Anda di halaman 1dari 10

BAB V

PEMBAHASAN

Bab ini membahas lebih lanjut mengenai prilaku perawat terhadap

pelaksanaan pengkajian airway, breathing, cieculation pada pasien cidera

otak berat (COB) di ruang IGD RSUD Provinsi NTB Tahun 2017.

A. Pengetahuan Perawat tentan g Pelaksanaan Pengkajian ABC di

IGD RSUD Provinsi NTB Tahun 2017

Berdasarkan hasil penelitian di ruang IGD RSUD Propinsi Nusa

Tenggara Barat, sebagian besar (65,8%) responden merupakan

perawat dengan pengetahuan baik, sedangkan sebagian kecil (34,2%)

adalan perawat dengan pengetahuan cukup. Notoatmodjo (2007)

menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu

pendidikan, pengalaman, pekerjaan, umur, lingkungan, sosial budaya

dan intelegensi.

Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa pengalaman belajar

dalam bekerja yang di kembangkan memberikan pengetahuan dan

keterampilan profesional. Pengalaman belajar selama bekerja akan

dapat mengembangkan pengetahuan dalam mengambil keputusan

yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah

dan etik, bertolak dari masalah yang nyata dalam bidang keperawatan.

Teori tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Berdasarkan data hasil penelitian, seluruh perawat dengan masa kerja

lebih dari 10 tahun adalah perawat dengan pengetahuan baik,

62
63

sedangkan seluruh perawat dengan masa kerja kurang dari 5 tahun

adalah perawat dengan pengetahuan cukup.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, sebagian

besar perawat dengan pengetahuan baik merupakan perawat dengan

pendidikan sarjana sedangkan besar perawat dengan pengetahuan

cukup merupakan perawat dengan pendidikan diploma (DIII). Hasil ini

sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007) yang menyatakan semakin

tinggi pendidikan seseorang semakin mudah orang tersebut menerima

informasi. Dengan pendidikan tinggi maka sesorang akan cenderung

untuk mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun dari media

massa, semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula

pengetahuan yang didapat. Dijelaskan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa

pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana adanya

seseorang dengan pendidikan tinggi, diharapkan akan semakin luas

pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan bukan berarti

sesorang berpendidikan rendah, mutlak berpengatahuan rendah pula,

karena peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan

formal, akan tetapi ddapat juga di peroleh di pendidikan non formal.

Menurut Nursalan (2007). Kondisi lingkungan dapat

mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Teori

tersebut sesuai dengan hasil penelitian dan lingkungan tempat

penelitian dilaksanakan. Berdasarkan kondisi lingkungan, tingginya

pengetahuan perawat di IGD RSUD Provinsi NTB tentang pengkajian

ABC di dukung oleh lingkungan kerja perawat yang menangani


64

kegawat daruratan, dimana pemeriksaan ABC merupakan keterampilan

perawat yang sangat dibutuhkan dan sering di aplikasikan dalam

bidang keperawatan gawat darurat.

B. Sikap Perawat dalam Melaksanakan ABC di IGD RSUD Provinsi

NTB Tahun 2017

Berdasarkan hasil penelitian di ruang IGD RSUD Propinsi Nusa

Tenggara Barat, perawat dengan sikap positif berjumlan 19 orang

(50%). Jumlah ini sama dengan jumlah perawat dengan sikap negatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah perawat dengan sikap negatif

yang tinggi. Wawan dan Dewi (2010) menjelaskan tentang faktor-faktor

yang mempengaruhi sikap yaitu pengalaman pribadi, pengaruh orang

lain yang di anggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa,

lembaga pendidikan atau lembaga agama, dan faktor emosional.

Berdasarkan temuan yang peneliti dapatkan dari hasil quesioner

mengenai sikap perawat, sebagian besar responden setuju untuk tidak

melakukan pemeriksaan ulang jalan nafas pada pasien yang telah

mendapat terapi oksigen, sedangkan jalan nafas pasien yang

mengalami COB harus terus di perhatikan mengingat kondisi pasien

yang rentan mengalami gangguan saraf dan ganggguan kesadaran

sehingga tidak mampu menunjukkan gejala gangguan jalan nafas

secara verbal atau motorik. Obsevasi atau pemantauan harus dilakukan

guna lebih mengakuratkan proses pengkajian karena keadaan pasien

gawat darurat dapat berubah dengan cepat (Ana, 1995).


65

Berdasarkan hasil penelitian mengenai sikap perawat, sikap

positif yang paling banyak di tunjukkan perawat adalah mengenail

waktu pelaksanaan pengkajian ABC. Sebagian besar perawat setuju

untuk melaksanakan pengkajian ABC dalam waktu 2 – 5 menit. Waktu

pemeriksaan yang singkat ini agar perawat mampu menentukan

intervensi yang harus dilaksanakan dengan cepat, mengingat masalah

pada jalan nafas dan sirkulasi merupakan masalah yang mengancam

jiwa dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat.

pemeriksaan Masalah-masalah yang mengancam nyawa terkait jalan

napas, pernapasan, sirkulasi, dan status kesadaran pasien

diidentifikasi, dievaluasi, serta dilakukan tindakan dalam hitungan menit

sejak datang di unit gawat darurat. Ketika kondisi yang mengancam

nyawatelah diketahui, maka dapat segera dilakukan intervensi yang

sesuai dengan masalah/ kondisi pasien (Kartikawati 2013).

Dijelaskan oleh Wawan dan Dewi (2010) tentang komponen

yang membentuk sikap. Teori tersebut menyatakan bahwa struktur

sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang yaitu komponen

kognitif, efektif dan konatif. Komponen kognitif merupakan representasi

apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap. komponen afektif yaitu

perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah

yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan

merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh

yang mungkin akan mengubah sikap seseorang. komponen konatif

merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan


66

sikap yang dimiliki oleh seseorang dan berisi tendensi atau

kencenderungan untuk bertindak/ bereaksi terhadap sesuatu dengan

cara-cara tertentu. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya

jumlah perawat dengan sikap negatif adalah aspek konatif, yaitu

kecendrungan seseorang berprilaku sesuai sikap yang dimiliki orang

lain. Berdasarkan hasil penelitian terdapat sebagian perawat dengan

masa kerja lebih dari 10 tahun memiliki sikap negatif. Adanya

kecendrungan ini memungkinkan perawat dengan sikap positif

terpengaruh oleh perawat yang memiliki sikap negatif. Seseorang yang

cenderung bersikap seperti orang lain tidak hanya disebabkan oleh

ajakan atau dorongan seseorang secara langsung, tetapi dapat terjadi

hanya dengan memperhatikan kebiasaan atau sikap negatif yang

ditunjukkan perawat lain selama bekerja. Hal ini merupakan fenomena

gunung es yang mesti di antisipasi oleh pelaku kesehatan secara umum

dan perawat secara khusus.

C. Pelaksanaan Pengkajian ABC pada Pasien COB di IGD RSUD

Provinsi NTB tahun 2017

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelaksanaan pengkajian

ABC oleh perawat di ruang IGD RSUD Propinsi Nusa Tenggara Barat,

Responden terbesar merupakan kelompok perawat yang

melaksanakan pengkajian ABC dengan cukup baik berjumlah 18 orang

(47,34%).

Hasil temuan peneliti sebagian besar perawat tidak melakukan

aukultasi kepada pasien. Setelah melakukan wawancara dengan salah


67

satu responden yang juga merupakan perawat IGD, didapatkan bahwa

hal ini karena aukultasi juga dilakukan oleh dokter jaga IGD sehingga

untuk menghemat waktu perawat tidak melaksanakan auskultasi peda

pasien. Pendapat tersebut bertentangan dengan prinsip pelaksanaan

pengkajian ABC yang harus selesai dengan cepat tetapi harus tetap

konsis ten dalam pelaksanaannya. Teori Ana (1995) mengatakan

bahwa Pengkajian ABC adalah pendekatan pengkajian terorganisir

yang sangat penting, tetapi yang paling penting adalah gagasan bahwa

setiap perawat harus membuat dan menggunakannya secara

konsisten.

Tindakan pengakajian airway merupakan tindakan yang

dilakukan oleh sebagian besar perawat secara konsosten. Hasil

penelitian menunjukkan sebagian besar perawat melaksanakan seluruh

tindakan dalam pengkajian airway. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

sebagian besar perawat mampu melaksanakan pengkajian ABC

dengan tepat. Kemampuan ini yang harus di dukung juga oleh sikap

yang positif agar dapat di aplikasikan secara konsisten. Lawrence

Green (1980), berpendapat mengenai faktor yang dapat

mempengaruhi tindakan perawat, dalam Notoatmodjo (2007)

menyatakan bahwa faktor-faktor predisposisi (predisposition factors),

seperti pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan

sebagainya mempengaruhi tindakan perawat.


68

D. Hubungan Pengetahuan Perawat terhadap Pelaksanaan

Pengkajian ABC di IGD RSUD Provinsi NTB

Berdasarkan uji statistik spearman rank didapatkan hasil

signifikan antara pengetahuan dengan tindakan perawat tentang

pelaksanaan pengkajian ABC. Hasil yang di dapatkan yaitu ρ = 0.014 >

α = 0,05 sehingga H0 ditolak dan HA diterima artinya “ada hubungan

yang antara pengetahuan perawat dengan pelaksanaan pengkajian

ABC di IGD RSUD Provinsi NTB Tahun 2017”.Faktor-faktor internal

yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan dan motivasi.

Kemampuan adalah kapasitas individu untuk melaksanakan berbagai

tugas dalam pekerjaan tertentu. Kemampuan keseluruhan seseorang

pada hakekatnya tersusun dari faktor yaitu kemampuan intelektual dan

kemampuan fisik. Sedangkan motivasi adalah kemauan atau keinginan

di dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertindak (Wijono,

2000).

Bedasarkan hasil penelitian, sebagian besar perawat IGD

merupakan perawat dengan gelar sarjana keperawatan atau sederajad.

Sebagian perawat di IGD juga telah menjalani pelatihan kegawat

daruratan. Hasil tersebut berpengaruh terhadap hasil penelitian

mengenai tingkat pengetahuan perawat IGD yang menunjukkan

sebagian besar perawat IGD memiliki pengetahuan yang cukup baik.

Hasil tersebut mendukung pelaksanaan pengkajian ABC yang

dilakukan perawat. Selain pengetahuan, pelaksanaan pengkajian ABC

juga di pengaruhi oleh memadainya fasilitas yang ada di IGD, serta


69

kemampuan perawat untuk saling mendukung dan bekerja sama.

Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007) menjelaskan faktor

yang mempengaruhi tindakan yaitu faktor-faktor predisposisi

(predisposition factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,

kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya. faktor-faktor

pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik,

tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana

kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi,

jamban, dan sebagainya. faktor-faktor pendorong (renforcing factors)

yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau

petugas yang lain.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa semakin

tinggi pengetahuan perawat semakin tinggi juga kemampuan perawat

dalam melaksanakan pengkajian ABC. hasil ini sesuai dengan teori

Notoatmodjo (2007), bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya sikap dan perilaku

seseorang seseorang. Pengetahuan perawat yang baik akan

mendukung pelaksanaan tindakan keperawatan yang baik.

E. Hubungan Sikap Perawat terhadap Pelaksanaan Pengkajian ABC

di IGD RSUD Provinsi NTB

Berdasarkan uji statistik chi square didapatkan hasil hubungan

antara sikap dengan tindakan perawat tentang pelaksanaan pengkajian

ABC pada pasien COB. Hasilnya adalah ρ = 0.389 > α = 0,05. sehingga

H0 diterima dan HA ditolak artinya “tidak ada hubungan yang signifikan


70

antara sikap perawat dengan pelaksanaan pengkajian ABC di IGD

RSUD Provinsi NTB Tahun 2017”.

Menurut Azwar (2003) hubungan antara sikap dan perilaku

memang belum konklusif, banyak penelitian yang menyimpulkan

adanya hubungan yang sangat lemah bahkan negatif, sedangkan

sebagian penelitian lain menemukan hubungan yang meyakinkan.

Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa walaupun sikap seseorang

baik belum tentu memiliki perilaku yang baik pula karena perilaku

dipengaruhi beberapa faktor yaitu pengetahuan, kecerdasan, persepsi,

emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah

rangsangan dari luar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap memiliki pengaruh

yang rendah terhadap pelaksanaan pengkajian ABC. Berdasarkan hasil

penelitian, terdapat sebagian perawat yang memiliki sikap negatif,

tetapi perawat tersebut melaksanakan pengkajian ABC dengan baik.

Hal tersebut terjadi karena adanya faktor pengawasan secara langsung

oleh perawat lain, dan pengawasan secara tidak langsung yaitu berupa

tersedianya SOP yang menjadi pedoman yang harus di laksanakan dan

di pertanggungjawabkan perawat. SOP tersebut menjadi aspek yang

memberikan pengaruh positif terhadap pelaksanaan tindakan

keperawatan. Wawan dan Dewi (2010), mengemukakan bahwa pada

umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau

searah dengan sikap orang lain yang dianggap penting.

Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk


71

berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang

dianggap penting tersebut.

Kondisi lainnya yang menunjukkan rendahnya hubungan sikap

dan prilaku perawat adalah, adanya perawat dengan sikap positif yang

melaksanakan pengkajian ABC kurang baik. Hasil ini disebabkan

adanya kecendrungan seseorang mengikuti prilaku orang lain Wawan

dan Dewi (2010) , menjelaskan bahwa terdapat komponen konatif yang

mempengaruhi sikap seseorang. Komponen konatif merupakan aspek

kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki

oleh seseorang dan berisi tendensi atau kencenderungan untuk

bertindak/bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Karena

adanya pengaruh negatif perawat lain, perawat dengan sikap positif

tidak melaksanakan pengkajian ABC dengan baik. Keadaan ini tentu

saja harus di minimalisir dengan cara meningkatkan kepatuhan perawat

untuk melaksanakan SOP. Beberapa cara yang dapat dilakukan

antaralain mengadakan pelatihan perawat, mengembangkan SOP dan

meningkatkan pengawasan terhadap pengaplikasian SOP.