Anda di halaman 1dari 19

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Manajemen Proyek


Manajemen dalam proyek adalah sebagai suatu proses dari perencanaan,
pengaturan, kepemimpinan, dan pengendalian dari suatu proyek oleh para
angotanya dengan memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan. Fungsi dasar manajemen proyek terdiri
dari pengolahan-pengolahan lingkup kerja, waktu, biaya, dan mutu. Pengelolaan
aspek-aspek tersebut dengan benar merupakan kunci keberhasilan dalam
penyelenggaraan suatu proyek.Proyek Pemerintahmerupakan proyek yang
tercantum dalam Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen yang dipersamakan
dengan DIP termasuk proyek yang dibiayai dengan Perjanjian Penerusan
Pinjaman (PPP)/Subsidiary Loan Agreement (LOA).
2.1.1 Proyek pemerintah
Menurut Dipohusodo (1996) proyek pemerintah dibiayai oleh pemerintah
berdasarkan pengadaanya. Syarat resmi untuk menangani proyek pemerintah
harus berdasarkan hukum. Hal ini dimaksudkan agar kontraktor selalu mematuhi
segala peraturan yang ditetapkan. Sumber dana ini berasal dari APBN, bantuan
kredit, inpres maupun non inpres dan bantuan asing.
2.1.2 Proyek Swasta
Menurut Soegeng (2005) proyek swasta adalah proyek yang dibiayai oleh
pihak swasta sehingga tingkatan standar dana pengelolaan proyek terdiri dari
Pimpro (Pimpinan proyek), Pimbapro (Pimpinan Bagian Proyek dan Pengelolaan
Bagian Proyek). Bila owner biasanya berbentuk perusahaan, pada umumnya
direktur perusahaan mengangkat seorang pimpinan proyek, tidak jarang
perusahaan swasta menggunakan jasa konsultan untuk mengawasi pekerjaan
proyek.
2.2. Pengadaan Pemberi Jasa
Pengadaan barang dan jasa yaitu identik dengan adanya berbagai fasilitas
baru, berbagai bangunan, jalan, rumah sakit, gedung perkantoran, alat tulis,
sampai dengan kursus bahasa inggris yang dilaksanakan di sebuah instansi
pemerintah. Pengadaan barang dan jasa yang biasa disebut tender ini sebenarnya
bukan hanya terjadi di instansi pemerintah. Pengadaan barang dan jasa bisa terjadi
di BUMN dan perusahaan swasta nasional maupun internasional. Intinya,
pengadaan barang dan jasa dibuat untuk memenuhi kebutuhan perusahaan atau
instansi pemerintah akan barang dan/atau jasa yang dapat menunjang kinerja dan
performance mereka.Definisi pengadaan barang dan jasa secara harfiah menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu berarti tawaran untuk mengajukan
harga dan memborong pekerjaan atas penyediaan barang/jasa. Di sinilah tumbuh
pengertian bahwa ada dua pihak yang berkepentingan. Pihak pertama adalah
instansi pemerintah, BUMN, atau perusahaan swasta yang mengadakan
penawaran pengadaan barang dan jasa. Pihak kedua adalah personal atau
perusahaan kontraktor yang menawarkan diri untuk memenuhi permintaan akan
pengadaan barang dan jasa tersebut
Prakualifikasi merupakan proses penilaian kualifikasi yang dilakukan
sebelum pemasukan penawaran.Artinya, hanya perusahaan yang memenuhi
kualifikasi-lah yang dapat memasukkan penawaran. Metode ini dilaksanakan
untuk pelelangan yang bersifat kompleks (termasuk pelelangan diatas 50 M).
Prakualifikasi dilaksanakan untuk pengadaan sebagai berikut:
a. Pemilihan penyedia jasa konsultansi
b. Pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang bersifat
kompleks melalui pelelangan umum
c. Pemilihan penyedia barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang
menggunakan metode penunjukan langsung, kecuali untuk penanganan darurat.
Proses penilaian kualifikasi untuk penunjukan langsung dalam penanganan
darurat dilakukan bersamaan dengan pemasukan dokumen penawaran.
Proses prakualifikasi menghasilkan daftar calon penyedia barang/pekerjaan
konstruksi/jasa lainnya atau daftar pendek calon penyedia jasa konsultansi.
Dalam proses prakualifikasi, ULP/Pejabat Pengadaan segera membuka dan
mengevaluasi dokumen kualifikasi paling lama 2 (dua) hari kerja setelah diterima.
Tender adalah tawaran untuk mengajukan harga, memborong pekerjaan,
atau menyediakan barang yang diberikan oleh perusahaan swasta besar atau
pemerintah kepada perusahaan-perusahaan lain. Mengikuti tender adalah salah
satu cara untuk mendapatkan kontrak bisnis dalam skala besar atau memperluas
usaha Anda.

2.3. Perencanaan
Perencanaan yaitu suatu proses yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan
sasaran termasuk menyiapkan segala sumber daya untuk mencapainya.
Perencanaan memberikan pegangan bagi pelaksanaan mengenai alokasi sumber
daya untuk melaksanakan kegiatan (Imam Soeharto, 1997). Secara garis besar,
perencanaan berfungsi untuk meletakkan dasar sasaran proyek, yaitu penjadwalan,
anggaran dan mutu.
Dalam menyusun suatu perencanaan yang lengkap minimal meliputi :
a. Menentukan tujuan.
Tujuan dimaksudkan sebagai pedoman yang memberikan arah gerak dari
kegiatan yang akan dilakukan.
b. Menentukan sasaran.
Sasaran adalah titik-titik tertentu yang perlu dicapai untuk mewujudkan suatu
tujuan yang lelah ditetapkan sebelumnya.
c. Mengkaji posisi awal terhadap tujuan.
Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan posisi maka perlu diadakan
kajian terhadap posisi dan situasi awal terhadap tujuan dan sasaran yang
hendak dicapai.
d. Memilih alternatif.
Selalu tersedia beberapa alternatif yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan
tujuan dan sasaran. Karenanya memilih alternatif yang paling sesuai untuk
suatu kegiatan yang hendak dilakukan memerlukan kejelian dan pengkajian
perlu dilakukan agar alternatif yang dipilih tidak merugikan kelak.
e. Menyusun rangkaian langkah untuk mencapai tujuan
Proses ini terdiri dari penetapan langkah terbaik yang mungkin dapat
dilaksanakan setelah memperhatikan berbagai batasan.
Tahapan perencanaan di atas merupakan suatu rangkaian proses yang
dilakukan sesuai urutannya. Dari proses tersebut perencanaan disusun dan
selanjutnya dilakukan penjadwalan.
Dalam merencanakan suatu proyek kontruksi diperlukan standar-standar
yang telah ditetapkan sebelumnya, adapun standar-standar nya sebagai berikut:
Tahapan- tahapan perencanaan struktur bangunan gedung bertingkat :
1. Menentukan lokasi soil test (sondir/deep boring), denah diambil dari gambar
arsitektur.
2. Evaluasi hasil tes tanah dengan referensi dari hasil uji lab. tanah. Dari tahapan
ini bisa ditentukan jenis pondasi yang dipakai dan daya dukung pondasi.
3. Menghitung dan menganalisis bangunan dengan menggunakan bantuan
program struktur (ETABs/SAP). Memodelkan bangunan harus sesuai dengan
gambar arsitektur yang terbaru bukan gambar yang lama. Input beban pada
model struktur harus sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia.
4. Dari hasil perhitungan di atas maka dapat diperoleh ditentukan :
a. Dimensi kolom :Jumlah, diameter tulangan dan diameter, jarak sengkang
(syarat minimum tulangan kolom harus terpenuhi)
b. Dimensi balok :Jumlah, diameter tulangan dan diameter, jarak sengkang
(syarat minimum tulangan pada balok harus terpenuhi)
c. Dimensi plat dan diameter tulangan, jarak tulangan (syarat minimum
tulangan pada plat harus terpenuhi)
5. Setelah item 4 selesai, kita buat sketsa untuk denah balok, penulangan balok
tiap lantai, penulangan plat lantai dan penulangan kolom. Kemudian sketsa kita
dituangkan dengan gambar dengan menggunakan AUTOCAD.Pada tahapan ini
yang perlu diperhatikan adalah :
a. Koordinasi antara gambar struktur dengan gambar arsitektur dan juga
gambar M/E. Jangan sampai gambar perencanaan tidak bisa dipakai di
lapangan.
b. Sebagai misal plafond di gambar arsitektur menempel persis di bawah
balok, pada pelaksanaannya ada conduit dan pipa drain AC yang harus
lewat di bawahbalok, maka kalau ada kondisi seperti ini sebaiknya antara
balok dengan plafond diberi spasi sekitar 5-10 cm untuk kebutuhan M/E
seperti pipa air hujan, pipa drain AC(ini khusus bangunan rendah tanpa
menggunakan shaft). Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang timbul
antara pekerjaan M/E dengan pekerjaan arsitektur danjuga dengan struktur
karena kurangnya koordinasi bersama antara arsitektur, struktur dan M/E.

2.4. Pengadaan Kontraktor


Pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi pengadaan barang,pekerjaan
konstruksi, jasa konsultasi, dan jasa lainnya. Pengadaan barang adalah pengadaan
setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak
bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan
oleh pengguna barang.Pengadaan pekerjaan konostruksi adalah seluruh pekerjaan
yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi bangunan atau pembuatan
wujud fisik lainnya. Adapun pengadaan jasa konsultasi adalah jasa pelayanan
profesional yang membutuhkan keahlian tertentu diberbagai bidang keilmuan
yang mengutamakan adanya olah pikir.
Pengadaan jasa lainnya adalah jasa yang membutuhkan kemampuan tertentu
yang mengutamakan keterampilan dalam suatu sistem tata kelola yang telah
dikenal luas di dunia usaha untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau segala
pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain jasa konsultansi, pelaksanaan pekerjaan
konstruksi dan pengadaan barang.

2.5. Dokumen Kontrak


Kontrak adalah perjanjian antara pemberi kerja di satu pihak dan penerima
kerja di lain pihak, atau dengan perkataan lain perjanjian merupakan perikatan
secara hukum antara pemberi kerja dan penerima kerja, dimana pemberi kerja
adalah pemilik proyek dan penerima kerja adalah kontraktor/pemborong atau
pemasok/penjual (supplier) bahan/barang atau konsultan perencana atau konsultan
biaya atau konsultan pengawas/manajemen konstruksi.
Kontrak atau perjanjian antara pemilik proyek dan kontraktor/pemborong
pada umumnya terdiri dari beberapa dokumen yang saling melengkapi dan secara
bersama disebut dokumen kontrak. Sebagai contoh, dokumen kontrak suatu
proyek dapat terdiri dari dokumen-dokumen seperti tersebut di bawah ini :
1. Dokumen tender.
2. Surat penunjukan (Letter of Acceptance/Award).
3. Surat perjanjian (Articles/Form of Agreement).
4. Syarat-syarat pernjanjian (Conditions of Contract).
5. Rincian pekerjaan dan harga (Bill of Quantities).
6. Dokumen lain, seperti: Berita acara prebid meeting, berita acara klarifikasi,
data penyelidikan tanah, dsb.
Dokumen kontrak yang perlu mendapat perhatian antara lain adalah
dokumen syarat-syarat pernjanjian (Conditions of Contract), karena dalam
dokumen inilah dituangkan semua ketentuan yang merupakan “aturan main” yang
disetujui oleh kedua belah pihak yang membuat perjanjian. Syarat-syarat
perjanjian berisi ketentuan-ketentuan yang merupakan hak dan kewajiban dari
masing-masing pihak serta pihak ketiga yang terkait dalam perjanjian,
persyaratan, tanggung jawab, larangan dan sanksi-sanksi untuk kedua belah pihak.
Karena itu syarat-syarat kontrak merupakan inti dari perjanjian/kontrak,
sedangkan dokumen-dokumen lainnya merupakan penunjang yang melengkapi
perjanjian. Dengan demikian, maka dokumen syarat-syarat perjanjian inilah yang
terutama perlu di kelola dalam melakukan administrasi kontrak.

2.6. Organisasi Pengelolaan Proyek


Pemilik proyek adalah orang atau badan baik swasta maupun instansi
pemerintah yang memiliki gagasan untuk mendirikan bangunan dan menanggung
biaya pembangunan tersebut dan memberi tugas kepada suatu badan atau orang
untuk melaksanakan gagasan tersebut yang dianggap mampu untuk
melaksanakanya. Sehingga berhak menolak atau meminta pertanggungjawaban
atas selesainya proyek.
Konsultan pengawas adalah orang-orang atau organisasi yang berbadan
hukum yang bertugas untuk mengawasi dan mengendalikan jalannya pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan peraturan yang berlaku yang ditetapkan secara tertulis
oleh pimpinan proyek.
Kontraktor adalah orang/ badan yang bertugas untuk melaksanakan
pekerjaan yang ditunjuk melalui lelang oleh pemilik proyek dan telah
menandatangani kontrak untuk melaksanakan, menyelesaikan dan memelihara
pekerjaan. Dalam pelaksanaan proyek kontraktor harus mengacu kepada
persyaratan dan gambar- gambar yang ada dalam dokumen kontrak.
Struktur organisasi yang dimaksud adalah struktur organisasi pemilik
proyek, struktur organisasi konsultan pengawas dan struktur organisasi kontraktor.

Project Manager Owner

Site Engineer Site Manager

Surveyor Logistik
Pelaksana Struktur

Drafter K3
Pelaksana Arsitektur

Quantity Surveyor Quantity Control Admin

Sub Contractor Sub Contractor Sub Contractor

Gambar 2.1.Struktur Organisasi

1. Owner/Pemilik Proyek
Owner/pemilik proyek adalah pihak yang menginginkan suatu fasilitas
proyek, sekaligus yang menanggung pembiayaan proyek yang akan
didirikan.
Adapun tugas dari owner/pemilik proyek adalah sebagai berikut :
a. Mempunyai ide/gagasan sesuai dengan rencana-rencananya.
b. Menyediakan dana dan lahannya.
c. Mengambil keputusan terakhir yang mengikat mengenai
pembangunan proyek.
2. Project Manager
Project Manageradalah penanggung jawab pada organisasi kontraktor
pelaksana.
Adapun tugas dari project manager adalah :
a. Membuat rencana kerja dan anggaran konstruksi.
b. Mengendalikan seluruh kegiatan konstruksi.
c. Melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait.
3. Site Manager
Site Manageradalah wakil dari project manager yang bertugas membantu
project manager dalam mengendalikan jalannya proyek di lapangan.
Adapun tugas dari bagian site manageradalah :
a. Melaksanakan kegiatan sesuai dokumen kontrak.
b. Memotivasi pelaksana agar mampu bekerja dengan tingkat efisiensi
dan efektifitas yang tinggi.
c. Menetapkan rencana dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan
pengendalian dari pelaksanaan pekerjaan.
4. Site Engineer (Koodinator Pelaksana Proyek)
Koordinator pelaksana proyek adalah seorang tenaga ahli yang
mengkoordinir berbagai pekerjaan di lapangan dan bertanggung jawab
kepada ketua tim teknis pembangunan atas kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
Adapun tugas dari bagian site engineeradalah :
a. Bertanggung jawab kepada pemilik proyek.
b. Mengecek dan menandatangani dokumen tentang pengendalian mutu
dan volume pekerjaan.
c. Mengatur atau menggerakkan kegiatan teknis agar dicapai efisiensi
pada setiap kegiatan.
5. Logistik
Logistik adalah penanggung jawab segala hal terkait barang dan alat yang
akan dipergunakan.
Adapun tugas dari bagian logistikadalah :
a. Mengatur dan mengawasi keluar masuknya barang dari gudang.
b. Membuat pembukuan pembelian dan persewaan alat-alat.
c. Mengatur tempat penyimpanan material dan merawat barang-barang
di dalam gudang.
6. Pelaksana
Pelaksana adalah seorang tenaga ahli yang membantu kepala pelaksana
dalam mengerjakan fisik secara keseluruhan.
Adapun tugas dari pelaksana adalah :
a. Melaksanakan pekerjaan harian sesuai dokumen kontrak.
b. Mengkoordinir pekerja agar bekerja efektif dan efisien.
c. Melaksanakan pekerjaan harian lapangan.
7. Surveyor
Surveyor adalah tenaga ahli yang membantu kepala pelaksana dalam masalah
pengukuran.
Adapun tugas dari bagian surveyor adalah :
a. Bertanggung jawab atas data-data pengukuran di lapangan.
b. Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah pelaksanaan proyek.
8. Quality Control
Quality Control adalah tenaga ahli yang bertanggung jawab atas hasil yang
telah di kerjakan pelaksana.
Adapun tugas dari bagian quality controladalah :
a. Memeriksa kualitas hasil pekerjaan yang telah selesai.
b. Memberikan saran kepada pelaksana agar hasil pekerjaan tersebut
sesuai dengan dokumen.
c. Memeriksa kualitas material yang akan digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan.
9. Drafter
Drafter adalah tenaga ahli yang bertanggung jawab terhadap gambar-
gambar kerja di dalam proyek.
Adapun tugas dari bagian drafteradalah :
a. Membuat gambar-gambar kerja yang diperlukan dalam proyek.
b. Bertanggung jawab atas data-data pengukuran di lapangan.
10. Quantity Surveyor
Quantity Surveyor adalah tenaga ahli yang bertanggung jawab terhadap
pengawasan ketelitian pengukuran di dalam proyek.
Adapun tugas dari bagian quantity surveyoradalah :
a. Melakukan pengawasan ketelitian pengukuran oleh kontraktor
terhadap titik-titik penting sehingga tidak terjadi selisih dimensi
maupun elevasi.
b. Mengumpulkan semua data pekerjaan yang di laksanakan di
lapangan dan bertanggung jawab atas ketelitian yang didapat.

2.7. Metoda Pelaksanaan Pekerjaan


Menurut PT. Pembangunan Perumahan (Persero) (2003) penerapan metode
pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan kondisi lapangan dimana suatu
proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung jenis proyek yang dikerjakan.
Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi jalan berbeda dengan bangunan gedung
dan lainnya. Namun demkian, pelaksanaan semua jenis proyek konstruksi
umumnya dimulai dari pelaksanaan pekerjaan persiapan.
2.7.1. Pekerjaan persiapan
Pekerjaan persiapan dilaksanakan sebelum pekerjaan fisik dimulai. Adapun
pekerjaan persiapan awal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek jalan yang
sebelumnya segala izin yang dibutuhkan sudah diurus, time schedule telah dibuat,
dan kontraktor telah memiliki shop drawing. Pekerjaan pendahuluan yang
dilakukan dalam proyek ini meliputi :
1. Pekerjaan Pembersihan
Lahan yang ditentukan untuk pembangunan jalan tentu memiliki beragam
kondisi. Ada yang hanya ditumbuhi rumput saja, tetapi banyak pula yang
dipadati semak belukar dan pepohonan. Untuk itulah pekerjaan pembersihan
harus dilakukan. Pekerjaan pembersihan meliputi penebangan pepohonan,
pembersihan semak belukar dan menggali akar-akar tanaman supaya tidak
tumbuh kembali.
Gimbalan rumput sebaiknya tidak dibuang begitu saja. Gimbalan rumput bisa
digunakan untuk menutup bahu jalan. Jika rumput-rumput tersebut kelak bisa
tumbuh dengan baik, maka rerumputan itu akan berfungsi sebagai pelindung
erosi khususnya di area miring dan bahu-bahu jalan.
Pekerjaan pembersihan ini tak hanya berlaku untuk tumbuh-tumbuhan saja,
tetapi juga untuk bongkahan-bongkahan batu yang berukuran besar dan
mengganggu pelaksanaan pembangunan jalan. Bongkahan batu-batu tersebut
dipindahkan dengan cara didorong, atau dipecahkan sehingga menjadi batu-
batu berukuran kecil. Acapkali pekerjaan membersihkan batu-batu ini
memakan waktu yang cukup lama dan tenaga yang besar.
Setelah dibersihkan, terkadang tahapan pembuangan permukaan tanah
diperlukan. Khususnya di wilayah-wilayah banjir yang memiliki tumpukan
endapan lumpur dan lembah-lembah sungai. Pembuangan permukaan tanah ini
diperlukan agar permukaan tanah memiliki kekuatan daya dukung yang baik
untuk pembangunan jalan.

2.7.2. Pekerjaan Tanah


Sesudah tahapan pembersihan selesai dilakukan, selanjutnya perlu
dilakukan pekerjaan tanah.Pekerjaan tanah terdiri dari penggalian drainase dan
pengurugan pada tempat-tempat yang membutuhkan urug atau
timbunan.Pekerjaan tanah ini bertujuan untuk membentuk badan jalan.Untuk
mendapatkan penimbunan berkualitas baik, perlu diperhatikan supaya semua
tanah benar-benar dipadatkan.Sebaiknya penimbunan dilakukan lapisan demi
lapisan dengan ketebalan 15cm. Lapisan demi lapisan harus dipadatkan terlebih
dahulu sebelum ditambahkan dengan lapisan berikutnya.Pada pekerjaan tanah ini,
jarak pemindahan tanah yang hendak digunakan untuk penimbunan akan
mempengaruhi jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan juga lama waktu
pengerjaannya. Jika jarak tanah urug dekat, maka proses penimbunan akan
berjalan lebih cepat. Sebaliknya, bila jarak pemindahan tanah urug jauh, maka
waktu yang dibutuhkan untuk pekerjaan tanah ini bisa lebih lama.
Setelah itu, barulah dilakukan penggalian saluran-saluran di samping kiri dan
kanan jalan.Tanah galian saluran bisa diletakkan di bagian tengah jalan dan
diratakan sehingga terbentuk bahu jalan.Kemudian tanah di badan jalan diratakan
dan dipadatkan. Sebaiknya tanah disiram dengan air agar kadar air selama
pemadatan benar-benar terjaga.Bila pemadatan selesai dilakukan, perlu
pengukuran ulang untuk memastikan ketinggian badan jalan telah sesuai dengan
standar yang berlaku.Jika ternyata ketinggian badan jalan belum tercapai atau
berlebihan, maka perlu dilakukan penyesuaian supaya diperoleh ketinggian yang
benar-benar sesuai dengan standar.

2.7.3. Pekerjaan Drainase


Drainase di jalan raya memegang peranan penting untuk menjaga daya
tahan jalan. Sebab air bisa merusak jalan dengan cara menyapu permukaan jalan
atau yang disebut erosi dan mengurangi daya dukung badan jalan. Karena itulah
sangat penting membangun sistem drainase yang baik.
Sistem drainase pada jalan raya harus mendukung agar air bisa mengalir keluar
dari permukaan jalan, saluran pinggir jalan yang dapat menampung aliran air dari
permukaan jalan, saluran air di sisi luar jalan yang mampu menampung air agar
tidak masuk ke ruas jalan, dan berupa gorong-gorong di bawah ruas jalan yang
mengalirkan air melintasi ruas jalan.
Selain saluran air yang baik, erosi di jalan raya juga bisa dicegah dengan
mendirikan tanggul-tanggul penahan air.Tanggul penahan air ini berfungsi
mengurangi laju aliran air dan menahan lumpur-lumpur.Perlu juga dibuat saluran
pembuangan sehingga jalan memiliki kepastian pembuatan di luar saluran-saluran
yang terdapat di jalan.
2.7.4 Perkerasan Badan Jalan
Perkerasan badan jalan atau dikenal dengan istilah gravelling dilakukan
untuk membuat lapisan permukaan badan jalan yang kuat. Permukaan badan jalan
yang kuat harus mampu menahan segala cuaca, panas maupun hujan serta tak
mengalami perubahan saat menerima beban. Selain itu, permukaan badan jalan
yang kuat akan membuat air sulit untuk masuk.
Perkerasan badan jalan ini dilakukan dengan memberi lapisan batuan alam.
Adapun tingkat ketebalannya antara 15cm sampai dengan 20cm sebelum tahap
pemadatan. Material yang digunakan dalam tahapan gravelling ini idealnya
memiliki kandungan tiga material utama yakni batu, pasir dan tanah liat dengan
komposisi batu 35% sampai 65%, pasir 20% sampai 40%, dan tanah liat 10%
sampai 25%.

2.7.5 Pekerjaan Pemadatan


Tahapan pemadatan menjadi salah satu tahapan penting untuk menjadikan
tanah semakin kuat. Pemadatan dilakukan untuk mengurangi volume lapisan
tanah dan mendorong partikel tanah semakin padat. Setidaknya terdapat empat
metode dasar pemadatan yakni penumbukan lapisan tanah secara mekanis ataupun
secara manual, mesin roller, pemadatan dengan menggunakan getaran, dan
pemadatan alami.
Penumbuk atau pemukul tergolong sebagai alat pemadat yang murah dan mudah
digunakan. Kelemahannya, penggunaan alat ini membuat pekerjaan pemadatan
berlangsung lebih lama. Alat penumbuk ini terbuat dari tongkat pemegang dengan
beton atau besi cor di bagian ujungnya. Alat ini dioperasikan dengan cara
diangkat dan dijatuhkan di permukaan tanah berulang-ulang sehingga lapisan
tanah benar-benar padat. Alat ini umumnya memiliki bobot antara 6 Kg sampai 8
Kg.Sedangkan roller penggilas bisa menjangkau area pemadatan yang lebih luas
dibandingkan alat penumbuk atau pemukul. Roller penggilas ini ada yang
memiliki drum ganda dan ada pula dengan drum tunggal. Roller penggilas ini
mampu menghasilkan pemadatan yang berkualitas baik dengan bobot pemberat
sampai dengan 1 ton atau bahkan lebih.
Sementara itu roller getar mempunyai kelebihan mampu memadatkan lebih dalam
dibandingkan dengan roller penggilas. Pada penggunaan alat ini perlu
diperhatikan mengenai kestabilan kecepatannya untuk mendapatkan hasil
pemadatan yang baik. Efek getaran sepenuhnya bergantung pada jenis material
dan intensitas getaran.
Selain menggunaan alat-alat pemadatan tersebut, pemadatan juga bisa saja
dilakukan secara alami. Pemadatan alami dijalankan dengan membiarkan tanah
dalam jangka waktu tertentu. Tanah nantinya secara alami akan menjadi padat
karena terguyur hujan dan dilintasi kendaraan. Pemadatan seperti ini memang
terbilang murah, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama.
Nah, sampai di sini tahapan pembangunan jalan telah menghasilkan lapisan
pondasi bawah badan jalan yang kuat sesuai perencanaan. Tetapi tahapan ini
bukanlah tahapan yang terakhir. Masih ada tahapan berikutnya yakni tahapan
perkerasan jalan. Pada tahapan ini, dilakukan penghamparan aspal yang sudah
dicairkan terlebih dahulu dengan cara dipanaskan. Sesudah aspal dihamparkan
dengan ketebalan sesuai ketentuan, maka selanjutnya dilakukan tahapan
pemadatan lagi dengan menggunakan alat-alat bantu pemadatan. Setelah itu
barulah diperoleh jalan yang siap untuk digunakan sebagai perlintasan kendaraan.
Demikianlah teknik pelaksanaan pembangunan jalan dari awal hingga akhir.

2.8 Sandart dan peraturan


Adapun standart yang mengacu pada proyek jalan, peraturan jalan menurut
undang-undang dan peraturan mentri pekerjaan umum bidang jalan PP.
No.34/2006 Tentang jalan adalah sebagai berikut :
A. Standart pekerjaan :
1. SNI-1969-2008 (Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar).
2. SNI-1970-2008 (Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus).
3. SNI-2417-2008 (Cara Uji keausan Agregat Dengan Mesin Abrasi Los
Angeles).
4. SNI-3407-2008 (Cara Uji Sifat Kekekalan Agregat Dengan Cara
Perendaman Menggunakan Larutan Natrium Sulfat atau Magnesium
Sulfat).
5. SNI-03-2816-1992 (Metode Pengujian Kotoran Organik dalam Pasir untuk
Campuran Mortar atau Beton).
6. SNI-03-6820-2000 (Spesifikasi Agregat Halus untuk Pekerjaan Adukan
dan Plasteran).
7. SNI-06-2489-1991 ( Metode Pengujian Campuran Aspal dengan Alat
Marshall).
8. ASTM C-33 (Standard Specification For Concrete Aggregates).
9. SNI-15-0302-2004 (Semen Portland Pozolan).
10. SNI-15-2049-2004 (Semen Portland).
B. Peraturan jalan menurut UU 38 tahun 2004
Pasal 6
(1) Jalan sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan
khusus.
(2) Jalan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan
menurut sistem,fungsi, status, dan kelas.
(3) Jalan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan diperuntukkan
bagi lalulintas umum dalam rangka distribusi barang dan jasa yang
dibutuhkan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai jalan khusus sebagaimana dimaksud
pada ayat (3)diatur dalam peraturan pemerintah.
Pasal 7
(1) Sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem
jaringanjalan sekunder.
(2) Sistem jaringan jalan primer sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan system jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang
dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan
menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat
kegiatan.
(3) Sistem jaringan jalan sekunder sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang
dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem jaringan jalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dalam peraturan
pemerintah.
Pasal 8
(1) Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam jalan arteri,
jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan.
(2) Jalan arteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan umum
yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan ratarata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya
guna.
(3) Jalan kolektor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan
umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan
ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan
masuk dibatasi.
(4) Jalan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan umum
yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak
dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
(5) Jalan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan
umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan
jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal,
dan jalan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4),
dan ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah.
Pasal 9
(1) Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional,
jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.
(2) Jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan
arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta
jalan tol.
(3) Jalan provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan
kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota
provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota,
dan jalan strategis provinsi.
(4) Jalan kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan
lokal dalamsistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk padaayat (2) dan
ayat (3), yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan,
antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal,
antarpusat kegiatan lokal,serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan
sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
(5) Jalan kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah jalan umum dalam
system jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan
dalam kota,menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan
antarpersil, sertamenghubungkan antarpusat permukiman yang berada di
dalam kota.
(6) Jalan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jalan umum
yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa,
serta jalan lingkungan.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai status jalan umum sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur dalam
peraturan pemerintah.

C. Jalan menurut UU 22 tahun 2009


pasal 19
Jalan dikelompokkan dalam beberapa kelas berdasarkan:
1. Fungsi dan intensitas Lalu Lintas guna kepentingan pengaturan
penggunaan Jalan dan Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; dan
2. Daya dukung untuk menerima muatan sumbu terberat dan dimensi
Kendaraan Bermotor.
3. Pengelompokan Jalan menurut kelas Jalan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas:
A. jalan kelas I, yaitu jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui Kendaraan
Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus)
milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 (delapan belas ribu)
milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter, dan
muatan sumbu terberat 10 (sepuluh) ton;
B. jalan kelas II, yaitu jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat
dilalui Kendaraan Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua
ribu lima ratus) milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 (dua belas
ribu) milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter,
dan muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton;
C. jalan kelas III, yaitu jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang
dapat dilalui Kendaraan Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100
(dua ribu seratus) milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 (sembilan
ribu) milimeter, ukuran paling tinggi 3.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter,
dan muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton; dan
D. jalan kelas khusus, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui Kendaraan
Bermotor dengan ukuran lebar melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus)
milimeter,ukuran panjang melebihi 18.000 (delapan belas ribu) milimeter,
ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter, dan muatan
sumbu terberat lebih dari 10 (sepuluh) ton.

D. Peraturan Mentri
Adapun peraturan mentri pekerjaan umum bidang jalan PP. No.34/2006
Tentang jalan adalah sebagai berikut :
A. Permen PU No. 11/PRT/M/2010 Tata cara dan persyaratan laik fungsi
jalan
B. Permen PU No. 13/PRT/M/2011 Tata cara pemeliharaan dan penilikan
jalan
C. Permen PU No. 01/PRT/M/2012 Pedoman peran masyarakat dalam
penyelenggaraan jalan
D. Permen PU No. 04/PRT/M/2012 Tata cara pengawasan jalan
E. Permen PU No. 20/PRT/M/2010 Pedeman dan pemanfaatan bagian-bagian
jalan
F. Permen PU No. 18/PRT/M/2011 Pedoman teknis sistem pengelolaan
database jalan
G. Permen PU No. 02/PRT/M/2012 Pedoman rencana umum jaringan jalan
H. Permen PU No. 05/PRT/M/2012 Pedoman penanaman pohon pada sistem
jaringan jalan
I. Permen PU No. 11/PRT/M/2011 Pedoman penyelenggaraan jalan khusus
J. Permen PU No. 19/PRT/M/2011 Persyaratan teknis jalan dan kriteria
perencanaan teknis jalan
K. Permen PU No. 03/PRT/M/2012 Pedoman penetapan fungsi dan status
jalan
L. Permen PU No. 07/PRT/M/2012 Penyelenggaraan,pengkajian,penelitian
dan pengembangan di bidang jalan