Anda di halaman 1dari 52

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN


PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN
TAHAP IV
(PPL-PPG DALJAB TAHAP IV)

DI
SMA NEGERI 6 BANDUNG

Kelas XI Semester 1 Pertemuan Ke - 1

Oleh :
MAULUDDIN RAHMAN SYAH, S.Pd
19280215410247
Prodi Pendidikan Kewarganegaraan
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

DIVISI PENDIDIKAN PROFESI DAN JASA KEPROFESIAN


DIREKTORAT AKADEMIK
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 6 BANDUNG
Jalan Pasirkaliki No.51 Tlp. (022) 6027149-6120389 - 6011309 (Fax)
Bandung 40172
Website : www.sman6bdg.sch.id e-mail : sma6bdg51@gmail.com

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah : SMAN 6 Kota Bandung


Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas/Semester : XI / Ganjil
Materi Pokok : Sistem dan Dinamika Demokrasi Pancasila
Alokasi Waktu : 1 pertemuan (2 Jam pelajaran @ 45 Menit)

A. Kompetensi Inti
1. KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong
royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif
dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan,
keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan
regional, dan kawasan internasional”.
3. KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
4. KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak
secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

1.2 Menghargai nilai-nilai 1.2.1 Menghargai nilai-nilai ke-Tuhanan dalam


ke-Tuhanan dalam berdemokrasi Pancasila sesuai Undang-Undang
berdemokrasi Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Pancasila sesuai 1.2.2 Mengamalkan nilai-nilai demokrasi pancasila sesuai
Undang-Undang dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Dasar Negara Indonesia Tahun 1945
Republik Indonesia
Tahun 1945

2.2 Berperilaku santun 2.2.1 Menunjukan perilaku santun dalam ber-demokrasi


dalam ber-demokrasi Pancasila sesuai Undang-Undang Dasar Negara
Pancasila sesuai Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang 2.2.2 Menunjukan sikap taat pada ketentuan demokrasi
Dasar Negara sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Republik Indonesia Tahun 1945
Tahun 1945

3.2 Mengkaji sistem dan 3.2.1 Menjelaskani pentingnya kehidupan demokrasi


dinamika demokrasi 3.2.2 Menguraikan prinsip-prinsip demokrasi Pancasila.
Pancasila sesuai 3.2.3 Mengidentifikasi makna dan hakekat demokrasi
dengan Undang- 3.2.4 Mengidentifikasi prinsip - prinsip demokrasi
Undang Dasar Negara Pancasila
Republik Indonesia 3.2.5 Memberikan contoh pelaksanaan demokrasi
Tahun 1945 pancasila di Indonesia
3.2.6 Memberikan contoh bagaimana pentingnya
kehidupan yang demokratis
3.2.7 Menganalisis periodisasi demokrasi di Indonesia
3.2.8 Menganalisis contoh tegaknya nilai-nilai demokrasi
di Indonesia

4.2 Menyajikan hasil 4.2.1 Menyajikan hasil kajian tentang sistem dan dinamika
kajian tentang sistem demokrasi Pancasila sesuai dengan Undang-Undang
dan dinamika Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
demokrasi Pancasila 4.2.2 Mempresentasikan hasil analsis tentang perilaku
sesuai dengan yang mendukung tegaknya nilai-nilai demokrasi
Undang-Undang Dasar
Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

C. Tujuan Pembelajaran :
BAB 2 Sistem dan Dinamika Demokrasi Indonesia
Sub Bab B. Dinamika Penerapan Demokrasi di Indonesia
a. Melalui pengamatan lingkungan sekitar, peserta didik dapat mensyukuri nilai-nilai ke-
Tuhanan dalam sistem hukum dan peradilan di Indonesia sesuai dengan UUD 1945
sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Melalui pengamatan lingkungan sekitar, peserta didik dapat mengamalkan nilai-nilai
demokrasi pancasila sesuai dengan UUD 1945 dengan baik
c. Melalui kegiatan mengamati, peserta didik dapat menunjukkan sikap Santun, Disiplin,
responsif, dan pro aktif dalam kegiatan belajar mengajar dengan baik
d. Melalui kegiatan menelaah, peserta didik dapat menganalisa dinamika penerapan
demokrasi di Indonesia dengan baik.
e. Melalui kegiatan membaca, peserta didik dapat menguraikan prinsip Demokrasi di
Indonesia dengan tepat.
f. Melalui kegiatan mengumpulkan informasi, peserta didik dapat menjelaskan
periodisasi perkembangan demokrasi Pancasila dengan benar.
g. Melalui kegiatan diskusi, peserta didik dapat menganalisis pelaksanaan demokrasi
Pancasila pada berbagai periodisasi dengan baik.
h. Melalui kegiatan mengkomunikasikan, peserta didik dapat menyaji hasil analisis
pelaksanaan demokrasi Pancasila pada berbagai periodisasi dengan baik.

D. Materi Pembelajaran
Materi Pembelajaran Reguler
BAB 2 Sistem dan Dinamika Demokrasi Indonesia
Sub Bab B. Dinamika Penerapan Demokrasi di Indonesia
1) Faktual
a. Indonesia adalah Negara demokrasi berdasarkan Pancasila
b. Pelaksanaan demokrasi dari berbagai kurun waktu dipengaruhi oleh sistem
pemerintahan, UUD yang berlaku pada masanya yaitu periode 1945 - 1949,
periode 1949 - 1959, periode 1959 – 1965, periode 1965 – 1998, periode 1998 –
sekarang
2) Konseptual
a. Prinsip-prinsip Demokrasi di Indonesia
b. Periodisasi Perkembangan Demokrasi Pancasila
3) Prosedural
a. Penerapan prinsip-prinsip demokrasi Pancasila di Indonesia
b. Pernerapan demokrasi liberal, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin,
serta demokrasi Pancasila sesuai dengan periodisasinya
4) Metakognitif
a. Demokratis tidaknya suatu negara bergantung pada rakyat dan sistem yang
dianutnya. Pemerintahan demokratis akan terwujud apabila asas, prinsip dan
indikator demokratis diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan
b. Perkembangan jaman dan perubahan waktu merubah juga konsep demokrasi
yang dianut sebuah negara mengikuti kondisi masyarakatnya.
Materi Pembelajaran Pengayaan
Guru memberikan nasihat agar tetap rendah hati, karena telah mencapai KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal). Guru memberikan materi pengayaan sebagai penambah wawasan
peserta didik sebagai berikut :
a. Nilai lebih yang terkandung dalam Demokrasi Pancasila dibandingkan dengan
demokrasi di negara lain
Materi Pembelajaran Remedial
Materi yang diperkirakan sulit dikuasai oleh sebagian atau seluruh siswa ialah
karakteristik pelaksanaan demokrasi di Indonesia dari masa ke masa (periodisasi).

E. Metode/Model Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik
2. Model Pembelajaran : Problem Base Learning
3. Metode pembelajaran : Ceramah bervariasi, diskusi, pengamatan, Penugasan, Tes
pilihan ganda, tanya jawab
4. Teknik pembelajaran : Market Place
F. Media Pembelajaran
Media :
1. Presentasi ms. Powerpoint dengan materi Sistem dan Dinamika Demokrasi Pancasila;
Sub Bab : Dinamika Penerapan Demokrasi Indonesia
2. Gambar tentang Para presiden Indonesia
3. Video : “Voice Speech Eka Gustiwana – Merayakan Indonesia”
4. Workshet/lembar kerja
Alat/Bahan
1. Alat tulis
2. Karton
3. Kertas warna
4. Lem kertas
5. Laptop
6. Infocus
7. Sound system

G. Sumber Belajar
1. Buku penunjang Guru kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas XI, Kemendikbud, tahun 2013 revisi 2017
2. Buku penunjang Siswa kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas XI, Kemendikbud, tahun 2013 revisi 2017
3. Pengalaman peserta didik dan guru
4. Internet dan media elektronik
5. Sumber video : sumber youtube : https://www.youtube.com/watch?v=MhLwddcIQ6c
6. Materi tambahan dari internet
Sumber : https://agungpspid.blogspot.com/2016/09/tugas-mandiri-32-halaman-84-
buku-paket.html
H. Kegiatan Pembelajaran
Alokasi
Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan
waktu
Pendahuluan 1. Guru melakukan pembukaan dengan 10
salam pembuka, memanjatkan syukur menit
kepada Tuhan YME dan meminta ketua
kelas untuk memimpin do’a sebelum
pelajaran dimulai
2. Guru mempersiapkan kelas agar lebih
kondusif untuk proses belajar mengajar;
kerapian dan kebersihan ruang kelas,
presensi (kehadiran, agenda kegiatan,
kebersihan kelas, menyiapkan media dan
alat serta buku yang diperlukan).
3. Guru memberikan motivasi dan
mengungkapkan rasa syukur karena
Indonesia menerapkan sistem demokrasi
dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan berenegara.
1. Orientasi siswa 4. Guru menyampaikan topik pembuka
pada masalah tentang “Dinamika Penerapan Demokrasi
Indonesia” dan menyampaikan
kompetensi yang akan dicapai serta tujuan
pembelajaran.
5. Guru memberikan pengantar
pembelajaran dan stimulus kepada peserta
didik mengenai “Dinamika Penerapan
Demokrasi Indonesia”

2. Mengorganisasi 6. Guru membagi kelompok belajar menjadi


siswa untuk 5 kelompok untuk mencari informasi
belajar mengenai pelaksanaan demokrasi di
Indonesia dari berbagai kurun waktu.
Alokasi
Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan
waktu
1. Kelompok 1 : Pelaksanaan demokrasi
di Indonesia periode 1945 – 1949.
2. Kelompok 2 : pelaksanaan
demokrasi di Indonesia periode 1949
– 1959.
3. Kelompok 3 : Pelaksanaan demokrasi
di Indonesia periode 1959 – 1965.
4. Kelompok 4 : Pelaksanaan demokrasi
di Indonesia periode 1965 – 1998.
5. Kelompok 5 : Pelaksanaan demokrasi
di Indonesia periode 1998 –
sekarang.
7. Guru membagikan alat dan bahan kepada
masing-masing kelompok berupa karton,
kertas warna dan lem sebagai bahan
pembuatan karya media presentasi
kelompok.
8. Guru memberikan lembar penugasan
untuk diisi oleh peserta didik secara
berkelompok. (LKPD 1 - lembar
penugasan terlampir).
9. Guru menjelaskan mekanisme
pelaksanaan pengalaman belajar sesuai
dengan langkah-langkah pembelajaran
(Problem Base Learning)
Kegiatan 3. Membimbing 1. Mengamati
Inti penyelidikan a. Dalam kelompok, peserta didik 70
individual diminta untuk membaca dan menit
maupun mengamati rangkuman materi
kelompok mengenai pelaksanaan demokrasi
di Indonesia dari berbagai kurun
Alokasi
Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan
waktu
waktu.
b. Peserta didik diminta untuk
menganalisis materi tersebut
2. Mengumpulkan Informasi
a. Dalam kelompok peserta didik
diminta untuk mengumpulkan
informasi dari bahan ajar yang
sudah diberikan kepada masing-
masing kelompok untuk nantinya
4. Mengembangkan dibuatkan intisari materi dalam
dan menyajikan bentuk karya poster (presentasi).
hasil karya b. Peserta didik dianjurkan untuk
menggunakan sumber lain dari teks
digital, internet, web, media sosial
lainnya dengan menggunakan
smartphone untuk menambah
wawasan dan informasi lainnya.
c. Peserta didik dalam kelompoknya
membuat karya poster untuk
presentasi sesuai pembagian
Periodisasi Demokrasi Indonesia
dengan acuan Indikator Demokrasi
sebagai berikut :
 Akuntabilitas
 Rotasi kekuasaan
 Pola rekruitmen politik
 Pelaksanaan pemilihan umum
 Pemenuhan hak-hak dasar warga
negara
3. Menanya
a. Setelah kelompok selesai membuat
Alokasi
Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan
waktu
poster, peserta didik dipandu oleh
guru diminta untuk mengisi daftar
pertanyaan lembar kerja kelompok
dengan cara bertanya/mencari
informasi materi periodisasi
demokrasi di Indonesia kepada
kelompok lain dengan teknik
pembelajaran market place,
langkah-langkahnya :
2 orang siswa/kelompok
bertindak sebagai penjual (pusat
informasi) diminta untuk
menjual/mempromosikan hasil
diskusinya lewat media poster
yang sudah dibuat untuk nantinya
di presentasikan kepada pembeli
(pencari informasi)
 Sisa dari kelompoknya bertindak
sebagai pembeli (pencari
informasi) untuk mengumpulkan
informasi dari para penjual (pusat
informasi)
 Setelah mendapatkan informasi
dari penjual, para pembeli wajib
memberikan reward/penilaian
kepada penjual atas pemaparan
materinya berupa replika uang
dengan kategori 50 = Cukup, 75
= Baik, 100 = Sangat Baik
 Kelompok terbaik adalah yang
dapat mengoleksi penilaian
Alokasi
Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan
waktu
(replika uang) dengan nominal
terbanyak
b. Guru memfasilitasi peserta didik
untuk dapat mencari jawaban
pertanyaannya secara mandiri
melalui kegiatan jual beli informasi
(market place) ini.
5. Menganalisis 4. Mengasosiasi
dan a. Setelah mengumpulkan informasi
mengevaluasi melalui kegiatan market place,
proses peserta didik diminta mendiskusikan
pemecahan hasil temuannya dan mengisi lembar
masalah penugasan secara berkelompok
5. Mengkomunikasikan
a. Masing-masing kelompok diminta
untuk membacakan hasil kajiannya
dan peserta didik yang lain di minta
untuk memberikan tanggapannya.
b. Setelah presentasi, untuk mengukur
pemahaman peserta didik, peserta
didik diminta untuk mengerjakan
test tertulis (individu) seputar materi
yang baru saja dipelajari
c. Hasil tugas kelompok dan mandiri
di kumpulkan untuk mendapatkan
penilaian.
Penutup 1. Peserta didik ditanya apakah sudah 10
memahami materi pelajaran hari ini. menit
2. Peserta didik menyimpulkan materi
yang telah dibahas sebagai bahan
refleksi pembelajaran.
Alokasi
Kegiatan Sintak Deskripsi Kegiatan
waktu
3. Guru memberikan apresiasi dan
penghargaan kepada siswa dan
kelompok terbaik dalam keaktifan dan
penyajian materi diskusi.
4. Guru memberikan umpan balik atas
proses pembelajaran dan hasil kerja
siswa.
5. Guru menanamkan kesadaran
berkonstitusi kepada peserta didik dan
dilanjutkan mengucapkan rasa syukur
karena pelajaran kali ini dapat berjalan
dengan baik dan lancar.
6. Guru menginformasikan rencana
kegiatan belajar pada pertemuan
berikutnya mengenai Membangun
Kehidupan yang Demokratis di
Indonesia.
7. Guru dan peserta didik menutup
pelajaran dengan mengucapkan syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
pembelajaran berlangsung aman dan
tertib
Catatan : Selama pembelajaran Hakikat Demokrasi berlangsung, guru mengamati sikap
peserta didik dalam pembelajaran yang meliputi sikap: santun, disiplin, responsif, dan pro
aktif

I. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


1. Teknik Penilaian
a. Penilaian Sikap
Penilaian sikap spiritual terhadap peserta didik dapat dilakukan selama proses
dan setelah pembelajaran berlangsung, termasuk pada saat peserta didik
menjawab beberapa pertanyaan dari guru. Penilaian sikap sosial dapat dilakukan
dengan observasi. Dalam observasi ini misalnya dilihat aktivitas dan tingkat
perhatian, kerja sama peserta didik pada saat mengerjakan tugas.
1) Kompetensi Sikap Spiritual
Observasi/Jurnal Perkembangan Sikap
Bentuk Contoh Butir Waktu
No Teknik Keterangan
Instrumen Instrumen Pelaksanaan
1 Observasi Jurnal Terlampir Saat Penilaian untuk dan
pembelajaran pencapaian
berlangsung pembelajaran
(assessment for and
of learning)

2) Kompetensi Sikap Sosial


Observasi/Jurnal Perkembangan Sikap
Bentuk Contoh Butir Waktu
No Teknik Keterangan
Instrumen Instrumen Pelaksanaan
1 Observasi Jurnal Terlampir Saat Penilaian untuk dan
pembelajaran pencapaian
berlangsung pembelajaran
(assessment for and
of learning)

b. Penilaian Pengetahuan
Penilaian pengetahuan dilakukan dalam bentuk penugasan, peserta didik
diminta untuk mengerjakan tugas diskusi kelompok dapat dilihat dari
ketepatan peserta didik pada saat menjawab pertanyaan dari guru secara
lisan/tertulis yang terkait dengan materi yang baru saja dikaji, antara lain.
1) Kompetensi Pengetahuan
 Penugasan
 Tes Pilihan Ganda
Contoh Waktu
No. Teknik Bentuk Instrumen Keterangan
Butir Pelaksanaan
Instrumen
1 Tes Pilihan Pertanyaan dan/atau Terlampir Setelah Penilaian
Ganda tugas tertulis selesai pencapaian
berbentuk uraian kegiatan pembelajaran
pembelajaran (assessment
of learning)

c. Penilaian Ketrampilan
Penilaian keterampilan dapat dilihat dari kemampuan menyampaikan pendapat
atau mempresentasikan hasil tugasnya. Penilaian pengetahuan juga dapat dilihat
dari ketepatan peserta didik pada saat menjawab pertanyaan
1) Kompetensi Keterampilan
 Unjuk Kerja
Contoh
Waktu
No Teknik Bentuk Instrumen Butir Keterangan
Pelaksanaan
Instrumen
Unjuk kerja Tugas Terlampir Saat proses Penilaian
Mempresentasikan pembelajaran untuk,
hasil diskusi berlangsung sebagai,
dan/atau
1 pencapaian
pembelajaran
(assessment
for, as, and of
learning)

3) Instrumen penilaian
a. Instrumen penilaian Sikap (terlampir)
b. Instrumen penilaian Pengetahuan (terlampir)
c. Instrumen penilaian Keterampilan (terlampir)
4) Pembelajaran Remedial
Berdasarkan analisis terhadap hasil penilaian harian, siswa yang belum mencapai
ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran remedial dalam bentuk; 1)
bimbingan perorangan; 2) belajar kelompok; atau 3) pembelajaran ulang materi
yang diperkirakan sulit dikuasai oleh sebagian atau seluruh siswa ialah
karakteristik pelaksanaan demokrasi di Indonesia dari masa ke masa (periodisasi),
diakhiri dengan penilaian.

5) Pembelajaran Pengayaan
Berdasarkan analisis terhadap hasil penilaian harian, siswa yang sudah mencapai
ketuntasan belajar diberi kegiatan pengayaan dalam bentuk penugasan untuk
melakukan pengamatan dan memberikan opini atau pendapatnya mengenai
a. Nilai lebih yang terkandung dalam Demokrasi Pancasila dibandingkan dengan
demokrasi di negara lain

Bandung, Oktober 2019


Catatan Kepala Sekolah
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1

BAHAN AJAR 2
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS XI

Sekolah : SMAN 6 Bandung


Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas/Semester : XI / Ganjil
Materi Pokok : BAB 2 Sub Bab B. Dinamika Penerapan Demokrasi Pancasila
Alokasi Waktu : 1 pertemuan (2 JP x 45 Menit)

A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)

KD IPK

3.2 Mengkaji sistem dan 3.2.1 Menjelaskani pentingnya kehidupan demokrasi


dinamika demokrasi 3.2.2 Menguraikan prinsip-prinsip demokrasi Pancasila.
Pancasila sesuai dengan 3.2.3 Mengidentifikasi makna dan hakekat demokrasi
Undang-Undang Dasar 3.2.4 Mengidentifikasi prinsip - prinsip demokrasi Pancasila
Negara Republik 3.2.5 Memberikan contoh pelaksanaan demokrasi pancasila
Indonesia Tahun 1945 di Indonesia
3.2.6 Memberikan contoh bagaimana pentingnya kehidupan
yang demokratis
3.2.7 Menganalisis periodisasi demokrasi di Indonesia
3.2.8 Menganalisis contoh tegaknya nilai-nilai demokrasi di
Indonesia

4.2 Mengkaji sistem dan 4.2.1 Menyajikan hasil kajian tentang sistem dan dinamika
dinamika demokrasi demokrasi Pancasila sesuai dengan Undang-Undang
Pancasila sesuai dengan Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Dasar 4.2.2 Mempresentasikan hasil analsis tentang perilaku yang
Negara Republik mendukung tegaknya nilai-nilai demokrasi
Indonesia Tahun 1945
B. Tujuan Pembelajaran
BAB 2 Sub Bab B. Dinamika Penerapan Demokrasi di Indonesia
a. Melalui pengamatan lingkungan sekitar, peserta didik dapat mensyukuri nilai-nilai ke-
Tuhanan dalam sistem hukum dan peradilan di Indonesia sesuai dengan UUD 1945
sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Melalui pengamatan lingkungan sekitar, peserta didik dapat mengamalkan nilai-nilai
demokrasi pancasila sesuai dengan UUD 1945 dengan baik
c. Melalui kegiatan mengamati, peserta didik dapat menunjukkan sikap Disiplin,
responsif, dan pro aktif dalam kegiatan belajar mengajar dengan baik
d. Melalui kegiatan menelaah, peserta didik dapat menganalisa dinamika penerapan
demokrasi di Indonesia dengan baik.
e. Melalui kegiatan membaca, peserta didik dapat menguraikan prinsip Demokrasi di
Indonesia dengan tepat.
f. Melalui kegiatan mengumpulkan informasi, peserta didik dapat menjelaskan
periodisasi perkembangan demokrasi Pancasila dengan benar.
g. Melalui kegiatan diskusi, peserta didik dapat menganalisis pelaksanaan demokrasi
Pancasila pada berbagai periodisasi dengan baik.
h. Melalui kegiatan mengkomunikasikan, peserta didik dapat menyaji hasil analisis
pelaksanaan demokrasi Pancasila pada berbagai periodisasi dengan baik.

C. Materi Pembelajaran
Materi Pembelajaran Reguler
BAB 2 Hakikat dan Dinamika Demokrasi Indonesia
Sub Bab B. Dinamika Penerapan Demokrasi di Indonesia
1) Faktual
a. Indonesia adalah Negara demokrasi berdasarkan Pancasila
b. Pelaksanaan demokrasi dari berbagai kurun waktu dipengaruhi oleh sistem
pemerintahan, UUD yang berlaku pada masanya yaitu periode 1945 - 1949,
periode 1949 - 1959, periode 1959 – 1965, periode 1965 – 1998, periode 1998 –
sekarang
2) Konseptual
a. Prinsip-prinsip Demokrasi di Indonesia
b. Periodisasi Perkembangan Demokrasi Pancasila
3) Prosedural
a. Penerapan prinsip-prinsip demokrasi Pancasila di Indonesia
b. Pernerapan demokrasi liberal, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin,
serta demokrasi Pancasila sesuai dengan periodisasinya
4) Metakognitif
a. Demokratis tidaknya suatu negara bergantung pada rakyat dan sistem yang
dianutnya. Pemerintahan demokratis akan terwujud apabila asas, prinsip dan
indikator demokratis diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan
b. Perkembangan jaman dan perubahan waktu merubah juga konsep demokrasi
yang dianut sebuah negara mengikuti kondisi masyarakatnya.

B. PENERAPAN DEMOKRASI DI INDONESIA

1. Prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila


Demokrasi Pancasila adalah Demokrasi yang berdasarkan Pancasila, yaitu
demokrasi yang didasari, dilandasi, dijiwai, disemangati oleh nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasia.
Karakter utama Demokrasi Pancasila adalah sila keempat Pancasila, yaitu
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
Demokrasi Pancasila mengandung 3 karakter utama, yaitu :
1) Kerakyatan
2) Perwusyawaratan
3) Hikmat kebijaksanaan

Indikator Demokrasi Pancasila :


1) Akuntabilitas
2) Rotasi Kekuasaan
3) Rekruitmen politik yang terbuka
4) Pemilihan umum
5) Pemenuhan hak-hak dasar
Ahmad Sanusi Mengemukakan, Menurut Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Demokrasi konstitusional Indonesia memiliki 10 pilar ,
yaitu:

1) Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, seluk beluk sistem
serta perilaku dalam menyelenggarakan kenegaraan RI harus taat asas, konsisten,
atau sesuai dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah dasar Ketuhanan Yang Maha
Esa.
2) Demokrasi dengan kecerdasan. Artinya, mengatur dan menyelenggarakan
demokrasi menurut UUD 1945 itu bukan dengan kekuatan naluri, kekuatan otot,
atau kekuatan massa semata-mata. Pelaksanaan demokrasi itu justru lebih
menuntut kecerdasan rohaniah, kecerdasan aqliyah, kecerdasan rasional, dan
kecerdasan emosional
3) Demokrasi yang berkedaulatan rakyat. Artinya, Kekuasaan tertinggi ada di
tangan rakyat. Secara prinsip, rakyatlah yang memiliki/memegang kedaulatan itu.
4) Demokrasi dengan rule of law. Hal ini mempunyai empat makna penting.
a) Pertama, kekuasaan negara Republik Indonesia itu harus mengandung,
melindungi, serta mengembangkan kebenaran hukum (legal truth) bukan
demokrasi ugal-ugalan, demokrasi dagelan, atau demokrasi manipulatif.
b) Kedua, kekuasaan negara itu memberikan keadilan hukum (legal justice)
bukan demokrasi yang terbatas pada keadilan formal dan pura-pura.
c) Ketiga, kekuasaan negara itu menjamin kepastian hukum (legal security)
bukan demokrasi yang membiarkan kesemrawutan atau anarki.
d) Keempat, kekuasaan negara itu mengembangkan manfaat atau kepentingan
hukum (legal interest), seperti kedamaian dan pembangunan, bukan
demokrasi yang justru mempopulerkan fitnah dan hujatan atau menciptakan
perpecahan, permusuhan, dan kerusakan.
5) Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan negara. Artinya, demokrasi menurut
UUD NRI 1945 bukan saja mengakui kekuasaan negara Republik Indonesia yang
tidak tak terbatas secara hukum, melainkan juga demokrasi itu dikuatkan dengan
pemisahan kekuasaan negara dan diserahkan kepada badan-badan negara yang
bertanggung jawab.
6) Demokrasi dengan hak asasi manusia, Artinya, demokrasi menurut Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengakui hak asasi
manusia yang tujuannya bukan saja menghormati hak-hak asas tersebut,
melainkan terlebih-lebih untuk meningkatkan martabat dan derajat manusia
seutuhnya.
7) Demokrasi dengan pengadilan yang merdeka. Artinya, demokrasi menurut
UUD NRI 1945 menghendaki diberlakukannya sistem pengadilan yang merdeka
(independen) yang memberi peluang seluas-luasnya kepada semua pihak yang
berkepentingan untuk mencari dan menemukan hukum yang seadil-adilnya.
8) Demokrasi dengan otonomi daerah. Artinya, otonomi daerah merupakan
pembatasan terhadap kekuasaan negara, khususnya kekuasaan legislatif dan
eksekutif di tingkat pusat, dan lebih khusus lagi pembatasan atas kekuasaan
Presiden.
9) Demokrasi dengan kemakmuran. Artinya, demokrasi menuru UUD NRI 1945
itu ternyata ditujukan untuk membangun negara kemakmuran (welfare state) oleh
dan untuk sebesar-besarnya rakyat Indonesia.
10) Demokrasi yang berkeadilan sosial. Artinya, Demokrasi menurut UUD NRI
1945 menggariskan keadilan sosial di antara berbagai kelompok, golongan, dan
lapisan masyarakat.

2. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia

Adapun periodisasi pelaksanaan Demokrasi yang terjadi di Indonesia memiliki


beberapa fase, yaitu sebagai berikut :

a. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1945-1949


b. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1949-1959
c. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1959-1965
d. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1965-1998
e. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1998 – sekarang
MATERI KELOMPOK 1

a. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1945-1949


Kalau kita mengikuti risalah sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia, maka kita akan melihat begitu besarnya komitmen para pendiri
bangsa ini untuk mewujudkan demokrasi politik di Indonesia. Muhammad Yamin
dengan beraninya memasukkan asas peri kerakyatan dalam usulan dasar negara
Indonesia merdeka. Ir. Soekarno dengan penuh keyakinan memasukkan asas mufakat
atau demokrasi dalam usulannya tentang dasar negara Indonesia merdeka yang kemudian
diberi nama Pancasila. Keyakinan mereka yang sangat besar tersebut timbul karena
dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan mereka. Mereka percaya bahwa demokrasi
bukan merupakan sesuatu yang hanya terbatas pada komitmen, tetapi juga merupakan
sesuatu yang perlu diwujudkan.
Pada masa pemerintahan revolusi kemerdekaan (1945 - 1949), pelaksanaan
demokrasi baru terbatas pada berfungsinya pers yang mendukung revolusi kemerdekaan.
Adapun, elemen-elemen demokrasi yang lain belum sepenuhnya terwujud, karena
situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Hal ini dikarenakan pemerintah harus
memusatkan seluruh energinya bersama-sama rakyat untuk mempertahankan
kemerdekaan dan menjaga kedaulatan negara, agar negara kesatuan tetap hidup.
Partai-partai politik tumbuh dan berkembang dengan cepat. Tetapi, fungsinya
yang paling utama adalah ikut serta memenangkan revolusi kemerdekaan dengan
menanamkan kesadaran untuk bernegara serta menanamkan semangat anti penjajahan.
Karena keadaan yang tidak mengizinkan, pemilihan umum belum dapat dilaksanakan
sekali pun hal itu telah menjadi salah satu agenda politik utama.
Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang menyangkut perkembangan
demokrasi pada periode ini, akan tetapi pada periode tersebut telah diletakkan hal- hal
mendasar bagi perkembangan demokrasi di Indonesia untuk masa selanjutnya. Pertama
pemberian hak-hak politik secara menyeluruh. Para pembentuk negara sudah sejak
semula mempunyai komitmen yang sangat besar terhadap demokrasi sehingga begitu
mereka menyatakan kemerdekaan dari pemerintah kolonial Belanda, semua warga
negara yang sudah dianggap dewasa memiliki hak politik yang sama, tanpa ada
diskriminasi yang bersumber dari ras, agama, suku, dan kedaerahan. Kedua presiden
yang secara konstitusional memiliki kemungkinan untuk menjadi seorang diktator,
dibatasi kekuasaanya ketika Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dibentuk untuk
menggantikan parlemen. Ketiga, dengan maklumat Wakil Presiden, dimungkinkan
terbentuknya sejumlah partai politik yang kemudian menjadi peletak dasar bagi sistem
kepartaian di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya dalam sejarah kehidupan politik
kita.
MATERI KELOMPOK 2

b. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1949-1959


Periode kedua pemerintahan negara Indonesia merdeka berlangsung dalam
rentang waktu antara tahun 1949 sampai 1959. Pada periode ini terjadi dua kali
pergantian undang-undang dasar. Pertama, pergantian UUD 1945 dengan Konstitusi
RIS pada rentang waktu 27 Desember 1949 sampai dengan 17 Agustus 1950. Dalam
rentang waktu ini, bentuk negara kita berubah dari kesatuan menjadi serikat, sistem
pemerintahan juga berubah dari presidensil menjadi quasi parlementer. Kedua,
pergantian Konstitusi RIS dengan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 pada rentang
waktu 17 Agutus 1950 sampai dengan 5 Juli 1959. Pada periode pemerintahan ini bentuk
negara kembali berubah menjadi negara kesatuan dan sistem pemerintahan menganut
sistem parlementer. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada periode 1949
sampai dengan 1959, negara kita menganut demokrasi parlementer.
Masa demokrasi parlementer merupakan masa yang semua elemen demokrasinya
dapat kita temukan perwujudannya dalam kehidupan politik di Indonesia.
Pertama lembaga perwakilan rakyat atau parlemen memainkan perananyang
sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan. Perwujudan kekuasaan parlemen ini
diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi tidak percaya kepada pihak pemerintah
yang mengakibatkan kabinet harus meletakkan jabatannya meskipun pemerintahannya
baru berjalan beberapa bulan, seperti yang terjadi pada Ir. Djuanda Kartawidjaja yang
diberhentikan dengan mosi tidak percaya dari parlemen.
Kedua, akuntabilitas (pertanggungjawaban) pemegang jabatan dan politisi pada
umumnya sangat tinggi. Hal ini dapat terjadi karena berfungsinya parlemen dan juga
sejumlah media massa sebagai alat kontrol sosial. Sejumlah kasus jatuhnya kabinet pada
periode ini merupakan contoh konkret dari tingginya akuntabilitas tersebut.
Ketiga, kehidupan kepartaian boleh dikatakan memperoleh peluang yang sebesar-
besarnya untuk berkembang secara maksimal. Dalam periode ini, Indonesia menganut
sistem multipartai. Pada periode ini, hampir 40 partai politik terbentuk dengan tingkat
otonomi yang sangat tinggi dalam proses rekrutmen, baik pengurus atau pimpinan
partainya maupun para pendukungnya. Campur tangan pemerintah dalam hal rekrutmen
boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Setiap partai bebas memilih ketua dan segenap
anggota pengurusnya.
Keempat, sekali pun pemilihan umum hanya dilaksanakan satu kali yaitu pada
1955, tetapi pemilihan umum tersebut benar-benar dilaksanakan dengan prinsip
demokrasi. Kompetisi antarpartai politik berjalan sangat intensif dan fair serta yang tidak
kalah pentingnya adalah setiap pemilih dapat menggunakan hak pilihnya dengan bebas
tanpa ada tekanan atau rasa takut.
Kelima, masyarakat pada umumnya dapat merasakan bahwa hak-hak dasar
mereka tidak dikurangi sama sekali, sekalipun tidak semua warga negara dapat
memanfaatkannya dengan maksimal. Hak untuk berserikat dan berkumpul dapat
diwujudkan dengan jelas, dengan terbentuknya sejumlah partai politik dan organisasi
peserta pemilihan umum. Kebebasan pers juga dirasakan dengan baik. Demikian juga
dengan kebebasan berpendapat. Masyarakat mampu melakukannya tanpa ada rasa takut
untuk menghadapi risiko, sekalipun mengkritik pemerintah dengan keras. Sebagai contoh
adalah yang dilakukan oleh Dr. Halim, mantan Perdana Menteri, yang menyampaikan
surat terbuka dan mengeluarkan semua isi hatinya dengan kritikan yang sangat tajam
terhadap sejumlah langkah yang dilakukan Presiden Soekarno.
Keenam, dalam masa pemerintahan parlementer, daerah-daerah memperoleh
otonomi yang cukup bahkan otonomi yang seluas-luasnya dengan asas desentralisasi
sebagai landasan untuk berpijak dalam mengatur hubungan kekuasaan antara pemerintah
pusat pemerintah daerah.
Keenam indikator tersebut merupakan ukuran dalam pelaksanaan demokrasi pada
masa pemerintahan parlementer. Akan tetapi, pelaksanaan tersebut tidak berumur
panjang. Demokrasi parlementer hanya bertahan selama sembilan tahun seiring dengan
dikeluarkannya dekrit oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959 yang
membubarkan Konstituante dan kembali kepada UUD 1945. Presiden menganggap
bahwa demokrasi parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang
dijiwai oleh semangat gotong royong sehingga beliau menganggap bahwa sistem
demokrasi ini telah gagal mengadopsi nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia.
MATERI KELOMPOK 3

c. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1959-1965


Kinerja Dewan Konstituante yang berlarut-larut membawa Indonesia ke dalam
persoalan politik yang sangat pelik. Negara dilingkupi oleh kondisi yang serba tidak
pasti, karena landasan konstitusional tidak mempunyai kekuatan hukum yang tetap,
karena hanya bersifat sementara. Selain itu juga, situasi seperti ini memberi pengaruh
yang besar terhadap situasi keamanan nasional yang sudah membahayakan persatuan dan
kesatuan nasional.
Presiden Soekarno sebagai kepala negara melihat situasi ini sangat membahayakan
bila terus dibiarkan. Oleh karena itu, untuk mengeluarkan bangsa ini dari persoalan yang
teramat pelik ini, Presiden Soekarno menerbitkan suatu dekrit pada tanggal 5 Juli 1959
yang selanjutnya dikenal dengan sebutan DekritPresiden 5 Juli 1959 Dalam dekrit
tersebut, Presiden menyatakan pembubaran Dewan Konstituante dan kembali kepada
Undang-Undang Dasar 1945. Dekrit Presiden tersebut mengakhiri era demokrasi
parlementer, yang kemudian membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan
politik nasional. Era baru demokrasi dan pemerintahan Indonesia mulai dimasuki, yaitu
suatu konsep demokrasi yang oleh Presiden Soekarno disebut sebagai Demokrasi
Terpimpin. Maksud konsep terpimpin ini, dalam pandangan Presiden Soekarno adalah
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
Demokrasi terpimpin merupakan pembalikan total dari proses politik yang
berjalan pada masa demokrasi parlementer. Adapun karakteristik yang utama dari
perpolitikan pada era demokrasi terpimpin sebagai berikut :
Pertama, mengaburnya sistem kepartaian. Kehadiran partai-partai politik bukan
untuk mempersiapkan diri dalam rangka mengisi jabatan politik di pemerintah (karena
pemilihan umum tidak pernah dijalankan), tetapi lebih merupakan elemen penopang dari
tarik ulur kekuatan antara lembaga kepresidenan, Angkatan Darat,dan Partai Komunis
Indonesia.
Kedua, dengan terbentuknya Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong, peranan
lembaga legislatif dalam sistem politik nasional menjadi sedemikian lemah. DPR-GR
tidak lebih hanya merupakan instrumen politik lembaga kepresidenan. Proses rekrutmen
politik untuk lembaga ini pun ditentukan oleh presiden.
Ketiga, hak dasar manusia menjadi sangat lemah. Kritik dan saran dari lawan-
lawan politik Presiden tidak banyak diberikan. Mereka tidak mempunyai keberanian
untuk menentangnya.
Keempat, masa demokrasi terpimpin membuat kebebasan pers berkurang.
Sejumlah surat kabar dan majalah dilarang terbit oleh pemerintah seperti misalnya
Harian Abadi yang berafiliasi dengan Masyumi dan Harian Pedoman yang berafiliasi
dengan PSI.
Kelima, sentralisasi kekuasaan semakin dominan dalam proses hubungan antara
pemerintah pusat dan daerah. Daerah-daerah memiliki otonomi yang terbatas.
Dari lima karakter di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada era demokrasi
terpimpin terdapat penyimpangan-penyimpangan terhadap demokrasi. Hal ini tidak
terlepas dari kondisi Indonesia yang baru merdeka.
MATERI KELOMPOK 4

d. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1965-1998


Era baru dalam pemerintahan dimulai setelah melalui masa transisi yang singkat
yaitu antara tahun 1966 - 1968, ketika Jenderal Soeharto dipilih menjadi Presiden
Republik Indonesia. Era yang kemudian dikenal sebagai Orde Baru dengan konsep
Demokrasi Pancasila Visi utama pemerintahan Orde Baru ini adalah untuk
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam setiap aspek
kehidupan masyarakat Indonesia.
Dengan visi tersebut, Orde Baru memberikan secercah harapan bagi rakyat
Indonesia. Rakyat Indonesia mengharapkan adanya perubahan-perubahan politik menjadi
lebih demokratis. Harapan tersebut tentu saja ada dasarnya. Orde Baru dipandang
mampu mengeluarkan bangsa ini keluar dari keterpurukan.
Harapan rakyat tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Karena, sebenarnya tidak ada
perubahan yang substantif dari kehidupan politik Indonesia. Dalam perjalanan politik
pemerintahan Orde Baru, kekuasaan presiden merupakan pusat dari seluruh proses
politik di Indonesia. Lembaga kepresidenan merupakan pengontrol utama lembaga
negara lainnya, baik yang bersifat suprastruktur (DPR, MPR, DPA, BPK, dan MA)
maupun yang bersifat infrastruktur (LSM, partai politik, dan sebagainya). Selain itu juga,
Presiden Soeharto mempunyai sejumlah legalitas yang tidak dimiliki oleh siapa pun
seperti Pengemban Supersemar, Mandataris MPR, Bapak Pembangunan, dan Panglima
Tertinggi ABRI.
Dari uraian di atas, kita dapat menggambarkan bahwa pelaksanaan Demokrasi
Pancasila masih jauh dari harapan. Pelaksanaan nilai-nilai Pancasila secara murni dan
konsekuen hanya dijadikan alat politik penguasa belaka. Kenyataan yang terjadi
Demokrasi Pancasila sama dengan kediktatoran. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
dipaparkan karakteristik Demokrasi Pancasila masa Orde Baru yang berdasarkan pada
indikator demokrasi yang telah dikemukakan sebelumnya.
Pertama, rotasi kekuasaan eksekutif boleh dikatakan sangat kecil terjadi. Kecuali
pada jajaran yang lebih rendah, seperti gubernur, bupati/walikota, camat, dan kepala
desa. Kalaupun ada perubahan, selama pemerintahan Orde Baru hanya terjadi pada
jabatan wakil presiden, sementara pemerintahan secara esensial masih tetap sama.
Kedua, rekrutmen politik bersifat tertutup. Rekrutmen politik merupakan proses
pengisian jabatan politik di dalam penyelenggaraan pemerintah negara, baik untuk
lembaga eksekutif (pemerintah pusat maupun daerah), legislatif (MPR, DPR, dan DPRD)
maupun lembaga yudikatif (Mahkamah Agung). Dalam negara yang menganut sistem
pemerintahan yang demokratis, semua warga negara yang mampu dan memenuhi syarat
mempunyai peluang yang sama untuk mengisi jabatan politik tersebut. Akan tetapi, yang
terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru, sistem rekrutmen politik tersebut bersifat
tertutup, kecuali anggota DPR yang berjumlah 400 orang dipilih melalui pemilihan
umum. Pengisian jabatan tinggi negara seperti Mahkamah Agung, Dewan Pertimbangan
Agung, dan jabatan-jabatan lainnya dalam birokrasi dikontrol sepenuhnya oleh lembaga
kepresidenan. Demikian juga dengan anggota badan legislatif. Anggota DPR sejumlah
100 orang dipilih melalui proses pengangkatan dengan surat keputusan presiden.
Sementara itu dalam kaitannya dengan rekrutmen politik lokal (seperti gubernur dan
bupati/walikota), masyarakat di daerah tidak mempunyai peluang untuk ikut menentukan
pemimpin mereka. Kata akhir tentang siapa yang akan menjabat diputuskan oleh
presiden. Jelas, sistem rekrutmen seperti itu sangat bertentangan dengan semangat
demokrasi.
Ketiga, Pemilihan Umum. Pada masa pemerintahan Orde Baru, pemilihan umum
telah dilangsungkan sebanyak enam kali dengan frekuensi yang teratur setiap lima tahun
sekali. Tetapi, kalau kita amati kualitas pelaksanaan pemilihan umum tersebut masih
jauh dari semangat demokrasi. Pemilihan umum tidak melahirkan persaingan yang sehat.
Keempat, pelaksanaan hak dasar warga negara. Sudah bukan menjadi rahasia
umum lagi, bahwa dunia internasional sering menyoroti politik Indonesia berkaitan erat
dengan perwujudan jaminan hak asasi manusia. Masalah kebebasan pers sering muncul
ke permukaan. Persoalan mendasar adalah selalu adanya campur tangan birokrasi yang
sangat kuat. Selama pemerintahan Orde Baru, sejarah pengekangan kebebasan pers
terulang kembali seperti yang terjadi pada masa Orde Lama. Beberapa media massa
seperti Tempo, Detik, dan Editor dicabut surat izin penerbitannya atau dengan kata lain
dibreidel setelah mereka mengeluarkan laporan investigasi tentang berbagai masalah
penyelewengan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat negara.
Selain itu, kebebasan berpendapat menjadi barang langka dan mewah. Pemerintah
melalui kepanjangan tangannya (aparat keamanan) memberikan ruang yang terbatas
kepada masyarakat untuk berpendapat. Pemberlakuan Undang-Undang Subversif
membuat posisi pemerintah semakin kuat karena tidak ada kontrol dari rakyat. Rakyat
menjadi takut untuk berpendapat mengenai kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Tidak jarang pemerintah memenjarakan dan mencekal orang-orang yang mengkritisi
kebijakannya.
Keempat indikator di atas menjadi catatan hitam perjalanan demokrasi di
Indonesia. Akankah masa-masa pahit ini kembali terulang? Jawabannya dikembalikan
kepada semua elemen bangsa ini.
MATERI KELOMPOK 5

e. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia pada Periode 1998 – sekarang


Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru
pada akhirnya membawa Indonesia pada krisis multidimensi yang diawali dengan badai
krisis moneter yang tidak kunjung reda. Krisis moneter tersebut membawa akibat pada
terjadinya krisis politik, tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah begitu kecil.
Tidak hanya itu, kerusuhan-kerusuhan terjadi hampir disemua belahan bumi Nusantara
ini. Akibatnya bisa ditebak, pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Presiden
Soeharto (meskipun kembali terpilih dalam Sidang Umum MPR bulan Maret tahun
1998) terperosok ke dalam kondisi yang diliputi oleh berbagai tekanan politik, baik dari
luar maupun dalam negeri. Dari dunia internasional, terutama Amerika Serikat, secara
terbuka meminta Presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden. Dari
dalam negeri, timbul gerakan massa yang dimotori oleh mahasiswa menuntut Presiden
Soeharto mundur dari jabatannya. Tekanan dari massa mencapai puncaknya ketika tidak
kurang dari 15.000 mahasiswa mengambil alih Gedung DPR/MPR yang mengakibatkan
proses politik nasional praktis lumpuh. Sekalipun Presiden Soeharto menawarkan
berbagai langkah, antara lain ese (perombakan) kabinet dan membentuk Dewan
Reformasi, akan tetapi Presiden Soeharto tidak punya pilihan lain kecuali mundur dari
jabatannya.
Akhirnya pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto bertempat di
Istana Merdeka Jakarta menyatakan berhenti sebagai Presiden dan dengan menggunakan
pasal 8 UUD 1945, Presiden Soeharto segera mengatur agar Wakil Presiden Habibie
disumpah sebagai penggantinya di hadapan Mahkamah Agung. DPR tidak dapat
berfungsi karena gedungnya diambil alih oleh mahasiswa. Saat itu, kepemimpinan
nasional segera beralih dari Soeharto ke Habibie. Hal ini merupakan jalan baru demi
terbukanya proses demokratisasi di Indonesia. Kendati diliputi oleh kontroversi tentang
status hukumnya, pemerintahan Presiden Habibie mampu bertahan selama satu tahun.
Dalam masa pemerintahan Presiden Habibie inilah muncul beberapa indikator
pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
Pertama, diberikannya ruang kebebasan pers sebagai ruang publik untuk
berpartisipasi dalam berbangsa dan bernegara.
Kedua, diberlakukannya sistem multipartai dalam pemilu tahun 1999. Habibie
dalam hal ini sebagai Presiden Republik Indonesia membuka kesempatan kepada rakyat
untuk berserikat dan berkumpul sesuai dengan ideologi dan aspirasi politiknya.
Dua hal yang dilakukan Presiden Habibie di atas merupakan fondasi yang kuat
bagi pelaksanaan demokrasi Indonesia pada masa selanjutnya. Demokrasi yang
diterapkan negara kita pada era reformasi ini adalah Demokrasi Pancasila. Tentu saja
dengan karakteristik yang berbeda dengan Orde Baru dan sedikit mirip dengan
demokrasi parlementer tahun 1950 - 1959.
Pertama, pemilu yang dilaksanakan jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya.
Sistem pemilu yang terus berkembang memberikan jalan bagi rakyat untuk
menggunakan hak politiknya dalam pemilu, bahkan puncaknya pada tahun 2004 rakyat
dapat langsung memilih wakilnya dilembaga legislatif dan presiden/wakil presiden pun
dipilih secara langsung. Tidak hanya itu, mulai tahun 2005 kepala daerah pun (gubernur
dan bupati/walikota) dipilih langsung oleh rakyat.
Kedua, rotasi kekuasaan dilaksanakan mulai dari pemerintah pusat sampai pada
tingkat desa.
Ketiga, pola rekrutmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara
terbuka. Setiap warga negara yang mampu dan memenuhi syarat dapat menduduki
jabatan politik tersebut tanpa adanya diskriminasi.
Keempat, sebagian besar hak dasar rakyat dapat terjamin seperti adanya kebebasan
menyatakan pendapat, kebebasan pers, dan sebagainya.
Kondisi demokrasi Indonesia saat ini dapat diibaratkan sedang menuju ke arah
kesempurnaan. Akan tetapi jalan terjal menuju itu tentu saja selalu menghadang. Tugas
kita adalah mengawal demokrasi ini supaya teraplikasikan dalam seluruh aspek
kehidupan.
Lampiran 2
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

Tugas Diskusi Kelompok KD 3.2


LKPD Materi Sub BAB 2 : Dinamika Penerapan Demokrasi Pancasila

Kelas : ……………………

Kelompok : ……………………
Nama anggota : ……………………
……………………
……………………
……………………

MARI BERDISKUSI DAN BUAT KARYAMU


1. Melalui kegiatan berdiskusi dan menggali informasi, carilah materi-materi berikut :
 Kelompok 1
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1945 – 1949.
 Kelompok 2
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1949 – 1959.
 Kelompok 3
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1959 – 1965.
 Kelompok 4
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1965 – 1998.
 Kelompok 5
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1998 – sekarang.

2. Setelah diskusi kelompok, buatlah rangkuman materi dalam bentuk poster menarik dari
alat dan bahan yang sudah dipersiapkan sebagai media presentasi kelompok

3. Tunjuk 2 orang dikelompokmu yang berperan sebagai Penjual (Pusat Informasi),


sisanya berperan sebagai Pembeli (Pencari Informasi)
 Penjual bertugas untuk mempromosikan/menjual dagangannya berupa informasi
materi kelompoknya dan mempresentasikan informasinya kepada pembeli dan berhak
mendapatkan bayaran (reward) sesuai tingkat kepuasan pelanggan
 Pembeli bertugas untuk mencari informasi/membeli informasi dari para penjual dan
wajib membayar (reward) sesuai pemaparan materi, semakin bagus pemaparannya
semakin besar bayarannya.
Kategori 10 = Cukup, 50 = Baik, 100 = Sangat Baik

4. Lakukanlah proses jual beli informasi dengan baik untuk mengisi daftar Indikator
Demokrasi berikut : (lihat lampiran)

5. Presentasikan hasil kerja kelompokmu di depan kelas


Periode
Indikator
No 1965 – 1998 –
Demokrasi 1945 – 1949 1949 – 1959 1959 – 1965
1998 sekarang

1 Akuntabilitas

Rotasi
2 kekuasaan
politik

Pola
3
rekruitmen

Pelaksanaan
4 pemilihan
umum

Pemenuhan
hak-hak
5
dasar warga
negara
Post Test KD 3.2 c. Ketiga
LKPD Materi Sub BAB 2 : Dinamika d. Keempat
Penerapan Demokrasi Pancasila e. Kelima
6. Berikut adalah pilar demokrasi konstitusional,
Nama Siswa : ……………………………
kecuali...
Kelas : ……………………………
a. Demokrasi dengan kecerdasan
b. Demokrasi Liberal
Pilihlah Jawaban yang Paling Benar!
1. Indonesia adalah negara yang majemuk karena c. Demokrasi dengan rule of law
keanekaragamannya, hal inilah yang menjadikan d. Demokrasi dengan Hak Asasi Manusia
dinamika penerapan demokrasi di Indonesia e. Demokrasi dengan kemakmuran
berbeda dengan negara lain. Dari hal tersebut maka 7. Dibawah ini adalah indikator-indikator demokrasi
Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yaitu menurut Affan Gaffar, kecuali …
menganut paham … sebagai landasan a. Akuntabilitas
demokrasinya b. Rotasi kinerja
a. Demokrasi Formal c. Rekruitmen politik
b. Demokrasi Liberal d. Pemilihan umum
c. Demokrasi Proletar e. Pemenuhan hak-hak dasar
d. Demokrasi Gabungan 8. Tahun berapakah masa pemerintahan revolusi
e. Demokrasi Pancasila kemerdekaan...
2. Menurut Pancasila dan UUD 1945 pilar demokrasi a. 1945-1949
konstitusional Indonesia terdapat … b. 2001-2005
a. 8 pilar c. 1945-1950
b. 9 pilar d. 1950-1955
c. 10 pilar e. 1960-1965
d. 11 pilar 9. Peristiwa yang tercatat pada pelaksanaan
e. 12 pilar demokrasi di Indonesia periode 1965-1998 adalah
3. Tokoh yang mengemukakan pilar demokrasi …
konstitusional Indonesia adalah … a. Menyatakan kemerdekaan dari pemerintah
a. Ahmad Sanusi kolonial Belanda
b. Henry B. Mayo b. Terjadi dua kali pergantian undang-undang
c. Ir. Soekarno dasar
d. Abraham Lincoln c. Terbitnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
e. Moch. Hatta d. Perpindahan kekuasaan dari Orde Lama kepada
4. Pilar yang menegaskan bahwa dalam Orde Baru
menyelenggarakan kenegaraan RI harus taat asas, e. Lengsernya presiden soeharto
konsisten, atau sesuai dengan nilai-nilai dan 10. Beralihnya kepemimpinan dari presiden Soeharto
kaidah-kaidah dasar Ketuhanan Yang Maha Esa kepada wakilnya Presiden Habibie dikenal sebagai
adalah … era Reformasi yang terjadi pada tahun …
a. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa a. 1945
b. Demokrasi dengan kecerdasan b. 1950
c. Demokrasi yang beriman dan bertaqwa c. 1959
d. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat d. 1965
e. Demokrasi dengan rule of law e. 1998
5. Yang menjadi karakter utama Demokrasi Pancasila
terdapat pada Pancasila sila ke …
a. Kesatu
b. Kedua
Lampiran 3
FORMAT PENILAIAN OBSERVASI
SIKAP SPRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK

Nama Sekolah : SMAN 6 Bandung


Kelas : XI MIPA-1
Materi Pokok : BAB 2 Sistem dan Dinamika Demokrasi Pancasila Sub B. Dinamika Penerapan Demokrasi Pancasila
Periode Penilaian : .................................. s.d ..................................

Sikap Spiritual dan Sosial

11. Taat menjalankan


3. Tangg. jawab

5. Gtng Royong

Nilai Kualitatif
6. Kerjasama

9. Responsif

10.Proaktif

Total Skor
No Nama Siswa

Rata-Rata
4. Toleran
Deskripsi

2. Disiplin

7. Santun

8. Damai
1. Jujur

agama
1 Andita Shabirah Putri Nugraha
2 Angga Grecia
3 Bagus Santoso
4 Bilqis Dalilla Muqoddimah
5 Canthika Allena Augusta Putri
6 Devana Khoirun Nisa
7 Dicky Andreas
8 Fanie Puspitasari Mulyana
9 Fayza Lathifa Zahra
10 Fikri Haikal Fauzi
11 Jihan Nur Huwaida
12 Kalista Putri
13 Khalisa Nashwa Widyaning
14 Lisha Adzanta Firmansyah
15 Mochammad Kevin Ariobimo
16 Muhamad Arif Faturrochman
17 Muhammad Daffa Hauzaan
18 Muhammad Ilham Lutfi Aziz A
19 Muhammad Iqbal Krisna A
20 Muhammad Rafi Nugroho
21 Muhammad Razan Amiensyah
22 Muhammad Ridwan Kurniawan
23 Nobby Dharma Khaulid
24 Rahmalia Putri
25 Rehan Rahmat Ramadhan
26 Riska Saliandi
27 Salma Rahmanita Utami
28 Salya Hasna Labibah
29 Syakduzzaman
30 Syeni Adinda Bren
31 Syifa Qurratuain
32 Tazkia Sadiva Martadisastra
33 Vini Dewi Azzahra
34 Zidhan Darmawan

Petunjuk
Lembaran ini diisi oleh guru pada saat dan setelah pelaksanaan pembelajaran. Pada kolom sikap spiritual dan sosial, tuliskan skor angka dengan rentang 1-4.
Kemudian, tuliskan jumlah dan rata-rata skor pada kolom yang tersedia. Konversikan rata-rata skor tersebut tersebut ke dalam nilai kualitatif berikut ini

Skor penilaian menggunakan skala 1-4, yaitu :


• Skor 1 apabila peserta didik tidak pernah sesuai aspek sikap yang dinilai.
• Skor 2 apabila peserta didik kadang-kadang sesuai aspek sikap yang dinilai.
• Skor 3 apabila peserta didik sering sesuai aspek sikap yang dinilai.
• Skor 4 apabila peserta didik selalu sesuai dengan aspek sikap yang dinilai.

𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝑷𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉𝒂𝒏


Skor Perolehan = x100
𝟒𝟒
FORMAT PENILAIAN OBSERVASI
SIKAP SPRITUAL DAN SOSIAL PESERTA DIDIK

Nama Sekolah : SMAN 6 Bandung


Kelas : XI IPS-3
Materi Pokok : BAB 2 Sistem dan Dinamika Demokrasi Pancasila Sub B. Dinamika Penerapan Demokrasi Pancasila
Periode Penilaian : .................................. s.d ..................................

Sikap Spiritual dan Sosial

11. Taat menjalankan


3. Tangg. jawab

5. Gtng Royong

Nilai Kualitatif
6. Kerjasama

9. Responsif

10.Proaktif

Total Skor
No Nama Siswa

Rata-Rata
4. Toleran
Deskripsi

2. Disiplin

7. Santun

8. Damai
1. Jujur

agama
1 Adhienda Siti Aisyah
2 Angel Laura Natalia Limbong
3 Arif Rahman Fauzi
4 Asyiva Oktaviani
5 Deany Reekha Anggra Putri
6 Dehya Nisrina Fadhila
7 Desiana Rosmala Dewi
8 Devan Zalfa Oktavio
9 Diar Maurinda
10 Eva Savariah
11 Faisal Rahman
12 Faisal Rifaldi
13 Fitria Nurfadila
14 Henhen Rizkiawan
15 Khairunnisa Najla Lutfiyah
16 Muhamad Aji Firdaus
17 Muhammad Irvandri Nur R
18 Muhammad Rafly Hasanuddin
19 Mustafa Bisri
20 Mutiara Acacia
21 Qays Valerian Pinandita
22 Rafa Fahriela Putri
23 Rani Fuji Astuti
24 Ravly Pratama Giffary
25 Riffai Caniago
26 Risman Hadi Putra
27 Rula Meisya Putri
28 Sabilla Qurrata A’Yunin Azzahra
29 Septi Rahmawati Diningrum
30 Sridevi Meylasari
31 Wawan Darmawan
32 Yulianti Nur Endang

Petunjuk
Lembaran ini diisi oleh guru pada saat dan setelah pelaksanaan pembelajaran. Pada kolom sikap spiritual dan sosial, tuliskan skor angka dengan rentang 1-4.
Kemudian, tuliskan jumlah dan rata-rata skor pada kolom yang tersedia. Konversikan rata-rata skor tersebut tersebut ke dalam nilai kualitatif berikut ini

Skor penilaian menggunakan skala 1-4, yaitu :


• Skor 1 apabila peserta didik tidak pernah sesuai aspek sikap yang dinilai.
• Skor 2 apabila peserta didik kadang-kadang sesuai aspek sikap yang dinilai.
• Skor 3 apabila peserta didik sering sesuai aspek sikap yang dinilai.
• Skor 4 apabila peserta didik selalu sesuai dengan aspek sikap yang dinilai.

𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝑷𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉𝒂𝒏


Skor Perolehan = x100
𝟒𝟒
RUBRIK PENSKORAN

1. Aspek : Jujur
No. Indikator Kejujuran Penilaian Kejujuran
1. Tidak menyontek dalam mengerjakan - Skor 1 jika 1 sampai 2 indikator muncul
ujian/ulangan - Skor 2 jika 3 sampai 4 indikator muncul
2. Tidak menjadi plagiat - Skor 3 jika 5 indikator muncul
(mengambil/menyalin karya orang lain - Skor 4 jika 6 indikator muncul
tanpa menyebutkan sumber) dalam
mengerjakan setiap tugas
3. Mengemukakan perasaan terhadap
sesuatu apa adanya
4. Melaporkan barang yang ditemukan
5. Melaporkan data atau informasi apa
adanya
6. Mengakui kesalahan atau kekurangan
yang dimiliki

2. Aspek : Disiplin
No. Indikator Disiplin Penilaian Disiplin
1. sama sekali tidak bersikap disiplin selama proses Kurang (1)
pembelajaran.
2. menunjukkan ada sedikit usaha untuk bersikap disiplin Cukup (2)
selama proses pembelajaran tetapi masih belum
ajeg/konsisten
3. menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap disiplin Baik (3)
selama proses pembelajaran tetapi masih belum
ajeg/konsisten
4. menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap disiplin Sangat baik (4)
selama proses pembelajaran secara terus menerus dan
ajeg/konsisten.

3. Aspek : Tanggungjawab
No. Indikator Tanggungjawab Penilaian Tanggungjawab
1. Melaksanakan tugas individu 1. Skor 1 jika 1 atau tidak ada indikator yang
dengan baik konsisten ditunjukkan peserta didik
2. Menerima resiko dari 2. Skor 2 jika 2 indikator kosisten ditunjukkan
tindakan yang dilakukan peserta didik
3. Mengembalikan barang yang 3. Skor 3 jika 3indikator kosisten ditunjukkan
dipinjam peserta didik
4. Meminta maaf atas 4. Skor 4 jika 4 indikator konsisten ditunjukkan
kesalahan yang dilakukan peserta didik

4. Aspek : Toleran
No. Indikator Toleran Penilaian Toleran
1. Tidak mengganggu teman 5. Skor 1 jika 1 atau tidak ada indikator yang
yang berbeda pendapat konsisten ditunjukkan peserta didik
2. Menghormati teman yang 6. Skor 2 jika 2 indikator kosisten ditunjukkan
berbeda suku, agama, ras, peserta didik
budaya, dan gender 7. Skor 3 jika 3 indikator kosisten ditunjukkan
3. Menerima kesepakatan peserta didik
meskipun berbeda dengan 8. Skor 4 jika 4 indikator konsisten
pendapatnya ditunjukkan peserta didik
4. Dapat mememaafkan
kesalahan/kekurangan orang
lain

5. Aspek : Gotong Royong


No. Indikator Gotong Royong Penilaian Gotong Royong
1. Saling membantu dalam - Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
mengerjakan tugas kelompok - Skor 2 jika terpenuhi dua indikator
2. Bersama-sama dalam - Skor 3 jikaterpenuhi tiga indikator
mengerjakan tugas kelompok - Skor 4 jika terpenuhi semua indikator
3. Mengajak teman untuk
membantu teman lain yang
mengalami kesulitan
4. Membagi pekerjaan/tugas
berdasarkan job description
yang telah disepakati

6. Aspek : Kerjasama
No. Indikator Kerjasama Penilaian Kerjasama
1. Terlibat aktif dalam bekerja - Skor 1 jika 1 atau tidak ada indikator yang
kelompok konsisten ditunjukkan peserta didik
2. Kesediaan melakukan tugas - Skor 2 jika 2indikator kosisten ditunjukkan
sesuai kesepakatan peserta didik
3. Bersedia membantu orang - Skor 3 jika 3indikator kosisten ditunjukkan
lain dalam satu kelompok peserta didik
yang mengalami kesulitan - Skor 4 jika 4 indikator konsisten ditunjukkan
4. Rela berkorban untuk teman peserta didik
lain

7. Aspek : Santun
No. Indikator Santun Penilaian Santun
1. Baik budi bahasanya (sopan ucapannya) - Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
2. Menggunakan ungkapan yang tepat - Skor 2 jika terpenuhi dua indikator
3. Mengekspresikan wajah yang cerah - Skor 3 jikaterpenuhi tiga indikator
4. Berperilaku sopan - Skor 4 jika terpenuhi semua indikator

8. Aspek : Damai
No. Indikator Damai Penilaian Damai
1. Menghargai teman dalam - Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
setiap menjalankan aktivita - Skor 2 jika terpenuhi dua indikator
2. Kebersamaan menjadi - Skor 3 jikaterpenuhi tiga indikator
bahagian dalam pergaulan - Skor 4 jika terpenuhi semua indikator
3. Menghormati dan
menghargai setiap perbedaan
yang ada
4. Mengindari konflik atau
petentangan dalam
perggaulan

9. Aspek : Responsif
No. Indikator Responsif Penilaian Responsif
1. Acuh (tidak merespon) 1 (Kurang)
2. Ragu-ragu/bimbang dalam merespon 2 (Cukup)
3. Lamban memberikan respon/tanggapan 3 (Baik)
4. Cepat merespon/menanggapi 4 (Sangat Baik)

10. Aspek : Proaktif


No. Indikator Proaktif Penilaian Proaktif
1 berinisiatif dalam bertindak - Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
2 mampu menggunakan kesempatan - Skor 2 jikaterpenuhi dua indikator
3 memiliki prinsip dalam bertindak - Skor 3 jikaterpenuhi tiga indikator
(tidak ikut-ikutan) - Skor 4 jikaterpenuhi semua indikator
4 bertindak dengan penuh tanggung
jawab

11. Aspek : Taat Menjalankan Agama


No. Indikator Ketaatan Menjalankan Penilaian Ketaatan Menjalankan Agama
Agama
1 Disiplin (selalu tepat waktu) dalam - Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
menjalankan agamanya - Skor 2 jikaterpenuhi dua indikator
2 Teratur dalam menjalankan agamanya - Skor 3 jikaterpenuhi tiga indikator
3 Bersungguh-sungguh menjalankan - Skor 4 jikaterpenuhi semua indikator
ajaran agama
4 Berakhlak/berperilaku santun dan
menghargai orang lain
Lampiran 4

INSTRUMEN PENILAIAN PENGETAHUAN

A. Instrument LKPD Pilihan Ganda (Post Test)

KISI-KISI PENILAIAN SOAL PILIHAN GANDA


Sekolah : SMAN 6 Kota Bandung
Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas/Semester : XI / Ganjil
Materi Pokok : Sistem dan Dinamika Demokrasi Indonesia
Alokasi Waktu : 1 pertemuan (2 Jam pelajaran @ 45 Menit)

Tingkat
Materi Jenis Level Proses Kognitif Nomor
Kompetensi Dasar Indikator Soal Kesukaran
Pembelajaran Tes Soal
C2 C3 C4 C5 C6 M SD SK
3.2 Mengkaji sistem dan B. Dinamika
dinamika demokrasi Penerapan Prinsip-prinsip
1, 2, 3, 4,
Pancasila sesuai Demokrasi di Demokrasi di PG     
5, 6
dengan Undang- Indonesia. Indonesia
Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Periodisasi
Tahun 1945 Perkembangan PG     7, 8, 9, 10
Demokrasi Pancasila
Nama Siswa : …………………………… c. Demokrasi dengan rule of law
Kelas : …………………………… d. Demokrasi dengan Hak Asasi Manusia
e. Demokrasi dengan kemakmuran
Pilihlah Jawaban yang Paling Benar! 7. Dibawah ini adalah indikator-indikator demokrasi
1. Indonesia adalah negara yang majemuk karena menurut Affan Gaffar, kecuali …
keanekaragamannya, hal inilah yang menjadikan a. Akuntabilitas
dinamika penerapan demokrasi di Indonesia b. Rotasi kinerja
berbeda dengan negara lain. Dari hal tersebut maka c. Rekruitmen politik
Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yaitu d. Pemilihan umum
menganut paham … sebagai landasan e. Pemenuhan hak-hak dasar
demokrasinya 8. Tahun berapakah masa pemerintahan revolusi
a. Demokrasi Formal kemerdekaan...
b. Demokrasi Liberal a. 1945-1949
c. Demokrasi Proletar b. 2001-2005
d. Demokrasi Gabungan c. 1945-1950
e. Demokrasi Pancasila d. 1950-1955
2. Menurut Pancasila dan UUD 1945 pilar demokrasi e. 1960-1965
konstitusional Indonesia terdapat … 9. Peristiwa yang tercatat pada pelaksanaan
a. 8 pilar demokrasi di Indonesia periode 1965-1998 adalah
b. 9 pilar …
c. 10 pilar a. Menyatakan kemerdekaan dari pemerintah
d. 11 pilar kolonial Belanda
e. 12 pilar b. Terjadi dua kali pergantian undang-undang
3. Tokoh yang mengemukakan pilar demokrasi dasar
konstitusional Indonesia adalah … c. Terbitnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
a. Ahmad Sanusi d. Perpindahan kekuasaan dari Orde Lama
b. Henry B. Mayo kepada Orde Baru
c. Ir. Soekarno e. Lengsernya presiden soeharto
d. Abraham Lincoln 10. Beralihnya kepemimpinan dari presiden Soeharto
e. Moch. Hatta kepada wakilnya Presiden Habibie dikenal sebagai
4. Pilar yang menegaskan bahwa dalam era Reformasi yang terjadi pada tahun …
menyelenggarakan kenegaraan RI harus taat asas, a. 1945
konsisten, atau sesuai dengan nilai-nilai dan b. 1950
kaidah-kaidah dasar Ketuhanan Yang Maha Esa c. 1959
adalah … d. 1965
a. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa e. 1998
b. Demokrasi dengan kecerdasan
c. Demokrasi yang beriman dan bertaqwa
d. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat
e. Demokrasi dengan rule of law
5. Yang menjadi karakter utama Demokrasi Pancasila
terdapat pada Pancasila sila ke …
a. Kesatu
b. Kedua
c. Ketiga
d. Keempat
e. Kelima
6. Berikut adalah pilar demokrasi konstitusional,
kecuali...
a. Demokrasi dengan kecerdasan
b. Demokrasi Liberal
Kunci Jawaban Pilihan Ganda

No Kunci Jawaban Skor


1 E 10
2 C 10
3 A 10
4 A 10
5 D 10
6 B 10
7 B 10
8 A 10
9 D 10
10 E 10
Jumlah Skor 100

𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝑷𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉𝒂𝒏


Skor Perolehan = x100
𝟏𝟎𝟎
B. Format Lembar Penilaian Pengetahuan (Tes Pilihan Ganda)

Petunjuk
Lembaran ini diisi oleh guru setelah pembelajaran selesai. Lembar ini mencatat tingkat
pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan dengan acuan aspek penilaian
yang terdiri dari jumlah soal terjawab per point dengan rentang skor benar (10) dan salah
(0). Pada kolom Aspek Penilaian, tulikan kumulatif skor pada kolom Jumlah Skor dengan
rentang 1-100.

Nama Sekolah : SMAN 6 Bandung


Kelas : XI MIPA-1
Aspek Penilaian Penilaian
No Nama Siswa Soal Jumlah Kode
Terjawab Skor Nilai
1 Andita Shabirah Putri Nugraha
2 Angga Grecia
3 Bagus Santoso
4 Bilqis Dalilla Muqoddimah
5 Canthika Allena Augusta Putri
6 Devana Khoirun Nisa
7 Dicky Andreas
8 Fanie Puspitasari Mulyana
9 Fayza Lathifa Zahra
10 Fikri Haikal Fauzi
11 Jihan Nur Huwaida
12 Kalista Putri
13 Khalisa Nashwa Widyaning
14 Lisha Adzanta Firmansyah
15 Mochammad Kevin Ariobimo
16 Muhamad Arif Faturrochman
17 Muhammad Daffa Hauzaan
18 Muhammad Ilham Lutfi Aziz A
19 Muhammad Iqbal Krisna A
20 Muhammad Rafi Nugroho
21 Muhammad Razan Amiensyah
22 Muhammad Ridwan Kurniawan
23 Nobby Dharma Khaulid
24 Rahmalia Putri
25 Rehan Rahmat Ramadhan
26 Riska Saliandi
27 Salma Rahmanita Utami
28 Salya Hasna Labibah
29 Syakduzzaman
30 Syeni Adinda Bren
31 Syifa Qurratuain
32 Tazkia Sadiva Martadisastra
33 Vini Dewi Azzahra
34 Zidhan Darmawan
Nama Sekolah : SMAN 6 Bandung
Kelas : XI IPS-3

Aspek Penilaian Penilaian


No Nama Siswa Soal Jumlah Kode
Terjawab Skor Nilai
1 Adhienda Siti Aisyah
2 Angel Laura Natalia Limbong
3 Arif Rahman Fauzi
4 Asyiva Oktaviani
5 Deany Reekha Anggra Putri
6 Dehya Nisrina Fadhila
7 Desiana Rosmala Dewi
8 Devan Zalfa Oktavio
9 Diar Maurinda
10 Eva Savariah
11 Faisal Rahman
12 Faisal Rifaldi
13 Fitria Nurfadila
14 Henhen Rizkiawan
15 Khairunnisa Najla Lutfiyah
16 Muhamad Aji Firdaus
17 Muhammad Irvandri Nur R
18 Muhammad Rafly Hasanuddin
19 Mustafa Bisri
20 Mutiara Acacia
21 Qays Valerian Pinandita
22 Rafa Fahriela Putri
23 Rani Fuji Astuti
24 Ravly Pratama Giffary
25 Riffai Caniago
26 Risman Hadi Putra
27 Rula Meisya Putri
28 Sabilla Qurrata A’Yunin A
29 Septi Rahmawati Diningrum
30 Sridevi Meylasari
31 Wawan Darmawan
32 Yulianti Nur Endang
Lampiran 5

INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN

A. Format Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)


Tugas Kelompok KD 3.2
LKPD
Materi Sub BAB 2 : Dinamika Penerapan Demokrasi Pancasila

Kelas : ……………………

Kelompok : ……………………
Nama anggota : ……………………
……………………
……………………
……………………

MARI BERDISKUSI DAN BUAT KARYAMU


1. Melalui kegiatan berdiskusi dan menggali informasi, carilah materi-materi berikut :
 Kelompok 1
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1945 – 1949.
 Kelompok 2
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1949 – 1959.
 Kelompok 3
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1959 – 1965.
 Kelompok 4
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1965 – 1998.
 Kelompok 5
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia periode 1998 – sekarang.

6. Setelah diskusi kelompok, buatlah rangkuman materi dalam bentuk poster menarik dari
alat dan bahan yang sudah dipersiapkan sebagai media presentasi kelompok

7. Tunjuk 2 orang dikelompokmu yang berperan sebagai Penjual (Pusat Informasi),


sisanya berperan sebagai Pembeli (Pencari Informasi)
 Penjual bertugas untuk mempromosikan/menjual dagangannya berupa informasi
materi kelompoknya dan mempresentasikan informasinya kepada pembeli dan berhak
mendapatkan bayaran (reward) sesuai tingkat kepuasan pelanggan
 Pembeli bertugas untuk mencari informasi/membeli informasi dari para penjual dan
wajib membayar (reward) sesuai pemaparan materi, semakin bagus pemaparannya
semakin besar bayarannya.
Kategori 10 = Cukup, 50 = Baik, 100 = Sangat Baik

8. Lakukanlah proses jual beli informasi dengan baik untuk mengisi daftar Indikator
Demokrasi berikut : (lihat lampiran)

9. Presentasikan hasil kerja kelompokmu di depan kelas


Indikator Periode
No
Demokrasi 1945 – 1949 1949 – 1959 1959 – 1965 1965 – 1998 1998 – sekarang

1 Akuntabilitas

Rotasi
2 kekuasaan
politik

Pola
3
rekruitmen

Pelaksanaan
4 pemilihan
umum

Pemenuhan
5 hak-hak dasar
warga negara
B. Format Lembar Observasi Kegiatan Diskusi

Petunjuk
Lembaran ini diisi oleh guru pada saat Tugas Kelompok. Lembar ini mencatat keefektifan
peserta dalam diskusi. Pada kolom Aspek Penilaian yang terdiri dari sikap, pendapat dan
kerjasama, tuliskan skor angka 1 (kurang), 2 (cukup), 3 (baik), 4 (sangat baik). Pada kolom
Penilaian, tuliskan Rata-Rata Skor Angka dan konversi Kode Nilainya.

Nama Sekolah : SMAN 6 Bandung


Kelas : XI MIPA-1
Aspek Penilaian Penilaian
Rata2 Kode
No Nama Siswa
Sikap Pendapat Bahasa Skor Nilai
Angka
1 Andita Shabirah Putri Nugraha
2 Angga Grecia
3 Bagus Santoso
4 Bilqis Dalilla Muqoddimah
5 Canthika Allena Augusta Putri
6 Devana Khoirun Nisa
7 Dicky Andreas
8 Fanie Puspitasari Mulyana
9 Fayza Lathifa Zahra
10 Fikri Haikal Fauzi
11 Jihan Nur Huwaida
12 Kalista Putri
13 Khalisa Nashwa Widyaning
14 Lisha Adzanta Firmansyah
15 Mochammad Kevin Ariobimo
16 Muhamad Arif Faturrochman
17 Muhammad Daffa Hauzaan
18 Muhammad Ilham Lutfi Aziz A
19 Muhammad Iqbal Krisna A
20 Muhammad Rafi Nugroho
21 Muhammad Razan Amiensyah
22 Muhammad Ridwan Kurniawan
23 Nobby Dharma Khaulid
24 Rahmalia Putri
25 Rehan Rahmat Ramadhan
26 Riska Saliandi
27 Salma Rahmanita Utami
28 Salya Hasna Labibah
29 Syakduzzaman
30 Syeni Adinda Bren
31 Syifa Qurratuain
32 Tazkia Sadiva Martadisastra
33 Vini Dewi Azzahra
34 Zidhan Darmawan
Nama Sekolah : SMAN 6 Bandung
Kelas : XI IPS-3

Aspek Penilaian Penilaian


Rata2 Kode
No Nama Siswa
Sikap Pendapat Bahasa Skor Nilai
Angka
1 Adhienda Siti Aisyah
2 Angel Laura Natalia Limbong
3 Arif Rahman Fauzi
4 Asyiva Oktaviani
5 Deany Reekha Anggra Putri
6 Dehya Nisrina Fadhila
7 Desiana Rosmala Dewi
8 Devan Zalfa Oktavio
9 Diar Maurinda
10 Eva Savariah
11 Faisal Rahman
12 Faisal Rifaldi
13 Fitria Nurfadila
14 Henhen Rizkiawan
15 Khairunnisa Najla Lutfiyah
16 Muhamad Aji Firdaus
17 Muhammad Irvandri Nur R
18 Muhammad Rafly Hasanuddin
19 Mustafa Bisri
20 Mutiara Acacia
21 Qays Valerian Pinandita
22 Rafa Fahriela Putri
23 Rani Fuji Astuti
24 Ravly Pratama Giffary
25 Riffai Caniago
26 Risman Hadi Putra
27 Rula Meisya Putri
28 Sabilla Qurrata A’Yunin A
29 Septi Rahmawati Diningrum
30 Sridevi Meylasari
31 Wawan Darmawan
32 Yulianti Nur Endang

𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒌𝒐𝒓 𝑷𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉𝒂𝒏


Skor Perolehan = x100
𝟏𝟐
Pedoman penskoran (rubrik) :

No Aspek Penskoran
1 Sikap Skor 4: apabila selalu bersikap aktif dalam diskusi
Skor 3: apabila sering bersikap aktif dalam diskusi
Skor 2: apabila kadang-kadang bersikap aktif dalam diskusi
Skor 1: apabila tidak pernah bersikap aktif dalam diskusi.

2 Pendapat Skor 4: apabila selalu berpendapat dengan argumen yang


rasional dan jelas
Skor 3: apabila sering berpendapat dengan argumen yang
rasional dan jelas
Skor 2: apabila kadang-kadang berpendapat dengan argumen
yang rasional dan jela
Skor 1: apabila tidak pernah berpendapat dengan argumen
yang rasional dan jelas.

3 Kerja sama Skor 4: apabila selalu menunjukan kerjasama dalam diskusi


Skor 3: apabila sering menunjukan kerjasama dalam diskusi
Skor 2: apabila kadang-kadang menunjukan kerjasama dalam
diskusi
Skor 1: apabila tidak pernah menunjukan kerjasama dalam
diskusi.
C. Format Lembar Kinerja Presentasi

Mata Pelajaran : PPKn


Materi : Bab 2 Sistem dan Dinamika Demokrasi Pancasila
Sub B. Dinamika Penerapan Demokrasi Pancasila
Kelompok : ...............................................

Kinerja Presentasi
Skor
Jmlh
No Nama Siswa Rata- Nilai
Kreatifi Kebenaran Penyajian Visual/ Skor
rata
tas substansi materi grafis
1
2
3
4
...

Keterangan pengisian skor


4. Sangat tinggi
3. Tinggi
2. Cukup tinggi
1. Kurang

Keterangan:
NO INDIKATOR URAIAN
1 Kreativitas Baru, unik, tidak asal berbeda
2 Kebenaran substansi materi  Sesuai dengan konsep dan teori yang benar dari
sisi keilmuan
 Tidak ada bagian yang salah/keliru
 Tidak ada kesalahan penempatan gambar, suara
dan teks
3 Penyajian Materi  Runut sesuai dengan struktur keilmuan
 Mengikuti alur logika yang jelas ( sistimatis )
Bervariasi
4 Grafis  Tampilan layar ( warna, tataletak (layout))
 Ilustrasi
Lampiran 6

FORMAT PENILAIAN AKHIR

Petunjuk
Format ini merupakan rangkuman penilaian untuk semua kegiatan yang telah dilaksanakan
oleh siswa. Jumlah Tugas/Diskusi yang dinilai tergantung pada penilaian yang dilakukan oleh guru.
Jadi, pada akhir pembelajaran setiap Bab, siswa akan mendapatkan Nilai Akhir beserta rincian
dan catatan guru. Kemudian siswa diminta menunjukkan format ini kepada orang tua untuk
diberikan umpan balik dan paraf pada kolom yang tersedia.
Lembar ini dapat disalin atau diadaptasi oleh guru. Kemudian sekolah sebaiknya menfasilitasi
untuk penggandaannya sesuai kebutuhan.

Nama Siswa : .........................................................................


Kelas : ............................
Materi/Bab : .........................................................................

Penilaian
Tugas/Diskusi
Nilai Kualitatif Skor Angka
1. Tugas Mandiri
2. Tugas Kelompok
3. Uji Kompetensi
4. Penilaian Afektif/(Spiritual
dan Sosial)
5. Praktek Kewarganegaraan
Catatan perilaku Peserta didik dalam menyelesaikan Total Skor:
tugas/diskusi dari awal sampai akhir Rata-rata/Nilai Akhir:

Tanda Tangan
Orang Tua
Lampiran 7

KONVERSI KOMPETENSI PENGETAHUAN, KETERAMPILAN DAN SIKAP

Nilai Kompetensi
Predikat Rentang Nilai
Pengetahuan Keterampilan Sikap
A 99 – 100 4 4
SB
A- 91 – 95 3,66 3,66
B+ 85 – 90 3,33 3,33
B 80 – 84 3 3 B
B- 75 – 79 2,66 2,66
C+ 70 – 74 2,33 2,33
C 65 – 69 2 2 C
C- 60 – 64 1,66 1,66
D+ 55 – 59 1,33 1,33
K
D ≥ 55 1 1

 Kriteria Ketuntasan
 Ketuntasan minimal untuk seluruh kompetensi dasar pada Kompetensi Pengetahuan
dan Kompetensi Keterampilan yaitu 2,66 (B-)
 Pencapaian minimal untuk Kompetensi Sikap adalah B