Anda di halaman 1dari 8

Kelompok 4 Teori Akuntansi Syariah

Anggota :
1. Rossalia Hilda Safitri (16.322.005) Resume
2. Ulfa Hardyanti S. (16.322.015) Bab I
3. Afidatul Munawaroh (16.322.022) Bab II

BAB I
PENDAHULUAN

Perubahan adalah Sunnatullah, yang hakikatnya menyiratkan bahwa hanya Tuhanlah


yang kekal, sedangkan yang lain adalah fana, termasuk akuntansi sebagai disiplin ilmu
pengetahuan dan praktik. Akuntansi adalah an ever-changing discipline, berubah terus
sepanjang masa. Akuntansi yang ada sekarang pun sudah dipertanyakan keandalannya,
terbukti dengan berkembangnya kajian baru dalam disiplin ini seperti social and
environmental accountinq atau human resource accountinq, dimana akuntansi modern hanya
mampu mengakui dan merefleksikan peristiwa ekonomi yang sifatnya private, sehingga
mengabaikan realitas non-ekonomi yang diciptakan perusahaan.

Akar kelemahan akuntansi modern terletak pada egoisme yang terlihat pada orientasi
akuntansi untuk melaporkan laba kepada pihak yang paling berkepentingan, yaitu
shareholders. Akibatnya informasi yang disajikan akuntansi modern juga berbau sifat
tersebut. Hines (1992), mengidentifikasi bahwa akuntansi modem memiliki bias gender
maskulin. Penekan yang berlebihan pada nilai-nilai maskulin sangat berpengaruh pada
keseimbangan lingkungan, tatanan kehidupan sosial-spiritual manusia, dan alam.

Dengan bias nilai "egoistik," misalnya, manajemen atau pengguna (users) laporan
keuangan akhirnya berprilaku egoistik. Manajemen perusahaan hanya memikirkan
bagaimana perusahaan dapat memperoleh laba yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan
lingkungannya, termasuk dalam hal enggan memberikan gaji yang memadai bagi
karyawannya. Hal yang sama juga dapat kita lihat, bagaimana manajemen memperlakukan
limbah industrinya. Dengan pikiran egoistiknya, manajemen membuang limbah ke
lingkungannya tanpa melakukan proses pemurnian limbah. Perilaku manajemen seperti itu
sama sekali tidak memerhatikan kesejahteraan karyawannya, demikian juga kelestarian
Iingkungan. Hal itu berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri baik secara materi
maupun spiritual.

Akuntansi modern memiliki perhatian yang tinggi pada dunia materi (yang bergender
maskulin), dan sebaliknya mengabaikan dan mengeliminasikan dunia non-materi (yang
sifatnya feminin). Semua simbol akuntansi (accounts) adalah simbol-simbol materi. Simbol-
simbol ini menggiring manajemen dan pengguna ke arah dunia materi yang pada akhirnya
menciptakan dan memperkuat realitas materi.

Akumulasi modal melalui perolehan laba merupakan proses penumpukan materi.


Instrumen-instrumen penting (misalnya, sistem pasar, sistem bisnis, regulasi pemerintah,

1
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
sampai pada sistem akuntansi) diciptakan untuk melegitimasi dan memperkuat proses
penumpukan materi tersebut. Dengan cara ini sebetulnya, secara sadar atau tidak, manusia
telah mengkooptasi dirinya pada dunia materi. Manusia menjadi lupa pada hakikat dirinya
yang meliputi unsur materi dan spiritual. Dunia materi tidak mengondisikan unsur spiritual
(ruh) manusia untuk siap kembali ke Sang Pencipta. Materi tidak akan mampu membuat
diri menjadi tenang (al-na/s al-rilUtmainnah) yang siap kembali kepada Sang Pencipta setiap
saat. Materi bukan tujuan hidup, melainkan sekadar instrumen yang membantu perjalanan
manusia kepada Sang Pencipta.

Akuntansi modern yang materialistik tidak cukup kondusif untuk mendukung


perjalanan tersebut. Karena itu, perlu dilakukan langkah dekonstruksi terhadap akuntansi
modern agar nantinya tercipta sebuah sistem akuntansi yang mampu menstimulasi perilaku
manusia ke arah kondisi "kesadaran ketuhanan" (God consciousness). Kesadaran Ketuhanan ini
adalah kesadaran yang menyebabkan seseorang menyadari kehadiran Tuhan setiap saat.
Pada kondisi ini yang bersangkutan akan selalu tunduk terhadap hukum-hukum Allah.
Dengan demikian, diperlukan sebuah bentuk akuntansi yang selaras dengan tujuan tersebut,
yaitu Akuntansi Syariah.

Dengan stimulasi dari akuntansi syariah, manusia diharapkan terperangkap dalam


jaringan kerja ilahiah, sehingga kesadaran Ketuhanan akan segera terbentuk. Penjelesan
terkait dua aliran pemikiran Akuntansi Syariah yaitu; 1)Akuntansi Syariah Filosofis-Teoretis
(Triyuwono, 1995; Harahap, 1997) adalah salah satu aliran pemikiran yang mencoba
melakukan dekonstruksi secara mendasar terhadap akuntansi modern yang ada saat ini
dengan merumuskan sendiri dasar-dasar filosofi, epistemologi, dan teori berdasarkan pada
nilai-nilai syariah. Aliran ini berusaha merumuskan bentuk akuntansi syariah yang ideal dan
sesuai dengan nilai-nilai syariah. Jenis akuntansi syariah ini masih dalam proses
pembentukan teori, belum dapat turun pada tingkat praktik.
2)Akuntansi
Syariah Praktis (Widodo dkk., 1999) lebih menekankan pada kebutuhan
praktis yang sangat mendesak terutama untuk lembaga-lembaga keuangan syariah. Praktik
akuntansi syariah ini hanya terbatas pada lembaga keuangan syariah saja, selain itu
praktiknya masih sangat mirip dengan akuntansi modern seperti yang tampak pada PSAK
No.59 tentang Standar Akuntansi untuk Perbankan Syariah.

,
Akuntansi Syariah juga tidak terlepas dari perspektif (pandangan dunia atau
\

paradigma) yang dimiliki oleh manusia. Ketika seseorang memahami dirinya sebagai homo
economicus, maka segala sesuatu yang ada di lingkungannya akan dilihat dan dibangun dari
perspektif manusia sebagai "binatang ekonomi." Konstruksi teori dan bentuk praktik tidak
akan menyimpang dari perspektif yang digunakan. Teori dan bentuk praktik tetap
dinyatakan benar sepanjang konsisten dengan nilai-nilai yang terkandung dalam perspektif
yang digunakan. Perspektif dalam kenyataannya tidak tunggal.

Perspektif Khalifatullah fil Ardh adalah perspektif yang sangat krusial dalam
konstruksi akuntansi syariah. Karena dengan perspektif ini, setiap langkah konstruksi
akuntansi syariah selalu didasarkan pada nilai-nilai syariah. Dari perpsektif ini pula kita

2
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
akhirnya dapat memformulasikan landasan filosofi, metodologi, dan teori akuntansi syariah.
Ini tentu saja sangat berbeda jika menggunakan perspektif homo economicus. Dengan
perspektif ini dapat memastikan bahwa nilai-nilai yang digunakan sangat berbeda dengan
fitrah manusia. Tidak menutup kemungkinan nilai yang terkandung didalamnya men-
dehumanisasikan manusia dari fitrahnya, seperti; egoistik, materialistik, dan individualistik.

Proses pencarian sistem nilai (etika) yang sesuai dengan fitrah manusia secara terbuka
melalui wisata kajian, yang dimulai dari deskripsi nilai-nilai yang terkandung akuntansi (yang
ada sekarang), kemudian dilanjutkan pada kajian teori-teori etika, dan akhirnya sampai pada
syariah sebagai dasar nilai etika. Dalam hal ini yang memiliki peranan penting yaitu Akuntan
(akademisi dan praktisi). Akuntan akademisi memiliki peran besar dalam memproduksi
disiplin ilmu Akuntansi Syariah. Akuntan praktisi juga memegang peranan penting dalam
konteks mengawal praktik Akuntansi Syariah agar tetap berjalan sesuai dengan nilai-niIai
yang dimilikinya.

Peranan umat Islam dalam meletakkan dasar-dasar seperti angka Arab-Hindu, ilmu
aljabar (matematika), dan sistem perdagangan bagi perkembangan akuntansi modern yang
ada pada saat ini. Peranan ini sebetulnya tidak terlepas dari pemahaman tentang teologi,
dimana tidak hanya mampu memberikan kontribusi yang besar bagi akuntansi, tetapi juga
bagi peradaban manusia. Namun, ketika umat Islam meninggalkan dasar-dasar teologi yang
bebas dan rasional, maka karya-karya besar umat Islam zaman klasik diarnbil alih bangsa
Barat. Akibatnya, peradaban manusia didominasi oleh Barat, termasuk penguasaan sistem
perdagangan dan akuntansi.

Alternatif pemikiran akuntansi dari perspektif syariah terutama ditekankan pada sisi
pemahaman ontologi akuntansi yang bertolak dari pemahaman tentang hakikat diri
manusia sebagai Khalifatullah Iii Ardh menuju ontologi bertauhid, yang juga berpengaruh
pada sisi pandang Epistemolog Akuntansi. Perspektif Khalifatullah Iii Ardh digunakan untuk
menafsirkan sebuah kata dalam Surat Al-Baqarah ayat 282, yaitu kata "adil" (atau benar),
upa ya penafsiran ini dilakukan dalam konteks (organisasi dan) akuntansi dengan tujuan
untuk mencari bentuk akuntansi yang didalamnya syarat dengan nilai-nilai keadilan Ilahi.

Akuntansi Syariah tidak terlepas dari konsep organisasi syariah yang menggunakan
metafora "amanah." Dalam bentuk yang lebih "operasional," metafora amanah" ini
diturunkan menjadi metafora "zakat," atau realitas organisasi yang dimetaforakan dengan
zakat (zakat metaphorized organizational reality). Metafora inilah yang akhirnya digunakan
untuk membentuk Akuntansi Syariah. Paradigma metodologi sangat menentukan bentuk
konstruksi ilmu pengetahuan yang dibangun. Misalnya, Paradigma Positivisme (yaitu
paradigma yang sangat dominan dalam modernisme dimana dengan paradigma ini
akuntansi modern dan ilmu pengetahuan modern lainnya dihasilkan) sangat mengedepankan
rasionalisme, empirisme- materialistik, gerak mekanis kehidupan.

Metodologi konstruksi akuntansi syariah sedapat mungkin adalah metodologi yang


paling dekat dengan syariah, yaitu metodologi yang lebih holistic dibandingkan dengan
yang lainnya. Misalnya, prespektif Khalifatullah fil Ardh melihat dalam perspektif yang lebih

3
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
luas, yaitu: realitas materi, realitas psikis, realitas spiritual, realitas asma'sifatiyyah, dan
realitas absolut (Tuhan). Realitas yang satu tidak terpisah dengan realitas lainnya; dari
realitas yang paling rendah hingga pada realitas yang paling tinggi, yaitu ; Realitas Absolut.

Epistemologi yang digunakan untuk membangun akuntansi syariah adalah


"epistemologi berpasangan." Epistemologi ini diangkat dari Sunnatullah yang terhampar di
alam semesta ini. Dengan menggunakan "epistemologi berpasangan" simbol-simbol (atau
konsep teori) akuntansi tidak saja dihasilkan melalui pemikiran rasional manusia terutama
simbol-simbol representasi materi (economic/financial accounts), tetapi juga melalui intuisi
yaitu untuk simbol-simbol non-materi (non-economic/non-financial accounts). Akuntansi
Syariah dalam proses konstruksinya mengombinasikan epistemologi rasional dengan
epistemologi spiritual (tasawuf).

Karena concern dari akuntansi syariah adalah mendorong manusia untuk kembali
kepada Tuhan, maka sewajarnyalah kalau konstruksi akuntansi syariah berangkat dari
Tauhid. Akuntansi syariah menggring pola pikir dan perilaku manusia pada jaring-jaring
kuasa ilahi. Sehingga mereka "terperangkap” dalam jaring ilahiah untuk kembali pada Sang
Pencipta melalui aktivitas bisnis, praktik akuntansi, dan aktivitas sehari-hari lainnya.
Kembali pada Sang Pencipta disini dalam pengertian bahwa jiwa kita tunduk, pasrah, dan
menyatu dengan Sang Pencipta melalui proses kehidupan sehari-hari.

Akuntansi Syariah adalah ilmu sosial profetik yang menurunkan ajaran normatif Al-
Qur'an (khususnya QS AI-Baqarah [2]: 282) dalam bentuk yang lebih konkret. Dengan
langkah derivasi ini, maka perintah normatif untuk melakukan pencatatan transaksi dapat
dilakukan dengan baik pada tataran praktis. Dengan demikian, akuntansi syariah
merupakan bagian tak terpisahkan dari trilogi Iman (faith), Ilmu (know/edge), dan Amal
(action). Artinya, wujud keberimanan seseorang harus diekspresikan dalam bentuk perbuatan
(amal atau aksi). Dimana perbuatan tadi harus didasari dan dituntun oleh ilmu (dalam hal ini
adalah ilmu sosial profetik, yaitu akuntansi syariah) .

Karakter laporan keuangan yang dapat diformulasikan adalah: egoistik-altruistik,


materialistik-spfritualistik, dan kuantitatif-kualitatif. Upaya formulasi ini menggunakan nilai
filsafat tasawuf Syaikh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawulo-Gusti. Karakter laporan
keuangan ini tidak lain adalah perpaduan antara nilai-nilai maskulin dan nilai-nilai feminin
yaitu epistemologi berpasangan. Epistemologi berpasanqan memang selalu mewadahi
konstruksi akuntansi syariah, seperti terlihat pada analisis tentang konsep entity theory
dan enterprise theory.

Entity theory memiliki bias kapitalisme dan maskulinisme. Sedangkan enterprise


theory adalah bentuk teori yang lebih baik dari teori yang pertama, karena teori ini
memiliki nilai egoisme yang jauh lebih rendah. Enterprise theory terkait dengan konsep-
konsep metafora amanah, metafora zakat, dan kemudian sampai pada konsep shari'an
enterprise theory. Entity theory memang berbeda dengan enterprise theory, apalagi
dibandingkan dengan shari'ah enterprise theory. Namun, entity theory ini ternyata
digunakan sebagai basis teori dalam penyusunan PSAK No.59.

4
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
BAB 2
WACANA AKUNTANSI SYARIAH

Wacana baru akuntansi syariah tidak hadir dalam suasana yang vakum (vacuum
condition), tetapi distimulasi oleh banyak faktor yang berinteraksi begitu kompleks, non-
linier ,dinamis , dan berkembang. Fakor – faktor, sepert : kondisi perbahan sistem politik,
ekonomi, sosial, budaya , peningkatan kesadaran keagamaan ,semagat revival ,perkembangan
ilmu pngetahuan, perkembangan dan pertumbunhan pusat pusat studi, dan lain – lainnya dari
umat isla, semuanya berinteraksi secara komplek dan akhirnya melahirkan pradigma syariah
dalam unia perakuntansian.

Secara lebih seerhana dan konkret, lahirnya paradigma akuntansi syariah tidak terlepas
dai faktor berkembangnya waca ekonom islam modern yang sejak tiga dekade terkahir ini
semakin marak. Nama – nama seperti M. Nejatullah Siddiqi, Umer Capra, M. Mannan
,Akhmad Khan- untuk menyebutkan sebagian adalah nama yang tidak asing lagi dalam
wacana ekonomi islam.

Lahirnya akuntansi syariah sekaligus sebagai paradigma baru sangat terkait dengan
kondisi objektif yang melingkupi umat islam secara khusus dan masyarakat dunia secara
uum. Kondisi tersebut meliputi : norma agama, konstribusi umat islam pada masa lalu, sistem
konomi kapitalis yang berlaku saat ini, dan perkembangan peikiran.

Norma agama telah memberikan persuasi normatif bagi para pemeluknya untuk
melakukan pencatatan atas segala transaksi degan benar / adil sebagaimana yang difirmankan
oleh Allah Swt.

Kontribusi Umat Islam secara sepints sebetulnya sudah menunjukkan konstribusi


umat islam sejak awal masa islam terhadap akuntansi, yaitu teknik pembukuan itu sendiri.
Disamping teknik pembukuan diana akuntansi modern berkembang dengan basis sistem tata
buku berpasangan juga pengenalan angka arab hindu , ilmu aljabar dan sistem perdagangan
merupakan faktor pemberi konstribusi terbesar bagi berkembangnya akuntansu modern saat
ini.

Sistem Ekonomi Kapitalis telah menambah dan menjerat setiap penjuru dan sudut
kehidupan manusia. Gerak pikir dan perilaku kita scara sadar atau tidak berada dalam
pengakuan pengaruh kapitalisme ini. Kekuatan yang besar ini dengan nyata , atau samar
mengkooptasi dan mengeksploitasi kehidupan manusia dalam alam semesta secra
sistematis.Akuntansi modern juga tidak terlepas dari pengaruh ini. Ia tidak boleh seagai
istrumen mati yang digunakan untuk lebih memperkokoh kekuatankaptalisme. Wajah
akuntansi yang telah di bentuk oleh kapitalisme dengan nyata menyebarkan informasi bagi
para penggunanya untuk mengambil keputusan dan aktivitas ekonomi. Aktivitas ini adalah
nyata dan membentuk realitas sosial. Ini berarti jaringan kuasa kapitalisme semakin
diperkuat.

5
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
Perkembangan Pemikiran dunia islam mulai menunjukkan geliat kehidupannya dari
sudut jendela ilmu pengetahuan. Iama’il al-Faruqi misalnya, dengan islamisasi ilmu
pengetahuannya seolah menggoyang tidur lelapnya umat islam untuk bangun mengonstruksi
ilmu pengetahuan berdasarkan jiwa tauhid.Penekan ekonomi islam cukup relevan dengan
kondisi di indonesia saat ini sistem ekonomi islam melalui bank syariahnya memberikan
alternatif sistem perbankan yang tahan terhadap krisis ekonomi. Sistem perbankan syariah ini
diharapkan menjadi solusi bagi permasalahan sistem keuangan nasional.

Akuntansi syariah merupakan pemicu bagi lahirnya akuntansi syariah pada tingkat
waca (discourse) .Dan ini ternyata mempunyai dampak yang sangat positif . Beberapa tulisan
dengan tma ini telah muncul dalam bentuk artikel misalnya Triyuwono ,1996a;1997) seminar
(lihat Triyuwono , 1996b) dan desertasi dari beberapa mahasiswa di Fakultas Ekonomi
Universitas Brawijaya.

Jadi pada tatanan konsep, akuntansi syariah merupakan sebuah wacana yang bisa di
gunakan untuk berbagi ide , konsp,dan pemikiran tentang akuntansi syariah itu sendiri. Waca
tersebut dapat seterusnya berada pada tatanan konsep , tetapi bisa juga diturunkan ke tatanan
yang lebih praktis.

Akuntansi adalah disiplin dan praktik yang yang di bentuk dan membentu
lingkungannya. Oleh karena itu, bila akuntansi dilahirkan dalam lingkungan yang kapitalistik,
maka informasi yang disampaikannya mengandung nilai – nilai kapitalistik. Kemudian
keputusan dan tindakan ekonomi yang diambil seseorang berdasarkan pada informasi
mengandung nilai – nilai kapitalistik. Akuntansi yang kapitalistik akan membentuk jaringan
kuasa yang kapitalistik.

Aliran pemikiran pertama kalinya pada tahun 1997 istilah akuntansi syariah
diluncurkan , wacana ini menggema dan berkembang egitu cepat. Bahkan akuntansi syariah
membelah dua bagian yaitu akuntansi syariah filosofis-teoretis dan akuntansi syariah
prsaktis mirip sel hidup yang membelah dan membiarkan dirinya .Keduanya eksis secara
positif emperkaya khazanah kajian dan praktik akuntansi syariah.

Pada tingkatan Akuntansi Syariah filosofis-teoretis difokuskan pada metodologi


bagaimana kita bisa membangun dan mengebangkan akuntansi syariah. Seca umum
pendekatan ini menggunakan pendekatan deduktif – normatif. Bermula pada konsep umum
dan abstrak, kemudian diturunkan pada tingkat yang lebih konkret dan pragmatis. Mulai dari
penetapan tujuan akuntansi, kemudian teori , dan akhirnya ke teknik akuntansi.

Tujuan akuntansi menurut Triyuwono (1995;1996a;1997;2000a) sebagai instrumen


untuk membebaskan manusia dari ikatan jariangan kuasa kapitalisme atau jaringan kuasa
lainnya yang smua, dan kemudian diikatkan pada jaringan kuasa ilahi. Dengan informasi
yang dihasilkan oleh akuntansi syariah ini akan tercipta realitas tauhid , yaitu realitas yang
sarat dengan jaringan kuasa tauhid yang mendorong manusia pada kesadaran tauhid.

Sedangkan menurut Harahp (1997;120) tujuan dari akuntansi syariah adalah


mengungkapkan kebenaran, kepastian ,ketebukaan , keadilan, dan akuntabilitas dari transaksi

6
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
–transaksi yang dilakukan oleh perusahaan.Jika dibandingkan dengan Triyuwono
(1995;1996a;1997;2000a) ,pendapat Harahap lebih konkret meskipun masih memerlukan
proses penerjemahan pada tingkat praktik.

Penentuan tujuan kuntansi syariah sangat penting bagi pendekatan ini, karena dari
tujuan ini kemudian diturunkan konsep – konsep yang lebih konkret dan praktis.Aspek yang
sangat penting untuk diperhatikan dalam membangun dan mengembangkan akuntansi syariah
ini adalah metodologinya. Metodologi adalah semacam instrumen yang digunakan untuk
menghasilkan sebuah teori. Jika metodologi yang digunakan adalah metodologi yang
berdasarkan pada nilai etika syariah, maka dapat dipastikan bahwa teori akuntansi yang di
bangun mengandung nilai – nilai syariah. Tetapi sebaliknya bila dibangun dengan nilai
kapitalisme , maka teori akuntansi yang dihasilkan juga mengandung nilai kapitalisme.

Akuntansi Syariah Praktis adalah akuntansi yang sudah dipraktikkan dalam dunia
nyata. Di Indonesia dan dunia internasional auntansi syariah hanya di praktikkan di lembaga
keuangan syariah , yaitu bank syariah.Di Indonesia , barangkali karya Widodo dkk.(1999)
yang bisa kita anggap sebagai karya konkret dan praktis tentang akuntansi syariah. Widodo
dkk.(1999) secara khusus menulis dan merumuskan konsep – konsep teknis auntansi untuk
Baitul Mal wa Tamwil (BMT).

Kemudian , pada tahun 2003 diberlakukan standar akuntansu yang dikena dengan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuagan No.59 (PSAK No.59) Standar ini adalah standar
Akuntansi Keuangan untuk Perbankan Syariah.

PSAK No.59 dibuat dengan mrujuk pada Accounting and Auditing Standards for
Islamic Financial Istutions yang di buat oleh Accounting and Auditing Organization for
Islamic Financial Institutions (AAOIFI) pada 1998.Langkah ini sangat positif , karena sangat
membantu untuk memenuhi kebutuhan teknis dari bank – bank syariah yang jumlahnya
semakin meningkat akhir – akhir ini.

Selain PSAK No 59 ,Ikatan Akuntan Indonesia juga telah mengeluarkan PSAK No.101
tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah ,PSAK No.102 tentang Akuntansi Murabahah
,PSAK No.103 tentang Akuntansi Salam, dan PSAK No.104 tentang Akuntansi Istisna’,
PSAK No.105 tentang Akuntansi Mudharabah, PSAK No.106 tentang Auntansi
Musyarakah. Semuanya sangat membantu dalam memperkuat berjalannya operasi prbankan
syariah si indonesia.

Lahirnya sebuah pradigma dapat dipahami sebagai bagian dari siklus hukum Tuhan
.Pradigma pra – modern digantikan oleh paradigma modern yang poditivistik. Gejala
pergantian pradigma ini sbeetulnya sudah tampak. Akuntansi modern mulai dipertanyakan
dan diragukan kesahihannya.Dimasa yang akan datang akuntansi modern tidak menutup
kemungkinan akan digantikan oleh akuntansi alternatif, yaitu Akuntansi Syariah, yang sudah
tampak sebagai bayiyang baru lahir. Tau keduanya keduanya sama – sama ada, sehingga
ketersediannya berada dalam posisi sebagai pilihan bagi para pengguna.

7
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)
Akuntansi memiliki tujuan normatif yang ideal, yaitu menciptakan realitas
tauhid.Realitas ini adalah realitas sosial yang mengandung jaringan kuasa illahi yang
mengikat dan memilih kehidupan manusia dalam ketundukan pada Tuhan. Untuk sampai
pada tujuan ini diperlukn instrumen untuk membangun dan membentuk akuntansi syariah,
yaitu dengan cara menggunakan epistemologi dan metodologi syariah.

8
Kelompok 4 (Bab 1 & 2)

Anda mungkin juga menyukai