Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH HUMANIORA,SOSIAL,BUDAYA &

SPIRITUAL KONTEKS DALAM KEBIDANAN

Di susun oleh :

Disusun oleh :

1. Artikan Fitri Ndraha NIM : 193302080007


2. Dara Sakinahtul Dipa NIM : 193302080013
3. Hosanna Angelika Panjaitan NIM : 193302080010

PROGRAM STUDI S-1 KEBIDANAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA

TAHUN 2019/2020

1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan atas Kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia –
Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami dengan tepat waktu yang berjudul :
“Humaniora,social,budaya & spiritual konteks dalam kebidanan’’.

Harapan kami sebagaimana penyusun yaitu agar pembaca dapat memahami tentang
Humaniora,social,budaya & spiritual konteks dalam kebidanan. Kami ingin mengucapkan
rasa terima kasih kami kepada dosen kami yang bernama ibuk Rahmaini Fitri Harahap, SST,
M.Keb. . yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini menjadi lebih baik.

Kami menyadari sepenuhnya dalam penyusunan makalah Humaniora,social,budaya &


spiritual konteks dalam kebidanan ini masih terdapat banyak kekurangan, baik dalam
sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa. Kami berharap semoga dengan adanya
makalah ini dapat menambah ilmu wawasan kita mengenai Humaniora,social,budaya &
spiritual konteks dalam kebidanan. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Medan, 16 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………….I

KATA PENGANTAR………………………………………………………..II

DAFTAR ISI………………………………………………………………….III

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………..4


1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………4
1.3 Tujuan Makalah………………………………………………………...5
1.4 Manfaat………………………………………………………………...5
BAB II PEMBAHASAN
A. Ilmu Humariora Dalam Konteks Kebidanan……………………………………….6
B. Ilmu Social Budaya Dalam Konteks Kebidanan……………………………….....8
C. Ilmu Spiritual Konteks Dalam Kebidanan…………………………………………. 14

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan………………………………………………………………………….19
B. Saran…………………………………………………………………………………20

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..21

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu kebidanan dan Ilmu Humaniora, sebenarnya 2 ilmu yang berbeda antara satu
dengan yang lain. Namun, ternyata keduannya memiliki hubungan yang saling
melengkapi. Pelayanan kebidanan tanpa dilandasi konsep humaniora bisa dikategorikan
tindak kriminal karena baik secara langsung maupun tidak langsung, tindakan tidak
manusiawi tersebut akan merampas hak klien sebagai pengguna layanan kebidanan. Hal
ini tentunya merugikan bagi pengguna jasa maupun pelaksana pelayanan dalam hal ini
adalah bidan. Bagi bidan yang tidak menerapkan ilmu humaniora bisa dikatakan telah
melanggar kode etiknya dan kepadanya diberikan sanksi yang tegas atas kelalaian yang
dibuat baik sengaja maupun tidak disengaja.
Ilmu social budaya Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan
manusia. Di era globalisasi sekarang ini dengan berbagai perubahan yang begitu
ekstrem menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu
masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun
kesakitan pada ibu dan anak yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial
budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada. Bisadari atau tidak,
faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai
berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit,
kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif
terhadap kesehatan ibu dan anak. Menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah.
Seorang bidan harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang bidan sangatlah
berat.
Bidan yang siap mengabdi di kawasan pedesaan mempunyai tantangan yang besar
dalam mengubah pola kehidupan masyarakat yang mempunyai dampak negative
terhadap kesehatan masyarakat. Tidak mudah mengubah pola pikir ataupun sosial
budaya masyarakat. Apalagi masalah proses persalinan yang umum masih banyak
menggunakan dukun beranak. Ditambah lagi tantangan konkret yang dihadapi bidan di
pedesaan adalah kemiskinan, pendidikan rendah, dan budaya. Karena itu, kemampuan
mengenali masalah dan mencari solusi bersama masyarakat menjadi kemampuan dasar
yang harus dimiliki bidan. Untuk itu seorang bidan agar dapat melakukan pendekatan

4
terhadap masyarakat perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang
meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan
kebiasaan sehari-hari, pandangan norma dan nilai,agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.
Konsep spiritualitas merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam pelayanan
kebidanan. Price et al. (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “The Spiritual
Experience of High‐Risk Pregnancy” menyebutkan bahwa aspek spiritualitas membantu
dalam mengatasi stres pada kehamilan risiko tinggi, dan diyakini dapat meningkatkan
kesejahteraan ibu dan janin.
1.2 Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud dengan humaniora?
B. Apa hubungan ilmu humaniora dalam konteks kebidanan?
C. Apa yang dimaksud dengan social budaya?
D. Apa hubungan ilmu social budaya dalam konteks kebidanan?
E. Apa yng dimaksud dengan spiritual?
F. Apa hubungan ilmu spiritual dalam konteks kebidanan?
1.3 Tujuan
A. Supaya pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan humaniora.
B. Agar pembaca dapat mengetahui hubungan ilmu humaniora dalam konteks
kebidanan.
C. Supaya pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan social budaya.
D. Agar pembaca dapat mengetahui hubungan ilmu social dalam konteks kebidanan.
E. Supaya pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan spiritual.
F. Agar pembaca dapat mengetahui hubungan ilmu spiritual dalam konteks kebidanan.
1.4 Manfaat
Manfaat kami membuat makalah tentang ilmu humaniora, ilmu social budaya, dan ilmu
spiritual dalam konteks kebidanan adalah supaya pembaca makalah ini dapat bertambah
wawasannya mengenai topic ini dan mengetahui apa hubungan dari ketiga ilmu tersebut
dalam konteks kebidanan.

5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Humaniora
Humaniora, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (BalaiPustaka: 1988), adalah ilmu-ilmu pengetahuan
yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat
manusia lebih berbudaya.
Istilah humaniora yang berasal dari program pendidikan yang dikembangkan
Cicero, yang disebutnya humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk
menjadi orator yang ideal.
Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah pada pertanyaan tentang makna
dalam cara lain bahwasanya pengertian umum humanitas berarti kualitas,
perasaan,dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normative
dari pada deskriptif (Sastrapratedja, 1998: 1).
Gellius mengidentikkan humanitas dengan konsep Yunani paideia, yaitu pendidikan
(humaniora) yang ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk menjadi manusia dan
warga negara bebas. Pada zaman Romawi gagasan tersebut dikembangkan menjad
iprogram pendidikan dasariah.
Menurut bahasa latin, humaniora disebut artes liberales yaitu studi tentang
kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut
dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika.
Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai
kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila,
pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi.
B. Hubungan ilmu humaniora dalam konteks kebidanan
Telah dijelaskan diatas, bahwa humaniora secara singkat diartikan sebagai ilmu untuk
memuliakan manusia baik dari segi fisik maupun psikis. Apa yang menyebabkan ilmu
humaniora ini bisa sangat penting dalam konteks kebidanan
a) Bidan sebagai barisan pertama dalam masyarakat untuk menangani masalah
kesehatan.
Hal ini menambah peluang bidang untuk menangani masalah kemasyarakatan yang
sangat memerlukan aturan humaniora dalam menjalankan kehidupannya.

6
b) Bidan sebagai pelayan kesehatan yang menangani mempersiapkan kehamilan,
menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan pengaturan
kesuburan, klimakterium dan menopause yang keseluruhan mencakup setengah
dari masa kehidupan manusia.
c) Bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat
yang mana berhadapan langsung dengan masyarakat itu sendiri. Bidan seringkali
dianggap sebagai seseorang yang tau segala hal, mampu mengobati banyak penyakit
baik yang berhubungan dengan kebidanan maupun masalah kesehatan secara umum.
d) Bidan sebagai komponen sosial di masyarakat
yang menunjukkan empatinya di hadapan anggota keluarga, sehingga tercermin bahwa
keputusan yang dia ambil semata-mata memang untuk kepentinggan masyarakat.
e) Bidan memiliki peluang besar dalam hal aborsi.pembatasan kelahiran yang hingga
kini masih menjadi teka-teki masih kurang jelasnya status ilegal dari aborsi.
 Penerapan Ilmu Humaniora dalam Memberikan Pelayanan Kebidanan
a) Pemberian Asuhan Kebidanan.
Dalam memberikan pelayanan kepada klien, bidan harusnya memenuhi kode etik dan
sumpah profesi yang telah dilakukan sebelum terjun menjadi bidan antara lain :
Kewajiban bidan terhadap klien dan masyrakat
Kewajiban bidan terhadap tugasnya
Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan
Kewajiban bidan terhadap profesinya
Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa bangsa dan tanah air
Kode etik inilah yang menjadi pembatas tindakan-tindakan yang boleh dan tidak boleh
dilakukan oleh bidan yang tentunya harus dilandasi ilmu humanira sehingga mampu
memuliakan klien.
b) Aborsi
Aborsi adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang
mengakibatkan kematian janin. Aborsi ini menjadi illegal bila dilakukan dengan
sengaja khusunya dalam hal ini adalah dilakukan oleh tenaga bidan untuk menghentikan
kehamilan kliennya.
Ilmu humaniora di sini sangat dibutuhkan sabagai penguat dasar kode etik bidan, secara
otomatis bidan yang memegang teguh kode etik dan memegang konsep humaniora tidak

7
akan melakukan aborsi ini. Karena selain bukan merupakan kewenangannya, juga diluar
dari kode etiknya.
c) Pembatasan Kehamilan
Semakin melunjaknya jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan meningkatnya
sumber daya alam yang dibutuhkan memacu adanya prosedur diberlakukannya
pembatasan kehamilan. Dalam hal ini merujuk pada 2 sistem pembatasan kelahiran yaitu
promotif untuk memiliki 2 anak saja dan adanya keluarga berencana. Sebenarnya KB ini
dapat memicu kontra terkait pelanggaran hak manusia dalam meneruskan keturunan.
Namun setelah dikaji lebih mendalam, hal ini tidaklah melanggar peri kemanusiaan yang
tentunya juga disendingkan dengan alasan-alasan yang logis. Sehingga diperlukan bidan
professional yang mampu memahami penerapan Ilmu humaniora dalam melaksanakan
tugasnya.
C. Pengertian social budaya
Sosial budaya terdiri dari dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial berarti segala
sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Sedangkan budaya berasal
dari kata bodhya yang artinya pikiran dan akal budi. Budaya juga diartikan sebagai
segala hal yang dibuat manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung
cinta dan rasa. Jadi kesimpulannya adalah sosial budaya merupakan segala hal yang di
ciptakan manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengertian sosial budaya menurut para ahli
 Andreas Eppink
sosial budaya atau kebudayaan adalah segala sesuatu atau tata nilai yang berlaku dalam
sebuah masyarakat yang menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut.
 Burnett
kebudayaan adalah keseluruhan berupa kesenian, adat istiadat, moral, hukum,
pengetahuan, kepercayaan dan kemampuan olah pikir dalam bentuk lain yang didapatkan
seseorang sebagai anggota masyarakat dan keseluruhan bersifat kompleks.

8
D. Hubungan ilmu social dalam konteks kebidanan
1. Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Pra Perkawinan
Pada masyarakat indonesia banyak sekali budaya yang ada, dan masih banyak sekali
para masyarakat masih meninggikan budaya mereka dan percaya dengan mitos. Pada
perkawinan terjadi beberapa tahap terlebih dahulu sebelum menginjak ke jenjang
pernikaha, di sini tahap-tahapnya adalah perkenalan satu sama lain dan keluarga masing-
masing atau tahap pacaran, kemudian terjadi pinangan atau lamaran, bila sudah
terlaksana itu pasti akan meningkat kejenjang pernikah, setelah itu masih banyak tahap
yang perlu di lalui, lebih mengarah ke perkenalan lebih lanjut, saling menerima dan
mengti atas kekurangan masing-masing, saling melengkapi kenyataan kekurangan dan
peredaan yang nyata terlihat setelah memasuki jenjang pernikahan, bila mereka dapat
melalu semua kenyataan tersebut maka mereka akan menjadi keluarga yang sakinah,
mawadah, warohmah.
Pelayanan kebidanan diawali dengan pemeliharaan kesehatan para calon ibu. Remaja
wanita yang akan memasuki jenjang perkawinan perlu dijaga kondisi kesehatannya.
Kepada para remaja di beri pengertian tentang hubungan seksual yang sehat, kesiapan
mental dalam menghadapi kehamilan dan pengetahuan tentang proses kehamilan dan
persalinan, pemeliharaan kesehatan dalam masa pra dan pasca kehamilan.
Promosi kesehatan pranikah merupakan suatu proses untuk meningkatkan kemampua
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya yang ditujukan pada
masyarakat reproduktip pranikah. Remaja yang tumbuh kembang secara biologis diikuti
oleh perkembangan psikologis dan sosialnya. Alam dan pikiran remaja perlu diketahui.
Remaja yang berjiwa muda memiliki sifat menantang, sesuatu yang dianggap kaku dan
kolot serta ingin akan kebebasan dapat menimbulkan konflik di dalam diri mereka.
Pendekatan keremajaan di dalam membina kesehatan diperlukan. Penyampaian pesan
kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja.
Pemeriksaan kesehatan bagi remaja yang akan menikah dianjurkan. Tujuan dari
pemeriksaan tersebut adalah untuk mengetahui secara dini tentang kondisi kesehatan para
remaja. Bila ditemukan penyakit atau kelainan di dalam diri remaja, maka tindakan
pengobatan dapat segera dilakukan. Bila penyakit atau kelainan tersebut tidak diatasi
maka diupayakan agar remaja tersebut berupaya untuk menjaga agar masalahnya tidak
bertambah berat atau menular kepada pasangannya. Misalnya remaja yang menderita
penyakit jantung, bila hamil secara teratur harus memeriksakan kesehatannya kepada

9
dokter. Remaja yang menderita AIDS harus menjaga pasanganya agar tidak terkena virus
HIV. Upaya pemeliharaan kesehatan bagi para calon ibu ini dapat dilakukan melalui
kelompok atau kumpulan para remaja seperti karang taruna, pramuka, organisaai wanita
remaja dan sebagainya.
Selain itu bidan juga berperan dalam mencegah perkawinan dini pada pasangan pra nikah
dimana masih menjadi masalah penting dalam kesehatan reproduksi perempuan di
Indonesia. Pernikahan dini menunjukkan posisi perempuan yang lebih lemah secara
ekonomi maupun budaya. Secara budaya, perempuan disosialisasikan segera menikah
sebagai tujuan hidupnya. Akibatnya, perempuan memiliki pilihan lebih terbatas untuk
mengembangkan diri sebagai individu utuh. Sedangkan bagi perempuan, menikah artinya
harus siap hamil pada usia sangat muda.
2. Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Perkawinan

Pembinaan yang dilakukan oleh bidan sendiri antara lain mempromosikan kesehatan agar
peran serta ibu dalam upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga meningkat. Pelayanan
kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas,
keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak
prasekolah sehat.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan
pengetahuan aspek sosial budaya dalam penerapannya kemudian melakukan pendekatan-
pendekatan untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap kebiasaan-kebiasaan yang
tidak mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak.
Fakta-fakta kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi - konsepsi mengenai
berbagai pantangan, hubungan sebab - akibat antara makanan kondisi sehat - sakit,
kebiasaan dan ketidaktahuan sering kali membawa dampak baik positif maupun negatif
terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan misalnya pada dasarnya adalah merupakan
salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Misalnya di Jawa
Tengah adanya anggapan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit
persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang
banyak. Jawa Barat ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus
mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan,
Masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting
karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Sikap seperti ini akan berakibat buruk bagi
ibu hamil karena akan membuat ibu dan anak kurang gizi.

10
3. Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Kehamilan
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk
mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga
untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan
kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan
si ibu sendiri. Fakta di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu
yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa
tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya
ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan ke bidan
menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh
mereka. Contohnya di kalangan masyarakat pada suku bangsa nuaulu (Maluku) terdapat
suatu tradisi upacara kehamilan yang dianggap sebagai suatu peristiwa biasa, khususnya
masa kehamilan seorang perempuan pada bulan pertama hingga bulan kedelapan. Namun
pada usia saat kandungan telah mencapai Sembilan bulan, barulah mereka akan
mengadakan suatu upacara. Masyarakat nuaulu mempunyai anggapan bahwa pada saat
usia kandungan seorang perempuan telah mencapai Sembilan bulan, maka pada diri
perempuan yang bersangkutan banyak diliputi oleh pengaruh roh-roh jahat yang dapat
menimbulkan berbagai bahaya gaib. Dan tidak hanya dirinya sendiri juga anak yang
dikandungannya, melainkan orang lain disekitarnya, khususnya kaum laki-laki. Untuk
menghindari pengaruh roh-roh jahat tersebut, si perempuan hamil perlu diasingkan
dengan menempatkannya di posuno. Masyarakat nuaulu juga beranggapan bahwa pada
kehidupan seorang anak manusia itu baru tercipta atau baru dimulai sejak dalam
kandungan yang telah berusia 9 bulan. Jadi dalam hal ini (masa kehamilan 1-8 bulan)
oleh mereka bukan dianggap merupakan suatu proses dimulainya bentuk kehidupan.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi.
Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan-pantangan
terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang
ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenamya
sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap
kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil
cukup tinggi terutama di daerah pedesaan.
Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu
hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan
daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu
11
daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus
mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di
masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting
karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Hal ini membuat ibunya kurang gizi, berat
badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya
tahan dan kesehatan si bayi.
4. Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Persalinan, Nifas, Dan Bayi Baru
Lahir (BBL)
Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil
karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan
kematian. Sejumlah faktor memandirikan peranan dalam proses ini, mulai dari ada
tidaknya faktor resiko kesehatan ibu, pemilihan penolong persalinan, keterjangkauan dan
ketersediaan pelayanan kesehatan, kemampuan penolong persalinan sampai sikap
keluarga dalam menghadapi keadaan gawat.
Tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia berkaitan erat dengan faktor sosial
budaya masyarakat, seperti tingkat pendidikan penduduk, khususnya wanita dewasa yang
masih rendah, keadaan sosial ekonomi yang belum memadai, tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang masih rendah dan
jauhnya lokasi tempat pelayanan kesehatan dari rumah-rumah penduduk kebiasaan-
kebiasaan dan adat istiadat dan perilaku masyarakat yang kurang menunjang dan lain
sebagainya.
Tingkat kepercayaan masyarakat kepada petugas kesehatan, dibeberapa wilayah masih
rendah. Mereka masih percaya kepada dukun karena kharismatik dukun tersebut yang
sedemikian tinggi, sehingga ia lebih senang berobat dan meminta tolong kepada ibu
dukun. Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak
untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Beberapa penelitian yang
pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh
dukun yang dapat membahayakan si ibu, seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan
minyak kelapa untuk memperlancar persalinan), "kodok" (memasukkan tangan ke dalam
vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu
duduk dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang
dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada
masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuran ini biasanya berkaitan dengan proses
12
pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi
untuk memperbanyak produksi ASI, ada pula makanan tertentu yang dilarang karena
dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek
yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si
ibu, Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi
semula, memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan
maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan atau
memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh.
Sebenarnya, kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor
fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi.
Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu, terutama kesiapannya
dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas, bisa saja persalinannya jadi tidak lancar
hingga harus dioperasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang
terjadi selama persalinan. Disini peran bidan sangat diperlukan dalam memberikan
informasi yang tepat untuk mempersiapkan mental dan fisik ibu hamil dalam menghadapi
pesalinan dan pasca persalinan.
Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi
dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara
tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan.
Kuranganya pengetahuan dan ilmu menyebabkan salah kaprah dalam menyikapi
kesehatan ibu dan bayi, meraka tidak mementingkan kebutuhan nutrisi dan vitamin serta
gizi meraka bahkan tidak tahu tentang suatu ancaman bahaya yang mengintai mereka
sehingga menyebabkan kematian pada ibu dan bayi, kasus lain sering di temukan pada
bayu baru lahir. Mereka memperlakukan bayi baru lahir dengan setidak mana mestinya,
karena mereka masih berpegang teguh dengan mitos dan kurangannya pengetahuan.
Contoh-Contoh Lain Pendekatan Sosial Budaya Dalam Praktek Kebidanan:

 Pendekatan melalui masing-masing keluarga, jadi setiap keluarga di lakukan pendekatan

 Pendekatan melalui langsung pada setiap individunya sendiri, mungkin cara ini lebih
efektif.

 Sering melakukan penyuluhan di setiap PKK atau RT tentang masalah dan


menanggulangi masalah kesehatan.

13
 Mengikuti arus sosial budaya yang ada dalam masyarakat tersebut, kemudian kalau sudah
memahami, kita mulai melakukan pendekatan secara perlahan-lahan.

 Melawan arus dalam kehidupan sosial budaya mereka, sehinnga kita menciptakan asumsi
yang baru kepada mereka, tapi cara ini banyak tidak mendapatkan respon positive

Contoh yang harus di lakukan pemerintah sebagai penunjang:

 Membangun sarana kesehatan di setiap desa, seperti puskesmas, polindes, atau poliklinik
 Menyediakan tenaga kesehatan yang berkompeten dan memadai
 Fasilitas yang ada dalam sarana kesehatan harus memadai dan lengkap
 Lebih sering di adakan penyuluhan tentang kesehatan kepada masyarakat
 Menyediakan pelayanan kesehatan untuk orang yang tidak mampu seperti jamkes mas,
jampersal, dll.
E. Pengertian Spiritual
Hingga saat ini masih terjadi perdebatan terkait definisi spiritualitas. Donia Baldacchino
(2015) dalam publikasinya yang berjudul Spiritual Care Education of Health Care
Professionals menyebutkan bahwa spiritualitas dapat diartikan sebagai sebuah
kekuatan yang menyatukan semua aspek manusia, termasuk komponen agama,
memberikan dorongan kepada seseorang untuk menemukan arti, tujuan, dan
pemenuhan dalam kehidupan, serta dan menumbuhkan semangat untuk hidup.

Konsep spiritualitas merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam pelayanan
kebidanan. Price et al. (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “The Spiritual
Experience of High‐Risk Pregnancy” menyebutkan bahwa aspek spiritualitas
membantu dalam mengatasi stres pada kehamilan risiko tinggi, dan diyakini dapat
meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin. Fatma Sylvana Dewi Harahap (2018)
dalam publikasinya menyebutkan bahwa asuhan kebidanan yang diberikan selama
kehamilan dengan memperhatikann keseimbangan fisik, psikis dan spiritual pada
wanita dengan risiko rendah dapat menurunkan intervensi medis dalam proses
persalinan.

Dalam publikasi yang sama, Fatma Sylvana Dewi Harahap (2018) dengan mengutip
dari berbagai sumber menyebutkan efek positif dari pemenuhan kebutuhan
spiritualitas dalam asuhan kebidanan, baik saat kehamilan, persalinan, maupun

14
nifas yang dikutip dari berbagai sumber. Dalam kehamilan, asuhan kebidanan yang
diberikan secara seimbang, baik aspek fisik, psikis, dan spiritual akan
meningkatkan derajat kesehatan, serta menghindarkan kecemasan. Kondisi ini jika
dijaga, dapat meningkatkan keyakinan ibu hamil serta menghindarkan ibu dari
persoalan psikologis saat menghadapi dan menjalani proses persalinan, disebabkan
spiritualitas sendiri merupakan bentuk coping dalam menghadapi persalinan.
Dalam masa setelah melahirkan, spiritualitas membantu proses penyembuhan dan
mengurangi depresi postpartum.

F. Hubungan Ilmu Spiritual Dalam Konteks Kebidanan

Asuhan kebidanan yang dilakukan secara holistik pada masa kehamilan berdampak
positif pada hasil persalinan. Pengabaian terhadap aspek spiritual dapat menyebabkan
klien akan mengalami tekanan secara spiritual. Dalam melakukan asuhan kebidanan yang
holistik, pemenuhan kebutuhan spiritual klien dilakukan dengan pemberian spiritual
care. Aspek penghormatan, menghargai martabat dan memberikan asuhan dengan penuh
kasih sayang merupakan bagian dari asuhan ini.

Donia Baldacchino (2015) dalam publikasinya yang berjudul Spiritual Care


Education of Health Care Professionals menyebutkan bahwa dalam
memberikan spiritual care, tenaga kesehatan (bidan) berperan dalam upaya
mengenali dan memenuhi kebutuhan spiritual klien dengan memperhatikan aspek
penghormatan pada klien. Bidan juga berperan memfasilitasi klien dalam
melakukan kegiatan ritual keagamaan. Selain itu, membangun komunikasi,
memberikan perhatian, dukungan, menunjukkan empati, serta membantu klien
untuk menemukan makna dan tujuan dari hidup, termasuk berkaitan dengan
kondisi yang sedang mereka hadapi.

Spiritual care dapat membantu klien untuk dapat bersyukur dalam kehidupan mereka,
mendapatkan ketenangan dalam diri, dan menemukan strategi dalam menghadapi rasa
sakit maupun ketidaknyamanan yang dialami, baik dalam masa kehamilan, maupun
persalinan. Selain itu, hal ini juga akan membantu klien dalam memperbaiki konsep diri
bahwa kondisi sakit ataupun tidak nyaman yang dialami juga bentuk lain dari cinta yang
diberikan oleh Tuhan.

15
Kehamilan dan persalinan merupakan peristiwa transformatif dalam kehidupan seorang
wanita. Pemberian asuhan kebidanan dengan tidak mengabaikan aspek spiritual
merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kebutuhan klien. Ibu dan bayi yang
sehat, fase tumbuh kembang anak yang sehat, serta menjadi manusia yang berhasil dan
berkontribusi positif bagi masyarakat merupakan harapan bersama. Bidan sebagai tenaga
kesehatan yang berperan dalam kesehatan ibu dan anak diharapkan agar dapat
memberikan asuhan dengan pemahaman holistik terhadap wanita.

Mengutip dari Fatma Sylvana Dewi Harahap (2018) "merekonstruksi bangunan


keseimbangan kesehatan dengan sinergitas fisik, psikis, dan spiritualitas perlu dilakukan
melalui pendidikan dan pelayanan kebidanan". Sumber : Muliati Dolofu (Mahasiswa S2
IPK FK - KMK UGM)

Pandangan Agama Yang Berhubungan Dengan Praktik Kebidana

1. Keluarga Berencana

Pandangan agama islam terhadap pelayanan keluarga berencana. Ada dua pendapat
mengenai hal tersebut yaitu memperbolehkan dan melarang penggunaan alat kontrasepsi.
Karena ada beberapa yang mengatakan penggunaan alat kontrasepsi itu adalah
berlawanan dengan takdir/kehendak Allah.

2. Pandangan agama yang memperbolehkan pemakaian alat kontrasepsi IUD:


Pemakaian IUD bertujuan menjarangkan kehamilan. Dengan menggunakan kontrasepsi
tersebut keluarga dapat merencanakan jarak kehamilan sehingga ibu tersebut dapat
menjaga kesehatan ibu, anak dan keluarga dengan baik.
Pemakaian IUD bertujuan menghentikan kehamilan.
Jika didalam suatu keluarga memiliki jumlah anak yang banyak, tentunya sangat
merepotkan dan membebani perekonomian keluarga. Selain itu bertujuan memberikan
rasa aman kepada ibu. Karena persalinan dengan factor resiko/resiko tinggi dapat
mengancam keselamatan jiwa ibu. Agar ibu dapat beristirahat waktu keseharian ibu tidak
hanya digunakan untuk mengurusi anak dan keluarga.

16
Pandangan agama yang melarang pemakaian kontrasepsi IUD :
Pemakaian IUD bersifat aborsi, bukan kontrasepsi. Mekanisme IUD belum jelas, karena
IUD dalam rahim tidak menghalangi pembuahan sel telur bahkan adanya IUD sel mani
masih dapat masuk dan dapat membuahi sel telur (masih ada kegagalan).
Pemakaian IUD dan sejenisnya tidak dibenarkan selama masih ada obat-obatan dan alat
lainnya. Selain itu pada waktu pemasangan dan pengontrolan IUD harus dilakukan
dengan melihat aurat wanita.
3. Khitan Pada Perempuan
Khitan secara bahasa diambil dari kata “ khotana “ yang berarti memotong. Khitan bagi
laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar, sehingga menjadi terbuka.
Sedangkan khitan bagi perempuan adalah memotong sedikit kulit (selaput) yang
menutupi ujung klitoris (preputium clitoris) atau membuang sedikit dari bagian klitoris
(kelentit) atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva bagian atas
kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga I’zar dan bagi perempuan
disebut khafd. Sedangkan istilah secara internasional sunat perempuan adalah Female
Genital Mutilation (FGM) atau Female Genital Cutting (FGC).
Tindakan ini tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis. Pemotongan atau pengirisan
kulit sekitar klitoris apalagi klitorisnya sangat merugikan. Tidak ada indikasi medis untuk
mendasarinya. Seorang bidan di Jawa Barat pernah mengulas tentang hal ini karena
menemukan bekas-bekasnya pada pasiennya. Kenyataannya memang ada kelompok yang
meyakini bahwa anak perempuan pun diwajibkan bahkan di pusat-pusat pelayanan
kesehatan.
Sedangkan dalam pembahasannya mengenai khitan untuk perempuan para ulama berbeda
pendapat dalam menghukuminya seperti halnya Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad
berpendapat Khitan juga wajib bagi anak perempuan, adapun sebagian besar ulama
seperti mahzab Hanafi, Al-Maliky, Hambali berpendapat Khitan disyariatkan dan
disunnahkan bagi perempuan. Serta sebagaimana yang telah disabdakan NabiyuAllah
Muhammad SAW, dalam sebuah Hadist riwayat al-Zuhri:
“ Barang siapa yang masuk Islam, maka wajib baginya berkhitan walaupun ia sudah
dewasa.”

17
Alasan Pelaksanaan Sunat Perempuan:
WHO membedakan alasan pelaksanaan FGC menjadi 5 kelompok, yaitu:
1. Psikoseksual
Diharapkan pemotongan klitoris akan mengurangi libido pada perempuan,
mengurangi/menghentikan masturbasi, menjaga kesucian dan keperawanan sebelum
menikah, kesetiaan sebagai istri, dan meningkatkan kepuasan seksual bagi laki-laki.
Terdapat juga pendapat sebaliknya yang yakin bahwa sunat perempuan akan
meningkatkan libido sehingga akan lebih menyenangkan suami.
2. Sosiologi
Melanjutkan tradisi, menghilangkan hambatan atau kesialan bawaan, masa peralihan
pubertas atau wanita dewasa, perekat sosial, lebih terhormat.
3. Hygiene dan estetik
Organ genitalia eksternal dianggap kotor dan tidak bagus bentuknya, jadi sunat dilakukan
untuk meningkatkan kebersihan dan keindahan.
4. Mitos
Meningkatkan kesuburan dan daya tahan anak.
5. Agama
Dianggap sebagai perintah agama, agar ibadah lebih diterima.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengertian Humaniora

Humaniora, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan (BalaiPustaka: 1988), adalah ilmu-ilmu
pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi,
dalam arti membuat manusia lebih berbudaya.

2. Hubungan ilmu humnaiora dalam konteks kebidanan

 Bidan sebagai barisan pertama dalam masyarakat untuk menangani


masalah kesehatan.

 Bidan sebagai pelayan kesehatan yang menangani mempersiapkan


kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan
pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause yang keseluruhan
mencakup setengah dari masa kehidupan manusia.

 Bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat


 Bidan sebagai komponen sosial di masyarakat
 Bidan memiliki peluang besar dalam hal aborsi.pembatasan kelahiran
yang hingga kini masih menjadi teka-teki masih kurang jelasnya status
ilegal dari aborsi.
3. Pengertian social budaya

Sosial budaya terdiri dari dua kata yaitu sosial dan budaya. Sosial berarti segala
sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Sedangkan budaya
berasal dari kata bodhya yang artinya pikiran dan akal budi.

sosial budaya merupakan segala hal yang di ciptakan manusia dengan pikiran
dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.

19
4. Hubungan ilmu social dalam konteks kebidanan
 Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Pra Perkawinan
 Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Perkawinan
 Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Kehamilan
 Aspek Sosial Budaya Yang Berkaitan Dengan Persalinan, Nifas, Dan Bayi Baru
Lahir (BBL)
5. Pengertian spiritual
Hingga saat ini masih terjadi perdebatan terkait definisi spiritualitas. Donia Baldacchino
(2015) dalam publikasinya yang berjudul Spiritual Care Education of Health Care
Professionals menyebutkan bahwa spiritualitas dapat diartikan sebagai sebuah
kekuatan yang menyatukan semua aspek manusia, termasuk komponen agama,
memberikan dorongan kepada seseorang untuk menemukan arti, tujuan, dan
pemenuhan dalam kehidupan, serta dan menumbuhkan semangat untuk hidup.

6. Hubungan Ilmu Spiritual Dalam Konteks Kebidanan

Pandangan Agama Yang Berhubungan Dengan Praktik Kebidana

 Keluarga Berencana

 Pandangan agama yang memperbolehkan pemakaian alat kontrasepsi IUD:

 Khitan Pada Perempuan

B. Saran

Sebagai seorang bidan kita harus melaksanakan tugas kita sesuai dengan kontek ilmu
humaniora , social budaya dan ilmu spiritual dan harus sesuai dengan sop

20
DAFTAR PUSTAKA
https://pendidikankedokteran.net/index.php/61-pengantar-mingguan/1228-
spiritualitas-dan-spiritual-care-dalam-asuhan-kebidanan
https://www.academia.edu/37760628/_1.a_Konsep_Humaniora_dalam_Kebidanan.pd
f
https://www.academia.edu/6580739/Kata_budaya_dalam_Kamus_Besar_Bahasa_Ind
onesia_diartikan_sebagai_pikiran
https://www.researchgate.net/publication/308330301_HUMANIORA_Jurnal_Ilmiah_
Ilmu-ilmu_Sosial_dan_Humaniora

21
22