat
terhadap konsentrasi antibakteri Eleutherine palmifolia
penyebab infeksi pada jurnal?

3. Data Collecting (mengumpulkan data) HOTS


Peserta didik mengumpulkan data/informasi dari gambar
atau referensi lain yang telah disajikan dalam bentuk power
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

135

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
point terkait Archaebacteria dan Eubacteria meliputi :
a. Kegiatan kerja pada Lembar Kerja Siswa (LKS) 1
b. Peserta didik membaca petunjuk pengerjaan Lembar
Kerja Siswa (LKS) 1
c. Peserta didik dalam mengumpulkan informasi dengan
studi literatur untuk menjawab pertanyaan.

4. Data Processing (mengolah data)


Peserta didik menganalisis data hasil penyajian dalam
bentuk power point tentang Archaebacteria dan Eubacteria
serta cara hidup bakteri dari hasil studi literatur dan
pengamatan, dalam kelompok yang terdiri atas 3-4 siswa,
sehingga dapat bekerja dengan teliti, disiplin, tanggung
jawab untuk mendapatkan data.

5. Verification (memverifikasi)
Peserta didik membandingkan hasil diskusi antar kelompok
dengan cara mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

6. Generalization (menyimpulkan)
Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi pada kegiatan
pembelajaran tentang Archaebacteria dan Eubacteria.

Siswa:
 Membuat resume dengan bimbingan guru tentang point- 10 menit
Penutup point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran
Archaebacteria dan Eubacteria yang baru dilakukan
 Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran
Archaebacteria dan Eubacteria yang baru diselesaikan
 Mengagendakan tugas presentasi kelompok yang harus
dipelajari pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah
atau di rumah
Guru:
 Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung
diperiksa untuk materi pelajaran ciri-ciri Archaebacteria
dan Eubacteria Siswa yang selesai mengerjakan tugas
dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut
peringkat, untuk penilaian tugas pada materi ciri-ciri
bakteri
 Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran
Archaebacteria dan Eubacteria
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

136

Pertemuan Ke-2 dan Ke-3


Indikator Pencapaian Kompetensi:
3.5.2 Mengelompokkan jenis-jenis bakteri
4.5.2 Menyajikan data mengenai jenis-jenis bakteri
3.5.3 Mengidentifikasi struktur bakteri
4.5.3 Menyimulasikan metode kultur bakteri

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
Orientasi:
Pendahu-  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan 10 menit
-luan berdoa untuk memulai pembelajaran
 Memeriksa kehadiran siswa sebagai sikap disiplin PPK
 Menyiapkan fisik dan psikis siswa dalam mengawali (Religius)
kegiatan pembelajaran

Apersepsi
 Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan
dilakukan dengan pengalaman siswa dengan
materi/tema/kegiatan sebelumnya, tentang ciri-ciri dan
klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria
 Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya
 Apakah di ruang kelas ini kita dapat menemukan bakteri?
Pada objek apa sajakah kita dapat menemukannya?

Motivasi
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari
pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-
hari
 Apabila materi/tema/proyek ini kerjakan dengan baik dan
sungguh-sungguh dan dikuasai dengan baik, maka siswa
diharapkan dapat menjelaskan tentang materi Monera.
 Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang
berlangsung
 Mengajukan pertanyaan:
“Kira-kira bagaimana bentuk koloni bakteri?”

Pemberian Acuan
 Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada
pertemuan saat itu
 Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

137

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung.
 Pembagian kelompok belajar (3-4 siswa)
Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar
sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.

Discovery Learning
1. Stimulation (memberi stimulus); 70 menit
Inti  Guru menampilkan gambar koloni bakteri pada media
agar
Literasi

Gambar 1. Koloni bakteri Klebsiella pneumonia pada


media BAP
a. Siswa mengamati gambar koloni bakteri yang
tumbuh pada media agar
b. Siswa menganalisis struktur morfologi bakteri
tersebut
 Peserta didik didorong untuk menanggapi gambar yang
disajikan yang berhubungan dengan pengelompokan
bakteri dan struktur bakteri.

2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah)


Peserta didik didorong oleh guru untuk mengidentifikasi HOTS +
permasalahan pada lembar jurnal ilmiah yang dibagikan Berfikir
dalam tiap kelompok (sumber: http://jurnal.unsyiah.ac.id kritis
/depik/article/viewFile/124/117),
mengenai:
a. Jenis bakteri isolasi dan jenis substrat
b. Cara isolasi dan karakterisasi bakteri
c. Cara pengecatan bakteri
d. Hasil morfologi koloni dan sel
e. Bagan prosedur kerja isolasi dan karakterisasi bakteri
f. Perbedaan hasil pengecatan gram positif dan gram
negatif pada pengecatan gram
g. Perbedaan bakteri heterotrof dan autotrof
h. Perbedaan isolasi bakteri dengan cara pour plate dan
streak plate
i. Simulasikan isolasi bakteri dengan cara streak plate
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

138

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
menggunakan virtual lab, metode streak plate:
http://learn.chm.msu.edu/vibl/content/streakplate.html

3. Data Collecting (mengumpulkan data)


Peserta didik mengumpulkan data/informasi dari jurnal 4C +
ilmiah yang dibagikan yang terkait: PPK
a. Jenis bakteri isolasi dan jenis substrat
b. Cara isolasi dan karakterisasi bakteri
c. Cara pengecatan bakteri
d. Hasil morfologi koloni dan sel
e. Bagan prosedur kerja isolasi dan karakterisasi bakteri
f. Perbedaan hasil pengecatan gram positif dan gram
negatif pada pengecatan Gram
g. Perbedaan bakteri heterotrof dan autotrof
h. Perbedaan metode kultur bakteri dengan cara pour plate
dan streak plate
i. Simulasikan isolasi bakteri dengan cara streak plate
menggunakan virtual la, metode streak plate:
http://learn.chm.msu.edu/vibl/content/streakplate.html

4. Data Processing (mengolah data)


Peserta didik menganalisis data hasil penyajian dalam HOTS
power point dengan melakukan diskusi dalam kelompok
yang terdiri atas 3-4 siswa, sehingga dapat bekerja dengan
teliti, disiplin, tanggung jawab untuk mendapatkan data.

5. Verification (memverifikasi)
Peserta didik membandingkan hasil diskusi antar kelompok
dengan cara:
a. Peserta didik melakukan diskusi dalam kelompok
mengenai jurnal ilmiah dan tugas yang telah diberikan
oleh guru
b. Peserta didik melakukan studi literatur tentang
pertanyaan yang telah disusun
c. Peserta didik melakukan diskusi dalam kelompok untuk
mempersiapkan presentasi kelompok.
d. Peserta didik membandingkan hasil diskusi dengan
presentasi kelompok.
sehingga dapat menghargai perbedaan pendapat yang
muncul saat berdiskusi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

139

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
6. Generalization (menyimpulkan)
Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi pada kegiatan
pembelajaran mengenai jurnal ilmiah dan tugas yang telah
dibagikan.

Siswa:
 Membuat resume dengan bimbingan guru tentang point- 10 menit
Penutup point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran
Monera yang baru dilakukan
 Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran
jenis-jenis, struktur dan metode kultur bakteri yang baru
diselesaikan
 Mengagendakan tugas presentasi kelompok yang harus
dipelajari pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah
atau di rumah

Guru:
 Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung
diperiksa untuk materi pelajaran jenis-jenis, struktur dan
metode kultur bakteri
 Siswa yang selesai mengerjakan tugas dengan benar diberi
paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian
tugas pada materi jenis-jenis, struktur dan metode kultur
bakteri
 Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran jenis-
jenis, struktur dan metode kultur bakteri
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

140

Pertemuan Ke-4 dan Ke-5


Indikator Pencapaian Kompetensi:
3.5.4 Menjelaskan cara reproduksi bakteri
4.5.4 Membuat replika model reproduksi bakteri

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
Pendahu- Orientasi:
luan  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan 10 menit
berdoa untuk memulai pembelajaran
 Memeriksa kehadiran siswa sebagai sikap disiplin PPK
 Menyiapkan fisik dan psikis siswa dalam mengawali (Religius)
kegiatan pembelajaran

Apersepsi
 Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan
dilakukan dengan pengalaman siswa dengan
materi/tema/kegiatan sebelumnya, tentang “jenis-jenis,
struktur dan metode kultur bakteri”
 Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya
“Ingatkah kalian mengenai macam-macam bentuk bakteri
pada praktikum kemarin?”

Motivasi
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari
pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-
hari
 Apabila materi/tema/proyek ini kerjakan dengan baik dan
sungguh-sungguh dan dikuasai dengan baik, maka siswa
diharapkan dapat menjelaskan tentang materi Monera
 Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang
berlangsung
 Mengajukan pertanyaan:
“Jika manusia bisa berkembang biak dengan cara
melahirkan, kira-kira apakah bakteri bisa berkembang
biak? Jika bisa bagaimana caranya?”

Pemberian Acuan
 Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada
pertemuan saat itu
 Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

141

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
 Pembagian kelompok belajar (3-4 siswa)
Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar
sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.

Discovery Learning
1. Stimulation (memberi stimulus); 70 menit
Inti  Guru menampilkan video tentang cara bakteri
berkembang biak
Literasi

Ditampilkan video pembelajaran reproduksi bakteri


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=R5Wr
U72Ja4A
a. Siswa mengamati video mengenai cara reproduksi
bakteri
b. Siswa menganalisis tentang reproduksi bakteri
 Peserta didik didorong untuk menanggapi cara
reproduksi bakteri.

2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah) HOTS +


Peserta didik didorong oleh guru untuk mengidentifikasi Berfikir
permasalahan seperti: kritis
a. Peserta didik mengajukan pertanyaan atau masalah
yang ingin peserta didik ketahui sebanyak mungkin
berdasarkan hasil pengamatan video.
b. Peserta didik dalam mengumpulkan informasi dengan
studi literatur untuk menjawab pertanyaan.
b. Peserta didik didorong untuk memilih beberapa
pertanyaan dari daftar pertanyaan yang sesuai dengan
materi (diharapkan fokus pada materi tentang cara
reproduski bakteri) dengan bimbingan guru.
c. Peserta didik didorong untuk membuat sebuah seni
kriya reproduksi bakteri secara aseksual dan
paraseksual dengan cara undian

3. Data Collecting (mengumpulkan data) 4C +


Peserta didik mengumpulkan data/informasi dari video PPK
yang disajikan oleh guru serta referensi lain yang terkait
cara reproduksi bakteri.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

142

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
4. Data Processing (mengolah data)
Peserta didik menganalisis, membuat dan menyajikan hasil HOTS
seni kriya penyajian dengan melakukan diskusi dalam
kelompok yang terdiri atas 3-4 siswa berdasarkan
pengamatan video dan studi literatur, sehingga dapat
bekerja dengan teliti, disiplin, tanggung jawab untuk
mendapatkan data.

5. Verification (memverifikasi)
Peserta didik membandingkan hasil diskusi antar kelompok
dengan cara mempresentasikan hasil diskusi kelompok
berupa seni kriya reproduksi bakteri. Sehingga dapat
menghargai perbedaan pendapat yang muncul saat
berdiskusi.

6. Generalization (menyimpulkan)
Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi pada kegiatan
pembelajaran tentang cara reproduksi bakteri.

Siswa:
 Membuat resume dengan bimbingan guru tentang point- 10 menit
Penutup point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran
cara reproduksi bakteri yang baru dilakukan
 Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran
cara reproduksi bakteri yang baru diselesaikan
 Mengagendakan tugas presentasi kelompok dan
percobaan yang harus dipelajari pada pertemuan
berikutnya di luar jam sekolah atau di rumah
Guru:
 Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung
diperiksa untuk materi pelajaran cara reproduksi bakteri
 Siswa yang selesai mengerjakan tugas dengan benar diberi
paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian
tugas pada materi cara reproduksi bakteri
 Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran cara
reproduksi bakteri
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

143

Pertemuan Ke-6
Indikator Pencapaian Kompetensi:
3.5.5 Menentukan peranan bakteri bagi kehidupan
4.5.5 Menyajikan data tentang peran bakteri dalam kehidupan
Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
Orientasi:
Pendahu-  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan 10 menit
luan berdoa untuk memulai pembelajaran
 Memeriksa kehadiran siswa sebagai sikap disiplin PPK
 Menyiapkan fisik dan psikis siswa dalam mengawali (Religius)
kegiatan pembelajaran

Apersepsi
 Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang
akan dilakukan dengan pengalaman siswa dengan
materi/tema/kegiatan sebelumnya, yaitu tentang
reproduksi bakteri.
 Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya
“Ingatkah kalian bagaimana bakteri berkembang biak?”

Motivasi
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari
pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-
hari
 Apabila materi/tema/proyek ini kerjakan dengan baik dan
sungguh-sungguh dan dikuasai dengan baik, maka siswa
diharapkan dapat menjelaskan tentang peran bakteri
dalam kehidupan.
 Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan
yang berlangsung
 Guru memotivasi peserta didik dengan menunjukkan
yoghurt
 Mengajukan pertanyaan:
 Siapakah diantara kalian yang pernah mengkonsumsi
yoghurt?
 Terbuat dari apakah yoghurt?
 Adakah peran bakteri dalam pembuatan yoghurt/

Pemberian Acuan
 Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada
pertemuan saat itu
 Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

144

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung.
 Pembagian kelompok belajar (6-7 siswa)
Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar
sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.
Discovery Learning
1.Stimulation (memberi stimulus); 70 menit
Inti  Guru menampilkan gambar hasil peran bakteri dalam
kehidupan.
Literasi

Gambar 1. Yoghurt
a. Siswa mengamati gambar peran bakteri dalam
kehidupan
b. Siswa mengaitkan hubungan antara yoghurt dengan
peran bakteri dalam kehidupan
 Peserta didik didorong untuk menanggapi gambar yang
disajikan yang berhubungan peran bakteri dalam
kehidupan.

2.Problem Statement (mengidentifikasi masalah)


Peserta didik didorong oleh guru untuk mengidentifikasi HOTS +
permasalahan pada Lembar Kerja Siswa (LKS) 2, seperti: Berfikir
a. Peserta didik mengajukan pertanyaan atau masalah yang kritis
ingin peserta didik ketahui sebanyak mungkin
berdasarkan hasil pengamatan gambar.
b. Peserta didik didorong untuk memilih beberapa
pertanyaan dari daftar pertanyaan yang sesuai dengan
materi (diharapkan fokus pada materi tentang yoghurt
mengenai peran bakteri) dengan bimbingan guru.
c. Peserta didik didorong untuk membuat sebuah hipotesis
mengenai pengaruh bakteri terhadap pembuatan yoghurt

3.Data Collecting (mengumpulkan data) 4C +


Peserta didik mengumpulkan data/informasi dari sumber PPK
praktikum serta referensi lain yang terkait peran bakteri
pada yoghurt.

4.Data Processing (mengolah data)


Peserta didik menganalisis data hasil penyajian praktikum HOTS
peranan bakteri dalam laporan tertulis dengan melakukan
diskusi dalam kelompok yang terdiri atas 6-7 siswa,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

145

Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
sehingga dapat bekerja dengan teliti, disiplin, tanggung
jawab untuk mendapatkan data.
5. Verification (memverifikasi)
Peserta didik membandingkan hasil diskusi antar kelompok
tentang hasil praktikum peran bakteri. Sehingga dapat
menghargai perbedaan pendapat yang muncul saat
berdiskusi.

6. Generalization (menyimpulkan)
Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi pada kegiatan
pembelajaran tentang peran bakteri.

Siswa:
 Membuat resume dengan bimbingan guru tentang point- 10 menit
Penutup point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran
peran bakteri yang baru dilakukan
 Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran
peran bakteri yang baru diselesaikan
 Mengagendakan tugas presentasi kelompok yang harus
dipelajari pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah
atau di rumah

Guru:
 Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung
diperiksa untuk materi pelajaran peran bakteri
 Siswa yang selesai mengerjakan tugas dengan benar
diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk
penilaian tugas pada materi peran bakteri
 Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran peran
bakteri

I. Teknik Penilaian :
Aspek penilaian
1. Psikomotorik (lampiran)
2. Kognitif (lampiran)
3. Afektif (lampiran)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

146

Kriteria Penilaian
1. Test tertulis (ulangan harian)
2. Penugasan ( laporan hasil pekerjaan rumah)
3. Portfolio (LKS)
4. Produk ( replika model/ alat peraga reproduksi bakteri, laporan praktikum
peran bakteri dalam kehidupan)

Lampiran :
1. Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1) pertemuan ke-1
2. Instrumen penilaian kognitif (LKS 1) pertemuan ke-1
3. Instrumen penilaian psikomotorik (penilaian presentasi) pertemuan ke-1
sampai ke-6
4. Instrumen penilaian psikomotorik (penilaian produk) pertemuan ke-4 dan
ke -5
5. Lembar Kerja Siswa 2 (LKS 2) pertemuan ke-6
6. Instrumen penilaian kognitif (laporan praktikum) pertemuan ke-6
7. Instrumen penilaian psikomotorik (penilaian unjuk kerja) pertemuan ke-6
8. Instrumen penilaian afektif (lembar penilaian observasi)
9. Kisi-kisi penulisan soal ulangan harian Monera
10. Soal ulangan harian Monera
11. Instrumen penilaian kognitif ulangan harian Monera
12. Rekap instrumen penilaian kognitif

Yogyakarta, 12 Mei 2018

Mengetahui,
Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah SMA
Guru Mata Pelajaran
Biologi

Maresti Mei Yuniasih


(.......................................)

Maresti Mei Yuniasih


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

147

Lampiran 1 : Lembar Kerja Siswa (LKS) 1 Pertemuan 1

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) 1

A. KOMPETENSI DASAR
3.5. Mengidentifikasi struktur, cara hidup, reproduksi dan peran bakteri dalam
kehidupan

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
 Mengidentifikasi ciri-ciri Eubacteria dengan Archaebateria melalui
pengamatan gambar.
 Mengelompokkan bakteri berdasarkan cara hidupnya melalui study
literature
 Menyajikan data tentang ciri-ciri dan peran bakteri dalam kehidupan

1. Amatilah gambar struktur Eubacteria berikut ini. Buatlah pertanyaan-


pertanyaan yang ingin kamu ketahui jawabannya!
Habitat Eubacteria
Laut Tanah

2. Amatilah gambar struktur Archaebacteria berikut ini. Buatlah pertanyaan-


pertanyaan yang ingin kamu ketahui jawabannya!

Habitat Eubacteria
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

148

3. Amati gambar jenis bakteri berdasarkan koloni berikut dan lengkapilah


keterangan pada tabel !
No Nama Gambar Keterangan Bentuk
Koloni
1 Monobasil

Diplobasil

Streptobasil

2 Monococcus

Diplococcus

Streptococcus

Sarcina

Staphylococcus

3 Spirillum

Spirochaeta

Koma

4. Amati gambar jenis bakteri berdasarkan letak flagelnya di bawah ini dan
lengkapilah keterangan pada tabel !
No Tipe Gambar Penjelasan
1 Monotrik
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

149

2 Lofotrik

3 Amfitrik

4 Peritrik

5. Buatlah kesimpulan dari hasil pembelajaran hari ini!


a. Ciri-ciri Eubacteria :
No Aspek Keterangan
1 Tipe Sel
2 Struktur sel
3 Bahan penyusun
dinding sel
4 Penyusun membran
plasma
5 Habitat

b. Perbedaan ciri Eubacteria dengan Archaebacteria :


No Ciri-ciri Eubacteria Archaebacteria
1 Penyusun dinding
sel
2 Penyusun membran
plasma
3 Habitat

c. Pengelompokan bakteri berdasarkan koloninya:

________________________________________________________________

________________________________________________________________

________________________________________________________________

________________________________________________________________
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

150

d. Pengelompokan bakteri berdasarkan jumlah dan letak flagella:


_____________________________________________________________________

_____________________________________________________________________

_____________________________________________________________________

_____________________________________________________________________

Nama anggota kelompok:


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

151

Lampiran 2 : Penilaian Kognitif Lembar Kerja Siswa (LKS) 1 Pertemuan 1

PENILAIAN KOGNITIF

(LEMBAR PENILAIAN LKS 1)

Petunjuk penilaian :

Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai pengetahuan tugas kelompok.
Berilah tanda check list (√) pada kolom skor sesuai deskripsi yang ditentukan.

SMA

Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat


Kelas : X/1
Materi : Monera
KD : ….
Jenis Tugas : ….

No. Nama Siswa Kelompok Nilai

1.
2.
3.

Rubrik Penilaian

No Aspek yang dinilai pada soal Skor Keterangan


Menyusun pertanyaan tentang 4 Jika 3 indikator tercapai
Eubacteria 3 Jika 2 indikator tercapai
1. - Logis 2 Jika 1 indikator tercapai
- Ilmiah 1 Tidak ada indikator yang tercapai
- Kompleks
4 Jika 3 indikator tercapai
Susunan pertanyaan/ hipotesis
3 Jika 2 indikator tercapai
tentang Eubacteria
2 Jika 1 indikator tercapai
2. - Logis
1 Tidak ada indikator yang tercapai
- Ilmiah
- Kompleks
3. Penjelasan keterangan bentuk 3 Jika 2 indikator tercapai
koloni 2 Jika 1 indikator tercapai
- Kompleks 1 Tidak ada indikator yang tercapai
- Benar
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

152

No Aspek yang dinilai pada soal Skor Keterangan


4. Penjelasan keterangan letak 3 Jika 2 indikator tercapai
flagel 2 Jika 1 indikator tercapai
- Kompleks 1 Tidak ada indikator yang tercapai
- Benar
5. Membuat kesimpulan poin a, b, 3 Jika 2 indikator tercapai
c dan d 2 Jika 1 indikator tercapai
- Lengkap 1 Tidak ada indikator yang tercapai
- Benar

Skor Maksimal : 15

Nilai yang dicapai =


Kriteria nilai:
90 – 100 :A
70 − 80 :B
50 – 60 :C
Kurang dari 50 :D
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

153

Lampiran 3 : Instrumen Penilaian Psikomotorik Pertemuan 1-6

PENILAIAN PSIKOMOTORIK

(LEMBAR PENILAIAN KEMAMPUAN PRESENTASI)

Petunjuk penilaian :

Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai tugas kelompok. Berilah tanda check
list (√) pada kolom skor sesuai deskripsi yang ditentukan.

SMA

Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat


Kelas : X/1
Materi : Monera
KD : ….
Jenis Tugas : ….

Aspek yang dinilai


Sistematika Skor
Penggunaan Nilai
Penyampaian total
No. Nama Peserta Didik Bahasa
Materi
1 2 3 4 1 2 3 4

Rubrik Penilaian
No Aspek yang dinilai Skor Keterangan
Sistematika 4 Jika 3 indikator tercapai
penyampaian materi 3 Jika 2 indikator tercapai
1. - Jelas 2 Jika 1 indikator tercapai
- Terstruktur 1 tidak ada indikator yang tercapai
- Sistematis

Penggunaan Bahasa 4 Jika 3 indikator tercapai


2.
- Bahasa baku 3 Jika 2 indikator tercapai
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

154

No Aspek yang dinilai Skor Keterangan


- Mudah dipahami 2 Jika 1 indikator tercapai
- Kalimat efektif 1 tidak ada indikator yang tercapai

Skor Maksimal : 8

Nilai yang dicapai =

Kriteria nilai:
90 – 100 :A
70 − 80 :B
50 – 60 :C
Kurang dari 50 :D
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

155

Lampiran 4 : Instrumen Penilaian Psikomotorik Pertemuan 4 dan 5

PENILAIAN PSIKOMOTORIK

(LEMBAR PENILAIAN PRODUK)

Petunjuk penilaian :

Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai tugas kelompok. Berilah tanda check
list (√) pada kolom skor sesuai deskripsi yang ditentukan.

SMA

Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat


Kelas : X/1
Materi : Monera
KD : ….
Jenis Tugas : Membuat replika model reproduksi bakteri

No. Nama Aspek yang dinilai Skor Nilai


Peserta Kesesuaian Inovasi/Krea Kontribusi Hasil total
Didik Hasil ti-vitas dalam Model
Model dalam Teman Reproduksi
dengan Bekerja Kelompok Bakteri
Materi
1

Rubrik Penilaian
No Aspek yang dinilai Skor Keterangan
1 Kesesuaian hasil model dengan materi kurang
2 Kesesuaian hasil model dengan materi cukup
Kesesuaian Hasil Model
1. 3 Kesesuaian hasil model dengan materi baik
dengan Materi
4 Kesesuaian hasil model dengan materi amat
baik
2. Inovasi/Kreativitas dalam 1 Inovasi/kreativitas bekerja kurang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

156

No Aspek yang dinilai Skor Keterangan


Bekerja 2 Inovasi/kreativitas bekerja cukup
3 Inovasi/kreativitas bekerja baik
4 Inovasi/kreativitas bekerja amat baik
3. 1 Kontribusi dalam teman kelompok kurang
Kontribusi dalam Teman 2 Kontribusi dalam teman kelompok cukup
Kelompok 3 Kontribusi dalam teman kelompok baik
4 Kontribusi dalam teman kelompok amat baik
4. 1 Hasil model reproduksi bakteri kurang
Hasil Model Reproduksi 2 Hasil model reproduksi bakteri cukup
Bakteri 3 Hasil model reproduksi bakteri baik
4 Hasil model reproduksi bakteri amat baik

Skor Maksimal : 16

Nilai yang dicapai =


Kriteria nilai:
90 – 100 :A
70 − 80 :B
50 – 60 :C
Kurang dari 50 :D
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

157

Lampiran 5 : Lembar Kerja Siswa (LKS) 2 Pertemuan 6

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) 2


PEMBUATAN YOGHURT

A. KOMPETENSI DASAR
4.5 Menyajikan data tentang ciri-ciri dan peran bakteri dalam kehidupan

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
Mengetahui perak bakteri Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus
bulgaricus pada pembuatan yoghurt

C. Dasar Teori
Yoghurt adalah suatu minuman yang dibuat dari susu sapi dengan
cara fermentasi oleh bakteri Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus
bulgaricus. Bakteri ini adalah bakteri asam laktat yang mengubah laktosa
dari susu biasa menjadi asam laktat.

D. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Panci penangas
b. Toples kaca/plastik
c. Spatula
d. Saringan tepung
e. Wadah plastik
f. Botol/jar
g. Kompor
2. Bahan
a. Susu sapi segar 1000 ml
b. 50 ml starter untuk yoghurt

E. Langkah Kerja
1. Sterilkan wadah plastik untuk digunakan sebagai tempat untuk
fermentasi yoghurt
2. 50 ml starter yoghurt untuk susu sapi segar disiapkan sebanyak 1 liter.
3. Masukkan susu sapi ke dalam panci untuk dipasteurisasi selama 10
menit. Panaskan kompor dengan api kecil sambil diaduk perlahan (susu
jangan sampai mendidih dan hangus bagian bawah).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

158

4. Angkat dan dinginkan susu dengan meletakkan panci ke dalam


baskom/wadah yang berisi air dingin sambil diaduk secara perlahan
hingga suhu suam kuku.
5. Tuangkan bibit/starter yoghurt (Streptococcus thermophilus dan
Lactobacillus bulgaricus) ke dalam panci yang berisi susu dan diaduk
perlahan.
6. Pindahkan susu yang berisi starter ke toples plastik/kaca yang bersih
dan tutup rapat.
7. Inkubasi di ruangan yang bersih dan hangat (38oC) tanpa terkena sinar
matahari selama 24-48 jam.
8. Buka toples dan aduk hingga homogen, kemudian tutup dan simpan (6
jam), aduk kembali dan siap untuk dipanen.
9. Yoghurt dapat disimpan di lemari es (8oC).

F. Hasil
Lakukan kegiatan dengan dua perangkat percobaan. Percobaan 1 tidak
diberi bibit/starter yoghurt (Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus
bulgaricus) dan percobaan 2 diberi bibit/starter yoghurt (Streptococcus
thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus). Kemudian bandingkan
hasilnya (warna, bau pH, dan tekstur) pada akhir percobaan.

G. Pembahasan
Lakukan analisis terhadap data hasil yang diperoleh

H. Kesimpulan
Simpulkan percobaan anda dan buatlah laporan tertulis dari percobaan
yang telah dilakukan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

159

Lampiran 6 : Instrumen Penilaian Kognitif Pertemuan 6

Laporan Praktikum
Petunjuk penilaian :
Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai kompetensi kognitif peserta
didik. Berilah nilai pada kolom penilaian.

SMA

Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat


Kelas : X/1
Materi : Monera
KD : 3.5 Mengidentifikasi struktur, cara hidup, reproduksi dan
peran bakteri dalam kehidupan
Jenis Tugas : Laporan praktikum peran bakteri dalam pembuatan
yoghurt

No. Nama Siswa Nilai Keterangan

1.
2.
3.

Rubrik Penilaian

No. Pola Skor Keterangan


Sistematika laporan 1 Jika 3 indikator tercapai
- Bagian awal laporan sistematis
2 Jika 2 indikator tercapai
- Bagian isi laporan sistematis
1 - Bagian akhir laporan sistematis Jika 1 indikator tercapai
3
tidak ada indikator yang
4
tercapai
Kelengkapan laporan 1 Jika 3 indikator tercapai
- Bagian awal laporan lengkap
2 Jika 2 indikator tercapai
- Bagian isi laporan lengkap
2 - Bagian akhir laporan lengkap 3 Jika 1 indikator tercapai
Tidak ada indikator yang
4 tercapai
3 Kejelasan laporan 1 Jika 3 indikator tercapai
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

160

No. Pola Skor Keterangan


- Ringkas 2 Jika 2 indikator tercapai
- Kalimat sesuai EYD
3 Jika 1 indikator tercapai
- Runtut
Tidak ada indikator yang
4
tercapai
Kebenaran Konsep 1 Jika 3 indikator tercapai
- Mengaplikasikan konsep dalam
2 Jika 2 indikator tercapai
solusi
4 - Menggunakan prosedur kerja 3 Jika 1 indikator tercapai
yang sesuai Tidak ada indikator yang
- Pemaparan konsep sesuai teori 4
tercapai
Data dan Pembahasan 1 Jika 3 indikator tercapai
- Ilmiah
2 Jika 2 indikator tercapai
- Faktual
5 - Pembahasan dibandingkan 3 Jika 1 indikator tercapai
dengan teori Tidak ada indikator yang
4
tercapai
1 Jika 3 indikator tercapai
Kesimpulan
- Singkat 2 Jika 2 indikator tercapai
6 - Sesuai tujuan 3 Jika 1 indikator tercapai
- Sesuai data
Tidak ada indikator yang
4
tercapai

Keterangan:

Keterangan
Skor
Penilaian
Sangat baik 4
Baik 3
Cukup baik 2
Kurang 1
Jumlah skor maksimum = 24

Nilai yang dicapai =

Kriteria nilai:
90 – 100 :A
70 − 80 :B
50 – 60 :C
Kurang dari 50 :D
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

161

Lampiran 7 : Instrumen Penilaian Psikomotorik KD 4.5 Pertemuan 6

PENILAIAN PSIKOMOTORIK

(LEMBAR PENILAIAN UNJUK KERJA)

Petunjuk penilaian :
Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai kompetensi keterampilan peserta
didik. Berilah skor pada kolom aspek penilaian sesuai aspek yang ditentukan.

SMA
Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat
Kelas : X/1
Materi : Monera
KD : 4.5 Menyajikan data tentang ciri-ciri dan peran bakteri
dalam
kehidupan
Jenis Tugas : Unjuk kerja peran bakteri dalam pembuatan yoghurt

Nama Aspek yang dinilai


No. Peserta Pelaksanaan Skor Nilai
Persiapan Hasil Laporan
Didik
1.
2.
3.

Rubrik Penilaian

No. Aspek yang Dinilai Skor Keterangan


3 Pemilihan alat dan bahan tepat
Persiapan 2 Pemilihan alat atau bahan tepat
1.
(Skor maksimal = 3) 1 Pemilihan alat dan bahan tidak tepat
0 Tidak menyiapkan alat dan/atau bahan
3 Merangkai alat tepat dan rapi
2 Merangkai alat tepat atau rapi
Pelaksanaan
1 Merangkai alat tidak tepat dan tidak rapi
2. (Skor maksimal = 7)
0 Tidak membuat rangkaian alat

2 Langkah kerja dan waktu pelaksanaan tepat


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

162

No. Aspek yang Dinilai Skor Keterangan


1 Langkah kerja atau waktu pelaksanaan tepat
0 Langkah kerja dan waktu pelaksanaan tidak tepat

Memperhatikan keselamatan kerja dan


2
kebersihan
Memperhatikan keselamatan kerja atau
1
kebersihan
Tidak memperhatikan keselamatan kerja dan
0
kebersihan
3 Mencatat dan mengolah data dengan tepat
2 Mencatat atau mengolah data dengan tepat
1 Mencatat dan mengolah data tidak tepat
0 Tidak mencatat dan mengolah data
Hasil
3.
(Skor maksimal = 6)
3 Simpulan tepat
2 Simpulan kurang tepat
1 Simpulan tidak tepat
0 Tidak membuat simpulan
Sistematika sesuai dengan kaidah penulisan dan
3
isi laporan benar
Sistematika sesuai dengan kaidah penulisan atau
Laporan 2
4. isi laporan benar
(Skor maksimal = 3)
Sistematika tidak sesuai dengan kaidah
1
penulisan dan isi laporan tidak benar
0 Tidak membuat laporan

Skor Maksimal : 19

Nilai yang dicapai =


Kriteria nilai:
90 – 100 :A
70 − 80 :B
50 – 60 :C
Kurang dari 50 :D
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

163

Lampiran 8 : Instrumen Penilaian Sikap

PENILAIAN AFEKTIF

(LEMBAR PENILAIAN OBSERVASI)

Petunjuk penilaian :
Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai kompetensi sikap peserta didik.
Berilah skor pada kolom aspek penilaian sikap.

SMA
Nama Satuan Pendidikan : SMA
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Kelas/Semester : X/1
Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat

Butir Tindak
No. Waktu Nama Kejadian/Perilaku Positif/Negatif
Sikap Lanjut
1.
2.
3.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 9 : Kisi-kisi Penulisan Soal Ulangan Harian Monera

KISI-KISI PENULISAN SOAL


Ulangan Harian Monera

Nama Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas Jumlah Soal : 23 butir


Kelas/Semester : X/1 Alokasi Waktu : 90 menit
Semester/Tahun Ajaran : 2018/2019 Bentuk Soal : Pilihan ganda, isian singkat dan uraian
Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat Penyusun : Maresti Mei Yuniasih
Kurikulum Acuan : Kurikulum 2013

Nomor Bentuk
KD IPK Materi Pembelajaran Indikator Soal
Soal Soal

3.5 Mengidenti- 3.5.1  Ciri kingdom Monera Menentukan ciri utama kingdom Monera dengan tepat Pilihan
fikasi struktur, Mengidentifikasi  Perbedaan organisme prokariotik 1
ganda
cara hidup, ciri-ciri Eubacteria dan eukariotik
reproduksi dan dengan  Ciri-ciri Archaebacteria Menentukan pernyataan yang benar mengenai
perbedaan sel prokariotik dengan sel eukariotik Pilihan
peran bakteri Archaebateria  Macam Archaebacteria 2
ganda
dalam kehidupan melalui pengamatan berdasarkan metabolisme dan
gambar. ekologi Setelah disajikan pernyataan mengenai perbedaan
 Ciri-ciri Eubacteria Archaebacteria dan Eubacteria, peserta didik mampu Pilihan
 Klasifikasi Eubacteria menentukan kebenaran perbedaan Archaebacteria 3
ganda
dan Eubacteria

164
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nomor Bentuk
KD IPK Materi Pembelajaran Indikator Soal
Soal Soal

Setelah disajikan gambar bakteri Sulfolobus, peserta


didik mampu mengelompokkan bakteri tersebut Pilihan
berdasarkan metabolisme dan ekologinya 4
ganda

Menentukan pernyataan yang tidak benar mengenai


Pilihan
ciri Eubacteria 5
ganda
Menentukan contoh bakteri heterotrof dengan tepat Pilihan
6
ganda
Setelah disajikan ciri-ciri sianobakteria, peserta didik
mampu menentukan nama spesies yang dimaksud Isian
14
dengan tepat singkat

Setelah disajikan pernyataan mengenai pengertian


dari bakteri dalam memperoleh makanan, peserta
didik mampu menentukan kelompok bakteri yang Isian
18
dimaksud dengan tepat singkat

Setelah disajikan pernyataan mengenai ciri-ciri


eubakteria, peserta didik mampu menentukan hasil Isian
20
produk yang dimaksud dengan tepat singkat

165
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nomor Bentuk
KD IPK Materi Pembelajaran Indikator Soal
Soal Soal

3.5.2 Jenis-jenis bakteri berdasarkan: Setelah disajikan gambar mengenai macam-


Mengelompokkan  Karakteristik dinding sel macam letak flagella, peserta didik mampu
Pilihan
jenis-jenis bakteri  Jumlah dan letak flagella menentukan gambar yang termasuk bakteri 7
ganda
melalui study  Cara hidup lofotrik dan peritrik dengan tepat
literatur
Menentukan jenis bakteri berdasarkan
Isian
karakteristik dinding sel dengan tepat 12
singkat
Setelah disajikan pernyataan mengenai
pengertian dari jenis pengelompokan bakteri
berdasarkan cara hidupnya, peserta didik mampu Isian
15
menentukan pengelompokan bakteri yang singkat
dimaksud dengan tepat

3.5.3  Ukuran bakteri Setelah disajikan gambar mengenai macam-


Mengidentifikasi  Bentuk bakteri macam bentuk koloni bakteri, peserta didik Pilihan
struktur bakteri  Metode kultur bakteri mampu menentukan gambar yang termasuk
8
ganda
melalui praktikum
koloni bakteri diplo kokus dengan tepat
koloni bakteri

Setelah disajikan pernyataan mengenai nama lain


dari teknik metode kultur bakteri, peserta didik Isian
16
mampu menentukan nama lain dari metode kultur singkat
bakteri yang dimaksud dengan tepat

166
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nomor Bentuk
KD IPK Materi Pembelajaran Indikator Soal
Soal Soal

3.5.4 Menjelaskan  Reproduksi bakteri secara


Setelah disajikan gambar mengenai reproduksi
cara reproduksi seksual (pembelahan biner)
bakteri, peserta didik mampu menggolongkan Pilihan
bakteri melalui  Reproduksi bakteri secara para macam reproduksi bakteri yang sesuai dengan
9
ganda
pengamatan video. seksual (transformasi, konjugasi gambar dengan tepat
dan transduksi)
Setelah disajikan pernyataan mengenai proses
 salah satu macam cara reproduksi bakteri, peserta
didik mampu menentukan jenis reproduksi Isian
13
bakteri yang dimaksud dengan tepat singkat

Menentukan cara reproduksi bakteri secara


Isian
aseksual dengan tepat 17
singkat
Menganalisis terjadinya resistensi antibiotik pada
kesehatan manusia dengan hubungannya terhadap
reproduksi bakteri dengan tepat 21 Uraian

3.5.5 Peran bakteri dalam kehidupan Setelah disajikan pernyataan mengenai peran
Menjelaskan bakteri secara positif dna negatif dalam
peranan bakteri kehidupan, peserta didik mampu menentukan Pilihan
10
bagi kehidupan. penyakit yang disebabkan oleh bakteri dengan ganda
tepat

167
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Nomor Bentuk
KD IPK Materi Pembelajaran Indikator Soal
Soal Soal

Menentukan nama mikroorganisme yang


berperan dalam pembuatan nata de coco dengan Isian
11
tepat singkat

Menentukan bakteri penyebab penyakit raja singa Isian


dengan tepat 19
singkat
Menganalisis keterkaitan jika manusia mampu
memfiksasi nitrogen dengan tepat 22 Uraian

Menyajikan data mengenai peran bakteri secara


positif dalam kehidupan lingkungan sekitar 23 Uraian
peserta didik dengan tepat

Yogyakarta, 12 Mei 2018

Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran

Maresti Mei Yuniasih

168
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

169

Lampiran 10 : Soal Ulangan Harian Monera

ULANGAN HARIAN MONERA

Mata Pelajaran : Biologi Peminatan Waktu : 90


menit
Kelas/Program : X/IPA Hari, tanggal :

A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat !


1. Ciri utama kingdom Monera yaitu …
A. Uni seluler
B. Prokariotik
C. Eukariotik
D. Multi seluler
E. Fotoautotrof

2. Pernyataan yang benar mengenai perbedaan antara sel prokariotik dengan


sel eukariotik adalah …
A. Sel prokariotik dilindungi oleh dinding sel, sedangkan sel eukariotik
tidak memiliki dinding sel
B. Sel Prokariotik selalu memiliki flagela sebagai alat gerak, sedangkan
seluruh sel eukariotik tidak memiliki alat gerak
C. Protoplasma sel eukariotik dilapisi membran, sedangkan protoplasma
sel prokariotik tidak dilapisi membran
D. Sel prokariotik tidak memiliki DNA, sedangkan sel eukariotik
memiliki DNA di dalam inti selnya
E. Kromosom sel eukariotik berada di dalam inti sel, sedangkan
kromosom sel prokariotik berada di dalam sitoplasma

3. Perhatikan pernyataan berikut ini:


1) Perbedaan materi penyusun membran inti
2) Perbedaan jenis lipid penyusun membran plasma
3) Perbedaan materi penyusun dinding sel
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

170

4) Ada tidaknya protein ribosom dan RNA polimerase


Pernyataan di atas yang menjadi ciri pembeda antara Archaebacteria dan
Eubacteria adalah …
A. 1 dan 3
B. 2 dan 3
C. 2 dan 4
D. 1 dan 4
E. 4 saja

4. Berdasarkan gambar di samping dan pengelom-


pokkan berdasarkan metabolisme dan
ekologinya, bakteri Sulfobus, dapat dikelom-
pokkan ke dalam bakteri…
A. Halofilik
B. Termoasidofilik
C. Metanogen
Gambar: Bakteri Sulfolobus hidup di
D. Heterotrof
mata air sulfur di Yellowstone
E. Kemoautotrof National Park

5. Manakah di antara pernyataan berikut yang tidak benar?


A. Archaebacteria dan Eubacteria memiliki lipid membran yang berbeda
B. Baik Archaebacteria dan Eubacteria umumnya tidak memiliki organel
yang terselubung membran
C. Dinding sel Archaebacteria dan Eubacteria tidak memiliki
peptidoglikan
D. Hanya Eubacteria yang memiliki histon yang berasosiasi dengan DNA
E. Hanya beberapa Archaebacteria yang menggunakan CO2 untuk
mengoksidasi H2 dan melepaskan metana
6. Bakteri berikut ini yang merupakan bakteri heterotrof yaitu …
A. Bakteri TBC
B. Bakteri besi
C. Bakteri nitrit
D. Bakteri nitrat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

171

E. Bakteri belerang

7. Perhatikan gambar berikut!

Berdasarkan letak flagella, bakteri lofotrik dan peritrik secara berurutan


ditunjukkan pada…
A. (a) dan (b)
B. (a) dan (d)
C. (b) dan (c)
D. (c) dan (d)
E. (b) dan (d)

8. Perhatikan gambar berikut!

Koloni bakteri diplo kokus dan sarkina secara berurutan ditunjukkan


pada…
A. (d) dan (e)
B. (a) dan (b)
C. (c) dan (d)
D. (b) dan (c)
E. (b) dan (e)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

172

9. Perhatikan gambar berikut!

Berdasarkan gambar reproduksi bakteri tersebut, terlihat bahwa


perpindahan materi genetik melalui saluran diantara dua sel bakteri yang
berdekatan. Cara reproduksi tersebut termasuk …
A. Transduksi
B. Pembelahan biner
C. Transformasi
D. Fragmentasi
E. Konjugasi

10. Meskipun bakteri berperan positif dalam banyak bidang, bakteri juga
merugikan yaitu menyebabkan penyakit. Penyakit yang disebabkan oleh
bakteri adalah …
A. TBC, antraks, kolera dan influenza
B. Malaria, demam berdarah dan flu burung
C. Sifilis, disentri, tifus dan pneumonia
D. DBD, difteri, tifus dan kolera
E. Influenza, trakoma, malaria dan disentri

A. Isian singkat, jawablah secara urut singkat dan jelas!


11. Nata de coco adalah salah satu hasil olahan yang memanfaatkan
mikroorganisme…
12. Bakteri yang memiliki dinding sel dengan lapisan peptidoglikan yang
cukup tebal adalah kelompok bakteri …
13. Pemindahan materi genetik dengan perantara bakteriofag disebut dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

173

14. Andi melakukan pengamatan terhadap ganggang biru. Berdasarkan


pengamatannya, dia menemukan ciri-ciri ganggang biru seperti berbentuk
benang, dapat bergerak, dan memiliki sel yang pipih. Jadi, dia
berkesimpulan bahwa ganggang biru ini merupakan spesies …
15. Berdasarkan cara hidupnya, bakteri yang kebutuhan makanannya
diperoleh dari sisa-sisa organisme yang telah mati, merupakan kelompok
bakteri …
16. Metode kultur bakteri dengan cawan tuang disebut juga dengan metode …
17. Secara aseksual bakteri dapat berkembang biak dengan …
18. Bakteri yang mampu membentuk senyawa organik dari zat-zat anorganik
dengan menggunakan energi kimia disebut bakteri …
19. Penyakit raja singa disebabkan oleh bakteri patogen …
20. Pada kondisi yang tidak menguntungkan, bakteri dapat membentuk …
yang berfungsi melindungi bakteri dari panas dan gangguan alam.

B. Uraian, Jawablah secara tepat menurut analisis anda masing-masing!


21. Jika suatu bakteri nonpatogenik memperoleh resistensi terhadap antibiotik,
dapatkah galur ini mendatangkan risiko kesehatan bagi manusia? Jelaskan!
Secara umum, bagaimana rekombinasi genetik di antara bakteri
mempengaruhi penyebaran gen-gen manusia?
22. Jelaskan apa yang mungkin anda makan jika manusia dapat memfiksasi
nitrogen seperti sianobakteri!
23. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kearifan lokal seperti
kuliner khas daerah. pemanfaatan bakteri dalam bidang produk makanan
atau minuman, juga berkontribusi dalam memajukan keberagaman kuliner
khas daerah tersebut. Sebutkan makanan atau minuman khas daerah anda
yang berkaitan dengan pemanfaatan bakteri secara positif, kemudian
identifikasilah mikroorganisme yang berperan serta analisislah cara
pebuatan produk tersebut!
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

174

Kunci Jawaban

A. Pilihan ganda
1. B
2. E
3. B
4. B
5. D
6. A
7. E
8. E
9. E
10. C

B. Isian singkat
11. Acetobacter xylinum
12. Gram positif
13. Transduksi
14. Oscillatoria
15. Saprofit
16. Pour plate
17. Pembelahan biner
18. Kemoautotrof
19. Neisseria gonorrhoeae
20. Endospora

C. Uraian
21. Ya. Gen-gen bagi resistensi antibiotika bisa ditransfer (melalui
transformasi, transduksi, atau konjugasi) dari bakteri non patogenik ke
bakteri patogenik, hal ini dapat menyebabkan bakteri patogen tersebut
semakin mengancam kesehatan manusia. Pada umumnya, transformasi,
transduksi dan konjugasi cenderung meningkatkan penyebaran gen-gen
resistensi.
22. Jika manusia bisa memfiksasi nitrogen, maka kita dapat memproduksi
protein menggunakan N2 atmosfer, dan karenanya tidak perlu melahap
makanan kaya protein seperti daging atau ikan, akan tetapi diet kita harus
mencakup sumber karbon selain mineral dan air, dengan demikian
makanan kita terdiri atas karbohidrat sebagai penyedia mineral esensial
(dan karbon tambahan).
23. (Jawaban subjektif)→ mengacu pada analisis ilmiah
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

175

Lampiran 11 : Instrumen Penilaian Kognitif Soal Ulangan Harian Monera

PENILAIAN KOGNITIF
(LEMBAR PENILAIAN ULANGAN HARIAN MONERA)

Petunjuk penilaian :
Lembar ini diisi oleh Pendidik untuk menilai kompetensi kognitif peserta didik.
Berilah nilai pada kolom penilaian.

SMA
Mata Pelajaran : Biologi Peminatan dan Biologi Lintas Minat
Kelas : X/1
Materi : Monera
KD : 3.5 Mengidentifikasi struktur, cara hidup, reproduksi dan
peran bakteri dalam kehidupan
Jenis Tugas : Ulangan harian Monera

No. Nama Siswa Nilai Keterangan

1.
2.
3.

Rubrik Penilaian

A. Pilihan Ganda
Keterangan Skor
Jawaban benar 1
Jawaban salah 0
Tidak menjawab 0
Total skor pilihan ganda 10

B. Isian Singkat
Keterangan Skor
Jawaban benar 2
Jawaban salah 1
Tidak menjawab 0
Total skor isian singkat 20
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

176

C. Uraian

No. Keterangan Skor


21 Jika menjawab lengkap dengan disertai alasan ilmiah dan logis 5
antara kaitan sistem reproduksi bakteri terhadap resistensi bakteri
Jika menjawab tidak lengkap dengan tidak disertai alasan ilmiah 2
yang logis antara kaitan sistem reproduksi bakteri terhadap
resistensi bakteri
Jika tidak menjawab antara kaitan sistem reproduksi bakteri 0
22. Jika menjawab lengkap dengan disertai alasan ilmiah dan logis 5
mengenai keuntungan manusia jika dapat memfiksasi nitrogen
Jika menjawab tidak lengkap dengan tidak disertai alasan ilmiah 2
yang logis mengenai keuntungan manusia jika dapat memfiksasi
nitrogen
Jika tidak menjawab 0

23. Jika nama produk kuliner disebutkan, macam organisme 5


pendukung disebutkan dan cara pengolahan/proses dijelaskan
secara jelas dan benar
Jika nama produk tidak disebutkan, macam organisme pendukung 4
disebutkan dan cara pengolahan/proses dijelaskan secara jelas dan
benar
Jika nama produk tidak disebutkan, macam organisme pendukung 2
tidak disebutkan dan cara pengolahan/proses dijelaskan secara
singkat dan kurang detail
Jika tidak menjawab 0
Total skor uraian 15

Jumlah skor maksimum = 45

Nilai yang dicapai =

Kriteria nilai:
90 – 100 :A
70 − 80 :B
50 – 60 :C
Kurang dari 50 :D
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

177

Lampiran 12 : Rekap Instrumen Penilaian Kognitif

LEMBAR PENILAIAN ASPEK KOGNITIF

Nama Penilaian Harian


No. Nilai Ket.
Siswa T1 T2 UH

Keterangan:
Tugas: 25 % UH: 50 %

Nilai: (25% X T1) + (25% X T2) + (50% X UH)

Anda mungkin juga menyukai