Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN

TENTANG
PENGUKURAN PARAMETER FISIKA, KIMIA, DAN
PLANKTON

Oleh:
Nama : Henny A.Manibuy
NIM : CDA 118 048

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2019
KATA PENGANTAR

Syalom

Salam sejaterah untuk kita semua

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadapan Tuhan yang maha kuasa karena atas kasih
karuniaNya saya dapat mengerjakan Laporan Ekologi perairan yang diberikan oleh dosen
saya hingga selesai namun memang banyak kesulitan yang saya temui saat mengerjakan
laporan ini namun saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan saya kesehatan dan
kesempatan hingga saya dapat menyelesaikan laporan ini hingga selesai saya berharap
laporan ini dapat dibaca dan berguna bagi yang membutuhkan, saya juga berterima kasih
kepada dosen saya karena memberikan saya kepercayaan untuk mengerjakan laporan ekologi
perairan ini.

Palangka Raya, 01 Juli 2019

Penulis

Henny A.Manibuy
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………I
DAFTAR ISI...............................................................................................II
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................1.1
Tujuan dan manfaat......................................................................................1.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ekologi perairan ...........................................................................................……..2.1
Ciri-ciri ekosistem kolam .............................................................................……..2.2
Siklus hidrologi air………………………………………………………....…….2.3
Faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem kolam……………………....…….2.4
BAB III
METODE PRAKTEK
Tempat dan waktu pelaksanaan………………………………………..……3.1
Bahan dan alat……………………………………………………………....3.2
Teknik pengumpulan data…………………………………………………..3.3
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil…………………………………………………….….4.1
Pembahasan………………………………………………..4.2
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan ..................................................................................................3.1
Saran ............................................................................................................3.2
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1.Alat dan bahan……………………………………..…9
Tabel 4.1.Hasil………………………………………………….11
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1.waktu dan tempat pelaksanaan…………………..9
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekosistem kolam ditandai oleh adanya bagian perairan yang tidak dalam sehingga
(kedalamannya tidak lebih dari 4-5 meter) yang memungkinkan tumbuh-tumbuhan
berakar dapat tumbuh di semua bagian perairan, tidak ada batasan tegas yang dapat
dibuat antara danau dan kolam. Ada perbedaan kepentingan secara ekologis selain
dari ukuran secara keseluruhan. Dalam danau zona limnetik dan profundal relatif
besar ukurannya dibandingkan dengan zona litoral bila sifat-sifatnya kebalikannya
biasanya disebut kolam. Jadi zona limnetik adalah daerah produsen utama untuk
danau secara keseluruhan. Menurut Arfiati, ekosistem air tawar diikuti oleh organisme
dari tingkat sederhana seperti bakteri, jamur, dan plankton sampai organisme tingkat
tinggi. Ekologi Perairan adalah ilmu tentang lingkungan yang mempelajari hubungan
timbal balik atau interaksi antara organisme dan lingkungan. Dimana lingkungan
tersebut akan mempengaruhi kenyamanan hidup organisme dengan faktor-faktor yang
terdapat di dalamnya meliputi faktor fisika (Suhu, Kecerahan, Arus) faktor kimia
(DO, pH) dan faktor biologi (plankton, substrat), sehingga dengan mempelajari.
Ekologi perairan mampu mengetahui perihal hubungan timbal balik antar organisme
perairan. Ekologi didefinisikan sebagai ilmu tentang hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dengan lingkungan. Istilah ekologi pertama kali ditemukan oleh
Haeckel, seorang ahli biologi pada akhir pertengahan dasawarsa 1960. Ekologi
berasal dari bahasa Yunani (oikos yang berarti rumah) dan (logos yang berarti ilmu)
sehingga secara harfiah ekologi berarti ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.

2.1 Tujuan dan Manfaat


 Penerapan teori pada kenyataan nyata di lapangan
 Penggunaan peralatan dan instrument tertentu
 Pemahaman teori saat berada di lapangan
 Sebagai dasar penelitian
 Menumbuhkan rasa empati terhadap ekosistem kolam
 Mampu mengetahui alat apa saja yang digunakan saat praktikum berlangsung
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekologi Perairan


Ekosistem perairan merupakan suatu unit ekologis yang mempunyai komponen
biotik dan abiotik yang saling berhubungan di habitat perairan. Komponen biotik
terdiri atas komponen flora dan fauna, sedangkan komponen abiotik terdiri atas
komponen tidak hidup misalnya air dan sifat fisik dan kimianya. Ilmu yang
mempelajari peranan laut terbuka tersebut oseanografi, sedangkan ilmu yang
mempelajari perairan tawar dan asin di bawah pesisir disebut himnologi. Ekologi
adalah ilmu mengenai hubungan organisme dengan lingkungannya, mempelajari
hubungan antara tempat hidup organisme dan interaksi mereka dengan lingkungan
secara alami atau lingkungan yang sedang berkembang. Ekologi perairan adalah ilmu
yang mempelajari hubungan organime dengan lingkungan perairan. Ekologi
didefinisikan sebagai ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungan. Istilah ekologi pertama kali ditemukan oleh Haeckel, seorang ahli
biologi pada akhir pertengahan dasawarsa 1960. Ekologi berasal dari bahasa, Yunan
(ioikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu) sehingga secara harfiah
ekologi berarti ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.

2.2 Ciri-ciri Ekosistem Kolam


Ekosistem kolam ditandai oleh adanya bagian perairan yang tidak dalam sehingga
(kedalamannya tidak lebih dari 4-5 meter) yang memungkinkan tumbuh-tumbuhan
berakar dapat tumbuh di semua bagian perairan, tidak ada batasan tegas yang dapat
dibuat antara danau dan kolam. Ada perbedaan kepentingan secara ekologis, selain
dari ukuran secara keseluruhan. Dalam danau zona limneti dan profundal relatif besar
ukurannya dibandingkan dengan zona litoral, bila sifat-sifatnya kebalikannya
biasanya disebut kolam. Jadi zona limnetik adalah daerah produsen utama untuk
danau secara keseluruhan. Kolam adalah daerah perairan yang kecil di mana zona
litoralnya relatife besar dan daerah limnetik serta profundal kecil atau tidak ada.
Stratifikasi tidak terlalu penting, kolam dapat dijumpai dikebanyakan daerah dengan
curah hujan yang cukup. Kolam-kolam terus menerus terbentuk, contohnya bila aliran
air berpindah, meninggalkan bekas aliran terisolasi sebagai perairan yang tergenang.
Menurut Rifqi, kolam umumnya didefinisikan sebagai kumpulan air yang dangkal dan
sifat umumnya relatif merupakan air tenang dan kaya akan vegetasi kolam dapat
dibagi sebagai berikut :

 Kolam berasal dari danau yang luas


 Kolam yang tidak berhubungan dengan danau dan ukurannya kecil.
 Kolam buatan manusia

Berdasarkan musimnya kolam dapat dibedakan sebagai berikut :

 Kolam sementara
Kolam sementara atau temporari hanya ada pada waktu ada air
sementara dan di waktu lain menjadi kering.
 Kolam permanen
Kolam permanen berisi air sepanjang tahun

2.3 Siklus Hidrologi Air


Menurut Effendi, siklus hidrologi air tergantung pada proses evaporasi dan
prespitasi, air yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air dilapisan
atmosfer melalui proses evaporasi (penguapan) air sungai, danau, dan laut serta proses
evapotranspirasi atau penguapan air oleh tanaman. Uap air bergerak ke atas hingga
membentuk awan yang dapat berpindah oleh karena tiupan angina. Oleh pengaruh
udara pada lapisan atmosfer, uap air membesar dan akhirnya jatuh sebagai hujan. Air
tawar di bumi berasal dari siklus air yang sudah diatur sangat baik oleh Yang Maha
Kuasa melalui proses penguapan. Kemudian terbentuk awan dan kemudian turun
hujan selanjutnya menjadi air lonon, air infiltrasi baru kemudian muncul kembali ke
permukaan bumi, sebagai sumber atau mata air yang bersih dan jernih karena telah
mendapat proses penyaringan alami dari lapisan-lapisan tanah. Dengan demikian
manusia dan organisme yang ada di bumi ini dapat dengan mudah menjangkau dan
memanfaatkannya. Prinsipnya air yang berasal dari hujan akan masuk ke dalam tanah.
Namun tidak semua air dapat ditampung oleh tanah. Hal ini disebabkan karena setiap
jenis batuan memiliki kemampuan menyerap yang berbeda-beda, siklus air atau siklus
hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan
kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presitipitasi, evaporasi dan transpirasi.
Pemanasan air samudera merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat
berjalan secara kontinyu. Air berevaporasi kemudian jatuh sebagai presitipitasi dalam
bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es, dan hujan gerimis atau kabut. Pada
perjalanan menuju bumi beberapa presitipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas
atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai
tanah. Setelah mencapai tanah siklus hidrologi terus bergerak secara kontinyu dalam
tiga cara yang berbeda..

2.4 Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Ekosistem Kolam

Dalam ekosistem kolam terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesetimbangan


kolam antaranya akan dijelaskan sebagai berikut :
 Faktor Fisika
Pada suhu yang tinggi metabolisme organisme juga mengalami peningkatan-
peningkatan suhu sebesar 10˚C dapat mengakibatkan peningkatan proses metabolisme
sebesar dua kali lipat, yang juga menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen.
Apabila pencernaan panas ini disertai dengan pencernaan bahan organik maka
penurunan oksigen diperairan akan lebih tajam. Ke dalaman perairan di mana proses
fotosintesis dengan proses respirasi disebut kedalama kompensasi. Kedalaman
kompensasi biasanya terjadi pada saat cahaya di dalam kolam air hanya tinggal 1%
dari seluruh intensitas cahaya yang mengalami penentrasi di permukaan air,
kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi oleh kekeruhan dan keberadaan awan
berfluktuasi secara harian dan musiman. Akibat meningkatnya laju metabolisme, akan
menyebabkan konsumsi oksigen meningkat sementara di lain pihak dengan naiknya
temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang. Hal
ini dapat menyebabkan organisme air akan mengalami kesulitan untuk melakukan
respirasi. Menurut Arfiati, air tergantung yang melarut dalam aliran memberikan
tekanan kepada semua benda di dalamnya termasuk ikan. Distribusi cahaya pada air
tergenang juga akan makin berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Makin jernih
air makin banyak cahaya yang dapat menembus perairan sehingga suhu air menjadi
hangat untuk perairan keruh, bau disebabkan oleh kepadatan fitoplankton maupun
karna parlemen tanah, tingkat kecerahan air sangat rendah, aspek lain adalah
kekentalan.

 Faktor Kimia
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH
sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan misalnya
proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitas meperlihatkan penigkatan
pada pH rendah. Menurut Sekarwangi, kolam merupakan suatu ekosistem air
(aquatik) sebagai tempat hidup hewan-hewan air dan vegetasi air. Vegetasi air dan
hewan air menjadikan kolam suatu ekosistem yang mempunyai fungsi tertentu.
Komponen-komponen kolam terdiri atas senyawa-senyawa abiotik air (CO2, O2, Ca,
Nitrogen, garam-garam fosfor, dan asam aminom) Organisme produsen (Algae atau
ganggang) Organisme mikro konsumen (Larva serangga, crustacean, dan ikan)
Organisme saprofit (Bakteri, Flagellata dan jamur). Organisme air dapat hidup dalam
suatu perairan yang mempunyai nilai pH dengan kisaran toleransi antara asam lemah
sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya
terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun
sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme, karena akan
menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Konsentrasi ion
hidrogen (H+) dalam suatu cairan dikatakan denag pH, organisme sangat sensitive
terhadap perubahan ion hidrogen. Pada proses penjernihan air limbah pH menjadi
indikator untuk meningkatkan efensiensi proses penjernihan. Air limbah
pertambangan atau petanian mengakibatkan tingginya kosentrasi ion hidrogen
sehingga membahayakan kehidupan air.

 Faktor Biologi
Menurut Kristanto, komponen pembentuk ekosistem adalah komponen hidup dan
komponen tidak hidup dua komponen tersebut hidup dalam satu tempat dan
berinteraksi membentuk suatu kisaran yang teratur, misalnya pada suatu ekosistem
kecil contonya aquarium, ekosistem dalam air terdiri dari ikan, tumbuhan air,
plankton yang melayang dan tergantung dalam air sebagai komponen hidup. Menurut
Syarinanto, organisme pada kolam seperti ini harus dapat bertahan pada stadium
domain selama periode kering atau dapat bergerak keluar atau ke dalam kolam seperti
amphibi dan serangga air yang dewasa. Mikroba menonjol karena dapat beradaptasi
dengan baik dan amat terbatas penyesuaiannya pada kolam sementara. Produksi
primer itu adalah langkah pertama dalam rantai makanan atau jaring makanan,
produksi primer itu adalah laju produksi bahan baku tanaman oleh fotosintesis yang
biasanya diukur atau dinyatakan g˚ (terikat) tiap m2 permukaan air pertahun atau
perhari. Oleh karena produksi primer itu tersebut diperlukan nutrient berupa nitrat dan
forfat dan sinar matahari. Dan menurut Arfiati, ekosistem air tawar diikuti oleh
organisme dari tingkat sederhana seperti bakteri dan jamur sampai organisme tingkat
tinggi.
BAB III
METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Kegiatan praktikum lapangan ekologi perairan ini dilaksanakan pada hari rabu
tanggal : 26 Juli 2019 pukul 15.10 WIB – 17.00 WIB yang bertempat di
laboratorium basah Jurusan Perikanan, Universitas Palangka Raya.

3.2 Bahan dan Alat


Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ekologi perairan adalah
sebagai berikut :

Alat Bahan
Secchi Disk Air Kolam
Thermometer Hg Air Kolam
Tali Ber-skala dan Batu Pemberat Air Kolam
Do Meter Air Kolam
pH Meter Air Kolam
Plankton Net Air Kolam

3.3 Teknik Pengumpulan Data

 Kecerahan
Disiapkan alat yang akan digunakan yaitu secchi disk. Dimasukkan
secchi disk kedalam perairan sampai batas tidak tampak pertama kali dan
itu dihitung sebagai D1. Kemudian, masukkan kembali secchi disk sampai
benar-benar tidak tampak kemudian ditarik secara perlahan sampai batas
tampak pertama kali dan dihitung sebagai D2. Kemudian catat dan
dihitung kecerahannya dengan rumus : (ditambah dan dibagi 2).
 Suhu
Pertama-tama yang harus dilakukan yaitu dengan menyiapkan alat dan
bahan, alat yang digunakan pada pengukuran suhu yaitu Thermometer Hg.
Thermometer Hg dimasukkan ke dalam perairan selama 2 menit sebagai
asumsi bahwa dalam kurun waktu 2 menit suhu dalam perairan tersebut
telah mempengaruhi kenaikan raksa pada thermometer dan ditunggu
sampai air raksa konstan pada skala tertentu. Pengukuran ini dilakukan
dengan membelakangi sinar matahari agar tidak terpengaruh oleh suhu
sinar matahari dan tidak boleh tersentuh oleh tangan karena dapat
mempengaruhi suhu Thermometer Hg tersebut, pembacaan Thermometer
Hg dilakukan ketika Thermometer Hg masih di dalam perairan karena
suhu lingkungan juga dapat mempengaruhi suhu Thermometer Hg.
Kemudian dicatat hasilnya.
 Kedalaman
Pertama-tama disiapkan tongkat skala dan dimasukkan ke dalam
perairan hingga sampai ke dasar perairan. Kemudian, diamati permukaan
perairan yang menunjukkan skala batas kedalaman perairan yang akan
diamati. Setelah itu, diangkat tongkat skala dari perairan kemudian dicatat
hasilnya.
 Oksigen Terlarut (Do Meter)
Disiapkan botol DO, kemudian diisi dengan air sampel. Pengambilan
air dengan posisi miring 45° agar tidak terdapat gelembung udara karena
dapat berpengaruh terhadap nilai kandungan oksigen yang diukur.
 pH
Masukkan air kedalam tutup chamber dan ditunggu sampai Display
mengalami kesetabilan kemudian baru bisa kita lihat nilai pHnya.
 Pengambilan Sampel Plankton
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan, yakni :
timba, plankton net, botol film, lugol. Sebelumnya, ikat botol film dengan
plankton net bagian bawah untuk menampung sampel plankton yang
didapatkan. Kemudian pada perairan diambil air dengan timba sebanyak
10 liter air sebagai asumsi plankton tersaring pada plankton net telah
mewakili sampel yang akan diidentifikasi lalu diangkat ke permukaan.
Setelah itu tuangkan air sampel tersebut pada plankton net yang sudah
terikat botol fim tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Kecerahan 18 + 10 = 28 : 2 = 14
Suhu 31ºC
Kedalaman 110 Cm (Tali) + 10Cm (Batu) =
120
Parameter Kimia 5,90 Mg/L
pH Meter 5,7
Pengambilan Sample 1 gayung (1 L) ambil sebanyak
10x

4.2 Pembahasan
 Pengaruh Faktor Kimia dan Fisika
Dari praktikum yang dilakukan terdapat faktor fisika meliputi suhu,
kecerahan, dan kedalaman. Sedangkan faktor kimia dapat dilihat dari
pengukuran Do Meter, dan pH meter. Dari praktikum yang dilakukan,
maka didapatkan suhu kolam biasa sebesar 23,0ºC dan kecerahan kolam
adalah 14% ,suhu sebesar 31ºC, kedalaman 120 Cm, parameter 5,90 Mg/L,
dan pH rata-rata sebesar 5,7. Pernyataan diatas diketahui bahwa terdapat
pengaruh nilai faktor fisika dan kimia air yang dibuktikan dengan adanya
perubahan suhu, kecerahan, kedalaman dan pH yang mempengaruhi
kehidupan ekosistem kolam.
 Interaksi Antar Orga Interaksi Antar Organisme yang ada
Interaksi antar organisme atau yang biasa disebut dengan simbiosis
pada lokasi praktikum Ekologi Perairan, dapat digolongkan menjadi
beberapa interaksi atau simbiosis di dalamnya. Kondisi netral yaitu dimana
organisme dalam habitat yang salah tidak rugi dan tidak merugikan kedua
belah pihak, misalnya serangga air yang mengapung di air dan
chironomous yang terdapat di dasar kolam, kemudian interaksi predasi
yang terbesar adalah dari kegiatan manusia sebagai predator utama.
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan pada praktikum Ekologi Perairan kali ini
antara lain :
 Ekologi perairan dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari
hubungan timbal balik atau interaksi antara makluk hidup dengan
lingkungannya, lingkungan yang dimaksud tidak hanya faktor abiotik saja.
 Dalam praktikum Ekologi Perairan didapatkan hasil bawa suhu pada
kolam berkisar 31ºC dan pH adalah 5,7.

5.1 Saran
Diharapkan kepada praktikum agar lebih teliti dalam melakukan prosedur kerja
sekaligus perhitungan dari tiap-tiap parameter pengukuran yang dilakukan sehingga
nantinya akan didapatkan hasil yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA

Arfiati, Diana. 2009. Strategi Peningkatan Kualitas Sumberdaya pada Ekosistem Perairan
Tawar. Universitas Brawijaya : Malang.

Asmawi, Suhaili. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Penerbit PT. Gramedia: Jakarta

Brotowidjoyo, M. D, Djoko T. dan Eko M. 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan


Budidaya Air. Liberty: Yogyakarta

Closs, G, Barbara D and Andrew B. 2004. Freshwater Ecology. Blackwell Publishing:


Australia.

Effendi, Hefni. 2003. Kualitas Air. Kanisius: Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai