Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

IBU POST PARTUM SECTIO CAESARIA

Tugas Ini Di Buat Untuk Memenuhi Mata Ajar


Keperawatan Maternitas

Oleh :
Kadek Deta Andri Riady (17C10171)
Ni Made Sri Purnami (17C10172)
Ni Luh Putu Devi Wardani (17C10173)
Ni Made Monika Tari (17C10174)
Gst Ayu Made Kartika Asri Utari (17C10175)

SARJANA KEPERAWATAN TK. 3 C


ISTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
DENPASAR
2019

i
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan kerja keras penulis makalah yang berjudul “laporan
pendahuluan dan asuhan keperawatan ibu post partum sectio caesaria” dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas untuk
menempuh mata kuliah Keperawatan Maternitas. Penulis menyadari bahwa
penulisan makalah ini tidak dapat terselesaikan jika tidak ada bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penulis
menyampaikan ungkapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini diantaranya:

1. Bapak I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp.,M.Ng.,Ph.D selaku rektor


Institut Teknologi dan Kesehatan Bali yang telah memberikan
kesempatan penulis untuk menempuh pendidikan di Institut Teknologi
dan Kesehatan Bali.
2. Ns. Ida Ayu Ningrat Pangruating Diyu, S.Kep.,M.S sekalu dosen
pengampu mata ajar keperawatan maternitas.
3. Teman – teman kelompok atas ide dan kerjasamanya dalam
penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna atau masih
perlu perbaikan. Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan
kritik serta saran yang sifatnya membangun untuk memperbaiki penyusunan
makalah selanjutnya. Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.

Om Santhi,Santhi,Santhi Om

Denpasar, 19 September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i

KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 3

1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 4

2.1 Konsep Dasar Teori....................................................................................... 4

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan ....................................................................... 21

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 43

3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 43

3.2 Saran .............................................................................................................. 43

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 44

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sectio caesaria merupakan proses persalinanatau pembedahan melalui insisi
pada dinding perut dan rahim bagian depan untuk melahirkan janin.Indikasi
medis dilakukannya operasi sectio caesaria ada dua faktor yang mempengaruhi
yaitu faktor janin dan faktor ibu. Faktor dari janin meliputi sebagai berikut :
bayi terlalu besar, kelainanletakjanin, ancaman gawat janin, janin abnormal,
faktor plasenta, kelainan tali pusat dan bayi kembar. Sedangkan faktor ibu
terdiri atas usia, jumlah anak yang dilahirkan, keadaan panggul, penghambat
jalan lahir, kelainan kontraksi lahir, ketuban pecah dini(KPD), dan pre
eklampsia(Hutabalian , 2011).Berdasarkan data yang ada penyebab langsung
kematian pada ibu terdiri dari perdarahan (35%), eklampsi (20%), infeksi (7%)
sedangkan untuk penyebab yang tidak diketahui (33%) (PWS KIA Tahun
2007).Dalam keadaan normal 8–10% perempuan hamil aterm akan mengalami
KPD (Sarwono, 2008).Makin dikenalnya bedah caesar dan bergesernya
pandangan masyarakat akan metode tersebut, juga diikuti meningkatnya angka
persalinan dengan sectio caesaria.

Di Indonesia sendiri, secara garis besar jumlah dari persalinan caesardi


rumah sakit pemerintah adalah sekitar 20–25% dari total persalinan, sedangkan
untuk rumah sakit swasta jumlahnya sangat tinggi, yaitu sekitar 30–80% dari
total persalinan (Rosyid, 2009).Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
bersama Pemerintah (Departemen Kesehatan dan Departemen Kesejahteraan
Sosial) mengeluarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Medik
(Dirjen Yanmedik) Departemen Kesehatan RI yang menyatakan bahwa angka
sectio caesariauntuk rumah sakit pendidikan atau rujukan sebesar 20% dan
rumah sakit swasta 15% (Kasdu, 2003).Angka kejadian sectio
caesariakhususnya dengan indikasi ketuban pecah dini yang disertai dengan
presentasi bokong selama 1 tahun terakhir di Rumah Sakit PKU

1
Muhammadiyah Surakarta terdapat 8 orangdan untuk 1 bulan terakhir sebanyak
1orang.
Peningkatan angka kejadian sectio caesariaselalu mengalami peningkatan
untuk waktu yang akan datang.Berdasarkan asumsi dari berbagai pihak yang
terkaitdengan meningkatnya kecenderungan persalinan dengan sectio
caesariahal ini disebabkan oleh perasaan cemas dan takut menghadapi rasa
sakit, tidak kuat untuk menahan rasa sakit pada persalinan spontan, takut tidak
kuat mengedan, trauma pada persalinan yang lalu, adanya kepercayaan atas
tanggal dan jam kelahiran yang dapat mempengaruhi nasib anaknya di masa
mendatang, khawatir persalinan pervaginam akan merusak hubungan seksual,
keyakinan bahwa dengan bedah caesarkesehatan ibu dan bayi lebih terjamin,
faktor pekerjaan, anjuran dari suami, faktor praktis karena tindakan bedahcaesar
dilakukan sekaligus dengan tindakan sterilisasi serta faktor sosial dan ekonomi
yang mendukung dilakukannya tindakan bedah caesar.Salah satu upaya
pemerintah Indonesia untuk meminimalkan angka kejadian sectio caesaria
adalah dengan mempersiapkantenaga kesehatan yang terlatih, terampil dan
profesional agar dapat melakukan deteksi dini dan pencegahan komplikasi pada
ibu hamil selama kehamilan sehingga kemungkinan persalinan dengansectio
caesariadapat diturunkan dan dicegah sedini mungkin. Selain itu, peran petugas
kesehatan sangat dibutuhkan yaitu pada saat pemeriksaan antenatal care.
Petugas kesehatan diharapkan mampu untuk memberikan konsultasi mengenai
bahaya yang ditimbulkan akibat operasi sectio caesariasehingga masyarakat
memahami dan angka kejadian operasi sectio caesariadapat diminimalkan.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana tinjauan teori pada post partum ibu melahirhan sectio caesaria?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada post partum ibu melahirhan sectio
caesaria?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa saja tinjauan teori yang terdapat pada post partum ibu
melahirhan sectio caesaria.
2. Mengetahui apa yang ada di dalam asuahan keperawatan pada post partum
ibu melahirhan sectio caesaria.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP TEORITIS


A. DEFINISI
Sectio caesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding
abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin lebih dari 1000
gr atau umur kehamilan > 28 minggu (Manuaba, 2012).
Sectio caesarea merupakan tindakan melahirkan bayi melalui insisi
(membuat sayatan) didepan uterus. Sectio caesarea merupakan metode
yang paling umum untuk melahirkan bayi, tetapi masih merupakan
prosedur operasi besar, dilakukan pada ibu dalam keadaan sadar kecuali
dalam keadaan darurat menurut Hartono (2014).
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding
rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas
500 gram (Sarwono, 2009).
melalui sectio caesarea didefinisikan sebagai pelahiran janin
melalui insisi di dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus
(histerotomi) menurut Norman (2012).
Sedangkan Koniak (2011) menambahkan, pelahiran sesarea juga
dikenal dengan istilah sectio caesarea adalah pelahiran janin melalui
insisi yang dibuat pada dinding abdomen dan uterus, tindakan ini
dipertimbangkan sebagai pembedahan abdomen mayor.
B. ANATOMI FISIOLOGI
1. Anatomi dan Fisiologi sistem reproduksi
Organ reproduksi wanita terbagi atas organ eksterna dan interna.
Organ eksterna berfungsi dalam berfungsi dalam kopulasi,
sedangkan organ interna berfungsi dalam ovulasi, sebagai tempat
fertilisasi sel telur dan perpindahan blastosis, dan sebagai tempat

4
implantasi, dapat dikatakan berfungsi untuk pertumbuhan dan
kelahiran janin
a. Struktur Eksterna
1) Mons Pubis
Mons Pubis atau Mons Veneris adalah jaringan lemak
subkutan berbentuk bulat yang lunak dan padat serta
merupakan jaringan ikat jarang diatas simfisis pubis.
Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea
(minyak) dan ditumbuhi Rambut berwarna hitam, kasar
dan ikal pada masa pubertas, yakni sekitar satu sampai
dua tahun sebelum awitan haid. Fungsinya sebagai bantal
pada saat melakukan hubungan sex.
2) Labia Mayora
Labia Mayora ialah dua lipatan kulit panjang
melengkung yang menutupi lemak dan jaringan ikat
yang menyatu dengan mons pubis. Keduanya
memanjang dari mons pubis ke arah bawah mengelilingi
labia mayora, meatus urinarius, dan introitus vagina
(muara vagina ).
3) Labia Minor
Labia Minora, terletak diantara dua labia mayora,
merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit dan tidak
berambut yang memanjang ke arah bawah dari bawah
klitoris dan menyatu dengan fourchette. Sementara
bagian lateral dan anterior labia biasanya mengandung
pigmen, permukaan medial labia minora sama dengan
mukosa vagina; merah muda dan basah. Pembuluh darah
yang sangat banyak membuat labia berwarna merah
kemurahan dan memungkinkan labia minora
membengkak, bila ada stimulus emosional atau stimulus
fisik.

5
4) Klitoris
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan
erektil yang terletak tepat dibawah arkus pubis. Dalam
keadaan tidak terangsang, bagian yang terlihat adalah
sekitar 6 x 6 mm atau kurang. Ujung badan klitoris
dinamai glans dan lebih sensitive daripada badannya.
Saat wanita secara seksual terangsang, glans dan badan
klitoris membesar. Fungsi klitoris adalah menstimulasi
dan meningkatkan ketegangan seksualitas.
5) Prepusium Klitoris
Dekat sambungan anterior, labia minora kanan dan kiri
memisah menjadi bagian medial dan lateral. Bagian
lateral menyatu di bagian atas klitoris dan membentuk
prepusium, penutup yang berbentuk seperti kait. Bagian
medial menyatu di bagian bawah klitoris untuk
membentuk frenulum. Kadang-kadang prepusium
menutupi klitoris.
6) Vestibulum
Vestibulum ialah suatu daerah yang berbentuk seperti
perahu atau lonjong, terletak di antara labia minora,
klitoris dan fourchette. Vestibulum terdiri dari muara
uretra, kelenjar parauretra (vestibulum minus atau
skene), vagina dan kelenjar paravaginal (vestibulum
mayus, vulvovagina, atau Bartholin). Permukaan
vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah teriritasi
oleh bahan kimia (deodorant semprot, garam-garaman,
busa sabun), panas, rabas dan friksi (celana jins yang
ketat).
7) Fourchette
Fourchette adalah lipatan jaringan transversal yang pipih
dan tipis, terletak pada pertemuan ujung bawah labia

6
mayora dan minora di garis tengah dibawah orifisium
vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa navikularis
terletak di antara fourchette dan himen.
8) Perineum
Perineum ialah daerah muscular yang ditutupi kulit
antara introitus vagina dan anus. Perineum membentuk
dasar badan perineum. Penggunaan istilah vulva dan
perineum kadang-kadang tertukar.
b. Struktur Intenal
1. Ovarium
Sebuah ovarium terletak di setiap sisi uterus, dibawah dan di
belakang tuba falopii. Dua ligamen mengikat ovarium pada
tempatnya, yakni bagian mesovarium ligamen lebar uterus,
yang memisahkan ovarium dari sisi dinding pelvis lateral
kira-kira setinggi Krista iliaka antero superior, dan
ligamentum ovarii proprium.
Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan
memproduksi hormon. Saat lahir, ovarium wanita normal
mengandung sangat banyak ovum primordial (primitif).
Ovarium juga merupakan tempat utama produksi hormon
seks steroid (estrogen, progesterone, dan androgen) dalam
jumlah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan
dan fungsi wanita normal.
Hormon estrogen adalah hormon seks yang di produksi oleh
rahim untuk merangsang pertumbuhan organ seks seperti
payudara dan rambut pubik serta mengatur sirkulasi
manstrubasi. Hormon estrogen juga menjaga kondisi
kesehatan dan elasitas dinding vagina. Hormon ini juga
menjaga teksture dan fungsi payudara. Pada wanita hamil
hormon estrogen membuat puting payudara membesar dan
merangsang pertumbuhan kelenjar ASI dan memperkuat

7
dinding rahim saat terjadi kontraksi menjelang persalinan.
Hormon progesterone berfungsi untuk menghilangkan
pengaruh hormon oksitoksin yang dilepaskan oleh kelenjar
pituteri.
Hormon ini juga melindungi janin dari serangan sel-sel
kekebalan tubuh dimana sel telur yang di buahi menjadi
benda asing dalam tubuh ibu. hormon androgen berfungsi
untuk menyeimbangkan antara hormon estrogen dan
progesteron. ( Harunyaha,2003)
2. Tuba Falopii (Tuba Uterin)
Panjang tuba ini kira-kira 10 cm dengan diameter 0,6 cm.
Setiap tuba mempunyai lapisan peritoneum di bagian luar,
lapisan otot tipis di bagian tengah, dan lapisan mukosa di
bagian dalam. Lapisan mukosa terdiri dari sel-sel kolumnar,
beberapa di antaranya bersilia dan beberapa yang lain
mengeluarkan secret. Lapisan mukosa paling tipis saat
menstruasi. Setiap tuba dan lapisan mukosanya menyatu
dengan mukosa uterus dan vagina.
3. Uterus
Uterus adalah organ berdinding tebal, muscular, pipih,
cekung yang tampak mirip buah pir terbalik. Pada wanita
dewasa yang belum pernah hamil, berat uterus ialah 60 g.
Uterus normal memiliki bentuk simetris, nyeri bila ditekan,
licin dan teraba padat.
Derajat kepadatan ini bervariasi bergantung kepada beberapa
faktor. Misalnya, uterus mengandung lebih banyak rongga
selama fase sekresi Tiga fungsi uterus adalah siklus
menstruasi dengan peremajaan endometrium, kehamilan dan
persalinan. Fungsi-fungsi ini esensial untuk reproduksi,
tetapi tidak diperlukan untuk kelangsungan fisiologis wanita.
4. Dinding Uterus

8
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan: endometrium,
miometrium, dan sebagian lapisan luar peritoneum
parietalis.
5. Serviks
Bagian paling bawah uterus adalah serviks atau leher.
Tempat perlekatan serviks uteri dengan vagina, membagi
serviks menjadi bagian supravagina yang panjang dan
bagian vagina yang lebih pendek. Panjang serviks sekitar 2,5
sampai 3 cm, 1 cm menonjol ke dalam vagina pada wanita
tidak hamil. Serviks terutama disusun oleh jaringan ikat
fibrosa serta sejumlah kecil serabut otot dan jaringan elastis.
6. Vagina
Vagina, suatu struktur tubular yang terletak di depan rectum
dan di belakang kandung kemih dan uretra, memanjang dari
introitus (muara eksterna di vestibulum di antara labia
minora vulva) sampai serviks. Vagina adalah suatu tuba
berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu meregang
secara luas. Karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina,
panjang dinding anterior vagina hanya sekitar 7,5 cm,
sedangkan panjang dinding posterior sekitar 9 cm.
C. PERUBAHAN ANATOMI DAN ADAPTASI FISIOLOGI
1. Perubahan fisik
a. Involusi
Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya
alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan
hingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. Proses involusi
terjadi karena adanya:
1. Autolysis yaitu penghancuran jaringan otot-otot uterus
yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dan jaringan otot
yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan
menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil akan

9
susut kembali mencapai keadaan semula. Penghancuran
jaringan tersebut akan diserap oleh darah kemudian
dikeluarkan oleh ginjal yang menyebabkan ibu mengalami
beser kencing setelah melahirkan.
2. Aktifitas otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari
otot-otot setelah anak lahir yang diperlukan untuk menjepit
pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan
plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang
tidak berguna. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan
terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan
jaringan otot kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran
jaringan otot menjadi lebih kecil.
3. Ischemia yaitu kekurangan darah pada uterus yang
menyebabkan atropi pada jaringan otot uterus.
Involusi pada alat kandungan meliputi:
1. Uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena
kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Perubahan uterus setelah
melahirkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Involusi TFU Berat Uterus Diameter Bekas Keadaan Serviks


Melekat Plasenta
Setelah Sepusat 1000 gram 12,5 Lembik
plasenta
lahir
1 minggu Pertengahan 500 gram 7,5 Dapat dilalui
pusat 2 jari
symphisis
2 minggu Tak teraba 350 gram 5 Dapat
dimasuki
1 jari

10
6 minggu Sebesar hamil 2 50 gram 2.5
minggu
8 minggu Normal 30 r
a
m

2. Involusi tempat plasenta


Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak
pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus. Luka
bekas implantasi plasenta tidak meninggalkan parut karena
dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan
endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium
ini tumbuh dari pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada
dasar luka.
3. Perubahan pembuluh darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh
darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan tidak
diperlukan lagi peredaran darah yang banyak maka arteri
harus mengecil lagi dalam masa nifas.
4. Perubahan pada cervix dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan ostium eksternum dapat
dilalui oleh 2 jari, pada akhir minggu pertama dapat dilalui
oleh 1 jari saja. Karena hiperplasi ini dan karena karena
retraksi dari cervix, robekan cervix jadi sembuh. Vagina
yang sangat diregang waktu persalinan, lambat laun
mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke 3 post
partum ruggae mulai nampak kembali.
b. After pains/ Rasa sakit (meriang atau mules-mules) disebabkan
koktraksi rahim biasanya berlangsung 3 – 4 hari pasca persalinan. Perlu
diberikan pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu
mengganggu analgesik

11
c. Lochea
Lochea adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina
dalam masa nifas. Lochea bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari
darah menstruasi. Lochea ini berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi
tidak busuk. Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan jumlah dan
warnanya yaitu lokia rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel
desidua, verniks kaseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan
keluar mulai hari pertama sampai hari ketiga.
1. Lochea rubra (cruenta)
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua, vernik caseosa, lanugo, mekonium. Selama 2 hari
pasca persalinan.
2. Lochea sanguinolenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3–7 pasca
persalinan.
3. Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi. Pada hari ke 2–4
pasca persalinan.
4. Lochea alba
Cairan putih setelah 2 minggu.
5. Lochea purulenta
Terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah, berbau busuk.
6. Lacheostatis
Lochea tidak lancar keluarnya.
d. Dinding perut dan peritonium

Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama,


biasanya akan pulih dalam 6 minggu. Ligamen fascia dan diafragma
pelvis yang meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsur
angsur mengecil dan pulih kembali.Tidak jarang uterus jatuh ke
belakang menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum jadi kendor.

12
Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan pasca
persalinan

e. Sistem Kardiovasculer

Selama kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi


penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh
darah uterus. Penurunan dari estrogen mengakibatkan diuresis yang
menyebabkan volume plasma menurun secara cepat pada kondisi
normal. Keadaan ini terjadi pada 24 sampai 48 jam pertama setelah
kelahiran. Selama ini klien mengalami sering kencing. Penurunan
progesteron membantu mengurangi retensi cairan sehubungan dengan
penambahan vaskularisasi jaringan selama kehamilan

f. Ginjal

Aktifitas ginjal bertambah pada masa nifas karena reduksi dari volume
darah dan ekskresi produk sampah dari autolysis. Puncak dari aktifitas
ini terjadi pada hari pertama post partum

g. System Hormonal
1. Oxytoxin

Oxytoxin disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan bereaksi


pada otot uterus dan jaringan payudara. Selama kala tiga persalinan
aksi oxytoxin menyebabkan pelepasan plasenta. Setelah itu oxytoxin
beraksi untuk kestabilan kontraksi uterus, memperkecil bekas tempat
perlekatan plasenta dan mencegah perdarahan. Pada wanita yang
memilih untuk menyusui bayinya, isapan bayi menstimulasi ekskresi
oxytoxin diamna keadaan ini membantu kelanjutan involusi uterus
dan pengeluaran susu. Setelah placenta lahir, sirkulasi HCG,
estrogen, progesteron dan hormon laktogen placenta menurun cepat,
keadaan ini menyebabkan perubahan fisiologis pada ibu nifas.

13
2. Prolaktin

Penurunan estrogen menyebabkan prolaktin yang disekresi oleh


glandula hipofise anterior bereaksi pada alveolus payudara dan
merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui kadar
prolaktin terus tinggi dan pengeluaran FSH di ovarium ditekan. Pada
wanita yang tidak menyusui kadar prolaktin turun pada hari ke 14
sampai 21 post partum dan penurunan ini mengakibatkan FSH
disekresi kelenjar hipofise anterior untuk bereaksi pada ovarium
yang menyebabkan pengeluaran estrogen dan progesteron dalam
kadar normal, perkembangan normal folikel de graaf, ovulasi dan
menstruasi

3. Laktasi

Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air


susu ibu. Air susu ibu ini merupakan makanan pokok , makanan
yang terbaik dan bersifat alamiah bagi bayi yang disediakan oleh ibu
yamg baru saja melahirkan bayi akan tersedia makanan bagi bayinya
dan ibunya sendiri. Selama kehamilan hormon estrogen dan
progestron merangsang pertumbuhan kelenjar susu sedangkan
progesteron merangsang pertumbuhan saluran kelenjar , kedua
hormon ini mengerem LTH. Setelah plasenta lahir maka LTH
dengan bebas dapat merangsang laktasi. Lobus prosterior hypofise
mengeluarkan oxtoxin yang merangsang pengeluaran air susu.
Pengeluaran air susu adalah reflek yang ditimbulkan oleh
rangsangan penghisapan puting susu oleh bayi. Rangsang ini
menuju ke hypofise dan menghasilkan oxtocin yang menyebabkan
buah dada mengeluarkan air susunya. Pada hari ke 3 postpartum,
buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini menandai permulaan
sekresi air susu, dan kalau areola mammae dipijat, keluarlah cairan
puting dari puting susu. Air susu ibu kurang lebih mengandung
Protein 1-2 %, lemak 3-5 %, gula 6,5-8 %, garam 0,1 – 0,2 %. Hal

14
yang mempengaruhi susunan air susu adalah diit, gerak badan.
Banyaknya air susu sangat tergantung pada banyaknya cairan serta
makanan yang dikonsumsi ibu.( Obstetri Fisiologi UNPAD, 1983)

Perubahan psikologi masa nifas menurut Reva- Rubin terbagi menjadi


dalam 3 tahap yaitu:

1. Periode Taking In
Periode ini terjadi setelah 1-2 hari dari persalinan.Dalam masa ini
terjadi interaksi dan kontak yang lama antara ayah, ibu dan bayi. Hal
ini dapat dikatakan sebagai psikis honey moon yang tidak memerlukan
hal-hal yang romantis, masing-masing saling memperhatikan bayinya
dan menciptakan hubungan yang baru.
2. Periode Taking Hold
Berlangsung pada hari ke – 3 sampai ke- 4 post partum. Ibu berusaha
bertanggung jawab terhadap bayinya dengan berusaha untuk
menguasai ketrampilan perawatan bayi. Pada periode ini ibu
berkosentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, misalnya buang air
kecil atau buang air besar.
3. Periode Letting Go
Terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Pada masa ini ibu mengambil
tanggung jawab terhadap bayi. Sedangkan stres emosional pada ibu
nifas kadang-kadang dikarenakan kekecewaan yang berkaitan dengan
mudah tersinggung dan terluka sehingga nafsu makan dan pola tidur
terganggu. Manifestasi ini disebut dengan post partum blues dimana
terjadi pada hari ke 3-5 post partum
D. ETIOLOGI
Adapun indikasi untuk melakukan Sectio Caesarea menurut (Mochtar
R,2002) adalah sebagai berikut :
1. Etiologi yang berasal dari ibu
a. Plasenta Previa Sentralis dan Lateralis (posterior) dan totalis.
b. Panggul sempit.

15
c. Disporsi sefalo-pelvik : ketidakseimbangan antara ukuran
kepala dengan panggul.
d. Partus lama (prognoled labor)
e. Ruptur uteri mengancam
f. Partus tak maju (obstructed labor)
g. Distosia serviks
h. Pre-eklamsia dan hipertensi
i. Disfungsi uterus
j. Distosia jaringan lunak.
2. Etiologi yang berasal dari janin
a. Letak lintang.
b. Letak bokong.
c. Presentasi rangkap bila reposisi tidak berhasil.
d. Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dengan
e. cara-cara lain tidak berhasil.
f. Gemeli menurut Eastma, sectiocaesarea di anjurkan :
a. Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu (Shoulder
Presentation).
b. Bila terjadi interlok (locking of the twins).
c. Distosia oleh karena tumor.
d. Gawat janin.
g. Kelainan uterus :
a. Uterus arkuatus
b. Uterus septus
c. Uterus duplekus
d. Terdapat tumor di pelvis minor yang mengganggu masuk
kepala janin ke pintu atas panggul
E. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis pada klien dengan post sectio caesarea menurut
(Prairohardjo, 2007) antara lain :
1 Kehilangan darah selama prosedur pembedahan 600-800 ml.

16
2 Terpasang kateter, urin jernih dan pucat.
3 Abdomen lunak dan tidakada distensi.
4 Bising usus tidak ada.
5 Ketidaknyamanan untukmenghadapi situasi baru
6 Balutan abdomen tampak sedikit noda.
7 Aliran lokhia sedangdan bebas bekuan, berlebihan dan banyak
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Haemoglobin/hematocrit
2. JDL dengan deferensial
3. Pemantauan EKG
4. Elektrolit
5. Pencocokan silang darah dan golongan
6. Amniosintesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
7. Pemeriksaan sinar X sesuai indikasi
8. Ultrasound sesuai pesanan
9. Urinalisis
G. KLASIFIKASI SECTIO CAESARIA
1. Seksio caesarea abdomen
Seksio Caesarea transperitonealis profunda dengan insisi di segmen
bawah uterus, insisi pada bawah rahim, bisa dengan teknik
melintang atau memanjang.
2. Seksio caesrea vaginalis/peritoneal
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio caesarea dapat dilakukan
sebagai berikut :
a. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kroning
b. Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
c. Sayatan huruf T (T-incision)
3. Seksio caesrea klasik
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri
kira-kira sepanjang 10 cm.
4. Seksio caesrea ismika (profunda)

17
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen
bawah rahim (low cervical transfersal) kira-kira sepanjang 10 cm
H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada ibu dengan sectio caesarea menurut
(Mochtar R, 2002) adalah sebagai berikut :
1. Infeksi puerperal (nifas)
a) Ringan,dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
b) Sedang dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai
dehidrasi dan perut sedikit kembung.
c) Berat dengan peritonitis,sepsisdan ieus paralitik.
2. Perdarahan disebabkan karena:
a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka.
b. Antoniauteri.
c. Perdarahan pada plcental bed.
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila
reperitonealisasi terlalu tinggi.
4. Kemungkinn ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.

18
I. WOC

Panggul sempit

Post Operasi SC

Prosedur
Post Anastesi Luka Post Operasi Perawatan Yang
Post Partum Nifas
Salah
Bedrest
Terputusnya
Masuknya Distensi
Kontuiunitas
Imobilisasi Mikroorganisme Kandung Kemih
Jaringan

Penurunan Tonus Udem Dan


Merangsang Tanda Dan Gejala
Memar Di
Saraf Thalamus Tumor, Rubor,Kolor,
Peristaltik Usus Uretra
Dolor

NYERI Penurunan
KONSTIPASI Takut,Cemas RESIKO
Sensitivitas &
INFEKSI
Sensasi Kandung
Nyeri pada Luka Kemih
ANSIETAS

GANGGUAN
Keterbatasan Rentang Gerak
ELIMINASI
URINE

19 GANGGUAN
MOBILITAS FISIK
Penurunan Progesteron

Merangsang
Pertambahan
Kelenjar Susu Dan
Pertumbuhan

Peningkatan Hormone
Prolatik

Merangsang Laktasi
Oksitosin

Ejeksi ASI

Efektif Tidak Efektif

Nutrisi Bayi Terpenuhi

Kurang Informasi
Tentang Perawatan Bengkak
Payudarah
MENYUSUI
DEFISIENSI TIDAK EFEKTIF
PENGETAHUAN
20
2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis
dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan
masyarakat yang berfokus pada identifikasi dari pemecahan masalah dan
dari respon pasien terhadap penyakitnya. Digunakan untuk membantu
perawat melakukan praktik keperawatan secara sistematis dalam
memecahkan masalah keperawatan. Pendekatan proses keperawatan yang
digunakan dalam asuhan keperawatan tersebut meliputi Pengkajian Data,
merumuskan Diagnosa Keperawatan, menyusun Rencana Keperawatan,
Implementasi dan Evaluasi (Carpenito, 2000). Adapun langkah-langkah
dalam proses keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian
Pengkajian yaitu tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
proses yang sistematis dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi
dan mengidentifikasikan status kesehatan klien yang berdasarkan pada
kebutuhan dasar manusia (Nursalam, 2001).
a. Pengumpulan Data
Merupakan upaya untuk mendapatkan data yang dapat
digunakan sebagai informasi tentang klien. Data yang dibutuhkan
tersebut mencakup data tentang biopsikososial dan spiritual dari
klien, data yang berhubungan dengan klien serta data tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi atau yang berhubungan dengan klien
seperti data tentang keluarga (Hidayat, 2004).
Adapun data yang dikumpulkan antara lain:
1) Identitas
a) Identitas Klien
Identitas klien terdiri dari: nama, umur, jenis kelamin, status,
agama, suku/bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal
masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor register, dan
diagnose medik.

21
b) Identitas Penanggung Jawab
Meliputi nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
suku/bangsa, dan hubungan dengan klien.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
a) Keluhan utama
Merupakan keluhan yang dirasakan klien saat dirasakan
klien saat dilakukan pengkajian. Pada pasien post sectio
caesarea keluhan utamanya berupa nyeri pada area abdomen
yaitu luka operasi.
b) Riwayat Keluhan Utama
Merupakan informasi mengenai hal-hal yang
menyebabkan klien mengalami keluhan hal apa saja yang
mendukung dan mengurangi, kapan, dimana dan berapa jauh
keluhan tersebut dirasakan klien. Hal tersebut dapat
diuraikan dengan metode PQRST sebagai berikut:
(1) Palliative/Provokatif : Apa yang menyebabkan
terjadinya nyeri pada abdomen faktor pencetusnya
adalah post op section caesarea a/i letak lintang.
(2) Qualitative/Quantitas : Bagaimana gambaran
keluhan yang dirasakan dan sejauh mana tingkat
keluhannya seperti berdenyut, ketat, tumpul atau
tusukan.
(3) Region/Radiasi : Lokasi keluhan yang
dirasakan dan penyebarannya.
(4) Scale/Serverity : Intensitas keluhan apakah
sampai menggangu atau tidak. Pada kasus sectio
caesarea nyeri selalu mengganggu dengan skala 7-8(0-
10).
(5) Timing : Kapan waktu mulai terjadi
keluhan dan berapa lama kejadian ini berlangsung

22
biasanya pada luka sectio caesarea dirasakan secara
terus-menerus.
c) Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Biasanya klien belum pernah menderita penyakit yang
sama atau klien tidak pernah mengalami penyakit yang berat
atau suatu penyakit tertentu yang memungkinkan akan
berpengaruh pada kesehatan sekarang.
d) Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam pengkajian ini ditanyakan tentang hal keluarga
yang dapat mempengaruhi kehamilan langsung ataupun
tidak langsung seperti apakah dari keluarga klien yang sakit
terutama penyakit yang menular yang kronis karena dalam
kehamilan daya tahan ibu itu menurun bila ada penyakit
menular dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi
janin dan sectio caesarea ini biasanya tidak tergantung dari
keturunan.
e) Riwayat Obstetri dan Ginekologi
(1) Riwayat Obstetri
(a) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
yang terdiri dari tahun persalinan, umur kehamilan,
tempat pertolongan, jenis persalinan, jenis kehamilan
bayi serta keadaan bayi.
(b) Riwayat kehamilan sekarang yang perlu di kaji
seberapa seringnya memeriksakan kandungan serta
menjalani imunisasi.
(c) Riwayat persalinan sekarang yang perlu di kaji
adalah lamanya persalinan, BB bayi (Mansjoer,
2000).

23
(2) Riwayat Ginekologi
(a) Riwayat Menstruasi
Yang perlu dikaji adalah usia pertama kali haid,
siklus dan lamanya haid, warna dan jumlah, HPHT
dan tafsiran kehamilan.
(b) Riwayat Perkawinan
Yang perlu dikaji adalah usia saat menikah dan usia
pernikahan, pernikahan yang keberapa bagi klien dan
suami.
(c) Riwayat Keluarga Berencana
Yang perlu dikaji adalah jenis kontrasepsi yang
digunakan sebelum hamil, waktu dan lamanya serta
maslah selama pemakaian alat kontrasepsi, jenis
kontrasepsi yang akan digunakan setelah persalinan.
3) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum : klien dengan sectio caesarea akan
mengalami kelemahan.
b) Kesadaran : pada umumnya Compos Mentis.
c) Tanda-Tanda Vital : hal-hal yang dilakukan pada
pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien post Sectio
Caesarea biasanya tekanan darah menurun, suhu meningkat,
nadi meningkat dan pernapasan meningkat.
d) Sistem Pernapasan
Kaji tentang bentuk hidung, ada tidaknya secret pada lubang
hidung, ada tidaknya pernapasan cuping hidung, gerakan
dada saat bernapas apakah simetris atau tidak, frekuensi
napas.
e) Sistem Indera
Yang perlu di kaji pada sistem ini adalah adanya ketajaman
penglihatan, pergerakan mata, proses pendengaran dan

24
kebersihan pada lubang telinga, ketajaman penciuman dan
fungsi bicara serta fungsi pengecapan.
f) Sistem Kardiovaskuler
Yang perlu di kaji adalah tentang keadaan konjungtiva,
keadaan warna bibir, ada tidaknya peninggian vena
jugularis, auskultasi bunyi jantung pada daerah dada dan
pengukuran tekanan darah serta pengukuran nadi.
g) Sistem Pencernaan
Kaji tentang keadaan mulut, gigi, lidah dan bibir, peristaltic
usus, keadaan atau bentuk abdomen ada atau tidak adanya
massa atau nteri tekan pada daerah abdomen.
h) Sistem Muskuloskeletal
Kaji tentang keadaan derajat Range Of Montion pada
tungkai bawah, ketidaknyamanan atau nyeri yang pada
waktu bergerak, serta keadaan tonus dan kekuatan otot pada
ekstermitas bagian bawah dan bagian atas.
i) Sistem Persyarafan
Kaji tentang adanya gangguan-gangguan yang terjadi pada
ke-12 sistem persyarafan.
j) Sistem Perkemihan
Kaji adanya keadaan yang terjadi pada kendung
kemih,warna urin, bau urin, serta pengeluaran urin.
k) Sistem Reproduksi
Yang perlu dikaji adalah tentang keadaan bentuk payudara,
putting susu, ada tidaknya pengeluaran ASI serta kebersihan
pada daerah payudara, kaji adanya pengeluhan darah pada
vagina, warna darah, bau serta ada tidaknya pemasangan
kateter.
l) Sistem Integumen
Kaji tentang keadaan kulit, rambut dan kuku, turgor kulit,
pengukuran suhu serta warna kulit dan penyebaran rambut.

25
m) Sistem Endokrin
Yang perlu di kaji adalah tentang ada tidaknya pembesaran
kelenjar thyroid, bagaimana reflex menelan serta
pengeluaran ASI dan kontraksi.
n) Sistem Imun
Yang perlu di kaji adalah tentang keadaan kelenjar limfe,
apakah mengalami pembesaran pada kelenjar limfe.
4) Pola Aktivitas Sehari-Hari
Perlu dikaji pola aktivitas kline selama di Rumah Sakit dan pola
aktivitas klien selama di rumah, terdiri atas:
a) Nutrisi : kaji adanya perubahan dan masalah dalam
memenuhi kebutuhan nutrisi karena kurangnya nafsu makan,
kehilangan sensasi pengecap, menelan, mual dan muntah.
b) Eliminasi (BAB dan BAK) : bagaimana pola eliminasi BAB
dan BAK, apakah ada perubahan selama sakit atau tidak.
c) Istirahat Tidur : keseulitan tidak dan istirahat karena adanya
nyeri dan kejang otot.
d) Personal Hygiene : klien biasanya memerlukan bantuan
orang lain untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya.
e) Aktivitas Gerak : kaji adanya kehilangan sensasi atau
paralise dan kerusakan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas
sehari-harinya karena adanya kelemahan.
5) Data Paikologi
a) Status Emosi
Klien menjadi irritable atau emosi yang labil terjadi secara
tiba-tiba klien menjadi mudah tersinggung.
b) Konsep Diri
(1) Body Image : klien memiliki persepsi dan merasa bahwa
bentuk tubuh dan penampilan sekarang mengalami
penurunan berbeda dengan keadaan sebelumnya.

26
(2) Ideal Diri : klien merasa tidak dapat mewujudkan cita-
cita yang diinginkan.
(3) Harga Diri : klien merasa tidak berharga lain dengan
kondisinya yang sekarang, klien merasa tidak mampu
dan tidak berguna serta cemas dirinya akan selalu
memerlukan bantuan orang lain.
(4) Peran : klien merasa dengan kondisinya yang sekarang ia
tidak dapat melakukan peran yang dimilikinya baik
sebagai orang tua, istri ataupun seorang pekerja.
(5) Identitas Diri : klien memandang sirinya berbeda dengan
orang lain karena kondisi badannya yang disebabkan oleh
penyakitnya.
c) Pola Koping
Klien biasanya tampak menjadi pendiam atau mendaji
tertutup.
6) Data Sosial
Perlu dikaji keyakinan klien tentang kesembuhannya
dihubungkan dengan agama yang dianut klien dan bagaimana
persepsi klien tentang penyakitnya. Bagaimana aktivitas
spiritual klien selama menjalani perawatan dirumah sakit dan
siapa yang menjadi pendorong dan memotivasi bagi
kesembuhan klien.
7) Data Spiritual
Perlu dikaji keyakinan klien tentang kesembuhannya
dihubungkan dengan agama yang dianut klien dan bagaimana
persepsi klien tentang penyakitnya. Bagaimana aktivitas
spiritual klien selama menjalani perawatan dirumah sakit dan
siapa yang menjadi pendorong dan memotivasi bagi
kesembuhan klien.

27
8) Data Penunjang
Kaji pemeriksaan darah Hb, Hematokrit ibu, Leukosit dan USG.
9) Perawatan dan Pengobatan
a) Terapi
Pada pasien yang post sectio caesarea biasanya diberikan
obat analgetik serta antipiuretikserta pemberian cairan
perinfus dan elektrolit harus cukup.
b) Diet
Pemberian sedikit minuman sudah boleh diberikan enam
sampai 10 jam post operasi berupa air putih atau teh manis.
Setelah cairan infus diberikan makan bubur sering
selanjutnya secara bertahap boleh makan biasa.
c) Kateterisasi
Biasanya dilepas 12 jam post operasi atau keesokan paginya,
kemampuan selanjutnya untuk mengosongkan vesika
urinaria sebelum terjadi distensi yang berlebihan harus
dipantau.
b. Klasifikasi Data
Pengelompokan data adalah pengelompokan data-data klien
atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan
kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya.
Setelah dapat dikelompokkan maka perawat dapat mengidentifikasi
masalah keperawatan klien dengan merumuskannya. Adapun data-
data yang muncul diklasifikasikan dalam data subyektif da obyektif.
Data subyektif adalah data yang diperoleh lansung melalui
ungkapan atau keluhan dari klien sedangkan data obyektif adalah
data yang di peroleh dari hasil observasi atau pengukuran
(Nursalam, 2002).

28
c. Analisa Data
Analisa data adalah proses intelektual yaitu kegiatan
mentabulasi, menyelidiki, mengklasifikasi dan mengelompokan
data serta mengkaitkannya untuk menentukan kesimpulan dalam
bentuk diagnose keperawatan biasanya ditemukan data subyektif
dan obyektif (Carpenito, 2002).
Dalam analisa data mengandung 3 komponen utama yaitu :
1) Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan dimana
tindakan keperawatan dapat diberikan.
2) Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukan penyebab
keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap
terapi keperawatan.
3) Sign dan Symtom (S/tanda dan gejala), adalah ciri, tanda atau
gejala yang merumuskan suatu informasi yang diperlukan untuk
dapat merumuskan suatu diagnosis keperawatan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon
aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawatan
mempunyai izin dan berkompeten dan mengatasinya. Respon aktual dan
potensial klien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literature
yang berkaitan catatan medis klien masa lalu dan konsultasi dengan
professional lain yang kesemuanya dikumpulkan selama pengkajian
(Potter, 2005).
Menurut buku standar diagnosis keperawatan Indonesia. 2016,
diagnose keperawatan yang dapat muncul pada kasus sectio caesarea
antara lain:
1. Post Anastesi :
a. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal.
b. Ansietas berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi.
2. Luka Post Operasi :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik.

29
b. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif.
c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

3. Post Partum Nifas :


a. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan trauma atau
diversi
b. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi
c. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan ketidak adekuatan
suplai ASI.

30
3. Perencanaan atau Intervensi
Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan untuk menanggulangi
masalah dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien (Nursalam,
2001). Perencanaan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan klien sectio caesarea yang ditegakan antara lain :

Intervensi Post Anastesi :


NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Konstipasi berhubungan dengan Setelah dilakukan O : 1. Untuk mengetahui
penurunan gastrointestinal. tindakan keperawatan 1. Periksa tanda seberapa parah
Ditandai dengan : diharapkan masalah dan gejala kostipasi pasien
1. Pengeluaran feses lama dan sulit teratasi dengan kriteria konstipasi 2. Untuk
2. Mengejan saat defekasi hasil : 2. Indentifikasi mengidentifikasi
1. Penurunan faktor risiko risiko konstipasi.
keluhan defekasi konstipasi ( mis. 3. Makanan tinggi
lama dan sulit obat-obatan, serat dapat
mengeluarkan tirah baring, dan melunakan feses
feses. diet rendah sehingga mudah di
serat) keluarkan.
N:

31
2. Penurunan 3. Anjurkan diet 4. Enema dapat
mengejan saat tinggi serat. merangsang
defekasi 4. Berikan enema peristaltic kolon
atau irigasi, jika sehingga mudah
perlu. mengeluarkan feses.
E: 5. Pemberian cairan
5. Anjurkan untuk melunakkan
meningkatkan feses.
cairan asupan 6. Pemberian obat
cairan, jika tidak pencahar untuk
ada melunakan feses.
kontraindikasi.
K:
6. Kolaborasi
penggunaan obat
pencahar, jika
perlu.

32
2 Ansietas berhubungan dengan kurang Setelah dilakukan 1. Untuk
terpaparnya informasi. tindakan keperawatan mengidentifikasikan
Ditandai dengan : diharapkan masalah O : teknik relaksai yang
1. Merasa bingung teratasi dengan kriteria 1. identifikasi pernah dilakukan
2. Merasa khawatir dengan akibat hasil : teknik relaksasi pasien.
dari kondisi yang dihadapi. 1. Pengungkapan yang pernah 2. Menciptakan
3. Tampak gelisah. kebingungan efektif lingkungan tenang
pasien menurun digunakan dan tanpa ganggu
2. Pengungkapan N: gangguan dengan
khawatiran pasien 2. Ciptakan pencahayaan dan
menurun lingkungan suhu ruang nyaman,
3. Penurunan tenang dan tanpa jika memungkinkan
perilaku gangguan dapat membuat
kegelisahan dari dengan perasaan yang
pasien. pencahayaan dan nyaman pada
suhu ruang pasien.
nyaman, jika 3. Teknik relaksasi
memungkinkan. dapat membuat
perasaan nyaman

33
3. Gunakan dan tengang pada
relaksasi sebagai pasien.
strategi 4. Menjelaskan tujuan,
penunjang maanfaat, batasan,
dengan analgetik dan jenis relaksasi
atau tindakan yang tersedia (mis.
medis lain, jika musik, meditasi,
sesuai. napas dalam,
E: relaksasi otot
4. Jelaskan tujuan, progresif).
manfaat,
batasan, dan
jenis relaksasi
yang tersedia
(mis. music,
meditasi, napas
dalam, relaksasi
otot progresif).
K:-

34
Intervensi Luka Post Operasi :

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1 Nyeri akut berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan O : 1. Untuk
agen pencedera fisik. keperawatan diharapkan 1. Identifikasi mengidentifikasikan
Ditandai dengan : masalah teratasi dengan kesiapan dan kesiapan pasiena
1. Pasien mengeluh nyeri. kriteria hasil : kemampuan menerima informasi
2. Tampak meringis. 1. Keluhan nyeri menerima meredakan nyeri.
pasien menurun. informasi 2. Untuk
2. Eksprsi meringis N : mempermudah
pasien menurun. 2. Sediakan materi penerimaan
dan media informasi dan
pendidikan pendidikan
kesehatan kesehatan melalui
mengenai nyeri media
sesuai 3. Untuk mengetahui
kesepakatan penyebab, peride,
E:

35
3. Jelaskan dan strategi
penyebab, meredakan nyeri.
peride, dan
strategi
meredakan
nyeri.
K:-

2 Resiko infeksi berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan O : 1. Mengidentifikasi dan


tindakan infasive. keperawatan diharapkan 1. Identifikasi dan merawat ibu segera
Ditandai dengan : masalah teratasi dengan merawat ibu setelah melahirkan
kriteria hasil : segera setelah sampai enam
1. Meningkatnya melahirkan minggu.
kemampuan sampai enam 2. Memonitor tanda-
mencari informasi minggu. tanda vital pasien
tentang faktor 2. Monitor tanda – sehingga dapat
risiko. tanda vital. memantau keadaan
umum pasien.

36
2. Meningkatnya N: 3. Melakukan masase
kemampuan 3. Masase fundus fundus dapat
menghindar faktor sampai merangsang
risiko. kontraksi kuat terjadinya kontraksi
jika perlu. sehingga dapat
E: mencegah terjadinya
4. Jelaskan tanda pendarahan.
bahaya nifas 4. Menjelaskan tanda
padaa ibu dan bahaya nifas padaa
keluarga. pasien dan keluarga.
K:-

3 Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan O : 1. Mengidentifikasikan


berhubungan dengan nyeri keperawatan diharapkan 1. Identifikasi kemampuan pasien
Ditandai dengan : masalah teratasi dengan kemampuan dan keluarga
1. Nyeri saat bergerak kriteria hasil : pasien dan menerima informasi.
2. Enggan melakukan 1. Menurunnya rasa keluarga 2. Untuk
pergerakan. nyeri pada saat menerima mempermudah
bergerak. informasi. penerimaan

37
2. Meningkatnya N: informasi dan
pergerakan 2. Sediakan materi pendidikan
eksteremitas. dan media kesehatan melalui
pendidikan media
kesehatan. 3. Untuk mengetahui
E: apa saja manfaat
3. Jelaskan kesehatan dan efek
manfaat fisiologis olahraga.
kesehatan dan
efek fisiologis
olahraga.

38
Intervensi Post Partum Nifas :

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1 Gangguan eliminasi urin berhubungan Setelah dilakukan O : 1. Mengidentifikasi dan
dengan efek tindakan medis dan tindakan keperawatan 1. Identifikasi dan mengelola gangguan
diagnostik. diharapkan masalah mengelola pola eliminasi urine
Ditandai dengan : teratasi dengan kriteria gangguan pola pasien.
1. Distensi kandung kemis. hasil : eliminasi urine. 2. Mencatat waktu-waktu
2. Berkemih tidak tuntas 1. Menurunnya N: dan haluan berkemih.
(hesitancy). distensi 2. Catat waktu- 3. Memberikan minuman
kandung waktu dan terutama air dapat
kemis. haluan merangsang pasien
2. Menurunnya berkemih. untuk BAK.
berkemih tidak E :
tuntas 3. Anjurkan
(hesitancy). minum yang
cukup, jika tidak
ada
kontraindikasi.

39
K:-
2 Defisiensi pengetahuan berhubungan Setelah dilakukan O: 1. Untuk
dengan kurangnya informasi. tindakan keperawatan 1. Identifikasi mengidentifikasikan
Ditandai dengan : diharapkan masalah kesiapan dan kesiapan pasien
1. Menanyakan masalah teratasi dengan kriteria kemampuan menerima informasi
yang dihadapi. hasil : menerima yang di berikan
2. Menunjukkan perilaku 1. Meningkatnya informasi 2. Untuk mempermudah
tidak sesuai anjuran kemampuan dalam N: penerimaan informasi
3. Menunjukkan persepsi menjelaskan 2. Sediakan dan pendidikan
yang keliru terhadap pengetahuan tentang materi dan kesehatan melalui
masalah. suatu topik. media media
2. Menurunya persepsi pendidikan 3. Untuk mengetahui apa
yang keliru terhadap kesehatan saja faktor resiko yang
masalah E: dapat mempengaruhi
3. Meningkatnya 3. Jelaskan faktor kesehatan.
pengungkapan minat risiko yang
dalam mencari dapat
informasi

40
mempengaruhi
kesehatan
K:-
3 Menyusui tidak efektif berhubungan Setelah dilakukan O : 1. Mengidentifikasikan
dengan ketidak adekuatan suplai ASI. tindakan keperawatan 1. Identifikasi permasalahan yang
Ditandai dengan : diharapkan masalah permasalahan ibu alami selama
1. Kecemasan maternal. teratasi dengan kriteria yang ibu alami proses menyusui.
2. ASI tidak menetes/mamancar. hasil : selama proses 2. Menggunakan
1. Menurunnya menyusui tekbik
kecemasan N: mendengaarkan
maternal. 2. Gunakan teknik dapat mengurangi
2. Meningkatnya mendengarkan stress pada ibu dan
tetesan atau aktif (mis. ibu dapat
pancaran ASI. duduk sama mengeluarkan keluh
tinggi, kesahnya.
dengarkan 3. Mengajarkan tehnik
permasalahan menyusui yang tepat
ibu) sesuai kebutuhan
E: ibu.

41
3. Ajarkan tehnik
menyusui yang
tepat sesuai
kebutuhan ibu.
K :-

42
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Sectio caesaria merupakan proses persalinanatau pembedahan melalui
insisi pada dinding perut dan rahim bagian depan untuk melahirkan
janin.Indikasi medis dilakukannya operasi sectio caesaria ada dua faktor
yang mempengaruhi yaitu faktor janin dan faktor ibu. Faktor dari janin
meliputi sebagai berikut : bayi terlalu besar, kelainanletakjanin,
ancaman gawat janin, janin abnormal, faktor plasenta, kelainan tali
pusat dan bayi kembar. Sedangkan faktor ibu terdiri atas usia, jumlah
anak yang dilahirkan, keadaan panggul, penghambat jalan lahir,
kelainan kontraksi lahir, ketuban pecah dini(KPD), dan pre
eklampsia(Hutabalian , 2011).
Sectio caesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding
abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin lebih dari 1000
gr atau umur kehamilan > 28 minggu (Manuaba, 2012).
Sectio caesarea merupakan tindakan melahirkan bayi melalui insisi
(membuat sayatan) didepan uterus. Sectio caesarea merupakan metode
yang paling umum untuk melahirkan bayi, tetapi masih merupakan
prosedur operasi besar, dilakukan pada ibu dalam keadaan sadar kecuali
dalam keadaan darurat menurut Hartono (2014).
3.2 SARAN
Diharapkan pembaca dapat memahami post partum section caesarea,
dan sebagai perawat agar mampu dijadikan acuan dalam pemberian
asuhan keperawatan serta mampu memberikan pendidikan kesehatan
kepada masyarakat mengenai post partum section caesarea.

43
DAFTAR PUSTAKA

Septianraha. Asuhan keperawatan pada klien ny. R dengan post op sectio


caesarea. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2019. Dari:
http://www.slideshare.net/septianraha/asuhan-keperawatan-pada-klien-ny-r-
dengan-post-op-sectio-caesarea?from_m_app=android

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan : DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan : DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan : DPP PPNI

44