Anda di halaman 1dari 24

BAB I

KONSEP DASAR
A. Pengertian
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “ Skizo “ yang artinya retak atau pecah (split), dan
“ frenia “ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah
seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian ( Hawari, 2003).
Schizofrenia merupakan gangguan psikotik yang merusak yang dapat melibatkan
gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), pembicaraan, emosi dan
perilaku. Keyakinan irasional tentang dirinya atau isi pikiran yang menunjukkan kecurigaan
tanpa sebab yang jelas, seperti bahwa orang lain bermaksud buruk atau bermaksud
mencelakainya (Raboch, 2007).\

B. Etiologi
1. Teori somatogenik
a. Keturunan
Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8
%, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita
Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998;
215 ).
b. Endokrin
Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu
pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak
dapat dibuktikan.
c. Metabolisme
Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung
extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada
penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam
pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.
d. Susunan saraf pusat
Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek
otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan
postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.
2. Teori Psikogenik
a. Teori Adolf Meyer
Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat
ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer
mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat
mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi
yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan
orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
b. Teori Sigmund Freud
Skizofrenia terdapat
1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik
2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi
suatu regresi ke fase narsisisme
3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak
mungkin.
c. Eugen Bleuler
Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang
terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan
perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer
(gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder
(waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).
d. Teori lain
Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab
antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah
seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.

C. Patofisiologi
Prevalensi penderita schizophrenia di Indonesia adalah 0,3 – 1 % dan biasanya timbul
pada usia sekitar 18 - 45 tahun. Schizophrenia disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
faktor genetik, faktor lingkungan dan faktor keluarga. Schizophrenia tidak hanya
menimbulkan penderitaan bagi individu penderitanya tetapi juga bagi orang-orang terdekat (
Arif, 2006). Penderita schizophrenia sering kali mengalami gejala positif dan negatif yang
memerlukan penanganan serius. Penderita schizophrenia juga mengalami penurunan motivasi
dalam berhubungan sosial, perilaku ini sering tampak dalam bentuk perilaku autistic dan
mutisme.
Akibat adanya penurunan motivasi ini sering tampak timbulnya masalah keperawatan
isolasi sosial menarik diri dan jika tidak diatasi dapat menimbulkan perubahan persepsi
sensoris halusinasi. Halusinasi yang terjadi pada penderita schizophrenia tidak saja
disebabkan oleh perilaku isolasi sosial tetapi juga dapat disebabkan oleh gangguan konsep
diri harga diri rendah. Dampak dari halusinasi yang timbul akibat schizophrenia ini sangat
tergantung dari isi halusinasi. Jika isi halusinasi mengganggu, maka penderita schizophrenia
akan cenderung melakukan perilaku kekeeraan sedangkan halusinasi yang isinya
menyenagkan dapat mengganggu dalam berhubungan sosial dan dalam pelaksanaan aktivitas
sehari-hari termasuk aktivitas perwatan diri ( Stuart, 2007).
Schizophrenia sering dimanifestasikan dalam bentuk waham, perilaku katatonik, adanya
penurunan motivasi dalam melakukan hubungan sosial serta penurunan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. Waham yang dialami pasien schizophrenia dapat berakibat pada
kecemasan yang berlebihan jika isi wahamnya tidak mendapatkan perlakuan dari lingkungan
sehingga berisiko menimbulkan perilaku kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri, orang
lain, dan lingkungan. Adanya perilaku katatonik, menyebabkan perasaan tidak nyaman pada
diri penderita, hal ini karena kondisi katatonik ini berdampak pada hambatan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.
Hambatan dalam aktivitas sehari-hari menyebabkan koping individu menjadi tidak
efektif yang dapat berlanjut pada gangguan konsep diri harga diri rendah dan bila tidak
diatasi berisiko menimbulkan perilaku kekerasan ( Ingram, 1996). Penderita dapat mengalami
ambivalensi, kondisi ini dapat menimbulkan terjadinya penurunan motivasi dalam melakukan
aktivitas perawatan diri dan kemampuan dalam berhubungan sosial dengan orang lain.
Adanya ambivalensi membuat penderita menjadi kesulitan dalam pengambilan keputusan
sehingga dapat berdampak pada penurunan motivasi dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Penderita schizophrenia yang menunjukkkan adanya gejala negatif ambivalensi ini, sering
kali dijumpai cara berpakaian dan berpenampilan yang tidak sesuai dengan realita seperti
rambut tidak rapi, kuku panjang, badan kotor dan bau ( Rasmun, 2007). Prognosis untuk
schizophrenia pada umumnya kurang begitu menggembirakan sekitar 25 % pasien dapat
pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat sebelum munculnya
gangguan tersebut. Sekitar 25% tidak pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung
memburuk, dan sekitar 50 % berada diantaranya ditandai dengan kekambuhan periodik dan
ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali akan waktu singkat ( Arif, 2006)

D. Manifestasi Klinis
Menurut Keltner et al (1995), gejala-gejala ini dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori :
1. Gangguan Persepsi
a. Halusinasi
Adalah pengalaman sensori yang terjadi tanpa stimulus dari luas. Menurut Moller dan
Murphy dalam Stuart dan Sundeen (1997) tingkatan halusinasi dibagi menjadi 4 tingkatan
yaitu :

1) Tahap 1 Comforting
Tingkat cemas sedang, halusinasi secara umum adalah sesuatu yang
menyenangkan.Pengalaman halusinasi karena emosi yang meningkat seperti cemas, kesepian,
rasa bersalah, takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang nyaman untuk
melepaskan cemas. Individu mengenal bahwa pikiran dan pengalaman sensori dalam kontrol
kesadaran jika cemas dapat dikelola. Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a) Meringis atau tertawa pada tempat yang tidak tepat.
b) Menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.
c) Pergerakan mata yang cepat.
d) Respon verbal pelan seperti jika sedang asyik.
e) Diam dan tampak asyik.
2) Tahap II
Pengalaman sensori dari beberapa identifikasi indera terhadap hal yang menjijikkan
dan menakutkan. Halusinator mulai kehilangan control dan ada usaha untuk menjauhkan diri
dari sumber stimulus yang diterima . Individu mungkin merasa malu dengan adanya
pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain. Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a) Meningkatnya system syaraf otonom, tanda dan gejala dari cemas seperti meningkatnya nadi,
pernafasan dan tekanan darah.
b) Lapang perhatian menjadi sempit
c) Asyik dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan
halusinasi atau realitas.
3) Tahap III
Controlling tingkat kecemasan berat, pengalaman sensori menjadi hal yang menguasai.
Halusinator mencoba memberi perintah , isi halusinasi mungkin menjadi sangat menarik bagi
individu. Individu mungkin mengalami kesepian , jika sensori yang diberikan berhenti.
Psychotic. Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a. Perintah langsung oleh halusinasi dapat diikuti.
b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain.
c. Lapang perhatian hanya beberapa detik aau menit.
d. Gejala fisik dan cemas berat seperti berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti
perintah.
4) Tahap IV
Conquering, tingkat cemas, panik, umumnya halusinasi menjadi terperinci dan
khayalan tampak seperti kenyataan. Pengalaman sensori mungkin mengancam jika individu
tidak mengikuti perintah. Halusinasi mungkin memburuk dalam 4 jam atau sehari atau sehari
jika tidak ada intervensi terapeutik. Tingkah laku yang dapat diobservasi :
a) Teror keras pada tingkah laku seperti panic.
b) Potensial kuat untuk bunuh diri.
c) Aktivitas fisik yang menggambarkan isi dai halusinasi seperti kekerasan, agitasi, menarik diri
atau katatonia.
d) Tidak dapat berespon pada perintah yang kompleks.
e) Tidak dapat berespon pada lebih satu orang.
b. Delusi
Adalah gejala yang merupakan keyakinan palsu yang timbul tanpa stimulus luar yang
cukup dan mempunyai cirri-ciri realistic, tidak logis, menetap, egosentris, diyakini
kebenarannya oleh pasien sebagai hal yang nyata, pasien hidup dalam wahamnya, keadaan
atau hal yang diyakini itu bukan merupakan bagian dari sosiokultural setempat. Maam-
macam waham :
1) Waham rendah pikir, pasien percaya bahwa pikirannya, perasaannya, ingkah lakunya
dikendalikan dari luar.
2) Waham kebesaran, suatu kepercayaan bahwa penderita adalah orang yang penting dan
berpengaruh dan mungkin mempunyai kelebihan kekuatan yan terpendam atau benar-benar
merakanfiur orang kuat sepanjang sejarah.
3) Waham diancam, suatu keyakinan bahwa dirinya selalu diancam, diikti atau ada sekelompok
orang yang memenuhinya.
4) Waham tersangkut, adana kepercayaan bahwa seala sesatu yang terjadi di sekelilngnya
mempai hubungan pribadi seperti perinah atau pesan khusus.
5) Waham bizarre, pasien sering memperlihakan adanya waham soatik msalnya pasien percaya
adanya benda ang begerak-gerak di dalam ususnya. Yang termasuk waham ini adalah waham
sedot pikir, waham sisip pikir, waham siar pikir, waham kendali pikir.
c. Paranoid dimanifestasikan dengan interpretasi yang menetap bahwa tindakan orang lain
sebagai suatu ancaman atau ejekan.
d. Ilusi adalah kesalahan dalam menginterpretasikan stimulus dari luar yang nyata.
2. Gangguan Proses Pikir
a. Flight of idea, serangkaian pikiran yang diucapkan secara cepat disertai perpindahan materi
pembicaraan yang menddak tanpa alas an logic yang nyata.
b. Retardation, adalah lambatnya aktifitas mental sebagai contoh pasien mengatakan saya tidak
dapat berpikir apa-apa.
c. Blocking, putusnya pikiran ang ditandai dengan putusnya secara sementara atau terhentinya
pembicaraan.
d. Autisme, pikiran yang timbul dari fantasi.
e. Ambivalensi adalah keinginan yang sangat pada dua hal yang berbeda pada waktu yang
sama dan orang yang sama.
f. Kehilangan asosiasiidak adanya hubungan pola pikir, ide dan topik yang normal, tiba-tiba
beralih tanpa menunjukkan hubungan dengan topic sebelumnya.
3. Gangguan Kesadaran
Manifestasi dari ganguan kesadaran antara lain bingung, inkoherensi pembicaraan,
pembicaraan ang tidak dapat dimengerti, terdapat distrsi tata bahasa atau susunan kalimat,
sering memakai istilah aneh, inkherensi timbul karena pikiran kacau sehingga beberapa
pikiran dikeluarkan dalam satu kalimat, clouding atau kesadaran berkabut, kesadaran
menurun disertai gangguan persepsi dan sikap.
4. Gangguan Afek
a. Afek yang tidak tepat, suatu keadaan disharmoni afek yang tidak sesuai dengan tingkah laku
pasien.
b. Afek tumpul, ketidakmampuan membangkitkan emosi dan berespon terhadap berita duka.
c. Afek datar, ketidakmampuan membangkitkan respon terhadap berbagai respon.
d. Afek labil, kondisi emosi yang cepat berubah.
e. Apatis, warna emosi yang tumpul disertai keacuhan atau ketidakpedulian.
f. Euforia, gembira berlebihan, aa peningkatan perasaan dari biasanya selalu merasa optimis,
senang dan percaya diri, bersikap meyakinkan

E. KOMPLIKASI
Menurut Keliat (1996), dampak gangguan jiwa skizofrenia antara lain :
1. Aktifitas hidup sehari-hari
Klien tidak mampu melakukan fungsi dasar secara mandiri, misalnya kebersihan diri,
penampila dan sosialisasi.
2. Hubungan interpersonal
Klien digambarkan sebagai individu yang apatis, menarik diri, terisolasi dari teman-
teman dan keluarga. Keadaan ini merupakan proses adaptasi klien terhadap lingkungan
kehidupan yang kaku dan stimulus yang kurang.
3. Sumber koping
Isolasi social, kurangnya system pendukung dan adanya gangguan fungsi pada klien,
menyebabkan kurangnya kesempatan menggunakan koping untuk menghadapi stress.
4. Harga diri rendah
Klien menganggap dirinya tidak mampu untuk mengatasi kekurangannya, tidak ingin
melakukan sesuatu untuk menghindari kegagalan (takut gagal) dan tidak berani mencapai
sukses.
5. Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan, ketrampilan aatau interes yang dimiliki dan pernah
digunakan klien pada waktu yang lalu.
6. Motivasi
Klien mempunyai pengalaman gagal yang berulang.

7. Kebutuhan terapi yang lama


Klien disebut gangguan jiwa kronis jika ia dirawat di rumah sakit satu periode selama
6 bulan terus menerus dalam 5 tahun tau 2 kali lebih dirawat di rumah sakit dalam 1 tahun.
F. Penatalaksanaan
1. Medis
Obat antipsikotik digunakan untuk mengatasi gejala psikotik (misalnya perubahan
perilaku, agitasi, agresif, sulit tidur, halusinasi, waham, proses piker kacau). Obat-obatan
untuk pasien skizophrenia yang umum diunakan adalah sebaga berikut :
a. Pengobatan pada fase akut
1) Dalam keadaan akut yang disertai agitasi dan hiperaktif diberikan injeksi :
a) Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
b) Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8 jam sampai keadaan akut
teratasi.
c) Kombinsi haloperidol 5 mg intra muscular kemudian diazepam 10 mg intra muscular dengan
interval waktu 1-2 menit.
2) Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet :
a) Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
b) Klorpromazin 2x100 mg per hari
c) Triheksifenidil 2x2 mg per hari
b. Pengobaan fase kronis
Diberikan dalam bentuk tablet :
1) Haloperidol 2x 0,5 – 1 mg perhari
2) Klorpromazin 1 x 50 mg sehari (malam)
3) Triheksifenidil 1- 2x 2 mg sehari
a) Tingkatkan perlahan-lahan, beri kesempatan obat untuk bekerja, disamping itu melakukan
tindakan perawatan dan pendidikan kesehatan.
b) Dosis maksimal
Haloperidol : 40 mg sehari (tablet) dan klorpromazin 600 mg sehari (tablet).
c. Efek dan efek samping terapi
1) Klorpromazine
Efek : mengurangi hiperaktif, agresif, agitasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi, hipotensi ortostatik.
2) Haloperidol
Efek : mengurangi halusinasi
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, sedasi, hipotensi ortostatik.
2. Tindakan keperawatan efek samping obat
a. Klorpromazine
1) Mulut kering : berikan permen, es, minum air sedikit-sedikit dan membersihkan mulut
secara teratur.
2) Pandangan kabur : berikan bantuan untuk tugas yang membutuhkan ketajaman penglihatan.
3) Konstipasi : makan makanan tinggi serat
4) Sedasi : tidak menyetir atau mengoperasikan peralatan ang berbahaya.
5) Hipoensi ortostatik : perlahan-lahan bangkit dari posisi baring atau duduk.
b. Haloperidol
1) Mulut kering : berikan permen, es, minum air sedikit-sedikit dan membersihkan mulut
secara teratur.
2) Pandangan kabur : berikan bantuan untuk tugas yang membutuhkan ketajaman penglihatan.
3) Konstipasi : makan makanan tinggi serat
4) Sedasi : tidak menyetir atau mengoperasikan peralatan ang berbahaya.
5) Hipotensi ortostatik : perlahan-lahan bangkit dari posisi baring atau duduk

G. Diagnosa Keperawatan
1. Perilaku Kekerasan
a. Definisi
Suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara
fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang merupakan respon dari
kecemasan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai
ancaman.(Yoseph,2007)
b. Faktor yang berhubungan :
1) Kurang rasa percaya : kecurigaan terhadap orang lain
2) Panik
3) Rangsangan katatonik
4) Reaksi kemarahan/amok
5) Instruksi dari halusinaasi
6) Pikiran delusional
7) Berjalan bolak balik
8) Rahang kaku; mengepalkan tangan, postur tubuh yang kaku
2. Perubahan Persepsi Sensoris : Halusinasi
a. Definisi
Pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera dimana orang tersebut sadar
dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional,
organik, atau histerik. (Maramis,2004)
b. Faktor yang berhubungan :
1) berbicara dan tertawa sendiri
2) bersikap seperti mendengarkaan sesuatu ( memiringkan kepala kesatu sisi seperti jika
seseorang sedang mendengarkan sesuatu ).
3) Berhenti berbicara ditengah-tengah kalimat unutk mendengarkaan sesuatu
4) Disorientasi
5) Konsentrasi rendah
6) Pikiran cepat berubah-ubah
3. Isolasi Sosial : Menarik Diri
a. Definisi
Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau
keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk
membuat kontak. (Carpenito, 1998)
b. Faktor yang Berhubungan
1) Menyendiri dalam ruangan.
2) Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata ( mutisme, autism).
3) Sedih, afek datar .
4) Adanya perhatian daan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya.
5) Berfikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri, tindakan yang berulang-ulang dan
bermakna.
6) Mendekati perawat untuk berinteraksi namun kemudian menmolak untuk berespons terhadap
penerimaan perawat terhadap dirinya.
7) Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian kepada orang lain.
4. Gangguan Proses Pikir : Waham
a. Definisi
Menurut Townsend (1998) perubahan proses pikir waham merupakan suatu keadaan
dimana seseorang mengalami kelainan dalam mengoperasionalkan kognitif dan aktivitas.
b. Faktor yang Berhubungan
1) Waham (ide-ide yang salah)
2) Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi
3) Kewaspadaan yang berlebihan
4) Kelainan rentang perhatian-distrakbilitas
5) Ketidaktepatan interpretasi lingkungan
6) Kelainan kemampuan mengambil / membuat keputusan , menyelesaikan masalah , alasan ,
pemikiran abstrak atau konseputulisasi , berhitung
7) Perilaku sosial yang tidak sesuai ( merefleksikan ketidaktepatan pemikiran ).
5. Defisit Perawatan Diri
a. Definisi
Suatu keadaan dimana seseorang mengalami kerusakan kemampuan untuk melakukan
atau menyelesaikan kegiatan hidup sendiri. (Townsend, 1998)
b. Faktor yang Berhubungan
1) mengalami kesukaraan daaalam mengambil atau ketidakmampuan untuk membawa makanan
dari piring kedaalam mulut.
2) ketidakmampuan / menolak untuk membersihkan tubuh atau bagian-bagian tubuh.
3) kelainan kemampuan atau kurangnya minat dalam memilih pakaiaan yang sesuai untuk
dikenakan, berpakaian, merawat atau mempertahankan penampilan pada tahap yang
emuaskan.
4) Ketidakmampuan atau tidak adanya keinginan untuk melakukan defekasi dan berkemih tanpa
bantuan.

H. Fokus Intervensi
1. Resiko tinggi perilaku kekerasan
a. Tujuan :
Setelah dilakuakn tindakan keperawatan, penderita dapat mengontrol perilaku kekerasan
dengan kriteria hasil :
1) Bersedia mengungkapkan perasaan
2) Mengungkapkan perasaan kesal dan marah
3) Dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan
4) Dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
5) Ansietas dipertahankan pada tingkat dimana pasien tidak menjadi agresif
6) Pasien memperlihatkan rasa percaya kepada oraang lain disekitarnya
7) Pasien mempertahankan orientasi realitanya.
b. Intervensi
1) Pertahankan agar lingkungan pasien pada tingkat stimulus yang rendah (penyinaran rendah
dan tingkat kebisingan rendah ).
Rasional :
Tingkat ansietas akan meningkat dalam lingkungan yang penuh stimulus. Individu-individu
yang ada mungkin dirasakan sebagai suatu ancaman karena mencurigakan, sehingga akhirnya
membuat pasien agitasi
2) Observasi secara ketat perilaku pasien (setiap 15 menit). Kerjakaan hal ini sebagai suatu
kegiatan yang rutin untuk pasien untuk menghindari timbulnya kecurigaan dalam diri pasien
Rasional :
Dengan demikian intervensi yang tepat dapat diberikan segera dan untuik selalu memastikan
bahwa pasien beerada dalam keadaan aman.
3) Singkirkan semua benda-benda yang dapat membahayakan dari lingkungan sekitar pasien
Rasional:
Jika pasien berada dalam keadaan gelisah, bingung, pasien tidak akan menggunakan benda-
benda tersebut untuk membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
4) Coba salurkan perilaku merusak diri ke kegiatn fisik untuk menurunkan ansietas pasien
(mis,memukuli karung pasir).
Rasional :
Latihan fisik adalah suatu cara yang aman dan efektf untuk menghilaangkan ketegangan yang
terpendam.
5) Staf harus mempertahankan daan menampilkan perilaku yang tenang terhadap pasien.
Rasional :
Ansietas menular dan dapat ditransfer dari perawat kepada pasien.
6) Miliki cukup staf yang kuat secara fisik yang dapat membantu mengamankan pasien jika
dibutuhkan.
Rasional :
Hal ini dibutuhkan untuk mengontrol situasi dan juga memberikan keamanan fisik kepada
staf.
7) Berikan obat-obatan stranquliser sesuai program terapi pengobatan. Pantau keefektifan obat-
obatan dan efek sampingnya.
Rasional :
Cara mencapai batasaan alternatif yang paling sedikit harus diseleksi ketika merencanakan
intervensi untuk psikiatri.
8) Jika pasien tidak menjadi tenang dengan cara “ mengatakan sesuatu yang lebih penting
daripada yang dikatakan oleh pasien atau dengan obat-obatan, gunakan alat-alat pembatasan
gerak ( fiksasi ). Pastikan bahwa anda memiliki cukup banyak staf untuk membantu. Jika
pasien mempunyai riwayat menolak obat-obatan, berikan obat setelah fiksasi dilakukan.
9) Observasi pasien yang dalam keadaan fiksasi setiap 15 menit ( sesuai kebijakan institusi ).
Pastikan bahwa sirkulasi pasien tidak terganggu ( periksa TTV dan ekstremitas ). Bantu
pasien untuk memenuhi , kebutuhannya untuk nutrisi, hidrasi dan eliminasi. Berikan posisi
yang memberikan rasa nyaman untuk pasien dan dapat mencegah aspirasi.
Rasional :
Keamanan klien merupakn prioritas keperawatan. Begitu kegelisahan menurun, kaji kesiapan
pasien untuk dilepaskan dari fiksasi.Lepaskan satu persatu fiksasi pasien atau dikurangi
secara bertahap, jangan sekaligus, sambil terus mengkaji respons pasien.
2. Perubahan Persepsi Sensoris : Halusinasi
a. Tujuan
1) Jangka Panjang :
Pasien dapat mendefinisikan dan memeriksa realitas, mengurangi terjadinya halusinasi.
2) Jangka Pendek :
Pasien dapat mendiskusikan isi halusinasinya dengan perawat dalaam waaktu 1 minggu.
b. Kriteria hasil
1) Pasien dapat mengakui bahwa halusinasi terjadi pada saat ansietas meningkat secara ekstrem.
2) Pasien dapat mengatakan tanda-tanda peningkatan ansietas dan menggunakan tehnik-tehnik
tertentu untuk memutus ansietas tersebut
c. Intervensi dan rasional :
1) Observasi pasien dari tanda-tanda halusinasi (sikap seperti mendengarkan sesuatu, bicara
atau tertawa sendiri, terdiam ditengah pembicaraan ).
Rasional :
Intervensi awal akan mencegah respons agresif yang diperintah dari halusinasinyaa.
2) Hindari menyentuh pasien sebelum mengisyaratkan kepadanya bahwa kita juga tidak apa-
apa diperlakukan seperti itu
Rasional :
Pasien dapat saja mengartikan sentuhan sebagaai suatu ancaman dan berespons dengan cara
yang agresif.
3) Sikap menerima akan mendorong pasien untuk menceritakan isi halusinaasinya dengan
perawat.
Rasional:
Penting untuk mencegah kemungkinan terjadinya cedera terhadap pasien atau orang lain
karena adanya perintah dari halusinasi.
4) Jangan dukung halusinasi. Gunakan kata-kata “suara tersebut” daripada kata-kata “mereka”
yang secara tidak langsung akan memvalidasi hal tersebut. Biarkan pasien tahu bahwa
perawat tidak sedang membagikaan persepsi. Katakan “meskipun saya menyadari bahwa
suara-suara tersebut nyata untuk anda, saya sendiri tidak mendengarkan suara-suara yang
berbicara apapun.”
Rasional :
Perawat harus jujur kepada pasien sehingga pasien menyadari bahwa halusinasi tersebut
adalah tidak nyata.

5) Coba untuk mengalihkan pasien dari halusinasinya.


Rasional :
Keterlibatan pasien dalam kegiatan-kegiataan interpersonal dan jelaskan tentang situasi
kegiatan tersebut, hal ini akan menolong pasien untuk kembaliu kepada realita.

3. Gangguan Proses Pikir : Waham


a. Tujuan
1) Jangka panjang
Pasien dapat menyatakan berkurangnya pikiran-pikiran waham. Pasien mampu membedaka
antara pikiran waham dengan realita skizofrenik , delusi , dan kelainan-kelainan psikosis
2) Jangka pendek
Pasien dapat mengakui dan mengatakan bahwa idi-ide yang salah itu terjadi khususnya pada
saat ansietas meningkat dalam 2 minggu
b. Kriteria hasil
1) Mengungkapkan secara verbal refleksi dan proses pikir yang berorientasi pada realita
2) Pasien dapat mempertahankaan aktivitas sehari-hari yang mampu dilakukan
3) Pasien mampu menahan diri dari berespons terhadaap pikiran-pikiraan delusi, bila pikiran-
pikiran tersebut muncul.
c. Intervensi dan Rasional
1) Tunjukkan bahwa anda menerima keyakinan pasien yang mendukung keyakinan tersebut.
Rasional :
Penting untuk dikomunikasikan kepada pasien bahwa anda tidak menerima delusi sebagai suatu
realita.
2) Jangan menambah atau menyangkal keyaakinan pasien. Gunakan tehnik keraguan yang
beralasan sebagai tehnik terapiutik : saya merasa sukar untuk mempercayai hal tersebut
Rasional :
Membantah pasien atau menyangkal akan menghlangi perkembangan hubungan saling percaya.
3) Bantu paasien untuk mencoba menghubungkan keyakinan-keyakinan yang salah tersebut
dengan peningkataan ansietas yang dirasakan oleh pasien. Diskusikan tehnik-tehnik yang dapat
digunakan untuk mengontrol ansietas (misalnya latihan-latihan relaksasi)
Rasional :
Jika pasien dapat belajar untuk menghentikan ansietas yangt meningkat, pikiran wahamnya
mungkin dapat dicegah
4) Fokus dan kuatkan pada realita. Kurangi lamanya ingatan tentang pikiran irasional. Bicara
tentang kejadian-kejadian dan orang yang nyata
Rasional :
Diskusi yang berfokus pada ide-ide yang salah tidak akan berguna dan mencapai tujuan, dan
mungkin membuat psikosisnya menjadi lebih buruk.
5) Bantu dan dukung pasien dalam usahanya untuk mengungkapkan secara verbal perasaan
ansietas, takut atau tidak aman
Rasional :
Ungkapan perasaan secara verbal dalam lingkungan yang tidak mengancam akan menolong
pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang mungkin sudah dipendam cukup lama.

3. Isolasi Sosial : Menarik Diri


a. Tujuan
1) Jangka panjang
Pasien dapat secara sukarela meluangkan waktu bersama paaaasien lain dan perawat
dalam aktivitas kelompok di unit rawat inap.
2) Jangka pendek :
Pasien siap masuk dalam terapi aktifitas ditemani oleh seorang perawat yang dipercayanya
dalamn satu minggu.
b. Kriteria hasil
1) Pasien dapat mendemonstrasikan keinginan dan hasrat untuk bersosialisasi dengan orang lain
2) Pasien dapat mengikuti aktivitas kelompok tanpa disuruh
3) Pasien melakukan pendekatan interaaaaksi satu-satu dengan orang lain dengan cara yang
sesuai / dapat diterima.

b. Intervensi dan Rasional


1) Perlihatkan sikap menerima dengan cara melakukan kontak yang sering tapi singkat.
Rasional :
Sikap menerima dari orang lain akan meningkatkan harga diri pasien dan memfasilitasi rasa
percaya kepaada oraang lain.
2) Perlihatkan penguatan positif kepada pasien
Rasional :
Membuat pasien merasa menjadi seseorang yang akan berguna
3) Temani pasien untuk memperlihatkan dukungan selama aktivitas kelompok yang mungkin
merupakan hal yang menakutkan atau sukar untuk pasien
Rasional :
Kehadiran seseorang yang dipercayai akan memberikan rasa aman kepada pasien
4) Jujur dan menepati semua janji
Rasional :
Kejujuran dan rasa membutuhkan menimbulkan suatu hubungan saling percaya.
5) Orientasikan pasien pada waktu, orang, tempat, sesuai kebutuhan.
6) Berhati-hatilah dengan sentuhan. Biarkan pasien mendapat ruangan extra dan kesempatan
untuk keluar ruangan jika pasien menjadi begitu ansietas.
Rasional :
Pasien yang curiga dapat saja menerima sentuhan sebagai suatu bahasa tubuh yang
mengisyaratkan ancaman.
7) Berikan obat-obat penenang sesuai program pengobatan pasien. Pantau keefektifan dan efek
samping obat.
Rasional :
Obat-obatan anti psikosis menolong untuk menurunkan gejala-gejala psikosis
8) Diskusikan dengan pasien tanda-tanda peningkatan ansietas dan tehnik untuk memutus respon
( misalnya latihan relaksasi)
Rasional :
Perilaku maladaptif seperti menarik diri dan curiga dimanifestasikan selama terjadi peningkatan
ansietas.
9) Berikan pengakuan dan penghargaan tanpa disuruh pasien dapat berinteraksi dengan orang
lain.
Rasional :
Penguatan akan meningkatkan harga diri pasien dan mendoirong terjadinya pengulangan
perilaku tersebut.

4. Defisit perawatan diri


a. Tujuan
1) Jangka panjang
Pasien mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri
dan mendemonstrasikan suatu keinginan untuk melakukannya.
2) Jangka Pendek
Pasien dapat mengatakan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1
minggu.
b. Kriteria hasil :
1) pasien makan sendiri tanpa bantuan
2) pasien memilih pakaian yang sesuai, berpakaian merawat dirinya taaanpa bantuan
3) pasien mempertahankan kebersihan diri secara optimal dengan mandi setiap hari dan
melakukan prosedur defekasi dan berkemih tanpa bantuan.
c. Intervensi dan Rasional:
1) Dukung pasien untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai tingkat kemampuan pasien.
Rasional :
Keberhasilan menampilkan kemandirian dalam melakukan suatu aktivitas akan
meningkatkanharga diri.
2) Dukung kemandirian pasien, tapi berikan bantuan saat pasien tidak mampu melakukan
beberapa kegiatan.
Rasional :
Kenyamanan dan keamanan pasien merupakan prioritas dalam keperawatan
3) Berikan pengakuan dan penghargaan positif untuk kemampuannya yang mandiri
Rasional :
Penguatan positif akan meningkatkan harga diri daan mendukung terjadinya
pengulanganperilaku yang diharaapkan.
4) Perlihatkan pasien secara kongkrit, bagaimana melakukan kegiatan yangf menurut pasien sulit
untuk dilakukannya.
Rasional :
Dengan berlakunya pikiran kongkrit, penjelasan harus diberikan sesuai dengan tingkat
pengertian yang nyata
5) Buat catatan secara terinci tentang masukan makanan dan cairan
Rasional :
Informasi penting untuk mendapatkan suatu pengkajian nutrisi yang adekuat.
6) Berikan makaanan kudapan dari cairan diantara waktu makan.
Rasional :
Pasien mungkin tidak mampu mentoleransi makanan dalam jumlah yang besar pada saat makan
dan mungkin untuk itu membutuhkan penambahan makanan diluar waktu makan.
7) Jika pasien tidak makan karena curiga dan takut diracuni, jika memungkinkan sarankan untuk
makanan tersebut dimakan secara bersama-sama.
Rasional :
Pasien akan melihat setiap orang makan dari hidangan yang sama sehingga kecurigaan
berkurang/hilang
8) Jika pasien mengotori dirinya, tetapkan jadwal rutin untuk kebutuhan BAB dab BAK. Bantu
pasien kekamar mandi sesuai jadwal yang telah ditetapkan sesuai kebutuhan, sampai pasien
mampu memenuhi kebutuhan tanpa bantuan.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


HALUSINASI PENDENGARAN PERTEMUAN I

1. Kondisi klien
a. Klien tampak ketakutan
b. Klien mengatakan mendengar suara-suara yang memperingatkan bahwa ada ular di
sekelilingnya
c. Klien bicara sendiri dan tertawa
2. Diagnosa keperawatan
Halusinasi Dengar
3. Tujuan Khusus:
a. Klien dapat Membina hubungan saling percaya dengan perawat
b. Klien mengenal halusinasi yang dialaminya
4. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya dengan teknik komunikasi terapeutik
b. Diskusikan tentang halusinasi yang sedang dialami klien
5. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1) Salam terapeutik : “Selamat pagi Mas. Perkenalkan nama saya Ni Made Raysita Dewi. Saya
senang dipanggil Made. Saya akan merawat Mas selama Mas di rumah sakit ini.
Nama lengkap Mas siapa ? Mas senang dipanggil apa ?
2) Evaluasi/validasi : “Bagaimana perasaan Mas hari ini ?”
3) Kontrak : “Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang suara-suara yang sering Mas
dengar? Berapa lama kita akan berbincang-bincang ? Bagaimana kalau 30 menit ? Dimana
tempat yang menurut Mas cocok untuk kita berbincang-bincang ? Bagaimana kalau di teras
depan ?

b. Kerja
1) “Coba ceritakan suara-suara yang Mas dengar.
2) Apakah Mas bisa mengenali suara-suara ?
3) Kalau Mas bisa mendengar, itu suara siapa?
4) Kapan suara tersebut muncul ?
5) Situasi yang bagaimana yang menurut Mas menjadi pencetus munculnya suara?
6) Berapa kali suara itu muncul dalam sehari ?
7) Apakah Mas merasa terganggu dengan suara-suara?
8) Apa yang Mas lakukan ketika suara-suara?
9) Apakah Mas mengikuti suara-suara?
10) Bagaimana perasaan Mas ketika suara-suara tersebut muncul ?
5. Terminasi
a. Evaluasi subyektif : “Saya senang sekali Mas sudah menceritakan tentang suara-suara yang
muncul selama ini. Bagaimana persaan Mas setelah kita berbincang-bincang hari ini ?
b. Evaluasi obyektif : Jadi seperti Mas katakan tadi bahwa suara yang Mas dengar adalah…..
Suara itu muncul pada saat…. Dalam sehari Mas bisa mendengar suara sebanyak….kali. yang
Mas lakukan setelah mendengar suara tersebut adalah….. Perasaan Mas pada saat mendengar
suara tersebut adalah…
c. Tindak lanjut : “kalau Mas masih mendengar suara-suara, tolong panggil perawat biar dibantu !”
d. Kontrak yang akan datang : “Besok kita akan berbincang-bincang lagi.” Kita akan membicarakan
tentang bagaimana mengendalikan suara-suara tersebut. Nanti kita bercakap-cakap di sini dan
sekitar 20 menit yamas. Setuju kan, Mas?“
e. Baiklah mas..sekarang Mas saya antar untuk melakukan aktivitas yang lainnya ya mas ..
Selamat Siang ya Mas..”.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HALUSINASI PENDENGARAN PERTEMUAN II

1. Kondisi klien
a. Klien tampak ketakutan
b. Klien mengatakan mendengar suara-suara yang memperingatkan bahwa ada ular di
sekelilingnya
c. Klien bicara sendiri dan tertawa
2. Diagnosa keperawatan
Halusinasi Dengar
3. Tujuan Khusus:
a. Klien dapat mengontrol halusinasinya
4. Tindakan Keperawatan
a. Diskusikan dengan klien cara yang dilakukan selama ini untuk mengontrol halusinasinya.
b. Diskusikan manfaat dan kerugian cara yang selama ini dilakukan.
c. Diskusikan dengan klien cara baru mengontrol halusinasi.
5. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1) Salam Terapeutik: “Selamat pagi Mas...”Masih ingat kan dengan saya,iya bagus sekali mas...
2) Evaluasi/validaasi“Bagaimana perasaan Mas saat ini”. “Apakah Mas masih mendengar suara-
suara seperti yang kita bicarakan kemarin mas?”.
3) Kontrak (topik waktu, tempat) Mas ingat apa yang akan kita lakukan sekarang”. “Mas, sesuai
janji kita kemarin, sekarang kita akan berdiskusi tentang bagaimana cara untuk
mengendalikan suara-suara tersebut ya mas “. Mas mau berapa lama kita bercakap-cakap,
bagaimana kalau 10 menit”. “Mas mau bercakap-cakap dimana, bagaimana kalau diruangan ini
saja mas ?”.
b. Kerja
1) “Mas kalau mas mendengar suara-suara yang sangat mengganggu tersebut,apa
yang Mas lakukan ?”.
2) “Bagaimana perasaan Mas saat mendengar suara-suara tersebut?”
3) “Apa yang Mas pikirkan saat mendengar suara-suara tersebut?”
4) “Apakah dengan cara seperti itu suara yang Mas dengar bisa berkurang ataupun hilang?”.
5) “Apa yang Mas sebutkan tadi sudah bagus, saya punya berbagai cara untuk mengendalikan
suara-suara seperti yang Mas dengar”.
6) “Cara tersebut adalah, pertama kalau Mas mendengar suara-suara itu langsung dalam
hati Maskatakan...... Saya tidak mau dengar....Pergi.Pergi. Coba Mas ulangi seperti yang saya
ucapkan tadi!Bagus, ya seperti itu mas cara yang pertama”.
7) “Cara yang kedua adalah Mas langsung pergi ke perawat katakan kepada perawat
bahwa Masmendengar suara-suara tersebut”.
8) “Cara yang ketiga adalah dengan cara Mas menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang
bermanfaat. Jangan biarkan waktu luang Mas digunakan untuk bengong dan melamun.”
9) “Ini saya bawakan daftar aktivitas yang kemudian mas isi dengan daftar aktivitas Mas ya !. Ayo
Mascoba di isi, mulai bangun tidur sampai Mas tidur malam. Bagus seperti itu.”
10) “Nah sekarang jadwal aktivitas Mas sudah jadi dan Mas harus menepati jadwal ini ya mas....”
11) “Cara yang keempat adalah dengan minum obat secara teratur ya mas. Obat itu sangat penting
untuk diminum secara teratur. Tolong Mas minta obat kepada perawat jika waktu pemberian obat
sudah tiba ya mas”.
12) “Nah dari cara-cara tersebut mana yang akan Mas coba terlebih dahulu? Bagus ! Oke mas... ?”
6. Terminasi
a. Evaluasi subyektif : “Bagaimana persaan Mas setelah kita berbincang-bincang hari ini ?”
b. Evaluasi obyektif : Jadi Mas, ada 4 cara untuk mengendalikan halusinasi, yang pertama yaitu
dengan cara menghardik halusinasi,kedua dengan cara berbincang-bincang dengan orang
lain,ketiga mengatur aktivitas sehingga tidak ada waktu luang,dan yang ke empat dengan cara
minum obat secara teratur”.
c. Tindak lanjut : “Kalau Mas masih mendengar suara-suara,tersebut, Mas langsung coba dengan
cara yangMas pilih tadi!”
d. Kontrak yang akan datang : “Besok kita akan berbincang-bincang lagi ya.” Kita akan
membicarakan tentang obat-obatan yang Mas akan minum untuk mengatasi suara-suara yang
menganggu tersebut. Nanti kita bercakap-cakap di sini saja dan sekitar 20 menit ya mas?.
Setuju Kan mas ? “
e. “Baiklah mas..Sekarang Mas saya antar untuk melakukan aktivitas yang lainnya ya mas ..
Selamat Siang ya Mas..”.

DAFTAR PUSTAKA

Arif ,L. 2006. Skizofrenia, Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Jakarta:


Penerbit Refika Aditama

Johnson , Marion, dkk. 2000. Nursing Outcome Classification (NOC). USA: Mosby
Kaplan & Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi
7. Jakarta : Binarupa Aksara.

Keliat, Herawati. 1999. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC


Stuart & Sudeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa.edisi 3. Jakarta: EGC

LAPORAN PENDAHULUAN
1. Definisi
Skizofrenia Hebrefrenik adalah perilaku yang khas, regresi, primitive, afek tidak sesuai
dengan karakteristik umumnya, wajah dungu, tertawa aneh-aneh, menangis dan menarik diri
secara ekstrim (Mary C. Towsend dalam Novy Helena C, 1998 : 143).
Skizofrenia Hebefrenik adalah Percakapan dan perilaku yang kacau, serta afek yang datar
atau tidak tepat, gangguan asosiasi juga banyak terjadi. (Ann Isaac, 2004 : 153)
2. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Beberapa factor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiology seperti
pada harga diri rendah antara lain :
a. Faktor Genetis
Secara genetis, skizofrenia diturunkan melalui kromosom-kromosom tertentu. Tetapi
kromosom yang ke berapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih
dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia ada dikromosom no. 6 dengan
kontribusi genetik tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar identik memilki kemungkinan
mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika
dizigote peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami
skizofrenia, ssementara bila kedua orang tuany skizofreia maka peluangnya menjadi 35%.
b. Faktor Neurologis
Ditemukan bahwa korteks prefrotal dan korteks limbik pada klien skizofrenia tidak pernah
berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan
fungsi otakyang banormal. Neurotransmitter yang ditemukan tidak normal khususnya
dopamine, serotonine, dan glutamat.
c) Studi Neurotransmiter
Skizofrenia diduga juga disebkan oleh adanya ketidakseimbanga neurotransmtter dopamine
yang berlebihan.
d) Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat menjadi faktor predispossisi
skizofrenia.
e) Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi skizofrenia antara lain anak
yang diperlakukan oleh ibu pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan,
sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
2) Faktor Presipitasi
Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a) Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima dan memproses informasi
di thalamus dan frotal otak.
b) Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu.
c) Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku.
Gejala-gejala pencetus respon biologis :
(1) Kesehatan : nutrisi kurang, kurang tidur, ketidakseimbangan irama sirkadian, kelelahan,
infeksi, obat-obatan sistem saraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau
layanan kesehatan.
(2) Lingkungan : lingkungan yang memusuhi, masalah rumah tangga, kehilangan kebebasan
hidup, perubahan kebiasaan hidup, pola aktivitas sehari-hari, kesukaran berhubungan dengan
oran lain, isolasi sosial, kurangnya dukungan sosial, tekanan kerja, stigmasisasi, kemiskinan,
kurangnya alat transportasidan ketidakmampian mendapatkan pekerjaan.
(3) Sikap/perilaku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal, kehilangan kendali diri
(demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut, merasa malang,
bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan
sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan dan
ketidakadekuatan penanganan gejala.

3. Manifestasi Klinis
Seseorang yang menderita skizofrenia herbefrenik, disebut juga disorganized type atau
“kacau balau” yang ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai berikut :
 Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya.
 Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidakserasi atau ketolol-tololan.
 Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa puas diri atau
senyum yang hanya dihayati sendiri.
 Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan.
 Halusinasi yang terpecah-pecaj yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu kesatuan.
 Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh,
berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung untuk menarik diri secara
akstrim dari hubungan sosial (Dadang Hawari, 2001 :640)

4. Psikofisiologi
1. Tahapan halusinasi dan delusi yang biasa menyertai gangguan jiwa.
a. Tahap Comforting
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya
mengkompensasikan stresornya dengan koping imajinasi sehingga merasa senang dan
terhindar dari ancaman.
b.Tahap Condeming
Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa
mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa
yang ia rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri ( with drawl ).
c. Tahap Controling
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut
terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain.
Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian atau sedih.
d. Tahap Conquering
Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti perilaku
klien dapat bersifat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.

2. Waham
Kelompok ini ditandai secara khas oleh berkembangnya waham yang umumnya menetap dan
kadang-kadang bertahan seumur hidup. Waham dapat berupa waham kejaran, hipokondrik,
kebesaran, cemburu, tubuhnya dibentuk secara abnormal, merasa dirinya bau dan homoseks.
Onset biasanya pada usia pertengahan, tetapi kadang-kadang yang berkaitan dengan bentuk
tubuh yang salah dijumpai pada usia muda. Isi waham dan waktu timbulnya sering
dihubungkan dengan situasi kehidupan individu, misalnya waham kejaran pada kelompok
minoritas. Terlepas dari perbuatan dan sikapnya yang berhubungan dengan wahamnya, afek
dan pembicaraan dan perilaku orang tersebut adalah normal.Waham ini minimal telah
menetap selama 3 bulan.

5. Pedoman Diagnostik
Skizofrenia Hebefrenik (PPDGJ III, Kode F 20.1)
a) Memenuhi kriteria umum diagnosa skizofrenia
b) Ditegakan pada usia remaja atau dewasa muda (15-25 tahun)
c) Kepribadian premorbid menunjukan ciri-ciri khas pemalu dan senang menyendiri.
Untuk meyakinkan diperlukan pengamatan selama 2-3 bulan untuk memastikan gambaran
lihat yang bertahan, antara lain perilaku yang tidak bertanggungjawab dan tidak dapat di
ramalkan, kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan perilaku tanpa tujuan dan perasaan :
- Afek dangkal dan tidak wajar
- Proses fikir mengalami disorganisasi dan topik pembicaraan tidak menentu (inkoheren)
- Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses pikir umumnya menonjol.
Halusinasi dan waham biasanya ada tetapi tidak menonjol.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Adapun komponen data yang perlu dikaji pada klien skizofrenia hebefrenik antara lain:
1) Identitas klien
2) Identitas informan atau yang bertanggung jawab terhadap klien
3) Keluhan utama
4) Riwayat perjalanan penyakit
5) Riwayat kekambuhan terakhir
6) Pertumbuhan dan perkembangan premorbid
7) Persepsi dan harapan klien dan keluarga
8) Keadaan kesehatan fisik

2. Riwayat Kesehatan/penyakit yang lalu


3. Pola Aktivitas sehari-hari
(1) Penampilan dan kebersihan diri.
Klien skizofrenia menunjukkan penurunan minat terhadap penampilan dan kebersihan
dirinya. Ini tampak pada penampilan yang acak – acakan. Badan tampak kotor.
(2) Kebiasaan merokok dan minum – minuman keras.
(3) Tidur dan istirahat :
Klien dapat sulit tidur. Adanya halusinasi dapat menyebabkan kecemasan, klien mendengar
suara – suara yang mengganggu atau mengancam dirinya. Klien sering bermimpi buruk
sehingga terbangun dan sulit tidur lagi, dan sering dia berada dalam keadaan terjaga.
(4) Nutrisi
Menurunnya kemauan dan meningkatnya aktivitas motorik menyebabkan klien tidak mau
makan. Porsi makan utuh/makan sedikit, dapat pula klien menolak makan karena adanya
halusinasi yang melarangnya makan.
(5) Pola eliminasi.
4. Pemeriksaan fisik
5. Pemeriksaan penunjang
6. Status Mental
a) Afek / Emosi
- Afek datar : tidak ada tanda ekspresi afektif, suatu monoton, da wajahnya imobil.
- Afek yang tidak serasi : tidak sesuai dengan rangsangan, misalnya orang yang disekitarnya
ramai tertawa karena ada kelucuan tetapi klien malah menunjukkan kesedihan/menangis.
- Keadaan emosi yang berlebihan sehingga kelihatannya seperti dibuat – buat, misalnya dari
keadaan gembira seketika itu berubah menjadi sedih.
b) Konsep Diri
Konsep diri kacau dan tidak realistik. Klien mempunyai perasaan rendah diri, menganggap
dirinya tidak mampu mengatasi kekurangannya, tidak ingin melakukan sesuatu hal untuk
menghindari kegagalan (takut gagal). Klien menghinakan, menyalahkan dirinya atas suatu hal
yang pernah atau tidak pernah dilakukannya. Tidak punya keinginan/cita – cita, merasa diri
tidak berdaya, sakit sehingga tidak dapat melakukan peranannya. Dapat terjadi klien merasa
asing dengan dirinya, merasa bahwa dirinya sudah menjadi yang lain.
c) Gaya Komunikasi
(1) Gaya verbal klien
Inkoherensi menyebabkan klien banyak bicara yang tak bisa dimengerti, berteriak – teriak
tanpa sebab. Isi pembicaraan sedikit, tersamar, abstrak atau sangat konkret.
(2) Respon non verbal klien
- Pandangan mata terkesan kosong
- Tidak ada kontak mata
- Tersenyum – senyum, tertawa kecil tanpa adanya rangsang, atau ekspresi wajah sedih
d) Interaksi/hubungan dengan dunia luar.
Adanya kecenderungan menarik diri dari keterlibatannya dari dunia luar dan berpreokupasi
dengan idenya yang tak logis. Gila parah kondisi itu dinamakan autisme. Orang lain akan
nampak sibuk dengan dunianya sendiri, tidak terpengaruh dengan orang lain.
e) Pola pertahanan diri
Mekanisme pertahanan regresi (kekanak – kanakan), misalnya klien menjadi tergantung pada
orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.
f) Persepsi sensorik
Klien skizofrenia hebefrenik sering mengalami gangguan persepsi sensorik berupa
ilusi/halusinasi, terutama halusinasi dengar, dimana klien akan tampak berbicara sendiri atau
tertawa sendiri.
g) Motorik
Aktivitas psikomotorik yang abnormal, tidak bertujuan seperti berlari – lari jalan mondar –
mondir, menggoyang – goyangkan badannya, memukul – mukul tanpa sebab, atau imobilitas
yang apatis. Hal ini umumnya disebabkan adanya halusinasi, kecemasan yang meningkat,
kebingungan, atau adanya dorongan yang tidak dapat dikontrol.
h) Orientasi.
Pada periode kekambuhan, klien dapat bingung, tidak mengenal orang, waktu atau tempat
dimana ia berada.
i) Pikiran.
Gangguan pada isi pikir dapat berupa waham yang tidak sistematis, mudah berubah. Klien merasa
bahwa perasaannya, dorongan pikirannya atau tindakannya dipaksakan dari luar kepada dirinya.
Adanya preokupasi, yaitu pikiran terpaku pada sebuah ide biasanya berkaitan dengan keadaan
emosional yang kuat, misalnya preokupasi dengan anaknya, suami yang sudah meninggal. Klien
dapat merasakan kekhawatiran yang berlebihan tentang kesehatan fisiknya. Untuk gangguan pada
bentuk dan arus pikir yang sering ditemukan adalah kelonggaran asosiasi, dimana ide – ide
berpindah dari satu subjek ke subjek lain yang sama selalu tidak ada hubungan atau hubungannya
tidak tepat, dan hal lain tidak disadarinya. Apalagi pelonggaran asosiasi ini terlalu berat dapat terjadi
inkoherensi, percakapan yang tidak dapat dimengerti. Dapat pula terjadi miskinnya isi pembicaraan
dimana isi pembicaraannya masih cukup tetapi isinya sedikit karena samar, abstrak, atau sangat
konkret, berulang – ulang (stereotipik). Hambat pikir (blocking) dapat pula terjadi, yaitu jalan pikiran
tiba-tiba berhenti di tengah sebuah kalimat. Klien tidak dapat menerangkan mengapa ia berhenti.
Gangguan lain berupa irelevasi, isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan
pertanyaan, atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
j) Insight (penghayatan)
tingkat penghayatan terhadap kondisi dirinya dan kebutuhannya. Klien merasa dirinya tidak sakit atau
bahkan merasa dirinya sakit parah. Klien dapat menyadari atau tidak menyadari akan faktor – faktor
yang mempengaruhi tingkah lakunya, sehingga adakalanya ia tidak mampu bereaksi sesuai dengan
realitas dan bertanggung jawab.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi
2. Gangguan proses pikir
3. Kerusakan komunilasi verbal
4. Isolasi social
5. Defisit perawatann diri
6. Ansietas
7. Koping individu tidak efektif
8. Ketidak seimbangan nutrisi
9. Resiko bunuh diri

INTERVENSI KEPERAWATAN
ngguan persepsi sensori : halusinasi
 Bina hubungan saling percaya
 Bantu klien mengenal halusinasi
 Diskusikan dengan klien wktu, isi, frekuensi dan situasi pencetus munculnya halusinasi
 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanya.
 Diskusikan cara baru untuk mengendalikan halusinasi.
ngguan proses pikir
 Bina hubungan saling percaya
 Latihan mengingat memori yang telah dilalui
 Ingatkan kembali masa lalu klien
 Libatkan klien dalam TAK orientasi realitas
 Beri kesempatam klien mendiskusikan wahamnya dengan petugas / perawat
 Dukung klien untuk memfalidasi keyakinan terhadap wahannya
 Berikan aktivitas reaksi atau aktivitas yang membutuhkan perhatian atau dan ketrampilan di
waktu luang klien.

rusakan Komunikasi Verbal


 Bina hubungan saling percaya
 Beri kesempatan klien untuk bicara
 Dengarkan pembicaraan klien lalu identifikasi tema yang berkaitan
 Kaji kemampuan klien menilai pesan pembicaraan orang lain
 Kaji kemampuan klien menangkap dan menerima pesan non verbal dari lawan bicara
 Latihan daya ingat untuk mengungkapkan perasannya secara verbal atau non verbal.

asi Sosial
 Bina hubungan saling percaya
 Dorong klien untuk membagi masalah yang dihadapinya
 Berikan perasaan aman dan nyaman pada klien
 Bantu klien mengidentifikasi kelebihan, hambatam, dan kesulitan dalam komunikasi dengan
orang lain.
 Dukung klien mengembangkan hubungan yang telah terbina
 Lebatkan klien dalam TAK sosialisasi
isit perawatan diri
na hubungan saling percaya
skusikan bersama klien keuntungandan manfaat kebersihan diri
ntu klien menentukan tindakan untuk perawat klien
ntu klien dalam pemenuhan kebutuhan kegiatan sehari-hari
ji perasaan klien setelah perawatan dirinya terpenuhi.

ietas
 Bina hubungan saling percaya
 Tenangkan klien
 Kaji kecemasan klien
 Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat
melakukan tindakan
 Berusaha memahami klien
 Gunakan pendekatan sentuhan verbalisasi untuk meyakinkan perasaan klien tidak sendiri dan
mengajukan pertanyaan
 Sediakan aktifitas untuk menurunkan ketegangan
 Bantu klien mengidentifikasi yang dapat menimbulkan cemas
 Tentukan klien untuk mengambil keputusan
 Intruksikan klien untuk menggunakan teknik relakasasi barikan pengobatab untuk menurunkan
kecemasan.

ping individu tidak efektif


 Bina hubungan saling percaya
 Hargai pemahaman pasien tentang proses penyakit dan konsep diri
 Hargai dan diskusikan alternative respon terhadap situasi
 Hargai sikap klien terhadap perubahan peran dan hubungan
 Dukung penggunaan sumber spiritual jika diminta
 Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan jaminan
 Bantu klien untuk mengidentifikasi strategi positif untuk mengatasi keterbatasan dan
mengelola gaya hidup dan perubahan
 Bantu klien beradaptasi dan mengatasi perubahan klien
idakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan

na hubungan saling percaya


onitor perubahan berat badan
onitor tipe dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
 Monitor kulit dan pigmentasi
onitor turgor kulit
onitor mual muntah
onitor kalori dan intake cairan

iko bunuh diri


Bina hubungan saling percaya
Tentukan riwayat percobaan bunuh diri
Tentukan apakah ia mempunyai rencana spesifik untuk bunuh diri
Diskusikan dengan klien factor pencetus bunuh diri.
Lakukan observasi secara ketat
auhkan benda-benda berbahaya dari lingkungan klien
Awasi klien selama melakukan aktivitas diluar.

Link Sumber : http://diaryforberti.blogspot.com/2014/12/laporan-pendahuluan-


skizofrenia_28.html#ixzz3nn4cgzIm

4. Gangguan Proses Pikir : Waham

a. Definisi

Menurut Townsend (1998) perubahan proses pikir waham merupakan suatu keadaan dimana
seseorang mengalami kelainan dalam mengoperasionalkan kognitif dan aktivitas.

b. Faktor yang Berhubungan

1) Waham (ide-ide yang salah)

2) Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi

3) Kewaspadaan yang berlebihan

4) Kelainan rentang perhatian-distrakbilitas

5) Ketidaktepatan interpretasi lingkungan

6) Kelainan kemampuan mengambil / membuat keputusan , menyelesaikan masalah ,


alasan , pemikiran abstrak atau konseputulisasi , berhitung

7) Perilaku sosial yang tidak sesuai ( merefleksikan ketidaktepatan pemikiran ).