Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

CORPUS ALIENUM DI TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN

Disusun oleh:
David Johan Varianto
406181002

Pembimbing:
dr. Ardhian Noor W, Sp.THT, KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA


KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT
PERIODE 4 FEBRUARI 2019 – 10 MARET 2019
RSUD RAA SOEWONDO PATI
BAB I
PENDAHULUAN

Definisi benda asing di dalam suatu organ adalah benda yang berasal dari luar tubuh
atau dari dalam tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada.
Kerongkongan sebagai jalan masuknya makanan dan minuman secara anatomis terletak di
belakang tenggorokan (jalan nafas). Kedua saluran ini sama-sama berhubungan dengan lubang hidung
maupun mulut. Agar tidak terjadi salah masuk, maka di antara kerongkongan dan tenggorokan terdapat
sebuah katup (epiglottis) yang bergerak secara bergantian menutup tenggorokan dan kerongkongan
seperti layaknya daun pintu. Saat bernafas, katup menutup kerongkongan agar udara menuju
tenggorokan, sedangkan saat menelan makanan, katup menutup tenggorokan agar makanan lewat
kerongkongan. Tersedak dapat terjadi bila makanan yang seharusnya menuju kerongkongan, malah
menuju tenggorokan karena berbagai sebab.1

Gambar 1.1 Jalan masuknya makanan dan minuman ke dalam saluran nafas 1

Obstruksi jalan napas oleh benda asing pada orang dewasa sering terjadi pada saat
makan, daging merupakan penyebab utama obstruksi jalan napas meskipun demikian berbagai
macam bentuk makanan yang lain berpotensi menyumbat jalan napas pada anak-anak dan
orang dewasa. 1
Benda asing dalam suatu organ dapat terbagi atas benda asing eksogen (dari luar tubuh)
dan benda asing endogen (dari dalam tubuh) yang dalam keadaan normal benda tersebut tidak
ada. Secara statistik, persentase aspirasi benda asing berdasarkan letaknya masing-masing
adalah; hipofaring 5%, laring/trakea 12%, dan bronkus sebanyak 83%. Rasio laki-laki banding
wanita adalah 1,4 : 1 Kebanyakan kasus aspirasi benda asing terjadi pada anak usia <15 tahun;
sekitar 75% aspirasi benda asing terjadi pada anak usia 1–3 tahun. 1 Hal ini terjadi karena anak
seumur itu sering tidak terawasi, lebih aktif, dan cenderung memasukkan benda apapun ke
dalam mulutnya2 Benda asing eksogen terdiri dari zat organik seperti kacang-kacangan, tulang,
dan lain-lain; dan zat anorganik seperti peniti, jarum dan lain-lain. Benda asing endogen
contohnya krusta, nanah, secret kental, darah atau bekuan darah, dan mekonium3
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran
dan keseimbangan). Telinga sering kemasukan benda asing. Kadang-kadang benda dapat
masuk. Bila kemasukan benda asing di telinga, tentu saja terjadi penurunan pendengaran.
Terkadang benda asing dapat masuk tanpa sengaja ke dalam telinga orang dewasa yang
mencoba membersihankan kanalis eksternus atau mengurangi gatal atau dengan sengaja anak-
anak memasukkan benda tersebut ke dalam telinganya sendiri.Namun, terkadang sering
dianggap enteng oleh setiap orang. Pada anak, anak tak melaporkan keluhannya sebelum
timbul keluhan nyeri akibat infeksi di telinga tersebut, lama-lama telinganya berbau. Jika hal
ini terjadi, orang tua patut mencurigainya sebagai akibat kemasukan benda asing. Jangan
menanganinya sendiri karena bisa-bisa benda yang masuk malah melesak ke dalam karena
anatomi liang telinga yang berlekuk. Di telinga banyak terdapat saraf-saraf dan bisa terjadi
luka. Benda yang masuk biasanya hanya bisa dikeluarkan oleh dokter THT dengan
menggunakan peralatan dan keahlian khusus.(3,5)
Keberadaan benda asing di hidung paling sering di temukan pada anak-anak. Anak-anak
cenderung memasukkan benda-benda kecil ke dalam hidung, misalnya manik-manik atau
potongan mainan, karet penghapus dan sebagainya. Benda asing umumnya ditemukan pada
bagian anterior vestibulum atau pada meatus inferior sepanjang dasar hidung. Tidak satupun
benda asing boleh dibiarkan di dalam hidung karena bahaya nekrosis atau infeksi sekunder
yang mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke dalam saluran penapasan bawah. Benda
asing yang tidak di tangani atau tidak terdiagnosa dapat berkembang menjadi rhinolit.
Benda asing ada yang dapat ditembus sinar x seperti : biji kacang, kedele, kayu, duri, atau
daging dan yang tidak tembus sinar x seperti logam. Gejala klinik tergantung jenis dan letak, ditemukan
stridor dan sumbatan jalan nafas.4

BAB II
PEMBAHASAN

BENDA ASING DI TELINGA


II.1.1 Etiologi(3)
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan benda asing diliang telinga yaitu :
• Faktor kesengajaan, biasanya terjadi pada anak-anak balita.
• Faktor kecerobohan sering terjadi pada orang dewasa sewaktu menggunakan alat alat
pembersih telinga misalnya kapas, tangkai korek api atau lidi yang tertinggal di dalam
telinga, yang terakhir adalah faktor kebetulan terjadi tanpa sengaja dimana benda asing
masuk kedalam telinga contoh masuknya serangga, kecoa, lalat dan nyamuk.
Berikut beberapa benda asing yang sering masuk ke telinga dan penangangan pertama yang
bisa dilakukan:
a. Air
Sering kali saat kita mandi, berenang dan keramas, membuat air masuk ke dalam telinga. Jika
telinga dalam keadaan bersih, air bisa keluar dengan sendirinya. Tetapi jika di dalam telinga
kita ada kotoran, air justru bisa membuat benda lain di sekitarnya menjadi mengembang dan
air sendiri menjadi terperangkap di dalamnya.Segera kunjungi dokter THT untuk
membersihkan kotoran kuping yang ada.
b. Cotton Buds
Cotton buds tidak di anjurkan secara medis untuk membersihkan telinga. Selain kapas bisa
tertinggal di dalam telinga, bahaya lainnya adalah dapat menusuk selaput gendang bila tidak
hati-hati menggunakannya.
c. Benda-benda kecil
Anak-anak kecil sering tidak sengaja memasukkan sesuatu ke dalam telinganya. Misalnya,
manik-manik mainan. Jika terjadi, segera bawa ke dokter THT. Jangan coba-coba
mengeluarkannya sendiri, karena bisa menimbulkan masalah baru. Di ruang praktek, dokter
mempunyai alat khusus untuk mengeluarkan benda tersebut.
d. Serangga
Bila telinga sampai kemasukan semut, berarti ada yang salah dengan bagian dalam telinga.
Pada prinsipnya, telinga punya mekanisme sendiri yang dapat menghambat binatang seperti
semut untuk tidak masuk ke dalam.

II.1.2 Manifestasi klinik(3,4)


Efek dari masuknya benda asing tersebut ke dalam telinga dapat berkisar di tanpa
gejala sampai dengan gejala nyeri berat dan adanya penurunan pendengaran.
• Merasa tidak enak ditelinga :
Karena benda asing yang masuk pada telinga, tentu saja membuat telinga merasa tidak enak,
dan banyak orang yang malah membersihkan telinganya, padahal membersihkan akan
mendoraong benda asing yang mauk kedalam menjadi masuk lagi.
• Tersumbat :
Karena terdapat benda asing yang masuk kedalam liang telinga, tentu saja membuat telinga
terasa tersumbat.
• Pendengaran terganggu :
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian
tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas
system pengantaran suara ke telinga tengah.
• Rasa nyeri telinga / otalgia
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak.
Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi telinga akibat benda asing.
• Pada inspeksi telinga akan terdapat benda asing

II.1.3 Patofisiologi(4,5)
Benda asing yang masuk ke telinga biasanya disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain pada anak – anak yaitu faktor kesengajaan dari anak tersebut , faktor kecerobohan misalnya
menggunakan alat-alat pembersih telinga pada orang dewasa seperti kapas, korek api ataupun
lidi serta faktor kebetulan yang tidak disengaja seperti kemasukan air, serangga lalat , nyamuk
dll. Masukknya benda asing ke dalam telinga yaitu ke bagian kanalis audiotorius eksternus
akan menimbulkan perasaaan tersumbat pada telinga, sehingga klien akan berusaha
mengeluarkan benda asing tersebut. Namun, tindakan yang klien lakukan untuk mengeluarkan
benda asing tersebut sering kali berakibat semakin terdorongnya benda asing ke bagian tulang
kanalis eksternus sehingga menyebabkan laserasi kulit dan melukai membrane timpani. Akibat
dari laserasi kulit dan lukanya membrane timpanai, akan menyebabkan gangguan pendengaran
, rasa nyeri telinga/ otalgia dan kemungkinan adanya risiko terjadinya infeksi.

II.1.4 Pemeriksaan Penunjang(5)


II.1.4.1 Pemeriksaan dengan Otoskopik
Caranya :
- Bersihkan serumen
- Lihat kanalis dan membran timpani
Interpretasi :
- Warna kemerahan, bau busuk dan bengkak menandakan adanya
infeksi
- Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya tumpukan darah
dibelakang gendang.
- Kemungkinan gendang mengalami robekan.

II.1.4.2 Pemeriksaan Ketajaman


II.1.4.2.1 Test penyaringan sederhana
1. Lepaskan semua alat bantu dengar
2. Uji satu telinga secara bergiliran dengan cara tutup salah satu telinga
3. Berdirilah dengan jarak 30 cm
4. Tarik nafas dan bisikan angka secara acak (tutup mulut)
5. Untuk nada frekuensi tinggi: lakukan dgn suara jam
c. Uji Ketajaman Dengan Garpu Tala

II.1.4.2.2 Uji weber


1. Menguji hantaran tulang (tuli konduksi)
2. Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
3. Letakan tangkai garpu tala pada puncak kepala pasien.
4. Tanyakan pada pasien, letak suara dan sisi yang paling keras.
Interpretasi
1. Normal: suara terdengar seimbang (suara terpusat pada ditengah kepala)
2. Tuli kondusif: suara akan lebih jelas pada bagian yang sakit (obstruksi:
otosklerosis, OM) akan menghambat ruang hampa.
3. Tuli sensorineural: suara lateralisasi kebagian telinga yang lebih baik.

II.1.4.2.3 Uji Rine


1. Membandingkan konduksi udara dan tulang
2. Pegang garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
3. Sentuhkan garpu tala pada tulang prosesus mastoid, apabila bunyi tidak
terdengar lagi pindahkan kedepan lubang telinga (2 cm)
4. Tanyakan pasien, kapan suara tak terdengar (hitungan detik)
5. Ulangi pada telinga berikutnya
Interpretasi
1. Normal: terdengar terus suara garpu tala.
2. Klien dengan tuli kondusif udara: mendengar garpu tala lebih
jelas melalui konduksi tulang (Rinne negatif)
II.1.5 Pencegahan(5)
Usaha pencegahan
a. Kebiasaan terlalu sering memakai cottonbud untuk membersihkan telinga sebaiknya
dijauhi karena dapat menimbulkan beberapa efek samping: kulit teling kita yang ditumbuhi
bulu-bulu halus yang berguna untuk membuat gerakan menyapu kotoran di telinga kita akan
rusak, sehingga mekanisme pembersihan alami ini akan hilang. Jika kulit kita lecet dapat terjadi
infeksi telinga luar yang sangat tidak nyaman dan kemungkinan lain bila anda terlalu dalam
mendorong cottonbud, maka dapatmelukai atau menembus gendang telinga.
b. Hindarkan memberi mainan berupa biji-bijian pada anak-anak, dapat tejadi bahaya
di atas atau juga dapat tertelan dan yang fatal dapat menyumbat jalan nafas.

II.1.6 Penatalaksanaan(4,5)
 Jika benda asing masih hidup, harus dimatikan terlebih dahulu sebelum dikeluarkan.
Biasanya cukup dengan memasukkan tampon basah ke liang telinga lalu meneteskan
cairan, misalnya larutan rivanol di telinga kurang lebih 10 menit, kemudian benda asing
tersebut diirigasi dengan air bersih untuk mengelurkannya, atau dengan pinset atau
kapas (yang dililitkan dengan pelilit kapas). Benda asing yang besar dapat ditarik
dengan pengait serumen, yang kecil bias diambil dengan cunam atau pengait. Bila ada
laserasi, liang telinga diberikan antibiotic ampisilin selama 3 hari dan analgetik jika
perlu.

 Jika benda asing ringan dan mudah bergerak, keluarkan dengan suction, jika benda
asing keras dan sferis, dan pasien tidak kooperatif, benda asing dapat dikeluarkan
dengan pengait, kuret telinga, atau wire loop.
 Forsep alligator dipakai untuk mengeluarkan benda asing yang lunak seperti kapas dan
kertas. Tangkai yang terbuat dari kayu dan dibalut kapasswab pada ujungnya dapat
digunakan untuk mengambil benda asing yang halus, kering dan bersih dengan
memberikan 1 tetes dari cyanoacrylate (Super Glue).

 Benda asing seperti karet busa, bunga, kapas, dijepit dengan pinset dan ditarik keluar.

 Korpus alienum yang licin dan keras seperti batu, manik-manik, biji-bijian pada anak
yang tidak kooperatif harus dikeluarkan dalam narcosis. Dengan memakai lampu
kepala yang sinarnya terang, korpus alienum lebih jelas terlihat dan dikeluarkan dengan
hati-hati memakai pengait, karena tindakan tersebut dapat menyebabkan trauma pada
membrane timpani dan korpus alienum yang licin tersebut terdorong masuk melului
robekan ke dalam kavum timpani.

BENDA ASING DI HIDUNG


II.2.1.1 Etiologi
Terdapatnya benda asing dalam hidung yaitu suatu massa yang mengalami mineralisasi dan
ditemukan di dalam kavum nasi disebut dengan Rhinolith. Komposisi rhinolith termasuk
kalsium, magnesium, fosfat, dan karbonat yang memadat, kemudian menempel pada nukleus–
nukleus, bakteri, darah, sel-sel pus atau benda asing. Biasanya unilateral dan lokasinya
tersering di dasar hidung, ukuran dan bentuknya bermacam-macam. Dimulai sejak anak-anak
dan setelah beberapa tahun, rhinolith ini terus berkembang dan akhirnya menimbulkan keluhan.
Terjadinya proses mineralisasi umumnya akibat dari benda asing yang tersumbat di cavum nasi.
Keberadaan benda asing di hidung paling sering di temukan pada anak-anak. Anak-anak
cenderung memasukkan benda-benda kecil ke dalam hidung, misalnya manik-manik atau
potongan mainan, karet penghapus dan sebagainya.

II.2.1.2Patogenesis(7,8)
Beberapa faktor dapat dihubungkan dengan rhinolit, termasuk dengan adanya benda asing
dalam kavum nasi, inflamasi akut dan kronik, obstruksi dan stagnasi sekresi nasal dan
pelepasan garam mineral. Perkembangan dan progresifitasnya terjadi bertahun-tahun.
Umumnya mineralisasi yang terjadi merupakan kejadian sekunder dari benda yang masuk
dalam regio sinonasal. Penyelubungan benda asing lengkap atau parsial, baik eksogenous
maupun endogenous, tergantung dari inti benda dimana penyelubungan terjadi.
Rhinolit juga dianggap sebagai suatu benda asing khusus yang biasanya diamati oleh orang
dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu massa berkapur sebesar
benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Sekret sinus kronik dapat mengawali
terbentuknya massa seperti itu dalam rongga hidung.

II.2.1.3 Gambaran klinis(9)


Umumnya pasien dengan rhinolith datang karena adanya rhinore unilateral dengan atau tanpa
obstruksi nasi unilateral. Rhinore bersifat mukoid, mokupurulen, dan kadang-kadang sekret
bercampur darah. Gejala lainnya dapat berupa epistaksis, fetor, sinusitis, sakit kepala, dan
epifora.
Hidung tersumbat oleh sekret mukopuru1en yang banyak dan berbau busuk di satu
sisi rongga hidung, kanan atau kiri, tempat adanya benda asing. Setelah sekret hidung
dihisap, benda asing akan tampak dalam kavum nasi. Kadang disertai rasa nyeri, demam,
epistaksis, dan bersin. Pada pemeriksaan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung
unilateral dan dapat terjadi ulserasi.
Bila benda asing tersebut adalah binatang lintah, terdapat epistaksis berulang yang
sulit berhenti meskipun sudah diberikan koagulan. Pada rinoskopi anterior tampak benda
asing berwama coklat tua, lunak pada perabaan, dan melekat erat pada mukosa hidung atau
nasofaring.

II.2.1.4 Diagnosis(8,9)
Anamnesis
Pada diagnosis rhinolit umumnya dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisis. Pada anamnesis umumnya didapatkan rhinore unilateral disertai obstruksi nasi unilateral
sebagai keluhan utama dan keluhan lain seperti napas berbau busuk,sekret berbau busuk.
Pemeriksaan fisis
Pada pemeriksaan intranasal, umumnya rhinolit dapat ditemukan dengan rhinoskopi anterior
berupa massa kalsifikasi yang berwarna abu-abu dan gelap, dengan konsistensi yang keras
seperti batu dan permukaan yang irregular.
Pemeriksaaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adanya rhinolith :
• Pemeriksaan radiologis yaitu foto kepala dan CT scan kepala
Gambaran radiologis radioopak pada foto kepala biasanya letaknya di dasar kavum nasi. Pada
CT scan didapatkan massa hiperdens.
II.2.1.5 Penatalaksanaan(9)
Rhinolit dapat dikeluarkan dengan menggunakan forseps yang ujungnya dapat memegang
dengan baik. Forceps alligator Hartman, forceps bayonet atau wire loops umumnya digunakan.
Dengan anestesi lokal dapat dilakukan apabila pasien yang kooperatif sedangkan penggunaan
anestesi umum dapat dilakukan jika pasien tidak kooperatif. Jika terlalu besar, rhinolit dapat
dipecahkan terlebih dahulu dalam keping yang lebih kecil dengan menggunakan ultrasound
lithotripsy. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan rhinotomi lateral.

II.2.1.6 Komplikasi(9,10)
Adanya benda asing pada hidung ini menyebabkan terjadinya obstruksi hidung dan rinore,
inflamasi lokal dan edema pada mukosa hidung. Dan pada saat dilakukan tindakan pengeluaran
juga benda asing ini dapat masuk ke dalam saluran nafas jika terdorong kebelakang.

II..2.1.7 Diagnosis banding(9,10)


Diagnosis banding adalah :
1. Gigi hidung
Yaitu gigi rahang atas yang tumbuh ke dalam hidung karena ada yang menghalangi
pertumbuhan ke bawah dan jumlah gigi yang berlebih. (1)
2. Benda asing lain dalam cavum nasi
Benda asing yang sering ditemukan biasanya pada anak-anak biasanya manik-manik, kancing,
karet penghapus, kelereng, kacang-kacangan, dan lain-lain.
3. Polip Nasi
Polip nasi terdapat pada jaringan gelatin yang terbentuk dari proses alergi, gejala klinis yang
tampak obstruksi nasi, rasa tidak nyaman pada hidung bagian dalam, rinolali, pada
pemeriksaan fisis dan penunjang yakni tampak massa yang bertangkai dan berwarna putih
yang berada di konka media.

II.2.1.8Prognosis(10)
Prognosis umumnya baik jika dilakukan penanganan secara dini dan tepat. Tidak boleh
dibiarkan dalam rongga hidung oleh karena bahaya nekrosis dan infeksi sekunder yang
mungkin timbul, dan kemungkinan aspirasi ke dalam saluran pernapasan bawah.

BENDA ASING DI TENGGOROKAN


II.3.1.1 Etiologi dan Faktor Predisposisi
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing pada saluran nafas adalah : 2,3,6
1. Usia yaitu pada anak-anak, dimana mereka sering memasukkan segala sesuatu ke dalam
mulut, gigi geligi yang belum lengkap dan refleks menelan yang belum sempurna.
2. Jenis kelamin, lebih sering pada laki-laki.
3. Faktor kejiwaan (emosi,dan gangguan psikis)
4. Kegagalan mekanisme proteksi, misalnya penurunan kesadaran, keadaan umum
buruk, penyakit serebrovaskuler, dan kelainan neurologik.
5. Faktor kecerobohan, misalnya kebiasaan menaruh benda di mulut, makan dan minum
tergesa-gesa.
6. Faktor medikal dan surgikal
Faktor fisiologik dan sosiologik lain yang juga merupakan faktor predisposisi antara
lain: pertumbuhan gigi belum lengkap, belum terbentuk gigi molar, belum dapat menelan
makanan padat secara baik, kemampuan anak membedakan makanan yang dapat dimakan
dan tidak dapat dimakan belum sempurna. Benda tersangkut pada saat makan sambil tertawa,
bicara menangis, dan berlari. Pada orang tua, terutama yang mempunyai gangguan neurologis
dan berkurangnya refleks menelan dapat disebabkan oleh pengaruh alkohol, stroke,
parkinson, trauma, dementia juga mempunyai risiko yang besar untuk terjadinya aspirasi.

II.3.1.2 Patofisiologi
Tujuan refleks menelan adalah mencegah masuknya makanan atau cairan ke dalam
trakea. Impuls motoris dari pusat menelan yang menuju ke faring dan bagian atas esophagus
diantar oleh saraf kranial V, IX, X dan XII dan beberapa melalui saraf cervical. Menelan
memiliki beberapa stadium, yaitu stadium volunter, faringeal dan oesofageal. Pada stadium
volunter, benda ditekan atau didorong ke bagian belakang mulut oleh tekanan lidah ke atas dan
belakang terhadap palatum, sehingga lidah memaksa benda ke pharing. Pada stadium faringeal,
palatum mole didorong ke atas untuk menutup nares posterior, sehingga mencegah makanan
balik ke rongga hidung. Lipatan palatofaringeal saling mendorong ke arah tengah, kemudian
pita suara laring berdekatan dan epiglottis mengayun ke belakang, sehingga mencegah
makanan masuk ke trakea. Pada orang dewasa tertelan benda asing sering dialami oleh
pemabuk atau pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa (tactile sensation) dari
palatum dan pada penderita gangguan jiwa.7
Bronkus dan trakea sangat peka dengan benda asing ataupun iritasi lain, sehingga bisa
menimbulkan refleks batuk. Lapisan mukus pada saluran nafas mengandung factor-faktor yang
efektif sebagai pertahanan, yaitu immunoglobulin terutama IgA, PMNs, interferon dan antibodi
spesifik. Gerakan silia menyapu/saluran nafas. Silia dan mucus menjebak debu dan kuman,
kemudian memindahkannya ke pharing, karena silia bergetar ke arah pharing. Partikel asing
dan mukus digerakkan dengan kecepatan 1cm/menit sepanjang permukaan trakea ke pharing2.
Begitu juga benda asing di saluran hidung, dimobilisasi dengan cara yang sama ke pharing.
Aktivitas silia bisa dihambat oleh berbagai zat yang berbahaya. Sebagai contoh, merokok
sebatang sigaret dapat menghentikan gerakan silia untuk beberapa jam.7
Setelah benda asing teraspirasi, maka benda asing tersebut dapat tersangkut pada tiga
tempat anatomis yaitu, laring, trakea atau bronkus. Dari semua aspirasi benda asing,
80–90% diantaranya terperangkap di bronkus dan cabang-cabangnya. Pada orang dewasa,
benda asing bronkus cenderung tersangkut di bronkus utama kanan, karena sudut
konvergensinya yang lebih kecil dibandingkan bronkus utama kiri. Benda asing yang lebih
besar lebih banyak tersangkut di laring atau trakea. 2,8
Tujuh puluh lima persen dari benda asing dibronkus ditemukan pada anak umur kurang
dari 2 tahun, dengan riwayat yang khas, yaitu saat benda atau makanan berada di dalam mulut,
anak menjerit atau tertawa sehingga saat inspirasi, laring terbuka dan benda asing masuk ke
dalam laring. Pada saat benda asing itu terjepit di sfingter laring pasien batuk berulang-ulang
(paroksikmal), sumbatan di trakea, mengi, dan sianosis Bila benda asing telah masuk ke dalam
trakea atau bronkus kadang terjadi fase asistomatik selama 24 jam atau lebih, diikuti gejala
pulmonum yang bergantung pada derajat sumbatan bronkus.2,8
Benda asing organik seperti kacang mempunyai sifat higroskopik, mudah jadi
lunak,mengembang oleh air serta dapat menyebabkan iritasi pada mukosa, mukosa bronkus
edema, meradang dapat terjadi jaringan granulasi disekitar benda asing, sehingga gejala
sumbatan bronkus menghebat timbul laringotrakeo-bronkitis, toksemia,batuk, dan demam
yang iregular.2,8
Benda asing anorganik menimbulkan reaksi jaringan lebih ringan, dan lebih mudah
didignosis dengan pemeriksaan radiologi. Benda asing berasal dari metal dan tipis seperti
jarum, peniti, dapat masuk ke dalam bronkus yang lebih distal dengan memberikan gejala batuk
spasmodik.8
II.3.1.3 Gejala Klinis
Aspirasi benda asing adalah suatu hal yang sering ditemukan dan ditangani dalam
situasi gawat darurat. Aspirasi benda asing dapat menyebabkan berbagai perubahan mulai dari
gejala yang minimal dan bahkan tidak disadari, sampai gangguan jalan napas dan dapat
menimbulkan kematian. Gejala sumbatan benda asing di dalam saluran napas tergantung pada
lokasi benda asing, derajat sumbatan (total atau sebagian), sifat, bentuk dan ukuran benda
asing. Benda asing yang masuk melalui hidung dapat tersangkut di hidung, nasofaring, laring,
trakea dan bronkus. Benda yang masuk melalui mulut dapat tersangkut di orofaring,
hipofaring, tonsil, dasar lidah, sinus piriformis, esofagus atau dapat juga tersedak masuk ke
dalam laring, trakea dan bronkus. Gejala yang timbul bervariasi, dari tanpa gejala hingga
2
kematian sebe- lum diberikan pertolongan akibat sumbatan total.
Seseorang yang mengalami aspirasi benda asing saluran napas akan mengalami 3
stadium. Stadium pertama merupakan gejala permulaan yaitu batuk-batuk hebat secara tiba-
tiba (violent paroxysms of coughing), rasa tercekik (choking), rasa tersumbat di tenggorok
(gagging) dan obstruksi jalan napas yang terjadi dengan segera. Pada stadium kedua, gejala
stadium permulaan diikuti oleh interval asimptomatis. Hal ini karena benda asing tersebut
tersangkut, refleks-refleks akan melemah dan gejala rangsangan akut menghilang. Stadium
ini berbahaya, sering menyebabkan keterlambatan diagnosis atau cenderung mengabaikan
kemungkinan aspirasi benda asing karena gejala dan tanda yang tidak jelas. Pada stadium
ketiga, telah terjadi gejala komplikasi dengan obstruksi, erosi atau infeksi sebagai akibat
reaksi terhadap benda asing, sehingga timbul batuk-batuk, hemoptisis, pneumonia dan abses
paru. 2,6,8
Benda asing di laring dapat menutup laring, tersangkut di antara pita suara atau
berada di subglotis. Gejala sumbatan laring tergantung pada besar, bentuk dan letak (posisi)
benda asing. 2,8
Sumbatan total di laring akan menimbulkan keadaan yang gawat biasanya kematian
mendadak karena terjadi asfiksia dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh timbulnya
spasme laring dengan gejala antara lain disfonia sampai afonia, apnea dan sianosis.2,8
Sumbatan tidak total di laring dapat menyebabkan disfonia sampai afonia, batuk yang
disertai serak (croupy cough), odinofagia, mengi, sianosis, hemoptisis, dan rasa subjektif dari
benda asing (penderita akan menunjuk lehernya sesuai dengan letak benda asing tersebut
tersang- kut) dan dispnea dengan derajat bervariasi. Gejala ini jelas bila benda asing masih
tersangkut di laring, dapat juga benda asing sudah turun ke trakea, tetapi masih menyisakan
reaksi laring oleh karena adanya edema.2,8
Benda asing yang tersangkut di trakea akan menyebabkan stridor, dapat ditemukan
dengan auskultasi (audible stridor) dan palpasi di daerah leher (palpatory thud). Jika benda
asing menyumbat total trakea akan timbul sumbatan jalan napas akut yang memerlukan
tindakan segera untuk membebaskan jalan napas. Gejala pada dewasa umumnya sama dengan
gejala pada anak. Bila anak batuk atau dengan wheezing yang dicurigai terjadi aspirasi benda
asing di saluran napas.3
Benda asing di bronkus kebanyakan memasuki bronkus kanan karena lebih lebar dan
lebih segaris dengan lumen trakea. Benda asing dapat menyumbat secara total bronkus lobaris
atau segmental dan mengakibatkan atelektasis atau obstruksi parsial yang berfungsi seperti
katup satu arah dimana udara dapat masuk ke paru- paru tetapi tidak dapat keluar, sehingga
8,9
menyebabkan emfisema obstruktif . Pasien pada benda asing di bronkus umumnya datang
pada fase asimptomatik kemudian benda asing bergerak ke perifer, sehingga udara yang masuk
terganggu dan pada auskultasi terdengar ekspirasi memenjang dengan mengi, Gejala fisik dapat
bervariasi karena perubahan benda asing, keluhan batuk kronik dan sesak napas menyerupai
gejala pasien asma atau bronkopnemonia.6 Benda asing organik menyebabkan reaksi yang
hebat pada saluran nafas dengan gejala laringotrakeobronkitis, toksmia, batuk, dan demam
irregular. Tanda fisik benda asing di bronkus bervariasi, karena perubahan posisi dari satu sisi
ke sisi lain dalam paru. 8
Benda asing di orofaring dan hipofaring dapat tersangkut di tosil, dasar lidah, valekula,
sinus piriformis menimbulkan rasa nyeri pada saat menelan.6,8
Anak bisa kemasukan suatu benda ke dalam hidung karena ulahnya sendiri, bisa juga
oleh kakak atau temannya yang memasukkan benda tersebut. Bisa jadi hal tersebut lolos dari
pengamatan orang tua dan baru ketahuan setelah 2-3 hari. Ujung-ujungnya orang tua baru
menyadari setelah timbul gejala, seperti keluar cairan yang berdarah, atau lendir seperti pilek
dan berbau busuk dari lubang hidung, hidung tampak merah dan bengkak, dan napas anak
berbau dan busuk. Bau ini mungkin karena infeksi atau benda yang masuk itu, misalnya kacang
tanah, jadi membusuk. 10
II.3.1.4 Diagnosis 9
Diagnosa benda asing di saluran nafas ditegakkan berdasarkan atas anamnesis yang
cermat, pemeriksaan fisik, radiologis dan tindakan bronkoskopi.9
Anamnesis
Anamnesa yang teliti mengenai riwayat aspirasi dan gejala inisial sangat penting dalam
diagnosis aspirasi benda asing. Kecurigaan adanya benda asing dan gejala inisial (choking)
adalah dua hal yang signifikan berhubungan dengan kasus aspirasi benda asing. Pada anak-
anak kadang-kadang episode inisial belum dapat diungkapkan dengan baik oleh anak itu sendiri
dan tidak disaksikan oleh orang tua atau pengasuhnya sehingga gejalanya mirip dengan
penyakit paru yang lain. Gejala yang sering ditemukan pada kasus aspirasi benda asing yang
telah berlangsung lama antara lain batuk, sesak nafas, wheezing, demam dan stridor. Perlu
ditanyakan juga telah berapa lama, bentuk, ukuran dan jenis benda asing untuk mengetahui
simtomatologi dan perencanaan tindakan bronkoskopi.9

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang menyeluruh pada kasus aspirasi benda asing sangat diperlukan.
Kegawatan nafas atau sianosis memerlukan penanganan yang segera. Pada jam-jam pertama
setelah terjadinya aspirasi benda asing, tanda yang bisa ditemukan di dada penderita adalah
akibat perubahan aliran udara di traktus trakeobronkial yang dapat dideteksi dengan stetoskop.
Benda asing disaluran nafas akan menyebabkan suara nafas melemah atau timbul suara
abnormal seperti wheezing pada satu sisi paru-paru.9

Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis penderita aspirasi benda asing harus dilakukan. Dianjurkan untuk
membuat foto berikut:
1. Foto jaringan lunak leher PA dan lateral posisi ekstensi
Dapat memperlihatkan benda asing radioopak dan kadang-kadang bahkan benda asing
radiolusen pada laring dan trakea.
2. Foto torak PA dan lateral
3. Foto torak akhir inspirasi dan ekspirasi
Dapat memperlihatkan atelektasis dan emfisema obstruktif. Juga dapat terlihat bukti
tidak langsung adanya benda asing radiolusen.
4. Fluoroskopi/videofluoroskopi
Dilakukan pemeriksaan selama inspirasi dan ekspirasi pada kasus yang meragukan untuk
melihat adanya obstruksi parsial paru.
5. Bronkogram
Untuk memastikan adanya benda asing radiolusen atau untuk mengevaluasi bronkiektasis.9

Diagnosa benda asing di saluran nafas dapat ditegakkan pada hampir 70% kasus. Harus
diingat bahwa tidak terdapatnya kelainan radiologis tidak berarti adanya benda asing dapat
disingkirkan. Foto torak cenderung memberikan gambaran normal pada 1/3 pasien yang
didiagnosa sebagai aspirasi benda asing dalam 24 jam pertama kejadian.CT Scan berguna pada
kasus yang tidak terdeteksi dengan foto sinar X, seperti benda asing kacang yang bersifat
radiolusen. 9
Anamnesis dan pemeriksaan radiologis sering menunjukkan dugaan aspirasi benda
asing, tetapi bukan diagnosa pasti. Pada keadaan ini harus dibuktikan adanya benda asing
dengan bronkoskopi untuk diagnosis dan terapi. Bahkan Barrios et al menyarankan
bronkoskopi harus dilakukan pada anak-anak dengan riwayat gejala inisial aspirasi benda asing
(choking crisis)9

II.3.1.5 Penatalaksanaan
Benda asing dapat menyebabkan obstruksi jalan napas sebagian (parsial) atau komplit (total).
Pada obstruksi jalan napas partial korban mungkin masih mampu melakukan pernapasan,
namun kualitas pernapasan dapat baik atau buruk. Pada korban dengan pernapasan yang masih
baik, korban biasanya masih dapat melakukan tindakan batuk dengan kuat, usahakan agar
korban tetap bisa melakukan batuk dengan kuat sampai benda asing tersebut dapat keluar. Bila
sumbatan jalan napas partial menetap, maka aktifkan sistem pelayanan medik darurat.
Obstruksi jalan napas partial dengan pernapasan yang buruk harus diperlakukan sebagai
Obstruksi jalan napas komplit. 11
Obstruksi jalan napas komplit (total), korban biasanya tidak dapat berbicara, bernapas, atau
batuk. Biasanya korban memegang lehernya diantara ibu jari dan jari lainya. Saturasi oksigen
akan dengan cepat menurun dan otak akan mengalami kekurangan oksigen sehingga
menyebabkan kehilangan kesadaran, dan kematian akan cepat terjadi jika tidak diambil
tindakan segera. 2
Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi benda asing dengan cepat dan tepat, perlu
diketahui dengan baik lokasi tersangkutnya benda asing tersebut. Secara prinsip benda asing
di saluran napas dapat ditangani dengan pengangkatan segera secara endoskopik dengan
trauma minimum. Umumnya penderita dengan aspirasi benda asing datang ke rumah sakit
setelah melalui fase akut, sehingga pengangkatan secara endoskopik harus dipersiapkan
2
seoptimal mungkin, baik dari segi alat maupun personal yang telah terlatih.
Penderita dengan benda asing di laring harus mendapat pertolongan segera, karena
asfiksia dapat terjadi dalam waktu hanya beberapa menit. Cara lain untuk mengeluarkan
benda asing yang menyumbat laring secara total ialah dengan cara perasat dari Heimlich
(Heimlich maneuver), dapat dilakukan pada anak maupun dewasa. Menurut teori Heimlich,
benda asing yang masuk ke dalam laring ialah pada saat inspirasi. Dengan demikian paru
penuh dengan udara, diibaratkan sebagai botol plastik yang tertutup, dengan menekan botol
itu, maka sumbatnya akan terlempar keluar. 2 Manuver Heimlich (hentakan
subdiafragmaabdomen). Suatu hentakan yang menyebabkan peningkatan tekanan pada
diafragma sehingga memaksa udara yang ada di dalam paru- paru untuk keluar dengan cepat
sehingga diharapkan dapat mendorong atau mengeluarkan benda asing yang menyumbat jalan
napas. Setiap hentakan harus diberikan dengan tujuan menghilangkan obstruksi, mungkin
dibutuhkan hentakan 6 - 10 kali untuk membersihkan jalan napas. 11
Komplikasi perasat Heimlich adalah kemungkinan terjadinya ruptur lambung atau
hati dan fraktur kosta. Oleh karena itu pada anak sebaiknya cara menolongnya tidak dengan
menggunakan kepa- lan tangan tetapi cukup dengan dua buah jari kiri dan kanan. 2
Pada sumbatan benda asing tidak total di laring perasat Heimlich tidak dapat
digunakan. Dalam hal ini penderita dapat dibawa ke rumah sakit terdekat yang memiliki
fasilitas endoskopik berupa laringoskop dan bronkoskop.2
Pasien dengan benda asing ditrakea harus di rujuk ke rumah sakit dengan fasilitas
bronskopi, Benda di keluarkan dengan bronskopi secara segera pada pasien tidur terlentang
dengan posisi Trendelenburg supaya tidak lebih turun ke bronkus, benda asing dipegang
dengan cunam yang sesuai dan dikeluarkan melalui laring, bila bronkospi tidak tersedia,
dilakukan trakeostomi dan benda asing dikeluakan memakai cunam atau alat penghisap melalui
stoma tersebut, jika tidak berhasil dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas endoskopi.6,8
Benda asing di bronkus di keluarkan dengan bronskop kaku atau serat optik dan
cunam yang sesuai, Tindakan ini harus segera di lakukan, apalagi benda asing bersifat organik,
bila tidak dapat di keluarkan, misalnya tajam, tidak rata, dan tersangkut pada jaringan, dapat
dilakukan servikotomi atau tarakotomi, antibiotik dan kortikosteroid tidak rutin diberikan
setelah endoskopi, Dilakukan fisioterapi dada pada kasus pnemonia, bronkitis purulenta, dan
atelektasis,Pasien dipulangkan 24 jam setelah tindakan jika paru bersih dan tidak demam, Pasca
bronkoskopi dibuat foto torak hanya bila gejala pulmonum tidak menghilang pada keadaan
tersebut perlu di selidiki lebih lanjut dan diobati secara tepat dan adekuat.6,8
Benda asing di dasar lidah di lihat dengan kaca tenggorokan yang besar, pasien
diminta menarik lidahnya sendiri dan pemeriksa memegang kaca tenggorokan dengan tangan
kiri, cunam dengan tangan kanan untuk mengambil benda tersebut, Bila perlu dapat
disemprotkan dengan silokain dan pantokain, Untuk mengeluarkan benda asing di velekula dan
sinus piriformis dilakukan laringoskopi langsung.6,8Di Instalasi Gawat Darurat, terapi suportif
awal termasuk pemberian oksigen, monitor jantung dan pulse oxymetri dan pemasangan IV
dapat dilakukan. Bronkoskopi merupakan terapi pilihan untuk kasus aspirasi. Pemberian
steroid dan antibiotik preoperatif dapat mengurangi komplikasi seperti edema saluran napas
dan infeksi. Metilprednisolon 2 mg/kg IV dan antibiotik spektrum luas yang cukup mencakup
Streptokokus hemolitik dan Staphylococcus aureus dapat dipertimbangkan sebelum tindakan
bronkoskopi.3
Sebenarnya tidak ada kontraindikasi absolut untuk tindakan bronkoskopi, selama hal
itu merupakan tindakan untuk menyelamatkan nyawa (life saving). Pada keadaan tertentu
dimana telah terjadi komplikasi radang saluran napas akut, tindakan dapat ditunda sementara
dilakukan pengobatan medikamentosa untuk mengatasi infeksi. Pada aspirasi benda asing
organik yang dalam waktu singkat dapat menyebabkan sumbatan total, maka harus segera
dilakukan bronkoskopi, bahkan jika perlu tanpa anestesi umum. 3

Gambar 2.2 Penanganan benda asing saluran nafas dengan Bronkoskopi

Benda asing di bronkus dapat dikeluarkan dengan bronkoskopi kaku maupun


bronkoskopi serat optik. Pada bayi dan anak-anak sebaiknya digunakan bronkoskopi kaku
untuk mempertahankan jalan napas dan pemberian oksigen yang adekuat, karena diameter
jalan napas pada bayi dan anak-anak sempit. Pada orang dewasa dapat dipergunakan
bronkoskop kaku atau serat optik, tergantung kasus yang dihadapi. Ukuran alat yang dipakai
juga menentukan keberhasilan tindakan. Keterampilan operator dalam bidang endoskopi juga
berperan dalam penentuan pelaksanaan tindakan bronkoskopi. 3
Bronkoskop kaku mempunyai keuntungan antara lain ukurannya lebih besar variasi
cunam lebih banyak, mempunyai kemampuan untuk mengekstraksi benda asing tajam dan
kemampuan untuk dilakukan ventilasi yang adekuat. Selain keuntungan di atas, penggunaan
bronkoskop kaku juga mempunyai kendala yaitu tidak bisa untuk mengambil benda asing di
distal, dapat menyebabkan patahnya gigi geligi, edema subglotik, trauma mukosa, perforasi
bronkus dan perdarahan. Pada pemakaian teleskop maupun cunam penting diperhatikan bahwa
ruang untuk pernapasan menjadi sangat berkurang, sehingga lama penggunaan alat-alat ini
harus dibatasi sesingkat mungkin. Bronkoskop serat optik dapat digunakan untuk orang dewasa
dengan benda asing kecil yang terletak di distal, penderita dengan ventilasi mekanik, trauma
kepala, trauma servikal dan rahang. 3
Persiapan yang adekuat untuk ekstraksi benda asing antara lain : 9
1. Pendekatan pada orang tua/keluarga, diantaranya untuk memberikan informasi
mengenai resiko tindakan, kemungkinan trauma dan kegagalan ekstraksi.
2. Persiapan pasien:
− Foto torak: PA saat inspirasi dan ekspirasi, lateral
− Puasa 6 jam sebelum tindakan
− Pemberian cairan yang adekuat
− Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, skrining perdarahan/ pembekuan,
elektrolit, gula darah,analisa urin)
3. Persiapan alat: harus tersedia bronkoskop dengan ukuran yang sesuai dengan umur penderita
4. Penilaian duplikat benda asing untuk menentukan pilihan cunam yang akan dipakai, apakah cunam
dapat memegang dengan baik saat benda asing ditarik ke luar.
5. Analisis masalah: perlu dilakukan diskusi antara ahli THT, paru dan anestesi sebelum dilakukan
tindakan ekstraksi mengenai kemungkinan resiko tindakan. Ekstraksi
benda asing di traktus trakeobronkial merupakan problem mekanis yang memerlukan perencanaan
yan baik.
6. Persiapan tim: kerjasama tim yang lengkap terdiri dari operator, ahli anestesi dan
perawat yang berpengalaman sangat penting.
Beberapa faktor penyulit mungkin dijumpai dan dapat menimbulkan kegagalan
bronkoskopi antara lain adalah faktor penderita, saat dan waktu melakukan bronkoskopi, alat,
cara mengeluarkan benda asing, kemampuan tenaga medis dan para medis, dan jenis anestesia.
Sering bronkoskopi pada bayi dan anak kecil terdapat beberapa kesulitan yang jarang dijumpai
pada orang dewasa, karena lapisan submukosa yang longgar di daerah subglotik menyebabkan
lebih mudah terjadi edema akibat trauma. Keadaan umum anak capet menurun, dan cepat
terjadi dehidrasi dan renjatan. Demam menyebabkan perubahan metabolisme, termasuk
pemakaian oksigen dan metabolisme jaringan, vasokontriksi umum dan perfusi jaringan
terganggu. Adanya benda asing di saluran napas akan mengganggu proses respirasi, sehingga
benda asing tersebut harus segera dikeluarkan. 3
Pemberian kortikosteroid dan bronkodilator dapat mengurangi edema laring dan
bronkospasme pascatindakan bronkoskopi. Pada penderita dengan keadaaan sakit berat, maka
sambil menunggu tindakan keadaan umum dapat diperbaiki terlebih dahulu, misalnya:
rehidrasi, memperbaiki gangguan keseimbangan asam basa, dan pemberian antibiotika.
Keterlambatan diagnosis dapat terjadi akibat kurangnya pengetahuan dan kewaspadaan
penderita maupun orang tua mengenai riwayat tersedak sehingga menimbulkan keterlambatan
penanganan. Kesulitan mengeluarkan benda asing saluran napas meningkat sebanding dengan
lama kejadian sejak aspirasi benda asing. Pada benda asing yang telah lama berada di dalam
saluran napas atau benda asing organik, maka mukosa yang menjadi edema dapat menutupi
benda asing dan lumen bronkus, selain itu bila telah terjadi pembentukkan jaringan granulasi
dan striktur maka benda asing menjadi susah terlihat. 3
Pada kasus yang tidak terdapat gejala sumbatan jalan napas total, maka tindakan
bronkoskopi dilakukan dengan persiapan operator, alat dan keadaan umum penderita sebaik
mungkin. Holinger menyatakan bahwa lebih baik dengan persiapan 2 jam, maka benda asing
dapat dikeluarkan dalam waktu 2 menit daripada persiapan hanya 2 menit tetapi akan ditemui
kesulitan selama 2 jam. Bila benda asing menyebabkan sumbatan jalan napas total, misalnya
benda asing di laring atau trakea, maka tindakan harus segera dilakukan untuk menyelamatkan
penderita, bila perlu dilakukan krikotirotomi atau trakeostomi lebih dahulu. Jika timbul
kesulitan dalam mengeluarkan benda asing, maka dapat didorong ke salah satu sisi bronkus.
Snow menyatakan bahwa tindakan bronkoskopi tidak boleh lebih dari 30 menit.

II.3.1.6 Komplikasi
Komplikasi dapat disebabkan oleh benda asing itu sendiri atau trauma tindakan bronkoskopi.
Komplikasi akut akibat tersangkutnya benda asing antara lain sesak nafas, hipoksia, asfiksia
sampai henti jantung. Gangguan ventilasi ditandai dengan adanya sianosis. Komplikasi kronis
antara lain pneumonia, dapat berlanjut dengan pembentukan kavitas dan abses paru,
bronkiektasis, fistel bronkopleura, pembentukan jaringan granulasi atau polip akibat inflamasi
pada mukosa tempat tersangkutnya benda asing. Dapat juga terjadi pneumomediastinum,
pneumotorak. 9
Keterlambatan diagnosis aspirasi benda asing yang berlangsung lebih dari 3 hari akan
menambah komplikasi seperti emfisema obstruktif, pergeseran mediastinum, pneumonia dan
atelektasis.Komplikasi tindakan bronkoskopi antara lain aritmia jantung akibat hipoksia,
retensi CO2 atau tekanan langsung selama manipulasi bronkus utama kiri. Komplikasi teknis
yang paling mungkin terjadi pada operator yang kurang berpengalaman adalah benda asing
masuk lebih jauh sampai ke perifer sehingga sulit dicapai oleh skop, laserasi mukosa, perforasi,
atau benda asing masuk ke segmen yang tidak tersumbat pada saat dikeluarkan. Bisa juga
terjadi edema laring dan reflek vagal.Komplikasi pasca bronkoskopi antara lain demam,
infiltrat paru dan pneumotorak, yang memerlukan bantuan ventilasi.9
BAB III
KESIMPULAN
Benda asing dalam suatu organ dapat terbagi atas benda asing eksogen (dari luar tubuh)
dan benda asing endogen (dari dalam tubuh) yang dalam keadaan normal benda tersebut tidak
ada
Benda asing eksogen terdiri dari zat organik seperti kacang-kacangan, tulang, dan lain-
lain; dan zat anorganik seperti peniti, jarum dan lain-lain. Benda asing endogen contohnya
krusta, nanah, secret kental, darah atau bekuan darah, dan mekonium
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing pada saluran nafas adalah
usia, jenis kelamin, faktor kejiwaan (emosi,dan gangguan psikis) kegagalan mekanisme
proteksi, faktor kecerobohan, misalnya kebiasaan menaruh benda di mulut, makan dan minum
tergesa-gesa.
Benda asing organik seperti kacang mempunyai sifat higroskopik, mudah jadi
lunak,mengembang oleh air serta dapat menyebabkan iritasi pada mukosa, mukosa bronkus
edema, meradang dapat terjadi jaringan granulasi disekitar benda asing, sehingga gejala
sumbatan bronkus menghebat timbul laringotrakeo-brokitis, toksemia,btuk, dan demam yang
iregular.
Benda asing anorganik menimbulkan reaksi jaringan lebih ringan, dan lebih mudah
didignosis dengan pemeriksaan radiologi. Benda asing berasal dari metal dan tipis seperti
jarum, peniti, dapat masuk ke dalam bronkus yang lebih distal dengan memberikan gejala batuk
spamodik.
Seseorang yang mengalami aspirasi benda asing saluran napas akan mengalami 3
stadium. Stadium pertama yaitu violent paroxysms of coughing, (choking), (gagging) dan
obstruksi jalan napas dengan segera. Stadium kedua, gejala stadium permulaan diikuti oleh
interval asimptomatis. Stadium ketiga, telah terjadi gejala komplikasi dengan obstruksi, erosi
atau infeksi sebagai akibat reaksi terhadap benda asing.
Diagnosa benda asing di saluran nafas ditegakkan berdasarkan atas anamnesis yang
cermat, pemeriksaan fisik, radiologis dan tindakan bronkoskopi. Komplikasi dapat disebabkan
oleh benda asing itu sendiri atau trauma tindakan bronkoskopi. Komplikasi akut akibat
tersangkutnya benda asing antara lain sesak nafas, hipoksia, asfiksia sampai henti jantung.
DAFTAR PUSTAKA

1. Suci,A.K. Makanan Nyangkut atau Tersedak http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/11/


. 2007
2. Perkasa,M.F. Ekstraksi Benda Asing Laring. Available from: URL:
http://www.scribd.com/doc/32825999/Ekstraksi-Benda-Asing-Laring. Makasar.2009: 58-60
3. Almazini,P. Penatalaksanaan Benda Asing di Saluran Nafas. Available from URL:
http://myhealing.wordpress.com/2010/02/02/penanganan-benda-asing-di-saluran-napas. 2
February 2010
4. Ahmad, Rofiq .Obstruksi Saluran Pernafasan .Available from: URL:
http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/01/25/saluran-pernafasan . 2008
5. Asroel,H. Ekstraksi Benda Asing di Bronkus dan Esofagus. Available from URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18786/1/mkn-jun2007-40%20%289%29.pdf .
Medan. 2007 : 156-159
6. Darmawan. Corpus Aleneum. Available from: URL:
http://loveyaya.multiply.com/journal/item/16. Jakarta. 12 Mei 2008
7. Muluk,A. Pertahanan Saluran Nafas. Available from: URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18350/1/mkn-mar2009-
42%20%281%29.pdf . Medan, Maret 2009 : 55-58
8. Junizaf,M.H. Buku Ajar Ilmu Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. FK UI.
Jakarta, 2007
9. Rahman,A. Benda Asing di Trakea. Available from: URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18993/1/mkn-mar2007-
40%20%282%29.pdf . Medan . Juni 2007: 77-80
10. Firmansyah,R. Benda Asing dalam Tubuh Anak. Available from:
URL:http://www.tabloidnova.com. Juni 2010.
11. Anonymous,Bantuan Hidup Dasar, Available from:
http://www.scribd.com/doc/4535323/bantuan-hidup-dasar . 2008

Anda mungkin juga menyukai