Anda di halaman 1dari 5

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ABRUPSIO PLASENTA

1. Definisi
Abrupsio plasenta adalah pemisahan yang terlalu dini atau prematur dari plasenta
yang tertanam secara normal pada dinding uterus.Abrupsio plasenta atau persalinan
yang terlalu dini dari plasenta merupakan lepasannya sebagian atau seluruh plasenta
dari tempat penanamannya (Ananth, 2005).
2. Etiologi dan Faktor Resiko
Mekanisme terjadinya abrupsio plasenta tidak diketahui, beberapa faktor resiko yang
dapat meningkatkan terjadinya abrupsio plasenta telah teridentifikasi, diataranya
adalah wanita hamil yang mengkonsumsi yang merupakan penyebab vasokonstriksi
pada ateri endometrium, ini merupakan penyebab utama dari abrupsio plasenta.
Faktor resiko lain adalah pada ibu hamil yang merokok, kehamilan kedua atau lebih,
tali pusar yang pendek, serta trauma abdominal. Selain itu trauma, trombofilia,
disfibrinogenemia, hidramnion, usia ibu yang sudah lanjut, dan infeksi intrauterin.
3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari abrupsio plasenta ada empat :
1) Perdarahan per vagina atau perdarahan yang tersembunyi di belakang plasenta.
2) Uterus menjadi lunak dan lembek.
3) Aktifitas uterus berlebih tanpa relaksasi diantara keduanya.
4) Nyeri abdomen.
Dua tipe utama dari kasus abrupsio plasenta adalah sebagai berikut :
1) Abrupsio plasenta dengan perdarahan yang tertutup, yang berarti perdarahan
terjadi di belakang plasenta, tetapi memiliki batas tegas karena posisi
hematom.
2) Abrupsio plasenta dengan perdarahan terbuka yaitu perdarahan yang terlihat
ketika pemisahan atau pemotongan membran juga lapisan endometrium dan
darah mengalir melalui vagina. Perdarahan yang terlihat tidak selalu sama
jumlahnya dengan jumlah darah yang hilang. Tanda-tanda syok (takikardi,
hipertensi, pucat, demam, dan berkeringat) mungkin akan timbul ketika sedikit
atau tidak ada perdarahan luar yang muncul.
3) Nyeri abdomen juga dihubungkan dengan jenis pemisahan plasenta. Sifat
nyerinya bisa jadi tiba-tiba dan hebat ketika perdaraha muncul ke miometrium
atau intermiten serta sulit untuk membedakan dengan rasa sakit karena
kontraksi. Uterus mungkin menjadi keras sehingga janin sulit untuk di palpasi.
Tes ultraound akan membantu menyingkirkan kemungkinan plasenta previa
sebagai penyebab pendarahan, tetapi ini tidak dapat digunakan sebagian
diagnosa abrupsio plasenta, karena pemisahan plasenta dan perdarahan
mungkin tidak terjadi pada ultrasonogafi (USG).
Stadium keparahan abrupsio plasenta :
a. Stadium I : perdarahan ringan dari vagina, kontraksi ringan pada rahim, tanda
vital stabil, dan denyut jantung janin tetap. Waktu pembekuan darah normal
b. Stadium II : perdarahan sedang, kontraksi yang tidak normal, tekanan darah
yan rendah, gawat janin dan kelainan dalam pembekuan darah
c. Stadium III : stadium ini merupakan stadium yang paling berat; gejalanya
berupa perdarahan dan kontraksi hebat, takanan darah rendah, kematian janin
dan darah sulit membeku.
4. Penatalaksanaan
Beberapa wanita hamil yang menujukan tanda-tanda abrupsio plasenta harus
dirawat dirumah sakit dan dievaluasi pada waktu tertentu. Evaluasi wajib dilakukan
untuk mengetahui keadaan kardiovasular ibu hamil dan kondisi janin. Jika kondisi
sudah cukup membaik, janin belum matur, dan tidak menunjikan distres, maka
dilanjurkan untuk melakukan menejemen konservatif. Hal ini termasuk bedrest dan
mungkin masuk pemberian mukolitik untuk menurunkan aktivitas uterus.
Kehamilan janin dengan segera penting dilakukan bila tanda kehidupan janin
atau ibu hamil menunjukkan adanya tanda pendarahan terlalu banyak, baik
perdarahan yang terlihat atau perdarahan yang tersembunyi. Penanganan yang
instensif terhadap ibu dan janin merupakan hal yang penting, karena penurunan
kondisi yang cepat dari ibu dan janin dapat terjadi, jumlah darah yang untuk
penggantian harus sesuai dengan kebutuhan.
Wanita dengan pengalaman trauma abdomen akan meningkatkan resiko
abrupsio plasenta, mereka harus dipantau selama 24 jam setelah trauma. Amniotomi
dilakukan jika memang abrupsio sangat parah, pemantauan cairan dan perdarahan
dilakukan.
5. Komplikasi
Hemoragi, syok hipovolemik, gangguan pembekuan darah (hipofibrinogemia),
anemia, gagal ginjal, dan ruptur uterus.
ASUHAN KEPERAWATAN UMUM PADA KLIEN DENGAN ABRUPTIO
PLASENTA
DAFTAR PUSTAKA

Ananth CV, Smulian JC, Srinivas N, Getahun D, Salihu HM. Risk of infant mortality among twins in
relation to placental abruption: contributions of preterm birth and restricted fetal growth.
Twin Res Hum Genet 2005;8:524–31.

Salihu HM, Bekan B, Aliyu MH, Rouse DJ, Kirby RS, Alexander GR. Perinatal mortality associated with
abruptio placenta in singletons and multiples. Am J Obstet Gynecol 2005;193:198–203

Getahun D, Oyelese Y, Salihu HM, Ananth CV. Previous cesarean delivery and risks of placenta previa
and placental abruption. Obstet Gynecol 2006;107:771–8.