Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN BEST PRACTICE

MENINGKATKAN KEBIASAAN BELAJAR


DENGAN TEKNIK PROBLEM SOLVING
PADA PESERTA DIDIK KELAS VII
DI SMP NEGERI 1 LAWANG

DALAM KEGIATAN
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (PKB)
MELALUI PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (PKP)
GURU BK SMP BERBASIS ZONASI
DI SMP NEGERI 1 LAWANG KAB MALANG PROVINSI JAWA TIMUR
TANGGAL 25 SEPTEMBER – 23 OKTOBER 2019

Disusun oleh:
EKO YUDI SUSILO, S.Pd
NIP. 198401302009041001

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG


DINAS PENDIDIKAN
SMP NEGERI 1 LAWANG
Jl. Sumber Taman No 50, Telp 0341 426317 Lawang – Malang
website:smpnegeri1lawang.sch.id, email:lawang.smpn1@gmail.com
LAPORAN
BEST PRACTICE
MENINGKATKAN KEBIASAAN BELAJAR
DENGAN TEKNIK PROBLEM SOLVING
PADA PESERTA DIDIK KELAS VII DI SMP NEGERI 1 LAWANG
DIAJUKAN KEPADA
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG
SEBAGAI PERSYARATAN PELAKSANAAN KETUNTASAN BELAJAR
PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSIPEMBELAJARAN (PKP) BAGI
GURU SASARAN
BIMBINGAN DAN KONSELING SMP
BERBASIS ZONASI

oleh:
EKO YUDI SUSILO, S.Pd
NIP. 198401302009041001
LEMBAR PENGESAHAN

“MENINGKATKAN KEBIASAAN BELAJAR


DENGAN TEKNIK PROBLEM SOLVING
PADA PESERTA DIDIK KELAS VII DI SMP NEGERI 1 LAWANG”

Disusun oleh : EKO YUDI SUSILO, S.Pd


NIP : 198401302009041001
Pangkat Golongan : Penata, III/c
Jabatan : Guru Bimbingan dan Konseling
Unit Kerja : SMP Negeri 1 Lawang
Alamat Instansi : Jl. Sumber Taman No 50 Lawang
Kec. Lawang, Kab. Malang Jawa Timur

Malang 21 Oktober 2019


Kepala Sekolah
SMP Negeri 1 Lawang

Endik Yuliasto, S.Pd., M.Pd


NIP 198401302009041001
BIOGRAFI PENULIS

Penyusun lahir di Malang pada 30 Januari


1984 dari pasangan Bapak Warino dan Ibu
Sumirah. Saat ini bekerja di SMP Negeri 3
Lawang Kabupaten Malang Jawa Timur.
Pada 10 April 2009 menikah dengan Tri Leni
Indrawati Mudi Kusumaningrum, S.Pd.SD
yang berprofesi sebagai guru di SDN 5
Segaran kecamatan Gedangan, dan pada
tahun 2010 di karuniai anak bernama Raisa
Qarira Nabillah Tsurayya,
Lulus Program S.1 Bimbingan dan Konseling di Universitas
Negeri Malang (2006), Dengan tekad besar untuk meningkatkan
standar profesionalisme guru, penyusun mengabdikan diri pada
dunia Pendidikan dengan menjadi GI Bimbingan dan Konseling
SMP.
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh


Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan
YME, karena hanya atas ijin dan karunia-Nya Laporan Best Practice
Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan Teknik Problem Solving
pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Lawang Program
Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) bagi Guru Sasaran
Bimbingan dan Konseling SMP ini dapat diselesaikan. Diharapkan
melalui pedoman ini program PKP Berbasis Zonasi dapat
dilaksanakan dengan efektif.
Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis
Zonasi merupakan salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan dalam hal ini
peserta didik. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan
Kemendikbud yang menekankan pembelajaran berorientasi
Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking
Skills (HOTS). Guru adalah pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-
tinggi kepada berbagai pihak yang telah bekerja keras dan
berkontribusi positif mewujudkan kegiatan ini. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhoi upaya yang kita lakukan. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warohmatulahi Wabarokatuh.

Penyusun

Eko Yudi Susilo, S.Pd


DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL.......................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................
BIODATA PENULIS ...................................................................
KATA PENGANTAR ...................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................
A. Latar Belakang Masalah ..................................................
B. Jenis Kegiatan .................................................................
C. Manfaat Kegiatan ............................................................
BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN ............................................
A. Tujuan dan Sasaran ........................................................
B. Bahan/Materi Kegiatan ...................................................
C. Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan .............................
D. Alat/Instrumen ..............................................................
E. Waktu dan Tenpat Kegiatan ............................................
BAB III HASIL KEGIATAN .........................................................
BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI ..................................
A. Simpulan ........................................................................
B. Rekomendasi ...................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................
LAMPIRAN ................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Foto-foto kegiatan


Lampiran 2 : RPL
Lampiran 3 : Materi Informasi
Lampiran 4 : Penilaian Proses dan hasil
Lampiran 5 : Hasil instrumen penilaian
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 57 menyatakan bahwa evaluasi
dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara
nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Evaluasi dilakukan
terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada
jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan
jenis pendidikan.
Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional
(USBN) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
sistem pendidikan nasional. UN adalah sistem evaluasi standar
pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan
mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh
Pusat Penilaian Pendidikan. Sebagai bagian dari evaluasi,
Indonesia melakukan benchmark internasional dengan
mengikuti Trends in International Mathematics and Science
Study (TIMSS) dan Programme for International Student
Assessment (PISA). Hasil TIMMS tahun 2015 untuk kelas IV
sekolah dasar, Indonesia mendapatkan rata-rata nilai 397 dan
menempati peringkat 4 terbawah dari 43 negara yang mengikuti
TIMMS (Sumber: TIMMS 2015 International Database). Sekitar
75% item yang diujikan dalam TIMSS telah diajarkan di kelas IV
Sekolah Dasar dan hal tersebut lebih tinggi dibanding Korea
Selatan yang hanya 68%, namun kedalaman pemahamannya
masih kurang. Dari sisi lama pembelajaran peserta didik Sekolah
Dasar dan jumlah jam pelajaran matematika, Indonesia
termasuk paling lama di antara negara lainnya, tetapi kualitas
pembelajarannya masih perlu ditingkatkan.
Sementara untuk PISA tahun 2015, Indonesia
mendapatkan rata-rata nilai 403 untuk sains (peringkat ketiga
dari bawah), 397 untuk membaca (peringkat terakhir), dan 386
untuk matematika (peringkat kedua dari bawah) dari 72 negara
yang mengikuti (Sumber: OECD, PISA 2015 Database).
Meskipun peningkatan capaian Indonesia cukup signifikan
dibandingkan hasil tahun 2012, namun capaian secara umum
masih di bawah rerata negara OECD (Organisation for Economic
Co-operation and Development).
Hasil pengukuran capaian peserta didik berdasar UN
ternyata selaras dengan capaian PISA maupun TIMSS. Hasil UN
tahun 2018 menunjukkan bahwa peserta didik-peserta didik
masih lemah dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher
Order Thinking Skill) seperti menalar, menganalisa, dan
mengevaluasi. Oleh karena itu peserta didik harus dibiasakan
dengan soal-soal dan pembelajaran yang berorientasi kepada
keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill)
agar terdorong kemampuan berpikir kritisnya.
Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas peserta
didik adalah menyelenggarakan Program Peningkatan
Kompetensi Pembelajaran (PKP).
Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta
pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan Program PKP
mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal
dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat
Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau
musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan
musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang
selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, dapat
terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan
guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman
mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status
akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata
UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.
Guru BK melaksanakan kegiatan On The Job Learning di
sekolah masing-masing dengan mempraktikkan unit
pembelajaran ke 1 Self Instruction dan pembelajaran ke 2
Kebiasaan Belajar. Laporan ini disusun untuk memberikan
pengalaman terbaik selama praktik ON Program Peningkatan
Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi.
Peserta didik di kelas VII kadang masih bingung cara
belajar yang baik dan efektif. Mereka masih dalam proses
transisi dari cara belajar di SD yang selalu dibimbingan penuh
oleh guru kelas setiap harinya dibanding dengan proses belajar
di SMP yang menuntuk keaktifan peserta didik masing-masing.
Kesulitan belajar di usia SD belum memahami banyak hal jadi
harus dijelaskan secara rinci tidak boleh disingkat dan di usia
SD masih suka bermain tingkat kebosanan dalam belajar cukup
tinggi dimana sebagai guru harus pintar menyampaikan
pelajaran ke peserta didik dengan cara nya mereka. Jika di SMP
adalah waktu dimana peserta didik mulai mencari jati dirinya
dan pengaruh pergaulan yang mulai meluas juga sebagai
kendala paling sulit usia SMP yang baru duduk di bangku SMP
karena mereka harus menyesuikan diri dengan cara belajar yang
sangat berbeda di saat mereka di SD.
Oleh karena itu kami menyusun laporan best practice
dengan judul Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan Teknik
Problem Solving pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1
Lawang.
B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan praktik baik ini
adalah kegiatan layanan Klasikal Bimbingan dan Konseling materi
unit 1 Kebiasaan Belajar .

C. Manfaat Kegiatan
Manfaat dari laporan Best Practice dengan judul Meningkatkan
Kebiasaan Belajar dengan Teknik Problem Solving pada peserta
didik kelas VII di SMP Negeri 1 Lawang adalah sebagai berikut:
a. Agar Peserta didik dapat mengetahui kesulitan belajar di
SMP
b. Agar Peserta didik kelas VII dapat menyesuaikan cara
belajarnya di tingkat SMP
c. Agar Peserta didik kelas VII dapat berkembang optimal
sesuai dengan bakat dan minatnya
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Tujuan dan Sasaran


Tujuan penulisan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan
Klasikal dengan judul Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan
Teknik Problem Solving pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri
1 Lawang ini adalah untuk mendeskripsikan praktik baik penulis
dalam menerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking
skills (HOTS) yaitu Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan Teknik
Problem Solving pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1
Lawang .
Sasaran Laporan Best Practice Layanan Bimbingan Klasikal
Program PKP Berbasis Zonasi adalah seluruh Peserta Didik kelas
VII di SMP Negeri 1 Lawang Kabupaten Malang.

B. Bahan/Materi Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam praktik Laporan Best Practice
Layanan Bimbingan Klasikal ini adalah Layanan Bimbingan dan
Konseling SMP materi unit ke 2 Kebiasaan Belajar.
Unit pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan Standar
Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) yaitu:
Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan
kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran
dan/atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan
masyarakat dan aspek perkembangan SKKPD kematangan
intelektual.
Materi Kegiatan yang dipilih dalam laporan best practice ini
adalah Kegiatan Layanan Bimbingan Klasikal dengan materi
Membentuk Kebiasaan belajar SMP dengan teknik problem solving.
C. Metode/Cara melaksanakan Kegiatan
Metode yang digunakan dalam laporan Best Practive
program PKP ini adalah Diskusi Kelompok dengan pendekatan
higher order thiking skills (HOTS) teknik Problem Solving.
Cata Melaksanakan kegiatan teknik Problem Solving adalah
1. Menentukan masalah, dengan mendefinisikan masalah,
menjelaskan permasalahan, menentukan kebutuhan data
dan informasi yang harus diketahui sebelum digunakan
untuk mendefinisikan masalah sehingga menjadi lebih detail,
dan mempersiapkan kriteria untuk menentukan hasil
pembahasan dari masalah yang dihadapi.
2. Mengeksplorasi masalah, dengan menentukan objek yang
berhubungan dengan masalah, memeriksa masalah yang
terkait dengan asumsi dan menyatakan hipotesis yang terkait
dengan masalah.
3. Merencanakan solusi dimana peserta didik mengembangkan
rencana untuk memecahkan masalah, memetakan sub-
materi yang terkait dengan masalah, memilih teori prinsip
dan pendekatan yang sesuai dengan masalah, dan
menentukan informasi untuk menemukan solusi.
4. Melaksanakan rencana, pada tahap ini peserta didik
menerapkan rencana yang telah ditetapkan.
5. Memeriksa solusi yang digunakan untuk memecahkan
masalah.
6. Mengevaluasi solusi dan asumsi yang terkait, memperkirakan
hasil yang diperoleh ketika mengimplementasikan solusi dan
mengkomunikasikan solusi yang telah dibuat.
D. Media dan Instrumen
Media pembelajaran yang digunakan dalam Laporan Best Practice
Layanan Bimbingan Klasikal adalah
1. Media cetak : modul dan lembar kerja
2. Media komputer : PPT, soft copy materi
Instrumen yang digunakan
1. Penilaian sikap : Lembar Penilaian Hasil
2. Penilaian Hasil : Lembar Penilaian Hasil

E. Waktu dan Tempat Kegiatan


1. Tempat kegiatan
Pelaksanaan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan Klasikal
ini adalah di kelas VII SMP Negeri 1 Lawang
2. Waktu Kegiatan
Waktu pelaksanan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan
Klasikal adalah hari, Selasa 15 Oktober 2019
BAB III
HASIL KEGIATAN

A. Hasil
Hasil Kegiatan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan
Klasikal dengan judul Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan
Teknik Problem Solving pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri
1 Lawang adalah agar hasil yang dapat dilaporkan dari praktik baik
ini diuraikan sebagai berikut.
1. Proses layanan bimbingan klasikal kebiasaan belajar yang
dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran problem
solving, prosesnya berlangsung aktif. Peserta didik menjadi
lebih aktif merespon stimulus/rangsangan dari guru berupa
pertanyaan-pertanyaan, termasuk mengajukan pertanyaan
pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang
dirancang sesuai sintak DL megharuskan peserta didik aktif
selama proses pembelajaran. Sintak problem solving yaitu
a. Menentukan masalah, dengan mendefinisikan masalah
belajar di SMP, menjelaskan permasalahan belajar di SMP,
menentukan kebutuhan data dan informasi yang harus
diketahui sebelum digunakan untuk mendefinisikan
masalah sehingga menjadi lebih detail, dan
mempersiapkan kriteria untuk menentukan hasil
pembahasan dari masalah yang dihadapi.
b. Mengeksplorasi masalah yang terjadi sekarang masalah
belajar di SMP, dengan menentukan objek yang
berhubungan dengan masalah misalkan pada mata
pelajaran tertentu, memeriksa masalah yang terkait
dengan asumsi dan menyatakan hipotesis yang terkait
dengan masalah. Di tahap ini masalah yang didapat
adalah peserta didik terbisa dilayani oleh guru kelas,
dijelaskan secara detail dan rinci, namun di SMP guru
menjelaskan dengan cepat. Di SD peserta didik masih ada
main-mainnya namun di SMP harus selalu serius. Porsi
bermain dikurangi. Di SMP juga mendapat hambatan
yaitu dengan masa perubahan yang identik pencarian jati
diri sehingga usia coba-coba hal baru. Belajar di SD hanya
belajar bersifat dasar namun di SMP sudah harus
mendalami materi. Dan bidang studinya bertambah
macam-macam. Di SD guru kelas lebih banyak
mengajarkan budi pekerti sedangkan di SMP mengajarkan
sesuatu yang membantu peserta didik memecahkan
masalah di sekolah maupun lingkungannya.
c. Langkah merencanakan solusi dimana peserta didik
mengembangkan rencana untuk memecahkan masalah,
memetakan sub-materi yang terkait dengan masalah,
memilih teori prinsip dan pendekatan yang sesuai dengan
masalah, dan menentukan informasi untuk menemukan
solusi. Pada langkah ini sudah mulai muncul rencana
peserta didik untuk mengikuti bimbingan belajar, belajar
dengan kelompok, belajar dengan internet, bimbingan
belajar online dan mengerjakan tugas.
d. Melaksanakan rencana, pada tahap ini peserta didik
menerapkan rencana yang telah ditetapkan. Pelaksanaan
rencana untuk menerapkan pilihan rencana yang
dilaksanakan, yaitu mengikuti bimbingan belajar, belajar
dengan kelompok, belajar dengan internet, bimbingan
belajar online dan mengerjakan tugas.
e. Memeriksa solusi yang digunakan untuk memecahkan
masalah. Solusi yang didapat dari rencana-rencana
tersebut adalah
- mengikuti bimbingan belajar, saat bimbingan belajar
ada yang mahal ada yang murah misalnya bimbingan
belajar yang diadakan di sekolah dengan guru
mapelnya dibanding dengan guru privat.
- belajar dengan kelompok, adalah alternatif yang bagus
untuk belajara dan bersosialisasi dengan teman baru di
SMP untuk memecahkan permasalahan belajarnya di
SMP
- belajar dengan internet, selain butuh bimbingan dan
arahan orang dewasa atau orang tua untuk membuka
mencari materi-materi di internet
- bimbingan belajar online meskpun ada yang berbayar
ada yang gratis juga miliknya pemerinta yang
menyedikan fitur-fitur bagus
- mengerjakan tugas secara mandiri melatih peserta
didik untuk menguji daya ingat yang sudah didapatkan
saat pagi di sekolah.
f. Mengevaluasi solusi dan asumsi yang terkait,
memperkirakan hasil yang diperoleh ketika
mengimplementasikan solusi dan mengkomunikasikan
solusi yang telah dibuat. Langkah ini adalah langkah
terakhir memilih cara atau rencana yang terbaik dan yang
paling efektif dipilih oleh peserta didik.

3. Pembelajaran meningkatkan kebisaan belajar dengan klasikal


yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran
problem solving meningkatkan kemampuan peserta didik
dalam melakukan transfer knowledge dan meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis. Teknik
pembelajaran proble solving mendorong peserta didik untuk
belajar sendiri melalui partisipasi aktif dengan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip, sedangkan guru mendorong peserta didik
untuk mempunyai pengalaman dan melakukan pengamatan
dengan meningkatkan kemampuan mereka menemukan
pengetahuan sendiri.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi peserta didik untuk
mananggapi stimulus/rangsangan berupa pertanyaan dari
guru atau temannya dan menanggapi topik yang dibahas
dalam pembelajaran.
Dalam layanan klasikal sebelumnya yang dilakukan penulis
menggunakan teknik biasa, peserta didik cenderung bekerja
sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang
diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana peserta didik
dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tak hanya itu,
materi pelayanan yang selama ini selalu disajikan dengan
model pelayanan Berbasis Masalah membuat peserta didik
cenderung untuk segera menyelesaikan permasalahan yang
ada. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik adalah apa
yang diajarkan oleh guru.
Berbeda kondisinya dengan praktik pembelajaran dengan
teknik problem solving berorientasi HOTS. Dalam
pembelajaran ini pemahaman peserta didik tentang konsep
kebiasan belajar dibangun oleh peserta didik dengan
menanggapi stimulus respon dan mendorong peserta didik
untuk belajar sendiri melalui partisipasi aktif dengan konsep-
konsep dan prinsip-prinsip, diskusi yang menuntut
kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.
4. Penerapan teknik problem solving juga bertujuan
mengembangkan sikap, keterampilan, kepercayaan peserta
didik dalam memutuskan sesuatu secara tepat dan objektif.
Sebelum layanan klasikal dengan tekni problem solving,
penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku unit
bimbingan dan konseling. Dengan menerapkan teknik problem
solving, peserta didik tak hanya belajar dari buku peserta didik
atau dari permasalahan yang disajikan tetapi Pembelajaran
yang melibatkan anak dalam proses kegiatan mental melalui
bantuan, diskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri agar
anak dapat belajar sendiri.

B. Masalah yang Dihadapi


Dalam kegiatan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan
Klasikal ini Masalah yang dihadapi terutama adalah siswa belum
terbiasa siswa belajar dengan teknik problem solving. Ketika
menggunakan teknik problem solving, manakala siswa tidak
memiliki minat atau siswa berasumsi bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan merasa enggan untuk
mencoba. Untuk itulah pada kesempatan ini akan diberikan suatu
teknik layanan BK yang lain. Teknik problem solving ini membantu
siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-
keterampilan berpikir dan proses-proses kognitif. Pengetahuan
yang diperoleh melalui teknik ini sangat pribadi dan ampuh karena
menguatkan pengertian, ingatan dan transfer. Teknil layanan
problem solving yang dikembangkan berdasarkan pandangan
konstruktivisme. Dimana dalam pandangan konstruktivisme
menekankan pengalaman langsung seorang peserta didik dan
pentingnya pemahaman terstruktur atau ide-ide penting terhadap
suatu disiplin ilmu. Jadi pada intinya, pembelajaran problem
solving ini bertujuan agar peserta didik terlibat dalam kegiatan
pembelajaran (menemukan gagasan baru, menemukan pengalaman
baru, atau membuktikan sendiri mengenai teori-teori yang sudah
ada

C. Cara Mengatasi Masalah


Laporan Best Practice Layanan Bimbingan Klasikal dengan
teknik Problem solving siswa yakin bahwa pembelajaran teknik
problem solving dapat membantu mereka lebih menguasai materi
pembelajaran, guru BK memberi penjelasan sekilas tentang apa,
bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada
keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking
skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS
ajkan membuat siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran di
SMP dan di mata pelajatan yang lain. Selain itu, kesadaran bahwa
belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat
siswa mau belajar dengan HOTS.
Keterbatasan waktu bagi seorang guru membuat media
pembelajaran dapat diatasi dengan memberikan
rangsangan/apersepsi berupa pertanyaan-pertanyaan yang
bertujuan untuk membuat peserta didik kebingungan, penasaran,
terhadap masalah belajar yang dimunculkan sehingga peserta didik
muncul rasa ingin tahu. Bila rasa ingin tahu sudah muncul, mereka
akan dengan sendirinya menyelediki apa jawaban dari pertanyaan
yang diajukan oleh guru
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut.
1. Pembelajaran tematik dengan teknik pembelajaran problem
solving layak dijadikan praktik baik pembeljaran berorientasi
HOTS karena dapat meingkatkan kemampuan peserta didik
dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan
pemecahan masalah.
2. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan layanan (RPL) secara
sistematis dan cermat, pembelajaran tematik dengan teknik
problem solving yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi
HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK dan literasi.

B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil pembelajaran dalam program PKP berikut
disampaikan rekomendasi yang relevan.
1. Guru diharapkan memahami teknik problem solving agar lebih
bervariasi dalam layanan bimbingannya
2. Guru seharusnya mampu menciptakan pembelajaran HOTS
sesuai karakteristiknya peserta didik dan kearifan lokal.
3. Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan
teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu
peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih
tahan lama (tidak mudah lupa).
4. Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain
untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS.
Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana da
prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk
mendesiminasikan praktik baik ini aka menambah wawasan
guru lain tentang pembelajaran HOTS.
DAFTAR PUSTAKA

Miftahul Huda, Roy dkk, 2019. Paket Unit Pembelajaran Program


Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)melalui
Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis
Zonasi Bimbingan dan Konseling (BK), Direktorat Pembinaan
Guru Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan
Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Sekolah Menengah Pertama (SMP),
Hardiyanto, 2019. Program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB) Melalui Peningkatan Kompetensi
Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi Mata Pelajaran Pendidikan
Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan (Pjok) Sekolah Dasar (SD)
Permainan Kasti, Jakarta. Direktorat Pembinaan Guru
Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Ariyana dkk. 2019. Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada
Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Jakarta. Direktorat
Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
Setiawati dkk. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
(PKB) Melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP)
Berbasis Zonasi Buku Penilaian Berorientasi Higher Order
Thinking Skills. Jakarta. Direktorat Pembinaan Guru
Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
LAMPIRAN

Lampiran 1 : Foto-foto kegiatan


Lampiran 2 : RPL
Lampiran 3 : Bahan Ajar
Lampiran 4 : Materi PPT
Lampiran 5 : Penilaian Proses
Lampiran 6 : Penilaian Hasil
Lampiran 7 : Lembar observasi proses layanan
R-9 Rubrik Laporan Best Practise
Rubrik ini digunakan fasilitator untuk menilai hasil refleksi dari peserta.
A. Langkah-langkah penilaian hasil kajian:
1. Cermati tugas yang diberikan kepada peserta pembekalan pada LK-9!
2. Berikan nilai pada hasil kajian berdasarkan penilaian anda terhadap
hasil kerja peserta sesuai rubrik berikut!
B. Kegiatan Praktik
1. Memuat Lembar Judul
2. Memuat Halaman Pengesahan yang ditanda tangani Kepala Sekolah
3. Memuat Biodata Penulis dengan lengkap
4. Memuat Kata Pengantar, Daftar Isi dan Daftar Lampiran
5. Menguraikan Latar Belakang Masalah dari kesenjangan harapan
dengan kenyataan yang ada dengan jelas
6. Menguraikan jenis dan manfaat kegiatan dengan jelas
7. Memuat tujuan dan sasaran, Bahan/Materi Kegiatan, Metode/Cara
Melaksanakan Kegiatan, Alat/Instrumen, Waktu dan Tenpat Kegiatan
dengan jelas
8. Menguraikan hasil kegiatan dengan penjelasan hasil yang diperoleh,
masalah yang dihadapi dan cara mengatasi masalah tersebut dengan
jelas
9. Memuat simpulan dan rekomendasi yang relevan
10. Memuat daftar pustaka sesuai materi yang dituangkan
11. Memuat lampiran yang dilengkapi dokumentasi, instrumen dan hasil
pembelajaran
Rubrik Penilaian:
Nilai Rubrik

90  nilai  100 Sebelas aspek sesuai dengan kriteria

80  nilai  90 Sembilan aspek sesuai dengan kriteria, dua aspek kurang


sesuai

70  nilai  80 Tujuh sesuai dengan kriteria, empat aspek kurang sesuai

60  nilai  70 Lima sesuai dengan kriteria, enam aspek kurang sesuai

<60 Empat aspek sesuai dengan kriteria, tujuh aspek kurang


sesuai
JADWAL PRESENTASI BEST PRACTICE
PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN
PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN KEPROFESIAN
BERKELANJUTAN (PKB)
MELALUI PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (PKP)
BERBASIS ZONASI
Tanggal 25 September s.d 23 Oktober 2019
Di SMP Negeri 1 Lawang
Kabupaten Malang

No Nama Peserta Asal Sekolah Waktu

1 ARIE RAHMA INDRIYANI SMP NEGERI 1 KARANGPLOSO 08.00 – 08.15


2 KHUDUP MAWARNI RATNA SMP ANGKASA SINGOSARI 08.15 – 08.30
3 INDIRA KARTIKA FEBRIANTI SMP NEGERI 5 KARANGPLOSO 08.30 – 08.45
4 TARRA ISMAYA SMPS ISLAM BANI HASYIM
5 M. IDRIS HABIBI SMP NEGERI 6 SINGOSARI 08.45 – 09.00
6 DEVI NUR AVITA SMP ISLAM ALMAARIF 01 SINGOSARI 09.00 – 09.15
7 SITI ROBI'ATUN MAHMUDAH SMP NEGERI 3 LAWANG 09.15 – 09.30
8 ACHMAD EFFENDI SMP ISLAM ALMAARIF 01 SINGOSARI 09.30 – 09.45
9 ARENA INDAH MURTININGSIH SMP MUHAMMADIYAH 4 09.45 – 10.00
10 LYDIA NINIK WAHJUNI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 10.00 – 10.15
11 WIWIK INDRIAWATI SMP NEGERI 1 SINGOSARI 10.15 – 10.30
12 SUGIANA SMP NEGERI 2 SINGOSARI 10.30 – 10.45
13 EVY ENDRASARI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 10.45 – 11.00
14 MAHMUD FIRMANSYAH SMP ISLAM FATAHILLAH 11.00 – 11.15
15 ETIK FAJAR SULISTYAWATI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 11.15 – 11.30
16 LUH WAYAN CHANDRA D. S SMP PGRI 01 SINGOSARI 13.00 – 13.15
17 NINIK TRISTAN SUDEWI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 13.15 – 13.30
18 FITRIA MULYANDARI SMP PGRI PAKIS 13.30 – 13.45
19 KHUSNIATUL WAHIDAH SMP NEGERI 1 KARANGPLOSO 13.45 – 14.00
20 ACH. NOER JUNAIDI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 14.00 – 14.15
Lawang, 23 Oktober 2019
Fasilitator

EKO YUDI SUSILO, S.Pd


NIP. 198401302009041001
DAFTAR HADIR PRESENTASI BEST PRACTICE
PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN
PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN KEPROFESIAN
BERKELANJUTAN (PKB)
MELALUI PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (PKP)
BERBASIS ZONASI
Tanggal 25 September s.d 23 Oktober 2019
Di SMP Negeri 1 Lawang
Kabupaten Malang

No Nama Peserta Asal Sekolah TTD

1 ARIE RAHMA INDRIYANI SMP NEGERI 1 KARANGPLOSO 1


2 KHUDUP MAWARNI RATNA SMP ANGKASA SINGOSARI 2
3 INDIRA KARTIKA FEBRIANTI SMP NEGERI 5 KARANGPLOSO 3
4 TARRA ISMAYA SMPS ISLAM BANI HASYIM 4
5 M. IDRIS HABIBI SMP NEGERI 6 SINGOSARI 5
6 DEVI NUR AVITA SMP ISLAM ALMAARIF 01 SINGOSARI 6
7 SITI ROBI'ATUN MAHMUDAH SMP NEGERI 3 LAWANG 7
8 ACHMAD EFFENDI SMP ISLAM ALMAARIF 01 SINGOSARI 8
9 ARENA INDAH MURTININGSIH SMP MUHAMMADIYAH 4 9
10 LYDIA NINIK WAHJUNI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 10
11 WIWIK INDRIAWATI SMP NEGERI 1 SINGOSARI 11
12 SUGIANA SMP NEGERI 2 SINGOSARI 12
13 EVY ENDRASARI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 13
14 MAHMUD FIRMANSYAH SMP ISLAM FATAHILLAH 14
15 ETIK FAJAR SULISTYAWATI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 15
16 LUH WAYAN CHANDRA D. S SMP PGRI 01 SINGOSARI 16
17 NINIK TRISTAN SUDEWI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 17
18 FITRIA MULYANDARI SMP PGRI PAKIS 18
19 KHUSNIATUL WAHIDAH SMP NEGERI 1 KARANGPLOSO 19
20 ACH. NOER JUNAIDI SMP NEGERI 3 SINGOSARI 20
Lawang, 23 Oktober 2019
Fasilitator

EKO YUDI SUSILO, S.Pd


NIP. 198401302009041001
BERITA ACARA PRESENTASI BEST PRACTICE
PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN
PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN KEPROFESIAN
BERKELANJUTAN (PKB)
MELALUI PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (PKP)
BERBASIS ZONASI
Tanggal 25 September s.d 23 Oktober 2019
Di SMP Negeri 1 Lawang
Kabupaten Malang

Pada hari ini Rabu tanggal Dua Puluh Tiga bulan Oktober Tahun
Dua Ribu Sembilan Belas telah dilaksanakan kegiatan seminar
hasil penelitian best practice dari EKO YUDI SUSILO, S.Pd dengan
judul “MENINGKATKAN KEBIASAAN BELAJAR DENGAN TEKNIK
PROBLEM SOLVING PADA PESERTA DIDIK KELAS VII DI SMP
NEGERI 1 LAWANG” di Ruang Seminar SMP N 1 Lawang mulai jam
13.40 sd 13.55 WIB

Seminar dihadiri oleh 21 orang peserta (Terlampir)


NOTULEN PRESENTASI BEST PRACTICE
PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN
PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN KEPROFESIAN
BERKELANJUTAN (PKB)
MELALUI PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN (PKP)
BERBASIS ZONASI
Tanggal 25 September s.d 23 Oktober 2019
Di SMP Negeri 1 Lawang
Kabupaten Malang

JUDUL :
“MENINGKATKAN KEBIASAAN BELAJAR DENGAN TEKNIK
PROBLEM SOLVING PADA PESERTA DIDIK KELAS VII DI SMP
NEGERI 1 LAWANG”

PELAKSANAAN :
Hari / Tanggal : Rabu, 23 Oktober 2019
Pukul : 13.40-13.55
Tempat : di Ruang Seminar SMP N 1 Lawang
Pemateri : Eko Yudi Susilo, S.Pd
NIP : 198401302009041001
Pangat/ Gol : Penata, III/c
Instansi : SMP Negeri 1 Lawang
Moderator : Etik Fajar, S.Pd
Jalannya Acara seminar :
1. Pembukaan : Di buka oleh moderator dengan bersama-sama
membaca Basmallah.
2. Penjelasan singkat hasil prsentasi dari materi
A. Hasil
Hasil Kegiatan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan
Klasikal dengan judul Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan
Teknik Problem Solving pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri
1 Lawang adalah agar hasil yang dapat dilaporkan dari praktik baik
ini diuraikan sebagai berikut.
2. Proses layanan bimbingan klasikal kebiasaan belajar yang
dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran problem
solving, prosesnya berlangsung aktif. Peserta didik menjadi
lebih aktif merespon stimulus/rangsangan dari guru berupa
pertanyaan-pertanyaan, termasuk mengajukan pertanyaan
pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang
dirancang sesuai sintak DL megharuskan peserta didik aktif
selama proses pembelajaran. Sintak problem solving yaitu
b. Menentukan masalah, dengan mendefinisikan masalah
belajar di SMP, menjelaskan permasalahan belajar di SMP,
menentukan kebutuhan data dan informasi yang harus
diketahui sebelum digunakan untuk mendefinisikan
masalah sehingga menjadi lebih detail, dan
mempersiapkan kriteria untuk menentukan hasil
pembahasan dari masalah yang dihadapi.
c. Mengeksplorasi masalah yang terjadi sekarang masalah
belajar di SMP, dengan menentukan objek yang
berhubungan dengan masalah misalkan pada mata
pelajaran tertentu, memeriksa masalah yang terkait
dengan asumsi dan menyatakan hipotesis yang terkait
dengan masalah. Di tahap ini masalah yang didapat
adalah peserta didik terbisa dilayani oleh guru kelas,
dijelaskan secara detail dan rinci, namun di SMP guru
menjelaskan dengan cepat. Di SD peserta didik masih ada
main-mainnya namun di SMP harus selalu serius. Porsi
bermain dikurangi. Di SMP juga mendapat hambatan
yaitu dengan masa perubahan yang identik pencarian jati
diri sehingga usia coba-coba hal baru. Belajar di SD hanya
belajar bersifat dasar namun di SMP sudah harus
mendalami materi. Dan bidang studinya bertambah
macam-macam. Di SD guru kelas lebih banyak
mengajarkan budi pekerti sedangkan di SMP mengajarkan
sesuatu yang membantu peserta didik memecahkan
masalah di sekolah maupun lingkungannya.
d. Langkah merencanakan solusi dimana peserta didik
mengembangkan rencana untuk memecahkan masalah,
memetakan sub-materi yang terkait dengan masalah,
memilih teori prinsip dan pendekatan yang sesuai dengan
masalah, dan menentukan informasi untuk menemukan
solusi. Pada langkah ini sudah mulai muncul rencana
peserta didik untuk mengikuti bimbingan belajar, belajar
dengan kelompok, belajar dengan internet, bimbingan
belajar online dan mengerjakan tugas.
e. Melaksanakan rencana, pada tahap ini peserta didik
menerapkan rencana yang telah ditetapkan. Pelaksanaan
rencana untuk menerapkan pilihan rencana yang
dilaksanakan, yaitu mengikuti bimbingan belajar, belajar
dengan kelompok, belajar dengan internet, bimbingan
belajar online dan mengerjakan tugas.
f. Memeriksa solusi yang digunakan untuk memecahkan
masalah. Solusi yang didapat dari rencana-rencana
tersebut adalah
- mengikuti bimbingan belajar, saat bimbingan belajar
ada yang mahal ada yang murah misalnya bimbingan
belajar yang diadakan di sekolah dengan guru
mapelnya dibanding dengan guru privat.
- belajar dengan kelompok, adalah alternatif yang bagus
untuk belajara dan bersosialisasi dengan teman baru di
SMP untuk memecahkan permasalahan belajarnya di
SMP
- belajar dengan internet, selain butuh bimbingan dan
arahan orang dewasa atau orang tua untuk membuka
mencari materi-materi di internet
- bimbingan belajar online meskpun ada yang berbayar
ada yang gratis juga miliknya pemerinta yang
menyedikan fitur-fitur bagus
- mengerjakan tugas secara mandiri melatih peserta
didik untuk menguji daya ingat yang sudah didapatkan
saat pagi di sekolah.
g. Mengevaluasi solusi dan asumsi yang terkait,
memperkirakan hasil yang diperoleh ketika
mengimplementasikan solusi dan mengkomunikasikan
solusi yang telah dibuat. Langkah ini adalah langkah
terakhir memilih cara atau rencana yang terbaik dan yang
paling efektif dipilih oleh peserta didik.

5. Pembelajaran meningkatkan kebisaan belajar dengan klasikal


yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran
problem solving meningkatkan kemampuan peserta didik
dalam melakukan transfer knowledge dan meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis. Teknik
pembelajaran proble solving mendorong peserta didik untuk
belajar sendiri melalui partisipasi aktif dengan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip, sedangkan guru mendorong peserta didik
untuk mempunyai pengalaman dan melakukan pengamatan
dengan meningkatkan kemampuan mereka menemukan
pengetahuan sendiri.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi peserta didik untuk
mananggapi stimulus/rangsangan berupa pertanyaan dari
guru atau temannya dan menanggapi topik yang dibahas
dalam pembelajaran.
Dalam layanan klasikal sebelumnya yang dilakukan penulis
menggunakan teknik biasa, peserta didik cenderung bekerja
sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang
diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana peserta didik
dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tak hanya itu,
materi pelayanan yang selama ini selalu disajikan dengan
model pelayanan Berbasis Masalah membuat peserta didik
cenderung untuk segera menyelesaikan permasalahan yang
ada. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik adalah apa
yang diajarkan oleh guru.
Berbeda kondisinya dengan praktik pembelajaran dengan
teknik problem solving berorientasi HOTS. Dalam
pembelajaran ini pemahaman peserta didik tentang konsep
kebiasan belajar dibangun oleh peserta didik dengan
menanggapi stimulus respon dan mendorong peserta didik
untuk belajar sendiri melalui partisipasi aktif dengan konsep-
konsep dan prinsip-prinsip, diskusi yang menuntut
kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.
6. Penerapan teknik problem solving juga bertujuan
mengembangkan sikap, keterampilan, kepercayaan peserta
didik dalam memutuskan sesuatu secara tepat dan objektif.
Sebelum layanan klasikal dengan tekni problem solving,
penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku unit
bimbingan dan konseling. Dengan menerapkan teknik problem
solving, peserta didik tak hanya belajar dari buku peserta didik
atau dari permasalahan yang disajikan tetapi Pembelajaran
yang melibatkan anak dalam proses kegiatan mental melalui
bantuan, diskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri agar
anak dapat belajar sendiri.
B. Masalah yang Dihadapi
Dalam kegiatan Laporan Best Practice Layanan Bimbingan
Klasikal ini Masalah yang dihadapi terutama adalah siswa belum
terbiasa siswa belajar dengan teknik problem solving. Ketika
menggunakan teknik problem solving, manakala siswa tidak
memiliki minat atau siswa berasumsi bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka akan merasa enggan untuk
mencoba. Untuk itulah pada kesempatan ini akan diberikan suatu
teknik layanan BK yang lain. Teknik problem solving ini membantu
siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-
keterampilan berpikir dan proses-proses kognitif. Pengetahuan
yang diperoleh melalui teknik ini sangat pribadi dan ampuh karena
menguatkan pengertian, ingatan dan transfer. Teknil layanan
problem solving yang dikembangkan berdasarkan pandangan
konstruktivisme. Dimana dalam pandangan konstruktivisme
menekankan pengalaman langsung seorang peserta didik dan
pentingnya pemahaman terstruktur atau ide-ide penting terhadap
suatu disiplin ilmu. Jadi pada intinya, pembelajaran problem
solving ini bertujuan agar peserta didik terlibat dalam kegiatan
pembelajaran (menemukan gagasan baru, menemukan pengalaman
baru, atau membuktikan sendiri mengenai teori-teori yang sudah
ada

C. Cara Mengatasi Masalah


Laporan Best Practice Layanan Bimbingan Klasikal dengan
teknik Problem solving siswa yakin bahwa pembelajaran teknik
problem solving dapat membantu mereka lebih menguasai materi
pembelajaran, guru BK memberi penjelasan sekilas tentang apa,
bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada
keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking
skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS
ajkan membuat siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran di
SMP dan di mata pelajatan yang lain. Selain itu, kesadaran bahwa
belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat
siswa mau belajar dengan HOTS.
Keterbatasan waktu bagi seorang guru membuat media
pembelajaran dapat diatasi dengan memberikan
rangsangan/apersepsi berupa pertanyaan-pertanyaan yang
bertujuan untuk membuat peserta didik kebingungan, penasaran,
terhadap masalah belajar yang dimunculkan sehingga peserta didik
muncul rasa ingin tahu. Bila rasa ingin tahu sudah muncul, mereka
akan dengan sendirinya menyelediki apa jawaban dari pertanyaan
yang diajukan oleh guru
DOKUMENTASI KEGIATAN