Anda di halaman 1dari 6

PERANG UHUD: KETEGUHAN JIWA RIBBIYUN

Tafsir Surah Ali-Imran Ayat 146 – 147

Oleh Rizki Uswar Pratama

A. Redaksi Ayat

‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬


‫ضعَفُوا َو َما‬َ ‫سبِّ ْي ِّل هللاِّ َو َما‬ َ ‫صابَ ُه ْم فِّي‬ َ َ ‫ير فَ َما َو َهنُوا ِّل َمآ أ‬ ٌ ِّ‫َو َكأ َ ِّيِّ ْن ِّم ْن نَ ِِّّبي ٍ قَات َ َل َمعَهُ ِّر ِّبِّيُّونَ َكث‬
َّ ‫ا ْست َ َكانُوا َو هللاَ ي ُِّحبُّ ال‬
َ‫صا ِّب ِّريْن‬
ُ ‫ت أ َ ْقدَا َمنَا َو ا ْن‬
‫ص ْرنَا‬ ْ ِّ‫َو َما َكانَ قَ ْولَ ُه ْم إِّ ََّّل أ َ ْن قَالُ ْوا َربَّنَا ا ْغ ِّف ْر لَنَا ذُنُ ْوبَنَا َو إِّس َْرافَنَا فِّي أ َ ْم ِّرنَا َو ثَ ِّب‬
َ‫علَى ْالقَ ْو ِّم ْال َكا ِّف ِّر ْين‬ َ

B. Terjemah

Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang
bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah,
tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai
orang-orang yang sabar. Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah do’a, “Ya Tuhan kami,
ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihanUH (dalam) urusan
kami1, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.2

C. Kosa Kata

‫ و كأين من نبي‬maknanya adalah . Dari berapa banyak nabiatau betapayang berati 3‫و كم من نبي‬
segi Qiraat para imam qiraat berbeda pendapat tentang periwayatan cara membaca ayat
tersebut yang berimplikasi pada perbedaan makna, Imam ibn Katsir membacanya dengan
lafal ‫ َو كَا ِّئن‬dengan memakai huruf Alif sesudah Kaf yang sesudahnya terdapat Hamzah yang
dikasrahkan. Ulama yang lain membacanya ‫ و كَأ ِّيِّن‬dengan Hamzah sesudah Kaf yang
sesudahnya terdapat Ya’ yang ditasydidkan4.

‫ قاتل معه ربيون كثير‬terdapat dua perbedaan qira’at dalam membaca redaksi ayat ini. Ahlul Hijaz
dan Basrah membaca ‫ قُتِّ َل‬yakni dibunuh atau terbunuh, sedang golongan lain membacanya
dengan ‫ قَاتَ َل‬yakni berperang. Kata ‫ ربيون‬para ulama berbeda pendapat dalam pemaknaanya.
Kata ribbiyyun memiliki empat makna didalamnya yaitu:

1
Melampaui batas-batas hukum yang telah ditetapkan Allah Swt. Mushaf Kauny.
2
Mushaf Kauny, (Jakarta: Askar Kauny, 2017), ditashih oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementrian
Agama RI pada 2017, h. 68
3
Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami’u al-Bayan ‘an tawiil ayy al-Qur’an Tafsir at-Thabari, (Cairo: Daar as-
Salam, 2015), Jilid. 3, h. 1995
4
Nawawi al-Jawi al-Bantani, Marrah Labid Tafsiir an-Nawawi, (Bandung: Sinar Bou Algensindo, 2017), h.454
1. Ribbiyyun diartikan sebagai ‫ هم الذين يعبدون الرب و احدهم ربي‬para hamba Tuhan oleh sedikit
dari ahli Nahwu Basrah. Ahli Nahwu Kufah lebih sepakat dengan makna ini bila
redaksi kata yang digunakan al-Qur’an adalah ‫ َر ِّبي ُّْون‬bukan ‫ ِّر ِّبِّي ُّْون‬oleh ahli Bashrah
2. Ribbiyyun diartikan sebagai ‫ الجماعات الكثيرة‬jama’ah yang banyak jumlah kuantitasnya
oleh Ahli Nahwu Kufah, ibn Mas’ud, Ikrimah, dan Imam Mujahid RA
3. Ribbiyyun diartikan sebagai ulama’ yang banyak oleh ibn Abbas dan Imam Hasan RA
4. Ar-Ribbiyun diartikan sebagai pengikut, kata ar-Rabbaniyun diartikan sebagaia
gubernur atau pemimpin-pemimpin kelompok kaum/rakyat atau daerah5.

‫ وهنوا‬adalah bentuk jamak dari ‫ وهن‬maknanya adalah ‫ عجز‬yakni lemah, maksudnya adalah
melemahnya tekad, guncangnya kalbu6. Al-Mawardi memaknainya dengan rasa takut yang
tidak biasa dari kebiasaan, lemah karena berkurangnya kekuatan, dan penyerahan diri untuk
tunduk.

‫ استكانوا‬bermakna menyerahkan serta meminta pertolongan kepada mereka (kaum Kafir)

‫ و إسرافنا في أمرنا‬bermakna ‫ اإلفراط‬yakni berlebihan dalam segala hal dalam arti secara umum.
Secara khusus adalah ‫ خطايانا‬kesalahan dan ‫ الخطايا الكبار‬kesalahan yang besar7.

D. Tafsir

Dua ayat diatas yaitu Surah Ali-Imran ayat 146 – 147 adalah ayat-ayat yang
menetapkan beberapa hakikat tashawwur islami yang besar dan mendidik kaum muslimin
dengan hakikat atau hikmah dari peristiwa Perang Uhud yang merupakan kekalahan pertama
dan bencana bagi kaum muslimin pada saat itu. Ayat ini pula merupakan hiburan dan ejekan
secara bersamaan bagi kaum muslimin pada saat itu. Memuji mereka yang tetap cinta, setia,
dan teguh pada pendiriannya dan mencela mereka yang kabur dari barisan dan meminta
perlindungan kepada pihak musuh yaitu kaum Kafir. Bentuk kecaman tersebut adalah dengan
jalan membandingkan keadaan mereka dengan umat-umat yang lalu dengan redaksi ‫َو َكأَيِِّّ ْن ِّم ْن‬
ِّ‫سبِّ ْي ِّل هللا‬ َ َ ‫ير فَ َما َو َهنُوا ِّل َمآ أ‬
َ ‫صابَ ُه ْم فِّي‬ ٌ ‫نَبِِّّي ٍ قَات َ َل َمعَهُ ِّربِِّّيُّونَ َك ِّث‬

Makna ayat pertama berdasarkan qira’at pertama ‫ قتل‬adalah dan beberapa nabi yang
terbunuh, dan sesudah mereka masih tersisa dari golongan mereka tetapi mereka tidak
lemah dalam membela agamanya, bahkan mereka terus berjihad melawan musuh mereka
dan menolong agamanya. Syeikh Nawawi mengayakan, “Maka sudah selayaknyalah kamu
meniru sikap mereka, wahai ummat Muhammad”8. Sa’id Ibnu Jubair mengatakan bahwa ia
belum pernah mendengar suatu riwayat yang menyebutkan ada seorang nabi yang terbunuh
dalam medan peperangan. Hasan al-Bashhri dan segolongan Kubaro berkontradiksi dengan
ibn Jubair mengatakan bahwa belum pernah ada seorang nabi yang terbunuh di medan
peperangan.

5
Ali Al-Mawardi, An-Nukat wa al-Uyun Tafsiir al-Mawardi, (Beirut: Daarul Kutub al-Alamiah), h. 424
6
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Ciputat: Lentera Hati, 2010),
Jilid 2, h. 291. Dinukil dari Muhammad Sayyid Thanthawi
7
Tafsir at-Thabari, h. 2000-2001 dinukil dari Tafsir Abi Hatim
8
Tafsir an-Nawawi, h.454
Tidak dijelaskan oleh ayat ini atau ayat lain berapa banyak nabi yang diutus dan
beberapa banyak nabi yang terbunuh. Yang jelas, ada diantara nabi-nabi yang diutus yang
sampai beritanya kepada Rasul Saw. da nada yang tidak dikisahkan sama sekali. Beberapa
riwayat menyebutkan nama nabi yang terbunuh, diantaranya Nabi Armiya’, Hazqiyal,
Asy’iya, Zakariyya, dan Yahya.9

Makna ayat menurut qiraat lainnya ‫ قاتل‬bermakna, dan berapa banyak nabi yang
berperang demi meninggikan kalimat Allah dan menguatkan agamanya dengan mendapatkan
bantuan dari sahabat-sahabatnya yang tetap teguh di medan peperangan, lalu mereka
tertimpa kerugian akan tetapi mereka tidak lemah. Yakni bukan pengecut, sebab musibah
yang menimpa mereka tidak lain dalam jalan ketaatan kepada Allah dan menegakkan
agamanya serta menolong rasulnya. Oleh karena itu, kamu pun seharusnya melakukan hal
seperti itu, hai umat Muhammad10.

Firman Allah Swt ‫ضعَفُوا َو َما ا ْستَكَانُوا‬


َ ‫سبِّ ْي ِّل هللاِّ َو َما‬ َ َ ‫ َف َما َو َه ُنوا ِّل َمآ أ‬adalah lemah dalam
َ ‫صابَ ُه ْم فِّي‬
tiga hal yang bertingkat, lemah yang berkaitan dengan jasmani yang dapat mengantarkan
kepada kelesuan dan mengendornya tekad yang selanjutnya mengantarkan pada penyerahan
diri11.

Adapun makna dan janganlah kamu menjadi lemah karena takut adalah janganlah kamu
menjadi lemah dengan berkurangnya kekuatan dan janganlah pula menyerahkan diri untuk
tunduk. Berkata imam ibn Ishaq, “dan janganlah kamu menjadi lemah karena terbunuhnya
nabi kalian dan jangan pula kalian menjadi lemah dan karena musuh kalian serta
menyerahkan diri karena cobaan peperangan yang menimpa kalian”12. Sayyid Qutub
menafsirkannya dengan Banyak nabi yang berperang bersama pengikutnya yang banyak
jumlahnya, namun jiwa mereka tidak menjadi lemah ketika mereka ditimpa bencana,
kesedihan, penderitaan, dan luka-luka. Kekuatan mereka tidak mengendur untuk terus
berjuang, dan mereka juga tidak menyerah kepada musuh dengan berkeluh kesah dan tidak
mengadakan perlawanan13. maka makna ayat ini menggambarkan lukisan lahiriah tentang
sikap orang-orang beriman dalam menghadapi kesulitan dan cobaan.

‫ و ما ضعفوا‬mereka tidak menjadi lemah yakni tidaklah mereka menjadi kurang


bersemangat untuk memerangi musuh. ‫ و ما استكانوا‬dan tidak lesu)yakni tidak merasa rendah
diri untuk menghadapi musuhmu seperti yang kamu lakukan ketika dikatakan dalam medan
Uhud, “Nabi kamu telah dibunuh”, lalu kamu bermaksud meminta tolong kepada seorang
munafik yaitu Abdullah ibn Ubay untuk memintakan jaminan keamanan dari Abu Sufyan. ‫و‬
‫( هللا يحب الصابرين‬Allah menyukai orang-orang yang sabar)

‫ و ما كان قولهم‬tidak ada doa mereka sesudah nabi mereka gugur ‫ إَّل أن قالوا‬selain ucapan
doa berikutnya, lafal qaulahum dinasabkan karena menjadi Khabar kana, sedangakan isimnya
adalah an dan lafal yang sesudahnya ‫ ربنا اغفرلنا ذنوبنا‬ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa

9
Op. Cit. Shihab, h. 290.
10
Tafsir an-Nawawi, h. 455
11
Tafsir al-Misbah, h. 146 dikutip oleh Asy-Sya’rawi
12
Tafsir al-Mawardi, h. 426
13
Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Quran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), Jilid 2, h. 177 - 178
kami yakni dosa kecil dan besar, ‫ و إسرافنا‬dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan yakni
yang berlebih-lebihan ‫ في أمرنا‬dalam urusan kami karena melakukan dosa-dosa yang besar
‫ وثبت أقدامنا‬dan tetapkanlah pendirian kami dengan melenyapkan rasa takut dari hati kami dan
menghapuskan seluruh niat buruk dari hati kami ‫ و انصرنا على القوم الكافرين‬dan tolonglah kami
terhadap kaum yang kafir hal ini merupakan pendidikan dari Allah tentang cara berdoa pada
saat tertimpa musibah dan bencana, baik terjadi dalam jihad maupun kondisi lainnya .

Sayyid Qutub memberikan makna pada ayat ini, mereka tidak memohon kenikmatan,
kekayaan, pahala, balasan, pahala dunia, dan pahala akhirat. Sungguh mereka sangat sopan
terhadap Allah. Mereka menghadap kepada-Nya, sementara mereka berperang di jalan Nya.
Mereka tidak meminta kepada Allah Swt melainkan pengampunan dan kemantapan
pendirian, serta pertolongan untuk menghadapi orang-orang kafir. Maka hingga mengenai
pertolongan pun, mereka tidak memintanya untuk diri mereka, melainkan untuk mengalahkan
kekafiran dan menghukum orang-orang kafir. Sungguh ini merupakan kesopanan yang
pantas dilakukan orang-orang mukmin kepada Allah Yang Mahamulia14.

Selain sebagai bentuk pujian Allah kepada hambaNya yang sabar dan teguh pendirian
dalam menghadapi kaum kafir, ayat ini juga sebagai teguran Allah kepada para hambaNya
yang kabur dan meninggalkan medan laga menghadapi kaum kafir dalam peperangan uhud15.

E. Hikmah

Syeikh Shaifurrahman al-Mubarakfuri menukil dari Ibnu Hajar mengenai hikmah ilahiyah
yang terdapat pada peristiwa perang uhud. Diantaranya adalah

1. Mengajarkan kepada kaum Muslimin dampak buruk dari sikap membangkang dan
melanggar larangan.
2. Para rasul biasa menghadapi ujian lebih dahulu, baru mendapat kemenangan pada
akhirnya.
3. Tertundanya kemenangan kaum Muslimin di beberapa medan perang bertujuan untuk
mencairkan nafsu dan meremukkan rasa superiornmereka. Maka ketika kaum muslimin
mendapatkan cobaan, mereka bisa bersabar, sementara kaum munafikin tidak bisa
bersabar.
4. Allah menyediakan untuk hambaNya yang beriman kedudukan mulia di surgaNya yang
tidak bisa dicapai dengan gampang. Maka Dia menakdirkan untuk beberapa coabaan
dan ujian agar mereka bisa sampai pada kedudukan tersebut.
5. Mati syahid adalah tingkatan tertinggi bagi para kekasih Allah. Allah menghendaki
merekalah yang meraih tingkatan tertingi itu.
6. Allah hendak membinasaakan musuh-musuhNya. Maka Dia menampakkan sebab-sebab
kehancuran mereka akibat kekufuran dan kezaliman mereka dalam menyakiti para

14
Ibid.
15
Tafsir at-Thabari, h. 2001.
kekasihNya. Dengan itu semua, Allah menghapus dosa orang-orang mukmin dan
membinasakan orang-orang kafir16.

F. Evaluasi

1. Surah Ali-Imran ayat 146 sampai dengan 147 berlatar belakang pada peristiwa ….
A. Peperangan bani Isra’il
B. Pembunuhan Nabi dari bani Isra’il
C. Peperangan Uhud
D. Pembunuhan Nabi Muhammad SAW
2. Apa makna lafal doa yang berbunyi ‫ربنا اغفرلنا ذنوبنا و إسرافنا في أمرنا و ثبت أقدامنا و انصرنا على‬
‫ القوم الكافرين‬ayat 147 surah Ali Imran?
A. Tawakal dan pasrah atas ketentuan Allah
B. Bersabar dalam menghadapi cobaan
C. Memohon ampun atas dosa dan kesalahan
D. Memohon pertolongan kepada Allah dari orang-orang Kafir
3. Bagaimana keadaan psikis para sahabat dan tentara Allah dalam menghadapi orang
kafir berdasarkan ayat diatas ?
A. Bersemangat dan pantang menyerah dalam menegakkan kalimat Allah
B. Merasa lemah dan takut karena cobaan yang begitu besar menimpa mereka
C. Senang hati dan bergembira karena nikmat Syahid dan surga yang telah dijanjikan
D. Merasa berkecil hati dan memohon ampunan dan tawakal kepada Allah
4. Berdasarkan tafsir syaikh nawawi dan imam mawardi, mengapa para imam yang
dikutip dalam tafsir tersebut berbeda pendapat tentang pemaknaan ayat tersebut?
A. Karena perbedaan periwayatan dari masing-masing muallif
B. Karena menyesuaikan dengan bidang ahli dari masing-masing imam
C. Karena menyesuaikan dengan corak pengistinbatan hukum pada daerah dan waktu
masing-masing muallif
D. Karena perbedaan qira’at yang dipakai oleh masing-masing imam
5. “Maka sudah selayaknyalah kamu meniru sikap mereka, wahai ummat Muhammad”
adalah redaksi dari pernyataan ….
A. Syaikh Nawawi
B. Imam al-Mawardi
C. Imam Ibn Katsir
D. Hasan al-Basri

16
Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman, Ar-Rahiq al-Makhtum: Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Qisthi Press, 2014), h.
332-333. Dinukil dari Fathul Bari Jilid. 7
DAFTAR PUSTAKA

Ali Al-Mawardi, An-Nukat wa al-Uyun Tafsiir al-Mawardi, Beirut: Daarul Kutub al-
Alamiah, h. 424

Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum: Sirah Nabawiyah, Jakarta: Qisthi


Press, 2014

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Ciputat:
Lentera Hati, 2010, Jilid 2

Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami’u al-Bayan ‘an tawiil ayy al-Qur’an Tafsir at-Thabari,
Cairo: Daar as-Salam, 2015, Jilid. 3

Mushaf Kauny, Jakarta: Askar Kauny, 2017, ditashih oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-
Qur’an Kementrian Agama RI pada 2017

Nawawi al-Jawi al-Bantani, Marrah Labid Tafsiir an-Nawawi, Bandung: Sinar Bou
Algensindo, 2017, Jilid. 1

Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Quran, Jakarta: Gema Insani Press, 2001, Jilid 2