Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

BIOTEKNOLOGI

Aplikasi Bioteknologi dalam Pengelolaan Sampah :


Problem Pengelolaan Sampah Berbahaya dan Bioremediasi
Oleh:
Siti Aliyah 01311740000020
Amelia Dwiyanti 01311740000022
Nurlaily Alviani 01311740000023
Sitti Aisyatul M 01311740000025
Kirana Salsabila Kamase 01311740000030
Maulinda Khasanatuz Zahro 01311740000031

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER


SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ucapan syukur Alhamdulillah kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan nikmat yang telah diberikan sehingga makalah dengan judul “Aplikasi
Bioteknologi dalam Pengelolaan Sampah : Problem Pengelolaan Sampah
Berbahaya dan Bioremediasi” ini selesai dikerjakan dengan baik dan tepat waktu.
Selesainya makalah ini tentu tidak hanya menjadi tujuan penulis, melainkan
adanya pengetahuan yang bermanfaat baik bagi penulis maupun bagi pembaca.
Makalah ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Bioteknologi 2019
di Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Tak lupa penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Nurul Jadid dan Ibu Noor Nailis
Sa’adah sebagai dosen pengampu mata kuliah Bioteknologi 2019.
Harapan penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
meskipun terdapat kekurangan didalamnya, terutama bermanfaat dalam
memberikan pengetahuan dasar mengenai Bioteknologi kepada pembaca,
khususnya pengetahuan mengenai Aplikasi Bioteknologi dalam Pengelolaan
Sampah.
Wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.

Surabaya, 23 September 2019


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................i


KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang .................................................................................................4
1.2Rumusan Masalah ............................................................................................4
1.3Tujuan Penelitian .............................................................................................4
1.4Manfaat Penelitian ...........................................................................................4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sampah ............................................................................................................5
2.1.1Faktor yang mempengaruhi jumlah sampah ............................................5
2.1.2 Macam macam jenis sampah …………………......................................5
2.1.3 Tahapan pengelolaan sampah …………………………………………..6
2.1.4. Prinsip-Prinsip Yang Diterapkan Dalam Pemanfaatan Sampah (4R) …6
2.2Limbah ……………….. ..................................................................................6
2.2.1Pengelolaan Limbah ................................................................................7
2.2.2 Mikroorganisme pengelolaan limbah ………….....................................7
2. Upaya Pengelolaan Limbah……………………………...................................8
2.4Bioremidiasi … ................................................................................................9
2.4.1 Pengertian ………………………………………………………………9
2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi bioremediasi ……………………...10
2.4.3 Empat teknik yang dapat digunakan dalam bioremediasi …………….10
2.4.4 Jenis teknologi bioremediasi ………………………………………..…10
2.4.5 In situ bioremediation ………………………………………...……… 10
2.4.6 Kelebihan dan kekurangan bioremediasi ……………………………...12
2.4.7 Kelebihan dan kekurangan bioremediasi …………………………...…12
2.4.8 Fitoremediasi ………………………………………………………….12
2.5Mikroba yang berperan dalam biormediasi dan
bioteknologi….....................13
2.5.1Mikroorganisme
bioremediasi ..........................................................................13
2.5.2Mekanisme Penyerapan Logam Berat oleh
Mikoorganisme...........................................................................14

BAB III. KESIMPULAN


3.1Kesimpulan ....................................................................................................16
STUDY CASE…………………………………………………………………...17
DAFTAR
PUSTAKA ..........................................................................................xxvii

iii
4

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Blablala

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa itu bioremediasi?
2. Apa saja jenis bioremediasi?
3. Apa saja faktor-faktor bioremediasi?
4. Apa saja upaya dalam pengelolaan sampah?
5. Bagaimana peran bioteknologi dalam pengelolaan sampah?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian, jenis, dan faktor-faktor bioremediasi.
2. Mengetahui upaya apa saja yang dilakukan dalam pengelolaan sampah.
3. Mengetahui peran bioteknologi dalam pngelolaan sampah.

1.4. Manfaat
1. Sebagai literatur tambahan mengenai aplikasi bioteknologi dalam
pengelolaan sampah.
2. Menjadi bahan pembelajaran secara singkat dalam hal aplikasi
bioteknologi dalam pengelolaan sampah .
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sampah
Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak
disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan
yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis
(karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat.
Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya adalah : dari rumah tangga,
pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan (Sulistyorini, 2005).
Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan
sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengelolaan
sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah (Marliani,
2014).

2.1.1. Faktor yang mempengaruhi jumlah sampah


Faktor yang mempengaruhi jumlah sampah selain aktivitas penduduk
antara lain adalah jumlah atau kepadatan penduduk, sistem pengelolaan sampah,
keadaan geografi, musim dan waktu, kebiasaan penduduk, teknologi serta tingkat
sosial ekonomi (Sulistyorini, 2005). Pertambahan jumlah penduduk, perubahan
pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan
sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya daya beli
masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta
meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah
juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah
yang dihasilkan (Marliani, 2014).

2.1.2. Macam-macam jenis sampah


Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah
organik dan sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia
menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari
sampah tersebut dapat digunakan kembali. Menurut Murtadho dan Said (1987),
sampah organik dibedakan menjadi sampah organik yang mudah membusuk
(misal: sisa makanan, sampah sayuran dan kulit buah) dan sampah organik yang
tidak mudah membusuk (misal : plastik dan kertas) (Sulistyorini, 2005).
Berdasarkan sifat fisik dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi:
1) Sampah ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti sisa
sayuran, sisa daging, daun dan lain-lain
2) Sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastik, kertas, karet, logam, sisa
bahan bangunan dan lain-lain
3) Sampah yang berupa debu/abu
4) Sampah yang berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari
industri dan rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang
berbahaya (Marliani, 2014).
Sampah Organik.
Sampah organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan
yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau
6

yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah
rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah
organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.
Sampah Anorganik.
Sampah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbaharui seperti
mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak
terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara
keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat
diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah
tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng (Marliani,
2014).

2.1.3. Tahapan pengelolaan sampah


a. Pencegahan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Melakukan pemilahan
atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat
sampah organik dan anorganik disetiap rumah.
b. Pemanfaatan kembali kegiatan pemanfaatan sampah kembali, terdiri atas:
1). Pemanfaatan sampah organik, seperti composting (pengomposan).
Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah
lingkungan.
2). Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan
yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangkan
pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas
seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum
dalam kemasan.
c. Tempat pembuangan sampah akhir dengan pengelolaan sampah yang baik,
Sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar
± 10%. Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi
pengelola kawasan, mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS, serta
memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak
pemerintah daerah (Marliani, 2014).

2.1.4. Prinsip-Prinsip Yang Diterapkan Dalam Pemanfaatan Sampah (4R)


a. Reduce (Mengurangi): Minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan.
b. Re-use (Memakai kembali): Pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali.
Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang).
c. Recycle (Mendaur ulang): Barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa
didaur ulang.
d. Replace (Mengganti): Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali
dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai
barang-barang yang lebih ramah lingkungan (Marliani, 2014).

2.2. Limbah
Aktivitas produksi dari suatu pabrik atau tempat produksi lainnya akan
menyisakan suatu substansi yang sudah tidak dipakai yang dikenal dengan
sebutan limbah. Limbah secara umum merupakan sisa produk dari aktivitas
manusia yang secara fisik tidak berguna bagi produsen (Amasuomo and Baird,
7

2016)

2.2.1. Pengelompokan limbah


Limbah sendiri diklasifikasikan secara luas berdasarkan asal, wujud dan
sumber limbah. Jenis-jenis limbah bila didasarkan asalnya, dikelompokkan
menjadi 2 yaitu :
1. Limbah Organik
Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari
kegiatan rumah tangga, kegiatan industri. Limbah bisa dengan mudah diuraikan
melalui proses yang alami, misalnya dari pestisida, begitu pula dengan
pemupukan yang berlebihan. Limbah ini mempunyai sifat kimia yang stabil
sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta
laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya.
Sedangkan limbah rumah tangga berupa seperti kertas, plastik dan air cucian.
Limbah tersebut mempunyai racun yang tinggi misalnya : sisa obat, baterai bekas,
dan air aki. Limbah tersebut tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya dan beracun,
sedangkan limbah air cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung bibit-bibit
penyakit atau pencemaran biologis seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya
(Dahruji dkk, 2017).

2. Limbah Anorganik
Limbah ini terdiri atas limbah industri atau limbah pertambangan. Limbah
anorganik berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat di uraikan, tidak dapat
diperbaharui. Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan
anorganik, zat-zat tersebut adalah :
a. Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang berasal
dari kegiatan pertambangan dan industri.
b. Asam anorganik seperti asam sulfat yang berasal dari industri pengolahan biji
logam dan bahan bakar fosil.
c. Adapula limbah anorganik yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti
botol plastik, botol kaca, tas plastik, kaleng dan aluminium (Dahruji dkk, 2017).

Jika berdasarkan sumbernya limbah dikelompokkan menjadi 3 yaitu :


1. Limbah Pabrik
Limbah ini dikategorikan sebagai limbah yang berbahaya karena limbah
ini mempunyai kadar gas yang beracun, pada umumnya limbah ini dibuang di
sungai-sungai disekitar tempat tinggal masyarakat, jarak masyarakat mengunakan
sungai untuk kegiatan sehari-hari, misalnya MCK(Mandi, Cuci, Kakus), secara
langsung gas yang dihasilkan oleh limbah pabrik tersebut dikonsumsi oleh
masyarakat.

2. Limbah Rumah Tangga


Limbah rumah tangga adalah limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah
tangga limbah ini bisa berupa sisa-sisa sayuran, bisa juga berupa kertas, kardus
atau karton.

3. Limbah Industri
Limbah ini dihasilkan dari hasil produksi pabrik. Limbah ini mengandung
8

zat yang berbahaya diantaranya asam anorganik dan senyawa orgaik, zat-zat
tersebut jika masuk ke perairan akan menimbulkan pencemaran yang dapat
membahayakan makhluk hidup pengguna air misalnya, ikan, bebek dan makluk
hidup lainnya termasuk juga manusia (Dahruji dkk, 2017).

Jika berdasarkan wujud limbah, dikelompokkan menjadi 3, yaitu:


a. Limbah padat yaitu limbah yang memiliki wujud padat yang bersifat kering dan
tidak dapat berpindah kecuali dipindahkan. berasal dari sisa makanan, sayuran,
potongan kayu, ampas hasil industri, dan lain-lain.
b. Limbah cair yaitu limbah yang memiliki wujud cair. Limbah cair ini selalu larut
dalam air dan selalu berpindah
c. Limbah gas yaitu limbah yang berwujud gas. Limbah gas bisa dilihat dalam
bentuk asap dan selalu bergerak sehingga penyebarannya luas (Amasuomo and
Baird, 2016).

2.2.2. Mikroorganisme Pembantu Pengolahan Limbah


Blablabla

2.3. Upaya Pengelolaan Limbah


Proses lumpur aktif sering digunakan pada penanganan limbah hasil dari
reaktor anaerob. Sistem ini diduga dapat mengurangi konsumsi energi serta
menghasilkan sedikit sisa lumpur. Tujuan dari penanganan dengan proses lumpur
aktif diantaranya adalah penghilangan BOD, nitrifikasi, serta denitrifikasi. Pada
penghilangan BOD, umpan limbah dimetabolisme oleh mikroba pada lumpur aktif
sebagai substrat sehingga terkonversi menjadi biomassa, air, karbon dioksida, dan
gas lainnya. Pada proses nitrifikasi, terjadi oksidasi ammonia menjadi nitrit dan
nitrat oleh bakteri. Sedangkan proses denitrifikasi, nitrit dan nitrat terkonversi
menjadi gas, khususnya adalah gas nitrogen. Biomassa terpisah pada tangki
sedimentasi sekunder sehingga mengalami flokulasi dan pengendapan (Anderson,
2010).

(Pipeline, 2003)

Terdapat empat proses utama yang terjadi pada sistem lumpur aktif,
diantaranya adalah tangki aerasi, tangki pengendapan, resirkulasi lumpur, serta
penghilangan lumpur sisa. Reaksi biokimia dengan komponen organik lumpur
berada di biological reactor (aeration tank). Biomassa terbentuk karena adanya
substrat dalam lumpur. Pengendapan biomassa terjadi dalam tangki pengendapan
sekunder. Bagian solid dalam tangki tersebut kemudian disirkulasi ke dalam
9

tangki aerasi untuk mempertahankan konsentrasi biomassa dalam reaktor


sehingga berpengaruh tehadap efisiensi sistem. Lumpur sisa dari pengolahan ini
kemudian diarahkan menuju tempat pengolahan lumpur. Sehingga dapat diketahui
bahwa terdapat tiga jenis lumpur yang terlibat dalam proses ini, yaitu lumpur sisa,
lumpur biomassa yang berada pada bak aerasi, serta lumpur sekunder yang berada
pada tangki pengendapan. Sebelum memasuki proses tersebut air limbah dapat
diendapkan terlebih dahulu dalam bak pengendap awal (Sperling, 2007).
Bak pengendap awal berfungsi untuk menurunkan padatan tersuspensi
sekitar 30-40 % serta BOD sekitar 25%. Air limpasan dari bak pengendap awal
dialirkan menuju bak aerasi secara gravitasi. Di dalam bak aerasi ini air limbah
dihembuskan dengan udara sehingga mikroorganisme menguraikan zat organik
yang ada dalam air limbah. Energi yang diperoleh mikroorganisme tersebut
digunakan oleh mikroba untuk melakukan pertumbuhan sehingga di dalam bak
aerasi terjadi perkembangan biomassa dalam jumlah yang besar (Sperling, 2007).
Mikroorganisme ini yang akan menguraikan senyawa polutan dalam air
limbah. Air kemudian dialirkan ke tangki pengendapan sekunder. Di dalam tangki
ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme diendapkan dan
dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Air
limpasan dari tangki pengendapan sekunder dialirkan menuju bak klorinasi. Disini
air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme
patogen. Air dari proses klorinasi tersebut dapat langsung dibuang ke sungai atau
saluran umum. Dengan proses ini air limbah dengan konsentrasi BOD 250-300
mg/L dapat diturunkan kadar BOD-nya menjadi 20-30 mg/L. Surplus lumpur dari
keseluruhan proses ditampung dalam bak pengering lumpur sedangkan air
resapannya ditampung kembali di bak penampung air limbah (Anderson, 2010)
Mikroorganisme yang ditemukan pada bak aerasi diantaranya adalah
bakteri, protozoa, metazoa, bakteri berfilamen, dan fungi. Sedangkan
mikroorganisme yang paling berperan pada proses lumpur aktif adalah bakteri
aerob. Mikroorganisme memanfaatkan polutan organik terlarut dan partikel
organik sebagai sumber makanan. Polutan organik terlarut dapat masuk ke dalam
sel dengan cara absorpsi. Sedangkan partikel organik tidak dapat masuk ke dalam
sel sebagai sumber makanan. Partikel organik pada limbah hanya menempel pada
dinding sel (adsorpsi). Selanjutnya sel menghasilkan enzim agar dapat melarutkan
partikel. Dengan cara ini, bakteri dapat menghilangkan polutan organik baik yang
terlarut maupun berupa partikel yang terdapat dalam limbah (Anderson, 2010).

2.4. Bioremidiasi

2.4.1. Pengertian
• Remediasi merupakan proses dekontaminasi air dan tanah dari senyawa
yang berbahaya, seperti hidrokarbon, poliaromatik hidrokarbon (PAH),
persistant organic pollutant (POP), logam berat, pestisida dan lain-lain.
Proses remediasi yang menggunakan mikroorganisme dikenal sebagai
bioremediasi (Puspitasari dan Khaeruddin, 2016).
• Bioremediasi adalah proses penguraian limbah organik/anorganik polutan
dari sampah organik dengan menggunakan organisme (bakteri, fungi,
tanaman atau enzimnya) dalam mengendalikan pencemaran pada kondisi
10

terkontrol menjadi suatu bahan yang tidak berbahaya atau konsentrasinya


di bawah batas yang ditentukan oleh lembaga berwenang dengan tujuan
mengontrol atau mereduksi bahan pencemar dari lingkungan (Munir 2006,
Vidali, 2011 dan Singh et al, 2006 dalam Puspitasari dan Khaeruddin,
2016).

2.4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi bioremediasi


 Mikroba memiliki kemampuan untuk mendegradasi, mentransformasi dan
menyerap senyawa pencemar. Mikroba yang digunakan dapat berasal dari
golongan fungi, bakteri, ataupun mikroalga.
 Nutrisi, jenis nutrisi yang dibutuhkan bagi mikroba, diantaranya unsur
karbon (C), Nitrogen (N), Posfor (P) dan lain lain.
 Lingkungan yang berpengaruh antara lain oksigen, suhu. DO, dan pH
(Puspitasari dan Khaeruddin, 2016).

2.4.3. Empat teknik yang dapat digunakan dalam bioremediasi


(i) Melakukan stimulasi aktivitas mikroorganisme asli pada lokasi tercemar
dengan penambahan nutrient, pengaturan kondis redoks, optimalisasi pH.
(ii) Inokulasi mikroorganisme di lokasi tercemar
(iii) Penerapan immobilized enzyme
(iv) Penggunaan tanaman (phytoremediasi) (Puspitasari dan Khaeruddin,
2016).
2.4.4. Jenis teknologi bioremediasi
 Ex-situ adalah pengelolaan yang meliputi pemindahan secara fisik bahan-
bahan yang terkontaminasi ke suatu lokasi untuk penanganan lebih lanjut .
Penggunaan bioreaktor, pengolahan lahan (landfarming), pengkomposan
dan beberapa bentuk perlakuan fase padat lainnya adalah contoh dari
teknologi exsitu (Puspitasari dan Khaeruddin, 2016).
 In situ adalah perlakuan yang langsung diterapkan pada bahan-bahan
kontaminan di lokasi tercemar (Vidali, 2011 dalam Puspitasari dan
Khaeruddin, 2016).

2.4.5 In situ bioremediation

Bioventing

Teknik mendegradasi senyawa aerobik dengan menginjeksikan nitrogen dan


fosfor ke situs yang terkontaminasi. Intinya memompa udara ke tanah yang
11

terkontaminasi dan dikeluarkan melalui melalui sumur yang menyedot udara


(Garima dan Singh, 2014).

Biosparging

Udara disuntikkan di bawah air tanah untuk meningkatkan konsentrasi oksigen di


dalamnya. Oksigen disuntikkan untuk degradasi polutan mikroba. Biosparging
meningkatkan aerobik degradasi dan volatilisasi (Garima dan Singh, 2014).

Bioaugmentasi

Bioaugmentasi digunakan untuk memastikan bahwa mikroba dapat benar-benar


menurunkan kontaminan seperti etena yang diklorinasi, seperti tetrakloroetilen
dan trikloretilen ini menjadi etilen dan klorida, yang tidak beracun (Garima dan
Singh, 2014).

2.4.6. Ex situ Bioremediation


Biopiling

Sistem irigasi terkubur di bawah tanah dan menyediakan udara dan nutrisi melalui
ruang hampa. tanah ditutup dengan plastik untuk evaporasi dan volatilisasi serta
meningkatkan penyerapan panas matahari (Garima dan Singh, 2014).
12

Land Forming
Tanah digali dan dibentuk menjadi beberapa lapisan yang diisi dengan 3 tipe
tanah: tanah biasa, lumpur dan beton. Di dalamnya juga menyediakan oksigen,
nutrisi dan kelembaban serta pH sebaiknya juga menjaga dekat pH 7 (Garima dan
Singh, 2014).

Composting
Proses degradasi mikroba melepaskan panas dan meningkatkan suhu yang
mengarah pada semakin larutnya limbah dan semakin tinggi aktivitas
metabolisme dalam pembentukan kompos (Garima dan Singh, 2014).

2.4.7. Kelebihan dan kekurangan bioremediasi


Kesuksesan metode bioremediasi ditentukan oleh penggunaan
mikroba yang tepat, di tempat yang tepat dengan faktor faktor lingkungan yang
tepat untuk terjadinya degradasi (Puspitasari dan Khaeruddin, 2016).

Kelebihan bioremediasi
 Bioremediasi sangat aman digunakan karena menggunakan mikroba yang
secara alamiah sudah ada
 Bioremediasi tidak menggunakan atau menambahkan bahan kimia
berbahaya (ramah lingkungan).
 Teknik pengolahannya mudah diterapkan dan dengan biaya yang relatif
terjangkau
 Dapat dilaksanakan di lokasi atau di luar (Machdar, 2018).

Kelemahan bioremediasi
 Membutuhkan pemantauan yang intensif
 Berpotensi menghasilkan produk yang tidak dikenal (Machdar, 2018).

Bioremediasi mempunyai keterbatasan (Singh et al., 2006). Residu yang


dihasilkan merupakan senyawa yang tidak berbahaya meliputi CO2, air , dan sel
biomassa. Banyak senyawa yang dianggap berbahaya dapat dirubah menjadi tidak
berbahaya dan memindahkan kontaminan dari satu medium lingkungan ke tempat
lain (Puspitasari dan Khaeruddin, 2016).

2.4.8. Fitoremediasi
 Fitoremediasi adalah penggunaan tanaman untuk mengekstrak,
mengakulumasi dan / atau detoksifikasi polutan dan merupakan teknik
baru dan kuat untuk membersihkan lingkungan (Abdul R. MEMON, Aylin
Anastassiia VERTII, 2001 dalam Sidauruk dan Sipayung, 2015).
 Keuntungan utama dari aplikasi teknik fitoremediasi dibandingkan dengan
sistem remediasi lainnya adalah kemampuannya untuk menghasilkan
buangan sekunder yang lebih rendah sifat toksiknya, lebih bersahabat
dengan lingkungan serta lebih ekonomis. Kelemahan fitoremedisi adalah
dari segi waktu yang dibutuhkan lebih lama dan juga terdapat
13

kemungkinan masuknya kontaminan ke dalam rantai makanan melalui


konsumsi hewan dari tanaman tersebut ( Sodiq Pratomo, Sumarno dan
Ahkam Subroto, 2004 dalam Sidauruk dan Sipayung, 2015).

2.4.9. Proses dan Mekanisme Fitoremediasi Polutan

(Sidauruk dan Sipayung, 2015).

2.5. Mikroba yang berperan dalam bioremediasi dan bioteknologi

2.5.1 Mikroorganisme Bioremediasi


14

Menurut Budiyanto (2002), beberapa jenis mikroorganisme sangat


berperan dalam pengelolaan lingkungan. Pseudomonas spp. dan Bacillus spp.
diketahui merupakan genus yang sangat besar perannya dalam degradasi senyawa
pencemar Bacillus subtilis dapat dikembangkan menjadi organisme untuk
mengimobilisasi logam berat pada limbah industri yang banyak mengandung
logam berat, demikian juga Pseudomonas sp., selain itu Pseudomonas juga telah
banyak digunakan dalam bioremediasi limbah minyak. Secara umum kontaminan
lingkungan oleh logam berat merupakan masalah sebagai hasil meningkatnya
kegiatan industri. Mikroorganisme dapat berinteraksi dengan logam berat dalam
berbagai cara untuk dapat menurunkan mobilitas dan kelarutan logam.
Mikroorganisme juga ada yang dapat menggunakan logam berat sebagai nutrient
atau hanya menjerab (imobilisasi) logam berat tersebut. Mikroorganisme yang
digunakan adalah Thiobacillus ferrooxidants dan Bacillus substilis. Thiobacillus
ferrooxidants adalah bakteri yang mendapatkan energy dari senyawa anorganik
seperti besi sulfide dan menggunakan energinya untuk membentuk bahan yang
berguna seperti asam fumarat dan besi sulfat. Sedangkan, Bacillus substilis
mempunyai kemampuan mengikat beberapa logam berat seperti Pb, Cd, Cu, Ni,
Zn, Al, dan Fe dalam bentuk nitrat. Logam-logam tersebut dapat dilarutkan
kembali saat bakteri lisis sehingga logam tersebut dapat digunakan kembali oleh
industri yang bersangkutan.
Escherichia coli juga diketahui sangat luas perannya dalam menguraikan
senyawa pencemar. Menurut Segelken (1999), E. coli dapat digunakan untuk
mentransportasi dan mengakulasi merkuri kedalam sel membrannya, begitupun dg
logam berat lainnya dapat diserap dan diakumulasikan dalam selnya.
Kelompok atau genus bakteri yang sangat relevan untuk proses
bioremediasi adaalah Pseudomonas, Moraxella, Acinetobacter, Burkholderia dan
Alcaligenes. Bateri-bakteri tersebut mempunya kemampuan hidup yang tinggi dan
potensi katabolisme sehingga dapat bertahan hidup dengan kisaran bahan organic
yang luas sebagai makanan primer (Reje, 2001).
Contoh bakteri yang dapat mendegradasi senyawa pencemar (logam
berat), yaitu dan Bacillus spp. dan Pseudomonas sp.. Bacillus spp. memiliki
protein yang dapat mengikat logam berat disebut metallothionein, dan memiliki
dinding sel yang mengandung peptidoglikan. Pseudomonas sp. memiliki protein
yang dapat mengikat logam berat disebut metallothionein dan menghasilkan
enzim pendegradasi hidrokarbon (Maulana, dkk., 2017).

2.5.2 Mekanisme Penyerapan Logam Berat oleh Mikroorganisme

Secara alami, dimana kondisi tanpa kendali proses penghilangan ion


logam berat oleh mikroorganisme terdiri dari dua mekanisme, yaitu active uptake
dan passive uptake. Pada saat ion logam berat berada tersebar pada permukaan
sel, ion akan memikat baian permukaan sel berdasarkan kemampuan daya afinitas
kimia yang dimilikinya. Menurut Suhendrayatna (2001). Passive uptake atau biasa
dikenal dengan bioabsorbsi. Terjadi ketika Ion logam berat mengikat dinding sel
dengan dua cara yang berbeda : 1. ion monovalent dan divalent seperti Na, Mg,
dan Ca pada dinding sel ditukar dengan ion logam berat. 2. formasi kompleks
antara ion logam berat dengan gugus fungsional seperti carbonyl, amino thiol,
15

hydroxyl, phosphate, dan hydrxy-carboxyl yang berada pada dinding sel.


Proses bioabsorbsi ini bersifat bolak balik dan cepat. Proses bolak balik
ikatan ion logam berat dipermukaan sel ini dapat terjadi pada sel mati maupun
hidup dai suatu bimasa. Proses biabsorbsi dapat lebih efektif dengan kehadiran pH
tertentu dan kehadiran ion-ion lannya di media dimana logam berat dapat
terendapkan sebagai garam yang tidak terlarut. Aktive uptake dapat terjadi pada
berbagai tipe sel hidup. Mekanisme ini secara simultan terjadi sejalan dengan
konsumsi ion logam untuk pertumbuhan mikroorganisme atau akumulasi
intraseluler ion logam tersebut. Logam berat juga dapat diendapkan pada proses
metabolisme dan ekresi. Proses ini tergantung dan sensitifitasnya terhadap
parameter yang berbeda seperti pH, suhu kekuatan ikatan ionic, cahaya dll. Proses
ini dapat dihambat dengan suu yang rendah, tidak tersedianya sumber energy dan
penghambat metabolisme sel (Suhendrayatna, 2001).
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Eksploitasi mikroorganisme dapat dilakukan dalam bentuk sebagai kompos


bioaktif, biofrtilizer, dan agen biokontrol. Sudah menjadi konsensus baru bahwa
makhluk hidup melakukan interaksi yang membangun maupun tidak untuk
bekerjasama membentuk habitat yang sesuai untuk bersama-sama bersimbiosis.
Manfaat mikroorganisme dalam pertanian adalah untuk (1) memfiksasi nitrogen
dari atmosfer, (2) dekomposisi sampah dan residu organik sehingga lebih aman
untuk lingkungan, (3) menekan patogen tular tanah, (4) meningkatkan
ketersediaan hara, (5) degradasi racun yang berasal dari pestisida atau bahan
kimia lainnya, (6) menghasilkan antibiotik dan bahan aktif lainnya, (7)
menghasilkan molekul bahan organik sedehana untuk diserap tanaman, (8)
meningkatkan kompleksitas logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh
tanaman dan (9) melarutkan hara yang tidak terlarut. Peran bioteknologi dalam hal
ini adalah memanfaatkannya untuk mengembangkan metode sehingga semakin
efisien dan murah.

16
17
Study Case Fitoremidiasi

Fitoremediasi adalah teknologi untuk memperbaiki lahan dengan


menggunakan tanaman (Mangkoedihardjo dkk., 2008). alternatif teknologi
pengolahan tanah tercemar yang ramah lingkungan, efektif, dan mempunyai biaya
yang lebih rendah dibandingkan pengolahan lainnya (Mangkoedihardjo &
Samudro (2010). Tanaman yang digunakan untuk proses fitoremediasi
mempunyai bentuk yang beraneka ragam, baik yang berwujud seperti alang-alang
maupun membentuk jalinan berupa rumput. Tanaman hiperakumulator merupakan
tanaman yang dapat hidup pada keadaan dimana konsentrasi logam berat yang
tinggi, tanaman ini juga dapat menyerap logam dalam tanah. Sehingga dengan
tanaman hiperakumulator, konsentrasi logam berat dalam tanah akan berkurang.
Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dan jengger ayam (Celosia
pulmosa) merupakan tanaman hiperakumulator yang dapat meremediasi tanah
yang tercemar logam berat Pb (Ratnawati dan Fatmasari, 2018). Tanaman lidah
mertua (Sansevieria trifasciata) memiliki kemampuan menyerap konsentrasi Pb
dalam tanam sebesar 56,63%. Tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa) memiliki
kemampuan menyerap konsentrasi Pb dalam tanah sebesar 74,44% (Yusuf, dkk.,
2014).
Metode yang dilakukan adalah metode aklimatisasi, range finding test, dan
fitoremidiasi tanah tercemar logam berat Pb. Aklimatisasi bertujuan agar tanaman
uji dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan media tanamnya sehingga
dapat bertahan hidup sampai akhir penelitian (Patandungan dkk., 2016).
Aklimatisasi adalah menumbuhkan tanaman dalam pot yang berisikan tanah tidak
tercemar selama 2 minggu sebelum dilakukan pengujian sesungguhnya, kemudian
setelah 2 minggu aklimatisasi dilakukan penyortiran (Ratnawati dan Fatmasari,
2018). Range Finding Test (RFT) bertujuan untuk menentukan konsentrasi Pb
maksimal yang dapat ditoleransi oleh tanaman (Tangahu dan Ningsih, 2016). RFT
dilakukan selama 7 hari dan dilakukan pengamatan secara morfologi terhadap
tanaman. Selanjutnya dilihat pada hari ke-7, apabila tanaman tetap segar pada hari
ke-7, maka konsentrasi tersebut dapat digunakan sebagai konsentrasi uji.
Fitoremediasi Tanah Tercemar Logam Berat Pb bertujuan untuk penetapan
konsentrasi Pb dalam tanah dan tanaman dengan metode Atomic Absorption
Spectropotometer (AAS). Konsentrasi logam berat yang digunakan pelaksanaan
penelitian diperoleh dari tahap RFT. Tanaman masing-masing ditanam pada media
tanah sebanyak 2 kg dengan konsentrasi tertentu. Pengambilan sampel secara acak
dilakukan untuk tanah dan tanaman. Sampel tanah diambil setiap minggu selama
4 minggu sebanyak 10 gram. Begitu juga sampel tanaman (akar, batang, dan
daun) diambil tiap minggu selama 4 minggu. Keadaan fisiologis tanaman juga
diamati setiap minggunya (Ratnawati dan Fatmasari, 2018).
Hasil dan Pembahasan dari penelitian ini adalah tentang: 1) Karakteristik
Awal Konsentrasi Pb, 2) Hasil RFT, 3) Penyisihan Konsentrasi Pb dalam Tanah,
4) Penyerapan Konsentrasi Pb oleh Tanaman, 5) Persebaran konsentrasi logam Pb
di bagian-bagian tanaman, 6) Konsentrasi Pb yang hilang. Karakteristik awal
konsentrasi Pb pada tanah kontrol, tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata),
dan jengger ayam (Celosia pulmosa) berturut-turut sebesar 95 mg/kg, 76 mg/kg,
dan 22 mg/kg. Tanaman dan tanah yang belum mengalami proses fitoremediasi
juga mengandung Pb dengan jumlah tertentu (Yusuf, dkk., 2014). Adanya logam

18
Pb dalam tanaman terjadi karena kemungkinan terjadi proses penyerapan Pb pada
media sebelumnya. Pada dasarnya Pb terkandung di tanah secara alami sebagai
salah satu jenis mineral mikro, sehingga pada analisis pendahuluan Pb juga
terkandung dalam tanah yang tidak ditambah pencemar (kontrol) (Ratnawati dan
Fatmasari, 2018). Hasil dari RFT dengan pengamatan selama 7 hari, terlihat
bahwa tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) maupun jengger ayam
(Celosia pulmosa) dapat hidup dengan baik pada konsentrasi 0 mg/kg, 200 mg/kg,
dan 500 mg/kg. Keadaan tetap segar serta tumbuh tunas baru terlihat pada
tanaman Lidah mertua (Sansevieria trifasciata) maupun jengger ayam (Celosia
pulmosa) tersebut. Sedangkan pada konsentrasi 800 mg/kg, tanaman mengalami
kematian, layu, dan menguning (Ratnawati dan Fatmasari, 2018). Penyisihan
konsentrasi Pb dalam tanah pada keseluruhan reaktor mengalami penurunan
sampai dengan akhir penelitian (Gambar 1 dan 2).

Konsentrasi Pb awal konsentrasi 200 mg/kg dan 500 mg/kg berturut-turut adalah
291 mg/kg dan 592 mg/kg. Konsentrasi Pb akhir pada reaktor yang menggunakan
tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) pada LM0, LM200, dan LM500
berturut-turut adalah 30 mg/kg, 60 mg/kg, dan 112 mg/kg. Reaktor menggunakan
tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa) konsentrasi Pb akhir pada JA0, JA200,
dan JM500 masing-masing adalah 59 mg/kg, 115 mg/kg, dan 239 mg/kg.
Konsentrasi Pb di tanah pada reaktor menggunakan tanaman lidah mertua
(Sansevieria trifasciata) mempunyai nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan
reaktor tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa). Penurunan konsentrasi ini dapat
diakibatkan oleh perpindahan logam secara difusi dan osmosis dimana massa zat
pada media dengan konsentrasi yang tinggi (tanah) akan berpindah ke media
dengan konsentrasi yang rendah (tanaman). Penurunan konsentrasi logam dalam
tanah dengan menggunakan lidah mertua (Sansevieria trifasciata) maupun
jengger ayam (Celosia pulmosa) paling besar terjadi pada minggu pertama, hal ini
disebabkan oleh proses perpindahan logam dan kemampuan tanaman dalam
menyerap logam berat. Logam berat yang terkandung dalam tanah mempunyai
nilai yang tinggi pada minggu pertama, sedangkan mempunyai nilai yang rendah
pada tanaman sehingga terdapat selisih yang cukup signifikan antara kedua media
tersebut. Hal ini mengakibatkan logam berat yang ada dalam tanah dapat diserap
dengan maksimal oleh tanaman. Sedangkan pada minggu kedua sampai keempat

19
penyerapannya lebih sedikit karena konsentrasi logam dalam tanaman, atau dapat
dikatakan toksisitas dari tanaman semakin meningkat (Yusuf dkk., 2014).

Dapat diamati pada Gambar 3 dan 4 bahwa nilai efektifitas penyisihan semakin
meningkat setiap minggunya. Pada reactor LM0, LM200, dan LM500 mempunyai
nilai efektifitas penurunan konsentrasi Pb berturut-turut adalah 68,42%; 79,38%;
dan 81,08%. Reaktor JM0, JM200, dan JM500 masing-masing adalah 37,89%;
60,48%; dan 59,63%. Penyisihan konsentrasi Pb pada semua reaktor terjadi
karena proses fitoremediasi yaitu adanya proses rhizodegradasi. Logam berat Pb
diuraikan oleh mikroorganisme dalam tanah yang diperkuat dengan zat-zat
keluaran akar (eksudat), yaitu gula, alkohol, asam. Eksudat ini merupakan
makanan mikroorganisme yang menguraikan polutan maupun biota tanah lainnya.
Faktor ini menjadikan tanaman berperan sebagai metal excluder (Ghosh dan
Singh, 2005). Juhriah dkk., (2017) menyimpulkan bahwa tanaman jengger ayam
(Celosia pulmosa) dengan spesies Celosia plumose berpotensi sebagai tanaman
agen fitoremediasi dalam tanah. Jaswiah dkk. (2015) dalam penelitiannya
menggunakan tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) untuk merediasi
tanah yang kontaminasi logam berat Cd dan Ni.
Penyerapan konsentrasi Pb oleh tanaman bertujuan mengetahui jumlah
konsentrasi Pb yang diserap oleh tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata)
dan jengger ayam (Celosia pulmosa). Konsentrasi Pb dalam tanaman lidah mertua
(Sansevieria trifasciata) yang awalnya sama kemudian setelah dilakukan proses
fitoremediasi, terdapat perubahan yang signifikan dari masingmasing reaktor
(Gambar 5). Konsentrasi Pb dalam tanaman di akhir penelitian pada LM0,
LM200, dan LM500 masing-masing adalah 127 mg/kg, 201 mg/kg, dan 418
mg/kg. Hal tersebut juga terjadi pada reaktor tanaman jengger ayam (Celosia
pulmosa) dimana terjadi peningkatan konsentrasi Pb dari hari ke-0 sampai 28
(Gambar 6). Di akhir penelitian, konsentrasi Pb dalam tanaman jengger ayam
(Celosia pulmosa) pada JA0, JA200, dan JA500 berturut-turut adalah 43 mg/kg,
141 mg/kg, dan 311 mg/kg (Ratnawati dan Fatmasari, 2018).

20
Kenaikan konsentrasi logam Pb dalam tanaman yang diperoleh kemudian
digunakan untuk menghitung nilai efektifitas penyerapan Pb dalam tanaman. Nilai
efektifitas penyerapan Pb pada tanaman bertujuan mengetahui seberapa efektif
tanaman dalam menyerap Pb, yang merupakan pencemar yang ditambahkan
dengan konsentrasi yang berbeda-beda pada masing-masing reaktor. Nilai Gambar
7 dan 8 menunjukkan nilai efektifitas pada masing-masing reactor (Ratnawati dan
Fatmasari, 2018).

Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dapat menyerap konsentrasi Pb


dalam tanah sampai dengan 70,50%; 69,10%, dan 53,70% pada reaktor masing-
masing adalah LM500, LM200, dan LM0 (Gambar 7). Pada reaktor menggunakan
tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa) pada JA500, JA200, dan JA0
mempunyai efisiensi penyerapan konsentrasi Pb dalam tanaman adalah 52,40%;
48,50%, dan 22,10% (Gambar 8). Efektifitas penyerapan tanaman lidah mertua
(Sansevieria trifasciata) mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan
tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa). Hal ini dapat terjadi karena tanaman
lidah mertua (Sansevieria trifasciata) memiliki zat aktif pregnane glikosid
(Purwanto, 2006).
Konsentrasi logam Pb pada bagian-bagian tanaman mempunyai nilai yang
berbeda (Gambar 9 dan 10).

Pada Gambar 9 dan 10 menunjukkan konsentrasi Pb tertinggi terdapat pada


bagian akar tanaman. Hal ini karena proses masuknya konsentrasi Pb dalam
jaringan. Jaringan akar mempunyai interaksi langsung dengan tanah (media) yang
terkontaminasi pencemar berupa Pb, sehingga konsentrasi Pb di jaringan akar
cenderung lebih tinggi daripada batang maupun daun. Unsur hara dapat kontak
dengan permukaan akar melalui tiga cara, yakni secara difusi dalam larutan tanah,
secara pasif terbawa aliran air tanah dan karena akar kontak dengan hara tersebut

21
di dalam matrik tanah (Yusuf dkk., 2014). Konsentrasi Pb pada bagian tanaman
lidah mertua (Sansevieria trifasciata) lebih tinggi daripada bagian tanaman
jengger ayam (Celosia pulmosa) (Ratnawati dan Fatmasari, 2018).
Konsentrasi Pb yang hilang dapat dihitung dengan selisih konsentrasi pencemar
pada tanah dengan tanaman. Pada reaktor LM0, LM200, dan LM500 konsentrasi
Pb yang hilang berturut-turut adalah 14 ppm, 30 ppm, dan 63 ppm (Tabel 2).

Sementara pada reaktor JA0, JA200, dan JA500 konsentrasi Pb yang hilang
masing-masing adalah 15, ppm, 35 ppm , dan 43 ppm. Konsentrasi Pb yang hilang
ini disebabkan oleh proses penguraian logam berat oleh tanaman (proses
fitoekstraksi, fitodegradasi, dan fitovolatilisasi). Selain itu, juga dapat disebabkan
karena penyiraman selama penelitian berlangsung, dimana dimungkingkan
terdapat perpindahan logam berat pada tanah dan tanaman. Logam berat yang
tersebar di bagian akar tanah akan turun dan mengumpul di dasar reaktor.
Sehingga pada saat pengambilan sampel, mungkin saja tanah yang terambil tidak
mengandung terlalu banyak logam (Yusuf dkk., 2014).
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah adalah konsentrasi Pb
akhir dalam tanah dan nilai efisiensi penyisihan pada reaktor lidah mertua
(Sansevieria trifasciata) kontrol, 200 mg/kg, 500 mg/kg secara berturut-turut
adalah 30 mg/kg (68,42%); 60 mg/kg (79,38%); dan 112 mg/kg (81,08%).
Sementara pada reaktor jengger ayam (Celosia pulmosa) konsentrasi Pb akhir
secara berturut-turut adalah 59 mg/kg (37,89%); 115 mg/kg (60,48%); dan 239
mg/kg (59,63%). Efisiensi penyerapan konsentrasi Pb pada tanaman lidah mertua
(Sansevieria trifasciata) kontrol, 200 mg/kg, dan 500 mg/kg secara berturut-turut
adalah 53,70% (127 mg/kg); 69,10% (201 mg/kg); dan 70,50% (418 mg/kg).
Sementara pada tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa) kontrol, 200 mg/kg,
dan 500 mg/kg berturut-turut adalah 22,10% (43 mg/kg); 48,50% (141 mg/kg);
dan 52,40% (311 mg/kg). Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dapat
menyerap Pb lebih tinggi daripada tanaman jengger ayam (Celosia pulmosa).
Penyebaran konsentrasi Pb akhir pada reaktor lidah mertua (Sansevieria
trifasciata) pada konsentrasi 500 mg/kg tertinggi dalam akar dan daun dengan
nilai 246 mg/kg dan 172 mg/kg. Sementara pada reaktor jengger ayam (Celosia
pulmosa) pada konsentrasi 500 mg/kg tertinggi dalam akar, batang, dan daun
dengan nilai 127 mg/kg, 100 mg/kg, dan 84 mg/kg. Konsentrasi Pb di akar
tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) maupun jengger ayam (Celosia
pulmosa) merupakan yang tertinggi dibandingkan konsentrasi di batang dan daun
(Ratnawati dan Fatmasari, 2018).

22
23
Study Case Bioremidiasi

Zat warna reaktif azo merupakan salah saru zat warna sintetik yang sangat
umum digunakan dalam industri pencelupan tekstil. Zat warna ini terikat kuat
pada kain, memberikan warna yang baik dan tidak mudah luntur terutama untuk
pencelupan serat selulosa, rayon dan wool (Blackburn dan Burkinshaw, 2002).
Toksisitas zat warna reaktif azo menurut kriteria Uni Eropa untuk bahan
berbahaya adalah tergolong rendah, akan tetapi keberadaannya dalam air dapat
menghambat penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga mengganggu aktivitas
fotosintesis mikroalga (Sastrawidana, dkk., 2008). Bioremediasi limbah tekstil
menggunakan bakteri saat ini terus dikembangkan karena diyakini sebagai strategi
penanganan limbah yang efektif, murah dan ramah lingkungan (Yoo, 2000).
Beberapa jenis bakteri yang digunakan untuk merombak limbah tekstil pada
kondisi anaerobik adalah Sphingomonas sp. (BN6) (Russ et al., 2000), Rhizobium
Radiobacter (MTCC 8161) (Telke et al, 2008). Sedangkan bakteri aerobik yang
digunakan di antaranya Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus
dan Escherichia coli (Ajibola et al, 2005; Mona and Yusef, 2008), Enterobacter
agglomerans (Moutaouakkil et al., 2003) dan konsorsium bakteri yang terdiri dari
Pseudomonas sp., Bacillus sp., Halomonas sp. dan Micrococcus sp. (Padmavathy
et al., 2003). Hasil kajian tersebut melaporkan bahwa zat waraa tekstil lebih sulit
mengalami perombakan pada kondisi aerobik dibandingkan dengan kondisi
anaerobik. Namun, perombakan pada kondisi anaerobik hanya mampu
menguraikan zat warna menjadi senyawa yang lebih sederhana yang siap
dirombak lebih lanjut pada kondisi aerobik (Melgoza, et al., 2004).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Kultivasi dan seleksi bakteri
dari sampel lumpur, pemurnian bakteri menggunakan media agar, perombakan zat
warna pada variasi pH dan konsentrasi glukosa, perombakan pada variasi pH,
perombakan pada variasi konsentrasi glukosa, pengolahan limbah tekstil sistem
kombinasi anaerobik-aerobik menggunakan konsorsium bakteri lokal
(perancangan bioreactor), amobilisasi konsorsium bakteri pada batu vulkanik
(proses pengolahan limbah tekstil), dan pengolahan limbah yang diambil dari
industri pencelupan tekstil (Sastrawidana, dkk., 2008).

Batu vulkanik yang digunakan sebagai media pengamobil bakteri diambil dari
lereng gunung Batur, Kintamani, Bali. Batu vulkanik dihancurkan untuk
memperoleh ukuran diameter 0,1 -0,2 cm kemudian dicuci dengan akuades
sebanyak 3 kali dan dikeringkan dalam oven suhu 105°C selama 1 jam. Batu

24
vulkanik diautoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Amobilisasi konsorsium
bakteri pada batu vulkanik mengikuti metode yang dilakukan Castilla et al.
(2003). Ke dalam reaktor anaerobik ditambah 100 mL konsorsium bakteri dari
lumpur limbah tekstil Mama & Leon, Tabanan, Bali sedangkan reaktor aerobik
ditambahkan 100 mL konsorsium bakteri dari lumpur sungai Badung, Denpasar,
Bali. Kedua reaktor tersebutmasing-masing ditambahkan nutrisi untuk
pertumbuhan bakteri, 2 g/L glukosa kemudian dibiarkan selama 3 hari untuk
pembentukan biofilm. Nutrien yang ditambahkan berupa media cair dengan
komposisi yang sama seperti tahap kultivasi bakteri. Pelekatan konsorsium bakteri
pada reaktor aerobik selama pendiaman dilakukan aerasi menggunakan aerator.
Setelah 3 hari cairan dalam bioreaktor dialirkan ke luar melalui keran untuk
mengeluarkan bakteri yang tidak melekat pada batu vulkanik. Pengamatan visual
pelekatan konsorsium bakteri pada batu vulkanik menggunakan scanning electron
microscope (SEM) sedangkan jumlah koloni yang melekat pada batu vulkanik
dihitung menggunakan metode total plate count (TPC). Koloni yang melekat pada
batu vulkanik dilepaskan dengan cara yang telah dilakukan oleh Taoufik et al.
(2004). sebanyak 25 gram batu vulkanik divortex dengan 5 mL air steril.
Supernatan dipisahkan dan batu vulkaniknya ditambahkan 5 mL air steril dan
divortex kembali. Supernatan digabung kemudian diambil 1 mL untuk diencerkan
sampai 106-1010 kali dan ditumbuhkan pada media agar menggunakan cawan
petri. Media agar yang digunakan untuk penumbuhan bakteri mempunyai
komposisi yang sama seperti pada tahap pemurnian bakteri. Cawan petri yang
telah berisi suspensi bakteri diinkubasi selama dua hari kemudian dihitung jumlah
koloni yang tumbuh (Sastrawidana, dkk., 2008).
Proses Pengolahan Limbah Tekstil Reaktor anaerobik-aerobik berisi
konsorsium bakteri lokal digunakan untuk mengolah limbah tekstil buatan. Hal ini
ditujukan untuk mencari waktu tinggal limbah optimum dalam masing-masing
reaktor. Waktu tinggal limbah optimum ini nantinya digunakan sebagai waktu
tinggal limbah pada pengolahan limbah yang diambil dari industri tekstil. Limbah
tekstil buatan (artifisial) dibuat dengan cara mencampurkan zat warna remazol
red, remazol blue, remazol yellow dan remazol black dengan konsentrasi total 200
mg/L. Proses pengolahan limbah tekstil buatan dilakukan sebagai berikut: 1000
mL limbah pada bak pengisi ditambahkan 50 mL media cair dan 2 g glukosa,
kemudian dikondisikan pada pH 7. Limbah dialirkan ke reaktor anaerobik secara
upflow dengan laju alir 15 mL/ menit selama 1 jam. Limbah dalam reaktor
anaerobik didiamkan dengan variasi waktu tinggal 1, 2, 3 dan 4 hari. Efluen dari
masing-masing waktu tinggal limbah diukur konsentrasi zat warna menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 579,5 nm. Hasil pengolahan
pada reaktor anaerobik selanjutnya dialirkan ke reaktor aerobik untuk dilakukan
pengolahan lanjutan pada kondisi aerobik dengan variasi waktu tinggal limbah 1,
2, 3 dan 4 hari sambil diaerasi menggunakan aerator. Efluen diukur konsentrasi
warna menggunakan metode spektrofotometri, COD menggunakan metode
refluks dan BOD5 menggunakan metode titrasi Winkler. Perlakuan pengolahan
limbah tekstil buatan diulang 3 kali (Sastrawidana, dkk., 2008).
Perombakan zat warna azo secara biologis sangat dipengaruhi oleh kondisi
pH lingkungan. Hasil kajian perombakan zat wama azo direct fast scarlet 4BS
yang dilakukan HeFang et al. (2004) menunjukkan bahwa perombakan pada pH 3
efisiensinya sebesar 73%, pada pH 4 adalah 83%, pada pH 7 adalah 95%

25
sedangkan pada pH 8 dan 10 adalah 90% dan 76%. Sedangkan hasil kajian
perombakan zat warna azo reactive violet 5 menggunakan bakteri konsorsium
RVM 11.1 yang dilakukan oleh Moosvi et al. (2005) melaporkan bahwa
perombakan pada pH di bawah 5,5 efisiensinya sangat rendah sedangkan
meningkat cepat pada kisaran pH 7 sampai 8,5.
Air limbah tekstil yang diambil dari industri tekstil sangat potensial
mencemari perairan (Tabel 1). Hal ini disebabkan karena nilai parameter kualitas
air seperti pH, TSS, TDS, COD dan BOD jauh di atas baku mutu limbah yang
dipersyaratkan dalam KepMen LH No.51/MENLH/10/1995 tentang baku mutu
limbah cair bagi kegiatan industri. Bioremediasi limbah tekstil menggunakan
biofilm konsorsium bakteri lokal dalam reaktor anaerobik-aerobik dengan waktu
tinggal limbah 6 hari mampu menurunkan nilai total dissolved solid (TDS) dari
6.205 mg/L menjadi 1.187 mg/L atau efisiensi penurunan TDS sebesar 80,87%.
Nilai padatan terlarut totaljika ditinjau dari KepMen LHNO.51/MENLH/10/ 1995
sudah memenuhi syarat, karena nilai ambang batas yang diperkenankan untuk
TDS dalam air limbah adalah 4000 mg/L. Sedangkan nilai
totalsuspendedsolid'(TSS) turun dari 2.688 mg/L menjadi 336 mg/L atau efisiensi
penurunan TSS sebesar 87,50%. Nilai TSS dalam limbah juga telah memenuhi
syarat, karena ambang batas yang diperkenankan sebesar 400 mg/L. Nilai BOD5
dan COD limbah tekstil sebelum diolah sebesar 907 mg/L dan 6.000 mg/L.
Namun, setelah diolah menggunakan biofilm konsorsium bakteri lokal dalam
reaktor anaerobik-aerobik dengan waktu tinggal limbah 6 hari nilai BOD5 dan
COD turun menjadi 55,29 mg/L dan 97,13 mg/L atau efisiensi penurunan BOD5
dan COD pada proses ini masing-masing sebesar 93,90% dan 98,38%. Nilai
BOD, dan COD hasil pengolahan di bawah baku mutu limbah industri sehingga
memenuhi syarat untuk bisa dibuang ke lingkungan (Sastrawidana, dkk., 2008).

Bakteri lokal yang diisolasi dari lumpur instalasi pengolahan air limbah tekstil dan
lumpur sungai Badung yang sering menjadi tempat pembuangan limbah tekstil
sangat potensial digunakan untuk merombak limbah tekstil. Pengolahan limbah
tekstil dengan kombinasi anaerobik-aerobik menggunakan biofilm konsorsium
bakteri lokal yang terdiri Aeromonas sp. ML6, Aeromonas sp. (ML14),
Aeromonas sp. (ML24), Pseudomonas sp. (ML8) dan Flavobacterium sp. (ML20)
pada reaktor anaerobik dan konsorsium Plesiomonas sp. SB 1, Plesiomonas sp.
(SB2), Vibrio sp. (SB1), Vibrio sp. (SB2) dan Vibrio sp. (SB3) pada reaktor
aerobik berlangsung sangat efisien. Efisiensi penurunan COD, BOD, TDS, TSS
dan perombakan warna pada pengolahan limbah tekstil dengan waktu tinggal
limbah dalam reaktor 6 hari secara berturut-turut adalah 98,38%, 93,90%,
80,87%, 87,50%dan 95,72%. Untuk memperkaya khasanah pemanfaatan
sumberdaya potensi lokal dalam pengolahan limbah tekstil sangat perlu dilakukan
ekplorasi bakteri dari sumber-sumber lain beserta modifikasi rancang bangun
reaktor pengolah limbah sehingga nantinya dapat menghasilkan teknologi
penanganan limbah yang efektif dan efisien (Sastrawidana, dkk., 2008).

26
DAFTAR PUSTAKA

Ajibola, V.O., Oney, S. J., Odeh, C. E., Olugbodi, T., and Umeh, U. G. 2005.
Biodegradation of indigo containing textile effluent using some strains of
bacteria. Appl Sci. 5, 853-855.

Amasuomo, E and Baird, J. 2016. The Concept of Waste and Waste Management.
Journal of Management and Sustainability. Vol. 6 (4)

Anderson, P. 2010. Activated sludge design, startup, operation, monitoring, and


troubleshooting. Ohio Water Environment Association

Blackburn, R. S., and Burkinshaw, S. M. 2002. A Greener to Cotton Dyeing With


Excellent Wash Fastness. Green Chemistry 4, 47-52.

Budiyanto, M.A.K. 2002. Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM.

Castilla, C. M., Toledo, I. B, Garcia, M. A. F., and Utrilla, J. R. 2003. Influence of


Support Surface Properties on Activity of Bacteria Immobilized on
Activated Carbons for Water Denitrification. Carbon 41, 17431749.

Dahruji, Wilianarti, P. F dan Hendarto T. 2017. Studi Pengolahan Limbah Usaha


Mandiri Rumah Tangga dan Dampak Bagi Kesehatan di Wilayah Kenjeran.
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol 1(1) :36-44.

Garima, T dan Singh, SP. 2014. Application of Bioremediation on Solid Waste


Management: A Review. Journal of J Bior emediation & Biodegradation.
Vol. 5(6)

Ghosh M, Singh SP. (2005). Comparative Uptake and Phytoextraction Study of


Soil Induced Chromium by Accumulator and High Biomass Weed Species.
Applied Ecology and Evironmental Research 3(2): 67-79.

HeFang, HuWenrong and LiYuezhong. 2004. Biodegradation Mechanisms and


Kinetics of Azo Dys 4BS by a Micobial Consortia. Chemosphere. 57,
293301.

Juhriah dan M. Alam. (2016). Fitoremediasi Logam Berat Merkuri (Hg) pada
Tanah Dengan Tanaman Celosia plumose (Voss) Burv. Jurnal Biologi
Makassar, 1 (1): 1-8.

Juhriah, Sri Suhadiyah, dan Reski Mandasari. (2017). Respon Pertumbuhan


Tanaman Jengger Ayam Merah Celosia plumose (Voss) Burv. pada Tanah
Tercemar Logam Berat Kadmium (Cd). Jurnal Alam dan Lingkungan 8: 29-
35.

Machdar, I. 2018. Pengantar Pengendalian Pencemaran . Yogyakarta : CV Budi


Utama

xxvii
Mangkoedihardjo, S., Ratnawati, R. dan Alfianti, N. 2008. Phytoremediation of
Hexavalent Chromium Polluted Soil Using Pterocarpus indicus and
Jatropha curcas L. World Applied Sciences Journal Vol. 4: 338-342.

Mangkoedihardjo, S., dan Samudro, G. 2010. Fitoteknologi Terapan. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Marliani, N. 2014. PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH TANGGA (SAMPAH


ANORGANIK) SEBAGAI BENTUK IMPLEMENTASI DARI
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP. Jurnal Formatif. Vol 4(2): 124-
132.

Melgoza, R. M., Cruz, A., and Bultron, G. 2004. AnaerobicAerobic Treatment of


Colorants Present in Textile Effluents. Water Sci. Technol. 50, 149-155

Maulana, A., Supartono, Mursiti, S. 2017. Bioremediasi Logam Pb pada Limbah


Tekstil dengan Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis. Indonesian
Journal of Chemical Science, 6(3): 256-261.

Mona, E.M., Mabroukand, and Yusef, H. 2008. Decolorization of Fast Red by


Bacillus Subtilis HM. Appl Sci Res. 4(3), 262-269.

Moosvi, S., Keharia, H., and Madamwar, D. 2005. Decolourization of textile dye
reactive violet 5 by a newly isolated bacterial consortium RVM 11,1. World
J. Microbiol and Biotechnol. 21, 667-672.

Moutaouakkil, A., Zeroual, Y., Dzayri, F. Z., Talbi, M., Lee, K., and Blaghen, M.
2003. Bacterial Decolorization of The Azo Methyl Red by Enterobacter
agglomerans. Annal. Microbiol. 53,161-169

Munir, E. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: Suatu Teknologi


Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Medan: USU.

Patandungan A., Syamsidar HS., dan Aisyah. (2016). Fitoremediasi Tanaman Akar
Wangi (Vetiver zizanioides) terhadap Tanah Tercemar Logam Kadmium
(Cd) pada Lahan TPA Tamangapa Antang Makassar. Al-Kimia 4(2): 8-21.

Puspitasari , D.J., Khaeruddin. 2016. KAJIAN BIOREMEDIASI PADA TANAH


TERCEMAR PESTISIDA. KOVALEN Jurnal Riset Kimia. Vol. 2(3)

Ningtyas, R. 2015. Pengolahan Limbah dengan Proses Lumpur Aktif (Activated


Sludge Process). Ejournal. Vol 1(1)

Padmavathy, S., Sandhya, S., Swaminathan, K., Subrahmanyam, Y. V.,


Chakrabarti, T., and Kaul, S. N. 2003. Aerobic Decolorization of Reactive
Azo Dyes in Presence of Various Cosubstrates. Chem and Biochem. Eng.
17(2), 147-151.

xxviii
Pipeline, Spring 2003, Vol.14, No.2.

Purwanto, A. W. (2006). Sansevieria: Flora Cantik Penyerap Racun. Yogyakarta:


Kanisius.

Ratnawati, R., dan Fatmasari, R. D. 2018. Fitoremidiasi Tnah Tercemar Logam


Timbal (Pb) Menggunakan Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria
trifasciata) dan Jengger Ayam (Celosia plumosa). Jurnal Teknik
Lingkungan Vol. 3(2): 62-69

Ratnawati, R., dan Talarima, A. (2017), Subsurface (SSF) Constructed Wetland


untuk Pengolahan Air Limbah Laundry . Jurnal Waktu, 15 (2): 1-6. Tangahu,
VT., dan Ningsih, DA., (2016), Uji Penurunan Konsentrasi COD, BOD
pada Limbah Cair Pewarnaan Batik menggunakan Scirpus grossus dan Iris
pseudacorus dengan Sistem Pemaparan Intermittent.

Russ, R., Rau, J., and Stolz, A. 2000. The function of Cytoplasmic Flavin
Rreductases in The Reduction of Azo Dyes by Bacteria. Appl. Environ.
Microbiol. 66, 1429-1434.

Sastrawidana, I. D. K., Lay, B. W., Fauzi, A. M., dan Santosa, D. A. 2008.


Pemanfaatan Konsorsium Bakteri Lokal untuk Bioremidiasi Limbah Tekstil
Menggunakan Sistem Kombinasi. Berita Biologi Vol. 9(2): 123-132

Sidauruk,L dan Sipayung, P. 2015. FITOREMEDIASI LAHAN TERCEMAR DI


KAWASAN INDUSTRI MEDAN DENGAN TANAMAN HIAS. Jurnal
Pertanian Tropik. Vol. 2(2)

Singh BK dan Kuhad RC. 2000. Degradation of the pesticidelindane by white-rot


fungi Cyathus bulleri and Phanerochaete sordida. Pest Manag Sci. 56: 142–
146

Sperling, M.V. 2007. Activated sludge and aerobic biofilm reactor. Ejournal
University of Minas Gerais Brazil

Suhendrayatna. 2001. Bioremoval Logam Berat dengan Menggunakan


Mikroorganisme: Suatu Kajian Kepustakaan. (Heavy Metal Bioremoval by
Microorganisms: A Literature Study) Sinergy Forum: PPI Tokyo Institute of
Technology.

Sulistyorini, L. 2005. PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN CARA


MENJADIKANNYA KOMPOS. JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN.
VOL. 2 (1) : 77 – 84

Taoufik, J., Zeroual, Y., Moutaouakkil, A., Moussaid, S., Dzairi, F. Z., Talbi, M.,
Hammoumi, A., Belghmi, K., Lee, K., Loufi, M., and Blaghen, M. 2004.
Aromatichydrocarbons removal by immobilized bacteria (Pseudomonas sp.,
Staphylococcus sp.) in fluidized bed bioreactor. Annals of Microbiol. 54(2),

xxix
189-200.

Telke, A., Kalyani, D., Jadhav, J., and Govindwar, S. 2008. Kinetics and
Mechanism of Reactive Red 141 Degradation by a Bacterial Isolat
Rhizobium Radiobacter MTCC 8161. Ada Chim. Slov.SS, 320-329.

Vidali, M. 2011. Bioremediation. An overview. Pure Appl. Chem. 73: 1163–1172.

Yoo, E. S. 2000. Biological and Chemical Mechanisms of Reductive


Decolorization of Azo Dyes [Dissertation] Genehmigte Berlin.

Yusuf, M., Achmad Z., dan Ardy A. (2014). Fitoremediasi Tanah Tercemar Logam
Berat Pb dan Cd Dengan Menggunakan Tanaman Lidah Mertua
(Sansevieria trifasciata).

xxx