Anda di halaman 1dari 22

Laporan Kasus

*Kepaniteraan Klinik Senior/ G1A216010/ Januari 2018


**Preseptor : dr. Herlambang, Sp.Og

APPENDSITIS
*Dwi Patimahhyen, S.Ked ** dr. Herlambang, Sp.Og

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT/KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus

1
APPENDSITIS

Oleh :
Dwi Patimahhyen, S. Ked
GIA216010

Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior


Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat/Komunitas
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Jambi, Januari 2018


Preseptor:

dr. Herlambang, Sp.Og

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Bismillah, Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Laporan Kasus

2
pada Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
Tugas ini bertujuan agar penulis dapat memahami lebih dalam mengenai teori-teori
yang diberikan selama menjalani Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat dan melihat penerapannya secara langsung di lapangan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Herlambang, Sp.Og
selaku preseptor yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam
penyusunan laporan kasus.
Penulis menyadari keterbatasan dan kekurangan dalam penulisan, sehingga
diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang membacanya.
Semoga tugasini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Jambi, Januari 2018

Penulis

3
BAB I
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
a. Nama : Ny.N
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Umur : 47 tahun
d. Alamat : RT 3 Simpang 3 sipin
e. Pekerjaan : IRT

II. Latar Belakang Sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga


a. Status Perkawinan : Sudah Menikah
b. Jumlah anak/saudara :2
c. Status ekonomi keluarga : Cukup
d. Kondisi Rumah :
Pasien tinggal dirumah dengan yang mempunyai satu ruang tamu dan dua kamar
tidur. Masing-masing kamar memiliki ventilasi yang cukup untuk pencahayaan dan
pertukaran udara. Dibagian rumah belakang terdapat ruang makan dan dapur. Mempunyai
satu kamar mandi dengan WC jongkok. Sumber air berasal dari ledeng sedangkan sumber
penerangan berasal dari PLN.

e. Kondisi Lingkungan Keluarga :


Pasien tinggal bersama suami dan kedua anaknya.
III. Aspek Psikologis di Keluarga : Hubungan pasien dengan keluarga baik.
IV. Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan bagian bawah ± 2 hari yang lalu.
V. Riwayat Penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah ± 2 hari yang lalu.
Nyeri pertama kali dirasakan pada ulu hati, timbul secara mendadak dan berlangsung terus
menerus hingga keesokan harinya nyeri berpindah ke perut kanan bawah. Nyeri perut tersebut
seperti tertusuk-tusuk, kadang terasa kram pada seluruh bagian perut. Nyeri yang dirasakan
kadang hilang timbul. Nyeri tidak menjalar ke punggung ataupun ke bagian lain. Pasien juga
mengeluhkan mual, muntah, demam tinggi 1 hari sebelum masuk puskesmas dan nafsu makan
tidak menurun. Tidak ada gangguan dalam buang air besar maupun buang air kecil. Pasien juga
mengaku jarang makan sayur dan suka makan yang pedas-pedas.

4
VI. Riwayat Penyakit Dahulu/keluarga : .
- Pasien tidak pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya
- Riwayat magg (+)
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat diabetes melitus disangkal.
- Riwayat stroke disangkal
- Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita keluhan yang sama seperti pasien.

VII. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum
1. Keadaan umum : Tampak sakit
Kesadaran : Compos mentis
2. Tanda vital
Suhu : 37,8 °C
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 94 x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Status Generalis
1. Kepala : Normocephale
 Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+)
 Telinga : Bentuk normal, sekret (-/-)
 Hidung : Napas cuping hidung (-), sekret (-/-)
 Mulut : Mukosa lembab, bibir sianosis (-), Lidah kotor (-)
2. Leher : Deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar limfe (-)
3. Thoraks : Bentuk simetris normal, benjolan (-), retraksi (-)
Jantung :
 Inspeksi : Ictus cordis tak tampak
 Auskultasi : Suara normal jantung regular, bising (-)
 Palpasi : Nyeri tekan (-). ictus cordis tidak kuat angkat
 Perkusi : tidak dilakukan

Pulmo :
 Inspeksi : Bentuk dada simetris normal, pergerakan paru simetris ki/ka.
 Palpasi : Pergerakan paru simetris, tidak ada gerakan yang tertinggal,
vokal fremitus kanan = kiri
 Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri

5
 Auskultasi : Suara dasar paru kanan kiri vesikular normal, wheezing (-), ronki
(-)
4. Abdomen :
 Inspeksi : Datar, sikatrik (-)
 Auskultasi : Bisung usus (+) normal
 Palpasi : Supel, defence muskular (-), nyeri tekan pada titik Mc. Burney (+),
nyeri lepas (+), rovsing sign (+), psoas sign (+), obturator sign (+), tidak ditemukan
adanya massa, Hepar dan limpa tidak teraba, nyeri ketok CVA (-/-)
 Perkusi : Timpani
5. Ekstremitas :
 Superior : Edema (-/-), akral dingin (-/-)
 Inferior : Edema (-/-), akral dingin (-/-)
VIII. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin:
Leukosit: 12,7 103/mL
Eritrosit: 4,68 106/mL
Hemoglobin: 12,4 gr/dL
Hematokrit: 40 %
Trombosit: 258 103/mL
IX. Diagnosis
Suspect Appendisitis Akut (K.35.8)

X. Manajemen
a. Promotif :
 Menjelaskan pada pasien kemungkinan penyakitnya appendisitis yaitu peradangan pada
usus.

 Menjelaskan pada pasien kemungkinan penyebabnya adalah kebiasaan buruk pasien


yang tidak suka makan sayur dan makan yang pedas.

 Menjelaskan pada pasien untuk tidak mengurut perutnya karena dapat menyebabkan
pecahnya usus buntu yang meradang dan dapat menyebabkan infeksi meluas ke seluruh
perut.

b. Preventif :
 Menghindari pencetus terjadinya Apendisitis seperti tidak makan makanan yang pedas
 Diet tinggi serat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

 BAB secara teratur

6
 Olahraga teratur

 Banyak minum air putih minimal 8 gelas sehari

c. Kuratif :
Non Farmakologi
 Bed rest, posisi fowler ( ½ duduk)
 Rujuk ke rumah sakit → Saran apendiktomi

Farmakologi

 Ciprofloxacin tab 500 mg x 2


 Paracetamol tab 500 mg x 3

Resep

Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas Simpang Kawat
Dokter Dwi Patimahhyen
SIP : 123456

Jambi, 2018

R / Ciprofloxacin 500 mg No. X


S 2 dd tab I

R / paracetanol 500 mg No. X


S 3 dd tab I

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Appendiks


Appendiks vermiformis adalah organ sempit, berbentuk tabung yang mempunyai otot dan
mengandung banyak jaringan limfoid. Panjang appendiks vermiformis bervariasi dari 3-5 inci (8-
13 cm). Dasarnya melekat pada permukaan posteromedial caecum, sekitar 1 inci (2,5 cm)
dibawah juncture ileocaecalis. Bagian appendiks vermiformis lainnya bebas. Appendiks
vermiformis diliputi seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada lapisan bawah mesenterium
intestinum tenue melalui mesenteriumnya sendiri yang pendek, yang disebut sebagai
mesoappendiks. Mesoappendiks berisi arteri, vena appendicularis dan saraf-saraf.2
Appendiks vermiformis terletak diregio iliaca dekstra, dan pangkal diproyeksikan kedinding
anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaka anterior
superior dan umbilicus (titik McBurney). Di dalam abdomen, dasar appendiks vermiformis
mudah ditemukan dengan cara mencari taeniae coli caecum dan mengikutinya sampai dasar
appendiks vermivormis, tempat taenia coli bersatu membentuk tunica muskularis longitudinal
yang lengkap.2

Gambar 2.1. Titik McBurney

2.1.1 Posisi Ujung Appendiks Yang Umum


Ujung appendiks vermivormis mudah bergerak dan mungkin ditemukan pada tempat-
tempat dibawah ini2 :
a. Posisi pelvika : Ujung appendiks terletak agak kekaudal kedalam pelvis berhadapan
dengan dinding pelvis dekstra, pada kedudukan ini appendiks mungkin melekat pada
tuba atau ovarium kanan.
b. Posisi retrosekal : Appendiks terletak retroperitoneal dibelakang caecum, appendiks
pada letak ini tidak menimbulkan keluhan atau tanda yang disebabkan oleh rangsangan
peritoneum setempat.

8
c. Posisi subsekal : appendiks terletak dibawak caecum.
d. Posisi Preileal : Berada didepan pars terminalis ileum
e. Posisi Postileal : Berada dibelakang pars terminalis ileum

Gambar 2.2 Macam-macam letak appendiks

2.1.2 Pendarahan
a. Arteri : Arteri appendicularis merupakan cabang arteri caecalis posterior. arteri ini
berjalan menuju appendiks.2
b. Venae : Vena appendikularis mengalirkan darahnya kevena caecalis posterior.2
2.1.3 Aliran Limf
Pembuluh limf mengalirkan cairan limf kesatu atau dua nodi yang terletak didalam
mesoappendiks dan dari sini dialirkan kenodi mesenterika superior.2

2.1.4 Persarafan
Saraf-saraf berasal dari cabang - cabang saraf simpatis dan parasimpatis (nervus
vagus) dari plexus mesenterikus superior. Serabut saraf aferen yang menghantarkan rasa
nyeri visceral dari appendiks vermiformis berjalan bersama saraf simpatis dan masuk
kemedulla spinalis setinggi vertebre thoracica x.2

2.2 Fisiologi Appendisitis Akut


Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya di curahkan ke dalam
lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya
berperan pada patogenesis appendiks. Immunoglobulin sektretoar yang dihasilkan oleh GALT (
gut associated lymphoid tissue ) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks,
ialah IgA . immunoglobulin sangat efektif terhadap infeksi.3
Karena appendiks merupakan suatu kantong yang buntu dengan lumen yang sempit dan
seperti traktus intestinalis lainnya secara normal berisi bakteri, resiko stagnasi dari isi appendiks

9
yang terinfeksi selalu ada. Resiko ini akan bertambah hebat dengan adanya suatu mekanisme
valvula pada pangkal apendiks yang dikenal dengan valvula Gerlach . Dengan adanya benda-
benda asing yang terperangkap dalam lumen appendiks, posisinya yang mobile, dan adanya
kinking, bands, adhesi dan lain-lain keadaan yang menyebabkan angulasi dari appendiks, maka
keadaan akan semakin diperburuk. Banyaknya jaringan limfoid pada dindingnya juga akan
mempermudah terjadinya infeksi pada appendiks.3

2.3 Definisi Appendisitis Akut


Appendisitis adalah peradangan pada appendiks vermiformis. Appendisitis akut merupakan
penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah rongga abdomen, penyebab
paling umum untuk bedah abdomen darurat. Appendisitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di
apendiks. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan
laparotomi dengan penyingkiran apendiks yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian
cukup tinggi dikarenakan oleh peritonitis dan syok ketika appendiks yang terinfeksi hancur.1

2.4 Morfologi Appendisitis Akut


Pada stadium paling dini, hanya sedikit eksudat neutrofil ditemukan di seluruh mukosa,
submukosa, dan muskularis propria. Pembuluh subserosa mengalami bendungan dan sering
terdapat infiltrat neutrofilik perivaskular ringan. Reaksi peradangan mengubah serosa yang
normalnya berkilap menjadi membran yang merah, granular, dan suram. Perubahan ini
menandakan appendisitis akut dini bagi dokter bedah. Kriteria histologik untuk diagnosis
appendisitis akut adalah infiltrasi neutrofilik muskularis propria. Biasanya neutrofil dan ulserasi
juga terdapat di dalam mukosa.4

2.5 Etiologi Appendisitis Akut


Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen appendiks merupakan
faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limf, fekalit, tumor
appendiks, cacing askaris. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan appendiks ialah erosi
mukosa appendiks karena parasit seperti E.histolytica.3,5
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah timbulnya appendisitis
akut.3,5

2.6 Epidemiologi Appendisitis Akut

10
Insidens appendicitis akut di negara maju lebih tinggi dari pada di Negara berkembang.
Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini
diduga disebabksn oleh meningkatnya pengguanaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Appendisitis dapat ditemukan disemua umur, hanya pada anak-anak kurang dari satu tahun
jarang dilaporkan. Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, Insidens pada laki-laki
dan perempuan umumnya sebanding.3

2.7 Patofisiologi Appendisitis Akut


Faktor penyebab yang paling dominan pada appendisitis akut adalah obstruksi dari
lumennya. umumnya disebabkan oleh fekalit. Obstruksi dapat pula disebabkan oleh hipertrofi
jaringan limfoid appendiks, sisa barium, biji buah atau sayuran, atau cacing askaris. Derajat
obstruksi yang terjadi meningkat sesuai dengan beratnya inflamasi. Fekalit ditemukan pada 40%
pada appendisitis akut, 60% pada gangrenous appendisitis tanpa ruptur, dan 95% pada gangrenous
appendisitis dengan ruptur.3,5
Kapasitas lumen appendiks yang normal adalah 0.1 ml. Produksi sekret mukosa appendiks
yang normal terjadi terus menerus sehingga apabila terdapat sumbatan pada bagian proksimal
appendiks akan menimbulkan distensi appendiks distal dari sumbatan dan mengakibatkan close
loop obstruction. Sekret sebanyak 0.5 ml pada distal dari obstruksi akan mengakibatkan
peningkatan tekanan intraluminal sebesar 60 cmH2O.3,5
Distensi tadi akan menstimulasi serabut syaraf nyeri visceral, menyebabkan nyeri tumpul
dan menyeluruh pada daerah umbilikal dan abdomen bawah. Terjadi juga peningkatan peristaltic
usus. Adanya stasis sekret pada distal obstruksi menyebabkan terjadinya multiplikasi bakteri
residen secara cepat sehingga terjadi inflamasi pada mukosa appendiks. Distensi akan bertambah
besar, terjadi peningkatan tekanan intraluminal yang melebihi tekanan vena sehingga terjadi
oklusi aliran vena sedangkan aliran arteri belum terganggu. Hal ini mengakibatkan kongesti
vaskuler dan edema sehingga memperhebat distensi. Pada stadium ini mulai timbul reflex nausea,
muntah, dan nyeri visceral difus yang bertambah berat.3,5
Proses inflamasi akan mempengaruhi serosa appendiks dan menyebar keperitonium parietal
sehingga timbul pergeseran nyeri keabdomen bagian bawah.
Ketika distensi yang progresif tersebut melampaui tekanan arteriolar, terjadi iskemik pada
daerah appendiks, terutama pada daerah yang paling buruk suplai darahnya, yaitu area
antemesentric border dimana akan terbentuk infark jaringan appendiks. Keadaan ini dikenal
sebagai appendicitis gangrenosa.3,5

Terjadinya distensi, infeksi bakteri, gangguan suplai darah, dan progresifitas infark akan
menyebabkan perforasi. Perforasi terutama terjadi didaerah infark tersebut, yaitu pada area arteri
mesenteric border. Akibat perforasi, terjadi kebocoran dari isi apendiks dan penyebaran infeksi

11
keseluruh kavum peritoneum. Jika proses ini terjadi secara lambat, akan timbul reaksi inflamasi
dimana akan timbul upaya untuk melokalisasi proses tersebut oleh omentum sehingga hanya akan
terjadi suatu peritonitis lokal. Jika upaya melokalisasi tersebut gagal, maka infeksi akan menyebar
keseluruh kavum peritoneum dan menimbulkan suatu peritonitis difus.3,5

2.8 Manifestasi Klinis


Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari dengan radang mendadak
appendiks disertai ataupun tidak disertai oleh rangsangan peritoneum lokal. Gejala klasik
appendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah
epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual, muntah. Umumnya nafsu
makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah kekanan bawah ketitik MCBurney.
Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik
setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terkadang konstipasi.3
Bila appendiks letaknya retrosaekal retroperitoneal, karena letanya terlindung oleh sekum,
tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa
nyeri lebih kearah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi muskulus
psoas mayor yang menegang dari dorsal.3
Appendiks yang terletak dirongga pelvis, bila meradang dapat menimbulkan gejala dan
tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat, pengosongan rektum akan
menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika appendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya.3

Gejala appendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan
tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Dalam beberapa jam
kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak menjadi lemah dan latergik. Karena gejala yang
tidak khas tadi, sering appendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90 % appendisitis
baru diketahui setelah terjadi perforasi.3
Pada beberapa keadaan, appendisitis agak sulit didiagnosa sehingga tidak ditangani pada
waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang berusia lanjut yang gejalanya sering
samar-samar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosa setelah perforasi.3
Pada kehamilan, keluhan utama appendisitis adalah nyeri perut, mual, muntah. yang perlu
diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual, muntah. Pada
kehamilan lanjut, sekum dan appendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak
dirasakan diperut kanan bawah tetapi lebih keregio lumbal kanan. 3
2.9 Pemeriksaan Fisik
 Tanda Vital

12
Tanda vital tidak terlalu banyak terjadi perubahan selama belum terjadi komplikasi. Suhu
tubuh naik sedikit tapi jarang kenaikan melebihi 1 oC, nadi normal atau sedikit naik. Apabila
telah terjadi perubahan yang nyata pada tanda-tanda vital biasanya telah terjadi komplikasi.5
 Inspeksi
Pasien biasanya berbarng dengan paha kanan difleksikan dan akan menghindari perubahan
posisi karena sakit. Bila disuruh bergerak akan melakukannya dengan sangat berhati-hati.4
 Palpasi6
- Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan
bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
- Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness (nyeri lepas tekan)
adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba
dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan dalam di titik Mc.
Burney.

Gambar 2.3 Nyeri tekan dan nyeri lepas pada titik McBurney
- Rovsing’s sign yaitu nyeri pada abdomen kanan bawah pada penekanan abdomen kiri
bawah juga menandakan adanya iritasi peritoneum diabdomen kanan bawah.5

Gambar 2.4 Rovsing’s Sign

- Blumber sign

13
Gambar 2.5 Blumberg’s Sign

- Nyeri tekan didaerah flank (appendiks yang letaknya retrocaecal)


- Abdomen tidak didapatkan nyeri (appendiks yang letaknya pelvic)  dari rectal toucher
terdapat nyeri tekan pada daerah cul-de-sac douglas.
- Psoas sign menandakan adanya iritasi dari musculus psoas. Pemeriksaan dilakukan
dengan mengekstensikan secara pasif tungkai bawah kanan penderita pada posisi
berbaring miring pada sisi kirinya. Hasil pemeriksaan positif apabila didapatkan nyeri
pada daerah abdomen kanan bawah.5

Gambar 2.6. Psoas Sign

- Obturator Sign menandakan adanya iritasi musculus obturator, pemeriksaan dilakukan


dengan melakukan internal rotasi secara pasif pada tungkai bawah dalam keadaan fleksi
pada posisi supine. Hasil positif bila didapatkan nyeri pada abdomen kanan bawah5
 Perkusi6
Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok.
 Auskultasi 6
Auskultasi akan terdapat peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik
karena peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak

14
membantu dalam menegakkan diagnosis appendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis
maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus.
Selain itu, untuk mendiagnosis apendisitis juga dapat digunakan skor Alvarado, yaitu:6

Yang Dinilai Score


Gejala Nyeri Fosssa iliaka kanan 1
Anoreksia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri tekan iliaka kanan 2
Nyeri lepas iliaka kanan 1
Kenaikan temperature 1
Laboratorium Leukositosis 2
Netrofil bergeser kekiri 1
Score Total 10

Penilaian
- Skor 1-4 : Tidak dipertimbangkan mengalami appendisitis akut
- Skor 5-6 : Dipertimbangkan appendisitis akut, tapi tidak perlu operasi segera
- Skor 7-8 : Dipertimbangkan mengalami appendistis akut
- Skor 9-10 :Hampir definitif mengalami appendisitis akut dan dibutuhkan tindakan
bedah

2.10 Pemeriksaan Penunjang


Pada appendisitis akut tanpa komplikasi, didapatkan adanya leukositosis ringan, antara
10.000-18.000 /mm3 dengan PMN yang dominan. Leukosit yang jumlahnya lebih dari
18.000/mm3 biasanya ditemukan pada appendisitis perforasi dengan atau tanpa terjadinya abses.5
Utuk menyingkirkan adanya kemungkinan infeksi saluran kemih diperlukan pemeriksaan
urinalisis. Hasil urinalisis dapat ditemukan leukosit dan eritrosit akibat iritasi pada ureter atau
kandung kencing akibat appendiks yang meradang. Pada appendisitis akut tidak ditemukan
adanya bakteriuria.5
Pemeriksaan rontgen polos abdomen jarang membantu menegakkan diagnosis appendisitis
akut. Pada pemeriksaan tersebut kadang-kadang dapat ditemukan adanya distribusi udara dalam
usus yang abnormal (Ileus lokal) dan tampak adanya fekalit diabdomen kanan bawah. Apabila
telah terjadi perforasi appendiks, dapat ditemukan gambaran pneumoperitoneum serta hilangnya

15
gambaran peritoneal fat dan psoas line. Pemeriksaan rontgen dada dibutuhkan untuk
menyeingkirkan suatu referred pain dari proses pneumonia pada lobus inferior paru kanan.5
Pemeriksaan USG lebih dianjurkan untuk membantu menegakkan diagnosa appendisitis
akut karena akurasinya yang baik . Tingkat sensitifitas dan spesifitas USG pada kasus appendisitis
akut adalah 85-98%. Kekurangan USG adalah bahwa hasil pemeriksaan tergantung pada
operator.5
Pada pemeriksaan USG, appendiks diidentifikasikan sebagai bayangan tubuler buntu yang
berasal dari caecum. Diagnosis appendisitis akut dapat ditegakkan bila didapatkan diameter
ukuran antero-posterior appendiks > 6 mm, atau didapatkan fekalit pada appendiks. Pemeriksaan
dikatakan negatif apabila appendiks tidak terdeteksi dan tidak ditemukan adanya cairan atau masa
pericaecal. Apabila hasil pemeriksaan negatif, perlu dilakukan pemeriksaan organ-organ lain
untuk menegakkan diagnosis lain seperti ginjal, traktus urinarius, serta organ reproduksi wanita.5
Pemeriksaan penunjang lain yan dapat dilakukan adalah pemeriksaan CT-Scan, Barium
Enema, atau Radioisotop Labeled Leucocyte scans. Pemeriksaan CT-scan lebih akurat
dibandingkan dengan USG, tetapi biaya pemeriksaan lebih mahal dan penderita terkena paparan
radioaktif lebih besar sehingga sebaiknya pemeriksaan ini hanya dilakukan pada penderita dengan
kecurigaan adanya abses appendical yang akan dilakukan drainage perkutan. Pada pemeriksaan
barium enema diagnosis appendisitis akut ditegakkan berdasarkan adanya non-filling of the
appendiks.5
Pemeriksaan labeled radioisotope ada 2 macam, yaitu dengan radiolabelled leukosit
(Tc99WBC) dan dengan radiolabelled imunoglobulin G (Tc99IgG). Pemeriksaan ini dapat
digunakan untuk penderita yang dicurigai appendisitis akut, namun negatif pada pemeriksaan
USG dan CT-Scannya .5
Laparoskopi dapat dilakukan sebagai suatu tindakan diagnostic dan terapeutik pada kasus
nyeri akut abdomen seperti appendisitis akut. Pada wanita dengan keluhan nyeri perut bawah,
pemeriksaan laparoskopi sangat berguna untuk menegakkan diagnose appendisitis akut dan
menyingkirkan kemungkinan kelainan dibidang ginekologis.5

2.11 Diagnosis Banding3


Pada keadaan tertentu beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding

a. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistalsis sering ditemukan. Panas dan leukositosis
kurang menonjol dibandingkan appendisitis akut.
b. Limfadenitis mesenterika

16
Limfadenitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau gastroenteritis ditandai
dengan nyeri perut, terutama kanan disertai dengan perasaan mual, nyeri tekan perut
samar, terutama kanan.
c. Epiploic Appendisitis
Karena terjadinya torsio pada appendages sehingga terjadinya iskemia. Gejala biasanya
minimal dan tidak ada pergeseran rasa nyeri. Penderita biasanya tidak terlihat sakit, tidak
ada keluhan mual, muntah ataupun anoreksia. Biasanya didapatkan nyeri tekan yang
terlokalisir.
d. Infeksi panggul
Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan appendisitis akut. Suhu biasanya lebih
tinggi dari pada appendicitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. Infeksi
panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina akan
timbul nyeri hebat dipanggul jika uterus diayunkan. Dan dapat juga dilakukan colok
dubur jika perlu untuk diagnosis banding.
e. Urolitiasis pielum/ureter kanan
Batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat kolik dari pinggang keperut menjalar
ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Eritrosituria sering ditemukan. Foto
polos perut atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut. Pielonefritis
sering disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral disebelah kanan,
dan piuria.
f. Kista ovarium terpuntir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pemeriksaan perut, colok vaginal, atau colok rektal.4

2.12 Penatalaksanaan
Penderita yang telah didiagnosis sebagai appendisitis akut harus disiapkan untuk operasi.
Untuk itu harus memperhatikan status hidrasi penderita, keseimbangan elektrolit, dan kelainan-
kelainan pada jantung, ginjal dan paru-paru.
Pemberian antibiotic pre-operatif diberikan untuk menurunkan komplikasi infeksi pada
appendisitis. Jika operasi hanya didapatkan appendisitis akut simple tanpa perforasi, maka
antibiotik diberikan cukup sampai 24 jam post operasi. Jika terdapat perforasi atau gangrenous
appendiks, maka pemberian antibiotik dilanjutkan sampai penderita afebris dan jumlah
leukositnya kembali kebatas normal.5
a. Open Appendectomy
Tindakan operasi untuk appendsitis akut tanpa perforasi adalah dengan menggunakan
insisi pada right lower quadrant muscle splitting Mc.Burney (Oblique) atau Rocky Davis

17
(Transverse). Insisi yang dilakukan harus mencakup daerah dimana nyeri tekannya
maksimal dirasakan atau dimana teraba massa.
Apabila telah terjadi perforasi dan terdapat tanda-tanda peritonitis, insisi yang
dilakukan adalah lower midline incision untuk mendapatkan exposure yang lebih baik pada
cavum peritoneum. Setelah dilakukan insisi, dilakukan identifikasi caecum. Bila caecum
telah teridentifikasi, dilanjutkan dengan identifikasi appendiks dengan mengikuti ketiga
taenia coli sampai kepertemuannya (basis appendiks), kemudian ujung appendiks dicari
sampai seluruh appendiks dapat tereksposure dengan memobilisasi caecum.5
Setelah appendiks tereksposure, dilakukan pembebasan appendiks dari
mesoappendiks sambil melakukan ligasi arteri appendikularis. Apabila appendiks telah
terbebas dari mesoappendiks sampai pangkal appendiks, dilakukan appendectomy. Pada
appendiks perforasi atau gangrenous appendiks dilakukan pencucian rongga abdomen
dengan normal saline sampai bersih.5
Apabila teraba massa pada abdomen kanan bawah (2-5 % pada kasus appendisitis)
yang dicurigai pada appendikular abses, tindakan yang dilakukan adalah percutaneus
drainage dengan guiding USG atau CT-Scan disertai dengan pemberian antibiotik untuk
bakteri aerob gram negatif dan bakteri anaerob.5
Jika pada operasi tidak didapatkan appendisitis, perlu dicari kelainan lain sebagai
diagnosis alternatif, mulai dari caecum sampai mesenterium, dilanjutkan dengan eksplorasi
dari intestine secara retrograde mulai dari ileocaecal valve. Pada wanita harus dilakukan
eksplorasi pada organ reproduksinya.5
b. Laparascopy Appendectomy
laparoscopy merupakan suatu tekhnik baru yang dapat digunakan untuk diagnosis
dan terapetik appendisitis akut.2
Keuntungan laparoscopy appendectomy dipilih dibandingkan dengan open
appendictomy antara lain untuk menurunkan insidensi infeksi luka operasi. Mengurangi
nyeri pada penderita, menurunkan hospitalisasi dan lebih cepat penyembuhannya. Prinsip
laparoscopy appendectomy sama dengan laparaskopi untuk tujuan lain. Penderita harus
dipasang kateter urin dan NGT sebelumnya. Operator berdiri disisi kiri penderita dengan
monitor pada sisi kanan penderita. Kemudian dibuat keadaan pneumoperitoneum. Trochar
canulla sepanjang 10 mm dimasukkan melalui umbilikus. Forward viewing laparoscopy
dimasukkan melalui kanula tersebut dan dilakukan inspeksi cavum peritoneum. Kemudian
trochar 10 mm kedua dimasukkan melalui regio suprapubik pada garis tengah dan
additional 5 mm port dibuat diabdomen kanan atas dan kanan bawah.5
Eksposur dilakukan dengan merubah posisi pasien menjadi trendelenburg dengan sisi
kanan lebih tinggi. Pada umumnya caecum dan appendiks dapat dengan mudah
diidentifikasi. Kemudian dilakukan penarikan mesoappendiks melalui penarikan tip

18
appendiks dengan atraumatik gasper yang ditempatkan di trochar abdomen kanan atas.
Mesoappendiks dipisahkan dengan alat stapling atau elektrokauter untuk diseksi dan diklips
atau ligating loop untuk mengikat arteri appendikularis.5
Pemisahan mesoappendiks dilakukan sedekat mungkin dengan appendiks. Setelah
basis appendiks tereksposure, 2 ligating loop ditempatkan diproksimal dan distal basis
appendiks. Kemudian dilakukan appendectomy dengan sassor dan elektrocauterization.
Appendiks kemudian dibebaskan melalui trokhar yang terletak di suprapubik.5

2.13 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada appendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa massa
yang terdiri atas kumpulan appendiks, sekum, dan lekuk usus halus.3
Komplikasi appendisitis juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan, obstruksi usus
halus, abses abdomen/pelvis, dan jarang sekali menimbulkan kematian.7
Selain itu, terdapat komplikasi akibat tindakan operatif. Kebanyakan komplikasi yang
mengikuti apendisektomi adalah komplikasi prosedur intraabdomen dan ditemukan ditempat-
tempat yang sesuai, seperti : infeksi luka, abses residual, sumbatan usus akut, ileus paralitik,
fistula tinja eksternal, fistula tinja internal, dan perdarahan dari mesenterium appendiks.1,7
2.14 Prognosis
Diantara beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan insiden yang bermakna adalah
diagnosis dan penatalaksanaan yang lebih baik.
Kematian biasanya disebabkan sepsis yang tidak terkontrol, peritonitis, abses
intraabdominal atau septikimia gram negative.

Angka kejadian parallel dengan angka mortalitas, menjadi meningkat dengan adanya
rupture appendiks dan sebagian kecil karena penambahan usia. Komplikasi dini yang paling
serius adalah sepsis dan termasuk abses serta infeksi luka.8

19
BAB III
ANALISIS KASUS

a. Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar


Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, akhirnya didapatkan diagnosa penyakit
yang diderita pasien yaitu Suspek Apendisitis ditegakkan berdasarkan dari gejala-gejala
yang dikeluhkan pasien. Dimana gejala ini sesuai dengan teori menunjukkan gejala
Apendisitis
Pasien tinggal dirumah dengan yang mempunyai satu ruang tamu dan dua kamar tidur.
Masing-masing kamar memiliki ventilasi yang cukup untuk pencahayaan dan pertukaran udara.
Dibagian rumah belakang terdapat ruang makan dan dapur. Mempunyai satu kamar mandi
dengan WC jongkok. Sumber air berasal dari ledeng sedangkan sumber penerangan berasal dari
PLN.Berdasarkan anamnesis tidak ada hubungan antara keadaan rumah pasien dengan
faktor risiko terjadinya appendisitis akut.
b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga
Pasien tinggal suami dan kedua anaknya. Secara psikologis pasien tidak punya
masalah dalam keluarga. Di dalam hubungan diagnosis dan aspek psikologis
dikeluarga tidak ada hubungannya dengan penyakit pasien, karena didalam keluarga
pasien berhubungan baik dengan orangtua dan adiknya. Juga didalam teori tidak
menyatakan bahwa salah satu faktor pencetus dari Apendisitis bukanlah faktor stress.
c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan
sekitar
Keluarga os hidup di lingkungan tempat tinggal di rumah cukup bersih dan tertata
dengan rapi. Keadaan disekitar rumah cukup bersih. Pembuangan sampah dan limbah di
nilai cukup baik. Pada kasus ini penyakit pasien tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan

d. Analisis kemungkinan berbagai faktor resiko atau etiologi penyakit pada pasien
ini.
Adapun faktor pencetus atau etiologi yang menimbulkan appendisitis pada pasien
ini adalah akibat infeksi karena pasien suka makan yang pedas sehingga mengakibatkan
infeksi pada usus.
e. Analisis untuk mengurangi paparan atau memutuskan rantai penularan dengan
faktor risiko atau etiologi pada pasien ini.

20
 Menghindari pencetus terjadinya Apendisitis seperti tidak makan makanan yang
pedas
 Diet tinggi serat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

 BAB secara teratur

 Olahraga teratur

 Banyak minum air putih minimal 8 gelas sehari

DAFTAR PUSTAKA

1. Burkitt, H.G., Quick, C.R.G., and Reed, J.B., 2007. Appendicitis. In: Essential Surgery Problems,
Diagnosis, & Management. Fourth Edition. London: Elsevier, 389-398.
2. Snell RS. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2006.Hal.230-
231.
3. Sjamsuhidayat R, De jong W. Apendiks vermiformis pada buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-dua.
Jakarta: EGC; 2005. Hal.640-641.
4. Crawford, J dan Kumar, V., 2007. Rongga Mulut dan Saluran Gastrointestinal. In: Buku Ajar
Patologi. Edisi 7. Jakarta: EGC, 660-661.
5. Schwartz SI. Appendix, in principles of surgery, 7th Ed. USA: The McGraw-Hill Companies;
P.1383-1393.
6. Departemen Bedah UGM. 2010. Apendik. Available from:
http://www.bedahugm.net/tag/appendix [Accessed 16 Juni 2017].
7. Craig, S., 2011. Appendicitis Treatment & Management. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/773895-treatment [Accessed 16 Juni 2017].
8. Sanyoto, D., 2007. Masa Remaja dan Dewasa. Dalam: Utama, Hendra, ed. Bunga Rampai
Masalah Kesehatan dari dalam Kandungan sampai Lanjut Usia. Jakarta: Balai Penerbit FK UI,
297-300.

21
22

Beri Nilai