Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH Aplikasi Bioteknologi Lingkungan Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bioteknologi

Dosen Pengampu:

Arif Mustakim M.Si

mata kuliah Bioteknologi Dosen Pengampu: Arif Mustakim M.Si Disusun Oleh: Kelompok TBIO 5B Indra Yanti Novia

Disusun Oleh:

Kelompok TBIO 5B

Indra Yanti Novia M

(12208173028)

Novia Zahroin

(12208173034)

Helen Rusziana

(12208173044)

Ratna Sari

(12208173084)

Usman Ubaydillah

(12208173050)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG SEPTEMBER 2019

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Bioteknologi ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Bapak Arif Mustakim selaku Dosen mata kuliah Bioteknologi yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Bioteknologi. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Tungagung, 27 September 2019

ii

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I

4

PENDAHULUAN

4

A. Latar Belakang

4

B. Rumusan masalah

5

C. Tujuan

5

BAB II

6

PEMBAHASAN

6

A. Pengertian Bioteknologi

6

B. Aplikasi Bioteknologi Di bidang Lingkungan

6

1.

Bioremidiasi

7

2.

Fitoremidiasi

13

C. Manfaat Bioteknologi Bagi Lingkungan

17

D. Peran Bioteknologi dalam Restorasi Lingkungan

1)

2)

3)

4)

5)

6)

7)

22

Pengolahan air dan limbah cair

23

Teknik Filter Mikroba (Trickling Filter Process)

24

Teknik Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)

26

Teknik Kolom Reaktor (Wastewater Reactor Column)

27

Teknik Kolam Oksidasi Terbuka dan Fotobioreaktor

27

Pengolahan limbah dengan cara anaerob

28

Degradasi limbah padat

29

BAB III

31

PENUTUP

31

A. Kesimpulan

31

B. Saran

31

DAFTAR PUSTAKA

32

iii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada zaman modern seperti saat ini hampir semua orang sudah mengenal dan memakai produk hasil olahan bioteknologi. Baik hasil olahan dari bioteknologi konvensional maupun modern. Namun walaupun semua orang sudah menikmati hasil dari bioteknologi hanya segelintir orang saja yang mengetahui secara pasti apa sebenarnya bioteknologi. Sebenarnya sebelum abad ke 15 manusia telah menggunakan bioteknologi. Namun mereka belum mengetahui apa yang terjadi pada produk yang mereka olah. Misalnya saja pada pembuatan anggur. Orang-orang pada saat itu sudah dapat mengolah anggur. Tetapi mereka tidak mengetahui proses apa yang terjadi sehingga bisa terbentuk anggur. Manusia pada saat itu hanya mengikuti resep yang diajarkan oleh orang tua mereka. Dengan ditemukannya mikroskop oleh Antony Van Leeuwenhoek, maka penelitian tentang bioteknologi pun mulai berkembang. Para peneliti tertarik untuk mengetahui proses apa yang terjadi sehingga bisa terbentuk anggur. Dengan adanya mikroskop maka dapat dilihat bahwa dalam proses pengolahan anggur tesebut digunakan sel khamir. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka ditemukanlah mikroskop-mikroskop yang lebih canggih. Hal ini tentunya sangat mempermudah para peneliti untuk meneliti lebih lanjut tentang biteknologi, dan menemukan inovasi-inovasi baru dalam bidang bioteknologi. Karena pada dasarnya bioteknologi bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, melainkan didukung oleh ilmu-ilmu lain seperti genetika, biokimia, mikrobiologi dan masih banyak ilmu-ilmu lainnya. Sehingga ilmu-illmu ini ikut serta dalam mendukung kemajuan dari bioteknologi. Misalnya saja dengan ditemukannya struktur dari DNA, maka dalam pengolahan anggur tidak perlu lagi mengunakan sel khamir untuk membuat anggur, cukup hanya dengan menggunakan material genetik dari khamir tersebut maka dapat dihasilkan anggur. Sehingga sel dari khamir ini tidak ikut termakan oleh manusia.

4

Secara umum bioteknologi dibagi menjadi dua yakni bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi sederhana yang menggunakan mahluk hidup secara langsung tanpa didasari prinsip ilmiah, melainkan berdasarkan keterampilan yang diwariskan secara turun temurun. Sedangkan bioteknologi modern adalah bioteknologi yang menggunakan mahluk hidup secara langsung atau komponennya, berdasarkan prinsip ilmiah hasil pengkajian berbagai ilmu yang mendalam. Menurut aplikasinya dalam berbagai bidang, maka bioteknologi dapat dibagi menjadi bioteknologi merah, bioteknologi putih atau abu-abu, bioteknologi hijau, bioteknologi biru, dan bioteknologi lingkungan. Bioteknologi merah merupakan aplikasi bioteknologi dibidang medis. Bioteknologi putih atau abu-abu merupakan aplikasi bioteknologi di bidang industri seperti pengembangan dan produksi senyawa baru serta pembuatan sumber energi terbarukan. Bioteknologi hijau adalah aplikasi bioteknologi di bidang pertanian dan peternakan. Bioteknologi biru merupakan aplikasi bioteknologi di bidang kelautan yang mengendalikan proses-proses yang terjadi di lingkungan akuatik. Sedangkan bioteknologi lingkungan merupakan aplikasi bioteknologi di bidang lingkungan. Namun dalam makalah ini penulis hanya akan membahas tentang bagaimana aplikasi bioteknologi dibidang lingkungan.

B. Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan bioteknologi?

2. Bagaimana aplikasi bioteknologi di bidang lingkungan?

3. Apa manfaat bioteknologi bagi lingkungan?

4. Bagaimana peran bioteknologi dalam restorasi lingkungan?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep dasar dari bioteknologi

2. Untuk mengetahui aplikasi bioteknologi dibidang lingkungan

3. Untuk mengetahui manfaat bioteknologi bagi lingkunga

4. Untuk mengetahui peran bioteknologi dalam restorasi lingkungan

5

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Bioteknologi Secara umum bioteknologi merupakan pemanfaatan organisme hidup baik secara keseluruhan maupun bagian dari organisme tersebut untuk menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi manusia. Namun definisi bioteknologi secara klasik atau konvesional adalah teknologi yang memanfaatkan agen hayati untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala kecil untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan dilihat dari secara modern, bioteknologi adalah pemanfaatan agen hayati atau bagian-bagian yang telah direkayasa secara in vitro untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala industri. Bioteknologi dikembangkan untuk meningkatkan nilai bahan mentah dengan memanfaatkan mikroorganisme serta bagian-bagiannya, misalnya bakteri. Selain itu, bioteknologi juga memanfaatkan sel-sel tumbuhan dan hewan untuk mendapatkan jenis baru yang lebih unggul. Pemanfaatan mikroorganisme dan bagian-bagiannya ini dilakukan diberbagai bidang salah satunya adalah bidang lingkungan. Oleh karena itu muncullah pembagian bioteknologi menjadi bioteknologi lingkungan. Dan pengaplikasian bioteknologi dibidang lingkungan inilah yang disebut dengan bioteknologi lingkungan.

B. Aplikasi Bioteknologi Di bidang Lingkungan Banyak orang beranggapan bahwa bioteknologi memiliki banyak dampak negatif khususnya terhadap lingkungan. Namun itu hanya anggapan orang yang belum mengenal seluk beluk bioteknologi itu sendiri. Dewasa ini bioteknologi telah berkembang khususnya dibidang lingkungan. Bioteknologi bisa dikatakan telah membantu dalam memperbaiki lingkungan yang saat ini sudah sangat buruk. Sebagai gambaran umum tentang keadaan lingkungan saat ini dapat dilihat dinegara kita sendiri yakni Indonesia. Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia. Pertambangan mineral, Indonesia merupakan negara penghasil

6

timah peringkat ke-2, tembaga peringkat ke-3, nikel peringkat ke-4, dan emas

peringkat ke-8 dunia. 1

Dampak negatif dari pertambangan terbuka (open pit mining) ini yakni dapat

merubah total iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan

tambang disingkirkan. Selain itu, untuk memperoleh atau melepaskan biji

tambang dari batu-batuan atau pasir seperti dalam pertambangan emas, para

penambang pada umumnya menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya yang

dapat mencemari tanah, air atau sungai dan lingkungan.

Selain masalah pertambangan saat ini banyak muncul industri-industri kecil

laundry. Akan tetapi pertumbuhan industri laundry ini memiliki efek samping

yang kurang baik, sebab industri-industri kecil tersebut sebagian besar langsung

membuang limbahnya ke selokan atau badan air tanpa pengolahan terlebih dulu.

Hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena dalam limbah tersebut

mengandung phospat yang tinggi. Phospat ini berasal dari Sodium

Tripolyphosphate (STPP) yang merupakan salah satu bahan yang kadarnya besar

dalam detergen. Dalam detergen, STPP ini berfungsi sebagai builder yang

merupakan unsur penting kedua setelah surfaktan karena kemampuannya

menonaktifkan mineral kesadahan dalam air sehingga detergen dapat bekerja

secara optimal (SDA, 2003). STPP ini akan terhidrolisa menjadi PO4 dan P2O7

yang selanjutnya akan terhidrolisa juga menjadi PO4. Badan air dengan PO4 yang

berlebih akan mengakibatkan terjadinya eutrofikasi. Masalah-masalah yang dapat

mengancam keberlangsungan kelestarian lingkungan ini dapat ditanggulangi

dengan mengaplikasikan ilmu bioteknologi yakni bioremidiasi dan fitoremidiasi.

Tentunya metode-metode yang terbentuk dari ilmu bioteknologi ini sangat

diharapkan bisa memperbaiki dan menjaga kelestarian lingkungan saat ini.

1.

Bioremidiasi

mikroorganisme yang telah dipilih

untuk ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan kadar

polutan tersebut. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa bioremediasi

Bioremediasi

merupakan

penggunaan

1 Enny Widyawati, Pemanfaatan Bakteri Pereduksi Sulfat untuk Bioremediasi Tanah Bekas Tambang Batubara, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor, Jurnal Biodiversitas, vol. 4, No. 4, Hal. 283-286.

7

adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). 2 Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun. Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran. Bioremediasi mempunyai potensi untuk menjadi salah satu teknologi lingkungan yang bersih, alami, dan paling murah untuk mengantisipasi masalah-masalah lingkungan. Sehingga dapat disimpulkan, bioremediasi adalah salah satu teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimaksud adalah khamir, fungi, dan bakteri yang berfungsi sebagai agen bioremediator.

1. Penerapan Bioremidiasi Seperti yang telah dijelaskan pada halaman sebelumnya bahwa bioremidiasi ini menggunakan mikroorganisme. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah Indonesia telah mempunyai payung hukum yang mengatur standar baku kegiatan bioremediasi dalam mengatasi permasalahan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan perminyakan serta bentuk pencemaran lainnya (logam berat dan pestisida) melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Kep Men LH No.128 tahun 2003, tentang tatacara dan persyaratan teknis dan pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah terkontaminasi oleh minyak bumi secara biologis (bioremediasi) yang juga mencantumkan bahwa bioremediasi dilakukan dengan menggunakan mikroba lokal. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada pengolahan air limbah yang mengandung senyawa-senyawa kimia yang sulit

2 Ibid,

8

untuk didegradasi dan biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri, antara lain logam-logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida dan herbisida, maupun nutrisi dalam air seperti nitrogen dan fosfat pada perairan tergenang. Pengolahan air tercemar secara biologi pada prinsipnya adalah meniru proses alami self purification di sungai dalam mendegradasi polutan melalui peranan mikroorganisma. Peranan mikroorganisme pada proses self purification ini pada prinsipnya ada dua yaitu: pertumbuhan mikroorganisme menempel dan tersuspensi. a.) Pertumbuhan mikroorganisme menempel Mikroorganisme ini keberadaannya menempel pada suatu permukaan misalnya pada batuan ataupun tanaman air. Selanjutnya diaplikasikan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) misalnya dengan sistem trickling filter. Selama pengolahan aerobik air limbah domestik, genus bakteri yang sering ditemukan berupa gram-negatif berbentuk batang heterotrofik organisme, termasuk Zooglea, Pseudomonas, Chromobacter, Achromobacter, Alcaligenes dan Flavobacterium. Filamentous bakteri seperti genera Beggiatoa, Thiotrix dan Sphaerotilus juga ditemukan dalam biofilm, sebagaimana organisme seperti Nitrosomonas dan nitrifikasi Nitrobacter. b.) Pertumbuhan mikroorganisme yang tersuspensi Mikroorganisme ini keberadaannya dalam bentuk suspensi di dalam air yang tercemar. Selanjutnya diaplikasikan pada IPAL dengan sistem lumpur aktif konvensional menggunakan bak aerasi maupun sistem SBR (Sequence Batch Reactor). Berbeda dengan mikroorganisme yang menempel, sistem pertumbuhan mikroorganisme yang tersuspensi terdiri dari agregat mikroorganisme yang pada umumnya tumbuh sebagai flocs dalam kontak dengan air limbah pada waktu pengolahan. Agregat atau flocs, yang terdiri dari berbagai spesies mikroba, berperan dalam penurunan polutan. Umumnya spesies mikroba ini terdiri dari bakteri, protozoa dan metazoa. Pada sistem kolam stabilisasi, organisme phototrophic, yang memanfaatkan berbagai akseptor elektron, dapat dimanfaatkan untuk mencapai pengolahan yang baik dengan mengabaikan masukan energi.

9

Pengembangan penerapan kedua proses tersebut dalam teknologi pengolahan air limbah dapat digabungkan berupa hybrid reactor. Untuk bioremediasi air tercemar memerlukan beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi: isolasi bakteri, pengujian bakteri dalam mengdegradasi zat pencemar, identifikasi, dan perbanyakan bakteri. Bagi pengggunaan bakteri indigenous, seperti yang dipersyaratkan oleh Kep Men LH No.128 (2003), tahap isolasi bakteri merupakan langkah awal yang harus diperhatikan.

2. Teknik Isolasi Bakteri, Pengujian Bakteri, dan Identifikasi Bakteri Isolasi bakteri yang baik dan benar dapat menentukan bakteri yang cocok dalam proses remediasi air limbah yang diinginkan. Oleh karena itu prinsip pemilihan bakteri hasil isolasi dapat memberikan kinerja penurunan kadar polutan yang optimal. Karena secara alami jumlah bakteri yang diinginkan terdapat dalam jumlah sedikit, malah lebih banyak bakteri yang tidak diinginkan, maka diperlukan proses isolasi untuk memperbanyak bakteri yang dimaksud. Tujuan mengisolasi bakteri adalah untuk mendapatkan bakteri yang diinginkan dengan cara mengambil sampel mikroba dari lingkungan yang ingin diteliti. Dari sampel tersebut kemudian dikultur/dibiakkan dengan menggunakan media universal atau media selektif, tergantung tujuan yang ingin dicapai. Bahan nutrisi dipersiapkan untuk pertumbuhan bakteri di laboratorium yang disebut kultur media. Beberapa bakteri dapat tumbuh dengan baik pada hampir semua media kultur; lainnya memerlukan media kultur khusus yang pada akhirnya akan ada suatu pertumbuhan yang disebut inokulum. Untuk tujuan tersebut diperlukan media yang diperkaya (enrichment culture) untuk memperbanyak bakteri yang dimaksud. Pada medium yang diperkaya, termasuk juga media selektif, biasanya menyediakan nutrisi dan kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroba yang diinginkan tetapi menghambat bakteri lainnya. Setelah itu, media yang mengandung mikroorganisme diinginkan tersebut selanjutnya diinkubasi selama beberapa hari, kemudian sejumlah kecil inokulum dipindahkan ke lain media dengan komposisi media yang sama. Setelah serangkaian transfer tersebut, mikroorganisme yang masih hidup akan terdiri dari bakteri yang mampu melakukan metabolisme bahan organik. Setelah populasi

10

bakteri bertambah dilakukan isolasi pada medium agar yang diinkubasi selama 3 hari. Dari hasil inkubasi tersebut diperoleh koloni-koloni bakteri untuk selanjutnya akan diambil koloni yang dominan untuk diamati dan dibuat sub kultur murninya untuk digunakan dalam penurunan zat pencemar. Identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara termasuk : pengamatan morfologi sel, pewarnaan gram, dan uji biokimia. Selain berdasarkan morfologi, bakteri juga dibedakan menjadi 3 bentuk meliputi: bentuk bulat (kokus), bentuk batang (basil), dan bentuk spiral.

3. Perbanyakan bakteri Setelah didapatkan isolat yang diinginkan, uji degradasi, dan identifikasi bakteri, selanjutnya adalah membuat perbanyakan bakteri untuk uji skala lapangan. Perbanyakan bakteri atau pengembangan inokulum ini merupakan proses untuk memproduksi inokulum. Medium pengembangan inokulum harus cukup serupa dengan medium produksi. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan periode adaptasi dengan mereduksi fase lag. Perbanyakan bakteri atau pengembangan inokulum ini merupakan proses untuk memproduksi inokulum dengan jumlah yang besar sehingga menjaga keberlangsungan. Perbanyakan bakteri indigenous dilakukan melalui tahapan: pembuatan kultur stok, pemeliharaan kultur, perbanyakan kultur tahap I, perbanyakan kultur tahap II, dan pembuatan kultur produksi. Untuk lebih jelasnya tentang bagaimana pemanfaatan bioremidiasi dalam mengatasi masalah lingkungan ini, maka akan mengambil contoh bagaimana pemanfaatan bakteri pseudomonas untuk bioremediasi akibat pencemaran minyak bumi. Pseudomonas Sp merupakan bakteri hidrokarbonoklastik yang mampu mendegradasi berbagai jenis hidrokarbon. Keberhasilan penggunaan bakteri Pseudomonas dalam upaya bioremediasi lingkungan akibat pencemaran hidrokarbon membutuhkan pemahaman tentang mekanisme interaksi antara bakteri Pseudomonas sp dengan senyawa hidrokarbon. Kemampuan bakteri Pseudomonas sp. IA7D dalam mendegradasi hidrokarbon dan dalam menghasilkan biosurfaktan menunjukkan bahwa isolat bakteri Pseudomonas sp

11

IA7D berpotensi untuk digunakan dalam upaya bioremediasi lingkungan akibat pencemaran hidrokarbon. Bahan utama minyak bumi adalah hidrokarbon alifatik dan aromatik. Selain itu, minyak bumi juga mengandung senyawa nitrogen antara 0-0,5%, belerang 0- 6%, dan oksigen 0-3,5%. Terdapat sedikitnya empat seri hidrokarbon yang terkandung di dalam minyak bumi, yaitu seri n-paraffin (n-alkana) yang terdiri atas metana (CH4) sampai aspal yang memiliki atom karbon (C) lebih dari 25 pada rantainya, seri iso-paraffin (isoalkana) yang terdapat hanya sedikit dalam minyak bumi, seri neptena (sikloalkana) yang merupakan komponen kedua terbanyak setelah n-alkana, dan seri aromatik (benzenoid). Sedangkan bakteri pseudomonas yang umum digunakan dalam biioremidiasi ini antara lain:

Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas stutzeri, Pseudomonas diminuta. Salah satu faktor yang sering membatasi kemampuan bakteri Pseudomonas dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon adalah sifat kelarutannya yang rendah, sehingga sulit mencapai sel bakteri. Oleh karena itu, untungnya, bakteri Pseudomonas dapat memproduksi biosurfaktan. Kemampuan bakteri Pseudomonas dalam memproduksi biosurfaktan berkaitan dengan keberadaan enzim regulatori yang berperan dalam sintesis biosurfaktan. Ada 2 macam biosurfaktan yang dihasilkan bakteri Pseudomonas :

1. Surfaktan dengan berat molekul rendah (seperti glikolipid, soforolipid, trehalosalipid, asam lemak dan fosfolipid) yang terdiri dari molekul hidrofobik dan hidrofilik. Kelompok ini bersifat aktif permukaan, ditandai dengan adanya penurunan tegangan permukaan medium cair.

2. Polimer dengan berat molekul besar, yang dikenal dengan bioemulsifier

polisakarida amfifatik. Dalam medium cair, bioemulsifier ini mempengaruhi pembentukan emulsi serta kestabilannya dan tidak selalu menunjukkan penurunan tegangan permukaan medium. Biosurfaktan merupakan komponen mikroorganisme yang terdiri atas molekul hidrofobik dan hidrofilik, yang mampu mengikat molekul hidrokarbon tidak larut air dan mampu menurunkan tegangan permukaan. Selain itu biosurfaktan secara ekstraseluler menyebabkan emulsifikasi hidrokarbon sehingga mudah untuk

didegradasi oleh bakteri. Biosurfaktan meningkatkan ketersediaan substrat yang

12

tidak larut melalui beberapa mekanisme. Dengan adanya biosurfaktan, substrat

yang berupa cairan akan teremulsi dibentuk menjadi misel-misel, dan

menyebarkannya ke permukaan sel bakteri. Substrat yang padat dipecah oleh

biosurfaktan, sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel.

Pelepasan biosurfaktan ini tergantung dari substrat hidrokarbon yang ada. Ada

substrat (misal seperti pada pelumas) yang menyebabkan biosurfaktan hanya

melekat pada permukaan membran sel, namun tidak diekskresikan ke dalam

medium. Namun, ada beberapa substrat hidrokarbon (misal heksadekan) yang

menyebabkan biosurfaktan juga dilepaskan ke dalam medium. Hal ini terjadi

karena heksadekan menyebabkan sel bakteri lebih bersifat hidrofobik. Oleh

karena itu, senyawa hidrokarbon pada komponen permukaan sel yang hidrofobik

itu dapat menyebabkan sel tersebut kehilangan integritas struktural selnya

sehingga melepaskan biosurfaktan untuk membran sel itu sendiri dan juga

melepaskannya ke dalam medium. Terdapat tiga cara transpor hidrokarbon ke

dalam sel bakteri secara umum yaitu :

1. Interaksi sel dengan hidrokarbon yang terlarut dalam fase air. Pada kasus ini,

umumnya rata-rata kelarutan hidrokarbon oleh proses fisika sangat rendah

sehingga tidak dapat mendukung.

2. Kontak langsung (perlekatan) sel dengan permukaan tetesan hidrokarbon yang

lebih besar daripada sel mikroba. Pada kasus yang kedua ini, perlekatan dapat

terjadi karena sel bakteri bersifat hidrofobik. Sel mikroba melekat pada

permukaan tetesan hidrokarbon yang lebih besar daripada sel dan pengambilan

substrat dilakukan dengan difusi atau transpor aktif. Perlekatan ini terjadi

karena adanya biosurfaktan pada membrane sel bakteri Pseudomonas.

3. Interaksi sel dengan tetesan hidrokarbon yang telah teremulsi atau

tersolubilisasi oleh bakteri. Pada kasus ini sel mikroba berinteraksi dengan

partikel hidrokarbon yang lebih kecil daripada sel. Hidrokarbon dapat teremulsi

dan tersolubilisasi dengan adanya biosurfaktan yang dilepaskan oleh bakteri

pseudomonas ke dalam medium.

2. Fitoremidiasi Disamping menggunakan bioremidiasi, masalah lingkungan tersebut dapat

ditanggulangi dengan fitoremidiasi. Apabila dilihat dari susunan katanya

13

fitoremidiasi berasal dari kata Phyto asal kata Yunani/ greek “phyton” yang berarti tumbuhan/tanaman (plant), dan Remediation yang berasal dari kata latin yakni remediare (to remedy) yaitu memperbaiki/ menyembuhkan atau membersihkan sesuatu. Sehingga Fitoremediasi (Phytoremediation) merupakan suatu sistem dimana tanaman tertentu yang bekerja sama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral dan air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/pollutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi. Pemahaman lain mengenai fitoremidiasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik secara ex-situ menggunakan kolam buatan atau reactor maupun in-situ (langsung di lapangan) pada tanah atau daerah yang terkontaminasi limbah. Secara singkatnya dapat dikatakan bahwa fitoremidiasi adalah penggunaan tanaman-tanaman tertentu (keseluruhan atau bagiannya) untuk mengatasi limbah. Keuntungan fitoremediasi selain mudah juga merupakan alternatif yang murah dibandingkan dengan cara remediasi fisiko-kimia maupun bioremediasi yang menggunakan mikroorganisme (bakteri, kapang dan jamur). Adapun keterbatasan sistem fitoremediasi adalah terutama yang berhubungan dengan batasan konsentrasi kontaminan yang dapat ditolerir oleh tanaman, masalah kebocoran kontaminan yang sangat larut dalam air dan lamanya waktu yang diperlukan pada fitoremediasi tanah yang tercemar. 3

1. Penerapan Fitoremidiasi Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa fitoremidiasi merupakan suatu upaya untuk menanggulangi pencemaran dengan menggunakan tumbuhan tertentu (keseluruhan atau bagian-bagiannya). Tumbuh-tumbuhan yang digunakan umumnya adalah tumbuhan yang dapat mendegradasi polutan. Tumbuhan yang digunakan antara lain enceng gondok (Eichhornia crassipes) dengan fitoremediasi phospat. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan tanaman enceng

3 Bambang Priade, Teknik Bioremediasi Sebagai Alternatif Dalam Upaya Pengendalian Pencemaran Air, , Peneliti Muda Bidang teknik Lingkungan SDA, Jurnal Ilmu Lingkungan, Vol. 10, issue 1: 38-48 (2012).

14

gondok memiliki kemampuan untuk mengolah limbah, baik itu berupa logam berat, zat organik maupun anorganik. Tanaman ini mampu menurunkan konsentrasi ammonia sebesar 81% dalam waktu 10 hari. Tumbuh-tumbuhan lain yang digunakan juga yaitu, Solanum nigrum, Anturium Merah/ Kuning, Alamanda Kuning/ Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden Merah/Kuning/ Putih, Dahlia, Dracenia Merah/ Hijau, Heleconia Kuning/ Merah, Jaka, Keladi Loreng/Sente/ Hitam, Kenyeri Merah/ Putih, Lotus Kuning/ Merah, Onje Merah, Pacing Merah/ Mutih, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Ponaderia, Sempol Merah/Putih, Spider Lili, dll. 4

2. Cara berlangsungnya proses fitoremidiasi Proses dalam sistem ini berlangsung secara alami dengan 6 tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/ pencemar yang berada disekitarnya. a.) Phytoacumulation (phytoextraction) yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan. Proses ini disebut juga Hyperacumulation b.) Rhizofiltration (rhizo= akar) adalah proses adsorpsi atau pengedapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar. Percobaan untuk proses ini dilakukan dengan menanan bunga matahari pada kolam mengandung radio aktif untuk suatu test di Chernobyl, Ukraina. c.) Phytostabilization yaitu penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media. d.) Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation, atau plentedassisted bioremidiation degradation, yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba yang berada disekitar akar tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bacteri. e.) Phytodegradation (phyto transformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai

4 A, Hadi, Prinsip Pengelolaan Pengambilan Contoh Lingkungan. (Jakarta: Gadjah mada Press, 2005) hal. 37

15

molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan susunan molekul yang lebih sederhan yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun , batang, akar atau diluar sekitar akar dengan bantuan enzym yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzym berupa bahan kimia yang mempercepat proses proses degradasi. f.) Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya di uapkan ke admosfir. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang.

Beberapa aplikasi dari fitoremidiasi yang telah dilakukan antara lain :

a.) Menghilangkan logam berat yang mencemari tanah dan air tanah, seperti yang dilakukan di New Zealand, lokasi : Opotiki, Bay of Plenty. Membersihkan tanah yang tercemar cadmium (Cd oleh penggunaan pesticida) dengan menanam pohon poplar. b.) Membersihkan tanah dan air tanah yang mengandung bahan peledak (TNT, RDX dan amunisi militer) di Tennese, USA, dengan menggunakan metode wetland yaitu kolam yang diberi media koral yang ditanami tumbuhan air dan kemudian dialirkan air yang tercemar bahan peledak tersebut. Tumbuhan yang digunakan seperti: Sagopond (Potomogeton pectinatus), Water stargas (Hetrathera), Elodea (Elodea Canadensis) dan lain-lain. c.) Pengolahan limbah domestik dengan konsep fitoremediasi dengan metoda Wet land, seperti yang diterapkan dibeberapa tempat di Bali dengan sebutan wastewater garden (WWG) atau terkenal dengan Taman Bali seperti yang terlihat di Kantor Camat Kuta, Sunrise School, dan Kantor Gubernur Bali. Wetland ini berupa kolam dari pasangan batu kemudian diisi media koral setinggi 80 cm yang ditanami tumbuhan air (Hydrophyte) selanjutnya dialirkan air limbah (grey water dan effluen dari sptictank). Air harus dijaga berada pada ketinggian 70 cm atau 10 cm dibawah permukaan koral agar terhindar dari bau dan lalat/ serangga lainnya. Untuk menghindari kloging

16

(mampet) pada lapisan koral maka air limbah sebelum masuk unit wet land ini harus dilewatkan unit pengendap partikel discret. Berdasarkan hasil test laboratorium terhadap influen dan effluent.

C. Manfaat Bioteknologi Bagi Lingkungan Bioteknologi dapat dimanfaatkan untuk perbaikan lingkungan. Berikut ini adalah manfaat bioteknologi bagi lingkungan.

1. Mengolah limbah Terdapat banyak mikroorganisme yang bisa mencerna karbohidrat, protein, lemak, minyak, selulosa, plastik, dan minyak. Berbagai spesies mikroorganisme tersebut bisa dipergunakan untuk keperluan tertentu. Para ilmuwan meneliti dan “menangkap” mikroorganisme tersebut untuk dikultur di laboratorium. Sejumlah bakteri yang bisa mencerna minyak dan selulosa sudah berhasil diperoleh. Selama itu, juga pernah adanya penelitian terhadap campuran mikroorganisme yang bisa mencerna sampah dengan cara yang lebih efektif. a.) Mikroorganisme Pengolah Limbah Mikroorganisme dapat dimanfaatkan oleh kalangan industri untuk mengolah limbah sebelum limbahnya dibuang ke lingkungan. Misalnya, industri yang limbahnya mengandung lemak dapat memanfaatkan mikroorganisme pencerna lemak sebelum membuang limbah ke sungai. Proses pengolahan limbah dengan metode biologi adalah metode yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme yang digunakan umumnya bakteri aerob. Proses pengolahan air limbah yaitu:

Pengumpulan

Pemilahan

Pengaliran limbah

Pengendapan

Proses aerob

Kucuran air

Proses anaerob

17

Pembuangan sampah mikroorganisme yang didapat didaftarkan untuk memperoleh hak paten. Mikroorganisme tersebut bisa dimanfaatkan dalam dunia industri untuk mengolah limbah sebelum akhirnya dibuang ke lingkungan. Contohnya, industri yang limbahnya terdapat kandungan lemak bisa memanfaatkan mikroorganisme yang dapat mencerna lemak sebelum akhirnya limbah dibuang ke sungai. Contohnya yaitu cacing tanah. Cacing tanah bisa mengurangi pencemaran oleh sampah organik. Hal ini karena cacing tanah mencerna sisa-sisa bahan organik yang terdapat di dalam tanah, seperti ranting, sisa dedaunan, dan sampah organik lainnya. Kotoran cacing tanah mengandung banyak nitrogen sehinga bisa menyuburkan tanah. Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Di Indonesia, cacing tanah telah banyak diternakkan. Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang dan sekitarnya. Manfaat Cacing Tanah:

Mengurangi pencemaran sampak organic

Menyuburkan tanah

Memperbaiki aerasi dan struktur tanah

Meningkatkan ketersediaan air tanah

2. Biogas

Biogas adalah gas metana yang bisa menghasilkan energi yang tidak menimbulkan polusi. Biogas dibuat dengan cara pemanfaatan kotoran ternak, sehingga bisa mengurangi pencemaran oleh kotoran ternak, dan sisa-sisa biogas bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen (anaerob). Komponen biogas antara lain sebagai berikut : ± 60 % CH4 (metana), ± 38 % CO2 (karbon dioksida) dan ± 2 % N2, O2, H2, & H2S. a.) Pembuatan Biogas Biogas dibuat dengan memanfaatkan kotoran ternak, karena itu dapat mengurangi pencemaran oleh kotoran ternak, dan sisa-sisa biogas dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi

18

bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah. Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.

dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas. Sumber gambar : ilustrasi proses pembuatan biogas /

Sumber gambar : ilustrasi proses pembuatan biogas / google.com/diakses pada sabtu, 28/09/2019 pukul 15.57 WIB.

a.

Proses Instalasi biogas terdiri dari :

Digester

19

Merupakan tempat bahan organik dan tempat terjadinya proses pencernaan bahan organik oleh mikroba anaerob.

b. Water Trap Adalah sebuah tabung yang berfungsi untuk menangkap uap air yang dihasilkan dari digester agar aliran gas bio tidak terhambat, dan berfungsi juga sebagai alat pengaman.

c. Gas Holder Disebut juga sebagai penampung gas, sesuai namanya fungsinya adalah untuk menampung gas yang dihasilkan oleh digester yang disalurkan melalui pipa penyalur / selang.

d. Pemanen gas Alat ini dapat berupa kompor biogas atau genset.

Kelengkapan instalasi Biogas:

a. Saluran masuk (inlet bahan organik) Sebagai tempat memasukan bahan organik. Lebih baik jika dilengkapi dengan corong plastik atau bak kontrol.

b. Saluran keluar gas (outlet gas) Berfungsi tempat keluarnya gas sebelum masuk kedalam penampungan (gas holder).

c. Saluran keluar lumpur (outlet sludge) Merupakan saluran untuk mengeluarkan limbah bahan organik dari digester.

d. Penampung sludge Berfungsi untuk menampung sementara sludge atau limbah bahan organik dari digester sebelum digunakan untuk memupuk tanaman.

e. Selang penyalur gas Berfungsi untuk menyalurkan gas dari digester ke water trap, gas holder dan ke alat pemanen gas ( kompor biogas atau genset) Lahan yang diperlukan sekitar 16 m 2 . Untuk membuat digester diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon. Lokasi yang akan dibangun sebaiknya dekat dengan kandang sehingga kotoran ternak dapat langsung disalurkan kedalam

20

digester. Disamping digester harus dibangun juga penampung sludge (lumpur) dimana slugde tersebut nantinya dapat dipisahkan dan dijadikan pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Langkah langkah pembuatan biogas sebagai berikut:

1. Mencampur kotoran Mencampur kotoransapi dengan air sampai terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Bentuk lumpur akan mempermudah pemasukan kedalam digester.

2. Mengalirkan lumpur kedalam digester Mengalirkan lumpur kedalam digester melalui lubang pemasukan. Pada pengisian pertama kran gas yang ada diatas digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan udara yang ada didalam digester terdesak keluar. Pada pengisian pertama ini dibutuhkan lumpur kotoran sapi dalam jumlah yang banyak sampai digester penuh.

3. Melakukan penambahan starter Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.

4. Membuang gas yang pertama dihasilkan Membuang gas yang pertama dihasilkan pada hari ke-1 sampai ke-8 karena yang terbentuk adalah gas CO 2 . Sedangkan pada hari ke-10 sampai hari ke-14 baru terbentuk gas metan (CH 4 ) dan CO 2 mulai menurun. Pada komposisi CH 4 54% dan CO 2 27% maka biogas akan menyala.

5. Pada hari ke-14 Pada hari ke-14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi. Selanjutnya, digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan biogas yang optimal. Bakteri yang membantu pembentukan biogas :

Bakteri fermentative

21

Bakteri asetogenik

Bakteri metana Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas selain menghasilkan gas metan untuk memasak juga mengurangi pencemaran lingkungan, menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair dan yang lebih penting lagi adalah mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak bumi yang tidak bisa diperbaharui

D. Peran Bioteknologi dalam Restorasi Lingkungan Upaya manusia untuk meningkatkan taraf hidup secara individu dan kelompok dengan tanpa memperhatikan kaidah lingkungan yang ada ternyata telah menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.Kegiatan pertanian, penebangan hutan, kegiatan perikanan dan industri telah menurunkan kualitas lingkungan dan berpotensi untuk menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi semua makhluk hidup yang terikat dengan lingkungan tersebut. Kondisi ini telah menyadarkan pemerintah Indonesia, sehingga pada tahun 1985 membentuk Komisi Nasional Bioteknologi guna melaksanakan kebijakan pemerintah tentang bioteknologi yang ditetapkan sebagai prioritas dalam pengembangan bangsa. Bioteknologi merupakan revolusi ke tiga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Dalam era biologi ini, peran teknologi hayati dalam berbagai aktivitas manusia semakin nyata dan semakin diperlukan (Amang & Husein Sawit, 1999). Pada pengatasan permasalahan lingkungan hidup, bioteknologi lingkungan memanfaatkan mikroba serta jasad biologi yang lebih besar dalam kegiatan pengolahan limbah (purifikasi/pemurnian kembali) pada khususnya serta untuk memperbaiki kualitas lingkungan pada umumnya. Pemanfaatan jasad biologi ini sangat diharapkan, karena dianggap lebih alami dan tidak membahayakan dibandingkan dengan menggunakan bahan-bahan pemurni lain (Susilowati, 2007). Dalam kegiatan praktis di lapangan, istilah bioteknologi lingkungan mash kalah popular dibandingkan dengan istilah bioremediation, biologycal process), atautechnical microbiology, atau beberapa istilah lain. yang sebenarnya seringkali

22

merupakan tahap pemanfaatan jasad biologi dalam rangkaian pengolahan limbah

atau mengolah limbah.

Pemanfaatan mikroorganisme untuk pengolahan limbah pada awalnya

ditemukan melalui pengamatan ekologi yang didukung oleh ilmu dasar lainnya di

bidang biologi, misalnya botani, biokimia, taksonomi, dll. Temuan dari survey ini

kemudian dibuat kultur dan diuji efektifitasnya untuk kemudian dijadikan sediaan

jika sewaktu-waktu diperlukan bantuannya untuk menyelesaikan permasalahan

lingkungan. Dalam pengolahan limbah, jasad biologi pada awalnya bukan hal

yang menarik bagi orang teknik, karena memang bukan bidangnya. Namun

ternyata mereka sangat membutuhkan mikroba tersebut dalam kegiatan

pengolahan limbah, terutama dalam kegitan pengolahan limbah organik, untuk

itulah bioteknologi secara perlahan dikembangkan di bidang lingkungan.

1)

Pengolahan air dan limbah cair

tangga, umum/communal

(sekolah, rumah sakit, hotel, dll), dan limbah campuran biasanya memerlukan

perlakuan biologis (biologycal treatment). Perlakuan limbah dilakukan untuk

menurunkan kadar BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen

Demand) dan poluan lain yang masuk kedalam kriteria persyaratan yang harus

dipenuhi limbah sebelum memasuki badan perairan umum (Rahardjanto, 1997).

Secara alami sebenarnya pemurnian limbah dengan bantuan mikroba dapat

berjalan walaupun tanpa adanya perlakuan secara khsusus. Hal ini disebabkan di

alam dan dalam air limbah telah mengandung mikroba pengurai yang baik

sebagai proses recovery Namun karena pada proses biologi yang ada didalamnya

seringkali terhambat oleh faktor lingkungan (misalnya karena deplesi oksigen)

limbah tersebut akan mengasilkan bau yang menyengat dan tidak enak, lender

yang berlebihan. Sudah dapat diperkirakan, jika hal ini terjadi, kemungkinan

mikroorganisme penghuni limbah adalah bukan dari jenis mikroba yang

diharapkan perannya untuk memurnikan limbah, tetapi justru mikroba yang

merugikan karena akan menghasilkan gas metana yangdapat meracuni

lingkungan. Lebih kacau lagi apabila perlakuan mikroba yang salah ini diikuti

oleh perlakuan manusia yang tidak bersahabat.

Limbah

yang

berasal

dari

industri,

rumah

23

Selain karena jenis dan populasi mikroba yang tidak terkendali, hal lain

yang sangat prinsip adalah teknik perlakuannya yang tidak dikendalikan.

Misalnya waktu tunggu (retention time) limbah yang salah yang menyebabkan

mikroba jenis tertentu meledak populasinya dan menyebabkan kekacauan dalam

proses pengolahan limbah (menimbulkan bau , blooming, dll). Berlatar belakang

hal tersebut, Bioteknologi lingkungan akan dapat membantu pengolahan limbah

organik dengan mengembangkan mikroba yang baik dengan teknologi yang tepat.

Berdasarkan penggunaan oksigen oleh mikroba, teknik pengolahan limbah

dibedakan kedalam model aerob dan an-aerob.

Model secara aerob diantaranya dilakukan dengan menggunakan teknologi

Trickling Filter Process (saringan mikroba), Activated Sludge Process (lumpur

aktif), Lagoon process (kolam) dan Column Wastewater Reactors (Reaktor

kolom). Sedangkan secara an-aerob dilakukan dengan teknologi sludge digestion,

contact digestion dan column reactors.

2)

Teknik Filter Mikroba (Trickling Filter Process)

pada

prinsipnya, teknik ini menggunakan teknik fix-bed reaktor dimana biomass filter

mikroba disimpan dan secara terus menerus ada dalam jumlah besar.

Teknologi ini dikenal juga sebagai trckling filter film (biomass) yang

terdiri dari bakteri, jamur, protozoa, dan larva insekta. Selain itu alga biru hijau

dapat tumbuh membentuk lapisan pada permukaan (Brentwood, 2009).

Sehubungan dengan suplai makanan dari permukaan ke bawah. Akibatnya terjadi

stratifikasi biomass mikroba secara vertikal. Misalnya antara limbah yang masih

sangat berat pencemarnya dengan yang sudah agak ringan. Perlakuan dengan

mikroba secara intensif dilakukan di tahap pengolahan limbah primer. Pada

teknologi trickling filter memerlukan beberapa persyaratan agar proses pemurnian

limbah berjalan dengan baik diperlukan dua syarat. Pertama, persyaratan biotik.

Seleksi jenis, jumlah dan mikroorganisme serta asosiasi kehidupan di dalamnya

merupakan hal yang penting dalam trickling filter. Penelitian Asri (2010)

menunjukkan daya kerja Trickling filter dalam menurunkan BOD (Biochemical

Oxygen Demand) limbah industri tekstil dipengaruhi oleh beberapa faktor antara

Mulanya

teknologi

ini

ditemukan

oleh

Cobert

(Inggris)

yang

24

lain: lama pemakaian, kecepatan aliran, aerasi, jenis media, ketebalan, kualitas air limbah, suhu dan pH. Sedangkan kedua adalah persyaratan abiotik yang meliputi:

a) Retention time trickling filter Waktu tunggu pada proses trickling Filter selama 3-8 hari mikroorganisme yang tumbuh di atas permukaan media telah tumbuh cukup memadai dan diharapkan sudah siap untuk menguraikan limbah organik.

b) Aerasi Oksigen merupakan salah satu komponen penting pada proses trickling filter. Agar aerasi berlangsung dengan baik, media trickling filter harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan masuknya udara ke dalam sistem trickling filter tersebut.

c) Jenis media Bahan untuk media trickling filter harus kuat, keras, tahan tekanan, tahan lama, tidak mudah berubah dan mempunyai luas permukaan per unit volume yang tinggi. Bahan yang biasa digunakan adalah kerikil, batu kali, antrasit, batu bara dan sebagainya. Perkembangan teknologi terbaru, proses ini menggunakan media plastik yang dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan panas yang tinggi.

d) Diameter media Diameter media trickling filter biasanya antara 2,5-7,5 cm. Sebaiknya dihindari penggunaan media dengan diameter terlalu kecil karena akan memperbesar kemungkinan penyumbatan. Makin luas permukaan media, maka makin banyak pula mikroorganisme yang hidup di atasnya.

e) Ketebalan susunan media Ketebalan media trickling filter minimum 1 meter dan maksimum 3-4 meter. Makin tinggi ketebalan media, maka akan makin besar pula total luas permukaan yang ditumbuhi mikroorganisme sehingga makin banyak pula mikroorganisme yang tumbuh menempel di atasnya.

f) pH pH sangat berpengaruh pada pertumbuhan mikroorganisme khususnya bakteri. pH selalu dikondisikan mendekati keadaan netral. pH yang optimum untuk menumbuhkan bakteri adalah 6,5-7,5.

25

g)

Karakteristik air limbah

Air Limbah yang akan diolah dengan trickling filter terlebih dahulu

diendapkan, karena pengendapan dimaksudkan untuk mencegah penyumbatan

pada distributor dan media filter.

h)

Temperatur

Temperatur pada reactor trickling filter mempengaruhi kecepatan reaksi dari

suatu proses biologis.

3)

Teknik Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)

hingga saat ini merupakan sistem yang paling

banyak dipakai dalam pengolahan limbah cair. Pada dasarnya sistem ini

mereproduksi efek auto-purifikasi yang terjadi di sungai-sungai, dimana

mekanismenya dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:

Limbah + [mikroorganisme] + O2 → [Mikroorganisme] + H2O + CO2

Teknologi lumpur aktif

Activated Sludge merupakan teknik yang paling banyak dipakai pada

pengolahan air limbah. Prinsip teknik ini adalah menginteraksikan dalam sebuah

reactor biologis teraerasi, air limbah dengan mikroorganisme tersuspensi yang

akan mengurai zat pencemar pada perairan. Mikroorganisme tersuspensi pada air

limbah akan membentuk flok-flok bakterien. Campuran masuk kemudian ke

dalam bak pengendap dimana akan terpisahkan antara air bersih dengan

mikroorganisme dalam lumpur (Sutapa, 2000).

Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Ardern dan Lockett di

Manchester pada tahun 1931. Mereka memperkenalkan bahwa flok lumpur yang

terbentuk dari proses pemurnian limbah dapat dimanfaatkan ulang, yang

kemudian mereka sebut sebagai lumpur aktif. Prosesnya dilakukan di tangki

reaksi (atau tangki lumpur aktif sebagai tangki tahap II dalam pengolahan limbah)

untuk memperbanyak biomass mikroba dilakukan dengan mensuplai oksigen yang

sangat dibutuhkan oleh mikroba dalam kegiatan pemurnian limbah. Pengolahan

limbah dengan cara ini terdiri dari tangki pertama, tangki lumpur aktif dan tangki

akhir. Tangki pertama sebenarnya mirip kedudukannya sebagai filter mikroba,

jadi tidak mutlak harus ada dalam pengolahan limbah model ini.

26

4)

Teknik Kolom Reaktor (Wastewater Reactor Column) Pada limabelas tahun terakhir, teknik lumpur aktif dikembangkan untu

mengatasi limbah yang sangat berat kandungan pencemarnya. Tujuan lainnya

adalah untuk mengefisienkan penggunaan oksigen dan mempercepat waktu

tunggu (retention time), maka ditemukanlah teknologi ini. Penurunan kadar COD

pada limbah industri tekstil dapat mencapai 90% dan pengurangan warna sebesar

89%. Disamping itu teknik kolom reactor dapat memperbaiki pengendapan TSS

pada air limbah (Wiloso & Roy Heru Trisnamurti, 2001).

Sistem ini disebut juga sebagai deep shaft system, yang menggunakan

reactor airlift yang tingginya dapat mencapai 70 meter lebih. Teknik ini disebut

juga dengan tower biology karena menggunakan proses lumpur aktif.

5)

Teknik Kolam Oksidasi Terbuka dan Fotobioreaktor Kolam oksidasi merupakan salah satu teknik yang sangat bermanfaat

dalam upaya merestorasi lingkungan yang telah tercemar dengan menggunakan

bioteknologi. Dengan mengkultur alga pada kolam oksidasi dapat memperoleh

tiga keuntungan yaitu mereduksi beban limbah pencemar yang ada di perairan,

memperoleh hasil panen biomasa alga yang dapat dibuat menjadi biodiesel dan

menangkap CO2 di udara, karena penyerap gas CO 2 yang paling efisien adalah

laut (Bachu,2000). Salah satu organisme laut yang dapat mengikat CO2 adalah

organisme berklorofil yang berupa fitoplankton atau alga, baik yang berukuran

makro maupun yang mikro. Walaupun penggunaan alga hijau-biru sebagai

makanan telah dikenal selama ribuan tahun yang lalu (Jensen et al., 2001),

penggunaan alga untuk kosmetika, farmasi dan fiksasi CO 2 masih dalam

pengembangan. Para ilmuwan baru saja memahami adanya hubungan antara alga

dengan iklim, tetapi bagaimana mekanisme hubungan yang terjadi belum

terungkap dengan jelas (Monastersky,1987).

Sampai saat ini teknologi budidaya alga berkukuran mikro (mikroalga)

dapat dikategorikan menjadi tiga sistem yaitu: kolam terbuka, fermentor

heterotrofik dan fotobioreaktor. Sistem kolam terbuka udara merupakan sistem

yang paling sederhana dalam pengembangan mikroalga, karena pada sistem ini

mudah terjadi kontaminasi dan hanya sedikit mikroalga fotoautotrof yang dapat

tumbuh. Sistem fermentor dan fotobioreaktor merupakan sistem yang lebih maju

27

bila dibandingkan dengan system kolam terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk

mengembangkan mikroalga fotoautotrof dan heterotroph dengan lebih terkontrol.

Salah satu permasalahan utama pada sistem fotobioreaktor adalah pengembangan

pada skala besar (Running et al., 1994). Mikroalga telah dikenal sebagai spesies

yang dapat tumbuh dengan cepat dan pengangkap CO 2 yang efektif. Peningkatan

CO 2 di udara dapat meningkatkan pertumbuhan mikroalga secara dramatis

(Ormerod, 1995). Hasil dari fotosintesis mikroalga berupa asam lemak tidak

jenuh. Penggunaan mikroalga relatif mudah karena mempunyai gen yang

sederhana, tetapi mempunyai kemampuan fotosintesis yang tinggi sehingga dapat

diharapkan dapat memproduksi hasil yang besar.

Pengembangan Fotobioreaktor dan Kolam oksidasi terbuka di terrestrial masih

perlu dikembangkan dengan memanfaatkan gas buang industri sebagai sumber

CO 2 dan Leachate yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir sampah sebagai

sumber N/C.

6) Pengolahan limbah dengan cara anaerob Pengolahan limbah dengan cara ini

pada dasarnya dilakukan untuk

memanfaatkan bakteri atau mikroorganisme lain yang anaerobik. Salah satu

contoh yang sangat populer adalah pemanfaatan mikroba penghasil methan dalam

kegiatan pembuatan biogas.

Mikroba penghasil metan ini dapat kita temukan tidak hanya di daerah-

daerah yang menghasilkan metan tinggi, namun juga pada rumen hewan

ruminansia. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perut sapi sekitar 8 hingga

10% dari makanannya dikonversi menjadi 100 hingga 200 liter methan yang

dibentuk oleh mikroorganisme dan dapat dimanfaatkan sebagai biogas. Secara

biokimia, proses pendegradasian materi organic secara anaerob dapat dibagi

menjadi tiga tahap yaitu tahap hidrolisis, tahap fermentasi dan tahap

methanogenesis.

Tahap hidrolisis merupakan tahap dimana mikroorganisme hidrolitik akan

mendegradasi senyawa organic kompleks menjadi monomer-monomer yang

berupa monosakarida. asam lemak, asam amino, purin dan pirimidin. Hasil dari

tahap Hidrolisis ini menjadi bahan pada tahap Fermentasi, dimana bakteri

asidogenik akan mendegradasi monomer menjadi asam propionat, butirat, valerat,

28

H 2 dan CO 2 (Metcalf & Eddy, 2003). Pada tahap methanogenesis, asam asetat,H2,

dan CO 2 akan diubah menjadi methane dengan reaksi sebagai berikut:

Kelompok mikroorganisme asetilasetik metanogen akan mengubah asam asetat

menjadi methana dan CO2 : CH3COOH CH4 + CO 2 . Kelompok mikroorganisme

methanogen hidrogenotropik menggunakan H 2 sebagai donor dan CO2 sebagai

acceptor untuk membentuk methana : H2 + CO 2 CH 4 + 2H 2 O.

Pada tahap methanogenesis inilah BOD dan COD Limbah akan terdegradasi

secara signifikan (McCarty dalam Metcalf & Eddy, 2003).

Pengolahan limbah dengan metode anaerob pada dasarnya sama dengan

metode aerob, hanya saja pada saat ini teknik yang digunakan lebih banyak

menggunakan metode fixed-bad dibandingkan dengan sistem continous. Sisi

kelebihan metode anaerob adalah penggunaan lahan yang tidak telalu luas dan

dari sisi kebersihan lebih terjamin karena prosesing dilakukan secara tertutup,

tidak menimbulkan dampak turunan yang lebih banyak, misalnya penyakit,

gejolak sosial dan lain-lain, sedangkan gas yang dihasilkan diharapkan dapat

digunakan kembali. Contoh pengolahan limbah dengan metode fixed-bad ini

adalah apa yang dilakukan Departemen Pekerjaan Umum di Bandung yang

mengolah limbah cair dari pabrik tahu dengan model anaerob ini.

7)

Degradasi limbah padat Degradasi limbah padat dengan menggunakan mikroorganisme saat ini

sudah banyak dikenal. Mikroba yang sangat dikenal di kalangan petani adalah

mikroba yang digunakan untuk kegiatan pengomposan atau untuk tujuan

perbaikan struktur tanah terutama dari segi mikrobiologi. Proses pengomposan

secara singkat dapat dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap

pematangan. Pada tahap-tahap awal proses pengomposan, oksigen dan senyawa-

senyawa yang mudah terdegradasi segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik.

Temperatur tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat, kemudian diikuti

dengan peningkatan pH kompos. Temperatur akan meningkat hingga di atas 50 o

70 0 C. Mikroba yang aktif pada kondisi ini dari jenis mikroba Termofilik.

Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen pada

saat penguraian bahan organic menjadi CO2 , uap air dan panas. Setelah sebagian

besar bahan telah terurai, maka temperatur akan berangsur-angsur mengalami

29

penurunan. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 40% dari volume/bobot awal bahan. Penggunaan mikroba dalam kegiatan pengomposan misalnya, banyak yang menggunakan EM4 (Effective Microorganisms) untuk degradasi limbah padat, misalnya limbah perkotaan, atau bahan organik lain agar proses dekomposting berjalan lebih cepat dengan hasil yang lebih baik.Mikroba yang terkandung dalam cairan EM4 diantaranya adalah; Lactobacillus, ragi, bakteri fotosintetik, Actinoomycetes dan jamur pengurai selulose. EM4 pada awalnya ditemukan untuk memperbaiki kandungan mikroba dalam tanah yang sangat diperlukan dalam menjaga kesuburan tanah, meningkatkan kalium pada kompos ampas tahu (Suswardany, dkk., 2006), dan menyebabkan pertumbuhan semai lebih optimal (Hidayat, 2005). Namun sampai saat ini banyak yang menggunakannya tidak hanya untuk menambah kesuburan tanah atau menggeser keseimbangan mikroba lain yang kurang bermanfaat dalam tanah, melainkan sedang dicobakan untuk kegunaan lain, misalnya untuk mempercepat pembusukkan serat-serat kayu untuk medium tumbuh jamur yang biasanya memerlukan waktu yang sangat lama dalam tahap kerja pengompoan (composting), dengan adanya EM4 diharapkan proses ini dapat diperpendek. Selain EM4, saat ini digunakan juga Starbio, SuperDec, OrgaDec, EM Lestari, DegraSimba, dan lain-lain untuk keperluan serupa (Isroi, 2004). Starbio, diyakinilebih baik dibandingkan EM4 karena jumlah kandungan mikrobanya yang lebih banyak, jenisnya yang mungkin lebih efektif dan lebih kemungkinan kandungan mikrobanya lebih kekonsistenan karena dibuat dalam bentuk serbuk. 5

5 Abdulkadir Rahardjanto, Peranan Bioteknologi dalam Restorasi Lingkungan, Volum 14. Nomor 1, (Malang: UMM, 2011) h. 166-175

30

A. Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Bioteknologi merupakan pemanfaatan organisme hidup baik secara keseluruhan maupun bagian dari organisme tersebut untuk mengahasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi manusia.

2. Bioteknologi lingkungan merupakan aplikasi dari bioteknologi dibidang lingkungan.

3. Aplikasi bioteknologi dibidang lingkungan antara lain adalah bioremidiasi dan fitoremidiasi.

4. Dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup, bioteknologi juga memegang peranan yang penting. Misalnya, penggunaan bakteri aktif di instalansi-instalansi pengolahan air limbah. Untuk mengefisienkan pengolahan limbah, digunakan mikroorganisme yang dapat mengubah sampah organik menjadi substansi yang lebih sederhana.

5. Peranan Bioteknologi dalam merestorasi lingkungan meliputi pengelolaan air dan limbah cair, teknik filter mikroba, teknik lumpur aktif, teknik kolom reaktor, teknik kolam oksidasi terbuka dan fotobioreaktor, pengolahan limbah dengan cara anaerob, dan degradasi limbah padat.

B. Saran

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik, makalah ini semoga berguna bagi pembaca, khususnya bagi penulis, namun manusia tidaklah ada yang sempurna, terdapat kesalahan dalam penulisan ini. oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan untuk memperbaiki makalah ini.

31

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, A. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Contoh Lingkungan. Jakarta:

Gadjah mada Press

Priadie, Bambang. 2012. Teknik Bioremediasi Sebagai Alternatif dalam Upaya Pengendalian Pencemaran Air. Jurnal ilmu lingkungan.

Rahardjanto, Abdulkadir. 2011. Peranan Bioteknologi dalam Restorasi Lingkungan, Volum 14. Nomor 1. Malang: UMM

Widyawati, Enny. - . Pemanfaatan Bakteri Pereduksi Sulfat untuk Biore ediasi Tanah Bekas Tambang Batubara, Jurnal Biodiversitas, Volume 4, No. 4, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor

32