Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum

Dasar-Dasar Ekologi

SUKSESI

Nama : Anggy Stefhani Tulak

NIM : G011191016

Kelas : Dasar-Dasar Ekologi H

Kelompok : 15

Asisten : 1. Gavrilla Chavvah Bijang Sahetapy

2. Agus Mappa

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Vegetasi merupakan istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan di suatu
tempat tertentu, mencakup baik perpaduan komunal dari jenis-jenis flora
penyusunnya maupun tutupan lahan (ground cover) yang dibentuknya. Vegetasi
merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu
ekosistem, dalam area yang lebih sempit, dan relung ekologis. Beraneka tipe
hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi.
Suksesi merupakan tahap perkembangan dan pertumbuhan suatu ekosistem
menuju kedewasaan dan keseimbangan. Proses suksesi terjadi apabila terdapat
gangguan dalam suatu ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah
komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang
(homeostatis). Perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat dengan
mudah diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas
oleh komunitas lain.
Di alam terdapat dua macam suksesi yaitu suksesi primer dan suksesi
sekunder. Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini
mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat
komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami,
misalnya tanah longsor, letusan gunung merapi, endapan lumpur yang baru di
sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan
manusia misalnya penambangan timah, batu bara, dan minyak bumi.
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik
secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat
tumbuh organisme, sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan
kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang
laut, kebakaran, angina kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan
dan pembakarn padang rumput dengan sengaja.
Berdasarkan uraian diatas maka dalam laporan ini akan membahas mengenai
hasil suksesi yang dilakukan dengan membuat lahan ukuran 1m x 1m dan dibagi
menjadi 2 bagian. Ada 2 tempat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
percobaan pada tempat yang ternaungi dan tidak ternaungi. Tujuan dilakukan hal
tersebut adalah untuk mengetahui kecepatan suksesi yang terjadi.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui tahap-tahap dan proses suksesi
yang terjadi pada komunitas tumbuhan bawah sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan.
Dengan melakukan percobaan ini, diharapkan dapat memberikan
pengetahuan mengenai proses suksesi dan faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan suksesi terjadi pada suatu ekosistem di alam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Suksesi


Pengertian sukses ada beberapa macam. Ada yang secara umum dan ada yang
menurut pendapat para ahli. Suksesi secara umum adalah proses perkembangan
ekosistem menuju keseimbangan yang lebih stabil. Suksesi adalah suatu proses
perubahan yang berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu
komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk suatu komunitas baru
yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan kata lain suksesi dapat diartikan
sebagai perkembangan ekosistem yang tidak seimbang menuju suatu
keseimbangan yang stabil. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan
fisik dalam komunitas atau ekosistem (Arianto, 2009).
Pengertian Suksesi ekologi adalah suatu proses dimana terjadi perubahan
komponen-komponen spesies dalam suatu komunitas selama selang waktu
tertentu. Menyusul adanya sebuah gangguan, suatu ekosistem biasanya akan
berkembang dari mulai tingkat organisasi sederhana (misalnya beberapa spesies
dominan) hingga ke komunitas yang lebih kompleks (banyak spesies yang
interdependen) selama beberapa generasi (Sutomo, 2009).
Suksesi adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu
menuju ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil. Proses suksesi akan
berakhir apabila lingkungan tersebut telah mencapai keadaan yang stabil atau
telah mencapai klimaks (Gunawan, 2015)
2.2 Konsep Dasar Suksesi
Konsep suksesi ini didasarkan pada sistem perubahan komunitas yang teratur
secara hierarki yaitu terjadi perubahan gradual menuju staus klimaks. Prinsip
dasar dalam suksesi adalah adanya serangkaian perubahan komunitas tumbuhan
bersamaan dengan perubahan tempat tumbuh. Perubahan ini terjadi secara
berangsur-angsur dan melaui beberapa tahap dari komunitas tumbuhan sederhana
sampai klimaks. Selanjutnya dinyatakan bahwa umumnya suksesi hutan akan
bertambah keanekaragamannya seiring dengan waktu (Mukhtar, 2012).
Ide klasik dari suksesi diterangkan secara detail oleh Clements yang
mengembangkan teori suksesi tumbuhan dan perkembangan komunitas yang
disebut hipotesis monoklimaks. Menurut Clements komunitas biotik merupakan
super organisme yang sangat terintegrasi yang berkembang dengan proses suksesi
menuju satu titik akhir di area manapun yang disebut klimaks (Clements, 1916)
Spesies tumbuhan pada fase pioner akan mengubah lingkungan sehingga
lingkungan tersebut sesuai untuk spesies-spesies ang lainnya, siklus ini terjadi
secara terus menerus sehingga status klimaks tercapai. Menurut pendapat ini
suksesi terbalik tidaklah mungkin kecuali jika ada gangguan. Asumsi pertama dari
teori ini menyatakan bahwa pergantian satu spesies dengan yang lainya
disebabkan pada masing-masing tahapan dalam hidupnya, spesies-spesies tersebut
mengubah lingkungan sehingga lingkngan yang ditempati menjadi kurang sesuai
untuk dirinya dan lebih sesuai untuk yang lain (Clements, 1916)
2.3 Jenis-Jenis Suksesi
Menurut Wanggai (2009) suksesi dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu
suksesi primer dan suksesi sekunder.
2.3.1 Suksesi primer
Suksesi primer adalah perkembangan tumbuhan secara gradual pada suatu
daerah yang sama sekali belum ada vegetasi hingga mencapai keseimbangan atau
klimaks. Suksesi ini dikenal dengan suksesi autogenik karena muncul pada
kondisi dengan faktor-faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi
pertumbuhan individu dalam komunitas tumbuh-tumbuhan tersebut.
Suksesi primer dimulai dengan kehadiran tumbuhan pionir disuatu tempat
berbatu yang belum pernah dijumpai adanya komunitas biotik tersebut
sebelumnya, kemudian menjadi ekosistem hutan klimaks (climax forest
ecosystem). Terjadi bila komunitas asal mengalami gangguan berat sekali,
sehingga mengakibatkan komunitas asal hilang secara total, dan di
tempat komunitas asal terbentuk komunitas lain di habitat baru
tersebut. Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk
komunitas asal tertinggal. Pada habitat tersebut secara perlahan, dan pasti akan
berkembang menuju suatu komunitas yang klimaks dalam waktu lama. Proses
suksesi primer ini membutuhkan waktu yang lama sampai ratusan tahun.
2.3.2 Suksesi sekunder
Suksesi sekunder ini muncul pada daerah yang sebelumnya ada vegetasi,
baik sebagian maupun hampir seluruhnya telah rusak. Suksesi ini dikenal dengan
istilah alogenik (allogenik sucsesion) karena berbagai faktor secara terpisah
mempengaruhi tiap individu tumbuhan dan habitatnya sehingga turut
mempengaruhi perubahan dalam perkembangan komunitas vegetasi tersebut
secara keseluruhan (misalnya kebakaran, perladangan, larva gunung berapi, atau
serangan hama dan penyakit secara periodik). Proses suksesi sekunder relatif sama
dengan yang terjadi pada suksesi primer. Perbedaannya hanya terletak pada
keadaan kerusakan dan kondisi awal dari habitatnya. Terjadinya gangguan
menyebabkan komunitas alami tersebut rusak baik secara alami maupun buatan,
dimana gangguan tersebut tidak merusak total komunitas dan tempat hidup
organisme substrat lama.
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Suksesi
Menurut Setiowati dkk (2007) kecepatan proses suksesi dalam suatu
ekosistem dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan.
2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu.
3. Kehadiran pemencar benih.
4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji,
spora dan benih serta curah hujan.
5. Jenis substrat baru yang terbentuk
6. Sifat – sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
2.5 Analisis Vegetasi Tingkat Perkembangan Ekosistem
Analisa vegetasi adalah cara untuk mempelajari susunan (komposisi jenis)
dan bentuk (struktur) dari vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk
suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya
dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk
mewakili habitat tersebut. Dalam hal ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan,
yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh , dan teknik analisa
vegetasi yang digunakan (Irwanto, 2010).
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu
jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil
agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau
pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan
jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat
mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies
Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan luas
minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur dan jumlah
minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur
yang mewakili jika menggunakan metode jalur (Irwanto, 2010).
Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk
populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam
menentukan struktur komunitas. Sifat – sifat individu ini dapat dibagi atas dua
kelompok besar, dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat
kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan atau
frekuensi, kerapatan, dan banyaknya (Indriyano, 2010).
Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus
dipertimbangkan dan diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang
diperoleh dari sample. Keempat sifat itu adalah ukuran petak, bentuk petak, serta
yang terakhir adalah jumlah petak (Indriyano, 2010).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Teaching Farm, Fakultas Pertanian,
Universitas Hasanuddin pada pukul 16.00 WITA- selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum suksesi ini adalah meteran, patok,
tali raffia, cangkul, golok, alat tulis, korek, dan tally sheet.
Bahan yang digunakan pada praktikum suksesi ini adalah lahan atau suatu
komunitas yang teduh (ternaungi) dan tempat yang terkena langsung cahaya
matahari atau tempat terbuka (tidak ternaungi) dengan ukuran 1m x 1 m.
3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Pada tempat teduh (ternaungi) lahannya dibagi menjadi dua bagian dengan
menggunakan plot ukuran 1m x 1m.
2. Lakukan analisis vegetasi pada petak tersebut, sehingga diperoleh data: nama
jenis, jumlah jenis, dan jumlah individu.
3. Pada plot pertama, bersihkan dari semua vegetasi yang terdapat di dalamnya
dengan menggunakan cangkul dan golok sampai ke akar-akarnya. Plot kedua
lahannya dibakar dengan menggunakan korek.
4. Lakukan hal yang sama seperti di atas untuk tempat yang terbuka (tidak
ternuaungi) langsung terkena sinar matahari.
5. Amati perkembangan jenis tumbuhan yang mucul setiap minggu, catat nama
jenis tumbuhan dan jumlahnya setiap sub patok contoh, paling sedikit selama
6 pekan.
6. Pada pekan terakhir pengamatan, lakukan analisis vegetasi seperti sebelum
diberikan perlakuan.
DAFTAR PUSTAKA

Arianto. 2009. Pengertian Suksesi Hutan. Jakarta: CV Mulia Karya.

Clements, F.E. 1916. Plant Succession. An Analysis of The Development


of Vegetation. Carnegie. Inst. Washington

Gunawan, H. 2015. Suksesi Sekunder Hutan Terganggu Bekas Perambahan di


Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat. Jurnal Pros SEM NAS
MASY BIODIV INDON Vol (1): 1591-1599.

Indriyano. 2010. Ekologi Hutan. Lampung: Penerbit Bumi Aksara.

Irwanto. 2010. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung.


Tesis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Mukhtar. 2012. Keadaan Suksesi Tumbuhan Pada Kawasan Bekas Tambang


Batubara di Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam 9 (4) : 341-350.

Setiowati dkk . 2007. Biologi Interaktif Kelas X IPA. Jakarta: Ganeca Exact.

Sutomo. 2009. Kondisi Vegetasi Dan Panduan Inisiasi Restorasi Ekosistem Hutan
Di Bekas Areal Kebakaran Bukit Pohen Cagar Alam Batukahu Bali (Suatu
Kajian Pustaka). Jurnal Biologi XIII (2) : 45 – 50

Wanggai, Frans. 2009. Manajemen Hutan . Jakarta: Gramedia Widiasarana


Indonesia.