Anda di halaman 1dari 15

1.

Definisi
Andropause merupakan sindrom penurunan kemampuanfisik, seksual,
dan psikologi yang dihubungkan dengan berkurangnya hormon testosteron
dalam darah. Andropause merupakan istilah yang paling sering digunakan
untuk menggambarkan kondisi pria di atas usia pertengahan yang mempunyai
kumpulan gejala, tanda, dan keluhan yang mirip dengan menopause pada
wanita.
Selama proses penuaan normal pada pria, terdapat penurunan 3 sistem
hormonal, yaitu hormon testosteron dehydroephyandrosteron (DHEA) /
DHEA sulfat (DHEAS), serta Insulin Growth Factor (IGF) dan Growth
Hormon (GH) . Oleh karena itu, banyak pakar yang menyebut andropause
dengan sebutan lain seperti :
1. Klimakterium pada pria
2. Viropause
3. Androgen Deficiency in Ageing Men (ADAM)
4. Partial Androgen Deficiency in Ageing Men (PADAM)
5. Partial Testosterone Deficiency in Ageing Men (PTDAM)
6. Adrenopause (defisiensi DHEA/DHEAS)
7. Somatopause (defisiensi GH/IGF)
8. LowTestosterone Syndrome
2. Mekanisme
Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi
reproduksi pria yang berakibat menurunnya kadar testosteron dalam darah
dibawah angka normal. Keadaan ini disebut juga hypogonadism. Selain
andropause, istilah lain yang sering digunakan untuk keadaan menururnya
kadar testosteron yaitu menopause pria, viropause, Partial Androgen
Deficiency in Aging Male (PADAM), Partial Testosterone Deficiency in
Aging Male (PTDAM), adrenopause (deficiency
dehydroapiandrosteron/DHEA dan DHEA Sulphate/ DHEAS), somatopause
(deficiency growth hormon/GH dan Insulin like Growth Factor 1/IGF-1), dan
penopause (Setiawan, 2007)
3. Etiologi
Testosteron merupakan hormon seks steroid pria yang utamanya diproduksi
oleh testis setelah terjadi kematangan pembentukan kelenjar seks pria (testis).
Testosteron berperan dalam seksualitas, pembentukan fisik, mental dan
penampilan pria. Testosteron merupakan hormon seks priayang paling
penting.
Testosteron merupakan hormon seks pria yang paling penting.
Testosteron disekresikan oleh sel-sel interstisial leydig di dalam testis. Testis

1
mensekresi beberapa hormon kelamin pria, yang secara bersamaan disebut
dengan androgen, termasuk testosteron, dihidrotestosteron, dan
androstenedion. Testosteron jumlahnya lebih banyak dari yang lain sehingga
dapat dianggap sebagai hormon testicular terpenting, walaupun sebagian besar
testosteron diubah menjadi hormone dihidrotestosteron yang lebih aktif pada
jaringan target. Testosteron total terdiri dari 60% testosteron terikat globulin
(SHBG), 38% testosteron terikat albumin, dan 2% testosteron bebas.
Komponen aktifdari testosteron adalah testosteron terikat albumin dan
testosteron bebas yang kemudian diubah oleh enzim menjadi estradiol
(dengan aromatase) dan dehidrotestosteron (dengan 5 alfareduktase).
Testosteron diproduksi melalui aksis hypothalamus hipofisis-testis.
Dalam tubuh, testosteron didistribusikan terutama terikat dengan protein
transpor. Pada pria, 44% testosteron terikat pada Sex Hormone Binding
Globulin (SHBG), 50% terikat albumin, dan sisanya dalam bentuk testosteron
bebas. Afinitas testosteron dengan SHBG sangat tinggi sehingga hanya
testosterone terikat albumin dan testosteron bebas yang menunjukkan
bioavailibilitas aktif.
Free Androgen Index (FAI) menunjukkan hubungan antara konsentrasi
testosteron dengan protein pengikat androgen. Kadar normal testosteron bebas
rata-rata 700ng/dl dengan kisaran 300-1100ng/dl, sedangkan FAI berkisar 70-
100%. Bila FAI < 50%,gejala-gejala andropause akan muncul.
Pada usia 20 tahun, pria mempunyai kadar testosteron tertinggi dalam
darah sekitar 800-1200 mg/dl yang akan dipertahankan sekitar 10-20 tahun.
Selanjutnya, kadarnya akan menurun sekitar 1% per tahun. Pada usia lanjut,
terjadi penurunan fungsi sistem reproduksi pria yang mengakibatkan
penurunan jumlah testosteron dan availabilitasnya, seiring dengan
meningkatnya SHBG.

2
Penurunan testosteron bebas sekitar 1,2% per tahun, sementara
bioavailabilitasnya turun hingga 50% pada usia 25-75tahun. Pria akan
mengalami penurunan kadar testosteron darah aktif sekitar 0,8-1,6% per tahun
ketika memasuki usia sekitar 40 tahun. Sementara saat mencapai usia 70
tahun, pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah sebanyak 35%
dari kadar semula. Perubahan kadar hormon testosteron ini sangat bervariasi
antara satu individu dengan individu lainnya dan biasanya tidak sampai
menimbulkan hipogonadisme berat.
Testosteron antara lain bertanggungjawab terhadap berbagai sifat
maskulinisasi tubuh. Pengaruh testosteron pada perkembangan sifat kelamin
primer dan sekunder pada pria dewasa antara lain:
1. Sekresi testosteron setelah pubertas menyebabkan scrotum, penis dan
testis membesar kira-kira delapan kali lipat sampai sebelum usia 20tahun.
2. Pengaruh pada penyebaran bulu rambut tubuh. Antara lain diatas pubis,ke
arah sepanjang linea alba kadang-kadang sampai umbilicus dan diatasnya,
serta pada wajah dan dada.
3. Menyebabkan hipertropi mukosa laring dan pembesaran laring. Pengaruh
terhadap suara pada awalnya terjadi “suara serak”, tetapi secara bertahap
berubah menjadi suara bass maskulin yang khas.
4. Meningkatkan ketebalan kulit di seluruh tubuh dan meningkatkan
kekasaran jaringan subkutan.
5. Meningkatkan pembentukan protein dan peningkatan massa otot.
6. Berpengaruh pada pertumbuhan tulang dan retensi kalsium. Testosteron
meningkatkan jumlah total matriks tulang dan menyebabkan retensi
kalsium.
7. Testosteron juga berpengaruh penting pada metabolisme basal, produksi
sel darah merah, sistem imun, serta pengaturan elektrolit dan
keseimbangan cairan tubuh. Selain fungsi diatas, hormon testosteron
berpengaruh pula pada fungsi-fungsi yang lain, diantaranya pada fungsi
seksual.
Pada pria usia lanjut, dorongan seksual dan fungsi ereksi hanya
terhadap testosteron yang kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan pria
lebih muda. Jadi berlawanan dengan pria yang lebih muda, pria berusia lanjut
membutuhkan kadar testosteron lebih tinggi untuk mencapai fungsi seksual
yang normal. Selain mengakibatkan disfungsi seksual, testosteron yang
kurang juga mengakibatkan spermatogenesis terganggu, kelelahan, ganguan
mood, perasaan bingung, rasa panas (hot flush), keringat malam hari, serta
perubahan komposisi tubuh berupa timbunan lemak visceral.

3
4. Patofisiologi
Terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi dari sistem
reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosteron
sampai dengan dibawah angka normal. Andropause umumnya terjadi pada
usia sekitar 40-60 tahun, tergantung dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
Hormone testosterone masih terus diproduksi meskipun sudah
mencapai usia lanjut. Namun ada beberapa factor-faktor tertentu yang dapat
saja menyebabkan produksi testosterone berhenti. Banyak obat yang
mempengaruhi produksi testeosteron. Kelebihan berat badan, puasa yang
terlalu lama, narkotika, alcohol, dan stress dapat mengurangi produksi
testosterone. Bila factor-faktor tersebut dapat dihindari, testis akan dapat
memproduksi hormone lagi. Laki-laki yang sehat memiliki testosterone yang
tinggi dibanding laku-laki yang sakit. Perubahan hormon yang terjadi pada
pria usia lanjut tersebut sangat bervariasi dari satu individu ke individu yang
lain dan biasanya tidak sampai menyebabkan hipogonadisme yang berat.
Testosterone diproduksi oleh sel Leydig berada di bawah control
hipotalamus-hipofisis. Hipotalamus mengeluarkan hormone pelepas
gonadotropin. Hormone ini memicu hipofisis untuk mengeluarkan hormone
FSH dan LH. LH-lah yang sangat berperan dalam produksi testosterone.
Sebanyak 95% testosterone pada laki-laki berasal dari testis, sisanya berasal
dari glandula suprarenalis.
Sebagian besar testosterone dalam darah terikat dengan protein,
terutama albumin dan globulin. Sedangkan yang aktif hanya testosterone yang
bebas. Pada organ-organ tertentu, misalnya prostate dan folikel rambut,
testosterone baru dapat memiliki efek biologis setelah terlebih dahulu diubah
oleh enzim-enzim tertentu menjadi dehidrotestosteron (DHEA). Di jaringan
lemak atau pun otot, testosterone dapat diaromatisasi menjadi estrogen. Jadi
pada laki-laki gemuk sudah pasti kadar estrogen dalam darahnya tinggi.
Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya
testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu penurunan
hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs (Insulin
like growth factors). Oleh karena itulah banyak pakar yang menyebut
andropause dengan sebutan lain seperti Adrenopause (deficiency
DHEA/DHEAS), Somatopause ( deficiency GH/Insulin like Growth Factor),
PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial
Androgen deficiency in Aging Male), Viropause, Climacterium pada pria,
dsb.

4
Kekurangan testosterone menyebabkan berkurangnya rambut ketiak,
rambut kemaluan, kulit menjadi tipis dan kering, tulang menjadi keropos,
massa otot berkurang, jumlah lemak tubuh bertambah, testis mengecil, libido
menurun, dan berkurangnya kemampuan ereksi. Pembentukan sel-sel darah
merah juga dipengaruhi oleh androgen sehingga laki-laki kekurangan
androgen menyebabkan sel-sel darahnya berkurang dan terlihat pucat.
Susunan saraf juga dipengaruhi androgen. Androgen memperbaiki mental dan
psikis menimbulkan perasaan sehat, selalu menenangkan hati dan tidak
depresi.
Androgen penting untuk libido dan kemampuan seksual. Dengan
meingkatnya usia, terjadi penurunan kadar testosterone sehingga diduga pula
bahwa seksualnya juga akan terpengaruh. Pada laki-laki dengan kadar
testosterone tinggi terbukti seksualnya meningkat, dibandingkan dengan orang
yang kadarnya rendah.
5. Faktor yang mempengaruhi terjadinya andropause
Menurut Setiawan (2010), andropause dapat disebabkan oleh berbagai faktor
antara lain:
1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang berperan dalam terjadinya andropause ialah adanya
pencemaran lingkungan yang bersifat kimia, psikis, dan faktor diet atau makanan.
Faktor yang bersifat kimia yaitu pengaruh bahan kimia yang bersifat estrogenic.
Bahan kimia tersebut antara lain DDT, asam sulfur, difocol, pestisida, insektisida,
herbisida, dan pupuk kimia. Efek estrogenik yang ditimbulkan dari bahan-bahan
tersebut dapat menyebabkan penurunan hormon testosteron. Sedangkan faktor
psikis yang berperan yaitu kebisingan, ketidaknyamanan, dan keamanan tempat
tinggal. Dan faktor diet yang berpengaruh yaitu kebiasaan mengkonsumsi alkohol
dan diet yang tidak seimbang.
2. Faktor Organik
Faktor organik yang berperan dalam terjadinya andropause yaitu adanya
perubahan hormonal. Pada pria yang telah mengalami penuaan
3. Faktor Psikogenik
Faktor-faktor psikogenik yang sering dianggap dapat mendorong timbulnya
keluhan adropause antara lain:
a) Pensiun
b) Penolakkan terhadap kemunduran
c) Stress tubuh atau fisik
Untuk mekanisme pasti mengenai hubungan berbagai gangguan
psikologis dalam terjadinya berbagai keluhan pria andropause, belumlah begitu

5
jelas. Akan tetapi berbagai gangguan psikologis tersebut dapat menurunkan kadar
testosteron dalam darah perifer.
6. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala andropause pada pria dalam buku Reproductive and
Sexual Medicine dapat digolongkan menjadi tiga, yakni bisa dilihat secara
fisik, sistem kardiovaskuler, mental dan seksual.
1) Fisik
 Kebotakan kepala
 Berkurangnya rambut pada tubuh, terutama pada ketiak dan daerah
kemaluan
 Penurunan massa otot dan peningkatan lemak tubuh
 Penurunan kekuatan tubuh dan stamina
 Merasa lemah dan lelah
 Penurunan ukuran testis
 Ketidaknyamanan atau kesulitan saat berkemih
 Nyeri punggung, nyeri dan kekakuan sendi
2) Sistem kardiovaskuler
 Peningkatan resiko serangan jantung
 Peningkatan kadar insulin, kolesterol dan trigliserida
 Hipertensi
 Hilangnya elastisitas arteri koroner
 Hilangnya kekuatan otot jantung
3) Mental
 Perubahan suasana hati yang negative, mudah tersinggung
 Merasa tertekan
 Kurangnya konsentrasi
 Kehilangan memori
 Berkurangnya kecerdasan dan berpikir kritis
4) Seksual
 Penurunan libido
 Berkurangnya sensitivitas organ
 Gangguan orgasme
 Hilangnya kemampuan ereksi atau gangguan selama berhubungan seksual
7. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosis pada andropause dapat dilakukan beberapa
pemeriksaan.
1) Pemeriksaan laboratorium

6
Perubahan hormone yang terjadi dapat diperiksa dengan pemeriksaan
laboratorium yakni dengan mengukur kadar testosterone serum, total
testosterone, tertosteron bebas, SHBG, DHEA, dan DHEAs.
2) Pemeriksaan fisik
Untuk mengkonfirmasi adanya perumahan fisik maupun mental yang terjadi
pada pria dengan andropause, dan untuk mengetahui fungsi tubuh serta
dilakukan pula pemeriksaan psikologi.
3) Alloanamnesa
Untuk mengkonfirmasi adanya perubahan tingkah laku.
Dapat pula dilakukan ADAM test. ADAM test memuat tentang gejala
andopause, pasien diminta menjawab “ya/tidak” pada setiap pertanyaan yang
diajukan. Total ada 7 pertanyaan, apabila jawaban dari ketujuh pertanyaan
tersebut 3 diantaranya jdijawab “ya” maka pasien kemungkinan besar mengalami
andropause.
Selain ADAM test ada yang namanya AMS (Aging Male’s Symptoms) test
yang dikembangkan oleh peneliti dari jerman. Jumlah pertanyaan ada 17 buah
dan mencakup ranah gangguan psikologis, somatic dan seksual.
8. Penatalaksanaan
Penanganan pada kasus andropause kebanyakan adalah dengan hormonal
yakni pemberian terapi hormone. Menurut Saryono (2010) terapi andropause
dapat dilakukan secara ilmiah, yakni dengan kombinasi diet dan olahraga dengan
tidur yang cukup dan tingkat stress yang rendah membantu memperkuat produksi
testosterone.
Terapi testosterone merupakan pilihan terapi yang paling efektif saat ini.
Terapi testosterone sendiri memiliki beberapa sediaan:
a) Skin Patches
Sediaan Testosterone yang ditempelkan di kulit dimana testosterone di
lepaskan secara perlahan ke dalam darah untuk mencegah munculnya
gejala yang disebabkan oleh kekurangan testosterone. Ditempelkan di
daerah seperti punggung, abdomen, lengan atas atau paha.
b) Gel testosterone
Terapi ini juga dipakai di kulit seperti pada lengan.
c) Kapsul
Merupakan sediaan oral yang dikonsumsi 2 kali sehari
d) Injeksi testosterone
Merupakan sediaan yang dinjeksikan. Terapi injeksi testosterone ini
diberikan setiap 3-4 minggu yang memberikan efek suasana hati menjadi
labil karena adanya perubahan testosterone dalam tubuh.
Terapi testosterone ini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

7
1) Meningkatkan massa tubuh (tanpa lemak)
2) Mengurangi lemak dalam tubuh
3) Meningkatkan fungsi seksual (libido, ereksi)
4) Mengurangi depresi
5) Meningkatkan fungsi fisik tubuh (kekuatan otot, kekuatan tubuh)
6) Meningkatkan kualitas hidup
9. Komplikasi

Seperti halnya pada kasus menopause, andropause juga memiliki resiko


ternjadinya osteoporosis dan resiko penyakit jantung. Komplikasi yang
menyertai ini merupakan dampak jangka panjang.

1) Resiko osteoporosis
Terjadi penurunan pembentukan testosterone pada tubuh. Testosterone
berperan untuk menjaga keseimbangan otot dan tulang. Dengan
bertambahnya usia dan kondisi andropause maka kemampuan pembentukan
kembali jaringan tulang akan semakin menurun sehingga akan beresiko untuk
terjadinya osteopororis.
2) Resiko penyakit jantung
Telah diketahui bahwa rendahnya kadar testosterone berhubungan dengan
peningkatan faktor resiko penyakit jantung pada pria. Seperti halnya pada
wanita yakni terjadi aterosklerosis setelah menopause.
3) Obesitas
Kadar testosterone yang rendah akan meningkatkan obesitas karena terjadi
penurunan sekresi pada testosterone di usia tua. Sehingga menyebabkan
penumpukan lemak pada tubuh yang mengakibatkan kegemukan.

8
ASUHAN KEPERAWATAN UMUM

Pengkajian
1. Identitas klien ;
(nama, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan, alamat). Andropause banyak
terjadi pada pria dengan usia lebih dari 50tahun.
2. Keluhan utama;
(klien mengeluhkan, penurunan minat terhadap seksual, tubuh terasa panas,
dan selalu berkeringat)
3. Riwayat penyakit sekarang
(mengalami perubahan dan penurunan minat terhadap seksual, disertai
perasaan tidak enak seperti panas yang menyebar dari badan ke wajah (hot
flash), merasa berkurangnya kemampuaan saat ereksi sehingga sering
menolak untuk melakukan hubungan dengan pasangan ).
4. Riwayat penyakit dahulu
(andropause dapat terjadi pada klien yang memiliki riwayat penyakit tertentu
seperti : diabetes mellitus, hipertensi, hiperkolesterol, obesitas, atropi testis,
dan prostatatitis kronis).
5. Riwayat penyakit keluarga
(kaji mengenai penyakit keturunan yang diderita oleh keluarga, terutama jika
terdapat masalah-masalah yang terkait dengan reproduksi pada keluarga).
Gejala andropause mirip dengan penyakit lain maka untuk mendioagnosa penyakit ini
harus dirangkaikan dengan pemeriksaan lainnya, seperti :
a. Perubahan hormonal dikonfirmasikan dengan pemeriksaan
laboratorium
b. Perubahan mental dan fisik dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik.
Fungsi tubuh, dan pemeriksaan psikologi
c. Perubahan tingkah laku dikonfirmasi dengan alloanamnesa terhadap
keluarga atau saudara
6. Pemeriksaan fisik
a) B1 (breathing) : Beberapa klien mengalami dispnea karena adanya
penurunan massa otot dalam tubuh sehingga menyebabkan kelemahan
dan susah bernapas dalam beraktivitas.
b) B2 (blood) : takikardi, tekanan darah meningkat, tubuh mudah
berkeringat
c) B3 (brain) :compos mentis, kecemasan disertai dengan rasa gelisah
dan sulit tidur, perubahan suasana hati (mood), dan
penurunan libido
d) B4 (bladder) : mudah berkeringat

9
e) B5 (bowel) : Normal
f) B6 (bone) : Kehilangan rambut tubuh, menurunnya kekuatan dan
massa otot.
7. Pemeriksaam penunjang
1. mengukur kadar testosterone bebas dalam darah
2. menghitung indeks androgen bebas (free androgen index, FAI)

8.

Pemeriksaan screening
Pemeriksaan screening untuk membantu penegakan diagnosis andropause
menggunakan kuesioner ADAM test memuat 10 pertanyaan “ya/tidak” tentang
gejala hipoandrogen. Bila menjawab “ya” untuk pertanyaan 1 atau 7 atau 3 jawaban
“ya” selain nomor tersebut, maka pria tersebut mengalami gejala andropause. Selain
ADAM test, dapat juga digunakan AMS (Ageing Male’s Symptoms) AMS test
memuat 17 pertanyaan yang mencakup ranah somatic, psikologis, dan seksual. Skor
AMS >27 dapat dikorelasikan kadar testosterone bebas <50%

3.2 Analisa Data


No Data Etiologi Masalah
1. Data subjektif : Lansia>50thn serta lansia Disfungsi seksual
- Klien mengeluh dgn faktor resiko (dm,
menurunnya minat obesitas, hipertensi,
seksual hiperkolesterol, dll)

Data Objektif : Perubahan fisiologis dari
- kadar testosterone testis dan penis
bebas dalam darah ↓
<300 mg/dl Perubahan jumlah sel
- ADAM dan AMS test Leydig
menunjukkan gejala ↓
andropause kadar hormone testosterone
dalam darah

10

Spermatogenesis terganggu

Gangguan ejakulasi,
berkurangnya kemampuan
ereksi

dorongan seksual

Disfungsi seksual
2. Data subjektif : Lansia>50thn serta lansia Ansietas
- Klien mengatakan tidak dgn faktor resiko (dm,
nyaman dengan obesitas, hipertensi,
keadaan dirinya hiperkolesterol, dll)
sekarang ↓
Data objektif : Perubahan fisiologis dari
- Klien tampak testis dan penis
cemas ↓
- Tekanan darah Perubahan jumlah sel
meningkat Leydig
- RR meningkat ↓
- Klien tampak kadar hormone testosterone
gelisah dalam darah

Gangguan mood, mudah
tersinggung

gelisah

Ansietas
3. Data subjektif : Lansia>50thn serta lansia Intoleran Aktivitas
- Klien menyatakan dgn faktor resiko (dm,
badan terasa lemas obesitas, hipertensi,
hiperkolesterol, dll)
Data objektif : ↓
- Tubuh klien selalu Perubahan fisiologis dari
berkeringat testis
- Tekanan darah ↓
meningkat Perubahan jumlah sel

11
- RR meningkat Leydig
- Klien terlihat ↓
letargi kadar hormone testosterone
dalam darah

Pembentukan protein dan
penurunan massa otot

Kelemahan dalam
beraktivitas

Intoleran aktivitas

Diagnosa Keperawatan
1. Disfungsi seksual b.d gangguan fungsi tubuh karena penyakit, kelainan,;
gangguan pada struktur tubuh
2. Ansietas b.d perubahan besar ( status kesehatan seksual )
3. Intoleransi aktivitas b.d kelelahan

Diagnosa Keperawatan: Disfungsi seksual b.d gangguan fungsi tubuh karena


penyakit, kelainan,gangguan pada struktur tubuh
Luaran Intervensi
L.03030 Status Nutrisi I.03119 Manajemen Nutrisi
1. Porsi makanan yang dihabiskan Observasi
(5) 1. Identifikasi status nutrisi
2. Pengetahuan tentang standar 2. Identifikasi makanan yang
asupan nutrisi yang tepat(5) disukai
3. Frekuensi makan (5) 3. Identifikasi kebutuhan kalori dan
4. Nafsu makan (5) jenis nutrien
L.03024 Nafsu Makan 4. Monitor asupan makanan
1. Keinginan makan (5) 5. Monitor berat badan
2. Asupan makanan(5) Terapeutik
3. Asupan cairan (5) 1. Sajikan makanan secara menarik
4. Asupan Nutrisi (5) 2. Berikan makanan tinggi kalori
dan tinggi protein
3. Berikan makanan tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
Edukasi
1. Ajarkan diet yang dianjurkan
Kolaborasi

12
1. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam
menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrien yang dibutuhkan

Diagnosa Keperawatan: D.0080 Ansietas berhubungan dengan perubahan status


kesehatan
Luaran Intervensi
L.09093 Tingkat ansietas I.09625
1. Verbalisasi kebingungan (5) Observasi
2. Perilaku gelisah (5) 1. Identifikasi persepsi mengenai
3. Pola Tidur (5) masalah dan informasi yang
4. Palpitasi (5) memicu konflik
L.12111 Tingkat Pengetahuan Terapeutik
1. Perilaku sesuai anjuran (5) 1. Fasilitasi mengklarifikasi nilai
2. Kemampuan menjelaskan dan harapan yang membantu
pengetahuan tentang suatu topik 2. Diskusikan kelebihan dan
(5) kekurangan dari setiap solusi
3. Perilaku sesuai dengan 3. Motivasi mengungkapkan tujuan
pengetahuan (5) perawatan yang diharapkan
4. Hormati hak pasien untuk
menerima dan menolak informasi
Edukasi
1. Informasikan alternatif solusi
secara jelas
2. Berikan informasi yang diminta
pasien
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain dalam
memfasilitasi pengambilan
keputusan

13
Diagnosa Keperawatan: D.0056 Intoleransi aktivitas b.d kelelahan
Luaran Intervensi
L.05047 Toleransi Aktivitas 1.05178 Manajemen Energi
1. Frekuensi denyut nadi (1-5) Observasi
2. Saturasi oksigen (1-5) 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh
3. Kemudahan dalam melakukan yang mengakibatkan mudah lelah
aktivitas sehari-hari (1-5) Terapeutik
4. Keluhan kelelahan (1-5) 1. Sediakan lingkungan yang nyaman
5. Dispnea saat melakukan aktivitas (1- dan rendah dari stimulus
5) 2. Fasilitasi untuk duduk di tempat
tidur, jika tidak dapat berpindah dan
berjalan
Edukasi
1. Anjurkan untuk tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas fisik
secara bertahap
3. Anjurkan menghubungi perawat jika
ada tanda dan gejala kelelahan tidak
berkurang

14
DAFTAR PUSTAKA

Anita N, Moelok N. 2002. Aspek Hormon Testosteron pada Pria Usia Lanjut
(Andropause), MAI
Bansal V.P. 2013. Andropause a Clinical Entity. Journal of Universal College of
Medical Sciences (2013) Vol.1 No.02 tahun 2013 (Diakses: Sabtu, 30 April 2016
pukul 07:22).
Guyton AC, Hall JE. 1997. Fungsi Reproduksi dan Hormonal Pria. In: Setiawan I(ed)
Buku Ajar Fisikologi Kedokteran Edisi 9 Jakarta: EGC Soewondo P. 2006
Matsumoto, Alvin M. 2002. Journal og Gerontology: Medical Sciences. Vol. 57A,
M76-M99 tahun 2002. (Diakses: Jumat, 29 April 2016 Pukul 17:37).
Muller M, Isolde and Tonkelaar, Thijssen J.H.H, Grobbe D.E,
SchouwY.V.T.D.2003. Endegenous Sex Hormones in Men Aged 40-80
Years.European Journals of Endocrinology. 149: 582-589.Pangkahila, Wimpie.
2006.
Nugroho, W. (2008). Keperawatan Gerontik dan Geriatrik edisi 3. Jakarta: EGC.
Igilib.unimus.ac.id
Soewondo P. 2006. Menopause, Andropause dan Somatopause Perubahan
Hormonal Pada Proses Menua. In: Sudoyo AW, dkk (eds). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III Edidi IV Jakarta: FKUI
Thaib Siti Hildani. 2009. Testosteron dan Kesehatan Pria:Majalah Andrologi
Indonesia No 31/tahun 2006/September.2009/ISSN025-429X,pp:1191-1997

15