Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN PELAKSANAAN AKTUALISASI

PESERTA PELATIHAN DASAR


CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN III
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TAHUN 2018

Disusun Oleh :

Nama : Swito Gaius Agustinus Silalahi


NIP : 199407292018011002
Jabatan : Inspektur Ketenagalistrikan
Instansi : Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MENERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ESDM
PUSAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
APARATUR
2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PELAKSANAAN AKTUALISASI


PESERTA PELATIHAN DASAR
CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN III
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TAHUN 2018

Disusun Oleh :

Nama : Swito Gaius Agustinus Silalahi


NIP : 199407292018011002
Jabatan : Inspektur Ketenagalistrikan
Instansi : Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

Laporan Pelaksanaan Aktualisasi ini


Telah diseminarkan pada tanggal Agustus 2018
Bertempat di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia

Peserta Diklat

Swito Gaius Agustinus Silalahi,S.T.


NIP 199407292018011002

DISETUJUI

Penguji Coach Mentor

Nama Ginanjar I. Maulana, S.T., M.B.A. David F. Silalahi, S.T., M.Eng


NIP NIP. 198001302005021001 NIP.198507272009121004
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas nikmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan
Pelaksanaan Aktualisasi CPNS Golongan III ini. Laporan Pelaksanaan
Aktualisasi CPNS Golongan III ini disusun sebagai bukti pelaksanaan kegiatan
oleh penulis selama masa off campus yang merupakan bagian penting dari
diklat Latsar CPNS Golongan III. Laporan Pelaksanaan Aktualisasi ini juga
dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan diklat Latsar CPNS Golongan
III.
Selama penulisan laporan ini, penulis mendapat bantuan, bimbingan,
dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Keluarga yang selalu mendoakan dan memberi semangat;
2. Partner yang selalu mendoakan, memberikan dukungan dan
semangat;
3. Bapak Ginanjar Indra Maulana selaku coach penulis yang telah
memberikan arahan dan bantuan dalam penyusunan laporan
pelaksanaan kegiatan aktualisasi;
4. Bapak David Firnando Silalahi selaku mentor dan atasan penulis yang
telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan arahan
dalam penyusunan laporan rancangan kegiatan aktualisasi;
5. Bapak Syarifuddin Achmad selaku coach penulis yang telah
memberikan waktu, tenaga, masukan, dan arahan selama penyusunan
laporan rancangan kegiatan aktualisasi;
6. Bapak Yundi haekal Azizi, Bapak Daniel Prahara Eka Ramadhani, dan
Bapak Tri Suhartanto yang selalu mendukung dan memberi masukan
selama pelaksanaan kegiatan aktualisasi;
7. Rekan-rekan Diklat Latsar CPNS Golongan III, khususnya Rahadian
Wahyu Pradipta dan Ristiardi Taharat PB;
8. Dan semua pihak lainnya yang telah membantu, yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.

i
Penulis berharap Laporan Pelaksanaan Aktualisasi ini dapat berguna
dalam pemenuhan tugas Latsar CPNS Golongan III. Penulis sadar bahwa
laporan ini masih memiliki banyak sekali kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan Laporan Pelaksanaan Aktualisasi yang telah penulis buat.
Terima kasih.

Bandung, 11 Agustus 2018


Penulis,

Swito Gaius Agustinus Silalahi

ii
DAFTAR ISI

LAPORAN PELAKSANAAN AKTUALISASI ........................................................................ i


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Deskripsi Organisasi....................................................................................... 3
1.3 Identifikasi Isu (Masalah)............................................................................... 8
1.4 Perumusan dan Penetapan Isu (Masalah) .................................................. 14
BAB II CAPAIAN AKTUALISASI ..................................................................................... 16
2.1 Jadwal Rancangan dan Realisasi Kegiatan (Realisasi) ................................. 16
2.2 Role Model .................................................................................................. 17
2.3 Realisasi Pelaksanaan Kegiatan ................................................................... 19
2.4 Rencana Tindak Lanjut Aktualisasi .............................................................. 64
BAB III AKTUALISASI NILAI-NILAI PROFESI PNS .......................................................... 65
3.1 Keterkaitan Kegiatan dengan Substansi Mata Pelatihan (Nilai-Nilai Dasar
PNS dan Kedudukan serta Peran PNS dalam NKRI)................................................ 65
3.2 Kontribusi Terhadap Visi dan Misi serta Tujuan Organisasi ........................ 69
3.3 Kontribusi terhadap Penguatan Nilai-Nilai Organisasi ................................ 70
3.4 Dampak Kegiatan Aktualisasi (Individu, Unit Kerja atau Organisasi) .......... 72
3.5 Pengendalian oleh Coach dan Mentor ........................................................ 73
BAB IV PENUTUP ........................................................................................................ 74
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 75
LAMPIRAN .................................................................................................................. 76

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Isu/Masalah ........................... 12


Tabel 2. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Akar Permasalahan.............. 15
Tabel 3. Jadwal Realisasi Pelaksanaan Aktualisasi .................................................... 16
Tabel 4. KEGIATAN 1 ...................................................................................................... 19
Tabel 5. KEGIATAN 2 ...................................................................................................... 26
Tabel 6. KEGIATAN 3 ...................................................................................................... 31
Tabel 7. KEGIATAN 4 ...................................................................................................... 37
Tabel 8. KEGIATAN 5 ...................................................................................................... 46
Tabel 9. KEGIATAN 6 ...................................................................................................... 51
Tabel 10. KEGIATAN 7 ...................................................................................................... 61

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ....................... 8


Gambar 2. Metode Gap Analysis dalam menentukan Solusi Pemecahan Isu .......... 14

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keanekaragaman sumber daya alam yang dimiliki oleh Negara
Kesatuan Republik Indonesia menjadi salah satu modal penting untuk
dapat mewujudkan visi dan misi berbangsa dan bernegara sebagaimana
tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Keanekaragaman sumber daya alam yang
melimpah tersebut harus dapat dikelola dengan baik agar
pemanfaatannya digunakan seluruhnya demi kemajuan bangsa dan
negara. Pengelolaan tersebut memerlukan peranan sumber daya manusia
yang dapat bekerja dengan profesionalitas yang tinggi dan memiliki
karakter kepribadian yang unggul serta bertanggung jawab. Peranan
pengelolaan sumber daya alam tersebut dilakukan oleh pemerintah
melalui Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pegawai Negeri Sipil (PNS) berperan
sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas
umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan
kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi
politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (Pasal 22
UU ASN).
Untuk dapat menghasilkan sosok Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
profesional dan berkarakter unggul, maka perlu dilakukan pelatihan dasar
(latsar) bagi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan III sesuai dengan
Peraturan Kepala LAN No.25/2017. Pelatihan dasar (latsar) tersebut
dilaksanakan melalui proses pendidikan dan pelatihan terintegrasi untuk
membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan
bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi
bidang (Pasal 63 UU ASN). Kegiatan pelatihan dasar (latsar) tersebut
dilakukan dengan inovatif agar calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) mampu
menginternalisasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dan
peranan PNS, serta membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi).

1
Kebiasaan tersebut diharapkan akan membentuk PNS yang profesional
dan berkarakter yang dapat melaksanakan fungsinya dengan baik
sehingga bermanfaat bagi bangsa dan Negara. Fungsi Pegawai Negeri
Sipil (PNS) adalah sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik,
dan perekat dan pemersatu bangsa. (Pasal 10 UU ASN)
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan merupakan salah satu unit kerja
di dalam Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang
bertugas untuk menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan
kebijakan di bidang pembinaan, pengusahaan, keteknikan, keselamatan
kerja, dan lingkungan di bidang ketenagalistrikan. Dalam melaksanakan
tugas tersebut, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dibagi menjadi
beberapa Direktorat bidang, yakni Direktorat Pembinaan Program
Ketenagalistrikan, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan,
dan Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan. Ketiga direktorat
tersebut memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Tugas dan fungsi
tersebut akan dapat dicapai dan dilaksanakan dengan baik apabila
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di dalamnya mampu bekerja dengan
kompeten, efektif dan efisien, serta berinovatif sehingga dapat mengikuti
perkembangan zaman.
Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) ditempatkan di Direktorat
Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, yakni Subdirektorat Harga
Tenaga Listrik, khususnya di Seksi kerja Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi.
Yang menjadi tugas dari Seksi Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi adalah
melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis
dan evaluasi di bidang tarif tenaga listrik dan subsidi listrik. Untuk dapat
menjalankan tugasnya dengan baik, Seksi kerja tersebut memiliki
beberapa uraian kegiatan kerja sebagai berikut.
1) Verifikasi dan penyiapan penetapan susut jaringan tenaga listrik
2) Monitoring dan evaluasi BPP tenaga listrik
3) Penyiapan dan monitoring tarif tenaga listrik dan subsidi listrik
4) Verifikasi penjualan dan tunggakan listrik
5) Sosialisasi kebijakan TTL dan subsidi

2
Salah satu uraian kegiatan kerja tersebut adalah melakukan verifikasi
penjualan dan tunggakan listrik. Verifikasi terhadap penjualan listrik yang
dilakukan oleh PLN sangatlah penting untuk dilakukan. Tujuannya agar
tarif penjualan tenaga listrik yang ditetapkan oleh PLN sesuai dengan
peraturan yang ada. Dengan demikian, tidak terjadi kecurangan ataupun
kesalahan dalam penetapan tarif. Selain itu, verifikasi ini juga sangat
penting untuk mengetahui jumlah pelanggan listrik di Indonesia,
pertumbuhan jumlah pelanggan listrik, kebutuhan daya tenaga listrik,
pertumbuhan kebutuhan daya tenaga listrik, jumlah pelanggan subsidi,
pertumbuhan jumlah pelanggan subsidi, dan lain-lain. Dengan melakukan
verifikasi dan evaluasi penjualan listrik, pemerintah akan siap untuk
mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan listrik di masa kini dan masa
mendatang. Namun, jika kegiatan ini terbengkalai dan tidak dilakukan
sesuai semestinya, maka mungkin saja muncul permasalahan tarif listrik
maupun kebutuhan listrik di masyarakat yang juga dapat menjadi
permasalahan nasional. Verifikasi dan evaluasi terhadap penjualan listrik
tersebut saat ini dilakukan dengan tidak rutin, bahkan beberapa kali data
tersebut hanya disimpan saja di penyimpanan berkas data tanpa melalui
proses verifikasi dan evaluasi. Hal ini akan berdampak buruk jika
dilanjutkan karena akan muncul dampak yang akan merugikan banyak
pihak.

1.2 Deskripsi Organisasi


Unit kerja penempatan peserta diklat adalah Direktorat Jenderal
Ketenagalistrikan. Visi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan adalah
“Terwujudnya sektor ketenagalistrikan yang andal, aman, akrab
lingkungan, kualitas tinggi, efisien dan rasional untuk memperkokoh
pembangunan nasional yang berkelanjutan sehingga memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.” Untuk
memenuhi visi tersebut, maka Pemerintah mengambil langkah-langkah
sebagai berikut:

3
1) Menyelenggarakan pembangunan sarana penyediaan dan
penyaluran tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik
daerah dan nasional;
2) Melaksanakan pengaturan usaha penyediaan dan usaha
penunjang tenaga listrik;
3) Melaksanakan pengaturan keselamatan ketenagalistrikan dan
lindungan lingkungan;
4) Memanfaatkan seoptimal mungkin sumber energi primer dan energi
terbarukan dengan memperhatikan keekonomiannya;
5) Mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan mempunyai tugas merumuskan


serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
Ketenagalistrikan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud,
Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menyelenggarakan fungsi sebagai
berikut:
1) Perumusan kebijakan di bidang ketenagalistrikan;
2) Pelaksanaan kebijakan di bidang ketenagalistrikan;
3) Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
ketenagalistrikan;
4) Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang
ketenagalistrikan;
5) Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan.

Susunan organisasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan adalah


sebagai berikut :
1) Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan
2) Sekretariat Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan
Sekretariat Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan mempunyai
tugas menyelenggarakan pembinaan dan pelayanan administratif
kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal. Sekretariat
Direktorat Jenderal Ketanagalistrikan menyelenggarakan fungsi
sebagai berikut:

4
 Koordinasi pelayanan administratif Direktorat Jenderal;
 Penyusunan perencanaan kerja dan penganggaran, satuan kerja,
serta perumusan ketatalaksanaan dan akuntabilitas kinerja;
 Pengelolaan administrasi perbendaharaan dan kekayaan negara,
serta akuntansi dan pertanggungjawaban keuangan;
 Pengelolaan kepegawaian dan pengurusan organisasi;
 Perumusan rancangan peraturan perundang-undangan dan
pemberian pertimbangan hukum, serta informasi hukum dan urusan
kehumasan;
 Pengelolaan sistem dan jaringan informasi, serta penyiapan bahan
laporan pimpinan Direktorat Jenderal;
 Pengelolaan urusan ketatausahaan, kearsipan, dan rumah tangga;
 Pembinaan kelompok jabatan fungsional Sekretariat Direktorat
Jenderal;
 Evaluasi pembinaan dan pelayanan administratif kepada semua
unsur di lingkungan Direktorat Jenderal.
3) Direktorat Pembinaan Program Ketenagalistrikan
Direktorat Pembinaan Program Ketenagalistrikan mempunyai
tugas menyusun rumusan kebijakan, rencana dan program, serta
pembinaan kerja sama dan informasi di bidang
ketenagalistrikan. Direktorat Pembinaan Program Ketenagalistrikan
menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
 Perumusan pedoman dan prosedur kerja;
 Perumusan kebijakan pengembangan investasi ketenagalistrikan,
serta rencana dan program pembangunan berjangka, dan rencana
umum ketenagalistrikan nasional (RUKN);
 Penyiapan pengaturan pemanfaatan data ketenagalistrikan, serta
pengelolaan data tenaga listrik dan pelayanan informasi
ketenagalistrikan;
 Pelaksanaan analisis pemanfaatan sumber energi primer;
 Penyelenggaran pembinaan kerja sama Pemerintah Daerah,
lembaga sertifikasi dan asosiasi, serta pengelolaan kerja sama luar
negeri;

5
 Bimbingan teknis perencanaan dan program ketenagalistrikan;
 Pembinaan kelompok jabatan fungsional Direktorat;
 Evaluasi kebijakan, rencana dan program, serta pembinaan kerja
sama dan informasi di bidang ketenagalistrikan.
4) Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan
Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan
mempunyai tugas menyelenggarakan kebijakan pembinaan,
pengaturan dan pengawasan kegiatan usaha,
serta pengembangan usaha penyediaan tenaga listrik. Direktorat
Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan menyelenggarakan
fungsi sebagai berikut:
 Perumusan pedoman dan prosedur kerja;
 Perumusan pedoman dan prosedur pelayanan izin usaha
penyediaan tenaga listrik;
 Penyelenggaraan kebijakan pembinaan usaha, serta perumusan
aturan usaha penyediaan tenaga listrik;
 Perumusan aturan dan penetapan harga jual tenaga listrik, tarif
dasar listrik dan subsidi listrik;
 Pelayanan izin dan pengawasan usaha penyediaan tenaga listrik;
 Pengelolaan fasilitasi penyelesaian perselisihan usaha penyediaan
tenaga listrik, serta perlindungan konsumen;
 Pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis usaha penyediaan
tenaga listrik;
 Pembinaan kelompok jabatan fungsional Direktorat;
 Evaluasi pelaksanaan kebijakan pengembangan usaha,
pembinaan, pengaturan dan pengawasan kegiatan
usaha penyediaan tenaga listrik.
5) Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan
Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan mempunyai tugas
merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis, serta pembinaan
teknis, lindungan lingkungan dan usaha penunjang di bidang
ketenagalistrikan. Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan
menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

6
 Penyusunan pedoman dan prosedur kerja;
 Perumusan kebijakan teknis serta pengaturan keselamatan operasi
dan kelaikan teknis;
 Perumusan Rancangan SNI dan rancangan Standar Kompetensi
Kerja, serta pemberlakuan standar wajib dan spesifikasi teknis
wajib;
 Pembinaan lembaga sertifikasi untuk lembaga inspeksi, profesi
personil, produk, sistem mutu dan uji laboratorium sesuai
kewenangannya;
 Pembinaan lindungan lingkungan dan usaha penunjang
ketenagalistrikan;
 Pengawasan atas penerapan keselamatan operasi, kelaikan teknis,
keselamatan dan K3, lindungan lingkungan, serta penggunaan
tenaga teknik;
 Pemberian pertimbangan sanksi atas pelanggaran penerapan
keselamatan operasi, kelaikan teknis, lindungan lingkungan,
standar wajib dan spesifikasi teknis wajib;
 Pembinaan kelompok jabatan fungsional Direktorat;
 Sosialisasi dan bimbingan teknis penerapan keselamatan operasi
dan kelaikan teknis;
 Evaluasi kebijakan teknis serta pembinaan teknis, lindungan
lingkungan dan usaha penunjang di bidang ketenagalistrikan.

Susunan organisasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

7
SUSUNAN ORGANISASI DITJEN KETENAGALISTRIKAN

Gambar 1 Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan

Saat ini, peserta diklat ditempatkan di Direktorat Pembinaan


Pengusahaan Ketenagalistrikan, Subdirektorat Harga Tenaga Listrik,
khususnya di Seksi Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi. Tugas seksi tarif
tenaga listrik dan subsidi adalah Melakukan penyiapan bahan perumusan
dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan
kriteria, serta bimbingan teknis dan evaluasi di bidang tarif tenaga listrik
dan subsidi listrik (Permen ESDM No. 13/2016 Pasal 316). Dalam
melaksanakan tugas tersebut, uraian kegiatan-kegiatan kerja yang
dilakukan seksi tarif tenaga listrik dan subsidi adalah:
1) Verifikasi dan penyiapan penetapan susut jaringan tenaga listrik
2) Monitoring dan evaluasi BPP tenaga listrik
3) Penyiapan dan monitoring tarif tenaga listrik dan subsidi listrik
4) Verifikasi penjualan dan tunggakan listrik
5) Sosialisasi kebijakan TTL dan subsidi

1.3 Identifikasi Isu (Masalah)


Permasalahan-permasalahan terkini yang muncul di seksi Tarif Tenaga
Listrik dan subsidi adalah sebagai berikut :

8
1. Penanganan pengaduan subsidi listrik belum optimal
Akar permasalahan munculnya isu tersebut adalah sebagai berikut:
 SOP dalam penanganan pengaduan subsidi listrik masih
terlalu rumit (kemensos, tnp2k, PLN, dan DJK)
 kurang koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam
penanganan pengaduan subsidi listrik tepat sasaran
(kemensos, tnp2k, dan PLN)
 SDM kurang kompeten
Isu tersebut harus segera diselesaikan agar tidak berdampak buruk
bagi individu, organisasi kerja, ataupun pihak lain yang terkait. Jika
tidak segera diselesaikan, dampak yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut :
 tidak optimalnya cara kerja dan waktu kerja ASN (individu
dan unit kerja)
 Masyarakat merasa tidak dilayanai (publik)
 profesionalitas kerja ASN dan Organisasi menurun (individu
dan unit kerja)
 citra buruk terhadap Kementerian ESDM (Unit kerja)

2. Sharing Knowledge dengan personel kerja yang baru belum optimal


Akar permasalahan munculnya isu tersebut adalah sebagai berikut:
 belum ada alur kerja/SOP dalam hal transfer kompetensi
kepada personel kerja yang baru
 kurang kepedulian kepada personel kerja baru
 masih banyaknya pekerjaan lain yang harus dikerjakan oleh
personel kerja lama sehingga tidak cukup waktu untuk
membantu personel kerja baru.
Isu tersebut harus segera diselesaikan agar tidak berdampak buruk
bagi individu, organisasi kerja, ataupun pihak lain yang terkait. Jika
tidak segera diselesaikan, dampak yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut:
 personel kerja baru sulit untuk menyesuaikan ritme kerja
dengan personel kerja lama (individu dan unit kerja)

9
 pemahaman tentang unit kerja tidak maksimal (individu)
 personel kerja baru merasa tidak diberdayakan dan tidak
dipedulikan sehingga dapat membuat hubungan dan situasi
kerja yang tidak kondusif yang akan menyebabkan
kurangnya profesionalitas sebagai ASN (individu dan unit
kerja)

3. Evaluasi terhadap penjualan listrik PLN belum optimal


Akar permasalahan munculnya isu tersebut adalah sebagai berikut:
 data hasil penjualan listrik PLN belum terkumpul dengan rapi
 proses evaluasi tidak dilakukan secara terjadwal, namun saat
data dibutuhkan saja
 belum ada PIC yang bertugas melakukan analisis rutin
 rumit dan butuh waktu cukup lama dalam mengevaluasi
banyaknya data penjualan listrik PLN
Isu tersebut harus segera diselesaikan agar tidak berdampak buruk
bagi individu, organisasi kerja, ataupun pihak lain yang terkait. Jika
tidak segera diselesaikan, dampak yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut:
 kesulitan dalam melakukan evaluasi terhadap banyaknya
data penjualan listrik PLN (individu)
 efisiensi waktu kerja tidak optimal (individu)
 profesionalitas unit kerja menurun akibat tidak sigap dalam
penyediaan data (unit kerja)
 kesulitan dalam memperoleh data bagi Subdirektorat
maupun Direktorat lain (unit kerja)
 kesulitan memperoleh data untuk statistik nasional (pihak
lain, yakni Badan Pusat Statistik)
 kesulitan memperoleh data dalam penentuan kebijakan
strategis negara (Kementerian Keuangan)
 kesulitan memperoleh data dalam perencanaan produksi
peralatan listrik (Perusahaan Swasta)

10
Isu-isu/permasalahan-permasalahan yang terjadi di unit kerja tersebut
harus segera diselesaikan agar tidak merugikan semua pihak yang terkait
(stakeholder). Namun, penyelesaian isu tersebut tidak akan realistis jika
harus dilakukan secara bersamaan dengan waktu yang terbatas. Untuk
itu, perlu dilakukan analisis dalam menentukan prioritas isu/permalahan
yang harus segera diselesaikan. Untuk menentukan prioritas
isu/permasalahan tersebut, digunakanlah analisis USGR. Hasil analisis
USGR terhadap isu/permasalahan di unit kerja dapat dilihat pada Tabel 1.
Analisis USGR adalah salah satu cara menetapkan urutan prioritas
dengan metode teknik scoring. Proses metode USGR dilakukan dengan
memperhatikan urgensi masalah, keseriusan masalah yang dihadapi,
kemungkinan berkembangnya masalah tersebut, kemungkinan masalah
tersebut diselesaikan dengan kompetensi yang dimiliki oleh seorang
CPNS.
1. Urgency
Seberapa mendesak masalah tersebut harus diselesaikan
dikaitkan dengan waktu yang tersedia, artinya apabila masalah
tidak segera ditanggulangi akan semakin gawat.
2. Seriousness
Seberapa serius masalah tersebut perlu dibahas dikaitkan
dengan akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan
masalah yang dapat menimbulkan masalah-masalah baru jika
masalah tersebut tidak diselesaikan.
3. Growth
Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut
menjadi berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu
akan makin memburuk kalau dibiarkan.
4. Rationality
Seberapa mungkin isu tersebut dapat diselesaikan dengan
mempertimbangkan kompetensi dan ilmu yang dimiliki.

11
Tabel 1. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Isu/Masalah

Penilaian
No. Isu Total Prioritas
U S G R
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1. Penanganan pengaduan
4 5 5 2 16 II
subsidi listrik belum optimal
2. Sharing Knowledge dengan
personel kerja yang baru 3 4 3 4 14 III
belum optimal
3. Evaluasi terhadap penjualan
4 4 5 5 18 I
listrik PLN belum optimal

Keterangan :
U = Urgency ; S = Seriousness ; G = Growth ; R = Rationality
1 = Sangat kecil ; 2 = Kecil ; 3 = Sedang ; 4 = Besar ; 5 = Sangat besar

Berdasarkan analisis USGR diatas, maka penulis memutuskan


isu/permasalahan yang akan diselesaikan pada masa aktualisasi
(habituasi) adalah mengenai “Evaluasi terhadap penjualan listrik PLN
belum optimal”. Jika dilihat dari aspek urgency, isu tersebut mendesak
untuk diselesaikan dikaitkan dengan waktu yang tersedia. Jika tidak
diselesaikan, permasalahan tersebut akan semakin menumpuk karena
proses evaluasi penjualan listrik PLN harus dilakukan setiap bulan. Jika
dilihat dari aspek seriousness, isu tersebut serius dan harus diselesaikan.
Jika tidak diselesaikan, akan timbul masalah baru yang dapat mengganggu
efektivitas dan efisiensi waktu kerja. Masalah baru yang mungkin muncul
jika isu tersebut tidak ditanggapi dengan serius adalah kesulitan
perhitungan kebutuhan tenaga listrik dan jumlah pelanggan yang mungkin
juga dapat mengakibatkan permasalahan energi listrik nasional. Jika dilihat
dari aspek growth, isu tersebut akan semakin berkembang jika dibiarkan.
Perkembangan permasalahan tersebut terjadi karena data penjualan listrik
tersebut ada setiap bulan sehingga akan semakin menumpuk jika
dibiarkan. Jika dilihat dari aspek rationality, isu tersebut yang paling

12
mungkin untuk diselesaikan dilihat dari kompetensi yang dimiliki oleh
CPNS saat ini.
Kondisi saat ini mengenai Evaluasi terhadap penjualan listrik PLN yang
belum optimal adalah
 Data tersebar ke beberapa personel kerja
Data penjualan listrik PLN saat ini masih belum terkumpul menjadi
satu sehingga proses evaluasi terhadap penjualan listrik PLN akan
lebih sukar untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan perlunya waktu untuk
mengumpulkan data-data tersebut terlebih dahulu sebelum dievaluasi
lebih lanjut. Sehingga dapat dikatakan data evaluasi belum tersedia
apabila sewaktu-waktu diperlukan.
 Evaluasi dilakukan saat data dibutuhkan
Kegiatan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN dilakukan saat
data tersebut dibutuhkan saja dan belum ada jadwal evaluasi rutin yang
dibuat agar kegiatan evaluasi menjadi terkoordinir dengan baik.
 Penunjukan pelaksana evaluasi berdasarkan beban kerja terkini
Kegiatan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN saat ini juga masih
belum memiliki koordinator. Atasan akan menunjuk pelaksana evaluasi
secara langsung berdasarkan beban kerja terkini yang dimiliki oleh
personel kerja. Hal ini menyebabkan setiap pelaksana akan melakukan
evaluasi, dibutuhkan waktu untuk mempelajari data lebih dulu lalu dapat
dilakukan evaluasi.
 Evaluasi dilakukan secara manual
Kegiatan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN saat ini masih
dilakukan secara manual. Pengerjaan evaluasi secara manual tersebut
akan menyulitkan peserta karena banyaknya data yang harus
dievaluasi. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk pengelolaan data
tersebut juga cukup lama. Saat ini dibutuhkan waktu sekitar 3 hari kerja
untuk melakukan evaluasi terhadap penjualan listrik PLN.

13
Gambar 2. Metode Gap Analysis dalam menentukan Solusi Pemecahan
Isu
Gambar 2 menunjukan analisis isu/permasalahan menggunakan
analisis kesenjangan (gap analysis). Dapat dilihat kesenjangan yang terjadi
antara kondisi saat ini dengan kondisi yang diharapkan serta dampak
apabila masalah tidak diselesaikan. Setelah itu, ditentukan akar
permasalahan utama/prioritas dari kondisi saat ini dan akar permasalahan
tersebut akan dijadikan sebagai tolak ukur untuk menemukan solusi
pemecahan masalah.

1.4 Perumusan dan Penetapan Isu (Masalah)


Hasil analisis terhadap isu/permasalahan telah dilakukan.
Isu/permasalahan yang akan diangkat adalah evaluasi terhadap
penjualan listrik PLN belum optimal. Untuk menyelesaikan isu/masalah
tersebut, maka perlu dianalisis akar pemasalahan utama/prioritas yang
menjadi penyebab utama terjadinya isu. Akar permasalahan tersebut akan
dijadikan tolak ukur untuk menentukan solusi yang tepat untuk
menyelesaikan isu/permasalahan. Analisis terhadap akar permasalahan

14
tersebut dilakukan dengan metode analisis USGR seperti terlihat pada
Tabel 2.

Tabel 2. Analisis USGR untuk Menentukan Prioritas Akar Permasalahan

Penilaian
No. Isu Total Prioritas
U S G R

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1. Data belum terkumpul 4 3 4 5 16 II

Proses evaluasi belum


2. 3 3 3 5 14 III
terjadwal

3. PIC belum ditetapkan 3 3 3 4 13 IV

Waktu lama dan rumit


4. 4 5 4 5 18 I
mengevaluasi banyak data

Keterangan :
U = Urgency ; S = Seriousness ; G = Growth ; R = Rationality
1 = Sangat kecil ; 2 = Kecil ; 3 = Sedang ; 4 = Besar ; 5 = Sangat besar

Berdasarkan analisis tersebut, maka akar permasalahan yang menjadi


prioritas dan akan diselesaikan adalah mengenai rumit dan waktu yang
lama dalam mengevaluasi banyak data penjualan listrik PLN. Dengan
penyelesaian akar permasalahan ini, diharapkan pelaksana evaluasi tidak
akan kesusahan setiap akan melakukan evaluasi terhadap penjualan listrik
PLN. Dengan demikian, waktu yang dibutuhkan untuk mengevaluasi
penjualan listrik PLN menjadi lebih efektif dan efisien, yakni hanya sekitar
1 jam kerja.

15
BAB II
CAPAIAN AKTUALISASI

2.1 Jadwal Rancangan dan Realisasi Kegiatan (Realisasi)


Kegiatan aktualisasi direncanakan akan dilaksanakan selama sekitar
delapan belas minggu. Namun dalam pelaksanaannya, libur lebaran
selama sekitar satu minggu lebih mendorong untuk dilakukan akselerasi
sehingga kegiatan aktualisasi diselesaikan selama sekitar tujuh belas
minggu. Tabel berikut menjelaskan jadwal rancangan awal pelaksanaan
aktualisasi dan realisasi pelaksanaan aktualisasi.

Tabel 3. Jadwal Realisasi Pelaksanaan Aktualisasi


Minggu Ke-
No Kegiatan April Mei Juni Juli
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Koordinasi dengan
1 coach/mentor dan rekan
kerja

Pengumpulan data hasil


2 penjualan listrik PLN

Pemahaman data hasil


3 penjualan listrik PLN

Perancangan tools
4 evaluasi penjualan listrik
PLN
Pembuatan dan simulasi
5 tools evaluasi hasil
penjualan listrik PLN
Pembuatan Laporan
6 tentang Hasil Evaluasi
Penjualan Listrik PLN
Sosialisasi Tools Evaluasi
7 dan Pembuatan Juknis
Penggunaan Tools

Ket:
Rencana
Pelaksanaan
Libur

Beberapa perubahan waktu pelaksanaan aktualisasi yang berbeda


dengan rencana, khususnya di delapan minggu terakhir kegiatan
aktualisasi. Perubahan tersebut karena dibutuhkan waktu yang lebih
banyak untuk membuat dan melakukan simulasi tools. Tools yang dibuat
harus dapat memenuhi harapan pengguna, yakni rekan kerja, kepala
seksi, dan kepala subdirektorat. Perubahan tersebut dapat diantisipasi
dengan baik dengan melakukan sosialisasi tools evaluasi dan pembuatan
juknis lebih cepat dibandingkan dengan perencanaan awal.

16
Selain perubahan waktu pelaksanaan, penulis juga menambahkan satu
kegiatan di akhir pelaksanaan aktualisasi dengan membuat juknis
penggunaan tools evaluasi sesuai dengan harapan coach, mentor, dan
rekan kerja. Tujuannya agar tools tersebut dapat digunakan oleh semua
orang dengan mandiri tanpa perlu pelatihan lagi. Selain itu, juknis
penggunaan tools evaluasi tersebut juga dapat membantu sebagai
pengingat ketika pelaksana evaluasi lupa dalam menggunakan tools
tersebut.

2.2 Role Model


Selama masa habituasi ini, penulis menemukan dua orang PNS di
lingkungan Ditjen Ketenagalistrikan yang dapat penulis jadikan panutan
dalam menjalani profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil.
1) David Firnando Silalahi, Kepala Seksi Tarif Tenaga Listrik dan
Subsidi, Ditjen Ketenagalistrikan
Bapak David Firnando Silalahi adalah Kepala seksi penempatan
kerja penulis. Selain sebagai kepala seksi, beliau juga berperan
sebagai mentor penulis selama menjalani masa habituasi CPNS.
Banyak hal positif yang dapat penulis teladani dari beliau, diantaranya
sebagai berikut:
 Dalam kehidupan kerjanya sebagai PNS, beliau selalu proaktif dan
cepat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Beliau tidak pernah
menunda-nunda pekerjaan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan
dan dipertanggungjawabkan dengan baik (akuntabilitas);
 Beliau juga dapat mengkoordinasi staf di seksi Tarif Tenaga Listrik
dan Subsidi dengan baik untuk dapat menyelesaikan pekerjaan
dengan tepat waktu (manajemen ASN);
 Pekerjaan yang diselesaikan oleh staf beliau selalu diperiksa lebih
dulu dengan teliti agar tidak ada kesalahan (komitmen mutu);
 Selain dengan stafnya, beliau juga memiliki koordinasi dan
hubungan yang baik dengan semua orang di lingkungan ditjen
Ketenagalistrikan, khususnya dengan atasan, baik kepala subdit,
maupun direktur (etika publik);

17
 Beliau juga memiliki hubungan kerja yang baik dengan stakeholder
di instansi lain, khususnya PLN, Dinas ESDM Provinsi, Ditjen
Anggaran, Ditjen Bangda, TNP2K, Kemensos, dan instansi-
instansi lain yang terkait (Whole of Government);
 Beliau tidak pernah keberatan untuk menerima panggilan pribadi
berupa pengaduan langsung dari masyarakat (pelayanan publik);
 Sebagai kepala seksi tarif tenaga listrik dan subsidi, beliau sangat
concern dengan penerapan tarif subsidi dan nonsubsidi yang
dirasakan oleh semua masyarakat (nasionalisme).
2) Syariffuddin Achmad, Staf Seksi Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi,
Ditjen Ketenagalistrikan
Bapak Syariffuddin Achmad adalah Staf senior di seksi penempatan
kerja penulis. Beliau berperan sebagai coach penulis selama menjalani
masa habituasi CPNS. Banyak hal positif yang dapat penulis teladani
dari beliau, diantaranya sebagai berikut:
 Dalam kehidupan kerjanya sebagai PNS, beliau tidak pernah
menolak pekerjaan dan berusaha secepat dan sebaik mungkin
menyelesaikan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.
Beliau tidak pernah menunda-nunda pekerjaan dan tidak pernah
mengeluh dengan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
(akuntabilitas);
 Sebagai staf senior, beliau dapat membantu memberikan arahan
kepada staf juniornya sehingga pekerjaan di seksi Tarif Tenaga
Listrik dan Subsidi dapat terselesaikan dengan tepat waktu
(manajemen ASN);
 Beliau selalu meminta koreksi, baik dari junior dan terutama dari
kepala seksi setiap menyelesaikan suatu pekerjaan (komitmen
mutu);
 Ketika membutuhkan data dari subdit ataupun direktorat lain, beliau
selalu meminta dengan sopan dan etika yang baik. (etika publik);
 Beliau juga memiliki hubungan kerja yang baik dengan stakeholder
di instansi lain, khususnya PLN, Dinas ESDM Provinsi, Ditjen

18
Anggaran, Ditjen Bangda, TNP2K, Kemensos, dan instansi-
instansi lain yang terkait (Whole of Government);
 Beliau mau mendengarkan pengaduan masyarakat secara
langsung yang datang untuk meminta bantuan penanganan subsidi
listrik. (pelayanan publik).

2.3 Realisasi Pelaksanaan Kegiatan


Kegiatan aktualisasi dilaksanakan mengacu pada rancangan aktualisasi
yang telah dibuat. Namun, beberapa kegiatan ternyata membutuhkan waktu
yang lebih panjang ataupun lebih singkat dibandingkan dengan rencana awal
sehingga perlu menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Selain itu,
penambahan kegiatan di akhir aktualisasi juga dilakukan untuk memenuhi
harapan coach dan mentor, yakni dengan menambahkan kegiatan pembuatan
Juknis Penggunaan Tools. Berikut penjelasan mengenai setiap kegiatan
aktualisasi.

Tabel 4. KEGIATAN 1

Kegiatan Koordinasi dengan coach/mentor dan rekan


kerja tentang tools evaluasi penjualan listrik
PLN
Tanggal Pelaksanaan 3 April – 6 April 2018
Peserta Mentor, Coach, dan Rekan kerja
Daftar Bukti (Evidence)  Foto
 Catatan tertulis
Output  Masukan dan arahan kriteria tools
 Kriteria akhir tools
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Mengumpulkan
masukan dari rekan
kerja tentang kriteria
tools yang diharapkan

19
20
Foto: Diskusi dan meminta masukan dari rekan
kerja, yakni Pak Daniel, Pak Yundi, dan Pak Tri
Suhartanto mengenai kriteria tools yang mereka
harapkan.
Penjelasan di Atas:
 Pak Daniel memberikan masukan bahwa
Tools memerlukan tambahan informasi
mengenai data pelanggan dan penjualan
untuk pelanggan subsidi dan non subsidi yang
akan sangat berguna dalam evaluasi;
 Pak Yundi memberikan masukan bahwa
Tools memerlukan tambahan data
pertumbuhan jumlah pelanggan dan
penjualan setiap bulan sehingga mudah untuk
dimonitor;
 Pak Tanto memberikan masukan bahwa
Tools harus mudah digunakan oleh siapa saja;
 Masukan-masukan dari rekan kerja diterima
dengan baik dan menjadi bahan
pertimbangan penting untuk pembuatan Tools
evaluasi penjualan listrik PLN dan juga bahan
diskusi dengan Mentor untuk menentukan
kriteria Tools yang tepat.

21
2. Meminta arahan dari
coach/mentor tentang
kriteria tools yang
diharapkan

22
Foto: Meminta arahan dari coach Syariffuddin
Achmad dan Mentor David F. Silalahi tentang
tools evaluasi yang akan dibuat.
Penjelasan di Atas:
 Tahapan kegiatan ini untuk meminta arahan
dan masukan dari coach Syariffuddin Achmad
dan Mentor David F. Silalahi secara pribadi;
 Coach Syariffuddin Achmad berpendapat
tentang pentingnya Tools evaluasi untuk
menghasilkan data penjualan dan jumlah
pelanggan subsidi dan nonsubsidi;
 Mentor David F. Silalahi memberikan arahan
dengan memberikan tugas untuk melakukan
evaluasi terhadap data penjualan di Bulan
Maret.
3. Menentukan kriteria
akhir tools yang akan
dibuat bersama
coach/mentor

23
24
Foto: Hasil diskusi yang telah disetujui oleh
coach dan mentor tentang kriteria akhir tools
yang akan dibuat sebagai tools evaluasi
penjualan listrik PLN.
Penjelasan di Atas:
 Tahapan kegiatan ini adalah diskusi dua arah
antara coach/mentor dan penulis mengenai
kriteria akhir tools evaluasi yang akan dibuat.
Diskusi juga membahas tentang masukan
yang diberikan oleh rekan kerja;
 Setelah mendiskusikan masukan dari rekan
kerja, coach, mentor, dan penulis sepakat
untuk menentukan tools evaluasi harus
memiliki 6 komponen penting yang dapat
dihasilkan, yakni:
- Penjualan tenaga listrik total
- Penjualan tenaga listrik per golongan tarif
- Penjualan tenaga listrik per level tegangan
- Penjualan tenaga listrik per wilayah
- Penjualan listrik subsidi dan non subsidi
- Pelanggan listrik subsidi dan non subsidi

25
Tabel 5. KEGIATAN 2

Kegiatan Pengumpulan data hasil penjualan listrik PLN


Tanggal Pelaksanaan 9 April – 20 April 2018
Peserta Coach, Rekan kerja, dan Pegawai PLN
Daftar Bukti (Evidence)  Foto Data Penjualan
 Tangkapan layar (Screenshot)
Output  Data penjualan listrik terbaru
 Data penjualan listrik terdahulu
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Mengumpulkan data
penjualan listrik yang
terbaru dari PLN

26
Foto: Data penjualan listrik PLN bulan Januari
sampai dengan Juni 2018 yang telah
dikumpulkan dengan koordinasi dengan rekan
kerja dan pihak PT PLN (Persero)
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan koordinasi dengan
meminta arahan dari rekan kerja yang sudah
senior untuk mendapatkan data penjualan
listrik terbaru, yakni di bulan Januari sampai
dengan April 2018;
 Penulis berkoordinasi dengan pihak PT PLN
(Persero) untuk setiap bulannya mendapatkan
data penjualan listrik di awal bulan untuk bulan
Mei sampai dengan seterusnya.

27
2. Mengumpulkan data
penjualan listrik yang
terdahulu dari rekan
kerja

28
29
Foto: Data penjualan listrik terdahulu dari tahun
2013 sampai dengan tahun 2017 yang
dikumpulkan dari berbagai tempat penyimpanan
data.
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan koordinasi dengan
meminta arahan dari rekan kerja dan coach
untuk mendapatkan data penjualan listrik dari
tahun 2013 sampai dengan tahun 2017;
 Data penjualan tersebut dikumpulkan per
tahun untuk setiap bulan mulai dari Januari
sampai dengan Desember

30
Tabel 6. KEGIATAN 3

Kegiatan Pemahaman data hasil penjualan listrik PLN


Tanggal Pelaksanaan 23 April – 27 April 2018
Peserta Coach, Mentor, dan Rekan kerja
Daftar Bukti (Evidence)  Foto
 Rangkuman Pemahaman data
 Format dan Konten Data
Output  Bukti pemahaman data penjualan listrik PLN
 Format dan konten data yang relevan untuk
pembuatan tools
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Memahami data hasil
penjualan listrik PLN
secara mandiri

31
Foto: Rangkuman tulisan tangan untuk
memahami data penjualan listrik PLN
Penjelasan di Atas:

32
 Penulis melakukan pembelajaran mandiri
untuk memahami data penjualan listrik PLN.
Penulis menemukan banyak informasi di
setiap sheet data penjualan , yakni:
- Sheet HIGHLIGHT yang menjelaskan
secara umum jumlah pelanggan, daya
tersambung, KWh jual, rupiah penjualan, dan
Rp/KWh penjualan listrik
- Sheet REKAP yang menjelaskan khusus
penjualan tiap wilayah dan regional
- Sheet TEGANGAN yang menjelaskan
secara khusus untuk tegangan rendah,
menengah, dan tinggi
- Sheet GABUNGAN yang menjelaskan
secara rinci penjualan per wilayah dengan
masing-masing golongan tarif untuk
pelanggan prabayar dan pascabayar
- Sheet PRABAYAR khusus untuk pelanggan
prabayar
- Sheet PASCABAYAR yang juga khusus
untuk pelanggan pascabayar
2. Berdiskusi dengan
coach/mentor untuk
dapat memahami data
hasil penjualan listrik
PLN

Foto: Diskusi dengan Coach Syarifuddin


Achmad untuk memahami secara menyeluruh
tentang data penjualan listrik PLN
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan tanya jawab dengan
coach Syarifuddin Achmad untuk
mengetahui perbedaan PLN khusus Holding
dengan PLN seluruh Indonesia, alasan tidak

33
dimasukkannya PLN Batam ke dalam PLN
Holding, dan penjelasan untuk masing-
masing struktur tarif yang ada di data
penjualan;
 Penulis juga melakukan tanya jawab
mengenai golongan tarif subsidi dan
nonsubsidi yang berlaku dan perkembangan
tarif.
3. Berdiskusi dengan
rekan kerja untuk
dapat memahami data
hasil penjualan listrik
PLN

34
Foto: Diskusi dengan Pak Daniel dan Pak Tri
Suhartanto untuk lebih memahami data
penjualan listrik PLN
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan tanya jawab dengan
rekan kerja yang lebih senior tentang
penerapan golongan tarif dan kaitannya
dengan besaran subsidi yang dikeluarkan
oleh Pemerintah
4. Berdiskusi dengan
coach/mentor dalam
menentukan format
dan konten data yang
relevan untuk
pembuatan tools

35
Foto: Pemahaman Data Penjualan Listrik PLN
dan Format dan Konten Data untuk Pembuatan
Tools
Penjelasan di Atas:
 Penulis menyampaikan hasil pemahaman
data penjualan listrik kepada coach dan
mentor secara tertulis. Coach dan mentor
melakukan tanya jawab untuk memastikan
pemahaman penulis terhadap data
penjualan tersebut
 Penulis, mentor, dan coach sepakat
menggunakan format dan konten data yang
sudah ada dari PLN untuk digunakan di
dalam tools evaluasi. Dengan demikian,
diharapkan dapat lebih mempersingkat
waktu evaluasi.

36
Tabel 7. KEGIATAN 4

Kegiatan Perancangan tools evaluasi penjualan listrik


PLN
Tanggal Pelaksanaan 30 April – 25 Mei 2018
Peserta Kepala Subdirektorat, Coach, Mentor, dan
Rekan kerja
Daftar Bukti (Evidence)  Foto
 Rangkuman
 Hasil Rancangan
 Daftar Hadir Rapat
Output  Rangkuman Literatur
 Rangkuman Hasil Benchmark
 Rancangan awal tools
 Rancangan akhir tools
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Mencari literatur untuk
tools evaluasi sejenis

37
38
Foto: Rangkuman literatur tentang penjualan
listrik dari Negara lain
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan studi literatur tentang
penjualan tenaga listrik dari Negara-negara
tetangga, yakni Malaysia dan Thailand.
Penulis menemukan penjualan listrik Negara
tetangga juga dievaluasi per golongan
tarifnya. Sebagai contoh Negara Thailand
yang lebih banyak menggunakan tenaga
listriknya di wilayah perkantoran dan
perkotaan, yang golongan tarifnya lebih
didominasi oleh pelanggan mampu.
Sedangkan Negara Malaysia lebih banyak
mengevaluasi pada data penjualan berupa
uang dan keuntungan.

39
2. Melakukan benchmark
mengenai tools
sejenis

Foto: Hasil Benchmark yang dilakukan terhadap


tools pengaduan Posko Penanganan Subsidi
Listrik Tepat Sasaran yang dibuat oleh Pak
Daniel.
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan diskusi dan pemahaman
terhadap cara kerja tools pengaduan Posko
Penanganan Subsidi listrik Tepat Sasaran
yang pernah dibuat oleh Pak Daniel. Tools
tersebut sederhana dengan menampilkan
jumlah data yang masuk menggunakan
excel yang dihitung dengan pivot tabel.
Tools tersebut terkesan sederhana, namun
dapat membantu dalam mempersingkat
waktu untuk mengevaluasi pengaduan
posko subsidi listrik tepat sasaran.

40
3. Merancang tools
evaluasi secara
mandiri

Foto: Rancangan awal yang dilakukan secara


mandiri
Penjelasan di Atas:
 Penulis membuat rancangan secara mandiri
setelah melakukan benchmarking pada
tools pengaduan posko dan mulai
menyusun rancangan untuk membuat tools
dengan rentang waktu hingga 5 tahunan.
4. Mendiskusikan hasil
rancangan tools
dengan coach/mentor,
rekan kerja, dan
Kasubdit

41
Foto: Diskusi dengan Mentor mengenai hasil
rancangan mandiri tools dan Rapat
Pembahasan Rancangan Awal Tools Evaluasi
Penjualan Listrik PLN
Penjelasan di Atas:
 Penulis mendiskusikan hasil rancangan
mandiri dengan coach dan mendapatkan
masukan bahwa waktu yang saat ini

42
digunakan dalam mengevaluasi penjualan
listrik PLN adalah tahun ke tahun (year on
year). Untuk itu, sebaiknya yang dievaluasi
hanya untuk periode tahun ke tahun (year on
year), namun penjualan listrik 5 tahun
terakhir tetap disediakan;
 Rapat juga dilakukan dengan mendapatkan
arahan dari Kasubdit untuk membuat Tools
yang simple dan cepat untuk menghasilkan
data penjualan;
 Rekan kerja juga berpendapat bahwa tools
harus dibuat simple dan mudah digunakan.
5. Merevisi hasil
rancangan tools

Foto: Revisi mandiri Tools


Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan revisi terhadap
rancangan awal tools evaluasi yang telah
dibuat sesuai dengan arahan coach dan
mentor. Penulis juga menerapkan arahan
dari Kasubdit dan masukan dari rekan kerja
untuk tetap membuat Tools simple dan
mudah digunakan.

43
6. Finalisasi rancangan
tools dengan
coach/mentor, rekan
kerja, dan Kasubdit

44
Foto: Rancangan akhir Tools
Penjelasan Catatan di Atas:
Rancangan akhir Tools telah dibuat dan
disepakati oleh Mentor, Coach, dan penulis.
Penulis akan berpedoman terhadap rancangan
akhir dalam membuat Tools evaluasi.

45
Tabel 8. KEGIATAN 5

Kegiatan Perancangan tools evaluasi penjualan listrik


PLN
Tanggal Pelaksanaan 28 Mei – 6 Juli 2018
Peserta Kepala Subdirektorat, Coach, Mentor, dan
Rekan kerja
Daftar Bukti (Evidence)  Foto
 Tangkapan Layar (Screenshot)
 Daftar Hadir Rapat
Output  Tools awal
 Tools akhir
 Simulasi tools
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Membuat tools secara
mandiri

Foto: Tools awal


Penjelasan di Atas:
 Penulis membuat tools awal yang mampu
menampilkan seluruh komponen pada
rancangan akhir yang telah disepakati. Tools
tersebut terddiri dari empat sheet yang
masing-masing sheet menampilkan
komponen yang ada pada rancangan akhir.
2. Mendiskusikan hasil
pembuatan tools
dengan coach/mentor

Foto: Tools awal yang telah dibuat untuk


didiskusikan dengan Coach/Mentor.
Penjelasan di Atas:

46
 Mentor dan coach berpendapat bahwa tools
tersebut masih belum mudah digunakan
karena data output masih tersebar di banyak
sheet dan dapat membuat kebingungan
pengguna tools. Selain itu, tools awal juga
masih belum dapat digunakan dengan
benar-benar singkat dan otomatis karena
beberapa komponen harus masih dilakukan
penjumlahan sederhana. Mentor dan coach
berpendapat untuk penulis melakukan revisi
terhadap tools awal yang telah dibuat.
3. Merevisi tools sesuai
hasil diskusi dengan
coach/mentor

47
Foto: Tools Akhir yang telah direvisi
Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan revisi tools awal sesuai
dengan arahan coach dan mentor dan
menghasilkan tools baru yang dapat

48
menghasilkan komponen sesuai dengan
rancangan yang sudah disepakati dan lebih
mudah untuk digunakan.
4. Simulasi akhir tools
dengan coach/mentor,
rekan kerja, dan
Kasubdit

Foto: Simulasi Tools Akhir kepada Kasubdit,


coach/mentor, dan rekan kerja
Penjelasan di Atas:

49
 Penulis melakukan simulasi penggunaan
tools evaluasi kepada rekan kerja, coach
dan mentor di hadapan kepala subdirektorat
Harga Tenaga Listrik. Tools tersebut mampu
bekerja sesuai dengan rancangan awal
yang telah disepakati dan mudah
digunakan. Tools juga cepat dan otomatis
bekerja sehingga lebih mempersingkat
waktu untuk membuat laporan evaluasi;
 Kepala subdirektorat Harga Tenaga Listrik
menetapkan tugas pembuatan Laporan
evaluasi penjualan listrik PLN setiap bulan
dilakukan oleh penulis di pertengahan bulan
dan akan dilaporkan kepada para direktur
dan pejabat eselon II di lingkungan Ditjen
Ketenagalistrikan.

50
Tabel 9. KEGIATAN 6

Kegiatan Pembuatan Laporan tentang Hasil Evaluasi


Penjualan Listrik PLN
Tanggal Pelaksanaan 9 Juli - 20 Juli 2018
Peserta Kepala Subdirektorat, Coach, Mentor, dan
Rekan kerja
Daftar Bukti (Evidence)  Foto
 Tangkapan Layar (Screenshot)
Output  Format laporan
 Laporan awal
 Laporan Akhir
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Mendiskusikan format
laporan dengan
coach/mentor

51
Foto: Format laporan yang disepakati dan
diskusi dengan Kepala Subdirektorat harga
Tenaga Listrik
Penjelasan di Atas:
 Setelah penulis berdiskusi dengan coach,
mentor, dan kepala subdirekorat, ditetapkan
bahwa format laporan yang akan dibuat
adalah berupa nota dinas dari kepala
subdirektorat kepada direktur. Tujuannya
agar direktur dapat meneruskan nota dinas
tersebut ke direktorat lain sebagai salah satu
bentuk sharing knowledge dari direktorat
Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan.
2. Membuat laporan
secara mandiri

52
Foto: Laporan awal
Penjelasan di Atas:
 Laporan awal dibuat oleh penulis secara
mandiri dengan mengacu kepada nota dinas
lain. Laporan awal ini nantinya akan
didiskusikan dengan Coach, mentor, dan
Kasubdit.
3. Mendiskusikan
laporan dengan
coach/mentor

53
Foto: Laporan hasil diskusi dengan coach,
mentor dan Kepala Subdirektorat dan Kegiatan
diskusi dengan Kepala Subdirektorat harga
Tenaga Listrik
Penjelasan di Atas:
Laporan awal yang dibuat oleh penulis direvisi
sangat banyak oleh kepala Subdirektorat. Revisi
sebagian besar terdapat pada pemilihan kata
yang kurang tepat ataupun cara penyajian data
yang kurang sistematis. Selain itu, penggunaan
symbol yang tepat juga menjadi hal yang
penting untuk diperhatikan.

54
4. Merevisi laporan

Foto: Revisi Laporan


Penjelasan di Atas:
Laporan direvisi berulang-ulang sesuai dengan
arahan kepala subdirektorat. Dalam melakukan
revisi laporan, penulis juga menyempatkan
untuk mempersiapkan bahan data dukung
sebagai lampiran nota dinas.

55
5. Finalisasi laporan

56
57
58
59
Foto: Laporan Akhir yang disetujui Kepala
Subdirektorat Harga Tenaga Listrik
Penjelasan di Atas:
Laporan akhir disetujui oleh coach, mentor, dan
kepala subdirektorat. Laporan akhir berupa nota
dinas dan lampiran berupa data pendukung.

60
Tabel 10. KEGIATAN 7

Kegiatan Sosialisasi Tools Evaluasi dan Pembuatan Juknis


Penggunaan Tools
Tanggal Pelaksanaan 23 Juli – 3 Agustus 2018
Peserta Coach, Mentor, dan Rekan kerja
Daftar Bukti (Evidence)  Foto
 Tangkapan Layar (Screenshot)
Output  Bukti kemampuan penggunaan Tools
Evaluasi oleh rekan kerja
 Juknis Penggunaan Tools
Tahapan Kegiatan (Output dan Bukti)
1. Melakukan distribusi
Tools kepada rekan
kerja

Foto: Tangkapan Layar (Screenshot)


Penjelasan di Atas:
 Penulis melakukan distribusi tools kepada
rekan kerja melalui aplikasi whatsapp. Penulis
membagikan aplikasi kepada semua staf tarif
tenaga listrik dan subsidi melalui grup chat
para staf seksi Tarif Tenaga Listrik dan Subsidi.

61
2. Sosialisasi
Penggunaan Tools
Evaluasi kepada
rekan kerja

62
Foto: Rekan kerja seksi Tarif Tenaga Listrik dan
Subsidi sedang simulasi menggunakan Tools
Evaluasi
Penjelasan di Atas:
 Setelah didistribusikan, tools evaluasi
kemudian disimulasikan secara mandiri oleh
setiap rekan kerja. Penulis juga ikut
membantu saat terjadi kebingungan dan
kelupaan dalam penggunaan tools. Pada
kegiatan ini, rekan kerja memberikan
masukan untuk dibuatkan semacam SOP
ataupun cara penggunaan Tools evaluasi
yang dapat membantu pengguna baru
ataupun mengingatakan kembali pengguna
lama yang mungkin kelupaan.
3. Membuat Juknis
Penggunaan Tools

Foto: Juknis Penggunaan Tools Evaluasi


Penjelasan di Atas:
 Untuk mencegah kebingungan dan kelupaan
cara penggunaan Tools evaluasi, Penulis
membuat suatu Juknis Penggunaan Tools.
Diharapkan setiap pelaksana evaluasi yang
masih baru ataupun yang sudah pernah
menggunakan namun kelupaan dalam
menggunakan Tools ini dapat terbantu
dengan adanya Juknis ini.

63
2.4 Rencana Tindak Lanjut Aktualisasi
Setelah melaksanakan kegiatan aktualisasi ini, penulis berdiskusi
dengan coach, mentor, dan kepala subdirektorat Harga Tenaga Listrik dan
membuat suatu rencana tindak lanjut , yaitu:

 Penulis menjadi penanggung jawab kegiatan evaluasi penjualan


listrik PLN
Penulis dipercaya oleh kepala seksi dan kepala subdirektorat untuk
mengurus evaluasi penjualan listrik PLN dan membuat laporan
evaluasi penjualan tersebut secara rutin setiap bulannya. Penulis juga
bertanggung jawab untuk menyediakan data-data terkait penjualan
yang dibutuhkan oleh subdirektorat lain, direktorat lain di lingkungan
Ditjen Ketenagalistrikan, dan stakeholders lain yang membutuhkan.
 Memodifikasi Tool Evaluasi menjadi lebih user-friendly
Penulis akan melakukan modifikasi tools evaluasi agar lebih mudah
lagi untuk digunakan dan lebih menarik lagi untuk dilihat. Tampilan
saat ini akan lebih disederhanakan dan dibuat lebih user-friendly.
 Memperkaya komponen evaluasi
Penulis akan mulai menambah komponen lainnya untuk dievaluasi,
seperti pemakaian listrik rata-rata yang digunakan oleh pelanggan
(KWh/Pelanggan) dan Harga listrik rata-rata tiap pemakaian listrik
(TTL/KWh).
 Membuat Tools-Tools Lain
Penulis berencana akan membuat tools-tools lain yang dapat
mempermudah dan mempersingkat waktu kerja di seksi kerja penulis.

64
BAB III
AKTUALISASI NILAI-NILAI PROFESI PNS

3.1 Keterkaitan Kegiatan dengan Substansi Mata Pelatihan (Nilai-Nilai


Dasar PNS dan Kedudukan serta Peran PNS dalam NKRI)
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Aparatur Sipil
Negara (ASN), PNS harus menjiwai nilai-nilai dasar PNS. Nilai-nilai dasar
PNS tersebut, meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA). Selain nilai-nilai dasar PNS
tersebut, seorang PNS juga harus mampu memahami dan menerapkan
nilai-nilai lain,yakni Whole of Government (WoG), Pelayanan Publik dan
Manajemen ASN.
Dalam melaksanakan program Aktualisasi (Habituasi), Penulis
senantiasa berpegang pada nilai-nilai dasar PNS tersebut. Adapun
hubungan antara nilai-nilai dasar PNS dengan kegiatan yang
dilaksanakan Penulis antara lain:
1) Koordinasi dengan coach/mentor dan rekan kerja tentang rencana
pembuatan tools evaluasi penjualan listrik PLN
 Akuntabilitas
Dalam melaksanakan kegiatan aktualisasi, diawali dengan melakukan
koordinasi dengan coach/mentor dan setiap selesai melaksanakan
kegiatan akan dilaporkan dengan bertanggung jawab.
 Nasionalisme
Dalam mengumpulkan masukan dari rekan kerja, pemahaman akan
keanekaragaman bangsa Indonesia didapatkan dengan memahami
perbedaan latarbelakang suku dan agama yang berbeda dari masing-
masing rekan kerja.
 Etika Publik
Ketika meminta arahan dari coach/mentor dan saran dari rekan kerja,
dilakukan dengan komunikasi yang baik dan sikap sopan serta
mengutamakan kebutuhan rekan kerja.
 Komitmen Mutu

65
Pentingnya arahan dari coach/mentor dan saran dari teman kerja yang
lebih berpengalaman sebagai bentuk aplikasi dalam menjaga mutu
hasil pekerjaan.
 Anti Korupsi
Transparansi informasi yang dilakukan coach/mentor, rekan kerja, dan
peserta sebagai salah satu bentuk kontrol terhadap pekerjaan yang
dilakukan.
2) Pengumpulan data hasil penjualan listrik PLN
 Akuntabilitas
Pengumpulan data penjualan listrik dari PLN yang dilakukan secara
mandiri dan bertanggung jawab.
 Etika Publik
Komunikasi yang baik saat meminta bantuan pihak lain dalam
mengumpulkan data penjualan listrik.
 Komitmen Mutu
Cermat dalam melakukan kegiatan pengumpulan data penjualan listrik
sebagai bentuk menjaga mutu hasil pekerjaan.
 Anti Korupsi
Tidak melakukan manipulasi terhadap data hasil penjualan listrik.
 Whole of Government
Pengumpulan data penjualan listrik harus dilakukan dengan
berkoordinasi dan kolaborasi yang baik dengan PLN sebagai BUMN
yang berwenang.
3) Pemahaman data hasil penjualan listrik PLN
 Akuntabilitas
Dalam proses memahami data hasil penjualan listrik PLN, dilakukan
diskusi dengan coach/mentor dan rekan kerja yang lebih
berpengalaman untuk memahami data dan menentukan format dan
konten data agar hasil pekerjaan dapat dipercaya semua pihak.
 Nasionalisme
Dalam memahami data penjualan PLN, pemahaman bahwa Negara
Indonesia terdiri dari berbagai Provinsi yang memiliki
keanekaragaman budaya.

66
 Etika Publik & Komitmen Mutu
Pemahaman data dilakukan dengan diskusi bersama rekan kerja dan
coach/mentor dengan dasar ingin menghasilkan hasil kerja yang
bermanfaat dan memiliki kualitas terbaik.
 Anti Korupsi
Diskusi dilakukan terbuka dan dapat dilihat coach/mentor dan rekan
kerja secara langsung.
4) Perancangan tools evaluasi penjualan listrik PLN
 Akuntabilitas
Untuk menghasilkan output kerja yang jelas dan dapat dipercaya
semua pihak, maka dilakukan kajian literatur, benchmark, dan diskusi
dengan coach/mentor.
 Etika Publik
Komunikasi dan konsultasi dilakukan bersama dengan pihak lain
dengan prinsip saling menghargai dan menghormati.
 Komitmen Mutu
Proses perancangan dilakukan secara mandiri dan kemudian
didiskusikan dan direvisi kembali untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
 Anti Korupsi
Hasil kajian literatur dan benchmark disampaikan secara jelas dan
terbuka, tanpa adanya pengurangan informasi kepada coach/mentor.
5) Pembuatan dan simulasi tools evaluasi hasil penjualan listrik PLN
 Akuntabilitas
Pembuatan tools dilakukan sesuai rancangan yang telah dibuat dan
dapat dipertanggungjawabkan kemampuan tools tersebut kepada
coach/mentor dan rekan kerja.
 Etika Publik
Revisi dilakukan sesuai perintah coach/mentor dan dilakukan dengan
sebaik mungkin.
 Komitmen Mutu
Tools yang diperoleh direvisi berulang kali hingga didapatkan tools
akhir yang terbaik dan berkualitas.

67
 Anti Korupsi
Simulasi akhir tools dilakukan terbuka dengan kepala subdirektorat
Harga Tenaga Listrik, coach/mentor, dan rekan kerja.
6) Pembuatan Laporan tentang Hasil Evaluasi Penjualan Listrik PLN
 Akuntabilitas
Diskusi dan konsultasi dengan coach/mentor dilakukan dalam
menentukan format laporan yang akan dibuat.
 Etika Publik
Konten laporan yang dibuat memenuhi ekspektasi semua pihak terkait.
 Komitmen Mutu
Laporan memiliki konten yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk
mengambil kebijakan lain.
 Anti Korupsi & Pelayanan Publik
Laporan yang dibuat dapat dibagikan secara terbuka kepada
stakeholder terkait.
7) Sosialisasi Tools Evaluasi dan Pembuatan Juknis Penggunaan Tools
 Akuntabilitas
Melakukan sosialisasi penggunaan tools kepada rekan kerja agar hasil
kerja dapat bermanfaat.
 Etika Publik
Sosialisasi penggunaan tools dilakukan secara baik dan benar dan
membuat juknis untuk memenuhi permintaan rekan kerja.
 Komitmen Mutu
Sosialisasi penggunaan tools dilakukan agar semua rekan kerja
memiliki kompetensi yang sama dalam penggunaan tools. Selain itu,
modifikasi dan revisi tools juga dilakukan demi terciptanya tools yang
semakin baik.
 Anti Korupsi
Distribusi dilakukan ke semua rekan kerja tanpa adanya diskriminasi.

68
3.2 Kontribusi Terhadap Visi dan Misi serta Tujuan Organisasi
Visi Ditjen Ketenagalistrikan adalah mewujudkan sektor
ketenagalistrikan yang aman, andal, akrab lingkungan, kualitas tinggi,
efisien, dan rasional untuk memperkokoh pembangunan nasional yang
berkelanjutan sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi kemakmuran rakyat. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik
sesuai visi tersebut, maka Ditjen Ketenagalistrikan mengambil langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan pembangunan sarana penyediaan dan penyaluran
tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik daerah dan
nasional;
2. Melaksanakan pengaturan usaha penyediaan dan usaha penunjang
tenaga listrik;
3. Melaksanakan pengaturan keselamatan ketenagalitrikan dan
lindungan lingkungan;
4. Memanfaatkan seoptimal mungkin sumber energi primer dan energi
terbarukan dengan memperhatikan keekonomiannya;
5. Mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan aktualisasi ini menghasilkan output yang memiliki kualitas
baik, yakni tools evaluasi penjualan listrik PLN, laporan hasil evaluasi
penjualan listrik PLN, sosialisasi penggunaan tools, dan juknis
penggunaan tools. Dengan adanya tools ini, kompetensi kerja ASN akan
semakin meningkat, yakni dengan semakin efisien dan efektif dalam
penggunaan waktu kerja dan semakin cepat dalam penyediaan data yang
dibutuhkan oleh publik. Selain itu, tools ini juga menghasilkan akurasi
evaluasi data yang semakin baik jika dibandingkan dengan evaluasi
manual yang sebelumnya dilakukan. Peningkatan kompetensi kerja
tersebut dapat meningkatkan kualitas kebijakan publik dan kualitas
pelayan publik di Subdirektorat harga tenaga listrik. Ketersediaan data
yang akurat dan cepat dapat membantu dalam perumusan kebijakan-
kebijakan strategis yang bermanfaat bagi kemakmuran rakyat. Output
Kegiatan aktualisasi ini mendukung dan berkontribusi besar dalam
pencapaian visi Ditjen Ketenagalistrikan.

69
3.3 Kontribusi terhadap Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, berdasarkan
Keputusan Menteri ESDM Nomor 1808 K/07/MEM/2015 tentang Nilai-
Nilai Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, memiliki nilai-nilai
yang terdiri atas :
1. Jujur
Berpikir, berperilaku, bertindak dengan amanah, transparan, penuh
integritas, memegang teguh kode etik, dan loyal kepada bangsa dan
negara.
2. Profesional
Bekerja dengan semangat, cermat, akuntabel, disiplin, akurat, dan tuntas
atas dasar kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab, komitmen
yang tinggi, membangun sinergi internal dan eksternal, serta mampu
melihat perkembangan jauh ke depan.
3. Melayani
Memberikan layanan prima dengan memahami kebutuhan pemangku
kepentingan, dilakukan dengan sepenuh hati, proaktif, profesional, simpel,
efisien, dan tepat waktu dalam rangka memenuhi kepuasan internal dan
publik.
4. Inovatif
Berwawasan terbuka, selalu belajar untuk peningkatan diri, memiliki ide
baru yang bermanfaat, mampu membuat solusi alternatif dalam pekerjaan
untuk mempercepat tercapainya target kinerja.
5. Berarti
Menjadi manusia yang memanusiakan manusia, memberi manfaat bagi
diri sendiri, orang lain, Kementerian ESDM, masyarakat, bangsa dan
negara, sehingga menjadi teladan, tempat bertanya, mampu memimpin,
dan memecahkan masalah.
Kegiatan aktualisasi ini memberikan kontribusi terhadap penguatan
nilai-nilai organisasi Kementerian ESDM, yakni:
 Jujur
Diskusi dan laporan setiap kegiatan yang dilakukan bersama
coach/mentor sesuai dengan fakta di lapangan memperkuat nilai

70
kejujuran. Selain itu, pembuatan laporan hasil evaluasi yang objektif
berdasarkan fakta dan data yang tersedia juga memperkuat nilai
kejujuran.
 Profesional
Tools evaluasi dapat meningkatkan kompetensi PNS,
mengoptimalkan efisiensi dan efektivitas waktu kerja sehingga
dapat memberikan hasil kerja terbaik yang memperkuat nilai
profesional.
 Melayani
Tools yang dihasilkan memperhatikan kebutuhan stakeholder yang
akan menggunakan tools merupakan satu satu bentuk kegiatan
yang memperkuat nilai melayani.
 Inovatif
Tools evaluasi yang dibuat adalah salah satu ide kreatif dan inovatif
yang dibuat untuk mempermudah dan mempersingkat waktu suatu
pekerjaan.
 Berarti
Tools evaluasi, juknis penggunaan tools, dan laporan evaluasi
tersebut didistribusikan dan disosialisasikan kepada semua
stakeholder yang memperkuat nilai berarti.

71
3.4 Dampak Kegiatan Aktualisasi (Individu, Unit Kerja atau Organisasi)
Kegiatan aktualisasi dengan gagasan pembuatan tools evaluasi
penjualan listrik PLN dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
 Dampak terhadap Individu
Dengan melaksanakan gagasan pada masa aktualisasi, maka penulis
mengalami peningkatan kompetensi dan pemahaman atas tugas-tugas di
seksi kerja. Selain itu, penulis juga belajar berhubungan dengan baik ke
banyak pihak, termasuk pimpinan dan rekan kerja. Efisiensi waktu kerja
penulis juga menjadi semakin optimal. Dengan demikian, sikap
professional dan karakter unggul dimiliki penulis
 Dampak terhadap unit kerja
Dengan melaksanakan gagasan pada masa aktualisasi, kualitas
pelayanan publik yang dihasilkan oleh unit kerja semakin baik yang
membuat citra yang baik dan kepercayaan yang tinggi dari pihak-pihak
terkait. Selain itu, peningkatan kompetensi personel yang ada di seksi
kerja dan kerja sama antar personel unit kerja juga mengalami
peningkatan.
 Dampak terhadap Organisasi
Dengan melaksanakan gagasan pada masa aktualisasi, maka nilai-
nilai dasar PNS akan tumbuh di dalam diri penulis sehingga akan
meningkatkan kompetensi dan karakter yang unggul. Hal tersebut sebagai
wujud penerapan nilai-nilai organisasi dan modal dalam mewujudkan visi
dan misi organisasi.

72
3.5 Pengendalian oleh Coach dan Mentor

73
BAB IV
PENUTUP

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan pelaksanaan aktualisasi
ini. Laporan pelaksanaan aktualisasi ini sebagai saksi bisu bahwa penulis
pernah mendapatkan pelatihan dasar (latsar) CPNS selama sekitar tujuh
bulan dari PPSDM Aparatur. Penulis meyakini kegiatan aktualisasi ini sangat
bermanfaat bagi penulis dan memberikan kontribusi bagi unit kerja penulis
dalam melayani publik. Melalui kegiatan aktualisasi ini, penulis secara pribadi
belajar dan mempraktikan secara langsung nilai-nilai dasar PNS di lingkungan
kerja penulis yang akhirnya menciptakan kebiasaan-kebiasaan baik bagi
penulis demi terciptanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang profesional dan
berkarakter unggul.
Selama pelaksanaan aktualisasi sekitar tujuh bulan ini, penulis
menemukan beberapa hal yang menurut penulis dapat meningkatkan kualitas
pelaksanaan kegiatan aktualisasi. Penulis menyarankan kegiatan aktualisasi
on class yang dilakukan di awal bulan untuk lebih dimundurkan
pelaksanaanya. Tujuannya agar CPNS dapat mengenal sedikit tentang unit
kerja CPNS sebelum akhirnya bisa menemukan beberapa isu yang dapat
menjadi proyek aktualisasi. Penulis juga berharap agar kegiatan aktualisasi ini
dapat memberikan konsumsi yang layak dan sesuai bagi peserta yang
mengikuti kegiatan seharian penuh.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih buat semua widyaiswara
dan pihak PPSDM aparatur buat pembelajaran yang penulis dapatkan.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan juga kepada
berbagai pihak yang ikut serta membantu dalam penyelesaian kegiatan
aktualisasi ini.

74
DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi


Pegawai Negeri Sipil. Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan
Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Komitmen Mutu. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan I/II dan III . Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Peraturan Kepala LAN No.25/2017

Undang-Undang ASN Pasal 10

Permen ESDM No. 13 Tahun 2016

EGAT. Annual Report EGAT 2017. 30 April 2018.


https://www.egat.co.th/en/information/annual-report

TNB. Annual Report TNB 2017. 30 April 2018.


https://www.tnb.com.my/suppliers-investors/annual-reports

75
LAMPIRAN

76