Anda di halaman 1dari 8

ARTIKEL PENGATURAN DIIT SEBAGAI BAGIAN PENTING DALAM MANAJEMEN DM

Disusun Untuk memenuhi tugas mata kuliah:


Konsep Dasar Keperawatan DM 2

DISUSUN OLEH :
Tria Wulandary

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA TERAPAN
KELAS REGULER III
2019
Artikel Pengaturan Diit Sebagai Bagian Penting Dalam Manajemen DM

Diabetes Mellitus (DM) merupakan sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan
hiperglikemi kronis akibat defek pada sekresi insulin, aksi insulin, atau keduanya. Penyakit ini secara
signifikan meningkatkan resiko gangguan pada sistem kardiovaskuler, penyakit ginjal stadium akhir,
kebutaan, amputasi sampai kematian.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan kejadian dengan jumlah penderita semakin meningkat tiap
tahunnya. Salah satu faktor pendukung yang dapat menstabilkan gula darah adalah penatalaksanaan DM
yang dikenal dengan empat pilar utama meliputi edukasi, diet, latihan jasmani dan pengelolaan
farmakologis.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu jenis penyakit degeneratif tidak menular yang
menjadi masalah serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia maupun di dunia . Pola makan yang tidak
teratur yang terjadi pada masyarakat saat ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penyakit
degeneratif, salah satunya penyakit DM . Penderita DM harus memperhatikan pola makan yang meliputi
jadwal, jumlah, dan jenis makanan yang dikonsumsi. Kadar gula darah meningkat dratis setelah
mengkonsumsi makanan tertentu karena kecenderungan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan
gula darah yang tidak terkontrol.
Diet merupakan salah satu faktor utama yang sekarang terkait dengan berbagai macam penyakit
termasuk diabetes tipe 2 yang dapat dimodifikasi. Diet adalah salah satu upaya dalam pengelolaan DM,
ada 4 pilar penting dalam penatalaksanaan DM yaitu edukasi, terapi gizi (pola diet) , latihan jasmani dan
farmakologi Diet adalah terapi utama pada diabetes mellitus tipe 2, maka setiap penderita semestinya
menjalankan diet yang tepat agar tidak terjadi komplikasi, baik akut maupun kronis. Jika penderita tidak
menjalankan diet yang tepat, maka akan terjadi komplikasi dan pada akhirnya akan menimbulkan
kematian.
Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik dengan kecenderungan yang
semakin memburuk. Indonesia berada di urutan no.7 dunia penderita DMT2 dengan 10 juta jiwa tahun
2015 dan akan meningkat menjadi 21.3 juta jiwa pada tahun 2030.Diperkirakan setiap 6 detik terdapat 1
orang meninggal dunia karena DMT2. Pengendalian kadar gula darah sangatlah penting pada pasien
DMT2 untuk mencegah komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Terapi farmakologik saja dirasa
tidak cukup dalam mengendalikan kadar gula darah pasien DMT2. Asupan makanan berlebih, kurannya
aktivitas fisik dan obesitas berpengaruh besar dalam pengendalian kadar gula darah. Sebesar 55% pasien
DM dengan obesitass dan 80% dengan kegemukan. Manajemen penurunan berat badan merupakan
komponen utama yang efektif dalam pengendalian kadar gula darah pada pasien DMT2.

Pengaturan diet merupakan salah satu hal yang penting dalam manajemen diabetes mellitus. Tanpa
adanya pengaturan diet yang adekuat, pasien diabetes berpeluang besar mengalami berbagai penyakit
komplikasi diabetes, baik makroangiopati, mikroangiopati, maupun neuropati (1).

Tidak hanya konsumsi gula, konsumsi zat gizi lain seperti lemak, serat, antioksidan, dan lain-lain
juga sangat berpengaruh terhadap progresivitas penyakit diabetes mellitus (2). Telah banyak penelitian
yang mengangkat hubungan antara konsumsi zat gizi tertentu dengan kejadian diabetes mellitus. Namun
demikian, hingga saat ini, penelitian mengenai kualitas diet secara keseluruhan pada pasien diabetes
mellitus ini masih sangat sedikit.

Kualitas diet yang baik, akan membantu pasien mengontrol kadar gula darah dan menghindari
berbagai komplikasi yang mungkin timbul akibat penyakit ini. Penelitian di Spanyol (3) menunjukkan
kualitas diet yang rendah pada pasien diabetes mellitus dengan obesitas, sedangkan di Perancis
melaporkan bahwa pasien diabetes mellitus mengalami kesulitan mencapai tingkat kepatuhan diet yang
diinginkan (4). Healthy eating index (HEI) merupakan salah satu alat yang dikembangkan oleh United
State Department of Agriculture (USDA) untuk mengukur kualitas diet seseorang (5). Semakin besar nilai
HEI seseorang, semakin baik kualitas dietnya (2). Gambaran perubahan kualitas diet pasien sebelum dan
sesudah mendapat konseling gizi dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan penatalaksanaan
penyakit diabetes mellitus.
Kegiatan konseling merupakan salah satu strategi penatalaksanaan penyakit diabetes mellitus.
Tujuan konseling gizi adalah mengubah porsi dan pola makan pasien diabetes (6,7). Jenis konseling
individu masih sering digunakan dalam praktik, namun konseling kelompok mulai menjadi pertimbangan.
Konseling kelompok dinilai lebih efisien dan memberikan banyak sumber daya dan sudut pandang (8).
Pada beberapa penelitian, penggunaan konseling kelompok diketahui menghasilkan keluaran terkait gizi
yang lebih baik dibanding konseling individu dengan attrition rate sebesar >30% (9).

Faktor makanan diet yang tidak menyenangkan, kurangnya pemahaman tentang diet, manfaat
latihan fisik, usia yang sudah lanjut, keterbatasan fisik, pemahaman yang salah tentang manfaat obat, serta
kegagalan mematuhi minum obat karena alasan ekonomi menyebabkan ketidakpatuhan diabetisi dalam
penatalaksanaan DM.2 Penyuluhan kesehatan pada penderita diabetes mellitus merupakan hal yang
penting dalam memonitor gula darah penderita DM dan mencegah komplikasi kronik baik mikroangiopati
maupun makroangiopati. Komplikasi kronik biasanya terjadi dalam 5 sampai 10 tahun setelah didiagnosis
ditegakkan.3

Edukasi diabetes merupakan pendidikan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien
diabetes yang bertujuan mengubah perilaku untuk meningkatkan pemahaman klien akan penyakitnya. 1
Perubahan hasil dari pendidikan kesehatan dalam bentuk pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan,
yang diikuti dengan adanya kesadaran yaitu yang positif terhadap kesehatan, yang akhirnya diterapkan
dalam tindakan pencegahan komplikasi DM.4

Penderita DM beresiko tinggi mengalami komplikasi berupa hipoglikemia, hiperglikemia,


ketoasidosis, neuropathy yang meningkatkan resiko luka gangrene yang berujung pada amputasi,
retinopathy yang berpontensial mengalami kebutaan, nephropathy yang dapat berujung pada gagal ginjal
selain komplikasi tersebut penyakit DM juga memberikan efek negative terhadap penderitanya baik secara
fisik, psikologis, sosial maupun ekonomi.

Pada DM perlu mengambil peran aktif dengan melakukan pengolahan terhadap DM yang diderita
untuk meminimalisir terjadinya komplikasi salah satunya adalah penerapan self management yang baik
dapat menurunkan resiko terjadinya komplikasi, mengurangi berobat kerumah sakit dan angka akibat DM.
Self management bertujuan untuk mengembangkan keterampilan agar hidup lebik baik dengan penyakut
kronik, salah satunya adalah penyakit DM.
Pola diet penderita diabetes mellitus tipe 2 sebagai bentuk ketaatan dan keaktifan penderita
terhadap aturan makan yang diberikan.(8) Pola diet yang tidak tepat dapat mengakibatkan kadar gula
darah pasien DM tipe 2 tidak terkontrol. Oleh karena itu salah satu upaya untuk mengontrol kadar gula
darah pada pasien DM tipe 2 adalah dengan perbaikan pola makan melalui pemilihan makanan yang tepat
Pola diet pada penderita diabetes mellitus tipe 2 bertujuan membantu penderita memperbaiki kebiasaan
makan sehingga dapat mengendalikan kadar glukosa darah dalam batas normal sebagai akibat dari
hiperglikemia (peningkatan kadar gula dalam darah). Oleh karena itu penatalaksanaan terapi pola diet
diabetes mellitus tipe 2 sangat berperan penting dalam upaya menormalkan kadar gula darah pada diabetes
mellitus tipe 2 serta mencegah berbagai macam komplikasi yang timbul dari penyakit.
Kepatuhan pasien sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan terapi terutama pada penyakit
yang tidak menular seperti penyakit diabetes mellitus. Ketidakpatuhan pasien pada terapi penyakit
diabetes mellitus dapat memberikan efek negatif yang sangat besar karena presentase kasus penyakit tidak
menular tersebut diseluruh dunia mencapai 54% dari seluruh penyakit pada tahun 2001.
Angka ini bahkan diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 65% pada tahun
2020.(8) kepatuhan menjadi tolak ukur bagi penderita diabetes mellitus tipe II untuk tidak memperburuk
kesehatannya, karena dalam pengobatannya membutuhkan waktu yang lama.
Hasil penelitian dari Diabetes Control and Complication (DCCT) menunjukkan bahwa
pengendalian diabetes melitus yang baik dapat mengurangi komplikasi kronik diabetes melitus antara 20 –
30%. Penelitian tingkat kepatuhan terhadap pengelolaan diabetes mellitus didapati 80% diantaranya
menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat, 58% memakai dosis yang salah dan 75% tidak mengikuti
diet yang dianjurkan. Ketidakpatuhan ini selalu menjadi hambatan untuk tercapainya usaha
pengendalian.(9) Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan pola diet DM
dengan kadar gula darah pada pasien DM tipe II.
Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang setuju terhadap instruksi atau petunjuk yang
diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik itu diet, latihan, pengobatan, atau menepati
janji pertemuan dengan dokter.Sesuai dengan penatalaksanaan Diabetes Mellitus dalam 4 pilar utama,
salah satunya terapi gizi. Terapi gizi untuk penderita Diabetes Mellitus terdapat pola makan yang disebut
dengan 3J, dimana jadwal, jenis dan jumlah yang harus sesuai.(12) Kepatuhan pada penelitian ini,
perilaku pasien diabetes mellitus tipe II dalam melaksanakan aturan diet yang sudah ditetapkan dan sesuai
dengan instruksi dokter, meliputi diet diabetes, jenis diet, jumlah diet, dan jadwal diet.
Pengaturan jadwal makan sangatlah penting bagi penderita diabetes mellitus tipe II karena dengan
membagi waktu makan menjadi porsi kecil tetapi sering, karbohidrat dicerna lebih lambat dan stabil.
Selain itu kebutuhan insulin pun menjadi lebih rendah dan sensitivitas insulin menjadi meningkat
sehingga metabolisme tubuh dapat berjalan dengan sangat baik.
Pemilihan jenis makanan yang tepat sangat penting pada penderita diabetes mellitus tipe II karena
berkaitan dengan kadar gula darah dan pencegahan komplikasi penyakit diabetes. Penderita diabetes
mellitus harus mengetahui dan memahami jenis makanan yang boleh di konsumsi dengan bebas, makanan
yang mana yang harus dibatasi dan makanan apa yang harus dibatasi secara ketat.
DAFTAR PUSTAKA
Nita Yunianti Ratnasari.2019. Upaya pemberian penyuluhan kesehatan tentang diabetes mellitus
dansenam kaki diabetik terhadap pengetahuan dan keterampilan
masyarakat desa Kedungringin, Wonogiri.
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/ijocs/article/download/4172/3057. Diakses pada 4 September 2019
pukul 18:00

Endah Sri Wahyuni.2017. PERSEPSI PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN


DIABETES MELLITUS DI DESA SAWAH KUWUNG KARANG ANYAR.
https://jurnal.unitri.ac.id/571-984-1-SM.pdf. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019 Pukul 18: 15

Dita Wahyu Hestiana. 2017. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN


DALAM PENGELOLAAN DIET PADA PASIEN RAWAT JALAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI
KOTA SEMARANG. https://journal.unnes.ac.id/14448-Article Text-46991-2-10-20180402.pdf . Diakses
Pada Tanggal 4 September 2019 Pukul 18: 25

Susanti. 2018. Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus.
https://jurnal.ugm.ac.id/34080-8989-0-3-PB.pdf . Diakses Pada Tanggal 4 September 2019 Pukul 18:45

Dini Rudini. 2018. ANALISIS PENGARUH KEPATUHAN POLA DIET DM TERHADAP KADAR
GULA DARAH DM TIPE II. https://online-journal.unja.ac.id/6497-Article Text-14286-1-10-
20190322.pdf . Diakses Pada Tanggal 4 September 2019 Pukul 19:00

Thresia Dewi. 2018. KEPATUHAN DIET PASIEN DM BERDASARKAN TINGKAT


PENGETAHUAN DAN DUKUNGAN KELUARGA DI WILAYAH PUSKESMAS SUDIANG RAYA.
http://journal.poltekkesmks.ac.id/ojs2/index.php/mediagizi/article/viewFile/60/pdf. Diakses Pada Tanggal
4 September 2019 Pukul 19:20