Anda di halaman 1dari 22

PENGENALAN JAMUR MAKROSKOPIS, MIKROSKOPIS, DAN

JEJAK SPORA

==

Nama : Widya Puspitasari


NIM : B1A018075
Kelompok :4
Rombongan :I
Asisten : Isnaeini M.

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamur merupakan salah satu kelompok fungi. Artinya fungi tidak hanya
beranggotakan jamur. Fungi adalah sebutan bagi regnum atau kerajaan dari
sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna
makanannya diluar tubuh, kemudian menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-
selnya (Achmad et al., 2011).
Bagian penting tubuh fungi adalah hifa, karena hifa berfungsi menyerap
nutrien dari lingkungan serta membentuk struktur untuk reproduksi. Hifa
merupakan suatu struktur fungus berbentuk tabung menyerupai seuntai benang
panjang yang terbentuk dari pertumbuhan spora atau konidia. Bagian tubuh fungi
yang menyolok adalah miselium yang terbentuk dari kumpulan hifa yang
bercabang-cabang membentuk suatu jala yang umumnya berwarna putih. Hifa
berisi protoplasma yang dikelilingi suatu dinding yang kuat. Pertumbuhan hifa
berlangsung terus menerus dibagian apikal, sehingga panjangnya tidak dapat
ditentukan (Gandjar et al., 2006).
Fungi (jamur) merupakan organisme tidak berklorofil yang mempunyai
empat sifat yaitu, heterotrof, saprofit, mutualistik, dan parasit (Suparti et al.,
2016). Beberapa fungi khusus memiliki struktur bersel tunggal, namun sebagian
besar memiliki tubuh berupa sel multiseluler yang kompleks, banyak kasus
mencakup struktur-struktur yang kita kenal. Kebanyakan ahli Mikologi mengakui
lima filum fungi, yaitu Kitrid, Zygomycetes, Glomeromycetes, Ascomycetes, dan
Basidiomycetes (Campbell et al., 2008).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum pengenalan jamur makroskopis, mikroskopis,


dan jejak spora adalah :
1. Untuk mengetahui bagian tubuh jamur makroskopis
2. Untuk mengetahui struktur jamur secara mikroskopis
3. Untuk mengetahui jejak spora
II. TELAAH PUSTAKA

Fungi, termasuk di dalamnya mold (kapang), mushroom, yeast (khamir), dan


mycorrhiza, adalah kelompok mikroorganisme yang sudah sejak ribuan tahun
digunakan oleh manusia untuk berbagai keperluan. Fungi juga menjadi suatu patogen
yang sangat penting, baik untuk manusia, tumbuhan, maupun hewan (Hidayat et al.,
2016). Fungi meliputi kelompok jamur. Sebagian besar jamur hidup di daratan dan
beberapa hidup di perairan. Umumnya bersifat aerob namun diketemukan pula yang
bersifat anaerob yang ada dalam perut ruminansia. Beberapa jamur menjadi penyebab
penyakit pada tanaman dan manusia. Namun, banyak jamur yang berperan penting
bagi kehidupan. Jamur dan fungi adalah dua istilah yang agak berbeda (Hidayat et al.,
2016).
Jamur merupakan jasad eukariotik, yang berbentuk benang atau sel tunggal,
multiseluler atau uniseluler. Sel-sel jamur tidak berklorofil, dinding sel tersusun dari
khitin, dan belum ada diferensiasi jaringan. Jamur bersifat khemoorganoheterotrof
karena memperoleh energi dari oksidasi senyawa organik. Untuk memperoleh
makanannya degan mengeluarkan enzim ekstraseluler agar dapat mencerna bahan
organik. Untuk memperoleh makannya dengan mencerna bahan organik kompek
seperti polisakarida, lignin, protein menjadi senyawa-senyawa sederhana yang dapat
diasimilasinya (Hidayat et al., 2016). Jamur berfilamen menghasilkan enzim
pendegradasi lignoselulosa seperti selulase dan xilanase untuk degradasi polisakarida
tanaman kompleks (selulosa dan hemiselulosa) sebagai sumber karbon untuk
pertumbuhan aktif mereka (Bedade et al., 2016).
Jamur merupakan fungi yang memiliki bentuk luar berupa tubuh buah
beukuran besar sehingga dapat diamati secara langsung. Umumnya bentuk tubuh buah
jamur yang tampak di permukaan media tumbuh seperti payung. Tubuhnya terdiri dari
bagian yang berfungsi sebagai batang penyangga tudung yang berbentuk mendatar
atau membulat. Bagian tubuh lainnya adalah jaring-jaring di bawah permukaan media
tumbuh berupa miselia yang tesusun dari berkas-berkas hifa (Achmad et al., 2011).
Peranan jamur dalam ekologi hutan dapat ditinjau melalui saprob, parasit,
bahan makanan dan simbion. Jamur saprofit berperan penting sebagai perombak
bahan-bahan berselulosa dan berlignin seperti kayu. Karbondioksida dihasilkan
melalui perombakan tersebut merupakan sumbangan yang sangat berarti dalam
ekologi hutan. Jamur parasit merupakan jamur yang menyebabkan sakit tanaman hutan
(Achmad et al., 2011).
Jamur secara umum dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu jamur
konsumsi, jamur obat, dan jamur beracun. Jamur yang dikonsumsi memiliki nilai
nutrisi yang baik. Jamur edibel merupakan semua jenis jamur yang dapat dikonsumsi.
Jamur non-edibel merupakan jamur yang tidak dapat di konsumsi namun ada beberapa
yang dapat dijadikan obat (Achamd et al., 2011).
Reproduksi jamur dapat secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual pada
jamur uniseluler dilakukan dengan cara pembentukan tunas dan fragmentasi. Ada pun
pada jamur multiseluler dengan pembentukan sporangiospora atau konidiaspora.
Reproduksi jamur secara seksual dilakukan olehspora seksual yang haploid (n), berupa
zigospora, askospora, atau basidiospora. Spora yang dihasilkan melalui singami, yaitu
penyatuan sel atau hifa yang berbeda jenisnya. Dalam proses singami terjadi dua tahap,
yaitu plasmogami (penyatuan sitoplasma sel) dan kariogami (penyatuan inti sel)
(Firmansyah et al., 20
Jamur makroskopis merupakan kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah
yang berukuran besar sehingga dapat diamati dengan mata telanjang, dapat dipetik
oleh tangan, tumbuh diatas tanah (epigean) atau didalam tanah (hypogean), tidak
selalu berdaging, tidak selalu dapat dimakan (edible), dan tidak hanya termasuk ke
dalam Basidiomycetes tetapi ada juga yang Ascomycetes (Gunawan, 2005). Jamur
makroskopis mencakup banyak jamur yang berukuran besar. Sebagian besar hidup
terrestrial (Tampubolon, 2010). Sedangkan jamur mikroskopis merupakan jamur yang
berukuran sangat kecil sehingga untuk melihat struktur jamur ini secara jelas hanya
dapat dilakukan dengan alat bantu berupa mikroskop (Tjitrosoepomo, 2001).
Identifikasi jamur mikroskopis dilihat dari morfologinya. Jamur mikroskopis
memiliki tipe hifa berseptat atau tidak berseptat, jernih atau keruh dan ada yang
berwarna maupun tidak berwarna. Memiliki tipe spora seksual yaitu oospora,
zygospora, askospora, atau basidiospora, dan aseksual yaitu
sporangiospora/konodiofor, kolumela/vesikula. Bentukan khususnya dari stolon,
rhizoid, sel kaki, apofisa, klamidiospora, sklerosida dan lain-lain (Fifendy, 2017).
Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah banyak yang berfungsi untuk
identifikasi. Jejak spora dibuat dengan cara, memotong bagian tudung atau carpopora
dari tubuh buah, kemudian diletakkan dengan posisi telungkup di atas kertas karton
dua warna (gelap dan terang) yang sudah disiapkan di dalam wadah (kotak), dibiarkan
sampai terbentuk jejak spora. Jejak spora yang terbentuk, kemudian dimasukkan ke
dalam botol yang berisi larutan lactophenol, selanjutnya diamati di laboratorium untuk
melihat bentuk sporanya (Noverita et al., 2016). Pembuatan Spore Print. Jamur
dipotong terpisah dari tudungnya, lalu tudungnya diletakkan diatas kertas, lamela
berada dibagian bawah. Ditutup dengan gelas kaca atau sejenisnya untuk menghindari
kontak dengan udara. Spora dikumpulkan untuk selanjutnya dilakukan pengamatan
bentuk spora di mikroskop. Pembuatan spore print ditujukan untuk mengetahui warna
dan bentuk spora (Wulandari et al., 2016).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, cawan
petri, kamera, kertas gelap/terang dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kertas karbon
hitam, jamur tiram (Pelurotus ostreatus), jamur kancing (Agaricus bifosforus),
jamur shitake (Lentinula edodes), jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur
lingzhi (Ganodema lucidum), Peziza vesiculosa, Puccinia graminis, Claviceps
purpurea, Aspergillus sp., dan Morchella sp.

B. Metode

1. Pengamatan Jamur Makroskopis

Jamur makroskopis Bagian-bagiannya Jamur difoto, lalu digambar


diamati langsung dan diberi keterangan

2. Pengamatan Jamur Mikroskopis

C. Jamur mikroskopis Diamati di bawah Jamur difoto, lalu


mikroskop digambar dan diberi
keterangan

4. Pembuatan Jejak Spora

Cawan petri disiapkan, Jamur Pleurotus ostreatus Dibungkus dan


lalu ditambah kertas diletakkan di dalam cawan diinkubasi 1x24
gelap/terang petri dengan posisi dorsal jam, lalu diamati
menghadap ke atas sporanya
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Jamur Makroskopis


Foto Jamur Makroskopis Gambar Skematis Keterangan
Gambar

A. Dorsal
1
B. Ventral
1. Lingkar taun
2. Porus

A. Dorsal

B. Ventral

Ganoderma lucidum

A. Dorsal
B. Ventral
1. Lamella
2. Pileus
1 3. Stipe
4. Hold fast

A. Dorsal
2
3

4
B. Ventral

Pleurotus ostreatus

A. Ventral
B. Dorsal

1 1. Lamela
2. Pileus

3 3. Stipe
4 4. Hold fast
A. Ventral

B. Dorsal
Lentinula edodes

3 A. Ventral dan
1
Dorsal
1. Pileus
2
2. Lamela

4 3. Kantung volva
4. Holdfast
A. Ventral dan
Dorsal
Volvoriella volvocea

A. Ventral
1 B. Dorsal
1. Holdfast
2. Pileus

A. Ventral
2

A. Dorsal

Hypsizygus tessellatus

A. Ventral dan
Dorsal
4
1. Cincin
1
2. Lamela
3
3. Holdfast
2
4. Pileus

A. Ventral dan
Dorsal
Agaricus bisporus
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Jamur Mikroskopis
Foto Jamur Mikroskopis Gambar Skematis Keterangan Gambar
1. Askospora
1 2. Paraphyses
2 3. Askus seperti
3
mangkok
4. Apotesium

2
Peziza vesiculosa

1 1. Askospora
2
3 2. Askus
4
5 3. Osteola canal
6
4. Peritesium
5. Paraphyses
Claviceps purpurea 6. Ostiole

1 1. Konidia
2. Sterigma sekunder
2
3
3. Sterigma primer
4 4. Konidiofor
5
6 5. Vesikel
Aspergillus sp. 6. Sel kaki

1. Paraphyses
1
2. Askospora
2
3. Peritesium
3
4 4. Askus

Morchella sp.
1. Fase Telia
2. Fase Aecia

1. Fase Telia

2. Fase Aecia
Puccinia graminis

Gambar 4.1 Pembuatan jejak spora pada Pleuratus ostreatus


B. Pembahasan
Praktikum pengenalan jamur makroskopis, mikroskopis, dan pembuatan
jejal spora menggunakan 11 preparat jamur. Preparat yang digunakan yaitu 6
jamur makroskopis dan 5 jamur mikroskopis. Jamur yang digunakan yaitu , jamur
tiram (Peluratus ostreatus), jamur kancing (Agaricus bifosforus), jamur shitake
(Lentinula edodes), jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur lingzhi
(Ganodema lucidum), Peziza , Puccinia graminis, Claviceps purpurea,
Aspergillus sp., dan Fusarium sp., Morchella sp.
1. Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)
Klasifikasi P. ostreatus menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Fil lum : Basidiomycota
Kelas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Tricholomataceae
Genus : Pleurotus
Spesies : Pleurotus ostreatus
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan kedua
yang paling banyak dibudidayakan di dunia setelah Agaricus bisporus. Jamur
tiram ini memiliki nilai ekonomis dan ekologi serta dapat dijadikan sebagai
obat. P. ostreatus memiliki waktu tumbuh paling pendek jika dibandingkan
dengan jamur lain. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) tumbuh secara
berkelompok dan berjejal-jejal. Tubuhnya terdiri dari stipe dan pileus. Pileus
atau tudung buahnya berdiameter antara 5-12 cm, saat masih muda bentuknya
cembung, setelah tua, tudungnya akan mekar membentuk corong yang dangkal
atau berbentuk seperti kulit kerang sehingga jamur ini sering disebut jamur
kerang. Stipe atau batangnya berwarna lebih muda dibandingkan dengan
tudung buahnya. Daging buah lembut dan memiliki spora berwarna putih.
Jamur ini merupakan edible mashroom dan sudah banyak dibudidayakan
(Dwijoseputro, 1978).
2. Jamur Ling-Zhi (G. lucidum)
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Agargeomycetes
Ordo : Polyporales
Family : Ganodermataceae
Genus : Ganoderma
Spesies : G. Lucidum
Jamur ling-zhi sebenarnya merupakan jamur kayu. Sebagian hidup
pada kayu yang sudah mati, dan sebagian lainnya tumbuh pada tanaman kayu
yang masih hidup. Karena itu, jamur ling zhi pada zaman dahulu harus dicari
di daerah hutan. Jamur ling zi memilki kandungan sekitar 400 senyawa bioaktif
yang berbeda. Bagian tubuh yang mengandung senyawa aktif tersebut yaitu
miselia dan spora. Senyawa yang terkandung pada jamur ling zhi yaitu
triterpenoid, polisakarida, nukleotida, sterol, steroid, asam lemak, protein, dan
elemen mikro (Warisno & Dahana., 2011).
Ganoderma lucidum banyak digunakan untuk beberapa keuntungan
pharmacological, termasuk immuno-modulating, antiinflammatory,
antikanker, antidiabetes, anti oksidatif dan radical-scavenging, serta anti
aging. Potensi dari G. lucidum dikarenakan kandungan kimianya, triterpena
dan polysaccharida membentuk tubuh tubuh buah, miselium dan spora.
Kandungan kimia tersebut merupakan senyawa anti kanker yang sudah banyak
didemonstrasikan di berbagai sel kanker manusia dan tikus. Bentuknya seperti
sinduk atau alat untuk mengambil sayur. Jenis jamur ini memiliki tangkai yang
menancap ke dalam media atau substrat dengan ukuran panjang antara 3-10
cm. Selain itu, di ujung tangkai terdapat tubuh buah berbentuk seperti setengah
lingkaran yang melebar dengan garis tengah antara 10-20 cm. Tubuh buah
mula-mula berwarna kekuning-kuningan saat masih muda, yaitu pada umur 1-
2 bulan, kemudian berubah menjadi merah atau cokelat tua. Tubuh buah inilah
yang kemudian dipanen untuk dijadikan bahan baku pembuat obat-obatan
(Hendritomo, 2010).
3. Jamur merang (Volvariella volvoceae)
Klasifikasi menurut sumber Achmad et al., (2011) adalah :
Kingdom : Fungi
Fillum : Basidiomycota
Kelas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Plutaceae
Genus : Volvariella
Spesies : Volvoriella volvaceae
Jamur merang (Volvoriella volvaceae) memiliki volva alias cawan.
Cawan tersebut awalnya merupakan seludang pembungkus tubuh buah saat
masih telur. Setelah itu berkembang dan terbentuk tangkai dan tudung buah.
Tudung buah terus membesar sehingga selubung tersebut sobek dan terangkat
ke atas mirip payung. Jika jawan tersebut terbuka, maka akan terbentuk bilah
yang saat matang memproduksi basidia dan basidiospora berwarna merah atau
merah muda. Basidiospora kemudian berkembang menjadi miselum dan hifa,
ada 3 tingkatan siklus hidupnya yaitu miselium primer, miselium sekunder, dan
tersier. Jamur merang memiliki stadia egg yang nantinya dikonsumsi
(Syariefa, 2012).
4. Jamur Shitake (Lentinus edodes)
Klasifikasi menurut Suhardiman (1998) adalah :
Divisi : Thallophyta
Subdivisi : Eumycetes
Kelas : Basidiomycetes
Subkelas : Holobasidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Thricholomataceae
Genus : Lentinus
Spesies : Lentinus edodes
Jamur shitake memiliki tudung sepeti bentuk payung, warna tudung
kuning kemerahan atau coklat, gelap. Lebar tudung bervariasi antara 2,5-9 cm
dan terdapat selaput kutikula. Bagian bawah tudung terdapat lamea yang
berisis spora. Tangkai tudung agak keras. Tingkat pertumbuhannya dibedakan
menjadi stadia pihead beerupa tonjolan, stadia kancing berupa bentuk kancing
dan stadia masak yaitu jamur yang utuh tudungnya sudah lebar penuh. Tubuh
jamur shitake berupa sel-sel lepas atau berupa benang. Sehelai benang disebut
hifa dan kumpulan hifanya membentuk mycelium. Miselium jamur shitake
melewati fase miselium primer, sekunder, dan tersier (Suhardiman, 1998).
5. Jamur kuping putih (Tremella fuciformis)
Klasifikasi Tremella adalah :
Kingdom : Fungi
Divisi : Basidiomycota
Kelas : Heterobasidiomycetes
Ordo : Tremellales
Famili : Tremellaceae
Genus : Tremella
Spesies : Tremella fuciformis
Karateristik jamur jelly termasuk keluarga auricularia memiliki
basidium, hipobasidium atau epibasidium masing-masing terdiri 4 sel, dimana
inti diploid calon basidium membelah secara meiosis menjadi 2 bagian. Setiap
pembelahan inti selalu diikuti penyekatan basidium menjadi 2 sel, inti setiap
sel membelah dan diikuti penyekatan sel membentuk hipobasidium 4.
Pertumbuhan jamur jelly pada penampang kayu trembesi sangat berhubungan
erat dengan faktor alam yang mengkondisikan habitatnya secara optimum.
Fase pertumbuhan pada penampang kayu dimulai terbentuknya primordia
berasal dari benang-benang miselium membentuk menjadi fase tubuh buah
(fruiting body) dan optimum pada fase puncak berupa jamur jelly yang
berbentuk bola dengan rumbaian tidak beraturan (Chen, 1998).
6. Jamur kancing (Agaricus bisporus)
Klasifikasi yang dijelaskan oleh Achmad et al., (2011)
Kingdom : Mycetae
Phylum : Basidiomycota
Class : Basidiommycetes
Ordo : Agaricales
Family : Agaricaceae
Genus : Agaricus
Species : Agaricus bisporus
Jamur kancing merupakan jamur pangan yang berbentuk hampir bulat
seperti kancing. Jamur kancing memiliki cincin di batangnya. Bagian tubuh
jamur kancing terdiri dari tudung, batang, dan akar. Jamur kancing
menunjukkan bahwa pada setiap basidium terdapat dua spora. Spora tersebut
masing-masing mempunyai dua inti yang dihasilkan dari meiosis. Kedua inti
tersebut merupakan inti non-sister (Achmad et al., 2011).
7. Puccinia graminis
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Classis : Pyrenomycetes
Ordo : Agaricales
Familia : Pucciniaceae
Genus : Puccinia
Species : P. Graminis
Puccinia graminis merupakan patogen yang menyebabkan penyakit
karat batang terutama pada tumbuhan serellia. P. graminis adalah fungi dari
phylum Basidiomycota. Fungi ini dicirikan dengan warna seperti karat logam
pada daun dan batang tumbuhan. Puccinia graminis mempunyai beberapa fase
dalam pertumbuhannya yaitu meliputi fase piknum (0), fase aesium (I), fase
uredium (II), dan fase telium (III). Piknium mempunyai bentuk botol atau
cakra, badan buah yang ini sebagai pembawa alat kelamin jantan dan hifa atau
kelamin betina. Aesium berbentuk seperti mangkuk atau cawan yang
menembus dinding epidermis daun. Uredium merupakan badan buah yang sel-
selnya membentuk urediospora di bawah epidermis yang kemudian mendesak
epidermis hingga rusak.telium adalah sekelompok sel berinti dua yang
membentuk teliospora (Semangun, 2001).
8. Aspergillus sp.
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Classis : Eurotiomycetes
Ordo : Eurotiales
Familia : Trichocomaceae
Genus : Aspergillus
Species : Aspergillus sp.
Aspergillus sp. merupakan jamur mikroskopis yang masuk ke dalam
divisi Ascomycotina di mana memiliki ciri-ciri yaitu terdiri dari satu lapisan
konidifor yang panjang-panjang yang berbaur dengan miselia serial, kepala
konidia berbentuk bulat, berwarna hijau pucat agak kekuningan dan bila tua
menjadi cokelat redup. Konidiofor umumnya berdinding kasar, vesikula
berbentuk semi bulat dan berdiameter 40-80 mm, berwarna hijau dan
berdinding halus (Gandjar et al., 2006). Kondisi iklim tropis sangat sesuai
dengan pertumbuhan kapang khususnya Aspergillus flavus atau Aspergillus
parasiticus yaitu dua jenis kapang yang memproduksi berbagai jenis aflatoksin
(Syarief et al., 2003).
9. Claviceps purpurea
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Classis : Sordariomycetes
Ordo : Hypocreales
Familia : Clavicipitaceae
Genus : Claviceps
Species : Claviceps purpurea
Jamur Claviceps purpurea merupakan jamur yang hidup secara parasit
pada bakal buah tanaman Graminae, terutama tanaman serelia. Bakal buah
tanaman akan diinfeksi oleh askospora yang kemudian akan tumbuh dan
merusak bakal buah tersebut. Saat bakal buah rusak, miselium jamur akan
membentuk sklerotium berwarna ungu kehitaman yang merupakan alat untuk
mempertahankan diri dalam lingkungan cuaca yang buruk. Sklerotium ini
disebut dengan ergot atau Secale cornutum yang mengandung ergotoksin,
ergotamin, dan ergometri. Claviceps purpurea juga merupakan penyebab
penyakit ergot pada tanaman gandum (Hanudin, 2008).
10. Peziza vesiculosa
Klasifikasi Peziza vesiculosa adalah:
Kingdom : Fungi
Divisi : Ascomycota
Classis : Pezizomycetes
Ordo : Pezizales
Familia : Pezizaceae
Genus : Peziza
Species : Peziza vesiculosa
Peziza vesiculosa bercabang, septa miselium di dalam tanah, badan
buah atau apothesium dibentuk di atas tanah. Badan buahnya berhubungan
dengan produksi dan pembesaran spora. Pada tanaman hijau, bagian yang di
atas tanah biasanya berhubungan dengan proses makan, fotosintesis dan juga
sebagai reproduksi. Apothesiumnya berbentuk mangkok dengan ukuran
sampai satu sentimeter. Terdapat hymenium dan askus yang dilapisi filamen
(Sastrahidayat, 2011).
11. Morchella sp.
Klasifikasi yang dijelaskan Singh :
Kingdom : Fungi
Divisi : Ascomycota
Classis : Pezizomycetes
Ordo : Pezizales
Familia : Morchellaceae
Genus : Morchella
Species : Morchella sp.
Morchella adalah jamur saprofit yang dapat dikonsumsi.Jamur ini
memiliki habitat di tanah kaya humus, daun yang sudah mati, dan batang pohon
meranggas. Beberapa karakteristik dari jamur ini adalah banyak bercabang,
saling terkait, hifa septat dan multinuklet. Setelah musim hujan, tubuh buah
(askokarp) dari jamur ini terbentuk pada permukaan bagian dasar (susbtratum)
(Singh et al., 2010).
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan


bahwa:
1. Beberapa Jamur yang digunakan yaitu , jamur tiram (Pelurotus ostreatus),
jamur kancing (Agaricus bifosforus), jamur shitake (Lentinula edodes), jamur
kuping putih (Tremella fuciformis), jamur lingzhi (Ganodema lucidum), Peziza
vesiculosa , Puccinia graminis, Claviceps purpurea, Aspergillus sp. ,
Morchella sp.

2. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa diperoleh
dengan meletakkan tudung dengan himenium menghadap ke bawah pada
selembar kertas hitam atau putih, lalu diinkubasi selama 1x24 jam untuk
mendapatkan sporanya.
B. Saran

Sebaiknya dalam pembuatan jejak spora, jamur yang digunakan harus segar,
artinya tidak disimpan terlebih dahulu.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad., Mugiono., Arlianti, T. & Wibowo, A., 2011. Panduan Lengkap Jamur.
Depok: Penebar Swadaya.
Alexopoulos, C.J., Mims, C.W. & Blackwell M., 1996. Introductory Mycology 4th
Edition. New York: John Willey And Sons Inc.
Bedade, D. K., Singhal, R. S., Turunen, O., Deska, J., & Shamekh, S. (2017).
Biochemical characterization of extracellular cellulase from Tuber maculatum
mycelium produced under submerged fermentation. Applied biochemistry and
biotechnology, 181(2), 772-783.
Chen W. A.(1998b). Mixed-Culture Cultivation Of Tremella Fuciformis, On
Systhentic Logs. Nian Lai Huang.Fujian Province, China: Director Of Saming
Mycological Institutesaming.
Campbell, N.A., Reece, J.B., Urry, L.S., Cain, M.L., Wasserman, S.A., Minorsky, P.V.
& Jackson, R.B., 2008. Biologi: Edisi Ke-8 Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Djarijah, N. M. & Djarijah, A. S. 2001. Budi Daya Jamur Kuping. Yogyakarta:
Kanisius.
Dwidjoseputro, D., 1978. Pengantar Mikologi. Penerbit Alumni, Bandung.
Fifendy, M., 2017. Mikrobiologi. Depok: Kencana.Hidayat, N., Wignyanto.,
Sumarsih, S. & Putri, A. I., 2016. Mikologi Industri. Malang; Ub Press.
Gandjar, I., Sjamsuridzal, W. & Oetari, A., 2006. Mikologi: Dasar Dan Terapan.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Gunawan, A.W. 2005., Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wulandari, E. Y., Faturrahman, F., & Sukiman, S. (2016). Jenis–Jenis Makrofungi
Polyporaceae Di Taman Wisata Alam Suranadi Kecamatan Narmada Kabupaten
Lombok Barat. Biowallacea, 2(2), 132-136.
Hendritomo, H.I., 2010. Biologi Jamur Pangan. Jakarta: Pusat Pengkajian Dan
Penerapan Teknologi Bio Industri.
Hanudin, 2008. Jamur Penyebab Penyakit Tanaman. Makassar: Hasanuddin.
Noverita, N., Armanda, D. P., Matondang, I., Setia, T. M., & Wati, R. (2019).
Keanekaragaman Dan Potensi Jamur Makro Di Kawasan Suaka Margasatwa
Bukit Rimbang Bukit Baling (Smbrbb) Propinsi Riau, Sumatera. Pro-Life, 6(1),
26-43.
Sastrahidayat, I. K., 2011. Ilmu Jamus. Malang: Ub Press.
Syariefa, E., 2012. Jamur Merang. Depok: Trubus Swadaya.
Suhardiman., 1998. Jamur Shitake. Yogyakarta: Kanisius.
Semangun, H., 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Syarief, R., Ega, L. & Nurwitri, C., 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. Bogor: Ipb
Press.
Sastrahidayat, I. K., 2011. Ilmu Jamus. Malang: Ub Press.
Singh, P.C. Pande, D.K. Jain (2010). Diversity Of Microbes And Cryptogamsv.
Rastogi Publications. Isbn 81-7133-745-7.pp.315-317
Tampubolon, J. 2010. Inventarisasi Jamur Makroskopis Di Kawasan Ekowisata Bukit
Lawang Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Tesis.Universitas Sumatera Utara.
Medan.
Tjitrosoepomo, G. 1994. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press.Yokyakarta
Warisno. & Dahana, K., 2011. Ling Zhi. Jakarta: Gramedis Pustaka Utama.