Anda di halaman 1dari 14

FILSAFAT DAN ILMU PENDIDIKAN

“PENGERTIAN, OBJEK, DAN TUJUAN KAJIAN


FILSAFAT DAN ILMU PENDIDIKAN”
Makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Filsafat dan Ilmu
Pendidikan yang diampu oleh:
Dr. Halfian Lubis, SH., M. Ag

oleh:

Rizki Uswar Pratama 11170110000068

Kamillia Insani 11170110000074

Ahmad Rifki Fuada 11170110000103

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam mempelajari
”Filsafat dan Ilmu Pendidikan”.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi kami dan para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik lagi.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki masih sangat kurang. Oleh karena itu, kami harapkan pada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Ciputat, 23 September 2019

Kelompok 1

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. 1

DAFTAR ISI ................................................................................................ 2

BAB I: PENDAHULUAN........................................................................... 3
A. Latar Belakang .................................................................................. 3
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 3
C. Tujuan ............................................................................................... 4
BAB II: PEMBAHASAN............................................................................ 5
D. Pengertian Filsafat dan Ilmu Pendidikan .......................................... 5
E. Objek Kajian Filsafat dan Ilmu Pendidikan ...................................... 7
F. Tujuan Kajian Filsafat dan Ilmu Pendidikan .................................... 8
PENUTUP .................................................................................................... 12

A. Kesimpulan ....................................................................................... 12
B. Saran .................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 13

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi para pendidik atau guru mempelajari filsafat itu akan besar sekali
manfaatnya. Seorang guru dituntut memiliki alasan yang luas mengenai
profesinya. Ia harus mengetahui hakekat Pendidikan dan hakekat tujuan
pendidikan. Dasar-dasar pendidikan dan Teknik-teknik penyampaian materi
pelajaran sehingga mudah menjadi milik anak. Berpikir secara filsafat bagi guru
terasa sangat penting dalam menghadapi kepesatan kemajuan ilmu dan
teknologi. Selain itu ia akan selalu berpikir kreatif, brsikap terbuka terhadap
pembaharuan sehingga dia tidak ketinggalan jaman

Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan


tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman,
tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang
tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta Pendidikan, dan tidak
memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik
sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana Pendidikan, perlu mengetahui
filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta
terhadap filsafat Pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan
langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat
yang menyelenggarakan pendidikan.

Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para


pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam
mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat
pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencob-
coba tanpa ren$ana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.

B. Rumusan Masalah

3
1. Menjelaskan pengertian Filsafat dan Ilmu Pendidikan ?
2. Menjelaskan objek Filsafat dan Ilmu Pendidikan ?
3. Menjelaskan tujuan Filsafat dan Ilmu Pendidikan ?

C. Tujuan Masalah

1. Mengetahui pengertian Filsafat dan Ilmu Pendidikan


2. Mengetahui objek Filsafat dan Ilmu Pendidikan
3. Mengetahui tujuan Filsafat dan Ilmu Pendidikan

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat dan Ilmu Pendidikan


Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dari
kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti
cinta terhadap ilmu atau hikmah. Tapi, menurut Al-Syaibani filsafat bukanlah
hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha
mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya, dan menciptakan sikap
positif terhadapnya.1
Adapun pendapat lain, bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu
Falsafah, yang berasal dari bahasa yunani yaitu Philosophia yang artinya cinta,
suka. Jadi, orang yang cinta kepada ilmu pengetahuan disebut philosopher yang
dalam bahasa Arab disebut failasuf.2
Menurut Prof. Dr. Muchtar Jahja, arti filsafat adalah berfikir sedalam-
dalamnya dengan bebas dan teliti, tentang segala sesuatu yang masuk kedalam
pikiran, baik yang diluar maupun yang didalam diri.3
Pengertian filsafat menurut para ahli:
Plato, mengatakan bahwa filsafat tidaklah lain daripada pengetahuan
tentang segala yang ada.
Aristoteles, berpendapat bahwa kewajiban filsafat ialah menyelidiki sebab
dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat merupakan ilmu yang sangat
umum sekali.
Kant, mengatakan bahwa filsafat adalah pokok dan pangkal segala
pengetahuan dan pekerjaan.4

1
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 1.
2
Ibid, h.1.
3
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,
2001), h. 31.
4
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 4.

5
Al- Farabi, mengatakan bahwa filsafat ialah mengetahui semua yang wujud
karena ia wujud. Dari sini ia membagi lapangan filsafat menjadi dua, yaitu:
a. Filsafat teori, mengetahui yang ada tanpa adanya tuntuan untuk
mewujudkannya dalam amal. Lapangan ini meliputi ilmu matematika, ilmu
fisika, dan ilmu metafisika.
b. Filsafat praktek, mengetahui sesuatu yang seharusnya diwujudkan dengan
amal, yang melahirkan tenaga untuk melakukan bagian-bagiannya yang
baik. Amalan yang mengenai individu disebut dengan ilmu akhlak. Dan
ilmu yang mengenai masyarakat disebut dengan filsafat politik, yaitu laku
perbuatan baik oleh anggota masyarakat.
Adapun pengertian dari pendidikan menurut beberapa tokoh, adalah sebagai
berikut:
Ki Hajar Dewantara, menurutnya pendidikan adalah usaha yang dilakukan
dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan
manusia.
Soegarda Poerbakawaca, menurutnya dalam arti umum pendidikan
mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan
pengalamannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda
untuk melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama sebaik-baiknya.
Menurut Islam pendidikan adalah pemberian corak hitam, putihnya adalah
perjalanan hidup seseorang. Dan pendidikan memiliki beberapa nama lain
seperti Tarbiyyah, Ta’lim, dan Ta’dib.
Menurut Ragib Al-Ashfahani, tarbiyah yaitu mengembangkan atau
menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap sampai pada batas yang sempurna.
Adapun ta’lim didalam Al-Qur’an mengacu kepada adanya sesuatu berupa
pengetahuan yang diberikan kepada seseorang.
Kemudian kata ta’dib yang dijumpai dalam hadits antara lain “Addabani
Rabbii fa ahsana ta’dibi” artinya: Tuhanku telah mendidikku, dan telah
membuat pendidikanku itu sebaik-baiknya.
Dengan demikian, ta’lim mengesankan proses pemberian bekal
pengetahuan, sedangkan tarbiyah mengesankan proses pembinaan dan

6
pengarahan bagi pembentukkan kepribadian dan sikap mental, sementara istilah
ta’dib mengesankan proses pembinaan terhadap sikap moral dan etika dalam
kehidupan yang mengacu pada peningkatan martabat manusia.
Setelah pembahasan tentang pengertian filsafat dan pengertian pendidikan,
maka akan kita lanjutkan dengan pengertian dari filsafat pendidikan. Yang
mana filsafat yang diterapkan dalam pendidikan maka lahirlah apa yang disebut
filsafat pendidikan.
Filsafat pendidikan menurut Prof. Imam Barnadib merupakan penerapan
suatu analisis filosofis terhadap lapangan pendidikan.
Menurut Al-Syaiban, filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang
teratur yang menjadikan filsafat menjadi sebagai jalan untuk mengatur,
menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya filsafat dapat
menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk
mencapainya.
Dari beberapa pengertian filsafat pendidikan diatas, dapat kami simpulkan
bahwa filsafat pendidikan adalah sebuah ilmu filsafat yang terfokus pada bidang
pendidikan. Dan merupakan pengetahuan yang menyelidiki substansi
pelaksanaan pendidikan yang berkaitan dengan tujuan, latar belakang, cara,
hasil, dan hakikat ilmu pendidikan yang berhubungan dengan analisis kritis
terhadap struktur dan kegunaannya.

B. Objek Filsafat dan Ilmu Pendidikan


Objek kajian filsafat meliputi objek materi dan objek formal. Objek materi
filsafat yaitu hal atau bahan yang dideliki (hal yang dijadikan sasaran
penyelidikan). Atau segala sesuatu yang ada. “ada” disini mempunyai tiga
pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran dan kemungkinan.
Pengertian lain adalah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat, segala
sesuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat, terdapat tiga persoalan
pokok:
1. Hakikat Tuhan
2. Hakikat Alam

7
3. Hakikat Manusia
Objek formal filsafat yaitu sudut pandang, dari mana hal atau bahan tersebut
dipandang. Objek formal filsafat adalah menyeluruh secara umum. Menyeluruh
disini berarti bahwa filsafat dalam memandangnya dapat mencapai hakikat
(mendalam), atau tidak ada satupun yang berada di luar jangkauan pembahasan
filsafat.
Adapun objek kajian ilmu pendidikan terbagi menjadi 2, yaitu:
- Objek material.
Objek material adalah aspek atau hal-hal yang menjadi garapan langsung
pendidikan. Sasaran objek material disini adalah peserta didik.
- Objek formal
Adalah bidang yang menjadi keseluruhan ruang lingkup garapan riset
pendidikan. Seperti upaya untuk mendidik, membimbing dan melatih siswa
menuju perbaikan yang berkaitan dengan persoalan pendidikan.
Objek filsafat pendidikan ialah semua aspek semua aspek yang
berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat
pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan
pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang
dicita-citakan.
Filsafat pendidikan islam bertolak pandangan islam terhadap manusia
baik secara objek maupun subjek pendidikan. Didalamnya terkandung
pandangan universal terhadap manusi. Sebagai objek pendidikan, manusia di
pandang sebagai makhluk yang di muliakan Allah di atas seluruh makhluk yang
lain.5 Dinyatakan dalam Al Quran: “Dan sesungguhnya telah kami muliakan
anak-anak adam, kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri
mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS

5
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam Dari Zaman Ke Zaman, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2017), hal

8
17:70). Pandangan islam terhadap manusia bertolak dari prinsip tauhid kepada
Allah swt. (Hasan Langgulung, 1988: 116-117)

C. Tujuan Kajian Filsafat dan Ilmu Pendidikan


Secara umum, tujuan pembelajaran filsafat pendidikan Islam adalah
agar mahasiwa memahami dan menganalisis konsep-konsep dan teori-teori
filosofis tentang pendidikan Islam atau konsep-konsep filsafat Islam tentang
pendidikan, sehingga mereka mampu berfikir kritis, mendasar (radikal) tentang
pendidikan Islam sebagai dasar untuk mengembangkan teori maupun praktik
pendidikan Islam di Indonesia.

Adapun tujuan khusus mempelajari filsafat pendidikan Islam adalah


agar mahasiswa mampu menjelaskan dan mengelaborasi serta mendiskripsikan
topic-topik utama perkuliahan yang meliputi, 1) konsep dasar Philoshopi in
general, 2) konsep dasar filsafat Islam, 3) ruang lingkup pendidikan Islam, 4)
aspek pendidikan Islam, 5) filsafat pendidikan pondok pesantren, 6) filsafat
pendidikan madrasah, 7) filsafat pendidikan keluarga, 8) filsafat pengembangan
ilmu, dan 9) dinamika pemikiran pendidikan Islam6.

Setiap kegiatan pendidikan merupakan bagian dari suatu proses yang


diharapkan untuk menuju suatu tujuan. Adapaun tujuan-tujuan tersebut
ditentukan oleh tujuan akhir. Pada umumnya esensi ditentukan oleh masyarakat
yang telah dirumuskan secara singkat dan padat, seperti kematangan dan
integritas atau kesempurnaan pribadi –jasmani, intelektual, emosional dan etis-
untuk terbentuknya kepribadian muslim7. Maka tujuan pendidikan selalu
terpaut pada zamannya atau rumusan tujuan pendidikan berasal dari filsafat dan
kebudayaan bangsa yang dominan.

Ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan Islam, yaitu


berorientasi pada masyarakat dan individu. Tujuan pendidikan islam yang
berorientasi pada masyarakat adalah pendidikan sebagai sarana utama dalam
menciptakan rakyat yang baik, baik untuk sistem pemerintahan demokratis,
oligarkis, maupun monarki. Adapun pandangan tujuan pendidikan islam yang
berorientasi pada individu adalah mempersiapkan peserta didik agar bisa meraih
kebahagiaan yang optimal melalui pencapaian kesuksesan kehidupan

6
Mahfud Junaedi, Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2017), hal. 3
7
Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2015), hal. 104.

9
bermasyarakat dan ekonomi serta menekankan pada peningkatan intelektual,
kekayaan, dan keseimbangan jiwa peserta didik8.

Tujuan pendidikan di Indonesia ditetapkan berdasarkan pada UU No. 20


Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang berbunyi;
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cukup, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan selalu membawa pada arus perubahan, baik cepat ataupun


lambat, terbuka, dan terpendam. Perubahan juga membawa pada kebutuhan
yang makin banyak dan beragam sehingga mungkin benar, bila pepatah
mengatakan bahwa pendidikan mencetuskan harapan, karena harapan tersebut
terletak pada pendidikan

Tujuan pendidikan menurut John S. Brubarcher dalam bukunya Modern


Philosophies of Education adalah

Educational aims perform time important functions all of which are normative.
In the first place they give direction to the educative process for education to
slip into such a toughless pattern underscores the second functions aims
perform. Aim not only should give direction to education but should motivate it
as well finally, aims have the function of providing a criterion for evaluating
the educational process9

Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan adalah


melaksanakan tiga fungsi penting yang kesemuanya bersifat normatif yaitu:

1. Tujuan pendidikan adalah memberikan arah pada proses yang bersifat


edukatif
2. Tujuan pendidikan tidak selalu memberi arah pada pendidikan, tetapi harus
mendorong atau memberikan dorongan motivasi sebaik mungkin
3. Tujuan pendidikan mempunyai fungsi untuk memberikan pedoman atau
menyediakan kriteria-kriteria dalam menilai proses pendidikan.
Konsep dasar pendidikan islam dibangun atas dasar Al-Qur’an dan Sunnah
Nabi Saw. Yang menjadi titik tolak utama dari pendidikan islam adalah konsep

8
Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat: Edisi Pertama, (Jakarta:
Kencana, 2014), hal. 78.
9
Loc. Cit, Anwar, hal. 106.

10
manusia menurut islam, yaitu manusia yang manakah yang dimaksud dan dicita-
citakan oleh islam. Hal ini inilah yang manjadi dasar tujuan pendidikan islam.

Tujuan pendidikan islam terkait erat dengan tujuan penciptaan manusia sebagai
khalifah Allah SWT dan sebagai Abdullah. Athiyah al-abrasyi mengemukakan
rincian aplikasi dari tujuan pendidikan islam adalah

1. Membantu pembentukan akhlakul karimah


2. Prinsip untuk kehidupan dunia dan akhirat
3. Menumbuhkan ruh ilmiah (scientific spirit)
4. Menyiapkan peserta didik dari segi professional
5. Persiapan untuk mancari rezeki10
Tujuan pendidikan islam menurut Abdul Rahman Nahlawi adalah

1. Sebagai pendidikan akal dan stimuli berfikir, renungan, dan meditasi


2. Menumbuhkan kekuatan dan bakat asli pada anak didik
3. Menaruh perhatian pada kekuatan generasi muda dan mendidik mereka
sebaik-baiknya
4. Berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi dan bakat manusia11.
Muhammad Fadli al-Jamali, mengemukakan tujuan pendidikan Islam yaitu

1. Memperkenalkan kepada manusia akan tempatnya diantara makhluk, dan


akan tanggung jawab persoalan dalam hidup ini.
2. Memperkenalkan kepada manusia tentang hubungan sosialnya dan tanggung
jawabnya dalam rangka suatu sistem sosial manusia.
3. Memperkenalkan kepada manusia tentang makhluk (alam) dan mengajaknya
untuk memahami hikmat (rahasia) penciptaanya dalam menciptakannya dan
memungkinkan manusia untuk menggunakannya
4. Memperkenalkan kepada manusia tentang pencipta alam ini12.
Adapun Syaibani mengemukakan tujuan pendidikan Islam adalah sebagai
persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Sementara itu abrurrahman Shaleh
Abdullah menyebutkan bahwa ada tiga tujuan pokok dari pendidikan Islam yaitu,
a) physical aims (ahdaf jismiyyah), b) spiritual aims (ahdaf ruhiyyah), c) mental
aims (ahdaf aqliyyah)13

10
Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat: Edisi Pertama, (Jakarta:
Kencana, 2014), hal. 16. Dinukil dari al-abrasyi
11
Ibid. hal. 79.
12
Ibid.
13
Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat: Edisi Pertama, (Jakarta:
Kencana, 2014), hal. 16.

11
Tujuan pendidikan Islam yang ditetapkan menurut konferensi internasional
adalah

The aims of Muslim education is the creation of the good and righteous man
who worship Allah in the true sense of the term. Build up the structure of his
earthly life according to the shari’ah (low) and employs it to subserve his faith

Tujuan pendidikan muslim adalah membentuk manusia yang baik dan benar
yang berbakti kepada Allah dalam pengertian yang sesungguhnya, membangun
struktur kehidupannya di dunia ini sesuai hukum (syari’ah) dan menjalani
kehidupan tersebut untuk mengabdi sesuai keimanannya.

konferensi pendidikan islam se dunia perlu mempertegas tujuan pendidikan


islam tersebut, agar pendidikan islam tidak terjebak dengan situasi sekarang.
Pendidikan menjadi alat mobilitas sosial ekonomi individu dan negara. Dominasi
sikap seperti itu telah melahirkan patologi sosial, terutama dikalangan peserta didik
dan orang tua yang terkenal dengan sebutan “penyakit diploma” yaitu usaha dalam
meraih satu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri,
melainkan karena nilai-nilai ekonomi.

Fenomena seperti ini sangat berbahaya bagi prinsip dasar filsafat pendidikan
Islam yaitu mencari keridhaan Allah. Beberapa teoritis Muslim seperti Muhammad
Abduh, Hali seorang murid Ahmad Khan India telah mengkritik hasil negatif dari
tujuan pendidikan yang pragmatis itu. Abduh menyadari bahwa tujuan pendidikan
itu bukan untuk mobilitas sosial ekonomi, melainkan untuk mengembangkan
kepribadian peserta didik. Adapun menurut Muhammad Iqbal tujuan pendidikan
adalah menciptakan manusia.

Naqieb Al-Attas pemikir Muslim Kontemporer mendefinisikan arti pendidikan


Islam secara sistematis, menegaskan dan menjelaskan bahwa tujuan pendidikan
menurut Islam bukanlah menghasilkan warga negara yang baik, melainkan untuk
menciptakan manusia yang baik14.

14
Ibid. hal. 81 dinukil dari Wan Dawud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M Naqieb al-
Attas, 1983

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dari kata Sophos
yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta
terhadap ilmu atau hikmah. Tapi, menurut Al-Syaibani filsafat bukanlah
hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha
mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya, dan menciptakan sikap
positif terhadapnya.
Ki Hajar Dewantara, menurutnya pendidikan adalah usaha yang
dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan
kebahagiaan manusia.
Filsafat pendidikan adalah sebuah ilmu filsafat yang terfokus pada
bidang pendidikan. Dan merupakan pengetahuan yang menyelidiki
substansi pelaksanaan pendidikan yang berkaitan dengan tujuan, latar
belakang, cara, hasil, dan hakikat ilmu pendidikan yang berhubungan
dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya.
Objeknya:
- Objek Materil
- Objek Formal

13