Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN

MAKALAH FORCIBLE ENTRY

Rafli Fauzan Widiatmoko


R0216077

PROGRAM DIPLOMA 4 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman
merupakan hal yang di inginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat
kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam
mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan
suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif
terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan
absensi dan peningkatan produktifitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang
sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat yang bahaya mempengaruhi
kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendah nya
kualitas kesehatan pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi
dampak negative lainnya.
Kebakaran adalah suatu peristiwa oksidasi dengan ketiga unsur (bahan
bakar, oksigen dan panas) yang berakibat menimbulkan kerugian harta benda
atau cidera bahkan sampai kematian (Karla, 2007; NFPA, 1986). Menurut
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), kebakaran
adalah suatu peristiwa bencana yang berasal dari api yang tidak dikehendaki
yang dapat menimbulkan kerugian, baik kerugian materi (berupa harta benda,
bangunan fisik, deposit/asuransi, fasilitas sarana dan prasarana, dan lain-lain)
maupun kerugian non materi (rasa takut, shock, ketakutan, dan lain-lain)
hingga kehilangan nyawa atau cacat tubuh yang ditimbulkan akibat kebakaran
tersebut.
Dalam ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tentang kebakaran
sendiri dipelajari untuk mengetahui bagaimana cara mencegahan terhadap
kebakaran dan cara mengatasinya apabila kebakaran terjadi. Ramli (2010)
menjelaskan bahwa api tidak terjadi begitu saja tetapi merupakan suatu proses
kimiawi antara uap bahan bakar dengan oksigen dan bantuan panas. Oleh
sebab itu, kebakaran tentunya dapat diatasi jika penyebab dari terjadinya api
yang mengakibatkan kebakaran ditemukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menemui kasus kecelakaan
kerja. Ada berbagai macam penyebab-penyebabnya. Dalam hal ini perlu
adanya upaya dalam tindakan penyelamatan. Salah satu upaya yang bisa
dilakukan dalam keadaan darurat adalah dengan menerapkan teknik
penyelamatan kebakaran dengan forsible entry. Forsible Entry adalah suatu
upaya atau teknik pemadaman kebakaran dengan cara masuk kelokasi dimana
terdpat potensi bahaya (kebakaran) dengan cara memaksa. (Kemenakertrans
RI No 7 Tahun 2014). Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam membuka
pintunya guna untuk menyelamatkan korban, mengurangi dampak kerugian
yang ditimbulkan serta mencegah kondisi yang lebih buruk.
Dalam hal ini banyak manyarakat yang belum mengetahui mengenai
forsible entry. Untuk itu penulis tertarik untuk membahas lebih dalam
mengenai forsible entry.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah :
1. Untuk mengetahui mengenai Forsible Entry
2. Untuk mengetahui mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam
Forsible Entry.
C. Manfaat
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh bagi praktikan antara lain yaitu:
1) Bagi Mahasiswa
a. Dapat mengetahui mengenai Forsible Entry
b. Dapat mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam Forsible
Entry.

2) Bagi Program Studi Diploma 4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja :


a. Menambah daftar referensi perpustakaan
BAB II
ISI

Forsible Entry adalah suatu upaya atau teknik pemadaman kebakaran


dengan cara masuk ke lokasi dimanater dapat potensi bahaya (kebakaran) dengan
cara memaksa / cara kasar / mendobrak atau menggunakan alat bantu lainnya
untuk memudahkan dalam membuka pintunya.
Forsible entry yang berhasil di atas perapian mencakup ukuran forcible
enrty, alat yang tepat dan keterampilan masuk paksa yang solid, serta
kemampuan untuk menggunakan akal sehat. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam Forsible Entry.
1. Memperbesar kesempatan untuk dapat masuk
Salah satu keterampilan terpenting yang terlibat dalam pemasukan
paksa adalah kemampuan untuk mengukur kemungkinan masuk (dan aktual)
yang sebenarnya, dan sampai di lokasi masuk dengan alat yang sesuai untuk
pekerjaan itu.
Seperti ukuran keseluruhan fireground, ukuran untuk entri paksa
dimulai dengan mengetahui distrik respons dan mendengarkan pengiriman
awal untuk menentukan tujuan Anda. Setelah mengetahui di mana posisi
seseorang (korban), maka seorang penyelamatakan segera menuju tempat
tersebut. Tantangan untuk dapat masuk adalah langkah pertama dalam masuk
dengan paksa untuk dapat menyelatkan korban.Hal ini akan membuat pikiran
seorang Penyelamat tergerak dan mulai untuk segera menyiapkan peralatan
yang harus dibawa dan cara menggunakannya saat tiba di lokasi. Seorang
penyelamat juga harus melakukan tinjauan mental yang cepat terhadap
potensi masalah yang bisa saja dihadapi saat tiba di tempat kejadian. Masuk
dengan paksa ke perumahan biasanya berbeda dari entri paksa komersial.
Masing-masing membutuhkan keahlian yang berbeda (dan mungkin alat) dan
menghadirkan tantangan yang berbeda.

2. Alat peralatan yang tepat dan sesuai


Masuk paksa tidak melibatkan banyak alat yang berbeda, namun
memerlukan alat yang tepat untuk pekerjaan yang ada. Meskipun orang saat
ini cenderung lebih sadar terhadap keamanan daripada generasi sebelumnya
dan, oleh karena itu, ada lebih banyak perangkat keamanan yang bisa kita
lalui, alat pemasukan kunci dasar yang sama masih digunakan untuk
menyelesaikan pekerjaan.
Besi masih merupakan pilihan nomor satu di pintu pengaman yang
sebagian besar masuk ke dalam (dan banyak mengarah ke luar). Tentu,
beberapa pintu mungkin lebih sulit untuk dipaksakan dan oleh karena itu,
mungkin memerlukan alat tambahan, namun satu set besi di tangan tim
pemasukan paksa yang terampil akan membawa penyelamat melewati
sebagian besar pintu.
Melatih apa yang mungkin akan dihadapi: pintu masuk terkunci. Lebih
khusus lagi, berlatihlah sehingga seorang penyelamat mahir memaksa kedua
pintu masuk ke dalam dan ke luar dengan set besi. Setelah mahir, latih lagi.
Saat tiba di pintu, menggunakan alat ini seharusnya hanya menjadi masalah
naluri.
Selain itu, pelajari pula bagaimana dan kapan menggunakan alat
pemasukan paksa hidrolik.Seorang penyelamat mungkin merupakan tim
pemasukan paksa terbesar di sana, tapi ketika dihadapkan pada 30 pintu di
lorong yang dipenuhi asap, mungkin akan menabrak dinding. Saat itulah
mengetahui ada alat yang lebih baik (untuk jumlah pintu yang dihadapi)
menentukan kesuksesan).
Teknik melalui-the-lock akan membutuhkan alat K (atau yang serupa).
Jadi pelajari bagaimana alat K bekerja dan kapan alat yang tepat untuk
pekerjaan itu. Jawaban cepat: Alat K berguna saat aktivasi alarm di mana
seorang penyelamat perlu masuk dan tidak memiliki kuncinya. Bila
penyelamat menghadapi kebakaran berat pada saat kedatangan, menghapus
seluruh pintu akan menjadi pilihan yang lebih baik. Seorang penyelamat
harus tahu ini sebelum Anda menanggapi sebuah insiden, jadi ini hanya
masalah meraih alat dan meninjau dasar-dasarnya sebelum masuk ke pintu
masuk.
Bagaimana dengan gergaji rotary? Pintu garasi komersial, gerbang
keamanan dan palang jendela mungkin memerlukan penggunaan gergaji
putar. Seorangpenyelamatmungkin tidak memiliki gerbang keamanan, dan
mungkin tidak memiliki bar jendela, tapi hampir setiap distrik respon
memiliki pintu garasi komersial.
Jangan lupa alat pemasukan paksa yang paling penting. Kemampuan
penyelamat untuk mengetahui alat mana yang dibutuhkan dan bagaimana
menggunakan alat tersebut dengan cara sebanyak mungkin pada akhirnya
akan menentukan kesulitan yang terlibat dalam operasi pemasukan paksa.
Inilah real deal ketika menyangkut alat pemasukan paksa: Jangan
terlalu memikirkan tantangan pemasukan paks. Alat pemasukan paksa dasar
masih akan membuat penyelamat melewati hampir semua tantangan
pemasukan paksa yang dihadapi di atas permukaan tanah.

3. Keterampilan
Meskipun mengembangkan keterampilan masuk paksa membutuhkan
pelatihan langsung, berikut beberapa hal yang dapat penyelamatuntuk
mengarahkan korbanmenuju arah yang benar.
Irons: Bangun, beli atau dapatkan simulator pemasukan paksa yang
memungkinkan dipelajari dan mengembangkan keahlian Anda menggunakan
setrika. Hanya ada satu cara untuk menjadi mahir memaksa pintu-dan itu
memaksa pintu! Pelatihan harus memungkinkan penyelamat mengasah
ketrampilannya terlebih dahulu dan kemudian berlatih di bawah kondisi yang
semakin realistis. Mulailah dengan hanya kapak, Halligan dan pintu (atau prop),
dan pelajari cara memaksa pintu dalam sebanyak mungkin cara. Setelah Anda
mengembangkan keterampilan itu, tambahkan area terlarang dan kondisi asap.
Jika Anda bisa menambahkan panas, itu akan membantu juga. Jangan lupa untuk
melakukan keterampilan ini saat mengenakan semua perlengkapan Anda - dan
bernapas dari SCBA Anda. Pelatihan dalam kondisi nyata menghasilkan hasil
nyata!

Through-the-Lock: Latih dengan cara yang sama untuk teknik melalui-the-lock


menggunakan alat K (dan alat serupa lainnya yang mungkin Anda miliki). Itu
berarti membangun, membeli atau memperoleh prop untuk belajar dan berlatih
menggunakan alat ini. Setelah Anda menjadi mahir, jalani lingkungan pelatihan
agar realistis.

Gergaji Rotary: Gunakan pintu nyata (jika mungkin) atau alat peraga jika perlu,
dan kembangkan keterampilan Anda dengan menggunakan gergaji rotary dalam
kondisi realistis. Praktek pemotongan dengan gergaji tegak, horisontal dan sudut.
Berlatih memotong dengan gergaji yang didukung pada benda dan memotong
sementara Anda harus mendukung keseluruhan berat gergaji. Berlatihlah sampai
kamu mahir! Setelah Anda merasa nyaman, tambahkan beberapa asap di balik
luka itu.
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Forsible Entry adalah suatu upaya atau teknik pemadaman kebakaran
dengan cara masuk kelokasi dimanater dapat potensi bahaya (kebakaran)
dengan cara memaksa / cara kasar / mendobrak atau menggunakan alat
bantu lainnya untuk memudahkan dalam membuka pintunya.
2. Hal- hal yang harus diperhatikan saat melakukan forsible entry adalah
a. Kemampuan untuk mengukur kemungkinan masuk (dan aktual) yang
sebenarnya, dan sampai di lokasi masuk dengan alat yang sesuai
untuk pekerjaan itu.
b. Kesesuaian alat atau peralatan yang dipergunakan.
c. Keterampilan dari penyelamat atau penolong.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah bahwa sangat penting untuk
dilakukuan pelatihan kaitannya dengan forsible entry. Karena banyak
masyarakat yang masih belum paham. Padahal manfaatnya sangat besar,
karena dapat mengurangi dampak buruk yang terjadi pada korban maupun
kerugian material.
DAFTAR PUSTAKA

https://en.wikipedia.org/wiki/Forcible_entry (diakses 11 Oktober 2019)

http://www.firepenyelamatmagazine.com/articles/print/volume-5/issue-
7/firefighting-operations/know-your-forcible-entry-basics.html(diakses 11
Oktober 2017)
LAPORAN

PELAKSANAAN SELF CONTAIN BREATHING


APPARATUS (SCBA) DI DINAS PEMADAM
KEBAKARAN SURAKARTA

RAFLI FAUZAN WIDIAMOKO


R0216077

PROGRAM STUDI DIPLOMA 4 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada era globalisasi dimana persaingan pasar bebas semakin ketat
dan dengan pesatnya pertumbuhan serta perkembangan pembangunan
sektor industri sangat diperlukan tenaga kerja yang sehat dan produktif.
Seiring dengan perkembangan tersebut maka perlu diterapkan aspek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah
satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat,
bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja (Depkes, 2009).
Sebagaimana dijelaskan dalam undang-undang nomor 23 tahun 1992
tentang kesehatan telah dijelaskan bahwa setiap tempat kerja harus
melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan
kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan
disekitarnya (Depkes, 2009).
Kondisi perindustrian di Indonesia semakin berkembang seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan
ini ditandai dengan semakin banyaknya industri yang berdiri di
Indonesia. Industri/perusahaan saat ini bukan hanya semakin baik dari
segi mesin-mesin yang diganakan, namun bahan-bahan baku yang
dipilih dan digunakan juga banyak dipertimbangkan kualitasnya.
Penggunaan bahan-bahan baku serta hasil produksi maupun hasil
samping dalam sebuah perusahaan sering kali menimbulkan masalah
bahkan kerugian yang dialami oleh perusahaan itu sendiri. Bahan-bahan
baku, produk, serta hasil samping yang dihasilkan dari proses produksi
mengandung bahan atau bahkan merupakan bahan yang mudah meledak
atau terbakar. Timbulnya kebakaran di suatu perusahaan dapat terjadi
akibat kesalahan yang dilakukan manusia (unsafe action) serta kondisi
bahan atau tempatnya (unsafe condition). Manusia berperan secara aktif
pada timbulnya suatu kecelakaan, salah satunya kebakaran. Sedangkan
kondisi yang tidak aman di mana di suatu tempat di dalam perusahaan
tersebut terbentuk segitiga api, yaitu bertemunya bahan mudah meledak
dan terbakar dengan sumber api pada area yang mengandung cukup
oksigen.
Di dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja mengantisipasi dalam hal mencegah, mengurangi dan
memadamkan kebakaran, memberi jalan penyelamatan,
penyelenggaraan latihan penanggulangan kebakaran yang wajib
diterapkan di setiap tempat kerja sejak dari perencanaan serta adanya
sanksi hukuman terhadap pelanggaran. Kesiapsiagaan keadaan darurat
(emergency preparednessand response) memiliki peran penting dalam
memastikan bahwa pengusaha dan pekerja memiliki peralatan yang
diperlukan, paham kemana harus pergi, dan tahu bagaimanamenjaga
keselamatan diri saat terjadi keadaan darurat (OSHA, 2004). Sasaran
utama keadaan darurat adalah untuk memperkecil frekuensi terjadinya
dampak keadaan darurat yang terjadi secara jelas melibatkan prosedur
penanganan tanggap darurat.
Kesiapsiagaan tanggap darurat pada keadaan kebakaran yaitu
dilakukan oleh pemadam kebakaran. Pemadam kebakaran adalah orang
yang bertanggungjawab untuk memadamkan kebakaran. Biasanya
mereka bekerja berkelompok . sesuai pekerjaannya, pemadam
kebakaran mempunyai potensi bahaya yang tinggi. Oleh karena itu
mereka harus dilengkapi APD yang memadai sesuai dengan potensi
kecelakaan yang ada seperti jaket anti api, helm yang berfungis dalam
asap pekat sehingga membantu dalam visualisasi, gloves tahan api dan
panas serta alat bantu pernafasan.
SCBA (Self Contained Breathing Apparatus) yaitu alat bantu
pernafasan yang terdiri dari penutup wajah, selang, serta tabung
oksigen. SCBA diperlukan sebagai jalan keluar bagi tempat-tempatyang
tercemar berat (terjadi kebocoran gas atau uap bahan berbahaya) atau
pada saat sedang dilakukan kegiatan perawatan atau perbaikan proses
atau dalam keadaan darurat.
Sebagai ahli K3 kita harus bisa memasang alat ini dengan cepat,
baik dan benar. Oleh karena itu pada praktikum mata kuliah
Keselamatan Kerja V tentang kebakaran, kita akan dilatih untuk
memakai SCBA (Self Contained Breathing Apparatus) dengan baik dan
benar.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu SCBA (Self Contained Breathing
Apparatus)
2. Untuk mengetahui kegunaan SCBA (Self Contained Breathing
Apparatus)
3. Untuk memahami pengaplikasian teori penggunaan SCBA (Self
Contained Breathing Apparatus)
4. Untuk mengetahi prosedur pemakaian SCBA (Self Contained
Breathing Apparatus) dan dapat memakai SCBA (Self Contained
Breathing Apparatus)

C. Manfaat
1. Sebagai sarana pengembangan potensi diri mahasiswa dalam
pemakaian SCBA (Self Contained Breathing Apparatus)
2. Memberi wawasan tentang SCBA (Self Contained Breathing
Apparatus)
3. Mengetahui dengan cara praktik langsung penggunaan SCBA (Self
Contained Breathing Apparatus)
4. Mengetahui secara langsung apa saja yang perlu dilakukan saat terjadi
kebakaran
5. Menambah pengetahuan mengenai lingkup Sistem Tanggap Darurat
saat terjadi kebakaran
BAB II
HASIL

A. Hasil
Pelaksanaan pelatihan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
dilakukan pada :
Hari, tanggal : Sabtu, 6 April 2019
Waktu : 08.00 wib s.d. selesai
Lokasi : Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surkarta
Hasil yang diperoleh dari kegiatan pelatihan Self Contained
Breathing Apparatus (SCBA) SCBA meliputi:

a. Penggunaan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)


1) Meposisikan kaki dengan cara salah satu menekuk lutut
menempel ke lantai.
2) Memposisikan tangan kanan dan kiri ke bagian carrying plate.
Kemudian angkat perlahan ke arah belakang punggung.
3) Setalah itu memasukan tangan kanan dan kiri ke shoulder strap
seperti menggunakan tas ransel.
4) Selanjutnya berdiri secara peerlahan sambil menarik tali
pengencang penggendong sampai posisi yang nyaman.
5) Menghubungkan ikat pinggang dengan menekan/memasukkan
pengunci.
6) Untuk menjamin udara yang ada pada silinder sebelum memasang
face mask. Mengambil Pressure Gauge dengan tangan kanan dan
waktu yang bersamaan menaruh tangan kiri pada cylinder valve
serta memutar dengan jari dan ibu jari. Melihat pressure gauge
untuk mengetahui jumlah tekanan pada cylinder. Silinder tidak
boleh digunakan apabila isinya kurang dari 80%.
7. Memeriksa apakah seal sudah tepat dan apakah safety whistle
sebagai peringatan tekanan udara bekerja dengan benar yaitu
dengan cara memegang preassure gauge dengan tangan kanan
dan meletakkan tangan kiri pada cylinder valve. Selanjutnya tutup
cylinder valve dengan cara diputar kerangan searah dengan diri
anda kemudian bernafaslah perlahan lahan. Peluit akan berbunyi
pada tekanan udara 45-50 bar sampai angka penunjuk tekanan
pada angka nol dan bernafaslah sekali lagi.
8. Memeriksa dan mengatur tali kelapa sampai seimbang serta
membentuk lingkaran. Kemudian memasang topeng face mask ke
wajah. Menarik tali kepala ke belakang sampai kencang.
Meyakinkan bahwa tali tersebut sudah ditarik kebelakang dan
tidak kendor.
9. Buka silinder dengan penuh bersamaan dengan itu putar pengatur
pernafasan ke posisi posifif kemudian menghembuskan
pernafasan ke dalam dan keluar sebanyak 3 (tiga) kali dengan
nyaman tanpa terburu-buru.
10. Kemudian berjalan dengan menggeser kaki dan meraba
menggunakan punggung tangan
11. Apabila belum mendapatkan udara segar, maka dapat memutar
kembali pengaturan saluran pernafasan ke posisi negatif agar
mendapatkan udara segar dari silinder dan kembalikan ke posisi
saat anda memulai pekerjaan.
12. Cara melepas kembali perangkat breathing apparatus. Memutar
kerangan pengatur pernafasan ke posisi tanda minus pada posisi
stop. Memindahkan face mask dengan melepas dari wajah dan
Melepaskan tali-tali kepala dengan jari-jari dan ibujari dari
masing-masing buckle/gesper dari pangkal tali kemudian ujung
tali.
13. Menututup kerangan pengatur pada silinder
14. Melepaskan ikat pinggang dengan melepas pengunci dan
melepaskan serta ulir tali pundak dengan jari dan ibujari untuk
menekan pengencang tali pundak keatas. Selanjutnya melepas dan
menuurunkan perangkla SCBA ke lantai dengan posisi
terlentang.

b. Melakukan Simulasi Penggunaan Self Contained Breathing


Apparatus (SCBA) di Ruangan Berasap (Smoke Chamber)
Simulasi dilakukan dengan peserta pelatihan memasuki ruangan
berasap (smoke chamber) yang sudah disiapkan olehtim Dinas
Pememadam Kota Surkarta. Peserta pelatihan diberi arahan untuk
menyelamatkan korban kebakaran yang di peragakan oleh manekin
pada ruangan berasap menggunakan perangkat Self Contained
Breathing Apparatus (SCBA) lengkap dengan baju dan helm
pemadam kebakaran. Penyelamatan dilakukan masing-masing oleh 2
orang.
1) Menggunakan baju pemadam kebakaran
2) Pemasangan SCBA seperti prosedur penggunaan
3) Menggunakan helm pemadam kebakaran
4) Memposisikan diri dengan satu orang berada di depan dan satu
orang berada di belakang. Orang kedua memegang tali strap orang
pertama supaya tidak terlepas dan tepisah pada saat penyelamatan.
5) Kemudian berjalan dengan kaki yang bergeser dan meraba
menggunakan salah satu punggung tangan boleh kiri atau kanan
dengan tangan lurus ke depan.
6) Selanjutnya peserta memasuki Ruangan Berasap (Smoke
Chamber) untuk menyelamatkan korban.
BAB III
PEMBAHASAN

SCBA (Self Cammned Brealhmg Apparatus) adalah alat bantu


pernapasan untuk waktu tenentu sesuai dengan jumlah oksigen yang
tersedia pada alat tersebut. SCBA merupakan peralatan yang terdiri dari
tabung bertekanan yg berisi udara, penunjuk tekanan udara (pressure
gauge), masker dan peralatan pembawa. Peraalatan ini biasa digunakan
untuk petugas pemadam kebakaran, team penyelamat, pekerja di area
berbahaya seperti : pabrik kimia, lingkungan kerja terbatas/confined
space (ex: membersihkan tanki, masuk kedalam terowongan yang
kandungan oksigen kurang dari 19% vol atau lebih dari 23%).

Dimana biasanya Self Contained Breathing Apparatus memiliki tiga


komponen utama yang terdlri dari tangki tekanan tinggi. Regulator
tekanan dan koneksi inhalasi (corong dan mulut masker) yang terhubung
bersama komponen-komponen lain sehingga menjadi suatu alat pembamu
pemafasan yang kompleks.
A. Langkah Iangkah penggunaan SCBA:

1. Ambil SCBA dengan


menggunakan kedua
tangan memegang
carrying 19annes dalam
posisi jongkok, satu
kaki sebagai tumpuan
(agar didapat posisi
yang ergonomis). Posisi
awal SCBA terlentang
serta terbalik, dimana
carrying l9annes berada
sisi atas dan cylinder
valve pada posisi paling
atas (ujung).

2. Ambil SCBA dengan


menggunakan kedua
tangan memegang
carrying 19annes
dalam posisi jongkok,
satu kaki sebagai
tumpuan (agar didapat
posisi yang
ergonomis). Posisi
awal SCBA terlentang
serta terbalik, dimana
carrying l9annes
berada sisi atas dan
cylinder valve pada
posisi paling atas
(ujung).

3. Pasang wrist bell pada


pinggang. Geser
gesper ke kanan dan
ke kiri untuk
menyesuaikan besar
kecilnya pinggang
kila, sekencang dan
senyaman mungkin,
seperti pada gambar
berikut :
4. Ambil face mask dan
kalungkan tali face
mask terlebih dahulu
sebagai keamanan agar
tidak terjatuh. Pasang
inhalation valve atau
demand valve padaface
mask dan pastikan
sampai berbunyi “kllk”.
Artinya pemasangan
telah lepat. Perhatikan
gambar berikut :

5. Cek dan atur lekanan


udara (02) pada tabung.
Dengan cara satu langan
memegang dan mengalur
(memutar ke kiri atau
berlawanan arah jarum
jam unluk membuka)
regulator/ cylider valve
dan satu tangan
memegang pressure
gauge /manometer untuk
mengukur dan
mengetahui tekanan
6. Selelah tekanan sesuai.
Pakailah face mask.
Kencangkan semua tali
face mask seerat dan
senyaman mungkin.
Maka Self Contained
Brealhmg Apparatuv
(SCBA) siap untuk
digunakan.

B. Berikut adalah langkah langkah dalarn melepaskan SCBA:


1. Lepaskan face mask dari kepala dengan melonggarkan tali face
mask terlebih dahulu agar lebih mudah.
2. Tutup regulator atau cylmder valve dengan memutar ke arah kanan
atau searah jarum jam untuk menghentikan aliran udara (02) dari
tabung, pastikan hingga rapat.
3. Lepaskan inhalation valve atau demand valve dari face mask dan
buang sisa udara dengan menekan tombol pada Inhalation valve
atau demand valve agar udara terbuang keluar (sambil terdengar
bunyi seperti peluit).
4. Lepas kalungan face mask dan taruh facemask dengan hati-hati.
5. Longgarkan gesper dan buka kancingan untuk melepaskan waist
belt.
6. Lepaskan tabung dengan mengawali melepas carrying harmes dan
shoulder strap yang ada pada pundak. Usahakan melepas dengan
menggunakan bagian tangan yang dianggap kuat (kanan atau kiri).
Setelah terlepas satu, goyangkan tabung hingga berada di sisi
tangan yang satunya. Pegang carrying hannes yang masih
menempel pada tubuh dengan menggunakan tangan yang kuat lalu
sedikit angkat dan lepaskan tangan yang satunya. Pegang SCBA
dengan menggunakan kedua tangan lalu letakkan secara perlahan
dan hati-hati.
7. Cara overhead dapat dilakukan dengan cepat namum perlu tenaga
yang lebih agar tangan secara mantap memegang SCBA agar
SCBA tidak jatuh saat diangkat.
8. Cara konvensional dapat dilakukan dengan sederhana tanpa
membutuhkan tenaga yang besar. namun pada saat SCBA berada
disalah satu bahu, harus secepat mungkin bahu yang lain juga
menopang SCBA. Hal ini harus diIakukan agar pembebanan SCBA
tidak terfokus pada salah salu bahu saja pada waktu yang lama agar
bahu tidak sakit dan pegal.

C. Adapun bagian-bagian penting dari SCBA terdiri dari komponen


penting, yaitu:
1. Backpack plate : berfungsi untuk mengakomodasi tabung udara
(cylinder)
2. Reducer Valve : berfungsi untuk menurunkan tekanan dalam tabung
udara (cylinder) dari tekanan tinggi menjadi tekanan rendah.
Tekanan dalam tabung bervariasi berkisar 150 Bar / 200 Bar / 300
Bar menjadi tekanan rendah yaitu menjadi 8 Bar.
3. Lung Demand Valve (LDV) : berfungsi sebagai bagian penting
mengatur komsumsi pemakaian udara dari tabung dan dihirup
melalui masker tertutup (Full face Mask).
4. Full Face Mask : sebagai penutup wajah dan hidung untuk terhindar
dari tekanan udara bebas yang terkontaminasii gas beracun atau
jumlah oksigen (O2) kurang dari ambang batas minimal.\
5. Pressure Gauge (Pengukur Tekanan) : untuk mengetahui tekanan
dalam tabung udara.
6. Warning Whistle : pluit penanda sebagai peringatan bahwa tekanan
udara dalam tabung tinggal beberapa saat, untuk memperingatkan
pemakai segera meninggalkan tempat berbahaya pada tempat yang
lebih aman.
Warning visual, bisa berbentuk vibrasi (getaran) atau Sound
(bunyian) kisaran 110dB pada jarak 100 cm. Sehingga mudah untuk
didengar atau dirasakan oleh pemakai.
7. Cylinder (Tabung Udara) : Tabung udara sesuai dengan
perkembangan teknologi, banyak variasi dengan besar dan kecilnya
volume udara dalam tabung. Dan terbuat dari bermacam bahan
mulai dari Alloy (Alumunium), Steel (Baja) dan Fiber Composite.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Confined space adalah ruang tertutup atau sebagian tertutup yang
bertekanan atmosfir dan tidak dimaksudkan sebagai ruang kerja serta
suatu saat mungkin memiliki atmosfer yang mengandung tingkat
pencemaran berbahaya, memiliki kekurangan/kelebihan oksigen dan
memiliki cara terbatas untuk masuk/keluar.
SCBA adalah suatu alat pelindung pernafasan yang berdiri sendiri,
berisi udara bersih atau oksigen yang dikemas dalam tabung yang
membuat si pemakai tidak tergantung lagi dari udara sekelilingnya untuk
jangka waktu tertentu.
Tujuan pelatihan SCBA adalah untuk melakukan operasi di tempat
yang atmosfirnya mempunyai IDLH (Bahaya Langsung Terhadap Nyawa
dan Kesehatan). Misalnya ketika recuer akan melakukan penyelamatan di
dalam gedung terbakar yang berasap tebal maka dengan adanya SCBA
ini akan menghindari adanya bahaya berupa kekurangan oksigen,
menghirup asap, racun udara dll.
Pada pelatihan SCBA, ada 2 praktik yaitu penggunaan SCBA dan
penggunaan SCBA di ruangan berasap. Adapun pengetahuan tentang
SCBA diharapkan dapat mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang dapat menimbulkan penurunan produktivitas, kerugian
berupa cacat atau cidera bahkan kematian.
B. Saran
1. Diharapkan pelatihan SCBA ini dapat berlanjut terus menerus karena
pelatihan ini sangat berguna untuk keterampilan pada dunia kerja
mendatang
2. Diharapkan semua mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk
melakukan praktik penyelamatan di confined space (ruang terbatas)
dengan menggunakan SCBA agar mendapatkan pengalaman,
pengetahuan, dan juga peningkatan keterampilan.
LAMPIRAN