Anda di halaman 1dari 42

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN MENUJU ERA GLOBAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi

NAMA KELOMPOK 10:


DIANA SUCI KULINDHA (161600033)
NANDA TRI HARDINA (161600037)
MARIA OKTAVIANI (161600061)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
2019-2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita
berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu
membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada
kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai
menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta
teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun
materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Kami
menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal
pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya
menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran
yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-
mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman,
serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil
hikmah dari judul ini ( masyarakat desa dan masyarakat kota ) sebagai tambahan
dalam menambah referensi yang telah ada.

Surabaya, Oktober 2019


PENULIS

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL……………………………………...………….….......... .. i
KATA PENGANTAR. ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI. ........................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang. ............................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah. ....................................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN
2.1. Tantangan Profesi Akuntan Global. ............................................................. 3
2.1.1. Kode Etik Profesi Akuntan di AS. ...................................................... 5
2.1.2. Kode Etik Profesi Akuntan di Beberapa Negara di Luar AS. ............. 9
2.1.3. Kode Etik Profesi akuntan : IFAC. ..................................................... 10
2.1.4. Prinsip-Prinsip Fundamental Etika. .................................................... 14
2.1.5. Independensi. ...................................................................................... 15
2.1.6. Ancaman Independensi Akuntan Publik. ............................................ 16
2.1.7. Pengamanan Terhadap Ancaman. ....................................................... 20
2.2. Profesi Akuntan Indonesia dan IFAC. ......................................................... 23
2.3. Prinsip-Prinsip Profesi Akuntan................................................................... 24
2.3.1. Prinsip Pertama : Tanggung Jawab Profesi. ........................................ 24
2.3.2. Prinsip Kedua : Kepentingan Publik. .................................................. 24
2.3.3. Prinsip Ketiga : Integritas. .................................................................. 25
2.3.4. Prinsip Keempat : Objektivitas. .......................................................... 26
2.3.5. Prinsip Kelima : Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional. ............ 27
2.3.6. Prinsip Keenam : Kerahasiaan. ........................................................... 28
2.3.7. Prinsip Ketujuh : Perilaku Profesional . .............................................. 31
2.3.8. Prinsip Kedelapan : Standar Teknis. ................................................... 31
2.4. Contoh Kasus. .............................................................................................. 31
2.5. Analisis Kasus. ............................................................................................. 33

iii
BAB III : PENUTUP
3.1. Kesimpulan. ................................................................................................. 36
3.2. Saran. ............................................................................................................ 37
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 38

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Di era globalisasi ini banyak sekali kasus pelanggaran-pelanggaran
terutama banyak terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu kasus pelanggaran
etika profesi akuntansi. Tidak ada hanya masyarakat menengah yang
mengalami pelanggaran tersebut, yang lebih banyak pelanggaran yaitu terjadi
di kalangan atas, seperti kasus pelanggaran korupsi, kesalahan dalam
melakukan pembuatan laporan keuangan,bahkan melalukan pemalsuan tanda
tangan terhadap nasabah bank, kasus ini terlibat karena kurangnya ketelitian
dalam pembuatan laporan keuangan dan kurangnya sistem dalam perusahaan
yang bersangkutan. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Indonesia
bukan lagi merupakan sebuah fenomena, melainkan sudah merupakan fakta
yang terkenal dimana mana. Kini setelah rezim otoriter orde baru tumbang
tampak jelas bahwa praktik KKn selama ini terbukti telah menjadi tradisi dan
budaya yang keberadaannya meluas, berura akar, dan menggurtia dalam
masyarakat serta sistem birokrasi Indonesia, mulai dari pusat hingga lapisan
kekuasaan yang paling bawah. Sumartana, menyatakan bahwa KKN akhir-
akhir ini dianggap sebagai wujud paling buruk dan paling ganas dari gejala
keerosotan moral dari kehidupan masyarakat dan bernegara di negeri kita.
KKN adalah produk dan relasi sosial-politik dan ekonomi yan paling pincang
dan tidak manusiawi. Relasi yang dikembangkan adalah relasi yang
diskriminatif, alienatif, tidak terbuka, dan melecehkan kemanusiaan.
Kekuasaan dainggap sebagai sebuah privillege bagi kelompok (kecil) tertentu,
serta bersifat tertutup dan menempatkan semua bagian yang lain
sebagaiobjek-objek yang tak punya akses untuk berpartisipasi. Setiap bentuk
kekuasaan (baik politik maupun ekonomi) yang tertutup akan menciptakan
hukum-hukumnya sendiri demi melayani kepentingan penguasaan yang

1
eksklusif. Kekuasaan yang tertutup semacam ini merupakan lahan subur yang
bisa menghasilkan panen KKN yang benar-benar melimpah.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan
dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik,
bekerja di lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di
lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung-jawab
profesionalnya. Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-
jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja
tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik, kredibilitas. Prinsip
Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur
pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota.Prinsip Etika disahkan
oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika
disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota
Himpunan yang bersangkutan. Interpretasi Aturan Etika merupakan
interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan
setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak
berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika,
tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.Pernyataan
Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau
Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk
menggantikannya.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tantangan profesi akuntan global ?.
2. Bagaimana kode etik profesi akuntan di AS ?
3. Bagaimana kode etik profesi akuntan di beberapa negera di uar AS ?
4. Apa itu Sarbanes- Oxley ACT ?
5. Apa itu profesi akuntanindonesia dan IFAC ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tantangan Profesi Akuntan Global


Kemajuan ilmu pengtahuan dan teknologi, khususnya teknologi sistem
informasi dan komunikasi telah ikut mendorong perkembangan ekonomi
menuju penyatuan sistem ekonomi global. Penyatuan sistem ekonomi global
ini makin mendorong tumbuhnya perusahaan-perusahaan multinasional yang
beroperasi melampaui batas-batas suatu negara. Kesatuan aktivitas
perekonomian ini terlihat jelas pada aktivitas bursa saham dan perdagangan
valuta asing. Berbagai kesepakatan dan kerja sama politik yang dicapai oleh
para pemimpin negara-negara di dunia, antara lain perjajian ASEAN, APEC,
Uni Eropa (Europan Union-EU), dan terakhir perjanjian WTO, makin
mendorong ke arah penyatuan sistem ekonomi dunia. Sayangnya, aktivitas
bisnis perusahaan-perusahaan, khususnya perusahaan-perusahaan
multinasional yang telah bergerak di mancanegara, masih menyisakan
permasalahan di bidang profesi audit dan akuntansi. Saat ini sedikitnya ada
dua persoalan di bidang audit dan akuntansi yang belum sepenuhnya dapat
mendukung ke arah kesatuan ekonomi global, yaitu :
a. Setiap negara masih mempunyai prinsip akuntansi dan standar audit
sendiri-sendiri, yang terkadang berbeda anatara negara satu dengan negara
yang lainnya. Banyak negara yang mewajibkan agar setiap perusahaan
yang beroperasi di wilayahnya menyusun laporan keuangan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku di negara masing-masing.
b. Profesi akuntansi di dunia belum sepenuhnya serius dalam
mengembangkan standar perilaku etis profesi akuntansi.
Pada abad ke-20, dapat dikatakan ada tiga aliran dan audit yang dominan
diterapkan oleh perusahaan atau oraganisasi, yaitu :
a. Sistem Anglo-Saxon yang dimotori oleh AS,

3
b. Sistem Kontinental yang berlaku di Belanda, Jerman, dan beberapa negara
Eropa lainnya, dan
c. Sistem yang berlaku di Inggris dan negara-negara persemakmuran.
Perbedaan sistem dan prinsip akuntansi serta audit ini tentu saja sangat
menyulitkan perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan
yang telah beroperasi melampaui batas-batas wilayah negaranya untuk
menyusun laporan keuangan gabungan atau laporan keuangan konsolidasi
sebagai satu kesatuan entitas. Belum lagi, jika suatu entitas perusahaan ingin
go public di suatu negara, maka setiap pengatur (regulator) di negara tersebut
mengharuskan perusahaan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan
prinsip akuntansi yang berlaku di nagara pengatur tersebut. memasuki abad
ke-21, profesi akuntan di dunia tercoreng oleh berbagai skandal di bidang
akuntansi dan audit yang sangat merusak citra profesi akuntan itu sendiri.
Bagai tersentak, pemerintah, badan pengatur profesi dan organisasi profesi
akuntan mulai menyadari pentingnya upaya penegakan dan pengembangan
standar kode etik profesi yang lebih ketat, di samping upaya-upaya
pengembangan, penegakan dan pengawasan terhadap penerapan kode etik
profesi akuntan kurang mendapat perhatian yang serius.
Walaupun agak tertinggal, para akuntan di dunia tidak tinggal diam
dalam menghadapi dua persoalan tersebut. organisasi IAI sebagai wadah
profesi akuntan di Indonesia telah merintis berbagai kerjasama dengan
beberapa organisasi profesi akuntan di negara-negara ASEAN dan Australia
dalam upaya mempersempit jurang perbedaan yang ada, baik yang
menyangkut standar teknis maupun standar perilaku. Di tingkat dunia, mulai
terbentuk badan atau lembaga sepeerti Internasional Accounting Standard
Board (IASB) dan Internasional Federation of Accountants (IFAC). Kedua
badan ini tidak saja sangat peduli dengan upaya-upaya untuk melakukan
harmonisasi prinsip atau standar audit dan akuntansi di seluruh dunia, tetapi
juga mulai mengembangkan standar/kode etik profesi akuntan global dalam

4
upaya mendukung aktivitas perekonomian global. Kelambatan dan kesulitan
dalam mengembangkan standar teknis audit, akuntansi dan kode etik profesi
akuntan global, antara lain disebabkan oleh banyaknya pihak yang
berkepentingan dan banyaknya badan/lembaga yang merasa punya otoritas
untuk mengembangkan, membina dan mengawasi profesi akuntan itu sendiri.
Pihak-pihak, badan atau lembaga yang selama ini berkaitan langsung dengan
profesi akuntansi, antara lain :
a. Pemerintah dan lembaga legislative melalui produk peraturan dan
perundang-undangan
b. Badan pengatur/otoritas pasar modal (Bapepam LK, BEI, SEC, NYSE,
dan lain-lain)
c. Organisasi profesi akuntan di masing-masing negara (IAI, IAPI, AICPA,
AAA, CICA, IMA, dan lain-lain)
d. Badan/organisasi mandiri internasional (IFAC dan IASB)
e. Para pemakai/pengguna laporan keuangan dan sebagainya.
Meskipun mengalami banyak hambatan, diharapkan melalui kesadaran semua
pihak tentang pentingnya standar akuntansi, audit, dan kode etik profesi
bertaraf internasional, serta melalui berbagai bentuk kerja sama untuk
meningkatkan citra profesi akuntan sedunia, dapat segera dihasilkan dan
disepakati bersama prinsip dan standar audit, akuntansi dan kode etik profesi
yang berlaku sama di seluruh dunia. Selain dengan perkembangan ekonomi
global dan dalam rangka mengantisipasi keberadaan profesi akuntan bertaraf
internasional, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, organisasi IAI
telah sepakat untuk mengadopsi standar audit, akuntansi dan kode etik
internasional yang dikeluarkan oleh IFAC.
2.1.1. Kode Etik Profesi Akuntan Di AS
Sebagaimana dikatakan oleh Duska dan Duska (2005), sedikitnya ada enam
manfaat dari kode etik profesi, yaitu :

5
1. Dapat memberikan motivasi melalui penggunaan tekanan dari rekan
sejawat (peer pressure) dengan memlihara seperangkat harapan perilaku
yang diakui umum yang harus dipertimbangkan dalam proses keputusan.
2. Dapat memberikan pedoman yang lebih stabil tentang benar atau slah
daripada mengandalkan kepribadian manusiawi atau keputusan yang
selalu bersifat ad hoc.
3. Dal]pat memberikan tuntunan, terutama dalam menghadapi situasi yang
abu-abu (ambiguous situations).
4. Kode etik dapat merinci tanggung jawab social perusahaan itu sendiri.
5. Kode etik tidak saja dapat menentukan perilaku karyawan (employes),
namun dapat juga mengawasi kekuasaan otokrasi atasan (employers).
6. Kode etik sebenarnya untuk kepentingan bisnis itu sendiri, kalau bisnis
tidak mau mengawasi perilaku dirinya sendiri, maka pihak lain yang akan
bertindak mengawasinya.
Ada dua organisasi profesi akuntan yang berpengaruh di AS yang telah
memberikan kontribusi bagi penyusunan kode etik profesi akuntan, yaitu
American institute of Certified Public Accountants (AICPA) dan Institute of
Management Accountants (IMA). Kode etik AICPA lebih ditujukan untuk
para akuntan yang berpraktik pada kantor akuntan publik, sedangkan kode
etik IMA lebih ditujukan bagi para akuntan yang berprofesi sebagai akuntan
manajemen di suatu organisasi perusahaan.
Ringkasan Prinsip-Prinsip dan Aturan Etika AICPA
Prinsip-Prinsip
1. Tanggung Jawab : Dalam menjalankan tanggung jawab sebagai
seorang professional, anggota harus menjalankan pertimbangan moral
dan professional secara sensitive (Artikel I).
2. Kepentingan Publik : Anggota harus menerima kewajiban mereka
untuk bertindak sedemikian rupa demi melayani kepentingan public,

6
menghormati kepercayaan public, dan menunjukkan komitmen atas
profesionalisme (Artikel II).
3. Integritas : Untuk memelihara dan memperluas keyakinan public,
anggota harus melaksanakan semua tanggung jawab professional
dengan rasa integritas tertinggi (Artikel III).
4. Objektivitas dan Independensi : Seorang anggota harus memelihara
objektivitas dan bebas dari konflik kepentingan dalam menunaikan
tanggung jawab professional. Seorang angota dalam praktik public
seharusnya menjaga independensi dalam fakta dan penampilan saat
memberikan jasa auditing dan atetasi lainnya (Artikel IV).
5. Kehati-hatian (due care) : Seorang anggota harus selalu mengikuti
standar-standar etika dan teknis profesi, terdorong untuk secara terus-
menerus mengembangkan kompetensi dan kualitas jasa, dan
menunaikan tanggung jawab professional sampai tingkat tertinggi
kemampuan anggota yang bersangkutan (Artikel V).
6. Ruang Lingkup dan Sifat Jasa : Seorang anggota dalam praktik public
harus mengikuti prinsip-prinsip Kode Perilaku Profesional dalam
menetapkan ruang lingkup dan sifat jasa yang diberikan (Artikel VI).

ATURAN INTERPRETASI/ISU PENTING YANG DICAKUP


ETIKA
101  Akan dipengaruhi oleh beragam transaksi,
Independensi hubungan, dan kepentingan, termasuk :
kepentingan finansial yang material dan
langsung, pelaksanaan jasa non-atestasi tertentu,
investasi bersama, pinjaman, hubungan keluarga
jabatan resmi – seperti direktur, pejabat,

7
pegawai, promotor, penjamin, trustee, peminjam
(kecuali untuk persyaratan normal dari lembaga
keuangan untuk mobil, rumah tangga, kartu
kredit) – dan ancaman litigasi.
102  Tidak ada konflik kepentingan
Integritas dan  Tidak salah saji pelaporan ketentuan untuk
Objektibvitas menghindari subordinasi
201 Standar  Kompetensi professional
Umum  Kehati-hatian professional
 Perencanaan dan supervise
 Data relevan yang memadai
202  Keharusan jika jasa meliputi auditing, review,
Kesesuaian kompilasi, konsultasi manajemen, perpajakan
dengan atau jasa professional lainnya.
Standar
203 Prinsip  Tidak ada penyimpangan dari prinsip-prinsip
Akuntansi akuntansi berterima umum. bila penyajiannya
menimbulkan salah pengertian, maka harus
dinyatakan mengapa diperlukan penyimpangan
dan apa pengaruhnya – diotorisasi oleh
pernyataan FASB, GASB, FASAB.
301  Tidak boleh diungkap tanpa persetujuan, kecuali
Informasi untuk perkara pengadilan atau CPA proceeding
Klien  Tidak boleh digunakan untuk kepentingan
Rahasia pribadi
302 Fee  Tidak diperbolehkan untuk audit, review,
Kontinjen kompilasi, pemeriksaan informasi keuangan
prospektif, perhitungan pajak, dan klaim

8
restitusi pajak – beberapa pengecualian
diberikan daftarnya.
501  Tidak diperbolehkan : deskriminasi, kekerasan,
Tindakan penyimpangan dari standar pemerintah,
Mendiskredit ketidakpedulian.
kan
502  Tidak boleh memalsukan, menyesatkan, menipu,
Advertensi memaksa, upaya berlebihan atau dengan
dan Solistasi kekerasan
503 Komisi  Tidak diperbolehkan untuk audit, review,
dan Fee kompilasi dan pemeriksaan informasi dengan
Rujukan prospektif, kecuali memerlukan pengungkapan.
505 Bentuk  Diizinkan kepemilikan minoritas non-CPA, asal
dan Nama tanggung jawab akhir tetap pada anggota CPA,
Organisai secara finansial dan lainnya untuk pekerjaan
atestasi yang dilaksanakan untuk melindungi
kepentingan public, tetapi tidak boleh di luar
CPA, dan harus mengikuti kode etik CPA.

2.1.2. Kode Etik Profesi Akuntan di Beberapa Negara di Luar AS


Ada banyak contoh kode etik profesi akuntan yang berlaku di banyak negara.
Beberapa kode etik yang berlaku di beberapa negara, seperti AS, Inggris,
Jerman, Kanada, dan Australia tidak banyak berbeda.
SARBANES – OXLEY ACT
Badai skandal keuangan yang mempertontonkan pelanggaran etika secara
nyata yang dilakukan oleh para eksekutif puncak perusahaan-perusahaan
public multinasional yang berkantor pusat di AS yang juga melibatkan profesi
akuntan public ternama, sempat menggoncang bursa saham dan perekonomian

9
AS. Akibat berbagai skandal ini, pemerintah dan lembaga legislative AS
segera mengeluarkan undang-undang yang sangat terkenal dengan nama
Sarbanes-Oxley Act (SOX).
2.1.3. Kode Etik Profesi Akuntan : Internasional Federation of Accountants
(IFAC)
Pada bulan Juni 2005, organisasi profesi IFAC telah menerbitkan kode etik
secara lengkap dan sangat rinci. Pedoman kode etik ini tersiri atas tiga bagian:
Bagian A berisi prinsip-prinsip fundamental Etika Profesi yang berlaku untuk
seluruh profesi akuntan dan juga berisi kerangka konsep untuk menerapkan
prinsip-prinsip tersebut; Bagian B berisi penjelasan lebih lanjut mengenai
penerapan kerangka konsep dan prinsip-prinsip fundamental pada bagian A
untuk situasi-situasi khusus, terutama bagi mereka yang berpraktik sebagai
akuntan publik; dan bagian C berisi penjelasan lebih lanjut mengenai
kerangka konsep dan prinsip-prinsip fundamental pada bagian A untuk
diterapkan pada situasi-situasi khusus, terutama bagi profesi akuntan bisnis
(akuntan manajemen).
Struktur dan Kerangka Dasar Kode Etik IFAC
Misi dari Internasional of Accountants sebagaimana dicantumkan
dalam konstitusinya adalah “mengembangkan dan menyempurnakan profesi
akuntansi secara global dengan standar-standar yang harmonis sehingga dapat
memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi secara konsisten untuk
kepentingan public”. (IFAC Code of Ethics for Professional Accountants, Juni
2005). Sebagaimana dikatakan oleh Boorks (2007), kode etik yang ditetapkan
oleh IFAC memberikan perlakuan terkini tentang ketentuan yang berkaitan
dengan independensi dan konflik kepentingan. Oleh karena misi IFAC adalah
melakukan harmonisasi standar diantara negara-negara anggota IFAC di masa
mendatang, maka sangat pantas bila kode etik IFAC ini mendpat perhatian
yang sungguh-sungguh. Indonesia sendiri melalui organisasi profesi IAI telah
mencanangkan tekadnya untuk mengadopsi standar teknis dan kode etik yang

10
ditetapkan oleh IFAC selambat-lambatnya tahun 2012. Untuk lebih
memahami kode etik yang ditetapkan oleh IFAC ini, maka Boorks (2007)
memberikan pendekatan cara memahami filosofi kode etik IFAC sebagai
berikut :
1. Memahami struktur kode etik.
2. Memahami kerangka dasar kode etik untuk melakukan penilaian yang
bijak.
3. Proses menjamin independensi pikiran (independence in mind) dan
independensi penampilan (independence in appearance).
4. Pengamanan untuk mengurangi risiko situasi konflik kepentingan.
Kerangka dasar kode etik IFAC dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Ciri yang membedakan profesi akuntan yaitu kesadaran bahwa kewajiban
akuntan adalah untuk melayani kepentingan publik.
2. Harus dipahami bahwa tanggungjawab akuntan tidak secara eklusif hanya
melayani klien (dari sudut pandang akuntan publik), atau hanya melayani
atasan (dari sudut pandang akuntan bisnis), melainkan melayani
kepentingan public dalam arti luas.
3. Tujuan (objective) dari profesi akuntan adalah memenuhi harapan
profesionalisme, kinerja, dan kepentingan publik.
4. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan empat kebutuhan dasar, yaitu
kredibilitas, profesionalisme, kualitas jasa tertinggi, dan kerahasiaan.
5. Keseluruhan hal tersebut hanya dapat dicapai bila profesi akuntan
dilandasi oleh prinsip-prinsip perilaku fundamental, yang terdiri atas:
integritas, objektivitas, kompetensi professional dan kehati-hatian,
kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis.
6. Namun, prinsip-prinsip fundamental pada butir (5) hanya dapat diterapkan
jika akuntan mempunyai sikap independen, baik independensi dalam
pikiran (independence in mind) maupun independen dalam penampilan
(independence in appearance)

11
STRUKTUR KODE ETIK IFAC
Kewajiban kepada Masyarakat Pelayanan Kepentingan Public
Objektif :
Memenuhi harapan Profesionalisme, Kinerja, dan Kepentingan Public
Kebutuhan Dasar :
Kredibilitas, Profesionalisme, Jasa Kualitas Tertinggi, Kerahasiaan
Prinsip-Prinsip Fundamental :
Integritas, Objektivitas, Kompetensi Profesional, dan Kehati-hatian,
Perilaku Profesional dan Standar Teknis

Kerangka Dasar Kode Etik IFAC

1. Melindungi Kepentingan Publik


2. Jasa Profesional Kepada Klien

Penilaian

o Integritas Objektivitas Skeptime


Profesional

Independensi Pikiran dan Penampilan

12
Proses Menjamin Independensi Pikiran dan Independensi Penampilan

Identifikasi dan evaluasi keadaan Eliminasi ancaman atau


dan hubungan yang menciptakan kurangi sampai ke tingkat
ancaman terhadap independensi : yang dapat diterima dengan :

 Kepentingan Pribadi  Menerapkan Pengamanan


 Review Diri  Profesi
 Advokasi  Legislasi
 Keakraban  Regulasi
 Intimidasi  Di dalam Klien
 Di dalam Firma

Pengamanan Untuk Mengurangi Risiko Situasi Konflik Kepentingan


Pengamanan melalui Profesi, Legislasi dan Regulasi
 Persyaratan pendidikan, pelatihan dan pengalaman
 Standar professional, pemantauan, dan proses disiplin
 Pendidikan berkelanjutan
 Review eksternal atas sistem control kualitas Firma
 Legislasi yang berhubungan dengan ketentuan independensi Firma
IFAC Code, 8.37
Pengamanan di dalam Klien
 Penunjukan auditor disetujui oleh pihak selain manajemen
 Klien mempunyai saraf yang kompeten untuk mengambil keputusan
 Prosedur internal untuk menjamin pilihan objektif dalam mengawasi
perikatan bukan penjaminan (nonassurance engagement)
 Suatu struktur tata kelola perusahaan, seperti komite audit, yang dapat
memberikan pandangan dan komunikasi mengenai jasa yang diberikan
firma

13
IFAC Code, 8.38
Pengamanan yang menyangkut sistem dan prosedur di dalam firma
 Kepemimpinan yang menekankan pentingnya idependensi dan harapan
jasa/tindakan demi kepentingan public
 Kebijkan dan prosedur untuk mengimplementasikan dan memantau
pengawasan atas perikatan penjaminan
 Kebijakan independensi yang terdokumentasi menyangkut identifikasi dan
evaluasi atas ancaman independensi ; penerapan pengamanan untuk
mengeliminasi atau mengurangi ancaman sampai tingkat yang dapat
diterima
 Kebijakan dan prosedur untuk memantau dan mengelola kenadalan
pendapatan dari satu klien tunggal penjaminan
 Memanfaatkan partner dengan garis pelaporan terpisah untuk memberikan
jasa bukan penjaminan (nonassurance servic ) kepada klien penjaminan
(assurance client)
IFAC Code, 8.41.2

Konsep-konsep yang memerlukan penjelasan antara lain :


1. Prinsip-Prinsip Fundamental Etika
2. Independensi
3. Ancaman Terhadap Independensi
4. Pengamanan Terhadap Ancaman Independensi
2.1.4. Prinsip-Prinsip Fundamental Etika
Prinsip-prinsip fundamental etika terdiri atas :
a. Integritas. Seorang akuntan professional harus bertindak tegas dan jujur
dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya.
b. Objektivitas. Seorang akuntan professional seharusnya tidak boleh
membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan atau di bawah pengaruh

14
prang lain sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis dan
professional.
c. Kompetensi professional dan kehati-hatian. Seorang akuntan
professional mempunya kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan
keterampilan professional secara berkelanjutan pada tingkat yang
diperlukan untuk menjamin seorang klien atau atasan menerima jasa
professional yang kompeten yang didasarkan atas perkembangan praktik,
legislasi dan teknik terkini. Seorang akuntan professional harus bekerja
secara tekun serta mengikuti standar-standar professional dan teknik yang
berlaku dalam memberikan jasa professional.
d. Kerahasiaan. Seorang akuntan professional harus menghormati
kerahasiaan informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan
professional dan bisnis serta tidak boleh mengungkapkan informasi
apapun kepada pihak ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik, kecuali
terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak professional untuk
mengungkapnya. Informasi rahasia yang diperoleh dari hasil hubungan
bisnis dan professional tidak boleh digunakan untuk keuntungan pribadi
akuntan professional atau pihak ketiga.
e. Perilaku professional. Seorang akuntan professional harus patuh pada
hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari
tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
2.1.5. Independensi
Sebagaimana telah diketahui, ada dua jenis independensi yang dikenal, yaitu
independensi dalam fakta dan independensi dalam penampilan. Untuk
independensi dalam fakta, IFAC menggunakan istilah lain, yaitu independensi
dalam pikiran.
a. Independensi dalam pikiran. Adalah suatu keadaan pikiran yang
memungkinkan pengungkapan suatu kesimpulan tanpa terkena pengaruh
yang dapat mengkompromikan penilaian professional, memungkinkan

15
seorang individu bertindak bedasarkan integritas, serta menerapkan
objektivitas dan skeptisme professional.
b. Independensi dalam penampilan. Adalah penghindaran fakta dan
kondisi yang sedemikian signifikan sehingga pihak ketiga yang paham
dan berpikir rasional – dengan memiliki pengetahuan akan semua
informasi yang relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan – akan
tetap dapat menarik kesimpulan bahwa skeptisme professional,
objektivitas dan itegritas anggota firma, atau tim penjaminan telah
dikompromikan. Prinsip-prinsip fundamental etika tidak dapat
dinegosiasikan atau dikompromikan bila seorang akuntan ingin tetap
menjaga citra profesinya yang luhur.
Ancaman Terhadap Independensi
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, ancaman terhadap independensi dapat
berbentuk :
a. Kepentingan diri (self-interest)
b. Review diri (self-review)
c. Advokasi (advocacy)
d. Kekerabatan (familiarity)
e. Intimidasi (intimidation).
2.1.6. Ancaman Independensi Akuntan Publik
Ancaman kepentingan diri dapat timbul akibat ada kepentingan keuangan,
atau ada kepentingan dari keluarga langsung atau keluarga dekat, atau
kepentingan lain dari akuntan yang bersangkutan. Kepentingan diri adalah
wujud sifat yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau keluarga
dibandingkan dengan kepentingan public yang luas. Contoh langsung
ancaman kepentingan diri untuk akuntan public, antara lain, namun tidak
terbatas pada :

16
 Kepentingan keuangan dalam perusahaan klien, atau kepentingan
keuangan bersama pada suatu perusahaan klien.
 Ketergantungan yang tidak wajar pada total fee dari suatu klien.
 Memiliki hubungan bisnis yang sangat erat dengan klien.
 Kekhawatiran berlebihan bila kehilangan suatu klien.
 Potensi akan dipekerjakan oleh suatu klien.
 Fee kontinjensi sehubungan dengan perikatan penjaminan.
 Ada pinjaman dari atau kepada klien penjaminan, atau kepada dari
direktur atau pejabat dari klien. (IFAC, 200.4)
Contoh langsung ancaman kepentingan diri untuk akuntan bisnis (namun
tidak terbatas pada hal-hal berikut), anata lain :
 Kepentingan keuangan, pinjaman dan garansi.
 Perjanjian kompensasi insentif.
 Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat.
 Tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan (IFAC, 300.8).
Ancaman review diri dapat timbul jika pertimbangan sebelumnya dievaluasi
ulang oleh akuntan professional yang sama dan yang telah melakukan
penilaian sebelumnya tersebut. contoh ancaman review diri untuk akuntan
public antara lain, namun tidak terbatas pada :
 Temuan kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang.
 Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan dan
implementasi sistem tersebut.
 Terlibat dalam pemberian jasa pencatatan akuntansi sebelum perikatan
penjaminan.
 Menjadi anggota tim penjaminan setelah baru saka menjadi
karyawan/pejabat di perusahaan klien yang memiliki pengaruh langsung
berkaitan dengan perikatan penjaminan tersebut.

17
 Memberikan jasa kepada klien yang berpengaruh langsung pada materi
perikatan penjaminan tersebut (IFAC, 200.5).
Salah satu contoh ancaman review diri untuk akuntan bisnis namun tidak
terbatas pada hal ini saja), yaitu keputusan bisnis atau data yanh sedang
ditinjau oleh akuntan professional yang sama yang membuat keputusan bisnis
atau penyiapan data tersebut(IFAC, 300.9). ancaman advokasi dapat timbul
bila akuntan professional mendukung suatu posisi atau pendapat sampai titik
dimana objektivitas dapat dikompromikan.
Contoh langsung ancaman advokasi untuk akutan public, antara lain, namun
tidak terbatas pada :
 Mempromosikan saham perushaan public dari klien, dimana perushaan
tersebut merupakan klien audit.
 Bertindak sebagai pengacara (penasihat hukum) untuk klien penjaminan
dalam suatu litigasi perkara perselisihan dengan ihak ketiga (IFAC,
200.6).
Ancaman kekerabatan timbul dari kedekatan hubungan sehingga akuntan
professional menjadi terlalu bersimpati terhadap kepentingan orang lain yang
mempunyai hubungan dekat dengan akuntantersebut. Contoh langsung
ancaman kekerabatan untuk akuntan public, antara lain, namun todak terbatas
pada :
 Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang
direktur atau pejabat perushaan klien.
 Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang
karyawan klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan
signifikan terhadap pokok dari penugasan.
 Mantan rekan (partner) dari kantor akuntan yang menjadi direktur atau
pejabat klien atau karyawan pada posisi yang berpengaruh atas pokok
suatu penugasan.

18
 Menerima hadiah atau perlakuan istimewa dari klien, kecuali nilainya
tidak signifikan.
 Hubungan yang terjalin lama dengan karyawan senior perusahaan klien
(IFAC, 200.7).
Contoh ancaman kekerabatan yag dapat timbul, antara lain, namun tidak
terbatas pada :
 Seorang akuntan professional dalam posisi yang dapat memengaruhi
pelaporan keuangan dan non keuangan keputusan bisnis karena
mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seseorang yang dlam posisi
memperoleh manfaat dari pengaruh tersebut.
 Hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai pengaruh
pada keputusan bisnis.
 Penerimaan hadiah atau perlakuan khusus, kecuali nilainya tidak
signifikan (IFAC, 300.11).
Ancaman intimidasi dapat timbul jika akuntan professional dihalangi untuk
bertindak objektif, baik secara nyata maupun dipersepsikan. Contoh ancaman
intimidasi untuk akuntan public, antara lain, namun tidak terbatas pada :
 Diancam di pecat atau diganti dalam hubungannya dengan penugasan
pada klien.
 Diancam dengan tuntutan hukum.
 Ditekan secara tidak wajar untuk mengurangi ruang lingkup pekerjaan
dengan maksud untuk mengurangi fee (IFAC, 200.8).
Contoh ancaman intimidasi untuk akuntan bisnis dapat timbul, anatara lain,
namun tidak terbatas pada :
 Ancaman pemecatan atau penggantian posisi akuntan professional dalam
bisnis atau anggota keluarga dekat atas ketidaksetujuan penerapan prinsip
akuntansi atau cara pelaporannya.

19
 Seseorang yang mempunyai kepribadian yang dominan berusaha untuk
memengaruhi proses pengambilan keputusan. Contohnya dalm hal
pemberian kontrak atau penerapan akuntansi.
 Situasi-situasi untuk lainnya yang tidak dapat dikategorikan (IFAC,
300.12).

2.1.7. Pengamanan Terhadap Ancaman


Ada dua kategori pokok pengamanan terhadap ancaman independensi, yaitu :
a. Pengamanan melalui profesi, legislasi atau regulasi.
b. Pengamanan lingkungan kerja (IFAC, 100.11).
Berikut ini merupakan hal-hal yang termasuk dalam pengamanan melalui
profesi, legislasi dan regulasi, namun tidak terbatas pada :
 Persyaratan pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja.
 Persyaratan pengembangan profesi berkelanjutan.
 Peraturan tata kelola korporasi.
 Standar-standar professional.
 Prosedur pemantauan dan pendisiplinan profesi atau peraturan.
 Rebiew eksternal oleh pihak ketiga yang berwenang atas laporan,
pemberitahuan, komunikasi dan informasi yang dihasilkan oleh akuntan
professional (IFAC, 100.12).
Pengamanan lingkungan ditempat kerja bisa sangat bervariasi dan sangat luas,
bergantung pada keadaan di tempat kerja tersebut. Beberapa contoh
pengamanan untuk akuntan public, antara lain, namun tidak terbatas pada :
a. Pengamanan di kantor firma dalam arti luas :
 Dukungan kepemimpinan (pemimpin yang taat pada prinsip dan
selalu mengedepankan kepentingan umum
 Sistem dan prosedur kendali mut
 Dokumentasi kebijkan yang independensi

20
 Dokumen kebijkan tentang prinsip-prinsip etika
 Penggunaan rekan dan tim terpisah untuk penguasaan penjaminan
dan non penjaminan
 Memberitahu semua rekan dan staf tentanf klien-klien penjaminan
dimana diperlukan independensi
 Komunikasi tepat waktu kepada semua rekan dan staf tentang
berbagai kebijakan dan prosedur, termasuk perubahannya
 Kebijkan dan prosedur pemantauan, dan jika diperlukan mengelola
ketergantungan pendapatan dari satu klien tertentu
 Penunjukkan anggota senior untuk mengawasi keefektifan
berjalannya sistem kendali mutu
 Mekanisme disiplin untuk mendukung kepatuhan terhadap kebijkan
dan prosedur
 Mempublikasikan berbagai kebijakan dan prosedur untuk mendorong
komunikasi antara staf dengan staf senior tentangisu-isu yang
berkaitan dengan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip etika (IFAC,
200.12).
b. Pengamanan perikatan khusus dilingkuangan kerja :
 Melibatkan tambahan seseorang akuntan professional untuk meninjau
pekerjaan yang dilakukan atau memberi nasihat yang diperlukan.
 Konsultasi dengan pihak ketiga yang independen, seperti komite
direktur independen, badan pengatur atau akuntan professional lain.
 Diskusikan masalah etika dengan pejabat klien yang berwenang
tentang masalah tata kelola.
 Mengungkapkan kepada pejabat klien yang bertanggung jawab atas
tata kelola tentang sifat jasa dan fee yang dikenakan.
 Melibatkan firma lain untuk melaksanakan atau melaksanakan kembali
dengan bagian dari penugasan.

21
 Rotasi staf senior dari tim penugasan penjaminan (IFAC, 200.13).
c. Pengamanan di dalam sistem dan prosedur klien :
 Penunjukkan firma diratifikasi oleh pihak selain manajemen
 Klien memiliki karyawan yang kompeten
 Klien memiliki prosedur internal untuk menjamin obejktivitas
penugasan non penjaminan.
 Klien memiliki tata kelola korporasi yang dapat memberikan
pengawasan dan komunikasi yang memadai terkait dengan jasa-jasa
firma (IFAC, 200.15).
Pengamanan ancaman di tempat kerja untuk akuntan bisnis, antara lain,
namun tidak terbatas pada :
 Penerapan struktur pengawasan korporasi
 Pedoman kode etik perilaku organisasi
 Pedoman perekrutan yag menekankan pentingnya merekrut tenaga
dengan kompetensi tinggi
 Pengendalian internal yang kuat
 Proses pendisiplinan yang memadai
 Kepemimpinan yang berbasis etika
 Kebijakan dan prosedur pelaksanaan dan pemantauan kinerja
karyawan
 Komunikasi tepat waktu tentang berbagai kenijakan dan prosedur
termasuk perubahannya ke seluruh karyawan disertai pelatihan dan
pendidikan yang memadai tentang kebijakan dan prosedur yang ada
(IFAC, 300.16)

22
BAGIAN B : KODE ETIK AKUNTAN PUBLIK
Penerapan prinsip-prinsip etika fundamental untuk profesi akuntan public
dijabarkan secara rinci pada bagian B kode etik IFAC dengan diberi kode 200.
Daftar isi dank ode bagian B ini adalah :
200 Pendahuluan
210 Penunjukkan Profesional dan Penerimaan KliAN
220 Konflik Kepentingan
230 Pendapat Kedua
240 Fee dan Jenis Imbalan Lainnya
250 Pemasaran Jasa Profesional
260 Hadiah dan Keramahtamahan
270 Penyimpanan Aset Klien
280 Objektivitas Semua Jasa
290 Independensi Perikatan Penjaminan

BAGIAN C : KODE ETIK AKUNTAN BISNIS


Penerapan prinsip-prinsip etika fundamental untuk profesi akuntan bisnis
(Akuntan Manajemen) dijabarkan secara rinci pada bagian C kode etik IFAC
dengan diberi kode 300. Daftar isi dank kode bagian C ini adalah :
300 Pendahuluan
310 Potensi Konflik
320 Penyusunan dan Pelaporan Informasi
330 Bertindak dengan Keahlian yang Memadai
2.2. Profesi Akuntan Indonesia dan IFAC
Saat ini profesi akuntan di Indonesia, baik akuntan publik maupun akuntan
manajemen, mengikuti standar kompetensi yang beralku di AS. Namun
dengan kecenderungan terjadinya penyatuan sistem perekonomian dunia, mau
tidak mau seluruh profesi akuntan di dunia juga harus mendukung ke arah
penyatuan sistem ekonomi global tersebut. Saat ini, sebagaimana telah

23
dijelaskan sebelumnya, kecenderungan timbulmya kesatuan sistem ekonomi
global ini belum diikuti oleh keseragaman atau keharmonisan penerapan
standar-standar teknis akuntansi, auditing, dan kode etik profesi akuntan di
seluruh dunia. Menyadari hal tersebut, para pengurus dan anggota IAI telah
berkali-kali mengadakan diskusi dan pembicaraan sekitar kesiapan IAI untuk
mengadopsi standar-standar teknis dan kode etik internasional dengan
memanfaatkan berbagai forum, seperti kongres, seminar, lokakarya, pelatihan,
dan sejenisnya. Kabar terakhir, pengurus IAI bertekad untuk sesegera
mungkin agar profesi akuntan Indonesia mengadopsi standar teknis dan
perilaku yang dikeluarkan oleh International Federation of Accountans
(IFAC).
2.3. Prinsip-Prinsip Porfesi Akuntan
2.3.1. Prinsip Pertama - Tanggung Jawab Profesi
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota
harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam
semua kegiatan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai
peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota
mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka.
Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sarna dengan
sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara
kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab profesi dalam
mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk
memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
2.3.2. Prinsip Kedua - Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah
penerimaan tanggung-jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang
peranan yang penting di masyarakat, di mana publik dari profesi akuntan yang

24
terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai,
investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepacla
obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi
bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung-jawab
akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan
sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara
keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku
akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi
masyarakat dan negara. Profesi akuntan dapat tetap berada pada posisi yang
penting ini hanya dengan terus menerus memberikan jasa yang unik ini pada
tingkat yang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat dipegang teguh.
Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa
akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi
dan sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat
prestasi tersebut. Dalam mememuhi tanggung-jawab profesionalnya, anggota
mungkin menghadapi tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak
yang berkepentingan. Dalam mengatasi benturan ini, anggota harus bertindak
dengan penuh integritar, dengan suatu keyakinan bahwa apabila anggota
memenuhi kewajibannya kepada publik, maka kepentingan penerima jasa
terlayani dengan sebaik-baiknya. Mereka yang memperoleh pelayanan dari
anggota mengharapkan anggota untuk memenuhi tanggungjawabnya dengan
integritas, obyektivitas, keseksamaan profesional, dan kepentingan untuk
melayani publik. Anggota diharapkan untuk memberikan jasa berkualitas,
mengenakan imbalan jasa yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa,
semuanya dilakukan dengan tingkat profesionalisme yang konsisten dengan
Prinsip Etika Profesi ini.
2.3.3. Prinsip Ketiga – Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota
harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi

25
mungkin. Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya
pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi
kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam
menguji semua keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang
anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus
mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak
boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima
kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi
tidak dapat menerima kecurangan atau peniadaan prinsip. Integritas diukur
dalam bentuk apa yang benar dan adil. Dalam hal tidak terdapat aturan,
standar, panduan khusus atau dalam menghadapi pendapat yang bertentangan,
anggota harus menguji keputusan atau perbuatannya dengan bertanya apakah
anggota telah melakukan apa yang seorang berintegritas akan lakukan dan
apakah anggota telah menjaga integritas dirinya. Integritas mengharuskan
anggota untuk menaati baik bentuk maupun jiwa standar teknis dan etika.
Integritas juga mengharuskan anggota untuk mengikuti prinsip obyektivitas
dan kehati-hatian profesional.
2.3.4. Prinsip Keempat – Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitas adalah
suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota.
Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak,
jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan
kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain. Anggota bekerja
dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas
mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktik publik memberikan
jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain
menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa
audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di

26
industri, pendidikan dan pemerintahan. Mereka juga mendidik dan melatih
orang-orang yang ingin masuk ke dalam profesi. Apapun jasa atau
kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan
memelihara obyektivitas. Dalam menghadapi situasi dan praktik yang secara
spesifik berhubungan dengan aturan etika sehubungan dengan obyektivitas,
pertimbangan yang cukup harus diberikan terhadap faktor-faktor berikut :
c. Adakalanya anggota dihadapkan kepada situasi yang memungkinkan
mereka menerima tekanan-tekanan yang diberikan kepadanya. Tekanan
ini dapat mengganggu obyektivitasnya.
d. Adalah tidak praktis untuk menyatakan dan menggambarkan semua situasi
di mana tekanan-tekanan ini mungkin terjadi. Ukuran kewajaran
(reasonableness) harus digunakan dalam menentukan standar untuk
mengindentifikasi hubungan yang mungkin atau kelihatan dapat merusak
obyektivitas anggota.
e. Hubungan-hubungan yang memungkinkan prasangka, bias atau pengaruh
lainnya untuk melanggar obyektivitas harus dihindari.
f. Anggota memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa orang-orang yang
terilbat dalam pemberian jasa profesional mematuhi prinsip obyektivitas.
g. Anggota tidak boleh menerima atau menawarkan hadiah atau
entertainment yang dipercaya dapat menimbulkan pengaruh yang tidak
pantas terhadap pertimbangan profesional mereka atau terhadap orang-
orang yang berhubungan dengan mereka. Anggota harus menghindari
situasi-situasi yang dapat membuat posisi profesional mereka ternoda.
2.3.5. Prinsip Kelima - Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehati-hatian,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang
diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh
matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan

27
praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir. Kehati-hatian profesional
mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya
dengan kompetensi dan ketekunan. Hal ini mengandung arti bahwa anggota
mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-
baiknya sesuai dengan kemampuannya, derni kepentingan pengguna jasa dan
konsisten dengan tanggung-jawab profesi kepada publik. Kompetensi
diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seyogyanya tidak
menggambarkan dirinya mernilki keahlian atau pengalaman yang tidak
mereka punyai. Dalam semua penugasan dan dalam semua tanggung-
jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan
kompetensi yang akan meyakinkan bahwa kualitas jasa yang diberikan
memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti disyaratkan oleh Prinsip
Etika. Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi 2 (dua) fase yang
terpisah:
a. Pencapaian Kompetensi Profesional.
Pencapaian kompetensi professional pada awalnya memerlukan standar
pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan
dan ujian profesional dalam subyek-subyek yang relevan, dan pengalaman
kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembangan yang normal untuk
anggota.
b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
 Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui kornitmen untuk
belajar dan melakukan peningkatan profesional secara
berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
 Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk
terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk di
antaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing dan peraturan
lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan.

28
 Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk
memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa
profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.
 Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan
suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan
seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan
kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi
anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau
menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap
anggota bertanggung-jawab untuk menentukan kompetensi masing-
masing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan
pertimbangan yang diperlukan memadai untuk tanggung-jawab yang
harus dipenuhinya.
 Anggota harus tekun dalam memenuhi tanggung-jawabnya kepada
penerima jasa dan publik. Ketekunan mengandung arti pemenuhan
tanggung-jawab untuk memberikan jasa dengan segera dan berhati-
hati, sempurna dan mematuhi standar teknis dan etika yang berlaku.
 Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk merencanakan
dan mengawasi secara seksama setiap kegiatan profesional yang
menjadi tanggung-jawabnya
2.3.6. Prinsip Keenam – Kerahasiaan
Setiap anggota harus, menghormati kerahasiaan informasi iyang diperoleh
selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau
mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak
atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Anggota
mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang
klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang
diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan

29
antara anggota dan klien atau pemberi kerja berakhir. Kerahasiaan harus
dijaga oleh anggota kecuali jika persetujuan khusus telah diberikan atau
terdapat kewajiban legal atau profesional untuk mengungkapkan informasi.
Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staf dibawah
pengawasannya dan orang-orang yang diminta nasihat dan bantuannya
menghormati prinsip kerahasiaan. Kerahasiaan tidaklah semata-mata masalah
pengungkapan informasi. Kerahasiaan juga mengharuskan anggota yang
memperoleh informasi selama melakukan jasa profesional tidak menggunakan
atau terlihat menggunakan informasi terse but untuk keuntungan pribadi atau
keuntungan pihak ketiga. Anggota yang mempunyai akses terhadap informasi
rahasia ten tang penerima jasa tidak boleh mengungkapkannya ke publik.
Karena itu, anggota tidak boleh membuat pengungkapan yang tidak disetujui
(unauthorized disclosure) kepada orang lain. Hal ini tidak berlaku untuk
pengungkapan informasi dengan tujuan memenuhi tanggung-jawab anggota
berdasarkan standar profesional. Kepentingan umum dan profesi menuntut
bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan
dan bahwa terdapat panduan mengenai sifat dan luas kewajiban kerahasiaan
serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
Berikut ini adalah contoh hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan sejauh mana informasi rahasia dapat diungkapkan :
a. Apabila pengungkapan diizinkan. Jika persetujuan untuk mengungkapkan
diberikan oleh penerima jasa, kepentingan semua pihak termasuk pihak
ketiga yang kepentingannya dapat terpengaruh harus dipertimbangkan.
b. Pengungkapan diharuskan oleh hukum. Beberapa contoh di mana anggota
diharuskan oleh hukum untuk mengungkapkan informasi rahasia adalah:
untuk menghasilkan dokumen atau memberikan bukti dalam proses
hukum; dan untuk mengungkapkan adanya pelanggaran hukum kepada
publik.

30
c. Ketika ada kewajiban atau hak profesional untuk mengungkapkan :
1. Untuk mematuhi standar teknis dan aturan etika; pengungkapan seperti
itu tidak bertentangan dengan prinsip etika ini;
2. Untuk melindungi kepentingan profesional anggota dalam sidang
pengadilan;
3. Untuk menaati peneleahan mutu (atau penelaahan sejawat) IAI atau
badan profesionallainnya; dan
4. Untuk menanggapi permintaan atau investigasi oleh IAI atau badan
pengatur.
2.3.7. Prinsip Ketujuh - Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang
baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi: Kewajiban
untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi hams
dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung-jawabnya kepada
penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan
masyarakat umum.
2.3.8. Prinsip Kedelapan - Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar
teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan
dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan
prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis dan standar profesional
yang hams ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan
Akuntan Indonesia, International Federation of Accountants, badan pengatur,
dan peraturan perundang-undangan yang relevan.
2.4. Contoh Kasus
Kasus Sembilan KAP yang Diduga Melakukan Kolusi Dengan Kliennya.
Jakarta, 19 April 2001 . Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta pihak
kepolisian mengusut sembilan Kantor Akuntan Publik, yang berdasarkan

31
laporan Badan Pengawas Keuangandan Pembangunan (BPKP), diduga telah
melakukan kolusi dengan pihak bank yang pernah diauditnya antara tahun
1995-1997. Koordinator ICW Teten Masduki kepada wartawan di Jakarta,
Kamis, mengungkapkan, berdasarkan temuan BPKP, Sembilan dari sepuluh
KAP yang melakukan audit terhadap sekitar 36 bank bermasalah ternyata
tidak melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar audit. Hasil audit tersebut
ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya sehingga akibatnya mayoritas
bank-bank yang diaudit tersebut termasuk di antara bank-bank yang
dibekukan kegiatan usahanya oleh pemerintah sekitar tahun 1999. Kesembilan
KAP tersebut adalah AI & R, HT & M, H & R, JM & R, PU & R, RY, S & S,
SD & R, dan RBT & R. “Dengan kata lain, kesembilan KAP itu telah
menyalahi etika profesi. Kemungkinan ada kolusi antara kantor akntan public
dengan bank yang diperiksa untuk memoles laporannya sehingga memberikan
laporan palsu, ini jelas suatu kejahatan,” ujarnya. Karena itu, ICW dalam
waktu dekat akan memberikan laporan kepada pihak kepolisian untuk
melakukan pengusutan mengenai adanya tindak kriminal yang dilakukan
kantor akuntan public dengan pihak perbankan. ICW menduga, hasil laporan
KAP (Kantor Akuntan Publik) itu bukan sekadar “human error” atau
kesalahan dalam penulisan laporan keuangan yang tidak disengaja, tetapi
kemungkinan ada berbagai penyimpangan dan pelanggaran yang dicoba
ditutupi dengan melakukan rekayasa akuntansi. Teten juga menyayangkan
Dirjen Lembaga Keuangan tidak melakukan tindakan administrative
meskipun pihak BPKP telah menyampaikan laporannya, karena itu kemudian
ICW mengambil inisiatif untuk mengekspos laporan BPKP ini karena
kesalahan sembilan KAP (Kantor Akuntan Publik) itu tidak ringan. “Kami
mencurigai, kesembilan KAP itu telah melanggar standar audit sehingga
menghasilkan laporan yang menyesatkan masyarakat, misalnya mereka
memberi laporan bank tersebut sehat ternyata dalam waktu singkat bangkrut.
Ini merugikan masyarakat. Kita mengharapkan ada tindakan administrative

32
dari Departemen Keuangan misalnya mencabut izin kantor akuntan publik
itu,” tegasnya. Menurut Tetan, ICW juga sudah melaporkan tindakan dari
kesembilan KAP tersebut kepada Majelis Kehormatan Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) dan sekaligus meminta supaya dilakukan tindakan etis
terhadap anggotanya yang melanggar kode etik profesi akuntan.
2.5. Analisis Kasus
Dalam kasus tersebut ditemukan KAP yang melakukan audit terhadap sekitar
36 bank bermasalah ternyata tidak melakukan pemeriksaan sesuai dengan
standar audit. KAP tersebut telah melakukan penyimpangan terhadap tujuan
profesi akuntansi, yaitu memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi
kepada kepentingan publik. Selain itu KAP tersebut juga melanggar Prinsip
pertama – Tanggung Jawab Profesi, Prinsip Kedua – Kepentingan Publik,
Prinsip Ketiga – Integritas, Prinsip Keempat – Obyektivitas, Prinsip
Kedelapan – Standar Teknis. Seharusnya KAP tersebut harus bertanggung
jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka, selain itu KAP juga
harus bertanggung-jawab terhadap kepentingan publik. Untuk memelihara dan
meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung
jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. KAP harus
menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam
pemenuhan kewajiban profesionalnya. Setiap KAP harus melaksanakan jasa
profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang
relevan.
 Prinsip Pertama - Tanggung Jawab
Seperti yang telah disebutkan di atas, dimana seorang akuntan seharusnya
melakukan pertanggung jawaban sebagai profesional yang senantiasa
menggunakan pertimbangan moral dan professional dalam setiap kegiatan
yang dilakukannya. Prinsip ini mengandung makna bahwa akuntan

33
sebagai pemberi jasa professional memiliki tanggung jawab kepada semua
pemakai jasa mereka termasuk masyarakat dan juga pemegang saham.
Selain itu, orang yang profesional sudah dengan sendirinya akan
bertanggung jawab atas profesi yang dimilikinya dan dalam melaksanakan
tugasnya dia akan bertanggung jawab dan akan melakukan pekerjaan
dengan sebaik mungkin dengan standar di atas rata-rata, dengan hasil yang
maksimal serta mutu yang terbaik. Dengan menerbitkan laporan palsu,
maka akuntan telah menyalahi kepercayaan yang diberikan masyarakat
kepada mereka selaku orang yang dianggap dapat dipercaya dalam
penyajian laporan keuangan.
 Prinsip Kedua - Kepentingan Publik
Dari masalah di atas Kantor Akuntan Publik (KAP) tersebut juga
melanggar prinsip etika profesi yang kedua, yaitu kepentingan publik.
Para akuntan dianggap telah menyesatkan publik dengan penyajian
laporan keuangan yang direkayasa dan mereka dianggap tidak objektif
dalam menjalankan tugas. Dalam hal ini, mereka telah bertindak berat
sebelah yaitu mengutamakan kepentingan klien dan mereka tidak dapat
memberikan penilaian yang adil, tidak memihak, serta bebas dari benturan
kepentingan pihak lain.
 Prinsip Ketiga – Integritas
Prinsip ini dpat terlihat dengan jelas bahwa seseorang yang profesional
adalah juga orang yang mempunyai integritas pribadi atau moral yang
tinggi. Oleh karena itu, mereka mempunyai komitmen pribadi untuk
menjaga keluruhan profesinya, nama baiknya, dan juga kepentingan orang
lain maupun masyarakat lainnya.
 Prinsip Keempat – Objektivitas
Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang
diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap

34
adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias,
serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh
pihak lain.
 Prinsip Kelima - Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan
standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban
untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan
tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis
dan standar profesional yang harus ditaati anggota adalah standar yang
dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International Federation of
Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang
relevan.

35
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari contoh kasus dan penjelasan materi yang sudang dibahas, dapat kita
simpulkan beberapa hal yang penting. Seorang akuntan harus memegang
teguh pada prinsip akuntan yang professional karena dengan dilanggarnya
prinsip tersebut seorang akuntan tidak bisa disebut tenaga ahli yang
professional karena mempermainkan keadilan dan kejujuran. Tidak hanya
melakukan kolusi yang dapat merugikan masyarakat banyak namun tindakan-
tindakan diluar dari standar seorang akuntan yang professional juga bisa
menodai namanya sendiri sebagai seorang professional maupun orang-orang
yang berkerja di bidang tersebut karna masyarakt otomatis sudah tertipu oleh
kumpulan kasus-kasus pelanggaran etika professional akuntan. Seorang
akuntan juga harus bertanggung jawab akan laporan yang dibuat, laporan
tersebut harus bersih, jujur dan bebas dari hal-hal negatif yang melanggak
kode etik prrofessinya, prinsip kepentingan public juga harus dimiliki karena
seorang akuntan memang secara langsung berkerja untuk sebuah perusahaan
namun bila terjadi kecurangan dan ditutupi oleh akuntan hal tersebut juga
merugikan hak-hak masyarakat. Integritas yang tinggi harus dijunjung karena
dengan adaanya prinsip tersebut seorang akuntan tidak mudah diajak
berkerjasama untuk merugikan masyarakat dan hanya mementingkan
keperluan perusahaan karena hal tersebut menyangkut nama baiknya. Prinsip
objektifitas perlu diberlakukan oleh seorang akuntan dalam menjunjung tinggi
keadilan secara intelektual, jujur dan tidak memihak dan harus focus dengan
apa yang ia kerjakan sebagai kewajibannya yang harus dipertanggung
jawabkan. Dan prinsip teknis adalah prinsip yang menjadi acuan untuk
seorang akuntan menjalankan tugasnya dengan benar karna prinsip teknis bila
dilanggar oleh seorang akuntan bisa langsung dikeluarkan dari lembaga-

36
lembaga yang menaungi akuntan professional maupun lembaga tinggi dari
professional akuntan publik.

3.2 Saran
Dari penjelasan di atas, pembuatan makalah ini kami masih banyak kesalahan,
kritik dari pembaca sangat kami butuhkan guna penyempurnaan makalah
kami selanjutnya. maka diharapkan makalah ini dapat di manfaatkan pembaca
dalam memahami tentang akuntansi khususnya tentang “piutang dagang dan
piutang wesel”. Selain itu penulis juga menyarankan untuk menerapkan apa
yang baik dari makalah ini dan juga mengingatkan penulis apa yang dianggap
pembaca kurang baik dari makalah ini. Sebagai penyusun saya akui tidak
terlepas dari kesalahan dan keterbatasan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca.

37
DAFTAR PUSTAKA

Duska, Ronald F dan Brenda Shay Duska. 2005. Accounting Ethics. Maldon MA.
USA : Blackwell Publishing.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 1998. Prosiding Kongres VIII Tahun 1998. Jakarta : IAI.
. 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta. Penerbit : Salemba
Empat.

38