BAB I PENDAHULUAN

Secara umum karsinoma nasofaring merupakan neoplasma yang jarang ditemui. Penyakit ini dapat mengenai semua umur. Meliputi sekitar 2% atau lebih dari seluruh keganasan kepala dan leher. Karsinoma ini dapat tumbuh di daerah manapun pada nasofaring Gejala dan tanda karsinoma nasofaring sangat bervariasi dan sering samar samar sehingga membingungkan pemeriksa. Karsinoma ini juga sering tidak menimbulkan gejala hingga akhirnya terlambat didiagnosa, terutama yang muncul pada fossa Rossenmuller. Lesi yang lebih lanjut dapat menyebar hingga mengenai beberapa saraf kranial dan menimbulkan gejala-gejala neurologis. Kendala yang dihadapi dalam penanganan karsinoma nasofaring adalah sebagian besar penderita datang pada stadium lanjut, bahkan sebagian lagi datang dengan keadaan umum yang jelek. Hal ini disebabkan terlambatnya diagnosa ditegakkan, maka perlu ditekankan akan pentingnya menemukan dan menegakkan diagnosa sedini mungkin. Sampai saat ini terapi yang memuaskan belum ditemukan. Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh stadium penderita. Keterlambatan penderita untuk mendapatkan penanganan yang adekuat menyebabkan hasil terapi jauh dari memuaskan.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Definisi Karsinoma nasofaring adalah tumor yang berasal dari sel sel epitel yang menutupi permukaan nasofaring. Pertama kali dijabarkan oleh Regand dan Schmincke pada tahun 1921. Karsinoma ini dikenal sebagai tumor ganas yang berpotensi tinggi untuk metastase regional maupun jauh.

II.2. Epidemiologi Secara umum karsinoma nasofaring di dunia jarang dijumpai angka kejadian kurang dari 1/100.000 jumlah penduduk setiap tahun. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, terbanyak pada usia 40-60 tahun. Perbandingan antara laki-laki dan wanita adalah 2 :1 sampai 3 : 1.Di Asia Tenggara, angka kejadiannya kira -kira 5/100.000 jumlah penduduk setiap tahun. II.3. Etiologi

Penyebab pasti dari karsinoma nasofaring sampai saat ini belum diketahui, namun ada 3 hal yang dianggap sebagai faktor penyebab, yaitu faktor infeksi, faktor genetikal dan faktor lingkungan.
II.4. Histopatologi

Klasifikasi

gambaran

histopatologi

yang

direkomendasikan

oleh

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1997, dibagi atas 3 bagian, yaitu : 1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi, dimana terdapat jembatan interseluler dan keratin pada sebagian besar sel tumor. Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan buruk, keratinizing squamous cell carcinoma (KSC) Tipe I. Frekuensinya kira-kira 10%.

2

Bentuk ulseratif Bentuk ini paling sering terdapat pada dinding posterior dan di daerah sekitar fossa Fosenmuller. pada tipe sel tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler. tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa jembatan intersel. Ketiganya mempunyai bentuk dan tempat predileksi yang sangat berbeda. Juga dapat ditemui pada dinding lateral di depan tuba Eustachius dan pada bagian atap nasofaring. Karsinoma non-keratinisasi. 3. Pada umumnya batas sel tidak terlihat dengan jelas. berbentuk oval atau bulat dengan nukleoli yang jelas. pada permukaan pemeriksaan dijumpai adanya diferensiasi. Secara individu batas sel cukup jelas dan kadang-kadang terlihat struktur dengan sel yang jernih oleh karena adanya glikogen di dalam sitoplasma. Seringkali dijumpai susunan pleksiform.kira 20%. Bentuk noduler/lobuler/proliferatif Bentuk noduler atau lobuler sangat sering dijumpai pada daerah sekitar muara tuba Eustachius. yaitu bentuk ulseratif. Undifferentiated Carcinoma (UC) Tipe III. bentuk nodular dan bentuk eksofitik.kira 70%.2. Gambaran histopatologi dari tumor ini biasanya karsinoma tanpa 3 . Frekuensinya kira . Karsinoma tidak berdiferensiasi. Secara makroskopis karsinoma nasofaring dapat dibedakan menjadi 3 bentuk. Gambaran histopatologik bentuk ini adalah karsinoma sel skuamosa dengan diferensiasi baik. namun kadang-kadang dapat dijumpai ulserasi kecil. Tumor jenis ini berbentuk seperti buah anggur atau polipoid jarang dijumpai adanya ulserasi. Frekuensinya kira . Lesi ini biasanya kecil disertai dengan jaringan yang nekrotik dan sangat mudah mengadakan infiltrasi ke jaringan sekitamya. Non Keratinizing Carcinoma (NKC) Tipe II. Kadang-kadang dapat dijumpai sel tumor yang berbentuk seperti kumparan dengan inti hiperkromatik. yaitu : 1. Sel tumor tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak teratur (syncitium) dan kelompok sel tumor tersebut membentuk massa yang berbatas jelas di dalam stroma jaringan lilmfoid. 2.

Dinding lateral nasofaring merupakan bagian terpenting. batas posterior adalah vertebra servikal dan batas inferior adalah permukaan atas palatum molle dan berhubungan dengan orofaring. 4 . Gambaran histopatologi biasanya berupa limfosarkoma. Bentuk Eksofitik Bentuk eksofitik biasanya tumbuh pada satu sisi nasofaring. Pada bagian belakang atas muara tuba eustachius terdapat penonjolan tula yang disebut terus menerus dan ng dibelakangnya terdapat suatu lekukan dari fossa Rosenmuller dan tepat diujung atas posteriornya terletak foramen laserum. 3. Struktur ini penting diketahui karena merupakan tempat penyebaran tumor ke intrakranial. 4 Pada dinding lateral nasofaring lebih kurang 1. kadang-kadang bertangkai dan permukaannya licin. Pada daerah fossa ini sering terjadi pertumbuhan jaringan limfe yang menyempitkan muara tuba eustach sehingga ius mengganggu ventilasi udara telinga tengah. kanalis karotis dan kanalis hipoglossus. Tumor jenis ini biasanya tumbuh dari atap nasofaring dan dapat mengisi seluruh rongga nasofaring. Tumor ini dapat mendorong palatum molle ke bawah dan tumbuh ke arah koana dan masuk ke dalam rongga hidung.5 inci dari bagian belakang konka nasal inferior terdapat muara tuba eustachius. Anatomi Nasofaring Nasofaring merupakan rongga dengan dinding ka di atas. dibentuk oleh lamina faringobasilaris dari fasia faringeal dan otot konstriktor faring superior. tidak dijumpai adanya ulserasi. Fasia ini mengandung jaringan fibrokartilago yang menutupi foramen ovale. belakang dan ku lateral. foramen jugularis. Batas-batas nasofaring yaitu batas atas (atap) adalah os sphenoid dan sebagian prosessus basilaris.diferensiasi. batas anterior adalah koana dan palatum molle.

Gejala Klinis Menegakan diagnosis sedini mungkin sangat penting. 2. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh karsinoma nasofaring ini antara lain: ‡ Gejala telinga 1. ‡ Gejala hidung 1. 2. kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental. pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba.5. kelenjar limfe regional dan dasar tengkorak. sehingga mengakibatkan keluhan rasa penuh di telinga. baik regional ataupun metastase jauh. Untuk itu diperlukan pergetahuan tentang gejala dini dari karsinoma nasofaring dan juga perluasannya. telinga. Sumbatan hidung Sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga nasofaring dan menutupi koana. yaitu hidung tuba eustachius. Epistaksis Dinding tumor biasanya rapuh sehingga iritasi ringan saja dapat mengakibatkan terjadinya perdarahan. 5 . sehingga berwarna merah jambu. Gejala menyerupai pilek kronis. Pada umumnya tumor bermula di fossa Rosenmuller. Kataralis/oklusi tuba eustachius. berdengung dan kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. jumlahnya sedikit dan bercampur dengan ingus.II. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini dari karsinoma nasofaring. Gejala ditentukan oleh hubungan anatomik nasofaring dengan organ disekitamya. Otitis media serosa dan dapat berlanjut sampai terjadi perforasi dan gangguan pendengaran. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang.

Gejala nyeri kepala hebat terjadi akibat penekanan tumor pada durameter. Namun jika keluhan ini timbul berulang kali. Sindroma petrosfenoid terjadi bila seluruh saraf grup anterior yang terkena. tanpa penyebab yang jelas. misalnya pilek kronis. * Perluasan ke atas Tumor meluas ke intrakranial menjalar sepanjang fossa medialis.Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas pada penderita karsinoma nasofaring. Tumor ini dapat menyebar secara intrakranial maupun ekstrakranial sehingga menyebabkan terjadinya paralisis saraf kranial mutipel.Neuralgia trigeminal unilateral . * Perluasan ke belakang 6 . Tanda-tanda lainnya adalah terjadinya . khususnya kelumpuhan saraf kranial. kita harus waspada dan segera melakukan pemeriksaan yang lebih teliti terhadap rongga nasofaring sampai terbukti bahwa bukan karsinoma nasofaring penyebabnya. Perluasan ke atas lebih sering ditemukan di Indonesia. kemudian n V dan III. Epistaksis juga terjadi pada anak yang sedang menderita radang.n VI yang sering terkena lebih dulu n VI.Oftalmoplegia unilateral . sinusitis dan lain-lain. Tidak jarang gejala diplopia-lah yang membawa penderitaan lebih dulu berobat ke dokter mata. disebut penjalaran petrosfenoid. karena juga dijumpai pada infeksi biasa. ‡ Gejala Neurologi Karsinoma nasofaring telah diketahui dapat menyebabkan berbagai lesi neurologis. atau menetap walaupun telah diberikan pengobatan. Kemudian ke sinus kavernosus dan fossa kranii media mengenai grup anterior saraf otak yaitu n II . Biasanya melalui foramen laserum.

Biasanya beberapa saraf otak terkena secara unilateral. berupa penyempitan fisura palpebralis. b. maka karsinoma nasofaring dapat menyebar ke kelenjar limfe leher. faring dan laring disertai gangguan respirasi dan salivasi. tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan bilateral. Manifestasi keluhan ialah a. -Sindrom retroparotidian terjadi akibat kelumpuhan n IX. n IX : Kesulitan menelan karena hemiparesis otot konstriktor superior serta gangguan pengecapan pada sepertiga belakang lidah. 7 . disebut penjalaran retroparotidian. stemokleidomastoideus. d.Tumor meluas ke belakang secara ekstrakranial sepanjang fossa posterior. n X : Hiper / hipoanestesi mukosa palatum mole. simpatikus servikalis. enoftalmus dan miosis. Sedangkan nervus VII dan VIII. X. ‡ Gejala Pada Kelenjar Getah Bening Oleh karena tumor pada nasofaring relatif bersifat anaplastik dan banyak terdapat kelenjar limfe. serta hemiparesis palatum mole. Yang terkena adalah grup posterior dari saraf otak yaitu n VII . n XI : Kelumpuhan atau atrofi otot-otot trapezeus. sel-sel kanker dapat sampai di kelenjar limfe leher dan tertahan disana karena memang kelenjar ini merupakan pertahanan pertama agar sel-sel kanker tidak langsung ke bagian tubuh yang lebih jauh . XI dan XII. sangat jarang terjadi kerusakan oleh karena tumor.n XII beserta nervus simpatikus servikalis. n XII : hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah Semua ini biasanya disertai dengan sindroma Horner akibat kelumpuhan n. Melalui aliran pembuluh limfe. c. karena letaknya agak tinggi serta terietak dalam kanalis tulang. Tumor dapat mengenai otot dan menyebabkan kekakuan otot-otot rahang sehingga terjadi trismus.

5% . Kelenjar menjadi lekat pada otot dan sulit digerakkan. Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus.Gejala-gejala hidung sebanyak 77. menembus kelenjar dan mengenai otot dibawahnya.Paru-paru 20% . Limfadenopati servikalis merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter.Di dalam kelenjar ini sel tersebut tumbuh dan berkembang biak sehingga kelenjar menjadi besar dan tampak sebagai benjolan pada leher bagian samping. Dari hasil penelitian didapati : . .Ginja1 0.Otak 0.Pembesaran kelenjar getah bening sebanyak 60% Dari hasil penelitian lain berdasarkan pemeriksaan fisik didapati : .Sakit kepala sebanyak 61% . Benjolan ini dirasakan tanpa nyeri karenanya sering diabaikan oleh pasien .Hati 10% .Kelumpuhan saraf cranial ditemukan pada 25% penderita Penelitian mengenai metastase jauh. didapati : .4% .Tulang 20% . Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut lagi.4% 8 .Gejala yang paling sering didapati adalah pembesaran kelenjar getah bening tanpa nyeri sebanyak 80%.Gejala-gejala telinga sebanyak 73% .

sedangkan ke hati 10%. masingmasing sebanyak 20%. hati dari paru. -MRI : dapat menunjukkan perluasan tumor. Hal ini merupakan stadium akhir dan prognosis sangat buruk. erosi dasar tengkorak. mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. tiroid 0. karena paru merupakan daerah metastase yang cukup sering. 4. Diagnosa Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa. II. Jika ditemukan adanya kecurigaan yang mengarah pada suatu karsinoma nasofaring. Diagnosa pasti ditegakkan dengan biopsi nasofaring. Pemeriksaan Fisik 3.‡ Gejala akibat metastase jauh . ditandai dengan adanya tandatanda kerusakan pada dasar tengkorak. 9 .Foto Schedel : untuk melihat invasi tumor. Penting dilakukan untuk mengetahui histopatologi dan menentukan jenis terapinya. ginjal 0. Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat mengadakan metastase jauh. Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah.4%. Biopsi Nasofaring dan Patologi Anatomi Biopsi ini merupakan diagnosa pasti karsinoma nasofaring. -Foto Thoraks : untuk melihat adanya metastase tumor. Yang sering ialah tulang. Pemeriksaan Radiologi . yang terbanyak ke paru-paru dan tulang. -CT Scan nasofaring : berguna untuk melihat tumor primer yang tersembunyi. Dapat juga untuk melihat perluasan tumor. protokoi di bawah ini dapat membantu untuk menegakkan diagnosis pasti serta stadium tumor 1.4%. pemeriksaan klinis clan pemeriksaan penunjang. Kira-kira 25% penderita datang berobat ke dokter sudah-mempunyai pertumbuhan ke intrakranial atau pada foto rontgen terlihat destruksi dasar tengkorak dan hampir 70% metastase kelenjar leher. Anamnesa 2. otak 4%.6.

T2b No. N = pembesaran kelenjar getah bening regional. < 6 cm di atas fossa supraclavicular. T = tumor primer. N3 = metastase pada kelenjar getah bening -N3a = • 6 cm -N3b = perluasan ke fosca supraclavicular M = metastasis jauh M0 = tidak ada metastasis jauh M1=Terdapat metastasis jauh Pengelompokan stadium (UICC 1997) Stadium I : T1 No Mo Stadium IIA : T2a No Mo Stadium IIB : T1 N1 Mo. T2b N2 Mo. N2 = pembesaran bilateral. N1 = pembesaran unilateral. -T2a = tanpa perluasan ke parafaringeal -T2b = dengan perluasan ke parafaringeal T3 = tumor invasi ke struktur tulang dan/atau sinus paranasal T4 = tumor dengan perluasan ke intrakranial dan/atau melibatkan saraf kranial. < 6 cm. T3 NO/N1/N2 Mo 10 . hipofaring.Barre. N1 Mo Stadium III : T1 N2 Mo. melihat metastase pada hepar -Bone Scintigraphy: untuk melihat metastase ke tulang. Stadium Klinis Untuk penentuan stadium dipakai sistem TNM menurut UICC (1997). Pemeriksaan laboratorium -Pemeriksaan serologi : berupa IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk virus Ebstein . T2 N1 Mo. T2a N1 Mo.-USG hepar . T1 = tumor terbatas pada nasofaring T2 = tumor meluas ke jaringan orofaring dan/atau ke fossa nasalis. fossa infratemporal. di atas fossa supraclavicular.

Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada keadaan kambuh. 1. Radiasi juga dapat diberikan pada kekambuhan atau pada metastasis tulang. Radioterapi Sampai saat ini radioterapi merupakan terapi utama karsinoma nasofaring. Radioterapi pada karsinoma nasofaring bisa dilakukan dengan cara radiasi eksterna (teleterapi) ataupun radiasi intema (brachyterapi). Radiasi interna (brachyterapi) pada karsinoma nasofaring bertujuan untuk memberikan dosis tinggi pada regio nasofaring tapi tidak pada jaringan sekitarnya maupun kelenjar. sedangkan kelenjar leher yang membesar diberi 6000 rad. Salah satu cara penggabungan dengan radiasi adalah dengan cara sandwich yaitu kemoterapi- 11 . 2. Terapi Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan terapi.7. Radioterapi diberikan bertahap dan terbagi dalam beberapa seri sampai mencapai 6000-6600 rad untuk tumor primer. Radiasi tambahan dapat diberikan bila respon terapi kurang baik. Ternyata kombinasi radioterapi dan kemoterapi dapat meningkatkan hasil terapi. Faktor utama yang mempengaruhi pemilihan terapi antara lain : -histopatologi -penyebarannya -kondisi penderita Mayoritas tumor pada nasofaring adalah karsinoma nasofaring tipe III. Biasanya radiasi interna dikombinasikan dengan radiasi ekstema sebagai booster.Stadium IVA : T4 No/N1/N2 Mo Stadium IVB : T1/T2/T3/T4 N3 Mo Stadium IV C : T1/T2/T3/T4 No/N1/N2/N3 M1 II. Tipe ini sensitif terhadap radioterapi. Kemoterapi Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring akhirakhir ini banyak mendapat perhatian karma kebanyakan penderita stadium lanjut tidak memberikan respon yang memuaskan terhadap radioterapi.

misalnya balita untuk mencegah timbulnya karsinoma nasofaring. Ini dikerjakan apabila tumor primer sudah menghilang sedang kelenjar leher masih tersisa.radiasi-kemoterapi. Bermacam-macam protokol pemberian kemoterapi telah dilaporkan. mid facial degloving. Terapi Bedah Terapi bedah sedikit sekali mendapat tempat pada penatalaksanaan karsinoma nasofaring. 3. 4. Imunoterapi Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dad karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-Barr. Meskipun banyak dilaporkan keberhasilan kombinasi terapi ini tetapi kontroversi mengenai keuntungan dan kerugian ini masih ada. Pembedahan yang pernah dilaporkan adalah deseksi leher pasca radioterapi. Belakangan ini dengan berkembangnya radioterapi tumor residif yang terbatas di nasofaring dapat diberikan brachyterapi. Luka i dapat ditutup dengan jabir miokutan pektoralis mayor. Apabila kulit permukaan sudah rusak karena radiasi atau adanya infiltrasi ke kulit maka reseksi dapat dilakukan dengan mengikutsertakan kul t permukaan. trans-antral dan sebagainya. Mungkin ini lebih cocok pada tumor residif. Syarat lainnya adalah tidak ada metastasis jauh. Meskipun pemah dilaporkan berhasil pada pemberian single drug namun lebih dianjurkan pemnerian ³multiple drugs´ untuk mendapat efek maksimal dengan dampak yang minimal. 12 . Untuk karsinoma nasofaring stadium I dan II tampaknya radioterapi masih merupakan pilihan utama dengan hasil yang cukup baik. Disamping itu immunoterapi dapat juga dilakukan dengan memberikan vaksin anti virus Epstein-Barr pada populasi yang rentan. Sudah barang tentu ini dilakukan untuk tumor yang masih terbatas di nasofaring. sedang untuk stadium III dan IV terapi kombinasi radioterapi dan kemoterapi mungkin lebih menjanjikan. Pembedahan pada tumor di nasofaring melalui berbagai pendekatan seperti rinotami lateral. maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan immunoterapi.

Prognosa penderita buruk bila dijumpai : 1. N1. No-1 < 5 cm) Penderita pada stadium ini terapi pilihannya berupa radioterapi pada daerah tumor primer dan pada seluruh leher.2 tipe III dapat dikontroi pada > 90% kasus dalam 3 tahun.4. Pada kasus yang lebih lanjut kombinasi antara kemoterapi radioterapi merupakan terapi standard pada tipe I.3) Penderita tipe I stadium lanjut. Pada penderita Undifferentiated Carcinoma. karsinoma T1.N3. Brachyterapi sebagai terapi tambahan cocok bagi penderita tipe III karsinoma nasofaring. Penderita dengan tumor lokal stadium lanjut sangat sensitif terhadap kemoterapi dengan meningkatnya survival rate. terapinya berupa kombinasi kemoterapi dan radioterapi. Tipe histologinya Keratinizing Squamous Cell Carcinoma Dari seluruh penderita 5-year survival rate (5-YSR) : 50%. ‡ Terapi pada stadium awal (T1-2. tipe 1 dan T1. jumlah yang dapat dikontrol dengan radioterapi kira-kira 75% dan 50%. ‡ Terapi pada stadium lanjut (T 1. walaupun metastase limfatik dan hematogen lebih sering pada ke-2 tipe yang disebutkan terakhir.8. Pada penderita Squamous Cell Carcinoma T2 and T34. Dengan radio terapi saja. 10 year survival rate (10-YSR) : 30%. II. T3 . Prognosa Prognosa karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada pertumbuhan lokal dan kecenderungan metastasenya. Penderita dengan pembesaran kelenjar getah bening (” 5 cm) pada tipe III. 5YSR-nya lebih tinggi 20-30% daripada penderita Keratinizing Squamous Cell 13 . jumlah yang dapat dikontrol 1 dengan radioterapi sebanyak ± 93%. Stadium lanjut 3. Pembesaran kelenjar getah bening 2.‡ Terapi secara umum Radioterapi merupakan pilihan terapi standard pada stadium awal karsinoma nasofaring typr III. N2 > 5 cm .T4. Keratinizing Squamous Cell Carcinoma pertumbuhan lokal tumornya cenderung lebih agresif daripada Non Keratinizing dan Undifferntiated Carcinoma.

Carcinoma. kematian biasanya disebabkan oleh progresfitas lokal tumor. kematian lebih sering disebabkan oleh metastase jauh. 10-YSR : 40 . 14 . sedangkan bila kombinasi dengan kemoterapi. khususnya pada 2 tahun pertama setelah terapi. Pada tipe Undifferentiated.70%. Menurut penelitian terbaru. secara umum penderita yang diterapi dengan radioterapi saja. Relaps lokal mempunyai faktor resiko yang signifikan dengan perkembangan metastase. Pada tipe Squamous Cell Carcinoma.50%. 10-YSR : 55 .

sakit kepala dan telinga terasa berdengung dengan pendengaran berkurang pada telinga kanan. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien hanya pernah sakit ringan.BAB III PENYAJIAN KASUS I. Pasien mulai merasakan sulit untuk bernapas. sulit untuk makan dan minum sejak seminggu terakhir mimisan ringan 1-2x sehari (hilang-timbul. tidak terlalu mengganggu aktivitasnya. 15 . permukaannya berbenjol-benjol. batuk produktif). namun mulai mengganggu aktivitas sehari-hari sekitar 2 minggu yang lalu (gejala : sulit menelan. ANAMNESIS Identitas Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan : Tn. AB : Laki-laki : 64 tahun : Dusun Sepang : Swasta Tanggal masuk RS : 29 Mei 2010 Tanggal periksa : 7 Juni 2010 : 12:30 WIBA Anamnesis dilakukan pada pukul Keluhan Utama Benjolan pada leher sebelah kanan Riwayat Penyakit Sekarang Benjolan pada leher telah dirasakan sejak satu bulan yang lalu sebesar bola ping-pong pada leher bagian kanan. Sekarang benjolan berukuran sekitar satu kepalan tangan. suara serak. terasa kenyal. dan tidak nyeri. tidak setiap hari).

Palpasi Telinga Kanan Hiperemis : (-) Edema Aurikula Massa : (-) : (-) Telinga kiri Hiperemis : (-) Edema Massa : (-) : (-) Hiperemis : (-) fistula Preaurikula Edema Abses Massa : (-) : (-) : (-) : (-) Hiperemis : (-) fistula Edem Abses Massa : (-) : (-) : (-) : (-) 16 .Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama seperti pasien. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal: 7 Juni 2010 Kedaan Umum Tanda Vital - pukul : 12:30WIBA : Tampak sakit berat Tekanan darah 170/90 mmHg Frekuensi nadi 98 x/menit Frekuensi napas 21 x/menit Suhu 37°C : kurang/buruk : secara umum masih dalam batas normal Status gizi Saraf Kranial STATUS LOKALIS Telinga Inspeksi. II.

Hiperemis : (-) fistula Retroaurikula Edema abses : (-) Massa : (-) Nyeri pergerakan (-) Nyeri tekan tragus Palpasi (-) Nyeri tekan aurikula : (-) : : : (-) : (-) Hiperemis : (-) fistula Edema abses : (-) Massa : (-) Nyeri pergerakan : (-) Nyeri tekan tragus : (-) Nyeri tekan aurikula : (-) : (-) : (-) Otoskopi : Telinga Kanan Edema : (-) Telinga Kiri Edema : (-) Hiperemis : (-) Massa MAE : (-) Hiperemis : (-) Massa : (-) Furunkel : (-) Sekret : (-) Furunkel : (-) Sekret : (-) Serumen : (+) Serumen : (+) 17 .

nyeri tekan hidung dan sinus paranasal (-) 18 .Perforasi : (-) Letak Intak Warna :N : (+) : Suram Perforasi : (-) Letak Intak Warna :N : (+) : Suram Hiperemis :(-) Membran Timpani Refleks Cahaya :(-) Hiperemis :(-) Refleks Cahaya :(-) Tes Pendengaran Fungsional (Tes Pendengaran / Garpu Tala) Telinga Kiri Tes Rinne Tes Weber Tes Swchwabach (+) Lateralisasi ke telinga kanan Normal Memanjang Telinga Kanan (-) Hidung dan Sinus Paranasal Inspeksi. Palpasi : Deviasi tulang hidung (-) Bengkak daerah hidung dan sinus paranasal (-) Krepitasi tulang hidung (-).

Palpasi : Tidak simetris. Teraba massa dengan diameter 9 cm. tampak massa pada leher sebelah kanan. terfiksir. nyeri pada penekanan (-). tertutup oleh massa.Rinoskopi Anterior : Cavum Nasi dextra Hiperemis : (-) Massa :(-) Mukosa Hidung Sekret : (+) Atrofi :(-) Mukus :(-) Pucat :(-) Septum Deviasi :(-) Dislokasi :(-) Hipertrofi :(-) Cavum Nasi sinistra Hiperemis : (-) Massa :(-) Sekret : (+) Atrofi :(-) Mukus : (-) Pucat :(-) Deviasi :(-) Dislokasi :(-) Hipertrofi :(-) Konka Inferior dan Media Atrofi :(-) Atrofi :(-) Sekret :(+) Sekret :(+) Sekret :(+) Meatus inferior dan media Polip :(-) Sekret :(+) Polip :(-) Rinoskopi Posterior : Sulit dinilai. permukaannya berbenjol-benjol (tidak rata). 19 . kenyal. Tenggorokan Inspeksi.

Pemeriksaan Histo/PA FNAB : 20 . RBC. Ht. WBC (pemeriksaan lab.Pembesaran KGB daerah leher (+) unilateral (dextra). tertutup oleh massa. y y y - PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DIUSULKAN Pemeriksaan Radiologi Ro Torax PA CT-Scan daerah kepala dan leher (terutama nasofaring) Laboratorium : : Hb. III. darah rutin). Mukosa Orofaring : sulit dinilai Tonsil Sulit dinilai Laringoskopi Indirek : Sulit dinilai.

IV. VI. DIAGNOSIS Diagnosis Kerja Susp. : Kemoterapi+radioterapi (atas persetujuan keluarga. Captopril 3x25 mg. Ketorolac 1 amp drip. y - TATALAKSANA Non-Medikamentosa : Nutrisi yang adekuat Family support y - Medikamentosa Ceftriaxone 1x1 g iv. jika hasil pemeriksaan Histo-PA dan Radiologi positif menunjang diagnosis). Ca Nasofaring : Diagnosa Banding TB KGB Leher Tumor laring : V. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanactionam : dubia ad malam : dubia ad bonam : dubia ad malam 21 .

BAB IV PEMBAHASAN Pada kasus ini diketahui seorang laki-laki. sulit untuk makan dan minum sejak seminggu terakhir mimisan ringan 1-2x sehari (hilang-timbul. tidak setiap hari). namun mulai mengganggu aktivitas sehari-hari sekitar 2 minggu yang lalu (gejala : sulit menelan. Dari hasil pemeriksaan rontgen thoraks masih dalam keadaan normal. 22 . adanya benjolan berdiameter 9 cm. sakit kepala dan telinga terasa berdengung dengan pendengaran berkurang pada telinga kanan. suara serak. permukaannya berbenjol-benjol. Pasien mulai merasakan sulit untuk bernapas. batuk produktif). dan tidak nyeri. pada pemeriksaan nervus kranialis secara umum masih dalam keadaan normal. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan Benjolan pada leher telah dirasakan sejak satu bulan yang lalu sebesar bola ping-pong pada leher bagian kanan. Pembesaran KGB leher mengarahkan kecurigaan metastasis dari tumor tersebut ke kelenjar getah bening ipsilateral. usia 64 tahun mengeluhkan adanya benjolan pada leher sebelah kanan Pada pemeriksaan fisik ditemukan . terasa kenyal. dengan konsistensi kenyal dan terfiksir.. Sekarang benjolan berukuran sekitar satu kepalan tangan.

pasien perlu mendapatkan terapi nonmedikamentosa untuk dukungan moriil. Disamping itu diberikan obat obatan untuk mengurangi gejala simptomatis pada pasien. AB. pencegahan kecacatan dan mempertahankan keadaan nutrisi.BAB V KESIMPULAN Tn. Selama dirawat di rumah sakit. Pasien ini perlu segera dilakukan pemeriksaan radiologi dan patologi-anatomi untuk menentukan diagnosis pasti dan penatalaksanaan selanjutnya. 64 tahun mengeluhkan benjolan di leher oleh karena curiga adanya karsinoma nasofaring yang telah mendesak daerah leher hingga mendekati rongga mulut. 23 .

38 -47. 24 . Soedjak S. editor. THT-KL. Hidung Tenggorok. Soepardi A. Ropper AH. Harmadji SM Hasanusi R. Dalam Mulyarjo. Wisnubroto. Hal. editor. Jakarta: FKUI . Dalam : Efiaty H. Surabaya: FK-UNAIR . Roezin A. New York: Mc Graw-Hill .` 55. Principles of Neurology. Artono. 7 ed. 149 . Mulyarjo. Perkembangan Terkini Diagnosis dan Penatalaksanaan Tumor Ganas. Victor M. 2000. Iskandar NH. Syafril A.DAFTAR PUSTAKA th Adams RD. 2002. Hal. Karsinoma Nasofaring. Edisi ke-4. Diagnosis dan Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring. 2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful