Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


a. Undang-Undang Nomor 72 Tahun 1957 tentang Penetapan UU Drt No. 19/1955
tentang Penjualan Rumah-Rumah Negeri kepada Pegawai Negeri sebagai UU;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005 tentang Perubahan atas PP No. 40
Tahun 1994;
d. Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan, Penetapan
Status, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak Atas Rumah Negara;
e. Perpres No. 73/2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Teknis Pengadaan, Penetapan Status, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak Atas
Rumah Negara;
g. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 138/PMK.06/2010 tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara Berupa Rumah Negara;
h. Perdirjen Perbendaharaan No. PER-85/PB/2011 tentang Penatausahaan PNBP pada
Satuan Kerja Kementerian / Lembaga;
i. Peraturan Menteri Keuangan No. 246/PMK.06/2014 Tentang Tata Cara Pelaksanaan
Penggunaan Bara ng Milik Negara, jo. No. 87/PMK.06/2016 tentang Perubahan
PMK No. 246/PMK.06/2014;
j. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 05/SE/DC/2012 tentang SKTL
Sewa;
k. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 10/SE/DC/2012 tentang SKTL
Sewa Beli;
l. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 06/SE/DC/2016 tentang Tim
Penatausahaan Rumah Negara Golongan III;
m. Peraturan Menteri Keuangan No. 87/PMK/2016 tentang Tata Cara Penggunaan
BMN.

1
1.2 Permasalahan
a. Kurangnya koordinasi antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Dinas Pekerjaan
Umum/Teknis Provinsi yang membidangi pengelolaan Rumah Negara Golongan III
dikarenakan belum dipahaminya tugas dan fungsi secara baik oleh aparat yang
melaksanakannya;
b. Belum lancarnya proses kegiatan pengelolaan rumah negara yang dialihkan status
dan haknya, terutama didaerah, akibat adanya berbagai perubahan peraturan.
c. Ketidakselarasan persepsi mengenai teknis administrasi pengelolaan Rumah Negara
yang mempengaruhi mutu layanan Rumah Negara;
d. Tidak tersedianya pencatatan arsip yang tertib, bahkan sebahagian tidak tercatat.
e. Adanya sistem pembayaran untuk sewa maupun sewa beli Rumah Negara Golongan
III secara digital atau online dengan sistem SIMPONI yang akan diterapkan mulai
awal tahun 2016.
f. Belum tertibnya pencatatan PNBP, karena adanya pelimpahan pengelolaan PNBP
Rumah Negara Golongan III dari Kementerian Keuangan kepada Kementerian
Pekerjaan Umum;
g. Banyak Rumah Negara Golongan III telah “jatuh tempo” atau melewati batas waktu
pembelian (5 – 20 tahun) belum melunasi, mengalihkan ke pihak lain maupun berubah
fungsinya menjadi bengkel dan lain-lain.

1.3 Maksud dan Tujuan


A. Maksud
Kegiatan ini dimaksudkan untuk :
1. Memperbaiki, menata dan memutakhirkan pencatatan aset Rumah Negara
Golongan III;
2. Membantu menertibkan pencatatan aset Rumah Negara Golongan I dan II yang
semestinya dilakukan masing-masing K/L;
3. Mengetahui dan mendata kondisi factual usulan Rumah Negara Golongan II yang
akan dialihkan menjadi Rumah Negara Golongan III;
4. Menyebarluaskan informasi dan proses Rumah Negara Golongan III ke penghuni
dan K/L;
5. Meningkatkan akurasi dan legalitas hasil penaksiran Rumah Negara Golongan
III;
2
6. Memperbaiki metode penyimpanan arsip sesuai standar;
7. Menyederhanakan dan memutakhirkan system pembayaran angsuran sewa beli
sehingga memudahkan bagi penghuni;
8. Mensinergikan peran Dinas Teknis dengan Satker dalam hal pengelolaan Rumah
Negara Golongan III di tingkat provinsi.

B. Tujuan
Tujuan kegiatan ini adalah :
1. Tertatanya pencatatan aset Rumah Negara Golongan III;
2. Tertibnya pencatatan asset Rumah Negara Golongan I dan II di masing-masing
K/L;
3. Terdatanya kondisi factual usulan Rumah Negara Golongan II yang akan
dialihkan menjadi Rumah Negara Golongan III;
4. Tersebarluaskannya informasi dan proses Rumah Negara Golongan III ke
penghuni dan K/L;
5. Meningkatnya akurasi dan legalitas hasil penaksiran Rumah Negara Golongan
III;
6. Terwujudnya penyimpanan arsip yang sesuai standar;
7. Terciptanya system pembayaran angsuran sewa-beli yang memudahkan
penghuni;
8. Terciptanya sinergisitas peran Dinas Teknis dengan Satker dalam hal
pengelolaan Rumah Negara Golongan III di tingkat Provinsi.

1.4 Ruang Lingkup


Lingkup pekerjaan ini meliputi :

a. Melakukan koordinasi dengan Instansi Vertikal K/L yang ada di Provinsi Sulawesi
Barat. Bentuk Koordinasi dilakukan yaitu dengan :

b. memberikan penjelasan kepada pihak K/L mengenai Rumah Negara Golongan I, II


dan III;

c. meminta data-data terkait rumah negara (Jika ada);

d. Melakukan pendataan (Survey) rumah negara yang ada di K/L lingkup Provinsi
Sulawesi Barat. Dan melakukan penaksiran mengenai jenis rumah negara.
3
e. Melakukan pengadministrasian dan pengarsipan data-data rumah negara yang
diperoleh dari hasil survey.

f. Melakukan rapat dan koordinasi dengan pihak Satuan Kerja Penataan Bangunan dan
Lingkungan Provinsi Sulawesi Barat terkait hasil pelaksanaan tiap kegiatan.

g. Membantu Satuan Kerja PBL Sulawesi Barat dalam melaksanakan seluruh rangkaian
kegiatan terkait pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Rumah Negara Golongan III.

h. Membuat dan melaporkan data-data rumah negara golongan III kepada Subdit Rumah
Negara, Direktorat Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tiapTriwulaan sesuai format dari Subdit
Rumah Negara (Laporan Triwulan).
i. Membuat Laporan bulanan pelaksanaan kegiatan.

1.5 Keluaran
Keluaran akhir yang diminta pada kegiatan ini adalah :
A. Laporan pelaksanaan Pengelolaan Rumah Negara, antara lain:
a. Rekapitulasi Pendaftaran Rumah Negara yang diproses;
b. Rekapitulasi Surat Ijin Penghunian Rumah Negara Golongan III yang telah
diterbitkan;
c. Rekapitulasi Berita Acara Penaksiran dan Penilaian Rumah Negara Golongan III
yang telah diterbitkan;
d. Rekapitulasi Perjanjian Sewa Beli Rumah Negara Golongan III yang telah
diterbitkan;
e. Rekapitulasi Penatausahaan PNBP Rumah Negara Golongan III di wilayah
Provinsi setempat;
f. Rekapitulasi SKTL Sewa dan Sewa Beli Rumah Negara Golongan III yang telah
diterbitkan;
g. Rekapitulasi penyerahan Hak Milik RUmah Negara Golongan III kepada
penghuni.
B. Laporan Pelaksanaan Sosialisai Rumah Negara Golongan IIII.
C. Input data inventarisasi Rumah Negara Golongan III.
D. Laporan WASTEK (Pengawasan Teknis) Rumah Negara Golongan III.

4
BAB II
PEMAHAMAN UMUM

2.1 Definisi
Rumah Negara adalah bangunan yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat
tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga serta menunjang pelaksanaan tugas
Pejabat dan/atau Pegawai Negeri.

2.1.1 Rumah Negara Golongan I


Rumah Negara yang dipergunakan bagi pemegang jabatan tertentu dan karena sifat
jabatannya harus bertempat tinggal di rumah tersebut, serta hak penghuniannya terbatas
selama pejabat yang bersangkutan masih memegang jabatan tertentu tersebut;

2.1.2 Rumah Negara Golongan II


Rumah Negara yang mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu
instansi dan hanya disediakan untuk didiami oleh Pegawai Negeri dan apabila telah
berhenti atau pensiun rumah dikembalikan kepada Negara;

2.1.3 Rumah Negara Golongan III


Rumah Negara yang berasal dari Rumah Negara Golongan II, yang dapat dijual kepada
penghuninya.

2.2 Pendaftaran Rumah Negara


Pendaftaran merupakan kegiatan inventarisasi/pencatatan rumah negara baik yang
berdiri sendiri dan/atau berupa satuan rumah susun beserta atau tidak beserta tanahnya
yang dilaksanakan untuk tertib administrasi kekayaan negara.
Pimpinan Instansi wajib melaksanakan pendaftaran rumah negara kepada Menteri
Pekerjaan Umum dalam hal ini Direktur Jenderal Cipta Karya.

Tujuan :
a. mengetahui status dan penggunaan rumah negara;
b. mengetahui jumlah secara tepat dan rinci jumlah aset berupa rumah negara;
5
c. menyusun program kebutuhan pembangunan rumah negara;
d. mengetahui besarnya pemasukan keuangan kepada negara dari hasil sewa dan
pengalihan hak rumah negara;
e. menyusun rencana biaya pemeliharaan dan perawatan.

2.3 Dokumen Persyaratan Pendaftaran Rumah Negara


sesuai dengan PERMEN PU 22/PRT/M/2008

Bagan Persyaratan Pendaftaran Rumah Negara

6
2.4 Penetapan Status Rumah Negara
 Setiap pimpinan instansi wajib menetapkan status rumah negara yang berada di
bawah kewenangannya menjadi Rumah Negara Golongan I atau Rumah Negara
Golongan II;
 Penetapan status Rumah Negara Golongan III dilakukan oleh Menteri Pekerjaan
Umum;
 Rumah negara yang mempunyai fungsi secara langsung melayani atau terletak
dalam lingkungan suatu kantor instansi, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi,
pelabuhan udara, pelabuhan laut dan laboratorium/balai penelitian ditetapkan
menjadi Rumah Negara Golongan I.

2.5 Persyaratan Pengalihan Status Rumah Negara golongan II Menjadi Rumah Negara
golongan III
 Rumah Negara paling singkat 10 tahun sejak dimiliki oleh Negara atau sejak
ditetapkan perunbahan fungsinya senbagai rumah Negara;
 Status hak atas tanahnya sidah di tetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
 Rumah dan tanah tidak dalam sengketa berdaarkan surat pernyataan dari instansi
yang bersangkutan;
 Penghuninya telah memiliki masa kerja sebagai pegawai negeri paling singkat 10
tahun;
 Penghuni rumah memiliki surat izin penghunian (SIP) yang sah dan suami atau
isteri yang bersangkutan belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah
dan/atau tanah dari Negara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
 Penghuni menyataka bersedia mengajukan permohonan pengalihan hak paling
singkat 1 (satu) tahun terhitung sejak rumah tersebut menjadi Rumah Negara
Golongan III dengan ketentuan karena kelalaian mengajukan permohonan tersebut
kepada penghuni dikenakan sanksi membayar sewa 2 (dua) kali dari sewa setiap
bulannya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
 Untuk rumah Negara yang berbentuk rumah susun sudah mempunyai perhimpunan
penghuni yang ditetapkan Pimipinan Instansi;

7
 Hasik kajian Pejabat Eselon I Rumah Negara menjadi Golongan II dapat dialihkan
statusnya menjadi Rumah Negara golongan III.

2.6 Alih Status Rumah Negara Golongan II Menjadi Rumah Negara Golongan III
 RNG II yang akan dialihkan statusnya menjadi RNG III yang berdiri diatas tanah
pihak lain, hanya dapat dialihkan status golongannya dari golongan II menjadi
golongan III setelah mendapat izin dari pemegang hak atas tanah dan dilakukan
PSP serta Persetujuan Alih Status Penggunaan dari Kementerian Keuangan;
 Pengalihan status rumah negera yang berbentuk rumah susun dari golongan II
menjadi golongan III dilakukan untuk satu blok rumah susun yang status tanahnya
sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
 Penghuni mengajukan usul Pengalihan Status RNG II menjadi RNG III kepada
pejabat eselon I atau pejabat yang ditunjuk pada instansi yang bersangkutan;
 Berdasarkan keputusan Penetapan Status RNG III, Pimpinan Instansi yang
bersangkutan menerbitkan keputusan penghapusan dari daftar pengguna barang.

2.7 Alur Alih Status RNG II ke RNG III

Bagan Alur Alih Status RNG II ke RNG III

8
2.8 Rumah Negara Golongan II yang Tidak Dapat Dialihkan Statusnya Menjadi
Rumah Negara Golongan III
Rumah Negara Golongan III yang Tidak Dapat Dialihkan Statusnya Menjadi Rumah
Negara Golongan III :
a. Rumah Negara Golongan II yang berfungsi sebagai mess/asrama sipil dan TNI/Polri;
b. Rumah Negara yang masih dalam sengketa

2.9 Dokumen Persyaratan Penertiban Surat Izin Penghunian (SIP)

Bagan Dokumen Persyaratan Penertiban SIP

2.10 Uraian Tugas


2.10.1 Proses Usulan Pengalihan Status Rumah Negara Golongan II Menjadi
Rumah Negara Golongan III
Kepala Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang membidangi rumah
negara :
 Meneliti dan memeriksa kebenaran formulir permohonan pengalihan status Rumah
Negara Golongan II menjadi Rumah Negara Golongan III beserta lampirannya yang
diajukan oleh pimpinan instansi yang bersangkutan.

9
2.10.2 Proses Izin Penghunian Rumah Negara Golongan III
Kepala Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang membidangi rumah
negara :
 Menerbitkan Surat Izin Penghunian Rumah Negara Golongan III;
 Mencabut Surat Izin Penghunian Rumah Negara Golongan III;
 Menyelesaikan sengketa penghunian Rumah Negara Golongan III bersama dengan
instansi asal pemilik rumah negara tersebut;
 Menghitung sewa Rumah Negara Golongan III;
 Melakukan pengawasan pelaksanaan pemungutan sewa Rumah Negara Golongan III
bersama pejabat yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Anggaran;
 Menerbitkan Surat Keterangan Tanda Lunas (SKTL) sewa Rumah Negara Golongan
III.

2.10.3 Proses Usulan Pengalihan Hak Rumah Negara Golongan III

Kepala Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang membidangi rumah


negara :
 Menyampaikan permohonan pengalihan hak Rumah Negara Golongan III kepada
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
 Menerima keputusan persetujuan pengalihan hak Rumah Negara Golongan III oleh
Kementerian Keuangan dari Direktur Bina Penataan Bangunan untuk
ditindaklanjuti dengan penaksiran dan penilaian harga Rumah Negara Golongan III
dan ganti rugi atas tanahnya;
 Mengajukan usulan Panitia Penaksir yang selanjutnya diangkat oleh Direktur Bina
Penataan Bangunan;
 Menyampaikan berkas permohonan dengan berita acara penaksiran dan berita acara
penilaian (masing-masing dalam rangkap dua) kepada Direktur Bina Penataan
Bangunan;
 Menandatangani Surat Perjanjian sewa beli dengan penghuni yang bersangkutan di
Kantor Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi;
 Melakukan pengawasan pelaksanaan kewajiban pihak kedua sebagaimana
ditetapkan dalam Surat Perjanjian Sewa Beli;

10
 Menandatangani SKTL sewa beli Rumah Negara Golongan III;
 Menyampaikan tanda bukti pelunasan kepada Direktur Penataan Bina Penataan
Bangunan setelah pihak kedua melakukan pelunasan sewa beli Rumah Negara
Golongan III;
 Melaporkan pengalihan hak Rumah Negara Golongan III yang dikelolanya kepada
Direktur Jenderal Cipta Karya melalui Direktorat Bina Penataan Bangunan.

2.10.4 Berkas Permohonan Alih Status Rumah Negara Golongan II – Rumah


Negara Golongan III
sesuai dengan Permen PU No. 22/PRT/M/2008, PMK No.138/2010 dan PMK No.
246/2014
Persyaratan dokumen yang harus dilengkapi dalam rangka permohonan Alih
Status Rumah Negara Golongan II – Rumah Negara Golongan III, yaitu sebagai
berikut :
1. Gambar legger/gambar arsip rumah dan gambar situasi;
2. Salinan keputusan penetapan status Rumah Negara Golongan II yang
dilegalisir paling rendah oleh Pejabat Eselon III instansi yang bersangkutan;
3. Hasil kajian Pejabat Eselon I, Rumah Negara Golongan II dapat dialihkan
statusnya menjadi Rumah Negara Golongan III;
4. Salinan tanda bukti hak atas tanah (sertifikast, girik, dll) atau surat keterangan
tentang penguasaan tanah;
5. Salinan keputusan otorisasi pembangunan rumah/surat keterangan perolehan
bangunan dari instansi yang bersangkutan ;
6. Salinan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau surat keterangan membangun
dari instansi yang bersangkutan;
7. Salinan Berita Acara Serah Terima Bangunan;
8. Salinan Surat Izin Penghunian (SIP) Rumah Negara Golongan II;
9. Surat keterangan status kepegawaian terakhir pemegang Surat Izin Penghunian
Rumah Negara Golongan II dari instansi yang bersangkutan;
10. Berita acara pemeriksaan atas rumah dan tanah yang dibuat oleh instansi yang
bersangkutan;
11. Surat keterangan dari instansi yang bersangkutan bahwa rumah dan tanahnya
tidak dalam sengketa;
11
12. Surat pernyataan belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah
dan/atau tanah dari Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan;
13. Surat pernyataan kesanggupan membeli Rumah Negara oleh penghuni;
14. Surat izin dari pemegang hak atas tanah apabila Rumah Negara tersebut berdiri
di atas tanah pihak lain;
15. Surat keterangan Rumah Negara Golongan II tidak termasuk aset yang
diserahkan kepada Pemerintah Daerah;
16. Surat keterangan Rumah Negara Golongan II tidak terletak dalam lingkungan
kantor instansi;
17. KIB (Kartu Identitas Barang) Bangunan dan Tanah serta Izin Pengalihan Status
Penggunaan (PSP) dari Kementerian Keuangan.
18. Persetujuan tertulis dari Menteri, atas kelebihan luas tanah yang melebihi
standar sesuai Permen PU nomor 22/PRT/M/2008.

2.10.5 Tim Pengelolaan RNG III Unit Operasional


 Mengeluarkan KODE BILLING bagi penghuni yang akan membayar angsuran
 Menyelesaikan surat pernyataan piutang
 Membuat surat penagihan piutang
 Melakukan pengawasan pembayaran/penagihan
 Membuat surat peringatan apabila terutang lalai
 Membuat Surat Pemindahan Penagihan Piutang PNBP
 Mengirim surat tagihan kepada unit administrasi dan unit pembukuan
 Membuat surat penyerahan pengurusan piutang tidak tertagih kepada DJKN
 Membuat usulan penghapusan piutang
 Mengarsipkan dokumen piutang

2.10.6 Tim Pengelolaan RNG III Unit Manajemen


 Menerima dokumen surat penagihan piutang
 Mengagendakan surat/dokumen yang masuk maupun yang harus dikirim kepada
pihak terutang
 Membuat surat pengantar
 Meneruskan dokumen tanggapan pihak terutang ke unit operasional

12
 Mengirimkan bukti validasi ke unit pembukuan

2.10.7 Tim Pengelolaan RNG III Unit Administrasi


 Menerbitkan & melakukan pencatatan piutang ke dalam kartu piutang berdasarkan
dokumen transaksi
 Melakukan pencatatan piutang sewa rumah negara
 Membuat daftar rekapitulasi piutang
 Membuat daftar umur piutang dan reklasifikasi piutang
 Membuat daftar saldo piutang triwulanan berdasarkan kartu piutang
 Membuat penyisihan piutang tidak tertagih ke dalam kartu penyisihan piutang tidak
tertagih
 Mengarsipkan dokumen
 Membuat & mengirimkan laporan PNBP

13
2.11 Garis Koordinasi Tim Penatausahaan Rumah Negara Gol.III

Bagan Garis Koordinasi Tim Penatausahaan Rumah Negara Golongan III

14
BAB III
PELAKSANAAN PEKERJAAN

3.1 Tim Pelaksana


Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan tim kerja yaitu TIM TENAGA
PENUNJANG yang terdiri dari :
a. Tenaga Penunjang (Konsultan Individu) Rumah Negara Golongan III Informatika.
b. Tenaga Penunjang (Konsultan Individu) Rumah Negara Golongan III Manajemen.
c. Tenaga Penunjang (Konsultan Individu) Rumah Negara Golongan III
Administasi/Pengarsipan.
Untuk Tim Penatausahaan dan Tim Penaksir Rumah Negara Golongan III, dimasukkan
dalam Tim Swakelola.

3.2 Jangka Waktu Pelaksanaan


Jangka waktu pelaksanaan keseluruhan kegiatan ini yaitu 11 (sebelas) bulan kalender.
Yang terhitung mulai tanggal 01 Februari s/d 31 Desember 2019. Dalam rangka menjamin
terlaksananya tertib administrasi dan tertib Pengelolaan Barang Milik Negara berupa
Rumah Negara Golongan III diperlukan adanya persamaan persepsi dan langkah – langkah
pemecahan masalah dari unsur – unsur yang terkait dalam pengelolaan Rumah Negara.
Perubahan peraturan perundang – undangan bidang pengelolaan Barang Milik Negara
mengakibatkan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan penatausahaan Rumah
Negara, khususnya Rumah Negara Golongan III.
Permasalahan tersebut diantaranya adalah :
1. Permasalahan Pencatatan Barang Milik Negara berupa Rumah Negara dan
Penatausahaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
2. Permasalahan pengarsipan dokumen Rumah Negara, dan
3. Permasalahan Penertiban Rumah Negara.

Sehingga dibutuhkannya langkah – langkah strategis guna upaya menyelesaikan


permasalahan yang ada, dibuatnya jadwal pelaksanaan sebagai agenda acuan untuk
terhadap permasalahan.

15
Tabel Rencana Kegiatan

16
3.3 Pelaksanaan
Dalam rangka tercapainya kegiatan Pengelolaan Rumah Negara Golongan III yang tertib,
baik dari administrasi, fisik, penghuni maupun PNBP yang diterima oleh Negara, terdapat
beberapa kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Kegiatan yang
dilakukan bulan Mei 2019 yaitu melakukan identifikasi kembali atau verifikasi terhadap
data Rumah Negara Golongan III dari KPKNL. Hal ini dilakukan guna mendapatkan
kesesuaian data terhadap syarat mengenai Rumah Negara Golongan III dan penetapannya
dari instansi yang terkait tentang laporan Rumah Negara Golongan III ke KPKNL :

 Melakukan Koordinasi dengan Kantor Bandar Udara Tampa Padang


Kabupaten Mamuju.
Nama Kegiatan Waktu Tanggal Tempat
Kantor Bandar
Koordinasi dan Identifikasi
10.00 Wita – selesai 08 Mei 2019 Udara Tampa
Rumah Negara
Padang

Berdasarkan data yang diperoleh dari KPKNL, bahwa Kantor Bandar Udara Tampa
Padang Kabupaten Mamuju memiliki Rumah Negara Golongan II. Hasil dari
koordinasi dengan Bapak Kepala Bandara bahwa ada keinginan untuk mengalih-
statuskan Rumah Negara Gol.II yang dimiliki instansi tersebut untuk menjadi Rumah
Negara Golongan III yang terletak di jalan Abd. Syakur Mamuju. Namun, hal tersebut
belum dikabulkan dari pihak atasan. Sehingga saat ini pihak kantor Bandar Udara
Tampa Padang masih berusaha untuk mengkoordinasikan kembali hal tersebut.

17
BAB IV
PENUTUP

Laporan ini dibuat dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Rumah
Negara Golongan III di Provinsi Sulawesi Barat. Laporan ini berisikan penjelasan mengenai
Rumah Negara yang kemudian dilakukan pengelolaan dan penataan terhadap Rumah Negara
Tersebut. Dalam pelaksanaannya, dilakukan koordinasi dengan Instansi/K/L yang memiliki
Rumah Negara. Identifikasi dilokasi Rumah Negara juga dilakukan untuk memastikan kondisi
dan status rumah negara tersebut berdasarkan pelaporan aset negara masing-masing Instansi/K/L
melalui Laporan BMN yang dilaporkan pada KPKNL setempat.
Koordinasi yang dilakukan pada bulan Mei 2019 ini dilakukan pada kantor Bandar Udara
Tampa Padang kabupaten Mamuju guna menindaklanjuti data terbaru tentang Rumah Negara
yang telah diperbaharui. Dari pelaksanaan koordinasi ini diperoleh hasil bahwa pada Kantor
Bandar Udara Tampa Padang terdapat 1 unit Rumah Negara Golongan II yang terletak di luar
lingkungan kantor tersebut, dimana rumah negara tersebut ada rencana untuk dialih-statuskan
menjadi Rumah Negara Golongan III.
Demikian laporan ini dibuat, untuk menjadi bahan acuan dan pendukung data dalam kegiatan
Pengelolaan Rumah Negara Golongan III pada Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan
Provinsi Sulawesi Barat.

18