Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PEMICU 4 BLOK 16

Aduh… Gigiku kok sakit…

Oleh:
Kelompok 5
Dosen Pembimbing:
Drg. Wandania., MDSc., Sp.KG(K)
Drg. Irma Ervina., Sp.Perio(K)
Drg. Ariyani Dalmer., MDSc., Sp.Pros(K)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
Ketua : Theresia Octavia Butar Butar (170600204)
Sekretaris : Sofia Honora Sinaga (170600210)
Anggota :
Nadiyah Atika Putri (170600041)
Khoirunissa (170600042)
Gieska Lailarahma (170600043)
Vidi Putri Kurnia (170600044)
Amalia Retno Giantyana (170600046)
Jessica Angelita Claudia Br. Sinulingga (170600047)
Ummu Mahfuzzah Nur Salam (170600048)
Ayu Mayang Sari Rangkuti (170600049)
Clarinta Simangunsong (170600201)
Erick Kho (170600202)
Febby Maulina (170600205)
Nada Fairuzia Soadi (170600206)
Melli Fiary Panjaitan (170600207)
Nurhalijah (170600208)
Assajdah Nasution (170600209)
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat waktu. Makalah ini berjudul
“Kompromis Medis”
Kami mengucapkan terima kasih kepada fasilitator kami sehingga kami bisa menemukan
titik tengah dari permasalahan kami. Terima kasih juga kepada seluruh anggota kelompok yang
telah membantu supaya makalah ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Makalah ini berisi kesimpulan yang kami dapat selama melakukan simulasi dalam pemicu
5. Dalam makalah ini, kami memaparkan tentang Penatalaksanaan pencabutan gigi pada pasien
dengan penyakit sistemik anemia defisiensi besi. Kami berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi
para pembaca. Kami yakin makalah ini masih ada banyak kekurangan maka dari itu kami berharap
kritik dan saran pembaca terhadap makalah kami.

Medan, 25 oktober 2019

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
pulpa merupakan suatu jaringan lunak yang terletak didaerah tengah pulpa. Salah satu penyakit
pulpa yaitu Nekrosis pulpa atau kematian jaringan pulpa adalah kondisi irriversible yang
ditandai dengan destruksi jaringan pulpa. Kematian jaringan pulpa terjadi karena sistem
pertahanan pulpa yang sudah tidak dapat menahan besarnya rangsan. Akibatnya jumlah sel
pulpa yang sudah rusak semakin bertambah banyak dan menempati sebagian besar kamar
pulpa. Akibat dari rusaknya gigi maupun jaringan pilpa dapat menyebabkan gigi terasa sakit
sehingga penderita akan mengunyah pada satu sisi rahang. Dimana kebiasaan tersebut akan
berpengaruh pada asimetri wajah, gangguan TMJ, serta oral hygiene yang buruk. Untuk itu
perlu pertimbangan perawatan serta pemilihan perawatan yang tepat untuk memperbaiki
keadaan menjadi lebih baik.

1.2 Deskripsi Topik


Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang ke RSGM, dengan keluhan gigi belakang bawah
kanan dan kiri sakit dipakai makan. Anamnesis, sekitar dua bulan yang lalu gigi bawah kanan
terasa sakit berdenyut ketika dipakai makan sehingga pasien tidak menggunakan gigi tersebut
untuk mengunyah. Gigi bawah kiri belakang sudah seminggu ini terasa sakit ketika dipakai makan.
Tiga tahun lalu pasien pernah ke dokter gigi dengan keluhan sakit ketika minum dingin pada gigi
bawah kiri dan dilakukan tumpatan oleh dokter gigi. Pasien sering konsumsu diet yang keras.
Hasil pemeriksaan klinis:
Gigi 36 : - Perkusi (+)
- Lesi furkasi (+)
- Poket absolut: distal 10 mm
- EPT (-)

Gigi 46 : - Perkusi (+)


- Lesi furkasi (+)
- Poket absolut: mesial 6 mm, distal 8 mm
- EPT (-)
- Mobiliti 02
1.3 Learning Issue
- Kelainan periodontal
- Kelainan endodonti
- Perawatan periodontal
- Gambaran radiografi
BAB II
PEMBAHASAN

1. Jelaskan kelainan pada gigi 36 dan 46 berdasarkan keluhan, gambaran klinis dan
radiografis!1
Kelainan pada gigi 36 : Periodontitis apikalis simtomatis et causa nekrosis pulpa
Karena diketahui dari kasus, keluhan pasien pada gigi 36 yaitu sakit saat minum dingin pada
3 tahun yang lalu artinya terjadi pulpitis irriversible dan kemudian dilakukan tumpatan metal yang
terlihat pada gambar sudah rusak yang akan menyebabkan berlanjutnya menjadi nekrosis pulpa.
Sakit saat mengunyah itu disebabkan oleh resesi tulang alveolar (poket absolut pada distal 10 mm).
Pada gambaran klinis juga mennunjukkan adanya diskolorisasi/perubahan warna gigi menjadi
kehitaman dikarenakan pulpa yang nekrosis
Hasil pemeriksaan klinis gigi 36 :
 Perkusi (+)
 Lesi furkasi (+)
 Poket absolut: pada distal 10 mm
 EPT (-)

Hasil pemeriksaan radiografi gigi 36 :

 Mahkota : terdapat gambaran radiopak pada mahkota dari coronal sampai kamar pulpa
yang menunjukkan adanya tumpatan MOD metal
 Akar : 2
 Lamina dura : terputus-putus pada bifurkasi dan menghilang pada akar mesial dan distal
 Membran periodontal : melebar pada apikal akar mesial dan pada akar distal
 Furkasi : terdapat radiolusen sampai apikal akar distal
 Crest alveolar : menghilang pada bagian distal
 Periapikal : terdapat lesi periapikal pada ujung akar mesial dan distal
Kelainan pada gigi 46 : Nekrosis Pulpa

Nekrosis pulpa atau kematian jaringan pulpa adalah kondisi irriversible yang ditandai dengan
destruksi jaringan pulpa. Kematian jaringan pulpa terjadi karena sistem pertahanan pulpa yang
sudah tidak dapat menahan besarnya rangsan. Akibatnya jumlah sel pulpa yang sudah rusak
semakin bertambah banyak dan menempati sebagian besar kamar pulpa.
Diketahui keluhan pasien pada gigi 46 : 2 bulan yang lalu sakit berdenyut ketika dipakai makan
Didapatkan pemeriksaan klinis gigi 46 :
 Perkusi (+)
 Lesi furkasi (+)
 Poket absolut: pada mesial 6mm, distal 8mm
 EPT (-)
 Mobiliti °2
 Banyak penumpukan plak dan kalkulus dikarenakan pasien tidak memakai gigi tersebut
untuk mengunyah

Hasil radiografi gigi 46 :

 Mahkota : terdapat gambaran radiolusen dari coronal sampai kamar pulpa


 Akar : 2
 Lamina dura : menghilang
 Membran periodontal : melebar pada furkasi, mesial, dan distal
 Furkasi : terdapat radiolusen pada furkasi bagian mesial
 Crest alveolar : destruksi tulang alveolar pada periapikal secara vertikal
 Periapikal TAK

2. Jelaskan kemungkinan etiologi gigi 36 dan 46 tersebut dan patofisiologinya!2


Etiologi:
- Faktor Utama: Bakteri
- Faktor Pendukung: Diet yang keras
Nekrosis pulpa sebagai kematian pulpa dapat diakibatkan oleh pulpitis irreversible yang tidak
terawat atau terjadi trauma oklusi dapat mengganggu suplai darah ke pulpa. Jaringan pulpa yang
tertutup oleh email dan dentin yang kaku, sehingga tidak memiliki sirkulasi darah kolateral,
Nekrosis pulpa berasal dari proses inflamasi dan adanya kolaps pembuluh darah. Apabila eksudat
yang dihasilkan selama pulpitis irreversible di drainase melalui kapitas gigi karies atau pulpa yang
terbuka, proses nekrosis akan tertunda dan jaringan pulpa sekitar tetap vital dalam jangka waktu
yang lebih lama. Tapi bila terjadi hal sebaliknya mengakibatkan nekrosis pulpa yang cepat bahkan
total. Selain dari faktor mikroorganisme, disfungsi saliva, mengunyah secara unilateral dan
terjadinya inflamasi kelainan tersebut juga disebabkan kontak oklusi yang tidak baik atau tidak
tepat.

Patofisiologi :
Jaringan periodontal seperti gingiva, sementum, ligamen periodontal dan alveolar Bone
merupakan jaringan yang mendukung dan mengelilingi gigi berperan meredam tekanan oklusi
yang diterima oleh gigi. Apabila secara fisiologis tekanan tersebut melebihi batas kemampuan
maka akan terjadi destruksi tulang seperti osteonecrosis. Hal ini sejalan bila dikaitkan pada
skenario, pasien dengan one side Chewing habit mengakibatkan trauma oklusi sehingga pada
gambaran aspek radiografi pasien mengalami Bone loss .

Pada saat gingiva resesi, sementum akan terkuak, ini merupakan akses masuknya bakteri
karena menghubungkan antara rongga/saluran pulpa dengan jaringan periodontal melalui tubulus
dentinalis. Selain itu, dari coronalis lateralis pada 1/3 akar gigi dan kanal aksesoris pada bifurkasi
juga sebagai tempat masuknya bakteri/iritasi yang biasanya banyak dijumpai di pembuluh darah
dan jaringan ikat sehingga menghubungkan sirkulasi pulpa ke jaringan periodontal.

3. Jelaskan klasifikasi derajat lesi furkasi dan termasuk derajat berapakah lesi furkasi
gigi 46 tersebut!3
Klasifikasi Derajat Lesi :
- Derajat I
Lesi Derajat I termasuk cacat taraf awal, dimana lesi jaringan lunak meluas ke daerah
furkasi dengan destruksi tulang yang masih minimal. Bila daerah furkasi diprobing, prob
hanya dapat masuk sedikit ke daerah furkasi (<1 mm) Pada foto ronsen bisa terlihat sedikit
destruksi tulang, tetapi bisa juga belum terlihat.

- Derajat II
Lesi derajat II termasuk kategori sedang. Lesi jaringan lunak telah disertai kehilangan
tulang yang memungkinkan prob bisa dimasukkan ke daerah furkasi dari salah satu sisi
(bukal/oral) > 1mm tapi belum tembus ke sisi lainnya.

- Derajat III
Lesi dengan destruksi tulang yang hebat yang memungkinkan prob dapat dimasukkan dari
satu sisi sampai tembus ke sisi berseberangan, tetapi daerah furkasi masih ditutupi oleh
jaringan lunak

- Derajat IV
Lesi yang sama dengan derajat III tetapi daerah furkasi sudah tersingkap tidak lagi
dilindungi oleh jaringan lunak

Dilihat dari kasus, gigi 46 termasuk pada klasifikasi Derajat III karena pada Derajat III tulang tidak
melekat pada furkasi. Terlihat juga dari gambaran radiografi, periapikal di gigi 46 sudah terlihat
adanya kehilangan tulang dari bukal sampai lingual, namun dari pemeriksaan klinis bahwa gigi 46
masih dilindungi oleh jaringan lunak.

4. Jelaskan klasifikasi lesi endo-perio dan termasuk klasifikasi lesi endo-perio yang
manakah pada gigi 36 dan 46!
Gigi 36 : true combine
Alasan: Dari hasil radiografi terlihat lesi radiolusen pada daerah koronal dan apikal
memiliki luas yang hampir sama. Lesi endo perio telah bergabung. Terlihat pada apikal
daerah radiolusen dapat disebabkan oleh karena pasien memiliki tambalan dan suka
mengkonsumsi makanan keras sehingga pada restorasu dapat mengalami kebocoran

Gigi 46: true combine


Alasan: Poket perio pada mesial 6mm distal 8mm. Terlihat adanya plak dan nekrosis pulpa

5. Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis kasus yang
melibatkan jaringan pulpa dan periodonsium?4.5
Diagnosis tetap harus ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis, tes vitalitas dan probing
periodontal juga radiograf. Tahap pemeriksaan pada pasien di kasus, yaitu:
1. Subjektif Sign and Symptoms
Riwayat lengkap, lokasi, durasi, intensitas, dan frekuensi rasa sakit. Kaitkan dengan rasa
sakit yang sedikit atau signifikan
Diketahui dari skenario :
- Lokasi : gigi belakang bawah kanan dan kiri sakit dipakak makan
- Intensitas : sakit dipakai makan
- Frekuensi : berdenyut

2. Visual Examination
Pemeriksaan pada gigi dan jaringan gingiva seperti karies, restorasi luas, mahkota yang
berubah warna terkait lesi endodontik. Adanya plak kalkulus dan gingivitis periodontitis
menunjukkan adanya penyakit periodontal

3. Clinical Test
Gigi yang terinfeksi harus diperiksa apakah ada karies, tambalan yang rusak ataupun
overhanging, garis fraktur, dycrhomia, dan elemen lain yang berkaitan dengan penyakit pulpa.
A. Tes vitalitas
Tes vitalitas : (termal, elektrik, dan tes kavitas) bisa memberikan gambaran kemungkinan
asal penyakit.
Skenario : pada gigi 36 dan 46 pemeriksaan EPT (-)

B. Palpasi dan Perkusi


Palpasi jaringan lunak karena menandakan adanya gingivitis atau periodontitis. Sensitivitas
palpasi pada root apeks nekrosis pulpa menunjukkan adanya lesi periapikal. Perkusi positif
sampai taraf tertentu menunjukkan adanya respon inflamasi pada ligamen periodontal
Skenario : perkusi pada gigi 36 dan 46 (+)

C. Probing
Probing yang dalam dan lebar biasanya tidak sampai ke apeks gigi yang terlibat dan
biasanya berasal dari lesi periodontal. Sebaliknya, lesi yang berasal dari pulpa biasanya
sempit dan meluas ke kanal lateral / foramen apikal.
Skenario :
- gigi 36 : poket absolut distal 10mm
- gigi 46 : poket absolut mesial 6mm dan distal 8mm

D. Mobiliti
Gigi goyang (mobilitas) derajat 2-3 atau lebih biasanya menandakan kerusakan dari
jaringan periodontal. Skenario: Mobiliti o2

4. Pemeriksaan radiografi
Lesi peridontal umumnya kehilangn tulang angular (sudut memanjang dari daerah servikal ke
apeks). Lesi periapikal karena kerusakan apikal periodonsium biasanya meluas dari koronal ke
CEJ. Lesi periapikal biasanya pada satu gigi dan sembuh setelah melakukan triad of endodontics
dengan benar.

6. Jelaskan rencana perawatan untuk gigi 36 dan 46!6


Gigi 36: perawatan saluran akar + crown.
Fase I:
terapi awal / etiotropik, tujuannya mengeliminasi faktor etiologi dan faktor-faktor
predisposisi.
Meliputi: scalling, buka tumpatan sebelumnya / koreksi restorasi, penyingkiran poket
periodontal.
Fase II:
tujuan bedah periodontal yaitu, untuk mengontrol / mengeliminasi penyakit periodontal,
meliputi perawatan poket periodontal dan mengoreksi kondisi anatomis yang data
mendukung
terjadinya penyakit periodontal &amp; mengganggu estetis. Lalu perawatan saluran akar.
Fase III:
terapi rekonstruktif yaitu, pembuatan restorasi crown.
Fase IV:
terapi pemeliharaan untuk mempertahankan kesehatan jaringan periodonsium setelah
terapi-
terapi sebelumnya dan mengontrol infeksi &amp; mencegah terjadinya rekurensi. Lalu
kunjungan berkala,
reevaluasi poket gingiva & inflamasi.
gigi 46
Fase 1 : - kontrol plak dan root planing
- dental health education
- penyesuaian oklusal
- radiografi sebelum perawatan
Fase 2 : PSA
Poket 8 mesial 6 distal -> open flap bone graft
-> lakukan evaluasi terhadap fase 2
Fase 3 : pembuatan restorasi tetap untuk gigi 46
-> lakukan evaluasi terhadap fase 3
Fase 4 : maintenance
•untuk mencegah terjadinya kekambuhan baik pada gigi maupun penyakit periodontal
•melakukan kontrol minimal 3 bulan atau 6 bulan sekali
•edukasi pasien dengan aplikasi fluoride

7. Jelaskan prosedur perawatan untuk gigi 46!7


Prosedur yang dilakukan untuk gigi 46
- Kontrol plak
- Scalling dan root planning untuk mengurangi kedalaman poket
- Splinting karena gigi sudah mobiliti derajat 2
- Dilakukan PSA
Dilakukan foto rontgen
Isolasi gigi dengan rubber dam
Preparasi akses
Pulp debriment dengan file (ekstirpasi jaringan pulpa)
Pengukuran panjang kerja
Cleaning &amp; shaping dengan K-File
Irigasi dengan NaOCl 2,5%
Obturasi saluran akar dengan guttaperca
Restorasi akhir
- Langsung dilakukan bedah flap periodontal regenerasi jaringan terarah
Pembukaan flep dengan fulltickness
Diberikan bone graft degan harapan pertumbuhan tulang lah yang pertama kali
terjadi
Ditutup dengan membran. Dan membran ada yang teresorbsi dan tidak. Jika
digunakan membran yang teresorbsi 2-3 bulan akan menyatu dengan gigngiva,
jika menggunakan membran yang tidak teresorpsi 2-3 bulan membran nya
dibuka dan akan terlihat adanya regenerasi tulang
Kontrol berkala

8. Jelaskan apa yang akan terjadi bila pasien mengunyah satu sisi!8
- asimetri wajah:
Mengunyah satu sisi merupakan salah satu etiologi terjadinya asimetri wajah. Hal ini
disebabkan jika mengunya satu sisi pada waktu yang lama akan menyebabkan
perkembangan sisi non kunyah akan lebih rendah dibanding sisi kunyah. Pada penelitian
yang dilakukan pada 70 orang sekitar 92% dengan kebiasaan kunyah satu sisi
menyebabkan lebar wajah yang tidak sama
- gangguan TMJ
Mengunyah sebelah sisi yaitu tidak seimbangnya distribusi kekuatan oklual. Sendi yang
melakukan gerakan lebih ekspensif ( non working side) dilumai dan dapat bertukar
metabolik dengan lebih baik dari pada sisi yang tidak bergerak ( working side) , namun
hanya gigi pada sisi kerja yang distimulasi: sehingga sistem stogmatonosa tidak dapat
bekerja dengan seimbang.
Karena masseter mengatur TMJ, terutama pada npn working side, pada habitual chewing
tmj side dapat menjadi overloaded ketika digunakan sebagai working side ( ketika pasien
menggunakan sisi kunyah yang tidak biasa) dan akan menjadi overloaded TMJ dan rasa
sakit

- akumulasi plak : pada regio gigi yang tidak pernah atau jarang digunakan akan lebih kotor
dibanding regio yng sering dipakai karena proses pengunyahan mempunyai kemampuan
untuk membersihkan gigi. Di dalam mulut, saliva merupakan cairan protektif. Rendahnya
sekresi saliva dan kapasitas buffer menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk
membersihkan sisa makan dan sebagai antibakteria. Gigi geligi yang tidak melakukan
aktivitas pengunyahan akan terjadi penurunan aliran saliva

9. Apakah faktor yang harus dipertimbangkan untuk mengembalikan stomatognasi


pada kasus diatas, jelaskan !
Karena pasien pada kasus mempunyai kebiasaan mengunyah pafa satu sisi, maka hal- hal yang
perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan stomatognasinya menurut saya adalah :
a. Mencari tahu apa penyebab utama pasien tersebut mengunyah pada satu sisi. Terlihat pada
skenario bahwa pasien mengunyah pada satu gigi karena gigi 36 dan 46 mengalami
masalah
b. Pada gigi 36 kemungkinan rasa sakit/nyeri terjadi karena tambalan pada gigi tersebut sudah
rusam, karena pasien punya diet keras, oleh karena itu restorasi jadi rusak sehingga bakteri
berpenetrasi ke jaringan periodontalnya. Nah inilah yabg menjadi pertimbangan dokter gigi
untuk melakukan restorasi ulang pada gigi tersebut bisa kembali lagi fungsinya.
c. Pada gigi 46
Kemungkinan penyebab umumnya ialah karena poket yang terlalu dalam pada gigi
tersebut, giginya mengalami mobiliti, ditambah lagi jaringan- jaringan pendukung gigi
tersebut banyak yang mengalami resorpsi, maka dari itu dokter gigi perlu
mempertimbangkan untuk melakukan scalling, splinting terlebih dahulu dan melakukan
perawatan periodontal yaitu bedah flep untuk mengembalikan fungsi jaringan periodontal
tersebut.
Dokter gigi perlu mempertimbangkan untuk memberikan edukasi tentang diet yang bak pada
pasien. Dokter gigi menyarankan kepada pasien untuk mengubah pola diet kerasnya, jaringan
hanya memakan yang keras2 saja, tetapi dibarengi dengan diet lunak, karena jika konsumsi diet
keras terus menerus dikhawatirkan dapat beefek pada TMJ dan Condylarnya karena tekanan
mastikasi yang terlalu berlebihan.

10. Bagaimana prognosis kasus diatas?9


Pada dasarnya prognosis keberhasilannya dipengaruhi aspek periodonsium suatu prognosis
akan baik apabila sisa jaringan periodonsiumnya memadai dan secara radiografis masih ada tulang
yang menyangga, saluran akarnya yang jelas dan pasien kooperatif. Untuk gigi 36 prognosisnya
baik sebab kehilangan tulang masih sampai Servical distal. Dengan kata lain masih ada tulang
yang menyangga. Untuk gigi 46 adalah buruk, dimana ditemukan banyak kehilangan tulang
sedang sampai parah, mobiliti gigi, lesi furkasi derajat 3

DAFTAR PUSTAKA
1. Internasional Endodontics Journal : Pulp Canal Obturation. Endi. Diagnostic and
Treatment Dialogue
2. Daing A. Management of Periodontal Lession Associated with Traumatic Bite:int journal
Dent. 2012;2(3): 48-53
3. Daliemunthe SH. 2006. Terapi Periodontal. Hal. 24-25. Medan: FKG USU
4. Proceeding perios 3. The 3rd periodontik seminar. Cosmetic and functional in modern
periodontic. Surabaya, 21-22 juni 2017. Dwingadi E, dkk. Diagnosis dan penatalaksanaan
lesi endo-perio sari pustaka. Hal: 152-158.
5. Torubinejad M, Walton RE, Fouad AF. Endodontics Principle and Practice. 5th ed.
Riverport Lane : Elsevier Sounders, 2015:115-160
6. Sulistio I, Kristanti Y. 2014. Penatalaksanaan Lesi Endo-Perio dengan Perawatan
Endodontik Non Bedah. Yogyakarta: Maj Ked Gi; 21(1): 56 - 60.
7. Grossman LI, Seymour Oliet, Carlos E Der Lio. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Alih
Bahasa. Rafiah Abyono. Jakarta: EGC, 1995: 141.
8. santan mora, dkk. “temporo mandibula risorders : the habitual chewing side syndrome”.
Plasone. 2013; 8 (4)
9. Kumar R, Patil S, Hoshing U, Medha A, Mahaparale R. Non-surgical endodontic
management of the combined endo-perio lesion. Int J Dent Clin. 2011; 3(2): 82-84.