Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN KASUS

TEKNIK PEMERIKSAAN MSCT KEPALA PADA KASUS CEDERA


OTAK SEDANG (COS) DI INSTALASI RADIOLOGI
RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA

Disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Praktek Kerja


Lapangan III

Disusun Oleh:

LAILIS SA’ADAH
P1337430117012

PRODI D-III TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI


SEMARANG
JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
SEMARANG
TAHUN 2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sebagai laporan

guna memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan (PKL) 3 Jurusan Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Semarang.

Nama : Lailis Sa’adah

NIM : P1337430117012

Hari, tanggal : Kamis, 17 Oktober 2019

Judul : “TEKNIK PEMERIKSAAN MSCT PADA

KASUS CEDERA OTAK SEDANG (COS) DI

INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR

MOEWARDI SURAKARTA”

Clinical Instructure

RSUD Dr. Moewardi

Cahyaningsih Endah Palupi, SST

NIP. 19711022 199303 2 005

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan

hidayah-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan

judul “Teknik Pemeriksaan MSCT Kepala dengan Klinis Cedera Otak Sedang

(COS) di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta”.

Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Praktek Kerja

lapangan III Semester V, yang dilaksanakan di Instalasi Radiologi RSUD Dr.

Moewardi pada tanggal 30 September 2019 dan berakhir pada tanggal 26

Oktober 2019.

Dalam penulisan laporan kasus tersebut penulis menemui beberapa

kendala. Namun atas bantuan dari berbagai pihak, maka laporan ini dapat

terselesaikan, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Marsum, BE, SPd, MHP Selaku Direktur Poltekkes Kemenkes

Semarang,

2. Ibu Fatimah, SST, M.Kes selaku Ketua Jurusan Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi,

3. Ibu Darmini, S.SI, M.Kes selaku Ketua Program Studi D-III Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi Semarang,

4. Bapak Dr. Soeharto Wijanarko, dr., Sp.U selaku Direktur RSUD Dr.

Moewardi,

5. Dr. Sulistyani Kusumaningrum, M.Sc.Sp.Rad selaku Kepala Instalasi

Radiologi RSUD Dr. Moewardi,

iii
6. Seluruh radiografer dan staf karyawan yang telah memberikan

bimbingan serta ilmu yang sangat berharga selama penulis menjalani

praktek di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi,

7. Orang tua penulis yang telah memberikan dukungan dan doa kepada

penulis,

8. Anisa, tini, luhung, gusti dan fathur yang telah menjadi sahabat

bahkan keluarga baru selama penulis menimba ilmu di Instalasi

Radiologi RSUD Dr. Moewardi,

9. Teman-teman Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi

Poltekkes Kemenkes Semarang, khususnya angkatan 33

10. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan bimbingan

selama penulisan laporan kasus ini di Instalasi Radiologi RSUD Dr.

Moewardi,

Penulis menyadari dalam pembuatan laporan kasus ini masih banyak

kekurangan, untuk itu penulis mohon saran dan masukan dari semua pihak.

Penulis berharap laporan kasus ini dapat bermanfaat untuk mahasiswa dan

dijadikan studi bersama.

Surakarta, Oktober 2019

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii

KATA PENGANTAR ........................................................................... iii

DAFTAR ISI .......................................................................................... v

DAFTAR GAMBAR ............................................................................. vii

DAFTAR TABEL ................................................................................. ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................... 2

C. Tujuan Penulisan ............................................................. 2

D. Manfaat Penulisan ........................................................... 3

E. Sistematika Penulisan ...................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Otak ............................................ 5

B. Anatomi Tulang Tengkoran (Cranium) ........................... 6

C. Patologi Cedera Kepala ................................................... 18

D. Dasar-Dasar CT-Scan ...................................................... 24

E. Teknik Pemeriksaan MSCT Kepala ................................ 34

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Kasus ................................................................. 36

B. Teknik Pemeriksaan dan Hasil ........................................ 37

v
C. Pembahasan ..................................................................... 52

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................... 54

B. Saran ................................................................................ 54

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 55

LAMPIRAN ........................................................................................... 56

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Anatomi Batang Otak dan Diancephalon .......................... 5

Gambar 2.2 Anatomi otak secara keselurhan dan letak Cerebellum berada

pada inferior dari batang otak ............................................ 7

Gambar 2.3 Letak Diancephalon di dalam kepala digambarkan dengan

gambar berwarna merah..................................................... 8

Gambar 2.4 Anatomi Thalamus ............................................................. 9

Gambar 2.5 Anatomi Gyrus dan Sulcus ................................................ 10

Gambar 2.6 Anatomi Lobus dari pandangan superior........................... 11

Gambar 2.7 Anatomi Lobus dari pandangan lateral ............................. 12

Gambar 2.8 Tulang Cranium pandangan anterior ................................ 14

Gambar 2.9 Tulang Cranium dari pandangan lateral ............................ 15

Gambar 2.10 Tulang Cranium dari pandangan superior ......................... 17

Gambar 2.11 Perdarahan pada otak ........................................................

Gambar 2.12 Unit CT Scan ..................................................................... 24

Gambar 2.13 Unit CT Scan, meja pemeriksaan (couch) dan gantry ....... 25

Gambar 2.14 Scanogram Skull ...............................................................

Gambar 3.1 Pesawat MSCT ................................................................... 37

Gambar 3.2 Computer dan Operator Console ....................................... 38

Gambar 3.3 alat fiksasi kepala ................................................................ 38

Gambar 3.4 Easy Move ...........................................................................

Gambar 3.5 Tampilan saat entry data pasien ..........................................

vii
Gambar 3.6 luas penyinaran (FOV) ....................................................... 41

Gambar 3.7 Parameter Brain Polos .................................................... .. 42

Gambar 3.8 Kotak Dialog Patient Browser ......................................... .. 43

Gambar 3.9 Pararel range axial ............................................................ .. 44

Gambar 3.10 VRT Gallery ................................................................... .. 46

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Nama tulang penyusun Cranium dan jumlahnya ............ 14

Tabel 2.2 Penentuan Nilai GCS berdasar respon yang diberikan ... 20

Tabel 2.3 Nilai CT pada jaringan yang berbeda ............................ 32

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemeriksaan radiologi memiliki perkembangan yang sangat pesat.

Berbagai modalitas dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan

penegakkan diagnosa yang beragam. Salah satu modalitas tersebut

adalah Computed Tomography Scan (CT-Scan), yang dikenalkan

pertama kali oleh Sir Godfrey Newbold Houndfield, seorang insinyur

dari EMI London dengan James Ambrosse, seorang teknisi dari Marley’s

Hospital London pada tahun 1970. (Seeram, 2009)

Modalitas CT-Scan memiliki kemampuan untuk membedakan

bagian-bagian yang kecil dan saling superposisi, dibandingkan dengan

pemeriksaan radiografi konvensional pada umumnya. Sehingga

pemeriksaan ini sesuai untuk membantu menegakkan diagnosa

khususnya pada organ yang saling superposisi seperti cranium, abdomen,

thorax, serta organ-organ di dalamnya.

Pemeriksaaan CT-Scan kepala merupakan Pemeriksaan paling

banyak dilakukan di rumah sakit maupun klinik radiologi dibanding

pemeriksaan lainnya yang menggunakan modaitas CT-Scan. Hal ini

disebabkan karena banyaknya klinis yang berhubungan dengan kepala

meliputi otak, tulang, dan sinus serta pembuluh darah.

1
Untuk pemeriksaan CT-Scan juga dapat menampakkan kelainan

yang terjadi di dalam otak, biasanya pada kasus cedera, pemeriksaan CT-

Scan sangat membantu dalam menampakan pedarahan di otak dan dapat

mengetahui ada tidaknya fraktur yang tidak dapat ditampakkan dengan

radiografi konvensional.

Menurut Bruce W. Long (2016) teknik pemeriksaan CT-Scan kepala

adalah dengan menggunakan slice thicknes 5.0 mm, sedangkan

pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus Cidera Otak Sedang di Instalasi

Radiologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta dilakukan dengan slice

thicknes 7 mm, dan dilakukan analisis gambaran CT Scan dengan

menggunakan potongan window brain, window bone, serta gambaran 3

Dimensi untuk menampakkan fraktur lebih jelas. Tentunya metode

khusus seperti ini mempunyai maksud dan fungsi tersendiri dalam rangka

penegakan diagnosis suatu penyakit.

Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin mengkaji lebih lanjut

mengenai teknik pemeriksaan MSCT kepala di Instalasi Radiologi RSUD

Dr. Moewardi Surakarta dan mengangkatnya dalam bentuk laporan kasus

dengan judul: “Teknik Pemeriksaan MSCT pada Klinis Cedera Otak

Sedang (COS) di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi”.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka penulis dapat menarik suatu

rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :

2
Bagimana teknik pemeriksaan MSCT kepala pada klinis Cedera Otak

Sedang (COS) di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah:

Untuk mengetahui teknik pemeriksaan MSCT kepala pada klinis Cedera

Otak Sedang (COS) di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan laporan kasus ini adalah sebagai berikut.

1. Bagi Penulis

Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL)

III Semester V serta menambah wawasan pengetahuan mengenai

teknik pemeriksaan MSCT kepala pada kasus cedera otak sedang

(COS).

2. Bagi Rumah Sakit

Dengan hasil laporan kasus ini dapat memberi masukan dan saran

yang berguna bagi rumah sakit, dalam hal ini instalasi radiologi pada

umumnya dan radiografer pada khususnya. Terlebih lagi pada teknik

pemeriksaan MSCT pada klinis cedera otak sedang (COS).

3
3. Bagi Instalasi Radiologi

Diharapkan hasil laporan kasus ini dapat menambah kepustakaan

dan pertimbangan referensi tentang teknik pemeriksaan MSCT pada

klinis cedera otak sedang (COS).

4. Bagi Pembaca

Memberiksan gambaran yang lebih jelas tentang teknik pemeriksan

MSCT pada kasus cedera otak sedang (COS).

E. Sistematika Penulisan

Laporan kasus ini disusun secara sistematis, adapun sistematika

penulisan adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang: latar belakang, rumusan masalah, tujuan

penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang: anatomi dan fisiologi Otak, anatomi tulang

tengkorak (cranium), patologi cedera kepala, dasar-dasar

CT-Scan, teknik pemeriksaan MSCT kepala

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang paparan kasus dan pembahasan

BAB IV PENUTUP

Berisi tentang: kesimpulan dan saran.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Otak

Otak merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh manusia.

Otak sebagai pusat kendali segala keigatan yang dilakukan organ-organ

tubuh yang lain. Menurut Cinamon VanPutte (2016), pada umumnya

otak dibagai menjadi empat bagian utama, yaitu:

1. Brainstem (Batang Otak)

Batang otak adalah penghubung antara susunan syaraf tepi dengan

otak. Batang otak terdiri dari medulla oblongata, pons, dan mid

brain (otak tengah). Fungsi utama dari batang otak antara lain untuk

mengatur detak jantung, tekanan darah, dan pernafasan.

Keterangan Gambar :
1. Thalamus
2. Infundibulum
3. Pons
4. Pyramid
5. Medulla oblongata
6. Diancephalon
7. Midbrain
8. Brainstem

Gambar 2.1. Anatomi Batang Otak dan Diancephalon (VanPutte, 2016)

5
a. Medulla oblongata

Medulla oblongata terletak pada bagian inferior dari batang

otak dan merupakan kelanjutan dari spinal cord. Medulla

oblongata berada setinggi Foramen magnum sampai dengan

pons. Medulla oblongata memiliki fungsi yang spesifik seperti

untuk mengatur detak jantung, diameter pembuluh darah,

pernafasan, fungsi dalam menelan, muntah, batuk, bersin,

keseimbangan dan koordinasi.

b. Pons

Dari superior medulla oblongata terdapat pons. Pons ini terdiri

syaraf-syaraf ascenden dan descenden. Beberapa syaraf

berfungsi sebagai “jembatan” atau penghubung antara cerebrum

dan cerebellum. Pada bagian inferior pons memiliki fungsi

pernafasan, menelan dan keseimbangan. Bagian lain dari pons

berguna dalam fungsi mengunyah dan pengaturan air liur.

c. Mid Brain (Otak Tengah)

Terletak pada bagian superior dari pons dan merupakan bagian

terkecil dari batang otak. Otak tengah berfungsi pada

pengaturan pergerakan mata, pengaturan diameter pupil dan

bentuk lensa.

2. Cerebellum (Otak Kecil)

Otak kecil terletak menempel dengan batang otak, dengan beberapa

konektor yang disebut Cerebellar penducles. Cerebellar penducles

6
menguhubungkan antara cerebellum dengan bagian lain di susunan

syaraf pusat.

Gambar 2.2 Anatomi otak secara keselurhan dan letak


Cerebellum berada pada inferior dari batang otak (VanPutte,
2016)

Keterangan Gambar:
1. Cerebrum 6. Diencephalon
2. Corpus callosum 7. Midbrain
3. Cerebellum 8. Pons
4. Thalamus 9. Medulla Oblongata
5. Hypothalamus 10. Brainstem

3. Diancephalon

Diancephalon adalah bagian dari otak antara batang otak dan

cerebrum. Diancephalon terdiri dari thalamus, epithalamus dan

hypothalamus.

7
Gambar 2.3 Letak Diancephalon di dalam kepala digambarkan
dengan gambar berwarna merah (VanpPutte, 2016)

a. Thalamus

Bagian yang paling besar dari diencephalon yang terdiri dari

susunan syaraf dengan bentuk seperti yo-yo. Kedua sisi

dihubungkan dengan suatu bagian kecil yang disebut

interthalamic adhesion.

Keterangan Gambar

1. Thalamic

nuclei

2. Interthalamic

adhesion

Gambar 2.4 Anatomi Thalamus (VanPutte, 2016)

8
b. Epithalamus

Epithalamus merupakan bagian kecil yang berada pada superior

dan posterior dari thalamus. Dari bagian thalamus tedapat

pineal gland, adalah sebuah kelenjar endokrin yang

mempengaruhi aktifitas pubertas pada usia remaja.

c. Hypothalamus

Merupakan bagian paling inferior yang terdiri dari beberapa

syaraf yang berfungsi sangat penting dalam pengaturan

homeostasis. Hypothalamus berperan penting dalam pengaturan

suhu tubuh, rasa lapar dan haus. Sensasi seperti kesenangan

seksual, emosional meliputi kemarahan dan rasa takut serta rasa

rileks setelah makan. Selain itu, hypothalamus juga berperan

dalam pengaturan sekresi hormon dari kelenjar pituitari.

4. Cerebrum (Otak Besar)

Cerebrum adalah bagian otak terbsesar, yang terdiri dari hemisphere

kanan dan kiri dan dipisahkan dengan longitudinal fissure. Bagian

dari permukaan hemisphere yang mencolok atau nampak pada

permukaan disebut gyrus, sedangkan lipatan kedalam disebut sulcus.

9
Keterangan
Gambar:
1. Sulcus
2. Gyrus

Gambar 2.5 Anatomi Gyrus dan Sulcus (VanPutte, 2016)

Setiap hemisphere terdiri dari lobus-lobus dengan sebutan sesuai

dengan tulang yang menutupinya. Terdapat lobus frontalis, lobus

parietalis, lobus occipatilis dan lobus temporalis. Di antara lobus

frontalis dan parietalis dipisahkan dengan central sulcus.

Gambar 2.6 Anatomi Lobus dari pandangan superior (Netter, 2014)

Keterangan Gambar :
1. Polus frontalis 6. Lobus temporalis
2. Fisura longitudinalis cerebri 7. Sulcus parietooccipitalis
3. Lobus frontalis 8. Lobus occipitalis
4. Sulcus centralis 9. Polus occipitalis
5. Lobus parietalis

10
Gambar 2.7 Anatomi Lobus dari pandangan lateral (Netter, 2014)
Keterangan Gambar:
1. Polus frontalis 7. Lobus occipitalis
2. Lobus frontalis 8. Incisura preoccipitalis
3. Sulcus centralis 9. Polus temporalis
4. Lobus parietalis 10. Sulcus lateralis
5. Sulcus parietooccipital 11. Lobus temporalis
6. Polus occipitalis

Fungsi masing-masing lobus antara lain:

a. Lobus Frontal, berhubungan dengan penalaran, ketrampilan

motorik, kognisi tingkat yang lebih tinggi, dan bahasan

ekspresif, serta fungsi syaraf motorik.

b. Lobus Parietal, mengatur sentuhan rasa sakit, tekanan, suhu dan

keseimbangan

c. Lobus Temporal, sebagai fungsi pendengaran dan penaksiran

suara yang didengar, serta pembentukan ingatan

d. Lobus Occipital, berhubugnan dengan rangsangan visual dan

menafsirkan informasi, khsususnya untuk penglihatan.

11
B. Anatomi Tulang Tengkorak (Cranium)

Menurut Frank H. Netter (2011) Tulang tengkorak atau Cranium

atau Skull terdiri dari Neurocranium (Calvaria) yang berfungsi untuk

melindungi otak dan Viscerocranium (facial skeleton) sebagai penyusun

tulang wajah. Terdapat 22 tulang yang menyusun Cranium dengan

delapan tulang yang berada pada neurocranium dan 14 tulang berada

pada viscerocranium.

Berikut tulang-tulang penyusun cranium yang dituliskan dalam tabel

sebagai berikut.

Tabel 2.1 Nama tulang penyusun Cranium dan jumlahnya (Netter 2011)
Neurocranium Viscerocranium
Tulang Jumlah Tulang Jumlah
Ethmoid 1 Zygomatic 2
Frontal 1 Vomer 1
Occipital 1 Inferior Nasal 2
Concha
Sphenoid 1 Maxilla 2
Parietal 2 Nasal 2
Temporal 2 Palatine 2
Lacrimal 2
Mandible 1
Jumlah 8 Jumlah 14

Fungsi dari cranium sendiri antara lain:

1. Menutup, menopang dan melindungi otak dan meningens

2. Cranium terdiri dari berbagai

3. foramen yang berfungsi untuk jalan keluar masuknya syaraf dan

pembuluh darah.

4. Sebagai dasar wajah

12
5. Terdiri dari beberapa rongga dengan fungsi tertentu. Dari beberapa

rongga, terdapat rongga yang terbuka yang menghubungkan

terhadap organ lain (nasal, oral)

Gambar 2.8 Tulang Cranium pandangan anterior (Saladin, 2010)

Keterangan Gambar:
1. Frontal bone 9. Inferior nasal concha 17. Ethmoid bone
2. Glabella 10. Vomer 18. Zygomatic bone
3. Coronal suture 11. Mandible 19. Infraorbital
4. Squamous suture 12. Mental Protuberantia foramen
5. Sphenoid bone 13. Supraorbital foramen 20. Intermaxillary
6. Lacrimal bone 14. Parietal bone suture
7. Nasal bone 15. Supraorbita margin 21. Maxilla
8. Middle nasal concha 16. Temporal bone 22. Mental foramen

13
Gambar 2.9 Tulang Cranium dari pandangan lateral (Saladin, 2010)

Keterangan Gambar:
1. Parietal bone 9. Mastoid process 18. Zygomaticofacial
2. Lambdoid suture 10. Styloid process foramen
3. Sphenoid bone 11. Mandibular 19. Infraorbital
4. Occipital bone condyle foramen
5. Squamous 12. Coronal suture 20. Zygomatic bone
suture 13. Frontal bone 21. Maxilla
6. Temporal bone 14. Temporal line 22. Temporal process
7. Zygomatic 15. Ethmoid bone 23. Mandible
process 16. Nasal bone 24. Mental foramen
8. External 17. Lacrimal bone
acoustic meatus
(EAM)

Hampir seluruh tulang cranium dihubungkan dengan sutura. Sutura

dapat dikatakan sebagai persendian antara tulang yang berada pada

cranium. Dengan bertambahnya usia, sutura akan terbuntuk sempurna

sehingga setiap tulang dapat menjadi terhubung satu sama lain. Terdapat

beberapa sutura, antara lain:

14
1. Suruta coronalis, yang memisahkan tulang frontal dan parietal

2. Sutura sagittalis, yang memisahkan kedua tulang parietal

3. Sutura lambdoidea, yang memisahkan tulang parietal dan temporal

dari occipital

4. Sutura squamosa, yang memisahkan bagian squamosa tulang

temporal dan parietal

5. Sutura sphenosquamosa, yang memisahkan bagian squamos tulang

temporal dari ala major sphenoid

6. Sutura frontalis (Metopic), yang memisahkan kedua tulang frontalis.

Sutura ini muncul saat bayi baru dilahirkan dimana kedua tulang

frontal masih terpisah.

Keterangan
Gambar:
1. Frontal bone
2. Coronal suture
3. Bregma
4. Parietal bone
5. Sagittal suture
6. Parietal foramen
7. Lambda
8. Lambdoid suture
9. Sutural bone
10. Occipital bone
Gambar 2.10 Tulang Cranium dari pandangan superior (Netter,
2014)

15
C. Patologi Cedera Kepala

1. Pengertian

Menurut Lisa Permitasari (2012), Cedera kepala adalah

serangkaian kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma

kepala, yang dapat melibatkan kulit kepala, tulang dan jaringan otak

atau kombinasinya. Cedera kepala (trauma capitis) adalah cedera

mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala

yang mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak,

robekan selaput otak, dan kerusakan jaringa otak itu sendiri, serta

mengakibatkan gangguan neurologis.

2. Etiologi

Etologi dari cedera kepala anatara lain:

a. Kecelakaan lalu lintas (KLL)

b. Kecelakaan kerja

c. Trauma pada saat olah raga

d. Kejatuhan benda

e. Luka tembak

3. Klasifikasi

Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya

gejala yang muncul setelah cedera kepala. Ada beberapa klasifikasi

yang dipakai dalam menentukan derajat cedera kepala. Cedera

kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek, secara praktis dikenal

3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan:

16
a. Mekanisme Cedera Kepala

Berdasarkan mekanismenya, cedera kepala dibagi atas cedera

kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul

biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil, motor, jatuh atau

pukulan benda tumpul. Cedera kepala tembus disebabkan oleh

peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput durameter

menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau

cedera tumpul.

b. Beratnya Cedera

Glascow coma scale (GCS) digunakan untuk menilai secara

kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam

deskripsi beratnya penderita cedera kepala.

1) Cidera Kepala Ringan (CKR)

GCS 13– 15, dapat terjadi kehilangan kesadaran (pingsan)

kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde.

Tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio cerebral

maupun hematoma.

2) Cidera Kepala Sedang (CKS)

GCS 9 –12, kehilangan kesadaran atau amnesia retrograde

lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat

mengalami fraktur tengkorak.

17
3) Cidera Kepala Berat (CKB)

GCS < 8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia

lebih dari 24 jam. Dapat mengalami kontusio cerebral,

laserasi atau hematoma intracranial.

Penghitungan GCS berdasar repon yang diberikan. Respon

tersebut trcantum dalam tabel seagai berikut.

Tabel 2.2 Penentuan Nilai GCS berdasar respon yang


diberikan (Permitasari, 2012)
No Respon Nilai
1 Membuka Mata Spontan 4
Terhadap rangsangan suara 3
Terhadap nyeri 2
Tidak ada 1
2 Verbal Orientasi baik 5
Orientasi terganggu 4
Kata-kata tidak jelas 3
Suara tidak jelas 2
Tidak ada respon 1
3 Motorik Mampu bergerak 6
Melokalisasi nyeri 5
Fleksi menarik 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi 2
Tidak ada respon 1
TOTAL 3 – 15

c. Morfologi Cedera

Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas :

1) Fraktur cranium

Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar

tengkorak, dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat

pula terbuka atau tertutup. Pemeriksaan CT Scan dapat

membantu untuk memperjelas garis fraktur yang terjadi.

18
Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak

menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan

pemeriksaan lebih rinci.

Tanda-tanda tersebut antara lain :

a) Ekimosis periorbital (Raccoon eye sign)

b) Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign)

c) Kebocoran CSS (rhonorrea, ottorhea) dan

d) Parese nervus facialis (N VII)

2) Lesi Intrakranial

Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus,

walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan. Yang

termasuk dalam lesi lokal yaitu:

a) Kontusio Cerebri (Memar Otak)

Memar otak lebih serius daripada geger otak, keduanya

dapat diakibatkan oleh pukulan atau benturan pada

kepala. Memar otak menimbulkan memar dan

pembengkakan pada otak, dengan pembuluh darah

dalam otak pecah dan terjadi perdarahan. Pasien dapat

pingsan, dan pada keadaan berat dapat berlangsung

berhari-hari hingga berminggu-minggu. Terdapat

amnesia retrograde, amnesia pascatraumatik, dan

terdapat kelainan neurologis, tergantung pada daerah

yang luka dan luasnya lesi.

19
b) Perdarahan Intracerebral (ICH)

Perdarahan yang paling sering timbul pada parenkim

otak terjadi di daerah arteri kecil yang melayani ganglia

basal, thalamus, dan batang otak dan oleh arteriopathy

karena hipertensi kronik atau micratheroma. Penyakit

ini, sering berhubungan dengan arteriosklerosis, karena

terjadi penyumbatan pada infark lakunar atau

kebocoran yang menyebabkan perdarahan otak.

c) Perdarahan Subdural hematoma

Perdarahan terjadi di antara durameter dan

arakhnoidea. Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya

vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan

vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam

durameter atau karena robeknya arakhnoid. Gejala

yang dapat tampak adalah penderita mengeluh tentang

sakit kepala yang semakin bertambah keras, ada

gangguan psikis, kesadaran penderita semakin

menurun, terdapat kelainan neurologis seperti

hemiparesis, epilepsy, dan edema papil.

d) Perdarahan Epidural Hematoma

Perdarahan terjadi di antara durameter dan tulang

tengkorak. Perdarahan ini terjadi karena terjadi akibat

robeknya salah satu cabang arteria meningeamedia,

20
robeknya sinus venosus durameter atau robeknya

arteria diploica. Robekan ini sering terjadi akibat

adanya fraktur tulang tengkorak. Gejala yang dapat

dijumpai adalah adanya suatu lucid interval (masa

sadar setelah pingsan sehingga kesadaran menurun

lagi), tensi yang semakin bertambah tinggi, nadi yang

semakin bertambah tinggi, nadi yang semakin

bertambah lambat, hemiparesis, dan terjadi anisokori

pupil.

e) Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarakhnoid adalah suatu keadaan

dimana terjadi perdarahan di ruang subarakhnoid yang

timbul secara primer. Perdarahan ini kebanyakan

berasal dari perdarahan arterial akibat pecahnya suatu

aneurisma pembuluh darah serebral atau malformasi

arterio-venosa yang rupture, di samping juga ada

sebab-sebab lainnya. Perdarahan yang menumpuk

dalam ruang subarachnoid dapat mencetuskan

terjadinya stroke, kejang dan komplikasi lainnya.

21
Gambar 2.11 Perdarahan pada otak

f) Cedera Difus

Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan

otak akibat akselerasi dan deselerasi, dan ini

merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada

cedera kepala.

1. Dasar-Dasar CT-Scan

1. Komponen CT-Scan

Menurut Bontrager, 2010, sistem CT Scan terdiri dari tiga

komponen utama yaitu gantry, komputer, dan operator console.

Ketiga sistem tersebut termasuk dalam sitem computing dan

peralatan imaging yang memiliki tingkat kerumitan yang tinggi.

22
Gambar 2.12 Unit CT Scan (John P. Lampignano, 2018)
a. Gantry

Gantry terdiri dari tabung sinar-x, susunan detektor

dan kolimator. Berdasarkan spesifikasi teknis dari unit, gantry

dapat disudutkan hingga 300 pada arah yang berbeda, sesuai

dengan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kepala atau spine.

Meja CT Scan (atau yang biasa disebut dengan patient couch)

secara elektronik berhubungan dengan gantry untuk

mengontrol pergerakan selama scanning.

Gambar 2.13 Unit CT Scan, meja pemeriksaan (couch) dan


gantry. (John P. Lampignano, 2018)

23
1) Tabung Sinar-x

Berdasarkan strukturnya tabung sinar-x pada CT Scan

sangat mirip dengan tabung sinar-x konvensional, namun

perbedaannya terletak pada kemampuannya untuk

menahan penambahan panas karena peningkatan waktu

eksposi.

2) Detektor

Detektor merupakan bagian solid (solid-state) dan

terdiri dari pasangan photodioda dengan material kristal

scintilasi. Sbahan solid detektor mentransmisikan energi

sinar-x menjadi cahaya, dengan cara mengkonversikan ke

dalam energi elektrik, kemudian mengubahnya menjadi

sinyal digital. Susunan detektor mempengaruhi dosis pada

pasien dan keefisiensian dari unit CT-Scan.

3) Kolimator

Kolimator pada CT-Scan sangat penting karena dapat

mengurangi dosis yang diterima tubuh pasien dan dapat

meningkatkan kualitas gambar. Pada CT Scan

menggunakan dua buah kolimator Kolimator pertama

diletakkan pada rumah tabung sinar-x yang disebut pre

pasien kolimator dan kolimator yang kedua diletakkan

antara pasien dan detektor yang disebut per detektor

kolimator atau post pasien kolimator.

24
4) Komputer

Komputer pada CT Scan membutuhkan dua buah tipe

software dengan tingkat kecanggihan yang tinggi. Satu

buah komputer untuk sistem operasi dan yang lainnya

untuk pengaplikasiannya. Sistem operasi mengelola

hardware, sedangkan software aplikasi mengelola pre-

processing, rekonstruksi gambar, dan berbagai macam

dari post-pre-processing operation. Komputer pada CT

Scan harus memiliki kecepatan dan kapasitas memori

yang tinggi.

5) Operator Console

Komponen dari operator console diantaranya yaitu

keyboard, mouse, single atau dual monitor, tergantung

dari sistemnya. Operator console menyediakan teknologi

untuk mengontrol parameter-parameter dari suatu

pemeriksaan, yang disebut dengan protocol. Selain itu

juga dapat melihat dan memanipulasi gambar. Protocol

ditentukan sebelum dilakukannya prosedur lainnya.

Protocol meliputi parameter-parameter scanning seperti

kV, mA, slice thickness, pitch, field of view, dan lain-lain.

Parameter tersebut dapat dimodifikasi apabila dibutuhkan

berdasarkan diagnosa atau clinical history pasien.

25
6) Jaringan dan Pengarsipan

Jaringan workstation komputer, sebuah setup dimana

workstation berada di lokasi lain atau digunakan oleh ahli

radiologi atau teknolog. Workstation ini mungkin berada

dalam departemen pencitraan atau mungkin berada di

daerah terpencil dengan transmisi data secara elektronik.

Pengarsipan gambar atau sebagian besar sistem CT

melibatkan penggunaan media digital yang tersimpan

dalam arsip PACS (picture archiving and communications

system). Gambar yang tidak tersimpan pada PACS dapat

menggunakan kombinasi optical disk dan hard disk drive

atau penyimpanan data berkapasitas tinggi secara

permanen. Printer laser juga bisa digunakan untuk

mencetak gambar atau penyimpanan hard copy.

Interpretasi temuan pemeriksaan umumnya dilakukan

oleh radiologis pada workstation beresolusi tinggi.

2. Parameter CT-Scan

Menurut Bontrager, 2018, gambaran pada CT-Scan dapat

terjadi sebagai hasil dari berkas-berkas sinar-x yang mengalami

perlemahan serta menembus objek, ditangkap detektor, dan

dilakukan pengolahan di dalam komputer. Penampilan gambar

yang baik tergantung dari kualitas gambar yang dihasilkan

sehingga aspek klinis dari gambar tersebut dapat dimanfaatkan

26
dalam rangka untuk menegakkan diagnosa. Sehubungan dengan

hal tersebut, maka dalam CT Scan dikenal beberapa parameter

untuk pengontrolan eksposi dan output gambar yang optimal.

a. Slice Thickness

Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan

dari objek yang diperiksa. Nilainya dapat dipilih antara 1-10

mm sesuai dengan keperluan klinis. Pada umumnya ukuran

yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detail yang

rendah, sebaliknya yang tipis akan menghasilkan gambaran

dengan detail yang tinggi.

b. Range

Range atau rentang adalah perpaduan atau kombinasi

dari beberapa slice thickness. Sebagai contoh untuk CT Scan

thorax, range yang digunakan adalah sama yaitu 5-10 mm

mulai dari apeks paru sampai diafragma. Pemanfaatan dari

range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan yang sama

pada satu lapangan pemeriksaan.

c. Faktor Eksposi

Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap eksposi meliputi tegangan tabung (kV), arus tabung

(mA) dan waktu eksposi (s). Besarnya tegangan tabung dapat

dipilih secara otomatis pada tiap-tiap pemeriksaan. Namun

kadang-kadang pengaturan tegangan tabung diatur ulang

27
untuk menyesuaikan ketebalan objek yang akan diperiksa

(rentangnya antara 80-140 kV). Tegangan tabung yang tinggi

biasanya dimanfaatkan untuk pemeriksaan paru dan struktur

tulang seperti pelvis dan vertebra. Tujuannya adalah untuk

mendapatkan resolusi gambar yang tinggi sehubungan

dengan letak dan struktur penyusunnya.

d. Field of View (FoV)

Field of View adalah maksimal dari gambaran yang

akan direkonstruksi. Besarnya bervariasi dan biasanya

berada pada rentang 12-50 cm. FoV yang kecil maka akan

mereduksi ukuran pixel (picture element), sehingga dalam

proses rekonstruksi matriks gambarannya akan menjadi lebih

teliti. Namun, jika ukuran FoV terlalu kecil maka area yang

mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit

untuk dideteksi.

e. Gantry Tilt

Gantry tilting adalah sudut yang dibentuk antara

bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar-x dan detektor).

Rentang penyudutan –300sampai +300. Penyudutan dari

gantry bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-

masing kasus yang harus dihadapi. Di samping itu, bertujuan

untuk mereduksi dosis radiasi terhadap organ-organ yang

sensitif seperti mata.

28
f. Rekonstruksi Matriks

Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan kolom

pada picture element (pixel) dalam proses perekonstruksian

gambar. Pada umumnya matriks yang digunakan berukuran

512 x 512 (5122) yaitu 512 baris dan 512 kolom.

Rekonstruksi matriks ini berpengaruh terhadap resolusi

gambar yang akan dihasilkan. Semakin tinggi matriks yang

dipakai maka semakin tinggi resolusi yang akan dihasilkan.

g. Rekonstruksi Algorithma

Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis

(algorithma) yang digunakan dalam merekonstruksi gambar.

Hasil dan karakteristik dari CT-Scan tergantung pada

kuatnya algorithma yang dipilih. Sebagian besar CT-Scan

sudah memiliki standar algorithma tertentu untuk

pemeriksaan kepala, abdomen, dan lain-lain. Semakin tinggi

resolusi algorithma yang dipilih, maka semakin tinggi pula

resolusi gambar yang akan dihasilkan. Dengan adanya

metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan

jaringan-jaringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada

layar monitor.

h. Window Width

Window Width adalah rentang nilai computed

tomography yang akan dikonversi menjadi gray levels untuk

29
ditampilkan dalam TV monitor.Setelah komputer

menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi

matriks dan algorithma maka hasilnya akan dikonversi

menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama nilai

computed tomography. Nilai ini mempunyai satuan HU

(Hounsfield Unit) yang diambil dari nama penemu CT Scan

kepala pertama kali yaitu Godfrey Hounsfield.

Berikut ini tabel nilai CT pada jaringan yang berbeda

penampakannya pada layar monitor (Bontrager, 2018).

Tabel 2.3 Nilai CT pada jaringan yang berbeda


penampakannya pada layar monitor (John P. Lampignano,
2018).

Tipe jaringan Nilai CT (HU) Penampakan


Tulang +1000 Putih
Otot +50 Abu-abu
Materi putih +45 Abu-abu menyala
Materi abu-abu +40 Abu-abu
Darah +20 Abu-abu
CSF +15 Abu-abu
Air 0
Lemak -100 Abu-abu gelap ke hitam
Paru -200 Abu-abu gelap ke hitam
Udara -1000 Hitam

Dasar pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0 HU.

Untuk tulang mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai

+3000 HU. Sedangkan untuk kondisi udara nilai ini adalah–

1000 HU. Diantara rentang tersebut merupakan jaringan atau

substansi lain dengan nilai berbeda-beda pula tergantung

pada tingkat perlemahannya. Dengan demikian penampakan

30
tulang dalam monitor menjadi putih dan penampakan udara

hitam. Jaringan dan substansi lain akan dikonversi menjadi

warna abu-abu yang bertingkat yang disebut Gray Scale.

Khusus untuk darah yang semula dalam penampakannya

berwarna abu-abu dapat menjadi putih jika diberi media

kontras Iodine.

i. Window Level

Window level adalah nilai tengah dari window yang

digunakan untuk penampakan gambar. Nilainya dapat dipilih

tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur objek

yang diperiksa. Window level ini menentukan densitas

gambar yang akan dihasilkan.

j. Pitch

Pitch adalah jangka waktu yang berhubungan dengan

suatu kecepatan dan jarak. Pada CT Scan helical, pitch

didefinisikan sebagai jarak (mm) pergerakan meja CT Scan

selama satu putaran tabung sinar-X. Pitch digunakan untuk

menghitung pitch ratio, yang mana merupakan suatu rasio

pada pitch untuk slice thickness/beam collimation.

31
2. Teknik Pemeriksaan CT-Scan Kepala

Menurut Bruce W. Long (2016) teknik pemeriksaan CT-Scan kepala

secara singkat adalah sebagai berikut:

a. Posisi pasien dan objek : Pasien supine di atas meja pemeriksaan

dengan kepala pasien berada pada head

holder. Memastikan bahwa kepala pasien

tidak rotsai.

b. Area scanning : Skull base sampai dengan vertex

c. Tipe scanning : Axial, sequential

d. Scan Localizer : Cranium AP dan Lateral

e. Tegangan Tabung : 120 Kv

f. Arus tabung x waktu : 250 mAs, Auto mAs

g. FOV : 22 cm

h. Scan slice thickness : 5.0 mm

i. Recon slice thickness : 2.5 mm

j. Gantry tilt : Disesuaikan dengan skull base

k. Recon kernel : Medium average

l. IV contrast : No

m. Oral contrast : No

32
Gambar.2.14 Scanogram Skull

Sedangkan menurut John P. Lampignano (2017) teknik pemeriksaan

CT-Scan kepala secara keseluruhan hampir sama, hanya terdapat

persiapan pasien seperti melepas benda-benda logam di sekitar kepala

(anting-anting, penjepit rambut, dll) dan gigi palsu dengan tujuan agar

tidak timbul artefak. Selain itu untuk memastikan bahwa kepala tidak

rotasi dan miring, disebutkan bahwa dilihat dari Midsagital Plane (MSP)

pasien yang sudah tegak lurus dengan lantai. Sedangkan untuk

memastikan tidak adanya rotasi dengan cara dilihat dari kedua sisi kepala

kanan dan kiri yang saling simetris. Apabila keadaan pasien gelisah,

sebaiknya diberikan sedasi agar pemeriksaan dapat berlangsung dengan

baik.

33
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Kasus

1. Profil Kasus

Pada hari Kamis, 11 Oktober 2019, seorang pasien datang ke

Instalasi Radiologi diantar oleh keluarga dan perawat Instalasi

Gawat Darurat (IGD), dengan data pasien ebagai berikut:

Nama : Tn. S

Umur : 65 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal Lahir : 22 Oktober 1954

Alamat : Jati, Karanganyar

No. RM : 10479xxx

Klinis : COS

Permintaan Foto: MSCT Scan Kepala Tanpa Kontras dengan 3D

2. Riwayat Pasien

Pasien datang ke Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi

Surakarta dengan diantar keluarga dan perawat IGD sebagai

pendamping pasien, dengan lembar permintaan pemeriksaan CT-

Scan kepala. Dalam lembar permintaan pemeriksaan radiologi

tertulis klinis “COS, ICH + Fraktur Maxilla” dengan kondisi kepala

pasien terdapat lebam pada maxilla, kesadaran pasien menurun

34
dengan kondisi pasien gelisah. Kemudian kami melakukan scanning

kepala sesuai permintaan dokter pengirim.

B. Teknik Pemeriksaan

1. Pelaksanaan Pemeriksaan MSCT Kepala di Instalasi Radiologi

RSUD Dr. Moewardi Surakarta

a. Persiapan Alat dan Bahan

1) Alat

a) Pesawat MSCT

Merk : SIEMENS SOMATOM EMOTION

Type : DURA 422-MV

No. Seri : 665441873

Generasi : Spiral Multislices

Tahun Keluar : 2014

Kondisi : Baik

Gambar 3.1 Pesawat MSCT merk SIEMENS

35
b) Operator Console.

Gambar 3.2 Operator Console

c) Alat fiksasi kepala seperti head pads

Gambar 3.3 alat fiksasi kepala


d) Alat bantu pemindah pasien yaitu Easy Move

36
Gambar 3.4 Easy Move
e) Selimut

f) DVD

2) Bahan

Tidak ada persiapan bahan-bahan khusus karena

melakukan pemeriksaan CT-Scan Kepala non-kontras.

b. Persiapan Pasien

Tidak ada persiapan khusus pada pasien. Hanya melakukan

identifikasi pada pasien sesuai dengan prosedur. Berhubung

pasien tidak kooperatif, maka tidak diberikan edukasi mengenai

pemeriksaan yang akan dilaksanakan. Selain itu, memastikan

tidak terdapat logam di daerah kepala.

c. Proses Pemeriksaan MSCT Kepala

1) Posisi Pasien

Supine diatas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat

dengan gantry (head first).

37
2) Posisi objek

a) Memposisikan kepala fleksi dan meletakannya pada

head pads (bantalan kepala).

b) Meletakkan kedua tangan pasien disamping tubuh.

c) Memberikan selimut pada pasien.

d) Memposisikan kepala hingga Mid Sagital Plane kepala

sejajar dengan lampu indicator longitudinal dan Posisi

Meatus Acousticus Externus (MAE) sejajar dengan

axilarry line, berada setinggi lampu indikator

horizontal.

e) Mengatur batas atas pemeriksaan kepala, yaitu 2 jari

diatas vertex.

3) Proses Scanning

Langkah-langkah dalam melakukan scanning diantaranya

yaitu :

a) Setelah selesai memposisikan pasien, maka petugas

kembali ke bagian operator console untuk melakukan

scanning.

b) Tekan tombol register pada keyboard atau klik

Register pada menu bar kemudian input data pasien

dan klik Exam.

38
Gambar 3.5 Kotak Dialog Patient Registration.

c) Setelah mengisi data pasien, kemudian memilih jenis

pemeriksaan yang akan dilakukan (Brain Polos). Klik

OK  Load.

d) Muncul perintah START. Klik tombol yang

berlambang radiasi pada kontrol box untuk

melaksanakan perintah START.

e) Atur luas lapangan scanning atau penyinaran (FOV)

dengan batas atas vertex dan batas bawah inferior

mandibula.

39
Gambar 3.6 luas penyinaran (FOV)

f) Protocol MSCT Brain Polos dengan parameter sebagai

berikut.

Tebal Slice : 7 mm

Tegangan tabung : 130 kV

Arus Tabung : 240 mAs


Waktu : 26,57 detik tiap scanning

Penyudutan : 00
Gantry
Pitch : 0,55

Direction : Cranoicaudal

FOV : 284 mm

40
Gambar 3.7 Parameter Brain Polos

g) Kemudian muncul perintah MOVE. Untuk

melaksankannya tekan tombol pada kontrol panel. Lalu

tekan START. Proses scanning dimulai

h) Muncul gambaran topogram atau scanogram posisi

lateral.

d. Proses Rekonstruksi Gambar

MSCT merk SIEMENS ini mengadopsi sistem yang bernama

syngo. Dimana dalam sistem ini terdapat enam jendela utama

yaitu Examination, Viewing, Filming, 3D, DynEva, dan

Volume. Rekonstruksi dihasilkan dari gambaran scanning

pertama dimana protocol pemeriksaan yang telah ditentukan

saat proses scanning. Proses rekonstruksi akan dapat

menghasilkan gambaran yang kita inginkan untuk membantu

menegakkan diagnosa. Proses ini berlangsung pada jendela

utama 3D. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

a. Menekan tombol Patient Browser pada keyboard.

kemudian akan muncul kotak dialog di bawah ini.

41
Gambar 3.8 Kotak Dialog Patient Browser.

b. Memilih nama pasien, kemudian klik dua kali

gambaran Brain 0.75

c. Muncul gambaran CT-Scan potongan axial, coronal,

dan sagital.

d. Mensimetriskan gambar (dilakukan apabila gambar

tampak belum simetris)

e. Membuat Potongan Axial Brain

Langkah-langkahnya yaitu :

1) Klik tampilan gambar sagital.

2) Klik Setting - Parallel Range - Vertikal Range.

Kemudian akan muncul tampilan seperti

dibawah ini.

42
Gambar 3.9 Pararel range axial

3) Mengatur Image Thickness (7.0 mm) - Klik

Enter.

4) Mengunci angka dengan mengklik icon pengunci

5) Mengatur Distance Between Image (7.0 mm) –

Tekan kembali icon pengunci.

6) Mengatur Number of Image atau dapat dengan

cara menaikkan garis potongan pada gambar

sesuai dengan klinis pasien agar dapat

menampilkan patologi dengan jelas.

7) Mengklik Start yang berfungsi memotong

gambar

8) Kemudian pilih icon Save As, kemudian

mengetikkan nama “AXIAL BRAIN”

43
f. Membuat Potongan Axial Bone

1) Memilih jendela viewing pilih menu browser

atau klik tombol browser pada keyboard → klik

tombol Ctrl pada keyboard disertai dengan

memilih potongan yang telah dinamai AXIAL

BRAIN → drag gambar pada kotak yang ada di

jendela viewing.

2) Klik menu image → klik windowing → klik

bone

3) Kemudian pilih icon Save As kemudian

mengetikkan nama “AXIAL BONE”

g. Membuat gambaran 3D

Gambaran 3D bertujuan untuk melihat lebih

jelas patologi (fraktur) dan untuk mempermudah

pasien dalam memahami daerah yang mengalami

kerusakan.

Langkah-langkahnya:

1) Memilih salah satu potongan gambar (sagittal,

coronal, dan axial) kemudian klik type serta klik

kanan pada icon VRT (Volume Rendering

Technique) yang berfungsi merubah gambar 2D

menjadi 3D

44
2) Kemudian akan muncul kotak dialog pilihan

gamabar 3D seperti dibawah ini

Gambar 3.10 VRT Gallery

3) Mengklik pada icon osteo shaded .

4) Memilih gambaran axial dan membersihkan

gambar dari artefak.

5) Setelah memastikan organ bebas dari artefak,

selanjutnya mengatur organ kepala hingga

terletak pada pertengahan gambar 3D lalu atur

organ tampak Anteroposterior, lateral kanan,

lateral kiri, oblik kanan, oblik kiri, dan waters

kemudian pilih icon Save untuk menyimpan

gambar 3D.

h. Pengiriman hasil MSCT ke PACS

Di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi

Surakarta sudah tidak lagi melakukan proses filming,

melainkan folder hasil citra diexport di DVD

45
kemudian DVD tersebut diberikan kepada Radiolog

untuk dilakukan pengirimin ke system PACS.

2. Hasil Pemeriksaan dan Pembacaan Radiolog

a. Gambar hasil pemeriksaan dengan keadaan window soft tissue

(brain)

Gambar 3.11 Potongan Axial window brain (RSDM, 2019)

b. Gambar hasil pemeriksaan dengan keadaan window bone

46
Gambar 3.12 Potongan Axial window bone (RSDM, 2019)

c. Gambar hasil reformat dengan mode Volume Rendering (VR)

Gambar 3.13 Citra 3D dari berbagai pandangan (RSDM, 2019)

47
d. Hasil Bacaan Radiolog

Klinis : COS

MSCT SCAN KEPALA TANPA KONTRAS

Tampak multiple lesi hiperdens densitas darah (65HU) di lobus

frontalis bilateral disertai perifocal edema di sekitarnya

Tampak multiple lesi hiperdens densitas darah (67HU) mengisi

interhemisfer celebri aspek posterior

Tampak multiple lesi hiperdens densitas darah (57HU) mengisi

sulcy dan gyri region parietalis dan frontalis bilateral dan fissure

syilvii kiri

Tak tampak midline shifting

Sistem ventrikel dan sisterna tampak menyempit

Pons, cerebellum dan cerebellopontine angle normal

Tak tampak kalsifikasi abnormal

Orbita dan mastoid kanan kiri normal

Tampak lesi densitas darah (67HU) di sinus maksillaris

bilateral, sinus frontalis kanan dan sinus ethmoidalis bilateral

Craniocerebral space tampak menyempit

Tampak fraktur pada os frontais, os maksilaris bilateral, dinding

lateral et medial sinus maksilaris bilateral, os nasal bilateral,

lamina pterygoideus lateral et medial bilateral

Kesimpulan :

1. Contusion cerebri di lobus frontalis bilateral

48
2. SDH di interhemisfer cerebri aspek posterior

3. SAH di region parietalis dan frontalis bilateral dan fissure

sylvii kiri

4. Brain edema

5. Hematosinus maksilaris bilateral, sinus frontalis kanan dan

sinus ethmoidalis bilateral

6. Fraktur pada os frontalis, os maksilaris bilateral, dinding

lateral et medial sinus maksilaris bilateral, os nasal bilateral,

lamina pterygoideus lateral et medial bilateral

C. Pembahasan

Berdasarkan prosedur pemeriksaan yang dilakukan di Instalasi

Radiologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta, terdapat beberapa perbedaan

dengan teori yang disampaikan Bruce W. Long (2016) dan John P.

Lampignano (2017), antara lain:

1. Persiapan Pasien

Tidak terdapat persiapan khusus, hal ini dikarenakan

pemeriksaan yang dilakukan tidak menggunakan media kontras.

Pada kondisi pasien yang gelisah, seharusnya diberikan sedasi agar

keadaan pasien tenang dan dapat dilakukan pemeriksaan dengan

baik sehingga mengurangi adanya shading artifact.

49
2. Pelaksanaan Pemeriksaan

Pemeriksaan MSCT kepala yang dilakukan memiliki area

scanning sudah sesuai dengan teori yang disampaikan. Karena

kondisi pasien memiliki keadaan luka yang serius sehingga

memerlukan area scanning yang luas yaitu dari vertex sampai

dengan inferior mandibula agar tampak seluruh kelainan yang akan

dinilai.

3. Pengolahan Citra

Pengolahan citra yang dilakukan pada pemeriksaan CT-Scan

kepala dengan kasus cedera kepala dilakukan dengan Image

Thickness 7 mm, sedangkan terori yang disampaikan adalah 5 mm.

Hal ini disebabkan karena dengan menggunakan Image Thickness

7mm sudah dapat menampakkan keseluruhan citra dan dapat

membantu menegakkan diagnosa.

Salain perbedaan Image Thickness, pengolahan citra yang

dilakukan juga meliputi perubahan window, yaitu window brain

menjadi window bone. Hal ini bertujuan untuk memperjelas adanya

patologis bila pada window brain tidak dapat ditampakkan, maka

dapat ditampakkan pada window bone seperti fraktur, begitu juga

sebaliknya. Dan juga ditambah dengan permintaan gambaran 3D.

50
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari seluruh isi laopran kasus ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Keseluruhan teknik pemeriksaan MSCT kepala pada klinis Cedera

Otak Sedang (COS) yang dilaksanakan di RSUD Dr. Moewardi

Surakarta dengan protokol “Brain Polos” secara keseluruhan sudah

sesuai dengan teori dengan posisi pasien supine (head first). Scaning

menggunakan 1 range yaitu dari vertex sampai dengan inferior

mandibula dengan Image Thickness 7 mm, sedangkan pada teori

yang disampaikan adalah 5 mm. Hal ini disebabkan karena dengan

menggunakan Image Thickness 7mm sudah dapat menampakkan

keseluruhan citra dan dapat membantu menegakkan diagnosa.

B. Saran

Saran yang dapat disampaikan oleh penulis antara lain:

1. Pada pemeriksaan MSCT kepala pada klinis Cedera Otak Sedang

(COS) dengan kondisi pasien gelisah, sebaiknya diberikan sedasi

kepada pasien, agar pasien tetap tenang sehingga citra yang

dihasilkan dari pemeriksaan dapat baik.

51
DAFTAR PUSTAKA

Lampignano, P. John. Leslie E. Kendrick. 2017. Bontrager’s Textbook of

Radiographic Positioning and Related Anatomy 9th Ed. Missouri:

Elsevier

Long, Bruce W. Jeannean Hall Rollins. Barbara J. Smith. 2016. Merrill’s

Atlas of Radiographic Positioning & Procedures Vol. III 13th Ed.

Missouri: Elsevier

Netter, Frank H. 2011. Atlas of Human Anatomy 5th Ed. Missouri: Elsevier

_____. 2014. Atlas of Human Anatomy 6th Ed. Missouri: Elsevier

Permitasari, Lisa. 2012. Pengertian Cedera Kepala.

https://sugengmedica.wordpress.com/2012/03/09/cedera-kepala/

diakses pada tanggal 13 Oktober 2019 pukul 5:14

Saladin, Keneth S. 2010. Anatomy & Physiology The Unity of Form and

Function 8th Ed. New York: Mc Graw Hill

Seeram, Euclid. 2009. Computed Tomography Physical Principles, Clinical

Application, and Quality Control 3rd Ed. Missouri: Saunders

VanPutte, Cinamon, Jenifer Regan, Andrew Russo. 2016. Seeley’s Essential

of Anatomy & Physiology. New York: McGrawEducation

52
Lampiran 1

Lembar Permintaan Pemeriksaan

53
54