Anda di halaman 1dari 11

BIOGRAFI SUNAN GIRI

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur


Mata pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Guru Pengampu : Hari Aji Susilo S.Pd.I

DISUSUN OLEH :

1. Eka Riyana (XII Kimia Industry)


2. Feby Priska Verliana Purba (XII Kimia Industry)
3. Musifahyati (XII RPL)

SMK KESEHATAN BHAKTI HUSADA SUMPIUH


Jl. Bong Cina Kradenan Sumpiuh Banyumas
Tahun Pelajaran
2019/ 2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah dengan judul “Sunan Giri” ini dengan tepat waktu.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan dan memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini.
Pada kesempatan ini, dengan tulus ikhlas penyusun menyampaikan terima
kasih yang tak terhingga kepada kedua orangtua penyusun, Bapak/Ibu guru dan
teman-teman yang telah memberikan bantuan dan partisipasinya baik dalam bentuk
moril maupun materil untuk keberhasilan dalam penyusunan makalah ini.
Penyusun selaku penyusun berharap semoga makalah ini ada guna dan
manfaatnya bagi para pembaca. Amin.

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ................................................................................................ i


KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
BAB II TUJUAN PEMBAHASAN ......................................................................... 2
A. Sejarah Lahirnya Sunan Giri ......................................................................... 2
B. Penyebaran Islam Sunan Giri ........................................................................ 3
C. Hasil Penyebaran Islam Sunan Giri ............................................................... 6
BAB III KESIMPULAN ........................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 8

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam belanatara pengetahuan, sejarah menempati posisi paling penting dan


signitifkan. Sejarah boleh dikatakan sebagai mother of knowladge. Berangkat dari
sejarah, pengetahuan dapat digali dan dikaji dengan deni kebaikan peradaban pada era
yang akan datang. Proses memahami dalam kajian sejarah harus dibarengi pula
dengan pendekatan dan metodologi yang memadai, karena jika tidak demikian wajah
sejarah tidak lagi indah untuk dinikmati, tetapi sejarah berwajah garang karena akan
diperas untuk tendensi sebuah kelompok. Oleh karena itu, menempatkan sejarah
sebagai ruang yang bersih, objektif, dan bebas tendensi harus dilalui dengan
pendekatan, metodologi yang ilmiah, dan akademik, sehingga kebenarannya dapat
dipertanggungjawabkan.
Salah satu kekayaan sejarah pada peradaban masa lalu ialah tentang wali yang
menyebarkan agama islam di tanah jawa yang sering kita kenal dengan sebutan
walisongo. Dan dalam makalah ini kami akan membahas tentang biografi singkat
salah satu wali yakni Sunan Giri. Kita mengenal bagaimana sepak terjang beliau
dalam berdakwah ditanah jawa hingga ekspansinya kepelosok-pelosok nusantara.
Makalah ini akan dibahas tentang sapa Sunan giri? Dimana beliau menuntut ilmu ?
bagaimana ekspansi ajaran agama islam hingga ke seluruh nusantara? Dan lain-lain.
Kisah penyebaran agama Islam di tanah jawa secara besar-besaran ini
mengandung rasa kekeaguman semua pihak, baik dari kalangan Islam sendiri maupun
dari kalangan pemeluk agama lain. Persebaran islam ditanah jawa tidak lepas dari
campur tangan walisongo sehingga pada masa sekarang ini islam menguasai
mayoritas penduduk.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Lahirnya Sunan Giri


Kisah sunan giri bermula ketika maulana ishaq tertarik untuk mengunjungi
jawa timur karena ingin menyebarkan agama islam. setelah bertemu dengan sunan
ampel yang masih sepupunya, maka ia disarankan berdakwah di daerah
blambangan, sebelah selatan banyuwangi, jawa timur. Ketika itu, masyarakat
blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri raja blambangan, dewi
sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.
Akhirnya, sang raja mengumumkan sebuah sayembara. “Barang siapa yang
berhasil mengobati sang dewi, jika seorang laki-laki maka ia akan dijodohkan
dengannya. Jika perempuan maka ia akan dijadikan saudara angkat sang dewi.
Tapi, tidak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. di tengah
keputusasaan, sang prabu mengutus bajul sengara mencari pertapa sakti. Dalam
pencarian itu, sang patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti yang
bernama resi kandayana. Dan, resi inilah yang memberi informasi tentang syekh
maulana ishaq. Rupanya, maulana ishaq mau mengobati dewi sekardadu, jika
prabu menak sembuyu dan keluarganya bersedia masuk islam.
Setelah dewi sekardadu sembuh, syarat maulana ishaq pun dipenuhi. Seluruh
keluarga raja memeluk agama islam. Setelah itu dewi, sekardadu dinikahkan
dengan maulana ishaq. Sayangnya, prabu menak sembuyu tidak menjadi seorang
muslim dengan sepenuh hati. ia malah iri menyaksikan maulana ishaq berhasil
meng Islam kan sebagian besar rakyatnya. Lalu ia berusaha menghalangi syiar
islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh maulana ishaq.
Merasa jiwanya terancam. Maulana Ishak akhirnya meninggalkan
Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat ia hanya berpesan kepada
dewi sekardadu yang sedang mengandung tujuh bulan agar anaknya diberi nama
raden paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, prabu menak sembuyu melampiskan
kebenciannya kepada anak maulana ishaq dengan membuatnya ke lau dalam
sebuah peti.
Alkisah peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari gresik yang
sedan menuju pulau bali. Bayi tersebut kemudian diserahkan kepada nyai ageng

2
Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu bayi laki-laki yang kemudian dinamai
Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko
Samudro dititiplan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.
Karena kecerdasannya, anak itu diberi “Maulana ‘Ainul Yaqin”. Setelah
bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum
Ibrahim (Sunan Bonang), diutud Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Makkah.
Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.
Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan raden paku dengan ayah
kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa.
Pada saat itulah, Maulana Ishaq membekali Raden Paku dengan segenggam tanah,
lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau
tanahanya sama dengan yang diberikannya.
Sunan Giri atau yang mempunyai nama lain Raden Paku, Prabu Satmata,
Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra adalah nama salah
seorang Wali Songo yang berkedudukan di desa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa
Timur. Ia lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada tahun Saka Candra Sengkala
“Jalmo Orek Werdaning Ratu” (1365 Saka). dan wafat pada tahun Saka Candra
Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” (1428 Saka) di desa Giri, Kebomas,
Gresik.
Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW; yaitu melalui jalur
keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-
Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad Al-Muhajir,
Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali
Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik
(Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin
Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan ‘Ainul
Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat
pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa’adah Ba’alawi Hadramaut.
B. Penyebaran Islam Sunan Giri
Saat mulai remaja diusianya yang 12 tahun, Joko Samudra dibawa ibunya ke
Surabaya untuk berguru ilmu agama kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel) atas
permintaannya sendiri. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel
mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Sunan Ampel
mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran

3
Islam di Pasai sebelum menunaikan keinginannya untuk melaksanakan
ibadah Haji. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayahnya
sendiri. Di sinilah, Joko Samudra mengetahui cerita mengenai jalan hidup masa
kecilnya. Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih
dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin diperintahkan gurunya yang tak lain adalah
ayahnya sendiri itu untuk kembali ke Jawa untuk mengembangkan ajaran islam di
tanah Jawa. Dengan berbekal segumpal tanah yang diberikan oleh ayahandanya
sebagai contoh tempat yang diinginkannya, Raden ‘Ainul Yaqin berkelana untuk
mencari dimana letak tanah yang sama dengan tanah yang diberikan oleh
ayahanya.
Selama 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta
petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan
ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ''Kelak, bila tiba masanya,
dirikanlah pesantren di Gresik.'' Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.
Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah
bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah
perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri.
Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta,
''giri'' berarti gunung.
Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri --
yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas
istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu
kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6
x 5 meter.
Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri
mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran
1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ''Memang banyak orang yang
tidak tahu situs ini,'' kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan
Giri.
Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura,
Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid
Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren
Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan
ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.

4
Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak
kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum
''putihan'', aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan
Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga,
dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.
Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang,
Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini
sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ''Aliran Tuban'' --Sunan
Kalijaga cs-- ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut
Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk
manusia.
Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang
diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber
berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ''ketua'' para wali, wafat pada
1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia
diberi gelar Prabu Satmata.
Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian
ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan,
Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah
menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan
politiknya pun dijadikan rujukan.
Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak,
Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata
sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu,
dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui
Sunan Giri.
Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of
Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam
naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik
Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri
tercatat.
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari
Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama
40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya

5
kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.
Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam
pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri
Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan
ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas
wilayahnya.
Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana
Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi
Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu.

C. Hasil Penyebaran Islam Sunan Giri


Kini, jejak bangunan pesantren giri hampir tiada. tapi, jejak dakwah sunan giri
masih membekas. Keteguhan sunan giri memurnikan agama islam juga diikuti
para penerusnya. Pada 1506 M, sunan giri wafat dan dimakamkan di desa giri,
kecamatan kebonmas, kabupaten gresik, jawa timur.Beberapa karya seni yang
sering dihubungkan dengan Sunan Giri antara lain: permainan anak tradisional
jawa seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng.
Kemudian juga gending Asmaradana dan Pucung, seringkali dihubungkan
dengan Sunan Giri.

6
BAB III
KESIMPULAN

Sunan Giri memiliki nama asli Raden Paku, alias Muhammad Ainul
Yaqin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga
yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya
yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama
Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja
(Babad Tanah Jawi versi Meinsma).Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara
sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya,
tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga
isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat
dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah
merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti,
Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit,
namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena
khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya
untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu
pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan
Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu
fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta
karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan
cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending
Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

7
DAFTAR PUSTAKA

https://www.ceritaislami.net/2013/02/cerita-asal-usul-sunan-giri-raden-paku-syekh-
maulana-ishaq.html
http://nahdlatululama.id/blog/2018/03/12/sunan-giri/

http://www.laduni.id/post/read/39585/safari-religi-dan-berdoa-di-makam-sunan-giri

http://kuliyyatul.blogspot.com/2013/01/kisah-sunan-giri-joko-samudra.html

https://www.ceritaislami.net/2013/02/rencana-dan-usaha-sunan-giri-mendirikan-
pesantren.html
https://www.wikiwand.com/ms/Sunan_Giri

https://basaudan.wordpress.com/2011/03/30/raden-paku-atau-ainul-yaqin-sunan-giri/